Providence of God VIII

VIII. KUTIPAN-KUTIPAN PENDUKUNG

Bahwa apa yang saya ajarkan di atas memang adalah ajaran Calvinism / Reformed yang sejati, dan bukannya ajaran Hyper-Calvinism, saya buktikan di bawah ini dengan mengutip dari tulisan-tulisan John Calvin, dari Westminster Confession of Faith (Pengakuan Iman dari gereja-gereja Presbyterian / Reformed di Amerika), dan dari tulisan-tulisan para ahli Theologia Reformed.

Memang dalam penjelasan / pelajaran di depan saya sudah banyak mengutip, tetapi itu hanya sebagian kecil, dan di sini saya memberi kutipan-kutipan jauh lebih banyak. Perlu saya tekankan sekali lagi bahwa tujuan saya memberikan kutipan-kutipan yang banyak di bawah ini, bukanlah untuk membuktikan kebenaran dari doktrin Providence of God ini. Bukti dan dasar Kitab Suci dari doktrin Providence of God telah saya berikan di depan.

Saya tidak memberikan kutipan-kutipan ini secara sistimatis, karena tujuan saya memberikan kutipan-kutipan ini hanyalah untuk membuktikan bahwa doktrin Providence of God yang saya ajarkan ini memang merupakan ajaran Refomed yang dipercaya dan diajarkan oleh John Calvin dan ahli-ahli theologia Reformed yang lain, dan bukannya merupakan Hyper-Calvinisme. Khususnya untuk orang-orang yang menganggap saya sebagai Hyper-Calvinist atau menganggap ajaran saya sebagai Hyper-Calvinisme, saya berharap saudara mau membaca kutipan-kutipan di bawah ini.

John Calvin, ‘Institutes of the Christian Religion’:

“God’s providence, as it is taught in Scripture, is opposed to fortune and fortuitous happenings” (= Providensia Allah, seperti yang diajarkan oleh Kitab Suci, bertentangan dengan nasib baik dan kejadian-kejadian yang bersifat kebetulan) – Book I, Chapter XVI, no 2.

“But anyone who has been taught by Christ’s lips that all the hairs of his head are numbered (Matt 10:30) will look farther afield for a cause, and will consider that all events are governed by God’s secret plan” [= Tetapi setiap orang yang telah diajar oleh bibir Kristus bahwa semua rambut kepalanya terhitung (Mat 10:30) akan melihat lebih jauh untuk suatu penyebab, dan akan menganggap bahwa semua kejadian / peristiwa diatur oleh rencana rahasia Allah] – Book I, Chapter XVI, no 2.

“For he is deemed omnipotent, not because he can indeed act, yet sometimes ceases and sits in idleness, or continues by a general impulse that order of nature which he previously appointed; but because, governing heaven and earth by his providence, he so regulates all things that nothing takes place without his deliberation” (= Karena Ia dianggap mahakuasa, bukan karena Ia bisa sungguh-sungguh bertindak, tetapi kadang-kadang berhenti dan duduk bermalas-malasan / tak berbuat apa-apa, atau bertindak terus oleh suatu dorongan umum yang memerintah alam yang telah lebih dulu Ia tetapkan; tetapi karena Ia memerintah langit dan bumi oleh providensiaNya, dan Ia mengatur segala sesuatu sedemikian rupa sehingga tidak ada suatu apapun yang terjadi tanpa pertimbanganNya) – Book I, Chapter XVI, no 3.

“… providence means not that by which God idly observes from heaven what takes place on earth, but that by which, as keeper of the keys, he governs all events” (= … providensia tidak berarti sesuatu dengan mana Allah dengan bermalas-malasan / tak berbuat apa-apa mengawasi dari surga apa yang terjadi di bumi, tetapi sesuatu dengan mana, seperti seorang penjaga kunci, Ia memerintah segala kejadian / peristiwa) – Book I, Chapter XVI, no 4.

“… it is certain that not one drop of rain falls without God’s sure command” (= … adalah pasti bahwa tidak satu titik hujanpun yang jatuh tanpa perintah yang pasti dari Allah) – Book I, Chapter XVI, no 5.

“… nothing at all in the world is undertaken without his determination, shows that things seemingly most fortuitous are subject to him” (= … sama sekali tidak ada sesuatupun dalam dunia yang dilakukan / dijalankan tanpa penentuanNya, menunjukkan bahwa hal-hal yang kelihatannya bersifat kebetulan tunduk kepadaNya) – Book I, Chapter XVI, no 5.

“… we make God the ruler and governor of all things, who in accordance with his wisdom has from the farthest limit of eternity decreed what he was going to do, and now by his might carries out what he has decreed. From this we declare that not only heaven and earth and the inanimate creatures, but also the plans and intentions of men, are so governed by his providence that they are borne by it straight to their appointed end” (= … kami membuat Allah pengatur dan pemerintah segala sesuatu, yang sesuai dengan kebijaksanaanNya telah menetapkan sejak batas terjauh dari kekekalan apa yang akan Ia lakukan, dan sekarang dengan kuasaNya melaksanakan apa yang telah Ia tetapkan. Dari sini kami menyatakan bahwa bukan hanya surga dan bumi dan makhluk tak bernyawa, tetapi juga rencana dan maksud manusia begitu diperintah / diatur oleh providensiaNya sehingga mereka dilahirkan olehnya langsung menuju tujuan yang ditetapkan bagi mereka) – Book I, Chapter XVI, no 8.

“Does nothing happen by chance, nothing by contingency? I reply: Basil the Great has truly said that ‘fortune’ and ‘chance’ are pagan terms, with whose significance the minds of the godly ought not to be occupied. For if every success is God’s blessing, and calamity and adversity his curse, no place now remains in human affairs for fortune or chance” (= Apakah tidak ada yang terjadi secara kebetulan? Saya menjawab: Basil yang Agung secara benar telah berkata bahwa ‘nasib baik’ dan ‘kebetulan’ adalah istilah kafir, dan pikiran orang benar tidak seharusnya diisi dengan istilah itu. Karena jika setiap sukses adalah berkat Allah, dan malapetaka dan kemalangan adalah kutukanNya, tidak ada tempat tertinggal dalam hidup manusia untuk nasib baik atau kebetulan) – Book I, Chapter XVI, no 8.

“… thieves and murderers and other evildoers are the instruments of divine providence, and the Lord himself uses these to carry out the judgments that he has determined with himself. Yet I deny that they can derive from this any excuse for their evil deeds” (= … pencuri dan perampok dan pembuat kejahatan yang lain adalah alat dari providensia ilahi, dan Tuhan sendiri menggunakan mereka untuk melaksanakan keputusan-keputusan yang telah Ia tentukan dengan diriNya sendiri. Tetapi saya menyangkal bahwa mereka bisa mendapatkan dari sini alasan untuk tindakan-tindakan mereka yang jahat) – Book I, Chapter XVII, no 5.

“God wills that the false king Ahab be deceived; the devil offers his services to this end; he is sent, with a definite command, to be a lying spirit in the mouth of all the prophets (1Kings 22:20,22). If the blinding and insanity of Ahab be God’s judgment, the figment of bare permission vanishes: because it would be ridiculous for the Judge only to permit what he wills to be done, and not also to decree it and to command its execution by his ministers” [= Allah menghendaki bahwa raja Ahab yang tidak benar ditipu; setan menawarkan pelayanannya untuk tujuan ini; ia dikirim, dengan perintah yang pasti, untuk menjadi roh dusta dalam mulut semua nabi (1Raja 22:20,22). Jika pembutaan dan kegilaan Ahab adalah penghakiman Allah, isapan jempol tentang ‘sekedar ijin’ hilang: karena adalah menggelikan bagi sang Hakim untuk hanya mengijinkan apa yang Ia kehendaki untuk dilakukan, dan tidak juga menetapkannya dan memerintahkan pelaksanaannya oleh pelayan-pelayanNya] – Book I, Chapter XVIII, no 1.

“Now the mode of accommodation is for him to represent himself to us not as he is in himself, but as he seems to us. Although he is beyond all disturbance of mind, yet he testifies that he is angry toward sinners. Therefore whenever we hear that God is angered, we ought not to imagine any emotion in him, but rather to consider that this expression has been taken from our human experience; because God, whenever he is exercising judgment, exhibits the appearance of one kindled and angered. So we ought not to understand anything else under the word ‘repentance’ than change of action, …” (= Cara penyesuaian adalah dengan menyatakan diriNya sendiri kepada kita bukan sebagaimana adanya Ia dalam diriNya sendiri, tetapi seperti Ia terlihat oleh kita. Sekalipun Ia ada di atas segala gangguan pikiran, tetapi Ia menyaksikan bahwa Ia marah kepada orang-orang berdosa. Karena itu setiap saat kita mendengar bahwa Allah marah, kita tidak boleh membayangkan adanya emosi apapun dalam Dia, tetapi menganggap bahwa pernyataan ini diambil dari pengalaman manusia; karena Allah, pada waktu Ia melakukan penghakiman, menunjukkan diri seperti seseorang yang marah. Demikian juga kita tidak boleh mengartikan apapun yang lain terhadap kata ‘penyesalan’ selain perubahan tindakan, …) – Book I, Chapter XVII, no 13.

“… neither God’s plan nor his will is reversed, nor his volition altered; but what he had from eternity foreseen, approved, and decreed, he pursues in uninterrupted tenor, however sudden the variation may appear in men’s eyes” (= … baik rencana Allah maupun kehendakNya tidak berbalik, juga kemauanNya tidak berubah; tetapi apa yang dari kekekalan telah Ia lihat lebih dulu, setujui / restui, dan tetapkan, Ia ikuti / kejar dengan arah yang tak terganggu, betapapun mendadaknya perubahan terlihat dalam pandangan manusia) – Book I, Chapter XVII, no 13.

“Those who are moderately versed in the Scriptures see that for the sake of brevity I have put forward only a few of many testimonies. Yet from these it is more than evident that they babble and talk absurdly who, in place of God’s providence, substitute bare permission – as if God sat in a watchtower awaiting chance events, and his judgments thus depended upon human will”(= Mereka yang betul-betul mengetahui Kitab Suci melihat bahwa untuk singkatnya saya hanya memberikan sedikit dari banyak kesaksian. Tetapi dari kesaksian-kesaksian ini adalah lebih dari jelas bahwa mereka mengoceh dan berbicara secara menggelikan yang, menggantikan providensia Allah dengan ‘sekedar ijin’ – seakan-akan Allah duduk di menara pengawal menunggu kejadian-kejadian yang terjadi secara kebetulan, dan dengan demikian penghakimanNya tergantung pada kehendak manusia) – Book I, Chapter XVIII, no 1.

“Likewise in Isaiah, He declares that he will send the Assyrians against the deceitful nation and will command them ‘to take spoil and seize plunder’ (Isa 10:6) – not because he would teach impious and obstinate men to obey him willingly, but because he will bend them to execute his judgments, as if they bore his commandments graven upon their hearts; from this it appears that they had been impelled by God’s sure determination. I confess, indeed, that it is often by means of Satan’s intervention that God acts in the wicked, but in such a way that Satan performs his part by God’s impulsion and advances as far as he is allowed” [= Demikian juga dalam Yesaya, Ia menyatakan bahwa Ia akan mengirim orang Asyur terhadap bangsa yang berdusta dan akan memerintahkan mereka ‘untuk melakukan perampasan dan penjarahan’ (Yes 10:6) – bukan karena Ia akan mengajar orang-orang jahat dan keras kepala untuk mentaatiNya secara sukarela, tetapi karena Ia akan membengkokkan mereka untuk melaksanakan penghakimanNya; seakan-akan mereka mempunyai perintahNya tertulis dalam hati mereka; dari sini terlihat bahwa mereka dipaksa oleh penentuan yang pasti dari Allah. Saya mengakui bahwa seringkali Allah bertindak dalam diri orang jahat dengan menggunakan intervensi Setan, tetapi dengan cara sedemikian rupa sehingga Setan melakukan bagiannya oleh dorongan Allah dan bergerak maju sejauh ia diijinkan] – Book I, Chapter XVIII, no 2.

“To sum up, since God’s will is said to be the cause of all things, I have made his providence the determination principle for all human plans and works, not only in order to display its force in the elect, who are ruled by the Holy Spirit, but also to compel the reprobate to obedience” (= Kesimpulannya, karena kehendak Allah dikatakan sebagai penyebab dari segala sesuatu, saya telah membuat providensiaNya suatu prinsip yang menentukan untuk semua rencana dan pekerjaan manusia, bukan hanya untuk menunjukkan kekuatannya dalam diri orang pilihan, yang dipimpin oleh Roh Kudus, tetapi juga untuk memaksa orang yang ditetapkan binasa pada ketaatan) – Book I, Chapter XVIII, no 2.

“Yet God’s will is not therefore at war with itself, nor does it change, nor does it pretend not to will what he wills. But even though his will is one and simple in him, it appears manifold to us because, on account of our mental incapacity, we do not grasp how in divers ways it wills and does not will something to take place. … when we do not grasp how God wills to take place what he forbids to be done, let us recall our mental incapacity, and at the same time consider that the light in which God dwells is not without reason called unapproachable (1Tim 6:16), because it is overspread with darkness” [= Tetapi itu tidak menyebabkan kehendak Allah berperang / bertentangan dengan dirinya sendiri, juga tidak menyebabkan kehendak Allah itu berubah, atau hanya berpura-pura tidak menghendaki apa yang Ia kehendaki. Tetapi sekalipun kehendakNya adalah satu dan sederhana di dalam Dia, tetapi itu terlihat bermacam-macam bagi kita karena, disebabkan oleh ketidakmampuan otak kita, kita tidak mengerti bagaimana dalam cara yang berbeda kehendakNya menghendaki dan tidak menghendaki sesuatu untuk terjadi. … pada waktu kita tidak mengerti bagaimana Allah menghendaki terjadi apa yang ia larang untuk dilakukan, biarlah kita mengingat ketidakmampuan otak kita, dan pada saat yang sama memikirkan bahwa terang dimana Allah tinggal bukan tanpa alasan disebut tak terhampiri (1Tim 6:16), karena itu dilingkupi dengan kegelapan] – Book I, Chapter XVIII, no 3.

“… so that in a wonderful and ineffable manner nothing is done without God’s will, not even that which is against his will. For it would not be done if he did not permit it, yet he does not unwillingly permit it, but willingly; nor would he, being good, allow evil to be done, unless being also almighty he could make good even out of evil” (= … sehingga dalam cara yang indah dan tidak terkatakan tidak ada sesuatupun yang terjadi tanpa kehendak Allah, bahkan apa yang bertentangan dengan kehendakNya. Karena itu tidak akan terjadi jika Ia tidak mengijinkannya, tetapi Ia tidak mengijinkannya dengan terpaksa, tetapi dengan sukarela; dan Ia, karena Ia adalah baik, tidak akan mengijinkan kejahatan terjadi, kecuali Ia, yang juga adalah mahakuasa, bisa membuat yang baik bahkan dari hal yang jahat) – Book I, Chapter XVIII, no 3.

Catatan: bagian ini dikutip oleh Calvin dari Agustinus.

‘Westminster Confession of Faith’:

Chapter II, 1: “… God, … working all things according to the counsel of His own immutable and most righteous will” (= … Allah … mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan rencana dari kehendakNya sendiri yang tetap dan paling benar).

Chapter III, 1: “God from all eternity, did, by the most wise and holy counsel of His own will, freely, and unchangeably ordain whatsoever comes to pass; yet so, as thereby neither is God the author of sin, nor is violence offered to the will of the creatures; nor is the liberty or contingency of second causes taken away, but rather established” (= Allah dari sejak kekekalan, melakukan, oleh rencana dari kehendakNya sendiri yang paling bijaksana dan suci, dengan bebas, dan dengan tidak berubah menetapkan apapun yang akan terjadi; tetapi dengan demikian Allah bukan pencipta dosa, dan tidak digunakan kekerasan / pemaksaan terhadap kehendak dari makhluk ciptaan; juga kebebasan atau ketidakpastian / sifat tergantung dari penyebab kedua tidaklah disingkirkan, tetapi sebaliknya diteguhkan).

Chapter III, 2: “Although God knows whatsoever may or can come to pass upon all supposed conditions, yet hath He not decreed any thing because He foresaw it as future, or as that which would come to pass upon such conditions” (= Sekalipun Allah mengetahui apapun yang bisa terjadi dalam segala kondisi yang mungkin, tetapi Ia tidak menetapkan sesuatupun karena Ia melihatnya lebih dulu sebagai masa depan, atau sebagai apa yang akan terjadi dalam kondisi seperti itu).

Chapter V, 1: “God the great Creator of all things doth uphold, direct, dispose, and govern all creatures, actions, and things, from the greatest even to the least, by His most wise and holy providence, according to His infallible foreknowledge, and the free and immutable counsel of His own will, to the praise of the glory of His wisdom, power, justice, goodness, and mercy” (= Allah Pencipta yang besar dari segala sesuatu menegakkan, mengarahkan, menentukan / mengatur, dan memerintah semua makhluk ciptaan, tindakan dan benda-benda, dari yang terbesar bahkan sampai kepada yang terkecil, oleh providensiaNya yang paling bijaksana dan kudus, sesuai dengan pengetahuan-lebih-duluNya yang tidak bisa salah, dan rencana kehendakNya sendiri yang bebas dan tetap / kekal, untuk memuji kemuliaan dari hikmat, kuasa, keadilan, kebaikan, dan belas kasihanNya).

Chapter V, 4: “The almighty power, unsearchable wisdom, and infinite goodness of God so far manifest themselves in His providence, that it extendeth itself even to the first fall, and all other sins of angels and men; and that not by a bare permission, but such as hath joined with it a most wise and powerful bounding, and otherwise ordering and governing of them, in a manifold dispensation, to His own holy ends; yet so, as the sinfulness thereof proceedeth only from the creature, and not from God, who, being most holy and righteous, neither is nor can be the author or approver of sin” (= Kemahakuasaan, hikmat yang tak terselami, dan kebaikan yang tak terbatas dari Allah begitu jauh memanifestasikan dirinya dalam providensiaNya, sehingga menjangkau bahkan kejatuhan pertama ke dalam dosa, dan semua dosa-dosa lain dari malaikat dan manusia; dan itu bukan sekedar suatu ijin, tetapi sedemikian rupa sehingga telah menggabungkan dengannya batasan yang paling bijaksana dan kuat, dan selain itu menetapkan / mengatur dan menguasai mereka, dalam berbagai-bagai pengaturan, untuk tujuanNya sendiri yang kudus; tetapi dengan cara sedemikian rupa sehingga keberdosaan dari padanya keluar hanya dari makhluk ciptaan, dan bukan dari Allah, yang karena keberadaanNya yang paling kudus dan benar, bukanlah dan tidak bisa menjadi pencipta atau penyetuju / perestu dosa).

Chapter VI, 1: “Our first parents, being seduced by the subtilty and temptation of Satan, sinned, in eating the forbidden fruit. This their sin, God was pleased, according to His wise and holy counsel, to permit, having purposed to order it to His own glory” (= Nenek moyang kita yang pertama, setelah digoda oleh kelicinan / kelicikan dan pencobaan Setan, berdosa dengan memakan buah terlarang. Dosa mereka ini, Allah berkenan, menurut rencanaNya yang bijaksana dan kudus, mengijinkannya, setelah menetapkan untuk menentukannya untuk kemuliaanNya sendiri).

‘The Larger Catechism’:

Question 12: “What are the decrees of God?” (= Pertanyaan 12: Apakah ketetapan-ketetapan Allah itu?).

Answer: “God’s decrees are the wise, free, and holy acts of the counsel of His will, whereby, from all eternity, he hath, for his own glory, unchangeably foreordained whatsoever comes to pass in time, especially concerning angels and men” (= Jawab: Ketetapan-ketetapan Allah adalah tindakan-tindakan dari rencana kehendakNya yang bijaksana, bebas dan kudus, dengan mana dari sejak kekekalan, Ia telah, untuk kemuliaanNya sendiri, menentukan secara tidak bisa berubah segala sesuatu yang akan terjadi dalam waktu, khususnya berhubungan dengan malaikat dan manusia).

John Owen, ‘The Works of John Owen’, vol 10:

“Whatsoever God hath determined, according to the counsel of his wisdom and good pleasure of his will, to be accomplished, to the praise of his glory, standeth sure and immutable” (= Apapun yang Allah telah tentukan, menurut rencana dari hikmatNya dan kerelaan kehendakNya, untuk terjadi, untuk memuji kemuliaanNya, berdiri teguh dan tetap / tak berubah) – hal 20.

“If God’s determination concerning any thing should have a temporal original, it must needs be either because he then perceived some goodness in it of which before he was ignorant, or else because some accident did affix a real goodness to some state of things which it had not from him; neither of which, without abominable blasphemy, can be affirmed, seeing he knoweth the end from the beginning” (= Jika penentuan Allah tentang sesuatu apapun mempunyai asal usul dalam waktu, itu pasti disebabkan atau karena Ia pada saat itu melihat suatu kebaikan dalam hal itu yang tidak diketahuiNya sebelumnya, atau karena ada suatu kecelakaan / kebetulan yang melekatkan kebaikan sejati pada suatu keadaan yang tidak datang dari Dia; yang manapun dari dua hal ini tidak bisa ditegaskan tanpa melakukan suatu penghujatan yang menjijikkan, karena Ia mengetahui akhirnya dari semula) – hal 20.

“Out of this large and boundless territory of things possible, God by his decree freely determineth what shall come to pass, and makes them future which before were but possible. After this decree, as they commonly speak, followeth, or together with it, as others more exactly, taketh place, that prescience of God which they call ‘visionis,’ ‘of vision,’ whereby he infallibly seeth all things in their proper causes, and how and when they shall some to pass” (= Dari daerah yang besar dan tak terbatas dari hal-hal yang mungkin terjadi ini, Allah dengan ketetapanNya secara bebas menentukan apa yang akan terjadi, dan membuat mereka yang tadinya ‘mungkin terjadi’ menjadi ‘akan datang’. Pada umumnya orang mengatakan bahwa setelah ketetapan ini, atau lebih tepat lagi, bersama-sama dengan ketetapan itu, terjadilah ‘pengetahuan yang lebih dulu’ dari Allah yang mereka sebut VISIONIS, ‘dari penglihatan’, dengan mana Ia, secara tidak mungkin salah, melihat segala sesuatu dalam penyebabnya yang tepat, dan bagaimana dan kapan mereka akan terjadi) – hal 23.

Louis Berkhof, ‘Systematic Theology’:

“Reformed Theology stresses the sovereignty of God in virtue of which He has sovereignly determined from all eternity whatsoever will come to pass, and works His sovereign will in His entire creation, both natural and spiritual, according to His predetermined plan. It is in full agreement with Paul when he says that God ‘worketh all things after the counsel of His will’ (Eph 1:11)” [= Theologia Reformed menekankan kedaulatan Allah atas dasar mana Ia secara berdaulat telah menentukan dari sejak kekekalan apapun yang akan terjadi, dan mengerjakan kehendakNya yang berdaulat dalam seluruh ciptaanNya, baik yang bersifat jasmani maupun rohani, menurut rencanaNya yang sudah ditentukan sebelumnya. Ini sesuai dengan Paulus pada waktu ia berkata bahwa Allah ‘mengerjakan segala sesuatu menurut keputusan kehendakNya’ (Ef 1:11)]hal 100.

“In the case of some things God decided, not merely that they would come to pass, but that He himself would bring them to pass, either immediately, as in the work of creation, or through the mediation of secondary causes, which are continually energized by His power. He himself assumes the responsibility for their coming to pass. There are other things, however, which God included in His decree and thereby rendered certain, but which He did not decide to effectuate Himself, as the sinful acts of His rational creatures” (= Dalam kasus dari sebagian hal, Allah memutuskan, bukan hanya bahwa mereka akan terjadi, tetapi bahwa Ia sendiri akan menyebabkan mereka terjadi, baik secara langsung, seperti dalam pekerjaan penciptaan, atau melalui perantaraan dari ‘penyebab kedua’, yang secara terus menerus diberi kekuatan / diaktifkan oleh kuasaNya. Ia sendiri bertanggung jawab atas terjadinya hal-hal itu. Tetapi ada hal-hal lain, yang Allah masukkan dalam ketetapanNya dan dengan demikian dibuat jadi pasti, tetapi yang Ia putuskan bahwa bukan Ia sendiri yang melaksanakannya, seperti tindakan-tindakan berdosa dari makhluk-makhluk rasionilNya)hal 103.

“It is customary to speak of the decree of God respecting moral evil as permissive. By His decree God rendered the sinful actions of man infallibly certain without deciding to effectuate them by acting immediately upon and in the finite will. This means that God does not positively work in man ‘both to will and to do’, when man goes contrary to His revealed will. It should be carefully noted, however, that this permissive decree does not imply a passive permission of something which is not under the control of the divine will. It is a decree which renders the future sinful acts absolutely certain, but in which God determines (a)not to hinder the sinful self-determination of the finite will; and (b)to regulate and control the result of this sinful self-determination” [= Merupakan kebiasaan untuk berbicara tentang ketetapan Allah berkenaan dengan kejahatan moral sebagai bersifat mengijinkan. Oleh ketetapanNya Allah membuat tindakan-tindakan berdosa dari manusia menjadi pasti tanpa menetapkan untuk menyebabkan mereka terjadi dengan bertindak langsung dan bertindak dalam kehendak terbatas (kehendak manusia) itu. Ini berarti bahwa Allah tidak bekerja secara positif dalam manusia ‘baik untuk menghendaki dan untuk melakukan’, pada waktu manusia berjalan bertentangan dengan kehendakNya yang dinyatakan. Tetapi harus diperhatikan baik-baik bahwa ketetapan yang bersifat mengijinkan tidak berarti suatu ijin pasif dari sesuatu yang tidak ada di bawah kontrol dari kehendak ilahi. Itu merupakan suatu ketetapan yang membuat tindakan berdosa yang akan datang itu pasti secara mutlak, tetapi dalam mana Allah menentukan (a) tidak menghalangi keputusan yang berdosa yang dilakukan sendiri oleh kehendak terbatas / kehendak manusia; dan (b) mengatur dan mengontrol akibat / hasil dari keputusan berdosa ini]hal 105.

Robert L. Dabney, ‘Lectures in Systematic Theology’:

“The decrees of God are His eternal purpose according to the counsel of His will, whereby, for His own glory, He hath foreordained whatsoever comes to pass” (= Ketetapan-ketetapan Allah adalah rencana kekalNya menurut kehendakNya, dengan mana, untuk kemuliaanNya sendiri, Ia telah menentukan lebih dulu apapun yang akan terjadi)hal 121.

“God’s decree ‘foreordained whatsoever comes to pass’; there was no event in the womb of the future, the futurition of which was not made certain to God by it” [= Ketetapan Allah ‘menentukan lebih dulu apapun yang akan terjadi’; tidak ada kejadian / peristiwa dalam kandungan masa yang akan datang, yang terjadinya tidak dibuat pasti bagi Allah oleh ketetapan itu]hal 213.

“By calling it permissive, we do not mean that their futurition is not certain to God; or that He has not made it certain; we mean that they are such acts as He efficiently brings about by simply leaving the spontaneity of other free agents, as upheld by His providence, to work of itself, under incitements, occasions, bounds and limitations, which His wisdom and power throw around. To this class may be attributed all the acts of rational free agents, except such are evoked by God’s own grace, and especially, all their sinful acts” (= Dengan menyebutnya ‘mengijinkan’, kita tidak memaksudkan bahwa terjadinya hal-hal itu tidak pasti bagi Allah; atau bahwa Ia belum membuatnya pasti; kita memaksudkan bahwa mereka merupakan tindakan-tindakan yang Ia adakan / timbulkan secara efisien dengan hanya membiarkan spontanitas dari agen-agen bebas lainnya, seperti disokong oleh providensia-Nya, bekerja dari dirinya sendiri, di bawah dorongan, kesempatan, ikatan dan pemba-tasan, yang disebarkan oleh hikmat dan kuasaNya. Yang termasuk dalam golongan ini adalah semua tindakan dari agen bebas berakal, kecuali tindakan yang ditimbulkan oleh kasih karunia Allah sendiri, dan khususnya semua tindakan berdosa mereka)hal 214.

B. B. Warfield, ‘Biblical and Theological Studies’:

“Throughout the Old Testament, behind the processes of nature, the march of history and the fortunes of each individual life alike, there is steadily kept in view the governing hand of God working out His preconceived plan – a plan broad enough to embrace the whole universe of things, minute enough to concern itself with the smallest details, and actualizing itself with inevitable certainty in every event that comes to pass” (= Dalam sepanjang Perjanjian Lama, dibalik proses alam, gerakan dari sejarah dan nasib dari setiap kehidupan, terus menerus ditunjukkan tangan pemerintahan Allah yang melaksanakan rencana yang sudah direncanakanNya lebih dulu – suatu rencana yang cukup luas untuk mencakup seluruh alam semesta, cukup kecil / seksama untuk memperhatikan detail-detail yang terkecil, dan mewujudkan dirinya sendiri dengan kepastian yang tidak dapat dihindarkan / dielakkan dalam setiap peristiwa / kejadian yang terjadi) – hal 276.

“an all-inclusive plan embracing all that is to come to pass; in accordance with which plan He now governs His universe, down to the least particular, so as to subserve His perfect and unchanging purpose” (= suatu rencana yang mencakup segala sesuatu yang akan terjadi; menurut rencana mana Ia sekarang memerintah alam semesta, sampai pada hal tertentu yang terkecil, supaya mendukung rencana / tujuanNya yang sempurna dan tak berubah) – hal 278.

“According to the Old Testament conception, God foreknows only because He has predetermined, and it is therefore also that He brings it to pass; His foreknowledge, in other words, is at bottom a knowledge of His own will, and His works of providence are merely the execution of His all-embracing plan” (= Menurut konsep Perjanjian Lama, Alah mengetahui lebih dulu hanya karena Ia telah menentukan lebih dulu, dan karena itu juga Ia menyebabkannya terjadi; dengan kata lain, pengetahuan lebih dulu ini pada hakekatnya adalah pengetahuan tentang kehendakNya sendiri, dan pekerjaanNya dalam providensia semata-mata merupakan pelaksanaan dari rencanaNya yang mencakup segala sesuatu) – hal 281.

“We are never permitted to imagine, to be sure, that God is the author of sin, either in the world at large or in any individual soul … But neither is God’s relation to the sinful acts of His creatures ever represented as purely passive … Nevertheless, it remains true that even the evil acts of the creature are so far carried back to God that they too are affirmed to be included in His all-embracing decree, and to be brought about, bounded and utilized in His providential government. It is He that hardens the heart of the sinner that persists in his sin (Ex. 4:21, 7:3, 10:1,27, 14:4,8, Deut 2:30, Jos 11:20, Isa 63:17); it is from Him that the evil spirits proceed that trouble sinners (1Sam. 16:14, Judg. 9:23, 1Kings 22, Job 1); it is of Him that the evil impulses that rise in sinners’ hearts take this or that specific form (2Sam. 24:1)” [= Tentu saja kita tidak pernah boleh membayangkan bahwa Allah adalah pencipta dosa, baik dalam dunia secara umum atau dalam setiap jiwa individu manapun … Tetapi hubungan Allah dengan tindakan-tindakan berdosa dari makhluk-makhlukNya tidak pernah digambarkan sebagai pasif secara murni … Sekalipun demikian, adalah benar bahwa bahkan tindakan-tindakan jahat dari makhluk ciptaan dibawa kembali kepada Allah sedemikian rupa sehingga mereka juga disahkan untuk termasuk dalam ketetapanNya yang mencakup segala sesuatu, dan ditimbulkan / diadakan, dibatasi dan digunakan dalam pemerintahan providensiaNya. Adalah Ia yang mengeraskan hati orang berdosa yang berkeras dalam dosanya (Kel 4:21, 7:3, 10:1,27, 14:4,8, Ul 2:30, Yos 11:20, Yes 63:17); dari Dialah roh-roh jahat keluar / tampil dan mengganggu orang-orang berdosa (1Sam 16:14, Hak 9:23, 1Raja 22, Ayub 1); dari Dialah dorongan-dorongan jahat yang muncul dalam hati orang-orang berdosa mendapat bentuk specifik yang ini atau yang itu (2Sam 24:1)] – hal 284.

“this God is a Person who acts purposefully; there is nothing that is, and nothing that comes to pass, that He has not first decreed and then brought to pass by His creation or providence” (= Allah ini adalah seorang Pribadi yang bertindak dengan mempunyai rencana / tujuan; tidak ada sesuatu yang ada atau yang akan terjadi, yang tidak lebih dulu ditetapkanNya dan lalu dilaksanakanNya oleh penciptaan atau providensiaNya) – hal 284.

“But, in the infinite wisdom of the Lord of all the earth, each event falls with exact precision into its proper place in the unfolding of His eternal plan; nothing, however small, however strange, occurs without His ordering, or without its peculiar fitness for its place in the working out of His purpose; and the end of all shall be the manifestation of His glory, and the accumulation of His praise” (= Tetapi, dalam hikmat yang tidak terbatas dari Tuhan dari seluruh bumi, setiap peristiwa / kejadian jatuh dengan ketepatan yang tepat pada tempatnya dalam pembukaan / penyingkapan dari rencana kekalNya; tidak ada sesuatupun, betapapun kecilnya, betapapun anehnya, yang terjadi tanpa pengaturan / perintahNya, atau tanpa kecocokannya yang khusus untuk tempatnya dalam pelaksanaan RencanaNya; dan akhir dari semua adalah akan diwujudkannya kemuliaanNya, dan pengumpulan pujian bagiNya) – hal 285.

“the minutest occurrences are as directly controlled by Him as the greatest (Matt. 10:29-30, Luke 12:7)” [= Peristiwa-peristiwa / kejadian-kejadian yang terkecil dikontrol secara langsung oleh Dia sama seperti peristiwa-peristiwa / kejadian-kejadian yang terbesar (Mat 10:29-30, Luk 12:7)] – hal 296.

Charles Hodge, ‘Systematic Theology’, vol I:

“By this is meant that from the indefinite number of systems, or series of possible events, present to the divine mind, God determined on the futurition or actual occurrence of the existing order of things, with all its changes, minute as well as great, from the beginning of time to all eternity. The reason, therefore, why any event occurs, or, that it passes from the category of the possible into that of the actual, is that God has so decreed” (= Dengan ini dimaksudkan bahwa dari sejumlah sistim yang tidak tertentu jumlahnya, atau dari seri-seri peristiwa yang mungkin terjadi, yang ada dalam pikiran ilahi, Allah menentukan kejadian sungguh-sungguh dari urut-urutan hal-hal yang ada, dengan semua perubahan-nya, kecil maupun besar, dari permulaan waktu sampai pada kekekalan. Karena itu, alasan mengapa suatu peristiwa terjadi, atau, bahwa itu berpindah dari kategori ‘mungkin’ menjadi ‘sungguh-sungguh’, adalah karena Allah menetapkannya demikian) – hal 537.

“Change of purpose arises either from the want of wisdom or from the want of power. As God is infinite in wisdom and power, there can be with Him no unforeseen emergency and no inadequacy of means, and nothing can resist the execution of his original intention” (= Perubahan rencana timbul atau karena kekurangan hikmat atau karena kekurangan kuasa. Karena Allah itu tidak terbatas dalam hikmat dan kuasa, maka dengan Dia tidak bisa ada keadaan darurat yang tidak dilihat lebih dulu, dan tidak ada kekurangan jalan / cara, dan tidak ada yang bisa menahan / menolak pelaksanaan dari maksud / rencana yang semula) – hal 538-539.

“The decrees of God are certainly efficacious, that is, they render certain the occurrence of what He decrees. Whatever God foreordains, must certainly come to pass. … All events embraced in the purpose of God are equally certain, whether He has determined to bring them to pass by his own power, or simply to permit their occurrence through the agency of his creatures. … Some things He purposes to do, others He decrees to permit to be done. He effects good, He permits evil. He is the author of the one, but not of the other” (= Ketetapan-ketetapan Allah pasti menghasilkan apa yang diinginkan, artinya, ketetapan-ketetapan itu membuat pasti kejadian yang Ia tetapkan. Apapun yang Allah tentukan lebih dulu, pasti akan terjadi. … Semua peristiwa yang tercakup dalam rencana Allah sama pastinya, apakah Ia telah menetapkan untuk melaksanakan mereka dengan kuasaNya sendiri, atau sekedar mengijinkan terjadinya mereka melalui makhluk-makhluk ciptaanNya sebagai agen. … Sebagian hal-hal Ia rencanakan untuk Ia lakukan, yang lain Ia tetapkan untuk mengijinkan untuk terjadi. Ia mengadakan / menjalankan kebaikan, Ia mengijinkan kejahatan. Ia adalah pencipta dari yang satu, tetapi bukan dari yang lain) – hal 540-541.

“… the unity of God’s plan. If that plan comprehends all events, all events stand in mutual relation and dependence. If one part fails, the whole may fail or be thrown into confusion” (= … kesatuan rencana Allah. Jika rencana itu mencakup semua peristiwa, maka semua peristiwa saling berhubungan dan saling tergantung satu sama lain. Jika satu bagian gagal, seluruhnya bisa gagal atau kacau) – hal 541.

“The doctrine of the Bible is, that all events, whether necessary or contingent, good or sinful, are included in the purpose of God, and that their futurition or actual occurrence is rendered absolutely certain” (= Doktrin dari Alkitab adalah, bahwa semua peristiwa, apakah mutlak perlu atau bersifat tergantung / kebetulan, baik atau berdosa, tercakup dalam rencana Allah, dan bahwa sungguh-sungguh terjadinya mereka digambarkan pasti secara mutlak) – hal 542.

“The crucifixion of Christ was beyond doubt foreordained of God. It was, however, the greatest crime ever committed. It is therefore beyond all doubt the doctrine of the Bible that sin is foreordained” (= Penyaliban Kristus tidak diragukan lagi ditentukan lebih dulu oleh Allah. Tetapi itu adalah tindakan kriminal terbesar yang pernah dilakukan. Karena itu tidak perlu diragukan lagi bahwa dosa ditentukan lebih dulu merupakan doktrin / ajaran dari Alkitab) – hal 544.

“With regard to the sinful acts of men, the Scriptures teach, (1) That they are so under the control of God that they can occur only by His permission and in execution of His purposes. He so guides them in the exercise of their wickedness that the particular forms of its manifestation are determined by His will” [= Berhubungan dengan tindakan-tindakan berdosa dari manusia, Kitab Suci mengajar, (1) Bahwa mereka ada di bawah kontrol Allah sedemikian rupa sehingga mereka bisa terjadi hanya oleh ijinNya dan dalam pelaksanaan rencana-rencanaNya. Ia begitu mengarahkan mereka dalam melakukan kejahatan mereka sehingga bentuk khusus / tertentu dari perwujudannya ditentukan oleh kehendakNya]hal 589.

Charles Hodge, ‘Systematic Theology’, vol II:

“As God works on a definite plan in the external world, it is fair to infer that the same is true in reference to the moral and spiritual world. To the eye of an uneducated man the heavens are a chaos of stars. The astronomer sees order and system in this confusion; all those bright and distant luminaries have their appointed places and fixed orbits; all are so arranged that no one interferes with any other, but each is directed according to one comprehensive and magnificent conception” (= Sebagaimana Allah mengerjakan rencana tertentu dalam dunia lahiriah / jasmani, adalah wajar untuk mengambil kesimpulan bahwa hal itu juga benar berkenaan dengan dunia moral dan rohani. Bagi mata seorang yang tidak berpendidikan langit merupakan bintang-bintang yang kacau. Ahli perbintangan / ilmu falak melihat keteraturan dan sistim dalam kekacauan ini; semua benda-benda bersinar yang terang dan jauh itu mempunyai tempat dan orbit tetap yang ditetapkan; semua begitu diatur sehingga tidak satupun mengganggu yang lain, tetapi masing-masing diarahkan menurut suatu konsep yang luas dan besar / indah) – hal 313.

“And as God is absolutely sovereign and independent, all his purposes must be determined from within or according to the counsel of his own will. They cannot be supposed to be contingent or suspended on the action of his creatures, or upon anything out of Himself” (= Dan karena Allah itu berdaulat dan tak tergantung secara mutlak, semua rencanaNya harus ditentukan dari dalam atau menurut keputusan kehendakNya sendiri. Mereka tidak bisa dianggap sebagai kebetulan atau tergantung pada tindakan-tindakan dari makhluk-makhluk ciptaanNya, atau pada apapun di luar diriNya sendiri) – hal 320.

“If He foreordains whatsoever comes to pass, then events correspond to his purposes; and it is against reason and Scripture to suppose that there is any contradiction or want of correspondence between what He intended and what actually occurs” (= Jika Ia menentukan lebih dulu apapun yang akan terjadi, maka peristiwa-peristiwa akan cocok / sama dengan rencanaNya; dan adalah bertentangan dengan akal dan Kitab Suci untuk menganggap bahwa ada kontradiksi atau ketidakcocokkan antara apa yang Ia maksudkan dan apa yang sungguh-sungguh terjadi) – hal 323.

“Whatever occurs, He for wise reasons permits to occur. He can prevent whatever He sees fit to prevent. If, therefore, sin occurs, it was God’s design that it should occur. If misery follows in the train of sin, such was God’s purpose. If some men only are saved, while others perish, such must have entered into the all comprehending purpose of God” (= Apapun yang terjadi, Ia mengijinkan hal itu terjadi karena alasan yang bijaksana. Ia bisa mencegah apapun yang Ia anggap layak untuk dicegah. Karena itu, jika dosa terjadi, adalah rencana Allah bahwa itu terjadi. Jika kesengsaraan menyusul dalam rentetan dosa, maka demikianlah rencana Allah. Jika sebagian orang saja yang diselamatkan, sementara yang lain binasa, maka semua itu pasti telah masuk ke dalam rencana Allah yang meliputi segala sesuatu) – hal 332.

“God can control the free acts of rational creatures without destroying either their liberty or their responsibility” (= Allah bisa mengontrol tindakan-tindakan bebas dari makhluk-makhluk rasionil tanpa menghancurkan kebebasan ataupun tanggung jawab mereka) – hal 332.

William G. T. Shedd, ‘Calvinism: Pure & Mixed’:

“When God executes his decree that Saul of Tarsus shall be ‘a vessel of mercy’, he works efficiently within him by his Holy Spirit ‘to will and to do’. When God executes his decree that Judas Iscariot shall be ‘a vessel of wrath fitted for destruction’, he does not work efficiently within him ‘to will and to do’, but permissively in the way of allowing him to have his own wicked will. He decides not to restrain him or to regenerate him, but to leave him to his own obstinate and rebellious inclination and purpose; and accordingly ‘the Son of man goeth, as it was determined, but woe unto that man by whom he is betrayed’ (Luke 22:22; Acts 2:23). The two Divine methods in the two cases are plainly different, but the perdition of Judas was as much foreordained and free from chance, as the conversion of Saul” [= Pada waktu Allah melaksanakan ketetapanNya bahwa Saulus dari Tarsus akan menjadi ‘bejana / benda belas kasihan’, Ia bekerja secara efisien di dalamnya dengan Roh KudusNya ‘untuk mau / menghendaki dan untuk melakukan’. Pada waktu Allah melaksanakan ketetapanNya bahwa Yudas Iskariot akan menjadi ‘bejana kemurkaan yang cocok untuk kehancuran / benda kemurkaan yang telah dipersiapkan untuk kebinasaan’, Ia tidak bekerja secara efisien dalam dirinya ‘untuk mau / menghendaki dan untuk melakukan’, tetapi dengan cara mengijinkan dia mempunyai kehendak jahatnya sendiri. Ia memutuskan untuk tidak mengekang dia atau melahirbarukan dia, tetapi membiarkan dia pada kecondongan dan rencananya sendiri yang keras kepala dan bersifat memberontak; dan karena itu ‘Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan’ (Luk 22:22; Kis 2:23). Kedua metode ilahi dalam kedua kasus ini jelas berbeda, tetapi kebinasaan Yudas sudah ditentukan lebih dahulu dan bebas dari kebetulan, sama seperti pertobatan Saulus]hal 31.

“Whatever undecreed must be by hap-hazard and accident. If sin does not occur by the Divine purpose and permission, it occurs by chance. And if sin occurs by chance, the deity, as in the ancient pagan theologies, is limited and hampered by it. He is not ‘God over all’. Dualism is introduced into the theory of the universe. Evil is an independent and uncontrollable principle. God governs only in part. Sin with all its effects is beyond his sway. This dualism God condemns as error, in his words to Cyrus by Isaiah, ‘I make peace and create evil’; and in the words of Proverbs 16:4, ‘The Lord hath made all things for himself; yea, even the wicked for the day of evil’” (= Apapun yang tidak ditetapkan pasti ada karena kebetulan. Jika dosa tidak terjadi karena rencana dan ijin ilahi, maka itu terjadi karena kebetulan. Dan jika dosa terjadi karena kebetulan, keilahian, seperti dalam teologi kafir kuno, dibatasi dan dirintangi olehnya. Ia bukanlah ‘Allah atas segala sesuatu’. Dualisme dimasukkan ke dalam teori alam semesta. Kejahatan merupakan suatu elemen hakiki yang tak tergantung dan tak terkontrol. Allah memerintah hanya sebagian. Dosa dengan semua akibatnya ada di luar kekuasaanNya. Dualisme seperti ini dikecam Allah sebagai salah, dalam kata-kata Yesaya kepada Koresy, ‘Aku membuat damai dan menciptakan malapetaka / kejahatan’; dan dalam kata-kata dari Amsal 16:4, ‘Tuhan telah membuat segala sesuatu untuk diriNya sendiri; ya, bahkan orang jahat untuk hari malapetaka’)hal 36.

Catatan: kata-kata Yesaya kepada Koresy itu diambil dari Yes 45:7 versi KJV. Demikian juga Amsal 16:4 diambil dan diterjemahkan dari KJV.

“Nothing comes to pass contrary to his decree. Nothing happens by chance. Even moral evil, which he abhors and forbids, occurs by ‘the determinate counsel and foreknowledge of God’; and yet occurs through the agency of the unforced and self-determining will of man as the efficient” (= Tidak ada yang terjadi bertentangan dengan ketetapanNya. Tidak ada yang terjadi karena kebetulan. Bahkan kejahatan moral, yang Ia benci dan larang, terjadi oleh ‘rencana yang ditentukan dan pengetahuan lebih dulu dari Allah’; tetapi terjadi melalui perantaraan dari kehendak manusia yang tidak dipaksa dan ditentukan sendiri sebagai sesuatu yang efisien)hal 37.

William G. T. Shedd, ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I:

“God willeth not one thing now, and another anon; but once, and at once, and always, he willeth all things that he willeth; not again and again, nor now this, now that; nor willeth afterwards, what before he willed not, nor willeth not, what before he willed; because such a will is mutable; and no mutable thing is eternal” (= Allah tidak menghendaki sesuatu hal sekarang, dan sebentar lagi menghendaki yang lain; tetapi sekali, dan serentak, dan selalu, Ia menghendaki semua hal yang ia kehendaki; bukannya lagi dan lagi, atau sebentar ini sebentar itu; atau menghendaki setelahnya apa yang tadinya tidak Ia kehendaki, atau tidak menghendaki apa yang tadinya Ia kehendaki; karena kehendak seperti itu bisa berubah / tidak tetap; dan tidak ada hal yang bisa berubah / tidak tetap yang kekal) – hal 395.

Catatan: kata-kata di atas ini ia kutip dari kata-kata Augustine (dari buku ‘Confession’, XII. xv.).

“The Divine decree is formed in eternity, but executed in time. … the Divine decree, in reference to God, are one single act only” (= Ketetapan ilahi dibentuk dalam kekekalan, tetapi dilaksanakan dalam waktu. … ketetapan ilahi, dalam hubungannya dengan Allah, adalah satu tindakan saja) – hal 394.

“The Divine decree is the necessary condition of the Divine foreknowledge. If God does not first decide what shall come to pass, he cannot know what will come to pass. An event must be made certain, before it can be known as a certain event. … So long as anything remains undecreed, it is contingent and fortuitous. It may or may not happen. In this state of things, there cannot be knowledge of any kind” (= Ketetapan ilahi adalah syarat yang perlu dari pengetahuan lebih dulu dari Allah. Jika Allah tidak lebih dulu menentukan apa yang akan terjadi, Ia tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi. Suatu peristiwa / kejadian harus dipastikan, sebelum peristiwa itu bisa diketahui sebagai peristiwa yang tertentu. … Selama sesuatu tidak ditetapkan, maka sesuatu itu bersifat tergantung / mungkin dan kebetulan. Itu bisa terjadi atau tidak terjadi. Dalam keadaan demikian, tidak bisa ada pengetahuan apapun tentang hal itu) – hal 396-397.

“The Divine decree is universal. It includes ‘whatsoever comes to pass,’ be it physical or moral, good or evil” (= Ketetapan ilahi adalah universal. Itu mencakup ‘apapun yang akan terjadi’, apakah itu bersifat fisik atau moral, baik atau jahat) – hal 400.

“The Divine decree is immutable. There is no defect in God, in knowledge, power, and veracity. His decree cannot therefore be changed because of ignorance, or of inability to carry out his decree, or of unfaithfulness to his purpose” (=Ketetapan ilahi itu tetap / tak berubah. Tidak ada cacat dalam Allah, dalam pengetahuan, kuasa, dan kebenaran / ketelitian. Karena itu, ketetapanNya tidak bisa diubah karena ketidaktahuan, atau ketidakmampuan untuk melaksanakan ketetapanNya, atau ketidaksetiaan pada rencanaNya) – hal 401.

“For the Divine mind, there is, in reality, no future event, because all events are simultaneous, owing to that peculiarity in the cognition of an eternal being whereby there is no succession in it. All events thus being present to him are of course all of them certain events” (= Untuk pikiran ilahi, dalam kenyataannya tidak ada kejadian / peristiwa yang akan datang, karena semua peristiwa / kejadian adalah serempak, berdasarkan kekhasan dalam pemikiran / pengertian dari makhluk kekal untuk mana tidak ada urut-urutan di dalamnya. Semua peristiwa ‘bersifat present / sekarang’ bagiNya dan karenanya tentu saja semuanya merupakan peristiwa yang pasti) – hal 402.

Loraine Boettner, ‘The Reformed Doctrine of Predestination’:

“Since the universe had its origin in God and depends on Him for its continued existence it must be, in all its parts and at all times, subject to His control so that nothing can come to pass contrary to what He expressly decrees or permits. Thus the eternal purpose is represented as an act of sovereign predestination or foreordination, and unconditioned by any subsequent fact or change in time. Hence it is represented as being the basis of the divine foreknowledge of all future events, and not conditioned by that foreknowledge or by anything originated by the events themselves” (= Karena alam semesta mempunyai asal usulnya dalam Allah dan tergantung kepadaNya untuk keberadaan seterusnya, maka alam semesta itu harus, dalam semua bagian-bagiannya dan pada setiap saat, tunduk pada kontrolNya sedemikian rupa sehingga tidak ada apapun bisa terjadi bertentangan dengan apa yang Ia secara jelas tetapkan atau ijinkan. Jadi rencana kekal digambarkan sebagai suatu tindakan dari predestinasi atau penentuan lebih dulu yang berdaulat, dan tidak disyaratkan oleh fakta atau perubahan apapun yang terjadi berikutnya dalam waktu. Karena itu maka hal itu digambarkan sebagai dasar dari pengetahuan lebih dulu dari Allah tentang semua peristiwa yang akan datang, dan tidak disyaratkan oleh pengetahuan lebih dulu itu atau oleh apapun yang ditimbulkan oleh peristiwa itu sendiri)hal 14.

“The Pelagian denies that God has a plan; the Arminian says that God has a general plan but not a specific plan; but the Calvinist says that God has a specific plan which embraces all events in all ages” (= Orang yang menganut Pelagianisme menyangkal bahwa Allah mempunyai rencana; orang Arminian berkata bahwa Allah mempunyai rencana yang umum tetapi bukan rencana yang spesifik; tetapi orang Calvinist mengatakan bahwa Allah mempunyai rencana yang spesifik yang mencakup semua peristiwa / kejadian dalam semua jaman)hal 22-23.

“His choice of the plan, or His making certain that the creation should be on this order, we call His foreordination or His predestination. Even the sinful acts of men are included in this plan. They are foreseen, permitted, and have their exact place. They are controlled and overruled for the divine glory” (= Pemilihan rencanaNya, atau penetapanNya supaya penciptaan terjadi sesuai urut-urutan ini, kami sebut penentuan lebih dulu atau predestinasi dari Allah. Bahkan tindakan-tindakan berdosa dari manusia tercakup dalam rencana ini. Mereka itu dilihat lebih dulu, diijinkan, dan mempunyai tempat mereka yang persis / tepat. Mereka dikontrol dan dikuasai untuk kemuliaan ilahi)hal 24.

“Even the sinful acts of men are included in the plan and are overruled for good” (= Bahkan tindakan-tindakan berdosa manusia termasuk dalam rencana ini dan dikuasai untuk kebaikan)hal 29.

“Although the sovereignty of God is universal and absolute, it is not the sovereignty of blind power. It is coupled with infinite wisdom, holiness and love. And this doctrine, when properly understood, is a most comforting and reassuring one. Who would not prefer to have his affairs in the hands of a God of infinite power, wisdom, holiness and love, rather than to have them left to fate, or chance, or irrevocable natural law, or to short-sighted and perverted self? Those who reject God’s sovereignty should consider what alternatives they have left” (= Sekalipun kedaulatan Allah itu bersifat universal dan mutlak, tetapi itu bukanlah kedaulatan dari kuasa yang buta. Itu digabungkan dengan kebijaksanaan, kekudusan dan kasih yang tidak terbatas. Dan doktrin ini, jika dimengerti dengan tepat, adalah doktrin yang paling menghibur dan menenteramkan. Siapa yang tidak lebih menghendaki perkaranya ada dalam tangan Allah yang mempunyai kuasa, kebijaksanaan, kekudusan dan kasih yang tidak terbatas, dari pada menyerahkannya pada nasib / takdir, atau kebetulan, atau hukum alam yang tidak bisa dibatalkan, atau pada diri sendiri yang cupet dan sesat? Mereka yang menolak kedaulatan Allah harus mempertimbangkan alternatif-alternatif lain yang ada) – hal 32.

“But while the Bible repeatedly teaches that this providential control is universal, powerful, wise, and holy, it nowhere attempts to inform us how it is to be reconciled with man’s free agency. All that we need to know is that God does govern His creatures and that His control over them is such that no violence is done to their natures. Perhaps the relationship between divine sovereignty and human freedom can best be summed up in these words: God so presents the outside inducements that man acts in accordance with his own nature, yet does exactly what God has planned for him to do” (= Tetapi sementara Alkitab berulangkali mengajar bahwa penguasaan providensia ini bersifat universal, berkuasa, bijaksana, dan suci, Alkitab tidak pernah berusaha untuk memberi informasi kepada kita tentang bagaimana hal itu bisa diperdamaikan / diharmoniskan dengan kebebasan manusia. Semua yang perlu kita ketahui adalah bahwa Allah memang memerintah atas ciptaanNya dan bahwa penguasaan / kontrolNya atas mereka adalah sedemikian rupa sehingga tidak ada pemaksaan terhadap mereka. Mungkin hubungan antara kedaulatan ilahi dan kebebasan manusia bisa disimpulkan dengan cara terbaik dengan kata-kata ini: Allah memberikan dorongan / bujukan dari luar sedemikian rupa sehingga manusia bertindak sesuai dengan dirinya, tetapi melakukan secara tepat apa yang Allah telah rencanakan baginya untuk dilakukan) – hal 38.

“The Arminian objection against foreordination bears with equal force against the foreknowledge of God. What God foreknows must, in the very nature of the case, be as fixed and certain as what is foreordained; and if one is inconsistent with the free agency of man, the other is also. Foreordination renders the events certain, while foreknowledge presupposes that they are certain” (= Keberatan Arminian terhadap penentuan lebih dulu, mengandung / menghasilkan kekuatan yang sama terhadap pengetahuan lebih dulu dari Allah. Apa yang Allah ketahui lebih dulu pastilah sama tertentunya dan pastinya seperti apa yang ditentukan lebih dulu; dan jika yang satu tidak konsisten dengan kebebasan manusia, yang lain juga demikian. Penentuan lebih dulu membuat peristiwa-peristiwa pasti / tertentu, sedangkan pengetahuan lebih dulu mensyaratkan bahwa mereka itu pasti / tertentu)hal 42.

“Common sense tells us that no events can be foreknown unless by some means, either physical or mental, it has been predetermined. Our choice as to what determines the certainty of future events narrows down to two alternatives – the foreordination of the wise and merciful heavenly Father, or the working of blind, physical fate” (= Akal sehat memberitahu kita bahwa tidak ada peristiwa apapun yang bisa diketahui lebih dulu kecuali hal itu telah ditentukan lebih dulu dengan cara tertentu, baik secara fisik atau mental / pikiran. Pilihan kita berkenaan dengan apa yang menentukan kepastian dari peristiwa-peristiwa yang akan datang menyempit menjadi hanya dua pilihan / kemungkinan – penentuan lebih dulu dari Bapa surgawi yang bijaksana dan penuh belas kasihan, atau pekerjaan dari nasib / takdir fisik yang buta)hal 42.

“Yet unless Arminianism denies the foreknowledge of God, it stands defenseless before the logical consistency of Calvinism; for foreknowledge implies certainty and certainty implies foreordination” (= Kecuali Arminianisme menyangkal pengetahuan lebih dulu dari Allah, ia tidak mempunyai pertahanan di depan kekonsistenan yang logis dari Calvinisme; karena pengetahuan lebih dulu secara tidak langsung menunjuk pada kepastian, dan kepastian secara tidak langsung menunjuk pada penetapan lebih dulu) – hal 44.

“This fixity or certainty could have had its ground in nothing outside of the divine Mind, for in eternity nothing else existed” (= Ketertentuan atau kepastian ini tidak bisa mempunyai dasar pada apapun di luar Pikiran ilahi, karena dalam kekekalan tidak ada apapun yang lain yang ada) – hal 45.

Herman Hoeksema, ‘Reformed Dogmatics’:

“For this same reason the Bible always emphasizes the fact that God ordained all things and knew them from before the foundation of the world” (= Untuk alasan yang sama Alkitab selalu menekankan fakta bahwa Allah menentukan segala sesuatu dan mengetahui mereka sejak sebelum dunia dijadikan)hal 157.

“Nor must we, in regard to the sinful deeds of men and devils, speak only of God’s permission in distinction from His determination. Holy Scripture speaks a far more positive language. We realize, of course, that the motive for speaking God’s permission rather than of His predetermined will in regard to sin and the evil deeds of men is that God may never be presented as the author of sin. But this purpose is not reached by speaking of God’s permission or His permissive will: for if the Almighty permits what He could just as well have prevented, it is from an ethical viewpoint the same as if He had committed it Himself. But in this way we lose God and His sovereignty: for permission presupposes the idea that there is a power without God that can produce and do something apart from Him, but which is simply permitted by God to act and operate. This is dualism, and it annihilates the complete and absolute sovereignty of God. And therefore we must maintain that also sin and all the wicked deeds of men and angels have a place in the counsel of God, in the counsel of His will. Thus it is taught by the Word of God. For it is certainly according to the determinate counsel of God that Christ is nailed to the cross, and that Pilate and Herod, with the Gentiles and Israel, are gathered together against the holy child Jesus. It is therefore much better to say that the Lord also in His counsel hates sin and determined that that which He hates should come to pass in order to reveal His hatred and to serve the cause of God’s covenant” (= Juga kita tidak boleh, berkenaan dengan tindakan-tindakan berdosa dari manusia dan setan, berbicara hanya tentang ijin Allah dan membedakannya dengan penentuan / penetapanNya. Kitab Suci berbicara dengan suatu bahasa yang jauh lebih positif. Tentu saja kita menyadari bahwa motivasi untuk menggunakan istilah ‘ijin Allah’ dari pada ‘kehendakNya yang sudah ditetapkan lebih dulu’ berkenaan dengan dosa dan tindakan-tindakan jahat dari manusia adalah supaya Allah tidak pernah dinyatakan sebagai pencipta dosa. Tetapi tujuan ini tidak tercapai dengan menggunakan ‘ijin Allah’ atau ‘kehendak yang mengijinkan dari Allah’: karena jika Yang Maha Kuasa mengijinkan apa yang bisa Ia cegah, dari sudut pandang etika itu adalah sama seperti jika Ia melakukan hal itu sendiri. Tetapi dengan cara ini kita kehilangan Allah dan kedaulatanNya: karena ijin mensyaratkan suatu gagasan bahwa ada suatu kekuatan di luar Allah yang bisa menghasilkan dan melakukan sesuatu terpisah dari Dia, tetapi yang diijinkan oleh Allah untuk bertindak dan beroperasi. Ini merupakan dualisme, dan ini menghapuskan kedaulatan Allah yang lengkap dan mutlak. Dan karena itu kita harus mempertahankan bahwa juga dosa dan semua tindakan-tindakan jahat dari manusia dan malaikat mempunyai tempat dalam rencana Allah, dalam keputusan kehendakNya. Demikianlah diajarkan oleh Firman Allah. Karena adalah pasti bahwa sesuai dengan rencana yang sudah ditentukan dari Allah bahwa Kristus dipakukan di kayu salib, dan bahwa Pilatus dan Herodes, dengan orang-orang non Yahudi dan Israel, berkumpul bersama-sama menentang anak Yesus yang kudus. Karena itu lebih baik berkata bahwa Tuhan juga dalam rencanaNya membenci dosa dan menentukan hal itu supaya apa yang Ia benci itu terjadi sehingga Ia bisa menyatakan kebencianNya atas hal itu dan untuk melayani penyebab dari perjanjian Allah) hal 158.

Herman Bavinck, ‘The Doctrine of God’:

“All events are included in that counsel, even the sinful deeds of man” (= Semua kejadian / peristiwa termasuk / tercakup dalam rencana itu, bahkan juga tindakan-tindakan berdosa dari manusia)hal 342.

“God’s decree is his eternal purpose whereby he has foreordained whatsoever comes to pass. Scripture everywhere affirms that whatsoever is and comes to pass is the realization of God’s thought and will, and has its origin and idea in God’s eternal counsel or decree, …” (= Ketetapan Allah adalah rencana kekalNya dengan mana Ia telah menentukan lebih dulu apapun yang akan terjadi. Kitab Suci dimana-mana menegaskan bahwa apapun yang ada dan yang akan terjadi merupakan realisasi dari pemikiran dan kehendak Allah, dan mempunyai asal mula dan gagasannya dalam rencana atau ketetapan kekal)hal 369.

“Furthermore, God’s thought, embodied in creation, cannot be conceived of as an uncertain idea, doubtful of realization; it is not a ‘bare knowledge’ that receives its contents from creation; it is not a plan, a project, or purpose whose execution can be frustrated” (= Selanjutnya, pikiran Allah, diwujudkan dalam ciptaan, tidak bisa dimengerti sebagai gagasan yang tidak pasti, realisasi yang meragukan; itu bukan ‘sekedar suatu pengetahuan lebih dulu’ yang menerima isinya dari ciptaan; itu bukanlah suatu rencana, suatu proyek, atau suatu tujuan yang pelaksanaannya bisa bisa digagalkan / dihalangi) – hal 370.

“God’s counsel is no more an act that pertains to the past than is the generation of the Son; it is eternal, divine act, eternally finished, yet continuing forevermore, apart from and raised above time. Scaliger correctly observed that God’s decree was not preceded by a long period of reflection and deliberation, so that for a long time God would have been without purpose and without a will; neither is it a plan once for all completed and finished and simply awaiting execution. But God’s decree is the eternally active will of God: it is the willing and purposing God himself; it is not something accidental to God, but being God’s will in action, it is one with his essence. It is impossible to conceive of God as a being without a purpose and without an active and operative will. Nevertheless, all this does not conceal the fact that God’s decree is an ‘immanent work’ determined by nothing else than by God himself, and distinct in character from God’s works in time, Acts 15:18; Eph 1:4” (= Rencana Allah, sama seperti tindakan Bapa memperanakkan Anak, bukanlah suatu tindakan yang berhubungan dengan waktu lampau; tetapi itu adalah suatu tindakan ilahi yang kekal, sudah selesai dilakukan secara kekal, tetapi tetap berlangsung selama-lamanya, terpisah dari dan diangkat di atas waktu. Scaliger secara benar mengamati bahwa ketetapan Allah tidak didahului oleh suatu periode pemikiran dan pertimbangan yang lama, sehingga untuk suatu waktu yang lama Allah ada tanpa rencana dan tanpa kehendak; juga itu bukanlah suatu rencana yang sudah dilengkapi dan diselesaikan sekali untuk selamanya dan hanya menunggu pelaksanaan. Tetapi ketetapan Allah merupakan kehendak yang aktif secara kekal dari Allah: itu adalah Allah yang menghendaki dan merencanakan sendiri; itu bukan sesuatu yang tidak bersifat hakiki yang ditambahkan pada diri Allah, tetapi merupakan kehendak Allah yang beraksi, itu adalah satu dengan hakekatNya. Adalah mustahil untuk membayangkan Allah sebagai makhluk tanpa rencana dan tanpa suatu kehendak yang aktif dan operatif. Sekalipun demikian, semua ini tidak menyembunyikan fakta bahwa ketetapan Allah adalah suatu ‘pekerjaan yang tetap ada’ yang ditetapkan bukan oleh sesuatu yang lain apapun selain Allah sendiri, dan berbeda dalam sifatnya dengan pekerjaan Allah dalam waktu, Kis 15:18; Ef 1:4)hal 370.

Catatan: saya tidak pernah membaca tentang adanya ahli theologia Reformed lain yang mempunyai pandangan seperti yang dikatakan Bavinck di awal kutipan ini.

Herman Bavinck, ‘Our Reasonable Faith’:

“The fact that things and events, including the sinful thoughts and deeds of men, have been eternally known and fixed in that counsel of God does not rob them of their own character but rather establishes and guarantees them all, each in its own kind and nature and in its own context and circumstances. Included in that counsel of God are sin and punishment, but also freedom and responsibility, sense of duty and conscience, and law and justice. In that counsel of God everything that happens is in the very same context it is in when it becomes manifest before our eyes. The conditions are defined in it quite as well as the consequences, the means quite as much as the ends, the ways as the results, the prayers as the answers to prayer, the faith as the justification, sanctification, and glorification” (= Fakta bahwa hal-hal dan peristiwa-peristiwa, termasuk pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan berdosa dari manusia, telah diketahui dan ditetapkan secara kekal dalam rencana Allah, tidak menghapuskan karakter mereka sendiri tetapi sebaliknya meneguhkannya dan menjamin semuanya, masing-masing dalam jenisnya dan sifatnya sendiri dan dalam kontex dan keadaannya sendiri. Termasuk dalam rencana Allah itu dosa dan penghukuman, tetapi juga kebebasan dan tanggung jawab, perasaan kewajiban dan hati nurani, dan hukum dan keadilan. Dalam rencana Allah itu segala sesuatu yang terjadi ada dalam kontex yang sama seperti pada waktu itu terwujud di depan mata kita. Dalam rencana Allah itu syarat ditetapkan sama seperti akibat / konsekwensi, caranya maupun tujuannya, jalannya maupun hasilnya, doanya maupun jawaban doanya, imannya maupun pembenaran, pengudusan dan pemuliaannya) – hal 163.

John Murray, ‘Collected Writings of John Murray’, vol II:

“It is true that all our choices and acts are foreordained, and only foreordained acts come to pass” (= Adalah benar bahwa semua pilihan dan tindakan kita ditentukan lebih dulu, dan hanya tindakan-tindakan yang ditentukan lebih dulu yang akan terjadi) – hal 64.

“The foreknowledge of God presupposes certainty of occurrence; his foreordination renders all occurrence certain; by his providence what is foreordained is unalterably put into effect” (= Pengetahuan lebih dulu dari Allah mensyaratkan adanya kepastian dari kejadian-kejadian / peristiwa-peristiwa; penentuan lebih dulu yang tersembunyi membuat semua kejadian / peristiwa itu pasti; oleh providensiaNya apa yang ditentukan lebih dulu itu dilaksanakan / diberlakukan secara tidak berubah) – hal 65-66.

“The question here is that of the divine causality in connection with sin. … There is divine predetermination or foreordination in connection with sin. The fall was foreordained by God and its certainty was therefore guaranteed. … The first sin, like all other sins, was committed within the realm of God’s all-sustaining, directing and governing power. Outside the sphere of his foreordination and providence the fall could not have occurred. The arch-crime of history – the crucifixion of our Lord – was perpetrated in accordance with the determinate counsel and foreknowledge of God (Acts 2:23). So, too, was the fall” [= Yang dipertanyakan di sini adalah tentang penyebab ilahi dalam hubungannya dengan dosa. … Ada penetapan lebih dulu atau penentuan lebih dulu dalam hubungannya dengan dosa. Kejatuhan Adam ditentukan lebih dulu oleh Allah dan karena itu kepastiannya dijamin. … Dosa pertama, seperti semua dosa yang lain, dilakukan dalam batas-batas kuasa Allah yang menopang segala sesuatu, mengarahkan dan memerintah. Di luar ruang lingkup penentuan lebih dulu dan providensiaNya kejatuhan itu tidak akan bisa terjadi. Kejahatan terbesar dalam sejarah – penyaliban Tuhan kita – dilakukan sesuai dengan rencana yang sudah ditentukan dan pengetahuan lebih dulu dari Allah (Kis 2:23). Demikian juga dengan kejatuhan ke dalam dosa] – hal 72-73.

Gresham Machen, ‘The Christian View of Man’:

“How much is embraced in that eternal counsel of God? The true answer to that question is very simple. The true answer is ‘Everything’. Everything that happens is embraced in the eternal purpose of God; nothing at all happens outside of His eternal plan” (= Berapa banyak yang dicakup dalam rencana kekal Allah itu? Jawaban yang benar terhadap pertanyaan itu sangat sederhana. Jawaban yang benar adalah ‘segala sesuatu’. Segala sesuatu yang terjadi tercakup dalam rencana kekal Allah; tidak ada sedikitpun yang terjadi di luar rencana kekalNya) – hal 35.

Arthur Pink, ‘The Sovereignty of God’:

“To declare that the Creator’s original plan has been frustrated by sin, is to dethrone God. To suggest that God was taken by surprise in Eden and that He is now attempting to remedy an unforeseen calamity, is to degrade the Most High to the level of a finite, erring mortal” (= Menyatakan bahwa rencana orisinil dari sang Pencipta telah digagalkan oleh dosa, sama dengan menurunkan Allah dari tahta. Mengusulkan bahwa Allah dikejutkan di Eden dan bahwa Ia sekarang sedang mencoba mengobati bencana yang tadinya tidak terlihat, sama dengan merendahkan Yang Maha Tinggi sampai pada tingkat manusia yang terbatas dan bisa salah) – hal 21-22.

Arthur Pink, ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross”:

“It was no accident that the Lord of Glory was crucified between two thieves. There are no accidents in a world that is governed by God. Much less could there have been any accident on that Day of all days, or in connection with that Event of all events – a Day and an Event which lie at the very centre of the world’s history. No; God was presiding over that scene. From all eternity He had decreed when and where and how and with whom His Son should die. Nothing was left to chance or the caprice of man. All that God had decreed came to pass exactly as He had ordained, and nothing happened save as He had eternally purposed. Whatsoever man did was simply that which God’s hand and counsel ‘determined to be done’ (Acts 4:28). When Pilate gave orders that the Lord Jesus should be crucified between the two malefactors, all unknown to himself, he was but putting into execution the eternal decree of God and fulfilling His prophetic word. Seven hundred years before this Roman officer gave command, God had declared through Isaiah that His Son should be ‘numbered with the transgressors’ (Isa 53:12). …Not a single word of God can fall to the ground. ‘Forever, O LORD, Thy word is settled in heaven’ (Ps 119:89). Just as God had ordained, and just as He had announced, so it came to pass” [= Bukanlah suatu kebetulan bahwa Tuhan Kemuliaan disalibkan di antara 2 pencuri. Tidak ada kebetulan dalam dunia yang diperintah oleh Allah. Lebih-lebih lagi tidak ada kebetulan pada Hari segala hari, atau dalam hubungannya dengan Peristiwa di antara segala peristiwa – suatu Hari dan Peristiwa yang terletak di pusat sejarah dunia. Tidak; Allah mengontrol adegan / peristiwa itu. Dari kekekalan Allah telah menentukan kapan dan dimana dan bagaimana dan dengan siapa AnakNya harus mati. Tidak ada yang terjadi karena kebetulan atau karena perubahan pikiran manusia. Semua yang telah Allah tentukan terjadi persis seperti yang Ia tentukan, dan tidak ada sesuatupun yang terjadi kecuali yang sudah Ia rencanakan secara kekal. Apapun yang manusia lakukan hanyalah apa yang kuasa / tangan dan rencana / kehendak Allah ‘tentukan untuk terjadi’ (Kis 4:28). Ketika Pilatus memberikan perintah supaya Tuhan Yesus disalibkan di antara 2 kriminil, tanpa ia sendiri sadari, ia sedang melaksanakan ketetapan kekal dari Allah dan menggenapi firman nubuatanNya. Tujuh ratus tahun sebelum pejabat Romawi ini memberikan perintah, Allah telah menyatakan melalui nabi Yesaya bahwa AnakNya harus ‘diperhitungkan sebagai pemberontak / pelanggar’ (Yes 53:12). … Tidak satupun dari firman Allah bisa jatuh ke tanah / gagal. ‘Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firmanMu ditetapkan di surga’ (Maz 119:89 – diterjemahkan dari KJV). Persis seperti yang Allah telah tentukan, dan persis seperti yang Ia beritakan, begitulah hal itu terjadi] – hal 24-25.

J. I. Packer, ‘Evangelism & The Sovereignty of God’:

“The prayer of a Christian is not an attempt to force God’s hand, but a humble acknowledgment of helplessness and dependence” (= Doa orang kristen bukanlah suatu usaha untuk memaksa tangan Allah, tetapi suatu pengakuan yang rendah hati tentang ketidakberdayaan dan ketergantungan)hal 11.

“For it is not true that some Christians believe in divine sovereignty while others hold an opposite view. What is true is that all Christians believe in divine sovereignty, but some are not aware that they do, and mistakenly imagine and insist that they reject it” (= Karena tidak benar bahwa sebagian orang kristen percaya pada kedaulatan ilahi sedangkan yang lain memegang pandangan yang sebaliknya. Yang benar adalah bahwa semua orang kristen percaya pada kedaulatan ilahi, tetapi sebagian tidak menyadari hal itu, dan secara salah membayangkan dan berkeras bahwa mereka menolaknya)hal 16.

“God’s sovereignty and man’s responsibility are taught us side by side in the same Bible; sometimes, indeed, in the same text. … Man is a responsible moral agent, though he is also divinely controlled; man is divinely controlled, though he is also a responsible moral agent” (= Kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia diajarkan bersama-sama dalam Alkitab yang sama; kadang-kadang bahkan dalam text yang sama. … Manusia adalah agen moral yang bertanggung jawab, sekalipun ia juga dikontrol oleh Allah; manusia dikontrol oleh Allah, sekalipun ia juga adalah agen moral yang bertanggung jawab)hal 22-23.

“In the Bible, divine sovereignty and human responsibility are not enemies. They are not uneasy neighbours; they are not in an endless state of cold war with each other. They are friends, and they work together” (= Dalam Alkitab, kedaulatan ilahi dan tanggung jawab manusia bukanlah musuh. Mereka bukanlah tetangga yang tidak cocok; mereka tidak ada dalam keadaan perang dingin yang tidak ada akhirnya satu dengan yang lain. Mereka adalah teman, dan mereka bekerja sama)hal 35-36.

Jerome Zanchius, ‘The Doctrine of Absolute Predestination’:

“We assert that God did from eternity decree to make man in His own image, and also decreed to suffer him to fall from that image in which he should be created, and thereby to forfeit the happiness with which he was invested, which decree and consequences of it were not limited to Adam only, but included and extended to all his natural posterity” (= Kami menegaskan bahwa Allah dari kekekalan menetapkan untuk membuat manusia menurut gambarNya, dan juga menetapkan untuk membiarkannya jatuh dari gambar itu di dalam mana ia diciptakan, dan dengan demikian kehilangan kebahagiaan dengan mana ia dilingkupi / diperlengkapi, dan ketetapan dan konsekwensi tentang hal itu tidak dibatasi pada Adam saja, tetapi mencakup dan mencapai semua keturunan alamiah / jasmaninya)hal 87-88.

“That he fell in consequence of the Divine decree we prove thus: God was either willing that Adam should fall, or unwilling, or indifferent about it. If God was unwilling that Adam should transgress, how came it to pass that he did? … Surely, If God had not willed the fall, He could, and no doubt would, have prevented it; but He did not prevent it: ergo, He willed it. And if he willed it, He certainly decreed it, for the decree of God is nothing else but the seal and ratification of His will. He does nothing but what He decreed, and He decreed nothing which He did not will, and both will and decree are absolutely eternal, though the execution of both be in time. The only way to evade the force of this reasoning is to say that ‘God was indifferent and unconcerned whether man stood or fell’. But in what a shameful, unworthy light does this represent the Deity! Is it possible for us to imagine that God could be an idle, careless spectator of one of the most important events that ever came to pass? Are not ‘the very hairs of our head are numbered’? Or does ‘a sparrow fall to the ground without our heavenly Father’? If, then, things the most trivial and worthless are subject to the appointment of His decree and the control of His providence, how much more is man, the masterpiece of this lower creation?” (= Bahwa ia jatuh sebagai akibat dari ketetapan ilahi kami buktikan demikian: Allah itu atau menghendaki Adam jatuh, atau tidak menghendaki, atau acuh tak acuh / tak peduli tentang hal itu. Jika Allah tidak menghendaki Adam melanggar, bagaimana mungkin ia melanggar? … Tentu saja, jika Allah tidak menghendaki kejatuhan itu, Ia bisa, dan tidak diragukan Ia akan mencegahnya; tetapi Ia tidak mencegahnya: jadi, Ia menghendakinya. Dan jika Ia menghendakinya, Ia pasti menetapkannya, karena ketetapan Allah tidak lain adalah meterai dan pengesahan kehendakNya. Ia tidak melakukan apapun kecuali apa yang telah Ia tetapkan, dan Ia tidak menetapkan apapun yang tidak Ia kehendaki, dan baik kehendak maupun ketetapan adalah kekal secara mutlak, sekalipun pelaksanaan keduanya ada dalam waktu. Satu-satunya cara untuk menghindarkan kekuatan dari pemikiran ini adalah dengan mengatakan bahwa ‘Allah bersikap acuh tak acuh dan tidak peduli apakah manusia itu jatuh atau tetap berdiri’. Tetapi alangkah memalukan dan tak berharganya terang seperti ini dalam menggambarkan Allah! Mungkinkah bagi kita untuk membayangkan bahwa Allah bisa menjadi penonton yang malas dan tak peduli terhadap salah satu peristiwa yang terpenting yang akan terjadi? Bukankah ‘rambut kepala kita dihitung’? Atau apakah ‘seekor burung pipit jatuh ke tanah tanpa Bapa surgawi kita’? Jika hal-hal yang paling remeh dan tak berharga tunduk pada penentuan ketetapanNya dan pada kontrol dari providensiaNya, betapa lebih lagi manusia, karya terbesar dari ciptaan yang lebih rendah ini?) – hal 88-89.

Catatan: Jerome Zanchius sebetulnya tidak bisa disebut sebagai seorang Calvinist / Reformed, karena ia hidup sejaman dengan Calvin, yaitu tahun 1516-1590, tetapi dalam persoalan ini jelas bahwa pandangannya adalah pandangan Calvinisme.

-AMIN-

Pdt. Budi Asali M.Div

Comments are closed.