Archive for 26 February 2011

Providence of God III

III. PROVIDENCE BERHUBUNGAN DENGAN SEGALA SESUATU

A) Rencana Allah berhubungan dengan segala sesuatu.

Dengan kata lain, Rencana Allah itu mencakup segala sesuatu dalam arti kata yang semutlak-mutlaknya.

Dasar dari pandangan ini:

1)     Dasar Kitab Suci:

a)     Ayat Kitab Suci yang menunjukkan bahwa Rencana Allah mencakup ‘semuanya’.

Maz 139:16 – “… dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya”.

b)     Ayat Kitab Suci yang menunjukkan bahwa Rencana Allah mencakup hal-hal yang remeh / kecil / tak berarti.

Mat 10:29-30 – “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak BapaMu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya”.

Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa hal yang remeh / kecil / tidak berarti seperti jatuhnya burung pipit yang tidak berharga, atau rontoknya rambut kita, ternyata hanya bisa terjadi kalau itu sesuai dengan kehendak / Rencana Allah.

B. B. Warfield: “the minutest occurrences are as directly controlled by Him as the greatest (Matt. 10:29-30, Luke 12:7)” [= Peristiwa-peristiwa / kejadian-kejadian yang terkecil dikontrol secara langsung oleh Dia sama seperti peristiwa-peristiwa / kejadian-kejadian yang terbesar (Mat 10:29-30, Luk 12:7)]‘Biblical and Theological Studies’, hal 296.

Calvin: “But anyone who has been taught by Christ’s lips that all the hairs of his head are numbered (Matt 10:30) will look farther afield for a cause, and will consider that all events are governed by God’s secret plan [= Tetapi setiap orang yang telah diajar oleh bibir Kristus bahwa semua rambut kepalanya terhitung (Mat 10:30) akan melihat lebih jauh untuk suatu penyebab, dan akan menganggap bahwa semua kejadian diatur oleh rencana rahasia Allah]‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVI, no 2.

Calvin: “… it is certain that not one drop of rain falls without God’s sure command” (= … adalah pasti bahwa tidak satu titik hujanpun yang jatuh tanpa perintah yang pasti dari Allah)‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVI, no 5.

Dalam tafsirannya tentang kata-kata ‘jika Allah menghendakinya’ dalam Kis 18:21, Calvin berkata:
“we do all confess that we be not able to stir one finger without his direction” (= kita semua mengakui bahwa kita tidak bisa menggerakkan satu jari tanpa pimpinanNya).

Mengomentari Luk 22:60-61 Spurgeon berkata:

“God has all things in his hands, he has servants everywhere, and the cock shall crow, by the secret movement of his providence, just when God wills; and there is, perhaps, as much of divine ordination about the crowing of a cock as about the ascending of an emperor to his throne. Things are only little and great according to their bearings; and God reckoned not the crowing bird to be a small thing, since it was to bring a wanderer back to his Saviour, for, just as the cock crew, ‘The Lord turned, and looked upon Peter.’ That was a different look from the one which the girl had given him, but that look broke his heart” [= Allah mempunyai / memegang segala sesuatu di tanganNya, Ia mempunyai pelayan di mana-mana, dan ayam akan berkokok, oleh gerakan / dorongan rahasia dari providensiaNya, persis pada saat Allah menghendakinya; dan di sana mungkin ada pengaturan / penentuan ilahi yang sama banyaknya tentang berkokoknya seekor ayam seperti tentang naiknya seorang kaisar ke tahtanya. Hal-hal hanya kecil dan besar menurut hubungannya / sangkut pautnya / apa yang diakibatkannya; dan Allah tidak menganggap berkokoknya burung / ayam sebagai hal yang kecil, karena itu akan membawa orang yang menyimpang kembali kepada Juruselamatnya, karena, persis pada saat ayam itu berkokok, ‘berpalinglah Tuhan memandang Petrus’. Ini adalah pandangan yang berbeda dengan pandangan yang tadi telah diberikan seorang perempuan kepadanya (Luk 22:56), tetapi pandangan itu menghancurkan hatinya]‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 12, hal 20.

Kalau saudara merasa heran mengapa hal-hal yang kecil / remeh itu juga ditetapkan oleh Allah, seakan-akan Allah itu kekurangan kerjaan (bahasa Jawa: kengangguren), maka ingatlah bahwa:

  • kedaulatan yang mutlak dari Allah tidak memungkinkan adanya hal yang bagaimanapun kecil dan remehnya ada di luar Rencana Allah dan Providence of God.
  • semua hal-hal di dunia / alam semesta ini berhubungan satu dengan yang lain, sehingga hal kecil / remeh bisa menimbulkan hal yang besar!

Tentang kejatuhan Ahazia dari kisi-kisi kamar atas dalam 2Raja 1:2, Pulpit Commentary memberikan komentar sebagai berikut:

“The fainéant king came to his end in a manner: 1. Sufficiently simple. Idly lounging at the projecting lattice window of his palace in Samaria – perhaps leaning against it, and gazing from his elevating position on the fine prospect that spreads itself around – his support suddenly gave way, and he was precipitated to the ground, or courtyard, below. He is picked up, stunned, but not dead, and carried to his couch. It is, in common speech, an accident – some trivial neglect of a fastening – but it terminated this royal career. On such slight contingencies does human life, the change of rulers, and often the course of events in history, depend. We cannot sufficiently ponder that our existence hangs by the finest thread, and that any trivial cause may at any moment cut it short (Jas. 4:14). 2. Yet providential. God’s providence is to be recognized in the time and manner of this king’s removal. He had ‘provoked to anger the Lord God of Israel’ (1Kings 22:53), and God in this sudden way cut him off. This is the only rational view of the providence of God, since, as we have seen, it is from the most trivial events that the greatest results often spring. The whole can be controlled only by the power that concerns itself with the details. A remarkable illustration is afforded by the death of Ahaziah’s own father. Fearing Micaiah’s prophecy, Ahab had disguised himself on the field of battle, and was not known as the King of Israel. But he was not, therefore, to escape. A man in the opposing ranks ‘drew a bow at a venture,’ and the arrow, winged with a Divine mission, smote the king between the joints of his armour, and slew him (1Kings 22:34). The same minute providence which guided that arrow now presided over the circumstances of Ahaziah’s fall. There is in this doctrine, which is also Christ’s (Matt. 10:29,30), comfort for the good, and warning for the wicked. The good man acknowledges, ‘My times are in thy hand’ (Ps. 31:15), and the wicked man should pause when he reflects that he cannot take his out of that hand” [= Raja yang malas sampai pada akhir hidupnya dengan cara: 1. Cukup sederhana. Duduk secara malas pada kisi-kisi jendela yang menonjol dari istananya di Samaria – mungkin bersandar padanya, dan memandang dari posisinya yang tinggi pada pemandangan yang indah di sekitarnya – sandarannya tiba-tiba patah, dan ia jatuh ke tanah atau halaman di bawah. Ia diangkat, pingsan, tetapi tidak mati, dan dibawa ke dipan / ranjangnya. Dalam pembicaraan umum itu disebut suatu kecelakaan / kebetulan – suatu kelalaian yang remeh dalam pemasangan (jendela / kisi-kisi) – tetapi itu mengakhiri karir kerajaannya. Pada hal-hal kebetulan / tak tentu yang remeh seperti ini tergantung hidup manusia, pergantian penguasa / raja, dan seringkali rangkaian dari peristiwa-peristiwa dalam sejarah. Kita tidak bisa terlalu banyak dalam merenungkan bahwa keberadaan kita tergantung pada benang yang paling tipis, dan bahwa setiap saat sembarang penyebab yang remeh bisa memutuskannya (Yak 4:14). 2. Tetapi bersifat providensia. Providensia ilahi / pelaksanaan rencana Allah harus dikenali dalam waktu dan cara penyingkiran raja ini. Ia telah ‘menimbulkan kemarahan / sakit hati Tuhan, Allah Israel’ (1Raja 22:54), dan Allah dengan cara mendadak ini menyingkirkannya. Ini merupakan satu-satunya pandangan rasionil tentang providensia Allah, karena, seperti telah kita lihat, adalah dari peristiwa yang paling remehlah sering muncul akibat yang terbesar. Seluruhnya bisa dikontrol hanya oleh kuasa yang memperhatikan hal-hal yang kecil. Suatu ilustrasi yang hebat / luar biasa diberikan oleh kematian dari ayah Ahazia sendiri. Karena takut pada nubuat Mikha, Ahab menyamar dalam medan pertempuran, dan tidak dikenal sebagai raja Israel. Tetapi hal itu tidak menyebabkannya lolos. Seseorang dari barisan lawan ‘menarik busurnya secara untung-untungan / sembarangan’ dan anak panah itu, terbang dengan misi ilahi, mengenai sang raja di antara sambungan baju zirahnya, dan membunuhnya (1Raja 22:34). Providensia yang sama seksamanya, yang memimpin anak panah itu, sekarang memimpin / menguasai situasi dan kondisi dari kejatuhan Ahazia. Dalam doktrin / ajaran ini, yang juga merupakan ajaran Kristus (Mat 10:29-30), ada penghiburan untuk orang baik / saleh, dan peringatan untuk orang jahat. Orang baik mengakui: ‘Masa hidupku ada dalam tanganMu’ (Maz 31:16), dan orang jahat harus berhenti ketika ia merenungkan bahwa ia tidak bisa mengambil masa hidupnya dari tangan itu] – hal 13-14.

Catatan: 1Raja 22:53 dalam Kitab Suci Inggris adalah 1Raja 22:54 dalam Kitab Suci Indonesia.

Lalu, dalam tafsiran tentang 2Raja 5, dimana kata-kata yang sederhana dari seorang gadis Israel ternyata bisa membawa kesembuhan bagi Naaman dari penyakit kustanya, Pulpit Commentary mengatakan sebagai berikut:

“The dependence of the great upon the small. The recovery of this warrior resulted from the word of this captive maid. Some persons admit the hand of God in what they call great events! But what are the great events? ‘Great’ and ‘small’ are but relative terms. And even what we call ‘small’ often sways and shapes the ‘great.’ One spark of fire may burn down all London” (= Ketergan-tungan hal yang besar pada hal yang kecil. Kesembuhan dari pejuang ini dihasilkan / diakibatkan dari kata-kata dari pelayan tawanan ini. Sebagian orang mengakui tangan Allah dalam apa yang mereka sebut peristiwa besar! Tetapi apakah peristiwa besar itu? ‘Besar’ dan ‘kecil’ hanyalah istilah yang relatif. Dan bahkan apa yang kita sebut ‘kecil’ sering mempengaruhi dan membentuk yang ‘besar’. Sebuah letikan api bisa membakar seluruh kota London) – hal 110.

R. C. Sproul: “For want of a nail the shoe was lost; for want of the shoe the horse was lost; for want of the horse the rider was lost; for want of the rider the battle was lost; for want of the battle the war was lost” [= Karena kekurangan sebuah paku maka sebuah sepatu (kuda) hilang; karena kekurangan sebuah sepatu (kuda) maka seekor kuda hilang; karena kekurangan seekor kuda maka seorang penunggang kuda hilang; karena kekurangan seorang penunggang kuda maka sebuah pertempuran hilang (kalah); karena kekurangan sebuah pertempuran maka peperangan hilang (kalah)]‘Chosen By God’, hal 155.

Jadi, melalui illustrasi ini terlihat dengan jelas bahwa sebuah paku, yang merupakan hal yang remeh / kecil, ternyata bisa menimbulkan kekalahan dalam peperangan, yang jelas merupakan hal yang sangat besar! Karena itu jangan heran kalau hal-hal yang kecil / remeh juga ditetapkan / direncanakan oleh Allah.

c)      Ayat-ayat Kitab Suci yang menunjukkan bahwa hal-hal yang kelihatannya seperti ‘kebetulan’ juga hanya bisa terjadi karena itu merupakan Rencana Allah.

  • Kel 21:13 – Tetapi jika pembunuhan itu tidak disengaja, melainkan tangannya ditentukan Allah melakukan itu, maka Aku akan menunjukkan bagimu suatu tempat, ke mana ia dapat lari”.

Yang dimaksud dengan ‘pembunuhan yang tidak disengaja’ itu dijelaskan / diberi contoh dalam Ul 19:4-5, yaitu orang yang pada waktu mengayunkan kapak, lalu mata kapaknya terlepas dan mengenai orang lain sehingga mati. Hal seperti ini kelihatannya ‘kebetulan’, tetapi toh Kel 21:13 itu mengatakan bahwa hal itu bisa terjadi karena ‘tangannya ditentukan Allah melakukan itu’. Jadi, jelas bahwa hal-hal yang kelihatannya kebetulan sekalipun hanya bisa terjadi kalau itu sesuai kehendak / Rencana Allah.

  • 1Sam 6:7-12 – “Oleh sebab itu ambillah dan siapkanlah sebuah kereta baru dengan dua ekor lembu yang menyusui, yang belum pernah kena kuk, pasanglah kedua lembu itu pada kereta, tetapi bawalah anak-anaknya kembali ke rumah, supaya jangan mengikutinya lagi. Kemudian ambillah tabut TUHAN, muatkanlah itu ke atas kereta dan letakkanlah benda-benda emas, yang harus kamu bayar kepadaNya sebagai tebusan salah, ke dalam suatu peti di sisinya. Dan biarkanlah tabut itu pergi. Perhatikanlah: apabila tabut itu mengambil jalan ke daerahnya, ke Bet-Semes, maka Dialah itu yang telah mendatangkan malapetaka yang hebat ini kepada kita. Dan jika tidak, maka kita mengetahui, bahwa bukanlah tanganNya yang telah menimpa kita; kebetulan saja hal itu terjadi kepada kita.’ Demikianlah diperbuat orang-orang itu. Mereka mengambil dua ekor lembu yang menyusui, dipasangnya pada kereta, tetapi anak-anaknya ditahan di rumah. Mereka meletakkan tabut TUHAN ke atas kereta, juga peti berisi tikus-tikus emas dan gambar benjol-benjol mereka. Lembu-lembu itu langsung mengikuti jalan yang ke Bet-Semes; melalui satu jalan raya, sambil menguak dengan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri, sedang raja-raja kota orang Filistin itu berjalan di belakangnya sampai ke daerah Bet-Semes”.

Orang Filistin ingin tahu apakah wabah yang menimpa mereka (1Sam 5) berasal dari Tuhan atau hanya kebetulan saja. Dan untuk mengetahui hal itu mereka melakukan percobaan. Hasil dari percobaan itu adalah jelas. Itu bukan kebetulan, tetapi Tuhanlah yang melakukan semua itu.

  • 1Raja 22:34 – “Tetapi seseorang menarik panahnya dan menembak dengan sembarangan saja dan mengenai raja Israel di antara sambungan baju zirahnya. Kemudian ia berkata kepada pengemudi keretanya: ‘Putar! Bawa aku keluar dari pertempuran, sebab aku sudah luka.’”.

Kitab Suci Indonesia: ‘menembak dengan sembarangan.

KJV/RSV: ‘drew a bow at a venture (= menarik busurnya secara untung-untungan).

NIV/NASB: ‘drew his bow at random (= menarik busurnya secara sembarangan).

Catatan: Kata bentuk jamaknya muncul dalam 2Sam 15:11 dan dalam Kitab Suci Indonesia diterjemahkan ‘tanpa curiga’.

NIV: ‘quite innocently’ (= dengan tak bersalah).

NASB: ‘innocently’ (= dengan tak bersalah).

KJV/RSV: ‘in their simplicity’ (= dalam kesederhanaan mereka).

Pulpit Commentary: “An unknown, unconscious archer. The arrow that pierced Ahab’s corselet was shot ‘in simplicity,’ without deliberate aim, with no thought of striking the king. It was an unseen Hand that guided that chance shaft to its destination. It was truly ‘the arrow of the Lord’s vengeance.’” (= Seorang pemanah yang tak dikenal, dan yang tak menyadari tindakannya. Panah yang menusuk pakaian perang Ahab ditembakkan ‘dalam kesederhanaan’, tanpa tujuan yang disengaja, dan tanpa pikiran untuk menyerang sang raja. Adalah ‘Tangan yang tak kelihatan’ yang memimpin ‘panah kebetulan’ itu pada tujuannya. Itu betul-betul merupakan ‘panah pembalasan Tuhan’) – hal 545.

Pulpit Commentary: “how useless are disguises when the providence of Omniscience is concerned! Ahab might hide himself from the Syrians, but he could not hide himself from God. Neither could he hide himself from angels and devils, who are instruments of Divine Providence, ever influencing men, and even natural laws, or forces of nature” (= betapa tidak bergunanya penyamaran pada waktu providensia dari Yang Mahatahu yang dipersoalkan! Ahab bisa menyembunyikan dirinya dari orang Aram, tetapi ia tidak bisa menyembunyikan dirinya dari Allah. Ia juga tidak bisa menyembunyikan dirinya dari malaikat dan setan, yang merupakan alat-alat dari Providensia Ilahi, yang selalu mempengaruhi manusia, dan bahkan hukum-hukum alam, atau kuasa / kekuatan alam) – hal 552.

Pulpit Commentary: “The chance shot. The success of Ahab’s device only served to make the blow come more plainly from the hand of God. Benhadad’s purpose could be baffled, but not His. There is no escape from God” (= Tembakan kebetulan. Sukses dari muslihat Ahab hanya berfungsi untuk membuat kelihatan dengan lebih jelas bahwa serangan itu datang dari tangan Allah. Tujuan / rencana Benhadad bisa digagalkan / dihalangi, tetapi tidak tujuan / rencanaNya. Tidak ada jalan untuk lolos dari Allah) – hal 557.

Jadi, ini lagi-lagi menunjukkan bahwa tidak ada ‘kebetulan’. Semua yang kelihatannya merupakan kebetulan, diatur oleh Allah.

  • Amsal 16:33 – “Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN”.

Tidak ada yang kelihatan lebih bersifat kebetulan dari pada undi yang dibuang di pangkuan, tetapi toh ayat ini mengatakan bahwa setiap keputusannya berasal dari Tuhan.

Catatan: ini tidak berarti bahwa pada jaman sekarang kita boleh mencari kehendak Tuhan dengan cara ini. Pada jaman sekarang, dimana kita sudah mempunyai Kitab Suci yang lengkap, maka kita harus mencari kehendak Tuhan melalui Kitab Suci / Firman Tuhan.

  • Rut 2:3 – “Pergilah ia, lalu sampai di ladang dan memungut jelai di belakang penyabit-penyabit; kebetulan ia berada di tanah milik Boas, yang berasal dari kaum Elimelekh”.

Charles Haddon Spurgeon memberikan renungan tentang Rut 2:3, dimana ia berkata sebagai berikut:
“Her hap was. Yes, it seemed nothing but an accidental happenstance, but how divinely was it planned! Ruth had gone forth with her mother’s blessing under the care of her mother’s God to humble but honorable toil, and the providence of God was guiding her every step. Little did she know that amid the sheaves she would find a husband, that he would make her the joint owner of all those broad acres, and that she, a poor foreigner, would become one of the progenitors of the great Messiah. … Chance is banished from the faith of Christians, for they see the hand of God in everything. The trivial events of today or tomorrow may involve consequences of the highest importance” (= ‘Kebetulan ia berada’. Ya, itu kelihatannya bukan lain dari pada suatu kejadian yang bersifat kebetulan, tetapi hal itu direncanakan secara ilahi! Rut telah pergi dengan berkat dari ibunya di bawah pemeliharaan dari Allah ibunya kepada pekerjaan yang rendah tetapi terhormat, dan providensia Allah membimbing setiap langkahnya. Sedikitpun ia tidak menyangka bahwa di antara berkas-berkas jelai itu ia akan menemukan seorang suami, bahwa ia akan membuatnya menjadi pemilik dari seluruh tanah yang luas itu, dan bahwa ia, seorang asing yang miskin, akan menjadi salah seorang nenek moyang dari Mesias yang agung. … Kebetulan dibuang dari iman orang-orang Kristen, karena mereka melihat bahwa tangan Allah ada dalam segala sesuatu. Peristiwa-peristiwa remeh dari hari ini atau besok bisa melibatkan konsekwensi-konsekwensi yang paling penting)‘Morning and Evening’, October 25, evening.

Semua ini menunjukkan bahwa dalam membuat RencanaNya, Allah bukan hanya merencanakan / menetapkan garis besarnya saja, tetapi lengkap dengan semua detail-detailnya, sampai hal-hal yang sekecil-kecilnya.

Loraine Boettner: “The Pelagian denies that God has a plan; the Arminian says that God has a general plan but not a specific plan; but the Calvinist says that God has a specific plan which embraces all events in all ages” (= Orang yang menganut Pelagianisme menyangkal bahwa Allah mempunyai rencana; orang Arminian berkata bahwa Allah mempunyai rencana yang umum tetapi bukan rencana yang specific; tetapi orang Calvinist mengatakan bahwa Allah mempunyai rencana yang specific yang mencakup semua peristiwa / kejadian dalam semua jaman) – ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 22-23.

B. B. Warfield:

  • “Throughout the Old Testament, behind the processes of nature, the march of history and the fortunes of each individual life alike, there is steadily kept in view the governing hand of God working out His preconceived plan – a plan broad enough to embrace the whole universe of things, minute enough to concern itself with the smallest details, and actualizing itself with inevitable certainty in every event that comes to pass” (= Sepanjang Perjanjian Lama, dibalik proses alam, gerakan dari sejarah dan nasib dari setiap kehidupan, terus menerus ditunjukkan tangan pemerintahan Allah yang melaksanakan rencana yang sudah direncanakanNya lebih dulu – suatu rencana yang cukup luas untuk mencakup seluruh alam semesta, cukup kecil / seksama untuk memperhatikan detail-detail yang terkecil, dan mewujudkan dirinya sendiri dengan kepastian yang tidak dapat dihindarkan / dielakkan dalam setiap peristiwa / kejadian yang terjadi)‘Biblical and Theological Studies’, hal 276.
  • “But, in the infinite wisdom of the Lord of all the earth, each event falls with exact precision into its proper place in the unfolding of His eternal plan; nothing, however small, however strange, occurs without His ordering, or without its peculiar fitness for its place in the working out of His purpose; and the end of all shall be the manifestation of His glory, and the accumulation of His praise” (= Tetapi, dalam hikmat yang tidak terbatas dari Tuhan seluruh bumi, setiap peristiwa / kejadian jatuh dengan ketepatan yang tepat pada tempatnya dalam pembukaan dari rencana kekalNya; tidak ada sesuatupun, betapapun kecilnya, betapapun anehnya, terjadi tanpa pengaturan / perintahNya, atau tanpa kecocokannya yang khusus untuk tempatnya dalam pelaksanaan RencanaNya; dan akhir dari semua adalah akan diwujudkannya kemuliaanNya, dan pengumpulan pujian bagiNya)‘Biblical and Theological Studies’, hal 285.

Charles Hodge: “As God works on a definite plan in the external world, it is fair to infer that the same is true in reference to the moral and spiritual world. To the eye of an uneducated man the heavens are a chaos of stars. The astronomer sees order and system in this confusion; all those bright and distant luminaries have their appointed places and fixed orbits; all are so arranged that no one interferes with any other, but each is directed according to one comprehensive and magnificent conception” (= Sebagaimana Allah menger-jakan rencana tertentu dalam dunia lahiriah / jasmani, adalah wajar untuk mengambil kesimpulan bahwa hal itu juga benar berkenaan dengan dunia moral dan rohani. Bagi mata seorang yang tidak berpendidikan langit merupakan bintang-bintang yang kacau. Ahli perbintangan / ilmu falak melihat keteraturan dan sistim dalam kekacauan ini; semua benda-benda bersinar yang terang dan jauh itu mempunyai tempat dan orbit tetap yang ditetapkan; semua begitu diatur sehingga tidak satupun mengganggu yang lain, tetapi masing-masing diarahkan menurut suatu konsep yang luas dan besar / indah)‘Systematic Theology’, vol II hal 313.

Saya berpendapat bagian yang saya garis-bawahi tersebut merupakan hal yang perlu dicamkan. Analoginya dalam dunia theologia adalah: bagi orang yang tidak mengerti theologia, semua merupakan kekacauan, atau semua terjadi begitu saja, atau secara kebetulan. Tetapi bagi mata seorang ahli theologia, segala sesuatu ditetapkan dan diatur oleh Allah.

2)     Kemahatahuan Allah.

Bahwa Rencana Allah berhubungan dengan segala sesuatu, atau bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu, juga bisa terlihat dari kemahatahuan Allah.

a)     Kemahatahuan Allah menunjukkan bahwa Ia menentukan segala sesuatu.

Penjelasan:

Bayangkan suatu saat (minus tak terhingga) dimana alam semesta, malaikat, manusia, dsb belum diciptakan. Yang ada hanyalah Allah sendiri. Ini adalah sesuatu yang alkitabiah, karena Alkitab jelas mengajarkan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu (Kej 1 Yoh 1:1-3). Pada saat itu, karena Allah itu maha tahu (1Sam 2:3), maka Ia sudah mengetahui segala sesuatu (dalam arti kata yang mutlak) yang akan terjadi, termasuk dosa. Semua yang Ia tahu akan terjadi itu, pasti terjadi persis seperti yang Ia ketahui. Dengan kata lain, semua itu sudah tertentu pada saat itu. Kalau sudah tertentu, pasti ada yang menentukan (karena tidak mungkin hal-hal itu menentukan dirinya sendiri). Karena pada saat itu hanya ada Allah sendiri, maka jelas bahwa Ialah yang menentukan semua itu.

Loraine Boettner:

  • “This fixity or certainty could have had its ground in nothing outside of the divine Mind, for in eternity nothing else existed” (= Ketertentuan atau kepastian ini tidak bisa mempunyai dasar pada apapun di luar Pikiran ilahi, karena dalam kekekalan tidak ada apapun yang lain yang ada)‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 45.
    • “Yet unless Arminianism denies the foreknowledge of God, it stands defenseless before the logical consistency of Calvinism; for foreknowledge implies certainty and certainty implies foreordination” (= Kecuali Arminianisme menyangkal / menolak pengetahuan lebih dulu dari Allah, ia tidak mempunyai pertahanan di depan kekonsistenan yang logis dari Calvinisme; karena pengetahuan lebih dulu secara tidak langsung menunjuk pada kepastian, dan kepastian secara tidak langsung menunjuk pada penetapan lebih dulu)‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 44.
    • “The Arminian objection against foreordination bears with equal force against the foreknowledge of God. What God foreknows must, in the very nature of the case, be as fixed and certain as what is foreordained; and if one is inconsistent with the free agency of man, the other is also. Foreordination renders the events certain, while foreknowledge presupposes that they are certain” (= Keberatan Arminian terhadap penentuan lebih dulu mengandung / menghasilkan kekuatan yang sama terhadap pengetahuan lebih dulu dari Allah. Apa yang Allah ketahui lebih dulu pastilah sama tertentunya dan pastinya seperti apa yang ditentukan lebih dulu; dan jika yang satu tidak konsisten dengan kebebasan manusia, yang lain juga demikian. Penentuan lebih dulu membuat peristiwa-peristiwa pasti / tertentu, sedangkan penge-tahuan lebih dulu mensyaratkan bahwa mereka itu pasti / tertentu)‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 42.

b)     Dalam persoalan ini perlu saudara ketahui bahwa penentuan itu terjadi bukan karena Allah sudah tahu.

Roma 8:29 (NIV) – ‘For those He foreknew, He also predestined …’ (= Karena mereka yang Ia ketahui lebih dulu, juga Ia tentukan …).

Ayat ini sering dipakai oleh orang Arminian sebagai dasar untuk mengatakan bahwa Allah menentukan karena Dia sudah tahu bahwa hal itu akan terjadi. Jadi, Allah menentukan supaya si A menjadi orang beriman, karena Ia tahu bahwa orang itu akan menjadi orang beriman. Allah menentukan si B menjadi orang saleh, karena Ia tahu si B akan mentaati Dia, dsb.

Ada beberapa hal yang perlu disoroti dari penafsiran Arminian tentang Ro 8:29 ini:

1.      ‘Menentukan karena sudah tahu’ tidak bisa disebut sebagai ‘menentukan’, karena kalau Allah sudah tahu bahwa suatu hal akan terjadi, maka hal itu pasti akan terjadi. Lalu apa gunanya ditentukan lagi?

2.      Kalau kita menafsirkan Ro 8:29 sebagai ‘menentukan karena sudah tahu’, maka ini akan bertentangan dengan Ef 1:4,5,11.

  • Ef 1:4 mengatakan bahwa kita dipilih supaya menjadi kudus / tak bercacat. Jadi, pemilihan itulah yang menyebabkan kita menjadi kudus / tak bercacat. Jadi, dalam pemikiran Allah, pemilihan itu yang ada dulu, dan tujuannya adalah supaya kita menjadi kudus dan tidak bercacat. Sedangkan kalau diambil penafsiran tadi / penafsiran Arminian, maka ‘kudus / tak bercacat’ inilah yang ada dulu dalam pemikiran Allah, dan sebagai akibatnya maka kita dipilih. Ini jelas terbalik!
  • Ef 1:5b,11b menunjukkan bahwa kita dipilih sesuai dengan kerelaan kehendak Allah (dalam bahasa Jawa / pasaran mungkin bisa dikatakan ‘saksirnya Allah’). Jadi jelas bahwa pemilihan itu dilakukan oleh Allah bukan karena Ia melihat akan adanya sesuatu yang baik dalam diri kita!

3.      Ro 8:29 itu tidak mengatakan bahwa ‘Allah tahu lebih dulu tentang iman / perbuatan baik mereka’.

A. H. Strong: “The Arminian interpretation of ‘whom he foreknew’ (Rom 8:29) would require the phrase ‘as conformed to the image of His Son’ to be conjoined with it. Paul, however, makes conformity to Christ to be the result, not the foreseen condition, of God’s foreordination” [= Penafsiran Arminian tentang ‘siapa yang diketahuiNya lebih dulu’ (Ro 8:29) mengharuskan kata-kata ‘untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya’ dihubungkan dengannya. Tetapi Paulus membuat keserupaan dengan Kristus sebagai hasil, dan bukan sebagai syarat yang dilihat lebih dulu, dari penetapan Allah]‘Systematic Theology’, hal 781.

Saya sangat setuju dengan kata-kata A. H. Strong ini! Orang-orang Arminian membaca / menafsirkan Ro 8:29-30 ini seakan-akan ayat itu berbunyi sebagai berikut:

“Karena mereka yang diketahuiNya lebih dulu akan menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, lalu dipredestinasikanNya, supaya Ia menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang dipredestinasikanNya, juga dipanggilNya; mereka yang dipanggilNya, juga dibenarkanNya; mereka yang dibenarkanNya, juga dimuliakanNya”.

Bandingkan dengan bunyi Ro 8:29-30 yang asli (diterjemahkan dari NIV):

“Karena mereka yang diketahuiNya lebih dulu, juga dipredestinasikanNya untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang dipredestinasikanNya, juga dipanggilNya; mereka yang dipanggilNya, juga dibenarkanNya; mereka yang dibenarkanNya, juga dimuliakanNya”.

Loraine Boettner: “Notice especially that Rom. 8:29 does not say that they were foreknown as doers of good works, but that they were foreknown as individuals to whom God would extend the grace of election” (= Perhatikan khususnya bahwa Ro 8:29 tidak berkata bahwa mereka diketahui lebih dulu sebagai pembuat kebaikan, tetapi bahwa mereka diketahui lebih dulu sebagai individu-individu kepada siapa Allah memberikan kasih karunia pemilihan)‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 100.

Charles Haddon Spurgeon: “it is further asserted that the Lord foreknew who would exercise repentance, who would believe in Jesus, and who would persevere in a consistent life to the end. This is readily granted, but a reader must wear very powerful magnifying spectacles before he will be able to discover that sense in the text. Upon looking carefully at my Bible again I do not perceive such statement. Where are those words which you have added, ‘Whom he did foreknew to repent, to believe, and to persevere in grace’? I do not find them either in the English version or in the Greek original. If I could so read them the passage would certainly be very easy, and would very greatly alter my doctrinal views; but, as I do not find those words there, begging your pardon, I do not believe in them. However wise and advisable a human interpolation may be, it has no authority with us; we bow to holy Scripture, but not to glosses which theologians may choose to put upon it. No hint is given in the text of foreseen virtue any more than of foreseen sin, and, therefore, we are driven to find another meaning for the word” (= Selanjutnya ditegaskan / dinyatakan bahwa Tuhan mengetahui lebih dulu siapa yang akan bertobat, siapa yang akan percaya kepada Yesus, dan siapa yang akan bertekun dalam hidup yang konsisten sampai akhir. Ini dengan mudah diterima, tetapi seorang pembaca harus memakai kaca mata pembesar yang sangat kuat sebelum ia bisa menemukan arti itu dalam text itu. Melihat dalam Alkitab saya dengan teliti sekali lagi, saya tidak mendapatkan arti seperti itu. Dimana kata-kata yang kamu tambahkan itu ‘Yang diketahuiNya lebih dulu akan bertobat, percaya, dan bertekun dalam kasih karunia’? Saya tidak menemukan kata-kata itu baik dalam versi Inggris atau dalam bahasa Yunani orisinilnya. Jika saya bisa membaca seperti itu, text itu pasti akan menjadi sangat mudah, dan akan sangat mengubah pandangan doktrinal saya; tetapi, karena saya tidak menemukan kata-kata itu di sana, maaf, saya tidak percaya padanya. Bagaimanapun bijaksana dan baiknya penyisipan / penambahan manusia, itu tidak mempunyai otoritas bagi kami; kami membungkuk / menghormat pada Kitab Suci, tetapi tidak pada komentar / keterangan yang dipilih oleh ahli-ahli theologia untuk diletakkan padanya. Tidak ada petunjuk yang diberikan dalam text itu tentang kebaikan atau dosa yang dilihat lebih dulu, dan karena itu, kami didorong untuk mencari / mendapatkan arti yang lain untuk kata itu)‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 22.

4.      Disamping itu, penafsiran Arminian ini menafsirkan kata ‘foreknew’ (= mengetahui lebih dulu) sekedar sebagai suatu pengetahuan intelektual. Tetapi saya percaya bahwa penafsiran seperti itu adalah salah. Untuk itu mari kita melihat penjelasan di bawah ini:

a.      Pembahasan kata ‘know’ (= tahu / kenal) dalam Kitab Suci.

  • dalam Perjanjian Lama.

Kata ‘know’ (= tahu) dalam bahasa Ibrani adalah YADA. Sekalipun YADA memang bisa diartikan sebagai ‘tahu secara intelektual’ tetapi seringkali kata YADA tidak bisa diartikan demikian. Saya akan memberikan beberapa contoh dimana kata YADA tidak bisa diartikan sekedar sebagai ‘tahu secara intelektual’:

o        Kej 4:1 (KJV/Lit): ‘Adam knew Eve his wife, and she conceived’ (= Adam tahu / kenal Hawa istrinya, dan ia mengandung).

Di sini jelas bahwa YADA tidak mungkin diartikan ‘tahu secara intelektual’! Tidak mungkin Adam hanya mengetahui Hawa secara intelektual, dan itu menyebabkan Hawa lalu mengandung! Jelas bahwa YADA / ‘to know’ di sini tidak sekedar berarti ‘tahu’, tetapi ada kasih / hubungan intim di dalamnya.

Karena itu kalau Ro 8:29 mengatakan Allah tahu / kenal, lalu menentukan, maksudnya adalah Allah mengasihi, lalu menentukan. Jadi penekanannya adalah: penentuan itu didasarkan atas kasih. Bdk. Ef 1:5 – ‘Dalam kasih Allah telah memilih kita …’.

Catatan: tafsiran ini saya ambil dari buku tafsiran kitab Roma oleh John Murray (NICNT).

o        Dalam Kej 18:19, kata YADA ini diterjemahkan ‘memilih’ oleh Kitab Suci Indonesia.

“Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikanNya kepadanya”.

RSV, NIV, NASB menterjemahkan seperti Kitab Suci Indonesia! ASV / KJV / NKJV tetap menterjemahkan ‘know’, tetapi kalimatnya jadi aneh.

Kej 18:19 (KJV): ‘For I know him, that he will command his children and his household after him, and they shall keep the way of the LORD, to do justice and judgment; that the LORD may bring upon Abraham that which he hath spoken of him’ (= Karena Aku mengetahui / mengenalnya, bahwa ia akan memerintahkan anak-anaknya dan seisi rumahnya / keturunannya, dan mereka akan hidup menurut jalan TUHAN, melakukan keadilan dan penghakiman; supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dikatakanNya kepadanya).

o        Dalam Amos 3:2, kata YADA diterjemahkan ‘kenal’ oleh Kitab Suci Indonesia.

“Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu”.

KJV/ASV/RSV tetap menterjemahkan ‘know’, tetapi NIV/NASB menterjemahkan ‘choose’ (= memilih).

Tentang kata YADA dalam Amos 3:2 ini B. B. Warfield berkata:

“what is thrown prominently forward is clearly the elective love which has singled Israel out for special care” (= apa yang ditonjolkan ke depan secara menyolok jelas adalah kasih yang memilih yang telah memilih / mengkhususkan Israel untuk perhatian istimewa)‘Biblical and Theological Studies’, hal 288.

Loraine Boettner: “The word ‘know’ is sometimes used in a sense other than that of having merely an intellectual perception of the thing mentioned. It occasionally means that the persons so ‘known’ are the special and peculiar objects of God’s favor, as when it was said of the Jews, ‘You only have I known of all the families of the earth,’ Amos 3:2.” [= Kata ‘tahu’ kadang-kadang digunakan bukan dalam arti seke-dar pengetahuan intelektual tentang hal yang disebutkan. Kadang-kadang kata ini berarti bahwa orang yang ‘diketahui’ merupakan obyek istimewa dan khusus dari kemurahan / kebaikan hati Allah, seperti pada waktu dikatakan tentang orang-orang Yahudi: ‘Hanya kamu yang Kukenal / Kuketahui dari segala kaum di muka bumi’ (Amos 3:2)]‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 100.

o        Kel 2:25 – diterjemahkan ‘memperhatikan’.

o        Maz 1:6 – diterjemahkan ‘mengenal’.

o        Maz 101:4 – diterjemahkan ‘tahu’.

o        Nahum 1:7 – diterjemahkan ‘mengenal’.

Dalam semua ayat-ayat di atas ini kata YADA tidak mungkin diartikan sebagai sekedar tahu secara intelektual.

  • dalam Perjanjian Baru.

Kata ‘know’ (= tahu) dalam bahasa Yunani adalah GINOSKO, dan digunakan dalam ayat-ayat di bawah ini:

o        Mat 7:23 – “Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!”.

o        Yoh 10:14,27 – “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-dombaKu dan domba-dombaKu mengenal Aku. … Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku”.

o        1Kor 8:3 – “Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah”.

o        Gal 4:9 – “Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya?”.

o        2Tim 2:19a – “Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: ‘Tuhan mengenal siapa kepunyaanNya’”.

Dalam semua ayat-ayat ini kata GINOSKO itu tidak mungkin diartikan sekedar ‘mengetahui secara intelektual’.

b.      Pembahasan kata ‘foreknow’ (= mengetahui lebih dulu) / ‘foreknowledge’ (= pengetahuan lebih dulu).

Ayat-ayat yang mengandung kata-kata foreknowledge, foreknew, dsb:

  • Kis 2:23a – “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya“.

NASB: ‘this Man, delivered up by the predetermined plan and foreknowledge of God (= Orang ini, diserahkan oleh rencana yang ditentukan lebih dulu dan pengetahuan lebih dulu dari Allah).

Jelas bahwa ‘foreknowledge’ (= pengetahuan lebih dulu) di sini tidak sekedar berarti pengetahuan intelektual, karena Allah menyerahkan Anak Manusia untuk mewujudkan ‘foreknowledge’ itu. Karena itu tidak heran Kitab Suci Indonesia menterjemahkan seperti itu.

  • Ro 11:2a – “Allah tidak menolak umatNya yang dipilihNya“.

NASB: ‘God has not rejected His people whom He foreknew (= Allah tidak menolak umatNya yang diketahuiNya lebih dulu).

Ini lagi-lagi menunjukkan secara jelas bahwa ‘foreknew’ tidak bisa diartikan ‘mengetahui lebih dulu secara intelektual’.

Loraine Boettner menghubungkan Ro 8:29 dengan Ro 11:2a ini dengan berkata:

“Those in Romans 8:29 are foreknown in the sense that they are foreappointed to be the special objects of His favor. This is shown more plainly in Rom. 11:2-5, where we read, ‘God did not cast off His people whom He foreknew’” (= Mereka dalam Ro 8:29 diketahui lebih dulu dalam arti bahwa mereka ditetapkan lebih dulu untuk menjadi obyek khusus kemurahan hatiNya. Ini ditunjukkan lebih jelas dalam Ro 11:2-5, dimana kita membaca: ‘Allah tidak menolak / membuang umatNya yang dipilihNya / diketahuiNya lebih dulu’)‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 100.

  • 1Pet 1:2a – “yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita”.

NASB: ‘who are chosen according to the foreknowledge of God the Father’ (= yang dipilih sesuai dengan pengetahuan lebih dulu dari Allah Bapa).

  • 1Pet 1:20 – “Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diriNya pada zaman akhir”.

NASB: ‘For He was foreknown before the foundation of the world, but has appeared in these last times for the sake of you’ (= Karena Ia diketahui lebih dulu sebelum penciptaan dunia, tetapi menampakkan diri pada jaman akhir karena kamu).

Melihat ayat-ayat di atas ini, saya berpendapat bahwa bukan tanpa alasan Kitab Suci Indonesia tidak pernah mau menterjemahkan ‘tahu lebih dulu’ atau ‘pengetahuan lebih dulu’, tetapi menterjemahkan dengan kata ‘pilih’ atau ‘rencana’. Karena itu, sekalipun Ro 8:29 versi Kitab Suci Indonesia itu memang bukan terjemahan yang hurufiah, tetapi saya berpendapat bahwa Kitab Suci Indonesia memberikan arti yang benar!

 

c)      Hubungan yang benar tentang kemahatahuan Allah dan penetapan Allah.

Penafsiran Arminian mengatakan bahwa Allah menetapkan karena Ia telah lebih dulu mengetahui bahwa hal itu akan terjadi, dan saya telah menunjukkan kesalahan pandangan ini. Sekarang saya ingin menunjukkan bahwa pandangan Reformed adalah sebaliknya, yaitu: Allah menetapkan, dan karena itu Ia mengetahui.

Loraine Boettner: “Foreordination in general cannot rest on foreknow-ledge; for only that which is certain can be foreknown, and only that which is predetermined can be certain” (= Secara umum, penentuan lebih dulu tidak bisa didasarkan pada pengetahuan lebih dulu; karena hanya apa yang tertentu yang bisa diketahui lebih dulu, dan hanya apa yang ditentukan lebih dulu yang bisa tertentu)‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 99.

William G. T. Shedd: “The Divine decree is the necessary condition of the Divine foreknowledge. If God does not first decide what shall come to pass, he cannot know what will come to pass. An event must be made certain, before it can be known as a certain event. … So long as anything remains undecreed, it is contingent and fortuitous. It may or may not happen. In this state of things, there cannot be knowledge of any kind” (= Ketetapan ilahi adalah syarat yang perlu dari pengetahuan lebih dulu dari Allah. Jika Allah tidak lebih dulu menentukan apa yang akan terjadi, Ia tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi. Suatu peristiwa / kejadian harus dipastikan, sebelum peristiwa itu bisa diketahui sebagai peristiwa yang tertentu. … Selama sesuatu tidak ditetapkan, maka sesuatu itu bersifat tergantung / mungkin dan kebetulan. Itu bisa terjadi atau tidak terjadi. Dalam keadaan demikian, tidak bisa ada pengetahuan apapun tentang hal itu)‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 396-397.

B. B. Warfield: “… God foreknows only because He has pre-determined, and it is therefore also that He brings it to pass; His foreknowledge, in other words, is at bottom a knowledge of His own will” (= … Alah mengetahui lebih dulu hanya karena Ia telah menentukan lebih dulu, dan karena itu juga Ia menyebabkannya terjadi; dengan kata lain, pengetahuan lebih dulu ini pada hakekatnya adalah pengetahuan tentang kehendakNya sendiri)‘Biblical and Theological Studies’, hal 281.

John Owen: “Out of this large and boundless territory of things possible, God by his decree freely determineth what shall come to pass, and makes them future which before were but possible. After this decree, as they commonly speak, followeth, or together with it, as others more exactly, taketh place, that prescience of God which they call ‘visionis,’ ‘of vision,’ whereby he infallibly seeth all things in their proper causes, and how and when they shall some to pass” (= Dari daerah yang besar dan tak terbatas dari hal-hal yang mungkin terjadi ini, Allah dengan ketetapanNya secara bebas menentukan apa yang akan terjadi, dan membuat mereka yang tadinya ‘mungkin terjadi’ menjadi ‘akan datang’. Setelah ketetapan ini, seperti yang pada umumnya mereka katakan, berikutnya, atau bersama-sama dengan ketetapan itu, seperti orang lain katakan dengan lebih tepat, terjadilah ‘pengetahuan yang lebih dulu’ dari Allah yang mereka sebut VISIONIS, ‘dari penglihatan’, dengan mana Ia, secara tidak mungkin salah, melihat segala sesuatu dalam penyebabnya yang tepat, dan bagaimana dan kapan mereka akan terjadi)‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 23.

3)     Allah tidak terbatas oleh waktu, atau Allah ada di atas waktu.

Satu hal lagi yang menunjukkan bahwa Rencana / ketetapan Allah itu mencakup segala sesuatu, adalah bahwa Allah tidak terbatas oleh waktu, atau ada di atas waktu.

Loraine Boettner: “Much of the difficulty in regard to the doctrine of Predestination is due to the finite character of our mind, which can grasp only a few details at a time, and which understands only a part of the relations between these. We are creatures of time, and often fail to take into consideration the fact that God is not limited as we are. That which appears to us as ‘past,’ ‘present,’ and ‘future,’ is all ‘present’ to His mind. It is as eternal ‘now.’ He is ‘the high and lofty One that inhabits eternity.’ Is. 57:15. ‘A thousand years in thy sight are but as yesterday when it is past, And as a watch in the night,’ Ps. 90:4. Hence the events which we see coming to pass in time are only the events which He appointed and set before Him from eternity. Time is a property of the finite creation and is objective to God. He is above it and sees it, but is not conditioned by it. He is also independent of space, which is another property of the finite creation. Just as He sees at one glance a road leading from New York to San Francisco, while we see only a small portion of it as we pass over it, so He sees all events in history, past, present, and future at one glance. When we realize that the complete process of history is before Him as an eternal ‘now,’ and that He is the Creator of all finite existence, the doctrine of Predestination at least becomes an easier doctrine” (= Banyak kesukaran berkenaan dengan doktrin Predestinasi disebabkan oleh sifat terbatas dari pikiran kita, yang hanya bisa menjangkau beberapa detail pada satu saat, dan yang mengerti hanya sebagian dari hubungan antara detail-detail itu. Kita adalah makhluk waktu, dan seringkali melupakan fakta bahwa Allah tidak terbatas seperti kita. Apa yang kelihatan bagi kita sebagai ‘lampau’, ‘sekarang’, dan ‘akan datang’, semuanya adalah ‘sekarang’ bagi pikiranNya. Itu adalah ‘sekarang’ yang kekal. Ia adalah ‘Yang tinggi dan mulia yang mendiami kekekalan’ Yes 57:15. ‘Seribu hari dalam pandanganMu adalah seperti kemarin, pada waktu itu berlalu, dan seperti suatu giliran jaga pada malam hari’ Maz 90:4. Karena itu peristiwa-peristiwa yang kita lihat terjadi dalam waktu hanyalah merupakan peristiwa-peristiwa yang telah Ia tetapkan dan tentukan di hadapanNya dari kekekalan. Waktu adalah milik / sifat dari ciptaan yang terbatas dan terpisah dari Allah. Ia ada diatasnya dan melihatnya, tetapi tidak dikuasai / diatur olehnya. Ia juga tidak tergantung pada tempat, yang merupakan milik / sifat yang lain dari ciptaan yang terbatas. Sama seperti ia melihat dalam sekali pandang jalanan dari New York ke San Francisco, sementara kita melihat hanya sebagian kecil darinya pada waktu kita melewatinya, demikian pula Ia melihat semua peristiwa-peristiwa dalam sejarah, lampau, sekarang, dan yang akan datang dalam satu kali pandang. Pada waktu kita menyadari bahwa proses lengkap dari sejarah ada di depanNya sebagai ‘sekarang’ yang kekal, dan bahwa Ia adalah Pencipta dari semua keberadaan yang terbatas, doktrin Predestinasi sedikitnya menjadi doktrin yang lebih mudah)‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 44-45.

Catatan: Yes 57:15 dan Maz 90:4 di atas dikutip dan diterjemahkan dari KJV.

William G. T. Shedd: “For the Divine mind, there is, in reality, no future event, because all events are simultaneous, owing to that peculiarity in the cognition of an eternal being whereby there is no succession in it. All events thus being present to him are of course all of them certain events” (= Untuk pikiran ilahi, dalam kenyataannya tidak ada kejadian / peristiwa yang akan datang, karena semua peristiwa / kejadian adalah serempak, berdasarkan kekhasan dalam pemikiran / pengertian dari makhluk kekal untuk mana tidak ada urut-urutan di dalamnya. Semua peristiwa ‘bersifat present / sekarang’ bagiNya dan karenanya tentu saja semuanya merupakan peristiwa yang pasti)‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 402.

B) ‘Providence’ juga berhubungan dengan segala sesuatu.

‘Providence’ adalah pelaksanaan Rencana Allah, dan karena Rencana Allah berhubungan dengan segala sesuatu, maka ‘Providence’ juga berhubungan dengan segala sesuatu.

Hal-hal alamiah yang kelihatannya terjadi dengan sendirinya (secara otomatis, diatur oleh hukum alam), ternyata juga diatur / diperintah / dikontrol oleh Allah setiap saat.

Contoh:

  • matahari / putaran bumi (Yos 10:13 – matahari / putaran bumi dihentikan oleh Tuhan; Yes 38:8 – matahari bahkan digerakkan ke arah sebaliknya / bumi diputar ke arah sebaliknya oleh Tuhan. Tetapi untuk Yes 38:8 ini ada yang menafsirkan bahwa hanya bayangannya saja yang mundur).
  • kelihatannya tumbuh-tumbuhan hidup karena sinar matahari, tetapi Allah menciptakan tumbuh-tumbuhan pada hari ke 3 dan matahari pada hari ke 4, dan ini menunjukkan bahwa tumbuh-tumbuhan itu mendapatkan kehidupan dari Allah, bukan dari matahari. Memang setelah matahari ada, Tuhan lalu berkenan menggunakan matahari untuk memberikan hal yang vital bagi kehidupan tumbuh-tumbuhan, tetapi semuanya tetap di bawah kontrol dari Tuhan.
  • orang mendapat anak. Ini bukan merupakan hal yang alamiah, tetapi ini adalah pekerjaan Tuhan.

Maz 127:3 – “Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah”.

Hana (Ibu Samuel) tidak bisa mempunyai anak, karena ‘TUHAN telah menutup kandungannya’ (1Sam 1:5), dan waktu akhirnya bisa mempunyai anak, itu karena ‘TUHAN ingat kepadanya’ (1Sam 1:19-20).

  • semua makhluk / binatang dapat makan dari Tuhan.

Maz 104:27-28 – “Semuanya menantikan Engkau, supaya diberikan makanan pada waktunya. Apabila Engkau memberikannya, mereka memungutnya; apabila Engkau membuka tanganMu, mereka kenyang oleh kebaikan”.

Maz 136:25a – “Dia yang memberikan roti kepada segala makhluk”.

  • kesehatan bukan dari makanan tetapi dari Allah.

Daniel 1:8-15 menunjukkan bahwa sekalipun Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego makanannya kurang bergizi dibanding orang-orang yang lain tetapi Allah membuat mereka lebih sehat. Memang pada umumnya orang yang makanannya lebih bergizi akan lebih sehat dari pada orang yang kekurangan gizi, tetapi semua itu tetap ada di bawah pengaturan Allah, dan Allah bisa keluar dari hukum itu kapanpun Dia mau.

Ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa ‘Providence’ berhubungan dengan segala sesuatu:

  • Kel 12:36 – “Dan TUHAN membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa itu, sehingga memenuhi permintaan mereka. Demikianlah mereka merampasi orang Mesir itu”.

Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan yang membuat orang Mesir bermurah hati kepada orang Israel.

  • 2Sam 17:14 – “Lalu berkatalah Absalom dan setiap orang Israel: ‘Nasihat Husai, orang Arki itu, lebih baik dari pada nasihat Ahitofel.’ Sebab TUHAN telah memutuskan, bahwa nasihat Ahitofel yang baik itu digagalkan, dengan maksud supaya TUHAN mendatangkan celaka kepada Absalom”.

Tuhan yang bekerja sehingga nasehat Ahitofel ditolak dan ini menyebabkan kekalahan Absalom.

  • Ezra 1:1 – “Pada tahun pertama zaman Koresy, raja negeri Persia, TUHAN menggerakkan hati Koresy, raja Persia itu untuk menggenapkan firman yang diucapkan oleh Yeremia, sehingga disiarkan di seluruh kerajaan Koresh secara lisan dan tulisan pengumuman ini:”.

Tuhan menggerakkan hati raja Koresy sehingga ia memerintahkan orang Yahudi pulang kembali ke Kanaan (untuk ini baca Ezra 1 itu sampai dengan ayat 4).

  • Maz 75:7-8 – “Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkanNya yang satu dan ditinggikanNya yang lain”.

Ayat ini menunjukkan bahwa peninggian maupun perendahan seseorang merupakan pekerjaan Allah.

  • Maz 135:6-7 – “TUHAN melakukan apa yang dikehendakiNya, di langit dan di bumi, di laut dan di segenap samudera raya; Ia menaikkan kabut dari ujung bumi, Ia membuat kilat mengikuti hujan, Ia mengeluarkan angin dari dalam perbendaharaanNya”.

Ayat ini menunjukkan bahwa semua yang terjadi di bumi, di laut / samudera raya, baik kabut, kilat, angin, hujan, dsb merupakan pekerjaan Allah.

  • Amsal 16:1,9 – “Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada TUHAN. … Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya”.

Ayat ini menunjukkan bahwa sekalipun manusia bisa memikirkan mana jalan yang terbaik, tetapi baik kata-kata maupun arah langkahnya ditentukan oleh Tuhan (bdk. Amsal 20:24a – “Langkah orang ditentukan oleh TUHAN”).

  • Amsal 16:33 – “Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN”.

Jatuhnya undian kelihatannya terjadi secara kebetulan, tetapi ayat ini mengatakan bahwa itu juga datang dari Tuhan / diatur oleh Tuhan.

  • Amsal 19:21 – “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana”.

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia bisa merencanakan, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.

  • Amsal 21:1 – “Hati raja seperti batang air dalam tangan TUHAN, dialirkannya ke mana Ia ingini”.

Hati raja diarahkan oleh Tuhan sesuai kehendakNya. Sebetulnya tentu saja bukan hati raja saja yang diarahkan oleh Tuhan, tetapi juga hati / pikiran semua manusia. Karena itu, kalau tadi dalam Amsal 16:1,9 dan Amsal 19:21 dikatakan bahwa manusia bisa memikirkan / menimbang jalannya, maka semua itu tetap ada dalam penentuan dan kontrol dari Allah!

  • Amsal 21:31 – “Kuda diperlengkapi untuk hari peperangan, tetapi kemenangan ada di tangan TUHAN”.

Ayat ini menunjukkan bahwa kemenangan dalam perang bukan tergantung persiapan / kekuatan pasukan, tetapi tergantung Tuhan.

  • Amsal 22:2 (NIV) – Rich and poor have this in common: The LORD is the Maker of them all’ (= orang kaya dan miskin mempunyai persamaan dalam hal ini: Tuhan adalah pembuat mereka semua).

Ini sesuai dengan Maz 75:7-8 di atas, dan menunjukkan bahwa orang bisa jadi kaya / miskin karena pekerjaan Tuhan.

  • Pengkhotbah 7:14 – “Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya”.

Ayat ini menunjukkan bahwa hari mujur maupun hari malang juga dijadikan oleh Allah.

  • Yes 45:6b-7 – “Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan men-ciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini”.

Ayat ini menunjukkan bahwa baik nasib mujur maupun nasib malang diciptakan Tuhan.

  • Rat 3:37-38 – “Siapa berfirman, maka semuanya jadi? Bukankah Tuhan yang memerintahkannya? Bukankah dari mulut Yang Mahatinggi keluar apa yang buruk dan apa yang baik?”.

Ayat ini menunjukkan bahwa dari mulut Tuhan keluar apa yang buruk dan yang baik. Dengan kata lain, apa yang buruk ataupun yang baik bisa terjadi hanya karena Tuhan memerintahkan / mengatur supaya hal itu terjadi.

  • Amos 3:6 – “Adakah sangkakala ditiup di suatu kota, dan orang-orang tidak gemetar? Adakah terjadi malapetaka di suatu kota, dan TUHAN tidak melakukannya?”.

Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhanlah yang mengerjakan semua malapetaka.

  • Yak 4:13-16 – keberhasilan dalam usaha kita tergantung pada kehendak Tuhan.

C) Semua ini berhubungan dengan kedaulatan yang mutlak dari Allah.

Bahwa Rencana Allah dan Providence of God berhubungan dengan segala sesuatu menunjukkan bahwa Allah adalah Allah yang berdaulat secara mutlak!

Kata ‘berdaulat’ dalam bahasa Inggris adalah ‘sovereign’, yang berasal dari bahasa Latin superanus (super = above, over). Dan dalam Kamus Webster diberikan definisi sebagai berikut tentang kata ‘sovereign’:

a) above or superior to all others; chief; greatest; supreme (= Di atas atau lebih tinggi dari semua yang lain; pemimpin / kepala; terbesar; tertinggi).

b) supreme in power, rank, or authority (= tertinggi dalam kuasa, tingkat, atau otoritas).

c) of or holding the position of a ruler; royal; reigning (= mempunyai atau memegang posisi sebagai pemerintah; raja; bertahta).

d) independent of all others (= tidak tergantung pada semua yang lain).

Karena itu kalau kita percaya bahwa Allah itu berdaulat, maka kita juga harus percaya bahwa Ia menetapkan segala sesuatu, dan bahwa Ia melaksanakan ketetapanNya itu tanpa tergantung pada siapapun dan apapun di luar diriNya! Jelas adalah omong kosong kalau seseorang berbicara tentang kedaulatan Allah / mengakui kedaulatan Allah, tetapi tidak mempercayai bahwa Rencana Allah dan Providence of God itu mencakup segala sesuatu dalam arti kata yang mutlak!

Louis Berkhof: “Reformed Theology stresses the sovereignty of God in virtue of which He has sovereignly determined from all eternity whatsoever will come to pass, and works His sovereign will in His entire creation, both natural and spiritual, according to His predetermined plan. It is in full agreement with Paul when he says that God ‘worketh all things after the counsel of His will’ (Eph 1:11)” [= Theologia Reformed menekankan kedaulatan Allah atas dasar mana Ia secara berdaulat telah menentukan dari sejak kekekalan apapun yang akan terjadi, dan mengerjakan kehendakNya yang berdaulat dalam seluruh ciptaan-Nya, baik yang bersifat jasmani maupun rohani, menurut rencanaNya yang sudah ditentukan sebelumnya. Ini sesuai dengan Paulus pada waktu ia berkata bahwa Allah ‘mengerjakan segala sesuatu menurut keputusan kehendakNya’ (Ef 1:11)]‘Systematic Theology’, hal 100.

Charles Hodge: “And as God is absolutely sovereign and independent, all his purposes must be determined from within or according to the counsel of his own will. They cannot be supposed to be contingent or suspended on the action of his creatures, or upon anything out of Himself” (= Dan karena Allah itu berdaulat dan tak tergantung secara mutlak, semua rencanaNya harus ditentukan dari dalam atau menurut keputusan kehendakNya sendiri. Mereka tidak bisa diang-gap sebagai kebetulan atau tergantung pada tindakan-tindakan dari makhluk-makhluk ciptaanNya, atau pada apapun di luar diriNya sendiri) ‘Systematic Theology’, vol II, hal 320.

William G. T. Shedd: “Whatever undecreed must be by hap-hazard and accident. If sin does not occur by the Divine purpose and permission, it occurs by chance. And if sin occurs by chance, the deity, as in the ancient pagan theologies, is limited and hampered by it. He is not ‘God over all’. Dualism is introduced into the theory of the universe. Evil is an independent and uncontrollable principle. God governs only in part. Sin with all its effects is beyond his sway. This dualism God condemns as error, in his words to Cyrus by Isaiah, ‘I make peace and create evil’; and in the words of Proverbs 16:4, ‘The Lord hath made all things for himself; yea, even the wicked for the day of evil’” (= Apapun yang tidak ditetapkan pasti ada karena kebetulan. Jika dosa tidak terjadi karena rencana dan ijin ilahi, maka itu terjadi karena kebetulan. Dan jika dosa terjadi karena kebetulan, keilahian, seperti dalam teologi kafir kuno, dibatasi dan dirintangi olehnya. Ia bukanlah ‘Allah atas segala sesuatu’. Dualisme dimasukkan ke dalam teori alam semesta. Kejahatan merupakan suatu elemen hakiki yang tak tergantung dan tak terkontrol. Allah memerintah hanya sebagian. Dosa dengan semua akibatnya ada di luar kekuasaanNya. Dualisme seperti ini dikecam Allah sebagai salah, dalam kata-kata Yesaya kepada Koresy, ‘Aku membuat damai dan menciptakan malapetaka / kejahatan’; dan dalam kata-kata dari Amsal 16:4, ‘Tuhan telah membuat segala sesuatu untuk diriNya sendiri; ya, bahkan orang jahat untuk hari malapetaka’)‘Calvinism: Pure & Mixed’, hal 36.

Catatan: kata-kata Yesaya kepada Koresy itu diambil dari Yes 45:7 versi KJV. Demikian juga Amsal 16:4 diambil dan diterjemahkan dari KJV.

R. C. Sproul: “That God in some sense foreordains whatever comes to pass is a necessary result of his sovereignty. … everything that happens must at least happen by his permission. If he permits something, then he must decide to allow it. If He decides to allow something, then is a sense he is foreordaining it. … To say that God foreordains all that comes to pass is simply to say that God is sovereign over his entire creation. If something could come to pass apart from his sovereign permission, then that which came to pass would frustrate his sovereignty. If God refused to permit something to happen and it happened anyway, then whatever caused it to happen would have more authority and power than God himself. If there is any part of creation outside of God’s sovereignty, then God is simply not sovereign. If God is not sovereign, then God is not God. … Without sovereignty God cannot be God. If we reject divine sovereignty then we must embrace atheism” (= Bahwa Allah dalam arti tertentu menentukan apapun yang akan terjadi merupakan akibat yang harus ada dari kedaulatanNya. … segala sesuatu yang terjadi setidaknya harus terjadi karena ijinNya. Jika Ia mengijinkan sesuatu, maka Ia pasti memutuskan untuk mengijinkannya. Jika Ia memutuskan untuk mengijinkan sesuatu, maka dalam arti tertentu Ia menentukannya. … Mengatakan bahwa Allah menentukan segala sesuatu yang akan terjadi adalah sama dengan mengatakan bahwa Allah itu berdaulat atas segala ciptaanNya. Jika ada sesuatu yang bisa terjadi di luar ijinNya yang berdaulat, maka apa yang terjadi itu menghalangi kedaulatanNya. Jika Allah menolak untuk mengijinkan sesuatu dan hal itu tetap terjadi, maka apapun yang menyebabkan hal itu terjadi mempunyai otoritas dan kuasa yang lebih besar dari Allah sendiri. Jika ada bagian dari ciptaan berada di luar kedaulatan Allah, maka Allah itu tidak berdaulat. Jika Allah tidak berdaulat, maka Allah itu bukanlah Allah. … Tanpa kedaulatan Allah tidak bisa menjadi / adalah Allah. Jika kita menolak kedaulatan ilahi, maka kita harus mempercayai atheisme)‘Chosen By God’, hal 26-27.

Bagian terakhir kata-kata R. C. Sproul ini memang patut diperhatikan / dicamkan. Allah haruslah berdaulat, dan Allah yang tidak berdaulat, bukanlah Allah.

John Murray: “to say that God is sovereign is but to affirm that God is one and that God is God” (= mengatakan bahwa Allah itu berdaulat adalah sama dengan menegaskan bahwa Allah itu satu / esa dan bahwa Allah adalah Allah)‘Collected Writings of John Murray’, vol IV, hal 191.

Karena itulah maka menolak penetapan dan pengaturan ilahi atas segala sesuatu, adalah sama dengan menjadi atheis!

D) Rencana Allah dan pelaksanaannya (Providence of God) tidak terlepas dari sifat-sifat Allah, seperti kasih, bijaksana, dan suci.

Loraine Boettner: “Although the sovereignty of God is universal and absolute, it is not the sovereignty of blind power. It is coupled with infinite wisdom, holiness and love. And this doctrine, when properly understood, is a most comforting and reassuring one. Who would not prefer to have his affairs in the hands of a God of infinite power, wisdom, holiness and love, rather than to have them left to fate, or chance, or irrevocable natural law, or to short-sighted and perverted self? Those who reject God’s sovereignty should consider what alternatives they have left” (= Sekalipun kedaulatan Allah itu bersifat universal dan mutlak, tetapi itu bukanlah kedaulatan dari kuasa yang buta. Itu digabungkan dengan kebijaksanaan, kekudusan dan kasih yang tidak terbatas. Dan doktrin ini, jika dimengerti dengan tepat, adalah doktrin yang paling menghibur dan menenteramkan. Siapa yang tidak lebih menghendaki perkaranya ada dalam tangan Allah yang mempunyai kuasa, kebijaksanaan, kekudusan dan kasih yang tidak terbatas, dari pada menyerahkannya pada nasib / takdir, atau kebetulan, atau hukum alam yang tidak bisa dibatalkan, atau pada diri sendiri yang cupet dan sesat? Mereka yang menolak kedaulatan Allah harus mempertimbangkan alternatif-alternatif lain yang ada)‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 32.

 

-AMIN-


Providence of God II

II. PROVIDENCE TIDAK MUNGKIN GAGAL

A) Rencana Allah sudah ada dalam kekekalan.

Allah mempunyai rencana, dan seluruh rencana Allah itu sudah ada / sudah direncanakan dalam kekekalan.

Kalau manusia membuat rencana, maka manusia membuatnya secara bertahap. Misalnya pada waktu kita ada di SMP kita merencanakan untuk masuk SMA tertentu, dan pada waktu di SMA baru kita merencanakan untuk masuk perguruan tinggi tertentu. Setelah lulus dari perguruan tinggi, baru kita merencanakan untuk bekerja di tempat tertentu, dsb. Tidak ada manusia yang dari lahir lalu bisa merencanakan segala sesuatu dalam seluruh hidupnya! Mengapa? Karena manusia tidak maha tahu sehingga ia tidak mampu melakukan hal itu. Manusia membutuhkan penambahan pengetahuan untuk bisa membuat rencana lanjutan. Tetapi Allah yang maha tahu dan maha bijaksana, merencanakan seluruh rencanaNya sejak semula!

Dasar Kitab Suci:

2Raja 19:25 – “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari, dan telah merancangnya pada zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu”.

Maz 139:16 – “mataMu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya“.

Yes 25:1 – “Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi namaMu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancanganMu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu“.

Yes 37:26 – “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari dan telah merancangnya dari zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu”.

Yes 46:10 – “yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan”.

Mat 25:34 – “Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kananNya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh BapaKu, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan“.

Ef 1:4-5 – “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya”.

2Tes 2:13 – “Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai”.

2Tim 1:9 – “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman“.

John Owen: “If God’s determination concerning any thing should have a temporal original, it must needs be either because he then perceived some goodness in it of which before he was ignorant, or else because some accident did affix a real goodness to some state of things which it had not from him; neither of which, without abominable blasphemy, can be affirmed, seeing he knoweth the end from the beginning” (= Jika penentuan Allah tentang sesuatu apapun mempunyai asal usul dalam waktu, itu pasti disebabkan atau karena Ia pada saat itu melihat suatu kebaikan dalam hal itu yang tidak diketahuiNya sebelumnya, atau karena ada suatu kecelakaan yang melekatkan kebaikan yang sungguh-sungguh pada suatu keadaan yang tidak datang dari Dia; yang manapun dari dua hal ini tidak bisa ditegaskan tanpa melakukan suatu penghujatan yang menjijikkan, karena Ia mengetahui akhirnya dari semula)‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 20.

B) Rencana Allah itu tidak mungkin berubah / gagal.

Orang Arminian / non Reformed percaya bahwa Allah bisa mengubah rencanaNya, dan percaya bahwa rencana Allah bisa gagal. Sebetulnya ini merupakan suatu penghinaan bagi Allah, karena ini menyamakan Allah dengan manusia, yang sering harus mengubah rencananya dan gagal dalam mencapai rencananya!

Orang Reformed percaya bahwa rencana Allah tidak mungkin berubah ataupun gagal.

Charles Hodge: “Change of purpose arises either from the want of wisdom or from the want of power. As God is infinite in wisdom and power, there can be with Him no unforeseen emergency and no inadequacy of means, and nothing can resist the execution of his original intention” (= Perubahan rencana timbul atau karena kekurangan hikmat atau karena kekurangan kuasa. Karena Allah itu tidak terbatas dalam hikmat dan kuasa, maka dengan Dia tidak bisa ada keadaan darurat yang tidak dilihat lebih dulu, dan tidak ada kekurangan jalan / cara, dan tidak ada yang bisa menahan / menolak pelaksanaan dari maksud / rencana yang semula)‘Systematic Theology’, vol I, hal 538-539.

John Owen: “Whatsoever God hath determined, according to the counsel of his wisdom and good pleasure of his will, to be accomplished, to the praise of his glory, standeth sure and immutable” (= Apapun yang Allah telah tentukan, menurut rencana hikmatNya dan kerelaan kehendakNya, untuk terjadi, untuk memuji kemuliaanNya, berdiri teguh dan tetap / tak berubah)‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 20.

William Hendriksen: “God’s eternal decree is absolutely unchangeable and is sure to be realized” (= Ketetapan kekal Allah secara mutlak tidak bisa berubah dan pasti akan terwujud)‘The Gospel of John’, hal 250.

William G. T. Shedd mengutip kata-kata Augustine (dari buku ‘Confession’, XII. xv.) yang berbunyi sebagai berikut:

“God willeth not one thing now, and another anon; but once, and at once, and always, he willeth all things that he willeth; not again and again, nor now this, now that; nor willeth afterwards, what before he willed not, nor willeth not, what before he willed; because such a will is mutable; and no mutable thing is eternal” (= Allah tidak menghendaki sesuatu hal sekarang, dan sebentar lagi menghendaki yang lain; tetapi sekali, dan serentak, dan selalu, Ia menghendaki semua hal yang ia kehendaki; bukannya lagi dan lagi, atau sebentar ini sebentar itu; atau menghendaki setelahnya apa yang tadinya tidak Ia kehendaki, atau tidak menghendaki apa yang tadinya Ia kehendaki; karena kehendak seperti itu bisa berubah; dan tidak ada hal yang bisa berubah yang kekal)‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 395.

Ada banyak alasan / dasar yang menyebabkan kita harus percaya bahwa Allah tidak mungkin mengubah rencanaNya atau gagal dalam mencapai rencanaNya, yaitu:

1)     Adanya ayat-ayat yang secara jelas menunjukkan bahwa rencana Allah tidak mungkin gagal, seperti:

Bil 23:19 – “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?”.

1Sam 15:29 – “Lagi Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal; sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal”.

Maz 33:10-11 – “TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hatiNya turun-temurun“.

Yer 4:28 – “Karena hal ini bumi akan berkabung, dan langit di atas akan menjadi gelap, sebab Aku telah mengatakannya, Aku telah merancangnya, Aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu“.

2)     Kemahatahuan Allah.

Pada waktu Allah merencanakan, bukankah Ia sudah tahu apakah rencanaNya akan berhasil atau gagal? Kalau Ia tahu bahwa rencanaNya akan gagal, lalu mengapa Ia tetap merencanakannya?

3)     Kemahabijaksanaan Allah.

Kebijaksanaan Allah menyebabkan Ia pasti membuat rencana yang terbaik. Kalau rencana ini lalu diubah, maka akan menjadi bukan yang terbaik. Ini tidak mungkin!

4)     Kemahakuasaan Allah.

Manusia sering gagal mencapai rencananya atau terpaksa mengubah rencananya karena ia tidak maha kuasa, sehingga tidak mampu untuk mencapai / melaksanakan rencananya. Tetapi Allah yang maha kuasa tidak mungkin gagal mencapai rencanaNya atau terpaksa harus mengubah rencanaNya! Ini terlihat dari ayat-ayat di bawah ini.

Yes 14:24,26-27 – “TUHAN semesta alam telah bersumpah, firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: … Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bangsa. TUHAN semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? TanganNya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?“.

Yes 25:1 – “Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi namaMu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancanganMu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu”.

Yes 37:26 – “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari dan telah merancangnya dari zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu”.

Yes 43:13 – “Juga seterusnya Aku tetap Dia, dan tidak ada yang dapat melepaskan dari tanganKu; Aku melakukannya, siapakah yang dapat mencegahnya?“.

5)     Kedaulatan Allah.

Kedaulatan Allah tidak memungkinkan Ia untuk mengubah rencanaNya, karena perubahan rencana membuat Ia menjadi tergantung pada situasi dan kondisi (tidak lagi berdaulat).

C) Providence / pelaksanaan Rencana Allah tidak mungkin gagal.

Dasar Kitab Suci dari pandangan ini:

Ayub 42:1-2 – “Maka jawab Ayub kepada TUHAN: ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal’”.

Yes 14:24,26-27 – “TUHAN semesta alam telah bersumpah, firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: … Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bangsa. TUHAN semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? TanganNya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?“.

Yes 46:10-11 – “yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan, yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusanKu dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya“.

Charles Hodge: “If He foreordains whatsoever comes to pass, then events correspond to his purposes; and it is against reason and Scripture to suppose that there is any contradiction or want of correspondence between what He intended and what actually occurs” (= Jika Ia menentukan lebih dulu apapun yang akan terjadi, maka peristiwa-peristiwa akan cocok / sama dengan rencanaNya; dan adalah bertentangan dengan akal dan Kitab Suci untuk menganggap bahwa ada kontradiksi atau ketidakcocokkan antara apa yang Ia maksudkan dan apa yang sungguh-sungguh terjadi)‘Systematic Theology’, vol II, hal 323.

Contoh:

  • Allah merencanakan supaya Rut dan Boas menikah dan dari pernikahan itu mereka menurunkan Yesus / Mesias.

Kelihatannya Rencana Allah ini sukar terlaksana karena Rut ada di Moab dan Boas ada di Yehuda. Tetapi Allah yang maha kuasa itu mengatur sehingga hal itu akhirnya terjadi juga, sehingga mereka menikah dan akhirnya menurunkan Yesus (baca Rut 1-4).

  • Allah merencanakan bahwa Yesus akan lahir di Betlehem (Mikha 5:1 Luk 2:1-7). Kelihatannya Rencana Allah yang satu ini akan gagal, karena Maria sudah hamil besar dan pada saat itu ia masih ada di Nazaret. Tetapi Allah mengatur dengan menggerakkan hati kaisar untuk mengadakan sensus (bdk. Amsal 21:1) sehingga Yusuf dan Maria terpaksa pergi ke Betlehem dan akhirnya Yesus lahir di Betlehem.

D) Problem ‘Allah menyesal’.

Ada banyak ayat Kitab Suci yang mengatakan bahwa Allah menyesal, seperti Kej 6:5-6 Kel 32:10-14 1Sam 15:11a,35b Yes 38:1,5 Yer 18:8 Yunus 3:10 Amos 7:3,6. Apakah ini berarti bahwa Allah mengubah RencanaNya? Saya menjawab: Tidak!

Penjelasan:

1)       Prinsip Hermeneutics yang sangat penting adalah: kita tidak boleh menafsirkan suatu bagian Kitab Suci sehingga bertentangan dengan bagian lain dari Kitab Suci. Karena itu, maka penafsiran ayat-ayat pada point D) ini tidak boleh bertentangan dengan ayat-ayat pada point B) dan C) di atas. Kalau kita menafsirkan bahwa ‘Allah menyesal’ dalam ayat-ayat di sini memang menunjukkan bahwa Allah mengubah rencanaNya, maka jelas bahwa ayat-ayat ini akan bertentangan dengan ayat-ayat pada point B) dan C) di atas.

2)       ‘Allah menyesal’ adalah bahasa Anthropopathy.

Kitab Suci sering menggunakan bahasa Anthropomorphism (bahasa yang menggambarkan Allah seakan-akan Ia adalah manusia) dan Anthropopathy (bahasa yang menggambarkan Allah dengan perasaan-perasaan manusia). Kalau Kitab Suci menggunakan bahasa Anthropomorphism, maka tidak boleh diartikan betul-betul demikian. Misalnya pada waktu dikatakan ‘tangan Allah tidak kurang panjang’ (Yes 59:1), atau pada waktu dikatakan ‘mata TUHAN ada di segala tempat’ (Amsal 15:3), ini tentu tidak berarti bahwa Allah betul-betul mempunyai tangan / mata. Ingat bahwa Allah adalah Roh (Yoh 4:24). Contoh lain adalah Kel 31:17b – “sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh Ia berhenti bekerja untuk beristirahat”. NIV menterjemahkan seperti Kitab Suci Indonesia, tetapi KJV, RSV, NASB menterjemahkan secara berbeda.

KJV: ‘for in six days the LORD made heaven and earth, and on the seventh day he rested, and was refreshed (= karena dalam enam hari TUHAN membuat langit dan bumi, dan pada hari ketujuh Ia beristirahat, dan segar kembali).

Jelas bahwa kita tidak bisa menafsirkan ayat ini seakan-akan Allahnya loyo setelah bekerja berat selama enam hari, dan lalu setelah beristirahat pada hari yang ketujuh, Ia lalu segar kembali / pulih kekuatanNya! Ayat ini hanya menggambarkan Allah seakan-akan Ia adalah manusia yang bisa letih, dan bisa segar kembali.

Demikian juga pada waktu Kitab Suci menggunakan Anthropopathy (bahasa yang menggambarkan Allah menggunakan perasaan-perasaan manusia), maka kita tidak boleh mengartikan bahwa Allahnya betul-betul seperti itu. Contohnya adalah ayat-ayat yang menunjukkan ‘Allah menyesal’ ini.

Perlu juga saudara ingat bahwa manusia bisa menyesal, karena ia tidak maha tahu. Misalnya, seorang laki-laki melihat seorang gadis dan ia menyangka gadis itu seorang yang layak ia peristri. Tetapi setelah menikah, barulah ia tahu akan adanya banyak hal jelek dalam diri istrinya itu yang tadinya tidak ia ketahui. Ini menyebabkan ia lalu menyesal telah memperistri gadis itu.

Tetapi Allah itu maha tahu, sehingga dari semula Ia telah tahu segala sesuatu yang akan terjadi. Karena itu tidak mungkin Ia bisa menyesal!

Kalau Kitab Suci mengatakan bahwa Allah menyesal karena terjadinya sesuatu hal, maka maksudnya hanyalah menunjukkan bahwa hal itu tidak menyenangkan Allah. Calvin mengatakan bahwa ‘Allah menyesal’ hanya menunjukkan perubahan tindakan.

Calvin: “Now the mode of accommodation is for him to represent himself to us not as he is in himself, but as he seems to us. Although he is beyond all disturbance of mind, yet he testifies that he is angry toward sinners. Therefore whenever we hear that God is angered, we ought not to imagine any emotion in him, but rather to consider that this expression has been taken from our human experience; because God, whenever he is exercising judgment, exhibits the appearance of one kindled and angered. So we ought not to understand anything else under the word ‘repentance’ than change of action, …” (= Cara penyesuaian adalah dengan menyatakan diriNya sendiri kepada kita bukan sebagaimana adanya Ia dalam diriNya sendiri, tetapi seperti Ia terlihat oleh kita. Sekalipun Ia ada di atas segala gangguan pikiran, tetapi Ia menyaksikan bahwa Ia marah kepada orang-orang berdosa. Karena itu setiap saat kita mendengar bahwa Allah marah, kita tidak boleh membayangkan adanya emosi apapun dalam Dia, tetapi menganggap bahwa pernyataan ini diambil dari pengalaman manusia; karena Allah, pada waktu Ia melakukan penghakiman, menunjukkan diri seperti seseorang yang marah. Demikian juga kita tidak boleh mengartikan apapun yang lain terhadap kata ‘penyesalan’ selain perubahan tindakan, …)‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, no 13.

3)       Pada waktu Kitab Suci mengatakan ‘Allah menyesal’ maka itu berarti bahwa hal itu ditinjau dari sudut pandang manusia.

Illustrasi:

Ada seorang sutradara yang menyusun naskah untuk sandiwara, dan ia juga sekaligus menjadi salah satu pemain sandiwara tersebut. Dalam sandiwara itu ditunjukkan bahwa ia mau makan, tetapi tiba-tiba ada telpon, sehingga ia lalu tidak jadi makan. Dari sudut penonton, pemain sandiwara itu berubah pikiran / rencana. Tetapi kalau ditinjau dari sudut naskah / sutradara, ia sama sekali tidak berubah dari rencana semula, karena dalam naskah sudah direncanakan bahwa ia mau makan, lalu ada telpon, lalu ia mengubah rencana / pikirannya, dsb.

Pada waktu Kitab Suci berkata ‘Allah menyesal’ maka memang dari sudut manusia, Allahnya menyesal / mengubah rencanaNya. Tetapi dari sudut Allah / Rencana Allah, sebetulnya tidak ada perubahan, karena semua perubahan / penyesalan itu sudah direncanakan oleh Allah.

Dengan demikian jelaslah bahwa kata-kata ‘Allah menyesal’ dalam Kitab Suci, tidak menunjukkan bahwa Allah bisa mengubah rencanaNya!

-AMIN-


Providence of God

I. PENDAHULUAN & DEFINISI

A) Pendahuluan.

1)     Doktrin Providence of God / Providensia Allah ini adalah sesuatu yang sangat penting bagi kita.

Calvin:

  • “Ignorance of Providence is the ultimate of all miseries; the highest blessedness lies in the knowledge of it” (= Ketidaktahuan tentang Providensia adalah asal mula semua kesengsaraan; berkat yang terbesar terletak dalam pengenalan tentang providensia)‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, No 11.
  • “Nothing is more profitable than the knowledge of this doctrine” (= Tidak ada yang lebih berguna dari pada pengenalan tentang doktrin ini)‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, No 3.

Saya menuliskan hal ini pada bagian ‘Pendahuluan’ untuk memotivasi saudara mempelajari doktrin Providence of God ini. Tentang apa pentingnya / kegunaannya doktrin ini bagi kita, akan saya bahas di belakang (pelajaran VII).

Sekalipun doktrin Providence of God ini penting, tetapi doktrin ini tidak boleh diajarkan secara sembarangan kepada sembarang orang, karena:

 

a) Doktrin ini termasuk ‘makanan keras’ yang tidak cocok untuk bayi kristen, apalagi untuk orang yang belum sungguh-sungguh percaya kepada Kristus.

b) Doktrin ini bisa ditanggapi secara salah, khususnya kalau diajarkan kepada orang yang belum waktunya belajar doktrin ini. Ini saya bahas di belakang pada pelajaran VI, no 7.

Karena itu jangan menyebarkan ajaran ini / memberikan buku ini, kecuali kepada orang kristen yang sudah dewasa dalam iman, dan yang sudah mempelajari doktrin dasar Reformed yang lain, seperti Kedaulatan Allah, Predestinasi, dsb.

2)     Siapa saja tokoh-tokoh yang mempercayai / mengajarkan doktrin Providence of God ini?

Doktrin ini dipercaya dan diajarkan oleh: Agustinus, John Calvin, Martin Luther, Jerome Zanchius, John Owen, Charles Hodge, R. L. Dabney, Louis Berkhof, Loraine Boettner, William G. T. Shedd, Herman Hoeksema, Herman Bavinck, G. C. Berkouwer, B. B. Warfield, John Murray, Gresham Machen, William Hendriksen, Arthur W. Pink, dsb. Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada satupun orang Reformed yang sejati yang tidak mempercayai doktrin ini. Juga doktrin ini masuk dalam Westminster Confession of Faith, yang merupakan pengakuan iman dari gereja-gereja Reformed / Presbyterian di Amerika.

Catatan: untuk membuktikan kata-kata saya ini, maka di bagian belakang / terakhir buku ini saya memberikan banyak kutipan, baik dari Westminster Confession of Faith maupun dari Calvin dan dari para ahli theologia Reformed.

Karena itu saya berpendapat bahwa:

  • orang yang mengaku dirinya Reformed, tetapi tidak percaya pada doktrin ini, sebetulnya paling banter hanyalah orang yang Semi-Reformed!
  • jika ada orang mengatakan bahwa ajaran ini adalah ajaran Hyper-Calvinisme, maka itu berarti orang itu tidak mengerti apa Calvinisme itu, atau lebih jelek lagi, orang itu adalah seorang pemfitnah!

B) Definisi ‘Providence’.

Kalau dilihat dalam kamus, maka ‘Providence’ berarti ‘pemeliharaan baik’. Tetapi dalam Theologia, ‘Providence’ berarti lebih dari sekedar ‘pemeliharaan baik’. ‘Providence’ adalah pelaksanaan yang tidak mungkin gagal dari Rencana Allah, atau, pemerintahan / pengaturan terhadap segala sesuatu sehingga Rencana Allah terlaksana.

Setidaknya itulah pandangan B. B. Warfield yang berkata:

“His works of providence are merely the execution of His all-embracing plan” (= PekerjaanNya dalam providensia semata-mata merupakan pelaksanaan dari rencanaNya yang mencakup segala sesuatu)‘Biblical and Theological Studies’, hal 281.

Jadi sekalipun Providence berbeda dengan Rencana Allah, tetapi keduanya berhubungan sangat erat.

G. C. Berkouwer kelihatannya memberikan definisi tentang ‘Providence’ yang agak berbeda ketika ia berkata:
“… the Heidelberg Catechism when it, in Lord’s Day 10, describes Providence as the almighty and omnipresent power of God by which He upholds and governs all things (= … Katekismus Heidelberg pada waktu katekismus itu, pada Hari Tuhan ke 10, menggambarkan Providensia sebagai kuasa Allah yang maha kuasa dan maha ada dengan mana Ia menopang dan memerintah segala sesuatu)‘Studies In Dogmatics: The Providence of God’, hal 50.

Definisi dari G. C. Berkouwer ini mirip dengan definisi Calvin tentang ‘Providence’, karena Calvin berkata:
“… providence means not that by which God idly observes from heaven what takes place on earth, but that by which, as keeper of the keys, he governs all events (= … providensia tidak berarti sesuatu dengan mana Allah dengan bermalas-malasan / tak berbuat apa-apa mengawasi dari surga apa yang terjadi di bumi, tetapi sesuatu dengan mana, seperti seorang penjaga kunci, Ia memerintah segala kejadian)‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVI, no 4.

Sedangkan John Owen menganggap bahwa ‘Providence’ merupakan semua pekerjaan Allah di luar diriNya.

John Owen: “Providence is a word which, in its proper signification, may seem to comprehend all the actions of God that outwardly are of him, that have any respect unto his creatures, all his works that are not ad intra, essentially belonging unto the Deity” (= Providensia adalah suatu kata yang, dalam artinya yang benar, kelihatannya meliputi semua tindakan Allah yang ada di luar diriNya, yang berkenaan dengan ciptaanNya, semua pekerjaan-pekerjaanNya yang tidak termasuk ad intra, yang secara hakiki merupakan milik Allah)‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 31.

Catatan: pekerjaan yang termasuk  ad intra adalah pekerjaan-pekerjaan di dalam diri Allah Tritunggal, seperti ‘the eternal generation of the Son’ dan ‘the eternal procession of the Holy Spirit’.



Alkitab =? Kebenaran ABSOLUT

Alkitab =? Kebenaran ABSOLUT

Dalam seminar dengan tema “Wahyu dan Pengwahyu” Pdt. Stephen Tong menceritakan sebuah tanya jawab antara seorang jemaat dengan pendetanya. Orang tersebut menantang Pak Pendeta, “Tolong buktikan bahwa Alkitab itu benar!” Lalu Sang Pendeta menjawab, “Baik, mari kita sama-sama buka Alkitab dari 2 Timotius 3:16….” Tetapi segera dipotong oleh jemaat tersebut, “Tunggu Pak, masak membuktikan kebenaran Alkitab dengan Alkitab?” Ini sebenarnya tipikal dialog yang sering terjadi. Kadang kita sendiri juga penasaran dan ingin mencari bukti mengapa Alkitab itu dianggap sebagai standar kebenaran yang absolut. Mana buktinya bahwa Alkitab adalah standar kebenaran yang absolut? Jawaban yang sering kita terima adalah: “Buktinya adalah bahwa Alkitab menyatakan demikian.” “Ah, apa tidak ada yang lain? Misalnya bukti secara sains, atau bukti arkeologi tentang hal-hal di dalam Alkitab, atau ada kitab dalam Alkitab yang bisa digunakan untuk meramal politik internasional saat ini, atau apalah…, tapi jangan bilang dong kalau buktinya itu didapat dari Alkitab sendiri… itu sih namanya muter-muter doang….” Seringkali kita juga berpikir demikian, iya kan? Walaupun kita tahu sebenarnya satu-satunya hal yang dapat mengesahkan otoritas Alkitab adalah Alkitab itu sendiri.

Basic Belief dan Realita

Pertama-tama kita akan mengikuti golongan Reformed Epistemologist, yang beranggotakan sekumpulan filsuf yang memegang Reformed Theology. Mereka menulis esai-esai yang dikumpulkan dalam buku berjudul “Faith and Rationality.” Buku ini diedit oleh dua orang terkenal. Satu adalah ahli filsafat analitis, Alvin Plantinga, sedangkan satu lagi adalah Nicholas Wolterstorff, orang yang pemikirannya diakui dalam banyak bidang. Buku ini intinya membahas tentang keabsahan suatu kepercayaan. Mereka menyatakan bahwa dalam diri manusia ada yang disebut dengan basic belief. Basic belief adalah suatu kepercayaan dasar yang dipegang seseorang walaupun tidak ada bukti yang cukup mengapa ia berpegang kepada kepercayaan tersebut. Kepercayaan dasar ini mendasari cara pandang seseorang dan juga mempengaruhi cara berpikir seseorang. Seorang anggota GRII ketika membaca dalam Alkitab bahwa Tuhan Yesus berjalan di atas air akan berkata, “Ini adalah bukti bahwa Tuhan Yesus adalah Allah!” Tetapi seorang Liberal akan berkata, “Ah, ini adalah bukti bahwa catatan Alkitab itu penuh dengan mitos dari gereja mula-mula… masak ada orang berjalan di atas air?” Mengapa bisa berbeda begini? Karena basic belief yang berbeda membuat tiap-tiap orang memiliki cara pandang yang berbeda terhadap suatu hal yang sama.

Apa sebenarnya basic belief ini? Salah satu jawaban diberikan oleh George Mavrodes. Profesor filsafat dari University of Michigan ini memberikan suatu penjelasan bahwa basic belief terjadi dalam “wadah” di mana seseorang mempercayai sesuatu tanpa perlu memperoleh dukungan bukti atau argumentasi rasional mengapa dia percaya. Wadah ini merupakan sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan.[1] Seseorang dapat saja menjadi Kristen karena ia percaya bahwa Yesus Kristus bangkit dari antara orang mati, dan mengapa ia bisa percaya bahwa Yesus Kristus bangkit dari antara orang mati tidak dapat dijelaskan, karena wadah untuk menampung basic belief-nya seolah-olah di-set untuk dapat menerima hal ini. Ia tidak perlu memperoleh penjelasan rasional apa pun untuk hal ini. Setiap orang memiliki basic belief dan setiap orang boleh mempercayai sesuatu secara absah tanpa dukungan bukti apa pun. Misalkan ada orang yang percaya bahwa roh nenek moyangnya masih berkeliaran di dunia ini, dan karena itu roh nenek moyang ini diberikan kopi tiap pagi. Kalau kita berkata bahwa roh nenek moyangnya sudah tidak ada di dunia ini, dan yang pasti sudah tidak bisa minum kopi lagi, maka dia akan menolak untuk setuju dengan kita. Kalau kita meminta bukti kehadiran nenek moyangnya, ia akan berkata, “Dia ada tapi tidak kelihatan, tidak teraba, tidak terdengar, tapi pokoknya ada.” “Lho? Bagaimana tahu dia ada?” “Yah, saya percaya saja bahwa dia ada.” Nah, inilah yang namanya basic belief. Tidak perlu bukti secara rasional, empiris, dan sebagainya.

Tetapi di sini ada sedikit masalah. Bukankah ini berarti bahwa semua kepercayaan dan agama tidak bisa disangkal keabsahannya? Apa perbedaan orang Kristen yang dengan basic belief-nya mempercayai Tuhan Yesus dengan orang Islam yang mempercayai Allahnya Mohammad? Karena itu John Frame dalam 5 Views on Apologetics mengatakan bahwa basic belief baru dapat dipegang secara sah hanya bila basic belief tersebut sesuai dengan realita.[2] Lalu apa itu realita? Bagaimana kita tahu realita itu benar adanya?

Basic True Belief

Untuk menjawab pertanyaan di atas, Van Til[3] menyimpulkan epistemologi yang benar ke dalam dua langkah. Pertama adalah bahwa Allah mengetahui segala sesuatu tentang segala sesuatu. Dengan demikian, Ia adalah satu-satunya Sumber pengetahuan sejati mengenai realita. Yang kedua adalah bahwa pikiran manusia diciptakan untuk tunduk kepada otoritas Allah, atau meminjam istilah Van Til, berpikir secara analogis (thinking God’s thought after Him).[4] Otak kita ini tidak diciptakan Tuhan untuk berpikir secara otonomi melainkan untuk tunduk kepada Allah. Dengan demikian, Allah berdaulat memilih apa yang ingin Dia nyatakan dan berdaulat memilih bagaimana Dia menyatakannya.

Allah dalam kedaulatan-Nya telah memilih Alkitab sebagai cara untuk menyatakan Diri-Nya dan kehendak-Nya secara tertulis bagi kita supaya kita tunduk kepada-Nya. Karena itu Alkitab berotoritas tertinggi sehingga tidak ada yang dapat membuktikan dan mengesahkan keabsahan otoritas Alkitab kecuali Alkitab sendiri. Mengapa? Karena Allah menyatakan demikian. Bagaimana Allah menyatakannya? Dengan Firman-Nya di dalam Alkitab. Alkitab adalah satu-satunya sumber yang berhak menentukan sah tidaknya Alkitab dijadikan ukuran kebenaran absolut. Tetapi bukankah ini sih sama saja dengan komentar pada awal pembahasan kita? “…kita cuma muter-muter doang….” Tetapi mari kita pikirkan dulu… kalau Alkitab adalah kebenaran mutlak dengan otoritas tertinggi, dapatkah kita memakai sesuatu di luar Alkitab untuk membuktikan sah atau tidaknya klaim ini? Tidak! Karena dengan demikian kita sedang melengserkan Alkitab sebagai otoritas paling tinggi dengan sesuatu di luar Alkitab.[5] Jika Alkitab itu benar karena ada bukti secara rasio manusia, maka sebenarnya Alkitab berada di bawah penilaian pemikiran rasional kita. Jika Alkitab itu benar karena dibuktikan oleh penggalian arkeologis dan lain-lain, maka Alkitab sebenarnya bukanlah otoritas tertinggi. Ini dikarenakan posisi Alkitab yang adalah otoritas tertinggi, sehingga keabsahan Alkitab sebagai otoritas tertinggi hanya dapat disahkan oleh klaim otoritas tertinggi itu sendiri, yaitu Alkitab. Cara berpikir ini pun (circular thinking) sebenarnya kita pakai dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita membuktikan matematika dengan rumusan matematika, kita membenarkan suatu politik dengan cara politik, kimia dengan rumusan kimia, dan sebagainya. Semuanya akan menjadi absurd jikalau kita mencoba membuktikan suatu persamaan matematika dengan cara militer, atau rumusan kimia dengan politik, dan sebagainya. Jadi, circular thinking merupakan cara yang diakui dan sah dalam pembuktian, tetapi mengapa manusia justru protes ketika dipakai dalam pembuktian otoritas Alkitab?

Alkitab Sulit untuk di-“Trace Back” …

“Rasul” bagi teolog-teolog Liberal, Immanuel Kant, dalam buku Religion Within The Limits of Reason Alone mengaplikasikan pemikirannya tentang dunia noumena yang tidak mungkin diketahui dan dunia fenomena yang dapat kita pahami. Menurut Kant, Allah adalah sesuatu yang tidak mungkin diketahui, sehingga adalah sesuatu yang terlalu berani jika kita mengatakan bahwa kita mengenal Dia melalui Alkitab. Konsekuensinya, sulit untuk mengatakan Alkitab adalah Firman Allah, karena untuk mengenal Alkitab secara penuh, kita harus menelusuri dan melintasi sejarah serta perbedaan budaya dan bahasa hingga zaman tulisan-tulisan itu ditulis.[6] Ini adalah hal yang tidak mungkin dilakukan dengan akurat sekarang, ribuan tahun setelah penulisan Alkitab. Dan karena itu juga, tidak mungkin Alkitab yang sulit untuk diketahui akarnya ini dijadikan otoritas tertinggi bagi manusia. Teolog-teolog modern yang mengidolakan Kant pun bermunculan di abad 20-an dan Alkitab dijadikan sasaran penilaian rasio dan obyek riset sebelum ditentukan layak tidaknya Alkitab memegang otoritas tertinggi bagi manusia.

Rudolf Bultmann mengatakan bahwa kita harus membersihkan Alkitab dari hal-hal supranatural karena itu hanya legenda, mitos, atau cerita rakyat saja. Schweitzer menulis buku yang dipenuhi oleh pemikiran dari orang-orang yang setuju bahwa Yesus yang asli sudah tidak bisa dikenal lagi karena catatan yang ada di dalam Alkitab sudah diberi terlalu banyak “bumbu”. Jadi menurut mereka Alkitab kita tidak bisa dipercaya karena terlalu banyak “bumbu” sehingga “rasa” aslinya hilang. Menurut Bultmann, kita harus melakukan demitologisasi atau pembersihan Alkitab dari mitos-mitos, maka Tuhan kita yang asli, kerygma, atau berita yang sesungguhnya akan muncul. Akibatnya, Tuhan Yesus tidak pernah berjalan di atas air, tidak pernah menyembuhkan orang sakit, apalagi membangkitkan orang mati, lebih-lebih sendirinya bangkit dari kematian pada hari ketiga. Ini keterlaluan! Hanya orang-orang Kristen yang kurang pendidikan, yang masih percaya dongeng orang-orang kampung, dan yang masih terbelakang saja yang mau terima Alkitab yang terlalu banyak “bumbu”!

Awal abad ke-20 muncul seorang pendeta dari gereja kecil di Swiss yang bernama Karl Barth.[7] Barth menentang orang-orang Liberal, termasuk gurunya sendiri, Adolf von Harnack. Menurut Barth mereka terlalu membumikan Allah dengan mengurung Dia hanya dalam wilayah etika manusia dan menjadikan Dia objek penyelidikan para teolog yang notabene hanya manusia. Seharusnya Allah itu berbeda secara mutlak dengan kita (the Wholly Other). Kita tidak mungkin menjadikan Dia obyek penyelidikan karena kita tidak mungkin tahu siapa Dia kecuali Dia mewahyukan diri. Bagaimana cara Allah mewahyukan diri? Di dalam Kristus. Menurut Barth, Kristus adalah satu-satunya wahyu Allah. Bukan Alkitab! Allah tidak boleh disamakan dengan tulisan-tulisan manusia! Ini penghinaan! Jadi Barth menentang Liberalisme dengan semangat yang sama dengan orang-orang Liberal, dia juga sangat dipengaruhi Kant. Orang Liberal mengatakan Alkitab hanyalah tulisan biasa yang banyak mitos. Barth mengatakan, ”Tidak, hanya secara fenomena Alkitab tulisan biasa, tetapi secara noumena Alkitab dapat menjadi Firman Tuhan.“ Alkitab dapat menjadi wadah Tuhan berfirman kepada kita. Orang Liberal mengatakan keberadaan Yesus itu diragukan kesejarahannya. Mungkin saja tokoh Yesus dalam Alkitab ini hanya mitos saja… Barth mengatakan, ”Tidak. Tidak masalah Yesus 2000 tahun yang lalu itu seperti apa. Itu hanya permasalahan dalam lingkup fenomena, tetapi secara noumena di dalam Kristus Allah mewahyukan diri bagi manusia.” Orang Liberal berkata tidak benar kalau Yesus bangkit, Barth mengatakan bahwa itu semua hanya masalah fenomena, yaitu sejarah (Historie). Yang penting secara noumena kematian Yesus membebaskan kita dari dosa. Yang penting adalah makna sejarah secara noumena (Geschichte), dan bukan sejarah (Historie). Pemikiran Barth ini seperti mengatakan bahwa tidak masalah entah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 pernah benar-benar terjadi atau tidak, yang penting maknanya. Kalau kita percaya makna proklamasi, terlepas dari benar-benar pernah terjadi atau tidak, maka kita akan lebih nasionalis lagi, lebih mencintai Indonesia Pusaka. Tetapi apakah sah mempercayai sesuatu yang tidak benar-benar terjadi? Kalau Kristus tidak benar-benar mati dan bangkit di dalam sejarah, apa makna percaya kepada-Nya? Betapa bahayanya menggantungkan iman kepada hal yang tidak jelas seperti ini. Semua ini terjadi karena para teolog modern, dan juga Barth, meletakkan rasio sebagai otoritas tertinggi. Hal-hal di dalam Alkitab yang tidak cocok dengan rasio harus “dicocokkan” dulu. Jadi, bukan manusia (rasio) tunduk kepada wahyu Tuhan, tetapi menundukkan wahyu Tuhan kepada otoritas rasio. Inilah ciri utama dari pemikiran manusia berdosa yang berusaha otonom dari otoritas kedaulatan Allah dan Firman-Nya, seperti yang dikatakan Van Til.

Tidak Mungkin Dimengerti?

Baiklah, tetapi pernyataan Kant mengenai ketidakmungkinan untuk memahami Alkitab belum selesai terjawab. Apakah memang mustahil untuk memahami Alkitab? Apakah Alkitab mirip dengan buku-buku tulisan Hegel, seorang filsuf Jerman? Hegel bisa menuliskan kalimat yang terdiri dari 80 kata, dan kita bisa melewati berlembar-lembar halaman yang penuh dengan kalimat-kalimat seperti ini tanpa tahu apa yang sedang ia bicarakan. Apakah Alkitab seperti itu? Atau sebenarnya Alkitab dituliskan dengan maksud agar umat Tuhan bisa mengenal Tuhan (sementara Hegel mungkin sengaja membuat kita bingung agar kita merasa diri kita bodoh dan menganggap Hegel pandai). Jelas, Alkitab dituliskan agar manusia bisa mengerti kehendak-Nya, walaupun benar bahwa Alkitab menuliskan banyak hal yang secara rasional tidak dapat dipahami dan banyak hal yang sangat sulit dimengerti. Di sinilah letak penundukkan rasio kepada otoritas Alkitab yang juga mencakup penerimaan dengan iman akan hal-hal yang tak terpahami oleh rasio manusia yang terbatas ini, maupun kesungguhan untuk secara bertahap dan terus-menerus belajar mengetahui hal-hal yang membutuhkan proses untuk dipahami. Tetapi, sekali lagi, Alkitab adalah tulisan yang menyatakan maksud-Nya dengan sangat jelas. Apakah manusia menolak Alkitab karena manusia tidak dapat memahaminya? Tidak. Manusia menolak Alkitab karena manusia tidak mau menundukkan diri kepada Allah dan Firman-Nya.

Apakah seorang humanis menolak Alkitab karena tidak mungkin mengerti Alkitab? Tidak. Seorang humanis akan menolak Alkitab dan menganggapnya sebagai kitab suci orang-orang barbar ketika membaca kitab Yosua tentang pemusnahan etnis yang dilakukan Israel. Dia gagal melihat bagaimana Allah yang Maha Suci memakai umat-Nya sebagai alat-Nya untuk menghukum orang-orang Kanaan karena dosa mereka. Apakah kaum universalist yang percaya bahwa semua manusia akan selamat, salah mengerti Alkitab karena sulit dimengerti? Tidak. Mereka tidak mau menerima ajaran mengenai Allah yang Maha Adil memasukkan orang ke dalam neraka sehingga mereka harus menafsirkan Alkitab dengan begitu rumit untuk menghindari ajaran ini dan memasukkan pendapat mereka sendiri mengenai Allah yang Baik pasti tidak tega menghukum seorang manusia pun. Mengapa orang Liberal menolak otoritas Alkitab? Karena mereka tidak dapat mengerti? Tidak. Orang Liberal tidak dapat menerima otoritas Kitab yang menceritakan tentang seorang manusia bernama Yesus yang berjalan di atas air karena bagi mereka kisah mengenai manusia yang berjalan di atas air ini tidak sesuai dengan “akal sehat”. Mengapa orang Yahudi sulit menerima Yesus sebagai Mesias? Apakah karena Yesaya 53 terlalu sulit dan berbelit-belit? Tidak, tetapi karena ada tudung bernama tradisi yang menghalangi mereka untuk melihat Yesus di dalam nubuat para nabi (lihat 2 Korintus 3:13-16). Tradisi mengatakan Mesias adalah pahlawan perang yang menang, bukan korban sembelihan, dan mereka berusaha untuk menafsirkan Alkitab dengan meletakkan Alkitab di bawah otoritas tradisi. Semua kekacauan ini adalah karena Alkitab diletakkan di bawah otoritas rasio, pengalaman, semangat Humanisme, sains, tradisi, dan lain-lain.

Jadi mengapa sebenarnya manusia sulit menerima klaim kebenaran absolut Alkitab? Karena, sebagaimana dikatakan Van Til, manusia menolak Allah dan mau berpikir secara otonom. Sejak dari taman Eden hingga sekarang, kesulitan manusia tetap sama, ingin menjadi seperti Allah dan menolak otoritas Firman-Nya di dalam kehidupannya. Sampai kita jujur mau kembali kepada Allah dan hanya bila Roh Kudus membersihkan natur penolakan kita terhadap otoritas Allah dan Firman-Nya, barulah kita dapat melihat bahwa memang benar Alkitab memiliki otoritas tertinggi (2 Korintus 3:16). Kant mengatakan bahwa manusia sudah dewasa dan tidak perlu bergantung pada otoritas apa pun di luar dirinya sendiri. Tetapi Alkitab berkata bahwa Sang Pencipta manusia menetapkan bahwa manusia harus bergantung kepada-Nya. Otak kita tidak diciptakan untuk mandiri, tetapi untuk tunduk kepada kebenaran Firman Tuhan secara absolut. Bagaimana dengan Saudara? Ketika membaca Alkitab, siapakah yang memegang otoritas absolut: Saudara atau Alkitab?

Jimmy Pardede


[1] Argumen ini diberikan Mavrodes dengan sederhana dan menarik dalam bentuk cerita mengenai dua orang yang sedang berbincang-bincang di pesawat dalam Faith and Rationality, London: Nortre Dame Press, 1983. Hlm. 100.
[2] Steven B. Cowan, 5 Views on Apologetics, Grand Rapids: Zondervan, 2000. Hlm. 307.
[3] Pembahasan pemikiran Van Til secara sederhana dapat dilihat melalui tulisan John Frame, Cornelius Van Til: An Analysis of His Thought, NJ: P&R, 1995.
[4] Ibid., Hlm. 115.
[5] Lihat pembahasan Wayne Grudem dalam Systematic Theology, Grand Rapids: Zondervan, 1994. Hlm. 78.
[6] Immanuel Kant, Religion Within the Limits of Reason Alone, terj. Theodore Greene, NY: Harper & Row, 1960. Hlm. 103-104.
[7] Pembahasan Teologi-teologi modern dengan ringkas disajikan oleh Harvie Conn, Teologia Kontemporer, terj. Lynne Newell, Malang: SAAT, cetakan ke-3, 1991.


Christ’s sympathy

“Jesus wept!” John 11:35

The Creator of all worlds, the Author of all beings, the Upholder of the universe—raining tears of human woe and sympathy upon a grave!

Oh, there lives not a being in the universe who can enter into our bereavements with the sympathy, the support, and the soothing of Christ!

They were tears of sympathy. His heart was touched, deeply touched, with sympathy for the sorrow of others. He wept because the mourning sisters wept. He mingled His tears with theirs.

This is true sympathy, “weeping with those that weep,” making their sorrow our own. How really our Lord does this with His people. So completely is He our Surety—that He takes our sins and infirmities, our trials and sorrows upon Himself, as if they were all and entirely His own. Our sins were so completely laid upon Him—that not one remains charged to the account of those who believe in Jesus.

And our present griefs are so entirely absorbed in Him, that, softened by His love, soothed by His sympathy, supported by His grace—the trial is welcome, the affliction is sweet, and the rod of a Father’s chastening, buds and blossoms into delectable fruit.

Bereaved mourner! the sympathy of Christ is yours! The Savior who wept at the gave of Bethany, now shares your grief. Do not imagine that your sorrow is isolated, or that your tears are forbidden or unseen. You have a merciful and faithful High Priest who is touched with your present calamity.

There exists no sympathy . . .
so real,
so intelligent,
so deep,
so tender,
so sanctifying—
as Christ’s sympathy.

And if your heavenly Father has seen it wise and good to remove from you the spring of human pity—it is but that He may draw you closer beneath the wing of Jesus’ compassion, presence and love.

O child of sorrow! will not this suffice—that you possess Christ’s sympathy, immeasurable and exhaustless as the ocean, exquisite and changeless as His being! Yield your heart to His rich compassion!

Will Jesus be regardless of what I feel, and the sorrows under which I groan? Oh no! The sigh that bursts in secret from my heart is not secret to Him; the tear that is my food day and night, and drops unperceived and unknown—is known and remembered by Him!

“You keep track of all my sorrows. You have collected all my tears in Your bottle. You have recorded each one in Your book.”
Psalm 56:8

 

Octavius Winslow, “The Tears of Christ”


Afflicted, tormented, and destroyed!

Let me give you a little abridgment of the sufferings of some of the early Christians, “of whom the world was not worthy.”

1. In the reign of Hadrian the emperor, there were ten thousand Christians crowned with a crowns of thorns, thrust into the sides with sharp lances, and then crucified.

2. Others were so whipped, that their entrails were seen, and afterwards they were thrown upon sharp shells, and then upon sharp nails and thorns. And after all this cruelty, they were thrown to wild beasts to be devoured.

3. Multitudes were banished.

4. Others were pulled apart with wild horses.

5. Some were beaten and racked with bars of iron.

6. Others were cast into loathsome dungeons.

7. Some were burnt in the fire.

8. Others were knocked down and had their brains beaten out with staves and clubs.

9. Some were pricked in their faces and eyes with sharp reeds.

10. Others were stoned to death with stones, as Stephen was.

11. Some were dashed in pieces against millstones.

12. Others had their teeth dashed out of their jaws, and their joints broken

13. Some were cast down from very high places.

14. Others were beheaded.

15. Some were tormented with razors.

16. Others were slain with the sword.

17. Some were run through with pikes.

18. Others were driven into the wilderness, where they wandered up and down, suffering hunger and cold, and where they were exposed to the fury both of wild beasts, and also to the rage of the barbarous Arabians.

19. Some fled into caves, which their persecutors crammed up with stones, and there they died.

20. Others were trodden to death by the people.

21. Some were hanged on gibbets with a slow fire under them.

22. Others were cast into the sea and drowned.

23. Some were slain by being thrown in mines.

24. Others were hanged by the feet, and choked with the smoke of a small fire, their legs being first broken.

25. Some were covered with oil, and then roasted with a soft fire.

26. Others were hung by one hand, that they might feel the weight of their whole bodies scorching and broiling over burning coals.

27. Some were shot through with arrows, and afterwards thrown into stinking prisons.

28. Others were stripped stark naked, and thrown out in cold, frosty nights; and burnt the next day.

29. In Syria, a company of Christian virgins were stripped stark naked to be scorned by the multitude, then shaved, and then torn in pieces and devoured by beasts.

30. Lastly, many women had the joints of their bodies pulled from another, and their flesh and sides clawed with talons of wild beasts to the bones, and their breasts seared with torches until they died.

And thus you have an account of thirty different ways by which the precious sons and daughters of God have formerly been afflicted, tormented, and destroyed! What heart of stone can read over this list with dry eyes? And now tell me, sirs, whether your sufferings are worth a naming in that day, wherein the sufferings of the precious servants of God in the primitive times are spoken of? Oh, no! Well then, take heed of making molehills mountains, and of crying out, “Is there any sorrow compared to my sorrow; or any sufferings compared to my sufferings?”

 

Thomas Brooks, “Crown and Glory of Christianity” 1662