HAMPIR MENJADI KRISTEN

– DIADAPTASI DARI KHOTBAH  GEORGE WHITEFIELD oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
diterjemahkan oleh Dr. Edi Purwanto

“Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen” (Kisah Rasul 26:28).

Kebanyakan khotbah hari ini sangat lemah bila dibandingkan dengan khotbah-khotbah dari abad ke-18. Dengan ratusan orang yang dididik di Sekolah Alkitab dan Seminari hari ini, kita menemukan sangat sedikit orang yang berani menerobos keluar dari kawanan dan berkhotbah kepada orang-orang berdosa yang masih terhilang pada hari Minggu – namun sebaliknya justru hanya memberikan sesuatu yang hambar, studi Alkitab ayat per ayat yang diarahkan kepada orang-orang yang disebut “Kristen.”

Saya berani berkata bahwa kebanyakan pengkhotbah kita bahkan telah melupakan bagaimana mempersiapkan khotbah penginjilan yang diarahkan kepada orang-orang berdosa. Atau, mungkin mereka tidak pernah belajar apa hal utama yang harus dikhotbahkan! Saya tahu bahwa generasi yang lebih muda dari saya memiliki sedikit gagasan tentang bagaimana menyampaikan khotbah. Bagaimana Anda menyampaikan khotbah yang sungguh-sungguh khotbah penginjilan? Banyak yang tidak memiliki gagasan! Kebanyakan dari khotbah hari ini menyampaikan hal-hal yang hampir sama. Mereka ”mengajar” – namun sedikit tahu bagaimana “berkhotbah.”

Dan lemahnya khotbah di zaman kita ini sedang membuat gereja menjadi kosong. Tidak ada satu dari sepuluh gereja yang memiliki kebaktian malam hari ini. Tahun 1958 setiap gereja Baptis (Northern Baptist, Southern Baptist, Regular Baptist, Independent Baptist) memiliki ibadah malam. Saya tahu ini melalui observasi pribadi. Saya ada di sana! Semua gereja Baptis memiliki ibadah malam di hari Minggu pada tahun 1958. Apa yang terjadi? Televisi tidak dapat menarik mereka untuk meninggalkan ibadah! Tahun 1958 kami tepat berada di tengah-tengah “Zaman Emas Pertelevisian” (“Golden Age of Television”), sebagaimana itu kita sebut sekarang ini. Namun hari ini, dengan 150 atau lebih chanel untuk bisa dipilih, TV telah benar-benar menjadi, seperti yang Newton Monow katakan, “gurun yang luas.” Tidak, alasan banyak orang tidak datang ibadah Minggu malam bukan lagi karena ada banyak air di TV! Alasannya adalah karena para Pendeta tidak lagi berkhotbah dengan cukup kuat untuk menarik orang-orang datang.

Betapa berbedanya ini dengan yang dilakukan oleh seorang pengkhotbah besar seperti George Whitefield (1714-1770)! Ketika diumumkan bahwa ia akan berkhotbah, dalam waktu beberapa saat ribuan orang berkumpul, sering ada yang rela berdiri di atas salju pukul 5:00 di pagi hari, untuk mendengar dia menyampaikan khotbahnya. Bayangkan, di sana tidak pernah ada paduan suara, tidak ada overhead projector, bahkan tidak ada mikropon – dan yang pasti tidak ada bangku untuk duduk! Namun mereka tetap datang, sampai puluhan ribu, untuk mendengar orang ini, George Whitefield menyampaikan khotbah yang berapi-api.

Dr. J. C. Ryle memberikan salah satu alasan mengapa khotbahnya menjadi terkenal: “Whitefield Murni hanya mengkhotbahkan Injil. Sedikit orang yang pernah memberikan kepada pendengarnya begitu banyak gandum dan begitu sedikit sekam. Ia tidak naik ke mimbar untuk mengkhotbahkan [hal-hal lain]. Ia secara terus menerus menyampaikan kepada Anda tentang dosa-dosa Anda, hati Anda, dan Yesus Kristus… ‘Oh, kebenaran Yesus Kristus!’ yang secara terus menerus ia sampaikan” (J. C. Ryle, “The New Birth”). Siapakah yang berkhotbah seperti itu hari ini? Tidak heran bila banyak gereja kita hari ini telah menutup ibadah malam mereka!

Ini adalah ringkasan dan versi yang telah diedit dari khotbah George Whitefield, “The Almost Christian,” yang saya sampaikan kepada Anda sebagai contoh khotbah penginjilan sejati. Namun jika Anda membagikan khotbah ini di gereja Anda, seharusnya Anda tidak hanya sekedar membacanya. Harus ada yang membakar didalamnya – seperti yang ada ketika Whitefield mengkhotbahkan ini!

“Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen”
(Kisah Rasul 26:28).

Rasul Paulus tahu bahwa Kristus berkata kepada murid-murid-Nya bahwa mereka “akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku” (Lukas 21:12). Para penguasa ini tidak akan pernah mendengar Injil jika para Rasul tidak ditangkap dan dibawa ke hadapan mereka, memberikan kesempatan kepada para Rasul untuk memberitakan kepada mereka tentang Yesus dan kebangkitan-Nya.

Ketika Paulus dipanggil untuk membela diri di hadapan Festus, gubernur Roma, dan Raja Agripa, ia mengambil kesempatan ini untuk membela dirinya – dan juga memberitakan Injil kepada mereka. Dan ini ia lakukan dengan kuasa itu sehingga berkatalah Festus dengan suara keras, “Engkau gila, Paulus! Ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila” (Kisah Rasul 26:24). Dengan berani Paulus menjawab, “Aku tidak gila, Festus yang mulia! Aku mengatakan kebenaran dengan pikiran yang sehat!” (Kisah Rasul 26:25).

Melihat Raja Agripa lebih tertarik mendengar khotbahnya dari pada Festus, Paulus berbicara secara langsung kepada dia: “Raja juga tahu tentang segala perkara ini [bahwa Kristus telah menderita dan bangkit dari antara orang mati, Kisah Rasul 26:23]… sebab itu aku berani berbicara terus terang kepadanya. Aku yakin, bahwa tidak ada sesuatu pun dari semuanya ini yang belum didengarnya, karena perkara ini tidak terjadi di tempat yang terpencil” (Kisah Rasul 26:26). Kemudian Paulus berkata kepada Raja Agripa dengan tegas, katanya, “Percayakah engkau, raja Agripa, kepada para nabi? Aku tahu, bahwa engkau percaya kepada mereka” (Kisah Rasul 26:27). Ketika Paulus mengatakan itu, emosi dari raja itu menjadi sangat digerakkan dan ia berseru, “Paulus, hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen!” (Kisah Rasul 26:28).

Bahkan hari ini ketika Injil diberitakan dengan semangat dan kuasa, beberapa orang, seperti Festus terlalu sombong dan tidak peduli untuk menerima Injil. Mereka berpikir bahwa pengkhotbah itu ”gila.” Yang lain, seperti Raja Agripa, yang hampir diyakinkan menjadi orang Kristen. Mereka berkata di dalam hati mereka,

“Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen”
(Kisah Rasul 26:28).

Itu adalah untuk Anda, yang hampir diyakinkan menjadi orang Kristen, ketika saya berkhotbah pagi ini. Saya berpikir sangat perlu memperingatkan Anda tentang bahaya menjadi orang yang ”hampir” menjadi Kristen. Oleh sebab itu, dari kata-kata pada ayat ini, saya akan menunjukkan tiga hal kepada Anda.

I. Pertama, apa artinya hampir menjadi Kristen.

Orang yang hampir menjadi Kristen adalah orang yang berhenti di antara dua opini: mereka yang ragu-ragu untuk melangkah antara kepada Kristus atau kepada dunia. Rasul Yakobus menyebutnya sebagai,

“orang yang mendua hati” (Yakobus 1:8).

Orang yang hampir menjadi Kristen adalah orang yang bergantung pada ketaatan ibadah lahiriah. Ia berkata kepada dirinya sendiri, ”Saya membaca Alkitab. Saya pergi ke gereja. Bukankah itu sudah cukup?” Ia berpikir bahwa ia adalah orang benar. Ia berpikir bahwa ia lebih baik dari orang-orang lain yang ia kenal. Namun, pada saat yang sama, ia sesungguhnya asing dengan agama batiniah dari hati. “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya” (II Timotius 3:5). Ia melalui bulan demi bulan, menghadiri ibadah di gereja, namun ia tidak pernah bertobat, namun hanya menjadi semakin lebih buruk ketika bulan dan tahun-tahun berlalu.

Orang yang hampir menjadi Kristen bergantung pada “perbuatan baik,” dan berpikir menjadi orang yang berguna karena ia tidak pernah melakukan kejahatan kepada orang lain. Namun ia lupa apa yang Kristus katakan, “Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi” (Matius 25:30). Ia melupakan bahwa pohon ara yang tidak berbuah itu dikutuk dan menjadi kering sampai ke akar-akarnya, bukan karena memberikan buah yang tidak baik, tetapi karena tidak memberikan buah sama sekali.

Orang yang hampir menjadi Kristen jujur dan tegas dengan dirinya sendiri; namun baik kejujuran dan ketegasannya datang dari cinta diri sendiri. Benar, ia secara lahiriah seperti tidak melakukan dosa, namun itu tidak keluar dari ketaatan akan hukum Tuhan, namun itu karena perangainya yang tidak menyukai dosa yang berlebihan, atau karena ia tidak ingin kehilangan reputasinya, atau membuat dirinya sendiri menjadi tidak layak karena profesi bisnisnya. Itu benar bahwa ia tidak mabuk-mabukan, namun ia juga belum memiliki penyangkalan diri sebagai orang Kristen. Ia dikendalikan lebih oleh dunia dari pada oleh Firman Allah. Ia melakukan apa yang terbaik untuk menutupi hatinya yang rusak, bukan berusaha melakukan kehendak Tuhan, namun hanya menyesuaikan diri dengan tuntutan lahiriah dari agamanya.

Bahkan walaupun saya hanya memberikan kepada Anda garis besar karakter dari orang-orang yang hampir menjadi Kristen, saya berharap agar Anda mau melihat bahwa itu menunjukkan Anda dalam beberapa karakteristik Anda. Dan saya berdoa kiranya Anda mau mendengarkan perkataan Rasul Paulus dalam ayat berikutnya, dan saya rindu agar Anda tidak hanya menjadi orang yang “hampir, [tetapi] benar-benar menjadi orang Kristen sejati” (Kisah Rasul 26:29).

II. Kedua, mengapa begitu banyak orang tidak lebih dari sekedar hampir menjadi Kristen.

Mengapa beberapa dari Anda masih hanya menjadi orang Kristen KTP, yang hanya namanya saja Kristen? Mengapa Anda masih menjadi tidak lebih dari ”hampir menjadi Kristen”?

1.  Karena Anda memiliki pemikiran yang salah tentang apa itu artinya menjadi orang Kristen. Beberapa dari Anda berpikir bahwa itu berarti pergi ke gereja. Beberapa dari Anda berpikir bahwa itu berarti percaya hal-hal tertentu. Hanya sedikit, sangat sedikit, tahu bahwa itu adalah suatu perubahan natur, suatu penerimaan kehidupan ilahi, hal yang sangat penting, hidup bersatu dengan Yesus Kristus; maksud saya adalah lahir baru di dalam Kristus. Namun Anda berkata seperti Nikodemus, “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi” (Yohanes 3:9). Dan karena Anda belum mencari, belum berjuang, untuk masuk ke dalam (Lukas 13:24) Anda masih tetap hanyalah orang Kristen KTP, hanya hampir menjadi Kristen.

2.  Alasan lain Anda masih tetap hanyalah hampir menjadi Kristen adalah bahwa beberapa dari Anda memiliki sikap rendah, ketakutan seorang budak – takut ditolak oleh orang-orang di sekitar Anda, mempertahankan Anda menjadi budak dosa, dan mempertahankan Anda untuk menjauh dari Kristus. Beberapa dari Anda takut apa yang orang tua Anda akan katakan jika Anda mulai berjuang untuk masuk ke dalam Kristus. Beberapa yang lain dari Anda takut dengan apa yang teman-teman Anda akan katakan tentang Anda. Beberapa dari Anda mungkin bahkan takut dengan apa yang orang-orang bertobat lainnya di gereja pikirkan tentang Anda jika Anda menjadi serius. Kristus berbicara tentang Anda ketika Ia berkata, “Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain?” (Yohanes 5:44). Rasul Yakobus berkata, “Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah” (Yakobus 4:4). Tidak heran bila Anda hanya hampir menjadi Kristen, sejak Anda lebih menyukai “kehormatan manusia dari pada kehormatan Allah?” (Yohanes 12:43). Jadi banyak orang yang berdoa dan mencari Kristus tidak pernah menemukan Dia, karena mereka takut kehilangan teman-teman yang masih terhilang dan sahabat-sahabat duniawi!

3.  Namun alasan lainnya adalah beberapa dari Anda masih tetap hanya hampir menjadi Kristen adalah karena Anda mencintai kesenangan. Anda adalah orang yang ”lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah” (II Timotius 3:40). Namun Kristus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya” (Lukas 9:23). Ketika Anda mendengar itu, beberapa dari Anda akan pergi dengan sedih, karena Anda memiliki cinta yang terlalu besar terhadap hawa nafsu. Ada di antara Anda yang berpikir mereka dapat pergi ke sorga tanpa berjuang melawan hawa nafsu kedagingan mereka.

4.  Alasan terakhir akan saya berikan, mengapa begitu banyak orang yang masih hampir-hampir menjadi Kristen, karena temperamen mereka tidak stabil dan tidak dapat dirubah.

Kami menangis dan sedih atas jumlah orang yang berjanji bertobat, yang nampaknya sudah diselamatkan, namun sesaat kemudian ia murtad, dan berakhir di dalam daging, tidak memiliki Kristus. Saya sedih harus mengulangi ancaman yang mengerikan ini kepada mereka, “Apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya” (Ibrani 10:38), dan lagi, “Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat…” (Ibrani 6:4-6). Oleh karena temperamen yang tidak stabil dan tidak dapat dirubah mereka nampak memulai dengan baik, namun kemudian mengundurkan diri ke dalam penghukuman kekal.

III. Ketiga, kebodohan, kegilaan, dari tetap tidak lebih dari sekedar hampir menjadi Kristen.

1.  Bukti pertama yang saya berikan adalah bahwa Anda tidak dapat menerima keselamatan dengan cara ini. Seperti orang-orang yang hampir menjadi Kristen; namun hampir itu menunjukkan bahwa sebenarnya belum menjadi. Apa yang akan dikatakan oleh keluarga Kristen Anda ketika Anda mati? ”Ia hampir diselamatkan!”

”Hampir diyakinkan” tidak dapat menolong:
”Hampir diyakinkan” namun gagal!
Menyedihkan, menyedihkan, betapa pahitnya
Hampir” – namun terhilang
(“Almost Persuaded” by Philip P. Bliss, 1838-1876).

2.  Bukti kedua dari kebodohan orang yang hampir menjadi Kristen adalah membahayakan orang lain. Orang yang hampir menjadi Kristen adalah salah satu mahkluk yang paling berbahaya di seluruh dunia. Ia seperti serigala berbulu domba. Ia adalah nabi palsu. Orang yang hampir menjadi Kristen “mereka sendiri tidak masuk ke dalam Kerajaan Allah, namun mereka menghalangi orang-orang yang akan masuk.” Mereka adalah musuh yang lebih besar dari Kristus dari pada Atheis atau ”Agama Lain” atau bahkan Mormon. Karena hampir setiap orang akan sadar dan mengenali “Agama lain”, Mormon atau atheis, namun orang yang hampir menjadi Kristen, dengan kemunafikan mereka sulit dikenali, menarik banyak orang mengikuti dia dari pada mengikuti “Agama lain,’ Mormon atau atheis. Oleh sebab itu, orang yang hampir menjadi Kristen seharusnya akan menerima hukuman yang lebih besar, penghukuman yang lebih buruk di Neraka dari pada Mormon dan atheis – karena orang yang hampir menjadi Kristen jauh lebih menghancurkan pekerjaan Tuhan dari pada bidat-bidat dan atheis pernah dapat lakukan. Jurang yang paling dalam di Neraka disediakan untuk orang-orang yang hampir menjadi Kristen.

3.  Bukti ketiga dari kebodohan orang yang masih hampir menjadi Kristen adalah bahwa itu adalah bentuk rasa tidak bersyukur terbesar terhadap Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus.

Yesus turun dari Sorga untuk menyelamatkan kita. Ia telah dihina, dicaci-maki, berpeluhkan Darah dalam penderitaan batin di Getsemani, ditangkap, diejek, dipukul sampai setengah mati, dan dipakukan di kayu Salib, mati menggantikan posisi kita. Ia telah mencurahkan darah-Nya yang mahal untuk menyucikan kita. Oh, bagaimana Anda dapat berkata bahwa Anda mengasihi Dia, ketika hati Anda tidak penuh dengan Dia? Bagaimana Anda dapat mengakui bahwa Ia menderita untuk menyelamatkan Anda dari kebinasaan dan penghukuman kekal namun tidak memberikan diri secara total kepada Dia?

Berikanlah kepada Yesus segenap hati Anda. Berhentilah bimbang di antara dua pikiran. Mengapa Anda harus menjauh dari Kristus lebih lama lagi? Mengapa Anda harus menjadi begitu senang dengan perbudakan dosa sehingga Anda belum mau berpaling dari dunia, kedagingan, dan Iblis – yang mana, dengan rantai rohani, mengikat jiwa Anda dan menggenggamnya, dan menjaga Anda agar tidak lari kepada Kristus? Apa yang Anda takutkan? Mengapa Anda tidak mau menyerahkan diri Anda sepenuhnya kepada Kristus? Mengapa Anda berpikir bahwa hanya menjadi setengah Kristen sudah membuat Anda bahagia? Apakah Anda berpikir bahwa dengan menghempaskan diri Anda sendiri secara total kepada Kristus akan membuat Anda menjadi menyedihkan?

Itu adalah delusi atau khayalan besar ketika Anda berpikir bahwa berjalan ragu-ragu antara Kristus dan dunia dapat memuaskan Anda. Tidak – keragu-raguan seperti itu hanya mempertahankan Anda untuk tidak mengalami penghiburan besar yang Kristus tawarkan. Hanya ketika Anda memberikan hati Anda dengan sepunuhnya kepada Kristus yang dapat membuat Anda memiliki damai dengan Allah.

Sebagai penutup, saya menasehatkan kepada Anda untuk berpaling dari sekedar hampir menjadi Kristen. Selamatkanlah diri Anda dari murka dan penghukuman Allah. Apapun yang mungkin harus Anda bayar, larilah kepada Kristus. Berjuanglah untuk memberikan diri Anda sendiri lagi dan lagi kepada Dia. Senantiasa berdoa, mempersiapkan diri untuk penglihatan yang lebih penuh dan sukacita yang lebih besar dari Dia, di dalamnya ada kepenuhan sukacita, dan ada kesenangan atau kebahagiaan untuk selama-lamanya. Amin!

Khotbah ini, “Hampir Menjadi Kristen,” sebelumnya dikhotbahkan oleh George Whitefield pada masa Kebangunan Rohani Agung Pertama (First Great Awakening –1730-1760). Saya telah mengedit dan menyederhanakannya untuk membuat lebih mudah untuk dimengerti oleh pikiran orang modern. Kiranya Anda membacanya lagi, dan memikirkannya lebih mendalam. Kiranya Anda mau berpaling dari sekejar “hampir menjadi Kristen.” Kiranya Allah sendiri membuat Anda “benar-benar” menjadi orang Kristen sejati (Kisah Rasul 26:29), sehingga suatu hari tidak dikatakan lagi tentang Anda,

“Hampir diyakinkan,” tuaian di masa lalu!
”Hampir diyakinkan,” penghukuman akan segera datang!
”Hampir diyakinkan” tidak dapat menolong:
”Hampir diyakinkan” namun gagal!
Menyedihkan, menyedihkan, betapa pahitnya
Hampir” – namun terhilang
(“Almost Persuaded” by Philip P. Bliss, 1838-1876).

Comments are closed.