reformed Injili

Gerakan Reformed dan Masa Kini (2)

Ketika Abraham Kuyper, seorang theologian Belanda, melihat bahwa Gereja Hervormde saat itu sudah keluar dari Reformed theology yang sejati, maka ia meneriakkan supaya orang Kristen keluar dari gereja itu, dan mereka membentuk Gereja Gereformeerde. Gereformeerde berarti Re-reformed. Di-reformed-kan kembali. Reformed berarti kita berjuang membentuk kembali iman kepercayaan kita sesuai firman, mari kita meneguhkan kembali keberanian kita untuk menyatakan kebenaran firman, mari kita berdiri kembali di atas batu karang, mari kita membuat kubu demi Tuhan. Yang paling membebani saya seumur hidup hanya dua hal, yaitu: pertama, mengabarkan Injil kepada mereka yang belum mengenal Tuhan. Kedua, membentuk pikiran dan iman kepercayaan yang teguh bagi orang yang sudah menerima Tuhan. Ini dua sayap pelayanan Stephen Tong, yaitu penginjilan dan seminar theology. Di dalam penginjilan, saya akan memanggil orang untuk datang kembali kepada Kristus, dan di dalam seminar theology, mengajarkan apa yang seharusnya Anda percaya. Semua yang saya lakukan berkisar di antara kedua beban ini, tapi kita harus mengingat bahwa theology jauh lebih besar dari sekedar mengerti firman yang tertulis karena Allah adalah Allah alam semesta. Kita tidak boleh menyempitkan kemuliaan Tuhan Allah, atau mengeringkan theology. Kita tidak boleh merasionalisasikan firman Tuhan dengan aspek logika saja, tetapi kita harus belajar menikmati semua kemuliaan Tuhan.

Kita harus belajar menikmati dan merayakan kemuliaan Tuhan. Itu tidak dimengerti dengan pikiran duniawi, tetapi sungguh-sungguh kita ingin melihat bagaimana Tuhan menggarap dunia ini, menggarap setiap pribadi kita, untuk mengerti pengajaran firman Tuhan yang benar. Kita bersama-sama berbagian di dalam Gerakan Reformed Injili di semua gereja, lalu kita melihat bagaimana umat Tuhan ditarik kembali kepada pengajaran firman yang sungguh. Saya tidak setuju kalau orang-orang yang ber-theology benar harus keluar dan pindah gereja. Saya ingin setiap orang yang ber-theology benar berjuang di gereja masing-masing untuk membawa theology tersebut di gerejanya. Sampai suatu saat jikalau orang-orang yang ber-theology benar tersebut dianiaya di gereja mereka masing-masing, maka mereka baru keluar dan menegakkan gereja yang ber-theology benar.

Barangsiapa yang ber-theology benar tapi dianiaya oleh pemimpin-pemimpin gereja yang melawan dan membenci theology yang benar berhak menyatakan untuk berdiri sendiri dan melihat itu sebagai pimpinan Tuhan. Setelah engkau berjuang mempengaruhi gereja yang lama dan engkau dihina, diejek, diinjak-injak, maka tidak salah jika engkau mengatakan mau mendirikan persekutuan yang baik dengan theology yang benar. Mengapa orang yang ber-theology tidak beres berani memasang label gereja dan orang yang ber-theology benar dianggap mengacau dan tidak berhak menegakkan label gereja? Bukankah itu diskriminasi yang tidak seharusnya terjadi?

Martin Luther di masa Reformasi tidak berjuang untuk mendapatkan kesenangan diri sendiri atau memperhitungkan untung rugi sendiri. Dia melihat bahwa ajaran firman telah diselewengkan begitu banyak, sehingga ia memaku 95 tesis di gerbang gereja Schlosskirche di Wittenberg di mana dia melawan ajaran purgatory, melawan penjualan surat pengampunan dosa, dan berbagai ajaran yang salah lainnya. Ketika Martin Luther dituntut untuk menarik kembali surat atau tesis-tesisnya, ia menjawab dengan satu kalimat, “Terkecuali Anda bisa membuktikan bahwa apa yang saya telah tuliskan itu berlawanan dengan kebenaran firman Allah dan hati nurani saya, maka saya tidak akan pernah mencabut kembali apa yang telah saya tuliskan.”

Dari kalimat ini kita melihat perbedaan antara Lutheran theology dengan Reformed theology. Reformed melihat firman dan rasio, sedangkan Lutheran melihat firman dan hati nurani. Hingga sampai saat ini peranan hati nurani dalam Lutheran theology masih sangat kuat. Hal ini terlihat dalam pemikiran seorang Lutheran theologian yang terkenal, Dietrich Bonhoeffer. Reformed theology berusaha menggunakan firman untuk memimpin logika. Fungsi rasional dipergunakan sebaik mungkin. Orang Reformed bukan orang-orang rasionalis, tetapi orang Reformed menggunakan semaksimal mungkin fungsi rasio untuk kembali kepada firman Tuhan.

Istilah yang kami pergunakan, yaitu Gerakan Reformed Injili, membawa resiko bahwa kami akan dimusuhi dan dilawan oleh dua kubu, baik oleh kubu Reformed maupun kubu Injili. Orang Injili bertanya, “Mengapa harus Reformed Injili?” bukankah Injili saja sudah cukup untuk kita memberitakan Injil. Dan Orang Reformed bertanya, “Mengapa Reformed harus ditambah kata Injili?” Saya dikritik orang Injili karena memakai kata “Reformed,” saya dikritik orang Reformed karena memakai kata “Injili,” dan saya dikritik orang Kharismatik bahwa saya tidak ada Roh Kudus. Pemakaian istilah “Reformed Injili” merupakan hasil pemikiran dan pergumulan puluhan tahun lamanya. Saya menggunakan istilah Reformed Injili karena banyak gereja Reformed sudah lupa dan tidak mengabarkan Injil lagi, dan sebaliknya, gereja Injili kebanyakan tidak memiliki dasar theology yang kokoh. Yang bertulang tidak berdaging, dan yang berdaging tidak bertulang. Inilah kondisi gereja saat ini. Orang yang besar tetapi tidak bertulang hanya bagaikan onggokan daging yang tidak bisa berdiri tegak; dan orang bertulang tanpa daging bagaikan kerangka yang menakutkan. Ketika orang itu datang kita akan lari. Maka Reformed theology menjadi tulang punggung kekristenan yang membuat kita bisa berdiri tegak, yang memungkinkan kita bergerak dengan terstruktur, dan memberikan postur yang jelas. Postur kekristenan adalah theology. Tetapi daging dan darahlah yang membuat kita bisa tersenyum, bisa bergaul, dan bisa diterima oleh orang lain. Tengkorak dan tulang yang kuat tanpa daging akan sangat mengerikan, dan sebaliknya daging tanpa tulang menjadikan kita hanya onggokan daging yang tidak bisa bergerak. Kebanyakan gereja Injili ketika diserang secara tajam dari pemikiran theology-nya, ia tidak bisa menjawab karena kerangka theology-nya tidak kuat.

Reformed theology ditambah dengan penginjilan yang berdasarkan Reformed theology mejadikan gerakan ini berakar ke bawah dan berbuah ke atas. Inilah tugas dan panggilan kita. Kita harus menjalankan penginjilan dengan berani. Penginjilan bukan hanya untuk menambah anggota gereja dan penginjilan bukan untuk membudayakan orang agar menjadi lebih Kristiani. Penginjilan adalah memberikan suatu berita bahwa Kristus adalah satu-satunya Juruselamat. Dia yang lahir di dunia haruslah dimengerti sebagai Allah yang mengunjungi, berinkarnasi menjadi manusia, mati untuk dosa-dosa manusia, bangkit melawan Iblis dan mengalahkan kuasa setan, dan memberikan kehidupan baru. Maka kita mengundang orang untuk datang dan menerima Dia sebagai Juruselamat dan Tuhannya.

Keunikan Gerakan Reformed Injili yang lain lagi adalah Reformed theology membedakan antara wahyu umum dari wahyu khusus. Pengertian ini tidak ada pada theology yang lain. Mengapa wahyu perlu dibedakan? Karena jika tidak dibedakan, kita akan mempersamakan semuanya menjadi wilayah ambigu yang kacau. Wahyu umum diberikan kepada semua orang, semua agama, semua kebudayaan, semua daerah, semua zaman, sehingga manusia boleh mendapatkan wahyu. Wilayah ini disebut wahyu umum. Sedangkan wahyu khusus diberikan hanya melalui dua jalur yang besar dan yang betul-betul hanya dapat dimengerti oleh kaum pilihan. Hal seperti ini tidak dibahas dalam agama lain dan tidak dibahas di dalam theology yang lain.

Reformed theology membedakan wahyu umum dan wahyu khusus, supaya kita mengetahui bahwa agama dan kebudayaan memang ada nilainya. Manusia dicipta sebagai makhluk bersifat agama dan manusia sekaligus dicipta sebagai mahluk yang bersifat kebudayaan. Kedua sifat ini membentuk manusia lebih tinggi dari semua ciptaan yang lain. Istilah culture (budaya) adalah berkaitan erat dengan membudidayakan (cultivate), yaitu memperkembangkan bumi dan alam yang dicipta. Istilah ini akhirnya menjadi culture. Dari kata culture ini akhirnya berkembang istilah civilization (kemasyarakatan) di dalam zaman yang besar. Civilization menjadi puncak dari sifat kebudayaan (culture). Manusia dicipta menjadi mahluk yang bersifat kultur dan bersifat agama, itu sebab sifat agama dan sifat kultur menjadi pembentuk esensi kemanusiaan yang membedakan manusia dari mahluk-mahluk yang lain. Dan kedua hal ini akan berusaha mencari nilai. Di dalam sifat agama manusia mencari nilai, di dalam sifat budaya manusia mencari nilai. Bedanya adalah agama mencari nilai di dalam hidup diri manusia, sedangkan budaya mencari nilai di luar kehidupan manusia. Bagaimana manusia berpakaian, bagaimana menari, bagaimana beradat, bagaimana berorganisasi, bagaimana berpikir, bagaimana bertradisi, bagaimana berbahasa, itu semua adalah nilai-nilai eksternal di dalam kehidupan umat manusia. Bagaimana bermoral, bagaimana membedakan baik dan jahat, bagaimana meninggikan dan menegakkan suatu penghargaan diri di dalam diri, bagaimana menuntut nilai kekal, bagaimana tanggung jawab manusia terhadap dunia yang tidak kelihatan, itulah yang disebut sebagai agama. Jadi agama dan kebudayaan memiliki bagian tumpang tindih (overlapping) di dalam satu wilayah yang namanya moralitas. Moral adalah bagian dari kebudayaan sekaligus bagian dari agama. Sifat agama adalah inner life (hidup batiniah), sifat budaya adalah external life (hidup lahiriah). Hidup batiniah dan hidup lahiriah digabungkan menjadi suatu hidup manusia yang dicipta di tengah-tengah dua wilayah yang saling terjalin (interwoven) antara spiritual and material world. Dengan demikian, gabungan agama dan kebudayaan, gabungan luar dan dalam, yang saling mengkait menjadi satu baru bisa membentuk manusia yang utuh.

Jadi, yang disebut sebagai wahyu umum adalah Allah menyatakan sesuatu untuk semua orang supaya manusia melihat cara hidup harus menuju kepada nilai yang diberikan oleh Tuhan. Itu sebabnya wahyu umum diterima oleh kebudayaan, agama, dan bangsa di seluruh dunia. Tetapi apakah dengan demikian buku Uphanisad dari India, atau Kitab Veda dari agama Buddha, atau Al-Quran dari Islam, atau buku Mormon dan berbagai buku-buku Animisme, dan sebagainya dapat disebut sebagai wahyu umum? Bukan! Semua agama dan semua rumusan dari kitab agama hanya merupakan reaksi sifat agama manusia terhadap wahyu umum. Tidak ada satu kitab yang langsung diwahyukan oleh Tuhan kecuali kitab suci Alkitab Kristen. Alkitab adalah satu-satunya wahyu Allah yang tidak mengandung kesalahan, yang berbeda dari semua buku apapun lainnya. Kitab yang lain adalah reaksi terhadap wahyu umum yang diberikan kepada mereka. Ketika manusia merenungkan dan memikirkan wahyu umum, maka sebagai reaksinya mereka menulis kitab. Itu bukan wahyu, melainkan reaksi terhadap wahyu umum. Jika kita mengerti dan menerima definisi ini, maka kita akan dapat dengan jelas melihat dan menilai segala sesuatu.

Wahyu umum Allah waktu diresponi oleh manusia secara eksternal akan menjadi kebudayaan. Wahyu umum Allah waktu diresponi oleh manusia secara internal akan menjadi agama. Karena manusia sudah jatuh di dalam dosa, maka semua manusia tidak mungkin memberikan respon yang sesuai dengan aslinya. Karena manusia sudah jatuh di dalam dosa, manusia tidak mungkin menginterpretasi dengan akurat, maka terjadi penyimpangan pendapat antara agama dan agama. Konklusi yang berbeda-beda di dalam pemikiran agama-agama adalah akibat dari kejatuhan.

Dengan mengerti hal ini, kita tidak akan heran jika di dalam kitab agama lain ada hal-hal yang mirip dengan Kitab Suci Alkitab. Bukan hanya demikian, wahyu umum tentang kebudayaan memungkinkan manusia menginterpretasi dan mengerti alam, menemukan ilmu, yang mungkin bisa lebih akurat ketimbang apa yang dikerjakan oleh orang Kristen. Mungkin sekali orang Islam menemukan data astronomi yang lebih cocok daripada yang ditemukan oleh orang Kristen. Mungkin sekali orang Buddha bisa menemukan dalil fisika yang lebih cocok dengan aslinya ketimbang hasil penemuan orang Kristen yang malas. Tetapi itu hanyalah tentang wahyu umum dan respon manusia terhadapnya. Semua paparan wahyu umum yang diberikan Tuhan melalui alam ciptaan-Nya ini tidak akan dapat membawa orang non Kristen untuk bisa melihat sasaran akhir dari semua penyataaan tersebut, yaitu kemuliaan Tuhan. Hal ini hanya dapat dilihat dan dilakukan oleh orang Kristen.

Pada saat para ilmuwan menemukan dalil-dalil yang bagus, pada akhirnya mereka hanya bisa memuliakan diri. Tetapi orang Kristen, setelah menyelidiki segala sesuatu dan menemukan hal-hal yang ada di dalam alam, mereka akan melihat kemuliaan Tuhan di dalam penemuan-penemuan mereka tersebut. Inilah perbedaan yang signifikan, karena “surga menceritakan kemuliaan Allah” kata Franz Joseph Haydn di dalam oratorionya, “Creation.” Orang Kristen tidak hanya berhenti melihat data atau fakta yang dicipta, tetapi dapat melihat apa dan Siapa di belakang apa yang dicipta, yaitu kemuliaan dan Tuhan Allah Sang Pencipta itu sendiri.

Hanya sampai di wilayah wahyu umum belumlah cukup. Kita perlu masuk ke dalam wilayah wahyu khusus. Wilayah ini hanya bisa dilihat oleh orang percaya. Wahyu khusus sendiri memiliki dua cakupan, yaitu: 1) Kitab Suci Alkitab; dan 2) Kristus yang menjadi inti terpenting dari berita Alkitab.

Teologia Reformed juga membedakan antara anugerah umum dan anugerah khusus. Orang bukan Kristen mungkin lebih sehat dari pendeta. Mungkinkah hamba Tuhan yang paling setia mati tabrakan? Mungkinkah daerah Kristen mendapatkan bencana alam yang lebih sukar dari daerah bukan kristen? Mungkinkah keturunan hamba Tuhan mati kena sakit kanker dan keturunan dukun sehat? Semua itu mungkin, karena semua itu adalah di wilayah anugerah umum Allah. Anugerah umum itu diberikan kepada siapa saja sebagaimana Tuhan Yesus berkata: “Matahari menyinari orang baik dan juga orang jahat, hujan turun kepada orang benar dan juga kepada orang berdosa” (Mat. 5:45). Anugerah umum menjadi pencegah lebih banyaknya perbuatan dosa sampai Kristus datang kembali. Di dalam pikiran seorang Reformed theologian, Cornelius Van Til, terdapat pikiran yang sangat ajaib bahwa anugerah umum akan ditarik setahap demi setahap makin sedikit sampai sebelum Yesus datang kembali.

Maka di dalam Gerakan Reformed Injili ini, kita perlu perjuangan yang berat, kita perlu keberanian yang besar, kita perlu iman yang sejati, kita perlu pengertian firman yang tuntas, dan jiwa pengabdian yang bersiap untuk mengorbankan diri. Tidak ada jalan lain, sebab gerakan ini bukan main-main. Gerakan ini lebih penting daripada memikirkan bagaimana mengerjakan sesuatu dengan konferensi-konferensi atau sinode karena ini adalah mengenai semangat. Jika semangat sudah hilang maka gerakan akan punah. Jika semangat masih ada maka gerakan itu masih bertumbuh. Berbahagialah orang yang mendengar dan mengerti apa yang menjadi seruan yang berasal dari gerakan Roh Kudus untuk gerakan ini. Dan pengaruh penting Gerakan Reformed di sepanjang sejarah adalah apa yang disebut sebagai mandat budaya. Mandat budaya (culture mandate) ini khusus hanya ada di dalam Reformed theology. Kalimat kesimpulan yang paling singkat untuk menggambarkan mandat budaya adalah preeminency of Christ above all aspect of culture (supremasi preeminensi Kristus di atas segala aspek kebudayaan). Mungkinkah ada pikiran yang tertinggi yang melampaui pikiran manusia yang tertinggi? Jawabannya adalah firman Allah.

Tuhan Allah berkata, “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu, rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes. 55:9). Apa artinya? Itu artinya firman Tuhan lebih tinggi dari semua budaya manusia. Kita bisa menemukan paling sedikit ada 60 definisi mengenai “budaya” tapi dari semua definisi tentang budaya tersebut tidak ada yang lebih baik dari definisi yang didasarkan pada ayat di atas. Gabungan ideologi dan pola hidup membentuk budaya. Satu budaya terbentuk dari cara berpikir dan cara hidup. Saya akan memberikan definisi “budaya” yang tidak ada di buku yaitu budaya sebagai jiwa bangsa, atau jiwa masyarakat.

Budaya adalah respon manusia terhadap wahyu Allah secara lahiriah. Reformed theology merupakan theology pembentuk budaya (culture-making theology). Selain mengabarkan Injil, Reformed theology juga membentuk budaya di mana Injil dikabarkan. Orang Reformed harus memiliki cara berpikir Reformed, memiliki ideologi Reformed, memiliki karakter Reformed yang sesuai dengan firman Tuhan, dan memiliki pola hidup, kelakuan, dan hati yang luas.

Mari kita memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Mari kita tidak menunggu lagi, karena kita harus bekerja sekarang. Waktu akan menggeser kita menjadi tua. Jikalau hari ini saya mati saya akan berkata kepada Tuhan, “Tuhan, saya telah menyelesaikan apa yang harus saya kerjakan.” Selama 47 tahun saya tidak membuang waktu. Mari kita bertobat dan mengejar supaya kita menggenapi rencana-Nya untuk gerakan ini demi kemuliaan-Nya. Amin.


Pdt. Dr. Stephen Tong


Gerakan Reformed dan Masa Kini ( 1 )

Banyak orang mengira Reformed theology merupakan theologi yang kering sekali, sangat statis, hanya merupakan teori kosong dan hanya mengisi rasio saja. Theologi sedemikian bukanlah Reformed theology. Itu Reformed yang dipengaruhi oleh semangat Pencerahan (Aufklärung). Bagi saya Aufklärung keliru karena hanya mementingkan rasio saja. Rasio hanyalah salah satu bagian dari seluruh hidup, sedangkan Firman Tuhan disebut The Word of Life. Firman Hidup pasti memuat sistem yang melebihi logika yang disebut sebagai Sistem Organik.

Sistem Organik menjadi dasar pengertian tentang Firman Tuhan dan tentang seluruh pemahaman Reformed. Firman Tuhan itu hidup, firman itu mengisi hidup dan firman itu memperkaya hidup. Dan firman yang dimengerti dalam Reformed Theology seharusnya mengubah hidup, mentransformasi dan membawa hidup ke dalam kelimpahan sebagaimana Yesus berkata, “Aku datang memberikan hidup dan hidup yang berkelimpahan” (Yoh.10:10). Hidup Kristen adalah hidup yang berlimpah dengan sifat dan semangat dinamis, kuasa, vitalitas, dan kekuatan perjuangan. Itu semangat yang harus ada dalam gerakan ini, sehingga kita dapat menikmati gerakan ini dari sudut dinamika dan kekayaan pimpinan Tuhan yang vital. Roh Kudus bukan Roh yang statis. Roh Kudus bukan suatu obyek yang hanya mengandung kuasa dan prinsip. Roh Kudus adalah subyektifitas Tuhan Allah sendiri yang bergerak dan mengakibatkan seluruh dunia berubah menuju kepada penggenapan rencana Tuhan.

Gerakan ini adalah gerakan Reformed Injili, maka semua Hamba Tuhan dalam Gerakan ini tidak hanya mengajar, menggembala, dan berkotbah saja, tetapi juga harus menginjili. Gerakan ini lain dengan gerakan Reformed di Amerika. Gerakan ini mempunyai tujuan, mempunyai aspek yang harus kita mengerti. Kita perlu mengerti konteks, situasi Indonesia yang kemudian dikaitkan dengan kondisi internasional, sehingga kita dapat melihat segala sesuatu dari suatu wawasan yang begitu luas dan begitu tuntas. Dengan demikian, kita dapat membandingkan antara Barat dan Timur; antara kuno dan modern, dan antara masa kini dengan masa yang akan datang untuk dijadikan suatu tenunan yang bertanggung jawab.

Semangat di atas diambil dari semangat Yesaya, Yeremia, di mana mereka bukan hanya belajar dari Musa, lalu mengajarkan kembali kelima Kitab Musa, akan tetapi mereka juga mengintegrasikan prinsipprinsip Alkitab dengan situasi sekarang (saat itu) dan yang akan datang. Mereka mengarah ke masa depan, belajar dari masa lampau, dan menggarapnya di masa kini. Ini tenunan yang harus dikerjakan oleh Gerakan Reformed Injili.

Motivasi Gerakan Reformed Injili adalah menegakkan suatu kubu yang menjaga ketat doktrin Alkitab yang benar, mempunyai kelincahan untuk menghadapi kesulitan setiap zaman, dan memberikan arah untuk hari depan, dengan tujuan untuk memuliakan Tuhan dan bukan untuk memuliakan gerakan ini. Tidak perlu kita mencari kemuliaan diri, yang paling penting adalah bagaimana di zaman ini ada satu kubu yang mempertahankan doktrin yang ketat mati-matian. Yang dipentingkan adanya satu kubu yang betul-betul mempersembahkan semangat penyangkalan diri untuk kemuliaan Allah sebanyak mungkin, sesungguh-sungguhnya, dan bagaimana mengajarkan pengajaran Alkitab bahwa Alkitab lebih superior dari pada ajaran-ajaran filsafat modern, dan dengan demikian supremasi Kristus dinyatakan seluas-luasnya. Musik terbaik harus untuk Tuhan, filsafat yang terbaik harus melayani Firman, dan diadili, dikritik, serta disahkan oleh Alkitab karena Firman Tuhan lebih tinggi dari pikiran manusia. Semua seni yang terbaik dengan seni yang tidak baik kita bisa membedakan dengan ukuran kriteria yang diambil dari standar Alkitab. Dengan demikian kekristenan akan memimpin dunia dan menjadi terang dunia.

Waktu seorang dokter menentukan ukuran anestesi, standar apa yang dipakainya? Bedanya dokter Kristen dan bukan Kristen bukan diukur dari apakah hari Minggu dia bermain golf atau pergi ke gereja, melainkan apa yang menjadi motivasi, prinsip, dan tujuannya menjalankan operasi. Semakin seseorang mengerti apa yang menjadi prinsip-prinsip Alkitab dan makin banyak orang yang terjun untuk menyangkal diri, makin besar berkat yang bisa diterima oleh bangsa dan nusantara kita ini. Keberadaan kita di zaman dan di negara Indonesia ini bukanlah sebuah kebetulan. Indonesia merupakan persimpangan dan pertemuan antara berbagai kebudayaan dunia. Di sebelah utara ada tradisi Cina, Taoisme, Konfusianisme dan Sintoisme; di barat ada Hinduisme, Budhisme, dan juga Islam. Di Indonesia sendiri, seperti di Mikronesia, ada Animisme. Firman Allah harus bersifat supreme—mengatasi dan menghakimi berbagai budaya dan agama yang ada. Tugas ini merupakan tugas yang maha besar, sampai-sampai sulit bagi kita untuk mengungkapkannya dengan kalimat.

Jikalau semua gereja menjalankan tugas dan mandat yang sebenarnya Tuhan perintahkan kepada gereja-Nya, maka parachurch (lembaga pendamping gereja, red.) tidak perlu ada. Karena gereja belum melunaskan tugasnya, maka para-church dibangkitkan Tuhan untuk mengisi apa yang belum dikerjakan oleh gereja. Pada waktu gereja sudah bangun, sudah tergugah, dan sudah mengerjakan semua tugasnya, maka para-church bersifat contingent (boleh ada, boleh tidak ada). Demikian Gerakan Reformed Injili bukanlah suatu institusi, juga bukan satu organisasi yang menyaingi apa yang sudah ada. Itu pendapat yang salah. Gerakan Reformed Injili adalah suatu semangat yang sudah pernah diberikan oleh Tuhan pada abad ke-16 Reformasi, tetapi sudah kehilangan signifikansinya dalam hidup bergereja pada abad-abad selanjutnya. Gereja dan sekolah theologia yang masih mencantumkan nama Reformed banyak, tetapi yang berjuang untuk Reformed theology tidak ada, tidak banyak, dan banyak yang lupa.

Di dalam gerakan ini terdapat bibit pertama yang diperlukan untuk bagaimana dapat mengimbangi seluruh zaman, baik yang Liberal, Katholik, Karismatik, dan Injili, yang masing-masing tidak mungkin secara utuh mewakili kekristenan. Apa yang menjadi kekurangan dari sayap Karismatik untuk mewakili kekristenan adalah doktrin. Apa yang menjadi kekurangan orang Injili untuk mewakili kekristenan adalah mandat budaya. Apa yang menjadi kekurangan Katholik untuk mewakili kekristenan adalah tidak kembalinya kepada pengutamaan doktrin yang berpusat pada Alkitab dengan adanya begitu banyak pengaruh organisasi dan sistim keagamaan, dan juga tambahantambahan terhadap doktrin yang ada. Apa yang menjadi kekurangan dari gereja-gereja Liberal adalah sudah menjual diri, tidak lagi berstatus anak sulung karena mereka sudah membongkar, mengikis habis semua ajaran Kristologi yang paling penting. Pada waktu gereja sudah menurunkan derajat dari bersifat berita yang bersifat penebusan menjadi sekedar suatu sikap keagamaan belaka, maka gereja sudah mulai tertidur. Jika gereja sudah lupa memberitakan Penebus, mengabaikan Yesus Kristus sebagai Penebus dosa manusia, lalu merendahkan Dia dengan hanya melihat Dia sebagai guru yang baik, pengajar moral, atau contoh sempurna bagi manusia, maka gereja sudah turun derajat. Memang di situ kita bisa rukun dengan agama lain, tetapi tidak berani dan tidak mampu lagi menantang orang bertobat dan kembali menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Satu-satunya Juruselamat dan Tuhan umat manusia. Oleh sebab itu, siapakah yang berhak dan sah mewakili kekristenan pada masa kini? Siapa yang betul-betul menjadi saksi Kristus yang utuh, yang komprehensif?

Saat ini, gereja-gereja sibuk untuk programnya sendiri, supaya kelihatan sebagai gereja yang hebat, tetapi bagaimana doktrinnya? Bagaimana imannya? Tugas untuk mempengaruhi pemerintahan di mana? Bagaimana menerangi dunia filsafat? Karena ada begitu banyak ideolog dan filsuf, dengan pikiran-pikiran yang begitu melawan Alkitab, merajalela meracuni pemuda-pemudi.

Siapa yang mewakili ke-kristenan? Pertama, diperlukan gerakan yang akan membawa pikiran-pikiran yang dicipta oleh Tuhan kembali setia kepada Sang Pencipta, yang sekaligus Pewahyu kebenaran kepada manusia. Oleh sebab itu perlu ada wadah, perlu ada suatu gerakan, dan itu gerakan dan bukan organisasi. Semua yang mau ikut gerakan ini harus mementingkan gerakan dan bukan organisasi, karena organisasi hanyalah budak visi. Kedua, harus mempunyai keberanian berjuang untuk mendobrak. Ketiga, harus mempunyai strategi yang lincah dan betul-betul efisien. Keempat, harus mempunyai pengaruh kepada massa sebanyak dan sebesar mungkin untuk mendukung.

Keempat hal ini membentuk unsur-unsur yang betul-betul paling vital dalam sesuatu yang disebut sebagai Historical Movement (Gerakan Sejarah). Di sepanjang sejarah, apabila ada suatu gerakan yang merupakan suatu Gerakan Sejarah, maka pastilah tidak lepas dari empat hal tersebut. Keempat hal ini yang membuat lembaran baru dalam sejarah untuk berubah arah menuju kepada suatu pengharapan yang baru. Demikian juga dengan kekristenan. Kekristenan muncul dengan keadaan yang tidak bersyarat. Kekristenan dilahirkan dalam keadaan yang paling dihina. Kekris-tenan dimulai dari awal yang sangat-sangat sederhana, ketika Yesus dilahirkan di se-buah kandang yang hina, dan bukan di sebuah istana raja.

Setelah saya belajar dan memperjuangkan dunia akademis berpuluh-puluh tahun, akhirnya saya kembali harus mengatakan: Tidak ada yang lebih tinggi dari Firman Allah. Kalau Reformed mau berdiri tegak, mau hidup lebih baik daripada yang lain, maka Reformed harus setia kepada Firman Allah sebagai satu-satunya kebenaran tertinggi, dan kemudian, dari bijaksana Tuhan, menyinari, mengawasi, mengadili semua kelemahan pikiran manusia. Dan dalam hal ini biarlah Firman Tuhan diutamakan. Ini adalah pikiran yang sangat tinggi dan besar, dan merupakan gerakan yang terlalu agung, marilah kita menyayanginya

Jikalau Stephen Tong gagal mengerjakan Gerakan Reformed karena saya terlalu terbatas, maka Tuhan akan membangkitkan di antara saudara seorang pemimpin yang jauh lebih pintar dari saya untuk meneruskan. Kalo kita semua tidak cukup, kita harus berdoa agar Tuhan membangkitkan orang lain untuk meneruskan, dan yang terutama, Tuhan dipermuliakan. Kita semua bukanlah apa-apa. Kita hanya berusaha mengerjakan seberat, sebaik mungkin, sekuat tenaga, seberani mungkin, dan setaat mungkin kepada pimpinan Roh Kudus, sehingga Dia mau memakai kita untuk menjalankan tugas yang penting.

Ketika kita melihat gereja begitu simpang siur, ajaran begitu rusak, tafsiran Alkitab yang sembarangan dan ngawur dibawa ke atas mimbar, khotbah-khotbah yang tidak bertanggung jawab merajalela di manamana, pikiran yang hanya mencari untung, mencari persembahan yang banyak, anggota menjadi banyak dianggap sebagai pertumbuhan gereja, ini bukan berita Alkitab. Saat ini pertumbuhan hanya dilihat dari unsur kuantitas, sedangkan aspek kualitas dan kebenaran Firman Tuhan diabaikan. Kenapa kita tidak bergerak membangun gereja dengan benar? Mengapa banyak orang Kristen yang mau saja menerima begitu banyak ajaran salah? Mengapa melihat orang-orang yang ngawur tetapi kelihatan sukses secara materi membuat orang Kristen minder dan takut, lalu menganggap itu sebagai pekerjaan Roh Kudus? Salah satu alasan penting, yang harus kita sesali, adalah semua pemimpin dan orang-orang penting dalam Gerakan Reformed tidak ada keberanian membuat hal yang besar. Kita merasa cukup dengan hal kecil, dan terlalu puas sambil mengatakan bahwa kuantitas tidak penting. Jikalau kuantitas tidak tercapai, kita menghibur diri dengan mengatakan bahwa kuantitas tidak penting, kualitas lebih penting. Orang yang sekaligus meraih kualitas dan kuantitas pasti harus memikul salib yang sangat berat. Orang yang sekaligus mau mempertahankan yang kuno sambil memperjuangkan yang belum datang pasti dia tersendiri. Orang yang sekaligus mementingkan doktrin yang ketat, sekaligus mengabarkan Injil, pasti dia mempunyai kesulitan-kesulitan yang besar. Dan memilih sebagai orang dalam posisi seperti ini, maka saya memilih memakai Reformed Injili. Reformed adalah theologi yang ketat. Banyak orang berpikir, belajar theologi yang ketat seumur hidup tidak cukup waktu, bagaimana mau pergi mengabarkan Injil keluar supaya banyak orang menjadi orang Kristen. Theologi adalah kristalisasi iman dan penginjilan adalah proklamasi dari kepercayaan. Kristalisasi dari iman yang kita rumuskan dari seluruh kitab suci itu memerlukan banyak waktu, dan proklamasi untuk dunia pluralis dengan keberanian mengabarkan Injil bahwa satu-satunya Juruselamat ialah Yesus Kristus memerlukan keberanian yang besar.

Kita tidak boleh lupa akan substansi. Sebagian orang kehilangan substansi diri demi harmoni. Orang-orang seperti ini mungkin akan kehilangan eksistensi diri. Orang yang memelihara substansi harus berusaha untuk berjuang dengan musuh dan bersedia untuk mati syahid. Gerakan ini bukan suatu gerakan yang main-main. Gerakan ini adalah gerakan yang harus berjuang dan rela mengorbankan dirinya sendiri. Tanpa tekad dan keberanian sedemikian, maka gerakan ini tidak mungkin jadi. Maka Gerakan Reformed bukanlah sekedar suatu warisan mati dari sekitar hampir 500 tahun yang lalu. Gerakan Reformed bukan sekedar peninggalan warisan sejarah. Gerakan Reformed adalah suatu semangat perjuangan sampai Kristus datang kembali. Gerakan Reformed adalah gerakan yang tidak mau berkompromi, dan mau terus menerus setia sampai mati. Gerakan Reformed adalah suatu ajakan untuk semua gereja, semua orang Kristen untuk kembali setia kepada Alkitab. Itu sebab Gerakan Reformed dengan theologi yang begitu ketat berhak mendirikan gereja sendiri. Amin.

 

Pdt. Dr. Stephen Tong


Gerakan Reformed Injili – Apa? dan Mengapa?

I. Sebelum Gerakan Ini

Pada pertengahan abad ke20, dunia Kekristenan baru mengalami sedikit kelegaan dari kesulitan-kesulitan yang ditimbulkan oleh Perang Dunia II. Daerah Eropa Timur sudah jatuh ke tangan komunisme. Daerah Eropa Barat dilanda oleh sekularisme. Pengutusan misionaris mulai beralih dari daratan Eropa ke Amerika Utara. Sedangkan gereja di Amerika harus menghadapi perkembangan Liberalisme yang sangat mengancam hidup Kekristenan tradisional.

Sementara itu teologi-teologi yang paling baru, misalnya: Demitologisasi berusaha menyaingi NeoOrtodoks dari sayap Barthian untuk mengecam kepercayaan Injil. Pada saat seperti itu, gereja di Asia sedang tertidur di dalam tahap mengabaikan teologi, meskipun gerakan rohani yang pernah dikaruniakan oleh Tuhan sudah menghasilkan banyak buah khususnya di Asia Tenggara dan China. Akibat kebaktiankebaktian kebangunan rohani yang dipimpin oleh John Sung dan Andrew Gih telah menghasilkan banyak buah berupa pekerja penuh waktu yang melayani Tuhan serta timtim penginjilan yang berkembang di sana sini sehingga telah menggugah semangat kebangsaan di negaranegara Asia. Namun gerakan Ekumene yang mengabaikan ortodoksi dan memperluas semangat toleransi terhadap segala macam aliran baru, ditambah gerakan Karismatik yang telah menggantikan gerakan Pentakosta tradisional untuk merombak struktur pikiran gerejagereja denominasional, telah menghasilkan gelombanggelombang awam yang tidak mengerti teologi namun memberanikan diri untuk mengabarkan Injil dan mendirikan gerejagereja tanpa Pengakuan Iman, tanpa liturgi, bahkan tanpa penghargaan terhadap musikmusik yang agung yang diwariskan dari sejarah.

Pada tahun 70 hingga 80an, ketika kaum Injili melihat bahaya kesimpangsiuran yang terjadi di dalam Kekristenan, di Asia Tenggara gerakan mahasiswa mulai dibangkitkan, termasuk Gerakan Perkantas dan Lembaga Pelayanan Mahasiswa (Campus Crusade). Namun kubukubu teologi, yaitu tempattempat pendidikan hamba Tuhan sudah tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk mempertahankan iman kepercayaan yang ortodoks. Itulah sebabnya terjadi gerakan mendirikan sekolah teologi di luar jalur institusiinstitusi yang konvensional. Sejarah membuktikan sekolahsekolah semacam ini kurang berbobot dalam mempertahankan teologi yang benar dan pengertian Kitab Suci yang bertanggung jawab dan benar. Itulah sebabnya banyak hamba Tuhan lulusan sekolahsekolah semacam ini sulit menerima tantangan zaman apalagi menantang zaman, khususnya dalam menghadapi kaum intelektual.

Di pihak lain, kebangunan agama-agama di luar Kekristenan juga menjadi suatu tantangan yang besar bagi iman Kristen. Semakin banyaknya kaum cendekiawan dalam agama-agama lain dan kesadaran mereka untuk melakukan konsolidasi juga merupakan fakta yang tidak boleh kita abaikan. Selain itu, makin meningkatnya pendidikan serta makin banyaknya pengaruh filsafat modern di negara-negara Asia telah meningkatkan kemungkinan Kekristenan, dengan pimpinan yang kurang berbobot, menjadi agama yang dianggap terbelakang dan dilecehkan oleh generasi yang baru. Melihat situasi demikian, siapakah yang sudah bersiap sedia untuk menerima tantangan ini serta mengisi kebutuhan zaman pada akhir abad ke-20?

Kuantitas yang diperoleh melalui gerakan-gerakan yang berlangsung di kalangan rakyat jelata tidak cukup untuk menjawab tantangan zaman ini. Karena ketidakpuasan terhadap kesimpangsiuran pengajaran Kristen masa kini dan ketidaksanggupan pihak Liberalisme maupun gerakan Kristen yang bersayap emosional untuk mewakili Kekristenan sejati, maka kami memikirkan perlu adanya Gerakan Reformed Injili.

Gerakan ini berada di dalam gelombang transisi dari masyarakat agrikultural (pertanian) menuju masyarakat industrialisasi dan juga menuju masyarakat informasi. Itulah sebabnya Gerakan ini tidak mudah diikuti oleh orang yang belum biasa dengan kedahsyatan gelombang transisi ini, apalagi Gerakan yang melawan arus ini berakar pada semangat yang dirintis pada abad ke-16. Gerakan ini bermotivasi membawa Kekristenan menuju abad ke-21. Itulah sebabnya, tidak heran, jika gerakan ini dinilai terlalu terbelakang atau melawan arus.

2. Gerakan Reformed dalam Sejarah

Reformasi yang terjadi pada abad ke-16 merupakan gerakan yang unik dan tidak tertandingi karena motivasi reformasi adalah kembali kepada Kitab Suci dan mengaku bahwa segala sesuatu semata-mata berdasarkan anugerah, dan bahwa hanya melalui iman, dan bukan jasa manusia, kaum pilihan dipanggil untuk menjadi saksi Tuhan di dalam dunia ini. Gereja dipanggil bukan hanya untuk mengabarkan Injil dan mengajarkan kebenaran, gereja juga dipanggil untuk melaksanakan mandat budaya melalui bimbingan Firman Tuhan untuk mencerahkan dunia ini dengan prinsip-prinsip Firman Tuhan dalam segala aspek kebudayaan.

Dalam segala segi kehidupan manusia, sejarah telah menyaksikan kontribusi Calvinisme, mulai dari kehidupan pribadi sampai kehidupan bermasyarakat dan pendidikan, bahkan menjadi perintis demokrasi di seluruh dunia. Pada saat pengaruh Liberalisme semakin meluas dan menggerogoti iman Kristen dalam abad ke-19, teolog-teolog Reformed dengan gigih berdiri di garis pertempuran yang paling depan untuk melawan ajaran-ajaran yang tidak setia kepada Kitab Suci. Sehingga baik di Eropa maupun di Amerika, buku-buku yang paling berbobot dalam memerangi ajaran-ajaran liberal kebanyakan merupakan hasil karya teolog-teolog Reformed. Semangat teologi Reformed inilah yang telah memelihara Kekristenan dari segala penyelewengan dan perselingkuhan gereja sebagai mempelai perempuan Kristus yang harus setia kepada Tuhan.

Tokoh-tokoh seperti Abraham Kuyper, Herman Bavinck, Hendrik Kraemer di Belanda; dan Charles Hodge, Archibald Hodge, B.B. Warfield, Gresham Machen, Cornelius Van Til, John Murray, dan tokoh-tokoh lainnya di Amerika telah memperlihatkan semangat tidak berkompromi mereka yang diturunkan dari John Calvin. Penemuan anugerah umum (common grace) dan keunikan pengertian wahyu umum (general revelation) telah menjadi keunggulan dan ciri khas Teologi Reformed dalam menangani masalah-masalah kebudayaan serta memberi pencerahan dan bimbingan kepada semua penemuan ilmiah yang paling modern, juga perubahan arus pikiran sampai pada Gerakan Zaman Baru dan Postmodernisme. Tidak ada seorang pun yang bisa mengabaikan apa yang telah dikerjakan oleh Teologi Reformed sepanjang sejarah. Teologi Reformed merupakan salah satu teologi yang paling tahan uji dan paling unggul untuk memimpin orang Kristen melalui peperangan iman dan memberi petunjuk untuk hari depan umat manusia.

3. Panggilan Gerakan Reformed Injili

Bukankah banyak pimpinan gereja yang pernah dididik di sekolah teologi Reformed di Amerika, Belanda, dan tempat-tempat lain yang sudah kembali berada di ladang pelayanan di Indonesia? Bukankah mereka yang seharusnya membawa gereja kembali kepada semangat Reformed serta membangkitkan kesadaran orang Kristen untuk memelihara iman kepercayaan yang diturunkan kepada kita dan berperang di dalam dunia yang penuh dengan arus pikiran yang sangat berlawanan dengan Kitab Suci?

Setelah menanti selama kira-kira 20 tahun, saya merasa sudah tidak boleh menunggu lagi – meskipun sejak tahun 1964 saya telah mengajar doktrin Reformed di sekolah teologi yang saya layani dan membentuk pikiran Reformed dalam diri para mahasiswa. Panggilan untuk mendirikan Gerakan Reformed Injili ini menjadi semakin jelas dan mendesak setelah saya mendapat penyakit hepatitis B pada tahun 1984.

Hidup adalah sementara. Meskipun saya sudah melayani selama 27 tahun, namun dengan pengertian yang diperoleh melalui pengalaman menderita penyakit lever semacam itu, saya merasa mungkin masih bisa bertahan dalam dunia ini selama hanya 15 sampai 20 tahun lagi. Maka saya tidak menanti orang lain lagi dan dengan sungguh-sungguh berdoa menyerahkan diri sekali lagi untuk menegakkan Gerakan Reformed Injili di Indonesia. Saya memohon kepada Tuhan supaya di dalam waktu 15 tahun, menjelang abad ke-21, sudah terbentuk sekelompok generasi muda yang memahami dan menyadari pentingnya Gerakan Reformed Injili serta rela menyerahkan diri untuk mengabdi dan berkorban di dalam zaman ini.

Tanggapan terhadap panggilan ini mendapat restu dari Tuhan, sehingga pada tahun 1984 dimulailah langkah yang pertama, yaitu dengan berani mengadakan Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) untuk memelopori doktrin Reformed. Di luar dugaan, pesertanya makin lama makin banyak dan dengan antusiasme yang sangat tinggi menerima doktrin Reformed yang diajarkan.

Gerakan SPIK yang dimulai sejak tahun 1984 telah menjadi gerakan yang tidak layu hingga sekarang, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Mereka yang disadarkan mengambil keputusan untuk mempelajari doktrin Reformed lebih lanjut. Maka langkah kedua dalam panggilan ini adalah mendirikan Sekolah Teologi Reformed Injili (STRI) bagi kaum awam pada tahun 1986.

Apakah yang Disebut Gerakan Reformed Injili?

Gerakan berbeda dengan organisasi. Gerakan merupakan semacam api dan semangat spiritual yang berkobar dan yang membakar sekelompok orang sehingga menjadi suatu kekuatan pengaruh terhadap pribadi-pribadi lain untuk melihat, mengakui, melangsungkan dan melaksanakan suatu tugas yang penting untuk mengubah sejarah. Gerakan sejarah yang bermutu selalu memiliki teori yang konsisten, strategi yang lincah, pengabdian yang tuntas, pengikut yang setia, dan pengaruh yang abadi, baik dalam bidang sekuler maupun rohani, unsur-unsur di atas bisa dilihat dengan jelas. Oleh karena itu Gerakan Reformed Injili juga harus meminta kepada Tuhan untuk memberikan pertolongan dan berkat dalam hal-hal yang penting. Kami percaya bahwa motivasi untuk mengadakan gerakan ini adalah murni berdasarkan panggilan Tuhan dan kebutuhan zaman serta berlangsungnya hidup iman sebagai orang Kristen dalam sejarah. Maka dengan jelas kami melihat Tuhan melimpahkan berkat-Nya baik dalam penyertaan maupun pengurapan, khususnya membangkitkan pribadi-pribadi yang dikobarkan oleh api Roh Kudus. Soli Deo Gloria (Segala kemuliaan hanya bagi Allah).

Apakah Isi Gerakan Reformed Injili?

Gerakan ini meliputi dua aspek. Pertama, mengembalikan pengertian teologi berdasarkan wahyu Allah dalam Kitab Suci yang dipelopori oleh para Reformator, khususnya sayap Calvinisme dan para penerusnya sampai sekarang. Dengan teologi yang ketat ini, yang berasal dari makna-makna yang tersimpan dalam Kitab Suci, maka iman orang Kristen akan dibekali dan diperkuat untuk menghadapi tantangan segala zaman. Kedua, mengobarkan semangat penginjilan dan memobilisasi orang Kristen untuk secara langsung memberitakan Injil, yang adalah kabar baik bagi seluruh umat manusia, memperkenalkan kuasa keselamatan melalui kematian dan kebangkitan Kristus bagi pengampunan dosa dan perdamaian manusia dengan Tuhan Allah sehingga menciptakan hidup baru yang memuliakan Tuhan, bersaksi bagi Kristus, dan mengabarkan Injil. Maka gerakan ini membawa gereja berakar dalam Firman Tuhan dan berbuah dalam dunia ini.

Bagaimana Permulaan Gerakan Ini?

Langkah-langkah Gerakan ini telah dipimpin oleh Tuhan melalui ketaatan hamba-hamba-Nya. Maka kami merencanakan (untuk Aspek Teologi Reformed): Pertama, membentuk sebanyak mungkin massa yang menyadari dan mengalami pengajaran Reformed Injili. Ini diwujudkan dalam bentuk Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK). Kedua, menyaring dan memperoleh sekelompok kaum awam yang menuntut diri untuk mempelajari teologi Reformed secara sistematis dan konsisten. Ini diwujudkan dalam bentuk Sekolah Teologi Reformed Injili (STRI). Ketiga, mendirikan perpustakaan yang menyediakan buku-buku bermutu untuk mengisi kebutuhan orang-orang yang ingin lebih banyak belajar kebenaran serta meyakini bahwa gerakan ini bersifat universal dan berpengaruh dalam sejarah. Keempat, mendirikan sekolah teologi dan Institut untuk mempersiapkan tenaga hamba Tuhan penuh waktu bagi generasi yang akan datang. Kelima, dengan teologi yang benar mendirikan gereja dan pos-pos Injil untuk menjadi wadah bagi para hamba Tuhan untuk boleh dengan berani mengajarkan teologi Reformed dan menggembalakan kaum pilihan Tuhan. Keenam, menerjemahkan dan mencetak buku-buku teologi Reformed.

Sedangkan rencana dalam Aspek Penginjilan meliputi: Pertama, mengadakan penginjilan massal dan secara langsung menghadapi kebutuhan masyarakat serta mengajar manusia untuk bertobat dan menyambut undangan menjadi orang Kristen. Kedua, mengadakan pemuridan penginjilan untuk melatih pribadi-pribadi yang merasa terpanggil untuk melebarkan Kerajaan Allah melalui penginjilan pribadi. Dengan demikian memobilisasi orang Kristen untuk menjadi saluran anugerah Tuhan bagi masyarakat. Ketiga, melatih penginjil-penginjil penuh waktu dalam sekolah teologi untuk mempersiapkan hamba-hamba Tuhan yang berkarunia dan berbeban khusus dalam penginjilan. Keempat, menyediakan pos-pos Injil untuk menampung buah-buah penginjilan untuk menuju kepada hidup penggembalaan dan gereja.

Apakah Keunikan Gerakan Ini?

Gerakan Reformed Injili berbeda dengan gereja dan denominasi Reformed Injili. Gerakan Reformed Injili dimaksud untuk menjadi dorongan bagi setiap denominasi dan boleh menjadi milik setiap gereja di luar Gereja Reformed Injili, sehingga gereja-gereja dibangunkan dan diarahkan kepada teologi yang benar dan semangat Injili yang benar. Namun Gerakan Reformed Injili tidak menutup kemungkinan bagi hamba-hamba Tuhan yang berteologi Reformed Injili untuk mendirikan Gereja Reformed Injili sebagai salah satu wadah dalam Kerajaan Allah, yang mendampingi gereja-gereja lain untuk melaksanakan tugas panggilannya sebagai tubuh Kristus.

Siapakah yang Ada dalam Gerakan Ini?

Gerakan ini tidak dimonopoli oleh hamba-hamba Tuhan penuh waktu, juga tidak dimonopoli oleh GRII, karena teologi Reformed dan penginjilan dalam Gerakan Reformed Injili merupakan inti internal dan aksi eksternal yang seharusnya dimiliki oleh semua gereja. Maka setiap orang Kristen yang telah mengalami kelahiran baru oleh Roh Kudus dan telah dibaptiskan ke dalam Tuhan, berhak berbagian dalam Gerakan Reformed Injili. Jika Tuhan memimpin, maka orang-orang Kristen yang bersemangat dan berteologi semacam ini, boleh dengan bebas, atas kerelaannya sendiri, bergabung ke dalam Lembaga Reformed Injili, bahkan Gereja Reformed Injili Indonesia. Setiap orang yang berbagian dalam gerakan ini harus menyadari dan memahami Pengakuan Iman Reformed Injili serta rela bekerja sama dengan kaum Reformed Injili untuk mengembangkan gerakan ini, dengan tujuan untuk memuliakan Tuhan, memurnikan iman gereja, dan mengobarkan semangat Amanat Agung sampai Kristus datang kembali.

GRII dan Gerakan Reformed Injili

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, dan jemaat yang berkomitmen mengabarkan Injil. Gereja ini merupakan bagian dari tubuh Kristus, yang terdiri dari semua gereja yang berdasarkan pada ajaran yang benar dalam melaksanakan tugasnya di dalam dunia ini. Anggota GRII terdiri dari: Pertama, hasil penginjilan langsung yang menerima Tuhan dan dibaptiskan ke dalam GRII. Kedua, dari anggota gereja di luar negeri atau luar pulau yang pindah ke kota di mana GRII ada, lalu atas permintaan dan kerelaannya sendiri menjadi anggota GRII melalui atestasi setelah mengikuti katekisasi. Ketiga, anak-anak anggota yang dijanjikan oleh orangtua yang beriman untuk mendidik mereka berdasarkan iman Kristen. Keempat, perpindahan anggota gereja lain dengan mengikuti prosedur yang sah.

Dari antara anggota GRII yang meyakini pentingnya Gerakan Reformed Injili serta memiliki beban panggilan Tuhan untuk terjun dalam gerakan ini, mereka akan diberikan kesempatan untuk mengikuti pelayanan sehingga melalui pengamatan, latihan dan penyaringan, sebagian menjadi pekerja-pekerja yang melayani lebih banyak orang. Pengurus terdiri dari mereka yang sudah melewati tahap pelayanan yang dianggap cukup matang. Setiap orang Kristen yang menyadari dan memahami Gerakan Reformed Injili seharusnya memberi pengaruh yang positif, baik di dalam hidup gerejawi maupun hidup bermasyarakat dan bernegara.

Prospek Gerakan Ini

Melalui kepercayaan Reformed Injili, kami mengharapkan semakin banyak gereja yang kembali kepada ajaran yang benar, dan semakin banyak gereja yang terjun dalam melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus. Dengan demikian, STTRII, Institut Reformed, dan STRI yang berada di kota-kota besar di Indonesia maupun di luar negeri, memikul kewajiban untuk mendidik orang Kristen dalam pengenalan teologi Reformed serta memobilisasi misi penginjilan. Sedangkan GRII diharapkan untuk membuka sebanyak mungkin MRI (Mimbar Reformed Injili) di berbagai tempat untuk mengisi kebutuhan dan kehausan orang Kristen akan Firman Tuhan, teologi Reformed, dan latihan penginjilan. Kami mengharapkan teologi yang benar menjadi kunci pencerahan bagi kebudayaan dan kehidupan di dalam dunia ini; dan melalui penginjilan, membawa seluruh bangsa kembali kepada Tuhan. Karena Tuhan berkata. “Kamulah terang dunia, kamulah garam dunia.” Dalam menyongsong abad ke-21 yang ditandai dengan gerakan massa yang dipengaruhi oleh semangat Gerakan Zaman Baru serta gerakan kebudayaan yang berfilsafatkan Postmodernisme, marilah kita memancarkan cahaya Firman Tuhan bagaikan mercusuar yang menuntun semua orang yang tersesat kembali ke pangkuan Allah yang kekal.

Gerakan Reformed Injili – Apa? dan Mengapa? (Pdt. Dr. Stephen Tong)


Semangat Reformasi

“Bila kita menimbang dan mencermati dengan hati-hati seluruh perjalanan reformasi ini, kita akan mendapati bahwa Ia telah mengendalikan penuh, melalui metode-metode yang menakjubkan bahkan bertentangan dengan semua yang kita harapkan. Kepada kekuatan inilah, karena itu, yang telah seringkali Ia kedepankan demi kita. Marilah di tengah segala kerumitan pergumulan kita, kita gantungkan diri penuh dan utuh.” (John Calvin)

“Sejauh gereja menyesuaikan diri dengan dunia, dan kedua komunitas itu tampak kepada para pengamat mereka sebagai sekadar dua versi dari satu hal yang sama, gereja tengah menentang jati diri sejatinya. Tidak ada komentar lebih menyakitkan bagi orang Kristen daripada kata-kata. ‘Tetapi Anda tidak beda dari orang lain.'” (John Stott)

Gereja, dan kehidupan Kristen yang tidak terus-menerus mengalami reformasi dapat diumpamakan seperti kehidupan dan alam yang mengalami kemerosotan tanpa peremajaan.

Untuk mempertahankan kehidupan, Allah mengatur agar sel-sel tubuh kita terus-menerus mengalami proses penggantian dan peremajaan. Sel-sel tubuh kita sampai usia tertentu diganti dengan sel-sel baru. Demikian juga dalam alam terjadi hal yang sama. Tanah gersang musim kemarau berganti menjadi tanah subur musim penghujan. Daun-daun tua layu dan rontok, tetapi daun-daun muda bersemi segar menggantikan yang tua dan mati tadi. Apa yang kita saksikan dan alami dalam kehidupan dan alam, tadi adalah lukisan nyata bekerjanya kuasa pembaruan Allah yang beroperasi terus-menerus menopang dan mempertahankan kehidupan. Dia yang menciptakan segala sesuatu terus menopang mempertahankan ciptaan-ciptaan-Nya agar dapat berlangsung terus.

Reformasi pada dasarnya seirama dan seprinsip dengan rehabilitasi, rekonsiliasi, regenerasi yang terjadi dalam alam dan kehidupan. Bila demikian, bolehlah kita katakan bahwa gereja dan orang Kristen yang tidak terus-menerus mengalami reformasi bertentangan dengan kerinduan Allah agar ciptaan-Nya (baik alam maupun Gereja sebagai ciptaan baru) terus diperbarui-Nya. Tidak mengalami reformasi seumpama menggunakan gergaji tua, usang, dan tumpul untuk menggergaji batang kayu yang liat dengan akibat gergajinya yang rompal dan bukan kayunya yang putus.

MENGAPA DIPERLUKAN REFORMASI TERUS-MENERUS?

Di dalam realitas dunia ini, beroperasi dua kekuatan: kekuatan kehidupan dan kekuatan kematian. Kekuatan kematianlah yang menyebabkan sel-sel tubuh kita menua, organisme-organisme mengalami pelapukan dan peluruhan. Secara langsung atau tidak langsung, penyebab penuaan yang menuju kematian pada manusia itu adalah dosa. Andaikata manusia tidak berdosa di dalam Adam, untuk manusia mungkin sekali proses tersebut tidak berakhir di jurang kematian, tetapi ke gelombang-gelombang samudera kematangan dan keindahan hidup.

Kekuatan kehidupan adalah cara Allah untuk mempertahankan kelanggengan ciptaan-Nya. Oleh karena itu, reformasi pada intinya selaras dengan maksud Allah untuk menjaga kelestarian hidup ini.

Mengapa gereja dan kehidupan Kristen harus dan perlu mengalami reformasi terus-menerus? Karena gereja masih dalam dunia yang berdosa dan dosa masih dapat menyusup dalam bentuk struktur dan kehidupan gereja yang tidak selaras dengan dinamika kebenaran firman Allah. Bahaya-bahaya penyimpangan dalam gereja-gereja yang disurati para rasul, baik dalam Perjanjian Baru maupun dalam era selanjutnya terutama dalam era pra reformasi membuktikan perlunya pembaruan terus- menerus.

Selain harus setia memelihara Injil dan bertumpu pada kebenaran firman Allah, gereja dari zaman ke zaman bertugas mengkontekstualkan isi dan penghayatan imannya ke dalam situasi dunianya. Dunia kita kini tidak lagi sama dengan dunia para apologet atau para bapa gereja abad pertengahan, bahkan sudah jauh berbeda dari zaman era reformasi sendiri. Berbagai perumusan teologis yang pernah dibuat para pendahulu kita perlu dikaji ulang sebab perumusan tersebut dibuat agar relevan dengan zaman mereka. Mereka mencoba menyajikan kebenaran firman Allah dalam paradigma yang diambil dari konteks pemahaman zaman itu. Jika kita ingin lebih segar memahami isi iman kita dan lebih mampu mengkomunikasikan apa yang kita imani kepada orang sezaman kita, kita pun perlu menggumuli dan mengungkapkan ulang kebenaran firman yang kekal itu dalam paradigma-paradigma baru yang lebih sesuai dengan zaman ini. Sebagai contoh, menjelaskan kelahiran kembali kepada para cendekiawan zaman ini mungkin lebih tepat menggunakan gambaran “format ulang” dari dunia komputer. Alasan lain mengapa kita perlu menggumuli ulang cara mengungkapkan isi iman kita ialah karena tradisi yang kita pegang kini merupakan warisan teologi Barat. Adalah lebih efektif bila sari kebenaran Ilahi itu coba kita tuangkan dalam pola pikir yang lebih sesuai dengan konteks kita di Indonesia.

APA SAJA YANG PERLU DIREFORMASI?

Semua segi pemahaman iman dan penghayatan kehidupan Kristen kita sehari-hari! PERTAMA, isi iman yang kita pahami haruslah benar-benar bersumberkan Alkitab, bergumul di tengah-tengah konteks kebudayaan dan kebutuhan masyarakat Indonesia masa kini, sehingga isinya sekaligus sinambung dengan tradisi gereja dari abad ke abad, namun kontekstual dan kontemporer.

KEDUA, kita memerlukan kuasa firman yang dihidupkan Roh Kudus agar mampu menghayati iman kita kepada Kristus secara riil, segar, dinamis. Penghayatan iman Kristen kita tidak boleh berpuas diri sebatas penghayatan iman pribadi seperti perihal keselamatan pribadi, tetapi harus mampu mewujudkan dirinya dalam keterlibatan yang nyata di tengah-tengah pergumulan masyarakat Indonesia yang pluralistis masa kini. Dalam garis ini, perlu sekali diperhatikan ketulusan orang-orang Kristen dalam berbangsa dan bernegara sebagai manifestasi pengabdian kita kepada Allah, Tuhan atas sejarah. Juga kebutuhan sangat mendesak masa kini ialah keberanian orang-orang Kristen untuk mempraktikkan kebenaran dan menyuarakan kebenaran seiring dengan menyatakan kesalahan dan konsisten menghindari hal-hal yang tidak etis.

KETIGA, dalam dunia yang sedemikian pesat dibanjiri oleh kemudahan- kemudahan karena teknologi tinggi, ibadah-ibadah kita harus diisi dengan seluruh aspek liturgis yang sejati, segar dan riil. Bila khotbah-khotbah loyo membosankan, bila puji-pujian lesu menjemukan, bila persekutuan semu dan dangkal, akan habislah ibadah kita ditelan imbas banjir alat hiburan yang membanjiri pasar. Untuk itu kita memerlukan keberanian agar tidak kolot mempertahankan pola, bentuk, dan isi liturgi yang tidak lagi menampung kesegaran Injil, kehangatan kasih, kekayaan kreativitas untuk menampung penyampaian uraian firman, puja sembah, dan persekutuan kita satu dengan lain.

INTI SEMANGAT REFORMASI

Jiwa reformasi seperti yang ditemukan Luther, Zwingli, Calvin, John Knox, dan lain-lain. itu tidak lain adalah seperti yang disiratkan dalam moto reformasi: Sola Gracia, Sola Fide, Solo Christo, Sola Scriptura. PERTAMA, Reformasi menemukan ulang realitas anugerah penyelamatan Allah dalam Kristus melalui iman semata. Dengan kata lain, hubungan yang riil dan intim dengan Allah, itulah yang ditemukan Luther dan Calvin dan yang menopang mereka terus sampai ajal mereka.

KEDUA, media yang melaluinya Allah memimpin mereka menemukan pemahaman dan penghayatan segar indah itu ialah Alkitab. Alkitab sejak itu menjadi suatu kitab terbuka. Seluruh umat bebas membaca dan menimba dari dalamnya aliran-aliran air kehidupan dan arus tenaga pembaruan. Problem masa kini ialah tanpa sadar umat telah kembali bergantung pada “kepausan” baru, yaitu para teolog dan pengkhotbah. Reformasi ulang akan terjadi bila awam tidak lagi awam dalam pemahaman Alkitab!

KETIGA, Reformasi pada intinya mensyukuri fakta bahwa semua warga gereja adalah imam-imam Perjanjian Baru. Kita semua adalah gereja, imamat yang rajani. Masing-masing kita memiliki karunia untuk dibagikan dan tanggung jawab untuk dipikul, yaitu mewartakan pekerjaan-pekerjaan besar Allah kepada sesama kita dan saling melayani membangun tubuh Kristus.

KEEMPAT, Reformasi sebenarnya adalah penolakan terhadap teologi skolastisisme. Teologi pra reformasi telah membuat iman menjadi sesuatu yang rumit dan ruwet. Bukan saja teologi telah dilacurkan dengan filsafat zamannya, melainkan juga kesalehan pun telah dibuat rumit dengan berbagai aturan selibat, ziarah, penyembahan patung, dan lain sebagainya. Reformasi menemukan bahwa iman Kristen adalah kemerdekaan, adalah perayaan, adalah kesukaan yang dapat dipahami dan dihayati siapa saja yang terbuka pada kasih karunia-Nya.

Iman yang riil, kuasa firman, kenyataan tubuh Kristus, dan kesalehan yang ceria, itulah yang kita sangat perlukan terjadi kembali secara baru masa kini!

Sumber:

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Menerbangi Terowongan Cahaya
Judul Artikel :
Penulis : Paul Hidayat
Penerjemah :
Penerbit : PPA, Jakarta, 2002
Halaman : 54 – 58