Archive for December, 2011

A Christmas Creed

I believe in Jesus Christ and in the beauty of the gospel begun in Bethlehem.

I believe in the one whose spirit glorified a little town; and whose spirit still brings music to persons all over the world, in towns both large and small.

I believe in the one for whom the crowded inn could find no room, and I confess that my heart still sometimes wants to exclude Christ from my life today.

I believe in the one who the rulers of the earth ignored and the proud could never understand; whose life was among common people, whose welcome came from persons of hungry hearts.

I believe in the one who proclaimed the love of God to be invincible:

I believe in the one whose cradle was a mother’s arms, whose modest home in Nazareth had love for its only wealth, who looked at persons and made them see what God’s love saw in them, who by love brought sinners back to purity, and lifted human weakness up to meet the strength of God.

I confess my ever-lasting need of God: The need of forgiveness for our selfishness and greed, the need of new life for empty souls, the need of love for hearts grown cold.

I believe in God who gives us the best of himself. I believe in Jesus, the son of the living God, born in Bethlehem this night, for me and for the world 

A Christmas Creed


SPURGEON’S TEXT

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi!”  (Yesaya 45:22).

Saya memberi tema khotbah ini “Ayat Spurgeon” karena ayat ini adalah ayat yang dikhotbahkan kepadanya ketika ia diselamatkan pada umur 15 tahun. Ia langsung mulai mengajar Sekolah Minggu dan berkhotbah sejak saat itu. Enam tahun kemudian, ketika ia berumur 21 tahun, ia berkhotbah kepada ribuan orang, dan banyak suratkabar memberikan julukan kepadanya “pengkhotbah muda.”

Bukan hanya ia diselamatkan ketika mendengar satu khotbah yang didasarkan pada ayat kita ini, ia juga mengutip ayat ini berulang kali bahkan sampai tak terhitung ia telah mengutipnya ketika ia berkhotbah dari ayat-ayat lain. Dalam 63 volume dari kumpulan khotbah-khotbahnya ada tiga khotbah di mana ayat ini menjadi teks utama – dengan tema secara berurutan, “Kedaulatan dan Keselamatan” (Sovereignty and Salvation) “Hidup Karena Memandang” (Life for a Look) dan “Hidup dari Memandang” (The Life-Look). Dalam khotbahnya yang berjudul “The Life-Look” Spurgeon berkata,

Sekitar dua puluh enam tahun yang lalu – dua puluh enam tahun yang lalu persis pada hari Kamis – saat saya memandang kepada Tuhan [Yesus], dan menemukan keselamatan, melalui ayat ini. Anda telah sering mendengar saya menceritakan bagaimana saya telah… berusaha mencari keselamatan, dan tidak menemukan apapun, sampai seorang pengkhotbah awam yang sederhana [yang tidak memiliki latar belakang pendidikan] berdiri di mimbar Primitive Methodists, dan menyampaikan ayat ini sebagai teksnya: “Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi.” Ia tidak banyak berkata-kata, terimakasih Tuhan, karena telah memaksa dia untuk terus mengulang-ulang ayat ini, dan tidak ada hal lain yang diperlukan – bagi saya – kecuali ayatnya ini. Saya ingat bagaimana ia berkata, “Ini adalah Kristus yang sedang berbicara.” ‘Aku ada di taman (Getsemani) dalam kesengsaraan, mencurahkan jiwa-Ku sampai mati; Aku [disalibkan], mati untuk orang-orang berdosa; pandanglah Aku! Pandanglah Aku!’ Hanya itulah yang saya lakukan. Seorang anak dapat memandang. Betapapun lemah, atau betapapun miskin, seseorang bisa, ia dapat memandang; dan jika ia memandang, janji itu adalah bahwa ia akan [diselamatkan].” Kemudian, berhenti, ia menunjuk ke arah di mana saya sedang duduk…. Dan ia berkata, “Anak muda yang duduk di sana kelihatan sangat menyedihkan.” Saya berpikir demikianlah keadaan saya, karena itulah apa yang saya sedang rasakan. Kemudian ia berkata, “Tidak ada pengharapan bagi kamu, anak muda, atau kesempatan untuk membuang dosa-dosamu, selain dengan memandang kepada Yesus;” dan ia berseru, sebagaimana saya berpikir hanya orang-orang Primitive Methodist yang dapat, “Pandanglah! Pandanglah anak muda! Pandanglah sekarang!” Dan saya memandang… saya menemukan [diri saya diselamatkan dari dosa] pada saat itu juga dengan memandang kepada Yesus (C. H. Spurgeon, “The Life-Look,” The Metropolitan Tabernacle Pulpit, vol. 50, Pilgrim Publications, 1978 reprint, hlm. 37).

Nyanyian lama yang Mr. Griffith baru nyanyikan membuat ini jelas siapakah “Anak Domba Allah” itu. Yesus adalah “Anak Domba Allah, yang telah menanggung dosa dunia” (Yohanes 1:29). “Pandanglah Anak Domba Allah.” Nyanyikan lagu ini!

Lihatlah Anak Domba Allah, Lihatlah Anak Domba Allah,
Karena hanya Dia yang dapat menyelamatkanmu, Lihatlah Anak Domba Allah.
(“Look to the Lamb of God” by H. G. Jackson, 1838-1914).

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi” (Yesaya 45:22).

I. Pertama, Anda harus memandang Yesus, Pribadi Kedua dari Trinitas.

Teks kita berkata, “Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan…” Kata “berpalinglah” [dalam KJV “look”] memiliki arti yang sama dengan “datanglah.” Anda seharusnya tidak memandang kepada Allah Bapa, atau datang kepada-Nya, dalam keadaan Anda yang penuh dosa. Mengapa tidak? Karena “TUHAN, Allahmu, adalah api yang menghanguskan, Allah yang cemburu” (Ulangan 4:24). Perjanjian Baru mengatakan hal yang sama, “Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan” (Ibrani 12:29). Jika Anda datang kepada Allah dalam keadaan Anda yang belum diselamatkan Anda akan dihanguskan dalam api murka-Nya. Apa yang terjadi pada Nadab dan Abihu akan terjadi pada Anda!

“Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN” (Imamat 10:2).

Anda seharusnya tidak memandang kepada Roh Kudus, atau datang kepada-Nya, karena Ia tidak memiliki darah untuk menyucikan dosa-dosa Anda! Pekerjaan Roh Kudus adalah menginsafkan Anda akan dosa dari ketidak-percayaan kepada Yesus. Yesus mengatakan ini tentang Roh Kudus,

“Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa… karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku” (Yohanes 16:8-9).

Tidak, tidak – jangan memandang kepada Roh Kudus! Anda harus memandang, dan datang kepada Juruselamat yang telah disalibkan, yang sekarang telah naik ke sorga dan duduk di sebelah kanan Allah di tempat Kemuliaan! Pandanglah Yesus, Anak Domba Allah. Hanya Dia yang dapat menyelamatkan Anda dari dosa! Datanglah kepada Dia! Pandanglah Dia! Anda tidak dapat benar-benar datang kepada seseorang tanpa terlebih dahulu memandang dia, bukankah benar demikian?

Pandanglah pada Yesus, O pandang wajah-Nya mulia;
Isi dunia menjadi suram, Oleh sinar kemuliaan-Nya.
(“Turn Your Eyes Upon Jesus” oleh Helen Howard Lemmel, 1863-1961/
(“Terjemahan Nyanyian Pujian No. 144).

Pandanglah dan hidup, saudaraku, hidup!
(“Pandanglah Yesus sekarang dan hidup;
Ini yang tercatat dalam Firman-Nya, Haleluya!
(“Satu-satunya hal yang engkau harus lakukan adalah memandang dan hidup.
(“Look and Live” oleh William A. Ogden, 1841-1897).

Nyanyikan ini kembali!

Lihatlah Anak Domba Allah, Lihatlah Anak Domba Allah,
Karena hanya Dia yang dapat menyelamatkanmu, Lihatlah Anak Domba Allah.
(“Look to the Lamb of God” oleh H. G. Jackson, 1838-1914).

Ada satu lagi tempat yang seharusnya tidak Anda pandang. Anda seharusnya tidak memandang diri Anda sendiri. Itu adalah apa yang dilakukan Spurgeon sebelum hari pertobatannya. Ia berusaha memiliki “perasaan” yang benar – dari pada memandang, dan datang kepada Kristus sendiri. Ia terus membaca buku Doddridge yang berjudul “Rise and Progress of Religion in the Soul” dan buku Baxter yang berjudul “Call to the Unconverted.” Spurgeon berkata, “Saya tidak menemukan kesalahan dengan buku [mereka]; saya memuji mereka, namun saya menemukan kesalahan dalam diri saya sendiri karena memperlakukan [buku] mereka itu dengan sangat buruk.” Spurgeon berkata, “Ketika saya membaca berulangkali, dan berusaha untuk merasakan apa yang orang-orang baik itu katakan, ada yang menusuk saya” (Spurgeon, ibid., hlm. 41). Spurgeon muda “berusaha untuk merasakan” apa yang Doddridge dan Baxter rasakan. Itu tidak ada gunanya. Yesus tidak ditemukan dalam perasaan dan emosi kita.

Minggu lalu dua gadis Katolik yang datang ke gereja ini berkata kepada deaken kita, Dr. Cagan, bahwa mereka berpikir kalau mereka diselamatkan karena mereka telah merasakan dukacita dan menangis. Mereka memandang kepada perasaan dukacita mereka sendiri. Mereka menekankan Yesus, namun Yesus bukan hal utama yang mereka bicarakan. Hal utama yang mereka pandang dan bicarakan adalah dukacita mereka sendiri. Saya sedang menjelaskan kepada Anda pagi ini bahwa sekedar perasaan dukacita tidak pernah dapat menyelamatkan Anda! Tidak akan pernah! Tidak akan pernah! Tidak akan pernah! Pre-inkarnasi Kristus berkata,

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan…” (Yesaya 45:22).

Datanglah kepada Yesus Kristus sendiri! Buanglah perasaan dan emosi Anda! Pandanglah Yesus! Percayalah kepada Yesus! Datanglah kepada Yesus! Berpalinglah dari perasaan Anda sendiri kepada sang Juruselamat yang telah bangkit! Yesus berkata,

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan…” (Yesaya 45:22).

“Lihatlah Anak Domba Allah.” Nyanyikan ini kembali!

Lihatlah Anak Domba Allah, Lihatlah Anak Domba Allah,
Karena hanya Dia yang dapat menyelamatkanmu, Lihatlah Anak Domba Allah.

II. Kedua, Anda harus menginginkan Yesus untuk menyelamatkan Anda dari dosa.

Yesus berkata, “Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya” (Yohanes 12:47). Lagi, Yesus berkata, “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Lukas 19:10). Dan pra-inkarnasi Yesus berkata,

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan…” (Yesaya 45:22).

Rasul Paulus berkata, “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa” (I Timotius 1:15). Yesus telah mati di atas kayu Salib untuk membayar dosa Anda! Yesus bangkit dari antara orang mati untuk membebaskan Anda dari dosa! Yesus telah mencurahkan Darah-Nya untuk menyucikan Anda dari dosa! Dosa. Dosa. Dosa. “Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan” – dari dosa! Jika Anda tidak berpikir tentang dosa Anda, maka Yesus tidak berarti apa-apa bagi Anda. Yesus datang, dan mati, dan bangkit untuk menyelamatkan Anda dari dosa. Jika Anda tidak melihat dosa Anda, Anda tidak akan memandang kepada Yesus dan diselamatkan.

Seorang wanita muda lainnya berbicara dengan Dr. Cagan pada hari Minggu yang lalu. Ia berkata bahwa ia berpikir kalau ia telah diselamatkan karena “ketertekanan berat” telah diambil dari dalam hatinya. Saudariku yang terkasih, Yesus tidak mati di kayu Salib untuk mengambil “ketertekanan berat” dari hati Anda! Itu ungkapan omong kosong! Saya berkata bahwa saya peduli dengan jiwa Anda!

Beberapa menit kemudian, wanita muda yang sama ini berkata kepada Dr. Cagan bahwa ia telah diselamatkan karena ia telah melihat “seberkas cahaya dan tahu bahwa itu adalah Yesus.” Bukankah itu suatu penipuan diri? Bagaimana ia tahu bahwa “seberkas cahaya” itu adalah Yesus? Alkitab berkata, “Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang” (II Korintus 11:14). Bagaimana ia tahu itu adalah Yesus? Bagaimana ia tahu bahwa itu bukan Setan? Saya berkata kepada Anda sesuatu lagi, “ketertekanan yang diambil dari hati Anda” dan melihat “cahaya” tidak akan menyelesaikan dosa! Kematian Kristus yang menggantikan tempat Anda, untuk membayar dosa Anda tidak ada artinya bagi dia. Darah Kristus yang dicurahkan untuk menyucikan Anda dari segala dosa tidak ada artinya bagi dia. Yesus bukanlah pusat bagi dia. Yesus tidak penting bagi dia.

Kapanpun kita mendengar seseorang berkata bahwa mereka telah diselamatkan, kami ingin tahu apakah ada pengampunan dosa. Kita ingin tahu apakah Darah Kristus ada menyucikan dosa. Apa yang disebut “kesaksian” seringkali hanyalah kebodohan belaka! Yesus berkata,

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan…” (Yesaya 45:22).

“Lihatlah Anak Domba Allah.” Nyanyikan ini kembali!

Lihatlah Anak Domba Allah, Lihatlah Anak Domba Allah,
Karena hanya Dia yang dapat menyelamatkanmu, Lihatlah Anak Domba Allah.

III. Ketiga, Anda harus merasa bahwa tiada ada yang lain selain Yesus yang dapat menyelamatkan Anda dari dosa.

Anda harus merasakan apa yang Joseph Hart pernah rasakan ketika ia berkata,

Tiada lain selain Yesus, tiada lain selain Yesus,
Dapat melakukan kebaikan bagi orang berdosa tak berpengharapan.
(“Come, Ye Sinners” oleh Joseph Hart, 1712-1768).

Tiada lain selain Yesus! Tiada lain selain Yesus – yang dapat melakukan kebaikan bagi orang-orang berdosa yang tak memiliki pengharapan!

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi” (Yesaya 45:22).

Ayat ini tidak mengajarkan faham universalisme, bahwa setiap orang akan diselamatkan pada akhirnya. Jauh dari pemikiran seperti itu! Ini berarti bahwa orang-orang pilihan Allah, dalam semua bangsa, akan memandang Yesus, Pribadi Kedua dari Trinitas, dan diselamatkan, karena teks ini diakhiri dengan perkataan ini, “Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain.”

Spurgeon sering mengutip Markus 16:16. Ia mengkhotbahkan ayat itu dalam satu khotbah yang disampaikan pada kebaktian Minggu malam, pada tanggal 13 Oktober, 2889 (MTP, Number 2,339). Markus 16:16 diakhiri dengan perkataan ini, “Siapa yang tidak percaya akan dihukum.” Jika Anda menolak untuk memandang Yesus, dan datang kepada Yesus, percaya kepada Yesus, Anda akan dihukum di Neraka untuk selama-lamanya. Saya meminta Anda, pada pagi ini juga, untuk memandang Yesus, datang kepada Yesus, percaya di dalam Yesus. “Tidak ada yang lain selain Yesus, yang dapat melakukan hal yang baik bagi orang-orang berdosa yang tidak berpengharapan.” Tidak ada yang lain selain Yesus yang dapat menyelamatkan Anda dari penghukuman kekal karena dosa Anda. “Lihatlah Anak Domba Allah.” Mari kita menyanyikan ini sekali lagi!

Lihatlah Anak Domba Allah, Lihatlah Anak Domba Allah,
Karena hanya Dia yang dapat menyelamatkanmu, Lihatlah Anak Domba Allah.

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan.”
(Yesaya 45:22).

“Tidak ada yang lain selain Yesus, tidak ada yang lain selain Yesus, yang dapat melakukan hal baik bagi orang-orang berdosa yang tak berpengharapan.” Mari kita membuka himne nomer 7 pada lembaran lagu Anda. Mari kita berdiri dan menyanyikannya.

Datanglah, kamu orang berdosa, miskin dan hina, Lemah dan terluka, sakit dan mendrita;
Yesus telah berdiri untuk menyelamatkanmu, Penuh kasih dan kuasa;
Ia sanggup, Ia sanggup, Ia mau; jangan ragu lagi!
Ia sanggup, Ia sanggup, Ia mau; jangan ragu lagi!

Lihatlah! Allah yang menjelma, naik, Membela pengorbanan darah-Nya;
Datanglah kepadanya, dengan segenap hatimu, Jangan biarkan kepercayaan lain menganggu;
Tiada lain selain Yesus, Tiada lain selain Yesus, Dapat menolong orang berdosa tanpa pengharapan
Tiada lain selain Yesus, Tiada lain selain Yesus, Dapat menolong orang berdosa tanpa pengharapan
(“Come, Ye Sinners” oleh Joseph Hart, 1712-1768).


MARTIN LUTHER AND THE DEVIL

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (I Petrus 5:8).

Silahkan dibaca di akhir khotbah ini sketsa biografi tentang Luther oleh pengkhotbah besar Baptis, C. H. Spurgeon.

Berhubungan dengan ayat ini, Martin Luther (1483-1546) berkata, “Roh jahat tidak tidur, ia licik dan jahat… Ia berjalan keliling sama seperti singa yang sedang lapar dan mengaum-aum seakan-akan ia akan menelan semua” (Martin Luther, Th.D., Commentary on Peter and Jude, Kregel Classics, 1990 reprint, hlm. 218; komentar untuk I Petrus 5:8).

Dr. Henry Lenski berkata, “Pada saat ini, di bawah Nero, auman dari penganiayaan yang mengerikan di dengar oleh para korban Kristen yang tidak berdaya. Di bulan Oktober tahun 64 (M) badai menerjang. Petrus sendiri menjadi seorang [martir]… Namun tidak selalu iblis mengaum [seperti ini]…” (R. C. H. Lenski, Th.D., The Epistles of St. Peter, St. John and St. Jude, Augsburg Publishing House, 1966, hlm. 225).

Iblis mengaum pada tiga abad pertama, ketika ribuan orang Kristen dicabik-cabik oleh singa-singga di arena-arena Romawi kuno. Tidak diragukan bahwa Petrus sedang memikirkan ini ketika ia berkata,

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (I Petrus 5:8).

Iblis mengaum seperti itu pada masa Inquisisi pada zaman Luther, dan pada masa Holocaust, dan pada masa Revolusi Budaya di China, dan di bawah ekstrimisme Muslim di berbagai belahan dunia malam ini.

Namun Iblis tidak “mengaum” di sini di dunia Barat. Di sini ia menggunakan metode lain untuk “menelan” orang-orang di sini. Di sini ia menggunakan materialism (pengingkaran terhadap keberadaan supranatural) untuk membuat kita tertidur, dan membuat kita tidak menyadari kehadirannya. Namun Iblis secara rahasia sangat aktif di Amerika dan Barat. Bahkan walaupun ia bekerja di sini dengan cara yang tidak terlihat, golnya adalah sama, “mencari orang yang dapat ditelannya.” Kristus berkata bahwa Iblis “adalah pembunuh dari sejak mulanya” (Yohanes 8:44). Salah satu dari nama Iblis adalah “Abaddon” (Wahyu 9:11). “Abaddon” berarti “Pembinasa.” Entah secara terbuka maupun secara rahasia, tujuan Iblis adalah “menelan,” untuk “membunuh,” untuk “membinasakan” jiwa-jiwa manusia.

Iblis telah begitu sukses dalam pekerjaan tersembunyinya sehingga kebanyakan pendeta Baptis kita hari ini di Amerika jarang jika bukan tidak pernah mengkhotbahkan khotbah-khotbah tentang Setan dan iblis. Betapa banyak pengkhotbah buta tentang kenyataan aktivitas Satanik, bahkan di banyak gereja kita sendiri!

Betapa orang-orang Amerika secara rohani telah menjadi bodoh! Kita telah mengijinkan perayaan Thanksgiving, Natal dan Paskah dilarang di sekolah-sekolah negeri kita. Namun hampir setiap kelas didekorasi dengan gambar-gambar iblis dan jerangkong dan perempuan sihir dan para vampir dengan darah yang sedang mengalir di setiap sudut mulut mereka untuk dilihat anak-anak pada Holloween. Alkitab berkata, “Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh” (Roma 1:22), dan Shakespeare berkata, “Betapa bodohnya semua kefanaan ini.”

Ini membawa kita kembali kepada Martin Luther. Ia sering dituduh oleh para “sarjana” liberal yang berpengaruh pada abad 20 terlalu berlebihan menekankan tentang Setan dan roh-roh jahat. Bahkan seorang Lutheran konservatif modern seperti Ewald M. Plass paling tidak mengkritik penekanan Luther tentang Iblis. Plass berkata, “Luther secara alami mengajarkan banyak hal tentang apa yang belakangan ini kita sebut tahyul. Tidak diragukan bahwa ia sering menganggap aktivitas kuasa kegelapan berkaitan dengan berbagai kejadian alam ini.” Namun, kemudian, Plass melindungi dirinya sendiri dengan berkata, “Mungkin iblis memang secara nyata lebih aktif dari pada biasanya [pada zaman Luther], karena ia merasakan betapa banyak yang dipertaruhkan” (Ewald M. Plass, What Luther Says, Concordia Publishing House, 1994 edition, hlm. 391-392).

David L. Larsen juga merendahkan penekanan Luther tentang Setan dan roh-roh jahat dengan berkata, “Luther benar-benar orang abad pertengahan… Luther melihat semua umat manusia ‘terkunci dalam konflik antara Tuhan dan Iblis seakan Penghakiman Terakhir dengan cepat semakin mendekat’” (David L. Larsen, M.Div., D.D., The Company of the Preachers, Kregel Publications, 1998, hlm. 153).

Tidak diragukan lagi bahwa Dr. Larsen belajar untuk mencari-cari kesalahan Luther tentang subyek ini di Fuller Theological Seminary yang sudah liberal itu, yaitu sebuah sekolah neo-evangelikal di mana Larsen memperoleh gelar Master-nya itu. Saya telah menemukan bahwa para mahasiswa Fuller dengan cepat belajar mengkritik para pahlawan iman kita di masa lalu. Itu adalah cara yang diajarkan kepada saya di dua seminari liberal di mana saya pernah kuliah di sana. Namun saya menolak pengaruh itu, namun Larsen tidak! Larsen berkata, “Luther benar-benar orang abad pertengahan… Luther melihat semua umat manusia ‘terkunci dalam konflik antara Tuhan dan Iblis seakan Penghakiman Terakhir dengan cepat semakin mendekat’” Apa yang salah dengan itu? Di usia tua Luther mengatakan beberapa hal dari pikiran orang abad pertengahan tentang orang Yahudi, dan hal-hal lainnya, yang dengan tegas saya tolak. Namun Luther tidak salah berpikir bahwa umat manusia “Terkunci dalam konflik antara Tuhan dan Setan”! Ia sungguh benar tentang hal itu – karena itu adalah apa yang Alkitab ajarkan!

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (I Petrus 5:8).

Kebanyakan dari apa yang Luther ajarkan tentang Iblis dan roh-roh jahat adalah benar keluar dari Alkitab.

I. Pertama, Luther benar ketika ia berbicara tentang asal usul Iblis dan roh-roh jahat.

Luther berkata,

[Dari manakah Iblis datang?] Ini adalah fakta-fakta yang patut diyakini: Para malaikat yang jatuh dan iblis telah diubah dari malaikat terang menjadi malaikat kegelapan….

Alkitab berkata bahwa Luther benar,

“Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi! Sebaliknya, ke dalam dunia orang mati engkau diturunkan, ke tempat yang paling dalam di liang kubur” (Yesaya 14:12-15).

Luther berkata,

[Ada malaikat baik dan malaikat jahat [namun] Allah menciptakan mereka semua baik. Namun kemudian para malaikat jahat jatuh dan tidak berdiri teguh dalam kebenaran… Itu sangat mungkin bahwa mereka jatuh karena kesombongan, karena mereka merendahkan… Anak Allah, dan ingin mengagungkan dirinya sendiri di atas Dia (Plass, ibid. hlm. 391).

Alkitab berkata bahwa Luther benar. Baik Alkitab maupun Luther mengatakan apa yang Yehezkiel 28:13-17 jelaskan kepada kita,

“Engkau [Setan] di taman Eden, yaitu taman Allah penuh segala batu permata yang berharga: yaspis merah, krisolit dan yaspis hijau, permata pirus, krisopras dan nefrit, lazurit, batu darah dan malakit. Tempat tatahannya diperbuat dari emas dan disediakan pada hari penciptaanmu. Kuberikan tempatmu dekat kerub yang berjaga, di gunung kudus Allah engkau berada dan berjalan-jalan di tengah batu-batu yang bercahaya-cahaya. Engkau tak bercela di dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu. Dengan dagangmu yang besar engkau penuh dengan kekerasan dan engkau berbuat dosa. Maka Kubuangkan engkau dari gunung Allah dan kerub yang berjaga membinasakan engkau dari tengah batu-batu yang bercahaya. Engkau sombong karena kecantikanmu, hikmatmu kaumusnahkan demi semarakmu. Ke bumi kau Kulempar, kepada raja-raja engkau Kuserahkan menjadi tontonan bagi matanya” (Yehezkiel 28:13-17).

Dan berhubungan dengan para malaikat yang jatuh yang telah menjadi roh-roh jahat itu, Surat Yudas mengatakan,

“Dan bahwa Ia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar” (Yudas 6).

Beberapa dari para malaikat yang telah jatuh dibelenggu dalam Neraka. Namun kebanyakan dari mereka adalah roh-roh jahat yang kita hadapi di dunia hari ini. Luther berkata, “Dan walaupun dunia ini dipenuhi dengan roh-roh jahat.” “Iblis” adalah kata kuno untuk “roh-roh jahat.” Nyanyikan ini!

Walaupun dunia sangat jahat,
Janganlah ketakutan:
Umat Tuhan pastilah s’lamat;
Roh Allah menguatkan
(“A Mighty Fortress Is Our God” by Martin Luther, stanza three.)

II. Kedua, Luther benar ketika ia berkata bahwa Iblis adalah penyebab kesedihan dan keputus-asaan.

Luther berkata,

[Semua kesedihan adalah dari iblis, karena ia adalah tuan dari kematian. Oleh sebab itu kesedihan dalam hubungan kita dengan Allah kebanyakan pastilah pekerjaan si iblis (Plass, ibid., hlm. 398).

[Reformator ini secara terus menerus menyebut iblis sebagai roh dari kesedihan; Setan membenci terang, kehidupan, dan tawa; karena ia adalah roh kegelapan dan keputusasaan, dan ia senang menarik manusia ke dalam kegelapan dan keputusasaan, merepresentasikan kasus orang berdosa sebagai tanpa pengharapan (mengomentari Luther, Plass, ibid., hlm. 397-398).

Luther berkata,

“[Iblis] menembakkan pikiran-pikiran mengerikan ke dalam hati: Kebencian terhadap Allah, penghujatan, dan keputus-asaan. Semua itu adalah “anak panah api,” Efesus 6:16” (Plass, ibid., hlm. 399).

Semua itu adalah hal-hal yang riil yang benar-benar sedang terjadi hari ini, bagi orang-orang yang kita kenal secara pribadi. Salah satu diaken kita pernah berbicara dengan seorang pemuda dalam ruang pemeriksaan. Anak muda itu berkata, “Allah tidak mengasihi saya. Yesus tidak mengasihi saya.” Seperti yang Luther katakan, ini jelas merupakan pikiran yang datang dari Setan, “penghujatan dan keputus-asaan.” Kemudian diaken tersebut mambacakan untuknya, dari Alkitab,

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

Ketika diaken tersebut bertanya kepadanya apakah ia mempercayai ayat itu, ia menolak untuk menjawab. Iblis sendirilah yang menghentikan dia untuk menjawab! Iblis mencoba menghalangi kita mendengar Alkitab, dan menghalangi kita menerimanya ketika kita mendengarkannya. Luther berkata, “Semua kelicikan iblis ditunjukkan dalam usaha untuk memaksa kita menjauh dari Firman [Allah]” (Plass, ibid., hlm. 396).

Seorang wanita muda berkata kepada diaken yang sama ini, “Saya tidak mungkin diampuni, dan saya tidak tahu mengapa.” Ia mungkin tidak tahu mengapa, namun saya tahu. Ia tidak mengalami pengampunan karena ia terus mempercayai pikiran-pikiran yang Setan taruh dalam pikirannya, dari pada percaya janji-janji Alkitab. Ia menolak perkataan Kristus, “Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang” (Yohanes 6:37). Luther berkata bahwa Iblis “menembakkan pikiran-pikiran mengerikan ke dalam hati: [pikiran-pikiran] keputus-asaan.” Ia berkata, “Semua kelicikan iblis ditunjukkan dalam usaha untuk memaksa kita menjauh dari Firman [Allah].”

III. Ketiga, Luther benar ketika ia menunjukkan bahwa kesedihan dan keputus-asaan tidak sama seperti keinsafan akan dosa.

Luther berkata bahwa kesedihan dan keputus-asaan datang dari Iblis. Namun ia mengajar bahwa keinsafan akan dosa datang dari Allah. Alkitab membuat pembedaan yang sama,

“Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan… tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian” (II Korintus 7:10).

Luther berbicara tentang keinsafan akan dosa yang datang sebelum pertobatan. Ia berkata,

[Ini perlu, jika Anda mau bertobat, bahwa Anda harus dibuat menjadi ngeri, yaitu bahwa Anda diperingatkan oleh hati nurani. Kemudian, setelah kondisi ini telah tercipta, Anda akan menerima penghiburan yang datang bukan dari pekerjaan Anda sendiri, namun dari pekerjaan Allah. Ia telah mengutus Anak-Nya Yesus Kristus ke dalam dunia agar supaya memproklamirkan anugerah Allah kepada orang-orang berdosa yang telah ngeri menyadari keadaannya. Ini adalah cara pertobatan yang telah ditetapkan; semua cara yang lain adalah cara yang salah (Plass, ibid., p. 343).

Luther berkata,

[Oleh pembenaran kita maksudkan bahwa kita ditebus dari dosa, kematian dan iblis dan dibuat menjadi bagian dari para penerima hidup kekal, bukan oleh diri kira sendiri, namun tiada lain selain oleh pertolongan dari Anak Allah yang tunggal (Plass, ibid., hlm. 343).

Luther berkata,

Tidak ada lagi yang disyaratkan untuk pembenaran selain dari pada mendengar Yesus Kristus dan percaya kepada Dia… (Plass, ibid., hlm. 707).

Pada poin-poin ini orang-orang Protestan Alkitabiah dan orang-orang Baptis klasik setuju dengan Reformator Agung, Luther ini. Rasul Paulus sendiri berkata, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat” (Kisah Rasul 16:31). Tidak ada yang lain yang diperlukan! Kita diselamatkan oleh iman di dalam Kristus saja! Mari kita membuka pujian nomer tiga pada lembar pujian Anda. Nyanyikan ini!

Allah kita Benteng teguh, Naungan dan perisai,
Penolong kita yang sungguh, Di dalam ombak badai,
Meski Iblis keji, Melanda tak henti
Dengan kuasanya, Yang tiada bandingnya
Di atas bumi ini

Yang tinggi hati ‘kan jatuh, Yang bersandar kan diri:
Usaha kita ‘kan runtuh, Tanpa kuasa ilahi.
Siapa berkuasa? Kristuslah Sang Raja,
Panglima s’kalian, Yang tak terkalahkan,
Memb’rikan kemenangan!

Walaupun dunia sangat jahat, Janganlah ketakutan:
Umat Tuhan pastilah s’lamat; Roh Allah menguatkan
Walau kita mati, walau anak istri
Dan harta pun musnah, Tuhan tak berubah:
Kekal kerajaan-Nya

Firman itu di atas semua kuasa di bumi
Roh dan karunia adalah milik kita Melalui Dia yang mendampingi kita.
Walau mati, walau anak istri
Dan harta pun musnah, Tuhan tak berubah:
Kekal kerajaan-Nya
(“A Mighty Fortress Is Our God” by Martin Luther, 1483-1546;  diterjemahkan oleh Frederick H. Hedge, 1805-1890/
Terjemahan Nyanyian Pujian No. 19.)

SKETSA KEHIDUPAN LUTHER OLEH SPURGEON

“Orang benar akan hidup oleh iman” (Roma 1:17).

Spurgeon berkata,

[Saya akan meringkaskan dan menggambarkan pengajaran ini dengan menekankan peristiwa-peristiwa tertentu dalam kehidupan Luther. Cahaya Injil pada diri Reformator besar ini menyeruak secara perlahan. Itu ada di biara itu, ketika membuka Alkitab tua yang dirantai di sebuah tiang di biara itu, ia membaca pesan ini – “Orang benar akan hidup oleh iman.” Kalimat sorgawi ini menusuk dia: namun dia begitu sulit memahami segala kebenaran di dalamnya. Bagaimanapun ia tidak dapat menemukan damai sejahtera dalam profesi religiousnya dan kebiasan-kebiasaannya sebagai biarawan. Tidak mengetahui yang lebih baik, ia bertekun dalam berbagai cara untuk menyucikan diri, dan sangat dibebani rasa bersalah, sehingga kadang-kadang ia ditemukan pingsan karena kelelahan. Ia menyebabkan dirinya sendiri hampir mati. Ia harus membuat perjalanan ke Roma, karena di Roma ada gereja yang menyegarkan setiap hari, dan Anda mungkin yakin memperoleh pengampunan dosa-dosa dan segala berkah di tempat suci yang kudus ini. Ia ingin sekali masuk kota suci [Roma]; namun ia menemukan di sana adalah tempatnya kemunafikan dan sarang kejahatan. Yang membuatnya ngeri ia mendengar orang-orang berkata bahwa jika neraka itu ada, Roma dibangun di atasnya, karena kota itu yang paling dekat dengannya yang dapat ditemukan di dunia ini; namun ia masih percaya kepada Paus dan ia terus mencari pengampunan dosa, mencari kelegaan, namun tidak pernah menemukannya. Suatu hari ia menaiki Sancta Scala [“Tangga Kudus”] yang berdiri di Roma dengan lututnya. Saya sungguh kagum karena pada tangga ini saya melihat makhluk-makhluk lemah naik dan turun dengan lututnya karena percaya bahwa itu benar-benar tangga di mana Tuhan kita turun ketika ia meninggalkan istana Pilatus, dan tentu pada setiap tangga tersebut ditandai dengan tetesan-tetesan darah [Kristus]; jiwa-jiwa miskin ini menciuminya dengan penuh khidmat. Yah. Luther merayap menaiki tanga-tanga tersebut selama satu hari ketika ayat yang sama yang pernah ia baca sebelumnya di biara, kedengaran seperti menggelegar di telinganya, “Orang benar akan hidup oleh iman.” Ia bangkit dari sujudnya dan menuruni tangga-tangga itu sebelum sampai ke atas. Pada saat itu Tuhan membawanya sepenuhnya keluar dari takhyul, dan ia melihat bahwa bukan oleh para imam, juga bukan oleh sekumpulan imam, juga bukan oleh pengakuan dosa, juga bukan oleh apapun yang ia dapat lakukan, yang membuat ia hidup, namun bahwa ia harus hidup oleh imannya [di dalam Kristus]. Ayat kita [malam] ini telah membuat biarawan [Katolik] ini bebas, dan jiwanya diselamatkan dari api.

[“Orang benar akan hidup oleh iman” (Roma 1:17).]

Ketika Luther akhirnya memahami bahwa ayat itu ia percaya hanya kepada Kristus saja. Ia menulis kepada ibunya, “Saya merasakan diri saya sendiri dilahirkan kembali dan menemukan pintu terbuka ke dalam firdaus.” Spurgeon berkata,

[Tidak lama setelah ia mempercayai ini ia hidup mengahadapi bahaya. Seorang [imam], yang bernama Tetzel, sedang berkeliling seluruh Jerman untuk menjual surat pengampunan dosa untuk memperoleh banyak uang. Tidak peduli seberapapun dosa Anda, segera ketika uang Anda menyentuh dasar kotak [pengumpulan uang] dosa-dosa Anda terhapuskan. Luther mendengar tentang ini, dan mulai marah, dan berseru, “Saya akan melubangi drumnya,” dan ia sungguh-sungguh melakukannya, dan terhadap beberapa drum lainnya. Memakukan dalil-dalilnya pada pintu gerbang adalah cara yang tepat untuk menghentikannya. Luther mengumumkan pengampunan dosa melalui iman di dalam Kristus tanpa uang dan tanpa bayaran, dan kegemaran Paus ini segera menjadi obyek olok-olok. Luther hidup dengan imannya, dan oleh sebab itu ia yang dibuatnya bungkam, dan dituduh bersalah menjadi geram seperti singa yang meraung-raung terhadap mangsanya. Iman yang hidup di dalamnya memenuhinya dengan kehidupan yang kuat, dan ia siap untuk berperang melawan musuh. Setelah ketika mereka memanggil dia untuk pergi ke Augsburg, dan ia pergi ke Augsburg, walaupun teman-temannya menasehati dia untuk tidak pergi. Mereka memanggil dia, sebagai seorang penyesat, untuk memberi jawaban bagi dirinya di Diet of Worms [Dewan Kerajaan], dan setiap orang menasehati dia untuk melarikan diri, karena ia pasti akan dibakar [pada sebuah tiang] di sana; namun ia merasa perlu untuk memberi kesaksian dan menerima resikonya, dan oleh sebab itu dengan sebuah kereta ia pergi melewati desa ke desa dan dari kota ke kota, sambil berkhotbah dalam perjalanannya, orang-orang miskin keluar untuk menyetujui orang yang berdiri tegak demi Kristus dan Injil yang mengambil resiko kehilangan nyawanya itu. Anda ingat bagaimana ia berdiri di hadapan dewan mulia [di Worms] itu, dan walaupun ia tahu bahwa ia akan membayar harga dengan hidupnya, mungkin karena ia bersedia [dibakar pada tiang] seperti John Huss, namun ia [berlaku seperti] seorang laki-laki demi Tuhan Allahnya. Hari itu di German Diet [Pengadilan Jerman] Luther melakukan pekerjaan yang membuat anak-anak dari sepuluh ribu kali sepuluh ribu ibu memuji namanya, dan lebih memuji nama Tuhan Allahnya (C. H. Spurgeon, “A Luther Sermon at the Tabernacle,” The Metropolitan Tabernacle Pulpit, Pilgrim Publications, 1973 reprint, Volume XXIX, hlm. 622-623).

“Orang benar akan hidup oleh iman” (Roma 1:17).

Perjumpaan pertama saya dengan Luther adalah di gereja Baptis, pada waktu yang sudah lama berlalu, sekitar permulaan tahun 1950-an. Suatu Minggu malam mereka menunjukkan film hitam putih tentang kehidupan dia. Pada waktu itu ia nampak seperti tokoh aneh dari masa lalu, yang tidak memiliki sesuatu yang membuat saya tertarik. Film itu nampak membosankan dan panjang, dan saya heran mengapa pendeta saya, Dr. Walter A. Pegg, bahkan ingin sekali menunjukkan film itu.

Perjumpaan kedua saya dengan Luther datang kemudian, setelah saya bertobat. Saya membaca tentang pengalaman pertobatan John Wesley, yang mana Wesley berkata demikian,

Pada malam itu saya pergi dengan setengah hati ke persekutuan di Aldersgate Street, di mana Luther’s preface to the Epistle to the Romans (pengantar Luther untuk Surat Roma) dibacakan. Sekitar pukul sembilan kurang seperempat, ketika ia sedang menjelaskan perubahan yang Allah kerjakan dalam hati melalui iman di dalam Kristus, saya merasa hati saya dengan aneh merasakan kehangatan. Saya merasa bahwa saya telah percaya kepada Kristus, Kristus saja untuk keselamatan; dan jaminan diberikan kepada saya, bahwa Ia telah menghapus semua dosa saya, bahkan menjadi milik saya, dan saya telah diselamatkan dari hukum dosa dan kematian (John Wesley, The Works of John Wesley, third edition, Baker Book House, 1979 reprint, volume I, hlm. 103) .

Ini membuat suatu kesan bagi saya, karena saya tahu bahwa Wesly kemudian menjadi salah satu dari dua pengkhotbah paling penuh kuasa pada Kebangunan Rohani Agung Pertama (First Great Awakening). Wesley bertobat ketika mendengarkan kata-kata Luther tentang pembenaran oleh iman di dalam Kristus.

Meski demikian kemudian saya belajar bahwa John Bunyan, nenek moyang Baptis kita, membaca tulisan Luther ketika ia menjadi sungguh bertobat, “meningkatkan studinya tentang Kitab Suci dengan tulisan-tulisan Martin Luther” (Pilgrim’s Progress, Thomas Nelson, 1999 reprint, pengantar dari penerbit, hal. xii). Bunyan kemudian menjadi seorang penulis Baptis yang tulisan-tulisannya paling banyak dibaca di seluruh dunia dari segala masa!

John Wesley, seorang Methodist, telah bertobat dengan mendengar perkataan-perkataan Luther. John Bunyan, seorang Baptis, ditolong dalam pergumulannya untuk pertobatan melalui membaca tulisan-tulisan Luther. Saya pikir bahwa seharusnya ada banyak hal baik yang diperoleh dengan membaca pemikiran Luther.

Dr. R. L. Hymers, Jr.


SIX MODERN ERRORS ABOUT REVIVAL

Pertama saya tertarik tentang tema kebangunan rohani sejak tahun 1961. Saya membeli sebuah buku kecil di Toko Buku Biola tentang Kebangunan Rohani Pertama (“First Great Awakening”). Ini berisi sari dari Jurnal John Wesley, dan diterbitkan oleh Moody Press. Saya telah memikirkan dan sekarang masih memikirkan tentang kebangunan rohani, dan doa untuk itu, selama lebih dari 48 tahun. Adalah suatu kebahagiaan bagi saya dengan mengalami dua kebangunan rohani yang luar biasa di gereja Baptis. Ini bukan kebaktian kebangunan rohani, atau kebaktian “karismatik.” Itu adalah dua kebangunan rohani seperti yang Anda baca dalam buku-buku sejarah Kekristenan.

Setelah 48 tahun membaca dan berpikir tentang tema ini, saya tidak menganggap diri saya sendiri sebagai ahli di bidang kebangunan rohani. Saya merasa seperti orang yang baru belajar, baru mulai untuk memahami beberapa kebenaran penting berhubungan dengan kebangunan rohani.

Dulu saya pernah membuat kesalahan berhubungan dengan kebangunan rohani. Selama beberapa tahun saya telah disesatkan oleh tulisan-tulisan Charles G. Finney. Bahkan sekarang saya masih tidak yakin bahwa saya sudah memahami tema ini secara lengkap,

“Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar” (I Korintus 13:12).

Namun malam ini saya akan memberikan enam kesalahan tentang kebangunan rohani kepada Anda, yaitu hal-hal yang saya percaya adalah suatu kesalahan. Saya berharap agar poin-poin ini akan membantu Anda ketika Anda berdoa memohon Tuhan mengirimkan kebangunan rohani.

I. Pertama, adalah salah ketika kita harus memfokuskan pada karunia-karunia Rasul untuk memiliki kebangunan rohani.

Walaupun saya tidak membenci orang Pentakosta, namun saya pikir mereka salah. Dan saya pikir penekanan mereka pada karunia-karunia Rasul telah menghalangi terjadinya kebangunan rohani yang riil. Iain H. Murray berkata,

Karunia-karunia seperti itu tidak dikenal pada zaman Chrysostom (+ 347-407) dan Augustine (+ 354-430). Hal itu juga tidak pernah dimiliki oleh para… pemimpin di beberapa kebangunan rohani dari zaman Reformasi sampai abad ini… Para Reformator hanya berfokus kepada Kitab Suci. Mereka mengklaim kebenaran Rasuli, bukan karunia-karunia Rasul. Begitu juga pada periode kaum Puritan, sampai Kebangunan Rohani (Great Awakening) zaman Edwards, Whitefield dan the Wesleys, hingga zaman Spurgeon. Semua sepaham dengan Whitefield bahwa “karunia-karunia melakukan mujizat seperti yang pernah terjadi pada jemaat mula-mula sudah berhenti sejak dulu.” Jika beberapa pemimpin dipenuhi oleh Roh Kudus, seperti mereka, agar dapat melakukan pekerjaan melakukan mujizat, sungguh aneh bila mereka tidak mengenal karunia-karunia melakukan mujizat… Semua klaim tentang fenomena luar biasa seperti itu baru muncul sekitar tiga puluh lima tahun belakang ini – berbahasa roh, kesembuhan ilahi, nubuatan dan ”rebah dalam Roh” – jauh dari mempersiapkan untuk kebangunan rohani, dan malah agaknya malah mengacaukan kebenaran-kebenaran agung yang Roh selalu muliakan di dalam mengobarkan kebangunan-kebangunan rohani (Iain H. Murray, Pentecost Today? – the Biblical Basis for Understanding Revival, Banner of Truth, 1998, hal. 197-199).

Penekanan karunia-karunia Rasul telah menyebabkan banyak orang justru menjauhkan diri mereka sendiri dari pikiran tentang Roh Kudus dan kebangunan rohani. Ini memalukan, karena pekerjaan utama dari Roh Kudus telah dijelaskan kepada kita oleh Yesus, di dalam Yohanes 16:8

“Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman.”

Kita sungguh membutuhkan Roh Kudus untuk melakukan pekerjaan ini di gereja-gereja kita hari ini.

Dan, kemudian, pekerjaan agung Roh Kudus lainnya dijelaskan kepada kita dalam Yohanes 15:26,

“Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.”

Kita membutuhkan pekerjaan Roh Kudus yang menginsafkan. Kita membutuhkan kesaksian-Nya tentang Kristus. Ini adalah hal-hal yang Allah harus lakukan di tengah-tengah kita jika kita ingin memiliki kebangunan rohani, kebangunan rohani seperti yang pernah terjadi di sepanjang sejarah!

II. Kedua, adalah salah ketika kita berpikir tidak mungkin ada kebangunan rohani pada zaman ini.

Saya tidak akan menghabiskan banyak waktu untuk membahas ini, namun saya harus menekankan ini karena begitu banyak mempercayaai pernyataan di atas. Mereka berkata hal-hal seperti, “Hari-hari yang agung dari kebangunan rohani telah berakhir. Kita ada di hari-hari yang terakhir. Tidak akan ada lagi kebangunan rohani.” Ini adalah pemikiran umum di kalangan orang-orang Kristen yang menjunjung tinggi Alkitab hari ini.

Namun saya percaya pandangan demikian salah karena tiga alasan berikut ini:

(1)  Alkitab berkata, “Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita” (Kisah Rasul 2:39).

(2)  Kebangunan rohani terbesar dari semua yang pernah terjadi akan terjadi di tengah-tengah Kesusahan Besar, di bawah penganiayaan Antikristus, di akhir zaman ini (band. Wahyu 7:1-14).

(3)  Kebangunan rohani terbesar dalam sepanjang sejarah Timur Jauh sedang terjadi tepat sekarang, malam ini, di Republik Rakyat China dan Negara-negara di Asia Tenggara. Kebangunan rohani terbesar dari zaman modern ini sedang terjadi di sana tepat sekarang!

 

Adalah kesalahan yang mengerikan jika ada yang berpikir bahwa tidak mungkin ada kebangunan rohani hari ini!

III. Ketiga, adalah salah ketika kita berpikir bahwa kebangunan rohani bergantung pada usaha-usaha penginjilan.

Ini adalah kesalahan umum di antara gereja Baptis Selatan dan lainnya. Ide ini diturunkan kepada mereka dari Charles G. Finney, yang berkata, “Kebangunan rohani secara alami adalah hasil dari penggunaan sarana yang sesuai dan keberhasilan itu adalah karena sarana yang digunakan sesuai (C. G. Finney, Lectures on Revival, Revell, n.d., hal. 5). Banyak gereja hari ini mengiklankan “kebangunan rohani” mulai pada hari tertentu – dan berakhir pada hari tertentu! Ini adalah murni Finneyisme! Kebangunan rohani tidak bergantung pada usaha-usaha penginjilan dan memenangkan jiwa yang kita lakukan!

Mari kita bersama-sama membuka Kisah Rasul 13:48-49,

“Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. Lalu firman Tuhan disiarkan di seluruh daerah itu.”

Namun sebelum saya mengomentari dua ayat tersebut, Anda harus memahami bahwa saya tidak mempertahankan semua poin dari kelima poin Calvinisme. Itulah sebabnya mengapa beberapa orang berkata bahwa saya adalah “Reformed moderat.” Saya baru saja menjelaskan kepada Anda sehinga Anda akan mengetahui perspektif saya. Ketika saya mengutip ayat ini, saya tidak harus dipaksa untuk mengakui bahwa hanya “semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.“ Walaupun Injil “diberitakan ke seluruh daerah itu” hanya orang-orang ini yang “ditentukan untuk hidup kekal yang menjadi percaya.”

Saya pikir dua ayat ini membersihkan ide bahwa kebangunan rohani bergantung pada usaha-usaha penginjilan. Ya, kita diperintahkan untuk “memberitakan Injil kepada segala mahkluk” (Markus 16:15) – namun tidak setiap mahkluk akan percaya! Pada masa-masa kebangunan rohani lebih banyak orang percaya dibandingkan dengan masa-masa yang lain – namun sungguh jelas bahwa kebangunan rohani tidak bergantung pada usaha-usaha penginjilan kita saja.

Ada suatu misteri berhubungan dengan semua ini – karena ada hal-hal yang berhubungan dengan pertobatan dan kebangunan rohani terjadi melampaui akal manusia. Kita diperintahkan untuk memberitakan Injil kepada orang-orang terhilang entah mereka mau percaya atau tidak. Namun kebangunan rohani bergantung pada Allah, bukan pada usaha-usaha penginjilan kita.

IV. Keempat, adalah salah ketika kita berpikir bahwa kebangunan rohani bergantung pada dedikasi orang-orang Kristen.

Saya tahu bahwa seseorang dapat mengutip II Tawarikh 7:14. Namun ini nampak aneh mengapa mereka tidak mengutip dari ayat Perjanjian baru untuk mendukung teori mereka bahwa kebangunan rohani bergantung pada orang-orang Kristen yang “hidup benar bersama Tuhan.” Mengapa harus ayat ini, yaitu ayat yang diberikan kepada Salomo, yang digunakan sebagai suatu rumusan untuk kebangunan rohani gereja Perjanjian Baru? Saya tidak melihat alasan untuk melakukan itu di mana seorang pengkhotbah mengirimkan kapal-kapal dari gerejanya, “membawa emas dan perak serta gading; juga kera dan burung meraks” seperti yang Salomo lakukan dalam II Tawarikh 9:21, hanya dua pasal kemudian!

Iain H. Murray berbicara berhubungan dengan II Tawarikh 7:14, “Hal pertama untuk mengatakan secara yakin bahwa apa yang dijanjikan bukan kebangunan rohani [Perjanjian Baru], untuk janji ini seharusnya dimengerti, pertama dalam hubungannya dengan waktu yang mana itu diberikan. Ini adalah janji untuk Israel Perjanjian Lama dan tanah mereka yang akan dipulihkan seperti dikatakan di sini” (Murray, ibid., hal. 13).

Ide bahwa kebangunan rohani bergantung pada dedikasi orang-orang Kristen adalah faham yang berasal dari Finney. Jonathan Goforth, orang yang lebih baik dari Finney, namun ia menggemakan pengajaran Finney ketika ia berkata, “Dosa yang tidak disadari, satu-satunya, yang dapat menghalangi kebangunan rohani terjadi di antara kita… Pentakosta belum ada di genggaman kita. Jika kebangunan rohani masih belum terjadi di tengah kita itu karena masih ada beberapa berhala yang masih bertahta [di antara kita]” (Jonathan Goforth, By My Spirit, 3rd edition, Marshall, Morgan and Scott, n.d., hal. 181, 189).

Winston Churchill suatu kali menulis kepada anak muda yang adalah cucunya, ia meminta kepada cucunya itu untuk mempelajari sejarah, karena sejarah menyediakan sarana-sarana terbaik untuk membuat prediksi yang paling cerdas tentang masa depan. Berikut ini adalah ucapan Churchill, “Mempelajari sejarah,” kita menemukan ide bahwa kebangunan rohani bergantung pada “kesetiaan penuh” orang-orang Kristen adalah tidak benar. Nabi Yunus tidak sepenuhnya setia kepada Allah. Bacalah pasal terakhir dari Kitab Yunus, dan Anda akan melihat kurangnya dan ketiadaan imannya. Tidak, kebangunan rohani terbesar di antara orang-orang non Yahudi dalam Perjanjian Lama tidak bergantung pada “penyerahan mutlak” atau “kesempurnaan” seorang Nabi. John Calvin bukanlah orang yang sempurna. Ia pernah membakar seseorang pada sebuah tiang karena dianggap bidat – yang sungguh tidak menunjukkan sikap Perjanjian Baru. Namun Tuhan mengirimkan kebangunan rohani di bawah pelayanannya, dan melalui tulisan-tulisannya. Luther kadang-kadang mempunyai perangai yang tidak baik, dan ia pernah berkata bahwa sinagog-sinagog Yahudi harus dibakar. Namun kendati Luther kadang-kadang sangat sinis, dan anti-Semitisme, namun Tuhan mengirimkan kebangunan rohani di bawah pelayanannya. Kita dapat memaafkan Calvin dan Luther karena kita sadar bahwa mereka adalah orang-orang dari abad pertengahan, yang masih dipengaruhi tindakan-tindakan seperti ini oleh Katolikisme. Namun, kendati ada kekurangan pada diri mereka, Allah mengirim kebangunan rohani Reformasi yang agung di bawah pelayanan mereka. Whitefield kadang-kadang membuat kesalahan berhubungan dengan “kesan-kesan batiniah” yang secara salah ia pikir berasal dari Allah. Wesley memilih untuk membuang undi (melempar dadu) untuk menentukan kehendak Allah. Spurgeon sering dipersalahkan karena ia kadang-kadang menghisap cerutu, walaupun dengan jujur kita harus menyadari bahwa ini bukan hal yang baik. Para pengikut Victoria adalah pecandu kopi. J. Frank Norris kadang-kadang kurang bersemangat. Kita dapat memaafkan dia karena kita menyadari tekanan yang luar biasa yang menekan dia, ketika ia memulai gerakan Baptis independent, seperti yang ia alami. Namun Whitefield, Wesley, Spurgeon, Luther, Calvin dan Norris melihat kebangunan rohani pada pelayanan mereka.

Kita melihat, dari contoh-contoh dalam sejarah ini, bahwa orang-orang yang tidak sempurna, kadang-kadang orang-orang yang tidak sesuci atau setia sebagaimana seharusnya mereka menjadi, dengan luar biasa dipakai Tuhan pada masa-masa kebangunan rohani. Kita harus dengan jujur menyimpulkan bahwa Finney dan para pengikutnya salah ketika mereka berkata bahwa kebangunan rohani bergantung pada orang-orang Kristen yang sepenuhnya menjadi setia/ terdedikasi. Rasul Paulus menjelaskan kepada kita bahwa,

“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (II Korintus 4:7).

Anda lihat, kebangunan rohani tidak bergantung pada orang-orang Kristen yang mendedikasikan hidup mereka secara sepenuhnya, atau mendedikasikan diri mereka kembali. Tidak – kebangunan rohani bergantung pada “kekuatan yang melimpah-limpah… berasal dari Allah, bukan dari diri kita” (II Korintus 4:7).

Dengan menggunakan II Tawarikh 7:14, Bill Bright pernah mengajar bahwa orang-orang Kristen yang sedang bertobat dan berpuasa dan mendedikasikan hidup mereka akan menghasilkan kebangunan rohani. Namun Mr. Bright salah, walaupun ia adalah orang baik dalam banyak hal. Ia dengan tidak sadar sedang mempromosikan ide Finney bahwa manusia dapat membuat kebangunan rohani terjadi dengan konsentrasi penuh. Namun, sungguh menyedihkan, tidak ada kebangunan rohani terjadi di dunia Barat sebagai hasil dari usaha-usaha Bright. Mengapa? Karena kebangunan rohani sejati tidak bergantung pada dedikasi orang-orang Kristen. Itu hanya bergantung pada ”kekuatan yang melimpah-limpah… berasal dari Allah, bukan dari diri kita” (II Korintus 4:7).

Saya akan menutup poin ini dengan mengacu kepada khotbah Stefanus kepada Sanhedrin. Secara spesifik kita diberitahu bahwa Stefanus “penuh dengan karunia dan kuasa, [dan] mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak” (Kisah rasul 6:8). Namun Stefanus tidak melihat kebangunan rohani datang dari khotbahnya. Sebaliknya, ia dirajam batu sampai mati. Ia adalah orang suci dan benar, namun ini tidak dengan sendirinya menghasilkan kebangunan rohani dalam pelayanannya. Kita dapat berpuasa dan berdoa, dan menjadi orang-orang Kristen yang benar-benar luar biasa, namun ini tidak akan memaksa Allah mengirimkan kebangunan rohani. Mengapa? Rasul Paulus memberikan jawabannya,

“Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan”
 (I Korintus 3:7).

Segalamuliaan dalam kebangunan rohani harus ditujukan kepada Allah – dan tak satupun kemuliaan itu harus ditujukan kepada manusia, bahkan orang-orang yang baik dan suci! Jadi, Anda seharusnya tidak berpikir bahwa jika kita melalui pertobatan mendalam dan pendedikasian diri secara mendalam maka ini akan secara otomatis mendatangkan kebangunan rohani. Itu adalah ide palsu dari Finney. Saya tidak mengatakan bahwa Anda tidak harus menyucikan diri Anda di hadapan Allah. Anda semua harus melakukan itu! Namun kita seharusnya ingat bahwa kita tidak sedang berhubungan dengan magis! Kita tidak dapat memaksa Allah untuk mengirimkan kebangunan rohani melalui dedikasi diri kita. Belakangan ini saya membaca di mana seseorang berkata, “Kebangunan rohani akan terjadi ketika kita berdoa secara jujur dengan dedikasi penuh kita.” Bagi saya itu lebih menyerupai “sihir!” Kita harus merendahkan diri kita dan berusaha tidak peduli seberapa “sungguh-sungguhnya” kita berdoa, dan tidak peduli seberapa “penuh” dedikasi kita, namun pada akhirnya Allah lah yang berkehendak entah Ia mau atau tidak mengirimkan kebangunan rohani. Itu terserah kita! Ya, kita harus secara terus menerus berdoa untuk kebangunan rohani, dan pada saat yang sama, selalu mengingat “melainkan Allah yang memberi pertumbuhan” (I Korintus 3:7). Itu adalah kedaulatan kuasa Allah sendiri yang menghasilkan kebangunan rohani sejati!

V. Kelima, adalah salah ketika kita berpikir bahwa kebangunan rohani adalah suatu keadaan yang seperti biasanya yang kita harapkan terjadi di gereja.

Roh Kudus dicurahkan atas para Rasul pada hari Pentakosta. Mereka berkhotbah di hadapan orang banyak dalam bahasa mereka masing-masing, dan tiga ribu orang bertobat pada kebangunan rohani yang luar biasa itu, sebagimana dicatat dalam Kisah Rasul, pasal dua. Namun kita menemukan bahwa mereka perlu di penuhi Roh Kudus lagi, seperti yang dicatat dalam Kisah Rasul 4:13,

“Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani”
(Kisah Rasul 4:31).

Ini menunjukkan kepada kita bahwa ada masa-masa dari kebangunan rohani pada jemaat mula-mula. Namun ada saat-saat lain ketika gereja berjalan seperti biasanya, hari berganti hari secara biasanya. Saya pikir ini adalah apa yang Rasul Paulus maksudkan ketika ia berkata, “siap sedialah baik atau tidak baik waktunya” (II Timotius 4:2). Saya pikir ini berarti bahwa kita harus terus berkhotbah dan berdoa serta bersaksi entah ada kebangunan rohani atau tidak. Kristus memanggil kita untuk mentaati Amanat Agung (Matius 28:19-20), dan “beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Markus 16:15) entah ada kebangunan rohani atau tidak! Orang-orang akan dipertobatkan bahkan ketika tidak ada gerakan Allah yang tidak seperti biasanya.

Jika kita berpikir bahwa kebangunan rohani adalah cara Allah berkerja seperti biasanya, kita akan menjadi berkecil hati. Iain H. Murray berkata,

Sampai pada titik ini George Whitefield harus lebih dulu memperhatikan temannya William McCulloch, seorang hamba Tuhan dari Cambuslang [Scotlandia]. Pada tahun 1749 McCulloch berkecil hati oleh karena ia tidak lagi melihat apa yang mereka pernah saksikan pada kebangunan rohani tahun 1742. Respon Whitefield adalah mengingatkan dia bahwa 1742 bukanlah norma untuk gereja: “Saya harus senang mendengar tentang kebangunan rohani [lain] di Cambuslang; namun, tuan terkasih, Anda telah melihat hal-hal yang jarang dilihat di atas suatu kali dalam abad ini.” Martyn Lloyd-Jones mengacu kepada kejadian yang serupa dalam kasus hamba Tuhan dari Welsh bahwa “seluruh pelayanan telah runtuh,” dengan terus-menerus ia melihat ke kebelakang yaitu kepada apa yang pernah ia lihat dan alami pada kebangunan rohani 1904; “Ketika kebangunan rohani itu berakhir… ia masih mengharapkan hal yang tidak biasa itu terjadi lagi; namun itu tidak terjadi. Sehingga ia menjadi depresi dan menghabiskan sekitar empat puluh tahun hidupnya dalam ketandusan, ketidak-bahagiaan dan tidak berguna” (Iain H. Murray, ibid., hal. 29).

Jika Allah tidak mengirim kebangunan rohani, kita tidak harus membiarkan itu membuat diri kita menjadi berkecil hati. Kita harus tetap siap sedia, baik atau tidak baik waktunya, untuk memberitakan Injil, dan memimpin orang-orang berdosa kepada Kristus satu per satu. Namun, pada saat yang sama, kita harus terus berdoa kiranya Tuhan mengirimkan suatu waktu yang special suatu kebangunan rohani. Jika itu datang, kita akan bersukacita. Namun jika itu tidak datang, kita harus terus memimpin jiwa-jiwa datang kepada Kristus saat ini! Kita tidak harus menjadi berkecil hati! Kita harus siap sedia baik atau tidak baik waktunya!

VI. Keenam, adalah salah ketika kita berpikir bahwa tidak ada kondisi apapun yang dihubungkan dengan kebangunan rohani.

Baik Kitab Suci maupun sejarah menunjukkan kepada kita bahwa kebangunan rohani tidak bergantung pada usaha-usaha penginjilan manusia atau dedikasi total orang Kristen. Namun ada kondisi tertentu yang harus dijumpai. Ini terutama adalah pengajaran yang benar, dan doa. Kita haurs berdoa untuk kebangunan rohani, namun kita juga harus memiliki pengajaran yang bernar tentang dosa dan keselamatan.

Dalam bukunya yang berjudul, Revival (Crossway Books, 1992), Dr. Martyn Lloyd-Jones memiliki dua bab, yang berjudul “Doctrinal Impurity” (“Ketidak-murnian Pengajaran”) dan “Dead Orthodoxy” (“Orthodoksi yang telah Mati”). Dalam dua bab ini ia, yang pernah melihat kebangunan rohani agung pada tahun-tahun permulaan pelayanannya menjelaskan kepada kita bahwa ada doktrin-doktrin tertentu yang harus dikhotbahkan dan dipercaya jika kita mengharapkan Allah mengirimkan kebangunan rohani. Saya hanya akan menekankan empat doktrin yang ia berikan.

 

1.  Kejatuhan dan kerusakan total umat manusia – kerusakan total (total depravity).

2.  Regenerasi – atau kelahiran kembali – sebagai karya Allah, dan bukan pekerjaan manusia.

3.  Pembenaran oleh iman di dalam Kristus saja – bukan iman di dalam segala bentuk “pengambilan keputusan.”

4.  Efektivitas Darah Kristus untuk menyucikan doa – baik dosa pribadi maupun doa asal.

 

Empat doktrin ini diserang oleh Charles G. Finney, dan telah diturunkan atau ditolak sejak saat itu. Tidak heran kita melihat begitu sedikit kebangunan rohani sejak tahun 1859! Saya tidak dapat membahasnya secara mendetail, namun inilah pengajaran-pengajaran vital, yang harus dikhotbahkan kembali jika kita berharap melihat kebangunan rohani datang ke gereja-gereja kita. Gereja kita penuh dengan orang-orang yang masih terhilang, yang tidak akan pernah benar-benar bertobat kecuali kita mengkhotbahkan tema-tema ini secara sungguh-sungguh dan penuh semangat – dan secara terus menerus!

Dr. Lloyd-Jones berkata,

Lihatlah sejarah berbagai kebangunan rohani, dan Anda akan menemukan orang-orang yang merasa putus asa. Mereka tahu bahwa semua kebaikan mereka tidak lain selain kain lap yang kotor, dan bahwa kebenaran mereka tidak ada nilainya sama sekali. Dan di sana mereka merasa bahwa mereka tidak dapat melakukan apapun, dan hanya dapat berseru kepada Allah agar Ia memberikan rahmat dan belas kasihan-Nya. Pembenaran oleh iman. Tindakan Allah. “Jika Allah tidak melakukan itu kepada kita,” kata mereka, “maka kita terhilang.” Oleh sebab itu mereka [merasakan diri mereka] tidak berdaya di hadapan Dia. Mereka tidak lagi memperhatikan, dan tidak menganggap penting, semua kesalehan mereka di masa lalu, dan kesetiaan mereka dalam menghadiri kebaktian di gereja, dan banyak hal yang lain. Mereka memandang semua yang mereka pernah lakukan itu tidak ada yang baik, bahkan kesalehan mereka tidak ada nilainya, tidak ada satupun yang bernilai pada dirinya. Allah harus membenarkan orang-orang yang tidak saleh. Oleh sebab itu, itu adalah berita agung yang datang pada setiap periode kebangunan rohani (Martyn Lloyd-Jones, ibid., hal. 55-56).

“Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran” (Roma 4:5).

“Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya” (Roma 3:24-25).

Ini adalah pengajaran-pengajaran tentang kebangunan rohani! Ini adalah pengajaran-pengajaran yang memimpin kepada pertobatan! Kita harus melihat keinsafan akan dosa, keinsafan yang mendalam, hati yang dihancurkan olehnya. Kita harus melihat keinsafan jiwa-jiwa yang menangisi dosa-dosa mereka yang datang kepada Yesus, menemukan keselamatan, “karena iman di dalam darah-Nya.”

Dr. R. L. Hymers, Jr.


THE TOPIC MOST MODERN PREACHERS AVOID!

Kita hidup di zaman yang aneh – aneh baik secara politik, ekonomi, maupun spiritual. Di Amerika dan Eropa, tidak ada yang lebih aneh dari pada topik-topik yang kita dengar dari mimbar gereja-gereja new-evanglikal dan fundamental hari ini. Ada studi Alkitab tentang pernikahan, studi Alkitab tentang bagaimana berpacaran, studi Alkitab tentang membesarkan anak, studi Alkitab tentang menanggulangi depresi, studi Alkitab tentang bagaimana untuk berhasil dalam kehidupan Kristen, studi Alkitab tentang bagaimana mengalami kemakmuran secara finansial, studi Alkitab tentang bagaimana membesarkan anak-anak Kristen (?), studi Alkitab kitab demi kitab dari Alkitab, dan studi Alkitab pasal demi pasal dari Alkitab. Subyek-subyek ini telah dibicarakan kembali oleh banyak pengkhotbah, karena selama begitu banyak dekade, banyak pendeta berpikir adalah normal untuk mengajarkan topik-topik tersebut tahun demi tahun!

Namun saya berkata bahwa banyak khotbah di gereja-gereja kita tidak berdasar, kacau balau, tidak fokus dan, karena kebanyakan, tidak menolong seorangpunhanya kumpulan kata-kata yang campur aduk untuk mengisi tiga puluh menit waktu kosong di Minggu pagi!

Jadi, itu adalah tugas yang sangat serius yang saya sedang lakukan untuk menentang khotbah “modern” di gereja-gereja kita hari ini. Namun saya disiapkan untuk mempertahankan itu – dari pengalaman pribadi, dan dari Perjanjian Baru.

Mari kita membuka Kitab Kisah Para Rasul. Di mana dalam Kitab Para Rasul ada beberapa catatan khotbah tentang topik-topik yang saya daftarkan di atas? Saya tidak menemukan satu catatan khotbah tentang pernikahan, juga tentang bagaimana berpacaran, juga tentang bagaimana membesarkan anak, juga tentang bagaimana menanggulangi depresi, juga tentang bagaimana berhasil “di dalam kehidupan Kristen” (atau kehidupan bagaimanapun!), juga tentang bagaimana menjadi makmur secara finansial, juga tentang bagaimana membesarkan “anak-anak Kristen (?)”, juga tentang membahas kitab per kitab dari Alkitab, atau pasal per pasal dari Alkitab, atau eksposisi ayat per ayat dari Alkitab! Tak satu pun dari topik-topik tersebut adalah khotbah-khotbah para Rasul, yang tercatat dalam Kitab Kisah Para Rasul! Jadi, jika saya salah, tolong koreksi saya! Silahkan tulis surat kepada saya di P.O. Box 15308, Los Angeles, CA 90015. Tolong koreksi saya, dan sadarkan saya dari catatan khotbah-khotbah dalam Kitab Kisah Para Rasul, jika saya salah. Jika saya tidak mendengar komentar Anda, saya berarti benar untuk mengatakan apa yang baru saja Anda dengar – khotbah di gereja-gereja kita adalah salah, kacau, membingungkan, tidak membantu apa-apa, dan kebanyakan hanya buang-buang waktu saja! Mengapa? Karena khotbah-khotbah itu tidak berdasar, tidak fokus pada subyek yang Allah inginkan menjadi pusat pemberitaan kita!

Ketika jemaat kita pergi liburan, dan menghadiri gereja-gereja yang percaya Alkitab lainnya, mereka sering pulang dalam ketidak-puasan. Sekali lagi, mereka telah mendengar “studi Alkitab” motivasional. Sekali lagi, mereka gagal mendengar khotbah tentang subyek yang para pengkhotbah modern hindari bagai wabah. Oh, para pengkhotbah modern ini biasanya mengatakan satu atau dua kata yang membingungkan, namun mereka tidak pernah mengkhotbahkan khotbah-khotbah secara menyeluruh tentang itu! Apakah topik yang mereka hindari ini? Dan mengapa mereka menghindarinya? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini diberikan dalam khotbah ini.

Namun saya belum memberikan satu ayat pun kepada Anda sebagai dasar khotbah ini! Marilah kita berdiri dan membaca ayat ini. Yaitu dari I Korintus 1:23, enam kata pertama dari I Korintus 1:23. Mari kita membaca enam kata pertama dari ayat ini dengan lantang.

“Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan”  (I Korintus 1:23).

Mereka tidak memberitakan Kristus yang disalibkan! Jika mereka melakukannya, tolong katakan kepada saya kapan ini dilakukan, dan siapa yang melakukannya! Saya berkata mereka tidak memberitakan Kristus yang disalibkan. Namun apapun yang mereka khotbahkan, di zaman penyesatan ini, kita tidak harus mengikuti contoh mereka! Kita harus dan selalu berdiri bersama dengan Rasul Paulus dan berkata,

“Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan”  (I Korintus 1:23).

Mari pagi ini kita melihat ayat ini kata per kata, karena ini memberikan jantung dari berita utama Perjanjian Baru.

“Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan”  (I Korintus 1:23).

I. Pertama, “Tetapi kami.”

Rasul menjelaskan kepada kita bahwa ada orang-orang yang berfokus pada subyek-subyek yang berbeda. Ada orang-orang yang menuntut “suatu tanda” (I Korintus 1:22a). Mereka berkata, “Musa melakukan mujizat. Perlihatkanlah kepada kami mujizat-mujizat itu, maka kami akan percaya.” Mereka adalah para penganut agama Yahudi, yang berbicara tentang sunat dan mengagung-agungkan ritus-ritus Perjanjian Lama dan hari-hari raya keagamaan. Mereka mengajar Alkitab atas namanya sendiri, dan menganggap Perjanjian Lama lebih tinggi dari Perjanjian Baru. Namun Spurgeon berkata bahwa Rasul Paulus diperhadapkan dengan mereka dengan berkata, “Apapun yang orang lain lakukan, kami memberitakan Kristus yang disalibkan; kami tidak berani, kami tidak dapat, dan kami tidak akan mengubah subyek besar utama dari khotbah kami, Yesus Kristus, dan Dia yang disalibkan” (C. H. Spurgeon, “Preaching Christ Crucified,” The Metropolitan Tabernacle Pulpit, Pilgrim Publications, 1979 reprint, volume LVI, p. 480).

Kemudian, Rasul Paulus menjelaskan kepada kita bahwa ada orang lain yang mencari “hikmat” (I Korintus 1:22b). Mereka berbicara tentang subyek-subyek yang akan memberikan hikmat kepada para pendengarnya tentang bagaimana hidup, dan bagaimana menjadi makmur, dan bagamana caranya memiliki hidup yang lebih baik. Spurgeon berkata bahwa ada banyak hamba Tuhan yang memberikan “suguhan intelektual. Ya, dan saya biasanya menemukan itu seperti suguhan intelektual yang memimpin kepada kehancuran jiwa-jiwa; itu bukanlah jenis khotbah tentang bagaimana Allah memberkati dengan memberikan keselamatan bagi jiwa-jiwa, dan oleh sebab itu, bahkan walaupun orang lain mungkin mengkhotbahkan [subyek-subyek ini] ‘kami memberitakan Kristus yang disalibkan,’ Kristus yang telah mati bagi orang-orang berdosa, umat Kristus, dan ‘kami memberitakan Kristus yang disalibkan’ dalam bahasa yang sederhana, dalam khotbah yang jelas sehingga orang-orang pada umumnya dapat mengerti (C. H. Spurgeon, ibid., hal. 482). Lagi Spurgeon berkata, “Doktrin tentang Kristus yang disalibkan selalu bersama dengan saya. Seperti para prajurit penjaga Romawi di Pompeii yang tetap berdiri di depan posnya bahkan walaupun ketika kota itu dibinasakan, demikian juga saya tetap berdiri [demi] kebenaran tentang penebusan ini walaupun gereja ini dikubur di bawah hujan lumpur panas penyesatan modern. Yang lain dapat menunggu, namun satu kebenaran ini harus diberitakan dengan suara lantang. Orang lain boleh memberitakan [apa yang mereka sukai], namun di mimbar ini, ini akan selalu mengumandangkan penggantian penebusan Kristus [untuk dosa-dosa kita di kayu Salib]. ’Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia’ (Galatia 6:14). Beberapa orang mungkin terus memberitakan Kristus sebagai teladan agung, dan yang lain mungkin terus menerus [berbicara] tentang kedatangan-Nya [yang kedua] dalam kemuliaan: kami juga memberitakan kedua hal itu, namun yang terutama kami memberitakan Kristus yang disalibkan, yang bagi orang-orang Yahudi adalah suatu batu sandungan, dan bagi orang-orang Yuhani adalah suatu kebodohan; namun bagi mereka yang diselamatkan Kristus adalah kuasa Allah, dan hikmat Allah (C. H. Spurgeon, “The Blood Shed for Many,” The Metropolitan Tabernacle Pulpit, Pilgrim Publications, 1974 reprint, volume XXXIII, p. 374).

Apapun yang orang lain mungkin beritakan, apapun yang orang lain mungkin katakan di mimbar mereka, selama saya berdiri di mimbar ini subyek utama kami akan selalu

“Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (I Korintus 2:2).

Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan”  (I Korintus 1:23).

“Pada Kaki Salib-Mu.” Naikan pujian ini!

Salib-Mu, salib-Mu
Yang ku muliakan,
Hingga dalam surga k’lak,
Ada perhentian.
(“Near the Cross” by Fanny J. Crosby, 1820-1915/
Terjemahan Nyanyian Pujian No. 235).

II. Kedua, “Namun kami memberitakan.”

Di sini kita memiliki perbedaan kedua antara apa yang terjadi pada kebanyakan mimbar kita hari ini, dengan apa yang Rasul Paulus katakan, dan lakukan. Paulus berkata, “tetapi kami memberitakan.” Ah, ada perbedaan besar antara memberitakan/berkhotbah dengan mengajar! Dua kata ini berbeda dalam bahasa Yunaninya, dan keduanya juga berbeda dalam bahasa Inggris! Kata utama Yunani untuk “mengajar” adalah “didasko.” Itu berarti “memberikan instruksi/ pelajaran” (Vine). Sedangkan kata “berkhotbah” [dalam TB-LAI diterjemahkan “memberitakan”] adalah “kerusso.” Ini berarti “menggembar-gemborkan, memproklamasikan” (Vine), “seperti menyiarkan kepada publik” (Strong). Mengajar berarti memberikan instruksi atau pelajaran. Namun berkhotbah berarti menggembar-gemborkan dan memproklamasikan. Mengajar ditujukan kepada kepala. Khotbah ditujukan kepada hati! Seorang pengkhotbah Baptis Selatan tua, dari tradisi lama, pernah berkata kepada saya, “Nak, jika kamu tidak dapat membedakan antara khotbah dan pengajaran berarti kamu tidak dipanggil untuk menjadi pengkhotbah! Tinggalkan pelayanan!” Saya kadang-kadang merasa seperti menyerukan itu hari ini! “Jika Anda tidak dapat membedakan antara mengajar dan berkhotbah – tinggalkan pelayanan!”

Petrus adalah seorang pengkhotbah, bukan guru Alkitab! Pada Hari Pentakosta, ia tidak mengajak mereka membuka Alkitab mereka dan mengajar ayat per ayat. Tidak ada orang yang membawa Alkitab pada waktu itu! Alkitab pada zaman itu dalam bentuk gulungan-gulungan, dan disimpan di sinagog-sinagog. Tidak, Petrus berdiri dan “mengangkat suaranya” (Kisah Rasul 2:14) dan berkhotbah kepada mereka! Itulah apa yang kita butuhkan hari ini! Kiranya Tuhan menolong kita! Di hari-hari yang terakhir ini,

“mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya” (II Timotius 4:3).

“Namun,” seseorang berkata, “Orang-orang tidak menginginkan khotbah.” Saya berkata, “Bagaimanapun lakukanlah!”

“Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!” (II Timotius 4:5).

Saya mengajar Alkitab ayat per ayat tiga malam setiap minggunya dalam kebaktian doa dan persekutuan kami. Namun pada Minggu pagi dan Minggu malam saya berkhotbah. Anda boleh menerima atau menolak ini! Itulah apa yang Anda akan dapatkan di sini setiap Minggu – menjangkau jiwa dengan khotbah Injil! Alkitab berkata,

“Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?” (Roma 10:14).

Itulah apa yang orang berdosa butuhkan – khotbah yang keras, khotbah yang membuat Anda merasakan dosa Anda di hadapan Allah yang murka – khotbah yang membuat Anda merasakan murka Allah dan api Neraka – dan penghukuman yang layak Anda terima karena hidup Anda yang penuh dosa – khotbah yang menghancurkan kesombongan Anda dan menunjukkan kepada Anda bahwa Anda telah menginjak-injak Kristus dan telah menolak Darah yang Ia curahkan untuk menyelamatkan Anda di kayu Salib! Orang berdosa, itulah apa yang Anda butuhkan! Anda perlu dikhotbahi di bawah keinsafan akan dosa dalam hidup Anda, dan dosa dari hati dan pikiran Anda! Anda perlu dikhotbahi untuk lari kepada Yesus Kristus untuk memperoleh penyucian dari kotornya dosa Anda. Orang lain mungkin mengajar, dan memberikan sedikit studi ayat per ayat pada hari Minggu, namun di mimbar ini setiap Minggu, selalu dan selamanya, akan dikatakan,

Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan” (I Korintus 1:23).

III. Ketiga, “Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan.”

Ya, itu adalah tema utama dari khotbah-khotbah Minggu kita di sini. Itu bukan hanya hal yang saya khotbahkan, namun itu tentu adalah hal yang utama! Tidaklah cukup untuk mengatakan beberapa kata tentang Kristus yang disalibkan dalam sebuah khotbah. Para pengkhotbah melakukan itu karena mereka tidak memperhatikan orang-orang berdosa. Jika mereka memperhatikan para anggota nominal mereka, orang yang pertama kali datang pada Minggu pagi, mereka akan menemukan bahwa hampir semua dari mereka masih terhilang. Mereka akan menemukan bahwa mereka belum menyerap Injil, karena itu tidak pernah diberitakan kepada mereka dalam seluruh khotbah minggu demi minggu. Oleh sebab itu, tema utama khotbah-khotbah Minggu kita adalah Kristus yang disalibkan! Selalu demikian untuk selamanya!

Teman saya pernah mengungjungi Spurgeon’s Tabernacle di London. Pada Perang Dunia II semua dari gereja besar itu kecuali dinding depannya diruntuhkan oleh bom-bom Hitler. Ketika teman saya mengunjungi gereja yang telah direkonstruksi itu, ia bertanya kepada seorang diaken dari gereja itu, yaitu seorang Skotlandia yang sudah lanjut usia, “Adakah di samping tembok bagian depan bangunan Spuergon’s Tabernacle hari ini yang masih asli bekas bangunan lama?” “Iya,” kata orang Skotlandia itu, “yaitu pengajaran. Pengajaran yang sama!”

Pengajaran teragung Spurgeon adalah “Kristus yang disalibkan.” Sebelum Spurgeon menghembuskan nafas terakhirnya, ia berkata kepada sahabatnya, “Pengajaranku dapat diringkaskan ke dalam empat kata, ‘Yesus mati untuk saya.’” Dapatkah Anda mengatakan itu? Dapatkah Anda mengatakan dengan yakin bahwa Yesus mati untuk Anda? Apakah Anda tahu dengan pasti bahwa Dia telah mati menggantikan Anda, menebus dosa Anda? Jika Anda tidak dapat mengatakan itu dengan sungguh-sungguh, saya meminta Anda untuk datang kepada Yesus dan memberikan diri Anda disucikan oleh Darah-Nya yang kudus!

“Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan”
(I Korintus 1:23).

Alkitab berkata,

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah” (Roma 5:8-9).

Kristus telah mati di kayu Salib untuk membayar penghukuman dosa-dosa Anda dan menyelamatkan Anda dari murka Allah. Itulah sebabnya mengapa

“kami memberitakan Kristus yang disalibkan”  (I Korintus 1:23).

Datanglah kepada Kristus! Ia telah mati di kayu Salib untuk menyelamatkan Anda dari dosa dan penghukuman. Datanglah kepada Kristus! Berilah dosa Anda disucikan oleh Darah-Nya yang mahal! “Pada Kaki Salib-Mu.” Naikanlah pujian ini!

Salib-Mu, salib-Mu
Yang ku muliakan,
Hingga dalam surga k’lak,
Ada perhentian.

Dr. R. L. Hymers, Jr.