Archive for December, 2012

Pembahasan Ajaran Pdt.Lucky Fergian Laoh dari Gereja Tiberias Indonesia tentang “Perjamuan Kudus”

Pdt.Lucky Fergian Laoh :

Sebagai salah seorang Pendeta di Gereja Tiberias, saya ingin membagikan pengajaran tentang Perjamuan Kudus (untuk seterusnya disingkat PK). Karena PK merupakan sesuatu yang hampir selalu dilakukan dalam setiap ibadah di Tiberias. Tidak heran banyak orang yang menganggap bahwa ajaran PK yang dilakukan di Tiberias sesat atau menyimpang.

Banyak faktor orang mengatakan bahwa PK yang dilakukan di Tiberias sesat, seperti contoh: kok PK bisa dibawa pulang, kok PK dilakukan setiap kali ibadah (dengan alasan akan merendahkan kesakralan PK), kok bisa diberikan kepada anak-anak (bahkan bayi). Hal inilah yang dipandang oleh beberapa orang sebagai kesesatan yang dilakukan di Tiberias.

Oleh sebab itu melalui tulisan ini, kerinduan saya, bahwa banyak orang yang memahami dan akhirnya mengamini apa yang dilakukan di Tiberias.

Tanggapan saya :

Penentuan kapan ada perjamuan kudus dan kapan seseorang menerima perjamuan suci memang adalah produk aturan yang dibuat oleh gereja. Seseorang yang belum dibaptis/ Sidi menurut peraturan gereja, dia belum boleh menerima perjamuan suci, peraturan ini didasarkan dari ayat ini:

1 Kor 11:27  Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.

Baptis/ Sidi adalah “tanda” secara resmi bahwa orang tersebut telah mengaku percaya kepada Kristus. Maka “tanda” ini dianggap sebagai legitimasi seseorang diperbolehkan mengikuti Perjamuan Kudus.Peraturan ini baik-baik saja, supaya tidak sembarang orang ikut Perjamuan Kudus. Dan untuk menghindarkan seseorang menjadi berdosa karena orang tersebut belum percaya dan belum mengerti esensi Perjamuan Kudus.

Tetapi bagaimanapun ada hal dan situasi tertentu yang dapat menabrak suatu peraturan gereja, misalnya dalam situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan seseorang untuk proses baptis/ sidi namun ia sudah menjadi orang percaya. Dalam hal ini saya setuju orang tersebut walaupun belum mengikuti “upacara” baptisan, namun orang tersebut telah menjadi umat Kristus, dan dia layak mengikuti Perjamuan Kudus.

Mengenai perjamuan yang dibuat anak-anak itu….,  perlu anda camkan : Bahwa perjamuan suci itu dipimpin oleh imam gereja, dan yang menerimanya adalah orang-orang yang (sebaiknya sudah dibaptis).

Pdt.Lucky Fergian Laoh:

I Kor 11:23-30
23 Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti
24 dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”
25 Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”
26 Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.
27 Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.
28 Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.
29 Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya.
30 Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal.

Ayat2 di atas banyak dibacakan oleh gereja-gereja sebelum melakukan PK. Dan dari ayat2 di atas kita dapat menemukan pelajaran penting dari PK, khususnya yang biasa dilakukan di gereja Tiberias.

1. Perjamuan Kudus adalah perintah/ ajaran langsung Tuhan Yesus (ay. 23).
    Surat I Korintus ditulis oleh Paulus, yang bukan dari golongan rasul. Ia penganiaya orang Kristen, bahkan punya ambisi membunuh orang Kristen (Kis. 9:1-2).

Tanggapan saya :

kisah pertobatan Saulus dimuat didalam Kisah Para Rasul 9:1-30 dimana Lukas yang merupakan penulis dari kitab tersebut. Dan sebagai penulis, Lukas yang menjadi saksi (walaupun bukan saksi mata dalam hal ini, bdk. Luk 1:3) peristiwa tersebut dan jemaat mula2 juga menerima KPR (menerima kesaksian Lukas) hingga akhirnya didalam kanonisasi KPR merupakan kitab yang diterima secara resmi oleh konsili.

Selanjutnya, lebih dari 1/2 materi KPR memuat tentang pelayanan Paulus, dan sekalilagi tidak ada keberatan dari jemaat mula2 bahkan dalam sidang di Yerusalem (sidang yang dihadiri para rasul langsung) dihadiri pula oleh Paulus dan merekapun mengutus dia dalam pelayanannya.

Petrus juga mengakui bahwa Paulus memiliki HIKMAT yang dikaruniakan (Tuhan) kepadanya: …, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya.- 2Pe 3:15

kesaksian dari diri Paulus sendiri mengenai kerasulannya:Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.- Rom 1:1

Kita juga menemukan banyak sekali penjelasan2 Paulus yang lain mengenai kerasulannya (lihat Galatia 1:11-2:10), dan (sekali lagi) tidak ada yang keberatan mengenai kerasulan Paulus dari antara rasul2 langsung maupun jemaat2 yang dibuktikan dengan diterimanya surat2 Paulus oleh seluruh jemaat mula2. Sebagai catatan, surat2 Paulus kemungkinan telah ditulis sebelum ke-4 Injil, KPR maupun surat2 rasul yang lain.dengan memahami proses pengesahan kanonisasi Perjanjian Baru yang dilakukan “baru” setelah ke-27 kitab PB beredar dan diterima seluruh jemaat mula2 selama sekitar 400 tahun, maka tidak ada alasan bagi kita yang hidup 2000 tahun kemudian mempertanyakan kembali hal2 yang tidak ditolak oleh saksi2 mata maupun mereka yang hidup dekat dengan peristiwa tersebut.

Pdt.Lucky Fergian Laoh :

Tetapi Tuhan Yesus menjumpainya saat perjalanannya menuju Damsyik (Kis. 9:3-5), dan akhirnya mengalami pertobatan. Kalimat yang menyatakan apa yang telah kuteruskan kepadamu mempunyai arti bahwa Paulus mengajarkan kepada jemaat Korintus ttg PK. Tetapi renungkan baik bahwa Paulus menuliskan selanjutnya, telah aku terima dari Tuhan.

Tanggapan saya :

setelah anda membaca penjelasan mengenai kesaksian apakah Paulus Rasul atau tidak bagaimana Tanggapan anda ?

 Pdt.Lucky Fergian Laoh :

Perlu diperhatikan dengan seksama,  bahwa Paulus tidak kenal Tuhan Yesus, bahkan ia adalah penganiaya jemaat; dia tidak pernah mengikuti Yesus, dia tidak bersama2 Yesus dalam Perjamuan Malam. Bagaimana mungkin ia bisa berkata “telah aku terima dari Tuhan”. Kata aku terima mempunyai arti Paulus tidak menerima dari orang lain, dari rasul lain; tetapi dia menegaskan bahwa ajaran PK dia terima dari Tuhan (langsung tanpa perantara -tambahan penulis). Karena bahasa Yunani yang digunakan dalam ayat itu adalah parelabon (bentuk perintah-imperatif) yang berarti dia terima dari Tuhan seperti Tuhan sedang berbicara di sisinya atau dapat dikatakan bahwa Paulus diajar langsung Tuhan, dijumpai dan diperintahkan untuk meneruskan ajaran tentang PK.

Tanggapan saya :

anda mengatakan bahwa “bahwa Paulus tidak kenal Tuhan Yesus, bahkan ia adalah penganiaya jemaat; dia tidak pernah mengikuti Yesus, dia tidak bersama2 Yesus dalam Perjamuan Malam”

namun kemudian anda mengatakan bahwa ” tetapi dia menegaskan bahwa ajaran PK dia terima dari Tuhan (langsung tanpa perantara -tambahan penulis)”

kalau dia menerima langsung ajaran tersebut dari Tuhan , kenapa anda mengatakan bahwa Paulus bukan bagian dari Para Rasul, sedangkan Rasul yang lain mau mengakuinya sebagai Rasul ?

 Pdt.Lucky Fergian Laoh :

Kalau direnungkan perkatan Pdt. DR. Yesaya Pariadji bahwa Yesus menjumpainya dan mengajarkan tentang PK kepadanya, adalah pengalaman yang sama yang dialami oleh Paulus. Beliau bukanlah termasuk golongan yang mengenal Yesus sebelumnya, tidak ada niatan menjadi seorang Kristen, tetapi Tuhan menjumpainya langsung (seperti menjumpai Paulus) dan mengajarkan (bahkan memerintahkan) ajaran PK untuk diteruskan kepada jemaat2.

Tanggapan saya :

Dalam PL memang ada tiga jabatan penting, yaitu Raja, Imam dan Nabi (yang ketiganya bersatu dalam diri Yesus Kristus). Namun harus kita ketahui tiga jabatan ini telah berhenti.

Jabatan raja berhenti ketika bangsa Yehuda/ Israel berada di dalam masa intertestamental dan dijajah Romawi. Mereka sudah tidak memiliki kerajaan lagi. Jabatan imam berakhir ketika bait Allah diruntuhkan pada tahun 70 AD oleh Romawi dalam peperangan 4 tahun dengan Israel. Sejak itu mereka tidak memiliki lagi imam, yang ada hanya guru (rabbi). Jabatan nabi juga sudah selesai pada saat Allah telah selesai berfirman dan wahyu Allah berhenti.

Masih adakah nabi/ rasul pada jaman ini? Rupanya anda tidak memahami bahwa jabatan nabi/ rasul sudah berhenti dengan selesainya wahyu Allah kepada manusia. Bagaimana dengan Efesus 4:11 yang mengatakan “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar.”? John Calvin dalam bukunya Ecclesiastical Ordinances mengatakan dengan jelas bahwa jabatan rasul dan nabi hanya diberikan sebagai dasar pembentukan gereja, sedangkan gereja pada masa pasca Kristus hanya memiliki 4 jabatan didalamnya:

Fundamental to the Ecclesiastical Ordinances is that Calvin felt that the fourfold office of ministry laid out therein was God-given: “There are four orders of office instituted by our Lord for the government of his Church . . . pastors; then doctors; next elders, and fourth deacons.”(6)

(suatu hal yang mendasar dalam buku Ecclesiastical Ordinances adalah bahwa Calvin merasa hanya ada 4 jabatan yang Allah berikan kepada gereja-Nya :”ada empat jabatan yang didirikan Allah bagi pemerintahan gereja-Nya …pastors (gembala-gembala), kemudian doctors (pengajar-pengajar), kemudian elders (penatua-penatua) dan keempat deacons (diaken-diaken).”

Alkitab menunjukkan bahwa seorang nabi justru beritanya tidak didengar oleh bangsanya. Ia ditolak, dikucilkan bahkan dibenci oleh orang sejamannya. Hal itu terjadi karena ia memberitakan Firman yang tidak disukai oleh orang berdosa. Itulah yang dialami nabi Allah yang sejati, bukan disanjung-sanjung atau diikuti banyak orang. Intinya, tidak ada nabi yang hidupnya enak dan ia adalah orang yang kesepian dalam jamannya.

Lagipula, dalam Alkitab tidak pernah ada nabi khusus yang mengajarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan perkataan Allah sendiri. Para nabi memberitakan semua Firman Allah baik penghukuman, murka Allah, dosa kepada semua orang . Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa seorang nabi dipilih dan dipanggil sendiri oleh Allah. Bahkan seperti nabi Yeremia dan Yohanes Pembaptis dipilih sejak mereka dalam kandungan. Pertanyaannya : kapan Allah memilih memilih Pdt Yesaya PAriadji menjadi seorang nabi? The Bible does not say anything about PAriadji! (Alkitab tidak berkata apa-apa tentang Pdt Yesaya PAriadji). Adalah kesalahan sekaligus penyesatan mengklaim diri sebagai nabi Allah. Selain nabi-nabi yang disebutkan namanya dalam Alkitab, tidak ada nabi lagi pada jaman ini. Saya berani pastikan bahwa Pdt Yesaya PAriadji bukanlah nabi Allah pada jaman ini.

Apakah bahaya dari mengklaim diri sebagai nabi Allah? Sebagai konsekwensi dari klaim bahwa dirinya seorang nabi Allah, Pdt Yesaya PAriadji  otomatis jatuh kepada kesalahan fatal lainnya, yaitu beranggapan bahwa Allah masih berfirman dan memberikan wahyu-Nya melalui dirinya.

 Pdt.Lucky Fergian Laoh :

Sehingga beliau berani berkata “saya menerima ajaran ini dari Tuhan, jika saya dusta, saya siap dilempar ke neraka, setan berhak atas saya.” Banyak orang mengkritik, kalau Tuhan mau menyingkapkan sesuatu hal tentang FirmanNya, kenapa bukan kepada pendeta, tetapi malah kepada orang yang dahulu tidak kenal Tuhan Yesus. Sebenarnya hal itu pulalah yang dialami oleh Paulus. Tuhan punya hak prerogatif untuk memilih siapa saja untuk menjadi alat bagiNya. Yes 65:1 menuliskan, Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata: “Ini Aku, ini Aku!” kepada bangsa yang tidak memanggil nama-Ku. Artinya Tuhan berkenan memberikan rahasiaNya (petunjuk dan ajaran) kepada orang yang tidak dianggap layak oleh manusia.

Jadi pelajaran pertama yang kita dapatkan adalah bahwa PK adalah ajaran/ perintah langsung Yesus untuk diteruskan kepada kita. Pengalaman Paulus sama dengan pengalaman Pak Pariadji dalam menerima ajaran ini.

Tanggapan saya :

memuakkan dari Pdt. Yesaya Pariadji ini adalah bahwa ia sangat sering bersumpah tanpa ada perlunya. Tidak pernahkah ia membaca kata-kata Yesus dalam Mat 5:33-37 – “Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Sekalipun saya memang tidak beranggapan bahwa sumpah dilarang secara mutlak, tetapi jelas bahwa kata-kata di atas ini melarang kita untuk bersumpah secara sembarangan / tanpa ada perlunya!

Beberapa komentar tentang orang yang gampang untuk bersumpah:

  • William Hendriksen: “It is characteristic of certain individuals who are aware that their reputation for veracity is not exactly outstanding that the more they lie the more they will also assert that what they are saying is ‘gospel truth.’ They are in the habit of interlacing their conversations with oaths”(Merupakan ciri dari individu-individu tertentu yang sadar bahwa reputasi mereka untuk kejujuran tidak terlalu menonjol, dimana makin mereka berdusta makin mereka menegaskan bahwa apa yang mereka katakan adalah ‘kebenaran injil’. Mereka terbiasa untuk menjalin percakapan mereka dengan sumpah)
  • Adam Clarke: “A common swearer is constantly perjuring himself: such a person should never be trusted”( Seseorang yang biasa bersumpah secara terus menerus bersumpah palsu: orang seperti itu tidak pernah boleh dipercaya)

Karena itu makin sering seseorang bersumpah, makin saya tidak percaya !
kesimpulannya :
pelajaran anda yang pertama itu jelas mengada ada , kenapa ?  karena Paulus tidak pernah mengajar bahwa Perjamuan kudus bisa menyembuhkan sakit penyakit !!

 Pdt.Lucky Fergian Laoh :

2. Melalui PK – tubuh Kristus – kita menerima kesembuhan (ay. 24)

Paulus mengutip kata-kata Tuhan Yesus “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”. Dalam kalimat itu Yesus ingin menyampaikan bahwa tubuh Yesus diberikan kepada kita. Jika kita mau merenungkan, Yesus tercambuk, di mahkotai duri, di siksa, dipaku bahwa ditikam karena kita. Seharusnya kita yang harus ada dalam posisi Yesus, karena memang kita layak dihukum. Tetapi Yesus menggantikan tubuh kita (yang seharusnya tersiksa) dengan tubuhNya, supaya tergenapi janji Tuhan “dengan bilur-bilurNya kamu disembuhkan”. Karena sesungguhnya, Yesus sudah menanggung segala derita kita. Sehingga seharusnya manusia tidak terikat sakit lagi. Karena bilurNya sudah diberikan untuk kita supaya kita sembuh. Yang perlu dilakukan saat ini adalah dengan iman percaya sungguh, bahwa Yesus menyembuhkan karena tubuhNya sudah diberikan untuk kita. Perwujudan tubuh Kristus, kita terima di dalam PK, karena dalam PK kita mengakui roti sebagai tubuh Kristus. Oleh sebab itu dari iman kita kepada korban tubuh Kristus dan diwujudkan pada roti yang adalah tubuh Kristus, maka kita sembuh.
Jadi pelajaran kedua adalah melalui korban tubuh Yesus, tubuh kita yang sakit, Tuhan sembuhkan.

Tanggapan saya :

* Markus 14:22-25 Penetapan Perjamuan Malam
14:22 Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Ambillah, inilah tubuh-Ku.”
14:23 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu.
14:24 Dan Ia berkata kepada mereka: “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang.
14:25 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah.”

Tulisan dalam Markus ini bisa kita paralelkan dengan tulisan Rasul Paulus pada tahun 55 Masehi dalam :

* 1 Korintus 11:23-25
11:23 Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti
11:24 dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”
11:25 Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”

Paulus mengingatkan para petobat yang digem balakannya di Korintus bahwa ia pernah menyampaikan apa yang ditulisnya ini secara lisan (mungkin pada saat ia datang ke kota itu untuk mengabarkan Injil pada tahun 50 Masehi). Ia berkata bahwa ia sendiri ‘menerima’ kata-kata itu ‘dari Tuhan’ (kira-kira tidak lama setelah pertobatannya). Dan ia memperoleh kuasanya dari Tuhan. Ada perbedaan dalam pengalimatan antara tulisan Paulus dan Markus. Mungkin ini mencerminkan variasi (bukan kontradiksi) dalam penggunaanya di gereja-gereja orang Kristen generasi pertama. Tetapi kita disini tidak membicarakan perbedaan-perbedaan yang ada. Lebih penting memperhatikan apa arti yang terkandung dalam persamaan-persamaan yang ada.

Perjamuan Malam Terakhir adalah perjamuan Paskah yang diselenggarakan oleh Tuhan Yesus menjelang masa sengsaraNya. Perjamuan Paskah merupakan peringatan keluarnya bangsa Israel dari Mesir berabad-abad yang lalu. Tradisi Yahudi dalam perayaan ini adalah menyajikan roti tidak beragi, anggur merah, juga makanan-makanan lain. Sebelum hidangan-hidangan itu disantap, kepala keluarga dalam keluarga Yahudi menceritakan kisah pelepasan itu. Roti tidak beragi disini disebut ‘roti penderitaan’ yang dimakan para nenek-moyang mereka saat keluar dari Mesir (lihat Ulangan 16:3).

Pada awal perjamuan, kepala keluarga setelah memecah-mecahkan roti, mengucapkan syukur atasnya dengan kalimat penuh hormat : “Diberkatilah Engkau, ya TUHAN Allah kami, Raja semesta alam, yang menumbuhkan roti di bumi”. Tetapi pada Perjamuan Malam Terakhir itu Tuhan Yesus selaku “kepala-keluarga”-Nya, setelah mengucapkan syukur atas roti perjamuan, menambahkan kata-kata yang memberikan makna baru pada roti itu “Ambillah, inilah tubuh-Ku”. Dalam tulisan paulus dilanjutkan dengan kata-kata “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” .

Perjamuan Paskah ialah peringatan akan pelepasan agung pada waktu keluatran; sekarang, sebuah peringatan baru didirikan, mengingat akan pelepasan baru yang lebih agung yang bakal dilaksanakan. bahwa roti yang Ia ambil dari meja adalah tidak mungkin tubuhNya karane Para murid bisa melihat tubuhNya yang hidup didepan mata mereka. Sekali lagi jawaban atas kata-kata ini ialah bahwa, bagi iman orang-orang yang makan Perjamuan Kudus, roti itu adalah lambang dari tubuh Tuhan. Karena iman, dengan memakan roti peringatan itu, mereka mengambil bagian dalam hidup Kristus.

Pada akhir Perjamuan Paskah, ketika ucapan syukur penutup perjamuan telah dinaikkan, sebuah cawan anggur diminum bergantian oleh seluruh keluarga. Cawan ini, yang disebut “cawan berkat”, ialah cawan ketiga dari empat cawan yang diletakkan diatas meja. Ketika Tuhan Yesus mengucapkan berkatNya dan menberikan cawan itu kepada sobat-sobatNya tanpa Ia sendiri minum dari-padaNya, Ia berkata kepada mereka, “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang”. (Versi Paulus mengatakan “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”).

Ketika Musa, di kaki Gunung Sinai, membacakan Hukum Allah kepada Bangsa Israel yang telah keluar dari Mesir dan mereka berketetapan mentaati hukum itu, sebagian dari darah binatang korban dipercikkan pada mezbah (lambang kehadiran Allah) dan sebagian pada bangsa Israel. Tentang darah itu, Musa berkata-kata sebagai “darah perjanjian yang diadakan Tuhan dengan kamu, berdasarkan firman ini” (Keluaran 24:3-8 ).

Bagi murid-murid Tuhan Yesus yang sudah sangat hafal akan kisah-kisah tentang Perjamuan Paskah dan keluarnya bangsa Israel dari Mesir, maka kata-kata Tuhan Yesus mempunyai arti bahwa akan didirikan sebuah Perjanjian Baru sebagai pengganti dari perjanjian yang didirikan untuk nenek moyang mereka pada zaman Musa. Lagipula, Perjanjian Baru itu akan didirikan melalui kematian Tuhan Yesus bagi bangsaNya. Kalau kemudian mereka memakan roti peringatan itu, mereka karena iman mengambil bagian dalam kehidupan Dia yang mati dan bangkit kembali. Demikian juga waktu mereka minum cawan itu mereka menyatakan dan menerima karena iman “kepentingan mereka dalam darah Juru-Selamat”. Dengan berbuat demikian, mereka memahami arti kata-kata Tuhan Yesus dan mereka tahu bahwa melalui Dia mereka termasuk dalam umat perjanjian Allah.

Sekarang kita lihat dalam Matius :

* Matius 26:26-29 Penetapan Perjamuan Malam
26:26 Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.”
26:27 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini.
26:28 Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.
26:29 Akan tetapi Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku.”

Kita lihat penekanan dalam frasa ” untuk pengampunan dosa” setelah frasa “yang ditumpahkan bagi banyak orang”.

* Lukas 22:14-23 Penetapan Perjamuan Malam
22:14 Ketika tiba saatnya, Yesus duduk makan bersama-sama dengan rasul-rasul-Nya.
22:15 Kata-Nya kepada mereka: “Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita.
22:16 Sebab Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan memakannya lagi sampai ia beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Allah.”
22:17 Kemudian Ia mengambil sebuah cawan, mengucap syukur, lalu berkata: “Ambillah ini dan bagikanlah di antara kamu.
22:18 Sebab Aku berkata kepada kamu: mulai dari sekarang ini Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang.”
22:19 Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”
22:20 Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.
22:21 Tetapi, lihat, tangan orang yang menyerahkan Aku, ada bersama dengan Aku di meja ini.
22:22 Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!”
22:23 Lalu mulailah mereka mempersoalkan, siapa di antara mereka yang akan berbuat demikian.

Dalam Lukas 22:17-20, kita menemukan versi yang lebih panjang, menyerupai versi Paulus.

* Yohanes 6:53-55
6:53 Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.
6:54 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.
6:55 Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.

Mengenai yang ditulis Yohanes ini, saya jelaskan dibawahnya

Tulisan Lukas, khususnya menjadi penting, karena ia satu-satunya penulis Injil yang melaporkan bahwa Tuhan Yesus berkata “perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Lukas 22:19). Dalam Tulisannya, kata-kata ini ditambahkan setelah Tuhan Yesus berkata-kata tentang roti perjamuan (dalam catatan Paulus kata-kata ini dihubungkan dengan roti dan cawan). Dari catatan Markus (dan Matius), orang tidak bisa menyimpulkan bahwa pertemuan itu sekedar makan dan minum untuk saat itu saja, ataukah harus dilakukan berulang-ulang (untuk peringatan). Lukas membuatnya menjadi jelas, bahwa makan dan minum itu dimaksudkan supaya diulang-ulang.

Menurut ketiga penulis Injil Sinoptis ini, Tuhan Yesus berkata sambil memberikan cawan kepada murid-muridNya, “Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah ” – atau dengan kata-kata lain tapi dengan pengertian yang sama (lihat Markus 14:25), bandingkan dengan Matius 26:29; Lukas 22:18 ). Saat itulah perjamuan Surgawi akan dimulai.

Tetapi sesudah Tuhan Yesus bangkit dari antara orang-orang mati, Ia menyatakan diriNya kepada murid-muridNya ‘waktu ia memecahkan roti’ (Lukas 24:35). Petrus di rumah Kornelius menceritakan bagaimana ia dan rekan-rekannya ‘makan dan minum bersama-sama dengan Dia’ (Kisah 10:41). Ini menunjukkan bahwa Kerajaan Allah sudah datang dalam pengertian tertentu (Kerajaan Allah yang ‘datang dengan kuasa’, begitu tertulis dalam Markus 9:1) : Kerajaan Allah telah diresmikan, meskipun penyempurnaanNya masih di masa yang akan datang. Sampai kepada penyempurnaan itu, maka umatNya akan senantiasa ‘melakukan ini’ – makan roti dan minum anggur – sebagai peringatan akan Dia. Dan dengan berbuat demikian mereka menyadari dengan sesadar-sadarnya kehadiranNya ditengah-tengah mereka.

Yoh 6:53  Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.

Ini adalah suatu perkataan sesuai yang dilaporkan Yohanes :

Yoh 6:60  Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?

“Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?”, maksudnya adalah bahwa mereka tidak hanya sulit memahaminya, tetapi andaikata mereka dapat mengerti sekalipun, mereka akan sulit menerimanya. Silahkan lihat versi terjemahan dibawah ini :

Contemporary English Version (CNV), Many of Jesus’ disciples heard him and said, “This is too hard for anyone to understand.”

CNV mengekspresikannya dengan nuansa yang berbeda, dengan menyajikan kalimat “Ini sama sekali sulit untuk dimengerti oleh setiap orang”. Bisa dimaksudkan bahwa mereka menganggap Yesus bicara “omong-kosong”, dan kalau mendengarkannya berarti membuang waktu; tetapi bukan ini yang sebenarnya dimaksudkan oleh Yohanes.

Memberi makan lima ribu orang adalah salah satu dari beberapa peristiwa dalam pelayanan Yesus yang dicatat oleh keempat penginjil. Narasi dari Markus 6:31-52 (termasuk kelanjutan kisah Yesus berjalan di atas air menghampiri muird-muridNya ke seberang) direproduksi secara nyata dalam Matius 14:13-33 dan tanpa berjalan dalam Lukas 9:10-17. Yohanes mengisahkan peristiwa itu secara terpisah (bersama dengan berjalan di atas air) dalam Yohanes 6:1-21.

Dalam Injil Sinoptis, kita memperoleh gambaran bahwa ada sesuatu yang lebih dari hanya memberi makan lima-ribu orang seperti yang mata memandangnya pada waktu itu atau mata pembaca masa kini.

Secara khusus, Markus menjelaskan secara gamblang bahwa memberi makan itu bertujuan untuk mengajar para murid yang belum juga mengerti, dan bahwa Yesus merasa heran karenanya. Ketika Dia ikut mereka dalam perahu yang sedang balik menuju ke seberang lain danau Galilea itu, angin topan yang menghambat perjalanan mereka telah menjadi teduh, dicatat oleh Markus : “Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.” (Markus 6:51-52).

‘Hati mereka degil’, berarti ‘pikiran mereka tertutup’, maka kita dapat mengerti makna “perkataan keras” seperti makna yang disampaikan CNV, bahwa mereka itu kesal untuk dapat mengerti pengajaran itu, dan pengajaran itu sebenarnya berkaitan dengan pribadi Tuan mereka.

Tetapi, arti yang terselubung dalam sinoptis diungkapkan oleh Yohanes secara gamblang. Dia menjelaskan hal itu dengan bentuk khotbah. Yesus di Sinagoge Kapernaum, tidak lama setelah peristiwa diatas. Pokok pembahasanNya adalah mengenai Roti Hidup.

Telah diusulkan bahwa pada hari Sabat, salah satu pengajaran Alkitab di Sinagoge adalah Keluaran 16:13-26 atau Bilangan 11:4-9, yang menceritakan tentang manna, roti dari Surga yang olehnya orang Israel dikenyangkan selama perjalanan di padang gurun. Inilah pokok bahasan yang mengawali bagaimana khotbah itu. Manna yang nenek moyang mereka di padang gurun, kata Yesus, bukanlah makanan yang tak dapat binasa : yang emmakannya tetap bisa mati – sepat atau lambat. Demikian juga roti yang Dia berikan kepada orang banyak itu adalah roti secara materi.

Orang-orang Yahudi mau menjadikan Yesus pemimpin mereka, karena mereka melihat mujizat yang dilakukan Yesus yaitu memberi roti kepada lima-ribu orang, padahal sebenarnya Yesus datang untuk memberikan kepada mereka roti yang lebih baik. Sama seperti waktu Yesus menawarkan kepada perempuan Samaria di dekat sumur Yakub – air yang lebih baik daripada air dalam sumur itu, yaitu air hidup yang membuatnya tidak haus lagi selama-lamanya. Maka, kini Yesus menawarkan kepada orang-orang di Galilea – roti yang lebih baik – daripada roti yang hanya mengenyangkan perut yang dimakan oleh lima-ribu orang itu, bahkan roti yang lebih baik daripada Manna yang dimakan oleh nenek-moyang mereka. Yesus menawarkan ‘makanan yang bertahan sampai kehidupan yang kekal’.

Manna boleh saja disebut sebagai ‘roti dari Surga’ , bahkan disebut ‘roti yang dari Allah’ tetapi roti yang benar-benar berasal dari Allah adalah yang turun dari Surga, yang memberi hidup kepada dunia :

* Yohanes 6:27-34
6:27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.”
6:28 Lalu kata mereka kepada-Nya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?”
6:29 Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”
6:30 Maka kata mereka kepada-Nya: “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?
6:31 Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga.”
6:32 Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.
6:33 Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia.”
6:34 Maka kata mereka kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.”

Bukan saja demikian, Allah telah memberi kuasa dan hak kepada Yesus Kristus yang diutus untuk menganugerahkan Roti Hidup : Yaitu Anak Manusia, Yesus Kristus sendiri.
Nah, sejauh ini : ketika perempuan Samaria itu mendengar tentang Air hidup itu berkata : “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.” (Yohanes 4:15), bisa kita umpamakan dengan pendengar Yesus saat itu berkata : “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.”

Dari sini kita menginjak tingkat pengajaran berikutnya. Yesus tidak hanya memberikan roti hidup, tetapi Dialah Roti Hidup. Kehidupan yang sesungguhnya, Hidup yang kekal, yang hanya diperoleh didalam Dia :

Yoh6:35  Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

Memang, barangsiapa yang datang kepadaNya dalam iman akan mendapatkan pemeliharaan dan kesegaran yang abadi untuk jiwa mereka yang haus dan lapar; mereka tidak akan pernah mati.

Yoh 6:51  Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

Sekarang pengajaran itu benar-benar mulai keras. Setiap orang yang beruntung membaca kata-kata ini dalam konteks keseluruhan Injil Yohanes akan mengetahui arti kata-kata itu. Bahwa percaya kepada Yesus Kristus bukan Cuma mempercayai apa yang dikatakanNya : percaya adalah dipersatukan dengan Dia oleh iman untuk berpartisipasi dalam hidupNya. (Sampai pada suatu titik, perkataanNya tentang memberikan dagingNya untuk dunia adalah paralel dengan apa yang ditulis Markus dalam Markus 10:45) dimana Yesus Kristus mengatakan bahwa Anak Manusia datang untuk ‘memberikan nyawaNya bagi banyak orang’.

Mark 10:45  Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Bahasa yang dipakai Yesus untuk mengatakan “dagingKu” bisa merupakan cara lain mengatakan “diriNya”; Dia sendiri adalah Roti yang diberikan untuk hidup dunia. Namun ungkapan dalam Markus 10:45 bukan merupakan referensi mengenai Anak Manusia sebagai makanan bagi jiwa orang ‘banyak’ dan ini merupakan satu penekanan tambahan dan sesuatu yang meninggalkan jemaat sinagoge terlepas dari kedalamannya.

Dari bibir orang-orang yang merasa tidak mengerti kedalaman itu, adalah wajar kalau muncul pertanyaan “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.” (Yohanes 6:52).

Adalah menjadi kebiasaan Yohanes apabila ia mencatat percakapan Yesus dengan mengutip perkataan yang mempunyai arti rohani dan yang membuat pendengarnya memberi reaksi bahwa mereka gagal untuk mengerti artinya; Yesus Kristus kemudian diberikan kesempatan untuk mengulangi perkataanNya secara lebih lengkap. Karena itu disini Dia mengulangi kembali jawabanNya dengan lebih lengkap untuk para pendengarnya yang kebingungan :

* Yohanes 6:54-56
6:54 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.
6:55 Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.
6:56 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.

Apa yang Yesus maksudkan? Jelaslah bahwa bahasanya tidak dapat diambil secara harfiah : Dia tidak menganjurkan kanibalisme. Kalau begitu, bagaimana harus diartikan? Hal ini tidak hanya kabur, mereka berpikir : itu bersifat menantang. Bagi orang yahudi, minum darah apapun, bahkan makan daging yang darahnya masih belum dialirkan, adalah tabu. Apalagi meminum darah manusia yang tidak masuk akal kalau perlu disebutkan. Ini merupakan perkataan yang keras dipandang dari lebih banyak segi.

Yesus menjawab protes mereka dengan menunjukkan bahwa perkataanNya harus dimengerti secara rohani :

Yoh 6:63 Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.

Pengertian secara fisik atau harfiah dari perkataan itu secara jelas tidak akan dapat diterima. Jikalau demikian, apakah arti rohaninya?

Kembali kepada para pembaca Injil yang memandang perkataan ini dalam konteks keseluruhannya, beruntung melebihi pengengar-pendengar pertama, yang tidak mempunyai penjelasan konteks.  Apa yang kita peroleh dari bahasa ganjil yang digunakan Tuhan Yesus adalah merupakan metafora yang dengan kuat menyatakan bahwa bagian dari kehidupan Allah, kehidupan yang ekkal, diberikan kepada barang-siapa yang datang beriman kepada Yesus Kristus, memiliki Dia, masuk dalam eksatuan bersama dengan Dia. Untuk hal ini, kita lihat 2 penjelasan dri 2 tokoh Gereja yaitu Agustinus Hippo (akhir abad ke-4) dan Bernard Calirvaux (Abad ke 12) :

Perkataan yang keras itu tidak dapat diartikan secara harfiah, kata Agustinus, karena itu bisa berarti menganjurkan kejahatan atau kriminal : ‘Karenanya itu merupakan lukisan penderitaan Kristus, dan secara rahasia dan istimewa tersimpan di hati kita suatu fakta bahwa dagingNya telah disalibkan dan ditikamkan untuk kita‘ (Agustine, On Christian Doctrine, 3.16).

Bernard menerangkan perkataan “Barangsiapa yang makan dagingKu dan minum darahKu mempunyai hidup yang kekal” dengan arti “Barangsiapa merefleksikan kematianKu, dan mengikuti teladanKu sehingga tersiksa di bumi, memperoleh hidup yang kekal – dengan kata lain, “Bila engkau menderita bersamaKu, engkau juga akan memerintah bersamaKu” (Bernard, The Love of God, 4.11).

Timbul suatu pertanyaan : Apa hubungan perkataan yesus dengan Perjamuan Kudus, yaitu orang-orang percaya yang menerima roti dan anggur sebagai lambang tubuh dan darah Yesus Kristus?Berbeda dengan penulis-penulis lainnya, Yohanes tidak mencatat institusi Perjamuan Kudus, tetapi hal ini memang menunjuk kepada kebenaran yang sama dalam perkataan seperti dalam Perjamuan Kudus dalam tindakan. Kebenaran ini diringkas dalam undangan yang disampaikan kepada pengikut Perjamuan Kudus dalam Book of Common Prayer : ‘Ambillah dan makanlah, ini sebagai peringatan bahwa Kristus telah mati bagimu, dan hiduplah dari Dia dalam hatimu oleh iman dengan ucapan syukur’.Hidup dari Kristus dalam hati oleh Iman dengan ucapan syukur adalah ‘makan daging Anak Manusia dan minum darahNya’ dan dengan demikian, kita memperoleh kehidupan yang kekal.

Sumber :
FF Bruce, Ucapan Yesus yang Sulit, SAAT Malang, p 4-9 , 275-279

Pdt.Lucky Fergian Laoh :

3. Melalui PK – darah Kristus – kita menerima pengampunan dosa (ay. 25)

Paulus kembali mengutip kata2 Yesus “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” Yesus menyebut kata Perjanjian Baru, otomatis ada Perjanjian Lama. Kisah dalam Perjanjian Lama adalah dimana orang Israel harus mencurahkan darah binatang sebagai tanda penebusan dosa. Setiap tahun mereka harus melakukan untuk penyucian diri. Darah Yesus dicurahkan sekali dan untuk selamanya bagi kita, sehingga jika kita percaya akan korban darah Kristus, segala dosa kita diampuni. Ibr. 9:13:14 mengatakan “Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah,betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.” Darah Yesus lebih mulia dari darah binatang yang dicurahkan dalam PL.

TAnggapan saya :

Diatas sudah dijelaskan bahwa Perjamuan Kudus adalah sebuah Peringatan , jadi perjamuan Kudus tidak menyelamatkan atau mengampuni dosa, apakah yang bisa menyelamatkan kita dari Murka Allah?

percaya / iman

Kol 2: 12 karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan,dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkanjuga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati

dan menerima Yesus

Kol 2: 6 Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhankita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.

Pdt.Lucky Fergian Laoh :

 Banyak ajaran yang melarang orang ikut PK kalau seseorang berdosa. Tetapi jika kita mau renungkan bahwa Yesus datang bukan untuk orang benar, tetapi orang berdosa. Dokter ada untuk orang sakit bukan orang sehat. Yesus mencurahkan darahNya bagi orang berdosa, bukan orang yang merasa benar. Sehingga setiap orang yang menerima PK, terima darah Yesus, dia ditebus dan dosanya diampuni. Perwujudan darah Yesus ada dalam anggur yang kita akui sebagai darah Yesus
Jadi pelajaran ketiga adalah melalui korban darah Yesus, segala dosa kita Tuhan ampuni.

Tanggapan saya :

Diatas sudah dijelaskan bahwa yang boleh mengikuti Perjamuan Kudus adalah orang yang sudah bertobat/percaya

Pdt.Lucky Fergian Laoh :

4. PK bisa dilakukan kapanpun/ bahkan setiap hari

Kutipan Paulus dalam kalimat Yesus, “perbuatlah ini setiap kali kamu meminumnya menjadi peringatan akan Aku” mengajarkan bahwa dalam PK kita mengingat dan mengenang perbuatan Tuhan dalam menebus kita. Sehingga peringatan akan korban tubuh dan darah Yesus dapat dilakukan kapan saja. Setiap kali kita mengenang akan pengorbanan Yesus, justru akan membuat kita semakin hari semakin mempunyai kesadaran bahwa Yesus selalu baik dalam hidup kita.

Yesus juga mengatakan bahwa saat kita makan roti dan minum cawan Tuhan, kita memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. Artinya kita selalu diingatkan selalu bahwa segala kutuk sudah selesai (yang berarti kutuk penyakit, kutuk penderitaan, kutuk dosa).

Tanggapan saya :

kata setiap kali meminum tidak berarti setiap hari !! , diatas sudah dijelaskan bahwa perjamuan suci itu harus dipimpin oleh imam gereja/Pendeta !!

5. PK yang dilakukan secara benar mendatangkan mujizat.

  Banyak pengajaran yang berkembang tentang PK. Ada transubstansi, konsubstansi, dan substansi. Semua ajaran punya pandangan dan argumen yang berbeda-beda tentunya. Tetapi Alkitab mengatakan barangsiapa dengan cara yang tidak layak (termasuk dalam bentuk pengakuan), ia berdosa . . . sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit dan tidak sedikit yang meninggal. PK seharusnya menjadi berkat bagi kita, tetapi cara yang salah dan mendatangkan hukuman. Secara simple orang/ gereja yang melakukan PK secara benar akan menjadi kuat, sembuh, umur panjang. Gereja Tiberias membuktikan dengan banyak mujizat yang terjadi. Yang lemah dikuatkan, yang sakit disembuhkan, yang divonis mati diberikan umur panjang. Karena kebalilkan dari peringatan Alkitab cara yang tidak benar. Artinya Tiberias melakukan apa yang benar, seperti yang Tuhan ajarkan/ perintahkan (Pelajaran 1).
Tuhan memerintahkan kepada Pdt Pariadji untuk mengajarkan bahwa PK bukanlah lambang, tetapi adalah benar tubuh dan darah Yesus. Yesus sendiripun tidak pernah mengatakan bahwa inilah lambang tubuhKu, inilah lambang darahKu. Tetapi inilah tubuhKu, inilah darahKu. Jadi apa yang dilakukan di Tiberias sesuai dengan apa yang Yesus lakukan, sehingga pembuktiannya dengan banyak mujizat yang terjadi.

Tanggapan saya :

diatas sudah dijelaskan dan menurut saya ini sama sekali menyimpang dari tujuan Perjamuan Kudus, karena 1Kor 11:23-26 berkata sebagai berikut: “(23) Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti (24) dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: ‘Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!’ (25) Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: ‘Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darahKu; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!’ (26) Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang”.

Pdt.Lucky Fergian Laoh :

Mempelajari Alkitab dari PL sampai PB, kita akan melihat bahwa setiap utusan Tuhan pasti selalu disertai dengan tanda dan mujizat, supaya setiap orang yang mendengarnya percaya bahwa dia diutus oleh Tuhan. Apa yang diajarkan di Tiberias bukan karena maunya pribadi seorang Pdt Pariadji, tetapi karena perintah Tuhan. Bagaimana supaya orang percaya bahwa Pdt Pariadji diutus Tuhan? Tuhan menyertainya dengan tanda dan mujizat. Kenapa anak2 dan bayi2 boleh diberikan PK? Karena darah binatang yang dicurahkan dalam PL saat orang Israel keluar dari tanah Mesir, bukan saja berlaku bagi orang dewasa, tetapi juga seluruh keluarga (termasuk anak2). Dan di Tiberias bayi2 dan anak2 yang menerima PK, mereka juga menerima dan merasakan mujizat. Bahkan yang divonis mati di kandungan oleh dokter, bisa selamat karena menerima PK. Di saat kita mengimani bahwa perintah ini datangnya dari Tuhan kepada Pdt Pariadji dan gereja Tiberias, maka kuasaNya beserta dengan kita. Gereja Tiberias berdiri untuk mengembalikan ajaran yang benar, melalui kuasa PK ada kuasa Allah yang dinyatakan. Berbahagialah jika kita menerimanya karena berdasarkan perintah, bukan suatu penafsiran semata yang dapat bertentangan satu dengan yang lainnya dan menganggap penafsiran aku yang paling benar yang lain salah. Padahal ada 3 pandangan besar yang berkembang. Tetapi 1 yang kita yakini bahwa PK bukanlah kehendak manusia, tetapi kehendak/ perintah Tuhan untuk kita lakukan.

Tanggapan saya :

Abraham, Yesus dan Paulus tidak mau memberi tanda / mujijat.

a.   Abraham.

Luk 16:27-31 – “Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.’”.

Abraham tidak menganggap bahwa mujijat merupakan sesuatu yang penting untuk mempertobatkan kelima saudara dari orang kaya itu. Ia tidak beranggapan bahwa kuasa Allah harus dibuktikan! Ia menganggap bahwa hukum Taurat / Firman Tuhan sudah cukup untuk mempertobatkan. Kalau hukum Taurat / Firman Tuhan tidak cukup, maka penginjilan yang dilakukan oleh orang yang bangkit dari antara orang matipun, sekalipun merupakan suatu mujijat yang luar biasa, tidak akan bisa mempertobatkan mereka. Ingat juga bahwa pada waktu Yesus membangkitkan Lazarus (Yoh 11), peristiwa itu tidak mempertobatkan para tokoh Yahudi, tetapi sebaliknya mereka ingin membunuh Yesus dan Lazarus (Yoh 11:47-53  Yoh 12:10).

b.   Yesus.

Mat 12:38-40 – “(38) Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: ‘Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari padaMu.’ (39) Tetapi jawabNya kepada mereka: ‘Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. (40) Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam”.

Apa artinya ‘tanda nabi Yunus’? Ada yang menganggap ay 40 sebagai penekanan / inti bagian ini dan lalu berkata bahwa tanda itu adalah kebangkitan Yesus. Tetapi kelihatannya ay 40 ini hanya merupakan tambahan saja dan bukan merupakan inti / penekanan dari bagian ini. Alasannya

Luk 11:29-30 maupun Mat 16:1-4 menyebut tentang Yunus tetapi tidak menyebut tentang ‘3 hari dan 3 malam’.

Luk 11:29-30 – “Ketika orang banyak mengerumuniNya, berkatalah Yesus: ‘Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini”.

Mat 16:1-4 – “Kemudian datanglah orang-orang Farisi dan Saduki hendak mencobai Yesus. Mereka meminta supaya Ia memperlihatkan suatu tanda dari sorga kepada mereka. Tetapi jawab Yesus: ‘Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak. Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.’ Lalu Yesus meninggalkan mereka dan pergi”.

Mark 8:11-12 bahkan hanya berkata bahwa mereka tidak akan diberi tanda. Bagian ini sama sekali tidak menyinggung tentang Yunus!

Mark 8:11-12 – “Lalu muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari padaNya suatu tanda dari sorga. Maka mengeluhlah Ia dalam hatiNya dan berkata: ‘Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.’”.

Ini semua menunjukkan bahwa Mat 12:40 bukanlah bagian inti tetapi hanya merupakan tambahan saja, karena kalau Mat 12:40 merupakan penekanan / inti, maka tidak mungkin 3 bagian Kitab Suci yang lain menghapuskan bagian ini.

Kesimpulan: arti bagian ini adalah: mereka tidak akan diberi tanda, tetapi hanya diberi pemberitaan Firman Tuhan! Yunus sendiri juga tidak memberi mujijat apa-apa kepada orang Niniwe; ia hanya memberitakan Firman Tuhan. Mereka harus percaya pada Firman Tuhan tanpa tanda / mujijat.

c.   Paulus.

1Kor 1:22-23 – “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan”.

Paulus juga seperti Abraham dan Yesus. Ia tidak mau memberikan apa yang dituntut / diinginkan oleh para pendengarnya. Orang Yahudi menginginkan tanda / mujijat, sedangkan orang Yunani menginginkan hikmat, tetapi Paulus memberitakan Kristus yang tersalib, yang bertentangan dengan keinginan dari orang Yahudi maupun Yunani, sehingga bagi orang Yahudi itu merupakan batu sandungan dan bagi orang Yunani itu merupakan kebodohan.

Pertanyaan saya adalah: mengapa Abraham, Yesus, dan Paulus tidak menunjukkan kuasa Allah, dan melakukan mujijat, dalam text-text ini? Dan kalau Abraham, Yesus dan Paulus tidak menunjukkan kuasa Allah atau melakukan mujijat di sini, mengapa orang kristen  jaman sekarang salah, kalau mereka hanya memberitakan Injil , tanpa menunjukkan kuasa Allah dalam bentuk mujijat-mujijat?

3.   Bdk. Yoh 10:41 – “Dan banyak orang datang kepadaNya dan berkata: ‘Yohanes memang tidak membuat satu tandapun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar.’”.

Ayat ini kontras dengan Ul 13:1-5, karena ‘nabi’ dalam Ul 13:1-5 menubuatkan tanda dan tanda itu terjadi, tetapi ia mengajarkan ajaran sesat; sedangkan Yoh 10:41 mengatakan bahwa Yohanes Pembaptis tidak membuat satu tandapun, tetapi apa yang Ia ajarkan benar.

Apakah andaberani mengatakan bahwa Yohanes Pembaptis bukan nabi, karena tidak bisa membuktikan kuasa Tuhan dengan melakukan tanda / mujijat?

Karena itu, kalau anda adalah seorang kristen yang betul-betul memberitakan Injil, jangan kecil hati karena anda tidak diberi karunia untuk melakukan mujijat / kesembuhan ilahi, karena Yohanes Pembaptis juga seperti itu. Yang penting adalah anda  memberitakan Injil / Firman Tuhan yang benar. Bukankah lebih baik menjadi seperti Yohanes Pembaptis, dari pada menjadi seperti ‘nabi’ dalam Ul 13:1-5 (yang mirip dengan Pdt. Yesaya Pariadji dan pengikutnya seperti  Pdt.Lucky Fergian Laoh )?

4.   Setan juga memperlengkapi nabi-nabi palsunya dengan kuasa-kuasa untuk melakukan mujijat. Ini terlihat dari ahli-ahli sihir Mesir yang bisa meniru mujijat Musa (melempar tongkat yang lalu menjadi ular) dalam Kel 7:11-12. Juga dari ayat-ayat seperti Mat 7:21-23  Mat 24:23-24  2Tes 2:9  Wah 13:11-14  Wah 16:13-14. Jadi, bagaimana kita bisa tahu apakah seseorang adalah nabi asli yang melakukan mujijat dengan kuasa Tuhan, atau seorang nabi palsu yang melakukan mujijat dengan kuasa setan? Seperti yang sudah saya katakan di depan, kita hanya bisa tahu melalui ajaran dari orang tersebut!

5.   Kekristenan harus menekankan penebusan / salib Kristus.

Penekanan mujijat dan kesembuhan dalam kekristenan merupakan suatu kebodohan. Mengapa? Karena dalam agama-agama lain dan sekte-sekte sesat, dan bahkan dalam kalangan orang yang mempelajari magic, hal-hal ini juga ada. Kalau kekristenan menekankan hal-hal itu, kekristenan tidak kelihatan istimewa. Yang istimewa dalam  kekristenan dan yang tidak dipunyai agama lain adalah keselamatan / pengampunan karena penebusan Kristus, dan ini yang harus ditekankan!

 


Alkitab adalah Firman Allah atau bukan

Ketika kita memulai doktrin Alkitab, kita diperhadapkan kepada beberapa presaposisi. Presaposisi-presaposisi itu adalah:

1. Alkitab berisi firman Allah, ( the Bible contain the word of God). Pernyataan ini adalah pernyataan orang-orang Liberal yang menolak hal yang bersifat supranatural, mis. mujizat yang telah dinyatakan Alkitab. Mereka menolak Kristus lahir dari anak dara Maria, Yesus membangkitkan orang mati dan lain-lain. Bagi mereka sebagian dari isi Alkitab adalah Firman Allah tetapi sebagian tidak. Ada lagi golongan lain seperti Bultman, yang menolak Alkitab sebagai Firman Allah dalam pengertian obyektif. Dia mengatakan bahwa ada bagian-bagian Alkitab yang berupa mitos yang perlu ditafsirkan kembali agar kita mendapatkan makna yang sesungguhnya dari mitos tersebut. Jadi, apakah sebuah kisah dalam Alkitab secara fakta sejarah benar atau salah, tidak terlalu penting. Yang penting adalah bagaimana mendapatkan makna yang sesungguhnya dari cerita tersebut. Pandangan ini salah, karena Alkitab bukanlah mitos tetapi benar-benar menceritakan fakta sejarah yang pernah terjadi.

2. Alkitab menjadi firman Allah, (the Bible become the Word of God). Pandangan ini adalah pandangan Neo-Ortodoks yang dimulai oleh Karl Barth. Dia berkata bahwa Alkitab adalah buku biasa yang berisi cerita tentang pergumulan iman orang-orang percaya pada zaman dahulu, baik PL maupun PB. Pada saat kita membaca Alkitab dan terjadi perjumpaan secara pribadi dengan Allah (encountering with God) sehingga ayat atau bagian yang kita baca benar-benar berbicara secara pribadi, maka pada saat itu Alkitab menjadi firman Allah. Pandangan ini juga salah karena menjadikan kebenaran firman Allah subyektif. Artinya apakah Alkitab itu firman Allah atau tidak, bergantung pada yang membacanya, apakah dia bertemu secara pribadi dengan Allah dalam pembacaan tersebut atau tidak. Pandangan ini mirip dengan pengajaran Kharismatik mengenai logos yakni firman yang ditulis dan rhema yakni firman yang berbicara secara pribadi kepada kita, pada saat membaca dan mendengarkan perkataan Alkitab. Teologi Reformed menerima bahwa seluruh bagian Alkitab berbicara kepada kita pada saat membaca dan mendengarkan dan mempelajarinya, karena seluruhnya adalah Firman Allah.

3. Alkitab adalah firman Allah, tetapi masih terbuka untuk wahyu baru. Wahyu baru masih diberikan Allah pada zaman ini melalui hamba-hamba Tuhan. Pandangan ini adalah pandangan golongan Kharismatik. Kesalahan pandangan ini adalah: a. Jika wahyu baru masih ada, maka posisi Alkitab menjadi tidak mutlak dan belum sempurna. Jika demikian, bagaimana mungkin Alkitab bisa menjadi standar iman pengajaran Kristen. b. Menerima adanya wahyu baru menjadikan kebenaran bersifat subyektif, karena masing-masing hamba Tuhan mengklaim mendapatkan wahyu dari Tuhan. Siapakah yang akan mengujinya? Jika golongan Kharismatik berkata bahwa Alkitab menjadi pengujinya, maka seharusnya wahyu baru tidak perlu, karena secara logis, kita harus memegang yang standar dan tidak memerlukan wahyu yang baru atau standar yang lain yang perlu diuji lagi oleh Alkitab. Pandangan Kharismatik ini sebenarnya adalah bentuk penolakan terhadap Alkitab yang sudah diwahyukan oleh Allah.

4. Alkitab bukan firman Allah, (the Bible is not the word of God). Pandangan ini adalah pandangan dari orang-orang liberal ekstrim dan juga dari agama-agama lain.

5. Alkitab adalah firman Allah, (the Bible is the Word of God). Pandangan ini adalah pandangan orang-orang Reformed dan golongan Injili. Alkitab adalah firman Allah karena seluruh bagiannya telah diwahyukan dan diinspirasikan oleh Allah. A. A. Hodge mengatakan bahwa, ada dua pendapat mengenai Alkitab ( waktu itu Neo-Ortodoks dan Gerakan Kharismatik belum ada) yaitu: Kitab Suci berisi Firman Allah (The Scripture contain the Word of God) dan Kitab Suci adalah firman Allah (the Scripture are the Word of God). Dia mengatakan bahwa jika Alkitab hanya mengandung (contain) Firman Allah, maka Alkitab tidak dapat menjadi hukum yang tidak dapat salah atas iman dan praktek, karena kita mengakui dua instrumen manusia dan dapat bersalah, 1) dari kritik tinggi (higher critisism) dan 2) hati nurani orang Kristen (Christian consciousness), untuk menetapkan elemen-elemen apakah yang hanya merupakan kata-kata manusia. Tetapi Gereja selalu memegang bahwa Alkitab adalah Firman Allah. Hal ini berarti bahwa, walaupun kitab-kitab ini dihasilkan melalui agen manusia, Allah telah, 1) mengontrol sedemikian rupa kejadian atau terjadinya dan 2) mengesahkan sedemikian mutlak akibatnya, bahwa Alkitab dalam setiap kalimat dan setiap kata, baik dalam materi dan bentuknya (matter and form) adalah sungguh-sungguh Firman Allah yang disampaikan kepada kita.
Di bawah ini kita akan melihat apakah pengertian dari wahyu dan inspirasi.

PEWAHYUAN (REVELATION)

Menurut B.B. Warfield, English Bible (AV/KJV), memunculkan kata wahyu (reveal) sebanyak 51 kali, dalam PL 22 kali dan PB 29 kali. Kata ini dalam bahasa Ibraninya adalah galah yang arti dasarnya adalah ketelanjangan (nakedness). Jika dikenakan pada pewahyuan maka berarti menghilangkan rintangan untuk mengamati atau membuka penutup suatu obyek untuk mengamatinya. Kata yang mirip dengan istilah Ibrani di atas adalah apokalupto dalam bahasa Yunani yang berarti penyingkapan.

Berkenaan dengan Alkitab maka, pewahyuan (revelation) berarti penyingkapan kebenaran oleh Allah kepada para nabi PL dan rasul PB, untuk ditulis menjadi kitab-kitab seperti yang sudah terdapat dalam Alkitab.

Akibat dari pewahyuan adalah menjadikan para nabi dan para rasul lebih bijaksana sehingga mereka mengerti firman, kehendak, serta rencana Allah. Penulis Alkitab yang bukan nabi maupun rasul, seperti penulis kitab Ester (yang diperkirakan ditulis Mordekhai) atau Lukas penulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul, tidak mendapat wahyu dari Tuhan, tetapi mendapatkan ilham sehingga mereka menulis. Hanya nabi dan rasul yang mendapatkan wahyu.

Beda pewahyuan dan pengilhaman adalah seperti yang dijelaskan oleh Charles Hodge berikut ini. Wahyu dan ilham pertama-tama berbeda dalam obyeknya. Obyek wahyu adalah pengkomunikasian pengetahuan, sedangkan obyek dari ilham adalah untuk mengamankan pengajaran. Konsekuensi dari perbedaan ini adalah timbulnya perbedaan yang kedua, yaitu dalam hal akibatnya. Akibat dari wahyu adalah menyebabkan penerima wahyu menjadi lebih bijaksana, sedangkan akibat dari ilham adalah menyebabkan penerima wahyu tadi dijaga dari kesalahan di dalam pengajarannya.

PENGILHAMAN (INSPIRATION)

Istilah ilham di dalam Alkitab diambil dari II Tim. 3:16. Di situ dikatakan : “Segala tulisan yang diilhamkan Allah…. .” Kata “diilhamkan Allah” di ayat tersebut berasal dari kata Yunani “Theo pneustos” yang berarti dihembuskan Allah. Penekanannya adalah ‘dihembuskan keluar’ (breath out) yang menunjukkan bahwa penulisan Alkitab adalah karya Allah yang menghembuskan keluar firman-Nya, untuk ditulis oleh manusia. Sebenarnya istilah ilham atau inspiration adalah istilah yang kurang tepat untuk hal ini, karena istilah tersebut lebih menunjuk kepada “menghirup kedalam”. Tetapi istilah ini sudah menjadi istilah teologi yang umum. Seharusnya istilah expiration lebih tepat untuk dipakai.

Warfield berkata bahwa istilah Theo pneustos tidak berarti diilhamkan dari Allah (inspired of God), atau dihembuskan ke dalam oleh Allah (breathed into by God), tetapi dihembuskan keluar oleh Allah (breathed out by God). Istilah ini menunjukkan bahwa Alkitab adalah sebuah produksi ilahi tanpa ada indikasi bagaimana Allah melakukannya di dalam memproduksinya.

Catatan:

Ada sekitar 4 kali Alkitab bersaksi tentang hembusan nafas Allah. Yang pertama ketika penciptaan manusia dan malaikat (kej. 2:7; Maz. 33:6). Hembusan ini adalah hembusan untuk memberi roh hidup ke dalam diri manusia dan malaikat. Ini adalah hembusan penciptaan. Hembusan kedua, terdapat dalam Yoh. 20:22, di mana Kristus menghembusi murid-murid dengan Roh Kudus. Hal ini berkenaan dengan pemberian Roh Kudus kepada gereja dan tentu berkaitan dengan baptisan Roh Kudus dan kelahiran kembali orang-orang pilihan Allah serta pengutusan para rasul untuk mendirikan Gereja Perjanjian Baru. Hembusan ketiga, dalam II Tim. 3:16, berkenaan dengan pemberian firman kepada orang-orang pilihan/gereja Tuhan. Mereka yang sudah diciptakan (hembusan I), tetapi sudah jatuh dalam dosa dan mati, dan yang sekarang telah dihidupkan kembali (hembusan II), harus diberi makan firman-Nya (hembusan III). Hembusan yang terakhir dalam II Tes. 2:8, merupakan hembusan bagi Iblis dan pengikutnya serta mereka yang tidak dipilih dan telah menolak Dia. Ini adalah hembusan murka-Nya, dimana musuh segala kebenaran dijatuhkan dan ditegakkannya kerajaan Allah yang kekal di dalam segala kepenuhan-Nya.

Fungsi dari pengilhaman adalah untuk mengamankan penulisan Alkitab dari kesalahan dan kesesatan. Semua penulis Alkitab, baik nabi-nabi atau rasul-rasul mau pun orang-orang yang berada di bawah wibawa mereka, menulis tanpa salah dan tidak sesat karena mendapat ilham dari Allah. Para nabi dan rasul mendapat wahyu dan ilham dari Allah, sedangkan penulis lain yang tidak termasuk ke dalam golongan nabi maupun rasul tetapi yang berada di bawah wibawa para rasul atau nabi, hanya mendapat ilham saja. Misalnya penulis kitab Ester yaitu Mordekhai di dalam PL dan penulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul yaitu Lukas di dalam PB.

Natur Pengilhaman (inspirasi)

Sekarang kita akan melihat natur dari pengilhaman. Menurut Berkhof, ada dua pandangan yang salah dalam hal ini, yaitu:

a. Pengilhaman mekanik. Pengilhaman mekanik adalah pemahaman bahwa Allah bertindak mendikte secara langsung para penulis Alkitab untuk menulis, dan mereka pasif dalam hal ini.

b. Pengilhaman dinamik. Pemahaman ini mengatakan bahwa mental dan kerohanian para penulis diangkat ke tingkat yang lebih tinggi, sehingga mereka melihat hal-hal rohani dengan lebih jernih dan memiliki perasaan yang lebih dalam mengenai kerohanian mereka. Tetapi kedua pandangan ini salah, dan yang benar adalah pandangan dalam poin c berikut ini.

c. Pengilhaman organik. Pemahaman ini mengatakan bahwa Roh Kudus menggunakan cara organik ketika menggerakkan penulis Alkitab. Roh memakai mereka seperti apa adanya mereka, sesuai dengan karakter dan temperamen mereka, karunia dan bakat mereka, pendidikan dan budaya mereka, kata-kata dan gaya mereka. Roh Kudus mengiluminasikan kepada mereka, bahkan mengenai kata-kata apa yang mereka gunakan.

Karena itu kita bisa memberikan kesimpulan bahwa inspirasi organik berarti, Allah melalui Roh Kudus-Nya memberikan inspirasi (ilham) kepada penulis kitab-kitab dalam Alkitab sehingga mereka menulis tanpa salah dalam setiap katanya (lih. inspirasi verbal di bawah ini), tetapi tidak dengan cara mendikte satu persatu apa yang mereka harus tulis, melainkan memberikan kebebasan penuh atas keterlibatan penulis Alkitab, baik dalam hal pikiran dan karakter, situasi mereka ketika menulis, budaya mereka bahkan gaya penulisan mereka. Teologi Reformed memegang posisi ini.

W. Gary Crampton, menyebutkan sekitar 6 pandangan yang salah mengenai inspirasi, yaitu pandangan:

1. Dinamis (sama seperti kesalahan yang dinyatakan Berkhof di atas).
2. Parsial. Yaitu inspirasi pada bagian-bagian tertentu saja dalam Alkitab.
3. Konseptual. Bahwa yang diinspirasikan hanya konsep-konsep saja, bukan kata-katanya.
4. Alami. Bahwa para penulis hanya dianggap sebagai orang yang sangat jenius dan karya mereka tidak berasal dari Allah.
5. Dapat salah. Alkitab walaupun diinspirasikan, tetapi dapat salah.
6. Neo Ortodoks. Alkitab ditulis oleh manusia yang sudah jatuh, maka pasti mengandung kesalahan.

2. Keluasan Inspirasi

Mengenai keluasan dari pengilhaman Alkitab, ada satu pandangan yang salah berkenaan dengan hal ini yaitu pandangan inspirasi parsial seperti yang sudah saya kutip W. Gary Crampton di atas. Sedangkan dua istilah yang berikut adalah pandangan yang benar mengenai keluasan dari inspirasi, yaitu inspirasi secara keseluruhan (plenary inspiration)dan inspirasi verbal (verbal inspiration). Plenary inspiration adalah keyakinan bahwa seluruh bagian Alkitab diinspirasikan oleh Allah, seperti yang dikatakan oleh Paulus dalam II Timotius 3:16 dan Petrus di dalam II Petrus 3: 16. Sedangkan Verbal inspiration adalah bahwa setiap kata dalam Alkitab diinspirasikan, sehingga tidak ada kata-kata yang salah atau sia-sia (tidak berarti).

Oleh karena seluruh bagian Alkitab dan juga kata demi kata diinspirasikan dan diwahyukan oleh Allah, maka Alkitab adalah firman Allah. Orang percaya harus menerima fakta bahwa seluruh bagian Alkitab, 39 kitab Perjanjian Lama, dan 27 kitab Perjanjian Baru, adalah firman Allah, karena dihembuskan keluar dari mulut Allah sendiri (theopneustos).

KETIDAKBERSALAHAN &KETIDAKTERSESATAN

Karena Alkitab diwahyukan dan diinspirasikan sepenuhnya oleh Allah, maka kaum Reformed dan orang-orang Injili berpendapat bahwa Alkitab adalah firman Allah. Kaum Reformed dan Injili, menerima ketidakbersalahan (inerrant) Alkitab serta layak dipercayanya atau ketidaktersesatan (infallible) Alkitab. Hal ini tentu di dalam teks aslinya (autographa). W. Gary Crampton mengatakan bahwa istilah infallible menyangkut otoritas Alkitab yang tanpa cacat, tanpa cela, mutlak dan mencakup seluruhnya, sedangkan istilah inerrant adalah bahwa Alkitab mempunyai kualitas yang bebas dari kesalahan. Alkitab bebas dari kemungkinan kesalahan; Alkitab tidak mungkin salah; Alkitab tidak mengatakan yang bertentangan dengan kenyataan; Alkitab mencatat sejarah dengan sempurna.

AUTHOGRAPHA

Pandangan Reformed dan Injili menekankan bahwa Alkitab yang tidak salah dan tidak menyesatkan (inerrant and infallible), tetapi semuanya sepakat bahwa hal ini hanya berlaku di dalam teks aslinya saja. Sedangkan salinan-salinan dan terjemahan, sangat mungkin terjadi kesalahan penulisan dan penerjemahannya. Permasalahan yang timbul dari hal ini adalah bahwa Alkitab yang authographa sudah tidak ada lagi, sedangkan yang tinggal hanya salinan-salinan. Jikalau yang asli sudah tidak ada, maka bagaimana bisa membuktikan bahwa salinan-salinan yang ada sekarang ini otoratif?

Frame berkata bahwa teolog Reformed tradisional telah berargumentasi mengenai ketidakbersalahan Alkitab hanya mencakup authographa bukan salinan-salinannya, sehingga banyak kalangan yang keberatan. Jika hal ini benar maka yang ada sekarang tidaklah infallible, melainkan hanya bisa cukup bisa diandalkan.

Mengenai hal ini Frame mengutip ilustrasi Van Til di dalam An Introduction to Systematic Theology, yaitu ilustrasi jembatan yang tertutup oleh air. Van Til mengatakan bahwa kita dapat mengemudi dengan aman di dalam air sedalam beberapa inci jika kita memiliki permukaan yang solid di bawah permukaan air tersebut. Menyatakan bahwa Alkitab bisa diandalkan meskipun tidak memiliki pengilhaman yang infallible, sama artinya dengan mengemudi melalui air, tidak membedakan apakah ada dasar yang solid atau tidak.
Tidak adanya autographa, tidak berarti bahwa Alkitab yang dipegang oleh orang percaya salah dan tidak otoratif. Benar bahwa Alkitab salinan dan terjemahan mungkin memiliki kesalahan penyalinan dan penerjemahan, tetapi tidak mempengaruhi konsep kebenaran utuh yang disampaikannya.

Kita memiliki tiga alasan untuk keyakinan ini, yakni:

1. Sekarang kita menemukan begitu banyak versi terjemahan. Jika seluruhnya dikumpulkan dan dibandingkan, maka jika ada salah satu versi yang secara menyolok berbeda dari semua versi lainnya dalam menyampaikan konsep kebenaran, maka versi tersebut layak untuk diragukan otoritasnya. Mis. Alkitab versi Saksi Yehovah. Sangat disayangkan bahwa ada golongan Reformed yang memiliki jiwa Fundamentalisme serta orang-orang Injili Fundamental tertentu, yang mengklaim bahwa versi King James adalah satu-satunya versi yang otoritatif. Ini sama sekali keliru. Versi King James juga ada kelemahannya. Sarjana Alkitab seperti Gordon Fee lebih mengunggulkan NIV ketimbang King James. Sebagai orang percaya, apapun versi terjemahan Alkitab kita, apakah itu King James, NIV, ASB, LAI atau yang lainnya, selama tetap setia menyampaikan seluruh konsep kebenaran yang menyangkut keAllahan dan kamanusiaan Kristus dan karya penebusan-Nya, Penciptaan dan kejatuhan manusia yang membutuhkan anugerah dan pertolongan Tuhan, Tritunggal dan doktrin pokok Kristen yang lainnya, tanpa mengabaikan kelemahannya, kita harus menerimanya sebagai firman Allah.

2. Jika kita sungguh-sungguh percaya bahwa Alkitab yang asli sungguh-sungguh ada, walaupun sekarang sudah hilang, maka seperti argumen Van Til di atas, kita mempunyai dasar yang solid untuk Alkitab yang kita pegang sekarang ini. Meragukan Alkitab yang kita pegang sekarang ini, sama artinya dengan menolak bahwa Alkitab yang authographa sungguh-sungguh ada. Dari manakah Alkitab yang sudah disalin dalam banyak versi dan diterjemahkan juga dalam banyak versi, yang secara keseluruhan menyampaikan konsep kebenaran yang sama, kalau tidak berasal dari satu sumber yang sungguh-sungguh ada? Menolak authographa adalah hal yang sangat mustahil. Ini sama halnya jika kita menolak bahwa kita seluruh ras manusia berasal dari nenek moyang yang sama, yaitu Adam. Darwin percaya bahwa kita dari monyet, tetapi teori ini dapat dengan mudah kita patahkan.

3. Jika kita percaya bahwa Alkitab adalah kitab yang dihembuskan oleh Allah atau bahwa Allah adalah penulis Alkitab, tidakkah Dia juga sanggup menjaga dan memelihara kitab yang sudah ditulis-Nya? Jikalau kita menerima kedaulatan Allah dalam segala hal, maka kita juga harus menerima kedaulatan-Nya terhadap Alkitab, baik dalam penulisannya maupun di dalam pemeliharaan akan keberlangsungannya selama Tuhan melihat bahwa Alkitab masih dibutuhkan oleh umat manusia.

KANONISASI

Salah satu hal yang paling penting di dalam membicarakan Alkitab adalah masalah kanonisasi. Kata kanon, seperti dikutip oleh F.F. Bruce dari R.P.C. Hanson, memiliki arti yang sederhana yaitu daftar buku yang dimuat di dalam Alkitab, atau di dalam konteks Kristen boleh didefinisikan kata itu sebagai daftar dari tulisan-tulisan gereja sebagai sebuah dokuman dari inspirasi ilahi.

Kata kanon berasal dari kata Yunani kanon yang berarti batang, tangkai atau tongkat, secara khusus tongkat yang lurus sebagai sebuah pengukur. Dari penggunaan ini datang arti lain yang umumnya terkandung di dalam bahasa Inggris ‘rule’ atau ‘standard.’
Siapakah yang berhak mengumpulkan dan menentukan kitab-kitab dalam Alkitab seperti yang kita ketahui sekarang yakni 66 kitab, dan atas otoritas siapakah mereka melakukan hal itu? Ada satu prinsip yang sangat penting yang ditulis Paul Little di dalam bukunya Know What You Believe, yaitu bahwa di dalam proses kanonisasi harus disadari bahwa sebuah kitab adalah kitab yang diinspirasikan dengan menggolongkan kitab itu ke dalam kanon. Penggolongan ke dalam kanon hanyalah pengenalan otoritas sebuah kitab yang sudah dimilikinya.

Jika sebuah kertas berwarna putih, maka warna putih dari kertas tersebutlah yang membuat kita mengatakan bahwa kertas itu putih dan bukan karena kita mengatakan kertas itu berwarna putih sehingga menjadi putih. Demikianlah dengan proses kanonisasi. Bukan bapa-bapa gereja yang menentukan sebuah kitab masuk ke dalam kanon atau tidak. Mereka sama sekali tidak memiliki otoritas untuk itu. Tetapi kitab-kitab tersebutlah yang menyatakan diri mereka firman Allah. Bapa-bapa gereja hanyalah mengumpulkan mana kitab-kitab yang berotoritas ilahi dan menyisihkan mana yang tidak.

Alkitab Perjanjian Lama tidak terlalu bermasalah, karena seluruh kitab-kitab Perjanjian Lama sudah diterima dan diakui oleh orang-orang Yahudi, sejumlah yang kita kenal sekarang. Bahkan sekitar tahun 70 sebelum masehi, sudah diterjemahkan oleh sekitar 70 ahli Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani, di kota Aleksandria, Mesir. Terjemahan tersebut disebut sebagai septuaginta (LXX).
Menurut W. Gary Crampton, kanon Perjanjian Lama sudah lengkap pada tahun 400 sebelum masehi, tetapi menurut Paul Little, kanon perjanjian Lama tidak diketahui dengan pasti kapan sudah lengkap.

Mengenai kanon Perjanjian Baru, H. Berkhof mengatakan bahwa kanon tersebut sudah ditetapkan kira-kira tahun 200 dan secara definitif tahun 380. Sedangkan menurut W. Gary Crampton, Kanonisasi terakhir terjadi pada tahun 397 masehi di konsili Kartago.
Crampton juga menyatakan bahwa Perjanjian Lama diterima oleh bapak-bapak gereja pada saat kanonisasi karena, kepenulisannya bersifat kenabian, penerimaan oleh agama dan orang Yahudi secara Historis dan konsistensi doktrin dalam keseluruhan Perjanjian Lama. Kemudian Perjanjian Baru juga sama yaitu, bersifat kerasulan, penerimaan oleh gereja mula-mula, dan konsistensi doktrin serta keselarasan Alkitab.

Dalam bukunya Little, seperti yang dikutipnya dari J.N. Birdsell, Canon of The New Testament, kanon Perjanjian Baru dikonfirmasikan pada saat konsili di Kartago tahun 397 dengan mengunakan tiga kriteria yaitu:

1. Apakah kitab itu bersifat kerasulan dari awalnya?
2. Apakah kitab itu digunakan dan dikenali oleh gereja-gereja?
3. Apakah kitab tersebut mengajarkan doktrin yang benar?

Yang pertama, apakah bersifat kerasulan atau tidak? Hal ini berarti bahwa kitab-kitab tersebut harus ditulis oleh rasul-rasul Yesus Kristus sendiri yaitu keduabelas rasul dan rasul Paulus (Yudas tentu tidak termasuk ke dalam golongan ini, jabatannya sudah diganti oleh Matias, Kis. 1:26), yang juga mendapat panggilan langsung dari Tuhan di dalam perjalanannya ke Damsyik, Kis. 9:3-6. Bandingkan juga dengan I&II Kor. 1:1;Gal. 1:1; Ef.1:1; I&II Tim.1:1; Tit.1:1.

Tetapi ada juga kitab-kitab yang tidak ditulis oleh rasul-rasul sendiri, seperti kitab Injil Markus yang ditulis Markus, Injil Lukas dan Kisah Para rasul yang ditulis oleh Lukas serta surat Yakobus dan Yudas yang ditulis oleh Yakobus dan Yudas saudara-saudara Tuhan Yesus. Mereka semua bukanlah rasul tetapi mereka menulis di bawah pengaruh rasul-rasul.

Markus pernah berada di bawah pengaruh Paulus karena pernah menyertai Paulus di dalam perjalanannya, yang menjadi penyebab perselisihan antara Paulus dan Barnabas. Kis. 15:37-40. Secara khusus ketika Markus menulis Injil Markus, dia berada di bawah pengaruh dan bimbingan rasul Petrus. Sedangkan Lukas adalah rekan Paulus. Tidak diragukan lagi bahwa dia berada di bawah pengaruh dan bimbingan Paulus. Yakobus dan Yudas yang pada awalnya tidak percaya kepada Yesus, Yoh. 7:3-5, pada akhirnya mereka menjadi percaya, dan sejak mula mereka berada bersama-sama rasul-rasul di Yerusalem, Kis. 1:14.
Mengenai kitab Ibrani, yang penulisnya tidak mencantumkan nama, jika Paulus yang menulisnya, tidak ada masalah. Tetapi Jika Apolos, seperti pendapat sebagian ahli PB, maka kita dapat berargumen bahwa dia berada di bawah pengaruh Paulus. Hal ini bisa kita lihat dari dua hal yaitu:

1. Paulus menyebut Apolos di dalam suratnya, yang secara tidak langsung meneguhkan pelayanan Apolos dan kedekatan Paulus dengannya. Pertama, di dalam I Kor. 3:4-6. Walaupun tulisan Paulus ini untuk mengecam dan menyelesaikan perselisihan jemaat Korintus, tetapi Paulus mengatakan bahwa dirinya yang menanam dan Apolos yang menyiram. Pernyataan ini langsung meneguhkan kredibilitas pelayanan Apolos. Kedua, I Kor. 16:12. Di dalam ayat ini Paulus menulis bahwa ia mendesak Apolos untuk datang ke Korintus. Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki hubungan yang erat sekali di dalam pelayanan.

2. Konsep teologi Apolos pernah diluruskan oleh Priskila dan Akwila. Kita tahu bahwa Priskila dan Akwila adalah rekan pelayanan Paulus yang sangat dekat. Mereka dan Paulus, sama-sama pembuat tenda, Kis. 18:2-3. Doktrin atau teologi Priskila dan Akwila pasti dibentuk oleh pengajaran Paulus. Jadi, kedekatan antara Apolos dengan Priskila dan Akwila, menjadikan Apolos secara tidak langsung berada di bawah pengaruh bahkan bimbingan Paulus. Sehingga seandainya jika bukan Paulus yang menulis kitab Ibrani tetapi Apolos, maka tetap tidak menjadi masalah. Ke 27 kitab PB, lulus di dalam ujian yang pertama ini.

Yang Kedua, apakah kitab-kitab tersebut dikenali dan digunakan oleh gereja-gereja saat itu? Pengakuan adalah penting sekali. Jika sebuah kitab hanya diakui dan digunakan oleh sebuah jemaat saja, maka otoritas dari kitab tersebut patut dipertanyakan. Jika kitab itu sungguh-sungguh firman Allah, maka tentu dikenal dan digunakan secara luas oleh gereja-gereja saat itu. 27 kitab PB adalah kitab-kitab yang sudah lulus ujian ini.Yang Ketiga, apakah kitab-kitab itu, mengajarkan doktrin yang benar? Banyak kitab-kitab apokrifa yang ditulis pada abad kedua, yang masih mirip dengan kanon, tetapi di dalamnya ada muatan-muatan ajaran gnostik dan panteisme. Itu sebabnya injil-injil palsu seperti injil Thomas, injil Yudas, injil Maria Magdalena dan lain-lain, bahkan yang muncul paling belakangan yaitu injil Barnabas, kita tolak. Tetapi, ke 27 kitab PB yang menjadi kanon, sangat sepakat di dalam doktrin yang disuarakannya. Itu sebabnya, kitab-kitab itu lulus juga pada ujian ini.

BEBERAPA PENDAPAT

Martin Luther

Althaus mengatakan bahwa kita tidak dapat mendiskusikan pengertian Luther mengenai iman tanpa mengacu kepada firman Allah, sebaliknya juga kita tidak dapat menbicarakan firman Allah tanpa mengacu iman. Ini berarti bahwa menurut Althaus, Luther sangat menekankan keterkaitan antara Alkitab dan iman. Selanjutnya Luther juga melihat bahwa seluruh Alkitab merupakan sebuah kesatuan besar dan hanya memiliki satu isi yaitu Kristus. Dia mengatakan seperti dikutip oleh Althaus bahwa tidak diragukan lagi, seluruh Alkitab menunjuk hanya kepada Kristus. Keluarkan Kristus dari Alkitab, maka apa lagi yang engkau akan temukan di dalamnya? Seluruh Alkitab hanya menulis tentang Kristus. Selanjutnya menurut Luther, Alkitab berisi baik Hukum Taurat maupun Injil, dan Kristus sendirilah penafsir dari Hukum Taurat. Sejauh mana Alkitab mengetengahkan Hukum Taurat, maka hal itu menarik manusia kepada Kristus.

Mengenai keabsahan atau otoritas Alkitab, Luther menghubungkan hal itu dengan isinya yaitu Kristus. Dia berkata bahwa jika Kristus adalah isi Alkitab, ini berarti bahwa di dalam Roh Kudus Kristus mengabsahkan diri-Nya kepada manusia sebagai satu-satunya kebenaran dan oleh karena itu mengabsahkan Kitab Suci.

Mengenai penafsiran Alkitab, Luther mengemukakan satu hukum penafsiran yang juga berlaku untuk semua buku yaitu, menafsirkan sesuai dengan jiwa dan semangat dari penulisnya. Karena semangat dari penulis dapat dikenal dari tulisan-tulisannya, maka hal ini berarti bahwa sebuah tulisan harus menafsirkan dirinya sendiri. Jika ini benar bagi semua buku maka berlaku juga bagi Alkitab. Alkitab adalah otoritas final dan hakim yang tertinggi. Jikalau otoritas-otoritas lain menjelaskan mengenai Alkitab, maka otoritas-otoritas itu juga mengabsahkan Alkitab, sehingga Alkitab akan hilang otoritas finalnya. Pengabsahan Alkitab atas dirinya sendiri juga meliputi penafsiran atas dirinya sendiri. Dengan demikian maka Luther menegakkan semboyan Alkitab ditafsirkan dengan Alkitab atau Alkitab menafsirkan dirinya sendiri.

Mengenai kaitan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Luther mengatakan bahwa hal ini dikarasteristikkan oleh baik kesatuan maupun perbedaan. Bagi Luther, perbedaan yang paling menentukan di dalam firman Allah adalah perbedaan antara Hukun Taurat dan Injil, tetapi perbedaan ini tidak lantas menunjukkan perbedaan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, karena hukum maupun Injil terkandung di dalam dua kitab tersebut.

John Calvin

John H. Leith mengutip pendapat B.B. Warfield di dalam bukunya Calvin and Calvinism, yang menurut Warfield, Calvin mengajarkan mengenai Alkitab yang bebas dari seluruh kesalahan. Ini berarti bahwa Calvin percaya ketidakbersalahan Alkitab, sebuah topik yang menjadi perdebatan antara orang-orang Modernisme dengan para teolog Old Princeton yang memuncak pada B.B. Warfield.
Calvin dalam Institutes buku yang pertama bab VII mengatakan bahwa Alkitab adalah satu-satunya rekaman di mana Allah senang untuk menyampaikan kebenaran-Nya sebagai peringatan yang kekal. Otoritas penuh yang mereka (maksudnya kitab-kitab dalam Alkitab) miliki tidak dapat dikenal jika tidak dipercayai datang dari sorga, sama langsungnya jika Allah telah terdengar mengatakannya kepada mereka. Dari kutipan ini, dapat disimpulkan bahwa otoritas Alkitab menurut Calvin diteguhkan oleh Allah sendiri sebagai pemberi Alkitab.

Selanjutnya dia mengatakan bahwa karena hanya Allah saja yang selayaknya memberi kesaksian terhadap firman-Nya, maka firman ini tidak mendapat penghargaan yang penuh di dalam hati manusia, sampai mereka dimeteraikan oleh kesaksian di dalam oleh Roh Kudus. Karena itu Roh yang sama yang berbicara melalui mulut para nabi, harus meresapi hati kita, supaya meyakinkan kita bahwa kitab-kitab itu setia dalam menyampaikan pesan yang mana mereka dipercaya secara ilahi. Jadi bagi Calvin, Alkitab dan kesaksian Roh Kudus di dalam hati orang percaya yang meneguhkan bahwa Alkitab adalah sungguh-sungguh firman Allah, tidak dapat dipisahkan. Alasannya adalah bahwa jika Roh Kudus yang memakai para penulis Alkitab sehingga mereka menuliskan firman-Nya, maka Roh Kudus pula yang memberikan kesaksian di dalam hati manusia bahwa Alkitab sungguh-sungguh firman Allah.
Mengenai pendapat Calvin ini, De Jonge memberikan penjelasan demikian:

… bagaimana “para rasul dan nabi ” sebagai manusia yang fana dapat menulis sesuatu yang berwibawa sebagai firman Allah. Di sini Calvin menunjuk pada peran menentukan yang dimainkan oleh Roh Kudus. Roh Kuduslah yang menyakinkan orang bahwa Alkitab adalah firman Allah. Bahwa Alkitab adalah firman Allah, disaksikan dalam batin manusia oleh Roh Kudus sendiri. Tetapi, kalau demikian, bagaimana kita menerima kesaksian Roh Kudus yang batiniah, testimonium spiritus sancti internum (juga arcanum, rahasia) ini? Di sini Calvin diajak untuk bertindak secara bijaksana, sebab pada zamannya ada orang yang mengatakan bahwa Roh Kudus langsung bekerja dalam hati orang percaya, sehingga mereka sebenarnya tidak memerlukan firman Allah yang tertulis. Untuk menjawab kaum spiritualis (dari spiritus, Roh) ini, Calvin berkata bahwa Roh Kudus bersaksi melalui Alkitab, kata-kata yang ditulis oleh “para rasul dan nabi.” Roh Kudus menggerakkan penulis-penulis Alkitab untuk menulis hal-hal yang bukan berasal dari mereka sendiri, malainkan dari Allah. Demikianlah kesaksian manusia menjadi kesaksian Roh Kudus. Dapat dikatakan juga bahwa Alkitab menjadi alat Roh Kudus untuk menyampaikan firman Allah. Kata-kata manusia di dalamnya dipakai oleh Roh Kudus untuk menyampaikan firman Allah, dan Roh kudus sekaligus menggerakkan hati para pembaca untuk memperoleh dari tulisan-tulisan manusiawi kebenaran ilahi.

Mengenai kaitan Alkitab dan kehidupan Kristen, Calvin berkata bahwa kebutuhan manusia untuk pengetahuan mengenai kehidupan Kristen ditemukan melalui wahyu Allah di dalam Yesus Kristus, di dalam Hukum Taurat dan Alkitab. Calvin secara bervariasi menunjukan bahwa ketiga hal tersebut adalah norma dari kehidupan Kristen, tetapi dia tidak memisahkan ketiganya sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Yesus Kristus adalah penggenap Hukum Taurat dan pengakuan kita mengenai Yesus Kristus dan Hukum Taurat datang dari Alkitab.

Charles Hodge

Charles Hodge adalah seseorang profesor teologi di seminari Princeton pada abad 19. Dia mengatakan bahwa semua orang Protestan mengajarkan mengenai firman Allah yang ditulis di dalam Alkitab yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sebagai satu-satunya hukum yang tidak dapat salah bagi iman dan hidup. Berikut penjelasan Hodge atas pernyataan atas keyakinan Protestan di atas:

1) That the Scriptures of the Old and New Testaments are the Word of God, written under the inspiration of the Holy Spirit, and are therefore infallible, and of divine authority in all things pertaining to faith and practice, and consequently free from all error wether of doctrine, fact, or precept. 2) That they contain all the extant supernatural revelation of God designed to be a rule of faith and practice to His church. 3) That they are sufficiently perspicuous to be understood by the people, in the use of ordinary means and by the aid of the Holy Spirit, in all things necessary to faith or practice, without the need of any infallible interpreter. (Bahwa kitab-kitab Perjanjian Lama dan Baru adalah firman Allah, ditulis di bawah inspirasi dari Roh Kudus, dan oleh karenanya sempurna, dan oleh otoritas ilahi di dalam segala hal berkenaan dengan iman dan praktek, dan akibatnya bebas dari segala kesalahan apakah itu doktrin, fakta, maupun ajaran. 2) Bahwa kitab-kitab itu mengandung semua wahyu supranatural Allah yang masih ada yang didesain untuk menjadi hukum atas iman dan praktek bagi gereja-Nya. 3) Bahwa kitab-kitab itu cukup jelas untuk dimengerti oleh manusia, di dalam penggunaannya yang biasa dan oleh pertolongan Roh Kudus, di dalam segala hal yang penting untuk iman maupun praktek, tanpa memerlukan seseorang penafsir yang tidak bersalah.)

Hodge menyimpulkan bahwa ketidakbersalahan Alkitab dan otoritas ilahinya adalah berasal dari fakta bahwa Alkitab adalah firman Allah dan bahwa Alkitab adalah firman Allah karena diberikan melalui inspirasi Roh Kudus.

B.B. Warfield

Warfield memahami Alkitab sebagai perkataan Allah sendiri. Dia mengatakan bahwa ada dua golongan di dalam pasal-pasal Alkitab. Golongan yang pertama di mana pasal-pasal Alkitab tersebut berbicara seolah-olah mereka adalah Allah, dan golongan yang lain, Allah berbicara seolah-olah Dia adalah Alkitab. Di dalam keduanya, Allah dan Alkitab dibawa ke dalam hubungan ketika menunjukan bahwa dalam poin yang bersifat langsung dari otoritas tidak ada perbedaan dibuat di antara mereka.

Dia memberikan contoh mengenai kedua golongan di atas sebagai berikut, untuk golongan yang pertama dia mengambil Galatia 3: 8, “Dan Kitab Suci yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: “Olehmu segala bangsa akan diberkati.” Kemudian dari Roma 9:17, “Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimashyurkan di seluruh bumi.” Menurut Warfield kutipan-kutipan Alkitab di atas memperlihatkan kepada kita bahwa Alkitab berbicara seolah-olah mereka adalah Allah sendiri.

Kemudian golongan kedua, Warfield mengambil contoh sebagai berikut, Matius 19: 4, 5; Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firmanNya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.” Masih ada ayat-ayat lain lagi yang menjadi contoh golongan kedua ini yaitu Ibrani 3:7; Kisah Para Rasul 23 : 34, 35 dan lain-lain. Di dalam golongan yang kedua terlibat bahwa Allah sendiri bersikap seolah-olah Ia adalah Kitab Suci. Dari pendapat Warfield ini, kita bisa menyimpulkan bahwa menurutnya Alkitab adalah perkataan Allah sendiri.