apologetika

Menanggapi Tanggapan Petisi Kepada Pdt DR Yesaya Pariadji yang di tulis oleh Pdt Lucky Fergian Laoh

PETISI KEPADA PDT YESAYA PARIADJI GEMBALA SIDANG GEREJA TIBERIAS INDONESIA

Saya mencoba membahas satu-persatu tulisan dari petisi di atas.

1. Pdt Yesaya Pariadji bukanlah Hamba Tuhan sejati karena sangat suka mengutuk orang-orang lain di mimbar GTI. Kutuknya juga sangat keji, seperti “lumpuh”, “ditabrak kereta”, “perutnya disobek-sobek pisau bedah”, dan lainnya. Padahal, Tuhan dalam ajaran-ajaran-Nya yang tertulis di Alkitab justru mengajar kita untuk mengasihi sesama manusia, termasuk musuh atau lawan kita. 

Tanggapan Pdt Lucky

Pdt Pariadji tidak pernah memakai kata “saya mengutuk”, tetapi lebih kepada apa yang pernah beliau alami di saat belum bertobat harus mengalami tegoran Tuhan yang keras sehingga bertobat. Hal ini bukan berarti kutuk. Tetapi seperti yang Yesus lakukan terhadap orang yang Dia kasihi harus melewati teguran dan hajaran agar bertobat. Mengingat sifat manusia akibat dosa, suka mengalami pemberontakan, maka Allah harus memakai cara menegur bahkan menghajar untuk membuat orang kembali kepada jalanNya. Apa yang Alkitab perlihatkan kepada kita, sekalipun Yesus lembut dan mengajarkan kepada kita untuk mengasihi musuh-musuh, tetapi ada saat dimana Yesus keras terhadap orang2 yang menyesatkan anak2 (Mat. 18:6,7 – celakalah penyesat), terhadap ahli Taurat. Artinya mereka2 yg sudah tahu firman, tapi tidak menjadi pelaku firman, malah melakukan penyesatan kepada orang yang lemah. Kerinduan beliau agar semua orang diselamatkan, sama dengan kerinduan Yesus. Oleh sebab itu terkadang hajaran dapat menjadi cara ampuh untuk mengingatkan manusia untuk kembali kepada jalanNya

Bantahan saya :

anda :

Pdt Pariadji tidak pernah memakai kata “saya mengutuk”, tetapi lebih kepada apa yang pernah beliau alami di saat belum bertobat harus mengalami tegoran Tuhan yang keras sehingga bertobat. Hal ini bukan berarti kutuk. Tetapi seperti yang Yesus lakukan terhadap orang yang Dia kasihi harus melewati teguran dan hajaran agar bertobat.

saya :

apakah kata “lumpuh”, “ditabrak kereta”, “perutnya disobek-sobek pisau bedah” adalah sebuah teguran dosa ?

misalnya saja jemaat anda berzinah , apakah anda akan mengatakan kepada jemaat yang berzinah itu “lumpuh”,  “ditabrak kereta”, “perutnya disobek-sobek pisau bedah”?  

misalnya saja jemaat anda ada yang ketahuan mencuri , apakah anda akan mengatakan kepada jemaat yang ketahuan mencuri itu “lumpuh”,  “ditabrak kereta”, “perutnya disobek-sobek pisau bedah”?

misalnya saja ada orang yang belum bertobat , apakah anda akan mengatakan kepada orang itu “lumpuh”,  “ditabrak kereta”, “perutnya disobek-sobek pisau bedah”?

tunjukkan ayatnya !!

anda :

Mengingat sifat manusia akibat dosa, suka mengalami pemberontakan, maka Allah harus memakai cara menegur bahkan menghajar untuk membuat orang kembali kepada jalanNya.

saya :

teguran Allah kepada orang berdosa bukan seperti  perkataan Pdt Yesaya Pariadji , kepada orang yang belum bertobat, Yesus mengajarkan supaya kita memberitakan Injil !!

saya sudah bertanya diatas , saya ulang kembali pertanyaan saya !!

misalnya saja jemaat anda berzinah , apakah anda akan mengatakan kepada jemaat yang berzinah itu “lumpuh”,  “ditabrak kereta”, “perutnya disobek-sobek pisau bedah”?  

misalnya saja jemaat anda ada yang ketahuan mencuri , apakah anda akan mengatakan kepada jemaat yang ketahuan mencuri itu “lumpuh”,  “ditabrak kereta”, “perutnya disobek-sobek pisau bedah”?

misalnya saja ada orang yang belum bertobat , apakah anda akan mengatakan kepada orang itu “lumpuh”,  “ditabrak kereta”, “perutnya disobek-sobek pisau bedah”?

tunjukkan ayatnya !!

anda :

Apa yang Alkitab perlihatkan kepada kita, sekalipun Yesus lembut dan mengajarkan kepada kita untuk mengasihi musuh-musuh, tetapi ada saat dimana Yesus keras terhadap orang2 yang menyesatkan anak2 (Mat. 18:6,7 – celakalah penyesat), terhadap ahli Taurat. Artinya mereka2 yg sudah tahu firman, tapi tidak menjadi pelaku firman, malah melakukan penyesatan kepada orang yang lemah. Kerinduan beliau agar semua orang diselamatkan, sama dengan kerinduan Yesus. Oleh sebab itu terkadang hajaran dapat menjadi cara ampuh untuk mengingatkan manusia untuk kembali kepada jalanNya

saya :

Mat 18:7

1)   Ayat ini jelas menunjukkan bahwa dosa telah ditentukan oleh Allah (bdk. Luk 17:1). Yesus tidak berkata bahwa penye­satan ‘akan ada’ (yang hanya menunjukkan bahwa Ia tahu bahwa penyesatan akan terjadi), tetapi Yesus berkata bahwa penyesatan ‘harus ada’ (yang jelas menunjukkan bahwa hal itu sudah ditentukan untuk terjadi).

2)   Ada 2 ayat Kitab Suci yang mempunyai kemiripan dengan ay 7 ini yaitu:

·        Luk 22:22 – “Sebab Anak manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan”.

Catatan: perhatikan kata-kata ‘seperti yang telah ditetapkan’itu.

·        1Kor 11:19 – “Sebab di antara kamu harus ada perpecahan, supaya nyata nanti siapakah di antara kamu yang tahan uji”.

3)   Sekalipun penyesatan harus ada:

a)   Itu tidak berarti bahwa orang yang sesat ataupun yang menyesatkan, dianggap tidak bersalah atau tidak perlu ber­tanggung jawab!

Ay 7 jelas menunjukkan 2 x kata ‘celaka­lah’ yang jelas menunjukkan bahwa mereka bertanggung jawab atas penyesatan / dosa mereka itu!

b)   Itu tidak berarti bahwa kita boleh membiarkan orang-orang yang sesat.

Mat 18:12-14 secara tidak langsung menunjukkan bahwa kita juga harus mencari orang yang sesat. Ay 15-17 menunjukkan bahwa kita harus menegur orang yang sesat / berdosa supaya ia bertobat dan kembali ke jalan yang benar !

caranya , apakah dengan kata kata ini  “lumpuh”, “ditabrak kereta”, “perutnya disobek-sobek pisau bedah” ? sekali lagi mohon anda camkan , bahwa untuk penyesat, untuk orang yang belum bertobat , bukan kata kata seperti ini ini  “lumpuh”, “ditabrak kereta”, “perutnya disobek-sobek pisau bedah” yang harus dikeluarkan kepada orang yang belum bertobat tetapi pemberitaan Injil !!

Mat 28:19 – “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”.

Luk 24:47 – “dan lagi: dalam namaNya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem”.

=======

2Tim 3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar,  untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran
Ada 2 hal yang bisa kita pelajari dari ayat ini:

1. Dalam diri orang yang tidak percaya selalu ada kebodohan-kebodohan tertentu yang menyebabkan ia tak mau / tak bisa datang kepada Yesus untuk mendapatkan keselamatan. Dan Kitab Suci / Firman Allah bisa memberi hikmat untuk membuang kebodohan-kebodohan itu, sehingga orang itu akhirnya bisa dan mau datang kepada Yesus.

Contoh kebodohan-kebodohan itu:

menganggap dirinya baik.

Ini jelas akan menyebabkan ia merasa tidak butuh Kristus sebagai Juruselamatnya. Tetapi Kitab Suci bisa ‘menyatakan kesalahan’ (3:16), sehingga menyadarkan orang itu bahwa sebetulnya ia adalah orang yang berdosa, bahkan sangat berdosa.

hanya mempedulikan hidup yang sekarang ini.

Ini juga akan menyebabkan orang itu tidak peduli pada kerohanian, iman dan bahkan kepada Allah sendiri. Tetapi Kitab Suci mengajar bahwa hidup yang sekarang ini fana dan singkat, dan Kitab Suci juga mengajarkan akan adanya suatu kehidupan yang lain setelah kematian, dan yang ini berlangsung selama-lamanya.

ia bisa selamat dengan berbuat baik / hidup baik.

Ini akan menyebabkan ia tidak mau datang kepada Yesus. Yang penting adalah hidup baik. Tetapi Kitab Suci mengajar bahwa manusia tidak bisa baik, dan juga bahwa dengan kebaikan kita, kita tak bisa dibenarkan (Gal 2:16 – “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus”).

2. Keselamatan bisa didapatkan melalui iman dalam Kristus Yesus.

Kitab Suci bukan hanya menunjukkan bahwa manusia itu berdosa dan karena itu akan dihukum di neraka. Kitab Suci juga menunjukkan bahwa Allah telah menyediakan jalan keluarnya, dan itu bisa kita lihat dari sederetan ajaran-ajaran ini:

Allah telah menjadi manusia di dalam diri Tuhan kita Yesus Kristus.
Yesus sudah mati di salib untuk menebus dosa-dosa manusia.
Yesus sudah bangkit dari antara orang mati, mengalahkan Iblis, maut, dan dosa.
Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga (Yoh 14:6 Kis 4:12 1Yoh 5:11-12).
Hanya dengan iman kepada Yesus, bukan dengan perbuatan, kita bisa diselamatkan (bdk. Ef 2:8-9 Gal 2:16,21).
Di sini kita bertemu dengan semboyan yang lain dari Reformasi yaitu: Sola Fide, yang berarti Only Faith (= hanya iman). 

Bagi orang yang sudah percaya:

Dalam 2Tim 3:16-17 dikatakan bahwa Kitab Suci / Firman Allah itu bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran. Ini membuat orang berdosa yang sudah diselamatkan itu makin baik hidupnya.

Ini adalah urut-urutan yang benar. Orangnya sudah selamat, baru diajar untuk berbuat baik! Bukan sebaliknya!

bandingkan ajaran Alkitab ini dengan pernyataan Pdt Yesaya Pariadji yang mengatakan  “lumpuh” , “ditabrak kereta”, “perutnya disobek-sobek pisau bedah” kepada orang yang belum bertobat, atau kepada orang percaya yang melakukan dosa Lukcy !!

kalau anda mengatakan kata kata ini bertujuan menegor atau mempertobatkan orang , bagaimana jika pada waktu orang yang di tegor  itu “ditabrak kereta” orang tersebut meninggal ? bukankah tidak ada kesempatan bagi orang yang di tegor itu untuk bertobat Lucky ??

============

2. GTI bukanlah gereja yang benar, karena orang-orang yang bersaksi mengalami mukjizat Tuhan harus selalu menyebut nama Pdt Yesaya Pariadji, meskipun orang itu sendiri tidak didoakan oleh Pdt Yesaya Pariadji. Dengan demikian nampak bahwa GTI sangat mengultuskan Pdt Yesaya Pariadji. Padahal, tidak ada satu pun yang boleh ditinggikan selain Tuhan Yesus Kristus sendiri.

anda :

Sebagai salah satu pendeta di Tiberias harus diakui bahwa saya bisa mengerti ajaran yang ada di gereja ini karena saya menerima dari Pdt Pariadji. Mengembalikan kuasa minyak dan anggur belum pernah saya temui di gereja manapun dan dalam sejarah gereja sekalipun. Sehingga dalam pelayanan minyak anggur yang diterapkan memang harus diakui karena sosok Pak Pariadjilah, saya bisa meneruskannya kepada jemaat yang lain. Beliau sendiri selalu berkata saya diajar langsung Tuhan, bukan saya. Sehingga memang karena adanya transfer roh (kuasa) yang diberikan Tuhan Yesus kepada beliau bisa saya terima.

saya :

kalau memang diajar Tuhan Yesus langsung kenapa ajarannya bertentangan dengan Firman Tuhan Pdt Lucky ? diamanakah ayat yang mengatakan perkataan yesus bertentangan dengan Roh Kudus dan Allah Bapa sendiri ?persoalan Minyak dan Anggur tidak perlu saya bahas, karena sudah pernah saya bahas disini

======

Di Tiberias hanya 1 nama yang ditinggikan yaitu Yesus. Lagipula jika saudara datang ke setiap acara Tiberias, semua sakramen yang dilakukan, baik Perjamuan Kudus dan Minyak Urapan serta Baptisan, dilakukan di dalam nama Yesus, bukan nama pak Pariadji. Sehingga tuduhan meninggikan nama Pak Pariadji hanya tafsiran dan pandangan subjektif yang kurang tepat.

saya :

ini kutipan dari Bulletin Tiberias

“Dengan apa Iwan Chandra dibebaskan dari operasi otak? Pertama, karena dia percaya dibalik Perjamuan Kudus. Walaupun dia bukan orang Kristen, datang untuk menerima Perjamuan Kudus” (Bulletin No. 617, 8/10-2000).Dalam bulletin ini juga disebutkan nama Christina. Menarik sekali nama-nama tersebut diulang lagi dalam brosur KKR Natal mereka yang diadakan di Stadion Utama Senayan pada tgl 9-12-2000 yang lalu.

Kita dapat menemukan dalam brosur tersebut kalimat berikut: “Iwan Chandra bebas dari operasi otak, karena percaya kuasa di balik Perjamuan Kudus dan Minyak Urapan¡K”,selanjutnya: “Christina bebas dari operasi otak dan pendarahan, sehari menjelang dioperasi PDT X memberikan 3 set Perjamuan Kudus.. Dan dengan Kuasa Minyak Urapan Christina disembuhkan”.

saya mau tanya , KALAU GTI HANYA MENINGGIKAN NAMA YESUS , MANA NAMA YESUS YANG DISEBUT DALAM BULETIN YANG SAYA KUTIP ITU ? KENAPA YANG DISEBUT DISANA PERJAMUAN DAN MINYAKNYA ?

jelas sekali disana  ada  penyimpangan iman dan pengharapan orang dari Kristus yang hidup dan berkuasa kepada “kuasa Minyak Urapan” , anda sadar tidak Pdt Lucky fergian Laoh ? 

diatas anda mengatakan bahwa  Pdt Yesaya Pariadji punya kerinduan supaya semua orang selamat, saya yakin ini termasuk para penyesat, KENAPA JUSTRU PDT YESAYA PARIADJI MENGAJARKAN KESESATAN , KENAPA AJARANNYA MALAH MENYIMPANG DARI IMAN KRISTEN ?

===

3. Pdt Yesaya Pariadji dan GTI telah menerbarkan fitnah keji selama lebih dari setahun belakangan, khususnya terhadap Pdt Josua Tumakaka (mantan pendeta GTI, yang kemudian mengundurkan dari GTI) yang dituduh menjalin hubungan perjanjian darah dengan Nyi Roro Kidul. Didasarkan hal itu pula GTI telah lebih dari setahun menyebut-nyebut ”pendeta setan” di dalam Buletin GTI, yang ditujukan kepada Pdt Josua Tumakaka, meskipun nama Josua Tumakaka sendiri tidak disebut-sebut secara eksplisit.

anda :

Pak Pariadji tidak pernah memfitnah, tetapi apa yang dilakukannya berdasarkan bukti dan fakta lapangan. Kalau dalam petisi ini menyebutkan nama seorang pdt, pak Pariadji tidak pernah menyebutkan nama orang tersebut. Lagipula keluarnya pdt tersebut dari Tiberias atas sebuah keputusan pribadi yang diambil olehnya yang sudah tidak sejalan dengan Tiberias, sehingga itu adalah sesuatu yang fair saat tidak sejalan dengan wadah yang menaunginya, yang berujung pada pengunduran diri. Apa yang disaksikan di Tiberias mengenai salah satu mantan pendeta di Tiberias bukan tanpa alasan, tetapi dengan banyaknya kesaksian orang-orang yang pernah berhubungan dengan pendeta tersebut yang akhirnya bersaksi tentang apa yang mereka alami selama ini, oleh sebab itu mereka bersaksi untuk mengingatkan dan memberitahu jemaat yang lain akan resiko yang akan terjadi. Jadi bukan suatu bentuk perekayasaan suatu kasus.

saya :Pak Pariadji tidak pernah memfitnah, tetapi apa yang dilakukannya berdasarkan bukti dan fakta lapangan ?  sudah sekian banyak tanggapan dan bantahan , adanya GTI itu mengada ada , mengait ngaitkan dengan Firman Tuhan supaya kelihatan benar

=====

4. GTI bukanlah gereja yang benar, karena di tengah ibadah Minggu, ada orang-orang yang diberi kesempatan untuk bersaksi dusta untuk mendiskreditkan Pdt Josua Tumakaka sebagai ”pendeta setan”. Padahal, seharusnya setiap kesaksian bertujuan memuliakan Tuhan Yesus Kristus dan tidak memojokkan pihak-pihak manapun.

anda :

Mereka yang bersaksi adalah orang-orang yang punya pengalaman pribadi dengan sosok pendeta yang dimaksud. Kesimpulan dari setiap kesaksian tersebut dimana banyak orang bersukacita, meninggikan nama Yesus karena melalui penyingkapan rahasia dalam pelayanan Gereja Tiberias, mata rohani mereka dibukakan dan kehidupan mereka dipulihkan.

saya :

diatas anda mengatakan GTI hanya meninggikan ssatu NAMA yaitu Kristus, tetapi dalam persoalan orang yang kesurupan Nyi Roro Kidul, anda percaya perkataan orang yang kesurupan ini , anda tidak konsisten Pdt Lucky !!  dari sini saja sudah jelas kok jika anda lebih percaya perkataan setan daripada Firman Tuhan itu sendiri ! masih mau mengatakan anda posisinya benar  ? kalau anda mengaku hanya meninggikan Kristus , KENAPA ANDA PERCAYA PERKATAAN SETAN ?

======

5. Pdt Yesaya Pariadji bukanlah Hamba Tuhan yang benar, karena ajaran-ajarannya di mimbar maupun di Buletin GTI lebih didasarkan pada pengalaman-pengalaman supranatural dan halusinasi-halusinasinya yang sangat subyektif dan sama sekali tidak ada rujukannya dalam Alkitab. Sebagai contoh, Pdt Yesaya Pariadji mengaku-ngaku sebagai Juru Bicara Surga, Gembala Sidang Yerusalem Baru, memiliki Roh Martir, mendapat SK dari Langit, diajar Yesus langsung, mengajar tentang pemulihan kuasa Perjamuan Kudus, mengajar tentang kuasa Minyak Urapan, dan lain sebagainya.

anda :

….. Apa yang diajarkan pak Pariadji semua terambil dari Alkitab, artinya tidak bertentangan dengan Alkitab. Kenapa bisa berbeda dengan yang lain. Mungkin jawabannya adalah, penafsiran terhadap ayat Alkitab memang membuat banyak perbedaan di dalam ajaran Kristen, karena memakai metode yang berbeda satu dengan yang lainnya.

saya :

Memang setiap umat Tuhan atau gereja boleh menafsirankan Alkitab sendiri-sendiri, tetapi penafsiran tersebut harus bertanggungjawab, harus memenuhi kaidah-kaidah yang benar sehingga tafsiran tersebut sama seperti apa yang Tuhan kehendaki. Di dalam menafsir bagian-bagian Alkitab, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain:1.Semua Alkitab harus ditafsirkan dalam terang teologi dari seluruh Alkitab.

  • Firman Allah tidak pernah berkontradiksi dengan dirinya. Tidak ada bagian dari Alkitab yang berkontradiksi atau konflik dengan bagian yang lain. Dengan demikian jika ada dua tafsiran yang berbeda untuk bagian Alkitab yang sama, maka salah satu diantaranya pasti salah. Kebenaran Alkitab bukan relatif dan subyektif, tetapi kebenaran yang mutlak.

2.Bagian-bagian Alkitab yang sulit ditafsirkan dengan bagian-bagian yang lebih jelas. Yang implisit (tersirat) harus ditafsiran oleh yang eksplisit (tersurat).anda rupanya tidak paham Ilmu Hermneutika ?

anda :

Tidak heran tokoh reformasi gereja Marthin Luther dan Zwingli berdebat tanpa ada titik temunya karena masalah penafsiran tentang Perjamuan Kudus. Oleh sebab itu penafsiran bisa berbeda, bisa kurang tepat, bisa salah; tetapi yang dialami pak Pariadji, beliau mendengar sendiri suara Tuhan, dan berjumpa langsung dengan Tuhan Yesus dalam pengalaman supranaturalnya. Oleh sebab itu apa yang beliau perkatakan dibuktikan dengan banyaknya mujizat yang terjadi dalam pelayanan Tiberias dan perkataannya yang selalu didengungkan kepada jemaat, “jika saya berdusta, jika saya belum berjumpa Tuhan, jika saya belum mendengar suara Tuhan, jika saya belum pernah melihat neraka dan surga, dsb.; saya siap dilempar ke neraka”. Perkataan ini sangat jarang dilakukan oleh seorang pendeta karena mengandung resiko yang besar. Jadi pelayanan beliau bukan tanpa dasar firman, tapi mungkin sudut pandang yang digunakan berbeda. Sama seperti halnya saat Yesus diutus ke dunia, bagaimana orang mempercayai Dia datang dari surga?? Semuanya diteguhkan dengan tanda-tanda mujizat yang dibuat oleh Yesus sendiri. Jadi pelayanan dan panggilan pak Pariadji, diteguhkan dengan banyaknya mujizat yang terjadi di Tiberias.

tanggapan :

Ada 4 pandangan tentang arti Perjamuan Kudus: 

a)   Pandangan Gereja Roma Katolik. Pada waktu pastor / imam berkata: ‘HOC EST CORPUS MEUM’ (= ‘This is My body’ / ‘Inilah tubuhKu’), maka roti betul-betul berubah menjadi tubuh Kristus, dan anggur betul-betul berubah menjadi darah Kristus. doktrin ini disebut TRANSUBSTANTIATION (= a change of substance / perubahan zat).

Thomas Aquinas (1225-1274)“The substance of bread and wine are changed into the body and blood of Christ during communion while the accidents (appear­ence, taste, smell) remain the same”  [ Zat dari roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus pada saat komuni, sementara accidentsnya (penampilannya / kelihatannya, rasanya, baunya) tetap sama].

Dengan demikian Perjamuan Kudus dalam Roma Katolik dianggap sebagai pengulangan pengorbanan Kristus.

Keberatan terhadap pandangan ini:

tubuh Kristus bukan Allah, sehingga tidak maha ada. Sekarang tubuh Kristus ada di surga, dan karenanya Yesus tidak bisa hadir secara jasmani dalam Perjamuan Kudus! Kitab Suci menyatakan bahwa Yesus dikorbankan hanya satu kali saja (Ibr 9:28 – “demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diriNya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diriNya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia”).

b)   Martin Luther / Gereja Lutheran. Roti dan anggur tetap tidak berubah tetapi Kristus hadir secara jasmani baik di dalam, dengan / bersama, di bawah (in, with and under) roti dan anggur.

Doktrin ini disebut CONSUBSTANTIATION.

Keberatan terhadap pandangan ini:

Sama seperti terhadap pandangan Roma Katolik, pandangan Luther / Lutheran tetap menunjukkan bahwa tubuh Kristus harus maha ada (karena tubuh Kristus itu harus hadir di setiap tempat yang mengadakan Perjamuan Kudus, dan sekaligus juga di surga). Ini tidak benar. Tubuh Kristus bukan Allah sehingga tidak maha ada.

c)   Zwingli / Gereja Baptis.

Perjamuan Kudus hanyalah peringatan pengorbanan Kristus.

d)   Pandangan Calvin / Reformed.

Kristus bukan hadir secara jasmani, tetapi secara rohani. Jadi Perjamuan Kudus adalah suatu persekutuan dengan Kristus (1Kor 10:16 – “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?”).  

Perjamuan Kudus bukan sekedar merupakan peringatan. Kalau memang sekedar peringatan, mengapa ada ayat-ayat seperti 1Kor 11:26-30?

Roti menguatkan kita dan anggur memberikan sukacita. Bahwa dalam Perjamuan Kudus digunakan roti dan anggur menunjukkan bahwa Perjamuan Kudus bisa menguatkan iman kita dan memberikan sukacita. Tetapi tentu saja syarat dalam 1Kor 11:27-32 harus ditaati. Perjamuan Kudus juga menggambarkan persekutuan orang percaya, karena makan dan minum dari roti dan anggur yang satu / sama (bdk. 1Kor 10:17 – “Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu”).

Catatan: sebetulnya kata ‘satu’ dalam 1Kor 10:17 ini tidak cocok dengan penggunaan hosti dalam Perjamuan Kudus, karena dalam penggunaan hosti ‘satu roti’ itu tidak terlihat.

Charles Hodge: “The custom, therefore, of using a wafer placed unbroken in the mouth of the communicant, leaves out an important significant element in this sacrament” ( Karena itu, kebiasaan / tradisi menggunakan hosti, yang diletakkan secara utuh di dalam mulut dari peserta Perjamuan Kudus, menghapuskan suatu elemen berarti yang penting dalam sakramen ini).

anda :

Sebagai penutup saya katakan bahwa petisi di atas dibuat oleh pihak yang “membenci” Tiberias. Secara tata ibadah, secara keimanan, secara status gereja; semua tidak ada yang menyimpang.

saya :

tidak menyimpang ? mudah sekali anda mengambil kesimpulan untuk mengelak ?

  • pembahasan ini  sudah jelas diartikan ada penyimpangan dalam ajaran GTi , anda berkelit tidak ada penyimpangan ?
  • diatas saja anda mengatakan hanya meninggikan satu nama, tetapi pada kenyataannya anda percaya kepada perkataan orang yang kesurupan roh jahat daripada Firman Tuhan
  • diatas juga sudah di buktikan bahwa GTI sudah menyimpang dari iman berdasarkan kutipan dari Buletin anda yang lebih menekankan “kuasa Minyak Urapan”

anda :

Berbicara doktrin, doktrin bisa berbeda satu dengan yang lainnya karena perbedaan sudut pandang. Mungkin kata-kata Martin Luther bisa saya kutip, “buktikanlah salah menggunakan Alkitab”.saya :

  • anda jangan memutar balik pernyataan martin Luther untuk mendukung ajaran anda !! martin Luther mengatakan itu karena dia menentang ajaran Roma Katolik !!
  • anda juga tidak mencantumkan dari mana anda mengutip kata kata itu Lucky !!
  • saya belum pernah membaca tulisan Luther yang berbunyi seperti yang anda kutip, yang ada dari pernyataan Marthin Luter adalah Alkitab tidak bisa salah untuk mendukung ajaran Sola Scriptura Lucky !!

anda :

Entah karena Tiberias semakin berkembang, besar, dsb. Semakin tinggi pohon, semakin besar angin yang meniupnya.

saya :

dalam waktu 10 tahun (1942-1952), jumlah orang Saksi Yehovah di Amerika Serikat berkembang 2 x lipat, di Asia 5 x lipat, di Eropa 7 x lipat, dan di Amerika Latin 15 x lipat. Apakah itu membuktikan bahwa ajaran mereka itu benar dan gereja mereka diberkati oleh Tuhan?

Ingatlah bahwa kebenaran bukanlah persoalan demokrasi, dalam arti, yang banyak belum tentu benar! Pada saat Yesus melayani secara jasmani dalam dunia ini, hanya sedikit orang yang sungguh-sungguh percaya dan mengikuti Dia. Apakah ini berarti ajaranNya salah dan pelayananNya tidak diberkati Tuhan?

Ingatlah juga bahwa Tuhan Yesus sendiri sudah menubuatkan bahwa makin mendekati akhir jaman, makin banyak ajaran sesat, dan makin banyak orang yang tersesat (Mat 18:7 Mat 24:5,11).

Juga ingatlah bahwa Paulus juga menubuatkan bahwa akan datang waktunya orang tidak dapat lagi menerima ajaran yang benar dan mereka akan mengumpulkan guru-guru palsu menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Juga bahwa mereka akan menutup telinganya bagi kebenaran dan membukanya bagi dongeng (2Tim 4:3-4). Jadi, kalau banyak orang senang mendengar ajaran GTI , itu hanyalah penggenapan dari nubuat ini!

anda :

Tetapi dasar yang kuat tidak akan pernah membuat pohon tersebut tumbang. Pak Pariadji dan Tiberias hanya melakukan perintah yang Tuhan berikan untuk dilakukan, “mempersiapkan jemaat yang kudus, misionaris dan siap ke surga”, membawa jemaat kepada target akhir kita, yaitu surga. Jadi mari sama-sama persiapkan diri kita menghadap Dia di dalam kekudusan. 

saya :

mempersiapkan jemaat yang kudus , misionaris dan siap masuk ke Sorga dengan bekal percaya kepada perkataan setan dan ajaran sesat ? LUAR BIASA SEKALI anda kalau mengibul !!

 

 


Pembahasan Ajaran Pdt.Lucky Fergian Laoh dari Gereja Tiberias Indonesia tentang “Perjamuan Kudus”

Pdt.Lucky Fergian Laoh :

Sebagai salah seorang Pendeta di Gereja Tiberias, saya ingin membagikan pengajaran tentang Perjamuan Kudus (untuk seterusnya disingkat PK). Karena PK merupakan sesuatu yang hampir selalu dilakukan dalam setiap ibadah di Tiberias. Tidak heran banyak orang yang menganggap bahwa ajaran PK yang dilakukan di Tiberias sesat atau menyimpang.

Banyak faktor orang mengatakan bahwa PK yang dilakukan di Tiberias sesat, seperti contoh: kok PK bisa dibawa pulang, kok PK dilakukan setiap kali ibadah (dengan alasan akan merendahkan kesakralan PK), kok bisa diberikan kepada anak-anak (bahkan bayi). Hal inilah yang dipandang oleh beberapa orang sebagai kesesatan yang dilakukan di Tiberias.

Oleh sebab itu melalui tulisan ini, kerinduan saya, bahwa banyak orang yang memahami dan akhirnya mengamini apa yang dilakukan di Tiberias.

Tanggapan saya :

Penentuan kapan ada perjamuan kudus dan kapan seseorang menerima perjamuan suci memang adalah produk aturan yang dibuat oleh gereja. Seseorang yang belum dibaptis/ Sidi menurut peraturan gereja, dia belum boleh menerima perjamuan suci, peraturan ini didasarkan dari ayat ini:

1 Kor 11:27  Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.

Baptis/ Sidi adalah “tanda” secara resmi bahwa orang tersebut telah mengaku percaya kepada Kristus. Maka “tanda” ini dianggap sebagai legitimasi seseorang diperbolehkan mengikuti Perjamuan Kudus.Peraturan ini baik-baik saja, supaya tidak sembarang orang ikut Perjamuan Kudus. Dan untuk menghindarkan seseorang menjadi berdosa karena orang tersebut belum percaya dan belum mengerti esensi Perjamuan Kudus.

Tetapi bagaimanapun ada hal dan situasi tertentu yang dapat menabrak suatu peraturan gereja, misalnya dalam situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan seseorang untuk proses baptis/ sidi namun ia sudah menjadi orang percaya. Dalam hal ini saya setuju orang tersebut walaupun belum mengikuti “upacara” baptisan, namun orang tersebut telah menjadi umat Kristus, dan dia layak mengikuti Perjamuan Kudus.

Mengenai perjamuan yang dibuat anak-anak itu….,  perlu anda camkan : Bahwa perjamuan suci itu dipimpin oleh imam gereja, dan yang menerimanya adalah orang-orang yang (sebaiknya sudah dibaptis).

Pdt.Lucky Fergian Laoh:

I Kor 11:23-30
23 Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti
24 dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”
25 Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”
26 Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.
27 Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.
28 Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.
29 Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya.
30 Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal.

Ayat2 di atas banyak dibacakan oleh gereja-gereja sebelum melakukan PK. Dan dari ayat2 di atas kita dapat menemukan pelajaran penting dari PK, khususnya yang biasa dilakukan di gereja Tiberias.

1. Perjamuan Kudus adalah perintah/ ajaran langsung Tuhan Yesus (ay. 23).
    Surat I Korintus ditulis oleh Paulus, yang bukan dari golongan rasul. Ia penganiaya orang Kristen, bahkan punya ambisi membunuh orang Kristen (Kis. 9:1-2).

Tanggapan saya :

kisah pertobatan Saulus dimuat didalam Kisah Para Rasul 9:1-30 dimana Lukas yang merupakan penulis dari kitab tersebut. Dan sebagai penulis, Lukas yang menjadi saksi (walaupun bukan saksi mata dalam hal ini, bdk. Luk 1:3) peristiwa tersebut dan jemaat mula2 juga menerima KPR (menerima kesaksian Lukas) hingga akhirnya didalam kanonisasi KPR merupakan kitab yang diterima secara resmi oleh konsili.

Selanjutnya, lebih dari 1/2 materi KPR memuat tentang pelayanan Paulus, dan sekalilagi tidak ada keberatan dari jemaat mula2 bahkan dalam sidang di Yerusalem (sidang yang dihadiri para rasul langsung) dihadiri pula oleh Paulus dan merekapun mengutus dia dalam pelayanannya.

Petrus juga mengakui bahwa Paulus memiliki HIKMAT yang dikaruniakan (Tuhan) kepadanya: …, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya.- 2Pe 3:15

kesaksian dari diri Paulus sendiri mengenai kerasulannya:Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.- Rom 1:1

Kita juga menemukan banyak sekali penjelasan2 Paulus yang lain mengenai kerasulannya (lihat Galatia 1:11-2:10), dan (sekali lagi) tidak ada yang keberatan mengenai kerasulan Paulus dari antara rasul2 langsung maupun jemaat2 yang dibuktikan dengan diterimanya surat2 Paulus oleh seluruh jemaat mula2. Sebagai catatan, surat2 Paulus kemungkinan telah ditulis sebelum ke-4 Injil, KPR maupun surat2 rasul yang lain.dengan memahami proses pengesahan kanonisasi Perjanjian Baru yang dilakukan “baru” setelah ke-27 kitab PB beredar dan diterima seluruh jemaat mula2 selama sekitar 400 tahun, maka tidak ada alasan bagi kita yang hidup 2000 tahun kemudian mempertanyakan kembali hal2 yang tidak ditolak oleh saksi2 mata maupun mereka yang hidup dekat dengan peristiwa tersebut.

Pdt.Lucky Fergian Laoh :

Tetapi Tuhan Yesus menjumpainya saat perjalanannya menuju Damsyik (Kis. 9:3-5), dan akhirnya mengalami pertobatan. Kalimat yang menyatakan apa yang telah kuteruskan kepadamu mempunyai arti bahwa Paulus mengajarkan kepada jemaat Korintus ttg PK. Tetapi renungkan baik bahwa Paulus menuliskan selanjutnya, telah aku terima dari Tuhan.

Tanggapan saya :

setelah anda membaca penjelasan mengenai kesaksian apakah Paulus Rasul atau tidak bagaimana Tanggapan anda ?

 Pdt.Lucky Fergian Laoh :

Perlu diperhatikan dengan seksama,  bahwa Paulus tidak kenal Tuhan Yesus, bahkan ia adalah penganiaya jemaat; dia tidak pernah mengikuti Yesus, dia tidak bersama2 Yesus dalam Perjamuan Malam. Bagaimana mungkin ia bisa berkata “telah aku terima dari Tuhan”. Kata aku terima mempunyai arti Paulus tidak menerima dari orang lain, dari rasul lain; tetapi dia menegaskan bahwa ajaran PK dia terima dari Tuhan (langsung tanpa perantara -tambahan penulis). Karena bahasa Yunani yang digunakan dalam ayat itu adalah parelabon (bentuk perintah-imperatif) yang berarti dia terima dari Tuhan seperti Tuhan sedang berbicara di sisinya atau dapat dikatakan bahwa Paulus diajar langsung Tuhan, dijumpai dan diperintahkan untuk meneruskan ajaran tentang PK.

Tanggapan saya :

anda mengatakan bahwa “bahwa Paulus tidak kenal Tuhan Yesus, bahkan ia adalah penganiaya jemaat; dia tidak pernah mengikuti Yesus, dia tidak bersama2 Yesus dalam Perjamuan Malam”

namun kemudian anda mengatakan bahwa ” tetapi dia menegaskan bahwa ajaran PK dia terima dari Tuhan (langsung tanpa perantara -tambahan penulis)”

kalau dia menerima langsung ajaran tersebut dari Tuhan , kenapa anda mengatakan bahwa Paulus bukan bagian dari Para Rasul, sedangkan Rasul yang lain mau mengakuinya sebagai Rasul ?

 Pdt.Lucky Fergian Laoh :

Kalau direnungkan perkatan Pdt. DR. Yesaya Pariadji bahwa Yesus menjumpainya dan mengajarkan tentang PK kepadanya, adalah pengalaman yang sama yang dialami oleh Paulus. Beliau bukanlah termasuk golongan yang mengenal Yesus sebelumnya, tidak ada niatan menjadi seorang Kristen, tetapi Tuhan menjumpainya langsung (seperti menjumpai Paulus) dan mengajarkan (bahkan memerintahkan) ajaran PK untuk diteruskan kepada jemaat2.

Tanggapan saya :

Dalam PL memang ada tiga jabatan penting, yaitu Raja, Imam dan Nabi (yang ketiganya bersatu dalam diri Yesus Kristus). Namun harus kita ketahui tiga jabatan ini telah berhenti.

Jabatan raja berhenti ketika bangsa Yehuda/ Israel berada di dalam masa intertestamental dan dijajah Romawi. Mereka sudah tidak memiliki kerajaan lagi. Jabatan imam berakhir ketika bait Allah diruntuhkan pada tahun 70 AD oleh Romawi dalam peperangan 4 tahun dengan Israel. Sejak itu mereka tidak memiliki lagi imam, yang ada hanya guru (rabbi). Jabatan nabi juga sudah selesai pada saat Allah telah selesai berfirman dan wahyu Allah berhenti.

Masih adakah nabi/ rasul pada jaman ini? Rupanya anda tidak memahami bahwa jabatan nabi/ rasul sudah berhenti dengan selesainya wahyu Allah kepada manusia. Bagaimana dengan Efesus 4:11 yang mengatakan “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar.”? John Calvin dalam bukunya Ecclesiastical Ordinances mengatakan dengan jelas bahwa jabatan rasul dan nabi hanya diberikan sebagai dasar pembentukan gereja, sedangkan gereja pada masa pasca Kristus hanya memiliki 4 jabatan didalamnya:

Fundamental to the Ecclesiastical Ordinances is that Calvin felt that the fourfold office of ministry laid out therein was God-given: “There are four orders of office instituted by our Lord for the government of his Church . . . pastors; then doctors; next elders, and fourth deacons.”(6)

(suatu hal yang mendasar dalam buku Ecclesiastical Ordinances adalah bahwa Calvin merasa hanya ada 4 jabatan yang Allah berikan kepada gereja-Nya :”ada empat jabatan yang didirikan Allah bagi pemerintahan gereja-Nya …pastors (gembala-gembala), kemudian doctors (pengajar-pengajar), kemudian elders (penatua-penatua) dan keempat deacons (diaken-diaken).”

Alkitab menunjukkan bahwa seorang nabi justru beritanya tidak didengar oleh bangsanya. Ia ditolak, dikucilkan bahkan dibenci oleh orang sejamannya. Hal itu terjadi karena ia memberitakan Firman yang tidak disukai oleh orang berdosa. Itulah yang dialami nabi Allah yang sejati, bukan disanjung-sanjung atau diikuti banyak orang. Intinya, tidak ada nabi yang hidupnya enak dan ia adalah orang yang kesepian dalam jamannya.

Lagipula, dalam Alkitab tidak pernah ada nabi khusus yang mengajarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan perkataan Allah sendiri. Para nabi memberitakan semua Firman Allah baik penghukuman, murka Allah, dosa kepada semua orang . Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa seorang nabi dipilih dan dipanggil sendiri oleh Allah. Bahkan seperti nabi Yeremia dan Yohanes Pembaptis dipilih sejak mereka dalam kandungan. Pertanyaannya : kapan Allah memilih memilih Pdt Yesaya PAriadji menjadi seorang nabi? The Bible does not say anything about PAriadji! (Alkitab tidak berkata apa-apa tentang Pdt Yesaya PAriadji). Adalah kesalahan sekaligus penyesatan mengklaim diri sebagai nabi Allah. Selain nabi-nabi yang disebutkan namanya dalam Alkitab, tidak ada nabi lagi pada jaman ini. Saya berani pastikan bahwa Pdt Yesaya PAriadji bukanlah nabi Allah pada jaman ini.

Apakah bahaya dari mengklaim diri sebagai nabi Allah? Sebagai konsekwensi dari klaim bahwa dirinya seorang nabi Allah, Pdt Yesaya PAriadji  otomatis jatuh kepada kesalahan fatal lainnya, yaitu beranggapan bahwa Allah masih berfirman dan memberikan wahyu-Nya melalui dirinya.

 Pdt.Lucky Fergian Laoh :

Sehingga beliau berani berkata “saya menerima ajaran ini dari Tuhan, jika saya dusta, saya siap dilempar ke neraka, setan berhak atas saya.” Banyak orang mengkritik, kalau Tuhan mau menyingkapkan sesuatu hal tentang FirmanNya, kenapa bukan kepada pendeta, tetapi malah kepada orang yang dahulu tidak kenal Tuhan Yesus. Sebenarnya hal itu pulalah yang dialami oleh Paulus. Tuhan punya hak prerogatif untuk memilih siapa saja untuk menjadi alat bagiNya. Yes 65:1 menuliskan, Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata: “Ini Aku, ini Aku!” kepada bangsa yang tidak memanggil nama-Ku. Artinya Tuhan berkenan memberikan rahasiaNya (petunjuk dan ajaran) kepada orang yang tidak dianggap layak oleh manusia.

Jadi pelajaran pertama yang kita dapatkan adalah bahwa PK adalah ajaran/ perintah langsung Yesus untuk diteruskan kepada kita. Pengalaman Paulus sama dengan pengalaman Pak Pariadji dalam menerima ajaran ini.

Tanggapan saya :

memuakkan dari Pdt. Yesaya Pariadji ini adalah bahwa ia sangat sering bersumpah tanpa ada perlunya. Tidak pernahkah ia membaca kata-kata Yesus dalam Mat 5:33-37 – “Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Sekalipun saya memang tidak beranggapan bahwa sumpah dilarang secara mutlak, tetapi jelas bahwa kata-kata di atas ini melarang kita untuk bersumpah secara sembarangan / tanpa ada perlunya!

Beberapa komentar tentang orang yang gampang untuk bersumpah:

  • William Hendriksen: “It is characteristic of certain individuals who are aware that their reputation for veracity is not exactly outstanding that the more they lie the more they will also assert that what they are saying is ‘gospel truth.’ They are in the habit of interlacing their conversations with oaths”(Merupakan ciri dari individu-individu tertentu yang sadar bahwa reputasi mereka untuk kejujuran tidak terlalu menonjol, dimana makin mereka berdusta makin mereka menegaskan bahwa apa yang mereka katakan adalah ‘kebenaran injil’. Mereka terbiasa untuk menjalin percakapan mereka dengan sumpah)
  • Adam Clarke: “A common swearer is constantly perjuring himself: such a person should never be trusted”( Seseorang yang biasa bersumpah secara terus menerus bersumpah palsu: orang seperti itu tidak pernah boleh dipercaya)

Karena itu makin sering seseorang bersumpah, makin saya tidak percaya !
kesimpulannya :
pelajaran anda yang pertama itu jelas mengada ada , kenapa ?  karena Paulus tidak pernah mengajar bahwa Perjamuan kudus bisa menyembuhkan sakit penyakit !!

 Pdt.Lucky Fergian Laoh :

2. Melalui PK – tubuh Kristus – kita menerima kesembuhan (ay. 24)

Paulus mengutip kata-kata Tuhan Yesus “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”. Dalam kalimat itu Yesus ingin menyampaikan bahwa tubuh Yesus diberikan kepada kita. Jika kita mau merenungkan, Yesus tercambuk, di mahkotai duri, di siksa, dipaku bahwa ditikam karena kita. Seharusnya kita yang harus ada dalam posisi Yesus, karena memang kita layak dihukum. Tetapi Yesus menggantikan tubuh kita (yang seharusnya tersiksa) dengan tubuhNya, supaya tergenapi janji Tuhan “dengan bilur-bilurNya kamu disembuhkan”. Karena sesungguhnya, Yesus sudah menanggung segala derita kita. Sehingga seharusnya manusia tidak terikat sakit lagi. Karena bilurNya sudah diberikan untuk kita supaya kita sembuh. Yang perlu dilakukan saat ini adalah dengan iman percaya sungguh, bahwa Yesus menyembuhkan karena tubuhNya sudah diberikan untuk kita. Perwujudan tubuh Kristus, kita terima di dalam PK, karena dalam PK kita mengakui roti sebagai tubuh Kristus. Oleh sebab itu dari iman kita kepada korban tubuh Kristus dan diwujudkan pada roti yang adalah tubuh Kristus, maka kita sembuh.
Jadi pelajaran kedua adalah melalui korban tubuh Yesus, tubuh kita yang sakit, Tuhan sembuhkan.

Tanggapan saya :

* Markus 14:22-25 Penetapan Perjamuan Malam
14:22 Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Ambillah, inilah tubuh-Ku.”
14:23 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu.
14:24 Dan Ia berkata kepada mereka: “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang.
14:25 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah.”

Tulisan dalam Markus ini bisa kita paralelkan dengan tulisan Rasul Paulus pada tahun 55 Masehi dalam :

* 1 Korintus 11:23-25
11:23 Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti
11:24 dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”
11:25 Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”

Paulus mengingatkan para petobat yang digem balakannya di Korintus bahwa ia pernah menyampaikan apa yang ditulisnya ini secara lisan (mungkin pada saat ia datang ke kota itu untuk mengabarkan Injil pada tahun 50 Masehi). Ia berkata bahwa ia sendiri ‘menerima’ kata-kata itu ‘dari Tuhan’ (kira-kira tidak lama setelah pertobatannya). Dan ia memperoleh kuasanya dari Tuhan. Ada perbedaan dalam pengalimatan antara tulisan Paulus dan Markus. Mungkin ini mencerminkan variasi (bukan kontradiksi) dalam penggunaanya di gereja-gereja orang Kristen generasi pertama. Tetapi kita disini tidak membicarakan perbedaan-perbedaan yang ada. Lebih penting memperhatikan apa arti yang terkandung dalam persamaan-persamaan yang ada.

Perjamuan Malam Terakhir adalah perjamuan Paskah yang diselenggarakan oleh Tuhan Yesus menjelang masa sengsaraNya. Perjamuan Paskah merupakan peringatan keluarnya bangsa Israel dari Mesir berabad-abad yang lalu. Tradisi Yahudi dalam perayaan ini adalah menyajikan roti tidak beragi, anggur merah, juga makanan-makanan lain. Sebelum hidangan-hidangan itu disantap, kepala keluarga dalam keluarga Yahudi menceritakan kisah pelepasan itu. Roti tidak beragi disini disebut ‘roti penderitaan’ yang dimakan para nenek-moyang mereka saat keluar dari Mesir (lihat Ulangan 16:3).

Pada awal perjamuan, kepala keluarga setelah memecah-mecahkan roti, mengucapkan syukur atasnya dengan kalimat penuh hormat : “Diberkatilah Engkau, ya TUHAN Allah kami, Raja semesta alam, yang menumbuhkan roti di bumi”. Tetapi pada Perjamuan Malam Terakhir itu Tuhan Yesus selaku “kepala-keluarga”-Nya, setelah mengucapkan syukur atas roti perjamuan, menambahkan kata-kata yang memberikan makna baru pada roti itu “Ambillah, inilah tubuh-Ku”. Dalam tulisan paulus dilanjutkan dengan kata-kata “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” .

Perjamuan Paskah ialah peringatan akan pelepasan agung pada waktu keluatran; sekarang, sebuah peringatan baru didirikan, mengingat akan pelepasan baru yang lebih agung yang bakal dilaksanakan. bahwa roti yang Ia ambil dari meja adalah tidak mungkin tubuhNya karane Para murid bisa melihat tubuhNya yang hidup didepan mata mereka. Sekali lagi jawaban atas kata-kata ini ialah bahwa, bagi iman orang-orang yang makan Perjamuan Kudus, roti itu adalah lambang dari tubuh Tuhan. Karena iman, dengan memakan roti peringatan itu, mereka mengambil bagian dalam hidup Kristus.

Pada akhir Perjamuan Paskah, ketika ucapan syukur penutup perjamuan telah dinaikkan, sebuah cawan anggur diminum bergantian oleh seluruh keluarga. Cawan ini, yang disebut “cawan berkat”, ialah cawan ketiga dari empat cawan yang diletakkan diatas meja. Ketika Tuhan Yesus mengucapkan berkatNya dan menberikan cawan itu kepada sobat-sobatNya tanpa Ia sendiri minum dari-padaNya, Ia berkata kepada mereka, “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang”. (Versi Paulus mengatakan “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”).

Ketika Musa, di kaki Gunung Sinai, membacakan Hukum Allah kepada Bangsa Israel yang telah keluar dari Mesir dan mereka berketetapan mentaati hukum itu, sebagian dari darah binatang korban dipercikkan pada mezbah (lambang kehadiran Allah) dan sebagian pada bangsa Israel. Tentang darah itu, Musa berkata-kata sebagai “darah perjanjian yang diadakan Tuhan dengan kamu, berdasarkan firman ini” (Keluaran 24:3-8 ).

Bagi murid-murid Tuhan Yesus yang sudah sangat hafal akan kisah-kisah tentang Perjamuan Paskah dan keluarnya bangsa Israel dari Mesir, maka kata-kata Tuhan Yesus mempunyai arti bahwa akan didirikan sebuah Perjanjian Baru sebagai pengganti dari perjanjian yang didirikan untuk nenek moyang mereka pada zaman Musa. Lagipula, Perjanjian Baru itu akan didirikan melalui kematian Tuhan Yesus bagi bangsaNya. Kalau kemudian mereka memakan roti peringatan itu, mereka karena iman mengambil bagian dalam kehidupan Dia yang mati dan bangkit kembali. Demikian juga waktu mereka minum cawan itu mereka menyatakan dan menerima karena iman “kepentingan mereka dalam darah Juru-Selamat”. Dengan berbuat demikian, mereka memahami arti kata-kata Tuhan Yesus dan mereka tahu bahwa melalui Dia mereka termasuk dalam umat perjanjian Allah.

Sekarang kita lihat dalam Matius :

* Matius 26:26-29 Penetapan Perjamuan Malam
26:26 Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.”
26:27 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini.
26:28 Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.
26:29 Akan tetapi Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku.”

Kita lihat penekanan dalam frasa ” untuk pengampunan dosa” setelah frasa “yang ditumpahkan bagi banyak orang”.

* Lukas 22:14-23 Penetapan Perjamuan Malam
22:14 Ketika tiba saatnya, Yesus duduk makan bersama-sama dengan rasul-rasul-Nya.
22:15 Kata-Nya kepada mereka: “Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita.
22:16 Sebab Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan memakannya lagi sampai ia beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Allah.”
22:17 Kemudian Ia mengambil sebuah cawan, mengucap syukur, lalu berkata: “Ambillah ini dan bagikanlah di antara kamu.
22:18 Sebab Aku berkata kepada kamu: mulai dari sekarang ini Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang.”
22:19 Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”
22:20 Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.
22:21 Tetapi, lihat, tangan orang yang menyerahkan Aku, ada bersama dengan Aku di meja ini.
22:22 Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!”
22:23 Lalu mulailah mereka mempersoalkan, siapa di antara mereka yang akan berbuat demikian.

Dalam Lukas 22:17-20, kita menemukan versi yang lebih panjang, menyerupai versi Paulus.

* Yohanes 6:53-55
6:53 Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.
6:54 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.
6:55 Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.

Mengenai yang ditulis Yohanes ini, saya jelaskan dibawahnya

Tulisan Lukas, khususnya menjadi penting, karena ia satu-satunya penulis Injil yang melaporkan bahwa Tuhan Yesus berkata “perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Lukas 22:19). Dalam Tulisannya, kata-kata ini ditambahkan setelah Tuhan Yesus berkata-kata tentang roti perjamuan (dalam catatan Paulus kata-kata ini dihubungkan dengan roti dan cawan). Dari catatan Markus (dan Matius), orang tidak bisa menyimpulkan bahwa pertemuan itu sekedar makan dan minum untuk saat itu saja, ataukah harus dilakukan berulang-ulang (untuk peringatan). Lukas membuatnya menjadi jelas, bahwa makan dan minum itu dimaksudkan supaya diulang-ulang.

Menurut ketiga penulis Injil Sinoptis ini, Tuhan Yesus berkata sambil memberikan cawan kepada murid-muridNya, “Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah ” – atau dengan kata-kata lain tapi dengan pengertian yang sama (lihat Markus 14:25), bandingkan dengan Matius 26:29; Lukas 22:18 ). Saat itulah perjamuan Surgawi akan dimulai.

Tetapi sesudah Tuhan Yesus bangkit dari antara orang-orang mati, Ia menyatakan diriNya kepada murid-muridNya ‘waktu ia memecahkan roti’ (Lukas 24:35). Petrus di rumah Kornelius menceritakan bagaimana ia dan rekan-rekannya ‘makan dan minum bersama-sama dengan Dia’ (Kisah 10:41). Ini menunjukkan bahwa Kerajaan Allah sudah datang dalam pengertian tertentu (Kerajaan Allah yang ‘datang dengan kuasa’, begitu tertulis dalam Markus 9:1) : Kerajaan Allah telah diresmikan, meskipun penyempurnaanNya masih di masa yang akan datang. Sampai kepada penyempurnaan itu, maka umatNya akan senantiasa ‘melakukan ini’ – makan roti dan minum anggur – sebagai peringatan akan Dia. Dan dengan berbuat demikian mereka menyadari dengan sesadar-sadarnya kehadiranNya ditengah-tengah mereka.

Yoh 6:53  Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.

Ini adalah suatu perkataan sesuai yang dilaporkan Yohanes :

Yoh 6:60  Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?

“Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?”, maksudnya adalah bahwa mereka tidak hanya sulit memahaminya, tetapi andaikata mereka dapat mengerti sekalipun, mereka akan sulit menerimanya. Silahkan lihat versi terjemahan dibawah ini :

Contemporary English Version (CNV), Many of Jesus’ disciples heard him and said, “This is too hard for anyone to understand.”

CNV mengekspresikannya dengan nuansa yang berbeda, dengan menyajikan kalimat “Ini sama sekali sulit untuk dimengerti oleh setiap orang”. Bisa dimaksudkan bahwa mereka menganggap Yesus bicara “omong-kosong”, dan kalau mendengarkannya berarti membuang waktu; tetapi bukan ini yang sebenarnya dimaksudkan oleh Yohanes.

Memberi makan lima ribu orang adalah salah satu dari beberapa peristiwa dalam pelayanan Yesus yang dicatat oleh keempat penginjil. Narasi dari Markus 6:31-52 (termasuk kelanjutan kisah Yesus berjalan di atas air menghampiri muird-muridNya ke seberang) direproduksi secara nyata dalam Matius 14:13-33 dan tanpa berjalan dalam Lukas 9:10-17. Yohanes mengisahkan peristiwa itu secara terpisah (bersama dengan berjalan di atas air) dalam Yohanes 6:1-21.

Dalam Injil Sinoptis, kita memperoleh gambaran bahwa ada sesuatu yang lebih dari hanya memberi makan lima-ribu orang seperti yang mata memandangnya pada waktu itu atau mata pembaca masa kini.

Secara khusus, Markus menjelaskan secara gamblang bahwa memberi makan itu bertujuan untuk mengajar para murid yang belum juga mengerti, dan bahwa Yesus merasa heran karenanya. Ketika Dia ikut mereka dalam perahu yang sedang balik menuju ke seberang lain danau Galilea itu, angin topan yang menghambat perjalanan mereka telah menjadi teduh, dicatat oleh Markus : “Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.” (Markus 6:51-52).

‘Hati mereka degil’, berarti ‘pikiran mereka tertutup’, maka kita dapat mengerti makna “perkataan keras” seperti makna yang disampaikan CNV, bahwa mereka itu kesal untuk dapat mengerti pengajaran itu, dan pengajaran itu sebenarnya berkaitan dengan pribadi Tuan mereka.

Tetapi, arti yang terselubung dalam sinoptis diungkapkan oleh Yohanes secara gamblang. Dia menjelaskan hal itu dengan bentuk khotbah. Yesus di Sinagoge Kapernaum, tidak lama setelah peristiwa diatas. Pokok pembahasanNya adalah mengenai Roti Hidup.

Telah diusulkan bahwa pada hari Sabat, salah satu pengajaran Alkitab di Sinagoge adalah Keluaran 16:13-26 atau Bilangan 11:4-9, yang menceritakan tentang manna, roti dari Surga yang olehnya orang Israel dikenyangkan selama perjalanan di padang gurun. Inilah pokok bahasan yang mengawali bagaimana khotbah itu. Manna yang nenek moyang mereka di padang gurun, kata Yesus, bukanlah makanan yang tak dapat binasa : yang emmakannya tetap bisa mati – sepat atau lambat. Demikian juga roti yang Dia berikan kepada orang banyak itu adalah roti secara materi.

Orang-orang Yahudi mau menjadikan Yesus pemimpin mereka, karena mereka melihat mujizat yang dilakukan Yesus yaitu memberi roti kepada lima-ribu orang, padahal sebenarnya Yesus datang untuk memberikan kepada mereka roti yang lebih baik. Sama seperti waktu Yesus menawarkan kepada perempuan Samaria di dekat sumur Yakub – air yang lebih baik daripada air dalam sumur itu, yaitu air hidup yang membuatnya tidak haus lagi selama-lamanya. Maka, kini Yesus menawarkan kepada orang-orang di Galilea – roti yang lebih baik – daripada roti yang hanya mengenyangkan perut yang dimakan oleh lima-ribu orang itu, bahkan roti yang lebih baik daripada Manna yang dimakan oleh nenek-moyang mereka. Yesus menawarkan ‘makanan yang bertahan sampai kehidupan yang kekal’.

Manna boleh saja disebut sebagai ‘roti dari Surga’ , bahkan disebut ‘roti yang dari Allah’ tetapi roti yang benar-benar berasal dari Allah adalah yang turun dari Surga, yang memberi hidup kepada dunia :

* Yohanes 6:27-34
6:27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.”
6:28 Lalu kata mereka kepada-Nya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?”
6:29 Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”
6:30 Maka kata mereka kepada-Nya: “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?
6:31 Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga.”
6:32 Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.
6:33 Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia.”
6:34 Maka kata mereka kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.”

Bukan saja demikian, Allah telah memberi kuasa dan hak kepada Yesus Kristus yang diutus untuk menganugerahkan Roti Hidup : Yaitu Anak Manusia, Yesus Kristus sendiri.
Nah, sejauh ini : ketika perempuan Samaria itu mendengar tentang Air hidup itu berkata : “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.” (Yohanes 4:15), bisa kita umpamakan dengan pendengar Yesus saat itu berkata : “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.”

Dari sini kita menginjak tingkat pengajaran berikutnya. Yesus tidak hanya memberikan roti hidup, tetapi Dialah Roti Hidup. Kehidupan yang sesungguhnya, Hidup yang kekal, yang hanya diperoleh didalam Dia :

Yoh6:35  Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

Memang, barangsiapa yang datang kepadaNya dalam iman akan mendapatkan pemeliharaan dan kesegaran yang abadi untuk jiwa mereka yang haus dan lapar; mereka tidak akan pernah mati.

Yoh 6:51  Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

Sekarang pengajaran itu benar-benar mulai keras. Setiap orang yang beruntung membaca kata-kata ini dalam konteks keseluruhan Injil Yohanes akan mengetahui arti kata-kata itu. Bahwa percaya kepada Yesus Kristus bukan Cuma mempercayai apa yang dikatakanNya : percaya adalah dipersatukan dengan Dia oleh iman untuk berpartisipasi dalam hidupNya. (Sampai pada suatu titik, perkataanNya tentang memberikan dagingNya untuk dunia adalah paralel dengan apa yang ditulis Markus dalam Markus 10:45) dimana Yesus Kristus mengatakan bahwa Anak Manusia datang untuk ‘memberikan nyawaNya bagi banyak orang’.

Mark 10:45  Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Bahasa yang dipakai Yesus untuk mengatakan “dagingKu” bisa merupakan cara lain mengatakan “diriNya”; Dia sendiri adalah Roti yang diberikan untuk hidup dunia. Namun ungkapan dalam Markus 10:45 bukan merupakan referensi mengenai Anak Manusia sebagai makanan bagi jiwa orang ‘banyak’ dan ini merupakan satu penekanan tambahan dan sesuatu yang meninggalkan jemaat sinagoge terlepas dari kedalamannya.

Dari bibir orang-orang yang merasa tidak mengerti kedalaman itu, adalah wajar kalau muncul pertanyaan “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.” (Yohanes 6:52).

Adalah menjadi kebiasaan Yohanes apabila ia mencatat percakapan Yesus dengan mengutip perkataan yang mempunyai arti rohani dan yang membuat pendengarnya memberi reaksi bahwa mereka gagal untuk mengerti artinya; Yesus Kristus kemudian diberikan kesempatan untuk mengulangi perkataanNya secara lebih lengkap. Karena itu disini Dia mengulangi kembali jawabanNya dengan lebih lengkap untuk para pendengarnya yang kebingungan :

* Yohanes 6:54-56
6:54 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.
6:55 Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.
6:56 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.

Apa yang Yesus maksudkan? Jelaslah bahwa bahasanya tidak dapat diambil secara harfiah : Dia tidak menganjurkan kanibalisme. Kalau begitu, bagaimana harus diartikan? Hal ini tidak hanya kabur, mereka berpikir : itu bersifat menantang. Bagi orang yahudi, minum darah apapun, bahkan makan daging yang darahnya masih belum dialirkan, adalah tabu. Apalagi meminum darah manusia yang tidak masuk akal kalau perlu disebutkan. Ini merupakan perkataan yang keras dipandang dari lebih banyak segi.

Yesus menjawab protes mereka dengan menunjukkan bahwa perkataanNya harus dimengerti secara rohani :

Yoh 6:63 Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.

Pengertian secara fisik atau harfiah dari perkataan itu secara jelas tidak akan dapat diterima. Jikalau demikian, apakah arti rohaninya?

Kembali kepada para pembaca Injil yang memandang perkataan ini dalam konteks keseluruhannya, beruntung melebihi pengengar-pendengar pertama, yang tidak mempunyai penjelasan konteks.  Apa yang kita peroleh dari bahasa ganjil yang digunakan Tuhan Yesus adalah merupakan metafora yang dengan kuat menyatakan bahwa bagian dari kehidupan Allah, kehidupan yang ekkal, diberikan kepada barang-siapa yang datang beriman kepada Yesus Kristus, memiliki Dia, masuk dalam eksatuan bersama dengan Dia. Untuk hal ini, kita lihat 2 penjelasan dri 2 tokoh Gereja yaitu Agustinus Hippo (akhir abad ke-4) dan Bernard Calirvaux (Abad ke 12) :

Perkataan yang keras itu tidak dapat diartikan secara harfiah, kata Agustinus, karena itu bisa berarti menganjurkan kejahatan atau kriminal : ‘Karenanya itu merupakan lukisan penderitaan Kristus, dan secara rahasia dan istimewa tersimpan di hati kita suatu fakta bahwa dagingNya telah disalibkan dan ditikamkan untuk kita‘ (Agustine, On Christian Doctrine, 3.16).

Bernard menerangkan perkataan “Barangsiapa yang makan dagingKu dan minum darahKu mempunyai hidup yang kekal” dengan arti “Barangsiapa merefleksikan kematianKu, dan mengikuti teladanKu sehingga tersiksa di bumi, memperoleh hidup yang kekal – dengan kata lain, “Bila engkau menderita bersamaKu, engkau juga akan memerintah bersamaKu” (Bernard, The Love of God, 4.11).

Timbul suatu pertanyaan : Apa hubungan perkataan yesus dengan Perjamuan Kudus, yaitu orang-orang percaya yang menerima roti dan anggur sebagai lambang tubuh dan darah Yesus Kristus?Berbeda dengan penulis-penulis lainnya, Yohanes tidak mencatat institusi Perjamuan Kudus, tetapi hal ini memang menunjuk kepada kebenaran yang sama dalam perkataan seperti dalam Perjamuan Kudus dalam tindakan. Kebenaran ini diringkas dalam undangan yang disampaikan kepada pengikut Perjamuan Kudus dalam Book of Common Prayer : ‘Ambillah dan makanlah, ini sebagai peringatan bahwa Kristus telah mati bagimu, dan hiduplah dari Dia dalam hatimu oleh iman dengan ucapan syukur’.Hidup dari Kristus dalam hati oleh Iman dengan ucapan syukur adalah ‘makan daging Anak Manusia dan minum darahNya’ dan dengan demikian, kita memperoleh kehidupan yang kekal.

Sumber :
FF Bruce, Ucapan Yesus yang Sulit, SAAT Malang, p 4-9 , 275-279

Pdt.Lucky Fergian Laoh :

3. Melalui PK – darah Kristus – kita menerima pengampunan dosa (ay. 25)

Paulus kembali mengutip kata2 Yesus “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” Yesus menyebut kata Perjanjian Baru, otomatis ada Perjanjian Lama. Kisah dalam Perjanjian Lama adalah dimana orang Israel harus mencurahkan darah binatang sebagai tanda penebusan dosa. Setiap tahun mereka harus melakukan untuk penyucian diri. Darah Yesus dicurahkan sekali dan untuk selamanya bagi kita, sehingga jika kita percaya akan korban darah Kristus, segala dosa kita diampuni. Ibr. 9:13:14 mengatakan “Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah,betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.” Darah Yesus lebih mulia dari darah binatang yang dicurahkan dalam PL.

TAnggapan saya :

Diatas sudah dijelaskan bahwa Perjamuan Kudus adalah sebuah Peringatan , jadi perjamuan Kudus tidak menyelamatkan atau mengampuni dosa, apakah yang bisa menyelamatkan kita dari Murka Allah?

percaya / iman

Kol 2: 12 karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan,dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkanjuga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati

dan menerima Yesus

Kol 2: 6 Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhankita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.

Pdt.Lucky Fergian Laoh :

 Banyak ajaran yang melarang orang ikut PK kalau seseorang berdosa. Tetapi jika kita mau renungkan bahwa Yesus datang bukan untuk orang benar, tetapi orang berdosa. Dokter ada untuk orang sakit bukan orang sehat. Yesus mencurahkan darahNya bagi orang berdosa, bukan orang yang merasa benar. Sehingga setiap orang yang menerima PK, terima darah Yesus, dia ditebus dan dosanya diampuni. Perwujudan darah Yesus ada dalam anggur yang kita akui sebagai darah Yesus
Jadi pelajaran ketiga adalah melalui korban darah Yesus, segala dosa kita Tuhan ampuni.

Tanggapan saya :

Diatas sudah dijelaskan bahwa yang boleh mengikuti Perjamuan Kudus adalah orang yang sudah bertobat/percaya

Pdt.Lucky Fergian Laoh :

4. PK bisa dilakukan kapanpun/ bahkan setiap hari

Kutipan Paulus dalam kalimat Yesus, “perbuatlah ini setiap kali kamu meminumnya menjadi peringatan akan Aku” mengajarkan bahwa dalam PK kita mengingat dan mengenang perbuatan Tuhan dalam menebus kita. Sehingga peringatan akan korban tubuh dan darah Yesus dapat dilakukan kapan saja. Setiap kali kita mengenang akan pengorbanan Yesus, justru akan membuat kita semakin hari semakin mempunyai kesadaran bahwa Yesus selalu baik dalam hidup kita.

Yesus juga mengatakan bahwa saat kita makan roti dan minum cawan Tuhan, kita memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. Artinya kita selalu diingatkan selalu bahwa segala kutuk sudah selesai (yang berarti kutuk penyakit, kutuk penderitaan, kutuk dosa).

Tanggapan saya :

kata setiap kali meminum tidak berarti setiap hari !! , diatas sudah dijelaskan bahwa perjamuan suci itu harus dipimpin oleh imam gereja/Pendeta !!

5. PK yang dilakukan secara benar mendatangkan mujizat.

  Banyak pengajaran yang berkembang tentang PK. Ada transubstansi, konsubstansi, dan substansi. Semua ajaran punya pandangan dan argumen yang berbeda-beda tentunya. Tetapi Alkitab mengatakan barangsiapa dengan cara yang tidak layak (termasuk dalam bentuk pengakuan), ia berdosa . . . sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit dan tidak sedikit yang meninggal. PK seharusnya menjadi berkat bagi kita, tetapi cara yang salah dan mendatangkan hukuman. Secara simple orang/ gereja yang melakukan PK secara benar akan menjadi kuat, sembuh, umur panjang. Gereja Tiberias membuktikan dengan banyak mujizat yang terjadi. Yang lemah dikuatkan, yang sakit disembuhkan, yang divonis mati diberikan umur panjang. Karena kebalilkan dari peringatan Alkitab cara yang tidak benar. Artinya Tiberias melakukan apa yang benar, seperti yang Tuhan ajarkan/ perintahkan (Pelajaran 1).
Tuhan memerintahkan kepada Pdt Pariadji untuk mengajarkan bahwa PK bukanlah lambang, tetapi adalah benar tubuh dan darah Yesus. Yesus sendiripun tidak pernah mengatakan bahwa inilah lambang tubuhKu, inilah lambang darahKu. Tetapi inilah tubuhKu, inilah darahKu. Jadi apa yang dilakukan di Tiberias sesuai dengan apa yang Yesus lakukan, sehingga pembuktiannya dengan banyak mujizat yang terjadi.

Tanggapan saya :

diatas sudah dijelaskan dan menurut saya ini sama sekali menyimpang dari tujuan Perjamuan Kudus, karena 1Kor 11:23-26 berkata sebagai berikut: “(23) Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti (24) dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: ‘Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!’ (25) Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: ‘Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darahKu; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!’ (26) Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang”.

Pdt.Lucky Fergian Laoh :

Mempelajari Alkitab dari PL sampai PB, kita akan melihat bahwa setiap utusan Tuhan pasti selalu disertai dengan tanda dan mujizat, supaya setiap orang yang mendengarnya percaya bahwa dia diutus oleh Tuhan. Apa yang diajarkan di Tiberias bukan karena maunya pribadi seorang Pdt Pariadji, tetapi karena perintah Tuhan. Bagaimana supaya orang percaya bahwa Pdt Pariadji diutus Tuhan? Tuhan menyertainya dengan tanda dan mujizat. Kenapa anak2 dan bayi2 boleh diberikan PK? Karena darah binatang yang dicurahkan dalam PL saat orang Israel keluar dari tanah Mesir, bukan saja berlaku bagi orang dewasa, tetapi juga seluruh keluarga (termasuk anak2). Dan di Tiberias bayi2 dan anak2 yang menerima PK, mereka juga menerima dan merasakan mujizat. Bahkan yang divonis mati di kandungan oleh dokter, bisa selamat karena menerima PK. Di saat kita mengimani bahwa perintah ini datangnya dari Tuhan kepada Pdt Pariadji dan gereja Tiberias, maka kuasaNya beserta dengan kita. Gereja Tiberias berdiri untuk mengembalikan ajaran yang benar, melalui kuasa PK ada kuasa Allah yang dinyatakan. Berbahagialah jika kita menerimanya karena berdasarkan perintah, bukan suatu penafsiran semata yang dapat bertentangan satu dengan yang lainnya dan menganggap penafsiran aku yang paling benar yang lain salah. Padahal ada 3 pandangan besar yang berkembang. Tetapi 1 yang kita yakini bahwa PK bukanlah kehendak manusia, tetapi kehendak/ perintah Tuhan untuk kita lakukan.

Tanggapan saya :

Abraham, Yesus dan Paulus tidak mau memberi tanda / mujijat.

a.   Abraham.

Luk 16:27-31 – “Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.’”.

Abraham tidak menganggap bahwa mujijat merupakan sesuatu yang penting untuk mempertobatkan kelima saudara dari orang kaya itu. Ia tidak beranggapan bahwa kuasa Allah harus dibuktikan! Ia menganggap bahwa hukum Taurat / Firman Tuhan sudah cukup untuk mempertobatkan. Kalau hukum Taurat / Firman Tuhan tidak cukup, maka penginjilan yang dilakukan oleh orang yang bangkit dari antara orang matipun, sekalipun merupakan suatu mujijat yang luar biasa, tidak akan bisa mempertobatkan mereka. Ingat juga bahwa pada waktu Yesus membangkitkan Lazarus (Yoh 11), peristiwa itu tidak mempertobatkan para tokoh Yahudi, tetapi sebaliknya mereka ingin membunuh Yesus dan Lazarus (Yoh 11:47-53  Yoh 12:10).

b.   Yesus.

Mat 12:38-40 – “(38) Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: ‘Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari padaMu.’ (39) Tetapi jawabNya kepada mereka: ‘Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. (40) Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam”.

Apa artinya ‘tanda nabi Yunus’? Ada yang menganggap ay 40 sebagai penekanan / inti bagian ini dan lalu berkata bahwa tanda itu adalah kebangkitan Yesus. Tetapi kelihatannya ay 40 ini hanya merupakan tambahan saja dan bukan merupakan inti / penekanan dari bagian ini. Alasannya

Luk 11:29-30 maupun Mat 16:1-4 menyebut tentang Yunus tetapi tidak menyebut tentang ‘3 hari dan 3 malam’.

Luk 11:29-30 – “Ketika orang banyak mengerumuniNya, berkatalah Yesus: ‘Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini”.

Mat 16:1-4 – “Kemudian datanglah orang-orang Farisi dan Saduki hendak mencobai Yesus. Mereka meminta supaya Ia memperlihatkan suatu tanda dari sorga kepada mereka. Tetapi jawab Yesus: ‘Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak. Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.’ Lalu Yesus meninggalkan mereka dan pergi”.

Mark 8:11-12 bahkan hanya berkata bahwa mereka tidak akan diberi tanda. Bagian ini sama sekali tidak menyinggung tentang Yunus!

Mark 8:11-12 – “Lalu muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari padaNya suatu tanda dari sorga. Maka mengeluhlah Ia dalam hatiNya dan berkata: ‘Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.’”.

Ini semua menunjukkan bahwa Mat 12:40 bukanlah bagian inti tetapi hanya merupakan tambahan saja, karena kalau Mat 12:40 merupakan penekanan / inti, maka tidak mungkin 3 bagian Kitab Suci yang lain menghapuskan bagian ini.

Kesimpulan: arti bagian ini adalah: mereka tidak akan diberi tanda, tetapi hanya diberi pemberitaan Firman Tuhan! Yunus sendiri juga tidak memberi mujijat apa-apa kepada orang Niniwe; ia hanya memberitakan Firman Tuhan. Mereka harus percaya pada Firman Tuhan tanpa tanda / mujijat.

c.   Paulus.

1Kor 1:22-23 – “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan”.

Paulus juga seperti Abraham dan Yesus. Ia tidak mau memberikan apa yang dituntut / diinginkan oleh para pendengarnya. Orang Yahudi menginginkan tanda / mujijat, sedangkan orang Yunani menginginkan hikmat, tetapi Paulus memberitakan Kristus yang tersalib, yang bertentangan dengan keinginan dari orang Yahudi maupun Yunani, sehingga bagi orang Yahudi itu merupakan batu sandungan dan bagi orang Yunani itu merupakan kebodohan.

Pertanyaan saya adalah: mengapa Abraham, Yesus, dan Paulus tidak menunjukkan kuasa Allah, dan melakukan mujijat, dalam text-text ini? Dan kalau Abraham, Yesus dan Paulus tidak menunjukkan kuasa Allah atau melakukan mujijat di sini, mengapa orang kristen  jaman sekarang salah, kalau mereka hanya memberitakan Injil , tanpa menunjukkan kuasa Allah dalam bentuk mujijat-mujijat?

3.   Bdk. Yoh 10:41 – “Dan banyak orang datang kepadaNya dan berkata: ‘Yohanes memang tidak membuat satu tandapun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar.’”.

Ayat ini kontras dengan Ul 13:1-5, karena ‘nabi’ dalam Ul 13:1-5 menubuatkan tanda dan tanda itu terjadi, tetapi ia mengajarkan ajaran sesat; sedangkan Yoh 10:41 mengatakan bahwa Yohanes Pembaptis tidak membuat satu tandapun, tetapi apa yang Ia ajarkan benar.

Apakah andaberani mengatakan bahwa Yohanes Pembaptis bukan nabi, karena tidak bisa membuktikan kuasa Tuhan dengan melakukan tanda / mujijat?

Karena itu, kalau anda adalah seorang kristen yang betul-betul memberitakan Injil, jangan kecil hati karena anda tidak diberi karunia untuk melakukan mujijat / kesembuhan ilahi, karena Yohanes Pembaptis juga seperti itu. Yang penting adalah anda  memberitakan Injil / Firman Tuhan yang benar. Bukankah lebih baik menjadi seperti Yohanes Pembaptis, dari pada menjadi seperti ‘nabi’ dalam Ul 13:1-5 (yang mirip dengan Pdt. Yesaya Pariadji dan pengikutnya seperti  Pdt.Lucky Fergian Laoh )?

4.   Setan juga memperlengkapi nabi-nabi palsunya dengan kuasa-kuasa untuk melakukan mujijat. Ini terlihat dari ahli-ahli sihir Mesir yang bisa meniru mujijat Musa (melempar tongkat yang lalu menjadi ular) dalam Kel 7:11-12. Juga dari ayat-ayat seperti Mat 7:21-23  Mat 24:23-24  2Tes 2:9  Wah 13:11-14  Wah 16:13-14. Jadi, bagaimana kita bisa tahu apakah seseorang adalah nabi asli yang melakukan mujijat dengan kuasa Tuhan, atau seorang nabi palsu yang melakukan mujijat dengan kuasa setan? Seperti yang sudah saya katakan di depan, kita hanya bisa tahu melalui ajaran dari orang tersebut!

5.   Kekristenan harus menekankan penebusan / salib Kristus.

Penekanan mujijat dan kesembuhan dalam kekristenan merupakan suatu kebodohan. Mengapa? Karena dalam agama-agama lain dan sekte-sekte sesat, dan bahkan dalam kalangan orang yang mempelajari magic, hal-hal ini juga ada. Kalau kekristenan menekankan hal-hal itu, kekristenan tidak kelihatan istimewa. Yang istimewa dalam  kekristenan dan yang tidak dipunyai agama lain adalah keselamatan / pengampunan karena penebusan Kristus, dan ini yang harus ditekankan!

 


“Calvinism, Arminianism, So What?” By Greg Gibson

Who Gets Credit for Your Decision for Christ:
The Evangelist, You, or God?
  • Why are you a Christian, but your unconverted friend is not?
  • Where did your repentance and faith come from: You or God?
  • Understand Calvinism, Arminianism & free will explained simply
    with one chart, 23 questions, and 136 verses…

By Greg Gibson – JesusSaidFollowMe.org
Have you ever wondered why you’re a Christian, but your unconverted friend is not? Why did you receive Christ, but your friend rejected Him? Did you hear a better evangelist? Or, were you smarter than your friend? Or, did God make you to differ? (And, how can Calvinism and Arminianism help you understand the answer?)

In each of the 2 columns below, there are several verses. Which verses are true, the ones on the left, or the ones on the right? Since the Bible is true (“inerrant,”) we must interpret both sets of “seemingly contradictory” verses. How can we harmonize both sets of verses so they’re both true at the same time? Look for any verses that clearly state sinners can/can’t or are able/unable to come to Christ…

Which Verses Are True: Those on the Left or Right?
Are Sinners Able or Unable to Come to Christ?
Human Responsibility to Come to Christ

1. “choose for yourselves this day whom you will serve” (Josh. 24:15)

2. “Come to Me, all you who labor and are heavy laden, and I will give you rest.” (Mt. 11:28)

3. “If anyone wills to do His will, he shall know concerning the doctrine, whether it is from God.” (Jn. 7:17)

4. “If anyone thirsts, let him come to Me and drink.” (Jn. 7:37)

5. “Repent, and let everyone of you be baptized” (Acts 2:38)

6. “Repent therefore and be converted” (Acts 3:19)

7. “Believe on the Lord Jesus Christ, and you will be saved” (Acts 16:31)

8. “but now commands all men everywhere to repent” (Acts 17:30)

9. “Whoever wills, let him take the water of life freely.” (Rev 22:17)

 

 

 

Human Inability to Come to Christ

1. “Can the Ethiopian change his skin or the leopard its spots? (No!) Then may you also do good who are accustomed to do evil. (Jer. 13:23)

2. “How can you, being evil, speak good things? For out of the abundance of the heart the mouth speaks.” (Mt. 12:34)

3. “A good tree cannot bear bad fruit, nor a bad tree bear good fruit.” (Mt. 7:18)

4. “‘Who then can be saved?’ But Jesus looked at them and said to them, ‘With men this is impossible, but with God all things are possible.’” (Mt. 19:25-26)

5. “unless one is born again, he cannot see the kingdom of God.” (Jn. 3:3)

6. “No one can come to Me unless the Father who sent Me draws him” (Jn. 6:44)

7. “no one can come to Me unless it has been granted to him by My Father.” (Jn. 6:65)

8. “Why do you not understand My speech? Because you are not able to listen to My word.” (Jn. 8:43)

9. “They could not believe, because Isaiah said again: “He has blinded their eyes and hardened their hearts, lest they should see with their eyes, lest they should understand with their hearts and turn, so that I should heal them.” (Jn. 12:39-40)

10. “For when we were still without strength, in due time Christ died for the ungodly.” (Rom. 5:6)

11. “the carnal mind is enmity against God; for it is not subject to the law of God, nor indeed can be.” (Rom. 8:7)

12. “So then, those who are in the flesh cannot please God.” (Rom. 8:8)

13. “the natural man does not receive the things of the Spirit of God, for they are foolishness to him; nor can he know them, because they are spiritually discerned.” (1 Cor. 2:14)

On the left, are 9 verses inviting or commanding sinners to repent, believe, and come to Christ. These verses make sinners responsible to come to Christ. Notice, the number of verses that clearly state sinners can or are able to come to Christ: 0

On the right, are 13 verses clearly stating sinners can’t come to Christ. (In addition, the Bible contains 3 verses clearly showing Christians inability to do anything for Christ, without His power: Jn. 15:5; 1 Cor. 12:3; Heb. 11:6. If Christians are unable to do anything without God’s ability, then how much more impotent are unregenerate sinners?)

Which verses are true? The verses on the left stating sinners must come to Christ, or the verses on the right stating sinners can’t come to Christ? Since God’s Word is inerrant, they’re both true. Then, how can we harmonize both sets of “seemingly contradictory” verses so they’re both true at the same time?

3 Different Views of Our Responsibility vs. Inability to Believe

There are 3 popular views attempting to interpret the above verses: Arminianism, Hyper-Calvinism, and Calvinism. Of the 3, Arminianism and Hyper-Calvinism are the 2 extremes. Calvinism is the middle view.

1. Human Ability vs. No Interpretation (Some Arminians)

Many Arminians interpret the verses on the left labeled “Human Responsibility” at the expense of the verses on the right labeled “Human Inability.” Most have no interpretation for the 13 verses on the right explicitly stating sinners can’t, or aren’t able to come to Christ. They interpret the verses on the left commanding responsibility as though they implied ability. Here’s their logical fallacy:

The Logical Fallacy of Some Arminians

First Premise: God commands sinners to repent, believe & come to Christ.
Assumed Premise: (God would not command what we’re unable to do.)
Conclusion: Therefore, sinners are able to repent, believe & come to Christ.

There is no proof for the 2nd premise. It’s assuming what you’re trying to prove. Plus, if we could find only one example in Scripture where God commands more than we are able, it would also refute the assumption.

6 Examples Where God Commanded the Impossible

Below, are 6 examples where God commands humans to do something which they do not have the ability to do. In the first 4 verses, God commanded physically dead corpses to live. But, they had no desire or ability to respond, until God first gave them new life, with new desire and ability. (Likewise, we’ll see later that He commands spiritually dead men to live, then gives them new life-regeneration, desire, and ability.)

1. “Prophecy to these (dead) bones, and say to them, ‘O dry bones, hear the word of the Lord!’” (Ezek. 37:4 Notice, those dead bones had no ability to hear the word of the Lord. God had to give those skeletons life first, before they had the ability to hear the word of the Lord.)

2. “a dead man was being carried out…Then He came and touched the open coffin…and He said, ‘Young man, I say to you, arise.’” (Lk. 7:14 The dead man couldn’t hear, until Christ first gave His miraculous power to him.)

3. “Your daughter is dead…He…took her by the hand and called saying, ‘Little girl, arise.’ Then her spirit returned, and she arose immediately.” (Lk. 8:49-55 The dead girl had no power to arise until Christ gave it to her.)

4. “Lazarus, come forth!” (Jn. 11:43, Lazarus was dead! He had no ability to come forth. First, God had to make him alive before He had the ability to come forth.)

5. “Therefore you shall be perfect (complete), just as your father in heaven is perfect.” (Mt. 5:48)

6. “you shall love the Lord your God with all your heart, with all your soul, with all your mind, and with all your strength.” (Mark 12:30)

Just as it took a supernatural miracle to raise the physically dead before they could respond, so it takes a supernatural miracle to raise (regenerate) the spiritually dead before they can respond.

“Just as it took a supernatural miracle to raise the physically dead before they could respond, so it takes a supernatural miracle to raise (regenerate) the spiritually dead before they can respond.”

2. No Interpretation vs. Human Inability (Some Hyper-Calvinists)

Many Hyper-Calvinists interpret the verses on the right labeled “Human Inability” at the expense of the verses on the left labeled “Human Responsibility.” They don’t command or invite all men to repent, believe, & come to Christ. They don’t proclaim the gospel to all sinners. They preach the gospel selectively only to those they think are elect.

The Logical Fallacy of Some Hyper-Calvinists

First Premise: Sinners are unable to repent, believe & come to Christ.
Assumed Premise: (God would not command what we’re unable to do.)
Conclusion:
Therefore, don’t ask sinners to repent, believe & come to Christ.

Notice, Hyper-Calvinism and Arminianism share the exact same assumed premise: “God would not command what is unable.” Both Arminianism and Hyper-Calvinism exalt human reason above Divine revelation. They resort to humanism-rationalism.

3. Human Responsibility vs. Human Inability (Calvinism)

Sinners are responsible to repent, believe, and come to Christ. Yet, at the same time, they’re unable to repent, believe, and come to Christ. This is the only solution that can harmonize both sets of “seemingly contradictory” verses as simultaneously true.

(If it seems unfair to you that God holds rebels responsible for what they’re unable to do, then please remember no one deserves salvation. True justice would be hell for the whole human race, wouldn’t it? So, if God decides to give to some the desire and ability to come to Christ, then that’s undeserved grace!)

But, why then does God command and invite sinners to believe, if they’re unable? Perhaps, He uses the commands/invitations to come to Christ, as the “means to the end.”

In other words, perhaps He uses the command to repent, as the means to granting repentance. And, He uses the command to believe, as the means to giving the gift of faith. And, He uses the invitation to come to Christ, as the means to give the desire and ability to come.

The idea that God uses commands as a means to an end is also demonstrated in how He preserves us in salvation. For, He actually warns true Christians of eternal damnation in Jn. 15:2, 6; Rom. 11:20-22; 1 Cor. 9:25, 27; Rev. 22:19, etc. And at the same time, He promises us eternal security. How then can we reconcile these 2 “seemingly contradictory” truths? It’s simple…

He uses the warnings of losing our salvation as the means to preserve us in His promised eternal salvation. His warnings of losing salvation are the means He uses to keep us persevering to the end

Here’s a clear example where God used warning as the means to the end of fulfilling His promise.

Promises of Divine Security:
“there will be no loss of life among you…” (Acts 27:22)
“God has granted you all those…with you.” (Acts 27:24)
“not a hair will fall from the head of any…” (Acts 27:34)

Warning of Human Responsibility:
“Unless these men stay in the ship, you cannot be saved.” (Acts 27:31)

Now, how in the world could God possibly warn of those sailors losing their lives, since He just promised that they wouldn’t lose their lives? It’s simple…God used the warning of death to keep them in the ship, to preserve them from death.

Likewise, He uses the command to repent, as the means to grant repentance. And, He uses the command to believe, as a means to give the gift of faith. And, He uses the invitations to come to Christ, as the means to draw sinners to Christ. To understand how God saved you, keep reading…

There are 2 popular views of how God saves sinners:

1. Some believe all sinners are born with the desire and ability to cooperate with the Holy Spirit, and exercise their own “free will” to choose Christ. (Arminianism)

2. Some believe that in the Fall, all sinners lost the desire and ability to come to Christ. So, God graciously gives to some both the desire and ability to freely will to choose Christ. (Calvinism)

So, before we examine what God has said in the Bible about who gets the credit for salvation, let’s consider a few introductory thoughts…

The question is settled if we can find only one verse clearly stating:

Sinners can come to Christ.
or
Sinners are able to come to Christ.
or
It’s possible for sinners to come to Christ.

Human logic or reason could never ever explain away such a clear statement of sinners’ ability to come to Christ.

Or, the question is settled if we can find only one verse clearly stating:

Sinners can’t come to Christ.
or
Sinners are not able to come to Christ.
or
It’s impossible for sinners to come to Christ.

Again, human logic or reason could never explain away such a clear statement of sinners inability to come to Christ.

Many Doctrinal Errors Interpret One Set of Verses
At the Expense of Another Set of Verses

This common interpretive error is made by both cultists and Christians. The Jehovah’s Witnesses are a good example. You quote a verse about Christ’s deity. Then, they reply by saying, “But, what about this other verse?” (It’s as if their verse makes your verse false.) When you hear the reply, “But, what about this verse,” it may be a sign of interpreting Scripture against itself.

Instead of harmonizing both verses as true, the JW’s interpret one verse at the expense of another verse. In effect, one verse is true, while the other verse is false, or has no interpretation. They interpret Scripture as “either/or,” when they should interpret it as “both/and.”

If you have no interpretation for a verse or set of verses, that’s always the wrong interpretation. It’s a sign that something is wrong with your system. When a verse won’t fit into your system, it’s time to reconsider your system.

“If you have no interpretation for a verse or set of verses, that’s always the wrong interpretation.”

But, What About Free Will?

The phrase “free will” is found in the Bible 16 times. All 16 times it means “voluntary.” Fifteen of those times it’s used of a freewill (voluntary) offering. Not one of those 16 times does “free will” refer to salvation. Also, the idea that man has a “free will” independent from God’s rule, probably had its origin in heathen, Greek philosophy.

“…the idea that man has a ‘free will’ independent from God’s rule, probably had its origin in heathen, Greek philosophy.”

Those Who Use the Phrase “Free Will” Rarely Define it

“Free will” is the topic everyone assumes, but few define. If “free will” is defined as the “ability and desire to will to receive Christ”, then that contradicts the 13 verses in the right column above. But, if “free will” is defined as “voluntary will to make choices,” then humans have “free will.”

We have free will in the sense we freely (voluntarily) will whatever we have both the desire and ability to do. God influences us by circumstances, thoughts, and power so we become voluntarily willing to fulfill His will. Perhaps a better phrase than “free will” is “voluntary will.”

You may be surprised to discover that many Protestants share the Jesuit-Romanist view of free will. They think sinners have some inner desire and ability to “prepare and cooperate” with the Holy Spirit for salvation. They don’t understand that since the Fall, humans are spiritually dead, blind, and deaf, with no desire or ability to choose Christ. They don’t see the need for God to first give new birth, faith, and repentance, before sinners can “freely will” to choose Christ.

Many Protestants Believe the Jesuit- Roman Catholic View of Free Will
(The Roman Catholic Council of Trent, The Sixth Session: Justification)

Canon IV. If any one saith, that man’s free will moved and excited by God, by assenting to God exciting and calling, no-wise co-operates towards disposing and preparing itself for obtaining the grace of Justification; that it cannot refuse its consent, if it would, but that, as something inanimate, it does nothing whatever and is merely passive; let him be anathema.

Canon V. If any one saith, that, since Adam’s sin, the free will of man is lost and extinguished; or, that it is a thing with only a name, yea a name without a reality, a figment, in fine, introduced into the Church by Satan; let him be anathema.

Actually, you probably already believe that God’s will rules man’s will, but you just didn’t know it…

4 Examples How God’s Will Rules Man’s Will

1. Inspiration of Scripture
2. Infallibility of Bible prophecy
3. Eternal security
4. Heaven/new earth

1. Inspiration of Scripture: Do you believe in the inspiration and inerrancy of Scripture? If so, then you believe God ruled the wills of the Bible authors. They did not have “free will” to write errors in Scripture. Thankfully, the Lord kept their wills from error.

“All Scripture is God-breathed” (2 Tim. 3:16)

2. Infallibility of Bible Prophecy: Do you believe the Bible prophecies are infallible? If so, then you believe God ruled the wills of the prophets. They did not have “free will” to prophesy errors. God inspired the Old Testament prophets to prophesy accurately about the coming Messiah. During the inspiration process, He influenced and ruled their wills to keep them from error:

“no prophecy of the Scripture came into being of its own private interpretation. For prophecy was not borne at any time by the will of man, but holy men of God spoke being borne along by the Holy Spirit.” (2 Pet. 1:2-21)

That’s why the test of a true prophet vs. a false prophet is the infallibility of their predictions (Deut. 18:21-22.) If the prophets could have exercised their own wills, free from God’s control, then they never could have infallibly predicted Christ’s virgin birth, city of birth, suffering death, resurrection, second coming, etc.

3. Eternal Security: Do you believe in “eternal security?” If so, then you believe God rules believers’ wills. Most Christians agree they can’t fall away finally from Christ. Christians don’t have “free will” to become atheists or Satan worshippers. Thankfully, the Lord influences our wills to keep us believing and persevering in Him until the end.

“I will give you a new heart (will) and put a new spirit within you; I will take the heart of stone out of your flesh and give you a heart (will) of flesh. I will put My Spirit within you and cause you to walk in My statutes, and you will keep My judgments and do them.” (Ezek. 36:quot;Arial?strong
26-27)

“for it is God who works in you both to will and to do for His good pleasure.” (Phil. 2:13)

4. Heaven/New Earth: Finally, even if you don’t believe in eternal security in this life, still you probably believe Christians can never leave heaven or the new earth. If so, then you believe God rules His peoples’ wills. No one in heaven is free to leave and choose Hell. God will keep them willingly in heaven forever.

So, if you believe in biblical inerrancy, prophetic infallibility, or eternal security, then you already believe man doesn’t have a 100% “free will.” God’s will sovereignly rules our wills. And, I’m glad He does, aren’t you?

“So, if you believe in biblical inerrancy, prophetic infallibility, or eternal security, then you already believe man doesn’t have a 100% ‘free will.’ God’s will sovereignly rules our wills.”

23 Questions on Calvinism vs. Arminianism

Below, you’ll see 23 simple questions designed to help you decide what God has said in the Bible about how we come to Christ. Some of the verses answer the questions explicitly, while others offer implicit principles for your consideration.

Granted, some of the either/or answers may not necessarily be mutually exclusive. (You can make them mutually exclusive by adding before each question the phrase, “In this/these verse[s]…) Yet, taken as a whole, these verses are (Acts 17:30) p align=”left” class=”MsoNormal” style=””/p/strongb Do you believe in the inspiration and inerrancy of Scripture? If so, then you believe God ruled the wills of the Bible authors. They did not have “free will” to write errors in Scripture. Thankfully, the Lord kept their wills from error.strong a powerful witness to God’s sovereign rule over our salvation.

All Christians believe humans make choices. The issue is how do we choose Christ – by internal, self ability and desire, or external, God-given ability and desire? And, if God gives His ability and desire to us, can we resist, or does He prevail?

1. Was your will free from Satan’s control, yes or no?

“So ought not this woman…whom Satan has bound…for 18 years, be loosed from this bond on the Sabbath?” (Lk. 13:16)

“the snare of the devil, having been taken captive by him to do his will.” (2 Tim. 2:26)

2. Was your will free from sin’s control, yes or no?

“His own iniquities entrap the wicked man, &? he is caught in the cords of his sin.” (Pr. 5:22)

“whoever commits sin is a slave of sin” (Jn. 8:34)

“For I see that you are poisoned by bitterness and bound by iniquity.” (Acts 8:23)

“you were slaves of sin” (Rom. 6:17)

“For we ourselves were also once foolish, disobedient, deceived, slaving various lusts and pleasures” (Tit. 3:3)

“they themselves are slaves of corruption; for by whom a person is overcome, by him also he is brought into bondage.” (2 Pet. 2:19)

3. Is God sovereign & in control over humans’ wills including yours, no or yes?

“you meant evil against me; but God meant it for good, in order to bring it about as it is this day, to save many people alive.” (Gen. 50:20)

“But I will harden his (Pharaoh’s) heart, so that he will not let the people go.” (Ex. 4:21)

“And the Lord had given the people favor in the sight of the Egyptians, so that they granted them what they requested. Thus they plundered the Egyptians.” (Ex. 12:36)

“And I indeed will harden the hearts of the Egyptians, and they shall follow them. So I will gain honor over Pharaoh and over all his army, his chariots, and his horsemen.” (Ex. 14:17)

“But Sihon king of Heshbon would not let us pass through, for the Lord your God hardened his spirit and made his heart obstinate, that He might deliver him into your hand” (Deut. 2:30)

“For it was of the Lord to harden their hearts, that they should come against Israel in battle, that He might utterly destroy them” (Josh. 11:20)

“God sent a spirit of ill will between Abimelech and the men of Shechem; and the men of Shechem dealt treacherously with Abimelech” (Jud. 9:23)

“the anger of the Lord was aroused against Israel, and He moved David against them to say, ‘Go, number Israel and Judah.’” (2 Sam. 24:1)

“The Lord has put a lying spirit in the mouth of all these prophets” (1 Kings 22:23)

“that the word of the Lord by the mouth of Jeremiah might be fulfilled, the Lord stirred up the spirit of Cyrus king of Persia, so that he made a proclamation throughout all his kingdom” (Ezra 1:1-3)

“the Lord made them joyful, and turned the heart of the king of Assyria toward them, to strengthen their hands in the work of the house of God” (Ezra 6:22)

“He turned their heart to hate His people, to deal craftily with His servants.” (Ps. 105:25)

“A man’s heart (will) plans his way, but the Lord directs his steps.” (Pr. 16:9)

“The king’s heart (will) is in the hand of the LORD…He turns it wherever He wishes. (Pr. 21:1)

“Woe to Assyria, the rod of My anger…I will send him against an ungodly nation, and against the people of My wrath I will give him charge…Yet he does not mean so, nor does his heart think so” (Is. 10:5-7)

“For the Lord of hosts has purposed, and who will annul it? His hand is stretched out, and who will turn it back?” (Is. 14:27)

“Who says of Cyrus, ‘He is My shepherd, and he shall perform all My pleasure’” (Is. 44:28)

“I will give them one heart and one way, that they may fear Me forever” (Jer. 32:39)

“I will put My fear in their hearts so that they will not depart from Me.” (Jer. 32:40)

“I will give you a new heart (will) and put a new spirit within you; I will take the heart of stone out of your flesh and give you a heart (will) of flesh. I will put My Spirit within you and cause you to walk in My statutes, and you will keep My judgments and do them.” (Ezek. 36:26-27)

“For His dominion is and everlasting dominion, and His kingdom is from generation to generation. All the inhabitants of the earth are reputed as nothing; He does according to His will in the army of heaven and among the inhabitants of the earth. No one can restrain His hand or say to Him, “What have you done?” (Dan. 4:34-35)

“For truly against Your holy Servant Jesus, whom You anointed, both Herod and Pontius Pilate, with the Gentiles and the people of Israel, were gathered together to do whatever Your hand and Your purpose determined before to be done.” (Acts 4:27-28)

“And we know that all things work together for good to those who love God, to those who are the called according to His purpose.” (Rom. 8:28)

“Why does He still find fault? For who has resisted His will?” (Rom. 9:19)

“But one and the same Spirit works all these things, distributing to each one individually as He wills.” (1 Cor. 12:11)

“for it is God who works in you both to will and to do for His good pleasure.” (Phil. 2:13)

“Instead you ought to say, ‘If the Lord wills, we shall live and do this or that.’” (Jas. 4:15)

“For God has put it into their hearts to fulfill His purpose, to be of one mind, and to give their kingdom to the beast, until the words of God are fulfilled.” (Rev. 17:17)

God Is in Control of ALL Things,
and Sovereign Over ALL Things

Wow! Could God possibly make it any clearer that He controls our wills? What we’re saying is: God is in control (of ALL things, even salvation.) He is sovereign (over ALL things, even salvation.) Most Christians acknowledge He’s in control only in a general, vague sense. But, He tells us He’s in control of every minute detail of His universe, even your decisions, and the number of hairs on your head.

In the Fall, Did Adam & His Offspring Lose
Their Desire and Ability to Come to Christ?

4. After Adam and Eve sinned, did they move toward God, or hide from Him?

“Adam and his wife hid themselves from the presence of the Lord God” (Gen. 3:8)

5. Did Adam initiate contact with God, or did God initiate contact with Adam?

“Then the Lord God called to Adam and said to him, ‘Where are you?’” (Gen. 3:9)

6. As a fallen sinner, were you just spiritually sick, or spiritually dead?

“for in the day that you eat of it you shall surely die.” (Gen. 2:17)

“you…who were dead in trespasses and sins…even when you were dead in trespasses, made us alive together with Christ” (Eph. 2:1, 5)

“And you, being dead in your trespasses and the uncircumcision of your flesh, He has made alive” (Col. 2:13)

The spiritually dead can’t raise themselves. They must be raised by God.

7. Could you spiritually see the gospel, or were you spiritually blind?

“yet the Lord has not given you a heart to perceive & eyes to see & ears to hear” (Deut. 29:4)

“I speak to them in parables, because seeing they do not see, and hearing they do not hear, nor do they understand…For the hearts of this people have grown dull. Their ears are hard of hearing, and their eyes they have closed, lest they should see with their eyes and hear with their ears, lest they should understand with their hearts and turn, so that I should heal them.” (Mt. 13:13-15)

“Therefore they could not believe, because Isaiah said again: ‘He has blinded their eyes and hardened their hearts, lest they should see with their eyes, lest they should understand with their hearts and turn, so that I should heal them.’” (Jn. 12:38-40)

“to open their eyes, in order to turn them from darkness to light and from the power of Satan to God, that they may receive forgiveness of sins” (Acts 26:18)

“there is none who understands” (Rom. 3:11)

“But their minds were blinded.” (2 Cor. 3:14)

“But even if our gospel is veiled, it is veiled to those who are perishing, whose minds the god of this age has blinded, who do not believe, lest the light of the gospel of the glory of Christ, who is the image of God, should shine on them.” (2 Cor. 4:3-4)

The blind can’t see, until God first gives them sight.

8. Could you spiritually hear the gospel, or were you spiritually deaf?

“yet the Lord has not given you a heart to perceive & eyes to see & ears to hear” (Deut. 29:4)

“I speak to them in parables, because seeing they do not see, and hearing they do not hear, nor do they understand…For the hearts of this people have grown dull. Their ears are hard of hearing, and their eyes they have closed, lest they should see with their eyes and hear with their ears, lest they should understand with their hearts and turn, so that I should heal them.” (Mt. 13:13-15)

9. When you were spiritually dead, blind, & deaf, did you desire & seek God, yes or no?

“Then the Lord saw that the wickedness of man was great in the earth, and that every intent of the thoughts of his heart was only evil continually.” (Gen. 6:5)

“men loved darkness rather than light because their deeds were evil.” (Jn. 3:19)

“For everyone practicing evil hates the light and does not come to the light” (Jn. 3:20)

“haters of God” (Rom. 1:30)

“There is none who seeks after God.” (Rom. 3:11)

“I was found by those who did not seek Me; I was made manifest to those who did not ask for Me.” (Rom. 10:20)

10. Are unbelievers not sheep because they don’t believe, or do they not believe because they’re not sheep?

“But you do not believe, because you are not of My sheep.” (Jn. 10:26)

11. When you were spiritually dead, deaf & blind, were you born again by your will, or God’s will?

“who were born, not of blood, nor of the will of the flesh, nor of the will of man, but of God.” (Jn. 1:13)

“it is not of him who wills, nor of him who runs, but of God who shows mercy.” (Rom. 9:16)

“of His own will He brought us forth (birthed us) by the word of truth” (Jas. 1:18)

How much of a part did you have in willing your own physical conception? None! Your parents conceived you by their own wills. As it is with physical birth, so it is with spiritual birth. You didn’t ask to be birthed. The Father birthed you.

Then, the question arises, “If fallen, dead, deaf, blind sinners can’t come to Christ, then how do they come to Christ?” Does God give the new birth because they believed, or so that they can believe? In other words, is faith the cause of the new birth, or is the new birth the cause of faith?

To believe that fallen, dead, deaf, blind sinners repented and believed to be born again is like getting the cart before the horse. Logically, they must have first been spiritually born again, before they could repent and believe in Christ.

Well, whether faith or the new birth comes first is irrelevant – because God gives not only the new birth, but also faith and repentance, so He gets all the credit, as you’ll see below…

12. Did God predestine your adoption & inheritance according to your will, or His will?

“He chose us in Him before the foundation of the world…having predestined us to adoption as sons by Jesus Christ to Himself, according to the good pleasure of His will” (Eph. 1:4-5)

“In Him also we have obtained an inheritance, being predestined according to the purpose of Him who works all things according to the counsel of His will” (Eph. 1:11)

13. Did God choose you because you would believe, or so that you would believe?

“God from the beginning chose you for salvation through sanctification by the Spirit and belief in the truth” (2 Thes. 2:13)

14. Whose choice made the ultimate difference, the apostles’ choice, or God’s choice?

“You did not choose Me, but I chose you and appointed you that you should go and bear fruit” (Jn. 15:16)

15. Whose will made Paul an apostle, his own will, or God’s will?

“Paul, called to be an apostle of Jesus Christ through the will of God” (1 Cor. 1:1)

16. Did God call you according to your purpose (will,) or His purpose?

“And we know that all things work together for good to those who love God, to those who are the called according to His purpose. For whom (not “what”) He foreknew, He also predestined to be conformed to the image of His Son” (Rom. 8:28-29)

“who has saved us and called us with a holy calling, not according to our works, but according to His own purpose and grace which was given to us in Christ Jesus before time began” (2 Tim. 1:9)

17. Who opened your heart, you or God?

“He opened their understanding, that they might comprehend the Scriptures.” (Lk. 24:45)

“The Lord opened her heart to heed the things spoken by Paul” (Acts 16:14)

18. How many of the lost does God call/draw, all or only some?

“Nor does anyone know the Father except the Son, and the one to whom the Son wills to reveal Him.” (Mt. 11:27)

“No one can come to me unless the Father who sent me draws him” (Jn. 6:44)

“Moreover whom He predestined, these he also called; whom He called, these He also justified; and whom He justified, these He also glorified.”(Rom. 8:30)

19. How many of those whom God calls/draws respond, some or all?

“And as many as had been appointed to eternal life believed.” (Acts 13:48)

“whom He called, these He also justified” (Rom. 8:30)

“concerning the election they are beloved for the sake of the fathers. For the gifts and the calling of God are irrevocable.” (Rom. 11:28-29)

20. Who did your repentance come from, you or God?

“Him God has exalted to His right hand to be Prince and Savior, to give repentance to Israel and forgiveness of sins.” (Acts 5: 31)

“God has also granted to the Gentiles repentance to life.” (Acts 11:18)

“those who are in opposition, if God perhaps willgrant them repentance so that they may know the truth” (2 Tim. 2:25-26)

21. Who did your faith come from, you or God?

“…those who had believed through grace” (Acts 18:27)

“For by grace you have been saved through faith, and that not of yourselves; it is the gift of God, not of works, lest anyone should boast” (Eph. 2:8)

“For to you it has been granted on behalf of Christ, not only to believe in Him, but also to suffer…” (Phil. 1:29)

“God from the beginning chose you for salvation through sanctification by the Spirit and belief in the truth” (2 Thes. 2:13)

“Every good gift and every perfect gift is from above, and comes down from the Father of lights” (Jas. 1:17)

“looking unto Jesus, the author and finisher of our faith…” (Heb. 12:2)

“to those who have obtained like precious faith with us through the righteousness of God” (2 Pet. 1:1)

22. Who made the difference in your decision for Christ, the evangelist or God?

“I planted, Apollos watered, but God gave the increase. So then neither he who plants is anything, nor he who waters, but God who gives the increase.” (1 Cor. 3:6-7)

23. Who made the difference in your decision for Christ, you or God?

“that no flesh should glory in his presence. But of Him you are in Christ Jesus…that as is written, ‘He who glories, let him glory in the Lord.’” (1 Cor. 1:29-31)

“For who makes you differ? And what do you have that you did not receive? Now if you did indeed receive it, why do you boast as if you had not received it? (1 Cor. 4:7)

“But by the grace of God I am what I am” (1 Cor. 15:10)

“For by grace you have been saved through faith, and that not of yourselves; it is the gift of God, not of works, lest anyone should boast.” (Eph. 2:8-9)

If you made the difference in your decision for Christ, then you’d have reason to boast, wouldn’t you? Many credit God for 99% of salvation, and themselves for the other 1% (their decision.) Will you give Him ALL the glory?

Man Gets the Credit for Sin,
But God Gets the Credit for Salvation

Ever since Adam and Eve’s Fall, their offspring are spiritually dead, deaf, and blind. And, they freely, willingly, voluntarily choose sin instead of God. So, the Bible always makes man responsible for his sin. God is never responsible for man’s sin.

But, ever since Adam and Eve’s Fall, God (by His undeserved grace) initiates contact with some sinners. He gives them new birth, new desire and ability to freely, willingly, and voluntarily choose Him. So, the Bible always gives God the credit for salvation. Humans are never credited with having achieved salvation.

Undeserved Grace

Praise Him that He’s chosen to save some because of His undeserved grace. He could have justly chosen to save none. That’s what He did for the fallen angels. They have no plan of salvation, no opportunity to hear the gospel and be saved. They don’t deserve it, and neither do we!

He could have justly left Adam and Eve and all the rest of us to perish in hell. He didn’t have to design a plan of salvation. He doesn’t owe salvation to anyone. He freely chose to redeem a people for Himself, to the praise of His glorious grace.

So, who made the difference in your conversion: The evangelist, you, or God? Who gets the credit and glory for your decision for Christ: The evangelist, you, or God? God made the difference, didn’t He. Yes, God gets all the credit and all the glory for saving us, doesn’t He?

Dear saint, if He has given you the gifts of new life, repentance, and faith, then won’t you humbly bow down low right now, to thank Him, and worship Him!

So now, who made the difference in your salvation?

1. If the evangelist makes the difference in conversion:

Then, if you’re an imperfect evangelist, there’s little hope God can use you. For, if sinners’ response depends on the evangelist’s clarity and persuasiveness, then we should despair of their conversion. Even the most persuasive, logical, clear gospel presentations are often rejected. It can be very frustrating to faithfully give out the gospel only to see it rejected time after time.

2. If the hearer makes the difference in conversion:

Then, if you’re witnessing to an extremely hard-hearted sinner, there’s little hope God can save them. For, if unbelievers’ response depends on their interest, intelligence, morality, desire or ability, then we should despair of their conversion.

Sinners’ hearts are so hardened by sin that most show no interest in the true Christ. Often, their hearts are hardened by false religion, pride, greed, sexual immorality, or some other secret sin. Some even go so far as to publicly criticize the gospel and resist Him.

Unbelievers reject Christ not just because they’re not persuaded the gospel is true. If they do try to claim skepticism, it’s often only an excuse to justify their sin. They reject Christ because they love sin and hate Him. (Plus, if unbelievers make the difference in their own conversion, then what if their faith is imperfect?)

3. If God makes the difference in conversion:

Then yes, there’s hope He can use even imperfect evangelists, like you. And yes, there’s hope for even the worst of sinners. God by His power can change even hardened occultists like King Manasseh. He can change even persecutors like Saul. If God makes the difference, then we can evangelize with confidence in His power to change sinners.

Witness with Confidence in God’s Power to Save Sinners

So, we can witness with confidence in God’s power to change sinners because He makes the difference – no matter how hard-hearted the hearers are, and no matter how skilled an evangelist you are. Now do you understand Calvinism, Arminianism, so what?

Now, go and take the good news of Christ crucified and raised, to all nations. Make disciples, baptize them, and teach them. Surely He will be with you always, to the end of the age.

How Does Your View of Who Makes the
Difference in Conversion Affect Your Life?

What you believe about who makes the difference in conversion affects how you’ll evangelize. And, it will also affect your…

  • Humility?
    Do you ever struggle with the temptation of pride, looking down on sinners, lacking compassion for them? Do you ever feel like you’re better than them, because you were more moral or smarter than them to choose Christ?
  • Thanksgiving?
    Have you lost that fresh sense of thanksgiving to God for His miracle of saving you?
  • Worship?
    How long has it been since your heart was filled with reverence, wonder, and love to God for including you in “so great a salvation?”

Alkitab =? Kebenaran ABSOLUT

Alkitab =? Kebenaran ABSOLUT

Dalam seminar dengan tema “Wahyu dan Pengwahyu” Pdt. Stephen Tong menceritakan sebuah tanya jawab antara seorang jemaat dengan pendetanya. Orang tersebut menantang Pak Pendeta, “Tolong buktikan bahwa Alkitab itu benar!” Lalu Sang Pendeta menjawab, “Baik, mari kita sama-sama buka Alkitab dari 2 Timotius 3:16….” Tetapi segera dipotong oleh jemaat tersebut, “Tunggu Pak, masak membuktikan kebenaran Alkitab dengan Alkitab?” Ini sebenarnya tipikal dialog yang sering terjadi. Kadang kita sendiri juga penasaran dan ingin mencari bukti mengapa Alkitab itu dianggap sebagai standar kebenaran yang absolut. Mana buktinya bahwa Alkitab adalah standar kebenaran yang absolut? Jawaban yang sering kita terima adalah: “Buktinya adalah bahwa Alkitab menyatakan demikian.” “Ah, apa tidak ada yang lain? Misalnya bukti secara sains, atau bukti arkeologi tentang hal-hal di dalam Alkitab, atau ada kitab dalam Alkitab yang bisa digunakan untuk meramal politik internasional saat ini, atau apalah…, tapi jangan bilang dong kalau buktinya itu didapat dari Alkitab sendiri… itu sih namanya muter-muter doang….” Seringkali kita juga berpikir demikian, iya kan? Walaupun kita tahu sebenarnya satu-satunya hal yang dapat mengesahkan otoritas Alkitab adalah Alkitab itu sendiri.

Basic Belief dan Realita

Pertama-tama kita akan mengikuti golongan Reformed Epistemologist, yang beranggotakan sekumpulan filsuf yang memegang Reformed Theology. Mereka menulis esai-esai yang dikumpulkan dalam buku berjudul “Faith and Rationality.” Buku ini diedit oleh dua orang terkenal. Satu adalah ahli filsafat analitis, Alvin Plantinga, sedangkan satu lagi adalah Nicholas Wolterstorff, orang yang pemikirannya diakui dalam banyak bidang. Buku ini intinya membahas tentang keabsahan suatu kepercayaan. Mereka menyatakan bahwa dalam diri manusia ada yang disebut dengan basic belief. Basic belief adalah suatu kepercayaan dasar yang dipegang seseorang walaupun tidak ada bukti yang cukup mengapa ia berpegang kepada kepercayaan tersebut. Kepercayaan dasar ini mendasari cara pandang seseorang dan juga mempengaruhi cara berpikir seseorang. Seorang anggota GRII ketika membaca dalam Alkitab bahwa Tuhan Yesus berjalan di atas air akan berkata, “Ini adalah bukti bahwa Tuhan Yesus adalah Allah!” Tetapi seorang Liberal akan berkata, “Ah, ini adalah bukti bahwa catatan Alkitab itu penuh dengan mitos dari gereja mula-mula… masak ada orang berjalan di atas air?” Mengapa bisa berbeda begini? Karena basic belief yang berbeda membuat tiap-tiap orang memiliki cara pandang yang berbeda terhadap suatu hal yang sama.

Apa sebenarnya basic belief ini? Salah satu jawaban diberikan oleh George Mavrodes. Profesor filsafat dari University of Michigan ini memberikan suatu penjelasan bahwa basic belief terjadi dalam “wadah” di mana seseorang mempercayai sesuatu tanpa perlu memperoleh dukungan bukti atau argumentasi rasional mengapa dia percaya. Wadah ini merupakan sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan.[1] Seseorang dapat saja menjadi Kristen karena ia percaya bahwa Yesus Kristus bangkit dari antara orang mati, dan mengapa ia bisa percaya bahwa Yesus Kristus bangkit dari antara orang mati tidak dapat dijelaskan, karena wadah untuk menampung basic belief-nya seolah-olah di-set untuk dapat menerima hal ini. Ia tidak perlu memperoleh penjelasan rasional apa pun untuk hal ini. Setiap orang memiliki basic belief dan setiap orang boleh mempercayai sesuatu secara absah tanpa dukungan bukti apa pun. Misalkan ada orang yang percaya bahwa roh nenek moyangnya masih berkeliaran di dunia ini, dan karena itu roh nenek moyang ini diberikan kopi tiap pagi. Kalau kita berkata bahwa roh nenek moyangnya sudah tidak ada di dunia ini, dan yang pasti sudah tidak bisa minum kopi lagi, maka dia akan menolak untuk setuju dengan kita. Kalau kita meminta bukti kehadiran nenek moyangnya, ia akan berkata, “Dia ada tapi tidak kelihatan, tidak teraba, tidak terdengar, tapi pokoknya ada.” “Lho? Bagaimana tahu dia ada?” “Yah, saya percaya saja bahwa dia ada.” Nah, inilah yang namanya basic belief. Tidak perlu bukti secara rasional, empiris, dan sebagainya.

Tetapi di sini ada sedikit masalah. Bukankah ini berarti bahwa semua kepercayaan dan agama tidak bisa disangkal keabsahannya? Apa perbedaan orang Kristen yang dengan basic belief-nya mempercayai Tuhan Yesus dengan orang Islam yang mempercayai Allahnya Mohammad? Karena itu John Frame dalam 5 Views on Apologetics mengatakan bahwa basic belief baru dapat dipegang secara sah hanya bila basic belief tersebut sesuai dengan realita.[2] Lalu apa itu realita? Bagaimana kita tahu realita itu benar adanya?

Basic True Belief

Untuk menjawab pertanyaan di atas, Van Til[3] menyimpulkan epistemologi yang benar ke dalam dua langkah. Pertama adalah bahwa Allah mengetahui segala sesuatu tentang segala sesuatu. Dengan demikian, Ia adalah satu-satunya Sumber pengetahuan sejati mengenai realita. Yang kedua adalah bahwa pikiran manusia diciptakan untuk tunduk kepada otoritas Allah, atau meminjam istilah Van Til, berpikir secara analogis (thinking God’s thought after Him).[4] Otak kita ini tidak diciptakan Tuhan untuk berpikir secara otonomi melainkan untuk tunduk kepada Allah. Dengan demikian, Allah berdaulat memilih apa yang ingin Dia nyatakan dan berdaulat memilih bagaimana Dia menyatakannya.

Allah dalam kedaulatan-Nya telah memilih Alkitab sebagai cara untuk menyatakan Diri-Nya dan kehendak-Nya secara tertulis bagi kita supaya kita tunduk kepada-Nya. Karena itu Alkitab berotoritas tertinggi sehingga tidak ada yang dapat membuktikan dan mengesahkan keabsahan otoritas Alkitab kecuali Alkitab sendiri. Mengapa? Karena Allah menyatakan demikian. Bagaimana Allah menyatakannya? Dengan Firman-Nya di dalam Alkitab. Alkitab adalah satu-satunya sumber yang berhak menentukan sah tidaknya Alkitab dijadikan ukuran kebenaran absolut. Tetapi bukankah ini sih sama saja dengan komentar pada awal pembahasan kita? “…kita cuma muter-muter doang….” Tetapi mari kita pikirkan dulu… kalau Alkitab adalah kebenaran mutlak dengan otoritas tertinggi, dapatkah kita memakai sesuatu di luar Alkitab untuk membuktikan sah atau tidaknya klaim ini? Tidak! Karena dengan demikian kita sedang melengserkan Alkitab sebagai otoritas paling tinggi dengan sesuatu di luar Alkitab.[5] Jika Alkitab itu benar karena ada bukti secara rasio manusia, maka sebenarnya Alkitab berada di bawah penilaian pemikiran rasional kita. Jika Alkitab itu benar karena dibuktikan oleh penggalian arkeologis dan lain-lain, maka Alkitab sebenarnya bukanlah otoritas tertinggi. Ini dikarenakan posisi Alkitab yang adalah otoritas tertinggi, sehingga keabsahan Alkitab sebagai otoritas tertinggi hanya dapat disahkan oleh klaim otoritas tertinggi itu sendiri, yaitu Alkitab. Cara berpikir ini pun (circular thinking) sebenarnya kita pakai dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita membuktikan matematika dengan rumusan matematika, kita membenarkan suatu politik dengan cara politik, kimia dengan rumusan kimia, dan sebagainya. Semuanya akan menjadi absurd jikalau kita mencoba membuktikan suatu persamaan matematika dengan cara militer, atau rumusan kimia dengan politik, dan sebagainya. Jadi, circular thinking merupakan cara yang diakui dan sah dalam pembuktian, tetapi mengapa manusia justru protes ketika dipakai dalam pembuktian otoritas Alkitab?

Alkitab Sulit untuk di-“Trace Back” …

“Rasul” bagi teolog-teolog Liberal, Immanuel Kant, dalam buku Religion Within The Limits of Reason Alone mengaplikasikan pemikirannya tentang dunia noumena yang tidak mungkin diketahui dan dunia fenomena yang dapat kita pahami. Menurut Kant, Allah adalah sesuatu yang tidak mungkin diketahui, sehingga adalah sesuatu yang terlalu berani jika kita mengatakan bahwa kita mengenal Dia melalui Alkitab. Konsekuensinya, sulit untuk mengatakan Alkitab adalah Firman Allah, karena untuk mengenal Alkitab secara penuh, kita harus menelusuri dan melintasi sejarah serta perbedaan budaya dan bahasa hingga zaman tulisan-tulisan itu ditulis.[6] Ini adalah hal yang tidak mungkin dilakukan dengan akurat sekarang, ribuan tahun setelah penulisan Alkitab. Dan karena itu juga, tidak mungkin Alkitab yang sulit untuk diketahui akarnya ini dijadikan otoritas tertinggi bagi manusia. Teolog-teolog modern yang mengidolakan Kant pun bermunculan di abad 20-an dan Alkitab dijadikan sasaran penilaian rasio dan obyek riset sebelum ditentukan layak tidaknya Alkitab memegang otoritas tertinggi bagi manusia.

Rudolf Bultmann mengatakan bahwa kita harus membersihkan Alkitab dari hal-hal supranatural karena itu hanya legenda, mitos, atau cerita rakyat saja. Schweitzer menulis buku yang dipenuhi oleh pemikiran dari orang-orang yang setuju bahwa Yesus yang asli sudah tidak bisa dikenal lagi karena catatan yang ada di dalam Alkitab sudah diberi terlalu banyak “bumbu”. Jadi menurut mereka Alkitab kita tidak bisa dipercaya karena terlalu banyak “bumbu” sehingga “rasa” aslinya hilang. Menurut Bultmann, kita harus melakukan demitologisasi atau pembersihan Alkitab dari mitos-mitos, maka Tuhan kita yang asli, kerygma, atau berita yang sesungguhnya akan muncul. Akibatnya, Tuhan Yesus tidak pernah berjalan di atas air, tidak pernah menyembuhkan orang sakit, apalagi membangkitkan orang mati, lebih-lebih sendirinya bangkit dari kematian pada hari ketiga. Ini keterlaluan! Hanya orang-orang Kristen yang kurang pendidikan, yang masih percaya dongeng orang-orang kampung, dan yang masih terbelakang saja yang mau terima Alkitab yang terlalu banyak “bumbu”!

Awal abad ke-20 muncul seorang pendeta dari gereja kecil di Swiss yang bernama Karl Barth.[7] Barth menentang orang-orang Liberal, termasuk gurunya sendiri, Adolf von Harnack. Menurut Barth mereka terlalu membumikan Allah dengan mengurung Dia hanya dalam wilayah etika manusia dan menjadikan Dia objek penyelidikan para teolog yang notabene hanya manusia. Seharusnya Allah itu berbeda secara mutlak dengan kita (the Wholly Other). Kita tidak mungkin menjadikan Dia obyek penyelidikan karena kita tidak mungkin tahu siapa Dia kecuali Dia mewahyukan diri. Bagaimana cara Allah mewahyukan diri? Di dalam Kristus. Menurut Barth, Kristus adalah satu-satunya wahyu Allah. Bukan Alkitab! Allah tidak boleh disamakan dengan tulisan-tulisan manusia! Ini penghinaan! Jadi Barth menentang Liberalisme dengan semangat yang sama dengan orang-orang Liberal, dia juga sangat dipengaruhi Kant. Orang Liberal mengatakan Alkitab hanyalah tulisan biasa yang banyak mitos. Barth mengatakan, ”Tidak, hanya secara fenomena Alkitab tulisan biasa, tetapi secara noumena Alkitab dapat menjadi Firman Tuhan.“ Alkitab dapat menjadi wadah Tuhan berfirman kepada kita. Orang Liberal mengatakan keberadaan Yesus itu diragukan kesejarahannya. Mungkin saja tokoh Yesus dalam Alkitab ini hanya mitos saja… Barth mengatakan, ”Tidak. Tidak masalah Yesus 2000 tahun yang lalu itu seperti apa. Itu hanya permasalahan dalam lingkup fenomena, tetapi secara noumena di dalam Kristus Allah mewahyukan diri bagi manusia.” Orang Liberal berkata tidak benar kalau Yesus bangkit, Barth mengatakan bahwa itu semua hanya masalah fenomena, yaitu sejarah (Historie). Yang penting secara noumena kematian Yesus membebaskan kita dari dosa. Yang penting adalah makna sejarah secara noumena (Geschichte), dan bukan sejarah (Historie). Pemikiran Barth ini seperti mengatakan bahwa tidak masalah entah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 pernah benar-benar terjadi atau tidak, yang penting maknanya. Kalau kita percaya makna proklamasi, terlepas dari benar-benar pernah terjadi atau tidak, maka kita akan lebih nasionalis lagi, lebih mencintai Indonesia Pusaka. Tetapi apakah sah mempercayai sesuatu yang tidak benar-benar terjadi? Kalau Kristus tidak benar-benar mati dan bangkit di dalam sejarah, apa makna percaya kepada-Nya? Betapa bahayanya menggantungkan iman kepada hal yang tidak jelas seperti ini. Semua ini terjadi karena para teolog modern, dan juga Barth, meletakkan rasio sebagai otoritas tertinggi. Hal-hal di dalam Alkitab yang tidak cocok dengan rasio harus “dicocokkan” dulu. Jadi, bukan manusia (rasio) tunduk kepada wahyu Tuhan, tetapi menundukkan wahyu Tuhan kepada otoritas rasio. Inilah ciri utama dari pemikiran manusia berdosa yang berusaha otonom dari otoritas kedaulatan Allah dan Firman-Nya, seperti yang dikatakan Van Til.

Tidak Mungkin Dimengerti?

Baiklah, tetapi pernyataan Kant mengenai ketidakmungkinan untuk memahami Alkitab belum selesai terjawab. Apakah memang mustahil untuk memahami Alkitab? Apakah Alkitab mirip dengan buku-buku tulisan Hegel, seorang filsuf Jerman? Hegel bisa menuliskan kalimat yang terdiri dari 80 kata, dan kita bisa melewati berlembar-lembar halaman yang penuh dengan kalimat-kalimat seperti ini tanpa tahu apa yang sedang ia bicarakan. Apakah Alkitab seperti itu? Atau sebenarnya Alkitab dituliskan dengan maksud agar umat Tuhan bisa mengenal Tuhan (sementara Hegel mungkin sengaja membuat kita bingung agar kita merasa diri kita bodoh dan menganggap Hegel pandai). Jelas, Alkitab dituliskan agar manusia bisa mengerti kehendak-Nya, walaupun benar bahwa Alkitab menuliskan banyak hal yang secara rasional tidak dapat dipahami dan banyak hal yang sangat sulit dimengerti. Di sinilah letak penundukkan rasio kepada otoritas Alkitab yang juga mencakup penerimaan dengan iman akan hal-hal yang tak terpahami oleh rasio manusia yang terbatas ini, maupun kesungguhan untuk secara bertahap dan terus-menerus belajar mengetahui hal-hal yang membutuhkan proses untuk dipahami. Tetapi, sekali lagi, Alkitab adalah tulisan yang menyatakan maksud-Nya dengan sangat jelas. Apakah manusia menolak Alkitab karena manusia tidak dapat memahaminya? Tidak. Manusia menolak Alkitab karena manusia tidak mau menundukkan diri kepada Allah dan Firman-Nya.

Apakah seorang humanis menolak Alkitab karena tidak mungkin mengerti Alkitab? Tidak. Seorang humanis akan menolak Alkitab dan menganggapnya sebagai kitab suci orang-orang barbar ketika membaca kitab Yosua tentang pemusnahan etnis yang dilakukan Israel. Dia gagal melihat bagaimana Allah yang Maha Suci memakai umat-Nya sebagai alat-Nya untuk menghukum orang-orang Kanaan karena dosa mereka. Apakah kaum universalist yang percaya bahwa semua manusia akan selamat, salah mengerti Alkitab karena sulit dimengerti? Tidak. Mereka tidak mau menerima ajaran mengenai Allah yang Maha Adil memasukkan orang ke dalam neraka sehingga mereka harus menafsirkan Alkitab dengan begitu rumit untuk menghindari ajaran ini dan memasukkan pendapat mereka sendiri mengenai Allah yang Baik pasti tidak tega menghukum seorang manusia pun. Mengapa orang Liberal menolak otoritas Alkitab? Karena mereka tidak dapat mengerti? Tidak. Orang Liberal tidak dapat menerima otoritas Kitab yang menceritakan tentang seorang manusia bernama Yesus yang berjalan di atas air karena bagi mereka kisah mengenai manusia yang berjalan di atas air ini tidak sesuai dengan “akal sehat”. Mengapa orang Yahudi sulit menerima Yesus sebagai Mesias? Apakah karena Yesaya 53 terlalu sulit dan berbelit-belit? Tidak, tetapi karena ada tudung bernama tradisi yang menghalangi mereka untuk melihat Yesus di dalam nubuat para nabi (lihat 2 Korintus 3:13-16). Tradisi mengatakan Mesias adalah pahlawan perang yang menang, bukan korban sembelihan, dan mereka berusaha untuk menafsirkan Alkitab dengan meletakkan Alkitab di bawah otoritas tradisi. Semua kekacauan ini adalah karena Alkitab diletakkan di bawah otoritas rasio, pengalaman, semangat Humanisme, sains, tradisi, dan lain-lain.

Jadi mengapa sebenarnya manusia sulit menerima klaim kebenaran absolut Alkitab? Karena, sebagaimana dikatakan Van Til, manusia menolak Allah dan mau berpikir secara otonom. Sejak dari taman Eden hingga sekarang, kesulitan manusia tetap sama, ingin menjadi seperti Allah dan menolak otoritas Firman-Nya di dalam kehidupannya. Sampai kita jujur mau kembali kepada Allah dan hanya bila Roh Kudus membersihkan natur penolakan kita terhadap otoritas Allah dan Firman-Nya, barulah kita dapat melihat bahwa memang benar Alkitab memiliki otoritas tertinggi (2 Korintus 3:16). Kant mengatakan bahwa manusia sudah dewasa dan tidak perlu bergantung pada otoritas apa pun di luar dirinya sendiri. Tetapi Alkitab berkata bahwa Sang Pencipta manusia menetapkan bahwa manusia harus bergantung kepada-Nya. Otak kita tidak diciptakan untuk mandiri, tetapi untuk tunduk kepada kebenaran Firman Tuhan secara absolut. Bagaimana dengan Saudara? Ketika membaca Alkitab, siapakah yang memegang otoritas absolut: Saudara atau Alkitab?

Jimmy Pardede


[1] Argumen ini diberikan Mavrodes dengan sederhana dan menarik dalam bentuk cerita mengenai dua orang yang sedang berbincang-bincang di pesawat dalam Faith and Rationality, London: Nortre Dame Press, 1983. Hlm. 100.
[2] Steven B. Cowan, 5 Views on Apologetics, Grand Rapids: Zondervan, 2000. Hlm. 307.
[3] Pembahasan pemikiran Van Til secara sederhana dapat dilihat melalui tulisan John Frame, Cornelius Van Til: An Analysis of His Thought, NJ: P&R, 1995.
[4] Ibid., Hlm. 115.
[5] Lihat pembahasan Wayne Grudem dalam Systematic Theology, Grand Rapids: Zondervan, 1994. Hlm. 78.
[6] Immanuel Kant, Religion Within the Limits of Reason Alone, terj. Theodore Greene, NY: Harper & Row, 1960. Hlm. 103-104.
[7] Pembahasan Teologi-teologi modern dengan ringkas disajikan oleh Harvie Conn, Teologia Kontemporer, terj. Lynne Newell, Malang: SAAT, cetakan ke-3, 1991.


Creation By James Innel Packer

In the beginning God created the heavens and the earth (Gen. 1:1). He did it by fiat, without any preexisting material; his resolve that things should exist (“Let there be…”) called them into being and formed them in order with an existence that depended on his will yet was distinct from his own. Father; Son, and Holy Spirit were involved together (Gen. 1:2; Pss. 33:6, 9; 148:5; John 1:1-3; Col. 1:15-16; Heb. 1:2; 11:3). Points to note are as follows:

(a) The act of creation is mystery to us; there is more in it than we can understand. We cannot create by fiat, and we do not know how God could. To say that he created “out of nothing” is to confess the mystery, not explain it. In particular, we cannot conceive how dependent existence can be distinct existence, nor how angels and human beings in their dependent existence can be not robots but creatures capable of free decisions for which they are morally accountable to their Maker. Yet Scripture everywhere teaches us that this is the way it is.

(b) Space and time are dimensions of the created order; God is not “in” either; nor is he bound by either as we are.

(c) As the world order is not self-created, so it is not self-sustaining, as God is. The stability of the universe depends on constant divine upholding; this is a specific ministry of the divine Son (Col. 1:17; Heb. 1:3), and without it every creature of every kind, ourselves included, would cease to be. As Paul told the Athenians, “he himself gives all men life and breath and everything else…. In him we live and move and have our being” (Acts 17:25, 28).

(d) The possibility of creative intrusions (e.g., miracles of creative power; creating new persons through human procreative activity; reorienting human hearts and redirecting human desires and energies in regeneration) is as old as the cosmos itself. How far God in his upholding activity actually continues to create new things that cannot be explained in terms of anything that went before, it is beyond our power to know; but certainly his world remains open to his creative power at every point.

Knowing that God created the world around us, and ourselves as part of it, is basic to true religion. God is to be praised as Creator, by reason of the marvelous order, variety, and beauty of his works. Psalms such as Psalm 104 model this praise. God is to be trusted as the sovereign LORD, with an eternal plan covering all events and destinies without exception, and with power to redeem, re-create and renew; such trust becomes rational when we remember that it is the almighty Creator that we are trusting. Realizing our moment-by-moment dependence on God the Creator for our very existence makes it appropriate to live lives of devotion, commitment, gratitude, and loyalty toward him, and scandalous not to. Godliness starts here, with God the sovereign Creator as the first focus of our thoughts.

Concise Theology. J.I. Packer. Tyndale House Publishers, Inc. 1993. Pages 21-22.


Doktrin Kekristenan

Berikut ini adalah garis besar dari Doktrin Dasar Kekristenan. Yang ditulis secara ringkas, akurat, dan informatif. Seperti halnya dengan semua usaha pembelajaran, kita harus mulai dari dasarnya dahulu. Dasar-dasar inilah yang akan menjadi fondasi bagi kehidupan Kekristenan anda. Jika anda mempelajari apa yang ada di sini, anda akan mendapatkan informasi yang benar dan kaya. Yang harus anda lakukan adalah kembali ke pondasi-pondasi Kekristenan dan dari sana mulai bertumbuh dalam perjalanan Kekristenan anda: “Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh” (Ibrani 6:1). Sebuah bangunan hanyalah sekuat pondasinya.

  1. Alkitab
    1. Alkitab terdiri dari 66 kitab: 39 di PL dan 27 dalam PB. (catatan: 3 x 9 = 27).
      1. PL (bahasa Inggris) memiliki 23.214 ayat. PB (bahasa Inggris) memiliki 7.959 ayat.
    2. B.Dibutuhkan waktu 1600 tahun untuk menuliskan keseluruhan Alkitab.
      1. Ditulis dalam 3 bahasa (Ibrani, Aram, dan Yunani) oleh 40 orang penulis dan secara internal konsisten satu dengan lainnya.
      2. Ditulis di tiga benua:  Afrika, Asia, dan Eropa.
      3. Ditulis oleh beragam orang:  nabi-nabi, imam, juru minum raja, seorang raja, hakim-hakim, nelayan-nelayan, dll.
    3. Terjemahan pertama Alkitab ke dalam Bahasa Inggris dimulai oleh John Wycliffe dan diselesaikan oleh John Purvey pada tahun 1388.
    4. Edisi pertama dari Alkitab Amerika kemungkinan diterbitkan sekitar sebelum tahun 1752 M.
      1. Alkitab berdasarkan data tahun 1964, telah diterjemahkan – seluruhnya atau sebagian – ke lebih dari 1.200 bahasa dan dialek.
    5. Alkitab dibagi ke dalam pasal-pasal oleh Stephen Langton sekitar tahun 1228 M.
      1. Perjanjian Lama dibagi ke dalam ayat-ayat oleh R. Nathan dalam tahun 1448 M dan Perjanjian Baru dibagi oleh Robert Stephanus dalam tahun 1551 M.
    6. Perjanjian Lama — terdiri dari 39 kitab dan dibagi dalam 5 bagian utama:
      1. Pentatuk (Kejadian hingga Ulangan), Sejarah (Yosua hingga Ester), Puisi (Ayub hingga Kidung Agung), Nabi-nabi besar (Yesaya hingga Daniel), Nabi-nabi kecil (Hosea hingga Maleakhi).
    7. Perjanjian Baru — terdiri dari 27 kitab dan dibagi dalam 4 bagian utama:
      1. Injil (Matius hingga Yohanes), Sejarah (Kisah Para Rasul), Surat-surat (Roma hingga Yudas), Nubuat (Wahyu).
    8. Keandalan dari dokumen-dokumen Alkitab.
      1. Alkitab 98%-nya murni secara tekstual. Hal ini berarti melalui proses pengkopian (penyalinan ulang) dari keseluruhan manuskrip-manuskrip Alkitab, hanya 1% yang keasliannya diragukan. Tidak ada satu pun dokumen kuno di dunia ini yang menyamai keakuratan transmisi (penurunan melalui pengkopian dan penyalinan ulang) dari dokumen-dokumen Alkitab.
      2. 1 % yang menjadi pertanyaan itu tidak ada yang mempengaruhi doktrin-doktrin Alkitabiah. Bagian-bagian yang diragukan itu disebut varian dan umumnya terdiri dari variasi-variasi pemilihan kata dan masalah ejaan.
      3. PL tidak memiliki manuskrip-manuskrip pendukung sebanyak yang dimiliki oleh PB, tetapi manuskrip pendukung yang masih ada tetaplah sangat dapat diandalkan.
        1. Septuaginta, terjemahan Bahasa Yunani dari PB Ibrani yang dibuat tahun 250 S.M., membuktikan keandalan dan konsistensi dari Perjanjian Lama ketika dibandingkan dengan manuskrip Bahasa Ibraninya.
        2. Gulungan-gulungan Laut Mati yang ditemukan tahun 1947 juga memverifikasikan keandalan dari manuskrip-manuskrip PL.
        3. Gulungan-gulungan Laut Mati adalah dokumen-dokumen purba yang disembunyikan di sebuah gua di Israel sekitar 2000 tahun yang lalu. Gulungan-gulungan ini di antaranya terdapat banyak sekali kitab-kitab PL, salah satunya adalah Yesaya.
          1. Sebelum gulungan-gulungan Laut Mati ditemukan, manuskrip yang masih ada dari PL bertanggal sekitar 900 M. yang dikenal sebagai Teks Masoretik (Masoretic Text). Gulungan-gulungan Laut Mati usianya 1000 tahun lebih tua. Suatu perbandingan yang dilakukan antara kedua generasi manuskrip itu menunjukkan tingkat keakuratan yang luar biasa tingginya dalam transimi, sehingga para pengkritik serta-merta berhenti mengkritik masalah keakuratan transmisi lagi.
      4. PB memiliki lebih dari 5000 manuskrip Yunani yang mendukung yang masih ada hingga hari ini bersama dengan 20,000 manuskrip dalam berbagai bahasa lainnya. Beberapa manuskrip pendukung memiliki berusia hanya 100 tahun dari tulisan originalnya. Hanya terdapat kurang dari 1% variasi tekstual yang ditemukan di antara manuskrip-manuskrip PB.
      5. Estimasi waktu penulisan dokumen PB adalah sebagai berikut.
        1. Surat-surat Paulus, 50-66 M.
        2. Matius, 70-80 M.
        3. Markus, 50-65 M.
        4. Lukas, awal 60-an
        5. Yohanes, 80-100 M.
        6. Wahyu 96 M.
      6. Beberapa manuskrip pendukung PB adalah:
        1. John Rylands MS ditulis sekitar 130 M., adalah fragmen PB tertua yang masih ada
        2. Bodmer Papyrus II (150-200 M.)
        3. Chester Beatty Papyri (200 M.), mengandung porsi-porsi utama dari PB
        4. Codex Vaticanus (325-350 A.D.), mengandung hampir semua bagian Alkitab.
        5. Codex Sinaiticus (350 A.D.), mengandung hampir seluruh kitab PB dan lebih dari setengah PL
        6. Tidak ada tulisan kuno yang bisa membual bahwa mereka memiliki kopi-kopi dokumen yang begitu dekat dengan waktu penulisan originalnya. Perbedaan waktu dari dokumen Alkitab dengan tulisan aslinya, hanya berbeda sekita 50 tahunan. Sementara tulisan Plato dan Aristoteles, sebagai contoh, perbedaanya mencapi ratusan tahun.
    9. Nubuat dan peluang matematis penggenapannya.
      1. Peluang Yesus untuk menggenapi 48 dari 61 nubuatan utama tentang-Nya adalah 1 banding 10157; yaitu angka satu dengan 157 nol di belakangnya.
      2. Sebagai perbandingan, jumlah elektron yang diperkirakan ada di alam semesta yang sampai kini diketahui adalah 1079; yaitu angka satu dengan 79 nol di belakangnya.
    10. Inspirasi dan Ketidakbersalahan – Alkitab diinspirasikan oleh Allah. Inspirasi berarti Allah, Melalui Roh Kudus, menyebabkan si penulis Alkitab menuliskan wahyu Allah yang akurat dan bersifat otoritatif (berwibawa). Wahyu itu dihembuskan oleh Allah (2 Timotius 3:16) melalui para nabi dan rasul (2 Petrus 1:21).
      1. Ia tidak mengandung kesalahan dalam manuskrip originalnya dan benar-benar dapat diandalkan dalam semua area yang dibicarakannya.
      2. Setiap orang Kristen sejati menerima bahwa Alkitab memang diinspirasikan oleh Allah dan Alkitab itu berwibawa.
    11. Keakuratan ilmiah dalam Alkitab.
      1. Bentuk bumi yang bulat (Yesaya 40:22).
      2. Bumi ini tidak ditopang atau bergantung pada apa pun (Ayub 26:7).
      3. Bintang-bintang tak terhitung banyaknya (Kejadian 15:5).
      4. Adanya lembah-lembah/ palung di dalam lautan (2 Samuel 22:16).
      5. Adanya sumber-sumber mata air dan air mancur di dalam laut (Kejadian 7:11; 8:2; Amsal 8:28).
      6. Adanya alur aliran air laut (arus lautan) di dalam laut (Mazmur 8:8).
      7. Siklus air (Ayub 26:8; 36:27-28; 37:16; 38:25-27; Mazmur 135:7; Pengkotbah 1:6-7).
      8. Fakta bahwa semua makhluk hidup bereproduksi hanya menurut jenisnya masing-masing (Kejadian 1:21; 6:19).
      9. Natur kesehatan, sanitasi, dan penyakit (Kejadian 17:9-14; Imamat 12-14).
      10. Konsep entropi, bahwa energi makin menurun (Mazmur 102:26).
  2. Allah
    1. Allah adalah satu-satunya Tuhan yang ada di alam semesta ini.  Ia kudus adanya (Wahyu 4:8), kekal (Yesaya 57:15), Maha Kuasa (Yeremia 32:17,27), Maha Hadir (Mazmur 139:7-12), dan Maha Tahu (1 Yohanes 3:20); dll.
    2. Ia adalah kasih (1 Yohanes 4:8, 16); terang (1 Yohanes 1:5); roh (Yohanes 4:24); setia (Mazmur 117:2); dan sebagai pencipta (Yesaya 40:12,22,26) dll.
    3. Ia disembah (Kejadian 24:26; Keluaran 4:31; 2 Tawarikh 29:28; 1 Korintus 14:25; Wahyu 7:11).
    4. Kepada-Nya kita berbakti (Matius 4:10; 1 Korintus 6:19; Filipi 3:7; 1 Tesalonika 1:9; Ibrani 9:14).
    5. Ia harus diwartakan (Matius 28:19; Yohanes 14:15; Kisah Para Rasul 1:8)
      1. “Menyembah Allah berarti melayani dan mewartakan-Nya; melayani Allah berarti mewartakan-Nya dan menyembah-Nya; mewartakan Allah berarti menyembah dan melayani Dia.”
      2. Nama Allah adalah Yehovah, atau Yahweh. Terdiri dari 4 konsonan dalam bahasa Ibrani. Tidak ada lagi yang tahu persis cara membaca nama Allah. Dalam Keluaran 3:14 Allah menyatakan nama-Nya adalah “AKU adalah AKU.” “Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.””
    6. Allah adalah Trinitas – Satu Allah yang ada secara simultan dalam 3 pribadi. Masing-masing Pribadi adalah sama derajatnya, sama berkuasanya, dan sama abadinya. Tiap pribadi, Bapa, Anak dan Roh Kudus, adalah Allah. Tanpa salah satu dari ketiga Pribadi itu tidak ada Allah; Ketiga-tiganya adalah Allah.
      1. Doktrin Trinitas bertentangan dengan:
        1. Modal Monarchianism, dikenal juga dengan istilah Hanya Yesus – Hanya satu pribadi di dalam Allah yang berubah-ubah menjadi tiga bentuk keberadaan berturut-turut. Pertama ia adalah Allah Bapa yang kemudian menjelma menjadi Allah Anak lalu menjelma kembali menjadi Allah Roh Kudus.
          1. Gereja-gereja yang memegang doktrin ini adalah gereja United Pentecostal dan United Apostolic. Doktrin ini tidak benar. Doktrin ini menyangkal doktrin sejati tentang Trinitas.
        2. Dynamic Monarchianism – Hanya satu Allah, yaitu Bapa. Yesus dan Roh Kudus bukanlah Allah.
          1. Pendukungnya adalah, World Wide Church of God. Doktrin ini juga salah. Menolak Trinitas, ketuhanan Kristus, dan ketuhanan Roh Kudus.
        3. Tritheisme ajaran bahwa ada tiga Allah: Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
    7. Kekristenan bersifat monotheistik – Hanya ada satu Allah, di mana pun, kapan pun. Lihat Yesaya 43:10; 44:6,8; 45:5,14,18,21,22; 46:9; 47:8; Yohanes 17:3 1 Korintus 8:5-6; Galatia 4:8-9 untuk ayat-ayat yang mengajarkan tentang monotheisme.
    8. Kekristenan berbeda dengan:
      1. Polytheisme – Percaya pada banyak Tuhan.
        1. Monolatry – Percaya kepada banyak illah tetapi hanya melayani satu Allah, contoh: Mormonisme.
        2. Henotheisme – Percaya kepada satu Allah tanpa menolak Allah yang lain.
      2. Pantheisme – Menyamakan Allah dengan alam semesta.  Allah adalah alam semesta.  Allah adalah makhluk juga.
      3. Panentheisme – Percaya bahwa Allah ada terkandung dalam alam semesta. Berbeda dengan Pantheisme karena menyatakan bahwa Allah ada di dalam alam semesta dan semua isinya.
      4. Deisme – Allah ada, tetapi tidak terlibat dengan dunia ini.
      5. Theisme – Allah ada, dan terlibat di dunia ini.
  3. Penciptaan
    1. Allah menciptakan semesta fisik dan spirtual dari kekosongan (Kejadian 1:1; Mazmur 33:6; Yohanes 1:3; Roma 4:17; 1 Korintus 1:28).
      1. Ia tidak membuat alam semesta dari sebagian tubuh/ roh-Nya.
      2. Ia tidak menciptakan alam semesta dari suatu substansi yang disebut “ketiadaan”.
    2. Khususnya adalah Yesus, si sulung (Kolose 1:15), pribadi kedua Trinitas, yang menciptakan segala sesuatu (Kolose 1:16-17; Yesaya 44:24).
    3. Karena Allah menciptakan segala sesuatu, Ia ada sebelum segala sesuatu dan melampaui segala sesuatu. Karenanya, seluruh alam semesta ini berada di bawah kuasa-Nya.
    4. Karena Allah menciptakan segala sesuatu, Ia mampu mencukupi ciptaan-Nya melalui ciptaan-Nya juga, misalnya cuaca, hujan, tanaman, binatang-binatang, sinar matahari, dll.
    5. Pendapat tentang lamanya penciptaan sangat beragam. ada yang bilang 6 hari; yang lain mengatakan 6 periode yang panjang.
  4. Manusia
    1. Penciptaan manusia
      1. Manusia bukan saja mahkota dari segala ciptaan-Nya, tetapi objek dari kasih-Nya yang spesial.
      2. Aslinya manusia diciptakan murni, tanpa dosa.
      3. “Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.’ Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah
        diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kejadian 1:26-27; lihat juga, 2:7,21-23).

        1. “Baiklah Kita menjadikan manusia…” adalah penjelasan tentang perundingan Illahi sebelum penciptaan manusia, “Kita” menunjukkan perundingan Trinitas. Lihat juga Kejadian 11:7.
        2. Manusia diciptakan berbeda dari binantang. Ia memiliki nafas hidup yang dihembuskan Allah padanya (Kejadian 2:7). Binatang tidak. Manusia juga diberikan kuasa atas binatang-binatang. Manusia dapat mengenal Allah, menyembah-Nya, dan mencintai Dia. Binatang tidak.
      4. Apakah manusia terbuat dari dua atau tiga “bagian”?
        1. Dikotomi adalah istilah yang menunjukkan pembagian di dalam dua bagian: tubuh dan jiwa. Kata-kata “roh” (kadang diterjemahkan sebagai “hati” dalam Alkitab Indonesia) dan “jiwa” sering dipakai secara bergantian.
          1. “Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,” (Lukas 1:46-47).
          2. “Dengan segenap jiwa aku merindukan Engkau pada waktu malam, juga dengan sepenuh hati aku mencari Engkau pada waktu pagi…,” (Yesaya 26:9).
          3. Untuk istilah “tubuh dan jiwa” lihat Matius 6:25; 10:28.
          4. Untuk istilah “tubuh dan roh” lihat 1 Korintus 5:3, 5.
        2. Trikotomi adalah istilah yang menunjukkan pembagian dalam 3 bagian: tubuh, jiwa, dan roh.
          1. “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita” (1 Tesalonika 5:23).
          2. “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” (Ibrani 4:12).
        3. Tidak ada posisi ortodoks resmi mengenai apakah manusia itu terdiri dari dua atau tiga bagian.
      5. Asal-usul dari jiwa manusia
        1. Traducianisme: “Jiwa manusia diperoleh bersamaan dengan tubuh saat kelahiran, dan karenanya ditransmisikan kepada anak oleh orang tuanya.” (Berkhoff, Systematic Theology. p. 197.)
        2. Kreasionisme: “Jiwa manusia adalah ciptaan Allah, asal mulanya adalah tindakan penciptaan langsung oleh Allah.” (Berkhoff, p. 199).
        3. Kecuali untuk Adam, Alkitab tidak memberikan catatan yang jelas mengenai asal-usul jiwa manusia.
      6. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.
        1. Ini berarti manusia memiliki kemampuan moral dan intelektual yang mirip dengan Allah, meskipun tidak sesempurna dan seluas Allah.
          1. “Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…'” (Kejadian 1:26).
          2. “…dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya” (Kolose 3:10).
        2. Manusia mengungguli binatang dalam hal “kemampuan rasional, kesadaran moral, pencarian akan keindahan, pemakaian bahasa, dan kesadaran spiritual.”
    2. Manusia sebelum kejatuhan.
      1. Hukum Allah tertulis di hati mereka. Adam dan Hawa adalah tanpa dosa dan “diberikan pengetahuan, kebajikan, dan kesucian yang murni berdasarkan gambar dan rupa Allah sendiri, dengan kemampuan untuk mentaati Hukum Allah.” (Pengakuan Iman Westminster, 4:2.)
      2. Dalam kondisi ini manusia mempunyai akses yang bebas dan tidak terhalangi kepada Allah. Hal ini dicontohkan dalam Kejadian 3:8 di mana Allah berjalan di Taman.
    3. Manusia, Kejatuhan, dan akibatnya
      1. Adam dan Hawa memberontak terhadap Allah dan berdosa dengan memakan buah terlarang.
        1. “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Roma 5:12).
      2. Apa dosa mereka?
        1. Mereka mendengarkan Setan dan memakan buah yang telah dilarang oleh Allah (Kejadian 3:1-13).
      3. Apa konsekwensi dosa mereka?
        1. Maut (Roma 6:23) dan terpisah dari hadirat Allah (Yesaya 59:2)
        2. Transmisi dari natur dosa kepada keturunan mereka (dan kita) (Mazmur 51:5).
        3. Ciptaan yang lain turut jatuh (Kejadian 3:17; Roma 8:22).
      4. Bagaimana efek dosa mereka terhadap Allah?
        1. Mereka menjadi tidak cocok untuk hadirat Allah (Yesaya 59:2).
        2. Mereka menjadi tidak mampu melaksanakan kehendak Allah (Roma 6:16; 7:14).
        3. Mereka menjadi kutukan dari Hukum Taurat dan kematian (Ulangan 27:26; Roma 6:23).
      5. Dosa Asal – Doktrin bahwa kita mewarisi natur dosa kita dari Adam (Roma 5:12-21).
        1. Adam Kepala Perwakilan dari seluruh umat manusia; karenanya, ia mewakili seluruh umat manusia di Taman Eden.
          1. “Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam…” (1 Korintus 15:22).
          2. Frasa “persekutuan dengan Adam” mengindikasikan hubungan kita dengan Adam, bahwa ia mewakili kita di Taman Eden. Dengan cara yang sama, jika kita “dalam persekutuan dengan Kristus” mengindikasikan hubungan kita dengan Kristus, bahwa Ia mewakili kita di atas kayu salib (Roma 5:18; 6:11; 8:1; 1 Korintus 1:2; 15:22; 2 Korintus 5:19).
        2. Kita berdosa bersama Adam: “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Roma 5:12). Lihat juga Roma 5:18; 1 Korintus 15:22.
    4. Manusia setelah mati dan sebelum kebangkitan.
      1. Kondisi antara
        1. Ini adalah keadaan jiwa antara kematian tubuh dan kebangkitan.
        2. Sedikit dibicarakan di Alkitab, tetapi masa itu kita masih memiliki kesadaran (2 Korintus 5:5-8; Lukas 16:19-31).
        3. Kita masih dalam kondisi mawas diri, tampaknya, bersama dengan Tuhan (Filipi 1:21-23).
          1. Buat orang benar inilah saat yang penuh berkat dan kesukacitaan (Lukas 16:19-31).
          2. Untuk mereka yang jahat itulah saat bagi penderitaan (Lukas 16:19-31) sebagaimana dicontohkan dalam kisah Lazarus dan orang kaya.
  1. Yesus
    1. Ia adalah Pencipta (Yohanes 1:1-3; Kolose 1:15-17).
    2. Ia tidak diciptakan (Yohanes 1:1-3; Kolose 1:15-17).
    3. Ia adalah Allah dalam daging manusia (Yohanes 1:1, 14; 8:58 dengan Keluaran 3:14; Kolose 2:9; Filipi 2:5-8; Ibrani 1:8).
    4. Inkarnasi-Nya dan Ke-Tuhanan-Nya
      1. Hypostatic Union – Yesus memiliki dua natur dalam satu pribadi. Dia bukanlah setengah manusia dan setengah Allah. Ia adalah Manusia dan sekaligus Allah. Dia sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Ini adalah pendapat yang benar mengenai kedua natur-Nya. Lihat Kolose 2:9; Filipi 2:5-8; Yohanes 8:58 dan Keluaran 3:14.
      2. Yesus tetap akan menjadi Allah dan manusia selama-lamanya.
      3. Yesus dilahirkan perawan Maria (Matius 1:18; Lukas 1:35).
        1. “Ia lahir dan takluk kepada hukum Taurat (Galatia 4:4) dan mematuhi dan taat kepada semua hukum Allah (Yohanes 4:34; 8:29), bahkan hingga kematian-Nya (Filipi 2:8). Dalam kematian-Nya Ia menanggung semua kutukan Hukum Taurat dengan menjadi kutukan untuk kita (Galatia 3:13). Karenanya, melalui kematian-Nya, dosa-dosa dari orang-orang-Nya telah diadili (Roma 3:23-26) dan dilupakan (Ibrani 8:12), dan hasil dari perbuatan kebenaran-Nya adalah hidup yang kekal (Roma 5:18).
      4. Yesus disembah – (Matius 2:2,11; 14:33; Yohanes 9:35-38; Ibrani 1:6).
      5. Kita bedoa kepada Yesus – (Kisah Para Rasul 7:55-60; Mazmur 116:4 dan Zakharia 13:9 dengan 1 Korintus 1:1-2).
      6. Yesus disebut Allah – (Yohanes 20:28; Ibrani 1:8).
      7. Ia adalah gambar wujud Allah yang tepat (Ibrani 1:3).
    5. Kematian-Nya dan penebusan
      1. Yesus menanggung dosa dunia (1 Yohanes 2:2) dalam tubuh-Nya di atas kayu salib. (1 Petrus 2:24).
      2. Ia adalah perdamaian, yang memuaskan Allah yang meredakan amarah Allah.
      3. Ia menebus. Ia membenarkan apa yang tidak benar di antara kita dan Allah. Darah yang dicurahkannya itulah yang membersihkan dosa-dosa kita (Imamat 17:11; Ibrani 9:22; Roma 5:9; 1 Yohanes 1:7-9).
        1. Ia menyingkirkan permusuhan antara manusia dan Allah (Roma 5:10).
      4. Untuk siapakah Ia mati? – Ada yang bilang hanya untuk domba-domba itu (orang Kristen) (Yohanes 10:11,15).
        1. Domba-domba itu adalah orang-orang Kristen. Kambing-kambing adalah orang-orang non-Kristen (Matius 25:32-46).
      5. Yang lain mengatakan bahwa Ia mati untuk semua orang (1 Yohanes 2:2). Masing-masing pihak memiliki argumen yang baik.
    6. Kebangkitan Kristus (Yohanes 2:19-21; 1 Korintus 15:1-4).
      1. Yesus bangkit dalam tubuh yang sama dengan tubuh kematian-Nya (Yohanes 2:19-21; Lukas 24:36-43).
        1. Tubuh Yesus ‘dibangkitkan’. Kita tidak tahu persis seperti apa tubuh-Nya itu, tetapi natur dari tubuh yang dibangkitkan dibahas Paulus dalam 1 Korintus 15:35-58.
    7. Saat ini Yesus ada di sorga, masih dan selamanya menjadi Allah dan manusia sekaligus (1 Timotius 2:5; Kolose 2:9).
      1. Hal ini penting karena Yesus adalah Imam Besar untuk selamanya: “di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya?(Ibrani 6:20). Suatu roh tidak bisa menjadi Imam Besar, hanya manusia yang bisa. Lebih jauh lagi, Yesus tetap hidup selamanya untuk menjadi pengantara kita “Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka,” (Ibrani 7:25).
    8. Kenaikan Kristus (Kisah Para Rasul 1:1-11).
      1. Setelah kebangkitan-Nya, Yesus menampakkan diri-Nya kepada para murid-Nya selama 40 hari. Ia meng-komplit-kan pesan-pesan-Nya kepada mereka.
      2. Dalam terang awan yang ada di P.L. (Keluaran 40:34; 1 Raja-Raja 8:10; Lukas 9:34) sebagai manifestasi dari kemuliaan dan kehadiran Allah, kita mempunyai pengharapan atas kenaikan-Nya yang penuh kemuliaan.
      3. Ia naik di depan mata para rasul yang telah menuliskan apa yang mereka lihat.
    9. Doktrin Ketuhanan Kristus berbeda dengan:
      1. Docetisme – Yesus sesungguhnya adalah roh dan hanya tampak seperti manusia.
      2. Gnosticisme – Yesus hanyalah manusia yang dirasuki oleh Kristus yang tidak pernah berinkarnasi. Kristus yang sesungguhnya telah kembali ke surga sebelum penyaliban.
      3. Arianisme – Yesus diciptakan sedikit di bawah Allah derajadnya. Lalu Yesus menciptakan segala sesuatu yang lain.
    10. The Hypostatic Union (Yesus memiliki dua natur dalam satu pribadi) berbeda dengan:
      1. Kenosisme – Yesus mengurangkan sesuatu dari diri-Nya pada saat berinkarnasi, yakni menjadi, Allah yang dikurangi sesuatu.
      2. Eutychianisme – Kedua natur Yesus sepenuhnya bercampur sehingga tidak dapat dibedakan lagi satu dengan lainnya.
      3. Nestorianisme – Kedua natur Yesus tidak saling berhubungan sehingga Yesus adalah memiliki dua kepribadian.
      4. Monophycitisme – Kedua natur berkombinasi dan menjadi satu, menjadi makhluk baru. (Sehingga Yesus bukanlah Allah atau pun manusia, tetapi suatu makhluk yang lain.)
  2. Roh Kudus
    1. Dengan kenaikan Yesus kita menerima kehadiran Roh Kudus (Yohanes 14:26; Kisah Para Rasul 2) yang melayani Gereja melalui pegantaraan Kristus (1 Timotius 2:5) dan Alkitab.
    2. Ia sepenuhnya adalah Allah; Ia bukan semacam kekuatan. Ia adalah pribadi ketiga dalam Trinitas.
      1. Ia memiliki kehendak – 1 Korintus 2:11
      2. Ia bersabda –  Kisah Para Rasul 13:2
      3. Ia mengasihi – Roma 15:30
      4. Ia bisa didukakan – Efesus 4:30
      5. Ia menginsafkan dunia akan dosa – Yohanes 16:8
      6. Ia menciptakan – Kejadian 1:2; Ayub 33:4
      7. Ia memberikan anugrah-anugrah – 1 Korintus 12:8
      8. Ia memohonkan ampun bagi kita – Roma 8:26
      9. Ia mengajar – Yohanes 14:26
      10. Ia memberi kesaksian akan Yesus – Yohanes 15:26
      11. Ia membaptis – 1 Korintus 12:13
      12. Ia membimbing – Yohanes 16:13
      13. Ia menguatkan hati – Kisah Para Rasul 9:31
      14. Ia memberi kuasa – Mikha 3:8
      15. Ia memberi sukacita – Roma 14:17
      16. Ia menghibur – Yohanes 14:16-26
    3. Roh Kudus tinggal di dalam orang-orang percaya (Roma 8:11) dan terus-menerus bekerja di dalam mereka untuk menyucikannya (Roma 15:16).
    4. Roh kudus memberi penerangan kepada pikiran orang-orang percaya (1 Korintus 2:12,13) dan membukakan kepada mereka hal-hal mengenai Allah (menafsirkan hal-hal rohani) (1 Korintus 2:10,13; 1 Yohanes 2:27).
  3. Keselamatan
    1. Keselamatan adalah pembebasan dari atau menyelamatkan dari penghakiman Allah atas pendosa-pendosa. Penghakiman ini dikenal dengan kutukan yaitu Allah melemparkan orang-orang yang tidak diselamatkan ke dalam lautan api yang abadi. Yang diselamatkan akan ke sorga dan bersama dengan Tuhan selamanya.
    2. Allah adalah satu-satunya yang bisa memberikan keselamatan (Efesus 2:8-9; Yohanes 1:12-13; Kisah Para Rasul 13:48). Manusia tidak mampu bekerjasama dengan Allah untuk memperoleh maupun mempertahankan keselamatnnya. Jika ada yang harus dilakukan oleh seseorang guna memperoleh keselamatannya, maka Yesus mati sia-sia (Galatia 3:21).
    3. Keselamatan itu karena iman, bukan hasil usaha (Roma 3:21; Roma 4:5; Galatia 3:21). Itu adalah karunia yang cuma-cuma (Roma 6:23; Efesus 2:8-9).
    4. Dalam keselamatan, dosa-dosa orang Kristen ditanggung oleh Kristus di atas kayu salib dan kebaikan Kristus itu diperhitungkan sebagai kebaikan orang-orang Kristen.
    5. Dua pandangan mengenai keselamatan berdasarkan pilihan manusia.
      1. Kehendak bebas – Manusia sanggup menerima dan menolak Allah (Yohanes 3:16) berdasarkan kualitas atau kemampuan yang ada pada manusia.
      2. Predestinasi – Allah menetapkan sebelumnya siapa yang akan dipilih-Nya untuk memperoleh keselamatan (Efesus 1:1-11; Kisah Para Rasul 13:48). Tidak ada satupun di dalam manusia yang memungkinkan ia untuk sanggup menerima Allah. Allah harus memanggil manusia pilihan-Nya.
  4. Pembenaran dan Penyucian
    1. Pembenaran adalah kejadian seketika karena Allah memperhitungkan kepada kita, kebaikan yang telah dilakukan Kristus.
    2. Penyucian artinya dipisahkan untuk dipakai bagi hal-hal yang suci. Artinya ditahbiskan.
    3. Jika pembenaran adalah posisi dideklarasikan sebagai benar di hadapan Allah (Roma 4:5; 5:9), penyucian adalah pertumbuhan dalam kehidupan Kristen dalam kesucian dalam pemahaman, intensi, pikiran, dan tindakan (1 Tesalonika 4:3-7).
    4. Penyucian adalah transformasi dari orang percaya yang dihasilkan oleh Roh Kudus (Efesus 5:22-23) dengan buah-buah roh sebagai hasilnya.
    5. Penyucian orang-orang Kristen dikaitkan dengan Kristus: “Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus;
      namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku…” (Galatia 2:19-20).
    6. Ayat-ayat Alkitab lain yang berhubungan dengan hal ini adalah )Roma 6:1-23; Efesus 5:10; Galatia 6:10; Efesus 4:17-6:18).
  5. Gereja
    1. Gereja dapat dilihat dengan dua cara: gereja yang kelihatan dan gereja yang tidak kelihatan.
      1. Gereja yang kelihatan adalah semua orang yang mengaku menjadi murid-murid Kristus.
      2. Gereja yang tidak kelihatan adalah mereka yang sungguh-sungguh diselamatkan.
    2. Gereja disebut juga tubuh Kristus (Efesus 1:22-23) dengan Kristus sebagai kepala (Efesus 5:23).
    3. Gereja akan disatukan (Efesus 4:1-16) di bawah satu Allah (Efesus 4:4).
    4. Gereja itu kudus (1 Korintus 1:1-2; Efesus 5:27; 1 Petrus 2:9).
    5. Gereja terbuka untuk siapa saja (Yohanes 3:16) dan memberitakan Firman Allah (Matius 28:19-20).
    6. Gereja disebut pengantin Allah (Efesus 5:22-23; Wahyu 19:7), jemaat anak-anak sulung (Ibrani 12:23), jemaat Allah (1 Korintus 1:2), bangunan Allah (1 Korintus 3:9), dll.
  6. Kebangkitan
    1. Kebangkitan adalah saat ketika mereka yang mati dalam Kristus dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa (1 Korintus 15:42, 52-54).
      1. Secara umum, Allah membangkitkan orang-orang yang telah mati (2 Korintus 1:9). Secara khusus dikatakan bahwa  Yesus yang akan membangkitkan orang-orang yang telah mati (Yohanes 5:21,25,28,29; 6:38-40,44,54; 1 Tesalonika 4:16).
      2. Juga dikatakan bahwa itu juga merupakan karya Roh Kudus (Roma 8:11).
    2. Kebangkitan terjadi pada saat kedatangan Kristus yang kedua kalinya, (1 Tesalonika 4:16-17; 1 Korintus 15).
    3. Kebangkitan itu bersifat fisik.
      1. Yesus disebut sebagai buah sulung dari kebangkitan (1 Korintus 15:20,23) dan yang sulung dari antara orang mati (Kolose 1:18; Wahyu 1:5). Ia dibangkitkan dalam tubuh yang sama dengan saat Dia mati (Yohanes 2:19-21; Lukas 24:39). Karenanya, kita juga akan dibangkitkan dalam bentuk fisik seperti Dia.
      2. Tidak diketahui secara tepat akan seperti apakah tubuh kebangkitan kita  tetapi diperkirakan akan sama dengan tubuh kebangkitan Yesus (Filipi 3:21; 1 Korintus 15:42-54), bukan dalam ke-Tuhan-Nya, tetapi dalam kebangkitan-Nya.
    4. Akan ada kebangkitan bagi yang baik dan yang fasik (Kisah Para Rasul 24:15).
      1. Yang baik, orang-orang Kristen, akan dibangkitkan untuk hidup yang kekal (Matius 25:31-34).
      2. Yang jahat, orang-orang bukan Kristen, akan dibangkitkan untuk penghukuman abadi (Matius 25:4-46).
  7. Millennium
    1. Millennium berarti 1000 tahun. Ada tiga pandangan utama mengenai Millennium.
      1. Amillennialisme – bahwa kita berada dalam pemerintahan 1000 tahun yang dipimpin Kristus.
        1. Pandangan ini menyatakan bahwa setan telah dibelenggu sejak kedatangan Kristus yang pertama. Mereka berpendapat bahwa ketika Kristus datang untuk yang kedua kali nanti, akan terjadi rapture (pengangkatan), terjadi juga penghakiman atas mereka yang jahat, dan langit baru dan bumi baru akan diciptakan.
      2. Premillennialisme – berpendapat bahwa pemerintahan 1000 tahun Kristus belum terjadi.
        1. Pandangan ini menyatakan bahwa Yesus akan kembali (rapture akan terjadi menjelang atau pada saat Dia datang) dan kemudian membelenggu setan, melempar dia ke dalam jurang yang dalam, dan memerintah di bumi selama 1000 tahun. Pada akhir masa itu setan akan dibebaskan dari belenggu dan akan memimpin pemberontakannya. Lalu Yesus akan menghancurkannya. Lalu datanglah penghakiman Tuhan, diikuti dengan penciptaan langit baru dan bumi baru.
      3. Postmillennialisme – berpendapat bahwa gereja akan menjadi penuntun ke 1000 tahun pemerintahan Kristus melalui khotbah-khotbah Firman dan pertobatan dunia.
    2. Terdapat perdebatan mengenai apakah kata millenium itu adalah periode yang harus ditafsirkan secara hurufiah atau kiasan. Ada yang bilang harus ditafsirkan secara literal (Wahyu 20:2), yang lain mengatakan bahwa itu harus ditafsirkan sebagai kiasan (2 Petrus 3:8). Masing-masing pihak memiliki argumen-argumen yang sangat bagus.
    3. Secara historis, gereja umumnya telah berpegang pada pandangan Amillennialisme dan Premillennialisme dan kedua pandangan ini telah mengalami masa pasang surut selama 2000 tahun terakhir.
  8. Rapture (Pengangkatan)
    1. Rapture adalah waktu ketika, pada kedatangan Kristus yang kedua, orang-orang Kristen yang masih hidup akan dirubah ke dalam tubuh kebangkitan mereka (1 Tesalonika 4:15-17). Mereka akan bertemu dengan Kristus ketika Ia turun untuk mengumpulkan gereja-Nya.
    2. Mereka yang telah mati akan datang bersama dengan Kristus dan mendahului mereka yang masih hidup dalam bertemu Kristus.
    3. Debat utama mengenati rapture adalah yang menyangkut urutannya dengan masa sengsara (tribulation).
      1. Pretribulasi – rapture terjadi sebelum masa sengsara.
      2. Midtribulasi – rapture terjadi di pertengahan masa sengsara.
      3. Postribulasi – rapture terjadi di akhir masa sengsara.
  9. Penghakiman terakhir
    1. Ini adalah penghakiman atas semua orang (Matius 25:31-46) pada masa kesempurnaan sesuatu (Matius 13:40-43).
    2. Penghakiman terhadap orang Kristen akan berdasarkan pekerjaan mereka (2 Korintus 5:10). Pekerjaan itu tidak mempengaruhi keselamatan orang Kristen (Roma 8:1) karena di dalam Kristus pekerjaan kita tidak mempunyai peran dalam keselamatan kita (Roma 4:5).
      1. Hadiah bagi orang Kristen adalah berada dalam hadirat Allah untuk selama-lamanya (1 Tesalonika 4:17) di bumi baru dan langit baru.
    3. Bagi mereka yang fasik, hari penghakiman (2 Petrus 3:7) akan menjadi penghakiman atas dosa-dosa mereka (Kisah Para Rasul 17:31; 1 Korintus 13:11-15).
      1. Mereka yang jahat akan dibuang ke neraka (2 Tesalonika 1:6-10; Matius 13:40-42).
  10. Langit baru dan bumi baru
    1. Pada saat kesempurnaan segala sesuatu, Allah akan menghancurkan unsur-unsur di dunia dengan panas yang sangat tinggi (2 Petrus 3:12).
    2. Akan ada bumi baru sebagai rumah bagi mereka yang benar (2 Petrus 3:13).
    3. Kehidupan surgawi ini akan berupa kehidupan bersosial karena hal ini dikatakan dalam konteks sebagai kota yang sempurna (Ibrani 12:28), sebagai bait yang suci (Yehezkiel 40-48), dan sebagai pesta pernikahan (Wahyu 19:7).
    4. Dalam kehidupan surgawi ini tidak akan ada pernikahan lagi (Matius 22:30), tidak ada kematian (Lukas 20:36), tidak ada duka cita (Wahyu 7:17), tidak ada kesakitan (Wahyu 21:4), dll.
    5. Kondisi kesempurnaan dan persekutuan dengan Allah itu tidak pernah akan berakhir (Matius 25:46) dalam terang yang tidak akan ada kegelapan lagi (Wahyu 22:5).

 


Dasar-Dasar Doktrin Kekristenan

  1. Hanya ada satu Allah – Yesaya 43:10; 44:6,8; Yohanes 17:3; 1 Korintus 8:5-6; Galatia 4:8-9
  2. Allah itu Trinitas – 2 Korintus 13:14; 1 Petrus 1:2
  3. Tidak ada Allah lain sebelum dan sesudah Allah – Yesaya 43:10
  4. Allah tahu segala sesuatu – 1 Yohanes 3:20
  5. Allah Maha Kuasa – Mazmur 115:3
  6. Allah ada di mana-mana – Yeremia 23:23,24
  7. Allah adalah Penguasa – Zakharia 9:14; 1 Timotius 6:15-16
  8. Allah itu roh – Yohanes 4:24
  9. Allah menciptakan semua yang ada – Kejadian 1:1; Yesaya 44:24
  10. Roh tidak memiliki tubuh yang terdiri dari darah dan daging – Lukas 24:39
  11. Allah selama-lamanya adalah Allah – Mazmur 90:2
  12. Yesus adalah Allah – Yohanes 1:1,14;10:30-33; 20:28; Kolose 2:9; Filipi 2:5-8; Ibrani 1:8
  13. Yesus menjadi manusia – Filipi 2:5-8
  14. Yesus memiliki 2 natur: Allah dan manusia – Kolose 2:99; 1 Timotius 2:5
  15. Yesus tidak berdosa – 1 Petrus 2:22
  16. Yesus adalah satu-satunya jalan menuju Allah Bapa – Yohanes 14:6; Matius 11:27; Lukas 10:22
  17. Roh Kudus adalah Allah – Kisah Para Rasul 5:3-4
  18. Roh Kudus bukanlah semacam kekuatan. Ia hidup – Kisah Para Rasul 13:2
  19. Alkitab diinspirasikan oleh Allah – 2 Timotius 3:16
  20. Semua manusia telah berdosa – Roma 3:23; 5:12
  21. Manusia tidak berevolusi, manusia diciptakan – Kejadian 1:26
  22. Adam dan Hawa adalah manusia yang benar-benar ada – Kejadian 3:20;5:1; 1 Timotius 2:13
  23. Kematian masuk ke dalam dunia karena dosa Adam – Roma 5:12-15
  24. Dosa memisahkan kita dari Allah – Yesaya 59:2
  25. Yesus telah mati untuk dosa dosa kita – 1 Yohanes 2:2; 2 Korintus 5:14; 1 Petrus 2:24
  26. Pengorbanan Kristus adalah pengganti bagi kita – 1 Petrus 2:24
  27. Yesus bangkit dari kematian dalam tubuh fisik-Nya – Yohanes 2:19-21
  28. Mereka yang menolak Yesus akan masuk neraka – Wahyu 20:11-15
  29. Neraka adalah tempat penghukuman yang berapi-api – Matius 25:41;Wahyu 19:20
  30. Neraka itu abadi – Matius 25:46
  31. Mereka yang tidak diselamatkan akan pergi ke neraka untuk selamanya – Wahyu 21:8
  32. Keselamatan adalah anugrah cuma-cuma dari Allah – Roma 4:5; 6:23; Efesus 2:8-9
  33. Alkitab adalah Firman Allah – 2 Timotius 3:16
  34. Yesus akan kembali lagi dan dapat dilihat oleh dunia – Kisah Para Rasul 1:11
  35. Orang-orang Kristen akan dibangkitkan ketika Yesus datang kembali yang kedua kalinya – 1 Tesalonika 4:14-17
  36. Akan ada rapture (diangkat ke awan bertemu dengan Kristus) – 1 Tesalonika 4:14-17
  37. Akan ada penghakiman yang terakhir – 2 Petrus 3:7
  38. Mereka yang berdosa akan dibuang ke dalam lautan api – Wahyu 20:15
  39. Setan akan dibuang ke dalam lautan api – Wahyu 20:10
  40. Akan ada langit baru dan bumi baru – 2 Petrus 3:13; Wahyu 21:1

Apologetics

I) Banyak serangan terhadap Kitab Suci / Firman Tuhan / kekristenan.

1)   Sejak awal (Adam dan Hawa) sudah ada serangan terhadap Firman Tuhan.

Kej 3:1-5 – “(1) Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: ‘Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?’ (2) Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: ‘Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, (3) tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.’ (4) Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: ‘Sekali-kali kamu tidak akan mati, (5) tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.’”.

a)   Serangan setan dalam ay 1b.

1.   Setan menyerang supaya Hawa meragukan Firman Tuhan (ay 1b).

Dalam ay 1b ini Alkitab Indonesia kurang tepat terjemahannya.

NIV : “Did God really say …” (= Benarkah Allah berkata …).

Ini jelas merupakan suatu serangan untuk meragukan Firman Tuhan.

2.   Setan mengubah Firman Tuhan (ay 1 – semua tak boleh dimakan).

Reaksi Hawa:

a.   Hawa mengurangi Firman Tuhan.

Bandingkan kata-kata Hawa dalam ay 2 dan larangan asli dari Tuhan dalam Kej 2:16-17 – “(16) Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: ‘Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, (17) tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.””.

Apa bedanya? Kata ‘semua’ ditiadakan. Sepintas lalu penghapusan kata ‘semua’ ini tidak ada artinya, tetapi sebetulnya ada! Kalau ada kata ‘semua’ maka penekanannya ada pada kasih Allah (Allah mengijinkan memakan semua, kecuali satu). Tetapi dengan tidak adanya kata ‘semua’, maka penekanan Hawa adalah pada larangan Allah.

b.   Hawa menambahi Firman Tuhan (ay 3: ‘raba’).

Ada penafsir-penafsir yang tidak mempersoalkan penambahan kata ini, dan ada yang bahkan menganggap bahwa Hawa menambahkan dengan maksud baik. Tetapi Keil & Delitzsch mempunyai pandangan yang berbeda tentang penambahan ini.

Keil & Delitzsch (tentang Kej 3:3): “but she added, ‘neither shall ye touch it,’ and proved by this very exaggeration that it appeared too stringent even to her, and therefore that her love and confidence towards God were already beginning to waver” (= tetapi ia menambahkan ‘juga janganlah kamu merabanya’, dan membuktikan dengan tindakan melebih-lebihkan ini bahwa hal itu terlihat terlalu keras baginya, dan karena itu terlihat bahwa kasih dan keyakinannya kepada Allah sudah mulai goncang).

Dari reaksi Hawa ini jelaslah bahwa Hawa kurang kuat berpegang pada Firman Tuhan! Ini menyebabkan setan makin berani menyerang (ay 4-5).

b)   Serangan setan dalam ay 4.

Dalam ay 4 setan secara terang-terangan menentang Firman Tuhan! Melalui ay 4 ini setan ingin supaya Hawa:

  • tidak percaya kepada Allah.
  • menganggap Firman Tuhan tak benar.
  • menganggap hukuman tidak ada.

Setan selalu menyerang Firman Tuhan. Karena itu kita harus belajar Firman Tuhan baik-baik.

2)   Setan menyerang Yesus.

Ada 3 x serangan setan terhadap Yesus, tetapi saya hanya ingin berkonsentrasi pada pencobaan 2 saja (Mat 4:5-7).

Mat 4:5-7 – “(5) Kemudian Iblis membawaNya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, (6) lalu berkata kepadaNya: ‘Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diriMu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikatNya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kakiMu jangan terantuk kepada batu.’ (7) Yesus berkata kepadanya: ‘Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!’”.

a)   Pencobaan I ditolak oleh Yesus dengan menggunakan Firman Tuhan (Mat 4:3-4), maka sekarang setan juga menggunakan Firman Tuhan, yaitu Maz 91:11-12, yang disalah-tafsirkan. Karena itu kita perlu waspada; tidak setiap orang yang menggunakan Kitab Suci memberikan pengajaran yang benar. Semua orang sesat bisa mencari-cari dasar Kitab Suci untuk mendukung pandangan mereka.

Satu hal yang harus ditekankan di sini adalah bahwa setan juga tahu dan hafal Kitab Suci. Karena itu kalau kita tidak mau belajar dan menghafal Kitab Suci, kita akan dengan mudah ditipunya!

b)   Jawaban Yesus terhadap pencobaan II (ay 7).

Ay 7 ini dikutip oleh Yesus dari Ul 6:16 yang jelas berhubungan dengan ajaran setan yang menyalah-tafsirkan Maz 91:11-12 itu. Di sini kita lihat lagi pentingnya kita mempelajari Firman Tuhan dan menghafal­kannya. Kita membutuhkannya pada waktu kita mendengar pemberi­taan Firman Tuhan dari siapa saja. Kita harus mengecheck setiap khotbah dengan Firman Tuhan untuk melihat apakah khotbah itu bertentangan dengan bagian lain dari Kitab Suci atau tidak.

Bdk. Kis 17:11 – “Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.

Perhatikan bahwa dalam ayat ini orang Yahudi di Berea dipuji karena mengecheck khotbah Paulus, yang adalah seorang rasul, dengan menggunakan Kitab Suci! Karena itu kalau saudara adalah orang yang mengaminkan segala kata-kata pendeta tanpa mengechecknya dengan Kitab Suci, itu jelas merupakan sikap yang salah dan bahkan berbahaya!

3)   Banyaknya serangan setan jaman sekarang dengan menggunakan ajaran sesat.

Contoh:

  • Roma Katolik.
  • Liberalisme.
  • Toronto Blessing.
  • Yesaya Pariaji (GBI Tiberias).
  • Gereja Orthodox Syria (Bambang Noorsena, Jusuf Roni).
  • Saksi Yehuwa.
  • Gereja Mormon.
  • Penginjilan terhadap orang mati (Andereas Samudera, Yoachim Huang).

Sekarang saya akan mengelompokkan ajaran-ajaran sesat / serangan-serangan ini:

a)   Ajaran sesat tanpa dasar Kitab Suci, dan bahkan bertentangan dengan Kitab Suci.

Ini banyak, misalnya dalam kalangan Gereja Roma Katolik.

Contoh:

Ajaran tentang:

  • Maria yang dikatakan suci / tak berdosa (>< Ro 3:23).
  • doa kepada Maria (>< Mat 4:10).
  • larangan menikah untuk hamba Tuhan (>< Im 21:7,13-14  Hos 1:2  Mark 1:30  1Kor 9:5).
  • dan sebagainya.

b)   Ajaran sesat dengan menggunakan logika / ilustrasi semata-mata, tetapi tanpa ayat Kitab Suci, dan bahkan bertentangan dengan Kitab Suci.

Contoh:

  • pada waktu Saksi Yehuwa mau menekankan bahwa Bapa lebih kekal dari Yesus, mereka berkata: ‘mana ada bapa yang sama tuanya dengan anaknya?’.
  • pada waktu orang-orang Kharismatik mau membela ajaran / praktek mereka tentang bahasa Roh yang bisa dilatih, mereka menggunakan ilustrasi tentang pompa air, yang harus dipancing dengan air dulu, baru bisa mengeluarkan air. Jadi orang Kristen harus mencoba berbahasa roh dengan mengeluarkan bunyi-bunyi yang aneh-aneh dulu, nanti akan keluar bahasa Roh yang asli.

c)   Ajaran sesat yang didasarkan pada pengalaman, tanpa dasar Kitab Suci.

Ini banyak dalam kalangan Kharismatik. Misalnya dalam persoalan kesembuhan, bahasa Roh, dan sebagainya.

d)   Ajaran sesat dengan menggunakan ayat Kitab Suci yang diselewengkan.

1.   Toronto Blessing.

  • Yer 23:9 – “Mengenai nabi-nabi. Hatiku hancur dalam dadaku, segala tulangku goyah. Keadaanku seperti orang mabuk, seperti laki-laki yang terlalu banyak minum anggur, oleh karena TUHAN dan oleh karena firmanNya yang kudus”.

Ayat ini dipakai untuk mendukung Toronto Blessing karena di sini dikatakan bahwa nabi Yeremia sendiri mengalami tulang-tulang yang goyah, seperti orang yang mabuk / terlalu banyak minum anggur! Dan Yeremia mengalami semua itu karena Tuhan dan karena firman Tuhan yang kudus! Karena itu, apa anehnya kalau dalam Toronto Blessing itu lalu ada orang yang terhuyung-huyung seperti orang mabuk, bergulin­gan di lantai, bergerak seperti orang sakit ayan, dsb?

  • Yes 29:9 – “Tercengang-cenganglah, penuh kehera­nan, biarlah matamu tertutup, buta semata-mata! Jadilah mabuk tetapi bukan karena anggur, jadilah pusing, tetapi bukan karena arak!”.

Ayat ini menunjukkan adanya mabuk / pusing yang bukan karena anggur / arak, dan kalau dilihat dalam Yes 29:10 kelihatannya ditimbulkan oleh Tuhan.

Disamping itu kata-kata ‘jadilah mabuk’ dan ‘jadilah pusing’ dalam Yes 29:9b ini dianggap sebagai suatu perintah dari Tuhan untuk mengalami mabuk / pusing seperti itu. Karena itu, pengadaan kebaktian Toronto Blessing, dimana orang-orangnya mengalami ‘mabuk / pusing’ yang bukan karena anggur / arak, merupakan suatu ketaatan terhadap perintah Tuhan ini.

2.   Saksi Yehuwa.

Mereka menggunakan Yoh 14:28 untuk membuktikan Yesus lebih rendah dari Bapa.

Yoh 14:28 – “Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada BapaKu, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.

e)   Ajaran sesat dengan menggunakan Kitab Suci yang diubah terjemahannya.

Ini banyak dalam ajaran Saksi Yehuwa.

Contoh:

  • Ro 9:5 – “Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaanNya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!”.

TDB: “yang memiliki bapak-bapak leluhur dan yang menurunkan Kristus sebagai manusia: Allah, yang ada di atas segalanya, diagungkanlah untuk selama-lamanya.

Kelihatannya TDB mau memisahkan kalimat yang saya garis bawahi dalam Ro 9:5 itu, dengan kalimat sebelumnya, dan menganggap bahwa kalimat pertama berbicara tentang Kristus, sedangkan kalimat kedua (yang saya garis bawahi) mereka anggap sebagai suatu doxology (= kata-kata pujian) dari Paulus kepada Allah (Bapa). Jadi, dengan terpisahnya kedua kalimat ini, maka Ro 9:5 ini tidak menunjukkan Kristus sebagai Allah.

Catatan: TDB adalah singkatan dari Terjemahan Dunia Baru, Kitab Suci dari Saksi Yehuwa.

  • Fil 2:5b-7 – “(5b) … Kristus Yesus, (6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”.

TDB: “(5) Peliharalah sikap mental ini dalam dirimu, yang juga ada dalam Kristus Yesus, (6) yang, walaupun ada dalam wujud Allah, tidak pernah mempertimbangkan untuk merebut kedudukan, yakni agar ia setara dengan Allah.

f)    Serangan terhadap ayat-ayat Kitab Suci.

1.   Ayat-ayat Kitab Suci yang dianggap bertentangan dengan fakta (ilmu pengetahuan, fakta geografis, fakta sejarah, dsb).

Contoh:

  • Kutipan: “Kelahiran Yesus.

a.   ‘Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem’ (Matius 2:1).

b.   Injil Lukas 2:1-20 menyebutkan bahwa Yesus lahir ketika Kaisar Agustus mengadakan sensus penduduk.

Menurut perhitungan sejarah, sensus itu dilaksanakan pada tahun 7 Masehi. Berarti Yesus lahir pada tahun itu juga. Tetapi menurut Matius, Yesus lahir di zaman Herodes yang wafat sekitar tahun 4 SM. Kemudian diganti anaknya yang bernama Herodes Archelaus yang dipecat oleh pemerintah Romawi tahun 6 Masehi. Sampai sekarang para ahli Alkitab sendiri belum bisa menentukan secara tepat tahun kelahiran Yesus, apakah tahun 4 SM sebagaimana isyarat dari Matius ataukah tahun 7 M seperti yang diceritakan Lukas?” (dikutip dari sebuah makalah berjudul ‘Bukti kepalsuan Kitab Suci agama Kristen’, hal 2).

  • Teori Evolusi (Darwin).

2.   Ayat-ayat Kitab Suci yang dianggap kontradiksi.

Contoh:

  • Kutipan: “Berapa pasang hewan yang harus dibawa ke atas bahtera Nuh ?

a. Satu pasang dari segala hewan tanpa kecuali (Kejadian 6: 19-22, 7: 8-9, 7: 14-16).

b. Tujuh pasang dari segala hewan yang tidak haram dan sepasang dari segala hewan yang haram (Kejadian 7: 2-5)”.

Kej 6:19-7:16 – (19) Dan dari segala yang hidup, dari segala makhluk, dari semuanya haruslah engkau bawa satu pasang ke dalam bahtera itu, supaya terpelihara hidupnya bersama-sama dengan engkau; jantan dan betina harus kaubawa. (20) Dari segala jenis burung dan dari segala jenis hewan, dari segala jenis binatang melata di muka bumi, dari semuanya itu harus datang satu pasang kepadamu, supaya terpelihara hidupnya. (21) Dan engkau, bawalah bagimu segala apa yang dapat dimakan; kumpulkanlah itu padamu untuk menjadi makanan bagimu dan bagi mereka.’ (22) Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya. (7:1) Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Nuh: ‘Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapanKu di antara orang zaman ini. (7:2) Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kauambil tujuh pasang, jantan dan betinanya, tetapi dari binatang yang haram satu pasang, jantan dan betinanya; (7:3) juga dari burung-burung di udara tujuh pasang, jantan dan betina, supaya terpelihara hidup keturunannya di seluruh bumi. (7:4) Sebab tujuh hari lagi Aku akan menurunkan hujan ke atas bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya, dan Aku akan menghapuskan dari muka bumi segala yang ada, yang Kujadikan itu.’ (7:5) Lalu Nuh melakukan segala yang diperintahkan TUHAN kepadanya. (7:6) Nuh berumur enam ratus tahun, ketika air bah datang meliputi bumi. (7:7) Masuklah Nuh ke dalam bahtera itu bersama-sama dengan anak-anaknya dan isterinya dan isteri anak-anaknya karena air bah itu. (7:8) Dari binatang yang tidak haram dan yang haram, dari burung-burung dan dari segala yang merayap di muka bumi, (7:9) datanglah sepasang mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu, jantan dan betina, seperti yang diperintahkan Allah kepada Nuh. (7:10) Setelah tujuh hari datanglah air bah meliputi bumi. (7:11) Pada waktu umur Nuh enam ratus tahun, pada bulan yang kedua, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, pada hari itulah terbelah segala mata air samudera raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap-tingkap di langit. (7:12) Dan turunlah hujan lebat meliputi bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya. (7:13) Pada hari itu juga masuklah Nuh serta Sem, Ham dan Yafet, anak-anak Nuh, dan isteri Nuh, dan ketiga isteri anak-anaknya bersama-sama dengan dia, ke dalam bahtera itu, (7:14) mereka itu dan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata yang merayap di bumi dan segala jenis burung, yakni segala yang berbulu bersayap; (7:15) dari segala yang hidup dan bernyawa datanglah sepasang mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu. (7:16) Dan yang masuk itu adalah jantan dan betina dari segala yang hidup, seperti yang diperintahkan Allah kepada Nuh; lalu TUHAN menutup pintu bahtera itu di belakang Nuh”.

  • Kutipan: “Siapakah anak Daud yang kedua?

a. Kileab (II Samuel 3: 2-3)

b. Daniel (I Tawarikh 3: 1)”.

2Sam 3:2-3 – “(2) Di Hebron lahirlah bagi Daud anak-anak lelaki. Anak sulungnya ialah Amnon, dari Ahinoam, perempuan Yizreel; (3) anaknya yang kedua ialah Kileab, dari Abigail, bekas isteri Nabal, orang Karmel; yang ketiga ialah Absalom, anak dari Maakha, anak perempuan Talmai raja Gesur”.

1Taw 3:1 – “Inilah anak-anak Daud yang lahir bagi dia di Hebron; anak sulung ialah Amnon, dari Ahinoam, perempuan Yizreel; anak yang kedua ialah Daniel, dari Abigail, perempuan Karmel”.

  • Kutipan: “Bolehkah membawa tongkat dan kasut dalam perjalanan?

a. Ya, boleh (Markus 6: 7-9)

b. Tidak boleh (Matius 10: 9-10, Lukas 9: 1-3)”.

Mark 6:8 – “dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, rotipun jangan, bekalpun jangan, uang dalam ikat pinggangpun jangan”.

Mat 10:10 – “Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya”.

Luk 9:3 – “kataNya kepada mereka: ‘Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju”.

3.   Ayat-ayat Kitab Suci yang dianggap sengaja ditambahi, dikurangi, diubah.

Dari makalah ‘Bukti kepalsuan Kitab Suci Agama Kristen’.

II) Pentingnya Apologetics.

1Pet 3:15b-16a – “(15b) Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, (16a) dan dengan hati nurani yang murni, … ”.

1)   ‘Pertanggungan jawab’.

KJV/NIV: ‘an answer’ (= suatu jawaban).

NASB: ‘a defense’ (= suatu pembelaan).

Yunani: APOLOGIA. Dari kata ini diturunkan kata ‘apologetics’, yang bisa diartikan sebagai ilmu yang mempelajari cara-cara pembelaan iman Kristen terhadap serangan-serangan dari luar.

a)   Ini bukan suatu permintaan maaf atas sesuatu yang salah yang kita percayai / ajarkan, tetapi suatu pembelaan, atas sesuatu yang benar yang kita percayai dan ajarkan.

Mengapa saya tahu-tahu berbicara tentang ‘permintaan maaf’? Karena kata bahasa Inggris ‘apology’ yang biasanya diartikan sebagai ‘permintaan maaf’ juga diturunkan dari kata APOLOGIA ini.

Adam Clarke: “The word a]pologia (APOLOGIA), which we translate ‘answer’, signifies ‘a defence’; from this we have our word ‘apology’, which did not originally signify an excuse for an act, but a defence of that act. The defence of Christianity by the primitive fathers are called ‘apologies’.” [= Kata a]pologia (APOLOGIA), yang kami terjemahkan ‘jawaban’, berarti ‘suatu pembelaan’; dari sini kita mendapatkan kata ‘apology’, yang pada mulanya tidak berarti suatu permintaan maaf untuk suatu tindakan, tetapi suatu pembelaan terhadap tindakan itu. Pembelaan terhadap kekristenan oleh bapa-bapa gereja jaman dulu disebut ‘apologies’] – hal 860.

Catatan: kata ‘apology’ bisa diartikan sebagai:

  • suatu pengakuan dan pernyataan penyesalan tentang suatu kesalahan.
  • suatu pembelaan terhadap suatu pandangan.

Bdk. Kis 22:1 – “‘Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah, apa yang hendak kukatakan kepadamu sebagai pembelaan diri (Yunani: APOLOGIAS).’”.

Kalau saudara membaca cerita selanjutnya dalam Kis 22 itu, maka saudara akan melihat bahwa Paulus sama sekali tidak meminta maaf. Sebaliknya ia bersaksi tentang alasan mengapa ia menjadi kristen dan melakukan apa yang ia lakukan.

Bdk. juga dengan Fil 1:7,16  Kis 25:16  1Kor 9:3  2Tim 4:16  2Kor 7:11.

Jadi jelas bahwa APOLOGIA bukan berarti ‘permintaan maaf’, dan karena itu:

1.   Jangan pernah minta maaf terhadap orang-orang kafir, karena saudara beragama Kristen, atau karena saudara percaya kepada Yesus / Kitab Suci!

Misalnya:

¨      dalam acara kumpul-kumpul dalam acara hari kemerdekaan (17 Agustusan), saudara diminta untuk berdoa, dan saudara lalu berkata: ‘Tetapi maaf lho, saya agama kristen, jadi doanya doa Kristen!’.

¨      saudara dikirimi makanan bekas sembahyangan, dan saudara mengatakan: ‘Maaf ya, saya agama kristen, dan saya tidak boleh makan makanan sembahyangan’.

Hal-hal seperti ini mungkin dianggap sebagai ‘sopan’ / ‘beretika’, tetapi semua sopan santun / etika yang tidak sesuai dengan Kitab Suci / Firman Tuhan harus dibuang!

2.   Jangan pernah meminta maaf karena saudara mempercayai / menyatakan suatu kebenaran!

Baru-baru ini saya berkhotbah di suatu persekutuan, dan di situ ada orang baru dari Kanada. Pada saat berkhotbah, saya menyerang Toronto Blessing. Lalu waktu acara makan pemilik rumah memberitahu saya bahwa orang baru itu dari gereja Vineyard di Toronto (tempat Toronto Blessing meledak pertama kalinya). Dia pasti tersinggung. Tetapi haruskah saya meminta maaf atas apa yang saya katakan? Sama sekali tidak!

b)   Pertanggungan jawab itu harus Alkitabiah dan logis, dan untuk bisa memberikannya, orang kristen harus belajar, dan berlatih dalam memberikannya.

Dalam persoalan ini, kita harus hati-hati dengan Mat 10:17-20 – “(17) Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. (18) Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah. (19) Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. (20) Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu”.

Hati-hati dengan text ini, karena text ini tidak menjanjikan bahwa Tuhan akan memberikan kata-kata kepada kita dalam segala keadaan, tetapi hanya pada waktu diajukan ke mahkamah agama / pengadilan. Jadi, ini bukan alasan bagi seorang pengkhotbah untuk naik ke mimbar tanpa lebih dulu mempersiapkan khotbahnya. Dan jelas ini juga bukan alasan bagi orang kristen untuk tidak belajar dengan baik supaya bisa memberikan pembelaan terhadap iman Kristennya.

William Barclay mengatakan bahwa kata APOLOGIA itu mengandung kata LOGOS, dan ia lalu memberikan komentar sebagai berikut:

“Here Peter has certain things to say about this Christian defence. … It must be reasonable. It is a logos that the Christian must give, and a logos is a reasonable and intelligent statement of his position” (= Di sini Petrus mempunyai hal-hal tertentu untuk dikatakan tentang pembelaan Kristen ini. … Itu harus logis / masuk akal. Adalah suatu LOGOS yang harus diberikan oleh orang kristen, dan suatu LOGOS adalah suatu pernyataan yang logis / masuk akal dan cerdas dari posisinya) – hal 230.

William Barclay: “It is one of the tragedies of the modern situation that there are so many Church members who, if they were asked what they believe, could not tell, and who, if they were asked why they believe it, would be equally helpless. The Christian must go through the mental and spiritual toil of thinking out his faith, so that he can tell what he believes and why (= Merupakan salah satu dari tragedi-tragedi dari situasi modern bahwa ada begitu banyak anggota Gereja yang, jika ditanya apa yang mereka percayai, tidak bisa memberitahukan, dan yang, jika ditanya mengapa mereka mempercayainya, juga sama tidak berdayanya. Orang kristen harus berjalan melalui jerih payah yang bersifat mental / pemikiran dan rohani untuk memikirkan imannya, sehingga ia bisa memberitahukan apa yang ia percayai dan mengapa ia mempercayainya) – hal 231.

Pulpit Commentary: “We should take care that our faith is established on the holy Word of God; those who are able should pursue such other studies as may assist us in the defence of the faith” (= Kita harus memperhatikan supaya iman kita ditegakkan pada Firman Allah yang kudus; dan mereka yang mampu, harus mengejar pelajaran-pelajaran lain sehingga bisa menolong kita dalam pembelaan dari iman) – hal 143.

A. T. Robertson: “This attitude calls for an intelligent grasp of the hope and skill in presenting it” (= Sikap ini memerlukan suatu pengertian yang cerdas tentang pengharapan, dan keahlian dalam menyampaikannya)‘Word Pictures in the New Testament’, vol VI, hal 114.

Jamieson, Fausset & Brown: “‘A reason’ – a reasonable account. This refutes Rome’s ‘I believe it, because the Church believes it.’” [= ‘Suatu alasan’ – suatu penjelasan yang masuk akal. Ini membantah kata-kata Roma (Katolik) ‘Aku mempercayainya, karena Gereja mempercayainya’].

Catatan: penafsir ini menggunakan terjemahan KJV dari 1Pet 3:15 – ‘and be ready always to give an answer to every man that asketh you a reason of the hope that is in you’ (= dan siap sedialah selalu untuk memberikan suatu jawab kepada setiap orang yang memintamu / menanyakan kepadamu suatu alasan tentang pengharapan yang ada di dalam kamu).

Barnes’ Notes: “No man ought to entertain opinions for which a good reason cannot be given; and every man ought to be willing to state the grounds of his hope on all proper occasions” (= Tidak ada orang yang harus memelihara pandangan-pandangan untuk mana suatu alasan yang baik tidak bisa diberikan; dan setiap orang harus mau untuk menyatakan dasar-dasar dari pengharapannya pada semua kesempatan yang tepat) – hal 1421.

Hal-hal lain yang harus dilakukan selain belajar adalah:

  • menandai Alkitab / memberi catatan pada Alkitab. Misalnya:

*        memberi warna merah untuk ayat-ayat untuk penginjilan, warna biru untuk ayat-ayat berkenaan dengan Saksi Yehuwa, warna kuning untuk Liberal, dsb.

*        mencatat di bagian belakang Alkitab saudara ayat-ayat yang penting, misalnya ayat-ayat tentang keilahian Kristus, tentang Allah Tritunggal, dsb.

*        mencatat ayat-ayat referensi dari ayat tertentu. Misalnya pada Ro 6:23 – ‘upah dosa ialah maut’, kita mencatat ayat referensinya yaitu Wah 21:8 (yang menunjukkan bahwa maut / kematian kedua itu menunjuk kepada neraka).

  • menghafal ayat. Ini khususnya penting sekali dalam menghadapi Saksi-Saksi Yehuwa yang banyak sekali hafal ayat dan menggunakan ayat!

c)   Pemberian pertanggung-jawaban / pembelaan tersebut bisa melibatkan argumentasi / perdebatan. Selama itu bukan suatu perdebatan yang ‘panas’, itu tidak salah. Alasannya:

1.   Banyak tokoh Kitab Suci yang juga melakukannya.

Contoh:

a.   Paulus sering berdebat, misalnya dalam:

  • Kis 9:22,29 – “(22) Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan, bahwa Yesus adalah Mesias. … (29) Ia juga berbicara dan bersoal jawab dengan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani, tetapi mereka itu berusaha membunuh dia”.
  • Kis 15:2 – “Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu”.
  • Kis 17:17-18 – “(17) Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ. (18) Dan juga beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa bersoal jawab dengan dia dan ada yang berkata: ‘Apakah yang hendak dikatakan si peleter ini?’ Tetapi yang lain berkata: ‘Rupa-rupanya ia adalah pemberita ajaran dewa-dewa asing.’ Sebab ia memberitakan Injil tentang Yesus dan tentang kebangkitanNya”.
  • Kis 18:4 – “Dan setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani”.
  • Kis 19:8-9 – “(8) Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan mengajar dengan berani. Oleh pemberitaannya ia berusaha meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah. (9) Tetapi ada beberapa orang yang tegar hatinya. Mereka tidak mau diyakinkan, malahan mengumpat Jalan Tuhan di depan orang banyak. Karena itu Paulus meninggalkan mereka dan memisahkan murid-muridnya dari mereka, dan setiap hari berbicara di ruang kuliah Tiranus”.
  • Kis 22:1 – “‘Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah, apa yang hendak kukatakan kepadamu sebagai pembelaan diri.’”.
  • Kis 26:24-25 – “(24) Sementara Paulus mengemukakan semuanya itu untuk mempertanggungjawabkan pekerjaannya, berkatalah Festus dengan suara keras: ‘Engkau gila, Paulus! Ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila.’ (25) Tetapi Paulus menjawab: ‘Aku tidak gila, Festus yang mulia! Aku mengatakan kebenaran dengan pikiran yang sehat!”.
  • Kis 28:23 – “Lalu mereka menentukan suatu hari untuk Paulus. Pada hari yang ditentukan itu datanglah mereka dalam jumlah besar ke tempat tumpangannya. Ia menerangkan dan memberi kesaksian kepada mereka tentang Kerajaan Allah; dan berdasarkan hukum Musa dan kitab para nabi ia berusaha meyakinkan mereka tentang Yesus. Hal itu berlangsung dari pagi sampai sore”.
  • 1Kor 9:3 – “Inilah pembelaanku terhadap mereka yang mengeritik aku”.
  • Fil 1:7,16 – “(7) Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil. … (16) Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil.

b.   Stefanus juga berdebat dalam Kis 6:9-10.

Kis 6:9-10 – “(9) Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini – anggota-anggota jemaat itu adalah orang-orang dari Kirene dan dari Aleksandria – bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus, (10) tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara.

c.   Apolos juga berdebat dalam Kis 18:28.

Kis 18:28 – “Sebab dengan tak jemu-jemunya ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias”.

2.   Tuhan Yesus sendiri berjanji untuk memimpin / memberikan kata-kata pada waktu orang kristen dihadapkan pada pengadilan / mahkamah agama.

Luk 12:11-12 – “(11) Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis-majelis atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu kuatir bagaimana dan apa yang harus kamu katakan untuk membela dirimu (Yunani: APOLOGESESTHE). (12) Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan.’”.

Luk 21:12-15 – “(12) Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena namaKu. (13) Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. (14) Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu (Yunani: APOLOGETHENAI). (15) Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu.

Kalau orang kristen memang tidak boleh berdebat, dan harus berdiam diri seperti Yesus dalam menghadapi segala tuduhan, bagaimana mungkin Yesus menjanjikan hal ini kepada para pengikutNya?

2)   ‘siap sedialah pada segala waktu’.

a)   Perhatikan bahwa ini merupakan suatu perintah, sehingga kalau saudara tidak melakukannya, saudara berdosa.

Juga perhatikan bahwa Petrus tidak menujukan kata-kata ini hanya kepada hamba-hamba Tuhan / pendeta / penginjil, guru Sekolah Minggu dan sebagainya, tetapi kepada seadanya orang kristen, termasuk saudara!

Jadi, pada waktu agama / kepercayaan saudara diserang, saudara tidak boleh lari, menjadi marah, atau mendiamkan saja, dengan alasan ‘orang kristen harus cinta damai’ / ‘orang kristen tidak boleh gegeran’, dsb. Alasan-alasan bodoh dan tidak alkitabiah ini sering diberikan oleh banyak orang kristen / hamba Tuhan, hanya untuk menutupi ketidak-mampuan / kebodohan mereka atau rasa takut / sikap pengecut mereka, dengan kedok kesalehan. Jangan meniru kebodohan seperti ini! Saudara wajib untuk bisa memberikan pembelaan.

Kita tidak bisa / boleh meneladani Yesus dalam hal ini. Yesus diam saja di depan Pontius Pilatus maupun Herodes, karena Ia memang datang ke dunia dengan tujuan untuk mati disalib untuk menebus dosa-dosa kita. Kalau Dia menjawab, maka Ia tidak akan dihukum mati. Ingat bahwa tidak seluruh kehidupan Yesus harus kita teladani. Bahwa Yesus tidak kawin, puasa 40 hari, mati untuk menebus dosa, tidak berarti bahwa kita harus meneladani hal-hal itu. Juga pada saat Ia tidak menjawab pertanyaan Herodes / Pontius Pilatus.

Pulpit Commentary: “As they must live for Christ, so they must, when occasion serves, speak for him. … men will sometimes ask for a reason of the hope that is in them. … Christians had often to speak or to write in defence of their faith. We should be ready to do so still both for the glory of God and for the sake of the inquirer’s soul” (= Sebagaimana mereka harus hidup untuk Kristus, demikian juga mereka harus, pada waktu peristiwa / kesempatan itu memenuhi syarat, berbicara untuk Dia. … kadang-kadang orang-orang akan meminta suatu alasan tentang pengharapan yang ada di dalam mereka. … Orang-orang Kristen sering harus berbicara atau menulis dalam pembelaan iman mereka. Kita harus tetap siap untuk melakukannya baik untuk kemuliaan Allah maupun demi jiwa si penanya) – hal 142-143.

Calvin: “he requires such constancy in the faithful, as boldly to give a reason for their faith to their adversaries. And this is a part of that sanctification which he had just mentioned; for we then really honour God, when we neither fear nor shame hinders us from making a profession of our faith. … He bids them only to be ready to give an answer, lest by their sloth and the cowardly fear of the flesh they should expose the doctrine of Christ, by being silent, to the derision of the ungodly. … we ought to be prompt in avowing our faith, so as to set it forth whenever necessary, lest the unbelieving through our silence should condemn the religion we follow” (= ia menghendaki keteguhan / kesetiaan dalam diri orang-orang percaya, sehingga dengan berani memberikan alasan untuk iman mereka kepada musuh-musuh mereka. Dan ini adalah sebagian dari pengudusan yang baru ia sebutkan; karena kita sungguh-sungguh menghormati Allah, pada waktu rasa takut atau malu tidak menghalangi kita untuk membuat suatu pengakuan tentang iman kita. … Ia hanya meminta mereka untuk siap sedia untuk memberi jawaban, supaya jangan karena kemalasan dan rasa takut dari daging yang bersifat pengecut, mereka berdiam diri dan membuka ajaran Kristus terhadap ejekan dari orang-orang jahat. … kita harus cepat dalam mengakui iman kita, supaya bisa menyatakannya kapanpun diperlukan, supaya jangan orang-orang yang tidak percaya mengecam agama yang kita ikuti karena diam / bungkamnya kita) – hal 108.

Calvin: “This was also required by the state of the times; the Christian name was much hated and deemed infamous; many thought the sect wicked and guilty of many sacrileges. It would have been, therefore, the highest perfidy against God, if, when asked, they had neglected to give a testimony in favour of their religion (= Ini juga diharuskan oleh keadaan dari saat itu; nama Kristen sangat dibenci dan dianggap sebagai nama buruk; banyak orang beranggapan bahwa sekte ini jahat dan bersalah tentang banyak pelanggaran hal-hal keramat. Karena itu, merupakan suatu pengkhianatan / kedurhakaan tertinggi terhadap Allah, jika pada waktu diminta / ditanya, mereka lalai untuk memberikan kesaksian untuk mendukung agama mereka) – hal 109.

Pulpit Commentary: “Christians ought to be able to give an account of their hope when asked, both for the defence of the truth and for the good of the asker. That account may be very simple; it may be the mere recital of personal experience – often the most convincing of arguments; it may be, in the case of instructed Christians, profound and closely reasoned. Some answer every Christian ought to be able to give” (= Orang-orang kristen harus bisa memberikan suatu pertanggung-jawaban tentang pengharapan mereka pada waktu diminta, baik demi pembelaan dari kebenaran maupun demi kebaikan dari orang yang meminta. Pertanggung-jawaban itu bisa sederhana; itu bisa sekedar merupakan cerita tentang pengalaman pribadi, yang sering merupakan argumentasi yang paling meyakinkan; dan dalam kasus orang-orang kristen yang telah diajar, itu bisa merupakan sesuatu yang mendalam dan diberi alasan yang seksama / teliti. Setiap orang kristen harus bisa memberikan jawaban) – hal 132.

b)   Kata-kata ‘pada segala waktu’ menunjukkan bahwa orang kristen harus selalu siap untuk memberikan pertanggungan jawab / pembelaan, dan harus selalu siap untuk membicarakan agama / kepercayaannya.

Barnes’ Notes: “A Christian should always be willing to converse about his religion. He should have such a deep conviction of its truth, of its importance, and of his personal interest in it; he should have a hope so firm, so cheering, so sustaining, that he will be always prepared to converse on the prospect of heaven, and to endeavour to lead others to walk in the path to life” (= Seorang Kristen harus selalu mau untuk berbicara tentang agamanya. Ia harus mempunyai keyakinan yang begitu dalam tentang kebenaran agamanya, tentang pentingnya agamanya, dan tentang kesenangan pribadinya terhadap agamanya; ia harus mempunyai suatu pengharapan yang begitu teguh, begitu menggembirakan, begitu mendukung, sehingga ia akan selalu siap untuk berbicara tentang prospek tentang surga, dan untuk berusaha untuk membimbing orang lain untuk berjalan di jalan yang menuju kepada kehidupan) – hal 1421.

Mengapa banyak orang kristen enggan berbicara tentang agamanya sendiri? Karena mereka sendiri tidak yakin akan kebenarannya, atau tentang pentingnya agama mereka, dan mereka sendiri tidak terlalu punya interest terhadap agamanya sendiri!

3)   ‘kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu’.

a)   Calvin mengatakan (hal 109) bahwa kata ‘pengharapan’ di sini menunjuk kepada ‘iman’.

b)   ‘tentang pengharapan yang ada padamu.

KJV: ‘the hope that is in you (= pengharapan yang ada di dalam engkau).

Calvin: “he speaks of that ‘hope that is in you’; for he intimates that the confession which flows from the heart is alone that which is approved by God; for except faith dwells within, the tongue prattles in vain. It ought then to have its roots within us, so that it may afterwards bring forth fruit of confession” (= ia berbicara tentang ‘pengharapan yang ada di dalam kamu’; karena ia mengisyaratkan bahwa pengakuan yang keluar dari hati saja yang direstui oleh Allah; karena kecuali iman tinggal di dalam, lidah mengoceh dengan sia-sia. Jadi itu harus mempunyai akar di dalam kita, sehingga selanjutnya itu bisa melahirkan buah pengakuan) – hal 109.

c)   ‘tiap-tiap orang’.

1.   Dari kata ‘tiap-tiap orang’ ini kelihatannya text ini membicarakan pembelaan biasa, bukan dalam pengadilan.

Kata APOLOGIA biasanya diartikan sebagai suatu pembelaan di depan pengadilan, seperti pada ayat-ayat di bawah ini.

Kis 22:1 – “‘Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah, apa yang hendak kukatakan kepadamu sebagai pembelaan diri.’”.

Kis 25:16 – “Aku menjawab mereka, bahwa bukanlah kebiasaan pada orang-orang Roma untuk menyerahkan seorang terdakwa sebagai suatu anugerah sebelum ia dihadapkan dengan orang-orang yang menuduhnya dan diberi kesempatan untuk membela diri terhadap tuduhan itu”.

Tetapi di sini Petrus mengatakan ‘tiap-tiap orang’, sehingga jelas menunjukkan bahwa ia memaksudkan suatu pembelaan biasa, di depan orang-orang yang menyerang kekristenan, pada setiap kesempatan.

Pulpit Commentary: “The word a]pologia (APOLOGIA) is often used of a formal answer before a magistrate, or of a written defence of the faith: but here the addition ‘to every man,’ shows that St. Peter is thinking of informal answer on any suitable occasion” [= Kata a]pologia (APOLOGIA) sering digunakan tentang suatu jawaban resmi di depan hakim, atau tentang suatu pembelaan iman yang tertulis: tetapi di sini penambahan ‘kepada tiap-tiap orang’, menunjukkan bahwa Santo Petrus sedang memikirkan suatu jawaban tidak resmi pada seadanya peristiwa / kesempatan yang cocok / pantas] – hal 132.

Alan M. Stibbs (Tyndale): “The verb AITEIN, asketh, suggests ordinary conversation rather than an official enquiry” (= Kata kerja AITEIN, ‘meminta’, lebih menunjuk pada suatu pembicaraan biasa dari pada suatu pertanyaan resmi) – hal 135.

2.   Kata-kata ‘tiap-tiap orang’ tidak bisa dimutlakkan, karena:

a.   Adanya ayat-ayat yang mengatakan bahwa orang-orang tertentu tidak perlu dijawab:

  • Mat 7:6 – “‘Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.’”.
  • Amsal 26:4-5 – “(4) Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia. (5) Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak”.

Kedua ayat ini bukannya kontradiksi. Kadang-kadang kita harus melakukan ay 4nya dan kadang-kadang ay 5nya.

  • Tit 3:10 – “Seorang bidat yang sudah satu dua kali kaunasihati, hendaklah engkau jauhi”.
  • Yes 36:21 – “Tetapi orang berdiam diri dan tidak menjawab dia sepatah katapun, sebab ada perintah raja, bunyinya: ‘Jangan kamu menjawab dia!’”.

b.   Alexander Nisbet mengatakan (hal 138) bahwa Petrus tidak mengatakan bahwa kita harus ‘selalu menjawab tiap-tiap orang’, tetapi bahwa kita harus ‘selalu siap untuk menjawab’.

c.   Adanya kata-kata ‘kepada tiap-tiap orang yang meminta kepadamu’.

Jamieson, Fausset & Brown: “‘To every man that asketh you.’ The last words limit the ‘always.’ Not to a railer; but to everyone who inquires honestly” (= ‘Kepada tiap-tiap orang yang meminta dari kamu’. Kata-kata yang terakhir membatasi kata ‘selalu’. Bukan kepada seorang pencemooh / pengejek; tetapi kepada setiap orang yang bertanya dengan jujur).

4)   tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.

a)   ‘tetapi’.

KJV tidak mempunyai kata itu, tetapi RSV/NIV/NASB mempunyainya, dan Pulpit Commentary mengatakan bahwa manuscripts yang terbaik menggunakan kata itu. Kalau kata ‘tetapi’ ini memang ada, maka itu lebih menekankan anak kalimat ini.

b)   ‘dengan lemah lembut dan hormat.

KJV: ‘fear’ (= takut).

NASB: ‘reverence’ (= hormat bercampur takut).

NIV: ‘respect’ (= hormat).

Pulpit Commentary: “The word ‘but’ (a]lla / ALLA) is emphatic; argument always involves danger of weakening the spiritual life through pride or bitterness. We must sometimes ‘contend earnestly for the faith;’ but it must be with gentleness and awe. We should seek the spiritual good for our opponents; and we should entertain a solemn awe of the presence of God, with a trembling anxiety to think and to say only what is acceptable unto him” [= Kata ‘tetapi’ (a]lla / ALLA) ditekankan; argumentasi selalu melibatkan bahaya yang melemahkan kehidupan rohani melalui kesombongan atau kepahitan. Kadang-kadang kita harus ‘berdebat / berargumentasi dengan sungguh-sungguh untuk iman’; tetapi itu harus dilakukan dengan kelembutan dan takut / hormat. Kita harus mencari kebaikan rohani dari lawan-lawan kita; dan kita harus mempunyai rasa takut / hormat yang khidmat terhadap kehadiran Allah, dengan suatu keinginan untuk hanya memikirkan dan mengatakan apa yang bisa diterima olehNya] – hal 132.

Calvin: “unless our minds are endued with meekness, contentions will immediately break forth. And meekness is set in opposition to pride and vain ostentation, and also to excessive zeal” (= kecuali pikiran kita dibimbing / dibentuk dengan kelembutan, perbantahan / pertikaian akan segera meledak. Dan kelembutan diatur sebagai lawan dari kesombongan dan sikap pamer yang sia-sia, dan juga dari semangat yang berlebih-lebihan) – hal 109.

Calvin: “To this he justly adds ‘fear’; for where reverence for God prevails, it tames all the ferocity of our minds, and it will especially cause us to speak calmly of God’s mysteries. … all boasting must be put aside, all contention must be relinquished” (= Terhadap ini ia secara benar menambahkan ‘takut’; karena dimana ada rasa takut terhadap Allah, itu menjinakkan semua keganasan dari pikiran kita, dan khususnya itu akan menyebabkan kita mengucapkan misteri Allah dengan tenang. … semua kebanggaan harus disingkirkan, semua pertikaian harus dilepaskan) – hal 109,110.

William Barclay: “No debates have been so acrimonious as theological debates; no differences have caused such bitterness as religious differences” (= Tidak ada perdebatan yang begitu sengit seperti perdebatan theologia; tidak ada perbedaan yang menyebabkan kepahitan seperti perbedaan agama) – hal 231.

Adam Clarke: “Do not permit your readiness to answer, nor the confidence you have in the goodness of your cause, to lead you to answer pertly or superciliously to any person” (= Jangan mengijinkan kesediaanmu untuk menjawab, ataupun keyakinanmu tentang baiknya perkara / gerakanmu, membimbingmu untuk menjawab dengan tidak sopan atau dengan sombong kepada siapapun) – hal 860.

William Barclay: “His defence must be given with gentleness. There are many people who state their beliefs with a kind of arrogant belligerence. Their attitude is that anyone who does not agree with them is either a fool or a knave and they seek to ram their beliefs down other people’s throat. The case for Christianity must be presented with winsomeness and with love, and with that wise tolerance which realizes that it is not given to any man to possess the whole truth. ‘There are as many ways to the stars as there are men to climb them.’ Men may be wooed into the Christian faith when they cannot be bullied into it” (= Pembelaannya harus diberikan dengan kelembutan. Ada orang-orang yang menyatakan kepercayaan mereka dengan suatu jenis kesenangan berkelahi yang sombong. Sikap mereka adalah bahwa setiap orang yang tidak setuju dengan mereka adalah orang tolol atau orang rendahan, dan mereka berusaha untuk mencekokkan kepercayaan mereka kepada orang-orang lain. Kasus dari kekristenan harus disajikan dengan cara yang menarik dan dengan kasih, dan dengan toleransi yang bijaksana, yang menyadari bahwa tidak ada orang yang memiliki seluruh kebenaran. ‘Ada sama banyaknya jalan menuju bintang-bintang dengan banyaknya orang-orang yang menaikinya’. Manusia bisa dibujuk ke dalam iman Kristen pada waktu mereka tidak bisa digertak ke dalamnya) – hal 231.

Catatan: menurut saya, kata-kata William Barclay ini berbau Liberalisme, yang selalu mempunyai ‘toleransi yang bijaksana’ seperti itu. Dengan kedok bahwa tidak ada orang yang mengetahui seluruh kebenaran, sebetulnya mereka tidak mempunyai keyakinan terhadap apa yang mereka percayai. Memang tidak ada orang yang mengetahui seluruh kebenaran, tetapi kalau kebenaran itu berupa keilahian Kristus, atau bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga, atau bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan, maka itu merupakan suatu kebenaran yang pasti benar, dan dalam hal ini, siapapun yang menolak kebenaran itu harus kita anggap sebagai orang bodoh / sesat!

Satu hal yang agak mengherankan saya pada waktu mempelajari bagian ini adalah: kata ‘lemah lembut’ di sini diterjemahkan dari kata Yunani PRAUTETOS. Kata ‘kelemah-lembutan’ dalam Gal 5:23 (buah Roh) diterjemahkan dari kata Yunani PRAUTES. Sedangkan kata ‘lemah lembut’ dalam Mat 5:5 berasal dari kata Yunani PRAEIS. Semuanya jelas berasal dari kata dasar yang sama yaitu PRAUS, dan tentang kata ini Barclay menjelaskan sebagai berikut:

1.   Ia mengatakan bahwa Aristotle sering mendefinisikan suatu sifat di antara dua sifat yang extrim. Misalnya: murah hati terletak diantara pelit / kikir dan boros.

PRAUS terletak diantara ‘marah yang berlebih-lebihan’ dan ‘tidak pernah marah’. Jadi, orang yang PRAUS bukannya ‘tidak pernah marah’, juga bukannya ‘marah yang berlebihan’, tetapi selalu ‘marah pada saat yang tepat’.

2.   Kata PRAUS juga digunakan terhadap binatang yang sudah dijinakkan / dikuasai sehingga tunduk sepenuhnya kepada pemilik / majikannya. Jadi dalam arti yang kedua ini orang yang PRAUS adalah orang dikuasai / tunduk sepenuhnya kepada Tuhan.

3.   Dalam bahasa Yunani, PRAUS sering dikontraskan dengan sombong. Jadi PRAUS mengandung arti ‘rendah hati’.

Kelihatannya dari 3 arti ini, arti ketigalah yang harus ditekankan dalam 1Pet 3:15b ini. Dalam suatu kamus Yunani dikatakan bahwa selain mempunyai arti ‘gentleness’ (= kelembutan), kata ini memang juga bisa berarti ‘humility’ (= kerendahan hati).

‘Lemah lembut’ bukan berarti lemah gemulai seperti putri Solo, juga bukan suatu sikap yang lemah / tidak tegas. Tidak berarti bahwa kita harus menggunakan kata-kata ‘itu kurang tepat’ dan yang sejenisnya! Kita harus tetap mempunyai ketegasan dengan menggunakan kata-kata ‘itu sesat!’, atau setidaknya ‘itu salah!’, sekalipun diucapkan dengan lembut / tidak kasar.

Bandingkan dengan Gal 1:6-9 dan Mat 23:13-36. Jelas bahwa baik Paulus maupun Yesus sendiri tidak bisa dikatakan mengucapkan kata-kata yang ‘lemah lembut’ dalam arti seperti kita menggunakan istilah itu. Karena itu, jangan menafsirkan kata-kata ‘lemah lembut’ itu sehingga bertentangan dengan kedua text ini, dan juga text-text lain yang menunjukkan bahwa Yesus, rasul-rasul dan nabi-nabi selalu mempunyai sikap yang keras terhadap nabi-nabi palsu.

Juga, menurut saya, kita harus mempertimbangkan 2 kasus yang berbeda. Kalau kita menghadapi seorang individu yang mempunyai pandangan sesat / salah, maka tentu kita harus menggunakan cara yang halus (tetapi tetap tegas) lebih dulu. Tetapi kalau kita membahas tentang seorang pendeta populer yang memberitakan ajaran sesat (seperti Bambang Noorsena, Jusuf Roni, Yesaya Pariadji, dsb.), atau kalau kita membahas tentang suatu ajaran sesat, seperti Saksi Yehuwa, kita harus menggunakan serangan yang keras. Mengapa? Karena dalam kasus kedua ini, ada 2 kelompok orang yang terlibat, yaitu kelompok dari orang-orang sesat / penyesat, dan kelompok dari orang-orang yang berpotensi untuk disesatkan. Demi kelompok kedua ini, kita harus menyatakan kesalahan / kesesatan itu dengan cukup keras.

Illustrasi: Bagaimana saudara akan mengatakan kepada anak saudara, kalau sebuah warung di dekat rumah saudara menjual makanan beracun? Apakah dengan mengatakan bahwa makanan yang dijual warung itu ‘kurang enak’, ‘tidak terlalu baik untuk kesehatan’, dsb.? Atau dengan mengatakan secara tegas dan keras bahwa makanan warung itu beracun dan akan mematikan bila dimakan?

5)   ‘dan dengan hati nurani yang murni.

KJV: ‘Having a good conscience’ (= dengan mempunyai hati nurani yang baik).

Kita hanya bisa mempunyai hati nurani seperti ini kalau:

a)   Pikiran / hati kita diterangi secara benar oleh Firman Tuhan, sehingga kita tahu apa yang benar dan apa yang salah. Tanpa ini, kita bisa didorong untuk melakukan sesuatu yang kita anggap baik, padahal kita sedang menentang Tuhan.

Bandingkan dengan:

  • Yoh 16:2 – “Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah”.
  • Kis 26:9 – “Bagaimanapun juga, aku sendiri pernah menyangka, bahwa aku harus keras bertindak menentang nama Yesus dari Nazaret”.

b)   Kita hidup dalam kekudusan / ketaatan.

Dengan demikian, maka kehidupan kita akan mendukung pembelaan kita terhadap iman kita.

Calvin: “What we say without a corresponding life has but little weight; hence he joins to confession a good conscience. For we see that many are sufficiently ready with their tongue, and prate much, very freely, and yet with no fruit, because the life does not correspond” (= Apa yang kita katakan tanpa kehidupan yang sesuai dengannya, tidak akan mempunyai pengaruh; karena itu, ia menggabungkan ‘pengakuan’ dengan ‘hati nurani yang baik’. Karena kita melihat bahwa banyak orang yang cukup siap dengan lidah mereka, dan berbicara banyak, dengan sangat bebas, tetapi tanpa buah, karena kehidupannya tidak sesuai) – hal 110.

Calvin: “they who prattle much about the gospel, and whose dissolute life is a proof of their impiety, not only make themselves objects of ridicule, but also expose the truth itself to the slanders of the ungodly. … the defence of the tongue will avail but little, except the life corresponds with it” (= mereka yang banyak mengoceh tentang injil, tetapi yang kehidupannya yang tidak dikekang / tidak bermoral merupakan bukti dari ketidak-salehannya; bukan hanya membuat diri mereka sendiri sebagai obyek dari tertawaan / ejekan, tetapi juga membuka kebenaran itu sendiri terhadap fitnahan dari orang-orang jahat. … pembelaan lidah tidak akan berguna, kecuali kehidupannya sesuai dengannya) – hal 110.

Pulpit Commentary: “An apology may be learned, well-expressed, eloquent; but it will not be convincing unless it comes from the heart, and is backed up by the life” (= Suatu pembelaan mungkin terpelajar, dinyatakan dengan baik, fasih; tetapi itu tidak akan meyakinkan kecuali itu datang dari hati, dan didukung oleh kehidupan) – hal 132.

Pulpit Commentary: “A good life without words is a better defence of religion than the most learned apology without a godly life” (= Suatu kehidupan yang baik tanpa kata-kata adalah pembelaan agama yang lebih baik dari pada pembelaan yang paling terpelajar tanpa kehidupan yang baik) – hal 143.

Karena itu, sebagai orang kristen kita harus selalu berjuang untuk maju dalam pengetahuan tentang Firman Tuhan dan juga maju dalam kekudusan.

Barnes’ Notes: “A true Christian should aim, by incessant study and prayer, to know what is right, and then always do it, no matter what may be the consequence” (= Seorang Kristen yang sejati harus bertujuan, dengan belajar dan berdoa tanpa henti-hentinya, untuk mengetahui apa yang benar, dan lalu selalu melakukannya, tak peduli apa konsekwensinya) – hal 1422.

III) Apologetics.

1)   Menggunakan Kitab Suci / Firman Tuhan.

a)   Tahu / hafal ayat Kitab Suci.

Ini penting kalau menghadapi serangan yang tak mempunyai dasar Kitab Suci atau yang bertentangan dengan Kitab Suci. Alat bantu: konkordansi.

Contoh:

Ajaran Saksi Yehuwa mengatakan bahwa hanya 144.000 orang yang akan masuk surga, sisanya tinggal di bumi yang akan disempurnakan, sedangkan yang jahat / tak beriman akan dimusnahkan.

Ini bertentangan dengan 2Pet 3:10-13 yang menunjukkan bahwa bumi ini akan dihancurkan / dimusnahkan.

2Pet 3:10-13 – “(10) Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. (11) Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup (12) yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. (13) Tetapi sesuai dengan janjiNya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran”.

b)   Mengerti Hermeneutics / ilmu penafsiran Alkitab.

1.   Melihat kontext dari ayat.

Ini penting menghadapi penafsiran yang out of context.

Misalnya Theologia Kemakmuran menggunakan Mat 6:33  2Kor 8:9 dan sebagainya.

Mat 6:25-34 – “(25) ‘Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? (26) Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? (27) Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? (28) Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, (29) namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. (30) Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? (31) Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? (32) Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. (33) Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (34) Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.’”.

2Kor 8:1-9 – “(1) Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. (2) Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. (3) Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. (4) Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. (5) Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami. (6) Sebab itu kami mendesak kepada Titus, supaya ia mengunjungi kamu dan menyelesaikan pelayanan kasih itu sebagaimana ia telah memulainya. (7) Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, –dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami–demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini. (8) Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu. (9) Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinanNya.

2.   Menafsir dengan memperhatikan latar belakang / tradisi jaman itu.

Misalnya: Paulus tak menikah, Paulus anti permikahan.

1Kor 9:5 – “Tidakkah kami mempunyai hak untuk membawa seorang isteri Kristen, dalam perjalanan kami, seperti yang dilakukan rasul-rasul lain dan saudara-saudara Tuhan dan Kefas?”.

Banyak orang menafsirkan dari ayat ini bahwa Paulus tak pernah menikah. Tetapi kalau seseorang mengerti latar belakang jaman itu, tidak mungkin ia mempunyai pandangan seperti itu, karena Paulus adalah anggota Sanhedrin / Mahkamah Agama Yahudi, dan syarat dari anggota Sanhedrin adalah ‘menikah’. Jadi ayat ini harus diartikan bahwa pada saat itu Paulus tidak mempunyai istri, tetapi ia pernah menikah (mungkin istrinya mati atau menceraikannya pada waktu ia jadi Kristen).

1Kor 7:25-40 – “(25) Sekarang tentang para gadis. Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat yang diterimanya dari Allah. (26) Aku berpendapat, bahwa, mengingat waktu darurat sekarang, adalah baik bagi manusia untuk tetap dalam keadaannya. (27) Adakah engkau terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mengusahakan perceraian! Adakah engkau tidak terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mencari seorang! (28) Tetapi, kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Dan kalau seorang gadis kawin, ia tidak berbuat dosa. Tetapi orang-orang yang demikian akan ditimpa kesusahan badani dan aku mau menghindarkan kamu dari kesusahan itu. (29) Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat! Karena itu dalam waktu yang masih sisa ini orang-orang yang beristeri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristeri; (30) dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis; dan orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira; dan orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli; (31) pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu. (32) Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekuatiran. Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya. (33) Orang yang beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan isterinya, (34) dan dengan demikian perhatiannya terbagi-bagi. Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatian mereka pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya. (35) Semuanya ini kukatakan untuk kepentingan kamu sendiri, bukan untuk menghalang-halangi kamu dalam kebebasan kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu melakukan apa yang benar dan baik, dan melayani Tuhan tanpa gangguan. (36) Tetapi jikalau seorang menyangka, bahwa ia tidak berlaku wajar terhadap gadisnya, jika gadisnya itu telah bertambah tua dan ia benar-benar merasa, bahwa mereka harus kawin, baiklah mereka kawin, kalau ia menghendakinya. Hal itu bukan dosa. (37) Tetapi kalau ada seorang, yang tidak dipaksa untuk berbuat demikian, benar-benar yakin dalam hatinya dan benar-benar menguasai kemauannya, telah mengambil keputusan untuk tidak kawin dengan gadisnya, ia berbuat baik. (38) Jadi orang yang kawin dengan gadisnya berbuat baik, dan orang yang tidak kawin dengan gadisnya berbuat lebih baik. (39) Isteri terikat selama suaminya hidup. Kalau suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya. (40) Tetapi menurut pendapatku, ia lebih berbahagia, kalau ia tetap tinggal dalam keadaannya. Dan aku berpendapat, bahwa aku juga mempunyai Roh Allah”.

Kelihatannya text ini menunjukkan bahwa Paulus anti pernikahan, atau setidaknya mempunyai pandangan yang rendah tentang pernikahan. Tetapi kalau saudara memperhatikan kata-kata yang saya garis bawahi dari text di atas, maka terlihat bahwa pandangan Paulus ini dilatar-belakangi oleh keadaan khusus pada saat itu, dan karena itu nasehatnya di sini tidak bisa diberlakukan untuk segala keadaan.

3.   Menafsir dengan memperhatikan apakah ayat itu mempunyai arti hurufiah atau simbolis.

Misalnya: Wah 7:4-9 – “(4) Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel. (5) Dari suku Yehuda dua belas ribu yang dimeteraikan, dari suku Ruben dua belas ribu, dari suku Gad dua belas ribu, (6) dari suku Asyer dua belas ribu, dari suku Naftali dua belas ribu, dari suku Manasye dua belas ribu, (7) dari suku Simeon dua belas ribu, dari suku Lewi dua belas ribu, dari suku Isakhar dua belas ribu, (8) dari suku Zebulon dua belas ribu, dari suku Yusuf dua belas ribu, dari suku Benyamin dua belas ribu. (9) Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka”.

Saksi-Saksi Yehuwa menghurufiahkan bilangan 144.000 itu, tetapi itu tidak mungkin, karena:

  • Dalam kitab Wahyu hampir tidak ada bilangan yang mempunyai arti hurufiah.
  • Kata-kata dalam ay 5-8 jelas tidak mungkin diartikan secara hurufiah. Saksi-Saksi Yehuwa sendiri mengartikannya secara simbolis. Kalau demikian, mengapa ay 4nya harus dihurufiahkan?
  • Penafsiran hurufiah tentang bilangan 144.000 dalam ay 4 menyebabkan ayat itu menjadi bertentangan dengan:

*        ay 9nya, yang mengatakan ‘suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya.

*        ayat-ayat yang menunjukkan bahwa seadanya orang yang percaya kepada Yesus pasti masuk surga. Tidak mungkin bahwa dalam sepanjang jaman orang yang percaya kepada Yesus hanya 144.000 orang.

4.   Eisegesis atau exegesis?

Exegesis berarti mengeluarkan suatu ajaran dari suatu ayat; tetapi eisegesis berarti memasukkan suatu ajaran ke dalam suatu ayat.

Dalam exegesis, yang ada adalah ayatnya dulu, yang lalu dipelajari, dianalisa dsb, sehingga mengeluarkan suatu kebenaran tertentu. Tetapi dalam eisegesis, yang ada adalah pandangan / prakteknya lebih dulu, dan lalu dicari-carikan ayat Kitab Suci, yang artinya dibengkokkan sedemikian rupa sehingga cocok dengan ajaran praktek tersebut.

Ajaran sesat / salah banyak yang bukan menggunakan exegesis tetapi eisegesis.

Contoh:

Dr. Paul Yonggi Cho mengatakan bahwa dalam Kej 15:5-6 Abram / Abraham lalu memandang bintang-bintang di langit, dan pada waktu ia memandang bintang-bintang itu, maka ia membayangkan bahwa bintang-bintang itu berubah menjadi kepala-kepala bayi (entah dari mana ia mendapatkan ide tolol ini!). Berdasarkan hal ini, Dr. Paul Yonggi Cho mengatakan bahwa supaya kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan atau doakan, maka kita harus membayangkannya. Inilah yang ia sebut dengan kekuatan dimensi ke 4!

Sekarang perhatikan sendiri text ini untuk melihat apakah memang textnya berkata seperti itu atau tidak.

Kej 15:5-6 – “(5) Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: ‘Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.’ Maka firmanNya kepadanya: ‘Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.’ (6) Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran”.

5.   Descriptive atau Didactic?

Dalam Kitab Suci ada 2 bagian yang harus dibedakan:

a.   Bagian-bagian yang bersifat descriptive (= menggambarkan).

Ini mencakup semua bagian Kitab Suci yang merupakan cerita sejarah. Bagian-bagian ini hanya menggambarkan apa yang terjadi pada saat itu, tetapi tidak memaksudkan untuk menggunakan hal itu sebagai rumus / norma.

Contoh:

  • Peristiwa Yesus dan Petrus berjalan di atas air (Mat 14:22-33) memang betul-betul terjadi, dan Tuhan bisa saja mengulang hal itu pada jaman ini, kalau Dia mau. Tetapi bagian ini tentu bukan maksudnya untuk dijadikan hukum / norma dalam hidup kita, seakan-akan semua orang kristen harus bisa berjalan di atas air!
  • Peristiwa kebangkitan Lazarus (Yoh 11) memang betul-betul terjadi, dan Tuhan bisa saja mengulangnya pada jaman ini, kalau Ia mau. Tetapi bagian ini tentu tidak boleh dijadikan dasar untuk mengajar bahwa Tuhan selalu mau membangkitkan orang kristen yang mati! Hal yang sama berlaku untuk penyembuhan-penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus. Itu hanyalah bagian descriptive, dan karenanya bukan merupakan norma / hukum!

b.   Bagian-bagian yang bersifat didactic (= mengajar).

Ini mencakup semua bagian Kitab Suci yang bersifat pengajaran, dan ini adalah bagian-bagian yang betul-betul merupakan hukum / norma.

Contoh:

  • Yoh 3:16 memang merupakan norma / hukum: semua / setiap orang yang percaya kepada Yesus tidak akan binasa tetapi beroleh hidup yang kekal!
  • 1Tes 5:16-18 memang merupakan norma: semua orang kristen harus bersukacita, berdoa dan mengucap syukur senantiasa.
  • 10 hukum Tuhan (Kel 20:3-17) jelas juga merupakan hukum / norma.

Tetapi, orang-orang pada umumnya tidak mengerti prinsip Hermeneutics ini dan mereka menggunakan bagian-bagian yang bersifat descriptive sebagai hukum / norma, seakan-akan itu adalah bagian yang bersifat didactic, dan ini menimbulkan ajaran-ajaran yang salah.

Contoh:

¨      mereka menganggap Kis 2:1-13 (rasul-rasul berbahasa roh pada saat menerima Roh Kudus pada hari Pentakosta) sebagai dasar bahwa orang kristen harus berbahasa roh. Padahal bagian ini adalah bagian yang bersifat descriptive (= menggambarkan), sehing­ga tidak boleh dijadikan hukum / norma.

¨      mereka menggunakan cerita-cerita dimana Yesus menyembuhkan orang sakit sebagai dasar bahwa semua orang kristen yang sakit pasti disembuhkan. Padahal ini adalah bagian yang bersifat descriptive, sehing­ga tidak boleh dijadikan hukum / norma.

¨      dari fakta Kitab Suci bahwa Abraham itu kaya, mereka mengatakan bahwa orang Kristen harus kaya.

c)   Penggunaan buku-buku tafsiran untuk mengerti arti ayat.

Seringkali untuk bisa mengerti arti dari suatu ayat, dibutuhkan buku-buku tafsiran. Atau, mungkin kita bisa melihat di internet.

2)   Argumentasi AD HOMINEM.

Ini adalah cara berargumentasi dimana kita menggunakan cara berargumentasi dari lawan kita, yang kita teruskan sampai terlihat keextriman argumentasinya.

Misalnya: Orang Roma Katolik menekankan kesucian Maria karena mereka berpendapat bahwa kalau Yesus itu suci, maka Maria, yang melahirkanNya, juga harus suci. Tetapi doktrin ini mempunyai konsekwensi logis sebagai berikut: kalau karena Yesus itu suci maka Maria harus suci, maka konsekwensinya adalah, karena Maria suci kedua orang tua Maria harus suci. Dan kalau kedua orang tua Maria suci, maka keempat kakek nenek Maria harus suci. Kalau ini diteruskan maka akan menunjukkan bahwa Adam dan Hawapun harus suci! Ini adalah konsekwensi logis yang orang Roma Katolikpun tidak akan mau menerimanya!

-AMIN-

Pdt. Budi Asali M.Div.


APOLOGETIKA KRISTEN: TANGGUNG JAWAB SEMUA ANAK TUHAN

Apologetika berasal dari kata Yunani apologia yang berarti berbicara untuk mempertahankan atau memberikan jawaban. Di dalam kitab suci kata ini dipakai dalam konteks 1Petrus 3:15-16:

Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab (apologia) kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.

Jadi, apologetika artinya adalah sebuah studi untuk mempelajari bagaimana melaksanakan pertanggungan jawab, mempertahankan atau memberikan jawaban dari apa yang ia yakini dengan efektif. Lalu apa artinya apabila kata apologetika dikaitkan dengan kata Kristen?

Dari bagian kitab suci (1Pet. 3:15) yang sama, yang umumnya dipakai sebagai dasar, muncul berbagai definisi apologetika Kristen yang dapat kita temukan di dalam buku-buku apologetika. Pertama, definisi apologetika Kristen yang lebih menekankan pada mempertahankan filsafat Kristen, seperti yang diungkapkan oleh Cornelius Van Til, di mana apologetika Kristen merupakan usaha untuk mempertahankan filsafat Kristen dalam menghadapi berbagai bentuk filsafat non-Kristen, atau mempertahankan wawasan dunia Kristen secara keseluruhan, bukan poin-poin religius yang terbagi-bagi, abstrak, dan terisolasi satu dengan yang lain. Oleh karena itu, apologetika melibatkan argumentasi penalaran intelektual yang berkenaan dengan wawasan dunia Kristen. John M. Frame dan Edgar C. Powell membaginya ke dalam tiga bagian, yaitu pembuktian atau penunjukkan, dalam arti memaparkan dasar rasional bagi iman Kristen (1Kor. 15:1-11); pertahanan atau pembelaan, artinya menjawab sanggahan-sanggahan orang tidak percaya terhadap iman Kristen (Flp. 1:7, 16); dan penyingkapan, yaitu menyingkapan kesalahan atau kesalah-pahaman dari pemikiran atau pemahaman orang tidak percaya terhadap kekristenan (Mzm. 14:1, 1Kor. 1:18-2:16). Frame mengatakan bahwa dalam pelaksanaannya, ketiganya tidak berdiri sendiri. Kita tidak dapat melakukan yang satu tanpa melakukan yang lainnya.

Kedua, apologetika Kristen yang dipahami sebagai usaha menyajikan bukti-bukti untuk membuktikan bahwa apa yang dikatakan kitab suci adalah benar. Fakta-fakta dan sejarah banyak berperan dalam pemahaman apologetika Kristen ini, seperti dapat dilihat dalam apologetika Kristen yang dikemukakan oleh Josh McDowell atau Paul E. Little. R.C. Sproul melihat apologetika Kristen ini sebagai usaha untuk menjelaskan kepada orang lain apa yang saya percaya dan mengapa saya mempercayainya. Hal ini dilakukan dengan memberikan argumentasi secara nalar yang disertai penyajian fenomena yang ada di dunia ini, di mana fenomena itu diakui sebagai wilayah netral. Wilayah netral merupakan daerah di mana semua orang bisa mengakui keberadaannya, mengenalinya, dan mengambil kesimpulan yang sama tentang fenomena tersebut, misalnya bunga mawar. Semua orang yang mengakui keberadaannya, bisa mengenalinya dan mengambil kesimpulan yang sama bahwa tumbuh-tumbuhan itu adalah bunga mawar. Dengan kata lain, melalui dunia dan segala isinya yang dikenali oleh semua orang, Sproul melalui argumentasinya mau membimbing orang-orang kepada siapa dan apa yang diberitakan oleh kitab suci.

Sekarang penulis mengajak pembaca untuk melihat beberapa ayat di Alkitab dan menarik kesimpulan dari ayat-ayat itu. Dari percakapan Tuhan Yesus dengan murid-muridnya di Matius 16:13-28, yaitu tentang isu siapakah Anak Manusia itu. Dalam Matius 16:23 Yesus berkata kepada Petrus, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Tuhan Yesus dengan jelas memberikan indikasi bahwa Ia menghendaki sebutan atau status-Nya dipahami berdasarkan perspektif ilahi, bukan manusia (lih. juga 1Kor. 1:18-2:16).

Matius 22:23-33 menyatakan bahwa orang-orang Saduki itu sesat oleh karena mereka tidak mengerti kitab suci, maupun kuasa Allah. Di Yohanes 8:37-47, Tuhan Yesus mengajarkan dengan jelas bahwa relasi yang benar akan diikuti oleh kehidupan atau peiilaku yang sesuai dengan relasi tersebut: “Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham” (ay. 39). Lihat juga penjelasan Tuhan Yesus tentang pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik (Mat. 7:15-20), serta uraian Yakobus tentang iman yang menyelamatkan akan disertai dengan perbuatan yang selaras dengan iman tersebut, sebagai konsekuensi logis dari orang yang diberi anugerah iman yang menyelamatkan itu (Yak. 2:14-26). Petrus mengingatkan dalam suratnya bahwa setiap orang percaya harus selalu siap memberikan pertanggungan jawab kepada siapa saja, baik melalui kehidupannya maupun perkataannya (1Pet. 3:15-17). Dari ayat-ayat di atas, penulis menyimpulkan bahwa apologetika Kristen: Pertama, harus dilakukan oleh setiap orang Kristen yang seharusnya mengasihi Allah dan berusaha untuk hidup berkenan kepada Allah; kedua, apologetika Kristen adalah studi tentang usaha orang Kristen yang bermaksud untuk meyakinkan, menjelaskan, memberikan argumentasi dari perspektif ilahi tentang iman kristiani.

APOLOGETIKA KRISTEN MENUNTUT KEPROFESIONALAN

Jadi, jelas bahwa tugas berapologetika adalah tugas setiap orang Kristen. Firman Tuhan dengan tegas mengatakan bahwa setiap orang percaya harus selalu siap untuk berapologetika kepada siapa saja dan dalam situasi serta kondisi yang bagaimanapun juga. Ini merupakan perintah Tuhan yang harus dilaksanakan oleh orang Kristen di mana saja. Ini bukan suatu alternatif atau pilihan yang boleh dikerjakan atau tidak kerjakan,terserah dia.

Kalau begitu, apa artinya 1Petrus 3:15-17 bagi setiap orang Kristen? Artinya, kosa kata “orang Kristen Awam,” harus dihapuskan dari benak setiap orang Kristen. Apa arti dari kata “awam”? Kata awam dapat diartikan “biasa,” “bukan profesional,” atau “bukan ahli.” Jadi, kalau saya katakan bahwa saya awam dalam soal kedokteran, itu berarti saya bukan ahli dalam bidang itu. Konsekuensinya, jangan harapkan informasi medis yang patut dipercayai keabsahannya dari saya, atau bahkan harus maklumi kalau saya sama sekali tidak dapat memberikan informasi soal medis kepada siapa pun. Oleh karena saya bukan seorang dokter. Saya awam dalam bidang kedokteran. Sekarang pertanyaannya, apakah orang Kristen, siapapun dia, pendeta/penginjil atau bukan, majelis atau bukan, pengurus komisi atau bukan, boleh mengatakan bahwa ia awam dalam kekristenan?

Pada saat seseorang mengatakan bahwa ia mau menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamat pribadinya. Ada tiga unsur yang terlibat dalam penerimaan itu: pengetahuan tentang Tuhan Yesus, persetujuan intelektual berkaitan dengan pengetahuan itu, dan keyakinan atau kepercayaan terhadap pengetahuan tersebut yang tentu saja harus disertai dengan penerapan dari apa yang telah dipercayainya. Seseorang tidak dapat mempercayai sesuatu atau siapa pun, kalau hal itu belum pernah ada dalam pengetahuannya. Dengan kata lain, ia tidak akan membicarakan atau memikirkan sesuatu yang tidak pernah ada di dalam pikirannya. Setelah pengetahuan itu masuk dalam pikirannya, maka baru ia akan menganalisisnya dan mengolahnya. Apabila menurut pikirannya hal itu logis atau absah berdasarkan hukum berpikir yang berlaku, maka akal budinya akan menyetujuinya. Tahap berikutnya adalah ia akan menerima atau mempercayai apa yang telah ia ketahui dan analisis sebelumnya.

Firman Tuhan jelas tidak mengajarkan iman yang abstrak atau iman yang membabi buta. Roma 10:14 menyatakan:

Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?

Jika membaca surat-surat Paulus, maka dapat dilihat berulang-ulang kata-kata seperti: “aku tahu …” (Flp. 1:19), atau “kami tahu …” (2Kor. 5:1,11), atau “tidak tahukah kamu …” (1Kor. 9:24) muncul. Hal itu menunjukkan bahwa ada informasi yang masuk dalam seseorang, sebelum ia dituntut apa-apa dari pengetahuan itu.

Maka, pada saat seseorang menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat pribadinya, paling tidak ia memiliki informasi yang cukup untuk meyakinkan orang itu bahwa Ia adalah Juru Selamat dan mengapa ia memerlukan-Nya sebagai Juru Selamat dalam hidupnya. Tentu tuntutan bagi orang percaya tidak sampai disitu. la harus terus bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus dan hidup dalam pengenalan itu. Dengan kata lain, anugerah yang kita terima berdasarkan karya penebusan-Nya bukan hanya sekadar untuk merubah status seseorang yang tadinya orang berdosa menjadi orang kudus, atau yang tadinya musuh Allah, sekarang menjadi anak-Nya. Ia dituntut pula untuk hidup sesuai dengan statusnya yang baru itu. Ada aturan main ilahi yang harus diterapkan dalam kehidupan baru yang ia miliki di dalam Kristus. Hidup dan mati sekarang adalah hidup dan mati untuk Tuhan.

Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup (Rm. 14:7-9).

Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka (2Kor. 5:15).

Bagaimana orang percaya dapat hidup berdasarkan aturan main ilahi atau perspektif Tuhan, apabila ia tidak tahu mengenai hal itu. Itu berarti, setiap orang percaya dituntut untuk betul-betul mempelajari tentang siapa dan apa yang dipercayainya. Setiap orang percaya harus menjadi murid firman Tuhan yang serius. Membaca dan meneliti firman Tuhan dengan sungguh-sungguh, serta berusaha untuk menerapkannya dalam setiap aspek kehidupan yang Tuhan percayakan kepadanya. Hal ini tidak dapat terwujud dalam satu malam. Pengalaman pelayanan saya menunjukkan bahwa tidak sedikit pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh orang percaya pada seorang rohaniwan, dikarenakan ketidaktahuan apa yang tertulis di kitab suci, bukan ketidakmengertian tentang apa yang tertulis di dalamnya.

Ini cukup memprihatinkan. Tetapi yang lebih memprihatinkan lagi adalah apabila ia merasa tidak apa-apa berada dalam keadaan seperti itu. Seorang rohaniwan memang bertanggung-jawab untuk nemperlengkapi orang-orang kudus (Ef. 4:11-16). Namun ayat-ayat itu tidak berarti bahwa rohaniwan adalah “kamus berjalan” bagi orang Kristen, atau, “pembaca” firman Tuhan pada orang Kristen, sehingga yang Kristen tidak perlu membaca dan mempelajari firman Tuhan secara pribadi, karena sewaktu-waktu, kapan saja ia memerlukannya, ia bisa bertanya pada seorang rohaniwan.

Untuk menerapkan 1Petrus 3:15, setiap orang percaya harus nempelajari kitab suci mulai dari Kejadian sampai Wahyu (bukan hanya “ayat-ayat emas”) dengan seksama. Artinya, bukan hanya mengetahui apa si kitab suci, tetapi juga memahaminya dan tahu bagaimana nenerapkannya dalam setiap aspek kehidupannya, sehingga ia benar-benar nemiliki perspektif ilahi atau wawasan kristiani dalam menjalani kehidupan yang masih Tuhan percayakan kepadanya. Setiap orang Kristen harus menjadi orang Kristen profesional, yaitu ahli atau pakar dalam kekristenannya, supaya ia dapat diandalkan oleh Tuhan untuk memberikan pertanggungjawaban kepada siapapun yang memintanya. Ini senada dengan apa yang dikatkan Paulus, “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain…” (Kol. 3:16a).

MENGASIHI TUHAN SEBAGAI TITIK TOLAK DAN DASAR BERAPOLOGETIKA

Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku…. Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku… (Yoh. 14:15,21a).

Pertanyaan yang diajukan sebanyak tiga kali oleh Tuhan Yesus kepada Petrus setelah penyangkalannya adalah: “Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh. 21:15, 16, 17). Kenapa itu yang ditanyakan oleh Tuhan Yesus, kenapa bukan “Apakah sekarang kamu sudah mengerti siapa Aku sebenarnya?” atau “Apakah kamu sekarang sudah sadar?” Rupanya di sini Tuhan Yesus mengajarkan satu dasar sebagai titik tolak yang sangat penting bagi seorang murid seperti Petrus. Pertanyaan itu berkaitan erat dengan pernyataan-pernyataan-Nya ini: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat. 16:24) dan bukankah hukum yang terutama adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Mat. 22:37).

Pertobatan diawali dengan kesadaran bahwa “saya adalah orang berdosa dan saya memerlukan Kristus sebagai juru selamat saya.” Pemuridan bertitik tolak dari “saya mengasihi Tuhan.” Hal ini penting, karena Tuhan Yesus berkata, “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat. 6:21). Dari bagian firman Tuhan yang sudah dikutip di atas, jelas bahwa la harus selalu menjadi “harta” atau segala-galanya bagi setiap orang percaya. Maka, apabila hati orang percaya sudah melekat pada Tuhan, ia akan selalu siap untuk melakukan apa saja untuk Tuhan.

Setiap orang percaya diperintahkan untuk mengasihi Tuhan, dan ini tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Ia harus mengasihi Tuhan sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Termasuk dalam menjalankan perintah-Nya untuk selalu siap memberikan pertanggungan jawab kepada setiap orang. Oleh karena itu, ia harus mempelajari dan memahami kehendak-Nya. Hal ini tidak bisa terjadi apabila ia tidak pernah mempelajari firman Tuhan yang telah menyatakan kehendak-Nya kepada setiap orang percaya.

Seseorang yang mengasihi Tuhan akan selalu siap untuk melakukan apa saja bagi Dia. Mempelajari firman Tuhan untuk mengenal Dia semakin dalam dan benar, bukan merupakan suatu beban dan penuh dengan keterpaksaan. Melaksanakan firman Tuhan, apa pun resikonya tidak dilihat sebagai suatu pengorbanan, atau dilaksanakan dengan mentalitas orang upahan, karena ia melakukan semua itu hanya untuk satu tujuan, yaitu menyenangkan hati-Nya dan mempermuliakan nama-Nya. Kalau kasih kepada Tuhan secara totalitas sudah ada di dalam hatinya, maka apa yang akan dipaparkan berikut ini menjadi tidak sukar atau merupakan suatu beban. Semua akan dilihat sebagai sesuatu yang memang sewajarnya dijalankan oleh semua anak Tuhan. Seorang anak Tuhan yang hidup sesuai dengan statusnya, tidak berkelebihan, atau di luar batas kewajaran, sebab ini memang sudah sepatutnya dijalani oleh semua anak Tuhan, sebagaimana nasihat Paulus pada orang-orang percaya di Efesus, “Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu” (Ef. 4:1).

APOLOGETIKA KRISTEN DILAKUKAN OLEH ORANG KRISTEN YANG HIDUP UNTUK TUHAN

Petrus mengawali perintah untuk selalu siap sedia memberi pertanggungan jawab kepada setiap orang dengan pernyataan: “Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!” (1Pet. 3:15a), dan mengakhiri perintah itu dengan kalimat: “. . . tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus nenjadi malu karena fitnahan mereka itu” (1Pet. 3:15b-16). Ayat-ayat itu berbicara tentang pola hidup, karakter, perilaku yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang Kristen. Berita yang disampaikan secara verbal harus selaras dengan berita yang disampaikan secara nonverbal.

Perintah itu dilaksanakan untuk kemuliaan Tuhan, supaya orang yang diajak bicara, juga pada akhirnya dapat mempermuliakan Tuhan dalam hidupnya. Apabila itu dilaksanakan untuk kemuliaan-Nya, maka tidak boleh ada apa pun yang akan mencemarinya. Orang percaya berapologetika bukan untuk membuat orang lain malu, marah, bungkam seribu bahasa, atau kalah dalam berargumentasi. Bukan pula untuk mendemonstrasikan kelihaian, kecakapan dan kefasihan lidah dalam berargumentasi. Tidak ada kemuliaan Tuhan yang akan terpancar dari semua itu. Pada dasarnya, berita yang disampaikan adalah kasih Tuhan kepadanya dan kepada orang yang sedang diajak bicara. Oleh karena itu, jangan sampai kasih Tuhan tidak dirasakan sama sekali atau tidak terlihat dalam proses penyampaiannya.

Memberikan pertanggungan jawab kepada setiap orang tidak selalu harus dalam bentuk percakapan. Pola hidup, pikiran, perilaku, perkataan, serta karakter orang yang berapologetika harus selalu siap menjawab setiap pertanyaan dari orang-orang yang berada dalam kehidupannya, mulai dari rumah, tempat bekerja, sekolah, gereja, tempat bermain, tempat bersosialisasi, di mana saja ia berada. Dengan kata lain, ia harus menjadi garam dan terang di mana pun kita berada (Mat. 5:13-16; 2Kor. 3:2).

Seorang penginjil Irlandia Gypsy Smith pernah mengatakan, “Ada lima Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas, Yohanes dan orang Kristen, dan sebagian orang tidak akan pernah mendengar empat Injil yang pertama.” Dengan kata lain, apologetika seringkali dilihat terlebih dahulu, sebelum didengar. Oleh karena itu, kitab suci memberikan gambaran yang jelas tentang seorang gembala yang merupakan seorang apologis: seseorang yang terlebih dahulu telah mengkhususkan hatinya bagi Kristus dan yang kemudian memberikan jawaban kepada penanya dan melakukannya dengan lembut dan hormat.

PERTANYAAN REFLEKTIF BAGI SETIAP ORANG KRISTEN

  1. Setelah membaca tulisan ini, bagaimana saudara melihat diri sendiri sekarang ini? Apakah saudara termasuk orang Kristen profesional, atau awam?
  2. Apakah Tuhan bisa mengandalkan saudara untuk siap memberikan pertanggungan jawab (baik melalui perkataan maupun perbuatan) dalam segala waktu, kepada setiap orang pada saat ini?
  3. Selama ini apakah yang menjadi penghalang utama bagi saudara untuk hidup dan mati bagi Tuhan? Apa langkah selanjutnya yang akan saudara ambil untuk mengatasi hal itu, dalam rangka mewujudkan kehendak Tuhan untuk hidup dan mati bagi-Nya?

SARAN-SARAN BAGI ORANG KRISTEN YANG BERNIAT HIDUP BAGI TUHAN

  1. Apabila saudara belum pernah membaca kitab suci secara keseluruhan, mulailah sekarang. Tentukan waktu (pagi, siang, atau malam) yang akan saudara sediakan untuk membaca Alkitab setiap hari. Waktu yang saudara pilih jangan merupakan sisa waktu atau waktu yang tersisa dari kepadatan jadwal saudara. Pilihlah waktu yang berdasarkan pertimbangan saudara merupakan waktu yang terbaik, di mana saudara bisa konsentrasi penuh untuk bersama Tuhan dan firman-Nya.
  2. Tentukan kitab apa dan berapa pasal yang akan Saudara baca setiap harinya (misalnya 4 pasal, mulai dari Kitab Kejadian).
  3. Buatlah catatan tentang topik atau garis besar peristiwa yang saudara baca hari itu. Apa artinya ayat-ayat itu bagi setiap anak Than? Saudara harus selalu memiliki hati yang terbuka untuk siap dibentuk dan melakukan apa saja yang Tuhan mau.
  4. Catatlah hal-hal yang tidak saudara pahami. Tanyakanlah kepada saudara seiman atau rohaniwan. Atau saudara bisa mencari jawabannya di buku-buku rohani yang membahas pertanyaan saudara. Jawaban yang saudara terima dari siapa pun harus selalu ditinjau kembali berdasarkan firman Tuhan secara keseluruhan. Oleh karena itu, pemahaman dasar secara keseluruhan tentang apa yang diajarkan dan tidak diajarkan oleh kitab suci akan sangat menolong untuk memahami ayat-ayat yang sulit dipahami.
  5. Mulailah bersikap kritis, dalam arti saudara betul-betul ingin memahami siapa dan apa yang saudara percayai dan hidup berdasarkan pemahaman itu. Apabila ada yang saudara tidak mengerti pada waktu membaca Pengakuan Iman Rasuli, menaikkan Doa Bapa Kami atau mendengarkan khotbah/ceramah, berusahalah untuk mencari tahu. Juga, selalu meninjau apa yang saudara dengar dan baca berdasarkan kitab suci.

Diambil dan diedit seperlunya dari:

Judul Buku : Veritas Volume 6. Nomor 2 (Oktober 2005)
Judul Artikel : Apologetika Kristen: Tanggung Jawab Semua Anak Tuhan
Penulis : Rahmiati Tanudjaja
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara
Halaman : 229-238