historika

Calvin dan Tuduhan Skisma dari Katolik Roma Terhadap Para Reformator

Calvin bisa dianggap sebagai seorang pemimpin gereja yang ekumenikal. Namun, dalam kebanyakan studi tentang sikap ekumenikal Calvin, mau tidak mau kita merasakan adanya prasuposisi yang tidak semestinya, yang tidak berhubungan dengan situasi aktual abad keenam belas dan tujuh belas. Mungkin sulit diperlihatkan sampai sejauh mana sikap seseorang terhadap gerakan ekumenikal saat ini mempengaruhi kesimpulannya tentang ekumenisme para Reformator. Studi-studi ekumenikal merupakan subjek persoalan yang sensitif dan melibatkan loyalitas subjektif yang tidak selalu diakui secara terbuka.

Masalah subjektivitas ini merupakan problem metodologis dalam studi mengenai ekumenisme Calvin. Sebelum melakukan pendekatan secara objektif mengenai posisinya terhadap gereja Katolik Roma, pertama- tama kita harus menyadari prasuposisinya yang mendasar dan harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat. Menurut saya, dari perspektif para Reformator, terutama Calvin, pertanyaannya bukanlah apakah seharusnya ada reuni dengan gereja Roma, tetapi, dengan cara bagaimana gereja itu bisa direformasi ke dalam keadaannya yang lebih murni. Ia tidak ragu-ragu mengatakan bahwa gereja Roma telah kehilangan status privilesenya sebagai gereja sejati.

Richard Stauffer, menurut hemat saya, melakukan pendekatan yang tepat terhadap posisi Calvin berkenaan dengan gereja Roma. Ia mengatakan bahwa kita harus kembali ke latar belakang polemik-polemik abad ke-16 untuk memahami pemosisian Calvin tentang Reformasi berkaitan dengan gereja Roma. “Dalam pandangan Reformator Jenewa itu, sesungguhnya hal itu merupakan masalah pembedaan antara gereja yang sejati dan yang palsu.”.**1 Ia bersikeras bahwa hanya ada satu gereja yang katolik dan kudus dan bahwa para Reformator tidak sedang menciptakan gereja yang lain. Baginya, maksud dari Reformasi adalah untuk mereformasi gereja Roma, bukannya membentuk gereja yang lain. Ia mengakui bahwa jemaat-jemaat Protestan memang telah muncul sebagai akibat dari Reformasi, namun semuanya ini merupakan bagian atau ekspresi dari gereja katolik yang satu dan kudus, dan itu tidak dapat menghalangi seseorang dari persekutuan dengan orang-orang Kristen dari komunitas persekutuan lainnya. Dengan kata lain, bagi Calvin, denominasionalisme sebagaimana yang kita kenal sekarang merupakan sebuah anomali. Seharusnya ada partisipasi penuh dan pengakuan mutual serta penerimaan terhadap orang-orang Kristen dari jemaat manapun. Calvin bahkan akan mengingkari gagasan tentang “Calvinisme.” Dalam kesemuanya ini, baik pendiriannya terhadap gereja Roma maupun relasinya dengan gereja-gereja Protestan, ia memperlihatkan bahwa maksud dari Reformasi adalah untuk merestorasi gereja katolik yang satu dan kudus itu ke dalam keadaan yang lebih murni. Menurut saya, setiap studi tentang sikap ekumenisme Calvin seharusnya bertolak dari maksud Reformasi ini.

Para sarjana baru-baru ini cenderung terfokus pada pertanyaan tentang apakah Calvin melakukan separasi atau mengupayakan kesatuan dengan gereja Roma. Jean Cadier**2 dan Martin Klauber**3, misalnya, yakin bahwa posisi Calvin adalah separasi dengan gereja Roma. Menurut saya, “separasi” bukanlah kategori yang tepat karena mengandung ambiguitas tertentu di dalamnya. Sebagaimana akan kita lihat yang terlibat adalah soal-soal yang lebih dalam daripada separasi dan Calvin bersikeras bahwa para Reformator bukanlah skismatik. Cadier menyebut konferensi-konferensi dengan Katolik Roma di mana Calvin berpartisipasi dengan begitu aktif. Jika pendirian Calvin terhadap gereja Roma pada intinya adalah separasi, satu pertanyaan perlu diajukan, biar bagaimanapun mengapa ia mau berpartisipasi dalam pertemuan-pertemuan seperti itu? Di sisi lain, pengakuan iman fundamental yang dipresentasikan Klauber, dapat, dan seharusnya, dilihat dengan cara berbeda, bukan hanya “sebagai basis untuk usaha persatuan eklesiastikal di antara berbagai kubu Protestan,”**4 namun juga sebagai dasar untuk diskusi dengan orang-orang Katolik.

Ada sekelompok sarjana lain**5 yang lebih positif memandang relasi Calvin dengan gereja Roma, dan mereka percaya bahwa meski Calvin bersikap nonkompromis dalam keyakinan teologisnya, namun ia tetap mengharapkan kesatuan gereja-gereja, termasuk gereja Roma. John T. McNeil memberikan analisa historis yang baik mengenai usaha-usaha ekumenikal Calvin dan menyimpulkan bahwa ia tidak akan mengalah untuk apa yang ia anggap sebagai kebenaran hakiki, demi memperoleh kedamaian di antara gereja dan menegakkan kebersamaan di antara mereka. Namun McNeil juga setuju dengan kebanyakan sarjana Calvin bahwa ia akan menyambut dengan senang hati setiap kesempatan berunding guna membentuk relasi maksimum dengan setiap gereja, termasuk gereja Roma.**6 I. John Hesselink tiba pada kesimpulan serupa dengan McNeill, meskipun melalui pendekatan berbeda.

Menurut Robert M. Kingdon, posisi Calvin bersifat terbuka dan sikap ini bisa ia pakai sebagai pendekatan ekumenikal. Kingdon mengakui adanya kesepakatan antara Katolikisme Tridentine dan Protestantisme Ortodoks dan ini dapat dipelajari oleh semua orang yang berusaha memahami kepedulian Protestan yang dalam, agar semua doktrin Kristen terkokoh berdasar pada Alkitab.**7 Theodore W. Casteel melihat reaksi Calvin terhadap konsili Trent dalam konteks pemikiran konsiliar sang Reformator. Ia menyimpulkan, “Reformator Jenewa itu melihat harapan terbaik akan adanya rekonsiliasi dalam sebuah konsili yang benar-benar ekumenikal–sebuah proyek yang ia perjuangkan hingga akhir hidupnya.**8

Pada dasarnya saya mengikuti kelompok kedua yang berpendapat bahwa Calvin bersikap nonkompromi dalam keyakinannya, kendati demikian ia tetap mengharapkan reformasi gereja Roma yang akan mengarah pada kesatuan. Saya akan mencoba menunjukkan hal ini dengan cara yang belum pernah ditempuh sebelumnya, yakni, menganalisa jawaban Calvin terhadap tuduhan Katolik Roma bahwa para Reformator adalah skismatik. Artikel ini berisi sebagai berikut: tuduhan skismatik dari Katolik Roma terhadap para Reformator, pemahaman Katolik Roma tentang kesatuan, respons Calvin atas tuduhan skisma, dan akhirnya, pada bagian kesimpulan, pengertian Calvin tentang kesatuan gereja, yang diintisarikan dari responsnya terhadap tuduhan skisma dan dari Institutes. Yang pertama dari tiga bagian ini akan diambil terutama dari traktat-traktat dan risalah-risalah yang berhubungan langsung dengan polemik-polemik Calvin-Roma Katolik.**9 Semua isu yang dipresentasikan dalam artikel ini, tentu saja, terdapat dalam Institutes, dan dengan demikian, saya akan mengutip bagian-bagian Institutes yang paralel dan relevan pada catatan kaki.

TUDUHAN SKISMA ROMA KATOLIK

Tuduhan skisma yang paling menonjol terdapat dalam surat yang ditulis oleh uskup Roma, Sadoleto, kepada senat dan masyarakat Jenewa (1539). Melalui surat ini, ia memanfaatkan kesempatan dalam peristiwa pengusiran Calvin dari Jenewa untuk membujuk penduduk Jenewa agar kembali ke sisi gereja Roma. Ia menggambarkan para Reformator sebagai musuh-musuh kesatuan dan kedamaian Kristen, yang menabur benih-benih perselisihan, dan membuat jemaat Kristus yang setia berbalik dari jalan bapa-bapa dan para leluhur mereka.**10 Ia membandingkan mereka seperti abses, “by which some corrupted flesh being torn off, is separated from the spirit which animates the body, and no longer belongs in substance to the body Ecclesiastic.”**11 Paus Paulus III dalam suratnya kepada kaisar Charles V (1544) melukiskan para Reformator sebagai pengacau yang senang dengan pertikaian: “Nay, they rather entirely deprive the Church of all discipline, and of all order, without which no human society can be governed.”**12

Sadoleto, dalam surat yang sama, meragukan ajaran-ajaran para Reformator sebab ajaran itu merupakan inovasi yang baru tercipta, yang usianya baru 25 tahun. Ia mengagungkan kemuliaan usia gereja Katolik Roma yang menurutnya telah hadir selama lebih dari 1500 tahun dan mengklaim bahwa bapa-bapa leluhur gereja berada di pihaknya. Klaim atas otoritas bapa-bapa leluhur gereja merupakan salah satu pokok persengketaan dalam polemik Calvin-gereja Roma. Bagi Sadoleto, yang menjadi soal perdebatan adalah apakah ia harus mengikuti gereja Katolik Roma kuno ataukah membenarkan para pendatang baru yang skismatik itu. “Inilah tempatnya, saudara yang terkasih, inilah jalan raya di mana jalan itu terbagi ke dua arah, yang satu mengarah pada kehidupan, dan yang lain pada kematian abadi.”**13 Ini merupakan seruan kepada orang Katolik untuk memisahkan diri dari para Reformator, sebuah seruan yang semata-mata dibuat berdasar pada otoritas gereja dan tradisi yang diwarisi dari para orang tua. Dasar seruan ini dibuat menjadi lebih eksplisit melalui gambaran Sadoleto tentang dua pilihan atau dua cara, dengan menghadirkan dua orang yang diuji di hadapan Allah. Orang pertama, anggap saja seorang Katolik yang setia, akan mengakui imannya berdasar otoritas gereja Katolik dengan semua hukum, nasihat dan dekritnya. Ia tampil di hadapan Allah berdasar pada ketaatannya pada gereja bapa-bapanya dan bapa-bapa leluhurnya. Dalam pengakuannya itu terefleksikan tuduhan tanpa bukti terhadap para Reformator:

And though new men had come with the Scripture much in their mouths and hands, who attempted to stir some novelties, to pull down what was ancient, to argue against the Church, to snatch away and wrest from us the obedience which we all yielded to it, I was still desirous to adhere firmly to that which had been delivered to me by my parents, and observed from antiquity, with the consent of most holy and most learned Fathers.**14

Kesetiaan kepada gereja merupakan definisi dari hierarki Katolik tentang orang Kristen yang baik, karena di dalam gerejalah keselamatan kekal seseorang yang setia paling terjamin. Paulus III dalam surat tersebut di atas menasihati kaisar Charles V untuk tidak memberi kelonggaran pada kelompok Protestan dan tetap berpegang pada otoritas gereja:

But, dear son, everything depends on this, that you do not allow yourself to be withdrawn from the unity of the Church, that you do not backslide from the custom of the most religious Princes, your forefathers, but in everything pertaining to the discipline, order, and institutions of the Church, pursue the course by which you have, for many years, given the strongest proofs of heart-felt piety.**15

Selanjutnya, Sadoleto menggambarkan orang yang lain, anggaplah mewakili para Reformator, sebagai seorang yang iri dan dengki pada kekuasaan dan privilese hierarki Roma. Kegagalan para Reformator untuk berbagi kekayaan eklesiastikal telah menggerakkan mereka untuk menyerang gereja dan, “induced a great part of the people to contemn those rights of the Church, which had long before been ratified and inviolate.”**16 Ia menuduh mereka semata-mata memberontak pada otoritas konsili, bapa-bapa gereja, para Paus Roma dan tradisi- tradisi.**17 Impresi yang ingin ia bentuk ialah bahwa pemberontak Reformed itu mengklaim mereka tahu lebih banyak dari ajaran-ajaran kuno. Tetapi rasa frustasi karena gagal untuk mengubah gereja akhirnya membuat mereka memecah-belahnya. Pernyataan terakhir sang Reformator yang merasa tidak puas itu, seperti digambarkan oleh Sadoleto, mengatakan demikian:

Having thus by repute for learning and genius acquired fame and estimation among the people, though, indeed, I was not able to overturn the whole authority of the Church, I was, however, the author of great seditions and schisms in it.**18

Di samping itu, tuduh Sadoleto, para Reformator bukan saja memecah gereja tetapi juga mengoyak-ngoyaknya. Ia mengamati bahwa sejak masa Reformasi sekte-sekte berkembang biak. “Sects not agreeing with them, and yet disagreeing with each other–a manifest indication of falsehood, as all doctrine declares.”**19. Pemecahan dan pengoyakan gereja yang kudus itu, menurutnya, sepatutnya adalah pekerjaan setan, bukan pekerjaan Allah.

PEMAHAMAN KATOLIK ROMA MENGENAI KESATUAN

Tuduhan skisma yang sama dilakukan dalam Adultero-German Interim (1548),**20 meskipun tidak langsung seperti dalam surat-surat Sadoleto dan Paulus III. Menurut dekrit imperial ini ada dua tanda yang membedakan gereja dari kawanan skismatik dan bidat, yaitu kesatuan dan katolisitas. Di sini kesatuan dijabarkan sebagai ikatan kasih dan damai yang mempersatukan anggota-anggota gereja bersama-sama.**21 Perhatikan bahwa dalam kesatuan tersebut tidak disebutkan adanya fondasi doktrinal dan spiritual, kecuali ketaatan yang mutlak terhadap ajaran dan disiplin gereja. Lebih jauh lagi, gereja Roma menyombongkan diri sebagai katolik melalui klaimnya atas ekspansi geografis dan temporal serta suksesi apostolik: “diffused through all times and places, and through means of the Apostles and their successors, continued even to us, being propagated by succession even to the ends of the earth, according to the promises of God.”**22 Skismatik dan bidat-bidat, sebagaimana dituduhkan kepada para Reformator, “break the bond of peace, and to their own destruction deprive themselves of Catholic union, while they prefer their own party to the whole universal Church.”**23. Untuk memelihara kesatuan dan integritas gereja Katolik seseorang harus tunduk pada otoritasnya dengan kerendahan dan ketaatan. Sadoleto mengungkapkan sikap demikian:

For we do not arrogate to ourselves anything beyond the opinion and authority of the Church; we do not persuade ourselves that we are wise above what we ought to be; we do not show our pride in contemning the decrees of the Church; we do not make a display among the people of towering intellect or ingenuity, or some new wisdom; but (I speak of true and honest Christians) we proceed in humility and in obedience, and the things delivered to us, and fixed by the authority of our ancestors, (men of the greatest wisdom and holiness) we receive with all faith, as truly dictated and enjoined by the Holy Spirit.**24

Dengan demikian, dapat kita katakan bahwa bagi gereja Roma makna kesatuan tidak lain dari sikap tunduk, yang menjadi dasar klaim infalibilitas dan otoritas gereja. Terhadap dasar inilah sekarang kita beralih.

Kesatuan gereja, menurut Katolik Roma, bertumpu pada infalibilitasnya. Hal ini terungkap jelas dalam Articles Agreed Upon by the Faculty of the Sacred Theology of Paris (1542).**25 Artikel XVIII menyatakan:

Every Christian is bound firmly to believe, that there is on earth one universal visible Church, incapable of erring in faith and manners, and which, in things which relate to faith and manners, all the faithful are bound to obey.**26

Dari artikel ini jelas terbukti bahwa otoritas gereja merupakan otoritas hierarki. Hierarki disamakan dengan gereja yang visibel dan infalibel. Karena visibilitas gereja didasarkan atas visibilitas hierarki, maka yang belakangan juga dianggap infalibel. Bukti kedua untuk infalibilitas hierarki (dan karena itu, otoritasnya juga) ialah suksesi yang terus-menerus dari Petrus. Karena doktrin inilah apapun yang telah ditentukan gereja Roma bersifat otoritatif. Hal ini juga didukung oleh klaim bahwa gereja dipimpin langsung oleh Roh Kudus, karena Roh Kudus tidak bisa salah, maka gereja pun demikian.**27

Infalibilitas gereja merupakan dasar otoritas gereja, dan menjadi perisai yang tak terkalahkan yang melindungi gereja dari serangan musuh-musuhnya, seperti dinyatakan oleh artikel XVII. Di atas dasar inilah bertumpu doktrin-doktrin dan kekuatan gereja. Artikel-artikel berikut**28 memperlihatkan otoritas infalibel gereja yang berakar dari artikel XVIII yang mendahuluinya:

Article XIX: That to the visible Church belongs definitions in doctrine. If any controversy or doubt arises with regard to any thing in the Scriptures, it belongs to the foresaid Church to define and determine.

Article XX: It is certain that many things are to be which are not expressly and specially delivered in the sacred Scriptures, but which are necessarily to be received from the Church by tradition.

Article XXI: With the same full conviction of its truth ought it to be received, that the power of excommunicating is immediately and of divine right granted to the Church of Christ, and that, on that account, ecclesiastical censures are to be greatly feared.

Article XXII: It is certain that a General Council, lawfully convened, representing the whole Church, cannot err in its determination of faith and practice

Article XXIII: Nor is it less certain that in the Church militant there is, by divine right, a Supreme Pontiff whom all christians are bound to obey, and who, indeed, has the power of granting indulgences.

Semua artikel iman ini dimaksudkan untuk memelihara kesatuan gereja, yang menurut pemahaman hierarki gereja Roma, berdasar pada infalibilitas dan otoritasnya. Calvin menolak semua ini dalam polemik- polemiknya dengan gereja Roma. Sebelum kita melihat penolakannya terhadap artikel-artikel iman Paris ini, kita akan menganalisa responsnya atas tuduhan skisma dari hierarki Katolik Roma.

FIRMAN ALLAH DAN GEREJA: RESPONS CALVIN TERHADAP TUDUHAN SKISMA

Isu mendasar berkaitan dengan tuduhan skisma ialah pemahaman tentang gereja. Pada prinsipnya Calvin sependapat dengan Sadoleto bahwa tidak ada yang lebih membahayakan bagi keselamatan kita daripada ibadah yang sia-sia dan menentang aturan Allah. Ia menganggap prinsip ini sebagai batu loncatan bagi pembelaannya atas tuduhan Sadoleto. Namun pertanyaannya, menurut Calvin, dari dua pihak ini manakah yang memelihara ibadah yang benar pada Allah? Bagi Sadoleto, tulis Calvin, ibadah yang benar adalah seperti yang ditentukan oleh gereja. Namun, ia mengajukan sebuah pertanyaan serius sehubungan dengan penggunaan kata “gereja” oleh Sadoleto dan para pengikut Paus. Ia menuduh Sadoleto memiliki delusi tentang istilah “gereja,” atau paling tidak, secara sadar ia memberikan keterangan yang tampaknya mengesankan tetapi palsu. Dalam the Necessity of Reforming the Church, ia mendesak audiensinya untuk tidak merasa takut terhadap penggunaan kata “gereja” oleh para pengikut Paus.**29 Para nabi dan rasul telah berjuang melawan “gereja pura-pura” pada masa mereka. Mereka juga dituduh telah menghina kesatuan gereja. Namun pertanyaannya, gereja yang mana? Bagi Calvin tidaklah cukup hanya menggunakan nama gereja seperti yang dilakukan para pengikut Paus yang berusaha mengejutkan orang-orang dengan memutarbalikkan istilah gereja. “Penilaian harus dilakukan untuk memastikan yang mana gereja sejati, dan apa natur kesatuannya.”**30

Menurutnya, ada dua tanda gereja yang sejati, yakni pemberitaan firman yang setia dan pelaksanaan sakramen yang tepat. Berkaitan dengan kesatuan gereja maka hal yang pertama-tama perlu diperhatikan adalah berhati-hati supaya gereja tidak terpisah dari Kristus, Kepalanya.**31 Ia menjabarkan apa yang ia maksud dengan Kristus, “Ketika saya mengatakan Kristus, maka termasuk dalam pengertiannya adalah doktrin-Nya yang Ia meteraikan dengan darah-Nya.”**32 Melalui kesatuan antara gereja dan Kristus inilah Calvin menyangkal tuduhan bahwa ia dan para Reformator tidak sependapat dengan gereja.**33 Tuduhan skisma harus dianggap sebagai ketaatan kepada Kristus lebih dari ketaatan kepada gereja Roma. Dalam The Method of Giving Peace to Christendom and Reforming the Church, Calvin, mengutip Hilary, berkeyakinan bahwa satu-satunya kedamaian gereja ialah yang berasal dari Kristus. Ikatan kedamaian adalah kebenaran Injil.**34 Implikasi kesatuan itu diekspresikan demikian: “Wherefore, if we would unite in holding a unity of the Church, let it be by a common consent only to the truth of Christ.”**35 Selanjutnya, dalam Remarks on the Letter of Pope Paul III (to the Emperor Charles V), ia mengusulkan sebuah pembedaan antara gereja yang sejati dan yang palsu berdasar pada kesetiaan kepada Kristus, yang merupakan dasar kesatuan.

Let Farnese (Pope) then show that Christ is on his side, and he will prove that unity of the Church is with him. But seeing it is impossible to adhere to him without denying Christ, he who turns aside from him makes no departure from the Church, but discriminates between the true Church and a church adulterous and false.**36

Calvin menekankan firman Allah dalam pemahamannya tentang gereja. Yang ia maksud dengan gereja ialah, “from incorruptible seed begets children for immortality, and, when begotten, nourishes them with spiritual food (the seed and food being the Word of God).”**37 Tempat bagi firman Allah adalah sesuatu yang hilang dalam pengertian gereja Roma. Kepada Sadoleto ia menyatakan,

In defining the term, you omit what would have helped you, is no small degree, to the right understanding of it. When you describe it as that which in all parts, as well as at the present time, in every region of the earth, being united and consenting in Christ, has been always and every where directed by the one Spirit of Christ, what comes of the Word of the Lord, that clearest of all marks, and which the Lord himself, in pointing out the Church, so often recommends to us? For seeing how dangerous it would be to boast of the Spirit without the Word, he declared that the Church is indeed governed by the Holy Spirit, but in order that that government might be not be vague and unstable, he annexed it to the Word of God.**38

Bagi Calvin, Roh dan firman tidak dapat dipisahkan. “Learn, then by your own experience, that it is no less unreasonable to boast of the Spirit without the Word, than it would be absurd to bring forward the Word itself without the Spirit.”**39 Dengan prinsip ini, ia memberikan definisi yang lebih tepat tentang gereja, yaitu “sebuah kumpulan dari semua orang kudus, sebuah kumpulan yang menyebar ke seluruh dunia dan hadir di sepanjang zaman, namun terikat bersama- sama oleh satu doktrin, dan satu Roh Kristus, yang mempererat dan memelihara kesatuan iman dan harmoni persaudaraan.”**40 Dari definisi ini ia kemudian membuat klaim yang pasti tentang kesatuan: “With this Church we deny that we have any disagreement. Nay, rather, as we revere her as our mother, so we desire to remain in her bosom.”**41 Calvin menyatakan bahwa para Reformator menganggap kesatuan gereja sebagai sesuatu yang kudus dan mereka menyampaikan kutuk terhadap semua orang yang dengan cara apapun melanggarnya.**42 Ia memahami kesatuan gereja sebagai sesuatu yang berakar dari prinsip Kitab Suci, “satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua.” Ia mencirikan iman dengan mengatakan, “Lebih jauh, kita harus ingat apa yang dikatakan dalam perikop lain, ‘bahwa iman datang dari firman Allah.’ Karena itu, biarlah itu menjadi poin yang pasti bahwa kesatuan yang kudus hadir di antara kita, ketika kita sepakat dalam doktrin yang murni kita dipersatukan dalam Kristus saja.”**43 Syarat kedamaian adalah “Kebenaran Allah yang murni, suara dari Sang Gembala semata,” sedangkan “terhadap suara orang-orang asing penjaga menentang dan menolaknya.”**44 Melalui hal ini ia menekankan kesepakatan doktrinal lebih dari sekadar ketaatan eksternal kepada gereja. Ia memberikan komentar terhadap perkataan Paulus di Efesus 4:12-15:

Could he [Paul] more plainly comprise the whole unity of the Church in a holy agreement in a true doctrine, than when he calls us back to Christ and to faith, which is included in the knowledge of him, and to obedience to the truth?**45

PELAYANAN GEREJA DAN FIRMAN ALLAH

Salah satu isu yang Calvin bahas dengan Sadoleto adalah masalah jabatan-jabatan gereja. Ia mengamati dari surat Sadoleto bahwa Sadoleto menuntut ketaatan dan kesetiaan kepada pejabat-pejabat gereja dengan landasan bahwa mereka dianugerahkan otoritas. Calvin mengoreksi gagasan yang keliru ini. Baginya, otoritas dan kekuasaan orang-orang yang ditunjuk untuk jabatan gereja dibatasi dalam limit-limit tertentu sesuai jabatan mereka menurut firman Allah. Dalam limitasi ini Kristus membatasi penghormatan yang Ia haruskan untuk diberikan kepada para rasul dan, karena itu, juga kepada para gembala. Tugas utama para gembala adalah memberitakan dan mengajarkan sabda Tuhan guna memajukan gereja. Inilah satu-satunya tujuan kekuasaan rohani, yakni “to avail only for edification, to wear no semblance of domination, and not to be employed in subjugating faith.”**46 Paus, meskipun mengklaim sebagai pengganti Petrus, juga tidak dibebaskan dari limitasi ini. Kemerosotan disiplin di kalangan para uskup Roma, menurut pengamatan Calvin, adalah salah satu alasan mengapa gereja telah jatuh ke dalam kondisi yang demikian menyedihkan. Disiplin gereja mempunyai beberapa implikasi bagi kesatuannya karena menurutnya, agar gereja bersatu harus diikat bersama-sama melalui disiplin seperti halnya tubuh yang diikat otot-ototnya. Dalam hal ini menuduh balik para pejabat Katolik Roma yang telah menghancurkan integritas gereja melalui penyalahgunaan jabatan eklesiastikal; merekalah yang menabur benih-benih perpecahan. Ia secara tegas menyangkal tuduhan Sadoleto yang mengatakan bahwa para Reformator melepaskan diri dari kuk tirani gereja agar mereka sendiri bebas untuk melakukan tindakan amoral yang tak terkendalikan.**47

Dalam The Necessity of Reforming the Church, Calvin mengevaluasi pertanyaan tentang suksesi yang berhubungan dengan masalah disiplin gereja, dan dengan demikian, seperti telah kita lihat di atas, berhubungan juga dengan kesatuan gereja. Mengenai hubungan antara kontinuitas (atau suksesi) dan kesatuan ia mengatakan, “no one, therefore, can lay claim to the right of ordaining, who does not, by purity of doctrine, preserve the unity of the Church.”**48 Pernyataan ini merupakan reaksi terhadap klaim Katolik Roma bahwa hanya merekalah yang memiliki hak dan kekuasaan untuk menahbiskan orang-orang ke dalam pelayanan gereja dan menentukan bentuk ordinasinya. Para pengikut Paus menyebut kanon-kanon kuno yang mereka klaim telah memberikan superintendensi untuk masalah-masalah mengenai para uskup dan klerus.**49 Suksesi yang konstan telah dilimpahkan kepada mereka, bahkan itu berasal dari para rasul. Mereka menyangkal bahwa jabatan itu bisa ditransfer secara sah kepada orang lain. Dengan demikian, berkaitan dengan klaim suksesi ini, para Reformator yang menjalankan pelayanan tanpa otoritas Katolik Roma, telah merampas kekuasaan eklesiastikal dan telah melakukan invasi terhadap wewenang hierarki Katolik Roma.**50

Calvin membantah klaim suksesi ini dengan menyatakan bahwa suksesi apostolik telah lama diinterupsi oleh keuskupan Katolik Roma.

But if we consider, first, the order in which for several ages have been advanced to this dignity, next the manner in which they conduct themselves in it, and lastly, the kind of persons whom they are accustomed to ordain, and to whom they commit the goverment of churches, we shall see that this succession on which they pride themselves was long ago interrupted.**51

Ia menguraikan tiga kategori aturan penunjukan para uskup, cara bagaimana mereka mengatur diri mereka sendiri dalam jabatan itu, dan jenis orang yang mereka tunjuk.**52 Pertama, oleh karena hierarki Katolik telah merebut bagi diri mereka sendiri kekuasaan tunggal untuk menunjuk para klerus, Calvin mendebatnya dengan bertitik tolak dari sejarah gereja, “the magistracy and people had a discretionary power (arbitrium) of approving or refusing the individual who was nominated by the clergy, in order that no man might be intruded on the unwilling or not consenting.”**53 Dalam hal cara para uskup mengatur diri mereka, ia bersikeras agar siapapun yang mengatur gereja, hendaknya ia juga mengajar.**54 Tujuan Kristus menunjuk para uskup dan gembala ialah, seperti dinyatakan Paulus, agar mereka mengajar gereja dengan doktrin yang sehat. Menurut pandangan ini, seorang gembala gereja yang baik tidak mungkin tidak melaksanakan tugas mengajar.**55 Ia mengamati bahwa para uskup tidak melaksanakan tugas ini dengan setia. “As if they had been appointed to secular dominion, there is nothing they less think of than episcopal duty.”**56 Tidak heran jika kemudian orang-orang yang mereka promosikan untuk mendapat kehormatan sebagai imam adalah mereka yang memiliki karakter serupa. Ia menuntut dengan tegas agar ada eksaminasi yang ketat terhadap kehidupan dan doktrin mereka yang ingin menjadi pendeta, seperti yang sekarang dilakukan di gereja-gereja para Reformator.**57 Mengenai upacara ordinasi, Calvin berargumen bahwa praktek Katolik Roma tidak bersumber dari Alkitab.**58 “Satu-satunya yang kita baca, seperti yang biasa dilakukan pada zaman kuno, adalah penumpangan tangan.”**59

Hal yang sangat kritis dalam semua klaim suksesi apostolik ini ialah doktrin Injil yang murni. Keprihatinannya ini ia rangkum dengan kalimat, “Setiap orang yang melalui tingkah lakunya memperlihatkan bahwa ia adalah musuh dari doktrin yang sehat, apapun gelar yang mungkin ia banggakan, ia telah kehilangan semua otoritasnya dalam gereja,”**60 karena itu ia pun tidak bisa mengklaim suksesi apostolik. Pernyataan-pernyataan ini begitu signifikan sebab telah menggoncangkan fondasi utama gereja Roma.

KESATUAN DAN FIRMAN ALLAH

Pemahaman yang benar mengenai gereja dalam relasinya dengan firman Allah, batasan-batasan dan tujuan jabatan otoritas gereja dan disiplin, serta suksesi apostolik yang tepat telah meletakkan dasar bagi pembelaan Calvin terhadap tuduhan skisma dan bidat. Dalam jawabannya kepada Sadoleto, ia membuat pembelaan ini dengan mempertentangkan pengakuan dari orang Kristen Reformed dengan kesetiaan Katolik yang dipaparkan oleh Sadoleto. Reformator itu mengaku bahwa tidak ada hal lain yang ia lakukan kecuali percaya bahwa tidak ada kebenaran yang dapat mengarahkan jiwa seseorang menuju jalan kehidupan selain dari apa yang dikobarkan melalui firman itu. Segala hal lain yang berasal dari penemuan manusia adalah kesombongan yang sia-sia dan pemberhalaan.

Calvin berusaha menghadirkan dan menguraikan apa yang dipercayainya sebagai doktrin yang murni dan kebenaran Injil. Melalui hal ini ia memperjelas bahwa tujuan para Reformator adalah untuk kebangkitan gereja kembali. Ia memperhatikan bahwa sejumlah besar kebenaran dari doktrin kenabian dan evangelikal telah musnah dan telah “diusir dengan kasar oleh api dan pedang”**61 dalam gereja Roma. Ia menolak tuduhan Sadoleto bahwa semua yang coba dilakukan oleh para Reformator hanyalah untuk menghancurkan semua doktrin sehat yang telah disetujui oleh orang-orang beriman selama lima belas abad. Dengan gamblang ia menjelaskan bahwa para Reformator jauh lebih sesuai dengan zaman awal kekristenan dibanding gereja Roma,**62 dan Sadoleto sendiri tidak dapat menyangkalnya.

Bagi Calvin, bentuk gereja yang telah diinstitusikan oleh para rasul merupakan satu-satunya model yang benar, dan bentuk kuno gereja itu yang dibuktikan dalam tulisan-tulisan bapa-bapa gereja kini telah menjadi puing-puing. Ia memperjelas tujuan tindakan para Reformator yaitu untuk memperbarui gereja, dan perlunya melakukan hal itu bukan disebabkan oleh imoralitas dari keuskupan Roma seperti yang diklaim oleh Sadoleto. Menurut Calvin, yang mendorong para Reformator melakukan reformasi ialah karena “cahaya kebenaran ilahi itu telah dipadamkan, firman Allah telah dikubur, kebaikan Kristus tertinggal dalam pengabaian yang dalam, dan jabatan gembala ditumbangkan.”**63 Dengan berjuang menentang kejahatan-kejahatan seperti itu, mereka tidak berperang melawan gereja, namun justru mendampingi gereja di tengah penderitaannya yang sangat.**64 Ia bertanya kepada Sadoleto dengan tajam, apakah seseorang yang “sangat giat untuk kesalehan dan kekudusan seperti pada zaman gereja mula-mula, yang tidak puas dengan kondisi yang ada dalam gereja yang pecah dan rusak, dan berusaha untuk memperbaiki kondisi gereja serta merestorasinya agar mencapai kemegahan yang sejati” akan dianggap sebagai musuh?**65 Pastor Jenewa itu menyebut dua tanda dari gereja yang telah disebutkan di atas dan bertanya kepada kardinal Katolik itu, “dengan yang manakah dari hal- hal ini yang kalian ingin kami gunakan untuk menilai gereja?”**66

Apa yang disebut skisma oleh orang-orang Katolik Roma, Calvin menyatakannya sebagai usaha para Reformator untuk membawa gereja yang terdisintegrasi itu kepada kesatuan.**67 Ia membuat sebuah analogi menarik antara orang yang melakukan Reformasi dan seseorang yang mengangkat panji pimpinan militer untuk memanggil prajurit-prajurit yang terpencar agar kembali ke pos mereka. Pemimpin militer itu adalah Kristus dan prajurit-prajurit yang terpencar itu ialah para pemimpin gereja. Orang yang mengangkat bendera pemimpin itu adalah Reformator, dan diangkatnya bendera menandakan sebuah panggilan bagi kesatuan, yang diekspresikan Calvin dengan tajam,

In order to bring them together, when thus scattered, I raised not a foreign standard, but that noble banner of thine whom we must follow, if we would classed among thy people …. Always, both by word and deed, have I protested how eager I was for unity. Mine, however, was a unity of the Church, which should begin with thee and end in thee. For as oft as thou didst recommend to us peace and concord, thou, at the same time, didst show that thopu wert the only bond for preserving it. But if I desired to be at peace with those who boasted of being the heads of the Church and pillars of faith, I behoved to purchase it with the denial of thy truth. I thought that any thing was to be endured sooner than stoop to such a nefarious paction.**68

Calvin menyamakan para klerus Roma dengan serigala yang sangat lapar dan nabi-nabi palsu yang Kristus prediksikan akan ada di antara umat- Nya. Tindakan para Reformator dibandingkan dengan pelayanan para nabi zaman kuno, yang tidak dianggap skismatik ketika mereka mengharapkan bangkitnya kembali agama yang telah terdekadensi. Mereka tetap berada di dalam kesatuan gereja,**69 “walaupun mereka ditetapkan untuk dihukum mati oleh para pendeta yang jahat, dan dianggap tidak layak memperoleh tempat di antara manusia ….. **70 Jelaslah bahwa motif para Reformator bukan untuk memecah-belah gereja tetapi untuk memperbaharuinya dan memimpin kelompok-kelompok Kristen ke dalam kesatuan.**71 Baginya ada perbedaan besar antara “skisma dari gereja dan belajar untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan di mana gereja sendiri pun telah terkontaminasi.”**72Skisma muncul ketika gereja Roma menolak untuk dikoreksi:

Thou, O Lord, knowest, and the fact itself has testified to men, that the only thing I asked was, that controversies should be decided by thy word, that thus both parties might unite with one mind to establish thy kingdom; and I declined not to restore peace to the Church at the expense of my head, if I were found to have been unnecessarily the cause of tumult. But what did our opponents?… Did they not spurn at all methods of pacification?**73

Ia mengakhiri jawabannya kepada Sadoleto dengan sebuah doa yang merefleksikan esensi responsnya atas tuduhan skisma Katolik Roma:

The Lord grant, Sadolet(o), that you and all your party may at length perceive, that the only true bond of Ecclesiastical unity would exist if Christ the Lord, who hath reconciled us to God the Father, were to gather us out of our present dispersion into the fellowship of his body, that so, through his one Word and Spirit, we might join together with one heart and one soul.**74

OTORITAS GEREJA DAN FIRMAN ALLAH

Kini kita akan mempertimbangkan Response (or Antidote) to Articles Agreed Upon by the Faculty of Sacred Theology of Paris (1543) dari Calvin. Walaupun kepentingan utama dari artikel itu adalah untuk menentukan doktrin-doktrin yang harus diajarkan dan dipercayai, artikel tersebut memiliki implikasi-implikasi penting bagi pemahaman Katolik Roma mengenai kesatuan. Artikel-artikel inilah yang mendefinisikan gereja Katolik yang satu dan kudus. Apa yang mereka sebar luaskan adalah cara Katolik Roma berjuang dengan kekuatan- kekuatan yang memecah-belah di dalamnya; artikel-artikel ini dimaksudkan untuk “menenangkan gelombang opini yang menentang.”**75 Prolog dari artikel-artikel ini menyebut peringatan Paulus untuk kesatuan dalam kitab Efesus, yaitu agar mereka jangan “seperti anak- anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran.” Menanggapi hal ini Calvin memberikan antidot pertama di mana ia menekankan firman Allah, dan bersikeras bahwa inilah (firman Allah) yang menjadi otoritas satu-satunya untuk menyelesaikan atau memutuskan kontroversi-kontroversi. Ia menyebut beberapa bagian dari Alkitab dan bapa-bapa leluhur gereja untuk membuktikan bahwa otoritas satu-satunya yang membuat gereja tetap bereksistensi adalah firman Allah. Ia menyimpulkan,

Oleh karena itu, di tengah pertanyaan-pertanyaan yang bertentangan di masa sekarang ini, marilah kita mengikuti nasihat yang menurut Theodoret, (Lib. I. Hist. Eccles. cap. 7) diberikan oleh Constantine kepada para uskup di konsili Nicea — marilah kita mencari kebulatan hati dari sabda Allah yang murni.**76

Otoritas Alkitab menjadi sangat berarti ketika kita memperhatikan cara Calvin meletakkannya di atas dan terhadap otoritas gereja seperti yang diajukan dalam Artikel-artikel Iman, khususnya bab XVIII-XXIII, oleh Fakultas Teologi di Paris. Dengan berdasar pada otoritas Alkitab ia menantang klaim gereja mengenai otoritas. Pada Artikel XVII, bersama dengan orang-orang Katolik Roma, ia mengakui bahwa hanya ada satu gereja yang universal. Kendati demikian, pertanyaan yang lebih krusial bagi Calvin adalah bagaimana seseorang mengenali penampakan dari gereja. Jawabannya sederhana, yaitu firman Allah. “Kita menempatkannya di dalam firman Allah, atau, dengan kata lain, karena Kristus adalah Kepalanya, kita percaya bahwa gereja harus dilihat dalam Kristus sebagaimana seseorang dikenali melalui wajahnya.”**77 Apa yang ia maksud dengan firman Allah dan Kristus adalah pemberitaan Injil? Baginya, pemberitaan Injil dan visibilitas Kristus dan gereja saling berkorelasi. “Sebagaimana pemberitaan Injil yang murni tidak selalu dinyatakan, maka wajah Kristus pun tidak selalu menarik perhatian,”**78 demikian juga gereja tidak selalu dapat dilihat.**79 Orang-orang Katolik Roma mendasarkan visibilitas dan otoritas gereja Katolik yang satu pada hierarkinya, sedangkan Calvin mendasarkannya pada pemberitaan firman.**80

Pada Artikel XIX, berkenaan dengan otoritas gereja yang visibel dalam mendefinisikan dan menentukan isu-isu kontroversial, Calvin menantang pemikiran bahwa yang visibel selalu benar seperti yang diperlihatkan dalam sejarah. Sikap ini berbahaya karena mereka “yang menerima definisi gereja yang visibel tanpa penilaian, dan tanpa terkecuali, bisa membuat seseorang terpaksa menyangkal Kristus.”**81 Sekali lagi ia memberi penekanan pada firman untuk menyelesaikan perbantahan.

Jika muncul pertikaian diantara gereja-gereja, kita mengakui bahwa metode yang sah untuk menciptakan keharmonisan, yang selalu dicari-cari, adalah para pendeta itu berkumpul, dan mendefinisikan dari firman Allah tentang apa yang harus diikuti.**82

Pada artikel XX, berkaitan dengan hal-hal yang tidak diungkapkan secara jelas dan khusus di dalam Alkitab namun bagaimanapun juga harus dipercaya dan diterima oleh gereja melalui tradisi, Calvin mengutip Agustinus dan Chrysostom, selain dari Alkitab, segala sesuatu yang penting untuk keselamatan telah dinyatakan kepada kita dan hal-hal selain Injil tidak boleh dipercaya.

Berkaitan dengan kekuasaan ekskomunikasi, dalam artikel XXI ia mengakui bahwa kekuasaan untuk mengekskomunikasi telah diserahkan kepada gereja, begitu pula cara penggunaannya telah ditentukan (dalam firman Allah). Ini berarti ekskomunikasi harus dilakukan melalui “mulut Allah” dan tujuannya haruslah untuk pertumbuhan kerohanian/ kebaikan.**83 Hal ini jelas merupakan sebuah kontrol atau pembatasan terhadap penyalahgunaan kekuasaan ini yang dilakukan oleh hierarki Katolik yang, Fakultas Teologi di Paris mengakui, tidak boleh mempersoalkan apakah ekskomunikasi itu adil asalkan itu dilakukan dalam nama-Nya (Kristus).**84

Artikel XXII menyatakan bahwa otoritas konsili-konsili tidak dapat salah asal Paus memimpinnya dan bentuk-bentuk legal serta protokol dipelihara sebagaimana mestinya. Terhadap hal ini Calvin menekankan otoritas atau kepemimpinan Kristus. Ia tidak percaya konsili apapun yang hanya bersidang menurut aturan-aturan manusia sebagaimana mestinya, kecuali jika konsili itu dikumpulkan dalam nama Kristus. Maksudnya, Kristuslah yang memimpin, karena jika tidak konsili- konsili itu dipimpin berdasarkan pemikiran mereka sendiri dan karena itu yang mereka lakukan tidak lain dari kesalahan. Sebuah konsili yang berkumpul di dalam nama Kristus dipimpin oleh Roh Kudus, dan di bawah bimbingan-Nya, dipimpin kepada kebenaran.**85

Hal ini mengarah pada pertanyaan mengenai keutamaan Paus dalam Artikel XXII. Artikel ini lebih merupakan suatu pertahanan atas kepausan dari serangan kaum Lutheran, yang bersikeras bahwa Batu Karang itu adalah Kristus sebagai dasar gereja, dan menyangkal suksesi kepausan, serta tidak mau mengakui keutamaan Roma. Bagi Calvin, Kristuslah Kepala Gereja yang universal, bukannya Paus. Alkitab tidak berbicara mengenai pelayanan Paus, dan rasul Paulus pun tidak berpikir bahwa gereja merupakan satu keuskupan yang universal. “Sebagai penghargaan atas kesatuan, ia (Paulus) menyebut satu Tuhan, satu iman, satu baptisan (Efesus 4:11). Mengapa ia tidak menambahkan satu Paus sebagai kepala pelayanan?”**86 Ia menggambarkan relasi antara Petrus dan Paulus dan rasul-rasul yang lain, dan di dalam relasi itu tidak ada isyarat bahwa Petrus superior dibanding yang lain.**87 Bagi Calvin, gereja adalah tubuh Kristus di mana kepada setiap anggotanya diberikan “suatu ukuran yang pasti dan fungsi tertentu serta terbatas agar kekuasaan yang utama dari pemerintah terletak hanya pada Kristus.”**88 Dalam keutamaan Kristus yang universal inilah terletak kesatuan dan katolisitas gereja, yang telah terbukti kebenarannya oleh bapa-bapa gereja, antara lain Cyprian dan Gregory. Cyprian secara khusus membuat analogi-analogi tentang satu cahaya (light) dengan banyak berkas cahaya (rays), satu batang yang ditunjang oleh akarnya dan memiliki banyak cabang, (rays), satu batang yang ditunjang oleh akarnya dan memiliki banyak cabang, satu sumber air dan banyak sungai, “demikian juga gereja, dengan diliputi cahaya dari Tuhan, ia mengirim berkas-berkas cahayanya tersebar ke mana-mana; gereja juga memperbanyak cabang-cabangnya, ia mencurahkan sungai-sungai turun ke seluruh dunia; namun tetap semuanya itu berasal dari satu kepala dan satu sumber.”**89 Calvin berkomentar bahwa, menurut Cyprian, keuskupan Kristus ialah satu-satunya yang universal, dan ia mengajarkan agar bagian-bagian itu dipegang oleh para pelayan-Nya.**90

KESIMPULAN

Polemik-polemik Calvin dengan Roma mengenai tuduhan skisma tidak diragukan lagi telah menghasilkan refleksi-refleksi yang sangat dalam mengenai gereja dan kesatuannya. Isu dasarnya adalah pemahaman tentang gereja, tetapi tidak terlepas dari Kristus dan firman Allah. Gereja adalah milik Kristus dan dipersatukan di dalam Dia. Hal ini paling jelas terlihat melalui pemberitaan Injil dan pelaksanaan sakramen- sakramen yang tepat. Di dalam firman itulah terletak otoritas gereja. Semua kuasa dan fungsi pelayanan gereja dibatasi dalam firman Allah. Jabatan gereja, disiplin, dan aturan suksesi diatur oleh Roh Kristus menurut firman Allah dan semuanya itu dimaksudkan guna memajukan gereja. Calvin dan para Reformator percaya bahwa gereja Roma telah mengkorupsi doktrin Injil yang murni, menyalahgunakan kekuasaannya, dan mempromosikan segala jenis takhayul. Oleh karena itu, tujuan yang jelas dari para Reformator adalah membantu memulihkan atau memperbarui gereja Roma kepada keadaannya yang lebih murni sesuai pola gereja mula-mula seperti yang dikenal oleh bapa-bapa leluhur gereja. Calvin menganggap tuduhan skisma terhadap mereka sebagai suatu pertanyaan untuk memilih Kristus atau gereja Roma. Itu adalah pertanyaan mengenai yang manakah gereja sejati itu. Karena para Reformator taat kepada Kristus dan firman-Nya, mereka tetap berada dalam satu gereja yang sejati, dan oleh sebab itu mereka tidak dapat dianggap memisahkan diri dari gereja atau memecah-belahnya.

Calvin mencintai gereja seperti ia mencintai Kristus; kedua hal ini tidak dapat dipisahkan. Ia mengabdikan seluruh buku IV dari Institutes untuk menguraikan secara detail mengenai gereja Katolik yang kudus. Ia menyebut gereja itu sebagai ibu, karena Allah telah menyerahkan kita kepadanya agar kita bertumbuh dalam iman.**91 Itu sebabnya sangat penting untuk mengenalnya dan tidak mengabaikannya. Mereka yang tidak memiliki hubungan dengannya berarti juga tidak memiliki hubungan dengan Kristus, dan oleh karena itu mereka tidak memiliki keselamatan. Mereka yang mengabaikannya adalah orang-orang yang murtad, yang membelot dari kebenaran dan dari keluarga Allah, mereka adalah penyangkal-penyangkal Allah dan Kristus. Calvin percaya bahwa gereja terdiri dari semua orang pilihan Allah, termasuk mereka yang telah meninggal dunia. Gereja adalah katolik atau universal, yang berarti gereja adalah satu.

All the elect of God are so joined together in Christ, that as they depend on one head, so they are as it were compacted into one body, being knit together like its different members; made truly one by living together under the same Spirit of God in one faith, hope, and charity, called not only to the same inheritance of eternal life, but to participation in one God and Christ.**92

Sekalipun Calvin berbicara mengenai gereja yang tidak kelihatan, ia tidak mengabaikan berbicara tentang manifestasinya yang kelihatan, tentang jemaat lokal. Ia juga memberi perhatian besar untuk memperlihatkan karakternya yang visibel, yang ditandai terutama sekali dengan kesatuan:

This article of the Creed relates in some measure to the external Church, that every one of us must maintain brotherly concord with all the children of God, give due authority to the Church and, in short, conduct ourselves as sheep of the flock. And hence the additional expression, the “communion of the saints;”…just as it had been said, that saints are united in the fellowship of Christ on this condition, that all the blessings which God bestows upon them are mutually communicated to each other.**93

Tetapi kesatuan ini, agar terpelihara, harus diikat dengan aturan yang telah ditentukan Allah**94 dan dengan kebenaran doktrin ilahi.**95 Hal ini mungkin memberi kita suatu kesan bahwa Calvin adalah seorang pendeta yang tidak fleksibel. Namun bagaimanapun juga ia mengakui bahwa ketidaksempurnaan bisa timbul di dalam pemberitaan Injil dan pelaksanaan sakramen-sakramen. Ia membuat perbedaan antara doktrin-doktrin yang fundamental dengan yang sekunder (adiaphora), dan menyatakan bahwa semuanya ini tidak memiliki nilai yang sama**96. Semua perbedaan minor ini dalam cara apapun seharusnya tidak dijadikan alasan untuk mengabaikan gereja atau untuk menciptakan kelompok lain. “what I say is, that we are not on account of every minute difference to abandon a church, provided it retain sound and unimpaired that doctrine in which the safety of piety consists.”**97 Ia juga tidak merekomendasikan agar seseorang meninggalkan gereja karena adanya penyelewengan moral di antara para anggotanya. “Kita terlalu sombong bila kita dengan segera membenarkan diri untuk keluar dari persekutuan gereja, karena kehidupan semua orang tidak sesuai dengan penilaian kita, atau bahkan dengan pernyataan Kristen.”**98

Dari presentasi pandangan Calvin mengenai gereja dan kesatuannya, jelaslah bahwa perbedaan-perbedaan antara para Reformator dan gereja Roma pada hakikatnya bersifat fundamental, dan bahwa natur dari Reformasi pada dasarnya bersifat pembaharuan. Tetapi Calvin juga banyak berbicara menentang denominasionalisme dan fundamentalisme yang kaku, yang begitu tidak fleksibelnya sehingga hanya karena ketidaksepakatan doktrinal yang minor dan bahkan karena konflik- konflik pribadi, mereka memecah-belah atau memisahkan diri dari gereja. Boleh dibilang Calvin adalah seorang injili yang ekumenikal.

Catatan Kaki :

  1. The Quest for Church Unity from John Calvin to Isaac d’Huisseau (Allison Park: Pickwick, 1986) 3. Pendirian ini dan yang saya anut mirip dengan pendirian Daniel Lucas Lukito dalam artikelnya, “Esensi dan Relevansi Teologi Reformasi,” Veritas 2/2 (Oktober 2001) 149-157. Bdk. G. C. Berkouwer, “Calvin and Rome” dalam John Calvin: Contemporary Prophet, A. Symposium (ed. Jacob T. Hoogstra; Grand Rapids: Baker, 1959) 185. Untuk pengertian Calvin mengenai kebenaran, lih. Charles Partee, “Calvin’s Polemic: Foundational Convictions in the Service of God’s Truth” dalam Calvinus Sincerioris: Calvin as Protector of the Purer Religion (Sixteenth Century Essays and Studies vol. XXXVI; ed. Wilhelm Neuser & Brian G. Armstrong; Kirksville: Sixteenth Century Journal) 97-122.
  2. “Calvin and the Union of the Churches” dalam John Calvin (ed. G. E. Duffield; Grand Rapids: Eerdmans, 1966) 118.
  3. “Calvin on Fundamental Articles and Ecclesiastical Union,” Westminster Theological Journal 54 (1992) 342-343.
  4. Ibid. 341
  5. John T. McNeill, “Calvin as an Ecumenical Churchman,” Church History 32 (1963) 379 dst. Robert M. Kingdon, “Some French Reactions to the Council of Trent,” Church History 33 (1964) 149 dst.; I. John Hesselink, “Calvinus Oecumenicus: Calvin’s Vision of the Unity and Catholicity of the Church,” Reformed World XXX; Theodore W. Casteel, “Calvin and Trent: Calvin’s Reaction to the Council of Trent in the Context of His Conciliar Thought,” Harvard Theological Review 63 (1970) 91 dst.
  6. “Calvin as an Ecumenical Churchman” 390-391.
  7. “Some French Reactions” 151.
  8. “Calvin and Trent” 117. Untuk pendapat kontra lih. Robert E. McNally, “The Council of Trent and the German Protestants,” Theological Studies 25 (1964) 1-22.
  9. H. Beveridge memberikan introduksi yang baik untuk The Tracts and Treatises on the Reformation of the Church by John Calvin (3 vol.; tr. Henry Beveridge; Grand Rapids: Eerdmans, 1958) v-xli. Referensi selanjutnya bersumber dari buku ini, kecuali jika saya sebutkan lain. Untuk diskusi tentang risalah polemik Calvin, lih. Francis Higman, “I Came Not to Send Peace, But a Sword” dalam Calvinus Sincerioris 123-135.
  10. Tracts and Treatises 1.4,5.
  11. Ibid. 14.
  12. Ibid. 240. Surat Paus Paulus III kepada Charles V (1544) adalah teguran kepada sang kaisar yang memberi kelonggaran, meskipun hanya berupa sedikit keringanan dari tuduhan yang tidak adil kepada kaum Protestan, dan yang telah mengambil yurisdiksi dalam masalah-masalah agama yang berada di luar lingkup jabatannya. Paulus III mengeluh, “the Emperor, in claming illegal jurisdiction, had committed two sins: first, he had presumed, without consulting him, to promise a Council: and secondly, he had not hesitated to undertake an investigation alien to his office” (ibid. 238). Calvin memberi tanggapan yang tajam mengenai surat ini (1544). Ia mengekspos hipokrisi Paus dengan menunjukkan fakta bahwa semua konsili besar gereja pada masa-masa awal diputuskan bukan oleh para Paus atau uskup, tetapi oleh kaisar.
  13. Ibid. 16.
  14. Ibid. 16, 17.
  15. Ibid. 239.
  16. Ibid. 17, bdk. h.5.
  17. Ibid.
  18. Ibid. 18.
  19. Ibid. 19.
  20. Diumumkan secara resmi oleh kaisar Charles V, Interim diduga sebagai rencana kompromis antara orang-orang Katolik dan Protestan selama menunggu keputusan konsili umum. Kecuali artikel-artikel tentang Communion mengenai jenis dan pernikahan para imam, konstitusi imperial itu condong ke arah Katolik Roma. Apa yang dinamakan Common States (negeri-negeri Katolik) yang tetap setia kepada gereja Roma harus terus memelihara ordonansi-ordonansi dan anggaran dasar gereja yang universal, yakni, Katolik Roma, dan States (negeri-negeri protestan) yang telah memeluk apa yang disebut inovasi-inovasi itu diperingatkan untuk menghubungkan diri mereka kembali dengan Common States, dan sepakat dalam memelihara anggaran dasar dan upacara-upacara gereja Katolik yang universal (Tracts and Treatises 3.192).
  21. Ibid. 205.
  22. Ibid.
  23. Ibid.
  24. Tracts and Treatises 1.11.
  25. Sorbonne Theological Faculty pada tahun 1543, dengan otoritas dari Francis I, menyusun dan menerbitkan 25 artikel yang menolak ajaran Reformasi. Calvin menyangkal dan menerbitkan artikel-artikel tersebut pada tahun 1544. Di dalamnya ia memberikan teks dari setiap artikel diikuti dengan komentarnya terhadap artikel tersebut. Dengan status magisterial, artikel-artikel tersebut menentukan bahwa doktrin-doktrin itu mengikat dan harus diajar oleh para doktor dan pendeta dan dipercayai oleh orang-orang yang setia. Bahwa gereja adalah ekuivalen atau di atas Alkitab, terungkap secara eksplisit dalam dokumen ini. “The place ought to have very great authority in the Church; and although our masters are deficient in proofs from Scripture, they compensate the defect by another authority which they have, viz., that of the Church, which is equivalent to Scripture, or even (according to the Doctors) surpassed it in certainty” (ibid. 71, 72).
  26. Ibid. 101.
  27. Ibid. 102.
  28. Ibid. 103-112.
  29. Tracts and Treatises 1.212. “The Necessity of Reforming the Church” dipresentasikan di hadapan Imperial Diet di Spires tahun 1544, menyampaikan sebuah “Supplicatory Remonstrance” kepada kaisar Charles V, sehubungan dengan konsili umum gereja menurut cara gereja mula-mula. Bdk. Institutes IV.ii.2, 4.
  30. Ibid. 213.
  31. Ibid. Dalam Institutes IV.i.2-7, Calvin mengacu pada gereja bukan hanya gereja yang terlihat tetapi juga orang-orang pilihan Allah. Pemilihan sebagai dasar kesatuan gereja bukanlah tema umum dalam polemik-polemiknya dengan gereja Roma. Bdk. Arthur C. Cochrane, “The Mystery of the Continuity of the Church: A Study in Reformed Symbolics,” Journal of Ecumenical Studies 2 (1965) 81-96. Cochrane mencatat bahwa menurut pengajaran Reformed misteri kontinuitas gereja terdapat dalam pilihan dan panggilannya, di dalam dan oleh Yesus Kristus.
  32. Ibid.
  33. Bdk. Institutes IV.ii.2.
  34. Tracts and Treaties 3.240. Salah satu traktat terpenting dan serupa isinya dengan “The Necessity of Reforming the Church,” “The True Method of Giving Peace to Christendom and of Reforming the Church” (1547), adalah penolakan Calvin terhadap “The Adultero- German Interim.”
  35. Ibid. 266.
  36. Tracts anda Treatises 1.259.
  37. Ibid. 214.
  38. Tracts and Treatises 1.35.
  39. Ibid. 37.
  40. Ibid.
  41. Ibid. Bdk. Institutes IV.i.1.
  42. Ibid. 214
  43. Ibid. 215. Bdk. Institutes IV.ii.5.
  44. “The True Method of Giving Peace” dalam Tracts and Treatises 3.242.
  45. Ibid.
  46. Ibid. 52. Bdk. “Confession of Faith in the Name of the Reformed Churches of France” dalam Tracts and Treatises 2.150-152; Institutes IV.iii.6.
  47. Ibid. 54.
  48. Ibid. 174. Bdk. Institutes IV.iii.10-12.
  49. Ibid. 170. Bdk. Institutes IV.ii.3.
  50. Ibid. 172.
  51. Ibid. 171.
  52. Institutes IV.ii.1-3.
  53. Tracts and Treatises 1.172. Bdk. Institutes IV.v.2. Pada zaman sebelum Calvin, pemerintah dan masyarakat memiliki kekuasaan dalam pengangkatan dan penolakan pejabat gerejawi.
  54. Ibid. 170.
  55. Ibid. 140.
  56. Ibid. 172. Bdk. 197, 198, 203, 204, 219; Institutes IV.v.1.
  57. Ibid. 170, 171, 204, 205. Bdk. “On Ceremonies and the Calling of the Ministers” dalam Calvin Ecclesiastical Advice (tr. Mary Beaty & Benjamin W. Farley; Louisville: Westminster/John Knox, 1991) 90,91.
  58. Ibid. 174, 175.
  59. Ibid. 174. Bdk. Institutes IV.iii.16.
  60. Ibid. 173.
  61. Ibid. 38.
  62. Ibid. 37-39, 48, 49, 66. Calvin sering menyebut bapa-bapa gereja untuk menyangkal tuduhan bahwa pengajaran para Reformator itu adalah inovasi-inovasi dan merupakan sesuatu yang baru. Ia tidak hanya yakin bahwa bapa-bapa gereja ada di pihaknya, tetapi ia juga yakin bahwa mereka adalah oposisi bagi gereja Roma sekarang. Untuk studi yang lebih jelas mengenai Calvin dan bapa-bapa gereja, lihat Anthony N. S. Lane, John Calvin: Student of the Church Fathers (Grand Rapids: Baker, 1999)
  63. Ibid. 49. Suatu pembelaan yang lebih singkat terhadap tuduhan skisma itu tetapi dalam konteks berbeda diberikan dalam “On Book One (of Pighius)” dalam The Bondage and Liberation of the Will: A Defense of the Orthodox Doctrine of Human Choice Against Pighius (ed. A. N. S. Lane; tr. G. I. Davies; Grand Rapids: Baker, 1996) 7-34. Karya itu (1543) adalah respons Calvin terhadap karya Albert Pighius, Ten Books on Human Free Choice and Divine Grace (1542), yang merupakan evaluasi atas Institutesnya Calvin (edisi 1539), khususnya bab 2 dan 8: “The Knowledge of Humanity and Free Choice,” dan “The Predestination and Providence of God” secara berturut-turut.
  64. Ibid.
  65. Ibid.
  66. Ibid.
  67. Bdk. Institutes IV.ii.2.
  68. Tracts and Treatises, 1.59.
  69. Ibid. 60. Bdk. Institutes IV.ii.9, 10.
  70. Ibid. Bdk. Institutes IV.ii.10.
  71. Ibid. 67.
  72. Ibid. 63. Bdk. Institutes IV.ii.5
  73. Ibid.
  74. Ibid. 68.
  75. Tracts and Treatises 1.71.
  76. Ibid. 73. Bdk. Institutes IV.ii.10; IV.viii.5.
  77. Ibid. 102. Bdk. Institutes IV.viii.7.
  78. Ibid.
  79. Ibid.Bdk. G. C. Berkouwer, “Calvin and Rome” 185. Berkouwer menganggap pertanyaan mengenai otoritas gereja sebagai isu utama terhadap apa yang diarahkan Calvin dalam polemik-polemiknya.
  80. Ibid. 104.
  81. Ibid.
  82. Ibid. 106. Bdk. Institutes IV.xii.5.
  83. Ibid.
  84. Ibid. 108. Bdk. Institutes IV.viii.10,11;IV.ix.1-4. Dalam The Necessity of Reforming the Church and Canon and Decrees of the Council of Trent, with the Antidote, Calvin tidak melihat adanya pengharapan di dalam konsili yang bersidang atas inisiasi Paus. Dalam traktatnya yang pertama ia menyerukan kepada kaisar Charles V agar mengadakan konsili persidangan propinsi, yang memiliki preseden sejarah. “Sesering bidat-bidat baru muncul, ataupun gereja diganggu oleh beberapa perselisihan, bukankah merupakan suatu kebiasaan untuk segera mengadakan persidangan sinode secara propinsi, sehingga gangguan itu kemudian dapat diakhiri? Tidak pernah menjadi suatu kebiasaan untuk lagi-lagi mengadakan konsili umum sampai suatu cara lain telah diusahakan” (Tracts and Treatises 1.223). Di dalam pendahuluan antidotnya terhadap konsili Trent, Calvin memunculkan pertanyaan-pertanyaan serius mengenai persidangan dari konsili itu. Ia mengangkat pertanyaan mengenai masalah waktu, komposisi Trent, prosedur-prosedur, dan tujuannya. Menyadari bahwa Paus telah menentukan semua hal ini sebelumnya, Calvin membuang semua harapan akan adanya Reformasi di gereja Roma. “Apakah ini? Seluruh dunia mengharapkan adanya sebuah konsili di mana butir-butir yang bertentangan bisa tetap didiskusikan. Orang-orang ini mengakui bahwa mereka hadir tidak lain hanya untuk menghakimi apapun yang tidak sesuai dengan pikiran mereka. Dapatkah seseorang tetap sedemikian bodohnya dengan berpikir untuk mendapat bantuan atas kesusahan-kesusahan kita dari suatu konsili?” (Tracts and Treatises 3.39). Hal yang sama diungkapkan dalam artikel “If Christians Can be Given a Plan for a General Council” dalam Calvin’s Ecclesiastical Advice 46-48.
  85. Ibid. 110. Bdk. “Confession of Faith in the Name of the Reformed Churches of France” dalam Tracts and Treatises 2.150, 151; Institutes IV.vi.10.
  86. Bdk. Institutes IV.vi.4.
  87. Ibid. 111. Bdk. Institutes IV.vi.1, 3, 6
  88. Ibid. 112. Bdk. Institutes IV.ii.6;IV.iv.16, 17.
  89. Ibid. Bdk. “The Necessity” 218, di mana Calvin menentang keutamaan Paus berdasarkan pada pemikiran apakah gereja Roma adalah gereja sejati dan apakah Paus adalah uskup yang benar. Demi kepentingan argumentasi jika kita mengatakan “bahwa keutamaan itu adalah dicurahkan secara ilahi pada keuskupan Roma, dan telah didukung oleh persetujuan bersama dari gereja mula-mula; kendati demikian keutamaan ini hanya mungkin jika Roma memiliki gereja dan juga uskup yang sejati. Karena penghormatan terhadap kursi jabatan tersebut tidak bisa tetap bertahan setelah kursi jabatan itu tidak ada lagi.”
  90. Institutes IV.i.5.
  91. Ibid.IV.i.2. Bdk.”Cathechism of the Church of Geneva” (1541, 1545) dalam Tracts and Treatises 2.50, 51.
  92. Ibid.IV.i.3.
  93. Ibid.IV.i.5.
  94. Ibid.IV.i.9.
  95. Ibid.IV.i.12.
  96. Ibid.
  97. Ibid.IV.i.18.

Sumber : Hidalgo B. Garcia

Calvin dan Tuduhan Skisma Dari Katolik Roma Terhadap Para Reformator: Sebuah Studi Tentang Kesatuan Gereja ,SAAT Malang

Sejarah dan Pentingnya Alkitab Geneva

PENDAHULUAN

Adalah kerinduan kami untuk melihat umat Allah mengalami transformasi melalui pembaharuan pikiran sebagaimana Paulus mengingatkan kita dalam surat Roma. Dan tidak ada pembaharuan lebih penting selain dari mempelajari Firman Allah. Pusat dari sebuah Reformasi baru adalah keyakinan yang teguh pada otoritas Alkitab dan tunduk pada Firman Allah. Dan untuk itulah “Foundation for Reformation” (Yayasan Untuk Reformasi) ada, yaitu untuk menolong menguatkan dasar yang penting ini dalam kehidupan gereja. Pengetahuan dan pemahaman akan Alkitab merupakan langkah pertama yang penting bagi ketaatan kita terhadap Firman Allah.

Pemazmur Daud membagikan kerinduan hatinya kepada para pembaca dengan menyatakan: “Lihatlah, betapa aku mencintai titah-titah-Mu! Ya Tuhan, hidupkanlah aku sesuai dengan kasih setia-Mu. Dasar Firman-Mu adalah kebenaran, dan segala hukum-hukum-Mu yang adil adalah untuk selama-lamanya.” (Maz 119:159-161).

Saya yakin ketika Daud menuliskan Mazmur 119 ia mengetahui bahwa penganiayaan sering tak terelakkan ketika kita hidup dalam ketaatan pada Firman Allah. Bahkan mungkin saat ini, di negeri anda yang elok ini, anda menyaksikan saudara-saudara seiman yang mengasihi Firman Tuhan harus mempertaruhkan hidup mereka bagi ketaatan tersebut.

Demikianlah yang terjadi di Inggris, saat terjadi Reformasi sekitar tahun 1550-an. Pada waktu itu orang-orang begitu mencintai Tuhan Allah dan Firman-Nya, bahkan sering kali lebih daripada hidup mereka sendiri. Orang-orang ini hidup dibuang dan diasingkan karena iman mereka, dan mereka rela mempertaruhkan segalanya untuk membawa kebenaran Alkitab bagi bangsa mereka. Itulah awal mula kisah Alkitab Geneva.

SEJARAH

WILLIAM TYNDALE

Alkitab Geneva bukanlah Alkitab bahasa Inggris pertama yang dibuat. Pada abad 14, John Wycliffe menyelesaikan tugas tersulit yaitu membuat terjemahan tertulis pertama dari seluruh Alkitab berbahasa Latin Vulgate ke dalam bahasa Inggris. Bayangkan proses penulisan dan penerjemahan pada saat komputer, pengolah kata, mesin ketik dan bahkan mesin cetak belum ditemukan. Semua kalimat, kata, baris demi baris, dan halaman demi halaman, harus disalin oleh tangan. Proses yang lambat dan memerlukan ketelitian yang tinggi. Sekalipun saat itu menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris sangat dilarang, namun puji Tuhan sampai saat ini masih ada 200 salinan manuskrip yang berhasil diselamatkan dan bertahan hingga saat ini.

Dengan penemuan mesin cetak, pekerjaan penerjemahan menjadi jauh lebih mudah. Alkitab dapat dicetak, dipublikasikan, dan disebarkan kepada banyak orang dengan lebih cepat daripada sebelumnya. Alkitab Perjanjian Baru Terjemahan William Tyndale yang diterbitkan tahun 1526 ini adalah Alkitab pertama yang diterbitkan dalam bahasa Inggris. Ini juga merupakan Alkitab Terjemahan bahasa Inggris pertama dari bahasa asli Yunani. Tyndale kemudian mulai bekerja menerjemahkan Perjanjian Lama dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Inggris. Pada saat itu para bishop dan raja menjadi sangat geram dan merasa sangat terancam. Mereka menolak Terjemahan Tyndale ini dan membakar salinan yang ada sebanyak-banyaknya. Tyndale dianggap bersalah sebagai bidat dan dipenjarakan. Ia akhirnya dicekik dan dibakar karena kesungguhan dedikasinya pada Penerjemahan Alkitab.

Hasil kerja keras Tyndale tidaklah sia-sia. Semasa pemerintahan Raja Henry VIII Inggris, sekretaris Thomas Cromwell dan Archibishop Cramner mempersiapkan pekerjaan terjemahan yang baru. Seorang rekan William Tyndale, Miles Coverdale, dipilih untuk melaksanakan pekerjaan tersebut. Untuk menghasilkan terjemahan baru ini, Converdale mempelajari Alkitab Latin Vulgate, karya terjemahan lain versi bahasa Jerman, dan juga karya Tyndale sendiri. Ini menjadi Alkitab lengkap bahasa Inggris pertama yang dicetak.

Hampir bersamaan dengan itu, “the Matthew Bible” muncul. John Rogers, yang juga rekan Tyndale, adalah penterjemah yang membuat versi ini. Sumber-sumber yang digunakan Rogers meliputi terjemahan Perjanjian Baru dan bagian-bagian Perjanjian Lama yang dikerjakan oleh Tyndale, terjemahan karya Coverdal, dan juga karya perbaikan yang dibuatnya sendiri. Karyanya ini menjadi Alkitab pertama yang boleh dijual secara resmi.

Tak lama kemudian Cromwell meminta Coverdale untuk mempersiapkan terjemahan yang lain lagi. Dia takut kalau hubungan dekat “Matthew Bible” dengan karya Tyndale, yang banyak bagian catatan yang ada di dalamnya tidak disukai oleh para pejabat gereja, akan membuat pekerjaan penterjemahan dalam bahaya untuk dihancurkan. Oleh karena itu Cromwell ingin membuat terjemahan baru yang tetap setia pada teks aslinya, tetapi yang tidak akan menimbulkan kesulitan diterima oleh para penjabat gereja (klergi).

Kemudian “the Great Bible” diterbitkan. Alkitab ini hampir sama dengan “the Matthew Bible”, tetapi tanpa catatan karena mungkin akan tidak disukai oleh para klergi. Henry VIII sangat senang, lalu diumumkan dengan surat keputusan kerajaan supaya Alkitab tersebut dibaca secara umum, di setiap gereja di Inggris. Salinan-salinan Alkitab di tempatkan di gereja dan diberi rantai (supaya tidak dibawa pulang atau dicuri -red), itu sebabnya “the Great Bible” ini kemudian dijuluki dengan sebutan “the Chain Bible.” Ironisnya, Alkitab yang pada mulanya dilarang dan menyebabkan kematian Tyndale, sekarang menjadi Alkitab yang diperintahkan oleh raja untuk dibaca di setiap gereja.

ALKITAB GENEVA

Tak lama sesudah itu banyak masalah mulai bermunculan. Semasa pemerintahan Ratu Mary, pada pertengahan abad 16, pekerjaan penerjemahan Alkitab dihambat lagi. Ratu mencoba untuk mengembalikan iman Katolik Roma di Inggris. Cetakan-cetakan Alkitab berbahasa Inggris dibrendel, demikian juga penggunaan Alkitab bahasa Inggris dalam kebaktian gereja. Pada masa ini penganiayaan berdarah sering terjadi di kalangan kaum Protestan, sehingga banyak yang melarikan diri dari Inggris dan mencari perlindungan di daratan Eropa. Kota Geneva, di Switzerland, selain memberikan kebebasan agama politik bagi kaum Protestan, juga memberikan pengaruh kaum Calvinis yang kuat sehingga para Reformator diijinkan berkarya dan bertumbuh. Di sini, pemimpin-pemimpin seperti William Wittingham, John Knox dan John Calvin bersama-sama dengan para ahli teologia terkenal lainnya, memulai pekerjaan penerjemahan Alkitab untuk kepentingan masyarakat umum berbahasa Inggris.

Hasilnya adalah “the Geneva Bible”, pertama kali diterbitkan tahun 1560. Alkitab ini relatif kecil dan tidak mahal sehingga terjangkau oleh masyarakat biasa dan juga mudah disimpannya, tidak seperti versi-versi sebelumnya yang besar dan memakan tempat untuk menyimpannya. Alkitab ini berisi lebih banyak catatan pinggir, daripada versi terjemahan Alkitab sebelumnya, dan catatan-catatan tsb. merefleksikan pandangan teologi para Reformator Protestan dan kaum Calvinis. Alkitab Geneva menjadi Alkitab bahasa Inggris pertama yang berisi paling banyak catatan/keterangan. Teologia yang dijelaskan dalam catatan-catatn tsb. betul-betul mencerminkan pandangan para Reformator. Mereka ingin agar catatan-catatan tersebut menolong orang-orang biasa (awam) yang pada saat itu kebanyakan tidak berpendidikan. Para Reformator mencari cara untuk membantu orang awam agar mengerti lebih dalam akan Tuhan dari Alkitab. Alkitab Geneva juga merupakan terjemahan pertama yang membagi teks dalam ayat-ayat.

Dengan kembalinya orang-orang Protestan ke Inggris, Alkitab Geneva menjadi versi yang paling disukai di Inggris. Ini adalah Alkitab yang mendapat dukungan dari para teolog besar, seperti John Calvin dan John Knox. Sampai pada pertengahan masa Reformasi Protestan, Alkitab Geneva menjadi Alkitab Terjemahan bahasa Inggris yang mendominasi selama lebih dari 80 tahun. Terjemahan ini digunakan dan disukai baik oleh orang kebanyakan maupun orang-orang ternama. William Shakespeare memakai Alkitab Geneva, demikian juga John Bunyan, penulis “Pillgrim’s Progress”. Alkitab Geneva juga menjadi Alkitab yang dipakai oleh penduduk imigran yang datang pertama di Amerika, yaitu kaum Puritan, penduduk Jamestown, dan juga Polymouth Pilgrims membawa Alkitab Geneva.

Tetapi di pihak lain Alkitab Geneva mulai menggerogoti otoritas para bishop di Inggris. Popularitas Alkitab Geneva telah menyebabkan kaum Puritan dan para Reformator memiliki pengaruh yang meningkat diantara masyarakat Kristen di gereja-gereja, terutama karena catatan-catatan pinggir yang menjelaskan Kitab Suci dari sudut pandang teologia Reformed. Sekali lagi, para klergi gereja menjadi sangat geram. Hal ini mendorong para bishop membuat Alkitab terjemahan mereka sendiri untuk mengambil alih “the Great Bible” atau “the Chain Bible” di dalam gereja, dengan demikian Alkitab Geneva tidak mendapat tempat. Hasilnya adalah “Alkitab Bishop” (the Bishop’s Bible) yang sangat tebal dan mahal. Karya terjemahannya tidak cukup akurat dan menyeluruh. Baik para ahli teologia maupun masyarakat umum tidak tertarik, sehingga Alkitab tersebut tidak pernah mendapat popularitas. Namun, sekalipun kurang populer, Alkitab tersebut sempat menjadi Alkitab resmi gereja Inggris selama hampir lima puluh tahun.

VERSI KING JAMES

Pada saat Raja James (King James) berjaya, pejabat pemerintah gereja berpihak pada Alkitab Bishop, tetapi masyarakat lebih memilih Alkitab Geneva. Raja James sendiri tidak menyukai catatan-catatan pinggir dalam Alkitab Geneva karena teologi Roformed dan Puritan yang tercermin didalamnya. Tetapi ia juga tidak puas dengan Alkitab Bishop. Lalu ia mengadakan sebuah konferensi dan menunjuk para ahli teologia untuk memulai sebuah terjemahan yang baru. Pada tahun 1611, versi “King James” yang juga dikenal dengan “Authorized Version” diterbitkan untuk pertama kalinya. Selama lebih dari lima puluh tahun kemudian secara berangsur-angsur Alkitab versi King James mengambil alih posisi pendahulunya, Alkitab Geneva.

Alkitab versi “King James” memiliki banyak manfaat yang tidak dimiliki oleh versi sebelumnya. Pengetahuan tentang bahasa Yunani dan Ibrani juga telah lebih berkembang dibandingkan masa-masa terjemahan yang terdahulu. Terdapat bermacam-macam kelompok ahli teologia yang mengerjakan terjemahan tersebut dan mereka dapat memakai semua karya terjemahan lain yang telah dikerjakan saat itu. Tujuannnya adalah untuk menghasilkan terjemahan Alkitab bahasa Inggris yang terbaik. Sifat akademis dan juga gaya keindahan bahasa versi “King James” telah membuat Alkitab ini menjadi Alkitab bahasa Inggris yang berjaya selama lebih dari 300 tahun. Bahkan sampai sekarang masih banyak orang yang menggunakannya. Saat ini, 400 tahun setelah Reformasi dan penerbitan Alkitab Geneva, kebutuhan untuk sebuah Reformed Study Bible yang baru sangat dirasakan.

The New Geneva Study Bible

“The New Geneva Study Bible” merupakan kelanjutan dari tradisi pembaharuan. Tujuannya adalah untuk menegakkan kembali teologi Reformasi dari serangan teologia Liberal dan Armenian. Sebagaimana Alkitab Geneva yang asli, “The New Geneva Study Bible” dihasilkan oleh sekelompok ahli teologia kenamaan. Terdapat lebih banyak catatan keterangan, garis besar kitab, pengantar, dan artikel-artikel dari pandangan teologia Reformed. Catatan-catatan keterangan lebih diperluas dari catatan Geneva Bible yang asli, sebagai usaha untuk menjelaskan teologia Reformed yang ditemukan dalam Alkitab. Editor umum R. C. Sproul menyatakan bahwa “The New Geneva Study Bible” menawarkan banyak sekali alat yang dibutuhkan untuk suatu pemahaman Reformed terhadap Alkitab. Struktur perjanjian dari Alkitab terpancar melalui karya ini sehingga semakin jelas motif utama anugerah Allah dalam penebusan kita.

Karena Reformasi semakin nampak pengaruhnya dalam dunia, The New Geneva Study Bible bermaksud untuk memperluas jangkauannya ke wilayah internasional dengan tambahan terjemahan dalam berbagai bahasa seperti bahasa Rusia, Jerman Portugis dan Rumania. Saya dan Luder Whitlock dengan gembira ingin memberitahukan bahwa “Foundation for Reformation” telah membuat kesepakatan dengan yayasan Alkitab yang ada di Indonesia untuk memproduksi “The New Geneva Study Bible” dalam bahasa Indonesia. Kami juga sedang mendiskusikan dengan sejumlah rekan tentang kemungkinan memproduksi “The New Geneva Study Bible” dalam edisi China dan juga Korea. Kami meminta dukungan doa anda sekalian untuk proyek-proyek yang penting ini.

Salah seorang ahli teologia senior kami adalah Dr. J. I. Packer, beliau yang menulis 100 artikel dalam Teologia Sistematika dan kita bisa mendapatkan artikel-artikel tsb. tersebar di dalam The New Geneva Study Bible. Dr. Packer memberikan hasil penelitian yang sangat penting bahwa “Empat abad yang lalu, catatan-catatan keterangan dalam Geneva Bible yang pertama telah membuat bidang akademis melayani Allah, kebenaran dan hidup dalam kesalehan sesuai dengan intisari dari momentum dalam Reformasi saat itu. The New Geneva Study Bible ingin memberikan hal yang sama tetapi dalam konteks modern saat ini.”

Tetapi, yang lebih penting daripada catatan-catatan keterangan adalah Alkitab itu sendiri. Rasul Paulus, dalam tulisannya kepada pendeta muda Timotius, menekankan nilai dan penyelidikan dari Alkitab, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan yang baik” (2Tim. 3:16,17).

Sebagai kesimpulannya, sangat tepat jika kita mengalunkan pujian seperti Daud ketika menggambarkan keindahan dan berharganya Firman Allah dalam Kitab Mazmur: “Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah Tuhan itu tepat menyukakan hati; perintah Tuhan itu murni,membuat mata bercahaya. Takut akan Tuhan itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum Tuhan itu benar, adil semuanya, lebih indah daripada emas, bahkan daripada banyak emas tua; dan lebih manis daripada madu, bahkan daripada madu tetesan dari sarang lebah.” Mazmur 19:8-11.

Doa kami, kiranya Tuhan memakai “The New Geneva Study Bible” sebagai alat bantu yang dapat menolong kita menginspirasikan kasih baru kepada Tuhan dan Firman-Nya. Terima kasih banyak dan kiranya Tuhan memberkati anda dengan limpah.

Catatan :

 

The New Geneva Study Bible berisi Alkitab versi New King James Version yang dilengkapi dengan Catatan-catatan Ayat, Artikel-artikel Teologia serta Ayat-ayat Referensi Silang. “The New Geneva Study Bible” dalam bentuk cetak/kertas bisa didapatkan di Toko Buku Kristen Momentum (di Jakarta maupun di Surabaya).

Jika anda ingin mendapatkan bahan Catatan-catatan Ayat dari Alkitab Geneva yang asli dan lengkap (abad 16) dalam bentuk elektronik anda bisa mendapatkannya dalam CD-ROM SABDA. Namun perlu diketahui bahwa Catatan-catatan Ayat yang ada dalam The New Geneva Study Bible tidak sama dengan Catatan-catatan Ayat yang ada di Alkitab Geneva yang asli.

CD-ROM SABDA (singkatan dari “Software Alkitab, Biblika Dan Alat-alat”) disebut juga “Online Bible versi Indonesia”. CD-ROM SABDA ini dibuat oleh Yayasan Lembaga SABDA dan anda bisa mendapatkannya secara gratis dengan menghubungi alamat berikut ini:

order-CD@sabda.org

Sumber :

Terjemahan pidato makalah Ralph D. Veerman
(Ketua Foundation for Reformation), yang disampaikan pada pertemuan “Reunion of Friends and Alumni of North American Reformed Seminaries in Indonesia” di Kampus STTIAA, Pacet, 1997. Oleh Kuwat Wahyu.


Philip Melanchthon

RIWAYAT HIDUP PHILIP MELANCHTHON

Melanchthon dilahirkan dari keluarga yang terhormat dan saleh pada 16 Februari 1497 di Bretten, Palatin, Jerman. Ayahnya adalah seorang penyalur tenaga tentara yang cakap bagi Pangeran Philip dan kaisar Maximilianus I. Ibunya adalah kemenakan Reuchlin yang terkenal itu. Dalam menentukan studinya sangat ditentukan oleh pamannya, Reuchlin.

Melanchthon adalah salah seorang sarjana Jerman yang matang sebelum waktunya. Ia memiliki keahlian dalam banyak bidang ilmu pengetahuan terutama philologi klasik. Pada umur 17 tahun ia telah memperoleh gelar MA dari Universitas Tubingen. Ia menulis dan berbicara dalam bahasa Yunani, Latin lebih baik daripada orang Jerman lainnya. Puisi-puisinya disusun juga dalam bahasa-bahasa itu.

Ia memulai karyanya di depan umum di Universitas Tubingen sebagai dosen bahasa-bahasa klasik. Ia menterjemah karya-karya Plutarch, Aristoteles. Pada tahun 1518 ia menerbitkan Tata Bahasa Yunani yang diterbitkan beberapa kali. Namanya terkenal di mana-mana sehingga datanglah tawaran untuk menjadi mahaguru pada Universitas Ingolstadt, Leipzig dan Wittenberg. Ia memutuskan untuk pergi ke Wittenberg untuk menjadi mahaguru Yunani. Reuchlin memberikan rekomendasi kepada kemenakannya sebagai berikut: “Saya tahu tidak seorangpun di antara orang Jerman yang melebihi Philip Schwarzerd kecuali Eramus Roterdamus, seorang Belanda yang melebihi kita semua dalam bahasa Latin”.

Di Wittenberg Philip Melanchthon mendapat penghormatan yang besar dari rekan mahagurunya serta pendengar-pendengarnya. Melanchthon adalah seorang yang berperawakan tinggi, berdahi lebar, bermata biru yang bagus. Kecendekiawannya tidak perlu diragukan dan demikian juga dengan kesalehan dan hidup keagamaannya.

Melanchthon mencurahkan perhatiannya kepada studi bahasa Yunani agar memajukan penelitian terhadap Alkitab. Pada tahun 1519 ia juga memberikan kuliah tafsiran. Sekalipun ia tidak pernah ditahbiskan sebagai imam, namun ia sering menyampaikan khotbahnya kepada mahasiswa-mahasiswa asing yang kurang mengerti bahasa Jerman. Khotbah-khotbah itu diucapkannya dalam bahasa Latin. Ia mendapatkan panggilan ke mana-mana, namun ia lebih suka tinggal di Wittenberg hingga meninggal.

Atas anjuran Luther ia menikah dengan Katharina Krapp, saudara perempuan walikota Wittenberg, yang dengan setia menemaninya dalam suka dan duka. Mereka memperoleh 4 orang anak. Philip Melanchthon biasa mengucapkan pengakuan iman tiga kali sehari dalam keluarganya. Istrinya meninggal tahun 1557 sementara Philip Melanchthon dalam perjalanan ke Diet Worms. Ketika ia mendengar kematian istrinya di Heidelberg, ia berkata: “Syukurlah, saya segera akan mengikutimu”.

Melanchthon mempersiapkan suatu theologia yang sistematis untuk golongan reformatis sementara Luther berada di Watburg. Karangannya itu disebut LOCI COMMUNES, yang diselesaikannya pada tahun 1521. Dalam buku ini Philip Melanchthon menguraikan ajaran-ajaran pokok reformatis terutama mengenai dosa dan anugerah; pertobatan dan keselamatan. Loci merupakan buku dogmatik pertama dari kalangan reformatoris serta mempersiapkan jalan kepada Pengakuan Augsburg, di mana Melanchthon menyusunnya sendiri. Pengakuan Augsburg ini adalah salah satu surat pengakuan resmi Gereja Lutheran.

Melanchthon memainkan peranan penting dalam diet-diet yang diadakan oleh kaisar Karel V. Ia hadir dalam Diet Speyer, 1529; di Margburg, 1529. Dalam diet Margburg ia menentang dengan keras ajaran Zwingli tentang perjamuan kudus. Melanchthon di masa-masa akhir hidupnya mencurahkan perhatiannya kepada mengorganisir gerejanya di Saksen atas dasar semi-episkopal. Karena pandangan-pandangan theologinya mirip dengan Calvin, maka Philip Melanchthon sering dicurigai sebagai Cripto-Calvinisme (Calvinisme tersembunyi). Melanchthon meninggal pada tahun 1560 di Wittenberg.

LOCI COMMUNES

Karya Melanchthon “LOCI COMMUNES” ini telah menjadi Buku Pegangan Dogmatika pertama (terbit thn. 1521) yang dibuat untuk kalangan Gereja Lutheran. Isinya antara lain adalah pembahasan tentang kebenaran Firman Allah yang disusun berdasarkan urutan yang dipakai Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Roma. Menurut Melanchthon seluruh isi Alkitab dapat dibagi menjadi tiga topik/ bagian besar, yaitu: Dosa, Hukum dan Anugerah.

Pada bagian yang pertama, yaitu – Dosa -, dijelaskan bahwa manusia dengan kehendak bebasnya sendiri tidak mungkin melakukan sesuatu yang dapat menghasilkan pembenaran dari Allah, karena pohon yang jelek akan menghasilkan buah yang jelek pula. Pada bagian – Hukum -, Melanchthon berpendapat bahwa Allah memberikan hukum kepada manusia supaya ia sadar akan keberdosaannya. Hukum Illahi yang diberikan oleh Allah menuntut ketaatan manusia. Di sini manusia sadar bahwa ia tidak mungkin dapat memenuhinya, kecuali jika Tuhan bersedia mengampuni dosa-dosa manusia. BErangkat dari pokok inilah kemudian Melanchthon membahas kebutuhan manusia akan – Anugerah – Allah, yaitu bagian ketiga dari bukunya.

Buku LOCI COMMUNES telah direvisi berkali-kali oleh Melanchthon. Pada edisi aslinya Melanchthon menyetujui semua pendapat Luther, namun pada edisi-edisi perbaikan berikutnya ia memberikan beberapa pandangan yang tidak sepenuhnya setuju dengan Luther. Sebaliknya, Philip Melanchthon mengambil posisi di tengah, antara Luther dan Calvin, khususnya dalam pandangannya tentang Perjamuan Kudus. Juga pada edisi sebelumnya pandangan Melanchthon tentang predistinasi lebih cenderung fatalistis (determination), tetapi dalam edisi perbaikan Philip Melanchthon lebih cenderung mengikuti pandangan Calvin.

Sumber :

Judul Buku
Penulis
Penerbit
Halaman
:
:
:
:
Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja
Drs. F.D. Wellem, M.Th.
PT BPK Gunung Mulia Jakarta, tahun 1999
181 – 182

John Wycliffe dan John Hus

JOHN WYCLIFFE

John Wycliffe dilahirkan di Yorkshire pada tahun 1325. Studi teologianya ditempuh di Universitas Oxford dan memperoleh gelar doktor teologia di sana pada tahun 1372. Wycliffe dikenal sebagai seorang mahasiswa yang sangat cerdas. Banyak kalangan sangat menghormatinya sebagai orang yang bijaksana dan berpendidikan. Reputasi Universitas Oxford ikut terangkat karena keberadaan Wycliffe sebagai pengajar di universitas ini, yang telah dimulainya sejak tahun 1361. Hampir sebagian besar hidup Wycliffe akhirnya ia habiskan untuk mengabdi di sekolah ini.

Kehidupan Wycliffe pada dasarnya penuh dengan kontroversi. Ia mempunyai kebiasaan berbahaya yaitu mengatakan apa saja yang dipikirkannya. Jika apa yang dipelajarinya membuatnya mempertanyakan tentang ajaran Katolik resmi, maka ia langsung akan menyuarakannya. Namun hal yang membuat gereja mulai bermusuhan dengan Wycliffe adalah ketika ia mempertanyakan tentang hak Gereja atas kuasa duniawi dan kekayaan gereja. Paus telah menuntut bahwa hak milik gereja-gereja di Inggris adalah milik Paus. Wycliffe sangat tidak menyetujui tuntutan seperti itu. Menurutnya harta milik gereja adalah milik negara. Persoalan inilah yang mendorong Wycliffe mulai menyelidiki prinsip dasar kepemilikan dalam Alkitab. Ia menarik kesimpulan bahwa gereja seharusnya tidak memiliki harta duniawi. Gereja harus menjadi miskin dan sederhana seperti gereja pada masa Perjanjian Baru. Dalam hal ini Paus dikritik secara tajam oleh Wycliffe. Menurutnya Paus dan konsili seharusnya berada di bawah hukum Allah, karena Kristus lah Kepala Gereja. Oleh karena Kristus tidak pernah mentahbiskan Paus, maka Paus tidak mempunyai kekuasaan dari Kristus. Bahkan sampai puncaknya Wycliffe menyebut Paus sebagai Si Anti-Kristus.

Selain itu Wycliffe juga mempertanyakan tentang penjualan kartu- kartu pengampunan dosa dan jabatan-jabatan gerejawi, penyembahan kepada para santo dan religi yang berbau takhayul. Ia mempertanyakan juga pandangan resmi tentang Ekaristi (doktrin transubstansiasi) yang dikeluarkan oleh Konsili Lateran Keempat. Untuk pandangan- pandangannya inilah Wycliffe sering harus berhadapan dengan para uskup dan konsili-konsili untuk disidang. Namun, Inggris pada dasarnya penuh sentimen terhadap Gereja Roma, khususnya pada tahun- tahun 1300-an. Para pangeran — dan banyak orang awam yang memegang kepemimpinan yang sangat kuat di Inggris.– menyesalkan cara Gereja merampas kekuasaan dan harta rakyat. Dalam hal inilah Wycliffe mendapat dukungan dari John Gaunt (Pangeran Lancaster). Dengan memanfaatkan kecerdasan Wycliffe, John Gaunt sering memakai ide-ide dan kepopuleran Wycliffe untuk berargumentasi dengan Gereja. Sebagai imbalannya, Pangeran John Gaunt memberi Wycliffe semacam perlindungan.

Pada tahun 1377, Wycliffe akhirnya diajukan ke persidangan dan diminta menghadap uskup London untuk mempertanggungjawabkan pandangan dan ajaran-ajaran sesat yang dituduhkan kepadanya. Namun persidangan terpaksa dihentikan, sebelum Wycliffe sempat mengeluarkan sepatah kata pun, karena ternyata John Gaunt dan pemimpin persidangan beradu pendapat tentang bagaimana persidangan dijalankan, tentang apakah Wycliffe harus duduk atau berdiri. Namun sejak itu Paus mengutuk pandangan dan ajaran Wycliffe. Tulisan- tulisan Wycliffe mulai dilarang beredar.

Selama kritik Wycliffe adalah seputar kebusukan-kebusukan Paus dan tentang penyelewengan terhadap pengambilalihan hak milik gereja, maka Wycliffe merupakan pahlawan yang populer. Paus sangat geram terhadap Wycliffe dan memerintahkannya untuk berhenti berkotbah, bahkan meminta universitas Oxford untuk memecatnya, namun tidak berhasil karena Wycliffe mendapat perlindungan dari John Gaunt. Oxford justru mendukung Wycliffe. Dewan doktor di Oxford menyatakan bahwa tidak satupun tuduhan itu dapat membuktikan bahwa ajaran Wycliffe salah. Buku yang berjudul “Protes” akhirnya ditulis Wycliffe, sebagai pembelaan terhadap ajaran-ajarannya.

Namun, ketika Wycliffe mulai menyerang gereja dalam hal doktrin transubstansiasi, ia mulai kehilangan banyak pendukung. Hal lain yang terjadi yang akhirnya menyakitkan Wycliffe adalah Skisma Besar yang menyebabkan Inggris menjalin persekutuan dengan Roma dan Pembrontakan Petani (1381) yang dianggap merupakan hasil dari pengajarannya yang sesat. Akibatnya, tulisan-tulisannya dilarang, bahkan diperintahkan untuk dibakar. Wycliffe sendiri akhirnya kehilangan kedudukannya di Oxford dan dilarang berkotbah. Para pengikutnya juga diusir dari Oxford.

Akibat pengusirannya ini, Wycliffe justru memanfaatkan waktunya untuk menterjemahkan Alkitab. Menurut Wycliffe, setiap orang harus diberi keleluasaan membaca Kitab Suci dalam bahasanya sendiri. “Oleh karena Alkitab berisikan Kristus, yang diperlukan untuk mendapatkan keselamatan. maka Alkitab sangat diperlukan bagi semua orang, bukan hanya bagi para imam saja,” tulisnya. Maka meskipun Gereja tidak setuju, ia bekerjasama dengan sarjana lain untuk menterjemahkan Alkitab bahasa Inggris pertama yang lengkap. Menggunakan salinan tulisan tangan Vulgata (Alkitab terjemahan bahasa Latin) Wycliffe berusaha keras membuat Kitab Suci agar dapat dimengerti oleh orang- orang sebangsanya. Edisi pertama diterbitkan. Penerbitan kedua mengalami perbaikkan tetapi baru selesai dikerjakan setelah Wycliffe meninggal. Edisi itu dikenal sebagai “Alkitab Wycliffe”, dan dibagi- bagikan secara ilegal oleh para Lollard (skolar dari Oxford).

Karena kelemahan badan yang menyerangnya, Wycliffe akhirnya tinggal di Lutterworth dan menghabiskan waktunya di sana untuk menulis. Begitu produktifnya Wycliffe dalam menulis sampai membuat para musuhnya kagum. Pada tanggal 31 Desember 1384 Wycliffe meninggal karena serangan stroke. Tiga puluh satu tahun setelah Wycliffe dikuburkan, Konsili Konstanz mengucilkan dan menghukum dia. Pada tahun 1428 kuburannya digali dan tulang-tulangnya dibakar, abunya disebarkan di sungai Swift.

Pengaruh ajaran Wycliffe sangat kuat, khususnya keyakinannya yang sangat dalam terhadap otoritas Alkitab sehingga memberi inspirasi yang luar biasa bagi munculnya gerakan Reformasi di kemudian hari. Itu sebabnya sangat pantas jika John Wycliffe mendapat julukan “Si Bintang Fajar Reformasi”, karena melalui semangatnya Reformasi mulai muncul seperti munculnya fajar di pagi hari.

Pada dasarnya Wycliffe berusaha untuk tetap bertahan di Gereja Roma, namun Gereja tidak lagi menghendakinya. Sesudah Wycliffe, para pengikutnya juga ditindak di Inggris, namun pandangan-pandangannya mulai tersebar dengan cepat ke Eropa. Diantara para pengikut Wycliffe muncul seorang murid Kristus yang setia dan mengikuti jejaknya, yaitu John Hus.

JOHN HUS

John Hus dilahirkan di kota Husinetz, wilayah Bohemia Selatan, dari sebuah keluarga petani. Pendidikan dasar dan menengahnya ditempuh di Husinetz, tetapi kemudian melanjutkan studi theologinya ke Universitas Charles, di Praha, yang diselesaikannya tahun 1396.

Diantara teman-teman sebayanya, John Hus dikenal sebagai seorang mahasiswa yang pandai. Kesukaannya membaca melebihi teman-temannya. Hampir semua macam buku dibacanya, baik itu buku-buku teologia yang diakui resmi oleh gereja maupun yang dianggap sesat oleh gereja, seperti halnya buku karangan para pembaharu gereja Bohemia, Milic, Yanov, dan buku-buku John Wycliffe, sang reformator Inggris. John Hus adalah seorang yang sangat ramah dan bersahabat dengan orang- orang di sekitarnya. Selain diakui sebagai seorang yang saleh, ia juga dianggap sebagai seorang yang mempunyai tingkah laku yang sangat terpuji.

Pada tahun 1401 ia ditahbiskan menjadi imam dan tahun 1402 diangkat menjadi rektor Universitas di Praha. Di kampus inilah John Hus menghabiskan sebagian besar waktunya. Namun disamping tugasnya sebagai rektor, ia juga menjadi pengkhotbah rutin di Kapel Betlehem, sebuah kapel yang sangat berpengaruh, yang letaknya tidak jauh dari universitas itu. Di Kapel ini Hus berkotbah dua kali sehari.

Kapel Bethlehem banyak dihiasi dengan lukisan-lukisan gambar Kristus dan Paus, namun dengan prilaku yang justru sangat berlawanan. Di satu sisi adalah gambar Kristus yang sedang berjalan tanpa alas kaki, di sisi lain gambar Paus yang sedang menunggang kuda. Di satu sisi gambar Yesus yang sedang membasuh kaki murid-murid-Nya, di sisi lain gambar Paus yang sedang diciumi kakinya. Hus sangat geram dengan sifat keduniawian para rohaniwan gereja saat itu, termasuk Paus. Pada kesempatan berkotbah inilah ia terus menerus mengajarkan tentang kesucian pribadi dan kemurnian hidup. Tapi tak jarang ia gunakan kesempatan kotbahnya untuk mengkritik kehidupan gereja, khususnya para klerus, uskup dan juga kepausan. Dari semua kotbahnya sangat jelas terlihat bahwa ajaran tentang otoritas Alkitab adalah penekanan utamanya.

Di antara buku dan tulisan para reformator gereja pada abad pertengahan, Hus paling tertarik pada pandangan-pandangan Wycliffe. Meskipun John Wycliffe ada di Inggris namun pengaruh tulisannya tersebar sampai ke Bohemia, bahkan sampai ke istana, khususnya ke saudara perempuan raja Bohemia, Anne, yang menikah dengan Raja Richard II dari Inggris. Hus lah yang menjadi penyebar utama ajaran-ajaran Wycliffe di Bohemia. Ajaran-ajaran Wycliffe dikuliahkannya kepada mahasiswanya, bahkan karangan Wycliffe “Trialogus” diterjemahkannya ke dalam bahasa Cekoslowakia. Banyak orang tertarik dengan ajaran yang baru itu sehingga Hus menjadi sangat terkenal, bahkan sampai ke kalangan aristokrat, termasuk sang ratu. Ketika pengaruh Hus di universitas semakin besar, maka semakin populerlah tulisan-tulisan Wycliffe.

Namun dari pihak gereja, hal ini dipandang sebagai malapetaka. Uskup Agung Praha menolak ajaran Hus dan mulai memerintahkan Hus untuk berhenti berkotbah. Namun Hus menolak perintah tsb. Paus Innocentius VII (salah satu dari tiga Paus hasil Skisma Besar) memerintahkan Uskup Agung Bohemia untuk mengambil tindakan-tindakan perlawanan terhadap ajaran Wycliffe yang sudah dinyatakan sesat pada tahun 1407. Universitas secara khusus diperintahkan untuk membakar semua tulisan-tulisan Wycliffe. Paus John XXIII akhirnya menempatkan Praha di bawah “interdict” — suatu tindakan untuk mengucilkan seluruh kota itu, sehingga tidak ada seorang pun di kota itu yang dapat menerima sakramen gereja. Demi jemaat, akhirnya Hus bersedia meninggalkan kota Praha. Namun, Hus mempunyai cukup banyak pendukung. Tantangan- tantangan yang dihadapi Hus justru membangkitkan semangat nasionalisme rakyat Bohemia, termasuk Raja Bohemia.

Di luar kota Praha Hus terus melanjutkan perjuangannya dengan mengembangkan perlawanan terhadap gaya hidup yang amoral dari kaum rohaniwan, termasuk Paus, bahkan menegaskan bahwa hanya Kristus lah Kepala Gereja, bukan Paus. Dalam bukunya yang berjudul “On the Church”, Hus mencela otoritas kaum rohaniwan, tapi menekankan bahwa hanya Allah yang dapat mengampuni dosa. Menurut Hus, jika doktrin gereja bertentangan dengan ajaran Alkitab, maka ajaran Alkitab lah yang harus dijunjung tinggi.

Pengajaran Hus tentang otoritas Alkitab inilah yang sangat menonjol, bahwa Alkitab adalah satu-satunya yang memiliki kewibawaan yang tertinggi dalam gereja. Kristus adalah Kepala yang memerintah gereja, bukan Paus. Semua ajaran gereja yang bertentangan dengan Alkitab ditolak oleh Hus, seperti penjualan surat penghapusan dosa, kehidupan mewah dan amoral dari para pejabat gereja, termasuk Paus, dan mendesak agar roti dan anggur dalam perjamuan juga harus diberikan kepada semua anggota jemaat.

Menyadari sangat berbahayanya ajaran-ajaran Wycliffe, yang dipopulerkan oleh Hus, bagi Gereja Katolik Roma saat itu, maka Paus Gregorius memperingatkan Uskup Agung agar melakukan tindakan yang tegas terhadap Hus dan tulisan Wycliffe. Oleh karena itu pada bulan Juni 1408 diadakan sidang sinode yang memutuskan untuk membrendel semua tulisan Wycliffe dan meminta Hus untuk tidak lagi mengajarkannya. Akibat dari keputusan tersebut Hus mengadakan perlawanan terhadap Uskup Agung. Hal yang tidak dapat dielakkan adalah terjadinya pergolakan dalam Universitas Praha karena ada sebagian orang yang mendukung Hus tapi ada juga yang melawan.

Namun demikian Hus bertekad untuk menegakkan pengajaran yang ia yakini berdasarkan pada Alkitab. Selama hampir dua tahun ia mencoba mengadakan pembelaan lewat tulisan-tulisan dan kotbah-kotbahnya, sampai akhirnya Paus John XXIII menggunakan kekuasaannya untuk mengucilkan Hus dan para pendukungnya dari gereja. Raja Romawi, Sigismund sebenarnya menaruh simpati terhadap Hus. Itu sebabnya ia menawarkan bantuannya untuk menyelesaikan pertikaian Hus dengan Paus. Didesaknya John Hus untuk mau menghadiri konsili yang akan diadakan oleh Paus pada thun 1414. Pada pikirnya konsili yang akan membahas tentang tindakan-tindakan pembaharuan dalam gereja akan dapat mengakomodasi ide-ide Hus. Karena tempat diadakannya konsili adalah di Contanz, maka jika Hus bersedia menghadirinya, Sigismund menjanjikan keselamatan diri Hus, bahkan jika hasil konsili tidak menguntungkan Hus.

Itikat baik Raja Sigismund diterima dengan baik oleh Hus, sehingga ia setuju untuk menghadiri konsili dengan tujuan agar ia dapat mempertanggungjawabkan pandangan-pandangan teologinya yang dituduh menyesatkan jemaat. Namun, malapetaka menimpa diri Hus, setibanya di Contanz, John Hus ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Kesempatan untuk pembelaan diri dalam konsili ternyata tidak pernah diberikan, sebaliknya Hus dihadapkan ke beberapa kali persidangan dengan tuduhan-tuduhan yang sangat memojokkannya. Konsili akhirnya memutuskan untuk meminta Hus menarik kembali ajaran-ajarannya yang dianggap sesat, namun Hus menolak dengan tegas dan menuntut untuk suatu persidangan yang adil. Hus bersedia mengaku bersalah hanya jika konsili berhasil menunjukkan dari Alkitab bahwa ajarannya telah menyimpang. Untuk hal ini Hus tidak pernah mendapatkan jawaban dari sidang konsili. Selama delapan bulan masa persidangan yang silih berganti Hus dipaksa harus meringkuk di dalam penjara dan diperlakukan dengan tidak layak.

Sekali dua kali Raja Sigismund berusaha untuk membujuk anggota sidang konsili agar mereka mendengarkan pembelaan Hus. Namun konsili menolak bahkan mengancam untuk mengucilkan Raja dari gereja jika ia terus mendesak konsili. Ancaman ini membuat Raja tidak berkutik untuk membela Hus, sehingga janji perlindungan Raja terhadap keselamatan Hus pun terpaksa harus dibatalkan dengan alasan bahwa janji terhadap penyesat tidak perlu ditepati.

Keadaan penjara dan masa persidangan yang panjang membuat kondisi fisik Hus menurun dengan drastis. Namun ditengah kelemahan tubuh karena kurang tidur dan penyakit yang menyerangnya, serta desakan Raja agar Hus menyerah, Hus tetap menyatakan tidak bersalah, bahkan ia terus menuntut haknya untuk memberikan pembelaan diri atas tuduhan-tuduhan yang diberikan kepadanya. Pada sidang konsili ia berseru: “Meskipun ditawarkan sebuah kapel yang penuh dengan emas, saya tidak akan mundur dari kebenaran.” Selama dalam penjara John Hus masih sempat menulis banyak surat kepada sahabat- sahabatnya di Bohemia. Surat-suratnya penuh memuat petunjuk- petunjuk bagi para pengikutnya, bahkan untuk beberapa tahun lamanya surat-surat itu menunjukkan wibawa yang besar.

Pada tanggal 6 Juli 1415, sidang konsili di hadapan jemaat membacakan tiga puluh tuduhan yang diberikan kepada ajaran Hus, yang mana tidak satu pun dari tuduhan itu betul. Gereja akhirnya memutuskan dengan resmi menyatakan bahwa Hus adalah pengajar sesat, jabatannya sebagai imam dicopot dan ia diserahkan kepada pihak otoritas sekuler untuk segera dihukum mati pada hari itu juga. Dalam perjalanan menuju tempat eksekusi, Hus melewati halaman sebuah gereja dimana sedang berkobar sebuah api unggun yang dibuat dari buku-bukunya. Hus masih sempat berseru kepada orang-orang yang berkumpul di jalan agar tidak mempercayai kebohongan yang beredar tentang dia dan ajarannya. Pada saat Hus siap dibakar mati di atas tiang pancang, yaitu hukuman paling keji yang pantas dijatuhkan bagi pengajar sesat jaman itu, pejabat pemerintah yang bertugas melaksanakan hukuman mati masih berharap agar Hus menarik kembali ajaran-ajarannya, namun Hus berkata: “Allah adalah saksi saya. Bukti yang mereka kemukakan salah. Saya tidak pernah mengajar atau berkotbah kecuali untuk maksud memenangkan manusia, jika mungkin, dari dosa mereka. Hari ini saya siap mati dengan gembira.”

Walaupun John Hus telah mati dibakar hidup-hidup, tetapi pengajarannya masih terus dikumandangkan oleh para pengikutnya yang setia. Mereka menamakan diri Kaum Hussit. Selama beberapa waktu pengikut kelompok ini dikejar-kejar dan dihambat dengan sangat kejam. Namun pemerintah Bohemia dan Gereja Katolik Roma tidak mampu membendung semangat mereka. Setelah melewati perang Hussit yang panjang akhirnya Gereja Hussit diakui keberadaannya di Bohemia disamping Gereja Katolik Roma.

Abu jasad John Hus telah hanyut di sungai, tapi semangat Hus untuk menegakkan pengajaran Alkitab yang murni tidak pernah dihanyutkan oleh jaman dan waktu. Pengaruh dari semangat dan kegigihan John Hus untuk membela kebenaran Alkitab telah membuka jalan bagi pencerahan rohani yang memuncak pada terjadinya Reformasi Gereja Protestan.

Sumber:

Bahan disusun oleh Yulia Oeniyati dari sumber-sumber:

1. Judul Buku
Judul Artikel

Penulis
Penerbit
Halaman

:
:

:
:
:

Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja
1. Hus, John
2. Wycliffe, John
Drs. F.D. Wellem, M.Th.
PT BPK Gunung Mulia, Jakarta 1989
1. 134-136
2. 246-247
2. Judul Buku
Judul Artikel

Penulis
Penerbit
Halaman

:
:

:
:
:

100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen
1. John Hus, Dibakar pada Tiang Pancang
2. Wycliffe Mengawasi Penerjemahan Alkitab ke dalam Bahasa Inggris
A. Kenneth Curtis, dkk.
PT BPK Gunung Mulia, Jakarta 1991
1. 68-69
2. 66-67
3. Judul Buku
Judul Artikel

Penulis
Penerbit
Halaman

:
:

:
:
:

The New International Dictionary of the Christian Church
1. Hus, Jan
2. Wycliffe, John
J. D. Douglas
Zondervan Publishing House
1. 492-493
2. 1064-1065
4. Judul Buku
Judul Artikel

Penulis
Penerbit
Halaman

:
:

:
:
:

New Dictionary of Theology
1. Hus, John
2. Wyclif, John
Sinclair B. Ferguson
InterVarsity Press
1. 323 – 324
2. 732

Dr. Cornelius Van Til

Cornelius Van Til dilahirkan di dalam sebuah keluarga Kristen yang mengasihi Tuhan di Nederland pada tanggal 5 Mei 1895. Selain mendapat pendidikan agama Kristen di rumah, Cornelius Van Til juga mendapat pendidikan yang baik dari sekolah Kristen. Melalui latar belakang yang baik ini, Cornelius Van Til mengenal Tuhan Yesus sebagai Juruselamat dan ia menyadari bahwa semua bidang kehidupan manusia ada di bawah pengaturan Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana.

Pada usia sepuluh tahun, Cornelius Van Til pindah ke Amerika Serikat. Beliau menjadi besar bersama kaum imigran Belanda yang tinggal di negara bagian Indiana. Kemudian beliau melanjutkan sekolah di Calvin College dan Princeton Theological Seminary.

Beliau mendapat gelar Ph.D dari Princeton Seminary. Setelah melayani Tuhan sebagai pendeta di Spring Lake, Michigan, beliau mengajar Apologetika di Princeton Seminary selama satu tahun (1928-1929). Pada tahun 1929, tokoh-tokoh dari PCUSA (Presbyterian Church in the United States of America) mencoba mengubah Princeton Seminary agar tidak menekankan kesetiaan kepada doktrin Reformed. Hal ini menyebabkan beberapa dosen dari Princeton keluar dan mendirikan sebuah seminari yang berdiri teguh pada doktrin Reformed. Tokoh-tokoh yang keluar dari Princeton dan turut serta dalam mendirikan Westminster Seminary ialah Robert Dick Wilson, J. Gresham Machen, Oswald T. Allis, Cornelius Van Til, dan John Murray yang ikut keluar pada tahun berikutnya.

Di Westminster Seminary Dr. Van Til mengajar Apologetika dari tahun 1929-1972. Dari tahun 1972-1987 Dr. Van Til menjadi guru besar pensiun di Westminster.

Selain merupakan salah seorang tokoh pendiri Westminster Seminary, Dr. Van Til juga merupakan seorang pendiri dari sebuah sekolah Kristen yang terkenal di Philadelphia. Sekolah ini didirikan pada tahun 1942 dan dikenal dengan nama Philadelphia-Montgomery Christian Academy. Sekarang sekolah itu sudah berkembang menjadi tiga sekolah, masing- masing mulai dari TK sampai SMA.

Dr. Van Til meninggal pada tanggal 17 April 1987 dan dimakamkan pada tanggal 22 April. Upacara pemakaman dipimpin oleh Pendeta Steven F. Miller dari Calvary Orthodox Church di mana Dr. Van Til mengetahui bahwa ia akan meninggal, beliau minta Pendeta Miller membacakan dua pasal terakhir dari kitab Wahyu. Bagian Alkitab ini merupakan tujuan dari hidup beliau. Iman beliau menengadah kepada janji Tuhan, yang akan memberikan kesembuhan kepada bangsa-bangsa melalui pohon kehidupan yang ada di taman Tuhan dimana tidak ada lagi kutukan. Dr. Van Til hidup selama 91 tahun dan 11 bulan. Untuk mengenang jasa beliau yang besar terhadap Westminster Seminary, bangunan kelas Westminster diberi nama Van Til Hall.

PANDANGAN DAN PIKIRAN PENTING DARI DR. VAN TIL

Sumbangsih yang terbesar dari Dr. Van Til bagi gereja Tuhan ialah dalam bidang Apologetika. Ayat pegangan bagi beliau untuk melakukan apologetika ialah 2Korintus 10:5,

“Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.”

Dr. Van Til menekankan bahwa ketika Paulus mengajar kita mengenai menawan segala pikiran, Paulus mau agar kita menaklukkan setiap argumentasi dan dalih dari dunia yang menentang Tuhan. Kita harus membawa semua kebenaran kepada kemuliaan Tuhan. Dalam melakukan apologetika, Dr. Van Til setia kepada Alkitab. Beliau menghendaki agar kita juga mengritik pikiran dan pandangan yang bukan Kristen sesuai dengan ajaran Alkitab.

Ajaran ahli filsafat Jerman, Immanuel Kant, merupakan “musuh” Dr. Van Til. Menurut Kant, pengetahuan kita terbatas oleh pengalaman kita. Pengetahuan seseorang dibatasi oleh bidang phenomenal (phenomenal realm) atau bidang pengalaman dan penglihatan manusia. Kita tak dapat menyelidiki kenyataan-kenyataan yang berada di luar batas pengalaman kita. Semua yang berada di luar batas pengalaman kita, menurut Kant. termasuk dalam bidang noumenal (noumenal realm). Dr. Van Til melukiskan posisi Kant sebagai berikut:

noumenal —–> di luar kemampuan kita untuk mengetahui
phenomenal —> sumber dari semua pengetahuan kita

Kelemahan Kant yang terbesar menurut Dr. Van Til adalah:

  1. Semua pengetahuan adalah bersifat subyektif (tergantung dari orang yang mengetahuinya);
  2. Manusia tidak dapat mempunyai pengetahuan tentang Allah, karena pengetahuan ini termasuk dalam bidang noumenal.

Dualisme ini menurut Dr. Van Til tidak perlu ada. Beliau menyelesaikan persoalan ini dengan membuat sebuah lingkaran yang mengelilingi baik bidang noumenal maupun bidang phenomenal. Tuhan menciptakan kedua bidang ini dan Tuhan dinyatakan dalam dua bidang ini. Baik bidang noumenal maupun bidang phenomenal ada di bawah kekuasaan Tuhan dan mereka adalah satu di dalam ciptaan dan wahyu-Nya. Perbedaan yang dibuat oleh Kant adalah salah.

Dr. Van Til memakai apologetika yang berkeyakinan pada Allah Tritunggal: Bapa, Anak, dan Roh Kudus berbicara kepada kita melalui Alkitab. Alkitab mengajar bahwa kita harus melihat perbedaan posisi yang besar antara Allah sebagai Pencipta dan manusia sebagai ciptaan. Sebagai Pencipta, Allah tidak bergantung kepada manusia. Sebaliknya semua manusia sebagai ciptaan Allah, bergantung kepada Allah.

Menurut Dr. Van Til, pikiran manusia yang sudah jatuh dalam dosa tidak dapat menjadi jawaban untuk menyelesaikan persoalan hidup manusia. Alkitab adalah jawaban yang final untuk menjawab persoalan manusia. Dr. Van Til dengan tegas menolak prinsip manusia yang mau hidup secara otonom, tidak mau bergantung pada Allah. Manusia yang mau hidup otonom adalah manusia yang tidak menyadari bahwa ia adalah ciptaan Allah.

Dr. Van Til berkata bahwa Kristus yang diberitakan dalam Alkitab selalu menjadi titik pusat dari apa yang beliau ajarkan. Seorang guru besar kesayangan Dr. Van Til waktu beliau masih belajar di Princeton Seminary ialah Dr. Geerhardus Vos. Kekaguman Dr. Van Til pada Dr. Vos disebabkan karena Dr. Vos mengajarkan Alkitab yang berpusat pada Kristus. Bertitik tolak dari hal ini, Dr. Van Til meninggikan Kristus dalam apologetika. Segenap bidang kehidupan harus berpusat pada Kristus; bukan saja di gereja, tetapi juga di rumah, di sekolah, di universitas, di pasar, di bidang politik, bahkan segala sesuatu di dalam hidup bermasyarakat.

PENGARUH DR. CORNELIUS VAN TIL BAGI ORANG KRISTEN

Selain menjadi berkat di bidang Apologetika, Dr. Van Til juga memberikan sumbangsih yang besar di bidang-bidang lain. Teologi Sistematika juga tak lepas dari perhatian Dr. Van Til. Dalam bukunya, “In Defense of the Faith” jilid ke-5, Dr. Van Til membahas mengenai pentingnya Teologi Sistematika. Dr. Richard Gaffin, seorang dosen Teologi Sistematika di Westminster Seminary berkata, “Saya tidak dapat membayangkan Teologi Sistematika tanpa Van Til.” Dr. Van Til membedakan antara Teologi Sistematika dan Apologetika. Kedua bidang ini mengajarkan hal yang sama, yaitu Alkitab, tetapi dengan tujuan yang berbeda. Teologi Sistematika dipakai untuk menghadapi gereja, sedangkan Apologetika dipakai untuk menghadapi dunia. Sebagaimana Alkitab merupakan dasar untuk melakukan Apologetika, demikian pula Alkitab merupakan dasar untuk Teologi Sistematika. Menurut Dr. Van Til, kita tak dapat menjadi seorang apologet Kristen yang baik, kalau kita belum mengetahui teologi secara sistematis. Untuk melakukan apologetika dengan baik, kita harus mengetahui Teologi Sistematika dengan baik juga. Kedua bidang ini saling membutuhkan dan saling melengkapi.

Dr. Van Til juga berpengaruh dalam bidang misi dan penginjilan. Dalam 1Petrus 3:15, Petrus mengimbau kita agar kita siap sedia pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab tentang pengharapan yang ada pada kita. Penginjilan lebih menekankan apa yang kita percaya, sedangkan Apologetika lebih menekankan mengapa kita percaya. Apologetika merupakan langkah lebih lanjut dari penginjilan, di mana kita berusaha membela kebenaran Alkitab dan berusaha meyakinkan orang yang tidak percaya mengenai berita penghukuman dan pengharapan yang ada di dalam Alkitab. Baik dalam melakukan apologetika maupun dalam penginjilan, Dr. Van Til menekankan pentingnya keyakinan Kristen (Dr. Van Til memakai istilah Christian presupposition) dan epistemologi Kristen. Dosen Harvie Conn yang mengepalai Departemen Misi di Westminster Seminary memakai prinsip ini dalam melaksanakan penginjilan. Kita dapat mengenal ajaran Dr. Conn yang bertitik tolak dari prinsip Dr. Van Til melalui bukunya yang berjudul “Eternal Word in Changing World”.

Departemen Sejarah Gereja dan Konseling di Westminster Seminary juga mengikuti jejak pendirian Dr. Van Til yang berdiri teguh di atas Alkitab. Van Til tidak menghendaki Sejarah Gereja berada dalam bidang yang netral. Konseling yang diajarkan di Westminster juga bertitik tolak dari ajaran Van Til. Profesor John Bettler, seorang dosen konseling di Westminster berkata, “Kita berusaha mempraktekkan apologetika Van Til di dalam bidang psikologi.”

Kita mengucap syukur kepada Tuhan atas berkat Tuhan yang besar pada gereja-Nya melalui kehidupan Dr. Van Til. Kalau Dr. Van Til beserta pikiran dan karya tulisnya sudah menjadi berkat yang besar untuk gereja Tuhan di Amerika, biarlah berkat-berkat tersebut juga boleh menjadi berkat yang besar bagi gereja dan umat Tuhan di Indonesia.

Dr. Van Til gemar mengutip Abraham Kuyper (pendeta, pendiri Free University of Amsterdam, juga mantan perdana menteri Belanda), yang pernah berkata, “Tidak ada satu sentimeter pun dari kehidupan di mana Kristus tidak berkata, ‘Itu adalah milik-Ku.'” Biarlah segenap bidang pendidikan dan hidup kita dikuasai seluruhnya oleh Kristus dan dipakai untuk meninggikan serta memuliakan Dia, Raja atas segala raja dan Tuhan atas sekalian yang dipertuan.

KEPUSTAKAAN

Beberapa buku (yang penulis miliki) yang ditulis mengenai Van Til:

  • Churchill, Robert K. Lest We Forget. A Personal Reflection on the Formation of the Orthodox Presbyterian Church. Philadelphia: The Committee for the Historian of the Orthodox Presbyterian Church.
  • Notaro, Thom. “Van Til and the Use of Evidence. Phillipsburg, New Jersey: Presbyterian and Reformed, 1980.
  • Pratt, Richard L. Every Thought Captive. Phillipsburg, New Jersey: Presbyterian and Reformed, 1979.

Beberapa buku (yang penulis miliki) yang ditulis oleh Van Til:

  • Van Til, Cornelius. Why I Believe in God. Philadelphia: Great Commission Publication, no date.
  • A Christian Theory of Knowledge. Philipsburg, New Jersey: Presbyterian and Reformed, 1969.
  • The Defense of the Faith. Phillipsburg, New Jersey, Presbyterian and Reformed, 1967. Cetakan ketiga.
  • In Defense of the Faith Vol. 2. A Survey of Christian Epistemology. Phillipsburg, New Jersey: Presbyterian and Reformed, no date.
  • In Defense of the Faith. Vol. 5. An Introduction to Systematic Theology. Phillipsburg, New Jersey: Presbyterian and Reformed, 1974.

Catatan:
Pdt. Cornelius Kuswanto selama 8 tahun menempuh studi lanjut di Amerika Serikat, terakhir di Westminster Theological Seminary. Beliau saat ini mengajar di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang.

Sumber:

Sumber:

Judul Majalah : Momentum 5
Judul Artikel : Mengenang Dr. Cornelius Van Til: Tokoh Apologetika Reformed Gereja
Penulis : Pdt. Cornelius Kuswanto
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, Des 1988
Halaman : 40 – 42

Jemaat-jemaat Kristus di Asia Melintasi Abad Ke-21

Bagaimana penggembalaan gerejawi di Asia menghadapi tendensi perkembangan gereja dan masyarakat abad ke-21?

Ladang pelayanan penggembalaan gereja Asia adalah negara-negara di Asia, maka sebelum membicarakan bagaimana menyusun strategi penggembalaan gerejawi di Asia dalam menghadapi tendensi perkembangan gereja dan masyarakat abad ke-21, perlu meninjau kembali prinsip dan strategi perkembangan sejarah tiap suku bangsa, sambil juga meninjau bagaimana pemimpin-pemimpin negara di Asia merancangkan rencana pembangunan negara untuk masa mendatang. Selain itu, yang terpenting adalah cara-cara Allah. Penguasa sejarah dalam menangani segala perkara dengan benar, yang tercantum dalam Alkitab itu perlu didiskusikan dan dipanuti sebagai strategi yang terbaik.

I. MENINJAU KEMBALI PRINSIP DAN STRATEGI PERKEMBANGAN SEJARAH NEGARA- NEGARA DI ASIA

Suku bangsa tertua di Asia adalah suku Jawa. Menurut catatan arkeologi, telah ditemukan fosil “manusia Jawa” yang berumur 10.000-100.000 tahun. Karena belum ada kesimpulan akhir, maka kita tidak perlu membicarakannya. Memang benar bahwa suku Jawa telah 4.000 tahun lebih dapat menerima sejarah itu. Menurut Buku Sejarah yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, 3.000 tahun yang lalu sejumlah besar suku Mongol berimigrasi ke Kepulauan Indonesia. Rute perjalanan suku Mongol ini mula-mula ke Han Chong (daratan Cina Tengah), kemudian Yun Nan, Thailand, Semenanjung Malaka, Sumatra, Jawa, akhirnya tersebar ke Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Kepulauan lainnya. Imigrasi kedua terjadi pada 2.000 tahun yang lampau, sekitar abad ke-1, termasuk sejumlah suku Yun Nan yang berimigrasi ke Selatan. Suku Yun Nan sebenarnya adalah suku Mongol yang mula-mula, setelah imigrasi ke Selatan berbaur dengan suku setempat. Jalur perjalanan imigran kedua ini sama dengan yang pertama. Alasan imigrasi adalah karena kekacauan akibat peperangan, perdagangan, mencari tempat tinggal yang lebih aman dan sejahtera.

Imigrasi besar ketiga berasal dari India. Mereka memakai jalur darat dan laut: Lautan Hindia, Thailand, Myanmar ke Sumatra, Jawa, dan kemudian pada abad ke-2 mendirikan Kerajaan Prambanan di Jawa Tengah. Sampai pada abad ke 8, penganut agama Budha dari Cina dan India datang dan mendirikan Kerajaan Sriwijaya di Palembang, Sumatra Selatan.

Imigrasi besar keempat adalah penganut agama Islam dari Arabia, di Timur Tengah. Kebanyakan di antaranya yang kini menjadi orang-orang Pakistan. Pada abad ke-12, dengan amanat untuk menaklukkan dunia bagi Islam, mereka datang ke Aceh, Sumatra Utara, Kalimantan, kemudian ke Selatan, tiba di Pulau Jawa, dan mendirikan Kerajaan Majapahit. Sesudah itu ekspansi ke Timur Laut menaklukkan Sulawesi, dan ke Utara sampai ke Pulau Mindanao, Filipina Selatan. Pada abad ke-15, tentara Spanyol menaklukkan Pulau Luzon, kemudian ke Selatan menghambat rencana ekspansi Islam ke utara ke Pulau Luzon itu.

Kolonialisme Eropa Barat pertama yang berekspansi ke Timur adalah Portugis, yang mulai menaklukkan Goa di pantai Barat India, kemudian menyeberangi selat Malaka di Lautan Hindia, tiba di Pulau Jawa, memerintah Indonesia selama kurang lebih 100 tahun lamanya. Bangsa Spayol menjajah pulau Luzon. Pada abad ke-16, Belanda menyerang Indonesia, mengusir Portugis dan menjajah Indonesia selama 350 tahun lamanya. Pada abad ke-18, kolonialisme Inggris menjajah negara-negara Arab, India, Myanmar, Malaysia, Borneo Utara (sekarang Sarawak, Sabah dan Brunei). Sampai Perang Dunia II, negara-negara Eropa dikalahkan Jepang. Abad ke-19, Perancis menjajah daratan Indocina: Vietnam, Kamboja, Laos. Melihat negara-negara Eropa memiliki negara jajahan di Asia Tenggara, Timur Tengah, daratan India dan memiliki kekayaan yang besar, maka tentara Amerika Serikat maju ke Timur, mengusir Spanyol, dan menjajah Filipina selama 50 tahun lamanya. Usia Perang Dunia II, Amerika Serikat menang atas Jerman, Italia dan Jepang, dan mengusir kolonialisme Inggris, Perancis dan Belanda kembali ke Eropa, bersikap sebagai pahlawan mendukung negara-negara di Asia Tenggara. Perusahaan-perusahaan besar Amerika Serikat mulai menanam modal di Asia Tenggara, melalui pendidikan dan teknologi menarik para cendekiawan untuk melakukan berbagai penelitian. Dengan demikian Amerika Serikat menjadi negara adikuasa dalam bidang pendidikan, kesenian, ekonomi, militer dan dunia hiburan (catatan: Materi di atas dikutip dari Sejarah Indonesia, dan artikel Ensiklopedia Britanica tentang perkembangan kolonialisme di Asia).

Di masa 500 tahun yang silam, kolonialisme yang menjajah negara-negara di Asia Tenggara, memiliki angkatan laut yang kuat, dan menguasai perniagaan dan ekonomi. Dengan filsafat Romawi dan Yunani, serta kemajuan teknologi (sebenarnya adalah relatif), membuat rasa superioritas bangsa dan budaya, yang meremehkan bangsa dan budaya Timur. Pandangan tersebut kemudian berubah sejalan dengan kemajuan ekonomi yang telah dicapai negara-negara Asia akhir-akhir ini.

Meninjau kembali sejarah singkat di atas, Asia didiami oleh berbagai suku bangsa, dan pemeluk berbagai agama, memiliki beraneka ragam budaya dan pemikiran filsafat, serta berbagai sistem pemerintahan. Wilayah ini memiliki sumber daya alam yang kaya raya, oleh sebab itu beratus-ratus tahun lamanya terjadi perebutan kekuasaan, yang kuat menindas yang lemah. Mungkin karena iklim yang baik sepanjang tahun, alam yang indah, sehingga yang pernah datang mengunjungi negeri-negeri di sini, ingin datang lagi, bahkan berusaha menetap untuk jangka waktu yang panjang. Penduduknya ramah dan sopan, lapang dada dan terbuka, mudah menerima kebudayaan dan agama lain yang masuk. Tidak demikian dengan para pendatang yang kuat itu, yang sering menindas, merampok dan membunuh. Namun setelah lewat puluhan, ratusan tahun, yang tidak membaur, setelah tiba waktunya, di saat kekuatan makin melemah, mereka pun kembali ke negerinya.

Dari perkembangan sejarah di atas, kita dapat mengambil beberapa prinsip: Dengan sikap yang sabar dan lapang dada menerima budaya, agama dan bangsa lain, memberikan ruang gerak bagi mereka dan waktulah yang akan menentukan semuanya. Kebijakan yang diambil oleh negara-negara Asia adalah bersatu berjuang untuk bangsa dan negara, walaupun cara atau strategi berbeda, tetapi tujuannya adalah sama.

II. RENCANA PEMBANGUNAN NEGARA-NEGARA DI ASIA UNTUK MASA MENDATANG

Di masa 30 tahun silam (1965-1995), kebanyakan pemimpin-pemimpin politik di negara-negara Asia berunding dengan kelompok pemikir internasional untuk menggariskan rencana politik negara jangka panjang. Seperti Indonesia, Rencana Pembangunan Jangka Panjang 25 tahun tahap pertama: tahun 1969-1994. Pembangunan tersebut meliputi: Wajib belajar 9 tahun (bebas biaya) untuk warga negara Indonesia. Minimal mendirikan sebuah Perguruan Tinggi di setiap ibukota kabupaten, mendorong lembaga-lembaga keagamaan berperan serta dalam pembangunan di sektor pendidikan. Anggaran pendidikan mencapai 12% dari Rancangan Anggaran Belanja Negara. Mendirikan satu poliklinik dengan tim dokter di setiap desa yang berpenduduk 500 kepala keluarga. Mengupayakan listrik masuk desa. Demi kelancaran transportasi, dibangun jalan-jalan raya, pelabuhan laut, lapangan udara, dan jalan kereta api. Juga membangun tempat-tempat pariwisata. Di sektor perekonomian, mengupayakan kemajuan di bidang industri, perdagangan dan pertanian. Membangun industri minyak bumi, petrokimia, pertambangan, pertanian, perikanan, industri mobil dan pesawat terbang, bank-bank dan perusahaan asuransi yang bertaraf internasional, investasi modal asing. Laporan akhir dari hasil pembangunan jangka panjang tahap pertama ini menunjukkan peningkatan: 12% warga negara sudah dapat mengenyam pendidikan perguruan tinggi, 28% pendidikan menengah dan 48% pendidikan dasar 6 tahun. Pendapatan per kapita setiap tahun meningkat dari US$ 15 menjadi US$ 1,000, 1997. Perdagangan internasional meningkat dari US$ 800 juta menjadi US$ 67,6 miliar. Laju perekonomian tiap tahun meningkat 6,5%-7,8%. Rencana Pembangunan Jangka Panjang tahap kedua dimulai tahun 1994 sampai tahun 2019.

Sejak 30 tahun silam, Singapura juga melaksanakan pembangunan jangka panjang. Penduduk yang dapat mengenyam pendidikan telah mencapai 98%, pendapatan per kapita sebesar US$ 22,520, 98,3% penduduk telah beroleh pekerjaan. Perdagangan internasional mencapai US$ 200 miliar tiap tahun. Laju ekonomi tiap tahun meningkat 6,8-8,3%. Kini Singapura telah mengembangkan industri elektronik yang canggih dan mahal, dan menjadi pusat moneter, pusat perhubungan di Asia, dan kota internasional.

Sejak merdeka di tahun 1957, Malaysia dipimpin oleh lebih dari sepuluh partai politik. Malaysia juga melaksanakan rencana pembangunan jangka panjang tahun 1991-2020. 90% penduduk sudah bisa mengenyam pendidikan. Pendapatan per kapita telah mencapai US$ 3,530. 97,1% penduduk telah beroleh pekerjaan. Perdagangan internasional mencapai US$ 120 miliar lebih per tahun. Laju perekonomian tiap tahun meningkat 8,5-10%. Negara ini kaya akan hasil tambang: minyak bumi, batu bara, timah, tembaga dan sebagainya. Kekayaan hutan yang besar terdapat di Sabah dan Sarawak. Dalam kurun waktu yang tidak lama lagi, negara ini bisa menjadi negara terkaya ke-5 di Asia.

Sistem pemerintahan Thailand adalah monarki konstitusional, dipimpin oleh Kabinet Parlementer. Pada masa lalu secara bergantian dipimpin oleh kekuatan militer, namun kini dikuasai oleh kaum cendekiawan. Walaupun selalu berganti kabinet, tetapi dengan dilaksanakannya rencana pembangunan jangka panjang, maka tercapailah kemajuan di sektor pendidikan dan ekonomi. Pemerataan pendidikan baik pendidikan umum juga pendidikan wihara. 87% penduduk telah mengenyam pendidikan dasar. Pendapatan per kapita telah mencapai US$ 2,315. 96,3% penduduk telah beroleh pekerjaan. Perdagangan internasional mencapai US$ 100 miliar per tahun. Laju perekonomian tiap tahun meningkat sejumlah 7-8%. Setelah Perang Dunia II, negara ini menjadi markas besar ASEAN. Pada masa 20 tahun perang di daratan Indocina, negara ini dijadikan markas bagi tentara PBB dan Amerika Serikat.

Sejak Filipina merdeka di tahun 1946, karena dijajah dan dididik selama 500 tahun lebih oleh Spanyol dan Amerika Serikat, negara ini telah menjadi negara Timur yang sangat dipengaruhi oleh budaya barat. Agama Roma Katolik ditetapkan sebagai agama negara. Pemerataan pendidikan menengah ke atas mencapai angka 90%. Pendapatan per kapita US$ 1,010. 89,1% penduduk telah mendapat pekerjaan. Tetapi diperkirakan ada 600.000 tenaga kerja yang dikirim ke luar negeri, yang menghasilkan devisa negara sebesar US$ 2,5 miliar tiap tahun. Sejak tahun 1986, dibawah kekuatan pemerintahan rakyat, sangat mengutamakan kesejahteraan dan keamanan masyarakat, kemajuan ekonomi, investasi modal asing dan sebagainya.

Brunei adalah sebuah negara kecil yang berpenduduk 300.000 orang. Yang dipimpin oleh Sultan. Secara geografis letaknya tidak terlalu menonjol, namun produksi minyaknya mencapai 200.000 barel per hari, sehingga pendapatan per kapita mencapai US$ 18,500 per tahun. Semua penduduk dapat menikmati pendidikan dan pengobatan gratis. Setiap tahun Departemen Pendidikan menyediakan bea siswa untuk 1.000 orang pemuda yang diutus belajar di universitas-universitas terkemuka di dunia. Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka kembali untuk membangun tanah air. Tidak ada pengangguran di negara ini (0%), sebaliknya kira-kira ada 17.000 orang asing yang bekerja di negara ini. Perdagangan internasional mencapai US$ 6 miliar. Laju perekonomian tiap tahun meningkat 3%.

Setelah usai perang Vietnam tahun 1975, walaupun Vietnam menganut paham komunis, pada tahun 1985 Vietnam mulai mengubah perekonomian pasar, dengan memberi kesempatan bagi penanam modal asing untuk mendirikan industri-industri. Walaupun kini pendapatan per kapita hanya US$ 220 per tahun tetapi laju perekonomian telah meningkat 8%. Volume perdagangan internasional telah mencapai US$ 10 miliar. 88% warga negara yang telah beroleh pekerjaan. (Materi di atas diambil dari laporan dalam Majalah Tahunan Bank Dunia edisi 1994, dan Asiaweek edisi Juni 1995).

Dalam segi keagamaan, mayoritas penduduk Indonesia, Malaysia dan Brunei adalah pemeluk agama Islam, juga ada pemeluk agama Kristen, Budha dan Hindu. Mayoritas penduduk Thailand dan Vietnam adalah pemeluk agama Budha, tetapi diberikan juga ruang gerak yang luas bagi agama Islam, Kristen dan agama tradisional Cina. Penduduk di Singapura memeluk agama tradisional Cina, Budha, Kristen, Hindu dan Islam, dan ada kerukunan beragama di sana. Walaupun Filipina adalah negara Roma Katolik, tetapi penduduk di Pulau Mindanao (Selatan Filipina) adalah pemeluk agama Islam, juga ada agama tradisional Cina dan Agama Kristen.

Kini penduduk Asean sudah berjumlah 420 juta jiwa, pertambahan pendudukan per tahun 2,2%, berarti setiap tahun akan bertambah ± 10 juta jiwa. Sampai tahun 2.000, jika Kamboja, Myanmar dan Laos masuk ASEAN, maka jumlah penduduk akan menjadi 500 juta jiwa. Sedangkan umat Kristen, termasuk umat Roma Katolik hanya berjumlah sekitar 100 juta, 20% dari jumlah seluruhnya. Setiap negara berusaha untuk mencapai masyarakat yang sejahtera, agar dapat memajukan perekonomian, sehingga sikap terhadap kemajuan di bidang agama adalah “terbatas tapi bebas, bebas tapi terbatas.” Dilarang menyerang kegiatan agama lain. Dilarang melanggar apa yang telah menjadi ketetapan pemerintah. Sebaliknya mendukung semua kegiatan yang memasyhurkan dan mengharumkan nama bangsa dan negara di mata internasional. Meninjau tendensi-tendensi di atas, bagaimanakah gereja-gereja Asean menggariskan strategi dan langkah-langkah untuk menghadapi era pemerataan pendidikan, era informatika, era globalisasi, pluralis, dan teknologi canggih ini? Semuanya ini harus menjadi perenungan bagi para pemimpin gereja. Berdoalah kepada Kristus, Kepala Gereja itu, agar Ia mengutus Roh Kudus untuk memimpin kita, bagaimana berlandaskan kepada prinsip-prinsip Alkitab untuk mendobrak tradisi-tradisi denominasi gereja, berembuk menyusun rencana dan strategi, yang mendukung rencana pembangunan pemerintah, menunaikan Amanat Agung Kristus, menunggu Kristus datang kembali.

III. PERLENGKAPAN YANG DIBUTUHKAN DALAM PENGGEMBALAAN DI GEREJA-GEREJA ASEAN

Selama 40 tahun lebih, oleh anugerah Tuhan, penulis menjadi pengajar di seminari, mengadakan penginjilan, membuka ladang baru, mendirikan gereja dan sekolah Kristen. Semuanya itu dilakukan penulis selaku hamba kecil yang menaati dan melakukan kehendak-Nya. Dengan pemahaman yang dangkal, melalui kesempatan ini penulis mencoba memberikan beberapa saran, kiranya pembaca yang terhormat berkenan memberi petunjuk dan koreksi.

  1. Dosen seminari dan pemimpin gereja perlu membentuk kelompok pemahaman Alkitab untuk menyelidiki seluruh doktrin Alkitab, kebenaran Alkitab yang tak pernah berubah itu, untuk mengevaluasi doktrin-doktrin yang telah menjadi tradisi denominasi-denominasi gereja Barat, yang selama ini disebut sebagai kepercayaan ortodoks, namun tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab. Memisahkan kebenaran Alkitab yang tidak berubah itu dengan kebudayaan barat, agar orang Asean dengan jelas mengenal garis pemisah antara kebenaran agama Kristen dan kebudayaan Barat, untuk mengurangi sikap menentang kebudayaan Barat sebagai alasan menentang kebenaran Kristen.
  2. Dosen seminari dan pemimpin gereja perlu membentuk kelompok kecil untuk mempelajari rencana pembangunan nasional. Berdasarkan kebenaran Alkitab, dengan sikap positif meresponinya, serta mendorong orang Kristen turut berperan serta di berbagai sektor pembangunan nasional. Yusuf, Ester, Mordekai, Daniel dan juga tidak sedikit orang Kristen yang saleh yang mempunyai kontribusi dalam politik negara. Alangkah baiknya jika dapat mengundang politikus Kristen untuk hadir dalam pertemuan-pertemuan kelompok kecil ini.
  3. Dosen seminari perlu menyelidiki baik buruknya pemikiran, motivasi, langkah-langkah, dan penafsiran. Menjadualkan pengadaan seminar, dengan mengundang Gembala atau hamba Tuhan dan orang Kristen yang berpendidikan tinggi, bersama-sama meneliti dan diskusi, kemudian menjelaskan kembali hasilnya kepada jemaat. Hal ini dapat menghindari agama menyalahgunakan nama kekristenan untuk menentang kebenaran Alkitab, yang berdampak negatif bagi citra gereja, juga dapat mencegah orang Kristen menerima teori yang nampak benar tetapi sesungguhnya salah, dan menggantikannya dengan slogan rohani yang muluk-muluk, dengan sembrono mengikutinya demi keuntungan material.
  4. Perlu adanya kerja sama antara seminari dan gereja setempat untuk membentuk pendidikan teologi kaum awam, di mana dosen teologi dan orang Kristen awam dapat berinteraksi secara langsung selaku guru dan sahabat. Kebenaran yang murni itu disampaikan dengan rinci, konkret, praktis, aplikatif, dan universal. Pendidikan teologi kaum awam dapat menjadi tempat di mana dari tangan pertama seorang dosen teologi mendapatkan persoalan-persoalan yang berkaitan langsung dengan kehidupan orang Kristen di tengah-tengah masyarakat dunia, dan orang Kristen memperoleh jawaban yang berbobot yang sesuai dengan kebenaran Alkitab. Gembala Sidang setempat sebaiknya juga menjabat sebagai dosen pendidikan teologi kaum awam, sehingga dalam proses belajar mengajar yang cukup panjang itu, gembala sidang memacu jemaat untuk menyelidiki kebenaran Alkitab dengan saksama.
  5. Gereja harus memberikan kesempatan secara berkala bagi gembala sidang atau hamba Tuhan untuk mengikuti pendidikan teologi lanjutan. Konsep tentang seorang hamba Tuhan cukup berbekalkan pendidikan teologi selama 4 tahun dan kemudian melayani seumur hidup harus diubah. Pada era informatika dan meledaknya pengetahuan kini, jika setiap minggu seorang gembala sidang atau hamba Tuhan tidak secara intensif membaca 1-2 buah buku ilmiah atau yang berbobot, 5-7 tahun kemudian tidak mengikuti 1-2 tahun pendidikan lanjut, maka dengan kerutinan setiap minggu yang harus membuat 2-3 naskah khotbah itu, ia akan terasa begitu sulit dan kering. Setiap kali ia akan merasa letih lesu, kecewa dan putus asa, dengan langkah yang berat dan tidak bersemangat menuju mimbar. Sekalipun jemaat datang beribadah dengan hati yang hormat dan takut kepada Tuhan, rindu untuk memperoleh makanan rohani yang dibutuhkan sebagai pedoman dalam kehidupannya, tetapi kenyataannya ialah: “kata-kata usang atau kata klise belaka, yang tak bermakna”, yang tidak dapat memenuhi kebutuhan rohani mereka. Yang lebih fatal, karena pengkhotbah merasa begitu tertekan, seringkali tanpa sadar mengeluarkan kata-kata omelan, sindiran di mimbar, menjadikan jemaat sebagai tempat pelampiasan amarah, akibatnya hubungan antara gembala dengan jemaat akan semakin memburuk. Ini adalah bencana bagi gereja, bahkan bencana yang besar! Jika secara berkala gembala atau hamba Tuhan itu mengikuti pendidikan lanjut, lebih meneliti dan mendalami Alkitab, maka Firman Tuhan akan disampaikannya dengan penuh keyakinan dan suara yang mantap. Ditambah dengan doa serta kuasa Roh Kudus, maka akan seperti air sungai yang mengalir dengan lancar, bersemangat dan mendatangkan berkat bagi yang mendengarkan. Pelayanan mimbar merupakan kesempatan di mana seorang hamba Tuhan bekerja sama dengan Tuhan, juga merupakan suatu kenikmatan rohani. Hal ini merupakan kunci bagi pertumbuhan rohani orang Kristen dan vitalitas gereja.
  6. Setiap minggu gembala sidang atau hamba Tuhan harus berusaha untuk menulis artikel-artikel yang bersifat penelitian dan sistematis, atau mengundang orang Kristen yang pandai dalam kesusasteraan untuk menulisnya. Kemudian dimuat dalam buletin gereja. Di samping melatih diri sendiri agar semakin maju dalam membuat naskah khotbah. (Karena untuk diterbitkan, sudah tentu akan lebih teliti memikirkan secara rinci, dan akan berusaha untuk menggunakan materi yang lebih tepat.) Juga melatih diri melakukan pelayanan literatur. Jikalau dalam satu tahun memiliki 52 naskah khotbah yang ringkas, pada akhir tahun dapat diterbitkan sebagai sebuah buku, baik untuk dijual kepada orang Kristen, atau sebagai kenang-kenangan di hari Natal kepada sanak saudara dan sahabat. Dalam anugerah Tuhan, selama pelayanan 50 tahun, ia akan memiliki 50 buah buku kumpulan khotbah, dengan demikian ia telah menjadi gembala yang mengarang. Yang lebih berharga ialah ketika ia kembali ke pangkuan Bapa, hasil karya ini dapat menjadi kesaksian untuk orang banyak. Pelayanan yang tahan lama ini, juga melatih gembala atau hamba Tuhan untuk memiliki kehidupan yang teratur, ulet dan mau berupaya untuk maju. Selain Gembala sidang atau hamba Tuhan harus memiliki tekad ini, gereja juga harus memberi dukungan kepada mereka. Contoh: John Wesley (abad-18), Charles Spurgeon (abad-19), Harun Hadiwijono, R. Sudarmo, J. L. Ch. Abeneno (abad-20).

IV. STRATEGI YANG DIKEMUKAKAN KRISTUS BAGI GEREJA DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN SEJARAH

Kristus belum datang kembali, namun gereja telah memasuki abad ke-21. Beberapa pemimpin gereja mengamati sejarah 100 tahun yang lalu, di mana gereja di Eropa dan Amerika semakin melemah dan mundur, sebaliknya agama-agama lain bangkit, bertumbuh, dengan gigih maju mendobrak semua penghalang, menembus masuk ke dalam basis gereja di Eropa dan Amerika. Walaupun di negara-negara Asia memberikan keleluasaan bagi kekristenan, tetapi ketika memperkenalkan anugerah keselamatan Kristus kepada yang lain, seringkali dihalangi karena alasan “kerukunan dan ketenteraman”. Sehingga tidak sedikit yang peduli akan masa depan penggembalaan gereja menjadi cemas, dan umumnya bersikap membalas, bahkan untuk menunaikan Amanat Agung sampai ke seluruh dunia, mereka siap membayar harga “lebih baik mati berkalang tanah, daripada hidup bercermin bangkai.” Berdasarkan kebenaran Alkitab, kita akan melihat bagaimana Kristus menangani strategi gereja menghadapi perubahan sejarah.

  1. Dasar Gereja Kristus
  2. Tuhan Yesus Kristus sendiri adalah dasar bagi gereja (Mat. 16:18-20; lKor. 3:11; Ef. 2:20). Dasar ini bukan bersifat materi, bukan organisasi manusia yang kelihatan, bukan orang banyak yang kenyang karena makan roti, terlebih bukan teologi dari teolog timur dan barat, atau pencerahan khusus para penafsir. Dasar ini adalah: Yesus Kristus, Firman yang telah menjadi manusia, diam di antara manusia, taat sepenuhnya kepada kehendak Bapa, dengan darah-Nya yang kudus oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sebagai korban bagi penebusan dosa umat manusia, yang telah bangkit dari kematian, dan yang telah menang atas segala kuasa. Ia adalah kekal, hidup selama-lamanya, menjadi Pemimpin semua raja-raja di dunia. Dia adalah Raja yang telah diurapi Allah Bapa sejak kekekalan (Mzm. 2:7; Ibr. 1:8-13; Why. 5:9-14; 6:16; 19:11-16; dan sebagainya).

    Dengan hidup yang kekal Kristus telah mempersembahkan korban yang kekal. Hidup yang diberikan-Nya adalah hidup dari Allah, dan gereja didirikan oleh-Nya dan merupakan kumpulan orang-orang yang oleh-Nya telah beroleh hidup. (Yoh. 1:12-13; 10:10-11, 17-18; 17:3; 20:31; Ibr. 9:11-14; 10:10-18 dan sebagainya). Oleh sebab itu, gereja Kristus itu adalah hidup dan rohaniah, yang adalah milik Allah yang esa dan benar. Karena gereja didirikan di atas darah tubuh Kristus yang kekal, maka gereja bersifat kekal dan kokoh.

  3. Ujian Gereja Kristus
  4. Tuhan Yesus berkata kepada Petrus: “Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat. 16:18). Hal ini menyatakan: Ketika mendirikan jemaat (gereja), ada kekuatan yang menolak dan merusakkannya, tetapi tidak akan dapat menguasainya.

    Sejarah gereja juga memberitahukan kepada kita, ketika Kristus memberitakan Injil Kerajaan Surga di bumi ini, untuk menyelamatkan semua bangsa, pemimpin-pemimpin Yahudi menolak-Nya, menyerang-Nya bahkan bersiasat untuk membunuh-Nya (bandingkan Yoh. 5:16; 7:1, 30; 8:59, 34; 11:53, 57; 19:6-7, 15; dan sebagainya). Gereja pada zaman para Rasul juga menderita penganiayaan dari golongan Yudaisme. Orang-orang Yahudi berupaya keras untuk memusnahkan orang Kristen (bandingkan Kis. 4:1-3, 5-7, 17-18; 5:17-40; 6:9-14; 7:54-59; 8:1-3; 9:1-2; 13:50; 14:1-6, 19; 17:1-9; 18:12-17; 21:27-36; 23:12-15 dan sebagainya). Sesudah itu, pada masa Kekaisaran Romawi berkuasa pada tahun 60-12 TM, sepuluh kali gereja menderita penganiayaan besar. Pada abad-7, sebuah agama baru muncul di Timur Tengah dan menghancurkan gereja-gereja di Arab, Mesir, Afrika Utara dan Spanyol, serta membunuh ratusan ribu orang Kristen. Pada abad-14 dan 15, agama Timur Tengah di Turki memusnahkan hampir seluruh umat Kristen di negara itu. Pada abad-20, ketika Partai Komunis berkuasa di Rusia, juga hampir memusnahkan Gereja Ortodoks Yunani, Roma Katolik di Eropa Timur Rusia dan Agama Kristen di Cina. Namun selama 2.000 tahun, gereja yang berakar dalam Kristus yang telah bangkit dan hidup selama-lamanya itu, tetap bereksistensi, bahkan seturut kehendak Allah masuk ke dalam semua lapisan masyarakat, bersaksi kepada penganiaya-penganiaya itu. Seperti yang dikatakan dalam surat Wahyu “Kuasa kegelapan berupaya dengan berbagai cara ingin menyerang dan menelan gereja, bagaikan naga merah yang besar itu menelan anak yang dilahirkan perempuan itu, tetapi Allah sendiri menyediakan tempat bagi perempuan dan anaknya di padang belantara, memeliharanya, sehingga tidak ditelan oleh naga merah besar itu” (Why. 12:1-6, 13-17).

  5. Perkembangan Gereja Kristus
  6. Gereja yang ditebus dan didirikan oleh darah Kristus adalah gereja yang hidup dan bersifat rohani. Karena hidup, maka akan terus berkembang biak; karena bersifat rohani, maka tidak dibatasi oleh dunia materi. Kristus pernah memakai perumpamaan benih untuk melukiskan firman yang hidup dan rohani. Ia berkata, “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” (Yoh. 12:24). Seorang Kristen yang memiliki hidup dibunuh, berarti sebuah benih yang hidup jatuh ke tanah dan mati. Tidak lama kemudian akan menghasilkan banyak buah. Oleh sebab itu, darah kaum martir adalah benih-benih Injil yang jatuh dan mati. Di mana ada seorang martir Kristen, benih Injil tersebut akan melampaui ruang dan waktu, di situ ia akan menghasilkan banyak buah yaitu orang-orang Kristen yang memiliki hidup Kristus, orang-orang Kristen dari berbagai bangsa dan negara. Contoh: Martir Stefanus (Kis. 7), benih yang mati dan menghasilkan buah yaitu Paulus yang menjadi rasul untuk bangsa bukan Yahudi (Kis. 9).

    Selama 2.000 tahun ini sejarah gereja memberitahukan kepada kita: Eksistensi dan misi gereja yang ditebus dan diselamatkan oleh darah Kristus, di tempat, bangsa, budaya dan zaman yang berbeda, selalu ditentang, didesak, difitnah, dilarang, bahkan diancam untuk dibunuh, namun karena Kepala gereja adalah Kristus yang telah bangkit, yang telah menang atas kematian dan maut, yang hidup untuk selama-lamanya selalu menyertai gereja-Nya, menderita bersama-sama dengan gereja-Nya. Dengan cara yang ajaib, Ia memelihara semua orang Kristen yang mengasihi-Nya, yang taat memberitakan Injil-Nya di seluruh bumi, sehingga Injil dapat diberitakan dari satu tempat ke tempat yang lain. Gereja berkembang dan menyebar dari satu bangsa ke bangsa yang lain, keselamatan oleh darah Kristus diteruskan dari satu generasi ke generasi yang berikut, Alkitab diterjemahkan dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Penyebaran gereja bagaikan sebuah perahu yang berlayar, mengarungi lautan, menerpa badai dan ombak, dengan gagah maju terus, untuk menggenapkan amanat pemberitaan Injil yang telah ditetapkan Allah dalam kekekalan, agar semua bangsa menjadi murid Kristus.

  7. Kesaksian Gereja Kristus
  8. Alkitab Perjanjian Baru secara konkret menjelaskan isi iman Kristen, amanat orang Kristen dalam kehidupan dan karir sehari-hari, baik atau tidak baik waktunya, harus memberitakan keselamatan dalam Kristus. 2.000 tahun silam, kepercayaan Kristen tak putus-putusnya mengalami penolakan dan penyerangan dari kekuatan pikiran filsafat manusia dan arus kejahatan yang ada dalam budaya sekular, agar moral orang Kristen yang bersih dan murni itu dinodai, serta menurunkan standar yang ditetapkan Alkitab. Namun, Kristus yang bangkit, oleh darah-Nya yang tetap berkhasiat, dan kuasa Roh Kudus, senantiasa menyucikan, memelihara kekudusan gereja dan orang Kristen (bandingkan 1Yoh. 1:5-2:2; Why. 7:14; dan sebagainya). Membangun yang gagal, menopang yang lemah, memanggil yang bertekad meneladani Kristus, menyangkal diri, memikul salib-Nya (bandingkan Luk. 22:31-34, 60-62; Yoh. 10:28-29; 1Tes. 5:23-24; Yud. 24-25 dan sebagainya). Roh Kudus seturut kehendak-Nya mengaruniakan berbagai karunia rohani kepada setiap orang Kristen di posisi masing-masing: berkata-kata dengan hikmat, pengetahuan, iman, kasih, mengajar, menasihati, memimpin, membedakan bermacam-macam roh, memberitakan Injil, menggembala-kan jemaat, menafsirkan kebenaran Alkitab dan sebagainya, agar saling melengkapi, membangun kerohanian orang Kristen, di tiap zaman, tiap tempat, tiap bangsa, tiap lapisan masyarakat (bandingkan Rm. 12:6-8; Ef. 4:11; 1Kor. 12:8-10, 28-29; lPtr. 4:10-11 dan sebagainya).

    Selama 2.000 tahun, dalam kondisi seperti inilah gereja Kristus bereksistensi, bertumbuh dan menyebar sampai ke semua bangsa. Sebelum kedatangan Kristus yang kedua kalinya, gereja dan orang Kristen akan tetap menghadapi tantangan dan penganiayaan, serangan dan kebejatan moral, ketidaktenteraman di dalam dan agresi dari luar, sekalipun secara bentuk dan kualitas berbeda, tetapi satu motivasi yaitu untuk menentang dan memusnahkan gereja. Namun, bagaimanapun dahsyatnya penolakan dan pukulan itu, gereja tetap bereksistensi dan berkembang. Seturut kehendak Kristus, gereja terus maju dan berani bersaksi kepada orang-orang yang tidak percaya, di zaman yang jahat dan kacau balau ini.

    Jikalau gembala sidang, hamba Tuhan dan orang Kristen tidak mengerti bahwa penderitaan dan penganiayaan yang dialami itu adalah kesempatan bersaksi yang Tuhan berikan, dan di bawah pengontrolan Kristus, maka ketika orang-orang yang mengasihi Tuhan ini menghadapi ketidaktenteraman di dalam dan agresi dari luar, akan menjadi kecewa dan putus asa, merasa sendiri dan tak berdaya untuk menunaikan amanat beritakan Injil ke seluruh bumi. Bahkan ada sebagian gembala sidang dan hamba Tuhan yang pasif, ketika menghadapi kegarangan tantangan dan serangan iblis, akan menyerah, berkhianat menyangkal Tuhan, menjual saudara seiman, juga menjual diri sendiri.

    Perjalanan sejarah gereja selama 2.000 tahun ini membuktikan bahwa Kristus senantiasa beserta dengan gereja-Nya dalam penderitaan, menderita dan menang bersama-sama. Gereja telah melewati milenium ke-2, 20 abad, yakinlah bahwa sebelum Kristus datang lagi, gereja-Nya tetap akan sanggup dan tenang melewati milenium ke-3, abad-21, bahkan memiliki kekuatan bersaksi pada setiap zaman, kepada setiap umat manusia yang kosong hatinya, yang hidup tanpa berpengharapan dan tanpa tujuan yang pasti.

    Gembala sidang gereja-gereja di Indonesia yang mengerti dengan baik strategi Kristus yang diwahyukan dalam Alkitab, baiklah bersandar pada bimbingan dan pertolongan Roh Kudus untuk memanfaatkannya. Barulah dapat bersama-sama dengan gembala-gembala sidang yang ada pada setiap zaman menggenapkan amanat misi di seluruh bumi, serta mengalami kemenangan dalam Kristus.

[ Catatan: Artikel ini diterjemahkan (dari bahasa Chinese ke bahasa Indonesia) oleh Ev. Amy Kho, Sm. Th. ]

Sumber:

Sumber:

Judul Buku : Hamba Tuhan dan Jemaat Kristus yang Melintasi Zaman
Pengarang : Dr. Peter Wongso
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT)
Tahun : 1997/2002
Halaman : 7 – 23

Permulaaan Pembaharuan Gereja (Reformasi)

  1. Yang menyebabkan timbulnya pembaruan gereja ialah perbedaan antara teologi serta praktik gereja dengan ajaran Alkitab seperti yang ditemukan oleh Luther. Peristiwa yang membuat Reformasi itu mulai adalah penjualan surat-surat penghapusan siksa di Jerman oleh Tetzel. Menentang ucapan-ucapan Tetzel, Luther menyusun ke-95 dalilnya.

    Apa yang telah ditemukan oleh seorang guru teologi jauh di daerah, merupakan bahan peledak yang nanti akan meruntuhkan susunan gereja. Tetapi pemimpin-pemimpin gereja di pusat tidak menyadari bahaya yang mengancam. Paus Leo X dan tokoh-tokoh gereja lainnya sibuk merencanakan pembangunan gereja raksasa, yaitu gereja Santo Petrus di Roma, yang harus melambangkan keagungan Gereja Barat. Untuk mengumpulkan dana bagi proyek itu, mereka memaklumkan penghapusan siksa bagi orang-orang yang akan memberi sumbangan. Di Jerman, surat-surat penghapusan siksa itu diperdagangkan oleh Tetzel. Dan perdagangan itulah yang menjadi pendorong dimulainya Reformasi.

    Meskipun Tetzel seorang anggota Ordo Dominikan, namun ia tidak begitu mengindahkan rumusan-rumusan teologi yang halus. Ajaran resmi mengenai penghapusan siksa itu menentukan bahwa penghapusaan itu hanya berlaku, kalau orang sungguh-sungguh menyesali dosanya dan kalau dosa itu telah diampuni melalui sakramen pengakuan dosa. Namun, Tetzel berusaha meningkatkan penjualan barangnya dengan mengatakan bahwa surat-surat yang ditawarkannya itu menghapuskan dosa juga dan memperdamaikan orang dengan Allah. Demikianlah orang mendapat kesan bahwa pengampunan dosa dan pendamaian dengan Allah bisa diperoleh dengan uang, di luar penyesalan hati dan di luar sakramen-sakramen juga.

    Luther, sebagai seorang imam juga harus menerima pengakuan dosa dari pihak anggota-anggota jemaat. Karena pengalamannya sendiri, maka ia sangat bersungguh-sungguh dalam hal ini. Kini ia didatangi oleh orang-orang yang menganggap sepi ajakan yang diberikannya sesudah pengakuan, agar mereka betul-betul menyesal dan menunjukkan penyesalan mereka dengan perbuatannya. Mereka memperlihatkan kepadanya surat penghapusan siksa sambil berkata: dosa kami sudah diampuni. Luther kaget. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk menjadikan hal ini sebagai pokok pembicaraan antara sarjana-sarjana teologi. Begitulah ia menyusun 95 dalil mengenai penghapusan siksa, dalam bahasa Latin, bahasa kaum cendekiawan. Pada tanggal 31 Oktober 1517, ia memperkenalkan dalil-dalil itu dengan menempelkannya di pintu gereja di Wittenberg (bacaan 1).

  2. Dalil-dalil Luther menyangkut perkara yang sudah menghebohkan masyarakat Jerman, meskipun biasanya dengan alasan lain (harta Jerman yang mengalir ke luar negeri). Dari sebab itu, tulisan tersebut dibaca dengan asyik oleh orang banyak. Sebaliknya, pemimpin-pemimpin gereja di Roma menuding Luther sebagai seorang penyesat.

    Dalam dalil-dalilnya itu, Luther menentang perkataan-perkataan Tetzel. Bahkan, ia menegaskan pula bahwa penyesalan sejati bukanlah sesuatu hal yang dapat diselesaikan orang dengan memenuhi syarat- syarat yang ditentukan oleh iman setelah pengakuan dosa, misalnya dengan mengucapkan Doa Bapa Kami sekian kali. Penyesalan itu berlangsung selama hidup! Itulah makna dalil yang pertama, yang berbunyi: “Apabila Tuhan dan Guru kita Yesus Kristus berkata: Bertobatlah, dan seterusnya, yang dimaksudkanNya ialah bahwa seluruh kehidupan orang percaya haruslah merupakan pertobatan (= penyesalan).” Siapa yang betul-betul mengasihi Allah, tidak akan berusaha secara egoistis menebus hukuman atas dosanya, apalagi dengan uang; yang penting baginya ialah agar Allah mengampuni kesalahannya. Luther belum menyangkal adanya api penyucian, sama seperti ia belum menyangkal kekuasaan sri paus dan banyak hal lain yang di kemudian hari ditolaknya. Maksudnya, hanyalah untuk melawan pendapat seakan-akan surat-surat penghapusan siksa itu dapat memberi keselamatan, seperti yang didengung-dengungkan oleh para penjajanya untuk menipu rakyat biasa. Namun, sebenarnya Luther telah merombak seluruh ajaran Gereja Abad Pertengahan, bila ia mengatakan, “Bukan sakramen, melainkan imanlah yang menyelamatkan.”

    Dalil-dalil diterjemahkan oleh mahasiswa-mahasiswanya ke dalam bahasa Jerman, dan dalam waktu empat minggu saja sudah tersiar ke seluruh Jerman. Umat Kristen, yang sudah lama tidak senang lagi mengenai keadaan gereja, kini mendengar suara yang menyatakan keberatannya dan yang sekaligus menunjukkan jalan lain. Sebaliknya, pemimpin-pemimpin gereja tidak begitu senang. Dalam waktu yang singkat saja hasil penjualan surat-surat penghapusan siksa telah menjadi sangat berkurang. Luther dituduh di hadapan paus sebagai seorang penyesat, dan Leo X menuntut supaya ia menarik kembali ajaran yang salah itu. Luther menjelaskan maksud dalil-dalilnya kepada paus dalam sepucuk surat yang penuh penghormatan. Tetapi paus memberi perintah kepadanya untuk menghadap hakim-hakimnya di Roma dalam waktu 60 hari. Itu berarti bahwa Luther akan dibunuh.

    Akan tetapi, keadaan politik di Jerman menolong Luther. Sebenarnya negeri Jerman adalah kekaisaran, namun kekuasaan kaisar sangat terbatas. Jerman terbagi atas ratusan daerah yang praktis yang merupakan negara-negara merdeka. Salah satu yang terbesar di antara daerah-daerah itu ialah Kerajaan Sachsen, di mana Luther tinggal. Kalau rajanya, Raja Friedrich yang Bijaksana, berbuat sesuatu yang menentang gereja, kaisar atau paus tidak bisa berbuat apa-apa. Friedrich tidak mau menyerahkan Luther, namun paus tidak berani melawan Friedrich, sebab memerlukan dukungan Friedrich dalam pemilihan seorang kaisar baru (Charles V, 1519-1555).

    Lalu Luther diperiksa di Jerman sendiri, tetapi di luar wilayah Saksen, oleh Kardinal Cajetanus (1518). Sudah barang tentu ia mengira bahwa ia akan ditangkap dan dibunuh. Di tengah jalan, orang- orang meneriakkan kepadanya, “Balik, balik!” Tetapi Luther menjawab, “Di sana pun berkuasa Kristus. Semoga Kristus hidup, Martinus binasa, bersama dengan setiap orang berdosa!” Ia menghadap sang kardinal dengan berlutut dan ia mencoba membujuk Luther baik-baik, tetapi dengan segera toh terjadi perdebatan. Pegawai-pegawai istana paus menertawakan Luther yang begitu bodoh membenarkan dirinya berdasarkan Kitab Suci. Akibatnya, sang kardinal menjadi marah, dan Luther terpaksa diselundupkan ke luar kota, supaya ia lolos dari bahaya maut. Baru dua tahun kemudian Luther dihukum secara resmi.

  3. Sementara itu, gerakan Reformasi semakin meluas. Luther sendiri makin sadar bahwa pengertiannya yang baru itu akan berpengaruh terhadap seluruh ajaran dan tata gereja: makin banyak unsur dari teologi dan praktik Gereja Roma yang ia tolak.

    Banyak kota dan daerah di Jerman yang memihak kepada Luther dan namanya mulai terkenal di luar negeri juga. Kalangan humanis bergelora semangatnya karena pembaruan-pembaruan yang dianjurkannya. Salah seorang humanis yang selama hidupnya bersahabat dengan Luther ialah rekannya di Universitas Wittenberg, Melanchthon (1497-1560), yang pada tahun 1518 menjadi guru besar bahasa Yunani di sana. Pengajaran sekolah umum di negeri Jerman disusunnya secara baru, menurut asas-asas Reformasi. Dialah yang menulis buku dogmatika protestan yang pertama, yang berjudul: Loci Communes (“Pokok-pokok Teologi”, 1521). Ia juga merupakan pembantu Luther dalam hal penerjemahan Alkitab.

    Pandangan-pandangan baru Luther tidak berkembang dengan cepat, sebab ia berwatak konservatif, dan tidak suka melepaskan apa yang pernah dianutnya. Namun justru dialah yang terpanggil untuk memelopori pembaruan gereja! Baru pada tahun 1519, ia menginsafi bahwa paus bisa keliru juga, bahwa konseli-konseli gereja pun bisa sesat. Dengan demikian, seluruh tradisi gereja, yaitu anggapan-anggapan dan kebiasaan-kebiasaan yang telah muncul dan dipelihara berabad-abad lamanya, kehilangan kekuasaannya di samping Alkitab. Tradisi itu hanya masih berlaku di bawah kekuasaan Alkitab: apa yang berlawanan dengan ajaran Alkitab harus dihapuskan.

  4. Pada tahun 1520 Luther menerbitkan tiga tulisan yang di dalamnya, ia menguraikan pandangannya yang baru. Yang paling terkenal ialah “Kebebasan Seorang Kristen”, yang merupakan buku etika protestan yang pertama.

    Dalam ketiga karangan itu, Luther merobohkan seluruh sistem Abad Petengahan. Yang pertama ialah” Kepada para pemimpin Kristen Jerman, mengenai perbaikan masyarakat Kristen. Di sini Luther menyatakan bahwa paus dan kaum rohaniwan tidak boleh berkuasa atas “kaum awam”. Setiap orang Kristen adalah seorang imam dan ikut bertanggung jawab dalam gereja. Dunia juga tidak “bertingkat dua”. Berkhotbah atau bercocok tanam sama tingkatnya, sebab sama-sama bertujuan melayani Allah. Jadi, tidak dengan sepatutnya kaum “rohaniwan”, khususnya paus, menuntut kekuasaan atas negara dan masyarakat. Bangsa Jerman, dengan diwakili oleh pemimpin-pemimpinnya, boleh dan harus memperbaiki sendiri keadaan gerejanya.

    Karangan yang kedua berjudul: Pembuangan Babel untuk Gereja. Buku itu berisi uraian tentang sakramen-sakramen. Hanya baptisan dan Perjamuan Kudus yang bisa ditemukan dasarnya dalam Alkitab. Tentang pengakuan dosa, Luther masih ragu-ragu; keempat sakramen lainnya ditolaknya. Arti sakramen dan hubungan antara sakramen dengan Firman Tuhan dirumuskannya secara baru juga: sakramen bukanlah saluran anugerah ke dalam diri kita. Sakramen, menurut Luther adalah tanda dari apa yang dinyatakan oleh Firman itu, Firman dalam rupa tanda, dan jawaban kita atas penerimaan sakramen itu hanyalah iman.

    Pada karangan pertama, Luther berbicara kepada para penguasa. Pada karangan kedua, ia berdiskusi dengan teolog-teolog. Pada karangan ketiga, Kebebasan Seorang Kristen, ia menulis bagi rakyat Kristen. Buku itu menguraikan soal perbuatan-perbuatan baik. Luther mulai dengan merumuskan dua dalil yang tampaknya saling bertentangan:

    “Seorang Kristen bebas dari segala ikatan dan bukanlah hamba kepada siapa pun”;

    “Seorang Kristen terikat pada segala sesuatu dan hamba dari semua orang”.

    Demikian yang dimaksud Luther: Seorang Kristen bebas dari hukum atau taurat mana pun, dan tidak terikat pada peraturan yang dikeluarkan oleh siapa pun, biar sri paus sekalipun, sebab ia telah memiliki kebenaran Kristus dan tidak membutuhkan lagi perbuatan-perbuatan amal. Tetapi di dalam diri orang Kristen itu masih ada kemauan yang buruk, tubuhnya yang penuh hawa nafsu (Luther pernah menjadi rahib!) dan tubuh itu harus dikekang dengan banyak “perbuatan-perbuatan”: dengan askese juga. Namun, perbuatan-perbuatan itu tidak mengandung amal – bukankah kita telah mendapat seluruh amal yang kita butuhkan di dalam Kristus? (bacaan 2).

  5. Gereja Roma dan Negara Jerman mengutuk dan mengucilkan Luther. Akan tetapi, Raja Friedrich yang Bijaksana tetap melindungi dia.

    Pada tahun 1520, keluarlah bulla (surat resmi) dari paus, yang telah lama ditunggu-tunggu. Jikalau Luther tak mau menarik kembali ajarannya yang sesat itu, ia akan dijatuhi hukuman gereja. Luther membalas bulla itu dengan karangan yang berjudul: “Melawan bulla yang terkutuk dari si Anti-Krist”. Lalu bulla itu dibakarnya di muka pintu gerbang kota Wittenberg di hadapan para guru besar dan mahasiswa. Kemudian, keluarlah bulla-kutuk paus.

    Menurut anggapan abad pertengahan, negara tidak bisa tidak menghukum seorang penyesat yang telah dikutuk oleh gereja. Tetapi karena banyak kepala daerah (bnd. pasal 2) menyetujui ajarannya, maka Luther dipanggil ke “sidang kekaisaran” yang pada bulan April 1521 diadakan di kota Worms untuk mempertanggungjawabkan perbuatan- perbuatan dan karangan-karangannya. Sahabat-sahabat Luther takut kalau-kalau ia akan ditangkap dan oleh sebab itu memohon kepadanya supaya jangan pergi juga. Tetapi Luther berkata, “Biarpun di Worms ada setan sebanyak genteng di atas rumah, aku pergi juga! ”

    Pembelaannya di hadapan kaisar dan raja-raja pada tanggal 18 April 1521 menjadi termasyhur. Wakil paus menuntut kepadanya supaya ia memungkiri segala pandangannya yang sesat itu, tetapi Luther menunjuk pada Alkitab, “Bahwa saya bisa sesat sebagai manusia, tentang itu saya yakin. Akan tetapi, hendaknya saya diperbolehkan menuntut supaya dari Firman Allah dibuktikan kepada saya bahwa saya sesat.” Namun, bukti itu tidak akan diberikan, karena ajarannya sudah lebih dahulu ditolak oleh gereja. Lalu kata Luther, “Saya tidak percaya kepada paus atau kepada konseli-konseli saja, karena sudahlah jelas seperti siang bahwa mereka berkali-kali sesat dan seringkali bertentangan dengan dirinya sendiri. Suara hati saya sudah terikat oleh perkataan Kitab Suci dan saya tertangkap dalam Firman Allah: menarik kembali, saya tidak dapat dan saya tidak mau sama sekali. Semoga Allah menolong saya. Amin!”

    Beberapa minggu kemudian, dalam Edik Worms, Luther bersama pengikut- pengikutnya dikucilkan dari masyarakat dengan “kutuk kekaisaran”. Segala karangan Luther juga harus dibakar. Ia sendiri boleh ditangkap atau dibunuh oleh siapa saja yang menemukan dia. Karena kaisar telah memberi jaminan keamanan, maka Luther boleh pulang dulu ke kotanya. Ketika keretanya melintasi suatu hutan, sekonyong-konyong ia disergap oleh sepasukan orang berkuda yang bersenjata. Orang menyangka Luther telah dibunuh seteru-seterunya, tetapi sebenarnya ia dilarikan atas perintah Friedrich yang Bijaksana, yang hendak meluputkan sahabatnya itu dari bahaya maut. Luther dibawa ke puri Wartburg, supaya ia aman dan tersembunyi untuk sementara waktu.

    Sepuluh bulan lamanya, Luther tinggal di Wartburg dengan berpakaian ksatria dan memakai nama samaran, yaitu “Pangeran Georg”. Di tempat yang sunyi itu, hatinya digoda oleh banyak kebimbangan. Benarkah ia mengikuti jalan Tuhan dengan gerakannya itu? Kata orang, pernah Luther melemparkan sebotol tinta kepada Iblis yang tampak olehnya dalam biliknya dan yang mengganggu dia. Yang pasti ialah bahwa ia melawan Iblis dengan tinta yang keluar dari penanya: Luther bekerja keras di Wartburg, dan dalam beberapa bulan saja Perjanjian Baru sudah siap diterjemahkannya ke dalam bahasa Jerman, dengan memakai juga naskah Yunani terbitan Erasmus. Di samping itu, ia mengarang sebuah kitab rencana khotbah untuk pendeta-pendeta Protestan yang sangat membutuhkan pimpinan dalam hal berkhotbah.

  6. Sesudah satu tahun, Luther kembali lagi ke Wittenberg dan meneruskan pekerjaan Reformasi. Sekarang ia mulai memperbarui tata kebaktian.

    Luther berwatak konservatif (pasal 3), sehingga ia mau mempertahankan sebanyak mungkin tata kebaktian yang lama. Asasnya ialah bahwa yang perlu diubah hanyalah apa yang nyata bertentangan dengan Alkitab. Jadi, kebaktian Protestan, khususnya yang memakai aturan Lutheran, tetap berjalan seperti Misa Katholik: sesudah salam-berkat, jemaat mengaku dosanya dan pengampunan diberitakan, lalu Alkitab dibacakan, khotbah diadakan, kemudian ada perayaan sakramen.

    Akan tetapi, dalam beberapa hal harus ada perubahan. Pertama: bahasa. Misa biasanya dilayankan dengan memakai bahasa Latin. Sulit bagi rakyat untuk memahami bahasa itu. Padahal, kebaktian itu justru dimaksudkan untuk menyampaikan Firman kepada mereka! Jadi, bahasa Latin diganti dengan bahasa Jerman (dan di negeri-negeri lainnya yang menerima Reformasi, dengan bahasanya sendiri). Kedua: pengertian mengenai makna ibadah berubah secara asasi. Dalam teologi Katholik, Misa adalah pengulangan korban Kristus secara tak berdarah. Melalui penerimaan sakramen itu, berlangsung penyaluran anugerah yang menjadikan manusia sanggup berbuat sesuai dengan kehendak Allah. Karena itu, yang menjadi pusat ibadah ialah perayaan sakramen Misa. Kebaktian tanpa khotbah tetap merupakan ibadah yang lengkap, tetapi kebaktian tanpa Ekaristi tidaklah lengkap. Malah, kebaktian dimana satu dua orang imam sendiri merayakan Ekaristi dengan tidak dihadiri jemaat, merupakan ibadah juga. Kedua wawasan tentang makna sakramen Misa itu tadi ditolak oleh Luther. Baginya, makna ibadah bukan pengorbanan Kristus dalam Misa, bukan juga penyaluran anugerah, melainkan pemberitaan rahmat Tuhan kepada setiap orang yang mau mendengar. Pemberitaan itu terjadi dalam pemberitaan Firman, dan dalam perayaan sakramen, yang menandai dan memperlihatkan apa yang dinyatakan dalam pemberitaan Firman itu. Maka, khotbah diberi tempat yang lebih wajar dalam kebaktian. Khotbah harus ada; itu dilakukan beberapa kali seminggu; perayaan Perjamuan Kudus “hanya” ada pada setiap Minggu pagi, sesudah khotbah. Sama halnya seperti sebuah buku yang teksnya bisa dipahami walau tidak ada gambar; tetapi gambar itu ditambahkan supaya teksnya lebih jelas lagi. Luther berpegang pada kehadiran nyata tubuh dan darah Kristus dalam Ekaristi (Perjamuan); hanya tubuh dan darah itu tidak hadir sebagai ganti roti dan anggur (trans-substansiasi), tetapi bersama dengannya (con-substansiasi, con/cum = bersama dengan).

    Perubahan ketiga yang membuat Misa Katholik menjadi kebaktian Protestan ialah kegiatan jemaat di dalamnya. Pada zaman Ambrosius, kebaktian diselingi nyanyian jemaat (Kid. Jemaat 245 berasal dari Ambrosius). Tetapi dalam Abad Pertengahan, jemaat semakin tidak aktif. Sekarang Luther sendiri dan ahli-ahli musik serta penyair lain menyusun lagu-lagu dalam bahasa Jerman untuk jemaat yang tidak biasa menyanyi itu, sehingga bisa dipakai sebagai nyanyian dalam kebaktian gereja dan di rumah.

Bacaan-bacaan:

  1. Beberapa di antara ke-95 dalil Luther

    37. Setiap orang Kristen telah mengambil bagian dalam segala harta Kristus dan gereja; hal itu dianugerahkan kepadanya oleh Allah, biarpun tidak ada surat penghapusan siksa dari gereja.

    43. Patutlah kepada orang-orang Kristen diajarkan: “Kalau seorang memberikan sesuatu kepada orang miskin, atau meminjamkan uang kepada orang yang membutuhkannya, ia berbuat lebih baik, ketimbang kalau ia membeli surat penghapusan siksa.”

    44. Karena oleh perbuatan kasih, kasih bertambah dan manusia bertambah baik; tetapi oleh penghapusan siksa ia tidak bertambah baik, hanya saja lebih bebas dari hukuman.

    65. Harta Injil ialah jala-jala, yang dengannya dahulu kala orang ditangkap dari kekayaan (Matius 4:9; Lukas 18:18-27).

    66. Harta penghapusan siksa ialah jala-jala, yang dengannya sekarang ditangkaplah kekayaan orang.

  2. Dari Kebebasan Seorang Kristen

    Seorang Kristen bebas dari semuanya dan atas seluruhnya, sehingga dia tidak membutuhkan sesuatu perbuatan untuk menjadikan dia benar dan menyelamatkannya, karena hanya iman saja yang menganugerahkan semuanya berlimpah-limpah.

    Walaupun seseorang cukup dibenarkan oleh iman, namun ia masih hidup di dunia yang fana ini. Dalam hidup ini, ia harus menguasai tubuhnya (= segala nafsunya yang menentang kehendak Allah) dan bergaul dengan sesamanya. Dia menemukan tantangan kehendak di dalam tubuhnya yang berdaya upaya melayani dunia dan yang mencari segala kepuasan. Hal ini tak dapat dibiarkan oleh roh iman. Karena melalui iman, jiwa kita disucikan dan digerakkan untuk mengasihi Allah, maka jiwa itu menghendaki segala sesuatu. Teristimewa tubuhnya sendiri, menjadi suci-murni, sehingga segala sesuatu akan turut serta dengannya dalam mengasihi dan memuji Allah. Oleh karena itu, manusia tidak lagi malas, karena kebutuhan tubuhnya mendorongnya dan memaksanya mengerjakan banyak perbuatan yang baik supaya tubuh itu dapat ditaklukkan. Dengan jalan ini, tiap-tiap orang sangat mudah mempelajari bagi dirinya sendiri, pembatasan dan kebijaksanaan dari penyiksaan badannya, karena ia akan berpuasa, berjaga-jaga dan bekerja sebanyak yang diperlukan untuk menahan keinginan hawa-nafsu tubuhnya.

    Akhirnya, kita akan membicarakan juga hal-hal perbuatan kepada sesama manusia. Seseorang tidak hidup untuk dirinya sendiri saja dalam tubuh yang fana ini, dan bekerja untuk dirinya saja, tetapi ia hidup untuk orang lain dan bukan untuk dirinya sendiri. Untuk tujuan inilah, ia menaklukkan tubuhnya, supaya dapat lebih ikhlas dan lebih bebas melayani orang lain. Dari iman mengalirlah kasih dan kegembiraan dalam Tuhan, dan dari kasih pikiran yang gembira, tulus dan bebas, yang melayani sesama manusia dengan rela hati dan tidak memikirkan penghargaan atau olok-olok, pujian atau celaan, untung atau rugi.

  3. Luther mengenai “rohaniwan ” dan “awam “. (Dari: Kepada para pemimpin bangsa Jerman, pasal 1).

    Menamakan para paus, uskup, imam, biarawan, dan biarawati “golongan rohaniwan”, sedangkan para pangeran, tuan, tukang, dan petani “golongan duniawi”, merupakan akal yang direka-reka oleh orang-orang lihai. Karena semua orang Kristen, tanpa kecuali, benar-benar dan sungguh-sungguh termasuk golongan rohaniwan, dan tidak ada perbedaan di antara mereka, kecuali pekerjaan mereka yang berlainan. (…) Tidak ada di antaranya perbedaan dalam hal kedudukan Kristen. Semuanya bersifat rohani kedudukannya, dan semuanya sungguh-sungguh imam, uskup, dan paus. Mereka yang sekarang dinamakan kaum rohaniwan , tidak lebih luas atau lebih besar pangkatnya daripada orang Kristen lainnya, kecuali dalam hal bahwa mereka mempunyai tugas menerangkan Firman Allah dan melayankan sakramen-sakramen. Tukang sepatu, pandai besi, petani, masing-masing mempunyai kesibukan tangan dan pekerjaannya; sementara itu, mereka semuanya dapat dipilih pula untuk bertindak sebagai imam dan uskup.

Bahan di atas diedit dari sumber:

Judul Buku : Harta dalam Bejana – Sejarah Gereja Ringkas
Judul Artikel : Permulaan Pembaruan Gereja (Reformasi)
Penulis : Dr. Th. Van Den End
Penerbit : PT BPK Gunung Mulia Jakarta
Tahun : 2001
Halaman : 162 – 172

Perubahan-perubahan Radikal, Sebagai Akibat Reformasi

Pikiran-pikiran pokok dari Reformasi memberi kemungkinan untuk perubahan-perubahan radikal dalam seluruh konsep dan tempat kaum awam. Pada saat yang menentukan, karena kepatuhan kepada Firman Allah, Luther menolak untuk patuh kepada gereja yang terjelma dalam kekuasaan hirarkis Paus. Konsep Luther tentang gereja, terutama dalam tulisan- tulisan militannya yang terdahulu, adalah suatu serangan frontal terhadap konsep gereja hirarkis. Faham tentang pejabat gereja yang hirarkis juga ditolak. Secara prinsip perbedaan antara “kaum klerus” dan “kaum awam” tidak ada lagi.

Dalam manifestonya kepada kaum bangsawan Kristen ia mengumumkan, “Semua orang Kristen adalah benar-benar imam, tak ada perbedaan di antara mereka kecuali dalam hal jabatan …. Setiap orang yang sudah dibaptis dapat berkata bahwa ia sudah ditahbiskan menjadi imam, uskup atau paus.” Hanya demi ketertiban, orang-orang tertentu dipisahkan oleh jemaat, mereka adalah “pelayan-pelayan”, bukan imam-imam dalam arti budaya, orang-orang perantara antara Allah dan jemaat atau antara Allah dan manusia, tapi “pelayan-pelayan Firman” (verbi divini ministri). Pada prinsipnya, pelayanan yang diartikan secara baru ini (mengajar dan berkhotbah, membaptiskan, melayani Perjamuan Kudus, mengikat dan melepaskan dosa, berdoa syafaat, mempertimbangkan ajaran dan membeda-bedakan roh) adalah hak setiap orang Kristen yang telah dibaptis. Ini berarti imamat orang-orang yang percaya atau, seperti biasa disebut, “imamat am” adalah semua orang yang percaya. Sejak itu prinsip ini selalu disertai oleh hukum “sola gratia”, “sola scriptura”. Kedua prinsip ini sudah menjadi prinsip besar resmi dari Reformasi dan khususnya Protestantisme.

Dalam faham-faham yang militan ini terdapat benih-benih individualisme dan equalitarianisme yang tidak sepenuhnya sesuai dengan pandangan Alkitab, yaitu “imamat yang berkerajaan”, yang adalah milik semua orang percaya secara keseluruhan. [1] Militansi dan pernyataan yang nampaknya berlebih-lebihan ini dapat dimengerti melihat kenyataan bahwa pada waktu itu Luther harus berjuang melawan sistem hirarki yang luar biasa, faham hirarki yang sudah tertanam sangat dalam di pikiran orang sejak berabad-abad. Faham seperti itulah yang hendak digugatnya di hadapan forum faham Alkitab mengenai gereja beserta anggota- anggotanya. Implikasi dari serangan-serangannya itu ialah penghapusan semua klerikalisme dan pemulihan tempat yang sewajarnya bagi kaum awam.

Tapi, secara jujur harus disebut di sini bahwa konsep baru tentang gereja dan pemulihan tempat kaum awam tidak pernah menjadi pokok-pokok yang dominan. Prinsip yang banyak digembar-gemborkan tentang “imamat am semua orang percaya” mempunyai akibat-akibat tertentu yang sangat menarik dalam Dunia Baru, tapi pada umumnya di Dunia Lama hal ini tak pernah punya efek apa-apa. Sampai sekarang prinsip itu hanya punya peranan sebagai bendera, bukan prinsip yang memberi hidup dan kekuatan. Sudah tentu, sejak Reformasi dan lahirnya banyak macam gereja sebagai akibatnya, pandangan eklesiastik hirarkis tentang gereja tidak pernah lagi mendapat tempat yang tidak dapat diganggu- gugat seperti sebelumnya. Panggilan untuk membenarkan setiap doktrin gereja dan tugas anggota-anggotanya berdasarkan Alkitab, tak pernah lagi diabaikan seperti sebelumnya. Dasar etika Calvinisme tentang orang-orang awam yang harus membuktikan bahwa mereka adalah orang- orang yang sudah dipilih Allah dengan bekerja sepenuh hati, adalah akibat dari prinsip “imamat am semua orang percaya”. Juga tak dapat disangkal bahwa prinsip ini, terutama pada abad 19 di bawah pengaruh faham liberalistis-individualistis, sudah lebih merupakan kata-kata muluk teologis untuk faham modern pada waktu itu, dari pada sumber kekuatan rohani yang mengubah gereja.

Mengapa definisi baru dari Luther dan Calvin tentang gereja, pelayanan dan tentang tempat sentral dan utama dari jemaat secara keseluruhan, akhirnya hanya menjadi prinsip dan bukan menjadi kenyataan? Mengapa kaum pendeta yang jadi dominan dan bukan jemaat (Gemeinde) secara keseluruhan?

Pertama-tama, kita akan menyebut sebab-sebabnya, lepas dari keadaan- keadaan sejarah yang banyak mempengaruhinya. Ketika para Reformator kembali kepada Alkitab dan mendapati bahwa Yesus Kristus adalah satu- satunya Kepala Gereja yang benar, yang memerintah gereja melalui Roh- Nya yang kudus, anugerah dan pengampunan-Nya, dan menghapuskan semua tingkatan-tingkatan kekuasaan dan hak, mereka bertekad untuk meninggalkan sistem tingkatan-tingkatan hirarkis dan penyamaan gereja dengan kaum klerus yang dianggap sebagai imam pengantara sakramen. Gereja terdiri atas orang-orang percaya dan orang-orang berdosa yang sudah diampuni. Tapi ketika mengorganisir atau mereorganisir gereja, mereka berusaha menghindari dan menghapuskan pelanggaran-pelanggaran mencolok dan kebobrokan sistem yang dominan. Pandangan para Reformator tentang gereja tidak sepenuhnya alkitabiah. Ini dapat dimengerti, sebab kecamuk dan hangatnya perjuangan dan pandangan mereka sangat dipengaruhi oleh protes dan polemik. Lagi pula, ucapan-ucapan Luther bahwa setiap orang Kristen yang dibaptis mempunyai kuasa seperti yang dipunyai oleh paus, uskup-uskup dan imam-imam, mengandung bahaya- bahaya tersembunyi.

Bahaya PERTAMA ialah: bahwa dalam suatu gereja yang sudah berabad-abad “orang Kristen yang dibaptis” sama sekali tidak sama dengan seorang Kristen yang benar-benar percaya. Sebab, walaupun benar pendapat bahwa otoritas untuk mengatur dan mengadakan konsep tentang gereja terletak dalam pola-pola alkitabiah tentang gereja, itu bukan berarti bahwa pola-pola alkitabiah itu yang harus ditiru. Situasi sejarah yang lain memerlukan ekspresi kreatif yang lain walaupun peraturan dan konsep pokoknya sama.

Yang KEDUA: anggota-anggota gereja yang sudah berabad-abad itu menghalangi anggota-anggotanya menjadi dewasa secara rohani, karena ajaran tentang “iman implisit” dari kaum awam, tidak dapat dengan tiba-tiba menjadi orang-orang dewasa dalam kerohanian.

Yang KETIGA: gerakan Reformasi menekankan pentingnya khotbah di samping penghapusan habis-habisan perbedaan antara “kaum klerus” dan “kaum awam”. Memberi tekanan penting terhadap khotbah yang benar dan “murni” [2] (die reine Predigt) sebagai makanan rohani yang memberi hidup. Untuk itu, diperlukan orang-orang yang cakap untuk memegang jabatan itu. Pelayanan sakramen yang benar, yang juga dinyatakan sebagai salah satu tanda hakiki dari gereja, terutama Perjamuan Kudus di banyak gereja, tidak mendapat tempat yang sama penting seperti “khotbah murni Firman Allah”. Pelayanan sakramen hanya diperuntukkan bagi pendeta-pendeta. Walaupun perkembangan ini mempunyai alasan- alasan yang baik, hal ini menimbulkan kekaburan arti dalam keseluruhan konsep “pelayanan”. Di satu pihak, hal ini cenderung kepada pembentukan kembali suatu golongan “kaum klerus”, padahal di pihak lain, setidak-tidaknya dalam prinsip, diusahakan menghapuskan perbedaan antara “kaum klerus” dan “kaum awam”.

Pentahbisan ke dalam “status rite vocatus”, yang telah menjadi dinding pemisah antara “kaum klerus” dan “kaum awam” di gereja sebelumnya, sebenarnya sekarang juga masih menjadi semacam dinding pemisah. Seperti yang telah dikatakan di atas, perbedaan ini diadakan demi tata tertib. Motif itulah satu-satunya motif yang benar, kalau ditinjau dalam terang prinsip “imamat am semua orang percaya”. Sebagai jawaban terhadap konsep imam sebagai perantara sakramen di masa yang lalu, prinsip itu ingin meninggalkan faham tentang “para klerus” yang mempunyai tempat yang lebih tinggi dan terasing dari kaum awam. Tapi sebenarnya, berlawanan dengan teori tentang tidak adanya perbedaan secara fundamentil, dalam praktiknya prinsip itu menempatkan kaum awam lebih rendah dari kaum pendeta, membuat kaum awam jadi pasif, memberi tekanan besar pada arti “jabatan” (Amt) dan pimpinannya.

Perkembangan ini makin diperkuat dengan kenyataan bahwa para pendeta, yang tugas utamanya ialah untuk mengkhotbahkan Firman Allah dengan benar, makin lama makin kelihatan sebagai “ahli-ahli teologia”, “orang-orang yang tahu”, dan dalam tingkatan sosial mereka mempunyai status “rohaniawan”; dengan kata lain sebagai pneumatikoi, manusia- manusia rohani (1Korintus 3). Akibat buruknya ialah bahwa kaum awam lambat-laun menerima saja kedudukan sebagai “orang-orang yang tidak tahu”, orang-orang yang tidak dewasa secara rohani. Hal ini menghasilkan suatu situasi, yang terdapat di semua gereja, dimana ada perpisahan jelas antara pejabat gereja yang memimpin dan kaum awam yang dipimpin. Dengan kata lain, gereja adalah urusan pendeta-pendeta. Pada masa Reformasi sendiri dan pada masa-masa permulaan pengkonsolidasiannya, unsur-unsur konkret dalam sejarah sudah menghalangi dipraktikannya “imamat am semua orang percaya” itu. Pada mulanya, Reformator-reformator itu tidak bermaksud mendirikan gereja baru. Tujuan mereka mula-mula ialah untuk memurnikan iman. Tapi ketika perlawanan keras dari pimpinan gereja memaksa mereka untuk mengorganisir hidup gereja menurut prinsip-prinsip mereka sendiri, maka mereka harus berhadapan dengan kurangnya pengetahuan dan pengertian kaum awam dan dengan susahnya memelihara ketertiban dalam jemaat-jemaat. Keadaan seperti ini bukan saja terdapat di Jerman, melainkan juga di Inggris, dimana Reformasi berlangsung tidak sedrastis dan sesistematis seperti di negeri-negeri lain [3].

Lagipula, suatu Reformasi yang terorganisir tak dapat dilangsungkan tanpa pertolongan dan kekuasaan raja-raja dan hakim-hakim yang memihak kepada gerakan Reformasi itu. Akibatnya ialah bahwa raja-raja dan hakim-hakim menduduki tempat-tempat penting dalam urusan-urusan gereja. Jadi, golongan awam yang besar itu walaupun mereka bukan orang-orang yang tidak tahu, tidak melihat kemungkinan lain kecuali menyerahkan saja kepengurusan hidup gereja kepada para pendeta dan badan-badan negara yang dibentuk itu. Pada tahun 1526 Luther sudah mengakui bahwa untuk mendirikan suatu jemaat yang benar-benar ideal, ia belum mendapati cukup banyak orang-orang Kristen dan malahan ia belum menjumpai banyak orang yang meminta supaya jemaat seperti itu didirikan. Organisasi yang dihasilkan oleh perkembangan itu tidak memberi status yang memungkinkan jemaat-jemaat mempunyai tanggung jawab yang aktif. Jemaat-jemaat itu menjadi objek dari pekerjaan pastoral pendeta dan peraturan-peraturan pemerintah. Akibatnya, walaupun kaum awam lain keadaannya dari masa sebelum Reformasi, mereka tetap seperti semula, tetap sebagai objek, sama sekali bukan sebagai subjek. Berlainan dengan Luther, Calvin menghadapi soal yang sama hanya dalam satu kota dan bukan di negeri-negeri yang berlain-lainan, makanya ia lebih berhasil dengan “Ordonnance ecclesiastique”-nya pada tahun 1541 untuk mewujudkan kebebasan relatif dalam kehidupan gereja. Ini merupakan hasil dari fahamnya tentang tata gereja yang ditetapkan oleh Allah. “Ordonnance ecclesiastique” Calvin itu adalah tata gereja yang paling dinamis yang berasal dari Reformasi. Konsepnya tentang kekuasaan dan pentingnya pendeta bagi suatu gereja yang terpimpin baik, mengandung unsur-unsur, walaupun tak disengaja, yang mengabaikan arti dan pentingnya kaum awam.

Amerika, yang waktu itu disebut Dunia Baru, mempunyai corak-corak tersendiri. Sejarah Amerika merupakan suatu rangkaian dari adaptasi dan readaptasi kepada dunia yang baru dengan kondisi-kondisi baru dan dengan perubahan-perubahan yang terus-menerus terjadi. Gereja-gereja di Amerika adalah gereja-gereja Eropa yang dipindahtanamkan dalam tanah baru dengan keadaan sekeliling yang baru. Dalam proses ini Amerika memperkembangkan gereja corak baru. Sejak datangnya pendatang- pendatang baru, terutama gelombang-gelombang besar pendatang baru pada abad 19, proses itu berjalan terus. Hasilnya ialah munculnya gereja- gereja parokhial yang berpemerintahan sendiri yang khas Amerika, dengan pengawasan dan partisipasi yang lebih besar dari kaum awam. Dengan prinsip yang sangat dipegang teguh, yakni prinsip kemerdekaan beragama dan pemisahan antara gereja dengan negara, gereja dianggap sebagai perkumpulan sukarela dari orang-orang yang diselamatkan dan sebagai suatu institut untuk memperbaiki kehidupan masyarakat dengan jalan menyelamatkan perorangan-perorangan. Urbanisasi telah memaksa gereja mencari dan melayani segala macam orang dan golongan, dan gereja-gereja itu cenderung untuk memperkuat persekutuan batiniah dari gereja setempat. Pelayanan oleh kaum awam telah makin maju karena perkembangan ini.

Kalau kita bandingkan kehidupan gereja di Eropa dengan Amerika, kita lebih cenderung untuk berkata bahwa struktur dan suasana di dalam gereja-gereja Eropa tidak memberi banyak dorongan kepada inisiatif- inisiatif kaum awam. Di Amerika sebaliknyalah yang terjadi. Di Amerika, bukannya hasil pemikiran-pemikiran teoritis yang menghasilkan keadaan seperti itu, melainkan hasil pertimbangan-pertimbangan pragmatis, yaitu bahwa kegunaan gereja sebagai institut yang efektif tergantung hampir sepenuhnya pada kesediaan kaum awam untuk melibatkan dirinya.

Untuk mengakhiri pembahasan historis yang selektif tentang status teologis kaum awam, kita hendak menyebutkan beberapa patah kata lagi. Pada abad 19, pada zaman dimana orang semakin menjauhi gereja dan kekristenan, Johann Heinrich Wichern [4], bapak dari “Innere Mission” di Jerman, mencoba mengaktuilkan “prinsip-prinsip” Reformasi tentang imamat am semua orang percaya. Ia tidak menafsirkannya menurut tafsiran biasa seperti “mempunyai hubungan langsung dengan Allah” tanpa perantaraan imam, tapi sebagai kewajiban terhadap “diakonia”, yang berlaku bagi semua anggota gereja. Dinamisme “Communio Sanctorum” terletak pada kenyataan, menurut dia, bahwa “communio sanctorum” itu bukan saja “Congregatio vere credentium” (persekutuan orang-orang yang benar-benar percaya), melainkan terutama adalah “congregatio vere amantium” (persekutuan orang-orang yang benar-benar mengasihi). Hal ini sudah menunjuk kepada suatu arah yang baru.

Catatan Kaki:

  1. T.F. Torrance, Royal Priesthood, hal. 35, catatan 1, mencela sebutan “imamat am orang-orang percaya” sebagai sesuatu yang kurang tepat, “sebab di dalamnya ada unsur-unsur individualisme yang merusak”.
  2. Yaitu tafsiran yang benar dari Firman Allah.
  3. Pembahasan yang berikut banyak saya ambil dari buku W. Pauck “The Ministry in Historical Perspectives”, hal. 110 – 147.
  4. Bnd. Martin Gerhardt: J.H. Wichern, Hamburg 1927.

Bahan di atas dikutip dari sumber:

Judul buku : Theologia Kaum Awam
Penulis : Dr. H. Kraemer
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1985
Hal : 45 – 51

Gereja dan Alkitab

Sejarah perkembangan penerjemahan dan penggunaan Alkitab ditinjau dari segi perkembangan dan persatuan bangsa serta kesatuan umat Tuhan di Indonesia Oleh: T.B. SIMATUPANG

U M U M

Apabila kita percaya dan yakin bahwa Alkitab adalah firman Allah yang harus disampaikan kepada semua bangsa dan yang harus dapat dibaca setiap orang, tentu dengan sendirinya kita menyadari keharusan untuk menerjemahkan Alkitab dalam bahasa-bahasa dari berbagai bangsa. Sebab tidaklah realistis untuk menuntut agar setiap orang yang hendak membaca Alkitab harus terlebih dahulu mempelajari bahasa-bahasa asli di mana Aklkitab ditulis. Berapa banyakkah orang yang akan dapat membaca Perjanjian Baru, andaikata Perjanjian Baru itu hanya dapat dibaca dalam bahasa Yunani? Berapa banyakkah orang yang akan dapat membaca Perjanjian Lama, andaikata Perjanjian Lama itu hanya dapat dibaca dalam bahasa Ibrani?

Tidak pernah ada semacam “larangan” untuk menerjemahkan Alkitab ke semua bahasa yang ada di dunia ini. Apabila Alkitab hendak disampaikan kepada semua bangsa, justru terdapat keharusan dan bukan “larangan” untuk menerjemahkan Alkitab ke bahasa-bahasa dari semua bangsa. Dalam hal penerjemahan Kitab Suci terdapat perbedaan pandangan antara agama Kristen dengan beberapa agama lain. Upaya penerjemahan terhadap apa yang sekarang kita kenal sebagai Perjanjian Lama telah dimulai sebelum Kristus lahir. Di antara orang-orang Yahudi yang hidup di perantauan (diaspora) banyak yang tidak memahami bahasa Ibrani. Oleh sebab itu, dalam abad ke-2 sebelum Kristus telah ada terjemahan dari Perjanjian Lama dari bahasa Ibrani ke bahasa Yunani, yaitu bahasa yang pada waktu itu paling luas tersebar di semua kalangan dan di semua bangsa di kawasan sekitar Laut Tengah. Itulah sebabnya, Perjanjian Baru kemudian ditulis dalam bahasa Yunani. Pada waktu itu, posisi bahasa Yunani di Kerajaan Roma kurang lebih sama dengan posisi bahasa Indonesia dalam Republik Indonesia kita sekarang ini.

Pada hari pencurahan Roh Kudus, orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa yang berkumpul di Yerusalem mendengar rasul-rasul berkata dalam bahasa mereka. Sejak itu, dalam rangka perjalanan Injil dari Yerusalem ke seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (Kisah Para Rasul 1:8), untuk menjadikan semua bangsa murid Tuhan (Matius 28:19), Alkitab mulai diterjemahkan satu per satu ke bahasa-bahasa dari berbagai bangsa agar semua orang dapat membacanya dalam bahasa mereka sendiri. Bahasa mereka sendiri berarti bahasa mereka sehari-hari, bukan bahasa dari bangsa atau suku sendiri. Apabila yang dimaksud ialah bahasa dari bangsa atau suku sendiri, maka Perjanjian Lama tidak pernah akan diterjermahkan dari bahasa lbrani ke bahasa Yunani seperti yang terjadi pada abad ke-2 sebelum Kristus.

Menerjemahkan sebuah buku dari suatu bahasa ke bahasa lain berarti mengusahakan agar terjemahan itu pada satu pihak setia kepada isi dari buku dalam bahasa asli dan pada pihak lain agar terjemahan itu dapat dibaca dengan jelas dalam bahasa yang ke dalamnya buku asli itu diterjemahkan. Tidak selalu mudah untuk menjunjung tinggi segi kesetiaan dan segi kejelasan ini secara serentak. Terjemahan yang setia sering tidak jelas, sedangkan terjemahan yang jelas sering tidak setia. Oleh sebab itu, menerjemahkan buku selalu merupakan pekerjaan yang berat. Menerjemahkan Alkitab lebih berat lagi. Sebab menerjemahkan Alkitab berarti menerjemahkan firman Allah ke bahasa-bahasa yang belum mengenal firman Allah dan oleh sebab itu, tidak mengenal kata-kata serta pengertian-pengertian yang diperlukan untuk mengungkapkan firman Allah itu. Oleh sebab itu, sering harus dikembangkan atau dipinjam kata-kata yang bersifat baru bagi bahasa yang bersangkutan.

Sering kali Alkitab harus diterjemahkan ke bahasa-bahasa yang sebelumnya tidak mengenal aksara. Sering pula terjadi bahwa terjemahan Alkitab memunyai pengaruh yang besar atas perkembangan suatu bahasa bahkan perkembangan suatu bangsa. Oleh karena Alkitab merupakan buku yang paling banyak diterjemahkan ke bahasa-bahasa yang ada di dunia ini, pada umumnya dapat kita katakan bahwa terjemahan-terjemahan Alkitab telah memunyai pengaruh yang besar atas perkembangan peradaban umat manusia pada umumnya.

Terjemahan Alkitab di Eropa, baik di Eropa Barat, maupun di Eropa Timur, dijalankan untuk bangsa-bangsa dan dalam bahasa-bahasa yang sebelumnya tidak mengenal agama-agama “tinggi”, yaitu agama-agama yang memiliki sistem pemikiran keagamaan yang berada pada tahap perkembangan yang tinggi, seperti kemudian terjadi waktu Alkitab diterjemahkan untuk bangsa-bangsa dan dalam bahasa-bahasa di Asia. Di antara bahasa-bahasa di Asia banyak yang telah lama dipengaruhi oleh sistem pemikiran dari agama-agama “tinggi”, yaitu agama Islam, Hindu, atau Budha.

Di Eropa Barat terjemahan Alkitab dalam bahasa Latin yang disebut Vulgata memunyai pengaruh yang sangat luas. Di Eropa Timur yang sangat terkenal ialah terjemahan oleh Cyrillus dan Methodius, yang sekaligus mengembangkan aksara yang baru untuk bahasa Slavonik, yang disebut aksara “cyrilik”. Orang-orang Rusia, Serbia, dan Bulgaria masih menggunakan terjemahan dalam bahasa Slovonik kuno dalam kebaktian-kebaktian mereka.

Setelah Reformasi, terjemahan-terjemahan Alkitab dalam bahasa Jerman (terjemahan oleh Martin Luther), dalam Bahasa Belanda (Statenvertaling), dan dalam Bahasa Inggris (Standard Version) telah memunyai pengaruh yang besar dan luas dalam perkembangan dari bahasa-bahasa dan perkembangan dari bangsa-bangsa yang bersangkutan. Sebab sebagai akibat dari Reformasi, Alkitab menjadi buku yang dibaca secara luas di kalangan rakyat.

Waktu saya menghadiri Sidang Raya Persekutuan Lembaga-Lembaga Alkitab Sedunia di Budapest pada tahun 1988, saya mendengar bahwa di negara komunis, Hongaria, Alkitab masih tetap dipelajari di sekolah-sekolah pemerintah sebagai buku yang memunyai pengaruh yang besar atas perkembangan bahasa dan kebudayaan Hongaria.

Di Mesir sendiri, Alkitab dalam bahasa Koptik telah melestarikan bahasa itu sejak bahasa Arab menjadi bahasa umum di Mesir setelah negeri itu dikuasai oleh pasukan-pasukan Arab yang menegakkan agama Islam dan bahasa Arab di sana.

Dalam upaya pekabaran Injil “sampai ke ujung Bumi”, Alkitab telah diterjemahkan ke beratus-ratus bahasa di Asia dan di Afrika. Seperti telah kita singgung tadi, dalam pertemuan antara Injil dan bangsa-bangsa di Asia, Alkitab diterjemahkan ke bahasa-bahasa yang telah memiliki aksara dan yang telah banyak dipengaruhi oleh sistem pemikiran agama-agama Hindu, Budha, dan Islam. Terjemahan-terjemahan ini dapat kita golongkan dalam kategori pertama. Selain itu, dalam rangka pelebaran Injil itu, Injil juga bertemu dengan peradaban-peradaban suku-suku yang terkait dengan agama suku. Banyak di antara suku-suku itu belum memiliki aksara sehingga Alkitab merupakan buku pertama yang ditulis dalam bahasa-bahasa yang bersangkutan. Terjemahan ini dapat kita golongkan dalam kategori kedua. Menerjemahkan Alkitab dalam bahasa-bahasa yang temasuk dalam kategori yang pertama dan menerjemahkan Alkitab dalam bahasa-bahasa yang termasuk kategori yang kedua, tentu menghadapkan penerjemah dengan masalah-masalah yang memunyai sifat-sifat tersendiri.

Dalam rangka gerakan Oikumenis yang telah berkembang sejak awal abad ke-20 untuk menampakkan kesatuan umat Tuhan di dunia pada umumnya dan demikian juga di masing-masing negara, sebagai kesaksian di hadapan dunia, sesuai dengan firman yang berbunyi “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yohanes 17:21), Alkitab telah menjadi salah satu faktor pemersatu yang utama di antara gereja-gereja yang memunyai tradisi yang berbeda-beda, seperti gereja-gereja Reformasi, gereja-gereja Ortodoks, dan gereja-gereja Roma Katolik.

Umat Tuhan di semua tempat dan zaman tidak hanya dipersatukan oleh “satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua” (Efesus 4:5-6), tetapi juga oleh satu Alkitab. Dengan latar belakang yang bersifat umum tadi, sekarang klta akan mengemukakan beberapa catatan mengenai “Perkembangan penerjemahan dan penggunaan Alkitab ditinjau dari segi perkembangan dan persatuan bangsa serta kesatuan umat Tuhan di Indonesia”.

PERTEMUAN INJIL DENGAN INDONESIA

“Perkembangan penerjemahan dan penggunaan Alkitab ditinjau dari segi perkembangan dan persatuan bangsa serta kesatuan umat Tuhan di Indonesia” kita tempatkan dalam rangka pertemuan Injil dengan Indonesia. Dalam perjalanan Injil dari Yerusalem, Yudea, dan Samaria sampai ke ujung bumi, pada satu pihak ada perjalanan Injil ke arah barat. Pada pihak lain ada juga perjalanan Injil ke arah Timur. Awal dari perjalanan Injil ke arah barat itu kita baca dalam kitab Kisah Para Rasul. Perjalanan Injil ke arah timur tidak tercatat dalam Alkitab. Perjalanan Injil ke arah timur itu hanya kita ketahui dari sejarah saja. Catatan-catatan sejarah mengenai perjalanan Injil ke arah timur ini pun sangat sedikit. Lagi pula hasil perjalanan Injil ke arah timur kemudian hampir lenyap. Oleh sebab itu, perjalanan Injil ke arah timur ini hampir tidak diketahui dan hampir tidak dikenal di Indonesia.

Salah satu gereja yang terpenting sebagai hasil dari perjalanan Injil ke arah timur ini ialah Gereja Nestoriah. Gereja Nestoriah itu lama berpusat di Baghdad. Dari abad ke-6 sampai abad ke-13 Gereja Nestoriah telah menjalankan pekabaran Injil yang sangat luas sampai ke India dan Cina. Para penginjil dari Gereja Nestoriah itulah yang menerjemahkan Alkitab untuk pertama kali dalam bahasa Cina. Dalam suatu buku dalam bahasa Arab yang ditulis oleh Shaykh Abu Salih al-Armini dikatakan bahwa di Fansur (Barus), di pantai Barat Tapanuli, terdapat banyak Gereja Nestoriah. Ada petunjuk-petunjuk bahwa kaum Nestoriah telah hadir di Barus sejak tahun 645.

Dalam abad ke-14 dan ke-15 Gereja Nestoriah itu praktis lenyap, walaupun sampai sekarang masih ada sisa-sisanya di Iran dan Irak. Gereja Nestoriah di Barus telah lenyap tanpa meninggalkan bekas. Para penginjil dari Gereja Nestoriah tidak pernah menerjemahkan Alkitab ke bahasa Melayu, yang pada abad ke-7 telah luas tersebar di kawasan Asia Tenggara. Dengan demikian kita lihat bahwa Injil telah tiba di Indonesia untuk pertama kali dalam rangka perjalanan Injil dari Yerusalem ke arah timur, lama sebelum Islam tiba di Indonesia. Tetapi kedatangan pertama Injil di Indonesia itu tidak meninggalkan bekas. Injil telah datang untuk kedua kali di Indonesia melalui jalan yang panjang, yaitu dari Yerusalem ke arah barat, ke Eropa, dan baru pada abad ke-16 Injil kembali ke Indonesia dari Eropa bersamaan waktu dengan kedatangan orang-orang Portugis, yang kemudian disusul oleh kedatangan orang-orang Belanda pada abad ke-17.

Dalam hubungan itu baiklah kita baca Kisah Para Rasul 16:8-10. Di situ kita baca bahwa Rasul Paulus tidak memunyai rencana untuk membawa Injil dari Asia ke Eropa, yaitu ke Makedonia. Membawa Injil dari Asia ke Eropa bukan strategi Paulus, melainkan strategi Roh Yesus sendiri (Kisah Para Rasul 16:8). Sejarah dunia dan sejarah gereja akan lain sama sekali andaikata Injil tidak dibawa dari Asia ke Eropa, artinya ke dunia Barat.

Pada waktu Injil tiba di Indonesia untuk pertama kali pada abad ke-7 dan untuk kedua kali dalam abad ke-16, Indonesia telah memunyai perkembangan yang menarik dari segi sejarah dan dari segi agama serta kebudayaan. Injil tidak tiba di Indonesia dalam keadaan yang “kosong” dari segi agama dan kebudayaan. Dapat kita catat adanya beberapa “lapisan” dalam sejarah keagamaan dan kebudayaan kita sehingga Indonesia dapat kita lihat sebagai suatu kue lapis yang memperlihatkan lapisan-lapisan keagamaan dan kebudayaan yang memunyai coraknya masing-masing.

Waktu Injil tiba di Indonesia untuk pertama kali pada abad ke-7 dan untuk kedua kali dalam abad ke-16, Indonesia telah memunyai perkembangan yang menarik dari segi sejarah dan dari segi agama serta kebudayaan. Injil tidak tiba di Indonesia dalam keadaan yang “kosong” dari segi agama dan kebudayaan. Dapat kita catat adanya beberapa “lapisan” dalam sejarah keagamaan dan kebudayaan kita sehingga Indonesia dapat kita lihat sebagai suatu kue lapis yang memperlihatkan lapisan-lapisan keagamaan dan kebudayaan yang memunyai coraknya masing-masing.

Lapisan pertama ialah lapisan kebudayaan dan keagamaan Indonesia asli, yang memperlihatkan persamaan-persamaan yang mendasar di samping perbedaan-perbedaan dari suatu daerah ke daerah yang lain. Studi-studi mengenai kebahasaan dan adat-istiadat yang dahulu banyak dijalankan oleh sarjana-sarjana Belanda, mencatat persamaan-persamaan yang pokok di samping adanya perbedaan-perbedaan dalam lapisan Indonesia asli ini di berbagai daerah dan kalangan berbagai suku. Di beberapa daerah, lapisan asli ini masih tampak pada permukaan kehidupan kebudayaan dan adat istiadat, seperti di Tanah Batak, di Tanah Toraja, dan di Sumba. Lapisan-lapisan kedua dan ketiga yang akan kita bicarakan di bawah, tidak banyak memengaruhi keadaan dan keagamaan di daerah-daerah itu.

Lapisan kedua ialah pengaruh kebudayaan dan keagamaan yang datang dari India. Selama lebih dari seribu tahun, pengaruh kebudayaan dari keagamaan yang berasal dari India ini sangat berakar di Pulau Jawa dan Bali dan sebagian Pulau Sumatera. Lapisan ini menghasilkan Kerajaan Sriwijaya yang beragama Budha dan Kerajaan Majapahit yang beragama Hindu. Kedua kerajaan itu pernah mempersatukan seluruh kepulauan Indonesia. Sampai sekarang, pengaruh dari lapisan yang berasal dari India ini masih tetap sangat kuat di Pulau Jawa dan Bali. Seperti telah kita catat tadi, Injil telah tiba di Indonesia pada abad ke-7 dalam kurun tibanya lapisan kedua ini di Indonesia, tetapi pengaruh Injil itu hanya terbatas kepada Fansur (Barus) saja dan pengaruh itu kemudian lenyap tanpa meninggalkan bekas.

Lapisan ketiga dengan datangnya Islam. Di banyak daerah di Indonesia peta keagamaan dan kebudayaan mengalami perubahan yang mendasar sebagai akibat kedatangan Islam itu. Muncullah banyak kerajaan Islam di berbagai daerah, tetapi tidak sempat ada kerajaan Islam yang mempersatukan seluruh kepulauan Indonesia, seperti pernah terjadi oleh Kerajaan Budha Sriwijaya dan oleh Kerajaan Hindu Majapahit. Injil tidak hadir di Indonesia selama tibanya lapisan ketiga ini.

Masih ada pengaruh kebudayaan yang cukup luas yang berasal dari Cina. Tetapi pengaruh ini tidak pernah sempat menjadi suatu lapisan tersendiri dalam peta keagamaan dan kebudayaan di Indonesia. Hal Ini berbeda dengan sejarah Vietnam, di mana pengaruh kebudayaan dan keagamaan yang berasal dari Cina merupakan lapisan yang utama.

Lapisan keempat tiba di Indonesia dengan datangnya pengaruh kebudayaan dan keagamaan yang berasal dari Eropa atau lebih tepat dari Eropa Barat atau Barat yang modern. Mula-mula datang orang-orang Portugis dan kemudian orang-orang Belanda. Injil tiba di Indonesia untuk kedua kalinya bersamaan dengan kedatangan lapisan keempat yang berasal dari Eropa atau Barat modern ini.

Namun, Injil tidak identik dengan Eropa. Injil mula-mula justru telah tiba di Eropa dari Asia, yaitu dari Yerusalem. Telah kita lihat bahwa Rasul Paulus dituntun oleh Roh Kudus untuk membawa Injil dari Asia ke Eropa. Agama Kristen bukan agama Eropa. Eropa justru telah mengalami perubahan yang mendasar sebagai akibat dari datangnya kekristenan dari Asia ke Eropa. Perubahan yang sangat penting terjadi setelah Renaissance pada abad ke-14. Sebagai hasil dari proses perubahan sejak Renaissance itu, muncullah di Eropa apa yang disebut peradaban modern. Eropa beralih dari pramodern menjadi modern. Dengan ini, Eropa Barat mengembangkan peradaban modern yang pertama di dunia kita ini.

Apakah yang disebut modern itu? Pada dasarnya, peradaban yang modern itu memperlihatkan pola pikir, pola kerja, dan pola hidup baru yang paling sedikit memperlihatkan dua ciri yang tidak terdapat pada peradaban-peradaban pramodern, yaitu ciri kerasionalan dan ciri kedinamikaan. Mengapa kemodernan itu muncul untuk pertama kali di Eropa Barat, sedangkan sebelum itu banyak peradaban di luar Eropa Barat termasuk peradaban Arab-Islam, yang lebih unggul dari peradaban Eropa Barat itu? Ada pandangan yang melihat adanya dua sumber utama bagi lahirnya kemodernan itu di Eropa Barat. Pertama, rasionalitas yang berasal dari filsafat Yunani dan kedua kedinamikaan yang berasal dari perkembangan dari suatu Alkitab yang melihat adanya dinamika perubahan dalam sejarah awal menuju suatu tujuan atau penggenapan yang terletak di depan. Dengan demikian pemikiran modern berorientasi ke masa depan, dan tidak ke masa lampau, seperti halnya dalam pemikiran pramodern yang tradisional.

Setelah Eropa Barat menjadi modern, mereka menjalankan ekspansi dan eksploitasi di seluruh dunia. Rahasia keunggulan Barat selama beberapa abad tidak terletak pada ke-Baratannya, tetapi pada kemodernannya. Semua perlawanan dari bangsa-bangsa non-Barat terhadap ekspansi dan eksploitasi oleh Eropa modern itu, yang dijalankan secara pramodern, menemui kekalahan. Di Amerika dan Australia, penduduk asli praktis dimusnahkan oleh ekspansi dan eksploitasi oleh Barat modern itu. Kedua benua itu praktis menjadi perluasan dari dunia Barat. Cina tidak ditaklukkan tetapi mengalami revolusi yang berkepanjangan, yang tampaknya masih terus berlangsung sampai sekarang ini. Jepang berhasil untuk mengambil alih kemodernan dan mengalahkan bangsa Barat dalam perang Rusia 1904 — 1905. Ini membuktikan bahwa apabila suatu bangsa non-Barat berhasil menguasai kemodernan, dia tidak akan terus mengalami kekalahan dari bangsa Barat.

India, Indonesia, Vietnam, dan bangsa-bangsa lain dijadikan jajahan dalam rangka ekspansi dan eksploitasi oleh Barat modern itu, yang mula-mula dipelopori oleh Spanyol dan Portugal, yang diperintah oleh raja-raja yang beragama Roma Katolik. Raja-raja itu memerintahkan armada-armada mereka berlayar ke Amerika dan ke Asia untuk menaklukkan daerah-daerah dan bangsa-bangsa yang mereka temui guna memperoleh keuntungan dan sekaligus guna menyebarkan Agama Kristen Katolik. Kemudian yang menjadi pelopor-pelopor dalam ekspansi dan eksploitasi oleh Barat modern itu ialah orang-orang Inggris dan Belanda, yang merupakan bangsa-bangsa Kristen Protestan. Mereka ini memusatkan perhatiannya terutama kepada keuntungan. Mereka hanya memunyai perhatian yang sangat terbatas pada penyebaran Agama Kristen Protestan melalui penaklukan seperti dijalankan oleh Spanyol dan Portugal. Apa yang dialami oleh bangsa-bangsa non-Barat dan non-modern yang lain, kita alami juga di Indonesia. Dalam semua perlawanan yang kita jalankan secara pramodern terhadap ekspansi dan eksploitasi oleh Barat modern yang datang tanpa diundang itu, kita mengalami kekalahan. Orang-orang Portugis yang mula-mula datang menyebarkan agama Kristen Katolik di beberapa daerah, yaitu di Maluku, Flores, dan di daerah lain seperti Timor. Belanda yang tiba belakangan mengusir orang-orang Portugis dan lambat laun mereka menegakkan kekuasaannya. Di Maluku, sebagian besar orang-orang Kristen Katolik menjadi Kristen Protestan setelah Belanda berkuasa di sana, tetapi pada umumnya Belanda yang Protestan itu memunyai perhatian yang terbatas pada penyebaran agama Kristen melalui penaklukan dibandingkan dengan orang-orang Portugis. Penyebaran Agama Kristen yang kemudian terjadi di berbagai daerah adalah terutama hasil pekerjaan dari perkumpulan-perkumpulan pekabaran Injil, yang tidak ada kaitannya dengan Pemerintah Belanda. Sebagian dari perkumpulan-perkumpulan pekabaran Injil itu tidak berpangkalan di negeri Belanda, tetapi di Jerman dan Swiss. Di beberapa daerah, yang sebelumnya tidak atau hampir tidak disentuh oleh apa yang kita sebut dengan lapisan kedua dan ketiga, yaitu lapisan yang berasal dari India dan lapisan Islam, agama Kristen menjadi agama rakyat. Kita sebut sebagai contoh, Tapanuli Utara, Simalungun, Karo, Nias, Toraja, Minahasa, Sangir, sebagian Sulawesi Tengah, Kalimantan Tengah, Sumba, Timor, Flores, Maluku, dan Irian Jaya.

Di banyak daerah lain, lahir gereja-gereja yang jumlah anggotanya relatif kecil dibanding dengan penduduk daerah itu, seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara. Ada juga gereja-gereja yang mula-mula beranggotakan keturunan Cina. Di beberapa daerah gereja hampir tidak sempat berakar. Dengan demikian, telah diletakkan landasan bagi peta keagamaan dan kebudayaan di Indonesia, yang pada dasarnya masih tetap bertahan sampai sekarang ini.

Dalam hubungan itulah, kita harus tempatkan peristiwa yang terjadi 360 tahun yang lalu (sesuai tahun penulisan buku ini — Red.), yaitu penerbitan kitab pertama dari Alkitab dalam bahasa Indonesia (Melayu). Hal itu penting sebab bahasa Melayu memunyai posisi yang penting di seluruh kepulauan Indonesia bahkan juga di beberapa daerah di luar Indonesia, sebagai bahasa pergaulan dengan bangsa-bangsa asing. Posisi bahasa Melayu itu dapat dibandingkan dengan posisi bahasa Yunani di kawasan sekitar Laut Tengah sebelum dan sesudah lahirnya gereja purba. Penerbitan kitab pertama dari Alkitab dalam bahasa Melayu yang terjadi 360 tahun yang lalu telah disusul oleh upaya penerjemahan dan penerbitan yang lebih lanjut sehingga akhirnya tersedia Alkitab yang lengkap dalam bahasa Melayu. Yang paling terkenal ialah terjemahan Leydecker, yang memunyai pengaruh yang sangat luas, antara lain di bagian timur Indonesia.

Setelah pemerintahan selingan Inggris pada awal abad ke-19 berakhir, kembalinya kekuasaan Belanda telah disambut dengan pemberontakan-pemberontakan di tiga daerah, yaitu pemberontakan Paderi di Sumatera Barat, yang bercorak Islam Wahabi; pemberontakan Pangeran Diponegoro di pulau Jawa yang bercorak Islam Jawa; dan pemberontakan Pattimura di Maluku yang bercorak Kristen Ambon. Konon waktu Pattimura terpaksa harus meninggalkan Kota Saparua, dia telah meninggalkan Alkitab di mimbar gereja Saparua yang terbuka pada Mazmur 17, dengan kalimat-kalimat awalnya yang berbunyi:

“Dengarlah, Tuhan, perkara yang benar, perhatikanlah seruanku; berilah telinga akan doaku, dari bibir yang tidak menipu. Dari pada-Mulah kiranya datang penghakiman; mata-Mu kiranya melihat apa yang benar”.

Melalui Mazmur 17 itu Pattimura rupanya ingin menyampaikan pesan kepada komandan pasukan Belanda yang memasuki kota Saparua, bahwa sekalipun Belanda menang, kebenaran adalah di pihak Pattimura dan teman-teman seperjuangannya. Alkitab yang ditinggalkan oleh Pattimura terbuka pada Mazmur 17 di mimbar gereja Saparua agaknya ialah Alkitab terjemahan Leydecker.

Dalam rangka pekabaran Injil di berbagai daerah yang dijalankan secara intensif sejak abad ke-19 dan yang seperti kita lihat tadi banyak dijalankan oleh perkumpulan-perkumpulan pekabaran injil yang tidak terkait dengan Pemerintah Kolonial Belanda, dengan sendirinya telah lahir terjemahan-terjemahan Alkitab dalam berbagai bahasa daerah. Untuk itu, bahasa-bahasa daerah itu telah dipelajari sebaik-baiknya secara ilmiah. Dalam hubungan itu, salah satu tokoh yang paling menarik ialah Herman Neubronner van der Tuuk (1824-1894). Atas penugasan oleh Lembaga Alkitab Belanda, van der Tuuk telah memelopori upaya untuk mempelajari bahasa Batak dan kemudian bahasa Bali secara ilmiah.

Pada peresmian Perpustakaan Nasional pada tanggal 11 Maret 1989 di Jakarta, Presiden Soeharto berkata bahwa di Perpustakaan Nasional itu terdapat naskah terjemahan Alkitab dalam bahasa dan aksara Batak. Naskah itu agaknya adalah terjemahan oleh van der Tuuk, yang di Tanah Batak terkenal dengan nama Pandortuk. Di Bali dia terkenal dengan nama Tuan Dertik.

INDONESIA MEMASUKI ERA MODERN

Sejarah modern Indonesia dapat dianggap mulai dengan Kebangkitan Nasional pada tahun 1908. Sebelum itu, bangsa kita selalu mengalami kekalahan dari Belanda, oleh karena kita menjalankan perang-perang lokal secara pramodern, sedangkan Belanda menjalankan peperangan secara modern serta strategi yang mencakup seluruh Hindia Belanda. Peperangan-peperangan lokal dan pramodern yang terakhir ialah Perang Aceh, Perang Batak, dan Perang Bali. Waktu Perang Aceh, Perang Batak, dan Perang Bali itu berakhir pada awal abad ke-20, di Jakarta (Batavia) telah ada pemuda-pemuda terpelajar yang mendirikan Budi Utomo pada tahun 1908. Sejak Kebangkitan Nasional 1908 itu, kita melanjutkan perlawanan terhadap Belanda yang sebelumnya kita jalankan secara lokal dan pramodern dengan cara-cara yang secara berangsur-angsur makin bersifat nasional dan makin bersifat modern.

Gerakan-gerakan pemuda yang mula-mula bersifat kedaerahan, di mana pemuda-pemuda Kristen dari daerah-daerah yang bersangkutan aktif mengambil bagian, menjadi gerakan Pemuda Nasional dengan Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Dengan Sumpah Pemuda itu, bahasa Indonesia memperoleh kedudukan sebagai bahasa persatuan dan bahasa Nasional.

Dalam iklim yang dijiwai oleh cita-cita kemerdekaan Nasional itu, telah lahir pula gereja-gereja yang mandiri di berbagai daerah. Banyak di antara gereja-gereja itu menggunakan Alkitab dalam bahasa daerah masing-masing. Tetapi berdasarkan keyakinan bahwa bahasa Indonesia akan memunyai tempat yang menentukan dalam perkembangan persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan di masa depan, diadakan juga terjemahan dalam bahasa Indonesia di bawah pimpinan Bode. Dengan didirikannya Hoogere Theologische School (HTS) pada tahun 1934 yang sekarang menjadi Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta, dimulailah pendidikan calon-calon pendeta yang berwawasan persatuan bangsa dan kesatuan gereja untuk semua gereja. Para lulusan dari HTS itu kemudian menjadi pelopor-pelopor bagi gerakan menuju kesatuan gereja.

Dengan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, bangsa kita memasuki era yang baru, yaitu era bangsa dan negara yang merdeka. Dalam hubungan ini, perlu dicatat bahwa dasar negara yang diterima secara bulat pada tahun 1945, yaitu Pancasila, terbukti merupakan dasar yang sangat tepat yang telah mampu menjamin persatuan dan kesatuan bangsa yang terus makin kokoh serta kerukunan antar umat beragama. Kita lihat bahwa banyak negara baru yang lain telah mengalami pergolakan serta konflik-konflik antar agama yang berkepanjangan.

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 terdapat pertentangan yang tajam antara dua konsep kenegaraan, yaitu konsep negara agama dan konsep negara nasional. Dengan Pancasila, kita telah menghindarkan perpecahan dan sejak itu, persatuan bangsa kita terwujud waktu proklamasi. Dalam sejarah India, pertentangan antara konsep negara agama dan konsep negara nasional telah menghasilkan dua dan kemudian tiga negara.

Pada perang kemerdekaan (1945 — 1949) melawan Belanda, kita menjalankan strategi nasional yang modern yang terdiri dari kombinasi antara strategi militer yang modern dan strategi diplomasi yang modern telah menghasilkan kemenangan bagi kita dalam arti Belanda mengakui kedaulatan kita. Dalam perjuangan yang kita jalankan secara nasional dan modern antara 1945 dan 1949, kita dapat mengalahkan Belanda, sedangkan dalam peperangan-peperangan sebelum Kebangkitan Nasional 1908, yang kita jalankan secara lokal dan pramodern, kita selalu mengalami kekalahan dari Belanda.

Perang Kemerdekaan itu telah meningkatkan kesadaran mengenai kesatuan dan persatuan nasional di semua golongan dan lapisan bangsa kita, termasuk di kalangan umat Kristen. Orang-orang Kristen mengambil bagian dalam Perang Kemerdekaan itu secara bahu-membahu dengan saudara-saudaranya yang menganut agama-agama lain, seperti yang kita lihat ketika kita mengunjungi Taman-taman Pahlawan di seluruh tanah air. Setelah Perang Kemerdekaan berakhir dengan pengakuan kedaulatan kita menjelang akhir tahun 1949, pada tahun 1950 pemimpin-pemimpin dari gereja-gereja di Indonesia mendirikan Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) dengan tujuan mendirikan Gereja Kristen yang Esa di Indonesia. Dengan perkataan lain, para pemimpin gereja hendak mewujudkan kesatuan umat Tuhan di Indonesia dalam rangka persatuan bangsa. Tetapi kesatuan umat Tuhan itu tentu lebih luas daripada persatuan bangsa. Kesatuan umat Tuhan mencakup umat Tuhan di semua tempat dan sepanjang zaman. Kesatuan umat Tuhan yang merupakan inti dari gerakan Oikumenis bersumber pada Injil. Tuhan Yesus berdoa, “Supaya mereka menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yohanes 17:21). Dengan demikian, jelas bahwa yang Oikumenis tidak dapat dipertentangkan dengan yang Injili. Yang Oikumenis adalah di dalam yang Injili dan yang Injili adalah di dalam yang Oikumenis. Baik yang Injili, maupun yang Oikumenis sama-sama bersumber pada Alkitab. Mereka dipersatukan oleh Alkitab yang satu.

Setelah pengakuan kedaulatan kita pada tahun 1950, lahirlah pula Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) pada tahun 1954. Dalam rangka persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan, lahir pula terjemahan dalam bahasa Indonesia modern, di mana terdapat kerja sama yang erat antara LAI dengan semua gereja di Indonesia, termasuk Gereja Roma Katolik. Dalam rangka persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan itu pulalah terjemahan dalam banyak bahasa daerah dibaharui dan terjemahan-terjemahan dalam bahasa-bahasa yang belum mengenal terjemahan Alkitab terus diadakan. Dalam hubungan persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan itu pula, dirasakan kebutuhan akan terjemahan-terjemahan dalam bahasa-bahasa sehari-hari, agar Alkitab itu dapat lebih mudah dibaca dan dipahami di tengah-tengah kehidupan sehari-hari.

Waktu bangsa kita hidup dalam iklim revolusi selama Demokrasi Terpimpin dengan kecenderungannya untuk menuntut penyesuaian secara total dengan ketentuan-ketentuan revolusi, dalam gereja-gereja kita banyak mempelajari Roma 12:2 yang berbunyi “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”. Itulah yang melahirkan rumus yang terkenal bahwa dalam terang Injil Kerajaan Allah: kita mengambil bagian dalam revolusi secara positif, kreatif, kritis, dan realistis. Waktu kita memasuki era pembangunan, rumus tersebut dilanjutkan dengan mengatakan bahwa dalam terang Injil Kerajaan Allah kita mengambil bagian dalam pembangunan secara positif, kreatif, kritis, dan realistis.

Dalam hubungan penerjemahan dengan penggunaan Alkitab dalam rangka persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan, dapat dicatat pengalaman kita dalam rangka perjuangan untuk mengintegrasikan Irian Jaya (sekarang Papua — Red.) ke dalam persatuan bangsa dan usaha untuk mengintegrasikan Gereja Kristen Injili di Irian Jaya ke dalam persatuan umat Tuhan di Indonesia. Pada waktu itu, Belanda bekerja keras untuk memisahkan Irian Jaya dari bagian-bagian yang lain dari Indonesia, antara lain dengan mengusahakan agar Gereja Kristen Injili di Irian Jaya dan rakyat di Irian Jaya umumnya, tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia. Usaha Belanda itu telah gagal karena gereja dan rakyat di Irian Jaya tidak bersedia untuk melepaskan bahasa Indonesia dan Alkitab dalam bahasa Indonesia. Alkitab dalam bahasa Indonesia yang dibaca luas di Irian Jaya merupakan salah satu sebab yang utama bagi kegagalan upaya Belanda untuk memisahkan rakyat Irian Jaya dan untuk memisahkan Gereja Kristen Injili di Irian Jaya dari persatuan bangsa dan dari kesatuan umat Tuhan di Indonesia.

Kita telah mencapai kemajuan yang besar dalam proses untuk terus-menerus memperkuat persatuan bangsa antara lain dengan memantapkan Pancasila sebagai satu-satunya alas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara pada tahun 1985. Kita telah mencapai kemajuan dalam proses yang terus-menerus untuk membaharui, menumbuhkan, membangun, dan mempersatukan umat Tuhan antara lain dengan peningkatan Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) menjadi Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) pada tahun 1984. Dalam rangka persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan itu, penerjemahan dan penggunaan Alkitab akan terus kita tingkatkan di masa depan.

MELIHAT KE MUKA

Dalam memperingati penerbitan bagian Alkitab dalam bahasa Indonesia (Melayu) 360 tahun yang lalu, pada satu pihak kita melihat ke belakang dengan mengucap syukur atas pekerjaan yang telah dijalankan oleh begitu banyak hamba Tuhan yang setia di masa lampau dalam menerjermahkan, menerbitkan, dan mendistribusikan Alkitab, dengan tujuan agar semua orang di Indonesia dapat membawa Alkitab dalam bahasanya sendiri, dengan harga yang terjangkau oleh orang banyak.

Pada pihak lain kita melihat ke muka untuk melihat tanda-tanda zaman yang dapat membantu kita menjalankan persiapan-persiapan agar kita dapat menghadapi perkembangan di masa depan sebaik-baiknya, baik dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara kita, maupun dalam kehidupan gereja-gereja kita dan demikian juga dalam kehidupan Lembaga Alkitab di Indonesia (LAI). Masyarakat, bangsa dan negara kita sedang bersiap-siap untuk menjalankan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila menuju tinggal landas menjelang akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 agar kita dapat “naik kelas” dari negara berkembang menjadi negara maju yang membangun masyarakat Pancasila yang maju, adil, makmur dan lestari, yang akan dapat memberikan sumbangan yang sebesar-besarnya dalam upaya umat manusia untuk membangun masyarakat dunia dengan berpedoman kepada keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan.

Ilmu dan teknologi yang harus makin maju dan makin canggih akan menjadikan dunia dan juga Indonesia makin kecil dan makin bersatu. Ancaman-ancaman baru yang dapat membawa kepada kehancuran akan dihadapi, di samping peluang-peluang yang baru untuk membangun masyarakat dunia dan juga masyarakat Indonesia yang makin adil, makin damai, dan makin mampu untuk menjamin keutuhan ciptaan.

Apakah akan ada perbedaan dalam masa depan dunia dan dalam masa Indonesia tanpa atau dengan kehadiran serta partisipasi gereja? Perbedaan itu tentu ada sebab gereja telah ditempatkan oleh Tuhannya di dunia ini, termasuk di Indonesia yang menjalankan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila menuju tinggal landas, sebagai “garam”, “terang”, dan berkat bagi semua orang. Untuk itu, gereja harus menjalankan tugasnya yang tidak berubah di semua tempat dan sepanjang zaman, seperti telah dirumuskan bersama-sama oleh gereja-gereja di Indonesia dalam Sidang Raya DGI 1984, sebagai berikut.

  1. Memberitakan Injil kepada semua makhluk (Markus 16:15).
  2. Menampakkan keesaan mereka seperti keesaan Tubuh Kristus dengan rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh (I Korintus 12:4).
  3. Menjalankan pelayanan dalam kasih dan usaha menegakkan keadilan (Markus 10:45, Lukas 4:18, 10:25-37; Yohanes 15:16).

Dalam menjalankan tugas panggilannya tadi di tengah-tengah perkembangan dunia umumnya dan juga di tengah-tengah perkembangan Indonesia, gereja-gereja di seluruh dunia termasuk di Indonesia berbicara mengenai Kisah Para Rasul Kontemporer. Dalam Kisah Para Rasul, kita baca bahwa setelah bertemu dengan Kristus yang bangkit dan memperoleh kuasa dari Roh Kudus menjadi saksi di Yerusalem, di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi, gereja purba telah keluar dari keterbatasannya semula sebagai gereja dari dan untuk orang-orang Yahudi, untuk menjadi gereja bagi semua orang dalam Kerajaan Romawi dengan tidak mengadakan diskriminasi antara Yahudi, Yunani, dan seterusnya.

Dalam menjalankan Kisah Para Rasul kontemporer di dunia umumnya dan khususnya di Indonesia di tengah-tengah pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila menuju tinggal landas menjelang akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, gereja-gereja di Indonesia berdoa agar mereka bertemu dengan Kristus yang bangkit dan memperoleh kuasa Roh Kudus untuk menjadi aksi sampai ke ujung Indonesia bahkan sampai ke ujung bumi. Untuk itu, gereja harus keluar dari berbagai bentuk keterbatasannya sehingga gereja-gereja di Indonesia itu bersama-sama menjadi gereja bagi semua orang di Indonesia di tengah-tengah pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila menuju tinggal landas. Dalam hubungan itulah penerjemahan, penerbitan, dan distribusi Alkitab akan terus ditingkatkan agar Alkitab yang dapat dibaca oleh semua orang dalam bahasanya sendiri dengan harga yang terjangkau oleh orang banyak menjadi pelita yang menerangi jalan bagi semua orang dalam hubungan peningkatan persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan, di tengah-tengah pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila menuju tinggal landas menjelang akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21.

Sumber:

Diambil dan diedit seperlunya dari:

Judul buku : Tantangan Gereja di Indonesia
Editor : Pusat Literatur Euangelion
Penerbit : Pusat Literatur Euangelion dan
Yayasan Penerbit Kristen Injili (YAKIN)
Judul artikel : Gereja dan Alkitab
Penulis : T.B. Simatupang
Halaman : 1 — 14

Sekilas Hidup Reformator John Calvin di Jenewa dan di Strasburg

Pendahuluan

Calvin dilahirkan pada tahun 1509 di Noyon, Perancis Utara. Tahun 1523, ia memulai studinya di sekolah menengah di Paris. Di sekolahnya, ia diarahkan kepada humanisme dan tradisi Abad Pertengahan. Sesuai dengan kemauan ayahnya, ia kemudian melanjutkan studinya di bidang ilmu hukum di Orleans dan di Bourges. Ketika itu, pengaruh humanisme di Perancis sangat besar. Di situ, Erasmus, humanis Belanda, sangat dihormati dan dijunjung tinggi.

Sejak akhir Abad Pertengahan, hubungan antara gereja dan negara erat sekali. Karena itu, orang-orang Perancis sangat memusuhi reformasi. Mungkin dari kawan-kawannya, ia memeroleh bacaan yang memperkenalkannya pada reformasi. Mula-mula, ia tidak merasa tertarik pada “ajaran baru” itu. Tetapi pada akhir tahun 1533, tiba-tiba terjadi perubahan di dalam hidupnya. Calvin sendiri tidak banyak berbicara tentang hal ini. Hanya beberapa kali saja ia menulis tentang pertobatannya. Ia katakan: “Oleh pertobatan yang tiba-tiba terjadi, Allah menaklukkan jiwaku kepada kemauan (untuk menurut).”

Secara teologis, hal ini berarti bahwa sejak saat itu, pengaruh Lutherlah yang memimpin, bukan lagi Erasmus. Ia mau menggunakan ilmunya untuk pelayanan Injil yang ia temukan kembali. Tidak lama sesudah pertobatannya, “penyiksaan” terhadap orang-orang Kristen Perancis yang mengikuti “ajaran baru” itu memaksanya untuk meninggalkan tanah airnya. Mula-mula, Calvin pergi ke Strasburg. Namun tidak lama kemudian, ia melanjutkan perjalanannya ke Basel. Di sini, ia berharap dapat melanjutkan studinya dengan tenang. Di sinilah ia menyelesaikan karyanya, “Institutio” (edisi pertama). Tahun 1536, karyanya ini diterbitkan dalam bentuk buku. Edisi pertama dari karyanya ini hanya berfungsi sebagai semacam “katekismus” bagi orang-orang Perancis yang mengikuti gereja reformasi.

Pada tahun 1536, Calvin pergi ke Italia. Beberapa waktu lamanya, ia tinggal di istana seorang bangsawan wanita. Dari situ, ia pergi lagi ke sebelah utara dan berencana tinggal di Strasburg atau di Basel. Dalam perjalanannya itu, ia singgah dan bermalam di Jenewa. Pendeta Farel dari Jenewa mendengar bahwa orang muda Perancis — yang telah ia dengar namanya sebagai seorang anak muda yang pandai — sedang berada di kotanya. Ia segera pergi mengunjungi Calvin dan meminta dengan sangat agar ia tinggal di Jenewa, supaya keduanya bekerja sama untuk memajukan reformasi di kota itu. Mula-mula, Calvin menolak karena ia ingin belajar dengan tenang. Namun, Farel mendesaknya dengan kata-kata yang keras, bahkan dengan ancaman kutuk. Hal itu melunakkan hatinya, dan Calvin mengambil keputusan untuk memenuhi permintaan Farel.

I

Dalam pelayanannya yang pertama di Jenewa, Calvin bekerja dua tahun lamanya (1536 — 1538) bersama-sama dengan Farel. Ia mula-mula diangkat oleh Dewan Kota sebagai lektor dan ditugaskan untuk mengajar pengetahuan Kitab Suci di St. Pierre (gedung gereja St. Petrus). Kemudian, Calvin diangkat menjadi pendeta. Tugas mengajar yang dipercayakan kepadanya, ia tunaikan dengan membahas surat-surat Rasul Paulus.

Pada bulan Oktober 1536, Calvin diundang menghadiri diskusi di Lausanne, tempat Farel membela ajarannya tentang “pembenaran oleh iman” serta penolakannya terhadap ajaran Gereja Katolik Roma tentang transsubstansiasi dan seremoni-seremoni gereja itu serta beberapa pokok yang lain.

Calvin juga mengambil bagian dalam diskusi itu. Banyak orang yang hadir, kagum terhadap pengetahuannya akan ajaran bapa-bapa gereja, seperti Tertulianus, Chrysostomus, dan Augustinus, mengenai pokok-pokok yang dibicarakan. Oleh pengetahuannya yang mengagumkan itu, banyak orang dimenangkan untuk reformasi. Nama Calvin segera tersebar ke mana-mana hingga pada tahun 1537, ia dan Farel dapat memulai pekerjaan reformasi mereka di Jenewa.

Pada tahun itu juga, Dewan Kota mengesahkan “Peraturan tentang Pemerintahan (Pimpinan) Gereja”. Dalam peraturan itu, antara lain diatur perayaan Perjamuan Malam. Calvin berpendapat bahwa Perjamuan Malam harus dirayakan tiap-tiap minggu. Sungguhpun demikian, ia dapat menerima bahwa perayaan itu hanya diselenggarakan sekali sebulan, yaitu di dalam salah satu dari tiga gedung gereja besar di Jenewa. Untuk itu, perlu diadakan disiplin gerejawi yang dilakukan oleh gereja, dan bukan oleh pemerintah, sama seperti yang terjadi di mana-mana, karena orang mengikuti kebiasaan Luther dan Zwingli. Kita harus ingat — katanya — bahwa Kristus adalah Tuhan gereja. Karena itu, pemerintah tidak memunyai hak untuk mencampuri pelayanan — soal-soal — intern gereja. Dengan jalan ini, Calvin menegaskan bahwa Kristuslah yang memerintah gereja, juga hidup lahiriahnya. Dalam ibadah harus dinyanyikan mazmur-mazmur.

Di dalam jemaat, timbul keberatan terhadap pandangan-pandangan di atas. Calvin dituduh sebagai pengikut Arminianisme. Dewan Kota setuju dengan keberatan itu karena Dewan Kota sendiri mau menjalankan disiplin. Dengan demikian, Dewan Kota merendahkan disiplin gerejawi menjadi semacam “pengawasan-polisi”. Ketegangan ini mencapai puncaknya pada tahun 1538. Ketika itu diadakan pemilihan Dewan Kota. Dalam pemilihan itu nyata bahwa jumlah terbesar dari anggota-anggota Dewan Kota yang baru memihak kepada orang-orang yang menentang Calvin. Dewan Kota menuntut supaya Jenewa hidup menurut seremoni-seremoni Bern, supaya bejana-bejana baptisan yang dibuat dari batu digunakan lagi, dan supaya dalam Perjamuan Kudus digunakan roti yang tidak beragi.

II

Calvin dan Farel melawan tuntutan pemerintah tersebut. Mereka tidak setuju karena menurut mereka pemerintah sudah bertindak melampaui batas wewenangnya dan mencampuri hal-hal yang hanya boleh diatur oleh gereja. Mereka berjuang memertahankan kebebasan gereja. Sebagai jawaban atas sikap tersebut, pemerintah melarang mereka untuk memberitakan firman dalam ibadah. Namun, mereka tidak menghiraukan larangan itu. Akhirnya, pada bulan April 1538, pemerintah memecat Calvin dan Farel dan menyuruh mereka meninggalkan Jenewa.

Farel pergi ke Neuchatel. Dari situ, ia mengikuti perkembangan-perkembangan yang berlangsung di Jenewa. Calvin merasa tersinggung, tetapi juga senang, sebab kini ia dapat melanjutkan studinya dengan tenang.

Ia mula-mula pergi ke Bern dan sesudah itu ke Basel. Di kota ini, Bucer mengirim surat kepadanya dan memintanya datang ke Strasburg untuk memimpin jemaat Perancis yang terdiri dari orang-orang Perancis yang melarikan diri dan mencari perlindungan di Strasburg. Mula-mula, ia agak ragu. Namun, karena Bucer terus mendesaknya melalui surat-suratnya, akhirnya ia memenuhi permintaan Bucer dan berangkat ke Strasburg.

III

Di kota ini, Calvin bekerja tiga tahun lamanya (1538 — 1541) sebagai pendeta dari jemaat orang-orang pelarian yang tinggal di Strasburg. Atas permintaan Capito, ia juga segera memulai suatu kursus teologi. Sama seperti di Jenewa, ia juga bekerja keras di Strasburg. Ia berkhotbah empat kali seminggu. Liturgi untuk ibadah, sebagian besar ia ambil alih dari liturgi Jerman yang banyak digunakan di Strasburg. Ciri khas liturgi ini ialah pengakuan dosa, pembacaan kesepuluh firman, penggunaan mazmur-mazmur sebagai nyanyian jemaat dalam ibadah Minggu pagi, dan berlutut ketika berdoa.

Di dalam gedung-gedung besar, Perjamuan Kudus dilayani setiap minggu, tetapi dalam jemaat Perancis dilakukan sekali sebulan. Calvin berpendapat bahwa dalam Gereja Katolik Roma, tugas jemaat di bidang puji-pujian (nyanyian) telah diambil alih oleh paduan suara dan organ. Karena itu, ia hendak mengembalikan tugas itu kepada jemaat. Tahun 1539, ia menerbitkan Kitab Nyanyian Mazmur yang memuat delapan belas mazmur dalam bentuk sajak, tujuh mazmur berasal dari dia sendiri, dan delapan mazmur dari Marot. Di samping itu, ditambahkan juga “sepuluh firman”, “nyanyian puji-pujian dari Simeon”, dan “Pengakuan Iman Rasuli (Apostolicum)”. Kemudian, di Jenewa, ia menugaskan Marot dan Beza untuk menerjemahkan dan menuangkan seluruh kitab Mazmur dalam bentuk sajak, supaya dapat dinyanyikan oleh jemaat. Sebagai melodi untuk mazmur-mazmur ini, digunakan melodi-melodi dari Matthias Greiter, Louis Bourgeois, dan Maitre Pierre. Mazmur-mazmur tersebut dinyanyikan tanpa iringan organ.

Selain Kitab Nyanyian Mazmur, Calvin juga menyusun suatu formulir baptisan untuk memelihara jemaat dari ajaran kaum pembaptis ulang. Tahun 1539, ia menerbitkan edisi kedua dari karyanya, Institutio, yang tiga kali lebih tebal daripada edisi pertama. Dalam edisi kedua ini, ia juga membahas pengetahuan tentang Allah dan manusia, inspirasi Kitab Suci, kesaksian Roh Kudus, dan predestinasi kembar. Di samping itu, ia juga menerbitkan suatu tafsiran tentang surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma. Banyak ahli menganggap tafsiran ini sebagai suatu contoh dari karya ilmiah dan praktis.

Tahun 1540, ia menikah dengan Idelette de Bure, janda Jean Stordeur dari Luik, yang ia tobatkan dan mengikuti reformasi. Idelette membawa dua anak dari perkawinannya yang pertama. Dari perkawinannya dengan Calvin, ia memeroleh seorang anak laki-laki, tetapi anak itu meninggal dalam usia muda.

Seperti kita ketahui, Calvin adalah seseorang yang mencintai kesatuan gereja. Untuk mencapai kesatuan ini, diadakan diskusi antara teolog-teolog Katolik Roma dan teolog-teolog Protestan. Upaya itu dilakukan berturut-turut di Frankfurt (1539), di Hanegau (1540), di Worms (1540 –1541), dan di Regensburg (1541). Di Frankfurt, ia bertemu dengan Melanchton dan menjalin persahabatan dengannya. Di Regensburg, ia tidak puas dengan formulir-formulir “perdamaian” (antara Gereja Katolik Roma dan gereja-gereja Protestan) yang dirumuskan oleh Melanchton dan Bucer tentang ajaran Gereja Katolik Roma mengenai transsubstansiasi. Menurut Calvin, formulir-formulir itu agak jauh menyimpang dari ajaran reformasi.

IV

Sementara itu, pelayanan dalam jemaat di Jenewa tidak berjalan lancar. Pelayanan itu menemui banyak kesulitan. Pendeta-pendeta baru yang menggantikan Calvin dan Farel tidak memenuhi harapan Dewan Kota. Mereka juga tidak sepandai Calvin dan Farel. Hal itu antara lain terbukti dari surat Sadoletus, Uskup Carpentras. Ia menulis surat kepada jemaat di Jenewa dengan isi yang menarik. Ia mengatakan bahwa ia menolak perpecahan gereja — maksudnya antara Gereja Katolik Roma dan gereja-gereja Protestan — dan menyetujui, malahan memuji, firman Allah dan ajaran tentang pembenaran oleh iman. Karena itu, ia membujuk jemaat di Jenewa untuk kembali ke Gereja Katolik Roma. Dewan Kota berusaha untuk memeroleh bantuan dari berbagai pihak. Namun, usaha itu tidak berhasil. Tidak ada orang yang dapat membantu. Karena itu, sebagai usaha yang terakhir, Dewan Kota menulis surat kepada Calvin untuk meminta bantuannya. Calvin setuju. Dalam waktu enam hari, ia mengirim “jawaban” yang diminta oleh Dewan Kota di Jenewa (1539). Jawaban itu begitu baik, sehingga Uskup Sadoletus menghentikan bujukannya kepada jemaat di Jenewa.

Dewan Kota sangat berterima kasih atas surat itu. Karena itu, dalam suatu rapat, mereka mengambil keputusan untuk meminta Calvin kembali ke Jenewa, terutama karena timbulnya ketegangan-ketegangan politik di kota itu. Ketegangan-ketegangan politik itu makin lama makin bertambah besar. Mula-mula, permintaan Dewan Kota itu ditolak Calvin. Ia tidak mau melibatkan dirinya dalam kekacauan politik di Jenewa. Tetapi, pada tahun 1541, Farel menulis surat kepadanya dan meminta dengan sangat supaya permintaan Dewan Kota Jenewa itu diterima. Menurut Farel, Calvin harus melihat permintaan itu sebagai suatu panggilan Allah. Surat Farel itu dapat melunakkan hati Calvin. Ia menulis surat kepada Farel antara lain dengan kata-kata berikut: “Aku memersembahkan hatiku kepada Allah sebagai kurban.” Kata-kata ini kemudian ia gunakan sebagai “semboyan” hidupnya.

V

Calvin kembali lagi ke Jenewa pada bulan September 1541 setelah hampir 3,5 tahun lamanya ia meninggalkan kota itu. Masa pelayanan Calvin yang kedua kali di Jenewa ini lamanya 23 tahun. Masa 14 tahun yang pertama (1541 — 1555) penuh dengan perjuangan. Ia segera mulai dengan “peratuan-peraturan gerejanya”. Di situ — seperti yang telah kita dengar — tercipta empat macam jabatan: pendeta (untuk pemberitaan firman), pengajar (untuk katekisasi dan pengajaran teologis), penatua (untuk penggembalaan dan disiplin), dan diaken (untuk pelayanan orang miskin dan orang sakit).

Pendeta-pendeta dan penatua-penatua merupakan “konsistori” yang memimpin jemaat dan melayani penggembalaan dan menyelenggarakan disiplin. Untuk pertama kalinya, gereja di Jenewa menjalankan pimpinannya sendiri. Maksud Calvin lebih jauh daripada itu. Ia mau supaya Kristus saja yang memunyai kuasa mutlak di dalam gereja. Dengan kata lain, “kristokrasi” ia jalankan dengan perantaraan pejabat-pejabat-Nya yang tunduk kepada firman-Nya. Dengan jalan itu, terhindarlah setiap campur tangan dari luar. Disiplin diselenggarakan dengan hukuman. Tiap-tiap penatua memunyai wilayahnya sendiri dan berhak mengunjungi tiap-tiap rumah tangga. Ia menciptakan berbagai alat disiplin: nasihat, pengakuan dosa, larangan untuk menghadiri perayaan Perjamuan, dan ekskomunikasi. Kalau semuanya ini tidak membantu, orang-orang yang bersangkutan diserahkan kepada pemerintah.

Pemerintah menghendaki perayaan Perjamuan Malam hanya dilayani empat kali setahun, juga bahwa dalam beberapa hal pemerintah lebih banyak memunyai hak daripada yang dikehendaki Calvin. Tetapi Calvin tidak setuju, juga waktu pemerintah berusaha untuk menguasai dan menyelenggarakan disiplin.

Calvin tidak berkata-kata lagi tentang keharusan untuk menandatangani pengakuan iman. Sebagai gantinya, ia meletakkan dasar yang kuat untuk pengajaran katekisasi dengan jalan menulis sendiri Katekismus Jenewa. Di situ dibahas tentang iman, perintah, doa, dan sakramen. Buku ini kemudian ditiru oleh gereja-gereja lain dan besar sekali pengaruhnya atas Katekismus Heidelberg. Bukan saja pengajaran katekisasi, ia juga menyusun liturgi-liturgi untuk ibadah jemaat. Dalam pekerjaan penyusunannya, ia menggunakan liturgi-liturgi yang ada pada waktu itu sebagai bahan. Namun, ia mengubahnya sesuai dengan liturgi yang digunakan di Strasburg. Dapat kita katakan bahwa Strasburg adalah tempat lahirnya bentuk “liturgi Reformed”. Tetapi bentuk itu mula-mula jauh lebih kaya daripada bentuk yang digunakan pada saat ini.

Tadi kita telah mendengar tentang nyanyian jemaat (mazmur-mazmur) yang diusahakan oleh Calvin dan kawan-kawannya, yakni penyair mazmur Perancis, Clement Marot, dan Theodorus Beza (yang melanjutkan pekerjaan Marot). Melodi-melodi untuk nyanyian jemaat itu mula-mula diambil alih Calvin dari melodi-melodi yang digubah oleh Matthias Greiter dari Strasburg. Salah satu di antaranya ialah Mazmur 68 yang kita miliki sampai sekarang. Kemudian, di Jenewa, Calvin menugaskan Louis Bourgeois untuk melengkapi melodi-melodi yang telah ada. Ada 104 melodi yang berasal darinya. Kadang-kadang, ia mengubah lagu rakyat menjadi melodi gerejawi. Ketika Louis Bourgeois berselisih dengan Calvin dan meninggalkan Jenewa, tugasnya diambil alih oleh Maistre Pierre. Strasburg bukan saja tempat lahirnya bentuk “liturgi Reformed”, melainkan juga tempat lahirnya “nyanyian Reformed”. Nyanyian-nyanyian yang mereka susun memunyai nilai yang sangat besar bagi jemaat, bahkan hingga saat ini. Calvin juga menyuruh agar segala sesuatu yang dapat mengingatkan jemaat kepada gereja Katolik Roma — seperti mazbah-mazbah, patung-patung, salib-salib, dan organ — dikeluarkan dari gedung gereja.

Setelah waktu-waktu perjuangan, kini tibalah saatnya Calvin dapat bekerja dengan tenang (1555 — 1564). Pengaruhnya saat itu makin bertambah besar, juga di bidang politik. Terhadap Bern dan lawan-lawannya, Calvin mengambil sikap bijaksana dan penuh perdamaian.

Sebagian besar pengaruh Calvin diperoleh dari karya-karyanya, terutama dari bukunya, Institutio, juga dari tafsiran-tafsirannya yang mencakup hampir seluruh Kitab Suci, dan kuliah-kuliahnya. Di samping itu, kita juga harus menyebut korespondensinya dengan pemimpin-pemimpin reformasi di hampir seluruh Eropa, terutama dengan orang-orang Perancis yang seiman dengannya. Buku-bukunya ia persembahkan kepada raja-raja dan orang-orang yang ternama di Inggris, Polandia, Swedia, Denmark, dan di tempat-tempat lain. Dengan jalan itu, ia sering menjalin hubungan baik dengan mereka.

Satu hal lagi yang menyebarkan pengaruh Calvin ke mana-mana, yakni Akademi Teologi yang ia dirikan di Jenewa. Mula-mula, akademi itu dipimpin oleh Castellio. Ia tidak bisa diangkat menjadi pendeta karena tidak mengakui Kidung Agung sebagai bagian dari Kitab Suci dan tidak mau menerima pengakuan mengenai “turunnya Yesus ke dalam kerajaan maut”. Ketika ia ditegur oleh Dewan Kota, ia tidak terima. Ia lalu meninggalkan Jenewa. Hal itu menyebabkan mutu pendidikan di akademi itu makin lama makin merosot.

Pada tahun 1559, Dewan Kota di Bern mengusir pengajar-pengajar calvinis yang bertugas di Akademi Lausanne. Mereka pergi ke Jenewa, tempat akademi teologi baru dibuka. Yang menjabat sebagai rektor dari akademi itu ialah Theodorus Beza, teman Calvin, yang juga datang dari Lausanne. Akademi itu — menurut rencana Calvin — berfungsi sebagai alat untuk mendidik suatu generasi yang baru, yang saleh, dan yang berani berjuang. Bentuk humanitas di sini diisi dengan suatu esensi teokratis yang ketat. Akademi ini merupakan suatu pusat internasional. Banyak tokoh reformasi terkenal pernah belajar di akademi ini, antara lain John Knox (dari Skotlandia), Marnix St. Aldegonde (dari Belanda), dan Caspar Olevianus (salah satu dari penyusun Katekismus Heidelberg yang terkenal juga di Indonesia). Murid-murid ini kemudian menyebarkan reformasi — sesuai dengan ajaran Calvin — ke seluruh Eropa.

Calvin menghendaki agar seluruh rakyat di Jenewa ditempatkan di bawah hukum Allah. Untuk itu, bagi tiap-tiap golongan ditetapkan “kemewahannya”. Bahkan, orang tidak bebas dalam pemilihan makanan dan pakaian. Maksud Calvin ialah untuk mendidik rakyat agar hidup hemat dan rajin bekerja. Untuk mencapai hal itu, pengaturan disiplin diterapkan secara ketat. Juga perselisihan dalam keluarga, kekerasan dalam pendidikan anak-anak, penipuan dalam perdagangan, dan sebagainya, dikenakan disiplin gerejawi. Dalam hal ini, tidak ada orang yang dikecualikan, juga keluarga Calvin sendiri. Demikianlah gaya hidup yang diciptakan Calvin di Jenewa. Melalui gaya hidup ini, lahirlah suatu generasi baru yang rajin bekerja. Hal itu menambah kesejahteraan hidup di Jenewa. Di mana-mana di Eropa, orang berusaha untuk mengikuti gaya hidup ini.

Dalam hidup dan pekerjaannya, Calvin — di sana-sini — dipengaruhi oleh reformator-reformator yang lain, juga oleh Bucer, terutama saat mereka bekerja sama di Strasburg. Ia menghargai Bucer. Bucer juga menghargainya. Bukan hanya Bucer, juga pendeta-pendeta di Strasburg. Hal itu mereka ungkapkan dalam “surat kesaksian” yang mereka berikan kepadanya ketika ia berpisah dengan mereka dan akan kembali ke Jenewa. Dalam “surat kesaksian” itu, mereka antara lain mengatakan bahwa Calvin adalah “suatu alat yang sangat berharga dari Kristus, suatu alat … yang tidak ada bandingannya, kalau ditinjau dari sudut kerajinannya yang luar biasa untuk membangun jemaat dan dari kemampuannya untuk membela dan menguatkannya melalui tulisan-tulisannya”.

Sumber:

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Bucer & Calvin: Suatu Perbandingan Singkat
Penulis : Dr. J.L.Ch. Abineno
Penerbit : PT BPK Gunung Mulia, Jakarta 2006
Halaman : 1 — 5

ZIARAH SPIRITUAL MARTIN LUTHER

Orang yang berhasil membawa reformasi bagi gereja di mana orang-orang lain telah gagal ini berasal dari latar belakang yang sederhana. Martin Luther dilahirkan pada tahun 1483 dan dibesarkan menjadi seorang Katolik yang taat oleh kedua orang tuanya yang petani itu. Sebagai seorang anak, ia mempelajari kredo-kredo, Doa Bapa Kami, dan Sepuluh Perintah serta menghormati gereja dan para santo/santa. Ia berumur 20 tahun sebelum ia mulai membaca Alkitab, dan ia kemudian melaporkan bahwa ia terkejut menemukan bahwa Alkitab berisi jauh lebih banyak daripada yang diduganya. Luther belajar untuk sebuah karier dalam bidang hukum, tetapi kematian seorang kawan secara mendadak dan lolosnya dia dari sambaran kilat dalam suatu badai guruh memimpin dia untuk masuk biara Augustinian pada tahun 1505. Karena sangat mengkhawatirkan jiwanya, ia menjadi seorang biarawan yang sangat cermat, terkesan berlebihan, dan ia menghukum diri secara berat karena dosa-dosanya. Ia kemudian menyatakan bahwa jika seorang bisa diselamatkan karena kebiarawanannya, maka ia adalah orangnya!

“Saya sendiri adalah seorang biarawan selama 20 tahun dan begitu berjerih lelah dalam doa, puasa, tidak tidur, dan kedinginan sehingga saya hampir mati karena kedinginan …. Apa lagi yang harus saya cari melalui ini kecuali Allah yang melihat bagaimana saya menaati peraturan-peraturan dan menjalani suatu kehidupan yang begitu kaku?” (Werke 49, 27).

Pada tahun 1507, ia ditahbiskan menjadi imam, tetapi ia melanjutkan kehidupan studinya dan menjadi seorang guru besar bidang teologi di Universitas Wittenberg di Jerman. Tugas-tugasnya termasuk mengajar berbagai bagian Alkitab.

Luther menyelesaikan gelar doktornya pada tahun 1512 dan memperoleh penghargaan karena kemampuan-kemampuan praktisnya dan kecemerlangannya sebagai seorang cendekiawan dan teolog dengan memimpin sebelas biara. Ia juga berkembang menjadi seorang pengkhotbah yang penuh kuasa dan memakai talentanya untuk mengomunikasikan dengan efektif pesan sederhana Alkitab yang diperolehnya dari hasil penelitiannya. Studinya tentang Augustinus membuatnya menjadi seorang Augustinian yang lebih dari sekadar nama, dan menolak Aristoteles dan tradisi teologi Kristen yang bertumpu pada fondasi-fondasi Aristotelian. Pada tahun 1516, sementara mengajar Surat Roma, ia memahami untuk pertama kalinya pengajaran Paulus tentang pembenaran oleh iman dengan cara yang sangat pribadi. Sebelumnya, rasa bersalah dan berdosa telah membuat dia takut pada keadilan Allah. Tentang hal ini ia berkata:

“Siang dan malam saya merenungkan sampai saya dapat melihat hubungan antara keadilan Allah dan pernyataan bahwa ‘orang benar akan hidup oleh iman’. Kemudian saya menangkap bahwa keadilan Allah adalah kebenaran, yang dengannya, melalui anugerah dan rahmat, Allah membenarkan kita melalui iman. Di sana saya merasa diri saya dilahirkan kembali dan mengalami pintu firdaus terbuka. Keseluruhan Alkitab diberikan dalam kasih yang lebih besar. Nas Paulus ini bagi saya menjadi satu pintu gerbang ke surga ….” (Lectures on Romans).

Suatu hubungan iman pribadi dengan Allah melalui Yesus Kristus mengubah hidupnya dan perspektifnya. Pada tahun 1517, pandangannya bahwa keselamatan yang dihasilkan oleh iman kepada Kristus menyebabkan dia menantang klaim Gereja Katolik Roma yang mengeluarkan surat indulgensi sebagai pengampunan dosa. Indulgensi ini, surat yang dibeli dengan sejumlah uang, membebaskan seseorang dari kewajiban melakukan suatu perbuatan melalui sakramen pertobatan. Praktik ini bermula pada waktu perang salib, ketika orang-orang kaya membeli indulgensi daripada ikut berperang dalam perang salib. Setiap orang yang berpartisipasi, baik dengan ikut berperang ke Tanah Suci atau ikut menyokong dana, secara otomatis menerima janji bahwa ia tidak akan dihukum atas dosa-dosanya dalam api penyucian (purgatori).

Pada masa Luther, uang yang didapat dari penjualan indulgensi itu biasanya digunakan untuk membangun katedral Santo Petrus di Roma. Lutther sadar bahwa praktik-praktik seperti itu bertentangan dengan pengajaran Alkitab. Hanya hubungan yang benar dengan Allah melalui iman yang dapat membawa pengampunan dosa dan keselamatan. Sebab itu, ia menantang apa yang dianggapnya memperdagangkan anugerah Allah.

Pada 31 Oktober 1517, Luther memakukan 95 tesisnya pada pintu gereja di Wittenberg. Menempel pengumuman-pengumuman seperti itu, yang sebenarnya hanya untuk mengundang perdebatan dan diskusi tentang hal-hal yang tercantum di dalamnya, merupakan hal yang biasa dilakukan pada masa Abad Pertengahan. Namun, tanggapan positif terhadap tesis-tesis Luther membawa perubahan yang revolusioner pada gereja. Tesis kuncinya adalah nomor 62, yang menyatakan, “Perbendaharaan (harta karun) yang sejati dari gereja adalah Injil suci kemuliaan dan anugerah Allah.” Dengan kata-kata ini, Luther dengan berani menolak gagasan Abad Pertengahan tentang perbendaharaan jasa-jasa yang diatur melalui hierarki gereja. Tesis-tesis lain menegaskan kerusakan manusia, perlunya pertobatan seumur hidup (bertentangan dengan remisi instan dari melalui pembayaran uang), dan anugerah Allah yang sepenuhnya dan cuma-cuma dalam Kristus. Tesis-tesis Luther menantang beberapa dogma dan praktik Katolisisme Abad Pertengahan. Karena tesis-tesis itu, ia diekskomunikasikan oleh Paus dan dicap sebagai pelanggar hukum oleh keputusan kaisar setelah suatu pertemuan yang dramatis di hadapan Kaisar Charles V di Diet of Worms.

Ide-ide Luther mulai mendapat bentuknya yang pasti pada tahun 1520. Tiga prinsipnya menjadi semboyan teologi Reformasi.

  1. Sola Scriptura: Sebagai firman Allah yang diilhamkan, Alkitab adalah satu-satunya dasar otoritatif bagi semua doktrin Kristen. Tradisi — pengajaran lisan dan tertulis dari para bapa gereja mula-mula dan para teolog Abad Pertengahan — yang dipakai untuk mengesahkan penjualan indulgensi dan praktik-praktik gereja lainnya, termasuk penambahan beberapa sakramen, tidak boleh dipakai sebagai suatu otoritas yang setara dengan Alkitab.
  2. Sola Gratia: “Hanya Anugerah” — digabung dengan Sola Fide, “Hanya Iman” — menjelaskan pandangan alkitabiah tentang penebusan. Keselamatan hanya dihasilkan oleh anugerah Allah yang berdaulat dalam mengutus Kristus. Kematian-Nya di atas salib dan kebangkitan-Nya dari kematian adalah satu-satunya penyembuh bagi dosa manusia. Kebenaran diimputasikan kepada manusia atas dasar karya penebusan Kristus di atas salib. Tanggapan manusia kepada anugerah Allah adalah iman kepada janji-janji Allah, secara spesifik adalah bahwa Allah akan menyelamatkan semua orang yang percaya bahwa kematian dan kebangkitan Kristus telah dilaksanakan bagi mereka. Keselamatan seluruhnya adalah hasil anugerah Allah, dan kita memperoleh keselamatan bukan oleh usaha atau perbuatan kita, tetapi hanya atas dasar iman kepada provisi Allah. Mengikuti Rasul Paulus dalam Surat Roma, Luther mengajarkan bahwa orang-orang percaya dibenarkan dalam pandangan Allah bukan melalui usaha manusia, tetapi melalui iman sederhana kepada janji-janji Allah yang dinyatakan dalam Kristus. Betapa jauhnya perjalanan yang telah dilakukan Martin Luther sejak hari-harinya dalam biara ketika ia percaya bahwa ia harus membuat dirinya layak bagi anugerah Allah!
  3. Keimaman bagi semua orang percaya. Gereja tidak memerlukan satu kelas imam untuk menjadi pengantara antara orang percaya dan Allah. Sebaliknya, setiap orang menjadi imam bagi dirinya sendiri dan memunyai akses langsung kepada Allah melalui Kristus. Kristus adalah Imam Besar Agung kita yang menggantikan semua imam manusia. Melalui iman kita kepada Kristus, kita berdiri di hadapan Allah sebagai imam dan tidak memerlukan lembaga manusia mana pun untuk bersyafaat bagi kita.

Tiga ide ini mendasar bagi Reformasi dan menjadi doktrin-doktrin fundamental Protestanisme. Semua perubahan dalam doktrin, spiritualitas, dan organisasi gereja yang menghasilkan terbentuknya berbagai kelompok Protestan adalah didasarkan pada prinsip-prinsip ini.

Bangkitnya Kembali Teologi dan
Antropologi Alkitabiah oleh Luther

Pandangan-pandangan Luther tentang Allah terus berkembang ketika ia memperdalam pengetahuannya tentang Alkitab dan meneliti implikasi-implikasi tiga prinsip utamanya. Selama tahun-tahun awal dalam biara, ia mengalami rasa berdosa dan kecemasan karena ketakutannya pada Allah dan keadilan-Nya. Namun, setelah mengalami anugerah Allah, Luther memahami keadilan Allah dalam terang kasih-Nya. Penolakannya terhadap gagasan apa pun tentang Allah yang berasal dari Alkitab membuatnya secara terbuka menertawakan keberadaan pertamanya Aristoteles. Di samping itu, ia mengkritik Thomas karena mengambil pandangan-pandangannya tentang Allah dari Aristoteles dan bukan dari Alkitab. Keyakinan-keyakinan Augustinian Luther memimpin dia bahkan lebih keras lagi mencela pengaruh Aristoteles pada interpretasi Abad Pertengahan tentang manusia. Menolak pernyataan Aristoteles dari “On the Saul” bahwa “jiwa mati bersama dengan tubuh”, Luther berkata:

“Seolah-olah kita tidak memunyai Alkitab di mana kita menemukan pengajaran yang luar biasa melimpahnya tentang seluruh pokok itu, yang justru tak pernah terpikirkan oleh Aristoteles. Tetapi orang kafir yang sudah binasa ini justru telah memeroleh supremasi, menghambat, dan hampir menindas Kitab Suci dari Allah yang hidup.” (An Appeal to the Ruling Class).

Berdasar pada Alkitab, khususnya Kitab Kejadian dan tulisan-tulisan Paulus, Luther menyimpulkan seperti Augustinus bahwa masalah dosa berakar pada ketidakpercayaan Adam. Gambar Allah setelah kejatuhan “begitu ternoda dan dikaburkan oleh dosa” dan “begitu berkusta dan najis” sehingga kita hampir tidak dapat memahaminya. Gambar Allah “hampir seluruhnya hilang” (Commentary on Genesis). Berbagai pandangan antropologi-antropologi Abad Pertengahan memperlihatkan bahaya dari membentuk pandangan-pandangan Kristen di bawah pengaruh pemikiran sintesis. Bagi Luther, dosa yang terbesar adalah kesombongan, ketidaksediaan kita untuk mengakui kondisi kita yang telah jatuh dan berdosa. Dosa kini menjalankan kekuasaan sedemikian rupa sehingga kehendak manusia jatuh tertelungkup dan tak berdaya sampai anugerah Allah membebaskannya.

Ide tentang manusia yang tidak memunyai kebebasan moral begitu sentral bagi seluruh antropologi Luther sehingga ia menulis “The Bondage of the Will”, suatu jawaban yang keras terhadap Erasmus, pakar humanis terbesar yang mempertahankan kehendak bebas manusia. Di dalamnya, Luther menulis:

“Ketika manusia tanpa Roh Allah, perbuatan jahatnya bukan bertentangan dengan kehendaknya, tetapi perbuatan itu sesuai dengan kehendaknya sendiri …. Dan kesediaan ini … tak dapat ia tiadakan, dilawan, atau diubah dengan kekuatannya sendiri …. Artinya adalah bahwa kehendak itu tidak dapat mengubah dirinya sendiri dan berbelok ke arah yang berlainan …. Pilihan bebas tanpa anugerah Allah sama sekali tidak bebas, tetapi terus menjadi tawanan dan budak kejahatan karena pilihan itu tidak dapat mengubah dirinya sendiri ke arah yang baik.”

Ini adalah suatu ringkasan yang sangat baik dari prinsip “non posse non peccare” Augustinus. Seperti pendahulu teologinya itu, Luther terutama ingin menunjukkan bahwa anugerah Allah secara mutlak esensial bagi keselamatan. Jika manusia mampu memilih kebaikan moral dan spiritual, maka keselamatan akan menjadi suatu usaha kerja sama antara Allah dan manusia. Luther menolak posisi Semi-Pelagian ini karena jika manusia dapat mengawali suatu hubungan dengan Allah, maka anugerah hanya merupakan suatu bantuan bagi usaha manusia dan bukan sebagai keharusan seperti yang dikatakan Alkitab.

Teologi Luther menghidupkan kembali tekanan-tekanan utama Augustinus. Tokoh Reformasi itu mencela pembedaan-pembedaan Aquinas antara anugerah operatif dan kooperatif, dan antara kebajikan natural dan supernatural. Sampai anugerah Allah membebaskan manusia dari belenggu dosa dan kejahatannya, manusia tidak memunyai kehendak “bebas”. Satu-satunya kehendak “bebas” yang sesungguhnya adalah bebas melakukan apa yang baik. Karena dosa melumpuhkan kehendak manusia, kehendak kita tidak memiliki kuasa seperti itu. Dosa sangat merusak kapasitas manusia untuk melakukan apa yang baik secara moral. Hanya oleh anugerah Allah kita mampu melakukan kebaikan moral.

Tiga Tulisan Luther

Perpecahan awal Luther dengan Roma menjadi tak dapat diperbaiki ketika ia menerbitkan tiga tulisan utama pada tahun 1520. Tulisan-tulisan ini meringkaskan pemikirannya. Traktatnya yang pertama, “An Appeal to the Ruling Class”, adalah suatu seruan lantang kepada para petinggi Jerman untuk mereformasi gereja. Di dalamnya, ia berusaha meruntuhkan apa yang disebutnya “tiga tembok” yang telah didirikan oleh kaum “Romanis” untuk memperkuat kendali para rohaniwan terhadap gereja. Luther dengan kuat menyangkal bahwa Alkitab membedakan antara orang-orang Kristen awam dan para rohaniwan. Pernyataan Petrus tentang “imamat yang rajani” (1 Ptr. 2:9) berarti bahwa semua orang Kristen, bukan hanya sebagian tertentu, adalah imam. Para teolog Abad Pertengahan secara tak layak telah meninggikan kelas imam, kaum rohaniwan, di atas orang-orang percaya biasa, dan menyebut mereka “religius” dalam pengertian jabatan mereka yang tinggi. Tetapi Luther menunjukkan bahwa pengajaran Petrus tentang keimaman semua orang percaya berarti bahwa karena anugerah Allah, setiap orang Kristen berdiri dalam Yesus Kristus di hadapan Allah dan tidak memerlukan seorang pun dari kelas istimewa untuk menjadi perantara antara Allah dan dia sendiri.

“Tembok” kedua yang hendak diruntuhkan Luther adalah keutamaan Paus sebagai penafsir Alkitab. Setiap orang percaya wajib membaca Alkitab bagi dirinya sendiri dan tidak bergantung pada Paus atau gereja untuk menafsirkan Alkitab bagi dia. Bagaimanapun, para Paus telah berbuat salah di masa lampau, dan otoritas spiritual diberikan kepada semua rasul dalam Perjanjian Baru, bukan hanya kepada salah satu di antara mereka. Setiap orang Kristen wajib memajukan iman mereka, memahaminya, dan membelanya.

“Tembok” ketiga yang dibangun oleh para teolog Abad Pertengahan untuk mempertahankan gereja agar berada di bawah kendali kaum rohaniwan adalah ide bahwa hanya Paus yang dapat mengadakan konsili untuk mereformasi gereja. Luther percaya bahwa gereja sangat membutuhkan reformasi, dan karena kaum rohaniwan tidak bersedia untuk melaksanakan tanggung jawab ini, maka ia mendesak para penguasa sekuler, kaum ningrat Jerman, untuk meruntuhkan “tembok” ketiga dengan mengadakan konsili umum untuk mengawali reformasi. Inilah sebabnya mengapa tulisan itu ditujukan kepada kelas penguasa di Jerman. Karena dua “tembok” pertama secara tak layak memberi kuasa kepada Paus dan para imam, orang-orang Kristen tidak perlu menunggu mereka untuk mendesak dilakukannya reformasi yang sangat dibutuhkan. Penginterpretasian ulang tentang peran orang-orang percaya Kristen dan posisi mereka dalam gereja ini memberi kesaksian tentang sifat radikal dari bentrokan Luther dengan Roma.

Dalam tulisannya yang kedua, “The Babylonian Captivity of the Church”, Luther memfokuskan perhatiannya pada masalah-masalah lain dengan kekristenan Abad Pertengahan. Jika tulisan pertamanya menyerang struktur hierarki gereja, maka yang kedua adalah untuk menentang penempatan sakramen gereja di bawah kendali total para rohaniwan. Dengan melakukan hal ini, gereja berada di bawah tawanan hierarki tersebut, sama seperti orang-orang Babel menawan orang-orang Yahudi pada abad keenam SM. Luther berpendapat bahwa Kristus hanya melembagakan dua sakramen selama pelayanannya di bumi, yaitu Baptisan dan Perjamuan Kudus. Namun, para pemimpin gereja pada Abad Pertengahan, tanpa dukungan alkitabiah, telah menambahkannya sampai tujuh. Di samping itu, para teolog Abad Pertengahan menempatkan hierarki pejabat gereja untuk memegang kendali atas sakramen-sakramen. Lagipula, para rohaniwan telah menyalahgunakan otoritas ini dengan menegaskan bahwa jasa yang menyelamatkan orang-orarg dari dosa-dosa mereka diberikan hanya melalui sakramen-sakramen tersebut.

Luther juga menolak posisi Abad Pertengahan bahwa nilai satu-satunya dari suatu sakramen terletak dalam hubungannya dengan jasa-jasa yang terkumpul yang disalurkan melalui para rohaniwan yang melakukan sakramen. Sebaliknya, Luther menegaskan, nilai dari sakramen-sakramen terletak pada janji Allah. Dengan demikian, Allah sendiri, bukan kaum rohaniwan, yang memberikan anugerah-Nya, bukan menurut perbuatan yang berjasa, tetapi menurut iman orang percaya tersebut kepada janji firman Allah. Karena itu, Luther setuju bahwa sakramen penting karena mengomunikasikan anugerah Allah kepada orang-orang yang ambil bagian dalam sakramen. Tetapi pengakuan dosa dan hidup saleh lebih penting dari partisipasi ritualistis dalam sakramen-sakramen. Jadi, Luther secara tajam menyingkirkan pandangan Abad Pertengahan tentang kehidupan Kristen yang bertumpu terutama pada partisipasi dalam kehidupan sakramen gereja institusional. Allah menetapkan sarana-sarana anugerah yang lain di samping sakramen-sakramen yang harus dipelihara oleh semua orang percaya dalam hubungan dengan Allah, seperti doa dan pembacaan Alkitab.

Tulisan Luther yang ketiga, “Freedom of the Christian Man”, barangkali adalah yang terbaik dalam meringkaskan teologinya. Tulisan ini adalah suatu pernyataan klasik Reformasi tentang natur kehidupan Kristen, khususnya tentang hubungan antara hukum dan iman dalam pengalaman Kristen. Orang-orang Kristen bebas dalam pengertian bahwa mereka tidak lagi terikat untuk menaati Perjanjian Lama untuk menegakkan suatu hubungan yang benar dengan Allah. Sebaliknya, orang-orang Kristen dibenarkan melalui iman kepada Kristus, yang diberi oleh Allah sebagai suatu karunia yang cuma-cuma. Perbuatan seseorang sama sekali tidak ada nilainya untuk memperoleh keselamatan. Manusia ditebus bukan karena perbuatan baik mereka sendiri, tetapi karena kematian Kristus bagi mereka di atas salib. Orang-orang yang mengakui bahwa Kristus menanggung dosa mereka dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka memunyai kebenaran Kristus yang diimputasikan kepada mereka. Pada saat yang sama, setiap orang Kristen terikat pada sesamanya oleh hukum kasih. Perbuatan baik tidak membenarkan seseorang dalam pemandangan Allah. Namun, perbuatan baik adalah hasil dari pembenaran, yang dilakukan orang-orang Kristen dari keinginan spontan untuk menaati kehendak Allah. Jadi, Luther menyajikan suatu pandangan Reformed tentang hubungan antara Taurat dan Injil, yang secara tajam berbeda dengan pandangan dominan yang diekspresikan dalam penjualan surat indulgensi dan iman kepada perbendaharaan jasa.

Kontribusi besar Luther bagi Reformasi adalah usahanya menghidupkan kembali interpretasi Augustinus tentang kekristenan yang alkitabiah. Luther menegaskan jurang pemisah antara Allah dan manusia berdosa dan menekankan pada keniscayaan anugerah dan rahmat Allah bagi keselamatan manusia. Dengan melakukan hal ini, ia menolak Semi-Pelagianisme dan Aristotelianisme dari para pendahulunya. Dengan menyuarakan kembali ajaran Paulus, dengan menyatakan bahwa tanpa Allah manusia tersesat, dan penalaran serta pengetahuan sedikit gunanya kecuali mereka didasarkan pada Alkitab. Orang-orang Katolik menyatakan bahwa Luther terlalu berlebihan dalam menekankan kerusakan manusia dalam reaksinya terhadap optimisme kaum Thomis dan Renaisans tentang manusia natural dan kemampuannya. Para pengikut Luther menjawab bahwa dalam hal menjadi tawanan firman Allah, Luther, seperti Augustinus sebelum dia, hanya menyatakan kembali dan menerangkan pengajaran alkitabiah tentang Allah dan manusia.

 

Untuk Bacaan Lebih Lanjut

Althaus, P. “The Theology of Martin Luther”. Philadelphia: Fortress, 1966.

Bainton, Roland H. “Here I Stand: A Life of Martin Luther”. New York: Abingdon Cokesbury, 1950.

Bangs, C. D. Arminius. “A Study in the Dutch Reformation”. Nashville: Abingdon, 1971.

______. “The Reformation of the Sixteenth Century”. Boston: Beacon, 1952.

Chadwick, Owen. “The Reformation”. Baltimore: Penguin, 1968.

Dickens, A. G. “The Counter Reformation”. New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1963.

Duffield, John, ed. “John Calvin”. Grand Rapids: Eerdmans, 1966.

Leith, John. “An Introduction to the Reformed Tradition”. Atlanta: John Knox Press, 1977.

McNeill, John T. “The History and Character of Calvinism”. New York: Oxford University Press, 1954.

McNeill, John T. dan Ford Lewis Battles, ed. “John Calvin: Institutes of the Christian Religion”. Philadelphia: Westminster Press, 1960.

Niesel, W. “The Theology of Calvin”. London, 1956.

Ozment, Steven. “The Age of Reform: An Intellectual and Religious History of Late Medieval and Reformation Europe”. New Haven: Yale University Press, 1980.

Parker, T. H. L. “John Calvin: A Biography”. Philadelphia: Westminster Press, 1975.

Pelikan, J. dan H. T. Lehmann, ed. Luther’s Works. “55 vol”. St. Louis: Concordia, 1955-76.

Schwiebert, E. G. “Luther and His Times”. St. Louis: Concordia, 1950.

Wendel, Francois. “Calvin: The Origin and Development of His Religious Thought”. New York: Oxford, 1954.

Sumber:

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Membangun Wawasan Dunia Kristen, Volume 1: Allah, Manusia, dan Pengetahuan
Judul buku asli : Building Christian Worldview, Vol. 1: God, Man, and Knowledge
Penulis : W. Andrew Hoffecker
Penerjemah : Peter Suwandi Wong
Penerbit : Momentum, Surabaya 2006
Halaman : 129 — 137