SIX MODERN ERRORS ABOUT REVIVAL

Pertama saya tertarik tentang tema kebangunan rohani sejak tahun 1961. Saya membeli sebuah buku kecil di Toko Buku Biola tentang Kebangunan Rohani Pertama (“First Great Awakening”). Ini berisi sari dari Jurnal John Wesley, dan diterbitkan oleh Moody Press. Saya telah memikirkan dan sekarang masih memikirkan tentang kebangunan rohani, dan doa untuk itu, selama lebih dari 48 tahun. Adalah suatu kebahagiaan bagi saya dengan mengalami dua kebangunan rohani yang luar biasa di gereja Baptis. Ini bukan kebaktian kebangunan rohani, atau kebaktian “karismatik.” Itu adalah dua kebangunan rohani seperti yang Anda baca dalam buku-buku sejarah Kekristenan.

Setelah 48 tahun membaca dan berpikir tentang tema ini, saya tidak menganggap diri saya sendiri sebagai ahli di bidang kebangunan rohani. Saya merasa seperti orang yang baru belajar, baru mulai untuk memahami beberapa kebenaran penting berhubungan dengan kebangunan rohani.

Dulu saya pernah membuat kesalahan berhubungan dengan kebangunan rohani. Selama beberapa tahun saya telah disesatkan oleh tulisan-tulisan Charles G. Finney. Bahkan sekarang saya masih tidak yakin bahwa saya sudah memahami tema ini secara lengkap,

“Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar” (I Korintus 13:12).

Namun malam ini saya akan memberikan enam kesalahan tentang kebangunan rohani kepada Anda, yaitu hal-hal yang saya percaya adalah suatu kesalahan. Saya berharap agar poin-poin ini akan membantu Anda ketika Anda berdoa memohon Tuhan mengirimkan kebangunan rohani.

I. Pertama, adalah salah ketika kita harus memfokuskan pada karunia-karunia Rasul untuk memiliki kebangunan rohani.

Walaupun saya tidak membenci orang Pentakosta, namun saya pikir mereka salah. Dan saya pikir penekanan mereka pada karunia-karunia Rasul telah menghalangi terjadinya kebangunan rohani yang riil. Iain H. Murray berkata,

Karunia-karunia seperti itu tidak dikenal pada zaman Chrysostom (+ 347-407) dan Augustine (+ 354-430). Hal itu juga tidak pernah dimiliki oleh para… pemimpin di beberapa kebangunan rohani dari zaman Reformasi sampai abad ini… Para Reformator hanya berfokus kepada Kitab Suci. Mereka mengklaim kebenaran Rasuli, bukan karunia-karunia Rasul. Begitu juga pada periode kaum Puritan, sampai Kebangunan Rohani (Great Awakening) zaman Edwards, Whitefield dan the Wesleys, hingga zaman Spurgeon. Semua sepaham dengan Whitefield bahwa “karunia-karunia melakukan mujizat seperti yang pernah terjadi pada jemaat mula-mula sudah berhenti sejak dulu.” Jika beberapa pemimpin dipenuhi oleh Roh Kudus, seperti mereka, agar dapat melakukan pekerjaan melakukan mujizat, sungguh aneh bila mereka tidak mengenal karunia-karunia melakukan mujizat… Semua klaim tentang fenomena luar biasa seperti itu baru muncul sekitar tiga puluh lima tahun belakang ini – berbahasa roh, kesembuhan ilahi, nubuatan dan ”rebah dalam Roh” – jauh dari mempersiapkan untuk kebangunan rohani, dan malah agaknya malah mengacaukan kebenaran-kebenaran agung yang Roh selalu muliakan di dalam mengobarkan kebangunan-kebangunan rohani (Iain H. Murray, Pentecost Today? – the Biblical Basis for Understanding Revival, Banner of Truth, 1998, hal. 197-199).

Penekanan karunia-karunia Rasul telah menyebabkan banyak orang justru menjauhkan diri mereka sendiri dari pikiran tentang Roh Kudus dan kebangunan rohani. Ini memalukan, karena pekerjaan utama dari Roh Kudus telah dijelaskan kepada kita oleh Yesus, di dalam Yohanes 16:8

“Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman.”

Kita sungguh membutuhkan Roh Kudus untuk melakukan pekerjaan ini di gereja-gereja kita hari ini.

Dan, kemudian, pekerjaan agung Roh Kudus lainnya dijelaskan kepada kita dalam Yohanes 15:26,

“Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.”

Kita membutuhkan pekerjaan Roh Kudus yang menginsafkan. Kita membutuhkan kesaksian-Nya tentang Kristus. Ini adalah hal-hal yang Allah harus lakukan di tengah-tengah kita jika kita ingin memiliki kebangunan rohani, kebangunan rohani seperti yang pernah terjadi di sepanjang sejarah!

II. Kedua, adalah salah ketika kita berpikir tidak mungkin ada kebangunan rohani pada zaman ini.

Saya tidak akan menghabiskan banyak waktu untuk membahas ini, namun saya harus menekankan ini karena begitu banyak mempercayaai pernyataan di atas. Mereka berkata hal-hal seperti, “Hari-hari yang agung dari kebangunan rohani telah berakhir. Kita ada di hari-hari yang terakhir. Tidak akan ada lagi kebangunan rohani.” Ini adalah pemikiran umum di kalangan orang-orang Kristen yang menjunjung tinggi Alkitab hari ini.

Namun saya percaya pandangan demikian salah karena tiga alasan berikut ini:

(1)  Alkitab berkata, “Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita” (Kisah Rasul 2:39).

(2)  Kebangunan rohani terbesar dari semua yang pernah terjadi akan terjadi di tengah-tengah Kesusahan Besar, di bawah penganiayaan Antikristus, di akhir zaman ini (band. Wahyu 7:1-14).

(3)  Kebangunan rohani terbesar dalam sepanjang sejarah Timur Jauh sedang terjadi tepat sekarang, malam ini, di Republik Rakyat China dan Negara-negara di Asia Tenggara. Kebangunan rohani terbesar dari zaman modern ini sedang terjadi di sana tepat sekarang!

 

Adalah kesalahan yang mengerikan jika ada yang berpikir bahwa tidak mungkin ada kebangunan rohani hari ini!

III. Ketiga, adalah salah ketika kita berpikir bahwa kebangunan rohani bergantung pada usaha-usaha penginjilan.

Ini adalah kesalahan umum di antara gereja Baptis Selatan dan lainnya. Ide ini diturunkan kepada mereka dari Charles G. Finney, yang berkata, “Kebangunan rohani secara alami adalah hasil dari penggunaan sarana yang sesuai dan keberhasilan itu adalah karena sarana yang digunakan sesuai (C. G. Finney, Lectures on Revival, Revell, n.d., hal. 5). Banyak gereja hari ini mengiklankan “kebangunan rohani” mulai pada hari tertentu – dan berakhir pada hari tertentu! Ini adalah murni Finneyisme! Kebangunan rohani tidak bergantung pada usaha-usaha penginjilan dan memenangkan jiwa yang kita lakukan!

Mari kita bersama-sama membuka Kisah Rasul 13:48-49,

“Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. Lalu firman Tuhan disiarkan di seluruh daerah itu.”

Namun sebelum saya mengomentari dua ayat tersebut, Anda harus memahami bahwa saya tidak mempertahankan semua poin dari kelima poin Calvinisme. Itulah sebabnya mengapa beberapa orang berkata bahwa saya adalah “Reformed moderat.” Saya baru saja menjelaskan kepada Anda sehinga Anda akan mengetahui perspektif saya. Ketika saya mengutip ayat ini, saya tidak harus dipaksa untuk mengakui bahwa hanya “semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.“ Walaupun Injil “diberitakan ke seluruh daerah itu” hanya orang-orang ini yang “ditentukan untuk hidup kekal yang menjadi percaya.”

Saya pikir dua ayat ini membersihkan ide bahwa kebangunan rohani bergantung pada usaha-usaha penginjilan. Ya, kita diperintahkan untuk “memberitakan Injil kepada segala mahkluk” (Markus 16:15) – namun tidak setiap mahkluk akan percaya! Pada masa-masa kebangunan rohani lebih banyak orang percaya dibandingkan dengan masa-masa yang lain – namun sungguh jelas bahwa kebangunan rohani tidak bergantung pada usaha-usaha penginjilan kita saja.

Ada suatu misteri berhubungan dengan semua ini – karena ada hal-hal yang berhubungan dengan pertobatan dan kebangunan rohani terjadi melampaui akal manusia. Kita diperintahkan untuk memberitakan Injil kepada orang-orang terhilang entah mereka mau percaya atau tidak. Namun kebangunan rohani bergantung pada Allah, bukan pada usaha-usaha penginjilan kita.

IV. Keempat, adalah salah ketika kita berpikir bahwa kebangunan rohani bergantung pada dedikasi orang-orang Kristen.

Saya tahu bahwa seseorang dapat mengutip II Tawarikh 7:14. Namun ini nampak aneh mengapa mereka tidak mengutip dari ayat Perjanjian baru untuk mendukung teori mereka bahwa kebangunan rohani bergantung pada orang-orang Kristen yang “hidup benar bersama Tuhan.” Mengapa harus ayat ini, yaitu ayat yang diberikan kepada Salomo, yang digunakan sebagai suatu rumusan untuk kebangunan rohani gereja Perjanjian Baru? Saya tidak melihat alasan untuk melakukan itu di mana seorang pengkhotbah mengirimkan kapal-kapal dari gerejanya, “membawa emas dan perak serta gading; juga kera dan burung meraks” seperti yang Salomo lakukan dalam II Tawarikh 9:21, hanya dua pasal kemudian!

Iain H. Murray berbicara berhubungan dengan II Tawarikh 7:14, “Hal pertama untuk mengatakan secara yakin bahwa apa yang dijanjikan bukan kebangunan rohani [Perjanjian Baru], untuk janji ini seharusnya dimengerti, pertama dalam hubungannya dengan waktu yang mana itu diberikan. Ini adalah janji untuk Israel Perjanjian Lama dan tanah mereka yang akan dipulihkan seperti dikatakan di sini” (Murray, ibid., hal. 13).

Ide bahwa kebangunan rohani bergantung pada dedikasi orang-orang Kristen adalah faham yang berasal dari Finney. Jonathan Goforth, orang yang lebih baik dari Finney, namun ia menggemakan pengajaran Finney ketika ia berkata, “Dosa yang tidak disadari, satu-satunya, yang dapat menghalangi kebangunan rohani terjadi di antara kita… Pentakosta belum ada di genggaman kita. Jika kebangunan rohani masih belum terjadi di tengah kita itu karena masih ada beberapa berhala yang masih bertahta [di antara kita]” (Jonathan Goforth, By My Spirit, 3rd edition, Marshall, Morgan and Scott, n.d., hal. 181, 189).

Winston Churchill suatu kali menulis kepada anak muda yang adalah cucunya, ia meminta kepada cucunya itu untuk mempelajari sejarah, karena sejarah menyediakan sarana-sarana terbaik untuk membuat prediksi yang paling cerdas tentang masa depan. Berikut ini adalah ucapan Churchill, “Mempelajari sejarah,” kita menemukan ide bahwa kebangunan rohani bergantung pada “kesetiaan penuh” orang-orang Kristen adalah tidak benar. Nabi Yunus tidak sepenuhnya setia kepada Allah. Bacalah pasal terakhir dari Kitab Yunus, dan Anda akan melihat kurangnya dan ketiadaan imannya. Tidak, kebangunan rohani terbesar di antara orang-orang non Yahudi dalam Perjanjian Lama tidak bergantung pada “penyerahan mutlak” atau “kesempurnaan” seorang Nabi. John Calvin bukanlah orang yang sempurna. Ia pernah membakar seseorang pada sebuah tiang karena dianggap bidat – yang sungguh tidak menunjukkan sikap Perjanjian Baru. Namun Tuhan mengirimkan kebangunan rohani di bawah pelayanannya, dan melalui tulisan-tulisannya. Luther kadang-kadang mempunyai perangai yang tidak baik, dan ia pernah berkata bahwa sinagog-sinagog Yahudi harus dibakar. Namun kendati Luther kadang-kadang sangat sinis, dan anti-Semitisme, namun Tuhan mengirimkan kebangunan rohani di bawah pelayanannya. Kita dapat memaafkan Calvin dan Luther karena kita sadar bahwa mereka adalah orang-orang dari abad pertengahan, yang masih dipengaruhi tindakan-tindakan seperti ini oleh Katolikisme. Namun, kendati ada kekurangan pada diri mereka, Allah mengirim kebangunan rohani Reformasi yang agung di bawah pelayanan mereka. Whitefield kadang-kadang membuat kesalahan berhubungan dengan “kesan-kesan batiniah” yang secara salah ia pikir berasal dari Allah. Wesley memilih untuk membuang undi (melempar dadu) untuk menentukan kehendak Allah. Spurgeon sering dipersalahkan karena ia kadang-kadang menghisap cerutu, walaupun dengan jujur kita harus menyadari bahwa ini bukan hal yang baik. Para pengikut Victoria adalah pecandu kopi. J. Frank Norris kadang-kadang kurang bersemangat. Kita dapat memaafkan dia karena kita menyadari tekanan yang luar biasa yang menekan dia, ketika ia memulai gerakan Baptis independent, seperti yang ia alami. Namun Whitefield, Wesley, Spurgeon, Luther, Calvin dan Norris melihat kebangunan rohani pada pelayanan mereka.

Kita melihat, dari contoh-contoh dalam sejarah ini, bahwa orang-orang yang tidak sempurna, kadang-kadang orang-orang yang tidak sesuci atau setia sebagaimana seharusnya mereka menjadi, dengan luar biasa dipakai Tuhan pada masa-masa kebangunan rohani. Kita harus dengan jujur menyimpulkan bahwa Finney dan para pengikutnya salah ketika mereka berkata bahwa kebangunan rohani bergantung pada orang-orang Kristen yang sepenuhnya menjadi setia/ terdedikasi. Rasul Paulus menjelaskan kepada kita bahwa,

“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (II Korintus 4:7).

Anda lihat, kebangunan rohani tidak bergantung pada orang-orang Kristen yang mendedikasikan hidup mereka secara sepenuhnya, atau mendedikasikan diri mereka kembali. Tidak – kebangunan rohani bergantung pada “kekuatan yang melimpah-limpah… berasal dari Allah, bukan dari diri kita” (II Korintus 4:7).

Dengan menggunakan II Tawarikh 7:14, Bill Bright pernah mengajar bahwa orang-orang Kristen yang sedang bertobat dan berpuasa dan mendedikasikan hidup mereka akan menghasilkan kebangunan rohani. Namun Mr. Bright salah, walaupun ia adalah orang baik dalam banyak hal. Ia dengan tidak sadar sedang mempromosikan ide Finney bahwa manusia dapat membuat kebangunan rohani terjadi dengan konsentrasi penuh. Namun, sungguh menyedihkan, tidak ada kebangunan rohani terjadi di dunia Barat sebagai hasil dari usaha-usaha Bright. Mengapa? Karena kebangunan rohani sejati tidak bergantung pada dedikasi orang-orang Kristen. Itu hanya bergantung pada ”kekuatan yang melimpah-limpah… berasal dari Allah, bukan dari diri kita” (II Korintus 4:7).

Saya akan menutup poin ini dengan mengacu kepada khotbah Stefanus kepada Sanhedrin. Secara spesifik kita diberitahu bahwa Stefanus “penuh dengan karunia dan kuasa, [dan] mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak” (Kisah rasul 6:8). Namun Stefanus tidak melihat kebangunan rohani datang dari khotbahnya. Sebaliknya, ia dirajam batu sampai mati. Ia adalah orang suci dan benar, namun ini tidak dengan sendirinya menghasilkan kebangunan rohani dalam pelayanannya. Kita dapat berpuasa dan berdoa, dan menjadi orang-orang Kristen yang benar-benar luar biasa, namun ini tidak akan memaksa Allah mengirimkan kebangunan rohani. Mengapa? Rasul Paulus memberikan jawabannya,

“Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan”
 (I Korintus 3:7).

Segalamuliaan dalam kebangunan rohani harus ditujukan kepada Allah – dan tak satupun kemuliaan itu harus ditujukan kepada manusia, bahkan orang-orang yang baik dan suci! Jadi, Anda seharusnya tidak berpikir bahwa jika kita melalui pertobatan mendalam dan pendedikasian diri secara mendalam maka ini akan secara otomatis mendatangkan kebangunan rohani. Itu adalah ide palsu dari Finney. Saya tidak mengatakan bahwa Anda tidak harus menyucikan diri Anda di hadapan Allah. Anda semua harus melakukan itu! Namun kita seharusnya ingat bahwa kita tidak sedang berhubungan dengan magis! Kita tidak dapat memaksa Allah untuk mengirimkan kebangunan rohani melalui dedikasi diri kita. Belakangan ini saya membaca di mana seseorang berkata, “Kebangunan rohani akan terjadi ketika kita berdoa secara jujur dengan dedikasi penuh kita.” Bagi saya itu lebih menyerupai “sihir!” Kita harus merendahkan diri kita dan berusaha tidak peduli seberapa “sungguh-sungguhnya” kita berdoa, dan tidak peduli seberapa “penuh” dedikasi kita, namun pada akhirnya Allah lah yang berkehendak entah Ia mau atau tidak mengirimkan kebangunan rohani. Itu terserah kita! Ya, kita harus secara terus menerus berdoa untuk kebangunan rohani, dan pada saat yang sama, selalu mengingat “melainkan Allah yang memberi pertumbuhan” (I Korintus 3:7). Itu adalah kedaulatan kuasa Allah sendiri yang menghasilkan kebangunan rohani sejati!

V. Kelima, adalah salah ketika kita berpikir bahwa kebangunan rohani adalah suatu keadaan yang seperti biasanya yang kita harapkan terjadi di gereja.

Roh Kudus dicurahkan atas para Rasul pada hari Pentakosta. Mereka berkhotbah di hadapan orang banyak dalam bahasa mereka masing-masing, dan tiga ribu orang bertobat pada kebangunan rohani yang luar biasa itu, sebagimana dicatat dalam Kisah Rasul, pasal dua. Namun kita menemukan bahwa mereka perlu di penuhi Roh Kudus lagi, seperti yang dicatat dalam Kisah Rasul 4:13,

“Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani”
(Kisah Rasul 4:31).

Ini menunjukkan kepada kita bahwa ada masa-masa dari kebangunan rohani pada jemaat mula-mula. Namun ada saat-saat lain ketika gereja berjalan seperti biasanya, hari berganti hari secara biasanya. Saya pikir ini adalah apa yang Rasul Paulus maksudkan ketika ia berkata, “siap sedialah baik atau tidak baik waktunya” (II Timotius 4:2). Saya pikir ini berarti bahwa kita harus terus berkhotbah dan berdoa serta bersaksi entah ada kebangunan rohani atau tidak. Kristus memanggil kita untuk mentaati Amanat Agung (Matius 28:19-20), dan “beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Markus 16:15) entah ada kebangunan rohani atau tidak! Orang-orang akan dipertobatkan bahkan ketika tidak ada gerakan Allah yang tidak seperti biasanya.

Jika kita berpikir bahwa kebangunan rohani adalah cara Allah berkerja seperti biasanya, kita akan menjadi berkecil hati. Iain H. Murray berkata,

Sampai pada titik ini George Whitefield harus lebih dulu memperhatikan temannya William McCulloch, seorang hamba Tuhan dari Cambuslang [Scotlandia]. Pada tahun 1749 McCulloch berkecil hati oleh karena ia tidak lagi melihat apa yang mereka pernah saksikan pada kebangunan rohani tahun 1742. Respon Whitefield adalah mengingatkan dia bahwa 1742 bukanlah norma untuk gereja: “Saya harus senang mendengar tentang kebangunan rohani [lain] di Cambuslang; namun, tuan terkasih, Anda telah melihat hal-hal yang jarang dilihat di atas suatu kali dalam abad ini.” Martyn Lloyd-Jones mengacu kepada kejadian yang serupa dalam kasus hamba Tuhan dari Welsh bahwa “seluruh pelayanan telah runtuh,” dengan terus-menerus ia melihat ke kebelakang yaitu kepada apa yang pernah ia lihat dan alami pada kebangunan rohani 1904; “Ketika kebangunan rohani itu berakhir… ia masih mengharapkan hal yang tidak biasa itu terjadi lagi; namun itu tidak terjadi. Sehingga ia menjadi depresi dan menghabiskan sekitar empat puluh tahun hidupnya dalam ketandusan, ketidak-bahagiaan dan tidak berguna” (Iain H. Murray, ibid., hal. 29).

Jika Allah tidak mengirim kebangunan rohani, kita tidak harus membiarkan itu membuat diri kita menjadi berkecil hati. Kita harus tetap siap sedia, baik atau tidak baik waktunya, untuk memberitakan Injil, dan memimpin orang-orang berdosa kepada Kristus satu per satu. Namun, pada saat yang sama, kita harus terus berdoa kiranya Tuhan mengirimkan suatu waktu yang special suatu kebangunan rohani. Jika itu datang, kita akan bersukacita. Namun jika itu tidak datang, kita harus terus memimpin jiwa-jiwa datang kepada Kristus saat ini! Kita tidak harus menjadi berkecil hati! Kita harus siap sedia baik atau tidak baik waktunya!

VI. Keenam, adalah salah ketika kita berpikir bahwa tidak ada kondisi apapun yang dihubungkan dengan kebangunan rohani.

Baik Kitab Suci maupun sejarah menunjukkan kepada kita bahwa kebangunan rohani tidak bergantung pada usaha-usaha penginjilan manusia atau dedikasi total orang Kristen. Namun ada kondisi tertentu yang harus dijumpai. Ini terutama adalah pengajaran yang benar, dan doa. Kita haurs berdoa untuk kebangunan rohani, namun kita juga harus memiliki pengajaran yang bernar tentang dosa dan keselamatan.

Dalam bukunya yang berjudul, Revival (Crossway Books, 1992), Dr. Martyn Lloyd-Jones memiliki dua bab, yang berjudul “Doctrinal Impurity” (“Ketidak-murnian Pengajaran”) dan “Dead Orthodoxy” (“Orthodoksi yang telah Mati”). Dalam dua bab ini ia, yang pernah melihat kebangunan rohani agung pada tahun-tahun permulaan pelayanannya menjelaskan kepada kita bahwa ada doktrin-doktrin tertentu yang harus dikhotbahkan dan dipercaya jika kita mengharapkan Allah mengirimkan kebangunan rohani. Saya hanya akan menekankan empat doktrin yang ia berikan.

 

1.  Kejatuhan dan kerusakan total umat manusia – kerusakan total (total depravity).

2.  Regenerasi – atau kelahiran kembali – sebagai karya Allah, dan bukan pekerjaan manusia.

3.  Pembenaran oleh iman di dalam Kristus saja – bukan iman di dalam segala bentuk “pengambilan keputusan.”

4.  Efektivitas Darah Kristus untuk menyucikan doa – baik dosa pribadi maupun doa asal.

 

Empat doktrin ini diserang oleh Charles G. Finney, dan telah diturunkan atau ditolak sejak saat itu. Tidak heran kita melihat begitu sedikit kebangunan rohani sejak tahun 1859! Saya tidak dapat membahasnya secara mendetail, namun inilah pengajaran-pengajaran vital, yang harus dikhotbahkan kembali jika kita berharap melihat kebangunan rohani datang ke gereja-gereja kita. Gereja kita penuh dengan orang-orang yang masih terhilang, yang tidak akan pernah benar-benar bertobat kecuali kita mengkhotbahkan tema-tema ini secara sungguh-sungguh dan penuh semangat – dan secara terus menerus!

Dr. Lloyd-Jones berkata,

Lihatlah sejarah berbagai kebangunan rohani, dan Anda akan menemukan orang-orang yang merasa putus asa. Mereka tahu bahwa semua kebaikan mereka tidak lain selain kain lap yang kotor, dan bahwa kebenaran mereka tidak ada nilainya sama sekali. Dan di sana mereka merasa bahwa mereka tidak dapat melakukan apapun, dan hanya dapat berseru kepada Allah agar Ia memberikan rahmat dan belas kasihan-Nya. Pembenaran oleh iman. Tindakan Allah. “Jika Allah tidak melakukan itu kepada kita,” kata mereka, “maka kita terhilang.” Oleh sebab itu mereka [merasakan diri mereka] tidak berdaya di hadapan Dia. Mereka tidak lagi memperhatikan, dan tidak menganggap penting, semua kesalehan mereka di masa lalu, dan kesetiaan mereka dalam menghadiri kebaktian di gereja, dan banyak hal yang lain. Mereka memandang semua yang mereka pernah lakukan itu tidak ada yang baik, bahkan kesalehan mereka tidak ada nilainya, tidak ada satupun yang bernilai pada dirinya. Allah harus membenarkan orang-orang yang tidak saleh. Oleh sebab itu, itu adalah berita agung yang datang pada setiap periode kebangunan rohani (Martyn Lloyd-Jones, ibid., hal. 55-56).

“Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran” (Roma 4:5).

“Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya” (Roma 3:24-25).

Ini adalah pengajaran-pengajaran tentang kebangunan rohani! Ini adalah pengajaran-pengajaran yang memimpin kepada pertobatan! Kita harus melihat keinsafan akan dosa, keinsafan yang mendalam, hati yang dihancurkan olehnya. Kita harus melihat keinsafan jiwa-jiwa yang menangisi dosa-dosa mereka yang datang kepada Yesus, menemukan keselamatan, “karena iman di dalam darah-Nya.”

Dr. R. L. Hymers, Jr.

Comments are closed.