American Puritan

Directions how to conduct yourself in your Christian course

(A letter by Jonathan Edwards, addressed to a young lady in the year 1741)

My dear young friend,

As you desired me to send you, in writing, some directions how to conduct yourself in your Christian course, I would now answer your request. The sweet remembrance of the great things I have lately seen at your church, inclines me to do anything in my power, to contribute to the spiritual joy and prosperity of God’s people there.

1. I would advise you to keep up as great an effort and earnestness in religion, as if you knew yourself to be in a state of nature, and were seeking conversion. We advise people under conviction, to be earnest and violent for the kingdom of heaven; but when they have attained to conversion, they ought not to be the less watchful, laborious, and earnest, in the whole work of religion, but the more so; for they are under infinitely greater obligations. For lack of this, many people, in a few months after their conversion, have begun to lose their sweet and lively sense of spiritual things, and to grow cold and dark, and have ‘pierced themselves through with many sorrows;’ whereas, if they had done as the apostle did, (Philippians 3:12-14) their path would have been ‘as the shining light, which shines more and more unto the perfect day.’

2. Do not leave off seeking, striving, and praying for the very same things that we exhort unconverted persons to strive for, and a degree of which you have had already in conversion. Pray that your eyes may be opened, that you may receive sight, that you may know yourself, and be brought to God’s footstool; and that you may see the glory of God and Christ, and have the love of Christ shed abroad in your heart. Those who have most of these things, have need still to pray for them; for there is so much blindness and hardness, pride and corruption remaining, that they still need to have that work of God wrought upon them, further to enlighten and enliven them, that shall be bringing them more and more out of darkness into God’s marvelous light, and be a kind of new conversion and resurrection from the dead. There are very few requests that are proper for an impenitent man, that are not also, in some sense, proper for the godly.

(more…)


Jonathan Edwards dan Afeksi yang Suci

Dalam tulisannya, Justification by Faith Alone, Jonathan Edwards, seorang theolog Amerika pada abad ke-18, mengemukakan bahwa seseorang dibenarkan jika dia dinyatakan oleh Allah sebagai orang yang bebas dari kesalahan dosa, bebas dari hukuman, dan memiliki kebenaran sehingga dia layak diberikan hidup yang kekal.[1] Jadi menurut Edwards, pembenaran itu terjadi karena Allah menyatakannya. Tetapi setelah dibenarkan, lalu apa? Apakah konsekuensi pembenaran ini hanyalah (mmm… memang bisa ya disebut “hanya”) status yang dibenarkan saja? Tentu tidak. Edwards juga mengatakan bahwa pembenaran mesti selalu dikaitkan dengan “pemberian kemuliaan sebagai konsekuensi yang pantas atas keadaan benar tersebut.”[2] Pemuliaan ini maksudnya apa? Pemuliaan ini hanya dapat terjadi karena kita, orang-orang yang dibenarkan, berada di dalam Kristus oleh iman kita dan mendapatkan segala keuntungan yang didapatkan melalui kesatuan ini.[3] Jadi, baik pembenaran maupun kemuliaan dari orang yang dibenarkan merupakan bagian-bagian dari konsep “justification by faith”.

Justification dan Afeksi

Selain semua konsekuensi yang diberikan di dalam pembenaran yang telah dibahas di atas, ada satu lagi konsekuensi dari pembenaran kita, yaitu afeksi. Apakah afeksi itu? Edwards memberikan pengertian mengenai afeksi sebagai sesuatu yang diberikan Tuhan untuk menjadi bagian dari jiwa kita. Edwards mengatakan:

“God has endued the soul with two faculties: one is that by which it is capable of perception and speculation, or by which it discerns, and views, and judges of things; which is called the understanding. The other faculty is that by which the soul does not merely perceive and view things, but is some way inclined with respect to the things it views or considers; either is inclined to them, or is disinclined and averse from them… This faculty is called by various names; it is sometimes called the inclination… will… often called the heart.”[4]


Lalu afeksi? Afeksi merupakan… these more vigorous and sensible exercise of this faculty (heart).[5] Afeksi merupakan bentuk kehendak yang dilakukan… in the liveliness and sensibleness of exercise.[6]
Dengan demikian, bagi Edwards pertobatan sejati harus berdampak pada afeksi yang suci. Afeksi yang suci adalah afeksi sejati yang ada dalam diri seseorang, yang berasal dari perubahan natur orang tersebut oleh karya Roh Kudus. Afeksi yang disucikan juga adalah tanda mutlak seseorang sudah dibenarkan. Tanpa perubahan natur yang dikerjakan oleh Roh Kudus ini seseorang tidak sanggup memiliki afeksi sejati, dan tanpa afeksi sejati ini, maka kehidupan beragama yang dijalankan hanyalah kehidupan “main drama” yang palsu. Edwards mengatakan:

“If we be not in good earnest in religion, and our wills and inclinations be not strongly exercised, we are nothing. The things of religion are so great, that there can be no suitableness in the exercises of our hearts to their nature and importance, unless they be lively and powerful.  In nothing is vigour in the actings of our inclinations so requisite as in religion; and in nothing is lukewarmness is so odious.”[7]

Edwards mengatakan bahwa baik gairah yang suci, kerinduan akan Allah, lapar dan haus akan Allah, dan kesucian hidup, merupakan bagian yang penting dalam agama sejati.[8] Ini merupakan sifat-sifat yang muncul ketika seseorang diberikan natur baru dan adalah sifat-sifat yang ada dalam afeksi yang suci. Edwards memberikan contoh seseorang dengan natur afeksi sejati ini di dalam diri Daud. Dia mengatakan bahwa:

“Those holy songs of his he has there left us are nothing else but the expressions and breathings of devout and holy affections; such as an humble and fervent love to God, admiration of His glorious perfections and wonderful works, earnest desires, thirstings, and pantings of soul after God, delight and joy in God, a sweet and melting gratitude to God for His great goodness, a holy exultation and triumph of soul in the favour, sufficiency, and faithfulness of God, his love to and delight in the saints, the excellent of the earth, his great delight in the Word and ordinances of God, his grief for his own and others’ sins, and his fervent zeal for God and against the enemies of God and his church.”[9]


Semua afeksi ini merupakan sesuatu yang tidak mungkin dimiliki oleh manusia yang belum diubahkan. Kok tidak mungkin? Karena setiap karakteristik tersebut merupakan karakteristik yang tidak berasal dari dunia ini. Anugerah Tuhan yang mempertobatkan telah memberikan natur baru yang tidak mungkin diusahakan oleh orang berdosa. Edwards mengatakan:

“Hence, therefore, the religion of heaven, consisting chiefly in holy love and joy, consists very much in affection; and therefore, undoubtedly, true religion consists very much in affection… if we would learn what true religion is, we must go where there is true religion, and nothing but true religion, and in its highest perfection, without any defect or mixture. All who are truly religious are not of this world; they are strangers here and belong to heaven; they are born from above… that principle of true religion which is in them is a communication of the religion of heaven; their grace is the dawn of glory; and God fits them for that world by conforming them to it.”[10]

Maka natur baru ini merupakan natur yang dipersiapkan Tuhan untuk suatu tempat di mana natur itu akan cocok. Tempat itu bukanlah dunia ini, melainkan dunia yang akan datang. Sebagaimana pemilik natur ini disebut orang-orang yang lahir dari atas, maka di atas itu pula tempat di mana natur itu mendapatkan tempatnya. Maka afeksi yang diubahkan Tuhan merupakan sesuatu yang tidak mungkin lepas dari karya pembenaran Tuhan. Edwards mengatakan pada kutipan di atas bahwa orang-orang ini dilahirkan dari atas.

Afeksi dan Union with Christ

Sekarang kita akan masuk lebih dalam untuk mengerti konsep afeksi ini. Afeksi sejati yang layak diberikan kepada Tuhan adalah afeksi sejati sebagaimana yang dimiliki Kristus. Tidak mungkin lebih dan tidak boleh kurang. Seorang yang mendalami Edwards yaitu Dr. Samuel Logan mengatakan bahwa dalam mempelajari Edwards dan kebangunan rohani Northampton, salah satu yang terpenting adalah mempelajari bagaimana Edwards mengkhotbahkan khotbah-khotbah yang memberikan penghormatan kepada Kristus. Suatu khotbah yang dihargai oleh Roh Kudus, bersifat doktrinal, tetapi sekaligus juga affectionate. Intinya adalah khotbah yang memalingkan wajah pendengar kepada kemuliaan Allah dalam Anak-Nya, Yesus Kristus.[11] Afeksi sejati muncul dari hal ini. Edwards mengatakan:

“How they can sit and hear of the infinite height, and depth, and length, and breadth of the love of God in Christ Jesus, of His giving His infinitely dear Son, to be offered up a sacrifice for the sins of men, and of the unparalleled love of the innocent, and holy, and tender Lamb of God, manifested in His dying agonies, His blood sweat, His loud and bitter cries, and bleeding heart, and all this for enemies, to redeem them from deserved, eternal burnings, and to bring unspeakable and everlasting joy and glory – and yet be cold and heavy, insensible and regardless! Where are the exercises of our affections proper, if not here?”[12]

Kemurnian afeksi sedemikian merupakan sesuatu yang dianugerahkan dari atas. Kemurnian afeksi ini juga menjadi sesuatu yang membedakan antara afeksi rohani sejati dengan afeksi yang palsu. Tanda pertama dan yang paling penting adalah afeksi terhadap berita Injil. Di sinilah permulaan pertobatan seseorang dan permulaan dimulainya proses penyucian yang menumbuhkan afeksi tersebut secara indah. Pembenaran ditandai dengan adanya afeksi yang diberikan secara limpah kepada Yesus Kristus dan kasih-Nya yang berkorban. Afeksi yang hanya mungkin muncul karena pekerjaan Roh Kudus. Amy Pauw, seorang sarjana Edwards, mengatakan bahwa bagi Edwards,

“…the saving knowledge conveyed to the saints is not a bare “notional” knowledge of the things of religion: it is truly “Christ’s being in the creature in the name, idea, or knowledge of God being in them.”[13]
Dengan demikian, afeksi kepada Kristus menjadi awal dan akan terus bertumbuh hingga pada akhirnya kita memiliki afeksi Kristus sendiri. Afeksi yang mencintai Tuhan, mencintai kesucian, dan merindukan kebenaran dan kemuliaan Allah. Maka penyucian hidup dan afeksi kita hanya dapat terjadi karena Kristus berada di dalam kita dan kita di dalam Dia.[14]

Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa afeksi yang palsu adalah afeksi yang tidak memiliki Kristus. Afeksi yang tanpa Kristus, tidak diarahkan kepada Kristus, dan tidak menyerupai afeksi-Nya dalam diri kita. Karakteristik afeksi palsu menurut Edwards berpusat pada afeksi yang berfokus kepada diri dan pengalaman diri sendiri, bukan kepada Kristus. Edwards mengatakan, “What they are principally taken and elevated with is not the glory of God, or beauty of Christ, but the beauty of their experiences,[15] dan, “They take more comfort in their discoveries than in Christ discovered.”[16] Afeksi rohani merupakan sesuatu yang menipu dan mungkin lebih menunjukkan diri ketimbang afeksi sejati. Edwards menunjuk kepada mental pamer dari orang Farisi.[17] Ini menunjukkan bagaimana Edwards yang sebelum tahun 1740 adalah pembela bagi afeksi rohani, sekarang dengan lebih bijaksana menunjukkan bahwa afeksi yang meluap-luap belum tentu keluar dari hati yang telah diperbarui dan telah memiliki Kristus. Pada masa di mana pengalaman rohani dan emosi berlebihan mulai mewarnai keadaan gereja, pengajaran Edwards ini menjadi semacam pengerem ekses-ekses yang sebenarnya justru berakibat negatif bagi kelanjutan kebangunan rohani.[18]

Afeksi dan Constant Need of Repentance

Hal yang berikut adalah afeksi sejati dan kesucian hidup. Helen Westra mengatakan bahwa dalam konsep Edwards, Allah bekerja dengan terlebih dahulu menyatakan apa penghukuman-Nya baru kemudian menyatakan apa itu anugerah-Nya.[19] Dengan demikian setiap orang yang mengalami ketakutan akan penghukuman Allah lalu berbalik kepada Kristus dan diselamatkan akan terus-menerus mengalami kesadaran akan efek dosa dan betapa Allah membenci dosa. Maka Edwards mengatakan bahwa Allah menginginkan manusia untuk mengalami kepastian keselamatan bukan dengan menilai diri tetapi dengan tindakan.[20] Tindakan yang terus berjuang untuk hidup sebagaimana Tuhan mau kita hidup. Menyucikan seluruh aspek hidup hanya untuk Kristus. Edwards juga menganggap setiap kali seorang Kristen jatuh dalam dosa, tidak seharusnya dia memiliki ketenangan. Seharusnya dia merasa takut dan seharusnya juga dia mengalami keragu-raguan akan keselamatannya.[21] Oops... Bukankah ini bertentangan dengan jaminan keselamatan kekal? Tidak. Kenapa tidak? Karena inilah cara Allah bekerja. Menurut Edwards, Allah justru memberikan kegoncangan kepada orang pilihan-Nya yang sedang berada di dalam dosa. Inilah pengertian constant need of repentance dari Edwards. Setiap kali seseorang yang sudah dibenarkan berbuat dosa, dia akan kembali lagi mengingat kegentaran akibat murka Tuhan, merasa gentar, bahkan ragu-ragu akan statusnya, tetapi kemudian berada dalam sukacita dan comfort dari pengampunan dan kasih setia Tuhan.

Pertumbuhan Spiritual Sejati

Edwards tidak melihat jaminan keselamatan ada pada keyakinan diri, melainkan pada bagaimana Roh terus bekerja memperbarui seseorang yang telah berada dalam Kristus. Itulah yang menjadi tanda. Dan Edwards juga mengingatkan bahwa adalah kesalahan untuk memiliki kepastian saat kita berdosa, karena Roh yang sejati justru akan menggerakkan kita untuk tidak tenang dan bertobat. Maka di sini secara paradoks keragu-raguan dapat menjadi petunjuk akan kehadiran Roh Kudus dalam diri kita.

Pemisahan antara pembenaran, kesucian, dan afeksi sejati merupakan sesuatu yang dapat mengakibatkan seseorang gagal melihat pekerjaan Tuhan, menyatakan kebenaran dan kesucian-Nya. Dalam kitab Imamat Tuhan mengatakan bahwa Dia menyatakan kekudusan-Nya kepada orang yang karib dengan Dia.[22] Karena itu Edwards mengajarkan kepada kita untuk memiliki kepastian keselamatan pada makin terkonfirmasinya panggilan kita untuk hidup suci bagi Tuhan. Memang Tuhan memberikan kepastian keselamatan itu, tetapi dengan melepaskan janji keselamatan ini dengan kekudusan, maka anugerah Tuhan yang mulia itu akan menjadi murah. Sebagaimana dikatakan oleh Dietrich Bonhoeffer, “Kalau anugerah itu “dirampok” dari divine character-nya, maka anugerah itu akan menjadi cheap.”[23] Dan sebagaimana dikatakan Edwards, “A true love to God must begin with a delight in His holiness, and not with a delight in any other attribute; for no other attribute is truly lovely without this.”[24]

Jimmy Pardede
Gembala Sidang GRII Malang


[1] Jonathan Edwards, “Justification By Faith Alone,” dari The Works of Jonathan Edwards, 2 Vol., Vol. 1. Massachusetts: Hendrickson, Cetakan Kelima: 2005. Hlm. 623.
[2] Ibid.
[3] Ibid.
[4] Jonathan Edwards, Religious Affections. Hlm. 24.
[5] Ibid. Hlm. 25.
[6] Ibid.
[7] Religious Affections . Hlm. 59.
[8] Ibid. Hlm. 32.
[9] Ibid. Hlm. 37.
[10] Ibid. Hlm. 43.
[11] Samuel Logan, “Jonathan Edwards and the 1734-35 Northampton Revival,” dari God’s Fiery Challenger For Our Time: Festschrift in Honor of Stephen Tong. Benyamin Intan, ed. Jakarta: Reformed Center for Religion and Society, 2007. Hlm. 265.
[12] Religious Affections . Hlm. 52.
[13] Amy Plantinga Pauw, The Supreme Harmony of All: The Trinitarian Theology of Jonathan Edwards. Grand Rapids: Eerdmans, 2002. Hlm. 124.
[14] Religious Affections. Hlm. 128.
[15] Ibid. Hlm. 177.
[16] Ibid.
[17] Ibid. Hlm. 64.
[18] George Marsden, Jonathan Edwards: A Life. New Haven: Yale University Press, 2003. Hlm. 284.
[19] Helen Westra, “Divinity’s Design: Edwards and the History of the Work of Revival,” dari Edwards in Our Time, Sang Hyun Lee dan Allen C. Guelzo, ed. Grand Rapids: Eerdmans, 1999. Hlm. 139.
[20] Religious Affections. Hlm. 123.
[21] Ibid. Hlm. 122.
[22] Band. Imamat 10:3.
[23]Dietrich Bonhoeffer, Ethics, Eberhard Bethge, ed. New York: Collier Books, 1986. Hlm. 125.
[24] Religious Affections. Hlm. 183.


Mediator bagi True Virtue dalam Pemikiran Jonathan Edwards

Menikmati Tuhan

Jonathan Edwards (1703-1758), seorang pengkhotbah kebangunan (revivalist) yang juga adalah theolog, gembala, dan pemikir, merupakan seorang hamba Tuhan dengan pemikiran yang sangat penting bagi kita. Salah satu konsep penting yang dia kemukakan adalah pembahasan mengenai “repetisi kemuliaan Allah.” Pembahasan filosofisnya mengenai keberadaan dunia ini dirangkum dalam satu kalimat, yaitu untuk menerima dan memancarkan kemuliaan Allah. Tetapi apakah keunikan dari hal ini? Bukankah ini sama dengan kalimat dalam katekismus singkat Westminster yang menyatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia selamanya? Memang benar, tetapi Edwards memiliki pengertian yang lebih mendalam mengenai apa yang dimaksud dengan “menikmati Tuhan selamanya.”

Sebenarnya seperti apakah menikmati Tuhan itu? Apakah dengan beriman kepada-Nya dan akhirnya mendapat kekayaan, atau kesehatan, atau kedudukan yang baik di kantor, atau keuntungan dalam usaha yang dijalankan, atau kehidupan yang tenang dan lancar? Tentu tidak. Orang Reformed akan langsung berkhotbah menentang dengan keras konsep ini. Apa sebenarnya menikmati Tuhan? Menurut Edwards, menikmati Tuhan itu tidak mungkin dapat dilepaskan dengan berbagian di dalam Dia. Seorang ahli pemikiran Edwards bernama Sang Hyun Lee mengatakan bahwa Edwards memiliki konsep filosofis yang menjadi alternatif bagi konsep filosofis zamannya dan yang ternyata masih relevan bagi perdebatan filosofis zaman ini. Edwards mengatakan bahwa dunia ini merupakan repetisi (pengulangan kembali) dari Allah. Hah??! Tunggu, jangan kaget dulu… Edwards masih tetap theolog Reformed. Dia pasti tidak menganggap alam sebagai bagian dari Allah (panentheisme) atau menganggap alam itu identik dengan Allah (pantheisme). Edwards memiliki konsep ciptaan sebagai “emanasi kemuliaan Allah.” Berarti yang direpetisi dalam dunia ciptaan ini adalah kemuliaan Allah (God’s glory), dan bukan diri Allah (God’s being). Sudah tenang? Oke, kita lanjutkan…

Tetapi, bagaimanakah ciptaan ini merepetisi kemuliaan Allah? Edwards mengatakan bahwa setiap apa yang Allah lakukan adalah untuk kemuliaan nama-Nya. Bahkan tujuan seluruh penciptaan ini adalah untuk kemuliaan-Nya. Mari kita renungkan hal ini sebentar. Ev. Yadi S. Lima, dalam sebuah sesi di NRETC, mengatakan bahwa kita ini hanya salah satu manusia di antara 6 milyar manusia di bumi ini, dan masalah kita pun hanyalah salah satu masalah di antara 6 milyar masalah manusia lain yang ada di bumi ini. Jika demikian, mengapa masalah kita harus menjadi masalah paling penting yang semua orang harus perhatikan? Juga mengapa cita-cita kita harus menjadi sesuatu yang sangat penting dan seolah-olah seluruh dunia harus memperhatikannya? Apalagi kalau kita berpikir bahwa Tuhan harus memberikan fokus karya-Nya sesuai dengan kehendak kita… Kita ini hanya salah satu dari milyaran manusia, hak apakah yang kita miliki untuk menuntut Allah untuk mengikuti rencana kita? Karena itu tidak ada seorang pun yang berhak mengubah rencana Allah atas seluruh ciptaan, atas seluruh manusia, dan atas kehidupan setiap pribadi manusia di bumi ini. Allah menetapkan bahwa kemuliaan-Nya menjadi tujuan penciptaan. Ada yang mau protes? Kalau ya, tolong diingat, signifikansi suara Anda hanya seperenam milyar saja. Edwards mengatakan bahwa tidak ada hal yang lain dapat menjadi seindah dan semulia kemuliaan Allah, maka secara logis tidak ada hal yang lain yang pantas untuk menggantikan kemuliaan Allah sebagai tujuan seluruh ciptaan ini. Tetapi, Edwards memiliki konsep yang lebih kompleks dari sekadar merumuskan tujuan. Edwards juga memaparkan bagaimana ciptaan ini dapat memuliakan Allah. Bagi Edwards, sumber kemuliaan itu tidak mungkin berasal dari sumber lain selain Allah. Dengan demikian, maka Allah sendiri adalah Sumber dari segala hal yang baik yang ada. Kemuliaan Allah menjadi sumber bagi segala kemuliaan yang terpancar dalam ciptaan ini. Maka kemuliaan Allah ini jugalah yang direpetisi dalam ciptaan, baik alam (wahyu umum yang menyatakan keagungan Allah) maupun manusia (reflektor kemuliaan Allah sebagai person yang diciptakan oleh Allah). Maka Allah memberikan pancaran kemuliaan-Nya untuk dimiliki oleh ciptaan dan dipancarkan oleh ciptaan. Pancaran kemuliaan inilah yang menyatakan kemuliaan bagi nama Allah dan yang bersumber dari kemuliaan kekal yang dimiliki Allah.

Welcome to the Real World

Dari pengertian di atas kita belajar bahwa seluruh ciptaan ini merupakan sesuatu yang diciptakan Allah untuk merepetisi kemuliaan-Nya. Demikan juga manusia seharusnya merepetisi kemuliaan Allah dengan seluruh keberadaan Diri-Nya. Edwards melihat keindahan sejati dalam diri manusia sebagai keindahan moral, rasio, maupun afeksi. Kemuliaan Allah direpetisi dalam diri manusia dalam bentuk keanggunan moralnya, rasionya, maupun dalam cinta kasih yang dia miliki kepada Allah dan sesama. Tetapi, entah itu moralitas, ataupun rasio, ataupun afeksi, semuanya hanya dapat berkenan kepada Allah di dalam kekudusan Allah. Edwards mengatakan bahwa seluruh keanggunan dan keindahan ini menjadi tidak berguna tanpa kekudusan Allah. Dengan demikian, maka setelah manusia berdosa dia tidak lagi menjadi reflektor kemuliaan Allah. Segala sesuatu yang dimiliki manusia menjadi tidak berguna bila berada di luar kesucian Allah.

Apakah keadaan manusia dalam dunia saat ini terlihat sebagai repetisi kemuliaan Allah? Ternyata tidak. Jangankan menyatakan kemuliaan Allah, manusia bahkan memancarkan permusuhan dan penghinaannya kepada Allah. Jangankan menjalankan semua kemampuan untuk bertindak moral ataupun menggunakan rasio sebagai bentuk repetisi kemuliaan Allah, manusia bahkan menjadi terbiasa dengan kerusakan moral yang ada. Jangankan mencintai Allah dan menyembah Dia sebagaimana seharusnya, manusia malah menyatakan hidup yang membenci Allah dan mengabaikan Dia dari setiap aspek kehidupannya. Keindahan kekudusan Tuhan yang menjadi alasan bagi setiap sisi kehidupan manusia untuk dapat menjadi indah malah diabaikan dan dianggap sampah. Jonathan Edwards mengatakan bahwa Tuhan memberikan afeksi kepada manusia untuk melayani Tuhan dengan bersemangat, tetapi manusia mengarahkan semangatnya untuk hal-hal yang lain. Betapa manusia bergiat, tetapi manusia bergiat untuk hal yang lain dan membangkitkan murka Tuhan. Untuk siapakah seharusnya kita bergiat? Siapakah yang paling layak mendapatkan seluruh semangat dan afeksi kita lebih daripada Tuhan? Tetapi mengapa kita berikan perhatian dan afeksi kita kepada hal-hal lain lebih daripada kepada Tuhan? Kita bersemangat untuk hiburan, pekerjaan, pergaulan, pacar, keluarga, anak, dan ribuan hal lainnya, tetapi kita lesu dan tidak berminat untuk mengenal Allah kita. Alangkah memalukan dan memuakkannya hidup demikian di hadapan Allah.

Melihat keadaan dunia ini sepertinya kita melihat Edwards sebagai seorang kolot yang bermimpi terlalu tinggi. Di manakah repetisi kemuliaan Allah? Apakah di industri film? Apakah di pusat-pusat mode? Apakah di olimpiade atau piala dunia sepakbola? Jika tidak, mengapakah hal-hal yang disebut barusan mendapatkan perhatian hampir seluruh penduduk bumi ini? Ah, malangnya Edwards. Cita-cita terlalu besar tetapi realita hidup begitu membuat frustrasi. Tetapi Edwards sadar akan hal ini. Dia termasuk satu di antara sedikit orang yang menangisi zamannya dan yang berdoa memohon kebangunan. Doanya yang Tuhan kabulkan berupa dua periode kebangunan rohani, yaitu tahun 1734-1735 dan tahun 1740-1742. Untuk apa dia berdoa bagi zamannya kalau zamannya itu merupakan zaman yang menyatakan kemuliaan Allah sebagaimana seharusnya? Mulai dari kerusakan moral, simpang siurnya doktrin, kemunafikan orang-orang beragama yang merasa diri baik, hingga kelesuan dan hilangnya semangat serta kerinduan untuk melayani Tuhan merupakan ciri-ciri dari zamannya dan kota tempat dia melayani.

Afeksi Sejati

Pengertian Edwards akan kerusakan manusia yang dicerminkan oleh zamannya, yang digabungkan dengan pengertiannya akan tujuan dari ciptaan ini mendorong Edwards untuk memahami pentingnya posisi Kristus sebagai Penebus manusia berdosa. Edwards, sebagaimana juga Calvin, melihat keselamatan sebagai suatu keadaan berada di dalam Kristus dan memperoleh segala benefit dari keadaan tersebut. Jikalau Calvin menyatakan ini dalam Institutes, maka Edwards banyak membahas hal ini dalam Religious Affections. Religious Affections ini adalah tulisan yang dikumpulkan dari khotbah-khotbah Edwards untuk menyeimbangkan pengertian mengenai afeksi sejati. Afeksi, bagi Edwards, adalah suatu perasaan yang sangat dalam sehingga menggerakkan orang untuk menyukai dan mendekati sesuatu, atau membenci dan menjauhi sesuatu. Jadi, bagi dia afeksi merupakan perasaan dalam yang menggebu-gebu, bukan sekadar perasaan suam-suam kuku yang tidak jelas. Apakah Saudara mengasihi Tuhan? “Ya.” Sebesar apa? “Dengan segenap hatiku, jiwaku, kekuatanku, dan akal budiku… seluruh keberadaanku… seluruh waktuku… seluruh hidupku adalah milik-Nya.” Ini namanya afeksi. Tetapi kalau Saudara menjawab: “Yah, lumayan lah. Saya kadang-kadang berdoa, kadang-kadang kalau tidak terlalu sibuk saya juga bahkan melayani di gereja…” Ini bukan afeksi. Ini namanya emosi suam-suam kuku. Dibilang mengasihi rasanya tidak, tetapi benci juga tidak, lho… Ini bukan perasaan dari seorang Kristen, tetapi perasaan orang atheis yang pakai baju Kristen.

Afeksi rohani sejati merupakan afeksi yang adalah hasil dari repetisi kemuliaan Allah dalam diri manusia. Pemikiran Edwards mengenai repetisi kemuliaan adalah pemikiran yang menyeluruh. Edwards hidup dalam zaman rasionalisme di mana orang-orang sangat mengagungkan bahkan mengabsolutkan rasio. Orang-orang yang dianggap hebat adalah Descartes, John Locke, Aristotle, Newton, dan lain-lain, karena orang-orang ini membuka wawasan manusia untuk memaksimalkan kemampuan rasio. Abad ke-18 juga dikenal sebagai abad lahirnya dua filsuf raksasa Eropa, yaitu Immanuel Kant dan Georg Friedrich Wilhelm Hegel. Yang terakhir ini adalah filsuf yang bahkan memberikan “tahta ilahi” bagi rasio. Siapakah Allah? Hegel akan menjawab, “Rasio mutlak” atau “Ide absolut.” Edwards hidup dalam kondisi zaman yang demikian. Banyak orang Kristen ketika hidup dalam suatu kondisi zaman memilih untuk melawan zamannya dengan beralih ke ekstrim yang lain. Kalau zaman mengagungkan rasio, maka orang Kristen membuang rasio. Tetapi Edwards tidak demikian. Dia adalah theolog yang mampu melihat repetisi kemuliaan Allah dalam setiap segi ciptaan. Maka, karena afeksi sejati adalah bentuk repetisi kemuliaan Allah, afeksi ini memiliki sisi rasio dan kehendak yang merupakan bagian dari kemuliaan tersebut. Rasio membuat kita mampu memikirkan konsep-konsep, merumuskan doktrin-doktrin secara harmonis dan konsisten dengan Alkitab supaya kita dapat mengenal Allah. Kehendak menggerakkan kita untuk melayani Allah berdasarkan afeksi yang kita miliki kepada Dia karena kita telah mengenal Allah (atau lebih baik, telah dikenal oleh Allah). Edwards bukan orang “rohani” yang membuang rasio demi pengalaman emosional dengan Allah. Saya kuatir dengan orang-orang yang mengatakan, “Percuma belajar. Yang penting jalankan. Untuk apa belajar dan baca buku banyak-banyak kalau toh tidak melayani?” Baik, memang benar. Kalau tidak melayani apa gunanya? Tetapi pertanyaan ini perlu diimbangi dengan pertanyaan, “Bagaimana melayani kalau tidak mau belajar?” Orang yang merasa tidak perlu belajar bahkan dari orang-orang sebesar Calvin, Agustinus, atau Edwards, merasa dia sudah tahu semua yang diperlukan untuk melayani. Tetapi jika orang ini mau rendah hati kemudian sediakan waktu untuk belajar dari siapapun, apalagi dari orang-orang yang dipakai Tuhan secara luar biasa ini, dia akan menemukan bahwa apa yang dia pikir sudah dia ketahui ternyata masih belum dia ketahui. Kita tidak mungkin mengetahui semuanya tentang sesuatu. Masih ada sisi-sisi atau perspektif-perspektif lain yang dapat kita pelajari dari orang lain, terutama dari orang-orang sebesar Calvin atau Edwards.

Natur yang Direpetisi

Edwards tidak jatuh dalam posisi yang hanya melihat satu sisi. Baik kehendak maupun rasio dilihat sebagai cara Allah merepetisi kemuliaan-Nya dalam diri orang percaya. Baik kehendak maupun rasio keduanya merupakan bagian dari afeksi rohani atau emosi rohani sejati. Tetapi, bagaimanakah caranya kita memiliki afeksi rohani sejati ini? Edwards melihat zamannya, terutama sepanjang tahun 1734-1735 dan 1740-1742 ternyata dipenuhi orang-orang yang menunjukkan afeksi yang palsu. Banyak orang yang menangis-nangis, menyatakan pertobatan, bahkan rajin pelayanan ternyata kemudian meninggalkan Tuhan dan terus hidup dalam dosa. Tetapi ada juga orang-orang yang walaupun tenang, tetapi menunjukkan perumbuhan rohani yang konsisten dan murni. Maka Edwards mengatakan dalam Religious Affections-nya bahwa seseorang seharusnya merasa yakin dengan keselamatannya melalui terus mengasihi kesucian Tuhan dan melayani Dia. Mengapa demikian? Karena menurut Edwards, orang yang diselamatkan adalah orang yang sudah memiliki natur baru (lengkap dengan afeksi rohaninya…) yang pasti akan mengasihi kekudusan dan rindu melayani Allah. Bagaimanakah natur seperti ini diperoleh? Natur ini hanya dapat direpetisi dari natur yang dimiliki Allah sendiri.

Pemikiran yang muncul dari mimpi kaum humanis bahwa manusia mampu berbuat baik menjadi dasar bagi pemikiran bahwa natur yang mulia ini sudah ada dalam diri manusia. Kan banyak orang baik, atau orang saleh, bahkan orang-orang yang menolong sesamanya manusia dan hidup dengan moral yang tidak bercacat? Namun Alkitab mengatakan bahwa manusia tidak mungkin mampu memiliki hal ini menurut penilaian Allah. Allah menciptakan segala sesuatu bagi kemuliaan-Nya, dan dengan demikian bagaimanakah ada manusia yang diperkenan Tuhan kalau dia mengabaikan tujuan penciptaan ini? Jika seseorang mengabaikan Allah dan rencana penciptaan-Nya, dan mau mencari jalan sendiri, dia sedang melawan apa yang Allah maksudkan bagi hidupnya. Dengan demikian, sebaik apapun seseorang terhadap orang lain tidak akan bisa mengubah keberadaannya sebagai ciptaan yang melawan Penciptanya. Karena itu, pertama-tama, natur yang mulia ini haruslah natur yang memiliki afeksi terhadap Allah dan kesucian-Nya. Tetapi dapatkah seseorang memiliki natur seperti ini di dalam dirinya? Tidak. Maka, sebagaimana dinyatakan Edwards, natur ini merupakan natur yang direpetisi dari Allah.

Lahir Baru Menurut Konsep Edwards

Edwards mengatakan dalam “Miscellanies”-nya bahwa Allah memiliki delight akan kemuliaan-Nya. Karena itulah repetisi kemuliaan-Nya dalam ciptaan merupakan satu-satunya yang membuat ciptaan itu memiliki keindahan sejati. Manusia yang adalah image of God merepetisi kemuliaan Allah, tetapi tentu saja berbeda dengan ciptaan lainnya karena manusia merepetisi kemuliaan Allah dalam keberadaannya sebagai person yang diciptakan sebagai image of God. Karena itu kemuliaan Allah yang direpetisi dalam diri manusia merupakan kemuliaan yang lebih kompleks dan mencakup afeksi sebagaimana telah dibahas di atas. Ada tiga hal yang menjadi prinsip untuk mengetahui sifat dari kemuliaan yang direpetisi oleh manusia. Yang pertama adalah kemuliaan yang menjadi milik kita merupakan kemuliaan, yang walaupun dari Allah, tetap adalah kemuliaan yang terbatas. Kemuliaan ini berbeda secara kualitas dengan kemuliaan Allah yang tidak terbatas. Yang kedua adalah kemuliaan ini akan terus merepetisi diri, yaitu akan terus bertambah dan bertambah hingga selama-lamanya tanpa pernah menyamai kemuliaan milik Allah yang tidak terbatas. Edwards mengatakan bahwa waktu yang diperlukan agar kemuliaan yang direpetisi dapat terus bertambah untuk menjadi sempurna adalah selama-lamanya (atau dengan kata lain terus bertambah tanpa mungkin menjadi sama sempurnanya dengan kesempurnaan Allah yang berbeda secara kualitas). Lalu yang ketiga, kemuliaan ini merupakan natur baru manusia yang direpetisi di dalam Kristus melalui Roh Kudus. Bagian ketiga ini akan kita bahas secara lebih mendalam.

Natur baru seseorang merupakan natur baru yang diberikan oleh Roh Kudus. Di dalam kerangka theologis milik Edwards, natur Roh Kudus direpetisi oleh seseorang yang lahir baru. Seperti apakah natur dari Roh Kudus? Roh Kudus memiliki natur yang memuliakan Kristus. Karena itu, setiap orang yang memiliki natur baru ini akan juga meninggikan Kristus. Yesus Kristus menjadi Pribadi yang paling dikagumi, disembah, dikasihi, dan dirindukan oleh seseorang yang telah diperbarui ini. Edwards menjelaskan bahwa natur baru ini harus terwujud dengan afeksi kepada Kristus dan karya penebusan-Nya. Edwards mengatakan: “How they can sit and hear of the infinite height, and depth, and length, and breadth of the love of God in Christ Jesus, of His giving His infinitely dear Son, to be offered up a sacrifice for the sins of men, and of the unparalleled love of the innocent, and holy, and tender Lamb of God, manifested in His dying agonies, His blood sweat, His loud and bitter cries, and bleeding heart, and all this for enemies, to redeem them from deserved, eternal burnings, and to bring unspeakable and everlasting joy and glory – and yet be cold and heavy, insensible and regardless! Where are the exercises of our affections proper, if not here?” (Religious Affections, hal. 52). Natur baru ini akan membuat seorang berdosa berpaling kepada Kristus dan menerima Dia dengan sepenuh hati sebagai Tuhan atas seluruh hidupnya.

Yesus Kristus Sebagai Mediator

Edwards mengatakan bahwa afeksi terhadap Kristus menjadi awal di mana akhirnya kita memiliki afeksi Kristus. Kemuliaan Allah di dalam Kristus Yesus menjadi kemuliaan yang direpetisi dalam diri setiap orang percaya. Tetapi mengapa Kristus? Disertasinya mengenai “The Excellency of Jesus Christ” menjelaskan mengenai hal ini. Dalam tulisan yang juga merupakan naskah khotbahnya tersebut, Edwards melihat kemuliaan Kristus sebagai kemuliaan yang secara paradoks dinyatakan. Kristus memiliki kemuliaan sebagai Allah, tetapi Dia juga memiliki kemuliaan sebagai manusia yang taat kepada Allah. Dalam tulisan ini Edwards membahas Kristus yang adalah Singa dari Yehuda tetapi memiliki tubuh seekor Anak Domba yang baru disembelih. Edwards memberikan contoh kemuliaan yang paradoks ini dalam tujuh contoh, yaitu:

1.      Kristus memiliki kemuliaan yang tidak terbatas tetapi juga kerendahan hati yang sangat.
2.      Kristus memiliki infinite majesty tetapi juga kelemahlembutan yang tak terkira.
3.      Kristus memiliki rasa hormat yang sangat dalam kepada Allah, tetapi juga Dia sendiri adalah setara dengan Allah.
4.      Kristus memiliki kelayakan untuk menerima segala yang baik, tetapi dalam Dia juga ada ketekunan untuk menjalani penderitaan.
5.      Kristus memiliki ketaatan yang mutlak, tetapi Dia juga adalah Penguasa atas sorga dan bumi.
6.      Kristus memiliki kedaulatan tetapi juga Dia memiliki keberserahan total kepada kehendak Bapa-Nya.
7.      Kristus memiliki kecukupan pada diri-Nya sendiri, tetapi Dia juga memiliki kebergantungan kepada Bapa di sorga.

Ketujuh contoh ini menunjukkan bagaimana Kristus memiliki kemuliaan yang begitu paradoks dan tidak dimiliki oleh siapapun baik yang di sorga maupun di bumi. Hanya Dia yang memiliki kemuliaan sedemikian, dan dengan demikian hanya Dia yang sanggup menjadi Pengantara kita. Dalam kemuliaan-Nya sebagai Allah, Dia menjadi Sumber bagi kemuliaan yang direpetisi dalam setiap orang percaya. Dalam kemuliaan-Nya sebagai manusia yang taat kepada Allah, Dia menjadi Dasar, Teladan, dan Penyempurna ketaatan kita kepada Allah. Dengan demikian, hanya Kristus yang dapat menjadi Mediator bagi kita untuk hidup bagi kemuliaan Allah.

Kemuliaan Allah yang memancar melalui afeksi dalam pengertian Edwards merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kita untuk terus berjuang dengan penuh kerinduan agar mampu menyenangkan hati Tuhan. Afeksi ini menjadi tanda yang sangat penting karena dalam afeksi rohani sejati ada kerinduan untuk memandang kepada Kristus dan mau menjadi seperti Dia. Kerinduan yang tidak mungkin dijalankan hanya setengah-setengah, tetapi dengan total dan sepenuh hati diperjuangkan. Membenci dosa, berjuang melawan dosa, hidup melayani Tuhan, dan menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya tujuan hidup dan kesenangan dalam hidup adalah perwujudan afeksi rohani sejati. Inilah kemuliaan Allah yang direpetisi dan dipancarkan oleh manusia melalui Pribadi yang menjadi Mediator kita, yaitu Yesus Kristus.

Referensi:

– Jonathan Edwards, The Works of Jonathan Edwards in 2 Volumes. Edinburgh: Banner

of Truth Trust, cetakan ke-8, 1995. Vol. 1:

1. “Dissertation on the End for Which God Created the World”

2. “A Dissertation on the Nature of True Virtue”

3. “A Treatise Concerning Religious Affections”

4. “The Excellency of Jesus Christ”

– Sang Hyun Lee, The Philosophical Theology of Jonathan Edwards. New Jersey: Princeton University Press, 1988.

Jimmy Pardede


The Resolutions of Jonathan Edwards

Remember to read over these Resolutions once a week.

1. Resolved, that I will do whatsoever I think to be most to God’ s glory, and my own good, profit and pleasure, in the whole of my duration, without any consideration of the time, whether now, or never so many myriads of ages hence. Resolved to do whatever I think to be my duty and most for the good and advantage of mankind in general. Resolved to do this, whatever difficulties I meet with, how many soever, and how great soever.

2. Resolved, to be continually endeavoring to find out some new contrivance and invention to promote the aforementioned things.

3. Resolved, if ever I shall fall and grow dull, so as to neglect to keep any part of these Resolutions, to repent of all I can remember, when I come to myself again.

4. Resolved, never to do any manner of thing, whether in soul or body, less or more, but what tends to the glory of God; nor be, nor suffer it, if I can avoid it.

5. Resolved, never to lose one moment of time; but improve it the most profitable way I possibly can.

6. Resolved, to live with all my might, while I do live.

7. Resolved, never to do anything, which I should be afraid to do, if it were the last hour of my life.

8. Resolved, to act, in all respects, both speaking and doing, as if nobody had been so vile as I, and as if I had committed the same sins, or had the same infirmities or failings as others; and that I will let the knowledge of their failings promote nothing but shame in myself, and prove only an occasion of my confessing my own sins and misery to God. July 30.

9. Resolved, to think much on all occasions of my own dying, and of the common circumstances which attend death.

10. Resolved, when I feel pain, to think of the pains of martyrdom, and of hell.

11. Resolved, when I think of any theorem in divinity to be solved, immediately to do what I can towards solving it, if circumstances do not hinder.

12. Resolved, if I take delight in it as a gratification of pride, or vanity, or on any such account, immediately to throw it by.

13. Resolved, to be endeavoring to find out fit objects of charity and liberality.

14. Resolved, never to do any thing out of revenge.

15. Resolved, never to suffer the least motions of anger towards irrational beings.

16. Resolved, never to speak evil of anyone, so that it shall tend to his dishonor, more or less, upon no account except for some real good.

17. Resolved, that I will live so, as I shall wish I had done when I come to die.

18. Resolved, to live so, at all times, as I think is best in my devout frames, and when I have clearest notions of things of the gospel, and another world.

19. Resolved, never to do any thing, which I should be afraid to do, if I expected it would not be above an hour, before I should hear the last trump.

20. Resolved, to maintain the strictest temperance, in eating and drinking.

21. Resolved, never to do any thing, which if I should see in another, I should count a just occasion to despise him for, or to think any way the more meanly of him. (Resolutions 1 through 21 written in one setting in New Haven in 1722)

22. Resolved, to endeavor to obtain for myself as much happiness, in the other world, as I possibly can, with all the power, might, vigor, and vehemence, yea violence, I am capable of, or can bring myself to exert, in any way that can be thought of.

23. Resolved, frequently to take some deliberate action, which seems most unlikely to be done, for the glory of God, and trace it back to the original intention, designs and ends of it; and if I find it not to be for God’ s glory, to repute it as a breach of the 4th Resolution.

24. Resolved, whenever I do any conspicuously evil action, to trace it back, till I come to the original cause; and then, both carefully endeavor to do so no more, and to fight and pray with all my might against the original of it.

25. Resolved, to examine carefully, and constantly, what that one thing in me is, which causes me in the least to doubt of the love of God; and to direct all my forces against it.

26. Resolved, to cast away such things, as I find do abate my assurance.

27. Resolved, never willfully to omit any thing, except the omission be for the glory of God; and frequently to examine my omissions.

28. Resolved, to study the Scriptures so steadily, constantly and frequently, as that I may find, and plainly perceive myself to grow in the knowledge of the same.

29. Resolved, never to count that a prayer, nor to let that pass as a prayer, nor that as a petition of a prayer, which is so made, that I cannot hope that God will answer it; nor that as a confession, which I cannot hope God will accept.

30. Resolved, to strive to my utmost every week to be brought higher in religion, and to a higher exercise of grace, than I was the week before.

31. Resolved, never to say any thing at all against any body, but when it is perfectly agreeable to the highest degree of Christian honor, and of love to mankind, agreeable to the lowest humility, and sense of my own faults and failings, and agreeable to the golden rule; often, when I have said anything against anyone, to bring it to, and try it strictly by the test of this Resolution.

32. Resolved, to be strictly and firmly faithful to my trust, that that, in Proverbs 20:6, A faithful man who can find? may not be partly fulfilled in me.

33. Resolved, to do always, what I can towards making, maintaining, and preserving peace, when it can be done without overbalancing detriment in other respects. Dec. 26, 1722.

34. Resolved, in narrations never to speak any thing but the pure and simple verity.

35. Resolved, whenever I so much question whether I have done my duty, as that my quiet and calm is thereby disturbed, to set it down, and also how the question was resolved. Dec. 18, 1722.

36. Resolved, never to speak evil of any, except I have some particular good call for it. Dec. 19, 1722.

37. Resolved, to inquire every night, as I am going to bed, wherein I have been negligent,- what sin I have committed,-and wherein I have denied myself;-also at the end of every week, month and year. Dec. 22 and 26, 1722.

38. Resolved, never to speak anything that is ridiculous, sportive, or matter of laughter on the Lord’ s day. Sabbath evening, Dec. 23, 1722.

39. Resolved, never to do any thing of which I so much question the lawfulness of, as that I intend, at the same time, to consider and examine afterwards, whether it be lawful or not; unless I as much question the lawfulness of the omission.

40. Resolved, to inquire every night, before I go to bed, whether I have acted in the best way I possibly could, with respect to eating and drinking. Jan. 7, 1723.

41. Resolved, to ask myself, at the end of every day, week, month and year, wherein I could possibly, in any respect, have done better. Jan. 11, 1723.

42. Resolved, frequently to renew the dedication of myself to God, which was made at my baptism; which I solemnly renewed, when I was received into the communion of the church; and which I have solemnly re-made this twelfth day of January, 1722-23.

43. Resolved, never, henceforward, till I die, to act as if I were any way my own, but entirely and altogether God’ s; agreeable to what is to be found in Saturday, January 12, 1723.

44. Resolved, that no other end but religion, shall have any influence at all on any of my actions; and that no action shall be, in the least circumstance, any otherwise than the religious end will carry it. January 12, 1723.

45. Resolved, never to allow any pleasure or grief, joy or sorrow, nor any affection at all, nor any degree of affection, nor any circumstance relating to it, but what helps religion. Jan. 12 and 13, 1723.

46. Resolved, never to allow the least measure of any fretting uneasiness at my father or mother. Resolved to suffer no effects of it, so much as in the least alteration of speech, or motion of my eye: and to be especially careful of it with respect to any of our family.

47. Resolved, to endeavor, to my utmost, to deny whatever is not most agreeable to a good, and universally sweet and benevolent, quiet, peaceable, contented and easy, compassionate and generous, humble and meek, submissive and obliging, diligent and industrious, charitable and even, patient, moderate, forgiving and sincere temper; and to do at all times, what such a temper would lead me to; and to examine strictly, at the end of every week, whether I have done so. Sabbath morning. May 5, 1723.

48. Resolved, constantly, with the utmost niceness and diligence, and the strictest scrutiny, to be looking into the state of my soul, that I may know whether I have truly an interest in Christ or not; that when I come to die, I may not have any negligence respecting this to repent of. May 26, 1723.

49. Resolved, that this never shall be, if I can help it.

50. Resolved, I will act so as I think I shall judge would have been best, and most prudent, when I come into the future world. July 5, 1723.

51. Resolved, that I will act so, in every respect, as I think I shall wish I had done, if I should at last be damned. July 8, 1723.

52. I frequently hear persons in old age, say how they would live, if they were to live their lives over again: Resolved, that I will live just so as I can think I shall wish I had done, supposing I live to old age. July 8, 1723.

53. Resolved, to improve every opportunity, when I am in the best and happiest frame of mind, to cast and venture my soul on the Lord Jesus Christ, to trust and confide in him, and consecrate myself wholly to him; that from this I may have assurance of my safety, knowing that I confide in my Redeemer. July 8, 1723.

54. Whenever I hear anything spoken in conversation of any person, if I think it would be praiseworthy in me, Resolved to endeavor to imitate it. July 8, 1723.

55. Resolved, to endeavor to my utmost to act as I can think I should do, if, I had already seen the happiness of heaven, and hell torments. July 8, 1723.

56. Resolved, never to give over, nor in the least to slacken, my fight with my corruptions, however unsuccessful I may be.

57. Resolved, when I fear misfortunes and adversities, to examine whether I have done my duty, and resolve to do it, and let the event be just as providence orders it. I will as far as I can, be concerned about nothing but my duty, and my sin. June 9, and July 13 1723.

58. Resolved, not only to refrain from an air of dislike, fretfulness, and anger in conversation, but to exhibit an air of love, cheerfulness and benignity. May 27, and July 13, 1723.

59. Resolved, when I am most conscious of provocations to ill nature and anger, that I will strive most to feel and act good-naturedly; yea, at such times, to manifest good nature, though I think that in other respects it would be disadvantageous, and so as would be imprudent at other times. May 12, July 11, and July 13.

60. Resolved, whenever my feelings begin to appear in the least out of order, when I am conscious of the least uneasiness within, or the least irregularity without, I will then subject myself to the strictest examination. July 4, and 13, 1723.

61. Resolved, that I will not give way to that listlessness which I find unbends and relaxes my mind from being fully and fixedly set on religion, whatever excuse I may have for it-that what my listlessness inclines me to do, is best to be done, etc. May 21, and July 13, 1723.

62. Resolved, never to do anything but duty, and then according to Ephesians 6:6-8, to do it willingly and cheerfully as unto the Lord, and not to man: knowing that whatever good thing any man doth, the same shall he receive of the Lord. June 25 and July 13, 1723.

63. On the supposition, that there never was to be but one individual in the world, at any one time, who was properly a complete Christian, in all respects of a right stamp, having Christianity always shining in its true luster, and appearing excellent and lovely, from whatever part and under whatever character viewed: Resolved, to act just as I would do, if I strove with all my might to be that one, who should live in my time. January 14 and July 13, 1723.

64. Resolved, when I find those ‹groanings which cannot be uttered (Romans 8:26), of which the Apostle speaks, and those breakings of soul for the longing it hath, of which the Psalmist speaks, Psalm 119:20, that I will promote them to the utmost of my power, and that I will not be weary of earnestly endeavoring to vent my desires, nor of the repetitions of such earnestness. July 23, and August 10, 1723.

65. Resolved, very much to exercise myself in this, all my life long, viz. with the greatest openness, of which I am capable of, to declare my ways to God, and lay open my soul to him: all my sins, temptations, difficulties, sorrows, fears, hopes, desires, and every thing, and every circumstance; according to Dr. Manton’ s 27th Sermon on Psalm 119. July 26, and Aug.10 1723.

66. Resolved, that I will endeavor always to keep a benign aspect, and air of acting and speaking in all places, and in all companies, except it should so happen that duty requires otherwise.

67. Resolved, after afflictions, to inquire, what I am the better for them, what am I the better for them, and what I might have got by them.

68. Resolved, to confess frankly to myself all that which I find in myself, either infirmity or sin; and, if it be what concerns religion, also to confess the whole case to God, and implore needed help. July 23, and August 10, 1723.

69. Resolved, always to do that, which I shall wish I had done when I see others do it. August 11, 1723.

70. Let there be something of benevolence, in all that I speak. August 17, 1723.


Our Infinite Obligation to God by Jonathan Edwards

When men are fallen, and become sinful, God by His sovereignty has a right to determine about their redemption as He pleases. He has a right to determine whether He will redeem any or not. He might, if he had pleased, have left all to perish, or might have redeemed all. Or, he may redeem some, and leave others; and if He doth so, He may take whom He pleases, and leave whom He pleases. To suppose that all have forfeited his favor, and deserved to perish, and to suppose that he may not leave any one individual of them to perish, implies a contradiction; because it supposes that such a one has a claim to God’s favor, and is not justly liable to perish; which is contrary to the supposition.

It is meet (right) that God should order all these things according to His own pleasure. By reason of His greatness and glory, by which He is infinitely above all, He is worthy to be Sovereign, and that His pleasure should in all things take place. He is worthy that He should make Himself His end, and that He should make nothing but His own wisdom His rule in pursuing that end, without asking leave or counsel of any, and without giving account of any of His matters. It is fit that He who is absolutely perfect, and infinitely wise, and the Fountain of all wisdom, should determine every thing [that He effects] by His own will, even things of the greatest importance. It is meet that He should be thus Sovereign, because He is the first being, the eternal being, whence all other beings are. He is the Creator of all things; and all are absolutely and universally dependent on Him; and therefore it is meet that He should act as the Sovereign possessor of heaven and earth.

Our obligation to love, honor, and obey any being, is in proportion to his loveliness, honorableness, and authority; for that is the very meaning of the words. When we say any one is very lovely, it is the same as to say, that he is one very much to be loved. Or if we say such a one is more honorable than another, the meaning of the words is, that he is one that we are more obliged to honor. If we say any one has great authority over us, it is the same as to say, that he has great right to our subjection and obedience.

But God is a being infinitely lovely, because He has infinite Excellency and beauty. To have infinite Excellency and beauty, is the same thing as to have infinite loveliness. He is a being of infinite greatness, majesty, and glory; and therefore He is infinitely honorable. He is infinitely exalted above the greatest potentates of the earth, and highest angels in heaven; and therefore He is infinitely more honorable than they. His authority over us is infinite; and the ground of His right to our obedience is infinitely strong; for He is infinitely worthy to be obeyed Himself, and we have an absolute, universal, and infinite dependence upon Him.

Jonathan Edwards from The Justice of God in the damnation of sinners


Christ, The Example Of Ministers

It is not only our great duty, but will be our greatest honor, to imitate Christ, and do the work that he has done, and so act as co-workers with him.The ministers of Christ should be persons of the same spirit that their Lord was of– the same spirit of humility and lowliness of heart; for the servant is not greater than his Lord.They should be of the same spirit of heavenly mindedness, and contempt of the glory, wealth, and pleasures of this world.

They should be of the same spirit of devotion and fervent love to God. They should follow the example of his prayerfulness; of whom we read from time to time of his retiring from the world, away from the noise and applause of the multitudes, into mountains and solitary places, for secret prayer, and holy converse with his Father.

Ministers should be persons of the same quiet, lamb like spirit that Christ was of, the same spirit of submission to God’s will, and patience under afflictions, and meekness towards men; of the same calmness and composure of spirit under reproaches and sufferings from the malignity of evil men; of the same spirit of forgiveness of injuries; of the same spirit of charity, of fervent love and extensive benevolence; the same disposition to pity the miserable, to weep with those that weep, to help men under their calamities of both soul and body, to hear and grant the requests of the needy, and relieve afflicted; the same spirit of condescension to the poor and lowly, tenderness and gentleness toward the weak, and great and effectual love to enemies.

They should also be of the same spirit of zeal, diligence, and self-denial for the glory of God, and advancement for his kingdom, and for the good of mankind; for which things sake Christ went though the greatest labors, and endured the most extreme sufferings.

And in order to our imitating Christ in the work of the ministry, in any tolerable degree, we should not have our hearts weighed down, and time filled up with worldly affections, cares, and pursuits.

The duties of a minister that have been recommended, are absolutely inconsistent with a mind much taken up with worldly profit, glory, amusements, and entertainments.

by Jonathan Edwards