christian

Pembahasan Ajaran Pdt.Lucky Fergian Laoh dari Gereja Tiberias Indonesia tentang “Perjamuan Kudus”

Pdt.Lucky Fergian Laoh :

Sebagai salah seorang Pendeta di Gereja Tiberias, saya ingin membagikan pengajaran tentang Perjamuan Kudus (untuk seterusnya disingkat PK). Karena PK merupakan sesuatu yang hampir selalu dilakukan dalam setiap ibadah di Tiberias. Tidak heran banyak orang yang menganggap bahwa ajaran PK yang dilakukan di Tiberias sesat atau menyimpang.

Banyak faktor orang mengatakan bahwa PK yang dilakukan di Tiberias sesat, seperti contoh: kok PK bisa dibawa pulang, kok PK dilakukan setiap kali ibadah (dengan alasan akan merendahkan kesakralan PK), kok bisa diberikan kepada anak-anak (bahkan bayi). Hal inilah yang dipandang oleh beberapa orang sebagai kesesatan yang dilakukan di Tiberias.

Oleh sebab itu melalui tulisan ini, kerinduan saya, bahwa banyak orang yang memahami dan akhirnya mengamini apa yang dilakukan di Tiberias.

Tanggapan saya :

Penentuan kapan ada perjamuan kudus dan kapan seseorang menerima perjamuan suci memang adalah produk aturan yang dibuat oleh gereja. Seseorang yang belum dibaptis/ Sidi menurut peraturan gereja, dia belum boleh menerima perjamuan suci, peraturan ini didasarkan dari ayat ini:

1 Kor 11:27  Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.

Baptis/ Sidi adalah “tanda” secara resmi bahwa orang tersebut telah mengaku percaya kepada Kristus. Maka “tanda” ini dianggap sebagai legitimasi seseorang diperbolehkan mengikuti Perjamuan Kudus.Peraturan ini baik-baik saja, supaya tidak sembarang orang ikut Perjamuan Kudus. Dan untuk menghindarkan seseorang menjadi berdosa karena orang tersebut belum percaya dan belum mengerti esensi Perjamuan Kudus.

Tetapi bagaimanapun ada hal dan situasi tertentu yang dapat menabrak suatu peraturan gereja, misalnya dalam situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan seseorang untuk proses baptis/ sidi namun ia sudah menjadi orang percaya. Dalam hal ini saya setuju orang tersebut walaupun belum mengikuti “upacara” baptisan, namun orang tersebut telah menjadi umat Kristus, dan dia layak mengikuti Perjamuan Kudus.

Mengenai perjamuan yang dibuat anak-anak itu….,  perlu anda camkan : Bahwa perjamuan suci itu dipimpin oleh imam gereja, dan yang menerimanya adalah orang-orang yang (sebaiknya sudah dibaptis).

Pdt.Lucky Fergian Laoh:

I Kor 11:23-30
23 Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti
24 dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”
25 Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”
26 Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.
27 Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.
28 Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.
29 Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya.
30 Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal.

Ayat2 di atas banyak dibacakan oleh gereja-gereja sebelum melakukan PK. Dan dari ayat2 di atas kita dapat menemukan pelajaran penting dari PK, khususnya yang biasa dilakukan di gereja Tiberias.

1. Perjamuan Kudus adalah perintah/ ajaran langsung Tuhan Yesus (ay. 23).
    Surat I Korintus ditulis oleh Paulus, yang bukan dari golongan rasul. Ia penganiaya orang Kristen, bahkan punya ambisi membunuh orang Kristen (Kis. 9:1-2).

Tanggapan saya :

kisah pertobatan Saulus dimuat didalam Kisah Para Rasul 9:1-30 dimana Lukas yang merupakan penulis dari kitab tersebut. Dan sebagai penulis, Lukas yang menjadi saksi (walaupun bukan saksi mata dalam hal ini, bdk. Luk 1:3) peristiwa tersebut dan jemaat mula2 juga menerima KPR (menerima kesaksian Lukas) hingga akhirnya didalam kanonisasi KPR merupakan kitab yang diterima secara resmi oleh konsili.

Selanjutnya, lebih dari 1/2 materi KPR memuat tentang pelayanan Paulus, dan sekalilagi tidak ada keberatan dari jemaat mula2 bahkan dalam sidang di Yerusalem (sidang yang dihadiri para rasul langsung) dihadiri pula oleh Paulus dan merekapun mengutus dia dalam pelayanannya.

Petrus juga mengakui bahwa Paulus memiliki HIKMAT yang dikaruniakan (Tuhan) kepadanya: …, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya.- 2Pe 3:15

kesaksian dari diri Paulus sendiri mengenai kerasulannya:Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.- Rom 1:1

Kita juga menemukan banyak sekali penjelasan2 Paulus yang lain mengenai kerasulannya (lihat Galatia 1:11-2:10), dan (sekali lagi) tidak ada yang keberatan mengenai kerasulan Paulus dari antara rasul2 langsung maupun jemaat2 yang dibuktikan dengan diterimanya surat2 Paulus oleh seluruh jemaat mula2. Sebagai catatan, surat2 Paulus kemungkinan telah ditulis sebelum ke-4 Injil, KPR maupun surat2 rasul yang lain.dengan memahami proses pengesahan kanonisasi Perjanjian Baru yang dilakukan “baru” setelah ke-27 kitab PB beredar dan diterima seluruh jemaat mula2 selama sekitar 400 tahun, maka tidak ada alasan bagi kita yang hidup 2000 tahun kemudian mempertanyakan kembali hal2 yang tidak ditolak oleh saksi2 mata maupun mereka yang hidup dekat dengan peristiwa tersebut.

Pdt.Lucky Fergian Laoh :

Tetapi Tuhan Yesus menjumpainya saat perjalanannya menuju Damsyik (Kis. 9:3-5), dan akhirnya mengalami pertobatan. Kalimat yang menyatakan apa yang telah kuteruskan kepadamu mempunyai arti bahwa Paulus mengajarkan kepada jemaat Korintus ttg PK. Tetapi renungkan baik bahwa Paulus menuliskan selanjutnya, telah aku terima dari Tuhan.

Tanggapan saya :

setelah anda membaca penjelasan mengenai kesaksian apakah Paulus Rasul atau tidak bagaimana Tanggapan anda ?

 Pdt.Lucky Fergian Laoh :

Perlu diperhatikan dengan seksama,  bahwa Paulus tidak kenal Tuhan Yesus, bahkan ia adalah penganiaya jemaat; dia tidak pernah mengikuti Yesus, dia tidak bersama2 Yesus dalam Perjamuan Malam. Bagaimana mungkin ia bisa berkata “telah aku terima dari Tuhan”. Kata aku terima mempunyai arti Paulus tidak menerima dari orang lain, dari rasul lain; tetapi dia menegaskan bahwa ajaran PK dia terima dari Tuhan (langsung tanpa perantara -tambahan penulis). Karena bahasa Yunani yang digunakan dalam ayat itu adalah parelabon (bentuk perintah-imperatif) yang berarti dia terima dari Tuhan seperti Tuhan sedang berbicara di sisinya atau dapat dikatakan bahwa Paulus diajar langsung Tuhan, dijumpai dan diperintahkan untuk meneruskan ajaran tentang PK.

Tanggapan saya :

anda mengatakan bahwa “bahwa Paulus tidak kenal Tuhan Yesus, bahkan ia adalah penganiaya jemaat; dia tidak pernah mengikuti Yesus, dia tidak bersama2 Yesus dalam Perjamuan Malam”

namun kemudian anda mengatakan bahwa ” tetapi dia menegaskan bahwa ajaran PK dia terima dari Tuhan (langsung tanpa perantara -tambahan penulis)”

kalau dia menerima langsung ajaran tersebut dari Tuhan , kenapa anda mengatakan bahwa Paulus bukan bagian dari Para Rasul, sedangkan Rasul yang lain mau mengakuinya sebagai Rasul ?

 Pdt.Lucky Fergian Laoh :

Kalau direnungkan perkatan Pdt. DR. Yesaya Pariadji bahwa Yesus menjumpainya dan mengajarkan tentang PK kepadanya, adalah pengalaman yang sama yang dialami oleh Paulus. Beliau bukanlah termasuk golongan yang mengenal Yesus sebelumnya, tidak ada niatan menjadi seorang Kristen, tetapi Tuhan menjumpainya langsung (seperti menjumpai Paulus) dan mengajarkan (bahkan memerintahkan) ajaran PK untuk diteruskan kepada jemaat2.

Tanggapan saya :

Dalam PL memang ada tiga jabatan penting, yaitu Raja, Imam dan Nabi (yang ketiganya bersatu dalam diri Yesus Kristus). Namun harus kita ketahui tiga jabatan ini telah berhenti.

Jabatan raja berhenti ketika bangsa Yehuda/ Israel berada di dalam masa intertestamental dan dijajah Romawi. Mereka sudah tidak memiliki kerajaan lagi. Jabatan imam berakhir ketika bait Allah diruntuhkan pada tahun 70 AD oleh Romawi dalam peperangan 4 tahun dengan Israel. Sejak itu mereka tidak memiliki lagi imam, yang ada hanya guru (rabbi). Jabatan nabi juga sudah selesai pada saat Allah telah selesai berfirman dan wahyu Allah berhenti.

Masih adakah nabi/ rasul pada jaman ini? Rupanya anda tidak memahami bahwa jabatan nabi/ rasul sudah berhenti dengan selesainya wahyu Allah kepada manusia. Bagaimana dengan Efesus 4:11 yang mengatakan “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar.”? John Calvin dalam bukunya Ecclesiastical Ordinances mengatakan dengan jelas bahwa jabatan rasul dan nabi hanya diberikan sebagai dasar pembentukan gereja, sedangkan gereja pada masa pasca Kristus hanya memiliki 4 jabatan didalamnya:

Fundamental to the Ecclesiastical Ordinances is that Calvin felt that the fourfold office of ministry laid out therein was God-given: “There are four orders of office instituted by our Lord for the government of his Church . . . pastors; then doctors; next elders, and fourth deacons.”(6)

(suatu hal yang mendasar dalam buku Ecclesiastical Ordinances adalah bahwa Calvin merasa hanya ada 4 jabatan yang Allah berikan kepada gereja-Nya :”ada empat jabatan yang didirikan Allah bagi pemerintahan gereja-Nya …pastors (gembala-gembala), kemudian doctors (pengajar-pengajar), kemudian elders (penatua-penatua) dan keempat deacons (diaken-diaken).”

Alkitab menunjukkan bahwa seorang nabi justru beritanya tidak didengar oleh bangsanya. Ia ditolak, dikucilkan bahkan dibenci oleh orang sejamannya. Hal itu terjadi karena ia memberitakan Firman yang tidak disukai oleh orang berdosa. Itulah yang dialami nabi Allah yang sejati, bukan disanjung-sanjung atau diikuti banyak orang. Intinya, tidak ada nabi yang hidupnya enak dan ia adalah orang yang kesepian dalam jamannya.

Lagipula, dalam Alkitab tidak pernah ada nabi khusus yang mengajarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan perkataan Allah sendiri. Para nabi memberitakan semua Firman Allah baik penghukuman, murka Allah, dosa kepada semua orang . Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa seorang nabi dipilih dan dipanggil sendiri oleh Allah. Bahkan seperti nabi Yeremia dan Yohanes Pembaptis dipilih sejak mereka dalam kandungan. Pertanyaannya : kapan Allah memilih memilih Pdt Yesaya PAriadji menjadi seorang nabi? The Bible does not say anything about PAriadji! (Alkitab tidak berkata apa-apa tentang Pdt Yesaya PAriadji). Adalah kesalahan sekaligus penyesatan mengklaim diri sebagai nabi Allah. Selain nabi-nabi yang disebutkan namanya dalam Alkitab, tidak ada nabi lagi pada jaman ini. Saya berani pastikan bahwa Pdt Yesaya PAriadji bukanlah nabi Allah pada jaman ini.

Apakah bahaya dari mengklaim diri sebagai nabi Allah? Sebagai konsekwensi dari klaim bahwa dirinya seorang nabi Allah, Pdt Yesaya PAriadji  otomatis jatuh kepada kesalahan fatal lainnya, yaitu beranggapan bahwa Allah masih berfirman dan memberikan wahyu-Nya melalui dirinya.

 Pdt.Lucky Fergian Laoh :

Sehingga beliau berani berkata “saya menerima ajaran ini dari Tuhan, jika saya dusta, saya siap dilempar ke neraka, setan berhak atas saya.” Banyak orang mengkritik, kalau Tuhan mau menyingkapkan sesuatu hal tentang FirmanNya, kenapa bukan kepada pendeta, tetapi malah kepada orang yang dahulu tidak kenal Tuhan Yesus. Sebenarnya hal itu pulalah yang dialami oleh Paulus. Tuhan punya hak prerogatif untuk memilih siapa saja untuk menjadi alat bagiNya. Yes 65:1 menuliskan, Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata: “Ini Aku, ini Aku!” kepada bangsa yang tidak memanggil nama-Ku. Artinya Tuhan berkenan memberikan rahasiaNya (petunjuk dan ajaran) kepada orang yang tidak dianggap layak oleh manusia.

Jadi pelajaran pertama yang kita dapatkan adalah bahwa PK adalah ajaran/ perintah langsung Yesus untuk diteruskan kepada kita. Pengalaman Paulus sama dengan pengalaman Pak Pariadji dalam menerima ajaran ini.

Tanggapan saya :

memuakkan dari Pdt. Yesaya Pariadji ini adalah bahwa ia sangat sering bersumpah tanpa ada perlunya. Tidak pernahkah ia membaca kata-kata Yesus dalam Mat 5:33-37 – “Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Sekalipun saya memang tidak beranggapan bahwa sumpah dilarang secara mutlak, tetapi jelas bahwa kata-kata di atas ini melarang kita untuk bersumpah secara sembarangan / tanpa ada perlunya!

Beberapa komentar tentang orang yang gampang untuk bersumpah:

  • William Hendriksen: “It is characteristic of certain individuals who are aware that their reputation for veracity is not exactly outstanding that the more they lie the more they will also assert that what they are saying is ‘gospel truth.’ They are in the habit of interlacing their conversations with oaths”(Merupakan ciri dari individu-individu tertentu yang sadar bahwa reputasi mereka untuk kejujuran tidak terlalu menonjol, dimana makin mereka berdusta makin mereka menegaskan bahwa apa yang mereka katakan adalah ‘kebenaran injil’. Mereka terbiasa untuk menjalin percakapan mereka dengan sumpah)
  • Adam Clarke: “A common swearer is constantly perjuring himself: such a person should never be trusted”( Seseorang yang biasa bersumpah secara terus menerus bersumpah palsu: orang seperti itu tidak pernah boleh dipercaya)

Karena itu makin sering seseorang bersumpah, makin saya tidak percaya !
kesimpulannya :
pelajaran anda yang pertama itu jelas mengada ada , kenapa ?  karena Paulus tidak pernah mengajar bahwa Perjamuan kudus bisa menyembuhkan sakit penyakit !!

 Pdt.Lucky Fergian Laoh :

2. Melalui PK – tubuh Kristus – kita menerima kesembuhan (ay. 24)

Paulus mengutip kata-kata Tuhan Yesus “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”. Dalam kalimat itu Yesus ingin menyampaikan bahwa tubuh Yesus diberikan kepada kita. Jika kita mau merenungkan, Yesus tercambuk, di mahkotai duri, di siksa, dipaku bahwa ditikam karena kita. Seharusnya kita yang harus ada dalam posisi Yesus, karena memang kita layak dihukum. Tetapi Yesus menggantikan tubuh kita (yang seharusnya tersiksa) dengan tubuhNya, supaya tergenapi janji Tuhan “dengan bilur-bilurNya kamu disembuhkan”. Karena sesungguhnya, Yesus sudah menanggung segala derita kita. Sehingga seharusnya manusia tidak terikat sakit lagi. Karena bilurNya sudah diberikan untuk kita supaya kita sembuh. Yang perlu dilakukan saat ini adalah dengan iman percaya sungguh, bahwa Yesus menyembuhkan karena tubuhNya sudah diberikan untuk kita. Perwujudan tubuh Kristus, kita terima di dalam PK, karena dalam PK kita mengakui roti sebagai tubuh Kristus. Oleh sebab itu dari iman kita kepada korban tubuh Kristus dan diwujudkan pada roti yang adalah tubuh Kristus, maka kita sembuh.
Jadi pelajaran kedua adalah melalui korban tubuh Yesus, tubuh kita yang sakit, Tuhan sembuhkan.

Tanggapan saya :

* Markus 14:22-25 Penetapan Perjamuan Malam
14:22 Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Ambillah, inilah tubuh-Ku.”
14:23 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu.
14:24 Dan Ia berkata kepada mereka: “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang.
14:25 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah.”

Tulisan dalam Markus ini bisa kita paralelkan dengan tulisan Rasul Paulus pada tahun 55 Masehi dalam :

* 1 Korintus 11:23-25
11:23 Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti
11:24 dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”
11:25 Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”

Paulus mengingatkan para petobat yang digem balakannya di Korintus bahwa ia pernah menyampaikan apa yang ditulisnya ini secara lisan (mungkin pada saat ia datang ke kota itu untuk mengabarkan Injil pada tahun 50 Masehi). Ia berkata bahwa ia sendiri ‘menerima’ kata-kata itu ‘dari Tuhan’ (kira-kira tidak lama setelah pertobatannya). Dan ia memperoleh kuasanya dari Tuhan. Ada perbedaan dalam pengalimatan antara tulisan Paulus dan Markus. Mungkin ini mencerminkan variasi (bukan kontradiksi) dalam penggunaanya di gereja-gereja orang Kristen generasi pertama. Tetapi kita disini tidak membicarakan perbedaan-perbedaan yang ada. Lebih penting memperhatikan apa arti yang terkandung dalam persamaan-persamaan yang ada.

Perjamuan Malam Terakhir adalah perjamuan Paskah yang diselenggarakan oleh Tuhan Yesus menjelang masa sengsaraNya. Perjamuan Paskah merupakan peringatan keluarnya bangsa Israel dari Mesir berabad-abad yang lalu. Tradisi Yahudi dalam perayaan ini adalah menyajikan roti tidak beragi, anggur merah, juga makanan-makanan lain. Sebelum hidangan-hidangan itu disantap, kepala keluarga dalam keluarga Yahudi menceritakan kisah pelepasan itu. Roti tidak beragi disini disebut ‘roti penderitaan’ yang dimakan para nenek-moyang mereka saat keluar dari Mesir (lihat Ulangan 16:3).

Pada awal perjamuan, kepala keluarga setelah memecah-mecahkan roti, mengucapkan syukur atasnya dengan kalimat penuh hormat : “Diberkatilah Engkau, ya TUHAN Allah kami, Raja semesta alam, yang menumbuhkan roti di bumi”. Tetapi pada Perjamuan Malam Terakhir itu Tuhan Yesus selaku “kepala-keluarga”-Nya, setelah mengucapkan syukur atas roti perjamuan, menambahkan kata-kata yang memberikan makna baru pada roti itu “Ambillah, inilah tubuh-Ku”. Dalam tulisan paulus dilanjutkan dengan kata-kata “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” .

Perjamuan Paskah ialah peringatan akan pelepasan agung pada waktu keluatran; sekarang, sebuah peringatan baru didirikan, mengingat akan pelepasan baru yang lebih agung yang bakal dilaksanakan. bahwa roti yang Ia ambil dari meja adalah tidak mungkin tubuhNya karane Para murid bisa melihat tubuhNya yang hidup didepan mata mereka. Sekali lagi jawaban atas kata-kata ini ialah bahwa, bagi iman orang-orang yang makan Perjamuan Kudus, roti itu adalah lambang dari tubuh Tuhan. Karena iman, dengan memakan roti peringatan itu, mereka mengambil bagian dalam hidup Kristus.

Pada akhir Perjamuan Paskah, ketika ucapan syukur penutup perjamuan telah dinaikkan, sebuah cawan anggur diminum bergantian oleh seluruh keluarga. Cawan ini, yang disebut “cawan berkat”, ialah cawan ketiga dari empat cawan yang diletakkan diatas meja. Ketika Tuhan Yesus mengucapkan berkatNya dan menberikan cawan itu kepada sobat-sobatNya tanpa Ia sendiri minum dari-padaNya, Ia berkata kepada mereka, “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang”. (Versi Paulus mengatakan “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”).

Ketika Musa, di kaki Gunung Sinai, membacakan Hukum Allah kepada Bangsa Israel yang telah keluar dari Mesir dan mereka berketetapan mentaati hukum itu, sebagian dari darah binatang korban dipercikkan pada mezbah (lambang kehadiran Allah) dan sebagian pada bangsa Israel. Tentang darah itu, Musa berkata-kata sebagai “darah perjanjian yang diadakan Tuhan dengan kamu, berdasarkan firman ini” (Keluaran 24:3-8 ).

Bagi murid-murid Tuhan Yesus yang sudah sangat hafal akan kisah-kisah tentang Perjamuan Paskah dan keluarnya bangsa Israel dari Mesir, maka kata-kata Tuhan Yesus mempunyai arti bahwa akan didirikan sebuah Perjanjian Baru sebagai pengganti dari perjanjian yang didirikan untuk nenek moyang mereka pada zaman Musa. Lagipula, Perjanjian Baru itu akan didirikan melalui kematian Tuhan Yesus bagi bangsaNya. Kalau kemudian mereka memakan roti peringatan itu, mereka karena iman mengambil bagian dalam kehidupan Dia yang mati dan bangkit kembali. Demikian juga waktu mereka minum cawan itu mereka menyatakan dan menerima karena iman “kepentingan mereka dalam darah Juru-Selamat”. Dengan berbuat demikian, mereka memahami arti kata-kata Tuhan Yesus dan mereka tahu bahwa melalui Dia mereka termasuk dalam umat perjanjian Allah.

Sekarang kita lihat dalam Matius :

* Matius 26:26-29 Penetapan Perjamuan Malam
26:26 Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.”
26:27 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini.
26:28 Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.
26:29 Akan tetapi Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku.”

Kita lihat penekanan dalam frasa ” untuk pengampunan dosa” setelah frasa “yang ditumpahkan bagi banyak orang”.

* Lukas 22:14-23 Penetapan Perjamuan Malam
22:14 Ketika tiba saatnya, Yesus duduk makan bersama-sama dengan rasul-rasul-Nya.
22:15 Kata-Nya kepada mereka: “Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita.
22:16 Sebab Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan memakannya lagi sampai ia beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Allah.”
22:17 Kemudian Ia mengambil sebuah cawan, mengucap syukur, lalu berkata: “Ambillah ini dan bagikanlah di antara kamu.
22:18 Sebab Aku berkata kepada kamu: mulai dari sekarang ini Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang.”
22:19 Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”
22:20 Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.
22:21 Tetapi, lihat, tangan orang yang menyerahkan Aku, ada bersama dengan Aku di meja ini.
22:22 Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!”
22:23 Lalu mulailah mereka mempersoalkan, siapa di antara mereka yang akan berbuat demikian.

Dalam Lukas 22:17-20, kita menemukan versi yang lebih panjang, menyerupai versi Paulus.

* Yohanes 6:53-55
6:53 Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.
6:54 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.
6:55 Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.

Mengenai yang ditulis Yohanes ini, saya jelaskan dibawahnya

Tulisan Lukas, khususnya menjadi penting, karena ia satu-satunya penulis Injil yang melaporkan bahwa Tuhan Yesus berkata “perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Lukas 22:19). Dalam Tulisannya, kata-kata ini ditambahkan setelah Tuhan Yesus berkata-kata tentang roti perjamuan (dalam catatan Paulus kata-kata ini dihubungkan dengan roti dan cawan). Dari catatan Markus (dan Matius), orang tidak bisa menyimpulkan bahwa pertemuan itu sekedar makan dan minum untuk saat itu saja, ataukah harus dilakukan berulang-ulang (untuk peringatan). Lukas membuatnya menjadi jelas, bahwa makan dan minum itu dimaksudkan supaya diulang-ulang.

Menurut ketiga penulis Injil Sinoptis ini, Tuhan Yesus berkata sambil memberikan cawan kepada murid-muridNya, “Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah ” – atau dengan kata-kata lain tapi dengan pengertian yang sama (lihat Markus 14:25), bandingkan dengan Matius 26:29; Lukas 22:18 ). Saat itulah perjamuan Surgawi akan dimulai.

Tetapi sesudah Tuhan Yesus bangkit dari antara orang-orang mati, Ia menyatakan diriNya kepada murid-muridNya ‘waktu ia memecahkan roti’ (Lukas 24:35). Petrus di rumah Kornelius menceritakan bagaimana ia dan rekan-rekannya ‘makan dan minum bersama-sama dengan Dia’ (Kisah 10:41). Ini menunjukkan bahwa Kerajaan Allah sudah datang dalam pengertian tertentu (Kerajaan Allah yang ‘datang dengan kuasa’, begitu tertulis dalam Markus 9:1) : Kerajaan Allah telah diresmikan, meskipun penyempurnaanNya masih di masa yang akan datang. Sampai kepada penyempurnaan itu, maka umatNya akan senantiasa ‘melakukan ini’ – makan roti dan minum anggur – sebagai peringatan akan Dia. Dan dengan berbuat demikian mereka menyadari dengan sesadar-sadarnya kehadiranNya ditengah-tengah mereka.

Yoh 6:53  Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.

Ini adalah suatu perkataan sesuai yang dilaporkan Yohanes :

Yoh 6:60  Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?

“Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?”, maksudnya adalah bahwa mereka tidak hanya sulit memahaminya, tetapi andaikata mereka dapat mengerti sekalipun, mereka akan sulit menerimanya. Silahkan lihat versi terjemahan dibawah ini :

Contemporary English Version (CNV), Many of Jesus’ disciples heard him and said, “This is too hard for anyone to understand.”

CNV mengekspresikannya dengan nuansa yang berbeda, dengan menyajikan kalimat “Ini sama sekali sulit untuk dimengerti oleh setiap orang”. Bisa dimaksudkan bahwa mereka menganggap Yesus bicara “omong-kosong”, dan kalau mendengarkannya berarti membuang waktu; tetapi bukan ini yang sebenarnya dimaksudkan oleh Yohanes.

Memberi makan lima ribu orang adalah salah satu dari beberapa peristiwa dalam pelayanan Yesus yang dicatat oleh keempat penginjil. Narasi dari Markus 6:31-52 (termasuk kelanjutan kisah Yesus berjalan di atas air menghampiri muird-muridNya ke seberang) direproduksi secara nyata dalam Matius 14:13-33 dan tanpa berjalan dalam Lukas 9:10-17. Yohanes mengisahkan peristiwa itu secara terpisah (bersama dengan berjalan di atas air) dalam Yohanes 6:1-21.

Dalam Injil Sinoptis, kita memperoleh gambaran bahwa ada sesuatu yang lebih dari hanya memberi makan lima-ribu orang seperti yang mata memandangnya pada waktu itu atau mata pembaca masa kini.

Secara khusus, Markus menjelaskan secara gamblang bahwa memberi makan itu bertujuan untuk mengajar para murid yang belum juga mengerti, dan bahwa Yesus merasa heran karenanya. Ketika Dia ikut mereka dalam perahu yang sedang balik menuju ke seberang lain danau Galilea itu, angin topan yang menghambat perjalanan mereka telah menjadi teduh, dicatat oleh Markus : “Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.” (Markus 6:51-52).

‘Hati mereka degil’, berarti ‘pikiran mereka tertutup’, maka kita dapat mengerti makna “perkataan keras” seperti makna yang disampaikan CNV, bahwa mereka itu kesal untuk dapat mengerti pengajaran itu, dan pengajaran itu sebenarnya berkaitan dengan pribadi Tuan mereka.

Tetapi, arti yang terselubung dalam sinoptis diungkapkan oleh Yohanes secara gamblang. Dia menjelaskan hal itu dengan bentuk khotbah. Yesus di Sinagoge Kapernaum, tidak lama setelah peristiwa diatas. Pokok pembahasanNya adalah mengenai Roti Hidup.

Telah diusulkan bahwa pada hari Sabat, salah satu pengajaran Alkitab di Sinagoge adalah Keluaran 16:13-26 atau Bilangan 11:4-9, yang menceritakan tentang manna, roti dari Surga yang olehnya orang Israel dikenyangkan selama perjalanan di padang gurun. Inilah pokok bahasan yang mengawali bagaimana khotbah itu. Manna yang nenek moyang mereka di padang gurun, kata Yesus, bukanlah makanan yang tak dapat binasa : yang emmakannya tetap bisa mati – sepat atau lambat. Demikian juga roti yang Dia berikan kepada orang banyak itu adalah roti secara materi.

Orang-orang Yahudi mau menjadikan Yesus pemimpin mereka, karena mereka melihat mujizat yang dilakukan Yesus yaitu memberi roti kepada lima-ribu orang, padahal sebenarnya Yesus datang untuk memberikan kepada mereka roti yang lebih baik. Sama seperti waktu Yesus menawarkan kepada perempuan Samaria di dekat sumur Yakub – air yang lebih baik daripada air dalam sumur itu, yaitu air hidup yang membuatnya tidak haus lagi selama-lamanya. Maka, kini Yesus menawarkan kepada orang-orang di Galilea – roti yang lebih baik – daripada roti yang hanya mengenyangkan perut yang dimakan oleh lima-ribu orang itu, bahkan roti yang lebih baik daripada Manna yang dimakan oleh nenek-moyang mereka. Yesus menawarkan ‘makanan yang bertahan sampai kehidupan yang kekal’.

Manna boleh saja disebut sebagai ‘roti dari Surga’ , bahkan disebut ‘roti yang dari Allah’ tetapi roti yang benar-benar berasal dari Allah adalah yang turun dari Surga, yang memberi hidup kepada dunia :

* Yohanes 6:27-34
6:27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.”
6:28 Lalu kata mereka kepada-Nya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?”
6:29 Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”
6:30 Maka kata mereka kepada-Nya: “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?
6:31 Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga.”
6:32 Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.
6:33 Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia.”
6:34 Maka kata mereka kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.”

Bukan saja demikian, Allah telah memberi kuasa dan hak kepada Yesus Kristus yang diutus untuk menganugerahkan Roti Hidup : Yaitu Anak Manusia, Yesus Kristus sendiri.
Nah, sejauh ini : ketika perempuan Samaria itu mendengar tentang Air hidup itu berkata : “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.” (Yohanes 4:15), bisa kita umpamakan dengan pendengar Yesus saat itu berkata : “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.”

Dari sini kita menginjak tingkat pengajaran berikutnya. Yesus tidak hanya memberikan roti hidup, tetapi Dialah Roti Hidup. Kehidupan yang sesungguhnya, Hidup yang kekal, yang hanya diperoleh didalam Dia :

Yoh6:35  Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

Memang, barangsiapa yang datang kepadaNya dalam iman akan mendapatkan pemeliharaan dan kesegaran yang abadi untuk jiwa mereka yang haus dan lapar; mereka tidak akan pernah mati.

Yoh 6:51  Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

Sekarang pengajaran itu benar-benar mulai keras. Setiap orang yang beruntung membaca kata-kata ini dalam konteks keseluruhan Injil Yohanes akan mengetahui arti kata-kata itu. Bahwa percaya kepada Yesus Kristus bukan Cuma mempercayai apa yang dikatakanNya : percaya adalah dipersatukan dengan Dia oleh iman untuk berpartisipasi dalam hidupNya. (Sampai pada suatu titik, perkataanNya tentang memberikan dagingNya untuk dunia adalah paralel dengan apa yang ditulis Markus dalam Markus 10:45) dimana Yesus Kristus mengatakan bahwa Anak Manusia datang untuk ‘memberikan nyawaNya bagi banyak orang’.

Mark 10:45  Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Bahasa yang dipakai Yesus untuk mengatakan “dagingKu” bisa merupakan cara lain mengatakan “diriNya”; Dia sendiri adalah Roti yang diberikan untuk hidup dunia. Namun ungkapan dalam Markus 10:45 bukan merupakan referensi mengenai Anak Manusia sebagai makanan bagi jiwa orang ‘banyak’ dan ini merupakan satu penekanan tambahan dan sesuatu yang meninggalkan jemaat sinagoge terlepas dari kedalamannya.

Dari bibir orang-orang yang merasa tidak mengerti kedalaman itu, adalah wajar kalau muncul pertanyaan “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.” (Yohanes 6:52).

Adalah menjadi kebiasaan Yohanes apabila ia mencatat percakapan Yesus dengan mengutip perkataan yang mempunyai arti rohani dan yang membuat pendengarnya memberi reaksi bahwa mereka gagal untuk mengerti artinya; Yesus Kristus kemudian diberikan kesempatan untuk mengulangi perkataanNya secara lebih lengkap. Karena itu disini Dia mengulangi kembali jawabanNya dengan lebih lengkap untuk para pendengarnya yang kebingungan :

* Yohanes 6:54-56
6:54 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.
6:55 Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.
6:56 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.

Apa yang Yesus maksudkan? Jelaslah bahwa bahasanya tidak dapat diambil secara harfiah : Dia tidak menganjurkan kanibalisme. Kalau begitu, bagaimana harus diartikan? Hal ini tidak hanya kabur, mereka berpikir : itu bersifat menantang. Bagi orang yahudi, minum darah apapun, bahkan makan daging yang darahnya masih belum dialirkan, adalah tabu. Apalagi meminum darah manusia yang tidak masuk akal kalau perlu disebutkan. Ini merupakan perkataan yang keras dipandang dari lebih banyak segi.

Yesus menjawab protes mereka dengan menunjukkan bahwa perkataanNya harus dimengerti secara rohani :

Yoh 6:63 Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.

Pengertian secara fisik atau harfiah dari perkataan itu secara jelas tidak akan dapat diterima. Jikalau demikian, apakah arti rohaninya?

Kembali kepada para pembaca Injil yang memandang perkataan ini dalam konteks keseluruhannya, beruntung melebihi pengengar-pendengar pertama, yang tidak mempunyai penjelasan konteks.  Apa yang kita peroleh dari bahasa ganjil yang digunakan Tuhan Yesus adalah merupakan metafora yang dengan kuat menyatakan bahwa bagian dari kehidupan Allah, kehidupan yang ekkal, diberikan kepada barang-siapa yang datang beriman kepada Yesus Kristus, memiliki Dia, masuk dalam eksatuan bersama dengan Dia. Untuk hal ini, kita lihat 2 penjelasan dri 2 tokoh Gereja yaitu Agustinus Hippo (akhir abad ke-4) dan Bernard Calirvaux (Abad ke 12) :

Perkataan yang keras itu tidak dapat diartikan secara harfiah, kata Agustinus, karena itu bisa berarti menganjurkan kejahatan atau kriminal : ‘Karenanya itu merupakan lukisan penderitaan Kristus, dan secara rahasia dan istimewa tersimpan di hati kita suatu fakta bahwa dagingNya telah disalibkan dan ditikamkan untuk kita‘ (Agustine, On Christian Doctrine, 3.16).

Bernard menerangkan perkataan “Barangsiapa yang makan dagingKu dan minum darahKu mempunyai hidup yang kekal” dengan arti “Barangsiapa merefleksikan kematianKu, dan mengikuti teladanKu sehingga tersiksa di bumi, memperoleh hidup yang kekal – dengan kata lain, “Bila engkau menderita bersamaKu, engkau juga akan memerintah bersamaKu” (Bernard, The Love of God, 4.11).

Timbul suatu pertanyaan : Apa hubungan perkataan yesus dengan Perjamuan Kudus, yaitu orang-orang percaya yang menerima roti dan anggur sebagai lambang tubuh dan darah Yesus Kristus?Berbeda dengan penulis-penulis lainnya, Yohanes tidak mencatat institusi Perjamuan Kudus, tetapi hal ini memang menunjuk kepada kebenaran yang sama dalam perkataan seperti dalam Perjamuan Kudus dalam tindakan. Kebenaran ini diringkas dalam undangan yang disampaikan kepada pengikut Perjamuan Kudus dalam Book of Common Prayer : ‘Ambillah dan makanlah, ini sebagai peringatan bahwa Kristus telah mati bagimu, dan hiduplah dari Dia dalam hatimu oleh iman dengan ucapan syukur’.Hidup dari Kristus dalam hati oleh Iman dengan ucapan syukur adalah ‘makan daging Anak Manusia dan minum darahNya’ dan dengan demikian, kita memperoleh kehidupan yang kekal.

Sumber :
FF Bruce, Ucapan Yesus yang Sulit, SAAT Malang, p 4-9 , 275-279

Pdt.Lucky Fergian Laoh :

3. Melalui PK – darah Kristus – kita menerima pengampunan dosa (ay. 25)

Paulus kembali mengutip kata2 Yesus “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” Yesus menyebut kata Perjanjian Baru, otomatis ada Perjanjian Lama. Kisah dalam Perjanjian Lama adalah dimana orang Israel harus mencurahkan darah binatang sebagai tanda penebusan dosa. Setiap tahun mereka harus melakukan untuk penyucian diri. Darah Yesus dicurahkan sekali dan untuk selamanya bagi kita, sehingga jika kita percaya akan korban darah Kristus, segala dosa kita diampuni. Ibr. 9:13:14 mengatakan “Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah,betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.” Darah Yesus lebih mulia dari darah binatang yang dicurahkan dalam PL.

TAnggapan saya :

Diatas sudah dijelaskan bahwa Perjamuan Kudus adalah sebuah Peringatan , jadi perjamuan Kudus tidak menyelamatkan atau mengampuni dosa, apakah yang bisa menyelamatkan kita dari Murka Allah?

percaya / iman

Kol 2: 12 karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan,dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkanjuga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati

dan menerima Yesus

Kol 2: 6 Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhankita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.

Pdt.Lucky Fergian Laoh :

 Banyak ajaran yang melarang orang ikut PK kalau seseorang berdosa. Tetapi jika kita mau renungkan bahwa Yesus datang bukan untuk orang benar, tetapi orang berdosa. Dokter ada untuk orang sakit bukan orang sehat. Yesus mencurahkan darahNya bagi orang berdosa, bukan orang yang merasa benar. Sehingga setiap orang yang menerima PK, terima darah Yesus, dia ditebus dan dosanya diampuni. Perwujudan darah Yesus ada dalam anggur yang kita akui sebagai darah Yesus
Jadi pelajaran ketiga adalah melalui korban darah Yesus, segala dosa kita Tuhan ampuni.

Tanggapan saya :

Diatas sudah dijelaskan bahwa yang boleh mengikuti Perjamuan Kudus adalah orang yang sudah bertobat/percaya

Pdt.Lucky Fergian Laoh :

4. PK bisa dilakukan kapanpun/ bahkan setiap hari

Kutipan Paulus dalam kalimat Yesus, “perbuatlah ini setiap kali kamu meminumnya menjadi peringatan akan Aku” mengajarkan bahwa dalam PK kita mengingat dan mengenang perbuatan Tuhan dalam menebus kita. Sehingga peringatan akan korban tubuh dan darah Yesus dapat dilakukan kapan saja. Setiap kali kita mengenang akan pengorbanan Yesus, justru akan membuat kita semakin hari semakin mempunyai kesadaran bahwa Yesus selalu baik dalam hidup kita.

Yesus juga mengatakan bahwa saat kita makan roti dan minum cawan Tuhan, kita memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. Artinya kita selalu diingatkan selalu bahwa segala kutuk sudah selesai (yang berarti kutuk penyakit, kutuk penderitaan, kutuk dosa).

Tanggapan saya :

kata setiap kali meminum tidak berarti setiap hari !! , diatas sudah dijelaskan bahwa perjamuan suci itu harus dipimpin oleh imam gereja/Pendeta !!

5. PK yang dilakukan secara benar mendatangkan mujizat.

  Banyak pengajaran yang berkembang tentang PK. Ada transubstansi, konsubstansi, dan substansi. Semua ajaran punya pandangan dan argumen yang berbeda-beda tentunya. Tetapi Alkitab mengatakan barangsiapa dengan cara yang tidak layak (termasuk dalam bentuk pengakuan), ia berdosa . . . sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit dan tidak sedikit yang meninggal. PK seharusnya menjadi berkat bagi kita, tetapi cara yang salah dan mendatangkan hukuman. Secara simple orang/ gereja yang melakukan PK secara benar akan menjadi kuat, sembuh, umur panjang. Gereja Tiberias membuktikan dengan banyak mujizat yang terjadi. Yang lemah dikuatkan, yang sakit disembuhkan, yang divonis mati diberikan umur panjang. Karena kebalilkan dari peringatan Alkitab cara yang tidak benar. Artinya Tiberias melakukan apa yang benar, seperti yang Tuhan ajarkan/ perintahkan (Pelajaran 1).
Tuhan memerintahkan kepada Pdt Pariadji untuk mengajarkan bahwa PK bukanlah lambang, tetapi adalah benar tubuh dan darah Yesus. Yesus sendiripun tidak pernah mengatakan bahwa inilah lambang tubuhKu, inilah lambang darahKu. Tetapi inilah tubuhKu, inilah darahKu. Jadi apa yang dilakukan di Tiberias sesuai dengan apa yang Yesus lakukan, sehingga pembuktiannya dengan banyak mujizat yang terjadi.

Tanggapan saya :

diatas sudah dijelaskan dan menurut saya ini sama sekali menyimpang dari tujuan Perjamuan Kudus, karena 1Kor 11:23-26 berkata sebagai berikut: “(23) Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti (24) dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: ‘Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!’ (25) Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: ‘Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darahKu; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!’ (26) Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang”.

Pdt.Lucky Fergian Laoh :

Mempelajari Alkitab dari PL sampai PB, kita akan melihat bahwa setiap utusan Tuhan pasti selalu disertai dengan tanda dan mujizat, supaya setiap orang yang mendengarnya percaya bahwa dia diutus oleh Tuhan. Apa yang diajarkan di Tiberias bukan karena maunya pribadi seorang Pdt Pariadji, tetapi karena perintah Tuhan. Bagaimana supaya orang percaya bahwa Pdt Pariadji diutus Tuhan? Tuhan menyertainya dengan tanda dan mujizat. Kenapa anak2 dan bayi2 boleh diberikan PK? Karena darah binatang yang dicurahkan dalam PL saat orang Israel keluar dari tanah Mesir, bukan saja berlaku bagi orang dewasa, tetapi juga seluruh keluarga (termasuk anak2). Dan di Tiberias bayi2 dan anak2 yang menerima PK, mereka juga menerima dan merasakan mujizat. Bahkan yang divonis mati di kandungan oleh dokter, bisa selamat karena menerima PK. Di saat kita mengimani bahwa perintah ini datangnya dari Tuhan kepada Pdt Pariadji dan gereja Tiberias, maka kuasaNya beserta dengan kita. Gereja Tiberias berdiri untuk mengembalikan ajaran yang benar, melalui kuasa PK ada kuasa Allah yang dinyatakan. Berbahagialah jika kita menerimanya karena berdasarkan perintah, bukan suatu penafsiran semata yang dapat bertentangan satu dengan yang lainnya dan menganggap penafsiran aku yang paling benar yang lain salah. Padahal ada 3 pandangan besar yang berkembang. Tetapi 1 yang kita yakini bahwa PK bukanlah kehendak manusia, tetapi kehendak/ perintah Tuhan untuk kita lakukan.

Tanggapan saya :

Abraham, Yesus dan Paulus tidak mau memberi tanda / mujijat.

a.   Abraham.

Luk 16:27-31 – “Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.’”.

Abraham tidak menganggap bahwa mujijat merupakan sesuatu yang penting untuk mempertobatkan kelima saudara dari orang kaya itu. Ia tidak beranggapan bahwa kuasa Allah harus dibuktikan! Ia menganggap bahwa hukum Taurat / Firman Tuhan sudah cukup untuk mempertobatkan. Kalau hukum Taurat / Firman Tuhan tidak cukup, maka penginjilan yang dilakukan oleh orang yang bangkit dari antara orang matipun, sekalipun merupakan suatu mujijat yang luar biasa, tidak akan bisa mempertobatkan mereka. Ingat juga bahwa pada waktu Yesus membangkitkan Lazarus (Yoh 11), peristiwa itu tidak mempertobatkan para tokoh Yahudi, tetapi sebaliknya mereka ingin membunuh Yesus dan Lazarus (Yoh 11:47-53  Yoh 12:10).

b.   Yesus.

Mat 12:38-40 – “(38) Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: ‘Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari padaMu.’ (39) Tetapi jawabNya kepada mereka: ‘Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. (40) Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam”.

Apa artinya ‘tanda nabi Yunus’? Ada yang menganggap ay 40 sebagai penekanan / inti bagian ini dan lalu berkata bahwa tanda itu adalah kebangkitan Yesus. Tetapi kelihatannya ay 40 ini hanya merupakan tambahan saja dan bukan merupakan inti / penekanan dari bagian ini. Alasannya

Luk 11:29-30 maupun Mat 16:1-4 menyebut tentang Yunus tetapi tidak menyebut tentang ‘3 hari dan 3 malam’.

Luk 11:29-30 – “Ketika orang banyak mengerumuniNya, berkatalah Yesus: ‘Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini”.

Mat 16:1-4 – “Kemudian datanglah orang-orang Farisi dan Saduki hendak mencobai Yesus. Mereka meminta supaya Ia memperlihatkan suatu tanda dari sorga kepada mereka. Tetapi jawab Yesus: ‘Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak. Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.’ Lalu Yesus meninggalkan mereka dan pergi”.

Mark 8:11-12 bahkan hanya berkata bahwa mereka tidak akan diberi tanda. Bagian ini sama sekali tidak menyinggung tentang Yunus!

Mark 8:11-12 – “Lalu muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari padaNya suatu tanda dari sorga. Maka mengeluhlah Ia dalam hatiNya dan berkata: ‘Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.’”.

Ini semua menunjukkan bahwa Mat 12:40 bukanlah bagian inti tetapi hanya merupakan tambahan saja, karena kalau Mat 12:40 merupakan penekanan / inti, maka tidak mungkin 3 bagian Kitab Suci yang lain menghapuskan bagian ini.

Kesimpulan: arti bagian ini adalah: mereka tidak akan diberi tanda, tetapi hanya diberi pemberitaan Firman Tuhan! Yunus sendiri juga tidak memberi mujijat apa-apa kepada orang Niniwe; ia hanya memberitakan Firman Tuhan. Mereka harus percaya pada Firman Tuhan tanpa tanda / mujijat.

c.   Paulus.

1Kor 1:22-23 – “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan”.

Paulus juga seperti Abraham dan Yesus. Ia tidak mau memberikan apa yang dituntut / diinginkan oleh para pendengarnya. Orang Yahudi menginginkan tanda / mujijat, sedangkan orang Yunani menginginkan hikmat, tetapi Paulus memberitakan Kristus yang tersalib, yang bertentangan dengan keinginan dari orang Yahudi maupun Yunani, sehingga bagi orang Yahudi itu merupakan batu sandungan dan bagi orang Yunani itu merupakan kebodohan.

Pertanyaan saya adalah: mengapa Abraham, Yesus, dan Paulus tidak menunjukkan kuasa Allah, dan melakukan mujijat, dalam text-text ini? Dan kalau Abraham, Yesus dan Paulus tidak menunjukkan kuasa Allah atau melakukan mujijat di sini, mengapa orang kristen  jaman sekarang salah, kalau mereka hanya memberitakan Injil , tanpa menunjukkan kuasa Allah dalam bentuk mujijat-mujijat?

3.   Bdk. Yoh 10:41 – “Dan banyak orang datang kepadaNya dan berkata: ‘Yohanes memang tidak membuat satu tandapun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar.’”.

Ayat ini kontras dengan Ul 13:1-5, karena ‘nabi’ dalam Ul 13:1-5 menubuatkan tanda dan tanda itu terjadi, tetapi ia mengajarkan ajaran sesat; sedangkan Yoh 10:41 mengatakan bahwa Yohanes Pembaptis tidak membuat satu tandapun, tetapi apa yang Ia ajarkan benar.

Apakah andaberani mengatakan bahwa Yohanes Pembaptis bukan nabi, karena tidak bisa membuktikan kuasa Tuhan dengan melakukan tanda / mujijat?

Karena itu, kalau anda adalah seorang kristen yang betul-betul memberitakan Injil, jangan kecil hati karena anda tidak diberi karunia untuk melakukan mujijat / kesembuhan ilahi, karena Yohanes Pembaptis juga seperti itu. Yang penting adalah anda  memberitakan Injil / Firman Tuhan yang benar. Bukankah lebih baik menjadi seperti Yohanes Pembaptis, dari pada menjadi seperti ‘nabi’ dalam Ul 13:1-5 (yang mirip dengan Pdt. Yesaya Pariadji dan pengikutnya seperti  Pdt.Lucky Fergian Laoh )?

4.   Setan juga memperlengkapi nabi-nabi palsunya dengan kuasa-kuasa untuk melakukan mujijat. Ini terlihat dari ahli-ahli sihir Mesir yang bisa meniru mujijat Musa (melempar tongkat yang lalu menjadi ular) dalam Kel 7:11-12. Juga dari ayat-ayat seperti Mat 7:21-23  Mat 24:23-24  2Tes 2:9  Wah 13:11-14  Wah 16:13-14. Jadi, bagaimana kita bisa tahu apakah seseorang adalah nabi asli yang melakukan mujijat dengan kuasa Tuhan, atau seorang nabi palsu yang melakukan mujijat dengan kuasa setan? Seperti yang sudah saya katakan di depan, kita hanya bisa tahu melalui ajaran dari orang tersebut!

5.   Kekristenan harus menekankan penebusan / salib Kristus.

Penekanan mujijat dan kesembuhan dalam kekristenan merupakan suatu kebodohan. Mengapa? Karena dalam agama-agama lain dan sekte-sekte sesat, dan bahkan dalam kalangan orang yang mempelajari magic, hal-hal ini juga ada. Kalau kekristenan menekankan hal-hal itu, kekristenan tidak kelihatan istimewa. Yang istimewa dalam  kekristenan dan yang tidak dipunyai agama lain adalah keselamatan / pengampunan karena penebusan Kristus, dan ini yang harus ditekankan!

 

Advertisements

A Christmas Creed

I believe in Jesus Christ and in the beauty of the gospel begun in Bethlehem.

I believe in the one whose spirit glorified a little town; and whose spirit still brings music to persons all over the world, in towns both large and small.

I believe in the one for whom the crowded inn could find no room, and I confess that my heart still sometimes wants to exclude Christ from my life today.

I believe in the one who the rulers of the earth ignored and the proud could never understand; whose life was among common people, whose welcome came from persons of hungry hearts.

I believe in the one who proclaimed the love of God to be invincible:

I believe in the one whose cradle was a mother’s arms, whose modest home in Nazareth had love for its only wealth, who looked at persons and made them see what God’s love saw in them, who by love brought sinners back to purity, and lifted human weakness up to meet the strength of God.

I confess my ever-lasting need of God: The need of forgiveness for our selfishness and greed, the need of new life for empty souls, the need of love for hearts grown cold.

I believe in God who gives us the best of himself. I believe in Jesus, the son of the living God, born in Bethlehem this night, for me and for the world 

A Christmas Creed


SPURGEON’S TEXT

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi!”  (Yesaya 45:22).

Saya memberi tema khotbah ini “Ayat Spurgeon” karena ayat ini adalah ayat yang dikhotbahkan kepadanya ketika ia diselamatkan pada umur 15 tahun. Ia langsung mulai mengajar Sekolah Minggu dan berkhotbah sejak saat itu. Enam tahun kemudian, ketika ia berumur 21 tahun, ia berkhotbah kepada ribuan orang, dan banyak suratkabar memberikan julukan kepadanya “pengkhotbah muda.”

Bukan hanya ia diselamatkan ketika mendengar satu khotbah yang didasarkan pada ayat kita ini, ia juga mengutip ayat ini berulang kali bahkan sampai tak terhitung ia telah mengutipnya ketika ia berkhotbah dari ayat-ayat lain. Dalam 63 volume dari kumpulan khotbah-khotbahnya ada tiga khotbah di mana ayat ini menjadi teks utama – dengan tema secara berurutan, “Kedaulatan dan Keselamatan” (Sovereignty and Salvation) “Hidup Karena Memandang” (Life for a Look) dan “Hidup dari Memandang” (The Life-Look). Dalam khotbahnya yang berjudul “The Life-Look” Spurgeon berkata,

Sekitar dua puluh enam tahun yang lalu – dua puluh enam tahun yang lalu persis pada hari Kamis – saat saya memandang kepada Tuhan [Yesus], dan menemukan keselamatan, melalui ayat ini. Anda telah sering mendengar saya menceritakan bagaimana saya telah… berusaha mencari keselamatan, dan tidak menemukan apapun, sampai seorang pengkhotbah awam yang sederhana [yang tidak memiliki latar belakang pendidikan] berdiri di mimbar Primitive Methodists, dan menyampaikan ayat ini sebagai teksnya: “Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi.” Ia tidak banyak berkata-kata, terimakasih Tuhan, karena telah memaksa dia untuk terus mengulang-ulang ayat ini, dan tidak ada hal lain yang diperlukan – bagi saya – kecuali ayatnya ini. Saya ingat bagaimana ia berkata, “Ini adalah Kristus yang sedang berbicara.” ‘Aku ada di taman (Getsemani) dalam kesengsaraan, mencurahkan jiwa-Ku sampai mati; Aku [disalibkan], mati untuk orang-orang berdosa; pandanglah Aku! Pandanglah Aku!’ Hanya itulah yang saya lakukan. Seorang anak dapat memandang. Betapapun lemah, atau betapapun miskin, seseorang bisa, ia dapat memandang; dan jika ia memandang, janji itu adalah bahwa ia akan [diselamatkan].” Kemudian, berhenti, ia menunjuk ke arah di mana saya sedang duduk…. Dan ia berkata, “Anak muda yang duduk di sana kelihatan sangat menyedihkan.” Saya berpikir demikianlah keadaan saya, karena itulah apa yang saya sedang rasakan. Kemudian ia berkata, “Tidak ada pengharapan bagi kamu, anak muda, atau kesempatan untuk membuang dosa-dosamu, selain dengan memandang kepada Yesus;” dan ia berseru, sebagaimana saya berpikir hanya orang-orang Primitive Methodist yang dapat, “Pandanglah! Pandanglah anak muda! Pandanglah sekarang!” Dan saya memandang… saya menemukan [diri saya diselamatkan dari dosa] pada saat itu juga dengan memandang kepada Yesus (C. H. Spurgeon, “The Life-Look,” The Metropolitan Tabernacle Pulpit, vol. 50, Pilgrim Publications, 1978 reprint, hlm. 37).

Nyanyian lama yang Mr. Griffith baru nyanyikan membuat ini jelas siapakah “Anak Domba Allah” itu. Yesus adalah “Anak Domba Allah, yang telah menanggung dosa dunia” (Yohanes 1:29). “Pandanglah Anak Domba Allah.” Nyanyikan lagu ini!

Lihatlah Anak Domba Allah, Lihatlah Anak Domba Allah,
Karena hanya Dia yang dapat menyelamatkanmu, Lihatlah Anak Domba Allah.
(“Look to the Lamb of God” by H. G. Jackson, 1838-1914).

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi” (Yesaya 45:22).

I. Pertama, Anda harus memandang Yesus, Pribadi Kedua dari Trinitas.

Teks kita berkata, “Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan…” Kata “berpalinglah” [dalam KJV “look”] memiliki arti yang sama dengan “datanglah.” Anda seharusnya tidak memandang kepada Allah Bapa, atau datang kepada-Nya, dalam keadaan Anda yang penuh dosa. Mengapa tidak? Karena “TUHAN, Allahmu, adalah api yang menghanguskan, Allah yang cemburu” (Ulangan 4:24). Perjanjian Baru mengatakan hal yang sama, “Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan” (Ibrani 12:29). Jika Anda datang kepada Allah dalam keadaan Anda yang belum diselamatkan Anda akan dihanguskan dalam api murka-Nya. Apa yang terjadi pada Nadab dan Abihu akan terjadi pada Anda!

“Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN” (Imamat 10:2).

Anda seharusnya tidak memandang kepada Roh Kudus, atau datang kepada-Nya, karena Ia tidak memiliki darah untuk menyucikan dosa-dosa Anda! Pekerjaan Roh Kudus adalah menginsafkan Anda akan dosa dari ketidak-percayaan kepada Yesus. Yesus mengatakan ini tentang Roh Kudus,

“Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa… karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku” (Yohanes 16:8-9).

Tidak, tidak – jangan memandang kepada Roh Kudus! Anda harus memandang, dan datang kepada Juruselamat yang telah disalibkan, yang sekarang telah naik ke sorga dan duduk di sebelah kanan Allah di tempat Kemuliaan! Pandanglah Yesus, Anak Domba Allah. Hanya Dia yang dapat menyelamatkan Anda dari dosa! Datanglah kepada Dia! Pandanglah Dia! Anda tidak dapat benar-benar datang kepada seseorang tanpa terlebih dahulu memandang dia, bukankah benar demikian?

Pandanglah pada Yesus, O pandang wajah-Nya mulia;
Isi dunia menjadi suram, Oleh sinar kemuliaan-Nya.
(“Turn Your Eyes Upon Jesus” oleh Helen Howard Lemmel, 1863-1961/
(“Terjemahan Nyanyian Pujian No. 144).

Pandanglah dan hidup, saudaraku, hidup!
(“Pandanglah Yesus sekarang dan hidup;
Ini yang tercatat dalam Firman-Nya, Haleluya!
(“Satu-satunya hal yang engkau harus lakukan adalah memandang dan hidup.
(“Look and Live” oleh William A. Ogden, 1841-1897).

Nyanyikan ini kembali!

Lihatlah Anak Domba Allah, Lihatlah Anak Domba Allah,
Karena hanya Dia yang dapat menyelamatkanmu, Lihatlah Anak Domba Allah.
(“Look to the Lamb of God” oleh H. G. Jackson, 1838-1914).

Ada satu lagi tempat yang seharusnya tidak Anda pandang. Anda seharusnya tidak memandang diri Anda sendiri. Itu adalah apa yang dilakukan Spurgeon sebelum hari pertobatannya. Ia berusaha memiliki “perasaan” yang benar – dari pada memandang, dan datang kepada Kristus sendiri. Ia terus membaca buku Doddridge yang berjudul “Rise and Progress of Religion in the Soul” dan buku Baxter yang berjudul “Call to the Unconverted.” Spurgeon berkata, “Saya tidak menemukan kesalahan dengan buku [mereka]; saya memuji mereka, namun saya menemukan kesalahan dalam diri saya sendiri karena memperlakukan [buku] mereka itu dengan sangat buruk.” Spurgeon berkata, “Ketika saya membaca berulangkali, dan berusaha untuk merasakan apa yang orang-orang baik itu katakan, ada yang menusuk saya” (Spurgeon, ibid., hlm. 41). Spurgeon muda “berusaha untuk merasakan” apa yang Doddridge dan Baxter rasakan. Itu tidak ada gunanya. Yesus tidak ditemukan dalam perasaan dan emosi kita.

Minggu lalu dua gadis Katolik yang datang ke gereja ini berkata kepada deaken kita, Dr. Cagan, bahwa mereka berpikir kalau mereka diselamatkan karena mereka telah merasakan dukacita dan menangis. Mereka memandang kepada perasaan dukacita mereka sendiri. Mereka menekankan Yesus, namun Yesus bukan hal utama yang mereka bicarakan. Hal utama yang mereka pandang dan bicarakan adalah dukacita mereka sendiri. Saya sedang menjelaskan kepada Anda pagi ini bahwa sekedar perasaan dukacita tidak pernah dapat menyelamatkan Anda! Tidak akan pernah! Tidak akan pernah! Tidak akan pernah! Pre-inkarnasi Kristus berkata,

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan…” (Yesaya 45:22).

Datanglah kepada Yesus Kristus sendiri! Buanglah perasaan dan emosi Anda! Pandanglah Yesus! Percayalah kepada Yesus! Datanglah kepada Yesus! Berpalinglah dari perasaan Anda sendiri kepada sang Juruselamat yang telah bangkit! Yesus berkata,

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan…” (Yesaya 45:22).

“Lihatlah Anak Domba Allah.” Nyanyikan ini kembali!

Lihatlah Anak Domba Allah, Lihatlah Anak Domba Allah,
Karena hanya Dia yang dapat menyelamatkanmu, Lihatlah Anak Domba Allah.

II. Kedua, Anda harus menginginkan Yesus untuk menyelamatkan Anda dari dosa.

Yesus berkata, “Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya” (Yohanes 12:47). Lagi, Yesus berkata, “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Lukas 19:10). Dan pra-inkarnasi Yesus berkata,

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan…” (Yesaya 45:22).

Rasul Paulus berkata, “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa” (I Timotius 1:15). Yesus telah mati di atas kayu Salib untuk membayar dosa Anda! Yesus bangkit dari antara orang mati untuk membebaskan Anda dari dosa! Yesus telah mencurahkan Darah-Nya untuk menyucikan Anda dari dosa! Dosa. Dosa. Dosa. “Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan” – dari dosa! Jika Anda tidak berpikir tentang dosa Anda, maka Yesus tidak berarti apa-apa bagi Anda. Yesus datang, dan mati, dan bangkit untuk menyelamatkan Anda dari dosa. Jika Anda tidak melihat dosa Anda, Anda tidak akan memandang kepada Yesus dan diselamatkan.

Seorang wanita muda lainnya berbicara dengan Dr. Cagan pada hari Minggu yang lalu. Ia berkata bahwa ia berpikir kalau ia telah diselamatkan karena “ketertekanan berat” telah diambil dari dalam hatinya. Saudariku yang terkasih, Yesus tidak mati di kayu Salib untuk mengambil “ketertekanan berat” dari hati Anda! Itu ungkapan omong kosong! Saya berkata bahwa saya peduli dengan jiwa Anda!

Beberapa menit kemudian, wanita muda yang sama ini berkata kepada Dr. Cagan bahwa ia telah diselamatkan karena ia telah melihat “seberkas cahaya dan tahu bahwa itu adalah Yesus.” Bukankah itu suatu penipuan diri? Bagaimana ia tahu bahwa “seberkas cahaya” itu adalah Yesus? Alkitab berkata, “Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang” (II Korintus 11:14). Bagaimana ia tahu itu adalah Yesus? Bagaimana ia tahu bahwa itu bukan Setan? Saya berkata kepada Anda sesuatu lagi, “ketertekanan yang diambil dari hati Anda” dan melihat “cahaya” tidak akan menyelesaikan dosa! Kematian Kristus yang menggantikan tempat Anda, untuk membayar dosa Anda tidak ada artinya bagi dia. Darah Kristus yang dicurahkan untuk menyucikan Anda dari segala dosa tidak ada artinya bagi dia. Yesus bukanlah pusat bagi dia. Yesus tidak penting bagi dia.

Kapanpun kita mendengar seseorang berkata bahwa mereka telah diselamatkan, kami ingin tahu apakah ada pengampunan dosa. Kita ingin tahu apakah Darah Kristus ada menyucikan dosa. Apa yang disebut “kesaksian” seringkali hanyalah kebodohan belaka! Yesus berkata,

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan…” (Yesaya 45:22).

“Lihatlah Anak Domba Allah.” Nyanyikan ini kembali!

Lihatlah Anak Domba Allah, Lihatlah Anak Domba Allah,
Karena hanya Dia yang dapat menyelamatkanmu, Lihatlah Anak Domba Allah.

III. Ketiga, Anda harus merasa bahwa tiada ada yang lain selain Yesus yang dapat menyelamatkan Anda dari dosa.

Anda harus merasakan apa yang Joseph Hart pernah rasakan ketika ia berkata,

Tiada lain selain Yesus, tiada lain selain Yesus,
Dapat melakukan kebaikan bagi orang berdosa tak berpengharapan.
(“Come, Ye Sinners” oleh Joseph Hart, 1712-1768).

Tiada lain selain Yesus! Tiada lain selain Yesus – yang dapat melakukan kebaikan bagi orang-orang berdosa yang tak memiliki pengharapan!

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi” (Yesaya 45:22).

Ayat ini tidak mengajarkan faham universalisme, bahwa setiap orang akan diselamatkan pada akhirnya. Jauh dari pemikiran seperti itu! Ini berarti bahwa orang-orang pilihan Allah, dalam semua bangsa, akan memandang Yesus, Pribadi Kedua dari Trinitas, dan diselamatkan, karena teks ini diakhiri dengan perkataan ini, “Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain.”

Spurgeon sering mengutip Markus 16:16. Ia mengkhotbahkan ayat itu dalam satu khotbah yang disampaikan pada kebaktian Minggu malam, pada tanggal 13 Oktober, 2889 (MTP, Number 2,339). Markus 16:16 diakhiri dengan perkataan ini, “Siapa yang tidak percaya akan dihukum.” Jika Anda menolak untuk memandang Yesus, dan datang kepada Yesus, percaya kepada Yesus, Anda akan dihukum di Neraka untuk selama-lamanya. Saya meminta Anda, pada pagi ini juga, untuk memandang Yesus, datang kepada Yesus, percaya di dalam Yesus. “Tidak ada yang lain selain Yesus, yang dapat melakukan hal yang baik bagi orang-orang berdosa yang tidak berpengharapan.” Tidak ada yang lain selain Yesus yang dapat menyelamatkan Anda dari penghukuman kekal karena dosa Anda. “Lihatlah Anak Domba Allah.” Mari kita menyanyikan ini sekali lagi!

Lihatlah Anak Domba Allah, Lihatlah Anak Domba Allah,
Karena hanya Dia yang dapat menyelamatkanmu, Lihatlah Anak Domba Allah.

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan.”
(Yesaya 45:22).

“Tidak ada yang lain selain Yesus, tidak ada yang lain selain Yesus, yang dapat melakukan hal baik bagi orang-orang berdosa yang tak berpengharapan.” Mari kita membuka himne nomer 7 pada lembaran lagu Anda. Mari kita berdiri dan menyanyikannya.

Datanglah, kamu orang berdosa, miskin dan hina, Lemah dan terluka, sakit dan mendrita;
Yesus telah berdiri untuk menyelamatkanmu, Penuh kasih dan kuasa;
Ia sanggup, Ia sanggup, Ia mau; jangan ragu lagi!
Ia sanggup, Ia sanggup, Ia mau; jangan ragu lagi!

Lihatlah! Allah yang menjelma, naik, Membela pengorbanan darah-Nya;
Datanglah kepadanya, dengan segenap hatimu, Jangan biarkan kepercayaan lain menganggu;
Tiada lain selain Yesus, Tiada lain selain Yesus, Dapat menolong orang berdosa tanpa pengharapan
Tiada lain selain Yesus, Tiada lain selain Yesus, Dapat menolong orang berdosa tanpa pengharapan
(“Come, Ye Sinners” oleh Joseph Hart, 1712-1768).


MARTIN LUTHER AND THE DEVIL

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (I Petrus 5:8).

Silahkan dibaca di akhir khotbah ini sketsa biografi tentang Luther oleh pengkhotbah besar Baptis, C. H. Spurgeon.

Berhubungan dengan ayat ini, Martin Luther (1483-1546) berkata, “Roh jahat tidak tidur, ia licik dan jahat… Ia berjalan keliling sama seperti singa yang sedang lapar dan mengaum-aum seakan-akan ia akan menelan semua” (Martin Luther, Th.D., Commentary on Peter and Jude, Kregel Classics, 1990 reprint, hlm. 218; komentar untuk I Petrus 5:8).

Dr. Henry Lenski berkata, “Pada saat ini, di bawah Nero, auman dari penganiayaan yang mengerikan di dengar oleh para korban Kristen yang tidak berdaya. Di bulan Oktober tahun 64 (M) badai menerjang. Petrus sendiri menjadi seorang [martir]… Namun tidak selalu iblis mengaum [seperti ini]…” (R. C. H. Lenski, Th.D., The Epistles of St. Peter, St. John and St. Jude, Augsburg Publishing House, 1966, hlm. 225).

Iblis mengaum pada tiga abad pertama, ketika ribuan orang Kristen dicabik-cabik oleh singa-singga di arena-arena Romawi kuno. Tidak diragukan bahwa Petrus sedang memikirkan ini ketika ia berkata,

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (I Petrus 5:8).

Iblis mengaum seperti itu pada masa Inquisisi pada zaman Luther, dan pada masa Holocaust, dan pada masa Revolusi Budaya di China, dan di bawah ekstrimisme Muslim di berbagai belahan dunia malam ini.

Namun Iblis tidak “mengaum” di sini di dunia Barat. Di sini ia menggunakan metode lain untuk “menelan” orang-orang di sini. Di sini ia menggunakan materialism (pengingkaran terhadap keberadaan supranatural) untuk membuat kita tertidur, dan membuat kita tidak menyadari kehadirannya. Namun Iblis secara rahasia sangat aktif di Amerika dan Barat. Bahkan walaupun ia bekerja di sini dengan cara yang tidak terlihat, golnya adalah sama, “mencari orang yang dapat ditelannya.” Kristus berkata bahwa Iblis “adalah pembunuh dari sejak mulanya” (Yohanes 8:44). Salah satu dari nama Iblis adalah “Abaddon” (Wahyu 9:11). “Abaddon” berarti “Pembinasa.” Entah secara terbuka maupun secara rahasia, tujuan Iblis adalah “menelan,” untuk “membunuh,” untuk “membinasakan” jiwa-jiwa manusia.

Iblis telah begitu sukses dalam pekerjaan tersembunyinya sehingga kebanyakan pendeta Baptis kita hari ini di Amerika jarang jika bukan tidak pernah mengkhotbahkan khotbah-khotbah tentang Setan dan iblis. Betapa banyak pengkhotbah buta tentang kenyataan aktivitas Satanik, bahkan di banyak gereja kita sendiri!

Betapa orang-orang Amerika secara rohani telah menjadi bodoh! Kita telah mengijinkan perayaan Thanksgiving, Natal dan Paskah dilarang di sekolah-sekolah negeri kita. Namun hampir setiap kelas didekorasi dengan gambar-gambar iblis dan jerangkong dan perempuan sihir dan para vampir dengan darah yang sedang mengalir di setiap sudut mulut mereka untuk dilihat anak-anak pada Holloween. Alkitab berkata, “Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh” (Roma 1:22), dan Shakespeare berkata, “Betapa bodohnya semua kefanaan ini.”

Ini membawa kita kembali kepada Martin Luther. Ia sering dituduh oleh para “sarjana” liberal yang berpengaruh pada abad 20 terlalu berlebihan menekankan tentang Setan dan roh-roh jahat. Bahkan seorang Lutheran konservatif modern seperti Ewald M. Plass paling tidak mengkritik penekanan Luther tentang Iblis. Plass berkata, “Luther secara alami mengajarkan banyak hal tentang apa yang belakangan ini kita sebut tahyul. Tidak diragukan bahwa ia sering menganggap aktivitas kuasa kegelapan berkaitan dengan berbagai kejadian alam ini.” Namun, kemudian, Plass melindungi dirinya sendiri dengan berkata, “Mungkin iblis memang secara nyata lebih aktif dari pada biasanya [pada zaman Luther], karena ia merasakan betapa banyak yang dipertaruhkan” (Ewald M. Plass, What Luther Says, Concordia Publishing House, 1994 edition, hlm. 391-392).

David L. Larsen juga merendahkan penekanan Luther tentang Setan dan roh-roh jahat dengan berkata, “Luther benar-benar orang abad pertengahan… Luther melihat semua umat manusia ‘terkunci dalam konflik antara Tuhan dan Iblis seakan Penghakiman Terakhir dengan cepat semakin mendekat’” (David L. Larsen, M.Div., D.D., The Company of the Preachers, Kregel Publications, 1998, hlm. 153).

Tidak diragukan lagi bahwa Dr. Larsen belajar untuk mencari-cari kesalahan Luther tentang subyek ini di Fuller Theological Seminary yang sudah liberal itu, yaitu sebuah sekolah neo-evangelikal di mana Larsen memperoleh gelar Master-nya itu. Saya telah menemukan bahwa para mahasiswa Fuller dengan cepat belajar mengkritik para pahlawan iman kita di masa lalu. Itu adalah cara yang diajarkan kepada saya di dua seminari liberal di mana saya pernah kuliah di sana. Namun saya menolak pengaruh itu, namun Larsen tidak! Larsen berkata, “Luther benar-benar orang abad pertengahan… Luther melihat semua umat manusia ‘terkunci dalam konflik antara Tuhan dan Iblis seakan Penghakiman Terakhir dengan cepat semakin mendekat’” Apa yang salah dengan itu? Di usia tua Luther mengatakan beberapa hal dari pikiran orang abad pertengahan tentang orang Yahudi, dan hal-hal lainnya, yang dengan tegas saya tolak. Namun Luther tidak salah berpikir bahwa umat manusia “Terkunci dalam konflik antara Tuhan dan Setan”! Ia sungguh benar tentang hal itu – karena itu adalah apa yang Alkitab ajarkan!

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (I Petrus 5:8).

Kebanyakan dari apa yang Luther ajarkan tentang Iblis dan roh-roh jahat adalah benar keluar dari Alkitab.

I. Pertama, Luther benar ketika ia berbicara tentang asal usul Iblis dan roh-roh jahat.

Luther berkata,

[Dari manakah Iblis datang?] Ini adalah fakta-fakta yang patut diyakini: Para malaikat yang jatuh dan iblis telah diubah dari malaikat terang menjadi malaikat kegelapan….

Alkitab berkata bahwa Luther benar,

“Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi! Sebaliknya, ke dalam dunia orang mati engkau diturunkan, ke tempat yang paling dalam di liang kubur” (Yesaya 14:12-15).

Luther berkata,

[Ada malaikat baik dan malaikat jahat [namun] Allah menciptakan mereka semua baik. Namun kemudian para malaikat jahat jatuh dan tidak berdiri teguh dalam kebenaran… Itu sangat mungkin bahwa mereka jatuh karena kesombongan, karena mereka merendahkan… Anak Allah, dan ingin mengagungkan dirinya sendiri di atas Dia (Plass, ibid. hlm. 391).

Alkitab berkata bahwa Luther benar. Baik Alkitab maupun Luther mengatakan apa yang Yehezkiel 28:13-17 jelaskan kepada kita,

“Engkau [Setan] di taman Eden, yaitu taman Allah penuh segala batu permata yang berharga: yaspis merah, krisolit dan yaspis hijau, permata pirus, krisopras dan nefrit, lazurit, batu darah dan malakit. Tempat tatahannya diperbuat dari emas dan disediakan pada hari penciptaanmu. Kuberikan tempatmu dekat kerub yang berjaga, di gunung kudus Allah engkau berada dan berjalan-jalan di tengah batu-batu yang bercahaya-cahaya. Engkau tak bercela di dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu. Dengan dagangmu yang besar engkau penuh dengan kekerasan dan engkau berbuat dosa. Maka Kubuangkan engkau dari gunung Allah dan kerub yang berjaga membinasakan engkau dari tengah batu-batu yang bercahaya. Engkau sombong karena kecantikanmu, hikmatmu kaumusnahkan demi semarakmu. Ke bumi kau Kulempar, kepada raja-raja engkau Kuserahkan menjadi tontonan bagi matanya” (Yehezkiel 28:13-17).

Dan berhubungan dengan para malaikat yang jatuh yang telah menjadi roh-roh jahat itu, Surat Yudas mengatakan,

“Dan bahwa Ia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar” (Yudas 6).

Beberapa dari para malaikat yang telah jatuh dibelenggu dalam Neraka. Namun kebanyakan dari mereka adalah roh-roh jahat yang kita hadapi di dunia hari ini. Luther berkata, “Dan walaupun dunia ini dipenuhi dengan roh-roh jahat.” “Iblis” adalah kata kuno untuk “roh-roh jahat.” Nyanyikan ini!

Walaupun dunia sangat jahat,
Janganlah ketakutan:
Umat Tuhan pastilah s’lamat;
Roh Allah menguatkan
(“A Mighty Fortress Is Our God” by Martin Luther, stanza three.)

II. Kedua, Luther benar ketika ia berkata bahwa Iblis adalah penyebab kesedihan dan keputus-asaan.

Luther berkata,

[Semua kesedihan adalah dari iblis, karena ia adalah tuan dari kematian. Oleh sebab itu kesedihan dalam hubungan kita dengan Allah kebanyakan pastilah pekerjaan si iblis (Plass, ibid., hlm. 398).

[Reformator ini secara terus menerus menyebut iblis sebagai roh dari kesedihan; Setan membenci terang, kehidupan, dan tawa; karena ia adalah roh kegelapan dan keputusasaan, dan ia senang menarik manusia ke dalam kegelapan dan keputusasaan, merepresentasikan kasus orang berdosa sebagai tanpa pengharapan (mengomentari Luther, Plass, ibid., hlm. 397-398).

Luther berkata,

“[Iblis] menembakkan pikiran-pikiran mengerikan ke dalam hati: Kebencian terhadap Allah, penghujatan, dan keputus-asaan. Semua itu adalah “anak panah api,” Efesus 6:16” (Plass, ibid., hlm. 399).

Semua itu adalah hal-hal yang riil yang benar-benar sedang terjadi hari ini, bagi orang-orang yang kita kenal secara pribadi. Salah satu diaken kita pernah berbicara dengan seorang pemuda dalam ruang pemeriksaan. Anak muda itu berkata, “Allah tidak mengasihi saya. Yesus tidak mengasihi saya.” Seperti yang Luther katakan, ini jelas merupakan pikiran yang datang dari Setan, “penghujatan dan keputus-asaan.” Kemudian diaken tersebut mambacakan untuknya, dari Alkitab,

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

Ketika diaken tersebut bertanya kepadanya apakah ia mempercayai ayat itu, ia menolak untuk menjawab. Iblis sendirilah yang menghentikan dia untuk menjawab! Iblis mencoba menghalangi kita mendengar Alkitab, dan menghalangi kita menerimanya ketika kita mendengarkannya. Luther berkata, “Semua kelicikan iblis ditunjukkan dalam usaha untuk memaksa kita menjauh dari Firman [Allah]” (Plass, ibid., hlm. 396).

Seorang wanita muda berkata kepada diaken yang sama ini, “Saya tidak mungkin diampuni, dan saya tidak tahu mengapa.” Ia mungkin tidak tahu mengapa, namun saya tahu. Ia tidak mengalami pengampunan karena ia terus mempercayai pikiran-pikiran yang Setan taruh dalam pikirannya, dari pada percaya janji-janji Alkitab. Ia menolak perkataan Kristus, “Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang” (Yohanes 6:37). Luther berkata bahwa Iblis “menembakkan pikiran-pikiran mengerikan ke dalam hati: [pikiran-pikiran] keputus-asaan.” Ia berkata, “Semua kelicikan iblis ditunjukkan dalam usaha untuk memaksa kita menjauh dari Firman [Allah].”

III. Ketiga, Luther benar ketika ia menunjukkan bahwa kesedihan dan keputus-asaan tidak sama seperti keinsafan akan dosa.

Luther berkata bahwa kesedihan dan keputus-asaan datang dari Iblis. Namun ia mengajar bahwa keinsafan akan dosa datang dari Allah. Alkitab membuat pembedaan yang sama,

“Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan… tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian” (II Korintus 7:10).

Luther berbicara tentang keinsafan akan dosa yang datang sebelum pertobatan. Ia berkata,

[Ini perlu, jika Anda mau bertobat, bahwa Anda harus dibuat menjadi ngeri, yaitu bahwa Anda diperingatkan oleh hati nurani. Kemudian, setelah kondisi ini telah tercipta, Anda akan menerima penghiburan yang datang bukan dari pekerjaan Anda sendiri, namun dari pekerjaan Allah. Ia telah mengutus Anak-Nya Yesus Kristus ke dalam dunia agar supaya memproklamirkan anugerah Allah kepada orang-orang berdosa yang telah ngeri menyadari keadaannya. Ini adalah cara pertobatan yang telah ditetapkan; semua cara yang lain adalah cara yang salah (Plass, ibid., p. 343).

Luther berkata,

[Oleh pembenaran kita maksudkan bahwa kita ditebus dari dosa, kematian dan iblis dan dibuat menjadi bagian dari para penerima hidup kekal, bukan oleh diri kira sendiri, namun tiada lain selain oleh pertolongan dari Anak Allah yang tunggal (Plass, ibid., hlm. 343).

Luther berkata,

Tidak ada lagi yang disyaratkan untuk pembenaran selain dari pada mendengar Yesus Kristus dan percaya kepada Dia… (Plass, ibid., hlm. 707).

Pada poin-poin ini orang-orang Protestan Alkitabiah dan orang-orang Baptis klasik setuju dengan Reformator Agung, Luther ini. Rasul Paulus sendiri berkata, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat” (Kisah Rasul 16:31). Tidak ada yang lain yang diperlukan! Kita diselamatkan oleh iman di dalam Kristus saja! Mari kita membuka pujian nomer tiga pada lembar pujian Anda. Nyanyikan ini!

Allah kita Benteng teguh, Naungan dan perisai,
Penolong kita yang sungguh, Di dalam ombak badai,
Meski Iblis keji, Melanda tak henti
Dengan kuasanya, Yang tiada bandingnya
Di atas bumi ini

Yang tinggi hati ‘kan jatuh, Yang bersandar kan diri:
Usaha kita ‘kan runtuh, Tanpa kuasa ilahi.
Siapa berkuasa? Kristuslah Sang Raja,
Panglima s’kalian, Yang tak terkalahkan,
Memb’rikan kemenangan!

Walaupun dunia sangat jahat, Janganlah ketakutan:
Umat Tuhan pastilah s’lamat; Roh Allah menguatkan
Walau kita mati, walau anak istri
Dan harta pun musnah, Tuhan tak berubah:
Kekal kerajaan-Nya

Firman itu di atas semua kuasa di bumi
Roh dan karunia adalah milik kita Melalui Dia yang mendampingi kita.
Walau mati, walau anak istri
Dan harta pun musnah, Tuhan tak berubah:
Kekal kerajaan-Nya
(“A Mighty Fortress Is Our God” by Martin Luther, 1483-1546;  diterjemahkan oleh Frederick H. Hedge, 1805-1890/
Terjemahan Nyanyian Pujian No. 19.)

SKETSA KEHIDUPAN LUTHER OLEH SPURGEON

“Orang benar akan hidup oleh iman” (Roma 1:17).

Spurgeon berkata,

[Saya akan meringkaskan dan menggambarkan pengajaran ini dengan menekankan peristiwa-peristiwa tertentu dalam kehidupan Luther. Cahaya Injil pada diri Reformator besar ini menyeruak secara perlahan. Itu ada di biara itu, ketika membuka Alkitab tua yang dirantai di sebuah tiang di biara itu, ia membaca pesan ini – “Orang benar akan hidup oleh iman.” Kalimat sorgawi ini menusuk dia: namun dia begitu sulit memahami segala kebenaran di dalamnya. Bagaimanapun ia tidak dapat menemukan damai sejahtera dalam profesi religiousnya dan kebiasan-kebiasaannya sebagai biarawan. Tidak mengetahui yang lebih baik, ia bertekun dalam berbagai cara untuk menyucikan diri, dan sangat dibebani rasa bersalah, sehingga kadang-kadang ia ditemukan pingsan karena kelelahan. Ia menyebabkan dirinya sendiri hampir mati. Ia harus membuat perjalanan ke Roma, karena di Roma ada gereja yang menyegarkan setiap hari, dan Anda mungkin yakin memperoleh pengampunan dosa-dosa dan segala berkah di tempat suci yang kudus ini. Ia ingin sekali masuk kota suci [Roma]; namun ia menemukan di sana adalah tempatnya kemunafikan dan sarang kejahatan. Yang membuatnya ngeri ia mendengar orang-orang berkata bahwa jika neraka itu ada, Roma dibangun di atasnya, karena kota itu yang paling dekat dengannya yang dapat ditemukan di dunia ini; namun ia masih percaya kepada Paus dan ia terus mencari pengampunan dosa, mencari kelegaan, namun tidak pernah menemukannya. Suatu hari ia menaiki Sancta Scala [“Tangga Kudus”] yang berdiri di Roma dengan lututnya. Saya sungguh kagum karena pada tangga ini saya melihat makhluk-makhluk lemah naik dan turun dengan lututnya karena percaya bahwa itu benar-benar tangga di mana Tuhan kita turun ketika ia meninggalkan istana Pilatus, dan tentu pada setiap tangga tersebut ditandai dengan tetesan-tetesan darah [Kristus]; jiwa-jiwa miskin ini menciuminya dengan penuh khidmat. Yah. Luther merayap menaiki tanga-tanga tersebut selama satu hari ketika ayat yang sama yang pernah ia baca sebelumnya di biara, kedengaran seperti menggelegar di telinganya, “Orang benar akan hidup oleh iman.” Ia bangkit dari sujudnya dan menuruni tangga-tangga itu sebelum sampai ke atas. Pada saat itu Tuhan membawanya sepenuhnya keluar dari takhyul, dan ia melihat bahwa bukan oleh para imam, juga bukan oleh sekumpulan imam, juga bukan oleh pengakuan dosa, juga bukan oleh apapun yang ia dapat lakukan, yang membuat ia hidup, namun bahwa ia harus hidup oleh imannya [di dalam Kristus]. Ayat kita [malam] ini telah membuat biarawan [Katolik] ini bebas, dan jiwanya diselamatkan dari api.

[“Orang benar akan hidup oleh iman” (Roma 1:17).]

Ketika Luther akhirnya memahami bahwa ayat itu ia percaya hanya kepada Kristus saja. Ia menulis kepada ibunya, “Saya merasakan diri saya sendiri dilahirkan kembali dan menemukan pintu terbuka ke dalam firdaus.” Spurgeon berkata,

[Tidak lama setelah ia mempercayai ini ia hidup mengahadapi bahaya. Seorang [imam], yang bernama Tetzel, sedang berkeliling seluruh Jerman untuk menjual surat pengampunan dosa untuk memperoleh banyak uang. Tidak peduli seberapapun dosa Anda, segera ketika uang Anda menyentuh dasar kotak [pengumpulan uang] dosa-dosa Anda terhapuskan. Luther mendengar tentang ini, dan mulai marah, dan berseru, “Saya akan melubangi drumnya,” dan ia sungguh-sungguh melakukannya, dan terhadap beberapa drum lainnya. Memakukan dalil-dalilnya pada pintu gerbang adalah cara yang tepat untuk menghentikannya. Luther mengumumkan pengampunan dosa melalui iman di dalam Kristus tanpa uang dan tanpa bayaran, dan kegemaran Paus ini segera menjadi obyek olok-olok. Luther hidup dengan imannya, dan oleh sebab itu ia yang dibuatnya bungkam, dan dituduh bersalah menjadi geram seperti singa yang meraung-raung terhadap mangsanya. Iman yang hidup di dalamnya memenuhinya dengan kehidupan yang kuat, dan ia siap untuk berperang melawan musuh. Setelah ketika mereka memanggil dia untuk pergi ke Augsburg, dan ia pergi ke Augsburg, walaupun teman-temannya menasehati dia untuk tidak pergi. Mereka memanggil dia, sebagai seorang penyesat, untuk memberi jawaban bagi dirinya di Diet of Worms [Dewan Kerajaan], dan setiap orang menasehati dia untuk melarikan diri, karena ia pasti akan dibakar [pada sebuah tiang] di sana; namun ia merasa perlu untuk memberi kesaksian dan menerima resikonya, dan oleh sebab itu dengan sebuah kereta ia pergi melewati desa ke desa dan dari kota ke kota, sambil berkhotbah dalam perjalanannya, orang-orang miskin keluar untuk menyetujui orang yang berdiri tegak demi Kristus dan Injil yang mengambil resiko kehilangan nyawanya itu. Anda ingat bagaimana ia berdiri di hadapan dewan mulia [di Worms] itu, dan walaupun ia tahu bahwa ia akan membayar harga dengan hidupnya, mungkin karena ia bersedia [dibakar pada tiang] seperti John Huss, namun ia [berlaku seperti] seorang laki-laki demi Tuhan Allahnya. Hari itu di German Diet [Pengadilan Jerman] Luther melakukan pekerjaan yang membuat anak-anak dari sepuluh ribu kali sepuluh ribu ibu memuji namanya, dan lebih memuji nama Tuhan Allahnya (C. H. Spurgeon, “A Luther Sermon at the Tabernacle,” The Metropolitan Tabernacle Pulpit, Pilgrim Publications, 1973 reprint, Volume XXIX, hlm. 622-623).

“Orang benar akan hidup oleh iman” (Roma 1:17).

Perjumpaan pertama saya dengan Luther adalah di gereja Baptis, pada waktu yang sudah lama berlalu, sekitar permulaan tahun 1950-an. Suatu Minggu malam mereka menunjukkan film hitam putih tentang kehidupan dia. Pada waktu itu ia nampak seperti tokoh aneh dari masa lalu, yang tidak memiliki sesuatu yang membuat saya tertarik. Film itu nampak membosankan dan panjang, dan saya heran mengapa pendeta saya, Dr. Walter A. Pegg, bahkan ingin sekali menunjukkan film itu.

Perjumpaan kedua saya dengan Luther datang kemudian, setelah saya bertobat. Saya membaca tentang pengalaman pertobatan John Wesley, yang mana Wesley berkata demikian,

Pada malam itu saya pergi dengan setengah hati ke persekutuan di Aldersgate Street, di mana Luther’s preface to the Epistle to the Romans (pengantar Luther untuk Surat Roma) dibacakan. Sekitar pukul sembilan kurang seperempat, ketika ia sedang menjelaskan perubahan yang Allah kerjakan dalam hati melalui iman di dalam Kristus, saya merasa hati saya dengan aneh merasakan kehangatan. Saya merasa bahwa saya telah percaya kepada Kristus, Kristus saja untuk keselamatan; dan jaminan diberikan kepada saya, bahwa Ia telah menghapus semua dosa saya, bahkan menjadi milik saya, dan saya telah diselamatkan dari hukum dosa dan kematian (John Wesley, The Works of John Wesley, third edition, Baker Book House, 1979 reprint, volume I, hlm. 103) .

Ini membuat suatu kesan bagi saya, karena saya tahu bahwa Wesly kemudian menjadi salah satu dari dua pengkhotbah paling penuh kuasa pada Kebangunan Rohani Agung Pertama (First Great Awakening). Wesley bertobat ketika mendengarkan kata-kata Luther tentang pembenaran oleh iman di dalam Kristus.

Meski demikian kemudian saya belajar bahwa John Bunyan, nenek moyang Baptis kita, membaca tulisan Luther ketika ia menjadi sungguh bertobat, “meningkatkan studinya tentang Kitab Suci dengan tulisan-tulisan Martin Luther” (Pilgrim’s Progress, Thomas Nelson, 1999 reprint, pengantar dari penerbit, hal. xii). Bunyan kemudian menjadi seorang penulis Baptis yang tulisan-tulisannya paling banyak dibaca di seluruh dunia dari segala masa!

John Wesley, seorang Methodist, telah bertobat dengan mendengar perkataan-perkataan Luther. John Bunyan, seorang Baptis, ditolong dalam pergumulannya untuk pertobatan melalui membaca tulisan-tulisan Luther. Saya pikir bahwa seharusnya ada banyak hal baik yang diperoleh dengan membaca pemikiran Luther.

Dr. R. L. Hymers, Jr.


SIX MODERN ERRORS ABOUT REVIVAL

Pertama saya tertarik tentang tema kebangunan rohani sejak tahun 1961. Saya membeli sebuah buku kecil di Toko Buku Biola tentang Kebangunan Rohani Pertama (“First Great Awakening”). Ini berisi sari dari Jurnal John Wesley, dan diterbitkan oleh Moody Press. Saya telah memikirkan dan sekarang masih memikirkan tentang kebangunan rohani, dan doa untuk itu, selama lebih dari 48 tahun. Adalah suatu kebahagiaan bagi saya dengan mengalami dua kebangunan rohani yang luar biasa di gereja Baptis. Ini bukan kebaktian kebangunan rohani, atau kebaktian “karismatik.” Itu adalah dua kebangunan rohani seperti yang Anda baca dalam buku-buku sejarah Kekristenan.

Setelah 48 tahun membaca dan berpikir tentang tema ini, saya tidak menganggap diri saya sendiri sebagai ahli di bidang kebangunan rohani. Saya merasa seperti orang yang baru belajar, baru mulai untuk memahami beberapa kebenaran penting berhubungan dengan kebangunan rohani.

Dulu saya pernah membuat kesalahan berhubungan dengan kebangunan rohani. Selama beberapa tahun saya telah disesatkan oleh tulisan-tulisan Charles G. Finney. Bahkan sekarang saya masih tidak yakin bahwa saya sudah memahami tema ini secara lengkap,

“Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar” (I Korintus 13:12).

Namun malam ini saya akan memberikan enam kesalahan tentang kebangunan rohani kepada Anda, yaitu hal-hal yang saya percaya adalah suatu kesalahan. Saya berharap agar poin-poin ini akan membantu Anda ketika Anda berdoa memohon Tuhan mengirimkan kebangunan rohani.

I. Pertama, adalah salah ketika kita harus memfokuskan pada karunia-karunia Rasul untuk memiliki kebangunan rohani.

Walaupun saya tidak membenci orang Pentakosta, namun saya pikir mereka salah. Dan saya pikir penekanan mereka pada karunia-karunia Rasul telah menghalangi terjadinya kebangunan rohani yang riil. Iain H. Murray berkata,

Karunia-karunia seperti itu tidak dikenal pada zaman Chrysostom (+ 347-407) dan Augustine (+ 354-430). Hal itu juga tidak pernah dimiliki oleh para… pemimpin di beberapa kebangunan rohani dari zaman Reformasi sampai abad ini… Para Reformator hanya berfokus kepada Kitab Suci. Mereka mengklaim kebenaran Rasuli, bukan karunia-karunia Rasul. Begitu juga pada periode kaum Puritan, sampai Kebangunan Rohani (Great Awakening) zaman Edwards, Whitefield dan the Wesleys, hingga zaman Spurgeon. Semua sepaham dengan Whitefield bahwa “karunia-karunia melakukan mujizat seperti yang pernah terjadi pada jemaat mula-mula sudah berhenti sejak dulu.” Jika beberapa pemimpin dipenuhi oleh Roh Kudus, seperti mereka, agar dapat melakukan pekerjaan melakukan mujizat, sungguh aneh bila mereka tidak mengenal karunia-karunia melakukan mujizat… Semua klaim tentang fenomena luar biasa seperti itu baru muncul sekitar tiga puluh lima tahun belakang ini – berbahasa roh, kesembuhan ilahi, nubuatan dan ”rebah dalam Roh” – jauh dari mempersiapkan untuk kebangunan rohani, dan malah agaknya malah mengacaukan kebenaran-kebenaran agung yang Roh selalu muliakan di dalam mengobarkan kebangunan-kebangunan rohani (Iain H. Murray, Pentecost Today? – the Biblical Basis for Understanding Revival, Banner of Truth, 1998, hal. 197-199).

Penekanan karunia-karunia Rasul telah menyebabkan banyak orang justru menjauhkan diri mereka sendiri dari pikiran tentang Roh Kudus dan kebangunan rohani. Ini memalukan, karena pekerjaan utama dari Roh Kudus telah dijelaskan kepada kita oleh Yesus, di dalam Yohanes 16:8

“Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman.”

Kita sungguh membutuhkan Roh Kudus untuk melakukan pekerjaan ini di gereja-gereja kita hari ini.

Dan, kemudian, pekerjaan agung Roh Kudus lainnya dijelaskan kepada kita dalam Yohanes 15:26,

“Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.”

Kita membutuhkan pekerjaan Roh Kudus yang menginsafkan. Kita membutuhkan kesaksian-Nya tentang Kristus. Ini adalah hal-hal yang Allah harus lakukan di tengah-tengah kita jika kita ingin memiliki kebangunan rohani, kebangunan rohani seperti yang pernah terjadi di sepanjang sejarah!

II. Kedua, adalah salah ketika kita berpikir tidak mungkin ada kebangunan rohani pada zaman ini.

Saya tidak akan menghabiskan banyak waktu untuk membahas ini, namun saya harus menekankan ini karena begitu banyak mempercayaai pernyataan di atas. Mereka berkata hal-hal seperti, “Hari-hari yang agung dari kebangunan rohani telah berakhir. Kita ada di hari-hari yang terakhir. Tidak akan ada lagi kebangunan rohani.” Ini adalah pemikiran umum di kalangan orang-orang Kristen yang menjunjung tinggi Alkitab hari ini.

Namun saya percaya pandangan demikian salah karena tiga alasan berikut ini:

(1)  Alkitab berkata, “Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita” (Kisah Rasul 2:39).

(2)  Kebangunan rohani terbesar dari semua yang pernah terjadi akan terjadi di tengah-tengah Kesusahan Besar, di bawah penganiayaan Antikristus, di akhir zaman ini (band. Wahyu 7:1-14).

(3)  Kebangunan rohani terbesar dalam sepanjang sejarah Timur Jauh sedang terjadi tepat sekarang, malam ini, di Republik Rakyat China dan Negara-negara di Asia Tenggara. Kebangunan rohani terbesar dari zaman modern ini sedang terjadi di sana tepat sekarang!

 

Adalah kesalahan yang mengerikan jika ada yang berpikir bahwa tidak mungkin ada kebangunan rohani hari ini!

III. Ketiga, adalah salah ketika kita berpikir bahwa kebangunan rohani bergantung pada usaha-usaha penginjilan.

Ini adalah kesalahan umum di antara gereja Baptis Selatan dan lainnya. Ide ini diturunkan kepada mereka dari Charles G. Finney, yang berkata, “Kebangunan rohani secara alami adalah hasil dari penggunaan sarana yang sesuai dan keberhasilan itu adalah karena sarana yang digunakan sesuai (C. G. Finney, Lectures on Revival, Revell, n.d., hal. 5). Banyak gereja hari ini mengiklankan “kebangunan rohani” mulai pada hari tertentu – dan berakhir pada hari tertentu! Ini adalah murni Finneyisme! Kebangunan rohani tidak bergantung pada usaha-usaha penginjilan dan memenangkan jiwa yang kita lakukan!

Mari kita bersama-sama membuka Kisah Rasul 13:48-49,

“Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. Lalu firman Tuhan disiarkan di seluruh daerah itu.”

Namun sebelum saya mengomentari dua ayat tersebut, Anda harus memahami bahwa saya tidak mempertahankan semua poin dari kelima poin Calvinisme. Itulah sebabnya mengapa beberapa orang berkata bahwa saya adalah “Reformed moderat.” Saya baru saja menjelaskan kepada Anda sehinga Anda akan mengetahui perspektif saya. Ketika saya mengutip ayat ini, saya tidak harus dipaksa untuk mengakui bahwa hanya “semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.“ Walaupun Injil “diberitakan ke seluruh daerah itu” hanya orang-orang ini yang “ditentukan untuk hidup kekal yang menjadi percaya.”

Saya pikir dua ayat ini membersihkan ide bahwa kebangunan rohani bergantung pada usaha-usaha penginjilan. Ya, kita diperintahkan untuk “memberitakan Injil kepada segala mahkluk” (Markus 16:15) – namun tidak setiap mahkluk akan percaya! Pada masa-masa kebangunan rohani lebih banyak orang percaya dibandingkan dengan masa-masa yang lain – namun sungguh jelas bahwa kebangunan rohani tidak bergantung pada usaha-usaha penginjilan kita saja.

Ada suatu misteri berhubungan dengan semua ini – karena ada hal-hal yang berhubungan dengan pertobatan dan kebangunan rohani terjadi melampaui akal manusia. Kita diperintahkan untuk memberitakan Injil kepada orang-orang terhilang entah mereka mau percaya atau tidak. Namun kebangunan rohani bergantung pada Allah, bukan pada usaha-usaha penginjilan kita.

IV. Keempat, adalah salah ketika kita berpikir bahwa kebangunan rohani bergantung pada dedikasi orang-orang Kristen.

Saya tahu bahwa seseorang dapat mengutip II Tawarikh 7:14. Namun ini nampak aneh mengapa mereka tidak mengutip dari ayat Perjanjian baru untuk mendukung teori mereka bahwa kebangunan rohani bergantung pada orang-orang Kristen yang “hidup benar bersama Tuhan.” Mengapa harus ayat ini, yaitu ayat yang diberikan kepada Salomo, yang digunakan sebagai suatu rumusan untuk kebangunan rohani gereja Perjanjian Baru? Saya tidak melihat alasan untuk melakukan itu di mana seorang pengkhotbah mengirimkan kapal-kapal dari gerejanya, “membawa emas dan perak serta gading; juga kera dan burung meraks” seperti yang Salomo lakukan dalam II Tawarikh 9:21, hanya dua pasal kemudian!

Iain H. Murray berbicara berhubungan dengan II Tawarikh 7:14, “Hal pertama untuk mengatakan secara yakin bahwa apa yang dijanjikan bukan kebangunan rohani [Perjanjian Baru], untuk janji ini seharusnya dimengerti, pertama dalam hubungannya dengan waktu yang mana itu diberikan. Ini adalah janji untuk Israel Perjanjian Lama dan tanah mereka yang akan dipulihkan seperti dikatakan di sini” (Murray, ibid., hal. 13).

Ide bahwa kebangunan rohani bergantung pada dedikasi orang-orang Kristen adalah faham yang berasal dari Finney. Jonathan Goforth, orang yang lebih baik dari Finney, namun ia menggemakan pengajaran Finney ketika ia berkata, “Dosa yang tidak disadari, satu-satunya, yang dapat menghalangi kebangunan rohani terjadi di antara kita… Pentakosta belum ada di genggaman kita. Jika kebangunan rohani masih belum terjadi di tengah kita itu karena masih ada beberapa berhala yang masih bertahta [di antara kita]” (Jonathan Goforth, By My Spirit, 3rd edition, Marshall, Morgan and Scott, n.d., hal. 181, 189).

Winston Churchill suatu kali menulis kepada anak muda yang adalah cucunya, ia meminta kepada cucunya itu untuk mempelajari sejarah, karena sejarah menyediakan sarana-sarana terbaik untuk membuat prediksi yang paling cerdas tentang masa depan. Berikut ini adalah ucapan Churchill, “Mempelajari sejarah,” kita menemukan ide bahwa kebangunan rohani bergantung pada “kesetiaan penuh” orang-orang Kristen adalah tidak benar. Nabi Yunus tidak sepenuhnya setia kepada Allah. Bacalah pasal terakhir dari Kitab Yunus, dan Anda akan melihat kurangnya dan ketiadaan imannya. Tidak, kebangunan rohani terbesar di antara orang-orang non Yahudi dalam Perjanjian Lama tidak bergantung pada “penyerahan mutlak” atau “kesempurnaan” seorang Nabi. John Calvin bukanlah orang yang sempurna. Ia pernah membakar seseorang pada sebuah tiang karena dianggap bidat – yang sungguh tidak menunjukkan sikap Perjanjian Baru. Namun Tuhan mengirimkan kebangunan rohani di bawah pelayanannya, dan melalui tulisan-tulisannya. Luther kadang-kadang mempunyai perangai yang tidak baik, dan ia pernah berkata bahwa sinagog-sinagog Yahudi harus dibakar. Namun kendati Luther kadang-kadang sangat sinis, dan anti-Semitisme, namun Tuhan mengirimkan kebangunan rohani di bawah pelayanannya. Kita dapat memaafkan Calvin dan Luther karena kita sadar bahwa mereka adalah orang-orang dari abad pertengahan, yang masih dipengaruhi tindakan-tindakan seperti ini oleh Katolikisme. Namun, kendati ada kekurangan pada diri mereka, Allah mengirim kebangunan rohani Reformasi yang agung di bawah pelayanan mereka. Whitefield kadang-kadang membuat kesalahan berhubungan dengan “kesan-kesan batiniah” yang secara salah ia pikir berasal dari Allah. Wesley memilih untuk membuang undi (melempar dadu) untuk menentukan kehendak Allah. Spurgeon sering dipersalahkan karena ia kadang-kadang menghisap cerutu, walaupun dengan jujur kita harus menyadari bahwa ini bukan hal yang baik. Para pengikut Victoria adalah pecandu kopi. J. Frank Norris kadang-kadang kurang bersemangat. Kita dapat memaafkan dia karena kita menyadari tekanan yang luar biasa yang menekan dia, ketika ia memulai gerakan Baptis independent, seperti yang ia alami. Namun Whitefield, Wesley, Spurgeon, Luther, Calvin dan Norris melihat kebangunan rohani pada pelayanan mereka.

Kita melihat, dari contoh-contoh dalam sejarah ini, bahwa orang-orang yang tidak sempurna, kadang-kadang orang-orang yang tidak sesuci atau setia sebagaimana seharusnya mereka menjadi, dengan luar biasa dipakai Tuhan pada masa-masa kebangunan rohani. Kita harus dengan jujur menyimpulkan bahwa Finney dan para pengikutnya salah ketika mereka berkata bahwa kebangunan rohani bergantung pada orang-orang Kristen yang sepenuhnya menjadi setia/ terdedikasi. Rasul Paulus menjelaskan kepada kita bahwa,

“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (II Korintus 4:7).

Anda lihat, kebangunan rohani tidak bergantung pada orang-orang Kristen yang mendedikasikan hidup mereka secara sepenuhnya, atau mendedikasikan diri mereka kembali. Tidak – kebangunan rohani bergantung pada “kekuatan yang melimpah-limpah… berasal dari Allah, bukan dari diri kita” (II Korintus 4:7).

Dengan menggunakan II Tawarikh 7:14, Bill Bright pernah mengajar bahwa orang-orang Kristen yang sedang bertobat dan berpuasa dan mendedikasikan hidup mereka akan menghasilkan kebangunan rohani. Namun Mr. Bright salah, walaupun ia adalah orang baik dalam banyak hal. Ia dengan tidak sadar sedang mempromosikan ide Finney bahwa manusia dapat membuat kebangunan rohani terjadi dengan konsentrasi penuh. Namun, sungguh menyedihkan, tidak ada kebangunan rohani terjadi di dunia Barat sebagai hasil dari usaha-usaha Bright. Mengapa? Karena kebangunan rohani sejati tidak bergantung pada dedikasi orang-orang Kristen. Itu hanya bergantung pada ”kekuatan yang melimpah-limpah… berasal dari Allah, bukan dari diri kita” (II Korintus 4:7).

Saya akan menutup poin ini dengan mengacu kepada khotbah Stefanus kepada Sanhedrin. Secara spesifik kita diberitahu bahwa Stefanus “penuh dengan karunia dan kuasa, [dan] mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak” (Kisah rasul 6:8). Namun Stefanus tidak melihat kebangunan rohani datang dari khotbahnya. Sebaliknya, ia dirajam batu sampai mati. Ia adalah orang suci dan benar, namun ini tidak dengan sendirinya menghasilkan kebangunan rohani dalam pelayanannya. Kita dapat berpuasa dan berdoa, dan menjadi orang-orang Kristen yang benar-benar luar biasa, namun ini tidak akan memaksa Allah mengirimkan kebangunan rohani. Mengapa? Rasul Paulus memberikan jawabannya,

“Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan”
 (I Korintus 3:7).

Segalamuliaan dalam kebangunan rohani harus ditujukan kepada Allah – dan tak satupun kemuliaan itu harus ditujukan kepada manusia, bahkan orang-orang yang baik dan suci! Jadi, Anda seharusnya tidak berpikir bahwa jika kita melalui pertobatan mendalam dan pendedikasian diri secara mendalam maka ini akan secara otomatis mendatangkan kebangunan rohani. Itu adalah ide palsu dari Finney. Saya tidak mengatakan bahwa Anda tidak harus menyucikan diri Anda di hadapan Allah. Anda semua harus melakukan itu! Namun kita seharusnya ingat bahwa kita tidak sedang berhubungan dengan magis! Kita tidak dapat memaksa Allah untuk mengirimkan kebangunan rohani melalui dedikasi diri kita. Belakangan ini saya membaca di mana seseorang berkata, “Kebangunan rohani akan terjadi ketika kita berdoa secara jujur dengan dedikasi penuh kita.” Bagi saya itu lebih menyerupai “sihir!” Kita harus merendahkan diri kita dan berusaha tidak peduli seberapa “sungguh-sungguhnya” kita berdoa, dan tidak peduli seberapa “penuh” dedikasi kita, namun pada akhirnya Allah lah yang berkehendak entah Ia mau atau tidak mengirimkan kebangunan rohani. Itu terserah kita! Ya, kita harus secara terus menerus berdoa untuk kebangunan rohani, dan pada saat yang sama, selalu mengingat “melainkan Allah yang memberi pertumbuhan” (I Korintus 3:7). Itu adalah kedaulatan kuasa Allah sendiri yang menghasilkan kebangunan rohani sejati!

V. Kelima, adalah salah ketika kita berpikir bahwa kebangunan rohani adalah suatu keadaan yang seperti biasanya yang kita harapkan terjadi di gereja.

Roh Kudus dicurahkan atas para Rasul pada hari Pentakosta. Mereka berkhotbah di hadapan orang banyak dalam bahasa mereka masing-masing, dan tiga ribu orang bertobat pada kebangunan rohani yang luar biasa itu, sebagimana dicatat dalam Kisah Rasul, pasal dua. Namun kita menemukan bahwa mereka perlu di penuhi Roh Kudus lagi, seperti yang dicatat dalam Kisah Rasul 4:13,

“Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani”
(Kisah Rasul 4:31).

Ini menunjukkan kepada kita bahwa ada masa-masa dari kebangunan rohani pada jemaat mula-mula. Namun ada saat-saat lain ketika gereja berjalan seperti biasanya, hari berganti hari secara biasanya. Saya pikir ini adalah apa yang Rasul Paulus maksudkan ketika ia berkata, “siap sedialah baik atau tidak baik waktunya” (II Timotius 4:2). Saya pikir ini berarti bahwa kita harus terus berkhotbah dan berdoa serta bersaksi entah ada kebangunan rohani atau tidak. Kristus memanggil kita untuk mentaati Amanat Agung (Matius 28:19-20), dan “beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Markus 16:15) entah ada kebangunan rohani atau tidak! Orang-orang akan dipertobatkan bahkan ketika tidak ada gerakan Allah yang tidak seperti biasanya.

Jika kita berpikir bahwa kebangunan rohani adalah cara Allah berkerja seperti biasanya, kita akan menjadi berkecil hati. Iain H. Murray berkata,

Sampai pada titik ini George Whitefield harus lebih dulu memperhatikan temannya William McCulloch, seorang hamba Tuhan dari Cambuslang [Scotlandia]. Pada tahun 1749 McCulloch berkecil hati oleh karena ia tidak lagi melihat apa yang mereka pernah saksikan pada kebangunan rohani tahun 1742. Respon Whitefield adalah mengingatkan dia bahwa 1742 bukanlah norma untuk gereja: “Saya harus senang mendengar tentang kebangunan rohani [lain] di Cambuslang; namun, tuan terkasih, Anda telah melihat hal-hal yang jarang dilihat di atas suatu kali dalam abad ini.” Martyn Lloyd-Jones mengacu kepada kejadian yang serupa dalam kasus hamba Tuhan dari Welsh bahwa “seluruh pelayanan telah runtuh,” dengan terus-menerus ia melihat ke kebelakang yaitu kepada apa yang pernah ia lihat dan alami pada kebangunan rohani 1904; “Ketika kebangunan rohani itu berakhir… ia masih mengharapkan hal yang tidak biasa itu terjadi lagi; namun itu tidak terjadi. Sehingga ia menjadi depresi dan menghabiskan sekitar empat puluh tahun hidupnya dalam ketandusan, ketidak-bahagiaan dan tidak berguna” (Iain H. Murray, ibid., hal. 29).

Jika Allah tidak mengirim kebangunan rohani, kita tidak harus membiarkan itu membuat diri kita menjadi berkecil hati. Kita harus tetap siap sedia, baik atau tidak baik waktunya, untuk memberitakan Injil, dan memimpin orang-orang berdosa kepada Kristus satu per satu. Namun, pada saat yang sama, kita harus terus berdoa kiranya Tuhan mengirimkan suatu waktu yang special suatu kebangunan rohani. Jika itu datang, kita akan bersukacita. Namun jika itu tidak datang, kita harus terus memimpin jiwa-jiwa datang kepada Kristus saat ini! Kita tidak harus menjadi berkecil hati! Kita harus siap sedia baik atau tidak baik waktunya!

VI. Keenam, adalah salah ketika kita berpikir bahwa tidak ada kondisi apapun yang dihubungkan dengan kebangunan rohani.

Baik Kitab Suci maupun sejarah menunjukkan kepada kita bahwa kebangunan rohani tidak bergantung pada usaha-usaha penginjilan manusia atau dedikasi total orang Kristen. Namun ada kondisi tertentu yang harus dijumpai. Ini terutama adalah pengajaran yang benar, dan doa. Kita haurs berdoa untuk kebangunan rohani, namun kita juga harus memiliki pengajaran yang bernar tentang dosa dan keselamatan.

Dalam bukunya yang berjudul, Revival (Crossway Books, 1992), Dr. Martyn Lloyd-Jones memiliki dua bab, yang berjudul “Doctrinal Impurity” (“Ketidak-murnian Pengajaran”) dan “Dead Orthodoxy” (“Orthodoksi yang telah Mati”). Dalam dua bab ini ia, yang pernah melihat kebangunan rohani agung pada tahun-tahun permulaan pelayanannya menjelaskan kepada kita bahwa ada doktrin-doktrin tertentu yang harus dikhotbahkan dan dipercaya jika kita mengharapkan Allah mengirimkan kebangunan rohani. Saya hanya akan menekankan empat doktrin yang ia berikan.

 

1.  Kejatuhan dan kerusakan total umat manusia – kerusakan total (total depravity).

2.  Regenerasi – atau kelahiran kembali – sebagai karya Allah, dan bukan pekerjaan manusia.

3.  Pembenaran oleh iman di dalam Kristus saja – bukan iman di dalam segala bentuk “pengambilan keputusan.”

4.  Efektivitas Darah Kristus untuk menyucikan doa – baik dosa pribadi maupun doa asal.

 

Empat doktrin ini diserang oleh Charles G. Finney, dan telah diturunkan atau ditolak sejak saat itu. Tidak heran kita melihat begitu sedikit kebangunan rohani sejak tahun 1859! Saya tidak dapat membahasnya secara mendetail, namun inilah pengajaran-pengajaran vital, yang harus dikhotbahkan kembali jika kita berharap melihat kebangunan rohani datang ke gereja-gereja kita. Gereja kita penuh dengan orang-orang yang masih terhilang, yang tidak akan pernah benar-benar bertobat kecuali kita mengkhotbahkan tema-tema ini secara sungguh-sungguh dan penuh semangat – dan secara terus menerus!

Dr. Lloyd-Jones berkata,

Lihatlah sejarah berbagai kebangunan rohani, dan Anda akan menemukan orang-orang yang merasa putus asa. Mereka tahu bahwa semua kebaikan mereka tidak lain selain kain lap yang kotor, dan bahwa kebenaran mereka tidak ada nilainya sama sekali. Dan di sana mereka merasa bahwa mereka tidak dapat melakukan apapun, dan hanya dapat berseru kepada Allah agar Ia memberikan rahmat dan belas kasihan-Nya. Pembenaran oleh iman. Tindakan Allah. “Jika Allah tidak melakukan itu kepada kita,” kata mereka, “maka kita terhilang.” Oleh sebab itu mereka [merasakan diri mereka] tidak berdaya di hadapan Dia. Mereka tidak lagi memperhatikan, dan tidak menganggap penting, semua kesalehan mereka di masa lalu, dan kesetiaan mereka dalam menghadiri kebaktian di gereja, dan banyak hal yang lain. Mereka memandang semua yang mereka pernah lakukan itu tidak ada yang baik, bahkan kesalehan mereka tidak ada nilainya, tidak ada satupun yang bernilai pada dirinya. Allah harus membenarkan orang-orang yang tidak saleh. Oleh sebab itu, itu adalah berita agung yang datang pada setiap periode kebangunan rohani (Martyn Lloyd-Jones, ibid., hal. 55-56).

“Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran” (Roma 4:5).

“Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya” (Roma 3:24-25).

Ini adalah pengajaran-pengajaran tentang kebangunan rohani! Ini adalah pengajaran-pengajaran yang memimpin kepada pertobatan! Kita harus melihat keinsafan akan dosa, keinsafan yang mendalam, hati yang dihancurkan olehnya. Kita harus melihat keinsafan jiwa-jiwa yang menangisi dosa-dosa mereka yang datang kepada Yesus, menemukan keselamatan, “karena iman di dalam darah-Nya.”

Dr. R. L. Hymers, Jr.


THE TOPIC MOST MODERN PREACHERS AVOID!

Kita hidup di zaman yang aneh – aneh baik secara politik, ekonomi, maupun spiritual. Di Amerika dan Eropa, tidak ada yang lebih aneh dari pada topik-topik yang kita dengar dari mimbar gereja-gereja new-evanglikal dan fundamental hari ini. Ada studi Alkitab tentang pernikahan, studi Alkitab tentang bagaimana berpacaran, studi Alkitab tentang membesarkan anak, studi Alkitab tentang menanggulangi depresi, studi Alkitab tentang bagaimana untuk berhasil dalam kehidupan Kristen, studi Alkitab tentang bagaimana mengalami kemakmuran secara finansial, studi Alkitab tentang bagaimana membesarkan anak-anak Kristen (?), studi Alkitab kitab demi kitab dari Alkitab, dan studi Alkitab pasal demi pasal dari Alkitab. Subyek-subyek ini telah dibicarakan kembali oleh banyak pengkhotbah, karena selama begitu banyak dekade, banyak pendeta berpikir adalah normal untuk mengajarkan topik-topik tersebut tahun demi tahun!

Namun saya berkata bahwa banyak khotbah di gereja-gereja kita tidak berdasar, kacau balau, tidak fokus dan, karena kebanyakan, tidak menolong seorangpunhanya kumpulan kata-kata yang campur aduk untuk mengisi tiga puluh menit waktu kosong di Minggu pagi!

Jadi, itu adalah tugas yang sangat serius yang saya sedang lakukan untuk menentang khotbah “modern” di gereja-gereja kita hari ini. Namun saya disiapkan untuk mempertahankan itu – dari pengalaman pribadi, dan dari Perjanjian Baru.

Mari kita membuka Kitab Kisah Para Rasul. Di mana dalam Kitab Para Rasul ada beberapa catatan khotbah tentang topik-topik yang saya daftarkan di atas? Saya tidak menemukan satu catatan khotbah tentang pernikahan, juga tentang bagaimana berpacaran, juga tentang bagaimana membesarkan anak, juga tentang bagaimana menanggulangi depresi, juga tentang bagaimana berhasil “di dalam kehidupan Kristen” (atau kehidupan bagaimanapun!), juga tentang bagaimana menjadi makmur secara finansial, juga tentang bagaimana membesarkan “anak-anak Kristen (?)”, juga tentang membahas kitab per kitab dari Alkitab, atau pasal per pasal dari Alkitab, atau eksposisi ayat per ayat dari Alkitab! Tak satu pun dari topik-topik tersebut adalah khotbah-khotbah para Rasul, yang tercatat dalam Kitab Kisah Para Rasul! Jadi, jika saya salah, tolong koreksi saya! Silahkan tulis surat kepada saya di P.O. Box 15308, Los Angeles, CA 90015. Tolong koreksi saya, dan sadarkan saya dari catatan khotbah-khotbah dalam Kitab Kisah Para Rasul, jika saya salah. Jika saya tidak mendengar komentar Anda, saya berarti benar untuk mengatakan apa yang baru saja Anda dengar – khotbah di gereja-gereja kita adalah salah, kacau, membingungkan, tidak membantu apa-apa, dan kebanyakan hanya buang-buang waktu saja! Mengapa? Karena khotbah-khotbah itu tidak berdasar, tidak fokus pada subyek yang Allah inginkan menjadi pusat pemberitaan kita!

Ketika jemaat kita pergi liburan, dan menghadiri gereja-gereja yang percaya Alkitab lainnya, mereka sering pulang dalam ketidak-puasan. Sekali lagi, mereka telah mendengar “studi Alkitab” motivasional. Sekali lagi, mereka gagal mendengar khotbah tentang subyek yang para pengkhotbah modern hindari bagai wabah. Oh, para pengkhotbah modern ini biasanya mengatakan satu atau dua kata yang membingungkan, namun mereka tidak pernah mengkhotbahkan khotbah-khotbah secara menyeluruh tentang itu! Apakah topik yang mereka hindari ini? Dan mengapa mereka menghindarinya? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini diberikan dalam khotbah ini.

Namun saya belum memberikan satu ayat pun kepada Anda sebagai dasar khotbah ini! Marilah kita berdiri dan membaca ayat ini. Yaitu dari I Korintus 1:23, enam kata pertama dari I Korintus 1:23. Mari kita membaca enam kata pertama dari ayat ini dengan lantang.

“Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan”  (I Korintus 1:23).

Mereka tidak memberitakan Kristus yang disalibkan! Jika mereka melakukannya, tolong katakan kepada saya kapan ini dilakukan, dan siapa yang melakukannya! Saya berkata mereka tidak memberitakan Kristus yang disalibkan. Namun apapun yang mereka khotbahkan, di zaman penyesatan ini, kita tidak harus mengikuti contoh mereka! Kita harus dan selalu berdiri bersama dengan Rasul Paulus dan berkata,

“Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan”  (I Korintus 1:23).

Mari pagi ini kita melihat ayat ini kata per kata, karena ini memberikan jantung dari berita utama Perjanjian Baru.

“Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan”  (I Korintus 1:23).

I. Pertama, “Tetapi kami.”

Rasul menjelaskan kepada kita bahwa ada orang-orang yang berfokus pada subyek-subyek yang berbeda. Ada orang-orang yang menuntut “suatu tanda” (I Korintus 1:22a). Mereka berkata, “Musa melakukan mujizat. Perlihatkanlah kepada kami mujizat-mujizat itu, maka kami akan percaya.” Mereka adalah para penganut agama Yahudi, yang berbicara tentang sunat dan mengagung-agungkan ritus-ritus Perjanjian Lama dan hari-hari raya keagamaan. Mereka mengajar Alkitab atas namanya sendiri, dan menganggap Perjanjian Lama lebih tinggi dari Perjanjian Baru. Namun Spurgeon berkata bahwa Rasul Paulus diperhadapkan dengan mereka dengan berkata, “Apapun yang orang lain lakukan, kami memberitakan Kristus yang disalibkan; kami tidak berani, kami tidak dapat, dan kami tidak akan mengubah subyek besar utama dari khotbah kami, Yesus Kristus, dan Dia yang disalibkan” (C. H. Spurgeon, “Preaching Christ Crucified,” The Metropolitan Tabernacle Pulpit, Pilgrim Publications, 1979 reprint, volume LVI, p. 480).

Kemudian, Rasul Paulus menjelaskan kepada kita bahwa ada orang lain yang mencari “hikmat” (I Korintus 1:22b). Mereka berbicara tentang subyek-subyek yang akan memberikan hikmat kepada para pendengarnya tentang bagaimana hidup, dan bagaimana menjadi makmur, dan bagamana caranya memiliki hidup yang lebih baik. Spurgeon berkata bahwa ada banyak hamba Tuhan yang memberikan “suguhan intelektual. Ya, dan saya biasanya menemukan itu seperti suguhan intelektual yang memimpin kepada kehancuran jiwa-jiwa; itu bukanlah jenis khotbah tentang bagaimana Allah memberkati dengan memberikan keselamatan bagi jiwa-jiwa, dan oleh sebab itu, bahkan walaupun orang lain mungkin mengkhotbahkan [subyek-subyek ini] ‘kami memberitakan Kristus yang disalibkan,’ Kristus yang telah mati bagi orang-orang berdosa, umat Kristus, dan ‘kami memberitakan Kristus yang disalibkan’ dalam bahasa yang sederhana, dalam khotbah yang jelas sehingga orang-orang pada umumnya dapat mengerti (C. H. Spurgeon, ibid., hal. 482). Lagi Spurgeon berkata, “Doktrin tentang Kristus yang disalibkan selalu bersama dengan saya. Seperti para prajurit penjaga Romawi di Pompeii yang tetap berdiri di depan posnya bahkan walaupun ketika kota itu dibinasakan, demikian juga saya tetap berdiri [demi] kebenaran tentang penebusan ini walaupun gereja ini dikubur di bawah hujan lumpur panas penyesatan modern. Yang lain dapat menunggu, namun satu kebenaran ini harus diberitakan dengan suara lantang. Orang lain boleh memberitakan [apa yang mereka sukai], namun di mimbar ini, ini akan selalu mengumandangkan penggantian penebusan Kristus [untuk dosa-dosa kita di kayu Salib]. ’Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia’ (Galatia 6:14). Beberapa orang mungkin terus memberitakan Kristus sebagai teladan agung, dan yang lain mungkin terus menerus [berbicara] tentang kedatangan-Nya [yang kedua] dalam kemuliaan: kami juga memberitakan kedua hal itu, namun yang terutama kami memberitakan Kristus yang disalibkan, yang bagi orang-orang Yahudi adalah suatu batu sandungan, dan bagi orang-orang Yuhani adalah suatu kebodohan; namun bagi mereka yang diselamatkan Kristus adalah kuasa Allah, dan hikmat Allah (C. H. Spurgeon, “The Blood Shed for Many,” The Metropolitan Tabernacle Pulpit, Pilgrim Publications, 1974 reprint, volume XXXIII, p. 374).

Apapun yang orang lain mungkin beritakan, apapun yang orang lain mungkin katakan di mimbar mereka, selama saya berdiri di mimbar ini subyek utama kami akan selalu

“Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (I Korintus 2:2).

Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan”  (I Korintus 1:23).

“Pada Kaki Salib-Mu.” Naikan pujian ini!

Salib-Mu, salib-Mu
Yang ku muliakan,
Hingga dalam surga k’lak,
Ada perhentian.
(“Near the Cross” by Fanny J. Crosby, 1820-1915/
Terjemahan Nyanyian Pujian No. 235).

II. Kedua, “Namun kami memberitakan.”

Di sini kita memiliki perbedaan kedua antara apa yang terjadi pada kebanyakan mimbar kita hari ini, dengan apa yang Rasul Paulus katakan, dan lakukan. Paulus berkata, “tetapi kami memberitakan.” Ah, ada perbedaan besar antara memberitakan/berkhotbah dengan mengajar! Dua kata ini berbeda dalam bahasa Yunaninya, dan keduanya juga berbeda dalam bahasa Inggris! Kata utama Yunani untuk “mengajar” adalah “didasko.” Itu berarti “memberikan instruksi/ pelajaran” (Vine). Sedangkan kata “berkhotbah” [dalam TB-LAI diterjemahkan “memberitakan”] adalah “kerusso.” Ini berarti “menggembar-gemborkan, memproklamasikan” (Vine), “seperti menyiarkan kepada publik” (Strong). Mengajar berarti memberikan instruksi atau pelajaran. Namun berkhotbah berarti menggembar-gemborkan dan memproklamasikan. Mengajar ditujukan kepada kepala. Khotbah ditujukan kepada hati! Seorang pengkhotbah Baptis Selatan tua, dari tradisi lama, pernah berkata kepada saya, “Nak, jika kamu tidak dapat membedakan antara khotbah dan pengajaran berarti kamu tidak dipanggil untuk menjadi pengkhotbah! Tinggalkan pelayanan!” Saya kadang-kadang merasa seperti menyerukan itu hari ini! “Jika Anda tidak dapat membedakan antara mengajar dan berkhotbah – tinggalkan pelayanan!”

Petrus adalah seorang pengkhotbah, bukan guru Alkitab! Pada Hari Pentakosta, ia tidak mengajak mereka membuka Alkitab mereka dan mengajar ayat per ayat. Tidak ada orang yang membawa Alkitab pada waktu itu! Alkitab pada zaman itu dalam bentuk gulungan-gulungan, dan disimpan di sinagog-sinagog. Tidak, Petrus berdiri dan “mengangkat suaranya” (Kisah Rasul 2:14) dan berkhotbah kepada mereka! Itulah apa yang kita butuhkan hari ini! Kiranya Tuhan menolong kita! Di hari-hari yang terakhir ini,

“mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya” (II Timotius 4:3).

“Namun,” seseorang berkata, “Orang-orang tidak menginginkan khotbah.” Saya berkata, “Bagaimanapun lakukanlah!”

“Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!” (II Timotius 4:5).

Saya mengajar Alkitab ayat per ayat tiga malam setiap minggunya dalam kebaktian doa dan persekutuan kami. Namun pada Minggu pagi dan Minggu malam saya berkhotbah. Anda boleh menerima atau menolak ini! Itulah apa yang Anda akan dapatkan di sini setiap Minggu – menjangkau jiwa dengan khotbah Injil! Alkitab berkata,

“Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?” (Roma 10:14).

Itulah apa yang orang berdosa butuhkan – khotbah yang keras, khotbah yang membuat Anda merasakan dosa Anda di hadapan Allah yang murka – khotbah yang membuat Anda merasakan murka Allah dan api Neraka – dan penghukuman yang layak Anda terima karena hidup Anda yang penuh dosa – khotbah yang menghancurkan kesombongan Anda dan menunjukkan kepada Anda bahwa Anda telah menginjak-injak Kristus dan telah menolak Darah yang Ia curahkan untuk menyelamatkan Anda di kayu Salib! Orang berdosa, itulah apa yang Anda butuhkan! Anda perlu dikhotbahi di bawah keinsafan akan dosa dalam hidup Anda, dan dosa dari hati dan pikiran Anda! Anda perlu dikhotbahi untuk lari kepada Yesus Kristus untuk memperoleh penyucian dari kotornya dosa Anda. Orang lain mungkin mengajar, dan memberikan sedikit studi ayat per ayat pada hari Minggu, namun di mimbar ini setiap Minggu, selalu dan selamanya, akan dikatakan,

Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan” (I Korintus 1:23).

III. Ketiga, “Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan.”

Ya, itu adalah tema utama dari khotbah-khotbah Minggu kita di sini. Itu bukan hanya hal yang saya khotbahkan, namun itu tentu adalah hal yang utama! Tidaklah cukup untuk mengatakan beberapa kata tentang Kristus yang disalibkan dalam sebuah khotbah. Para pengkhotbah melakukan itu karena mereka tidak memperhatikan orang-orang berdosa. Jika mereka memperhatikan para anggota nominal mereka, orang yang pertama kali datang pada Minggu pagi, mereka akan menemukan bahwa hampir semua dari mereka masih terhilang. Mereka akan menemukan bahwa mereka belum menyerap Injil, karena itu tidak pernah diberitakan kepada mereka dalam seluruh khotbah minggu demi minggu. Oleh sebab itu, tema utama khotbah-khotbah Minggu kita adalah Kristus yang disalibkan! Selalu demikian untuk selamanya!

Teman saya pernah mengungjungi Spurgeon’s Tabernacle di London. Pada Perang Dunia II semua dari gereja besar itu kecuali dinding depannya diruntuhkan oleh bom-bom Hitler. Ketika teman saya mengunjungi gereja yang telah direkonstruksi itu, ia bertanya kepada seorang diaken dari gereja itu, yaitu seorang Skotlandia yang sudah lanjut usia, “Adakah di samping tembok bagian depan bangunan Spuergon’s Tabernacle hari ini yang masih asli bekas bangunan lama?” “Iya,” kata orang Skotlandia itu, “yaitu pengajaran. Pengajaran yang sama!”

Pengajaran teragung Spurgeon adalah “Kristus yang disalibkan.” Sebelum Spurgeon menghembuskan nafas terakhirnya, ia berkata kepada sahabatnya, “Pengajaranku dapat diringkaskan ke dalam empat kata, ‘Yesus mati untuk saya.’” Dapatkah Anda mengatakan itu? Dapatkah Anda mengatakan dengan yakin bahwa Yesus mati untuk Anda? Apakah Anda tahu dengan pasti bahwa Dia telah mati menggantikan Anda, menebus dosa Anda? Jika Anda tidak dapat mengatakan itu dengan sungguh-sungguh, saya meminta Anda untuk datang kepada Yesus dan memberikan diri Anda disucikan oleh Darah-Nya yang kudus!

“Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan”
(I Korintus 1:23).

Alkitab berkata,

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah” (Roma 5:8-9).

Kristus telah mati di kayu Salib untuk membayar penghukuman dosa-dosa Anda dan menyelamatkan Anda dari murka Allah. Itulah sebabnya mengapa

“kami memberitakan Kristus yang disalibkan”  (I Korintus 1:23).

Datanglah kepada Kristus! Ia telah mati di kayu Salib untuk menyelamatkan Anda dari dosa dan penghukuman. Datanglah kepada Kristus! Berilah dosa Anda disucikan oleh Darah-Nya yang mahal! “Pada Kaki Salib-Mu.” Naikanlah pujian ini!

Salib-Mu, salib-Mu
Yang ku muliakan,
Hingga dalam surga k’lak,
Ada perhentian.

Dr. R. L. Hymers, Jr.


CHRISTMAS IN HELL

“Anak, ingatlah” (Lukas 16:25).

Orang kaya itu mati dan dikuburkan. Jiwanya langsung masuk ke dalam nyala api Neraka, “Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas” (Lukas 16:23). Orang kaya itu memandang Abraham “dari jauh” di Sorga. Ia meminta setetes air untuk “menyejukkan lidah[nya]; sebab [ia] sangat kesakitan dalam nyala api ini” (Lukas 16:24). Abraham berkata kepadanya,

“Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang” (Lukas 16:25-26).

Tuhan Yesus Kristus memberikan kisah ini memperingatkan orang-orang berdosa yang terhilang tentang bahaya Neraka.

Baik C. H. Spurgeon maupun William Booth, pendiri dari Bala Keselamatan sama seperti itu suatu ketika, memperingatkan pada akhir abad ke-19 bahwa khotbah di abad dua puluh akan menolak doktrin tentang Neraka. Ketika Booth ditanya oleh surat kabar Amerika tentang apa menurutnya yang menjadi bahaya paling besar di abad dua puluh, ia menjawab (sebagian) “sorga tanpa neraka” (The War Cry, January 1901, hal. 7). Prediksi Booth akhirnya benar terjadi. Hari ini khotbah tentang Neraka hampir tidak terdengar. Dr. J. I. Packer, seorang teolog Injili yang sangat terkenal di seluruh dunia, berkata,

Para penginjil Kristen harus [berbicara] tentang Neraka: ini adalah bagian dari pekerjaan mereka… para penginjil ada dalam misi penyelamatan untuk sesamanya yang belum percaya, dan ini benar dan perlu, sebagai orang-orang yang jujur, mereka harus benar-benar melakukan untuk menjelaskan bahaya dari orang-orang yang terlepas dari Kristus… Menurut Yesus dan para rasul, kehidupan pribadi bagi orang-orang tanpa Kristus aka pergi ke dalam dunia yang akan datang yang lebih buruk dan lebih mengerikan dari apa yang dapat dibayangkan, dan setiap orang perlu diberitahu tentang itu (J. I. Packer, Ph.D., foreword to Whatever Happened to Hell? by John Blanchard, D.D., hal. 9).

Satu-satunya kritik yang saya miliki untuk pernyataan Dr. Packer ini adalah bahwa ia nampaknya hanya menugaskan pemberitaan tentang Neraka kepada “para penginjil Kristen” saja. Namun Rasul Paulus berkata bahwa para gembala atau pendeta juga harus melakukan, “pekerjaan pemberita Injil” (II Timotius 4:5). Para gembala sidang “harus [berbicara] tentang neraka; itu adalah bagian dari pekerjaan mereka” (Packer, ibid.).

Yesus adalah model kita, “dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya” (1 Petrus 2:21). Yesus sering berkhotbah tentang Neraka, dan Ia adalah teladan kita. Untuk menjadi benar di hadapan Kristus, setiap pendeta harus sering mengkhotbahkan tentang Neraka, dengan jelas dan tegas, seperti yang Kristus lakukan ketika Ia berkhotbah tentang “Orang Kaya dan Lazarus.” Kristus berkata bahwa orang itu mati dan langsung masuk ke dalam Neraka di mana ia sangat sengsara dalam nyala api itu. Orang itu meminta Abraham untuk meneteskan setetes air. Abraham berkata kepadanya,

“Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita” (Lukas 16:25).

Saya akan mengekspos dua kata saja dari ayat ini,

“Anak, ingatlah” (Lukas 16:25).

Ini adalah momen Natal. Gereja kita didekorasi dengan begitu indahnya. Kita telah menyanyikan lagu-lagu Natal klasik. Kita akan memiliki perjamuan Natal yang luar biasa indahnya Minggu malam nanti. Kita juga akan mengadakan makan malam Natal di sini di gereja ini, pada pukul 7:30 pada Jum’at malam nanti, Malam Natal. Namun pada semua perayaan yang indah dan bermakna tentang kelahiran Kristus ini, marilah kita tidak melupakan tentang Neraka. Neraka adalah upah dosa. Yesus telah lahir dan mati di kayu Salib untuk menyelamatkan orang-orang berdosa dari api Neraka yang sangat mengerikan. Rasul Paulus berkata,

“Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa” (I Timotius 1:15).

Malaikat Tuhan berkata kepada Yusuf,

“Engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matius 1:21).

Kemudian bukankah persis seperti itu arti sebenarnya dari Natal? Bukankah berita riil dari Natal adalah fakta bahwa Yesus datang dari Sorga untuk mati di kayu Salib, untuk membayar dosa manusia, untuk menyelamatkan orang berdosa dari Neraka?

Namun bagaimana jika Anda mati sebelum Natal? Mungkin ada dari beberapa Anda malam ini yang akan mati beberapa hari ke depan. Jika itu harus terjadi pada Anda, pada tanggal 25 Desember Anda akan menghabiskan Natal pertama Anda di Neraka. Dan ini yang akan dikatakan tentang Anda, seperti yang dikatakan kepada orang kaya itu,

“Anak, ingatlah” (Lukas 16:25).

Jika Anda terus menjadi sebagai mana Anda sekarang ini, mungkin bukan Natal ini, mungkin lebih cepat dari pada yang Anda pikirkan, Anda akan menghabiskan Natal di tempat penghukuman api neraka. Apakah yang Anda akan ingat ketika Anda menghabiskan Natal pertama Anda di Neraka?

I. Pertama, Anda akan mengingat khotbah-khotbah yang Anda telah tolak.

Anda pasti akan mengingat bagimana Anda telah belajar masa bodoh, dan mengacuhkan khotbah-khotbah ini. Anda akan mengingat bahwa khotbah ini memang layak untuk dilakukan. Pertama khotbah-khotbah ini akan mengganggu Anda dan membuat Anda berpikir tentang hal-hal kekekalan. Namun, sementara waktu terus berjalan, ini menjadi lebih mudah dan lebih mudah lagi bagi Iblis untuk “merampas” khotbah-khotbah ini dari hati Anda (lihat Matius 13:19).

“Kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan” (Lukas 8:12).

Pertama adalah berat bagi Setan untuk melakukan itu. Namun sementara bulan-bulan terus berjalan setan mengunakan tipu dayanya sehingga Anda tidak lagi terganggu oleh khotbah ini, dan Anda mulai tidur sepanjang khotbah ini. Akhirnya hati nurani Anda menjadi begitu keras, dan hati Anda menjadi begitu jahat, seperti yang Kristus katakan kepada musuh-musuh-Nya,

“Kamu tidak dapat menangkap firman-Ku” (Yohanes 8:43).

Saya percaya bahwa Anda dapat menjadi begitu tumpul untuk mendengar sehingga ini yang dapat dikatakan tentang Anda, “Allah menyerahkan [dia] kepada pikiran-pikiran yang terkutuk” (Roma 1:28).

“Anak, ingatlah” (Lukas 16:25).

Di Neraka Anda akan mengingat banyak khotbah. Ketika Anda menghabiskan Natal pertama Anda di Neraka, dalam jurang Neraka itu Anda pasti akan mengingat khotbah ini! Dalam Neraka Anda akan mengingat khotbah-khotbah yang telah Anda tolak.

II. Kedua, Anda akan mengingat Roh Kudus Allah yang telah Anda tolak.

Pada Natal pertama di Neraka, Anda pasti akan mengingat betapa seringnya Roh Kudus menginsafkan Anda akan dosa Anda. Yesus berkata,

“Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman” (Yohanes 16:8).

Beberapa dari Anda, ketika Anda menghabiskan Natal pertama Anda di Neraka, Anda akan mengingat ketika Roh Allah memberikan penawaran kepada hati Anda. Anda akan mengingat ketika Roh-Nya membuat Anda takut. Anda akan mengingat ketika air mata keluar dari mata Anda. Namun Anda juga akan mengingat bagaimana akhirnya Anda menolak karya konviksi Roh Kudus, bagaimana Anda menolak terus sampai Roh Kudus menarik diri dari Anda, dan Allah seperti berkata kepada Anda

“Efraim bersekutu dengan berhala-berhala, biarkanlah dia”
(Hosea 4:17).

Seperti Dr. Rice menuangkan ini,

Kemudian betapa sedihnya menghadapi penghakiman, engkau akan menyadari tanpa kemurahan,
Engkau berdiam dan bertahan sampai Roh itu pergi,
Engkau akan meratap, ketika kematian menemukanmu tanpa pengharapan,
Engkau berdiam dan bertahan dan menunggu terlalu lama.
(“If You Linger Too Long” by Dr. John R. Rice, 1895-1980).

“Anak, ingatlah” (Lukas 16:25).

Ketika Anda menghabiskan Natal pertama Anda di Neraka Anda akan mengingat bagaimana Anda telah menolak konviksi dari Roh Allah, bagaimana Anda “berdiam dan bertahan sampai Roh itu pergi” (Rice, ibid.).

“Anak, ingatlah” (Lukas 16:25).

Anak, ingatlah! Ketika tabir itu turun, dan terang pergi, dan jiwa Anda terjun ke dalam nyala api – Anak ingatlah! Anak ingatlah! Anda akan mengingat khotbah-khotbah yang telah Anda tolak. Anda akan mengingat Roh Allah yang telah Anda tolak.

III. Ketiga, Anda akan mengingat bahwa Anda tidak pernah respek kepada Sang Juruselamat.

Tidak! Jangan katakan kepada saya bahwa Anda respek kepada Kristus! Jangan berbohong tentang itu! Jangan bohong! Inilah apa yang Alkitab katakan tentang Anda,

“Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan” (Yesaya 53:3).

Jika Anda respek kepada Kristus Anda akan mencari Dia. Jika Anda memiliki respek untuk Kristus Anda akan “berjuang [dengan segala kekuatan Anda] untuk masuk” kepada Dia (Lukas 13:24). Apakah perjuangan yang telah Anda lakukan? Sudahkah Anda berdoa selama satu jam seperti Luther? Sudahkah Anda berpuasa selama seminggu seperti Whitefield? Sudahkah Anda mengendalikan diri Anda sendiri seperti Wesley? Sudahkah Anda dihalangi oleh badai salju seperti Spurgeon? Saya berkata Anda belum berjuang sama sekali! Dan suatu hari nanti, ketika Anda berada di dalam Neraka, Anda akan mengingat bahwa Anda begitu melempem dan malas sehingga Anda tidak pernah berjuang untuk menemukan Kristus!

“Anak, ingatlah” (Lukas 16:25).

Anak, ingatlah! Anda akan mengingat itu di Neraka! Anda akan mengingat bahwa Anda memiliki begitu kecil respek Anda untuk Yesus Kristus sehingga Anda Nampak tidak sungguh-sungguh mencari Dia, yang berkata,

“Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati”
(Yeremia 29:13).

Anak, ingatlah! Anak, ingatlah! Anda akan mengingat dalam nyala api kekal, bagaimana Anda telah tidak respek kepada Yesus, bagaimana Anda telah menolak keselamatan yang ditawarkan oleh Dia.

Engkau telah menunggu dan terus menolak Juruselamat,
Semua peringatan-Nya begitu sabar, semua permohonannya begitu baik,
Namun engkau makan buah terlarang, engkau percaya janji Setan,
Namun hatimu telah mengeras, dosa telah membutakan pikiranmu.
Kemudian betapa sedihnya menghadapi penghakiman, engkau akan menyadari tanpa kemurahan,
Engkau berdiam dan bertahan sampai Roh pergi,
Engkau akan meratap, ketika kematian menemukanmu tanpa pengharapan,
Engkau berdiam dan bertahan dan menunggu terlalu lama.
(“If You Linger Too Long” by Dr. John R. Rice, 1895-1980).

Dr. R. L. Hymers, Jr


Sola Scriptura

“Unless I am convinced by Sacred Scriptura or by evident reason, I will not recant. My consience is held captive by the Word of God and to act against conscience is neither right nor safe.”

Kata-kata ini diucapkan oleh Martin Luther pada 18 April 1521 ketika ia diajukan pada sidang kekaisaran di kota Worms di hadapan kaisar Charles V yang menjadi penguasa Jerman (dan beberapa bagian Eropa lainnya) pada saat itu, serta di hadapan para pemimpin gerejawi. Luther dipanggil ke kota ini dengan tujuan supaya ia menarik kembali perkataan dan pengajarannya. Ia diminta mengaku salah di depan publik untuk apa yang ia tuliskan dan ajarkan tentang Injil, keselamatan melalui iman, dan hakikat gereja. Tetapi ia tidak bersedia melakukannya.**1

Mengapa Luther tidak bersedia? Sebab hati nuraninya dikuasai sepenuhnya oleh firman Tuhan. Ia yakin sepenuhnya bahwa Alkitab dengan jelas mengajarkan kebenaran tentang manusia, jalan keselamatan, dan kehidupan Kristen. Ia melihat bahwa kebenaran-kebenaran yang penting ini sudah dikaburkan dan diselewengkan oleh gereja-gereja pada saat itu, yang seharusnya justru menjadi pembela yang setia. Di mata Luther, dasar penyelewengan gereja pada saat itu adalah pengajaran yang tidak sesuai dengan Alkitab.**2 Ia tidak dapat tahan lagi melihat kerusakan gereja yang telah melawan Alkitab, yang juga sudah mencemari aspek-aspek kehidupan gereja lainnya.

Di sinilah kita melihat sikap Reformasi terhadap Alkitab. Prinsip penting yang ditegakkan dalam gerakan Reformasi adalah Sola Scriptura (hanya percaya kepada apa yang dikatakan oleh Alkitab yang adalah firman Tuhan, karena hanya Alkitab yang memiliki otoritas tertinggi). Kita mengetahui dua ungkapan yang mewakili gerakan Reformasi yaitu Sola Fide dan Sola Scriptura. Sering dikatakan bahwa Sola Fide adalah prinsip material dari pengajaran Reformasi, sedangkan Sola Scriptura adalah prinsip formalnya.**3 Kalau ditelusuri lebih dalam lagi maka jelaslah bahwa prinsip Sola Scriptura ada di balik semua perdebatan mengenai pembenaran melalui iman, karena Luther yakin sekali bahwa kebenaran ini diajarkan di dalam Alkitab.**4

SOLA SCRIPTURA DAN KEWIBAWAAN ALKITAB

Para Reformator tidak pernah berusaha menegakkan doktrin yang baru atau berminat mendirikan gereja yang lain, yang mereka inginkan ialah mereformasi gereja,**5 dalam pengertian mereka ingin menghidupkan kembali kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek gerejawi yang murni berdasarkan Alkitab. John R. de Witt mengatakan, “The Reformation rediscovered and accentuated afresh the authority of the Bible.”**6 Para Reformator memiliki semangat untuk mengembalikan iman orang Kristen dan kekristenan kepada otoritas Alkitab. John Calvin mengemukakan,

Biarlah hal ini kemudian menjadi suatu aksioma yang pasti: bahwa tidak ada yang lain yang harus diakui di dalam gereja sebagai firman Allah kecuali apa yang termuat, pertama dalam Torah dan Kitab Nabi- nabi, dan kedua dalam tulisan-tulisan para Rasul; dan bahwa tidak ada metode pengajaran lain di dalam gereja yang berlainan dari apa yang sesuai dengan ketentuan dan aturan dari firman-Nya.**7

Prinsip Sola Scriptura dengan jelas mendobrak tirani dari suatu hierarki gerejawi yang sudah “corrupt” karena gereja menempatkan dirinya lebih tinggi dari firman Tuhan. Padahal, berdasarkan Efesus 2:20 dapat dikatakan bahwa otoritas Alkitab sudah lebih dulu ada sebelum gereja berdiri karena gereja didirikan di atas dasar pengajaran para rasul dan para nabi. Pengajaran para rasul dan nabi adalah pengajaran firman Tuhan, yang jelas bukan hanya lebih tua tetapi juga lebih tinggi dari pengajaran gereja. Alkitab mampu memberikan penilaian atas gereja sekaligus memberikan model bagi gereja yang benar.

Para Reformator memiliki pendapat yang tegas bahwa wewenang gereja dan para penjabatnya (para Paus, dewan-dewan dan teolog-teolog) berada di bawah Alkitab. Ini tidak berarti mereka tidak memiliki wewenang. Namun, sebagaimana diungkapkan Alister McGrath, wewenang tersebut berasal dari Alkitab dan berada di bawah Alkitab.**8 Kewibawaan mereka dilandaskan pada kesetiaan mereka pada firman Allah. Selanjutnya McGrath mengatakan, “Bila orang-orang Katolik menekankan pentingnya kesinambungan historis, para Reformator dengan bobot yang sama menekankan makna penting dari kesinambungan ajaran.**9

Jadi, prinsip Sola Scriptura menolak otoritas tradisi gereja yang disetarakan dengan otoritas Alkitab. Sebuah catatan perlu diberikan di sini guna menghindari kesalahpahaman yang sudah cukup umum. Banyak orang berpikir bahwa para Reformator percaya kepada otoritas Alkitab yang tanpa salah, sedangkan gereja Roma Katolik percaya hanya kepada otoritas gereja dan tradisinya yang tanpa salah. Ini suatu kekeliruan. Pada masa Reformasi, kedua pihak sama-sama mengakui otoritas Alkitab.**10 Contohnya, bagi sebagian besar teolog abad pertengahan, Alkitab merupakan sumber yang mencukupi untuk ajaran Kristen.**11 Yang menjadi pertanyaan dan perdebatan ialah: “Is the Bible the only infallible source of special revelation?”**12

Gereja Roma Katolik mengajarkan ada dua sumber wahyu khusus, yaitu Alkitab dan tradisi. Tradisi di sini dimengerti sebagai satu sumber yang berbeda, di samping Alkitab. Alkitab tidak berkata apa-apa mengenai sejumlah pokok masalah atau doktrin, dan Allah telah menetapkan suatu sumber wahyu kedua untuk melengkapi kekurangan ini. Ini adalah suatu tradisi yang tidak tertulis. Jikalau ditelusuri lebih mendalam, tradisi yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya di dalam gereja, itu dianggap berasal dari para rasul. Jadi tradisi yang dimaksud di sini adalah “a separate, unwritten source handed down by apostolic succession.”**13 Dengan demikian, suatu kepercayaan yang tidak ditemukan dalam Alkitab, dapat dibenarkan dengan mengacu pada tradisi yang tidak tertulis tersebut.

Gereja Roma Katolik memberikan otoritas kepada tradisi ini, karena itu mereka tidak mengizinkan siapapun menafsir Alkitab dengan cara yang bertentangan dengan tradisi tersebut. Jelas mereka meninggikan tradisi melebihi Alkitab, bahkan menganggap bahwa Alkitab hanya bisa ditafsirkan dan diajarkan dengan perantaraan Paus atau konsili gerejawi. Para Reformator dengan tegas melawan konsep ini. Dalam perdebatan dengan teolog-teolog Roma Katolik, Luther dengan berani menegaskan bahwa adalah mungkin bagi Paus dan konsili gerejawi untuk melakukan kesalahan.

 

Prinsip Sola Scriptura juga tidak dapat dilepaskan dari masalah kanon Alkitab. Istilah “kanon” (aturan, norma) digunakan untuk merujuk pada kitab-kitab yang oleh gereja dianggap otentik. Bagi teolog-teolog abad pertengahan dan gereja Roma Katolik, yang dimaksud dengan Alkitab ialah karya-karya yang tercakup dalam Vulgata. Di dalamnya terdapat tambahan kitab-kitab yang sering disebut kitab-kitab Apokrifa, yang tidak terdapat dalam PL bahasa Ibrani. Para Reformator tidak setuju dengan adanya tambahan tersebut, dan mereka merasa berwenang untuk mempersoalkan penilaian ini. Menurut mereka, tulisan-tulisan PL yang dapat diakui untuk masuk ke dalam kanon Alkitab hanyalah yang asli terdapat di dalam Alkitab Ibrani.**14 Kitab-kitab Apokrifa memang merupakan bacaan yang berguna, tetapi tidak bisa digunakan sebagai dasar ajaran.**15 Penegasan Sola Scriptura mengakibatkan mereka menyingkirkan semua kitab di luar keenam puluh enam kitab dalam Alkitab. Perbedaan ini tetap ada sampai sekarang.**16

Mengapa para Reformator sangat menjunjung tinggi otoritas Alkitab? Jawabannya sederhana sekali: karena Alkitab adalah firman Tuhan, maka Alkitab dengan sendirinya memiliki kewibawaan atau otoritas. Luther berkata, “The Scriptures, although they also were written by men, are not of men nor from men, but from God.”**17 Sedangkan menurut Calvin,

The Scriptures are the only records in which God has been pleased to consign his truth to perpetual rememberance, the full authority which they ought to possess with faithful is not recognized, unless they are believed to have come from heaven, as directly as if God had been heard giving utterance to them.**18

Jadi ada konsensus bahwa Alkitab harus diterima seakan-akan Allah sendirilah yang sedang berbicara.

Otoritas Alkitab berakar dan berdasarkan pada fakta bahwa Alkitab diberikan melalui inspirasi Allah sendiri (2Tim. 3:16). Inspirasi adalah cara di mana Allah memampukan penulis-penulis manusia dari Alkitab untuk menulis semua perkataan di bawah pengawasan Allah sendiri. Kepribadian dan kemanusiawian para penulis Alkitab diakui aktif dalam proses di mana Roh Allah memimpin mereka dalam proses inspirasi tersebut. Karena itu apa yang ditulis bukan semata-mata tulisan mereka sendiri tetapi firman Allah yang sejati. Calvin memberi komentar mengenai 2Timotius 3:16,

This is the principles that distinguishes our religion from all others, that we know that God hath spoken to us and are fully convinced that the prophets did not speak of themselves, but as organs of the Holy Spirit uttered only that which they had been commissioned from heaven to declare. All those who wish to profit from the Scriptures must first accept this as a settled principle, that the Law and the prophets are not teachings handed on at the pleasure of men, or produced by men’s minds as their source, but are dictated by the Holly Spirit.**19

Bagaimana sebenarnya cara atau metode mengenai inspirasi ilahi ini tidak dipaparkan secara jelas dalam Alkitab.**20 Butir yang lebih krusial adalah fakta bahwa “the Scriptures are the direct result of the breathing out of God.”**21 B.B. Warfield memberikan komentar yang sangat baik mengenai kata Yunani theopneustos:

The Greek term has…nothing to say inspiring or of inspiration: it speaks only of a “spiring” or “spiration.” What it says of Scripture is, not that it is “breathed into by God” or that it is the product of the Divine “inbreathing” into its human authors, but that it is breathed out by God…when Paul declares, then, that “every scripture,” or “all scripture” is the product of the Divine breath, “is God-breathed,” he asserts with as much energy as he could employ that Scripture is the product of a specifically Divine operation.**22

Ini berarti semua yang ditulis para penulis Alkitab itu berasal dari Allah. Jadi, Alkitab berotoritas adalah karena kenyataan dirinya sebagai penyataan ilahi yang diberikan melalui inspirasi ilahi.

Pertanyaan penting berkaitan dengan otoritas Alkitab ialah: Berdasarkan apa kita menerima otoritas Alkitab tersebut? Bagaimana kita tahu dan yakin bahwa yang kita tegaskan tentang otoritas Alkitab itu benar adanya? Apakah melalui gereja kita mengerti dan diyakinkan akan otoritas Alkitab sebagai firman Allah (pandangan gereja Roma Katolik yang tradisional)? Di dalam sejarah gereja kita melihat ada banyak orang berusaha memberikan argumen-argumen yang rasional guna mendukung klaim bahwa Alkitab adalah firman Tuhan. Tetapi kita pun tahu bahwa sering argumen-argumen itu, meskipun perlu dan penting, tidak sepenuhnya “convincing.”

Di sini kita melihat satu pokok pikiran Calvin yang sangat penting berkaitan dengan masalah ini. Ia dengan tidak henti-hentinya menegaskan bahwa dasar satu-satunya yang meyakinkan mengapa kita percaya otoritas Alkitab adalah kesaksian Roh Kudus sendiri. Kita percaya bahwa Alkitab adalah firman Allah karena kesaksian Roh Kudus. Ia mengatakan:

The testimony of the Spirit is more excellent than all reason. For as God alone is a fit witness of himself in his Word, so also the Word will not find acceptance in men’s hearts before it is sealed by the inward testimony of the Spirit. The same Spirit, therefore, who has spoken through the mouths of the prophets must penetrate into our hearts to persuade us that they faithfully proclaimed what had been divinely commanded.**23

Jadi, otoritas Alkitab tidak tergantung pada bukti-bukti kehebatan dan kesempurnaannya, tetapi oleh karena iman yang Roh Kudus sudah kerjakan dalam hidup orang-orang percaya sehingga mereka mempercayai kebenaran Alkitab dan menaklukkan diri di bawah otoritas tersebut. James M. Boice mengutarakan bahwa kesaksian Roh Kudus ini adalah “the subjective or internal counterpart of the objective or external revelation.”**24

Apa yang Calvin ajarkan di sini sesuai dengan perkataan Paulus di 1Korintus 2:13-14. Jadi, jelas sekali bahwa terlepas dari karya Roh Kudus seseorang tidak akan menerima kebenaran-kebenaran rohani dan secara khusus tidak akan menerima kebenaran bahwa perkataan-perkataan Alkitab adalah firman Allah. Calvin juga mengatakan, “But it is foolish to attempt to prove to infidels that the Scripture is the Word of God. This it cannot be known to be, except by faith.”**25

Keyakinan yang datangnya dari kesaksian Roh Kudus adalah keyakinan yang muncul ketika kita membaca firman Tuhan dan mendengar suara Tuhan berbicara melalui perkataan-perkataan Alkitab tersebut serta menyadari bahwa ini bukanlah kitab biasa. Roh Kudus berbicara di dalam (in) dan melalui (through) perkataan-perkataan Alkitab dalam memberikan keyakinan ini.**26 Tepatlah apa yang dikatakan oleh seorang pastor, “If you have the Bible without the Spirit, you will dry up. If you have the Spirit without the Bible, you will blow up. But if you have both the Bible and the Spirit together, you will grow up.”

Setelah zaman Reformasi, pandangan ortodoks mengenai Alkitab mendapat serangan demi serangan. Gereja Roma Katolik bahkan secara resmi pada tahun 1546 (konsili Trent) menempatkan tradisi gereja berdampingan dan setara dengan Alkitab sebagai sumber penyataan. Serangan lain datang dari golongan rasionalis pada abad 18 dan 19. Alkitab bukanlah “God word to man” tetapi “man’s word about God and man.” Alkitab hanya berisi kesaksian atau catatan manusia tentang karya penyataan dan keselamatan Allah dalam sejarah. Sifat ilahi yang unik dari Alkitab ditolak, sehingga otoritasnya pun ditolak. Otoritas tertinggi ialah rasio manusia. Rasio menusia memiliki kebebasan mutlak yang harus terlepas dari klaim-klaim teologis.**27

Bagaimana dengan sikap gereja-gereja Tuhan terhadap Alkitab? Sola Scriptura adalah doktrin yang menegaskan bahwa Alkitab, dan hanya Alkitab, yang memiliki kata akhir untuk semua pengajaran dan kehidupan kita. Seluruh aspek pemikiran dan kehidupan kita harus tunduk pada firman Allah. Benarkah demikian? David Well, dalam bukunya, No Place for Truth,**28 memberikan kritik tajam kepada golongan injili yang sudah jatuh ke dalam berbagai pencobaan zaman modern, sehingga akhirnya kebenaran Allah sudah tidak lagi mengatur gereja-gereja. Hal-hal apa sajakah yang menjadi mentalitas zaman ini? Menurut Well ada beberapa, yakni:

  1. Subjectivism: basing one’s life upon human experience rather than upon objective truth
  2. Psychological therapy as the way to deal with human needs
  3. A preoccupation with “professionalism,” especially business management and marketing techniques as the model for achievement any kind of common enterprise
  4. Consumerism: the notion that we must always give people what they want or what they can be induced to buy
  5. Pragmatism: the view that results are the ultimate justification for any idea or action

Akibatnya, masih menurut Wells, Allah tidak lagi menjadi sesuatu yang penting dalam hidup manusia. Kebenaran tidak lagi menguasai gereja. Teologi tidak memberikan daya tarik. Khotbah-khotbah hanya berpusatkan pada “felt needs.” Teori-teori marketing dan manajemen dalam pertumbuhan gereja menggantikan prinsip-prinsip Alkitab. Hal ini perlu menjadi pemikiran serius bagi gereja-gereja Tuhan.

Bagaimana sikap para hamba Tuhan terhadap Alkitab? Panggilan hamba Tuhan ialah panggilan untuk mempelajari dan menguraikan firman Tuhan (bdk. Kis 20:27, dimana Paulus mengajarkan “the whole counsel of God” selama pelayanannya di Efesus). Menurut de Witt, salah satu ciri khas teologi Reformed ialah pandangan mengenai berkhotbah (preaching) yang distingtif. Ia menulis, “It is by preaching that God confronts people and draws them to himself, conforming them to the pattern of his Son; indeed, it is by preaching that Jesus addresses himself to the hearts and consciences of men (Rom. 10:14).”**29 Berdasarkan apa yang dinyatakan di dalam Alkitab, preaching adalah eksposisi dan aplikasi firman Tuhan. Tugas ini dipercayakan kepada para hamba Tuhan (bdk. Kis. 6:1 dst.). John Stott dengan keras berkata, “Sehat tidaknya keadaan jemaat-jemaat kita lebih banyak tergantung pada mutu pelayanan pemberitaan firman Tuhan daripada hal-hal lainnya…apa yang terjadi di bangku jemaat memancarkan apa yang terjadi di mimbar.”**30 Apakah tugas ini sudah kita jalankan dengan penuh kesungguhan dan keseriusan karena kita memberitakan firman yang memiliki otoritas dari Allah?

SOLA SCRIPTURA DAN PENAFSIRAN ALKITAB

Elemen baru di dalam pengajaran Sola Scriptura dari para Reformator sebenarnya bukanlah permasalahan otoritas Alkitab, karena gereja Roma Katolik juga berpegang pada hal itu. Elemen yang baru berkaitan dengan masalah penafsiran Alkitab. Bukanlah hal yang berlebihan kalau dikatakan bahwa Reformasi pada abad 16 tersebut pada dasarnya adalah suatu revolusi hermeneutik.**31 Gerakan Reformasi menolak penafsiran otoritatif terhadap Alkitab, khususnya dari gereja Roma Katolik yang menekankan bahwa Paus atau konsili gerejawilah yang memiliki otoritas untuk menafsirkan Alkitab. Sampai zaman Reformasi Alkitab masih dianggap oleh kebanyakan orang sebagai kitab yang “obscure.” Orang awan biasa tidak dapat diharapkan untuk mengertinya, sehingga mereka tidak didorong untuk membacanya. Bahkan Alkitab tidak tersedia dalam bahasa yang mereka mengerti. Mereka jelas bergantung sepenuhnya pada penafsiran gereja yang bersifat otoritatif. Pengajaran Alkitab dikomunikasikan kepada orang-orang Kristen hanya melalui perantaraan Paul, konsili, atau pastor.

Para Reformator sangat menekankan prinsip “private interpretation,” yakni hak untuk menafsirkan Alkitab secara pribadi. Dengan demikian setiap orang Kristen memiliki hak untuk membaca dan menafsirkan Alkitab untuk dirinya sendiri.**32 Tetapi ini bukan berarti kepada setiap individu diberikan hak untuk menyelewengkan atau mendistorsi Alkitab. Ini adalah prinsip yang berasumsi bahwa Allah yang hidup berbicara kepada umat-Nya secara langsung dan otoritatif melalui Alkitab. Karena itu orang Kristen harus didorong untuk membaca Alkitab. Alkitab harus diterjemahkan kedalam bahasa umum. Luther, contohnya, sangat menekankan hal ini, sehingga ia menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerman.

Para tokoh Reformator sendiri tampaknya menekankan pengertian mereka terhadap Alkitab dengan tidak mempedulikan apakah pengajaran mereka bertentangan dengan keputusan-keputusan konsili atau penafsir-penafsir gerejawi lainnya. Bagi mereka gereja bukanlah penentu arti Alkitab, justru Alkitablah yang harus mengoreksi dan menghakimi gereja. Tetapi pertanyaannya: apakah memang tidak ada peranan pengajaran (tradisi) gereja sama sekali dalam hal ini? Reformasi sering kali dilihat mempunyai ciri khas yaitu suatu “massive break” dengan tradisi gereja. Yang benar adalah, para Reformator menentang otoritas tradisi dan otoritas gereja, hanya sejauh otoritas tersebut mengungguli otoritas Alkitab.**33

Para Reformator tidak pernah menolak tradisi eksegetis dan teologis dari gereja yang didasarkan dan tunduk pada kebenaran Alkitab. Mereka menghormati tradisi, khususnya yang diajarkan oleh bapa-bapa gereja (terutama Agustinus). Luther berkata, “The teachings of the Fathers are useful only to lead us to the Scriptures as they were led, and then we must hold to the Scriptures alone.”**34 Calvin, sebagai contoh, menulis edisi Institutes pertama pada tahun 1536 ketika ia masih berusia dua puluhan. Buku ini mengalami revisi beberapa kali, dan edisi akhir adalah tahun 1559. Selama masa dua dekade tersebut ia berkecimpung dan sibuk memberikan eksposisi Alkitab dan berkhotbah. Dalam hal ini ia berinteraksi banyak dengan penafsiran penafsir-penafsir sebelumnya. T. H. L. Parker berkata tentang Calvin:

As his understanding of the Bible broadened and deepened, so the subject matter of the bible demanded ever new understanding in its interrelation within itself, in its relations with secular philosophy, in its interpretation by previous commentators.**35

Maka jelaslah, seperti yang Silva katakan, “the reformation marked a break with the abuse of tradition but not with the tradition itself.”**36 Kritik yang diberikan adalah terhadap ajaran dan praktek yang sudah menyeleweng dari, atau bertentangan dengan, Alkitab. Para Reformator masih mempertahankan ajaran-ajaran gereja yang paling tradisional (seperti keilahian Kristus, Trinitas, baptisan anak, dan sebagainya) karena ajaran-ajaran tersebut sesuai dengan Alkitab. Mereka menghargai tulisan-tulisan bapa-bapa gereja yang adalah pembela-pembela kebenaran Alkitab.

Hak “private interpretation” haruslah disertai dengan tanggung jawab untuk memakai dan menafsirkan Alkitab dengan hati-hati dan akurat. Karena itu dalam hal ini kebutuhan akan penafsir dan guru sangat diperlukan. Memang Alkitab dapat dibaca dan dimengerti oleh orang-orang percaya (doktrin the clarity or perspicuity of Scripture), tetapi masih ada hal-hal tertentu yang masih belum jelas dan sulit bagi banyak orang yang sudah tentu membutuhkan suatu penyelidikan dan penelitian akademik. Ketidakjelasan atau kekaburan tersebut lebih banyak disebabkan oleh ketidaktahuan akan bahasa, tata bahasa, dan budaya dari penulis Alkitab, daripada dikarenakan isi pengajaran atau subject-matter-nya. Oleh sebab itu, “biblical scholarship” sangat penting dan diperlukan.

Kontribusi penting dari para Reformator terhadap penafsiran Alkitab ialah penegasan mereka mengenai “plain meaning” (arti yang alamiah atau wajar) dari Alkitab. Secara khusus kepedulian mereka adalah menyelamatkan Alkitab dari penafsiran alegoris yang masih terus ada saat itu.**37 Luther mengungkapkan, “The Holy Spirit is the plainest writer and speaker in heaven and earth and therefore His words cannot have more than one, and that the very simplest sense, which we call the literal, ordinary, natural sense.” Apa yang ditekankan di sini bukanlah penafsiran harafiah yang kaku. Prinsip ini menegaskan bahwa “the Bible must be interpreted according to the manner in which it is written.”**39 Arti yang “plain” dari Alkitab adalah arti yang dimaksudkan oleh penulis manusia, dan hal itu hanya dapat dimengerti melalui analisa konteks sastra dan sejarah. Jadi jelaslah ada aturan- aturan dalam penafsiran yang harus diikuti untuk menghindari penafsiran yang subjektif dan aneh-aneh. Pengaruh dari semangat Renaissance dalam hal ini tidak bisa dipungkiri. Kita melihat adanya suatu ketertarikan baru terhadap sifat historis dari tulisan-tulisan kuno, di mana Alkitab termasuk di dalamnya.**40

Ada yang mengatakan, “It is almost a truism to say that modern historical study of the Bible could not have come into existence without the Reformation.”**41 Prinsip Reformasi ini terkait erat dengan apa yang kita sebut metode penafsiran “Grammatical-Historical,” yang berfokus pada “historical setting” dan “grammatical structure” dari bagian-bagian Alkitab. Dalam hal ini para Reformator berfokus pada sifat manusiawi dari Alkitab itu sendiri. Ekses negatif dari pendekatan ini adalah pendapat yang mengatakan bahwa Alkitab harus dimengerti dan ditafsirkan seperti buku biasa lainnya. Inilah yang membuka jalan untuk pendekatan “Historical-Critical” yang berkembang pada abad 18-19. Bedanya dengan pendekatan Reformasi adalah, iman atau komitmen teologi tidak diperbolehkan mempengaruhi penafsiran.**42 Mereka berusaha untuk netral, tetapi sebenarnya tidak dapat netral karena mereka sudah berpegang pada “teologi” (iman) mereka sendiri yaitu teologi yang tidak percaya adanya intervensi Allah dalam dunia ini. Sumbangsih gerakan Reformasi dalam hal penafsiran Alkitab sangat penting, di mana prasuposisi iman tidak mungkin dilepaskan dari penafsiran Alkitab.

Pemikiran Reformasi mengenai penafsiran Alkitab juga menolong kita untuk berhati-hati di dalam merespons segala bentuk pendekatan atau metode penafsiran posmodernisme, yang secara khusus memberikan penekanan pada respons dari pembaca masa kini (reader-response approach). Pendekatan ini beranggapan bahwa tidak ada “meaning” yang pasti dan benar, yang ada hanyalah “meanings” yang muncul atau dihasilkan dari pembaca sendiri. Bahaya subjektivisme dan relativisme sangat terlihat di sini. Memang betul penafsiran Alkitab tidak hanya berhenti pada interpretasi, tetapi aplikasi. Kendati demikian ini bukan berarti aplikasi yang tidak terkontrol dan sembarangan di mana seolah-olah pembacanya yang menentukan arti dan aplikasinya.**43

Gerakan Reformasi juga menetapkan suatu prinsip penting dalam penafsiran yaitu “Scripture is to interpret itself” (Sacra Scriptura sui interpres). Kita menafsirkan Alkitab dengan Alkitab. Oleh sebab itu, kita tidak mempertentangkan satu bagian Alkitab dengan bagian lainnya. Apa yang tidak jelas di suatu bagian mungkin dapat dijelaskan oleh bagian lain. Di balik prinsip ini ada sebuah keyakinan bahwa jikalau Alkitab ialah firman Allah maka ia bersifat koheren dan konsisten pada dirinya sendiri. Allah tidak mungkin berkontradiksi dengan diri-Nya sendiri. Memang benar Alkitab dituliskan oleh orang-orang yang berbeda, yang hidup pada zaman yang berbeda pula. Tetapi kita juga menyadari bahwa Allah adalah Penulis aslinya, sehingga jelas ada kesatuan dan koherensi. Ini tidak sama artinya dengan uniformitas (keseragaman). Para penulis manusia menunjukan tulisan mereka pada situasi yang nyata, tetapi Allah dalam kedaulatan-Nya menuntun mereka dan situasi mereka, bahkan secara langsung mempengaruhi dan mengajar mereka (bdk. 2Ptr. 1:21), sehingga kita melihat kesatuan pikiran di balik semua itu. Untuk mengetahui maksud Allah tidak mungkin kita memperhatikan “bits” dan “pieces” saja. Kita harus melihat Alkitab secara keseluruhan, sama seperti ketika kita bermaksud mengetahui maksud penulis manusia, yaitu dengan membaca hasil akhir karyanya.

Jelaskan bahwa Alkitab menyajikan tujuan ilahi. Concern Alkitab adalah memberitahukan kepada kita suatu “story,” yaitu cerita mengenai karya penebusan Allah bagi umat-Nya melalui Yesus Kristus. Alkitab menyajikan kepada kita “Redemptive History.” Oleh sebab itu ayat-ayat dalam Alkitab tidak pernah dapat ditafsirkan lepas dari konteks kesatuan keseluruhan Alkitab. Setiap bagian Alkitab berkaitan erat dan tidak boleh ditafsirkan di luar konteks rencana dan aktivitas Allah yang bersifat “redemptive-historical” dan “covenantal” (relasi antara Allah dan umat-Nya).

PENUTUP

Apakah doktrin Sola Scriptura masih relevan untuk dipertahankan? Melihat situasi yang kita hadapi saat ini maka penegasan doktrin yang mendasar ini masih sangat penting. Kita sekarang hidup pada zaman yang sering kali disebut sebagai zaman pascamodernisme. Apa yang menjadi mentalitas zaman ini? William Edgar mengemukakan, “at the heart of the postmodern mentalily is a culture of extreme skepticism… According to many postmodernists, knowledge is no longer objective-nor even useful-and ethics is not universal.”**44 Inilah dunia yang tidak kompatibel dengan kebenaran injil, dan di dalam dunia yang seperti ini Tuhan memanggil kita untuk mempertahankan kebenaran firman-Nya.

Daftar Catatan Kaki

**1. Earle E. Cairns, Christianity Through the Centuries (Edisi ketiga; GrandRapids: Zondervan, 1996) 284.

**2. Stephen Tong, Reformasi & Teologi Reformed (Jakarta: LRII, 1991) 13.

**3. Alister E. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi (Jakarta: Gunung Mulia, 1999) 174.

**4. R. C. Sproul, Grace Unknown: The Heart of Reformed Theology (Grand Rapids: Baker, 1997) 42.

**5. Tony Lane, The Lion Concise Book of Christian Thought (Tring: Lion, 1984) 110-111.

**6. What is the Reformed Faith? (Edinburgh: Banner of Truth, 1981) 5.

**7. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi 182.

**8. Ibid. 185. McGrath juga mengutip Calvin yang mengatakan, “… kita berpegang bahwa….bapa-bapa gereja dan dewan-dewan hanya berwibawa sejauh mereka sesuai dengan aturan dari firman itu, kita masih memberikan kepada dewan-dewan dan bapa-bapa gereja kehormatan dan kedudukan seperti yang sesuai untuk mereka miliki di bawah Kristus” (Sejarah Pemikiran Reformasi 186).

**9. Ibid. 186.

**10. J.M. Boice, Foundations of the Christian Faith (Downers Grove: IVP, 1986) 48.

**11. Alister McGrath, The Intellectual Origins the European Reformation (Oxford: Oxford University Press, 1987) 140-151.

**12. Sproul, Grace Unknown 42.

**13. J. Van Engen, “Tradition” dalam Evangelical Dictionary of Theology (ed. Walter Elwell; Grand Rapids: Baker, 1984) 1105.

**14. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi 182-183.

**15. Contohnya, pengajaran Roma Katolik mengenai doa untuk orang mati didasarkan pada 2Makabe 12:40-46. Bagi para Reformator, kebiasaan ini tidak mempunyai dasar alkitabiah, karena kitab tersebut adalah kitab Apokrifa.

**16. Konsili Trent 1546 tetap mendifinisikan kanon sesuai dengan apa yang ada di dalam Alkitab Vulgata.

**17. “That Doctrines of Men Are to Be Rejected” dalam What Luther Says: An Anthology (ed. Elwald M. Plass; St. Louis:Concordia, 1959) 1.63.

**18. Institutes of the Cristian Relegion (tr. H. Beveridge; London: James Clarke, 1953) I.vii.1.

**19. Calvin’s New Testament Commentaries (tr. T. A. Small; Grand Rapids: Eerdmands, 1964) 10.330.

**20. Luther sendiri juga tidak pernah mengembangkan teologi tentang inspirasi Alkitab.

**21. Boice, Foundations 39.

**22. The Inspiration and Authority of the Bible (ed. Samuel G. Craig London: Marshall & Scott, 1959) 133.

**23. Institutes I. vii. 4.

**24. Foundation 49.

**25. Institutes I.viii. 13.

**26. Dalam hal inilah kita berbeda dengan pandangan Neo-Ortodoksi mengenai Alkitab. Kita percaya bahwa tulisan-tulisan dalam Alkitab adalah perkataan Allah kepada kita, terlepas dari apakah kita membacanya, mengerti, menerimanya atau tidak. Status Alkitab tidak ditentukan oleh respons manusia. Neo-Ortodoksi menekankan bahwa Alkitab menjadi firman Allah pada saat ada “encounter.” Ketika tidak ada encounter, maka Alkitab hanyalah kata-kata manusia belaka yang menuliskannya. Sebenarnya pengertian wahyu sebagai suatu “encounter” tersebut adalah apa yang kita mengerti sebagai iluminasi. Pada saat seseorang diyakinkan akan suatu kebenaran tertentu, itu berarti illuminasi sedang terjadi.

**27. Robert M. Grant dan David Tracy, A Short History of the Interpretation of the Bible (Edisi kedua; Minneapolis: Fortress, 1984) 100-109. Tepatlah apa yang dikatakan Boice, “The Catholic Church weakened the orthodox view of the Bible by exalting human traditions to the stature of Scripture. Protestans weakened the orthodox view of Scripture by lowering the Bible to the level of traditions” (Foundations 70)

**28. Atau Whatever Happened to Evangelical Theology? (Grand Rapids: Eerdmans,1993).

**29. What is the Reformed Faith? 17-18

**30. Alkitab: Buku Untuk Masa Kini (tr. Paul Hidayat; Jakarta: PPA, 1987)60-61.

**31. Moises Silva, Has the Church Misread the Bible? (Grand Rapids:Zondervan, 1987)77.

**32. Sproul, Grace Unknown 55.

**33. Silva, Has the Church 95.

**34. Dikutip dari Dan McCartney dan Charles Clayton, Let the Reader Understand: A Guide to Interpreting and Applying the Bible (Wheathon: Bridgepoint, 1994) 93.

**35. John Calvin: A Biography (Philadelphia: Westminster, 1975) 132.

**36. Silva, Has the Church 96.

**37. Ibid. 77-78.

**38. Works of Martin kLuther (Philadelpia: Holman, 1930) 3.350

**39. Sproul, Grace Unknown 56.

**40. Edgar Krentz, The Historical-Critical Method (Philadelphia: Fortress, 1975) 7-10.

**41. Grant and Tracy, A Short History 92.

**42. Krentz, The Historical 16-30.

**43. Lihat ulasan yang menarik oleh Kevn J. Vanhoozer, Is There A Meaning in the Text? The Bible the Reader, and the Morality of Literary Knowledge (Grand Rapids: Zondervan, 1998) khususnya pasal 4 & 7.

**44. Reasons of the Heart: Recovering Christian Persuasion (Grand Rapids: Baker, 1996) 25.

Sumber: Doktrin Sola Scriptura ,Yohanes Adrie Hartopo Majalah Veritas (Vol. 3, Nomor 1 – April 2002)


Calvin dan Tuduhan Skisma dari Katolik Roma Terhadap Para Reformator

Calvin bisa dianggap sebagai seorang pemimpin gereja yang ekumenikal. Namun, dalam kebanyakan studi tentang sikap ekumenikal Calvin, mau tidak mau kita merasakan adanya prasuposisi yang tidak semestinya, yang tidak berhubungan dengan situasi aktual abad keenam belas dan tujuh belas. Mungkin sulit diperlihatkan sampai sejauh mana sikap seseorang terhadap gerakan ekumenikal saat ini mempengaruhi kesimpulannya tentang ekumenisme para Reformator. Studi-studi ekumenikal merupakan subjek persoalan yang sensitif dan melibatkan loyalitas subjektif yang tidak selalu diakui secara terbuka.

Masalah subjektivitas ini merupakan problem metodologis dalam studi mengenai ekumenisme Calvin. Sebelum melakukan pendekatan secara objektif mengenai posisinya terhadap gereja Katolik Roma, pertama- tama kita harus menyadari prasuposisinya yang mendasar dan harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat. Menurut saya, dari perspektif para Reformator, terutama Calvin, pertanyaannya bukanlah apakah seharusnya ada reuni dengan gereja Roma, tetapi, dengan cara bagaimana gereja itu bisa direformasi ke dalam keadaannya yang lebih murni. Ia tidak ragu-ragu mengatakan bahwa gereja Roma telah kehilangan status privilesenya sebagai gereja sejati.

Richard Stauffer, menurut hemat saya, melakukan pendekatan yang tepat terhadap posisi Calvin berkenaan dengan gereja Roma. Ia mengatakan bahwa kita harus kembali ke latar belakang polemik-polemik abad ke-16 untuk memahami pemosisian Calvin tentang Reformasi berkaitan dengan gereja Roma. “Dalam pandangan Reformator Jenewa itu, sesungguhnya hal itu merupakan masalah pembedaan antara gereja yang sejati dan yang palsu.”.**1 Ia bersikeras bahwa hanya ada satu gereja yang katolik dan kudus dan bahwa para Reformator tidak sedang menciptakan gereja yang lain. Baginya, maksud dari Reformasi adalah untuk mereformasi gereja Roma, bukannya membentuk gereja yang lain. Ia mengakui bahwa jemaat-jemaat Protestan memang telah muncul sebagai akibat dari Reformasi, namun semuanya ini merupakan bagian atau ekspresi dari gereja katolik yang satu dan kudus, dan itu tidak dapat menghalangi seseorang dari persekutuan dengan orang-orang Kristen dari komunitas persekutuan lainnya. Dengan kata lain, bagi Calvin, denominasionalisme sebagaimana yang kita kenal sekarang merupakan sebuah anomali. Seharusnya ada partisipasi penuh dan pengakuan mutual serta penerimaan terhadap orang-orang Kristen dari jemaat manapun. Calvin bahkan akan mengingkari gagasan tentang “Calvinisme.” Dalam kesemuanya ini, baik pendiriannya terhadap gereja Roma maupun relasinya dengan gereja-gereja Protestan, ia memperlihatkan bahwa maksud dari Reformasi adalah untuk merestorasi gereja katolik yang satu dan kudus itu ke dalam keadaan yang lebih murni. Menurut saya, setiap studi tentang sikap ekumenisme Calvin seharusnya bertolak dari maksud Reformasi ini.

Para sarjana baru-baru ini cenderung terfokus pada pertanyaan tentang apakah Calvin melakukan separasi atau mengupayakan kesatuan dengan gereja Roma. Jean Cadier**2 dan Martin Klauber**3, misalnya, yakin bahwa posisi Calvin adalah separasi dengan gereja Roma. Menurut saya, “separasi” bukanlah kategori yang tepat karena mengandung ambiguitas tertentu di dalamnya. Sebagaimana akan kita lihat yang terlibat adalah soal-soal yang lebih dalam daripada separasi dan Calvin bersikeras bahwa para Reformator bukanlah skismatik. Cadier menyebut konferensi-konferensi dengan Katolik Roma di mana Calvin berpartisipasi dengan begitu aktif. Jika pendirian Calvin terhadap gereja Roma pada intinya adalah separasi, satu pertanyaan perlu diajukan, biar bagaimanapun mengapa ia mau berpartisipasi dalam pertemuan-pertemuan seperti itu? Di sisi lain, pengakuan iman fundamental yang dipresentasikan Klauber, dapat, dan seharusnya, dilihat dengan cara berbeda, bukan hanya “sebagai basis untuk usaha persatuan eklesiastikal di antara berbagai kubu Protestan,”**4 namun juga sebagai dasar untuk diskusi dengan orang-orang Katolik.

Ada sekelompok sarjana lain**5 yang lebih positif memandang relasi Calvin dengan gereja Roma, dan mereka percaya bahwa meski Calvin bersikap nonkompromis dalam keyakinan teologisnya, namun ia tetap mengharapkan kesatuan gereja-gereja, termasuk gereja Roma. John T. McNeil memberikan analisa historis yang baik mengenai usaha-usaha ekumenikal Calvin dan menyimpulkan bahwa ia tidak akan mengalah untuk apa yang ia anggap sebagai kebenaran hakiki, demi memperoleh kedamaian di antara gereja dan menegakkan kebersamaan di antara mereka. Namun McNeil juga setuju dengan kebanyakan sarjana Calvin bahwa ia akan menyambut dengan senang hati setiap kesempatan berunding guna membentuk relasi maksimum dengan setiap gereja, termasuk gereja Roma.**6 I. John Hesselink tiba pada kesimpulan serupa dengan McNeill, meskipun melalui pendekatan berbeda.

Menurut Robert M. Kingdon, posisi Calvin bersifat terbuka dan sikap ini bisa ia pakai sebagai pendekatan ekumenikal. Kingdon mengakui adanya kesepakatan antara Katolikisme Tridentine dan Protestantisme Ortodoks dan ini dapat dipelajari oleh semua orang yang berusaha memahami kepedulian Protestan yang dalam, agar semua doktrin Kristen terkokoh berdasar pada Alkitab.**7 Theodore W. Casteel melihat reaksi Calvin terhadap konsili Trent dalam konteks pemikiran konsiliar sang Reformator. Ia menyimpulkan, “Reformator Jenewa itu melihat harapan terbaik akan adanya rekonsiliasi dalam sebuah konsili yang benar-benar ekumenikal–sebuah proyek yang ia perjuangkan hingga akhir hidupnya.**8

Pada dasarnya saya mengikuti kelompok kedua yang berpendapat bahwa Calvin bersikap nonkompromi dalam keyakinannya, kendati demikian ia tetap mengharapkan reformasi gereja Roma yang akan mengarah pada kesatuan. Saya akan mencoba menunjukkan hal ini dengan cara yang belum pernah ditempuh sebelumnya, yakni, menganalisa jawaban Calvin terhadap tuduhan Katolik Roma bahwa para Reformator adalah skismatik. Artikel ini berisi sebagai berikut: tuduhan skismatik dari Katolik Roma terhadap para Reformator, pemahaman Katolik Roma tentang kesatuan, respons Calvin atas tuduhan skisma, dan akhirnya, pada bagian kesimpulan, pengertian Calvin tentang kesatuan gereja, yang diintisarikan dari responsnya terhadap tuduhan skisma dan dari Institutes. Yang pertama dari tiga bagian ini akan diambil terutama dari traktat-traktat dan risalah-risalah yang berhubungan langsung dengan polemik-polemik Calvin-Roma Katolik.**9 Semua isu yang dipresentasikan dalam artikel ini, tentu saja, terdapat dalam Institutes, dan dengan demikian, saya akan mengutip bagian-bagian Institutes yang paralel dan relevan pada catatan kaki.

TUDUHAN SKISMA ROMA KATOLIK

Tuduhan skisma yang paling menonjol terdapat dalam surat yang ditulis oleh uskup Roma, Sadoleto, kepada senat dan masyarakat Jenewa (1539). Melalui surat ini, ia memanfaatkan kesempatan dalam peristiwa pengusiran Calvin dari Jenewa untuk membujuk penduduk Jenewa agar kembali ke sisi gereja Roma. Ia menggambarkan para Reformator sebagai musuh-musuh kesatuan dan kedamaian Kristen, yang menabur benih-benih perselisihan, dan membuat jemaat Kristus yang setia berbalik dari jalan bapa-bapa dan para leluhur mereka.**10 Ia membandingkan mereka seperti abses, “by which some corrupted flesh being torn off, is separated from the spirit which animates the body, and no longer belongs in substance to the body Ecclesiastic.”**11 Paus Paulus III dalam suratnya kepada kaisar Charles V (1544) melukiskan para Reformator sebagai pengacau yang senang dengan pertikaian: “Nay, they rather entirely deprive the Church of all discipline, and of all order, without which no human society can be governed.”**12

Sadoleto, dalam surat yang sama, meragukan ajaran-ajaran para Reformator sebab ajaran itu merupakan inovasi yang baru tercipta, yang usianya baru 25 tahun. Ia mengagungkan kemuliaan usia gereja Katolik Roma yang menurutnya telah hadir selama lebih dari 1500 tahun dan mengklaim bahwa bapa-bapa leluhur gereja berada di pihaknya. Klaim atas otoritas bapa-bapa leluhur gereja merupakan salah satu pokok persengketaan dalam polemik Calvin-gereja Roma. Bagi Sadoleto, yang menjadi soal perdebatan adalah apakah ia harus mengikuti gereja Katolik Roma kuno ataukah membenarkan para pendatang baru yang skismatik itu. “Inilah tempatnya, saudara yang terkasih, inilah jalan raya di mana jalan itu terbagi ke dua arah, yang satu mengarah pada kehidupan, dan yang lain pada kematian abadi.”**13 Ini merupakan seruan kepada orang Katolik untuk memisahkan diri dari para Reformator, sebuah seruan yang semata-mata dibuat berdasar pada otoritas gereja dan tradisi yang diwarisi dari para orang tua. Dasar seruan ini dibuat menjadi lebih eksplisit melalui gambaran Sadoleto tentang dua pilihan atau dua cara, dengan menghadirkan dua orang yang diuji di hadapan Allah. Orang pertama, anggap saja seorang Katolik yang setia, akan mengakui imannya berdasar otoritas gereja Katolik dengan semua hukum, nasihat dan dekritnya. Ia tampil di hadapan Allah berdasar pada ketaatannya pada gereja bapa-bapanya dan bapa-bapa leluhurnya. Dalam pengakuannya itu terefleksikan tuduhan tanpa bukti terhadap para Reformator:

And though new men had come with the Scripture much in their mouths and hands, who attempted to stir some novelties, to pull down what was ancient, to argue against the Church, to snatch away and wrest from us the obedience which we all yielded to it, I was still desirous to adhere firmly to that which had been delivered to me by my parents, and observed from antiquity, with the consent of most holy and most learned Fathers.**14

Kesetiaan kepada gereja merupakan definisi dari hierarki Katolik tentang orang Kristen yang baik, karena di dalam gerejalah keselamatan kekal seseorang yang setia paling terjamin. Paulus III dalam surat tersebut di atas menasihati kaisar Charles V untuk tidak memberi kelonggaran pada kelompok Protestan dan tetap berpegang pada otoritas gereja:

But, dear son, everything depends on this, that you do not allow yourself to be withdrawn from the unity of the Church, that you do not backslide from the custom of the most religious Princes, your forefathers, but in everything pertaining to the discipline, order, and institutions of the Church, pursue the course by which you have, for many years, given the strongest proofs of heart-felt piety.**15

Selanjutnya, Sadoleto menggambarkan orang yang lain, anggaplah mewakili para Reformator, sebagai seorang yang iri dan dengki pada kekuasaan dan privilese hierarki Roma. Kegagalan para Reformator untuk berbagi kekayaan eklesiastikal telah menggerakkan mereka untuk menyerang gereja dan, “induced a great part of the people to contemn those rights of the Church, which had long before been ratified and inviolate.”**16 Ia menuduh mereka semata-mata memberontak pada otoritas konsili, bapa-bapa gereja, para Paus Roma dan tradisi- tradisi.**17 Impresi yang ingin ia bentuk ialah bahwa pemberontak Reformed itu mengklaim mereka tahu lebih banyak dari ajaran-ajaran kuno. Tetapi rasa frustasi karena gagal untuk mengubah gereja akhirnya membuat mereka memecah-belahnya. Pernyataan terakhir sang Reformator yang merasa tidak puas itu, seperti digambarkan oleh Sadoleto, mengatakan demikian:

Having thus by repute for learning and genius acquired fame and estimation among the people, though, indeed, I was not able to overturn the whole authority of the Church, I was, however, the author of great seditions and schisms in it.**18

Di samping itu, tuduh Sadoleto, para Reformator bukan saja memecah gereja tetapi juga mengoyak-ngoyaknya. Ia mengamati bahwa sejak masa Reformasi sekte-sekte berkembang biak. “Sects not agreeing with them, and yet disagreeing with each other–a manifest indication of falsehood, as all doctrine declares.”**19. Pemecahan dan pengoyakan gereja yang kudus itu, menurutnya, sepatutnya adalah pekerjaan setan, bukan pekerjaan Allah.

PEMAHAMAN KATOLIK ROMA MENGENAI KESATUAN

Tuduhan skisma yang sama dilakukan dalam Adultero-German Interim (1548),**20 meskipun tidak langsung seperti dalam surat-surat Sadoleto dan Paulus III. Menurut dekrit imperial ini ada dua tanda yang membedakan gereja dari kawanan skismatik dan bidat, yaitu kesatuan dan katolisitas. Di sini kesatuan dijabarkan sebagai ikatan kasih dan damai yang mempersatukan anggota-anggota gereja bersama-sama.**21 Perhatikan bahwa dalam kesatuan tersebut tidak disebutkan adanya fondasi doktrinal dan spiritual, kecuali ketaatan yang mutlak terhadap ajaran dan disiplin gereja. Lebih jauh lagi, gereja Roma menyombongkan diri sebagai katolik melalui klaimnya atas ekspansi geografis dan temporal serta suksesi apostolik: “diffused through all times and places, and through means of the Apostles and their successors, continued even to us, being propagated by succession even to the ends of the earth, according to the promises of God.”**22 Skismatik dan bidat-bidat, sebagaimana dituduhkan kepada para Reformator, “break the bond of peace, and to their own destruction deprive themselves of Catholic union, while they prefer their own party to the whole universal Church.”**23. Untuk memelihara kesatuan dan integritas gereja Katolik seseorang harus tunduk pada otoritasnya dengan kerendahan dan ketaatan. Sadoleto mengungkapkan sikap demikian:

For we do not arrogate to ourselves anything beyond the opinion and authority of the Church; we do not persuade ourselves that we are wise above what we ought to be; we do not show our pride in contemning the decrees of the Church; we do not make a display among the people of towering intellect or ingenuity, or some new wisdom; but (I speak of true and honest Christians) we proceed in humility and in obedience, and the things delivered to us, and fixed by the authority of our ancestors, (men of the greatest wisdom and holiness) we receive with all faith, as truly dictated and enjoined by the Holy Spirit.**24

Dengan demikian, dapat kita katakan bahwa bagi gereja Roma makna kesatuan tidak lain dari sikap tunduk, yang menjadi dasar klaim infalibilitas dan otoritas gereja. Terhadap dasar inilah sekarang kita beralih.

Kesatuan gereja, menurut Katolik Roma, bertumpu pada infalibilitasnya. Hal ini terungkap jelas dalam Articles Agreed Upon by the Faculty of the Sacred Theology of Paris (1542).**25 Artikel XVIII menyatakan:

Every Christian is bound firmly to believe, that there is on earth one universal visible Church, incapable of erring in faith and manners, and which, in things which relate to faith and manners, all the faithful are bound to obey.**26

Dari artikel ini jelas terbukti bahwa otoritas gereja merupakan otoritas hierarki. Hierarki disamakan dengan gereja yang visibel dan infalibel. Karena visibilitas gereja didasarkan atas visibilitas hierarki, maka yang belakangan juga dianggap infalibel. Bukti kedua untuk infalibilitas hierarki (dan karena itu, otoritasnya juga) ialah suksesi yang terus-menerus dari Petrus. Karena doktrin inilah apapun yang telah ditentukan gereja Roma bersifat otoritatif. Hal ini juga didukung oleh klaim bahwa gereja dipimpin langsung oleh Roh Kudus, karena Roh Kudus tidak bisa salah, maka gereja pun demikian.**27

Infalibilitas gereja merupakan dasar otoritas gereja, dan menjadi perisai yang tak terkalahkan yang melindungi gereja dari serangan musuh-musuhnya, seperti dinyatakan oleh artikel XVII. Di atas dasar inilah bertumpu doktrin-doktrin dan kekuatan gereja. Artikel-artikel berikut**28 memperlihatkan otoritas infalibel gereja yang berakar dari artikel XVIII yang mendahuluinya:

Article XIX: That to the visible Church belongs definitions in doctrine. If any controversy or doubt arises with regard to any thing in the Scriptures, it belongs to the foresaid Church to define and determine.

Article XX: It is certain that many things are to be which are not expressly and specially delivered in the sacred Scriptures, but which are necessarily to be received from the Church by tradition.

Article XXI: With the same full conviction of its truth ought it to be received, that the power of excommunicating is immediately and of divine right granted to the Church of Christ, and that, on that account, ecclesiastical censures are to be greatly feared.

Article XXII: It is certain that a General Council, lawfully convened, representing the whole Church, cannot err in its determination of faith and practice

Article XXIII: Nor is it less certain that in the Church militant there is, by divine right, a Supreme Pontiff whom all christians are bound to obey, and who, indeed, has the power of granting indulgences.

Semua artikel iman ini dimaksudkan untuk memelihara kesatuan gereja, yang menurut pemahaman hierarki gereja Roma, berdasar pada infalibilitas dan otoritasnya. Calvin menolak semua ini dalam polemik- polemiknya dengan gereja Roma. Sebelum kita melihat penolakannya terhadap artikel-artikel iman Paris ini, kita akan menganalisa responsnya atas tuduhan skisma dari hierarki Katolik Roma.

FIRMAN ALLAH DAN GEREJA: RESPONS CALVIN TERHADAP TUDUHAN SKISMA

Isu mendasar berkaitan dengan tuduhan skisma ialah pemahaman tentang gereja. Pada prinsipnya Calvin sependapat dengan Sadoleto bahwa tidak ada yang lebih membahayakan bagi keselamatan kita daripada ibadah yang sia-sia dan menentang aturan Allah. Ia menganggap prinsip ini sebagai batu loncatan bagi pembelaannya atas tuduhan Sadoleto. Namun pertanyaannya, menurut Calvin, dari dua pihak ini manakah yang memelihara ibadah yang benar pada Allah? Bagi Sadoleto, tulis Calvin, ibadah yang benar adalah seperti yang ditentukan oleh gereja. Namun, ia mengajukan sebuah pertanyaan serius sehubungan dengan penggunaan kata “gereja” oleh Sadoleto dan para pengikut Paus. Ia menuduh Sadoleto memiliki delusi tentang istilah “gereja,” atau paling tidak, secara sadar ia memberikan keterangan yang tampaknya mengesankan tetapi palsu. Dalam the Necessity of Reforming the Church, ia mendesak audiensinya untuk tidak merasa takut terhadap penggunaan kata “gereja” oleh para pengikut Paus.**29 Para nabi dan rasul telah berjuang melawan “gereja pura-pura” pada masa mereka. Mereka juga dituduh telah menghina kesatuan gereja. Namun pertanyaannya, gereja yang mana? Bagi Calvin tidaklah cukup hanya menggunakan nama gereja seperti yang dilakukan para pengikut Paus yang berusaha mengejutkan orang-orang dengan memutarbalikkan istilah gereja. “Penilaian harus dilakukan untuk memastikan yang mana gereja sejati, dan apa natur kesatuannya.”**30

Menurutnya, ada dua tanda gereja yang sejati, yakni pemberitaan firman yang setia dan pelaksanaan sakramen yang tepat. Berkaitan dengan kesatuan gereja maka hal yang pertama-tama perlu diperhatikan adalah berhati-hati supaya gereja tidak terpisah dari Kristus, Kepalanya.**31 Ia menjabarkan apa yang ia maksud dengan Kristus, “Ketika saya mengatakan Kristus, maka termasuk dalam pengertiannya adalah doktrin-Nya yang Ia meteraikan dengan darah-Nya.”**32 Melalui kesatuan antara gereja dan Kristus inilah Calvin menyangkal tuduhan bahwa ia dan para Reformator tidak sependapat dengan gereja.**33 Tuduhan skisma harus dianggap sebagai ketaatan kepada Kristus lebih dari ketaatan kepada gereja Roma. Dalam The Method of Giving Peace to Christendom and Reforming the Church, Calvin, mengutip Hilary, berkeyakinan bahwa satu-satunya kedamaian gereja ialah yang berasal dari Kristus. Ikatan kedamaian adalah kebenaran Injil.**34 Implikasi kesatuan itu diekspresikan demikian: “Wherefore, if we would unite in holding a unity of the Church, let it be by a common consent only to the truth of Christ.”**35 Selanjutnya, dalam Remarks on the Letter of Pope Paul III (to the Emperor Charles V), ia mengusulkan sebuah pembedaan antara gereja yang sejati dan yang palsu berdasar pada kesetiaan kepada Kristus, yang merupakan dasar kesatuan.

Let Farnese (Pope) then show that Christ is on his side, and he will prove that unity of the Church is with him. But seeing it is impossible to adhere to him without denying Christ, he who turns aside from him makes no departure from the Church, but discriminates between the true Church and a church adulterous and false.**36

Calvin menekankan firman Allah dalam pemahamannya tentang gereja. Yang ia maksud dengan gereja ialah, “from incorruptible seed begets children for immortality, and, when begotten, nourishes them with spiritual food (the seed and food being the Word of God).”**37 Tempat bagi firman Allah adalah sesuatu yang hilang dalam pengertian gereja Roma. Kepada Sadoleto ia menyatakan,

In defining the term, you omit what would have helped you, is no small degree, to the right understanding of it. When you describe it as that which in all parts, as well as at the present time, in every region of the earth, being united and consenting in Christ, has been always and every where directed by the one Spirit of Christ, what comes of the Word of the Lord, that clearest of all marks, and which the Lord himself, in pointing out the Church, so often recommends to us? For seeing how dangerous it would be to boast of the Spirit without the Word, he declared that the Church is indeed governed by the Holy Spirit, but in order that that government might be not be vague and unstable, he annexed it to the Word of God.**38

Bagi Calvin, Roh dan firman tidak dapat dipisahkan. “Learn, then by your own experience, that it is no less unreasonable to boast of the Spirit without the Word, than it would be absurd to bring forward the Word itself without the Spirit.”**39 Dengan prinsip ini, ia memberikan definisi yang lebih tepat tentang gereja, yaitu “sebuah kumpulan dari semua orang kudus, sebuah kumpulan yang menyebar ke seluruh dunia dan hadir di sepanjang zaman, namun terikat bersama- sama oleh satu doktrin, dan satu Roh Kristus, yang mempererat dan memelihara kesatuan iman dan harmoni persaudaraan.”**40 Dari definisi ini ia kemudian membuat klaim yang pasti tentang kesatuan: “With this Church we deny that we have any disagreement. Nay, rather, as we revere her as our mother, so we desire to remain in her bosom.”**41 Calvin menyatakan bahwa para Reformator menganggap kesatuan gereja sebagai sesuatu yang kudus dan mereka menyampaikan kutuk terhadap semua orang yang dengan cara apapun melanggarnya.**42 Ia memahami kesatuan gereja sebagai sesuatu yang berakar dari prinsip Kitab Suci, “satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua.” Ia mencirikan iman dengan mengatakan, “Lebih jauh, kita harus ingat apa yang dikatakan dalam perikop lain, ‘bahwa iman datang dari firman Allah.’ Karena itu, biarlah itu menjadi poin yang pasti bahwa kesatuan yang kudus hadir di antara kita, ketika kita sepakat dalam doktrin yang murni kita dipersatukan dalam Kristus saja.”**43 Syarat kedamaian adalah “Kebenaran Allah yang murni, suara dari Sang Gembala semata,” sedangkan “terhadap suara orang-orang asing penjaga menentang dan menolaknya.”**44 Melalui hal ini ia menekankan kesepakatan doktrinal lebih dari sekadar ketaatan eksternal kepada gereja. Ia memberikan komentar terhadap perkataan Paulus di Efesus 4:12-15:

Could he [Paul] more plainly comprise the whole unity of the Church in a holy agreement in a true doctrine, than when he calls us back to Christ and to faith, which is included in the knowledge of him, and to obedience to the truth?**45

PELAYANAN GEREJA DAN FIRMAN ALLAH

Salah satu isu yang Calvin bahas dengan Sadoleto adalah masalah jabatan-jabatan gereja. Ia mengamati dari surat Sadoleto bahwa Sadoleto menuntut ketaatan dan kesetiaan kepada pejabat-pejabat gereja dengan landasan bahwa mereka dianugerahkan otoritas. Calvin mengoreksi gagasan yang keliru ini. Baginya, otoritas dan kekuasaan orang-orang yang ditunjuk untuk jabatan gereja dibatasi dalam limit-limit tertentu sesuai jabatan mereka menurut firman Allah. Dalam limitasi ini Kristus membatasi penghormatan yang Ia haruskan untuk diberikan kepada para rasul dan, karena itu, juga kepada para gembala. Tugas utama para gembala adalah memberitakan dan mengajarkan sabda Tuhan guna memajukan gereja. Inilah satu-satunya tujuan kekuasaan rohani, yakni “to avail only for edification, to wear no semblance of domination, and not to be employed in subjugating faith.”**46 Paus, meskipun mengklaim sebagai pengganti Petrus, juga tidak dibebaskan dari limitasi ini. Kemerosotan disiplin di kalangan para uskup Roma, menurut pengamatan Calvin, adalah salah satu alasan mengapa gereja telah jatuh ke dalam kondisi yang demikian menyedihkan. Disiplin gereja mempunyai beberapa implikasi bagi kesatuannya karena menurutnya, agar gereja bersatu harus diikat bersama-sama melalui disiplin seperti halnya tubuh yang diikat otot-ototnya. Dalam hal ini menuduh balik para pejabat Katolik Roma yang telah menghancurkan integritas gereja melalui penyalahgunaan jabatan eklesiastikal; merekalah yang menabur benih-benih perpecahan. Ia secara tegas menyangkal tuduhan Sadoleto yang mengatakan bahwa para Reformator melepaskan diri dari kuk tirani gereja agar mereka sendiri bebas untuk melakukan tindakan amoral yang tak terkendalikan.**47

Dalam The Necessity of Reforming the Church, Calvin mengevaluasi pertanyaan tentang suksesi yang berhubungan dengan masalah disiplin gereja, dan dengan demikian, seperti telah kita lihat di atas, berhubungan juga dengan kesatuan gereja. Mengenai hubungan antara kontinuitas (atau suksesi) dan kesatuan ia mengatakan, “no one, therefore, can lay claim to the right of ordaining, who does not, by purity of doctrine, preserve the unity of the Church.”**48 Pernyataan ini merupakan reaksi terhadap klaim Katolik Roma bahwa hanya merekalah yang memiliki hak dan kekuasaan untuk menahbiskan orang-orang ke dalam pelayanan gereja dan menentukan bentuk ordinasinya. Para pengikut Paus menyebut kanon-kanon kuno yang mereka klaim telah memberikan superintendensi untuk masalah-masalah mengenai para uskup dan klerus.**49 Suksesi yang konstan telah dilimpahkan kepada mereka, bahkan itu berasal dari para rasul. Mereka menyangkal bahwa jabatan itu bisa ditransfer secara sah kepada orang lain. Dengan demikian, berkaitan dengan klaim suksesi ini, para Reformator yang menjalankan pelayanan tanpa otoritas Katolik Roma, telah merampas kekuasaan eklesiastikal dan telah melakukan invasi terhadap wewenang hierarki Katolik Roma.**50

Calvin membantah klaim suksesi ini dengan menyatakan bahwa suksesi apostolik telah lama diinterupsi oleh keuskupan Katolik Roma.

But if we consider, first, the order in which for several ages have been advanced to this dignity, next the manner in which they conduct themselves in it, and lastly, the kind of persons whom they are accustomed to ordain, and to whom they commit the goverment of churches, we shall see that this succession on which they pride themselves was long ago interrupted.**51

Ia menguraikan tiga kategori aturan penunjukan para uskup, cara bagaimana mereka mengatur diri mereka sendiri dalam jabatan itu, dan jenis orang yang mereka tunjuk.**52 Pertama, oleh karena hierarki Katolik telah merebut bagi diri mereka sendiri kekuasaan tunggal untuk menunjuk para klerus, Calvin mendebatnya dengan bertitik tolak dari sejarah gereja, “the magistracy and people had a discretionary power (arbitrium) of approving or refusing the individual who was nominated by the clergy, in order that no man might be intruded on the unwilling or not consenting.”**53 Dalam hal cara para uskup mengatur diri mereka, ia bersikeras agar siapapun yang mengatur gereja, hendaknya ia juga mengajar.**54 Tujuan Kristus menunjuk para uskup dan gembala ialah, seperti dinyatakan Paulus, agar mereka mengajar gereja dengan doktrin yang sehat. Menurut pandangan ini, seorang gembala gereja yang baik tidak mungkin tidak melaksanakan tugas mengajar.**55 Ia mengamati bahwa para uskup tidak melaksanakan tugas ini dengan setia. “As if they had been appointed to secular dominion, there is nothing they less think of than episcopal duty.”**56 Tidak heran jika kemudian orang-orang yang mereka promosikan untuk mendapat kehormatan sebagai imam adalah mereka yang memiliki karakter serupa. Ia menuntut dengan tegas agar ada eksaminasi yang ketat terhadap kehidupan dan doktrin mereka yang ingin menjadi pendeta, seperti yang sekarang dilakukan di gereja-gereja para Reformator.**57 Mengenai upacara ordinasi, Calvin berargumen bahwa praktek Katolik Roma tidak bersumber dari Alkitab.**58 “Satu-satunya yang kita baca, seperti yang biasa dilakukan pada zaman kuno, adalah penumpangan tangan.”**59

Hal yang sangat kritis dalam semua klaim suksesi apostolik ini ialah doktrin Injil yang murni. Keprihatinannya ini ia rangkum dengan kalimat, “Setiap orang yang melalui tingkah lakunya memperlihatkan bahwa ia adalah musuh dari doktrin yang sehat, apapun gelar yang mungkin ia banggakan, ia telah kehilangan semua otoritasnya dalam gereja,”**60 karena itu ia pun tidak bisa mengklaim suksesi apostolik. Pernyataan-pernyataan ini begitu signifikan sebab telah menggoncangkan fondasi utama gereja Roma.

KESATUAN DAN FIRMAN ALLAH

Pemahaman yang benar mengenai gereja dalam relasinya dengan firman Allah, batasan-batasan dan tujuan jabatan otoritas gereja dan disiplin, serta suksesi apostolik yang tepat telah meletakkan dasar bagi pembelaan Calvin terhadap tuduhan skisma dan bidat. Dalam jawabannya kepada Sadoleto, ia membuat pembelaan ini dengan mempertentangkan pengakuan dari orang Kristen Reformed dengan kesetiaan Katolik yang dipaparkan oleh Sadoleto. Reformator itu mengaku bahwa tidak ada hal lain yang ia lakukan kecuali percaya bahwa tidak ada kebenaran yang dapat mengarahkan jiwa seseorang menuju jalan kehidupan selain dari apa yang dikobarkan melalui firman itu. Segala hal lain yang berasal dari penemuan manusia adalah kesombongan yang sia-sia dan pemberhalaan.

Calvin berusaha menghadirkan dan menguraikan apa yang dipercayainya sebagai doktrin yang murni dan kebenaran Injil. Melalui hal ini ia memperjelas bahwa tujuan para Reformator adalah untuk kebangkitan gereja kembali. Ia memperhatikan bahwa sejumlah besar kebenaran dari doktrin kenabian dan evangelikal telah musnah dan telah “diusir dengan kasar oleh api dan pedang”**61 dalam gereja Roma. Ia menolak tuduhan Sadoleto bahwa semua yang coba dilakukan oleh para Reformator hanyalah untuk menghancurkan semua doktrin sehat yang telah disetujui oleh orang-orang beriman selama lima belas abad. Dengan gamblang ia menjelaskan bahwa para Reformator jauh lebih sesuai dengan zaman awal kekristenan dibanding gereja Roma,**62 dan Sadoleto sendiri tidak dapat menyangkalnya.

Bagi Calvin, bentuk gereja yang telah diinstitusikan oleh para rasul merupakan satu-satunya model yang benar, dan bentuk kuno gereja itu yang dibuktikan dalam tulisan-tulisan bapa-bapa gereja kini telah menjadi puing-puing. Ia memperjelas tujuan tindakan para Reformator yaitu untuk memperbarui gereja, dan perlunya melakukan hal itu bukan disebabkan oleh imoralitas dari keuskupan Roma seperti yang diklaim oleh Sadoleto. Menurut Calvin, yang mendorong para Reformator melakukan reformasi ialah karena “cahaya kebenaran ilahi itu telah dipadamkan, firman Allah telah dikubur, kebaikan Kristus tertinggal dalam pengabaian yang dalam, dan jabatan gembala ditumbangkan.”**63 Dengan berjuang menentang kejahatan-kejahatan seperti itu, mereka tidak berperang melawan gereja, namun justru mendampingi gereja di tengah penderitaannya yang sangat.**64 Ia bertanya kepada Sadoleto dengan tajam, apakah seseorang yang “sangat giat untuk kesalehan dan kekudusan seperti pada zaman gereja mula-mula, yang tidak puas dengan kondisi yang ada dalam gereja yang pecah dan rusak, dan berusaha untuk memperbaiki kondisi gereja serta merestorasinya agar mencapai kemegahan yang sejati” akan dianggap sebagai musuh?**65 Pastor Jenewa itu menyebut dua tanda dari gereja yang telah disebutkan di atas dan bertanya kepada kardinal Katolik itu, “dengan yang manakah dari hal- hal ini yang kalian ingin kami gunakan untuk menilai gereja?”**66

Apa yang disebut skisma oleh orang-orang Katolik Roma, Calvin menyatakannya sebagai usaha para Reformator untuk membawa gereja yang terdisintegrasi itu kepada kesatuan.**67 Ia membuat sebuah analogi menarik antara orang yang melakukan Reformasi dan seseorang yang mengangkat panji pimpinan militer untuk memanggil prajurit-prajurit yang terpencar agar kembali ke pos mereka. Pemimpin militer itu adalah Kristus dan prajurit-prajurit yang terpencar itu ialah para pemimpin gereja. Orang yang mengangkat bendera pemimpin itu adalah Reformator, dan diangkatnya bendera menandakan sebuah panggilan bagi kesatuan, yang diekspresikan Calvin dengan tajam,

In order to bring them together, when thus scattered, I raised not a foreign standard, but that noble banner of thine whom we must follow, if we would classed among thy people …. Always, both by word and deed, have I protested how eager I was for unity. Mine, however, was a unity of the Church, which should begin with thee and end in thee. For as oft as thou didst recommend to us peace and concord, thou, at the same time, didst show that thopu wert the only bond for preserving it. But if I desired to be at peace with those who boasted of being the heads of the Church and pillars of faith, I behoved to purchase it with the denial of thy truth. I thought that any thing was to be endured sooner than stoop to such a nefarious paction.**68

Calvin menyamakan para klerus Roma dengan serigala yang sangat lapar dan nabi-nabi palsu yang Kristus prediksikan akan ada di antara umat- Nya. Tindakan para Reformator dibandingkan dengan pelayanan para nabi zaman kuno, yang tidak dianggap skismatik ketika mereka mengharapkan bangkitnya kembali agama yang telah terdekadensi. Mereka tetap berada di dalam kesatuan gereja,**69 “walaupun mereka ditetapkan untuk dihukum mati oleh para pendeta yang jahat, dan dianggap tidak layak memperoleh tempat di antara manusia ….. **70 Jelaslah bahwa motif para Reformator bukan untuk memecah-belah gereja tetapi untuk memperbaharuinya dan memimpin kelompok-kelompok Kristen ke dalam kesatuan.**71 Baginya ada perbedaan besar antara “skisma dari gereja dan belajar untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan di mana gereja sendiri pun telah terkontaminasi.”**72Skisma muncul ketika gereja Roma menolak untuk dikoreksi:

Thou, O Lord, knowest, and the fact itself has testified to men, that the only thing I asked was, that controversies should be decided by thy word, that thus both parties might unite with one mind to establish thy kingdom; and I declined not to restore peace to the Church at the expense of my head, if I were found to have been unnecessarily the cause of tumult. But what did our opponents?… Did they not spurn at all methods of pacification?**73

Ia mengakhiri jawabannya kepada Sadoleto dengan sebuah doa yang merefleksikan esensi responsnya atas tuduhan skisma Katolik Roma:

The Lord grant, Sadolet(o), that you and all your party may at length perceive, that the only true bond of Ecclesiastical unity would exist if Christ the Lord, who hath reconciled us to God the Father, were to gather us out of our present dispersion into the fellowship of his body, that so, through his one Word and Spirit, we might join together with one heart and one soul.**74

OTORITAS GEREJA DAN FIRMAN ALLAH

Kini kita akan mempertimbangkan Response (or Antidote) to Articles Agreed Upon by the Faculty of Sacred Theology of Paris (1543) dari Calvin. Walaupun kepentingan utama dari artikel itu adalah untuk menentukan doktrin-doktrin yang harus diajarkan dan dipercayai, artikel tersebut memiliki implikasi-implikasi penting bagi pemahaman Katolik Roma mengenai kesatuan. Artikel-artikel inilah yang mendefinisikan gereja Katolik yang satu dan kudus. Apa yang mereka sebar luaskan adalah cara Katolik Roma berjuang dengan kekuatan- kekuatan yang memecah-belah di dalamnya; artikel-artikel ini dimaksudkan untuk “menenangkan gelombang opini yang menentang.”**75 Prolog dari artikel-artikel ini menyebut peringatan Paulus untuk kesatuan dalam kitab Efesus, yaitu agar mereka jangan “seperti anak- anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran.” Menanggapi hal ini Calvin memberikan antidot pertama di mana ia menekankan firman Allah, dan bersikeras bahwa inilah (firman Allah) yang menjadi otoritas satu-satunya untuk menyelesaikan atau memutuskan kontroversi-kontroversi. Ia menyebut beberapa bagian dari Alkitab dan bapa-bapa leluhur gereja untuk membuktikan bahwa otoritas satu-satunya yang membuat gereja tetap bereksistensi adalah firman Allah. Ia menyimpulkan,

Oleh karena itu, di tengah pertanyaan-pertanyaan yang bertentangan di masa sekarang ini, marilah kita mengikuti nasihat yang menurut Theodoret, (Lib. I. Hist. Eccles. cap. 7) diberikan oleh Constantine kepada para uskup di konsili Nicea — marilah kita mencari kebulatan hati dari sabda Allah yang murni.**76

Otoritas Alkitab menjadi sangat berarti ketika kita memperhatikan cara Calvin meletakkannya di atas dan terhadap otoritas gereja seperti yang diajukan dalam Artikel-artikel Iman, khususnya bab XVIII-XXIII, oleh Fakultas Teologi di Paris. Dengan berdasar pada otoritas Alkitab ia menantang klaim gereja mengenai otoritas. Pada Artikel XVII, bersama dengan orang-orang Katolik Roma, ia mengakui bahwa hanya ada satu gereja yang universal. Kendati demikian, pertanyaan yang lebih krusial bagi Calvin adalah bagaimana seseorang mengenali penampakan dari gereja. Jawabannya sederhana, yaitu firman Allah. “Kita menempatkannya di dalam firman Allah, atau, dengan kata lain, karena Kristus adalah Kepalanya, kita percaya bahwa gereja harus dilihat dalam Kristus sebagaimana seseorang dikenali melalui wajahnya.”**77 Apa yang ia maksud dengan firman Allah dan Kristus adalah pemberitaan Injil? Baginya, pemberitaan Injil dan visibilitas Kristus dan gereja saling berkorelasi. “Sebagaimana pemberitaan Injil yang murni tidak selalu dinyatakan, maka wajah Kristus pun tidak selalu menarik perhatian,”**78 demikian juga gereja tidak selalu dapat dilihat.**79 Orang-orang Katolik Roma mendasarkan visibilitas dan otoritas gereja Katolik yang satu pada hierarkinya, sedangkan Calvin mendasarkannya pada pemberitaan firman.**80

Pada Artikel XIX, berkenaan dengan otoritas gereja yang visibel dalam mendefinisikan dan menentukan isu-isu kontroversial, Calvin menantang pemikiran bahwa yang visibel selalu benar seperti yang diperlihatkan dalam sejarah. Sikap ini berbahaya karena mereka “yang menerima definisi gereja yang visibel tanpa penilaian, dan tanpa terkecuali, bisa membuat seseorang terpaksa menyangkal Kristus.”**81 Sekali lagi ia memberi penekanan pada firman untuk menyelesaikan perbantahan.

Jika muncul pertikaian diantara gereja-gereja, kita mengakui bahwa metode yang sah untuk menciptakan keharmonisan, yang selalu dicari-cari, adalah para pendeta itu berkumpul, dan mendefinisikan dari firman Allah tentang apa yang harus diikuti.**82

Pada artikel XX, berkaitan dengan hal-hal yang tidak diungkapkan secara jelas dan khusus di dalam Alkitab namun bagaimanapun juga harus dipercaya dan diterima oleh gereja melalui tradisi, Calvin mengutip Agustinus dan Chrysostom, selain dari Alkitab, segala sesuatu yang penting untuk keselamatan telah dinyatakan kepada kita dan hal-hal selain Injil tidak boleh dipercaya.

Berkaitan dengan kekuasaan ekskomunikasi, dalam artikel XXI ia mengakui bahwa kekuasaan untuk mengekskomunikasi telah diserahkan kepada gereja, begitu pula cara penggunaannya telah ditentukan (dalam firman Allah). Ini berarti ekskomunikasi harus dilakukan melalui “mulut Allah” dan tujuannya haruslah untuk pertumbuhan kerohanian/ kebaikan.**83 Hal ini jelas merupakan sebuah kontrol atau pembatasan terhadap penyalahgunaan kekuasaan ini yang dilakukan oleh hierarki Katolik yang, Fakultas Teologi di Paris mengakui, tidak boleh mempersoalkan apakah ekskomunikasi itu adil asalkan itu dilakukan dalam nama-Nya (Kristus).**84

Artikel XXII menyatakan bahwa otoritas konsili-konsili tidak dapat salah asal Paus memimpinnya dan bentuk-bentuk legal serta protokol dipelihara sebagaimana mestinya. Terhadap hal ini Calvin menekankan otoritas atau kepemimpinan Kristus. Ia tidak percaya konsili apapun yang hanya bersidang menurut aturan-aturan manusia sebagaimana mestinya, kecuali jika konsili itu dikumpulkan dalam nama Kristus. Maksudnya, Kristuslah yang memimpin, karena jika tidak konsili- konsili itu dipimpin berdasarkan pemikiran mereka sendiri dan karena itu yang mereka lakukan tidak lain dari kesalahan. Sebuah konsili yang berkumpul di dalam nama Kristus dipimpin oleh Roh Kudus, dan di bawah bimbingan-Nya, dipimpin kepada kebenaran.**85

Hal ini mengarah pada pertanyaan mengenai keutamaan Paus dalam Artikel XXII. Artikel ini lebih merupakan suatu pertahanan atas kepausan dari serangan kaum Lutheran, yang bersikeras bahwa Batu Karang itu adalah Kristus sebagai dasar gereja, dan menyangkal suksesi kepausan, serta tidak mau mengakui keutamaan Roma. Bagi Calvin, Kristuslah Kepala Gereja yang universal, bukannya Paus. Alkitab tidak berbicara mengenai pelayanan Paus, dan rasul Paulus pun tidak berpikir bahwa gereja merupakan satu keuskupan yang universal. “Sebagai penghargaan atas kesatuan, ia (Paulus) menyebut satu Tuhan, satu iman, satu baptisan (Efesus 4:11). Mengapa ia tidak menambahkan satu Paus sebagai kepala pelayanan?”**86 Ia menggambarkan relasi antara Petrus dan Paulus dan rasul-rasul yang lain, dan di dalam relasi itu tidak ada isyarat bahwa Petrus superior dibanding yang lain.**87 Bagi Calvin, gereja adalah tubuh Kristus di mana kepada setiap anggotanya diberikan “suatu ukuran yang pasti dan fungsi tertentu serta terbatas agar kekuasaan yang utama dari pemerintah terletak hanya pada Kristus.”**88 Dalam keutamaan Kristus yang universal inilah terletak kesatuan dan katolisitas gereja, yang telah terbukti kebenarannya oleh bapa-bapa gereja, antara lain Cyprian dan Gregory. Cyprian secara khusus membuat analogi-analogi tentang satu cahaya (light) dengan banyak berkas cahaya (rays), satu batang yang ditunjang oleh akarnya dan memiliki banyak cabang, (rays), satu batang yang ditunjang oleh akarnya dan memiliki banyak cabang, satu sumber air dan banyak sungai, “demikian juga gereja, dengan diliputi cahaya dari Tuhan, ia mengirim berkas-berkas cahayanya tersebar ke mana-mana; gereja juga memperbanyak cabang-cabangnya, ia mencurahkan sungai-sungai turun ke seluruh dunia; namun tetap semuanya itu berasal dari satu kepala dan satu sumber.”**89 Calvin berkomentar bahwa, menurut Cyprian, keuskupan Kristus ialah satu-satunya yang universal, dan ia mengajarkan agar bagian-bagian itu dipegang oleh para pelayan-Nya.**90

KESIMPULAN

Polemik-polemik Calvin dengan Roma mengenai tuduhan skisma tidak diragukan lagi telah menghasilkan refleksi-refleksi yang sangat dalam mengenai gereja dan kesatuannya. Isu dasarnya adalah pemahaman tentang gereja, tetapi tidak terlepas dari Kristus dan firman Allah. Gereja adalah milik Kristus dan dipersatukan di dalam Dia. Hal ini paling jelas terlihat melalui pemberitaan Injil dan pelaksanaan sakramen- sakramen yang tepat. Di dalam firman itulah terletak otoritas gereja. Semua kuasa dan fungsi pelayanan gereja dibatasi dalam firman Allah. Jabatan gereja, disiplin, dan aturan suksesi diatur oleh Roh Kristus menurut firman Allah dan semuanya itu dimaksudkan guna memajukan gereja. Calvin dan para Reformator percaya bahwa gereja Roma telah mengkorupsi doktrin Injil yang murni, menyalahgunakan kekuasaannya, dan mempromosikan segala jenis takhayul. Oleh karena itu, tujuan yang jelas dari para Reformator adalah membantu memulihkan atau memperbarui gereja Roma kepada keadaannya yang lebih murni sesuai pola gereja mula-mula seperti yang dikenal oleh bapa-bapa leluhur gereja. Calvin menganggap tuduhan skisma terhadap mereka sebagai suatu pertanyaan untuk memilih Kristus atau gereja Roma. Itu adalah pertanyaan mengenai yang manakah gereja sejati itu. Karena para Reformator taat kepada Kristus dan firman-Nya, mereka tetap berada dalam satu gereja yang sejati, dan oleh sebab itu mereka tidak dapat dianggap memisahkan diri dari gereja atau memecah-belahnya.

Calvin mencintai gereja seperti ia mencintai Kristus; kedua hal ini tidak dapat dipisahkan. Ia mengabdikan seluruh buku IV dari Institutes untuk menguraikan secara detail mengenai gereja Katolik yang kudus. Ia menyebut gereja itu sebagai ibu, karena Allah telah menyerahkan kita kepadanya agar kita bertumbuh dalam iman.**91 Itu sebabnya sangat penting untuk mengenalnya dan tidak mengabaikannya. Mereka yang tidak memiliki hubungan dengannya berarti juga tidak memiliki hubungan dengan Kristus, dan oleh karena itu mereka tidak memiliki keselamatan. Mereka yang mengabaikannya adalah orang-orang yang murtad, yang membelot dari kebenaran dan dari keluarga Allah, mereka adalah penyangkal-penyangkal Allah dan Kristus. Calvin percaya bahwa gereja terdiri dari semua orang pilihan Allah, termasuk mereka yang telah meninggal dunia. Gereja adalah katolik atau universal, yang berarti gereja adalah satu.

All the elect of God are so joined together in Christ, that as they depend on one head, so they are as it were compacted into one body, being knit together like its different members; made truly one by living together under the same Spirit of God in one faith, hope, and charity, called not only to the same inheritance of eternal life, but to participation in one God and Christ.**92

Sekalipun Calvin berbicara mengenai gereja yang tidak kelihatan, ia tidak mengabaikan berbicara tentang manifestasinya yang kelihatan, tentang jemaat lokal. Ia juga memberi perhatian besar untuk memperlihatkan karakternya yang visibel, yang ditandai terutama sekali dengan kesatuan:

This article of the Creed relates in some measure to the external Church, that every one of us must maintain brotherly concord with all the children of God, give due authority to the Church and, in short, conduct ourselves as sheep of the flock. And hence the additional expression, the “communion of the saints;”…just as it had been said, that saints are united in the fellowship of Christ on this condition, that all the blessings which God bestows upon them are mutually communicated to each other.**93

Tetapi kesatuan ini, agar terpelihara, harus diikat dengan aturan yang telah ditentukan Allah**94 dan dengan kebenaran doktrin ilahi.**95 Hal ini mungkin memberi kita suatu kesan bahwa Calvin adalah seorang pendeta yang tidak fleksibel. Namun bagaimanapun juga ia mengakui bahwa ketidaksempurnaan bisa timbul di dalam pemberitaan Injil dan pelaksanaan sakramen-sakramen. Ia membuat perbedaan antara doktrin-doktrin yang fundamental dengan yang sekunder (adiaphora), dan menyatakan bahwa semuanya ini tidak memiliki nilai yang sama**96. Semua perbedaan minor ini dalam cara apapun seharusnya tidak dijadikan alasan untuk mengabaikan gereja atau untuk menciptakan kelompok lain. “what I say is, that we are not on account of every minute difference to abandon a church, provided it retain sound and unimpaired that doctrine in which the safety of piety consists.”**97 Ia juga tidak merekomendasikan agar seseorang meninggalkan gereja karena adanya penyelewengan moral di antara para anggotanya. “Kita terlalu sombong bila kita dengan segera membenarkan diri untuk keluar dari persekutuan gereja, karena kehidupan semua orang tidak sesuai dengan penilaian kita, atau bahkan dengan pernyataan Kristen.”**98

Dari presentasi pandangan Calvin mengenai gereja dan kesatuannya, jelaslah bahwa perbedaan-perbedaan antara para Reformator dan gereja Roma pada hakikatnya bersifat fundamental, dan bahwa natur dari Reformasi pada dasarnya bersifat pembaharuan. Tetapi Calvin juga banyak berbicara menentang denominasionalisme dan fundamentalisme yang kaku, yang begitu tidak fleksibelnya sehingga hanya karena ketidaksepakatan doktrinal yang minor dan bahkan karena konflik- konflik pribadi, mereka memecah-belah atau memisahkan diri dari gereja. Boleh dibilang Calvin adalah seorang injili yang ekumenikal.

Catatan Kaki :

  1. The Quest for Church Unity from John Calvin to Isaac d’Huisseau (Allison Park: Pickwick, 1986) 3. Pendirian ini dan yang saya anut mirip dengan pendirian Daniel Lucas Lukito dalam artikelnya, “Esensi dan Relevansi Teologi Reformasi,” Veritas 2/2 (Oktober 2001) 149-157. Bdk. G. C. Berkouwer, “Calvin and Rome” dalam John Calvin: Contemporary Prophet, A. Symposium (ed. Jacob T. Hoogstra; Grand Rapids: Baker, 1959) 185. Untuk pengertian Calvin mengenai kebenaran, lih. Charles Partee, “Calvin’s Polemic: Foundational Convictions in the Service of God’s Truth” dalam Calvinus Sincerioris: Calvin as Protector of the Purer Religion (Sixteenth Century Essays and Studies vol. XXXVI; ed. Wilhelm Neuser & Brian G. Armstrong; Kirksville: Sixteenth Century Journal) 97-122.
  2. “Calvin and the Union of the Churches” dalam John Calvin (ed. G. E. Duffield; Grand Rapids: Eerdmans, 1966) 118.
  3. “Calvin on Fundamental Articles and Ecclesiastical Union,” Westminster Theological Journal 54 (1992) 342-343.
  4. Ibid. 341
  5. John T. McNeill, “Calvin as an Ecumenical Churchman,” Church History 32 (1963) 379 dst. Robert M. Kingdon, “Some French Reactions to the Council of Trent,” Church History 33 (1964) 149 dst.; I. John Hesselink, “Calvinus Oecumenicus: Calvin’s Vision of the Unity and Catholicity of the Church,” Reformed World XXX; Theodore W. Casteel, “Calvin and Trent: Calvin’s Reaction to the Council of Trent in the Context of His Conciliar Thought,” Harvard Theological Review 63 (1970) 91 dst.
  6. “Calvin as an Ecumenical Churchman” 390-391.
  7. “Some French Reactions” 151.
  8. “Calvin and Trent” 117. Untuk pendapat kontra lih. Robert E. McNally, “The Council of Trent and the German Protestants,” Theological Studies 25 (1964) 1-22.
  9. H. Beveridge memberikan introduksi yang baik untuk The Tracts and Treatises on the Reformation of the Church by John Calvin (3 vol.; tr. Henry Beveridge; Grand Rapids: Eerdmans, 1958) v-xli. Referensi selanjutnya bersumber dari buku ini, kecuali jika saya sebutkan lain. Untuk diskusi tentang risalah polemik Calvin, lih. Francis Higman, “I Came Not to Send Peace, But a Sword” dalam Calvinus Sincerioris 123-135.
  10. Tracts and Treatises 1.4,5.
  11. Ibid. 14.
  12. Ibid. 240. Surat Paus Paulus III kepada Charles V (1544) adalah teguran kepada sang kaisar yang memberi kelonggaran, meskipun hanya berupa sedikit keringanan dari tuduhan yang tidak adil kepada kaum Protestan, dan yang telah mengambil yurisdiksi dalam masalah-masalah agama yang berada di luar lingkup jabatannya. Paulus III mengeluh, “the Emperor, in claming illegal jurisdiction, had committed two sins: first, he had presumed, without consulting him, to promise a Council: and secondly, he had not hesitated to undertake an investigation alien to his office” (ibid. 238). Calvin memberi tanggapan yang tajam mengenai surat ini (1544). Ia mengekspos hipokrisi Paus dengan menunjukkan fakta bahwa semua konsili besar gereja pada masa-masa awal diputuskan bukan oleh para Paus atau uskup, tetapi oleh kaisar.
  13. Ibid. 16.
  14. Ibid. 16, 17.
  15. Ibid. 239.
  16. Ibid. 17, bdk. h.5.
  17. Ibid.
  18. Ibid. 18.
  19. Ibid. 19.
  20. Diumumkan secara resmi oleh kaisar Charles V, Interim diduga sebagai rencana kompromis antara orang-orang Katolik dan Protestan selama menunggu keputusan konsili umum. Kecuali artikel-artikel tentang Communion mengenai jenis dan pernikahan para imam, konstitusi imperial itu condong ke arah Katolik Roma. Apa yang dinamakan Common States (negeri-negeri Katolik) yang tetap setia kepada gereja Roma harus terus memelihara ordonansi-ordonansi dan anggaran dasar gereja yang universal, yakni, Katolik Roma, dan States (negeri-negeri protestan) yang telah memeluk apa yang disebut inovasi-inovasi itu diperingatkan untuk menghubungkan diri mereka kembali dengan Common States, dan sepakat dalam memelihara anggaran dasar dan upacara-upacara gereja Katolik yang universal (Tracts and Treatises 3.192).
  21. Ibid. 205.
  22. Ibid.
  23. Ibid.
  24. Tracts and Treatises 1.11.
  25. Sorbonne Theological Faculty pada tahun 1543, dengan otoritas dari Francis I, menyusun dan menerbitkan 25 artikel yang menolak ajaran Reformasi. Calvin menyangkal dan menerbitkan artikel-artikel tersebut pada tahun 1544. Di dalamnya ia memberikan teks dari setiap artikel diikuti dengan komentarnya terhadap artikel tersebut. Dengan status magisterial, artikel-artikel tersebut menentukan bahwa doktrin-doktrin itu mengikat dan harus diajar oleh para doktor dan pendeta dan dipercayai oleh orang-orang yang setia. Bahwa gereja adalah ekuivalen atau di atas Alkitab, terungkap secara eksplisit dalam dokumen ini. “The place ought to have very great authority in the Church; and although our masters are deficient in proofs from Scripture, they compensate the defect by another authority which they have, viz., that of the Church, which is equivalent to Scripture, or even (according to the Doctors) surpassed it in certainty” (ibid. 71, 72).
  26. Ibid. 101.
  27. Ibid. 102.
  28. Ibid. 103-112.
  29. Tracts and Treatises 1.212. “The Necessity of Reforming the Church” dipresentasikan di hadapan Imperial Diet di Spires tahun 1544, menyampaikan sebuah “Supplicatory Remonstrance” kepada kaisar Charles V, sehubungan dengan konsili umum gereja menurut cara gereja mula-mula. Bdk. Institutes IV.ii.2, 4.
  30. Ibid. 213.
  31. Ibid. Dalam Institutes IV.i.2-7, Calvin mengacu pada gereja bukan hanya gereja yang terlihat tetapi juga orang-orang pilihan Allah. Pemilihan sebagai dasar kesatuan gereja bukanlah tema umum dalam polemik-polemiknya dengan gereja Roma. Bdk. Arthur C. Cochrane, “The Mystery of the Continuity of the Church: A Study in Reformed Symbolics,” Journal of Ecumenical Studies 2 (1965) 81-96. Cochrane mencatat bahwa menurut pengajaran Reformed misteri kontinuitas gereja terdapat dalam pilihan dan panggilannya, di dalam dan oleh Yesus Kristus.
  32. Ibid.
  33. Bdk. Institutes IV.ii.2.
  34. Tracts and Treaties 3.240. Salah satu traktat terpenting dan serupa isinya dengan “The Necessity of Reforming the Church,” “The True Method of Giving Peace to Christendom and of Reforming the Church” (1547), adalah penolakan Calvin terhadap “The Adultero- German Interim.”
  35. Ibid. 266.
  36. Tracts anda Treatises 1.259.
  37. Ibid. 214.
  38. Tracts and Treatises 1.35.
  39. Ibid. 37.
  40. Ibid.
  41. Ibid. Bdk. Institutes IV.i.1.
  42. Ibid. 214
  43. Ibid. 215. Bdk. Institutes IV.ii.5.
  44. “The True Method of Giving Peace” dalam Tracts and Treatises 3.242.
  45. Ibid.
  46. Ibid. 52. Bdk. “Confession of Faith in the Name of the Reformed Churches of France” dalam Tracts and Treatises 2.150-152; Institutes IV.iii.6.
  47. Ibid. 54.
  48. Ibid. 174. Bdk. Institutes IV.iii.10-12.
  49. Ibid. 170. Bdk. Institutes IV.ii.3.
  50. Ibid. 172.
  51. Ibid. 171.
  52. Institutes IV.ii.1-3.
  53. Tracts and Treatises 1.172. Bdk. Institutes IV.v.2. Pada zaman sebelum Calvin, pemerintah dan masyarakat memiliki kekuasaan dalam pengangkatan dan penolakan pejabat gerejawi.
  54. Ibid. 170.
  55. Ibid. 140.
  56. Ibid. 172. Bdk. 197, 198, 203, 204, 219; Institutes IV.v.1.
  57. Ibid. 170, 171, 204, 205. Bdk. “On Ceremonies and the Calling of the Ministers” dalam Calvin Ecclesiastical Advice (tr. Mary Beaty & Benjamin W. Farley; Louisville: Westminster/John Knox, 1991) 90,91.
  58. Ibid. 174, 175.
  59. Ibid. 174. Bdk. Institutes IV.iii.16.
  60. Ibid. 173.
  61. Ibid. 38.
  62. Ibid. 37-39, 48, 49, 66. Calvin sering menyebut bapa-bapa gereja untuk menyangkal tuduhan bahwa pengajaran para Reformator itu adalah inovasi-inovasi dan merupakan sesuatu yang baru. Ia tidak hanya yakin bahwa bapa-bapa gereja ada di pihaknya, tetapi ia juga yakin bahwa mereka adalah oposisi bagi gereja Roma sekarang. Untuk studi yang lebih jelas mengenai Calvin dan bapa-bapa gereja, lihat Anthony N. S. Lane, John Calvin: Student of the Church Fathers (Grand Rapids: Baker, 1999)
  63. Ibid. 49. Suatu pembelaan yang lebih singkat terhadap tuduhan skisma itu tetapi dalam konteks berbeda diberikan dalam “On Book One (of Pighius)” dalam The Bondage and Liberation of the Will: A Defense of the Orthodox Doctrine of Human Choice Against Pighius (ed. A. N. S. Lane; tr. G. I. Davies; Grand Rapids: Baker, 1996) 7-34. Karya itu (1543) adalah respons Calvin terhadap karya Albert Pighius, Ten Books on Human Free Choice and Divine Grace (1542), yang merupakan evaluasi atas Institutesnya Calvin (edisi 1539), khususnya bab 2 dan 8: “The Knowledge of Humanity and Free Choice,” dan “The Predestination and Providence of God” secara berturut-turut.
  64. Ibid.
  65. Ibid.
  66. Ibid.
  67. Bdk. Institutes IV.ii.2.
  68. Tracts and Treatises, 1.59.
  69. Ibid. 60. Bdk. Institutes IV.ii.9, 10.
  70. Ibid. Bdk. Institutes IV.ii.10.
  71. Ibid. 67.
  72. Ibid. 63. Bdk. Institutes IV.ii.5
  73. Ibid.
  74. Ibid. 68.
  75. Tracts and Treatises 1.71.
  76. Ibid. 73. Bdk. Institutes IV.ii.10; IV.viii.5.
  77. Ibid. 102. Bdk. Institutes IV.viii.7.
  78. Ibid.
  79. Ibid.Bdk. G. C. Berkouwer, “Calvin and Rome” 185. Berkouwer menganggap pertanyaan mengenai otoritas gereja sebagai isu utama terhadap apa yang diarahkan Calvin dalam polemik-polemiknya.
  80. Ibid. 104.
  81. Ibid.
  82. Ibid. 106. Bdk. Institutes IV.xii.5.
  83. Ibid.
  84. Ibid. 108. Bdk. Institutes IV.viii.10,11;IV.ix.1-4. Dalam The Necessity of Reforming the Church and Canon and Decrees of the Council of Trent, with the Antidote, Calvin tidak melihat adanya pengharapan di dalam konsili yang bersidang atas inisiasi Paus. Dalam traktatnya yang pertama ia menyerukan kepada kaisar Charles V agar mengadakan konsili persidangan propinsi, yang memiliki preseden sejarah. “Sesering bidat-bidat baru muncul, ataupun gereja diganggu oleh beberapa perselisihan, bukankah merupakan suatu kebiasaan untuk segera mengadakan persidangan sinode secara propinsi, sehingga gangguan itu kemudian dapat diakhiri? Tidak pernah menjadi suatu kebiasaan untuk lagi-lagi mengadakan konsili umum sampai suatu cara lain telah diusahakan” (Tracts and Treatises 1.223). Di dalam pendahuluan antidotnya terhadap konsili Trent, Calvin memunculkan pertanyaan-pertanyaan serius mengenai persidangan dari konsili itu. Ia mengangkat pertanyaan mengenai masalah waktu, komposisi Trent, prosedur-prosedur, dan tujuannya. Menyadari bahwa Paus telah menentukan semua hal ini sebelumnya, Calvin membuang semua harapan akan adanya Reformasi di gereja Roma. “Apakah ini? Seluruh dunia mengharapkan adanya sebuah konsili di mana butir-butir yang bertentangan bisa tetap didiskusikan. Orang-orang ini mengakui bahwa mereka hadir tidak lain hanya untuk menghakimi apapun yang tidak sesuai dengan pikiran mereka. Dapatkah seseorang tetap sedemikian bodohnya dengan berpikir untuk mendapat bantuan atas kesusahan-kesusahan kita dari suatu konsili?” (Tracts and Treatises 3.39). Hal yang sama diungkapkan dalam artikel “If Christians Can be Given a Plan for a General Council” dalam Calvin’s Ecclesiastical Advice 46-48.
  85. Ibid. 110. Bdk. “Confession of Faith in the Name of the Reformed Churches of France” dalam Tracts and Treatises 2.150, 151; Institutes IV.vi.10.
  86. Bdk. Institutes IV.vi.4.
  87. Ibid. 111. Bdk. Institutes IV.vi.1, 3, 6
  88. Ibid. 112. Bdk. Institutes IV.ii.6;IV.iv.16, 17.
  89. Ibid. Bdk. “The Necessity” 218, di mana Calvin menentang keutamaan Paus berdasarkan pada pemikiran apakah gereja Roma adalah gereja sejati dan apakah Paus adalah uskup yang benar. Demi kepentingan argumentasi jika kita mengatakan “bahwa keutamaan itu adalah dicurahkan secara ilahi pada keuskupan Roma, dan telah didukung oleh persetujuan bersama dari gereja mula-mula; kendati demikian keutamaan ini hanya mungkin jika Roma memiliki gereja dan juga uskup yang sejati. Karena penghormatan terhadap kursi jabatan tersebut tidak bisa tetap bertahan setelah kursi jabatan itu tidak ada lagi.”
  90. Institutes IV.i.5.
  91. Ibid.IV.i.2. Bdk.”Cathechism of the Church of Geneva” (1541, 1545) dalam Tracts and Treatises 2.50, 51.
  92. Ibid.IV.i.3.
  93. Ibid.IV.i.5.
  94. Ibid.IV.i.9.
  95. Ibid.IV.i.12.
  96. Ibid.
  97. Ibid.IV.i.18.

Sumber : Hidalgo B. Garcia

Calvin dan Tuduhan Skisma Dari Katolik Roma Terhadap Para Reformator: Sebuah Studi Tentang Kesatuan Gereja ,SAAT Malang

CHRIST – THE PHYSICIAN OF THE SOUL

“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (Matius 9:12).

Pada hari ini arti dari teks kita ini hampir dilupakan. Kita dibanjiri dengan khotbah-khotbah yang mengatakan kepada kita bagaimana menjadi makmur, bagaimana mereka lebih baik, bagaimana caranya memiliki keluarga yang lebih baik, bagaimana untuk menjadi lebih bahagia, bagaimana untuk sukses, dan bagaimana memperoleh kesembuhan jasmani. Kita sedang dibanjiri oleh apa yang disebut khotbah-khotbah “ekspositori”, kuliah dari perikop Kitab Suci yang panjang. Metode ini diperkenalkan oleh Plymouth Brethren, dan bukan datang dari warisan sejarah Baptis kita. Ini biasanya sungguh membosankan. Semua khotbah cenderung kelihatan seperti itu. Banyak orang tidak mengingat apa yang dikhotbahkan, karena terlalu banyak ide yang disampaikan dalam “eksposisi-eksposisi” modern ini. Semua itu sebenarnya bukanlah khotbah, namun studi-studi Alkitab yang rumit yang disampaikan kepada orang-orang Kristen, bahkan walaupun banyak orang di dalam jemaat itu belum bertobat!

Di mana, oh di mana, para pengkhotbah yang pusat khotbahnya adalah kelahiran kembali dan pertobatan? Di manakah orang-orang yang topik utama khotbahnya berpusat pada Kristus, sang dokter atau tabib jiwa-jiwa – satu-satunya yang dapat menyelamatkan kita dari dosa, Neraka, dan kubur? Itu adalah kebutuhan yang harus diserukan pada hari ini! Itu adalah apa yang generasi Anda butuhkan, yaitu mendengarkan dengan keras dan jelas pada saat gelapnya sejarah dunia ini. Ketika negeri kita sedang mengalami disintegrasi dan bangsa-bangsa dunia bangkit dalam kekacauan dan pemberontakan – kita kembali membutuhkan untuk mendengar lagi dari mimbar-mimbar kita Injil yang menyelamatkan jiwa dari bapa leluhur kita!

Kita sudah mendengar: Yesus Jurus’lamat!
Mari jadikan tenar: Yesus Jurus’lamat
Ya, kabarkanlah cepat, Pada orang yang sesat;
Tuhan t’lah beramanat: Yesus Jurus’lamat!
(“Jesus Saves” by Priscilla J. Owens, 1829-1907 Terjemahan Nyanyian Pujian No. 111).

Yesus menyelamatkan kita dari apa? Tidak harus dari kemiskinan. Banyak orang Kristen besar dalam sejarah hidup di dalam kemiskinan. Tidak harus dari sakit penyakit. Banyak orang Kristen besar dalam sejarah menderita oleh karena penyakit. Yesus mati di kayu Salib dan bangkit dari antara orang mati untuk menyelamatkan kita dari dosa! Itu adalah berita utama dari Alkitab! “Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci” (I Korintus 15:3). Itu adalah jantung dari Injil. Marilah kita memperdengarkan ini kembali, berkhotbah dengan semangat sampai berkeringat di mimbar-mimbar kita!

“Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa” (I Timotius 1:15).

Selanjutnya, ketika kita memperhatikan teks kita, kita mengetahui bahwa Yesus sedang duduk dalam perjamuan makan di rumah Matius. Banyak pemungut cukai dan orang berdosa yang duduk untuk makan bersama dengan Yesus. “Para pemungut cukai” adalah para penarik pajak yang berkerja untuk pemerintah Romawi. Orang-orang Yahudi Orthodoks membenci mereka karena mereka bekerja untuk Romawi dan mengambil banyak uang yang mereka tarik sebagai pajak untuk diri mereka sendiri. Orang-orang Farisi adalah orang-orang Yahudi Orthodoks pada waktu itu. “Mereka berpikir bahwa para pemungut cukai adalah para pencuri dan pengkhianat bagi bangsa Yahudi. “Orang-orang berdosa” adalah orang-orang yang orang Farisi anggap sebagai orang Yahudi yang tidak layak karena mereka tidak menjalankan tradisi-tradisi rabinik. Mereka dianggap sebagai orang yang sangat “berdosa” oleh orang-orang Farisi karena mereka tidak mengikuti aturan-aturan dan tradisi dari para rabi.

Kita harus memahami bahwa “para pemungut cukai” dan “orang berdosa” bukanlah para pengguran di jalanan, atau pecandu narkotika, atau orang-orang kaya. Bukan gelandangan dan juga bukan orang-orang kaya. Tak seorangpun dari antara orang yang makan bersama Yesus itu adalah para pecandu obat-obatan. Semua dari pemungut cukai dan yang disebut orang-orang berdosa di sini adalah orang-orang yang bekerja. Namun mereka dijauhi oleh orang-orang Farisi.

Ketika orang-orang Farisi melihat Yesus duduk dengan orang-orang yang mereka jauhi ini “mereka kepada murid-murid Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (Matius 9:11). Ketika Yesus mendengar apa yang dikatakan oleh orang-orang Farisi itu, Ia berkata kepada mereka

“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (Matius 9:12).

Orang-orang Farisi berpikir bahwa diri mereka adalah orang-orang yang baik – bahwa diri mereka benar dan tidak membutuhkan keselamatan karena mereka telah memelihara aturan-aturan Yudaisme Orthodoks. Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa yang dikucilkan tahu bahwa diri mereka bukanlah orang benar. Ini membuat mereka menjadi calon penerima keselamatan yang lebih baik dari para orang-orang Farisi yang meninggikan kebenarannya sendiri..

“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (Matius 9:12). (more…)


“THE METHOD OF GRACE”

“Mereka mengobati luka umat-Ku dengan memandangnya ringan, katanya: Damai sejahtera! Damai sejahtera!, tetapi tidak ada damai sejahtera” (Yeremia 6:14).

Khotbah: Berkat Allah terbesar yang dikirim kepada suatu bangsa adalah para pengkhotbah yang baik dan setia. Namun kutuk Allah yang terbesar yang dikirim kepada banyak bangsa adalah dengan membiarkan gereja-gereja dipimpin oleh para pengkhotbah yang masih belum bertobat yang hanya memikir dan mencari uang belaka. Namun di setiap masa ada para pengkhotbah palsu yang memberikan khotbah-khotbah yang lembut. Ada banyak pendeta seperti ini yang merusak dan memutar-balikkan Alkitab untuk menyesatkan orang.

Itulah yang terjadi pada zaman Yeremia. Dan Yeremia berbicara melawan mereka dalam ketaatan penuh kepada Allah. Ia membuka mulutnya dan berkhotbah melawan para pengkhotbah duniawi/kedagingan ini. Jika Anda membaca bukunya, Anda akan melihat bahwa tidak ada seorangpun pernah berbicara lebih keras melawan para pengkhotbah palsu dari pada Yeremia. Ia berbicara dengan tegas melawan mereka dalam pasal yang berisi ayat kita ini.

“Mereka mengobati luka umat-Ku dengan memandangnya ringan, katanya: Damai sejahtera! Damai sejahtera!, tetapi tidak ada damai sejahtera” (Yeremia 6:14).

Yeremia berkata bahwa mereka hanya berkhotbah demi uang. Dalam ayat tiga belas, Yeremia berkata,

“Sesungguhnya, dari yang kecil sampai yang besar di antara mereka, semuanya mengejar untung, baik nabi maupun imam semuanya melakukan tipu” (Yeremia 6:13).

Mereka adalah orang-orang yang tamak dan mengkhotbahkan dusta.

Dalam ayat kita ini, ia menunjukkan salah satu cara bagaimana mereka mengkhotbahkan dusta. Ia menunjukkan cara menipu yang mereka terapkan bagi jiwa-jiwa terhilang:

“Mereka mengobati luka umat-Ku dengan memandangnya ringan, katanya: Damai sejahtera! Damai sejahtera!, tetapi tidak ada damai sejahtera” (Yeremia 6:14).

Allah telah berkata kepada nabi ini untuk memperingatkan rakyat tentang akan datangnya perang. Allah ingin ia mengatakan kepada mereka bahwa rumah-rumah mereka akan dihancurkan – perang itu akan segera datang (lihat Yeremia 6:11-12). (more…)