Jonathan Edwards dan Afeksi yang Suci

Dalam tulisannya, Justification by Faith Alone, Jonathan Edwards, seorang theolog Amerika pada abad ke-18, mengemukakan bahwa seseorang dibenarkan jika dia dinyatakan oleh Allah sebagai orang yang bebas dari kesalahan dosa, bebas dari hukuman, dan memiliki kebenaran sehingga dia layak diberikan hidup yang kekal.[1] Jadi menurut Edwards, pembenaran itu terjadi karena Allah menyatakannya. Tetapi setelah dibenarkan, lalu apa? Apakah konsekuensi pembenaran ini hanyalah (mmm… memang bisa ya disebut “hanya”) status yang dibenarkan saja? Tentu tidak. Edwards juga mengatakan bahwa pembenaran mesti selalu dikaitkan dengan “pemberian kemuliaan sebagai konsekuensi yang pantas atas keadaan benar tersebut.”[2] Pemuliaan ini maksudnya apa? Pemuliaan ini hanya dapat terjadi karena kita, orang-orang yang dibenarkan, berada di dalam Kristus oleh iman kita dan mendapatkan segala keuntungan yang didapatkan melalui kesatuan ini.[3] Jadi, baik pembenaran maupun kemuliaan dari orang yang dibenarkan merupakan bagian-bagian dari konsep “justification by faith”.

Justification dan Afeksi

Selain semua konsekuensi yang diberikan di dalam pembenaran yang telah dibahas di atas, ada satu lagi konsekuensi dari pembenaran kita, yaitu afeksi. Apakah afeksi itu? Edwards memberikan pengertian mengenai afeksi sebagai sesuatu yang diberikan Tuhan untuk menjadi bagian dari jiwa kita. Edwards mengatakan:

“God has endued the soul with two faculties: one is that by which it is capable of perception and speculation, or by which it discerns, and views, and judges of things; which is called the understanding. The other faculty is that by which the soul does not merely perceive and view things, but is some way inclined with respect to the things it views or considers; either is inclined to them, or is disinclined and averse from them… This faculty is called by various names; it is sometimes called the inclination… will… often called the heart.”[4]


Lalu afeksi? Afeksi merupakan… these more vigorous and sensible exercise of this faculty (heart).[5] Afeksi merupakan bentuk kehendak yang dilakukan… in the liveliness and sensibleness of exercise.[6]
Dengan demikian, bagi Edwards pertobatan sejati harus berdampak pada afeksi yang suci. Afeksi yang suci adalah afeksi sejati yang ada dalam diri seseorang, yang berasal dari perubahan natur orang tersebut oleh karya Roh Kudus. Afeksi yang disucikan juga adalah tanda mutlak seseorang sudah dibenarkan. Tanpa perubahan natur yang dikerjakan oleh Roh Kudus ini seseorang tidak sanggup memiliki afeksi sejati, dan tanpa afeksi sejati ini, maka kehidupan beragama yang dijalankan hanyalah kehidupan “main drama” yang palsu. Edwards mengatakan:

“If we be not in good earnest in religion, and our wills and inclinations be not strongly exercised, we are nothing. The things of religion are so great, that there can be no suitableness in the exercises of our hearts to their nature and importance, unless they be lively and powerful.  In nothing is vigour in the actings of our inclinations so requisite as in religion; and in nothing is lukewarmness is so odious.”[7]

Edwards mengatakan bahwa baik gairah yang suci, kerinduan akan Allah, lapar dan haus akan Allah, dan kesucian hidup, merupakan bagian yang penting dalam agama sejati.[8] Ini merupakan sifat-sifat yang muncul ketika seseorang diberikan natur baru dan adalah sifat-sifat yang ada dalam afeksi yang suci. Edwards memberikan contoh seseorang dengan natur afeksi sejati ini di dalam diri Daud. Dia mengatakan bahwa:

“Those holy songs of his he has there left us are nothing else but the expressions and breathings of devout and holy affections; such as an humble and fervent love to God, admiration of His glorious perfections and wonderful works, earnest desires, thirstings, and pantings of soul after God, delight and joy in God, a sweet and melting gratitude to God for His great goodness, a holy exultation and triumph of soul in the favour, sufficiency, and faithfulness of God, his love to and delight in the saints, the excellent of the earth, his great delight in the Word and ordinances of God, his grief for his own and others’ sins, and his fervent zeal for God and against the enemies of God and his church.”[9]


Semua afeksi ini merupakan sesuatu yang tidak mungkin dimiliki oleh manusia yang belum diubahkan. Kok tidak mungkin? Karena setiap karakteristik tersebut merupakan karakteristik yang tidak berasal dari dunia ini. Anugerah Tuhan yang mempertobatkan telah memberikan natur baru yang tidak mungkin diusahakan oleh orang berdosa. Edwards mengatakan:

“Hence, therefore, the religion of heaven, consisting chiefly in holy love and joy, consists very much in affection; and therefore, undoubtedly, true religion consists very much in affection… if we would learn what true religion is, we must go where there is true religion, and nothing but true religion, and in its highest perfection, without any defect or mixture. All who are truly religious are not of this world; they are strangers here and belong to heaven; they are born from above… that principle of true religion which is in them is a communication of the religion of heaven; their grace is the dawn of glory; and God fits them for that world by conforming them to it.”[10]

Maka natur baru ini merupakan natur yang dipersiapkan Tuhan untuk suatu tempat di mana natur itu akan cocok. Tempat itu bukanlah dunia ini, melainkan dunia yang akan datang. Sebagaimana pemilik natur ini disebut orang-orang yang lahir dari atas, maka di atas itu pula tempat di mana natur itu mendapatkan tempatnya. Maka afeksi yang diubahkan Tuhan merupakan sesuatu yang tidak mungkin lepas dari karya pembenaran Tuhan. Edwards mengatakan pada kutipan di atas bahwa orang-orang ini dilahirkan dari atas.

Afeksi dan Union with Christ

Sekarang kita akan masuk lebih dalam untuk mengerti konsep afeksi ini. Afeksi sejati yang layak diberikan kepada Tuhan adalah afeksi sejati sebagaimana yang dimiliki Kristus. Tidak mungkin lebih dan tidak boleh kurang. Seorang yang mendalami Edwards yaitu Dr. Samuel Logan mengatakan bahwa dalam mempelajari Edwards dan kebangunan rohani Northampton, salah satu yang terpenting adalah mempelajari bagaimana Edwards mengkhotbahkan khotbah-khotbah yang memberikan penghormatan kepada Kristus. Suatu khotbah yang dihargai oleh Roh Kudus, bersifat doktrinal, tetapi sekaligus juga affectionate. Intinya adalah khotbah yang memalingkan wajah pendengar kepada kemuliaan Allah dalam Anak-Nya, Yesus Kristus.[11] Afeksi sejati muncul dari hal ini. Edwards mengatakan:

“How they can sit and hear of the infinite height, and depth, and length, and breadth of the love of God in Christ Jesus, of His giving His infinitely dear Son, to be offered up a sacrifice for the sins of men, and of the unparalleled love of the innocent, and holy, and tender Lamb of God, manifested in His dying agonies, His blood sweat, His loud and bitter cries, and bleeding heart, and all this for enemies, to redeem them from deserved, eternal burnings, and to bring unspeakable and everlasting joy and glory – and yet be cold and heavy, insensible and regardless! Where are the exercises of our affections proper, if not here?”[12]

Kemurnian afeksi sedemikian merupakan sesuatu yang dianugerahkan dari atas. Kemurnian afeksi ini juga menjadi sesuatu yang membedakan antara afeksi rohani sejati dengan afeksi yang palsu. Tanda pertama dan yang paling penting adalah afeksi terhadap berita Injil. Di sinilah permulaan pertobatan seseorang dan permulaan dimulainya proses penyucian yang menumbuhkan afeksi tersebut secara indah. Pembenaran ditandai dengan adanya afeksi yang diberikan secara limpah kepada Yesus Kristus dan kasih-Nya yang berkorban. Afeksi yang hanya mungkin muncul karena pekerjaan Roh Kudus. Amy Pauw, seorang sarjana Edwards, mengatakan bahwa bagi Edwards,

“…the saving knowledge conveyed to the saints is not a bare “notional” knowledge of the things of religion: it is truly “Christ’s being in the creature in the name, idea, or knowledge of God being in them.”[13]
Dengan demikian, afeksi kepada Kristus menjadi awal dan akan terus bertumbuh hingga pada akhirnya kita memiliki afeksi Kristus sendiri. Afeksi yang mencintai Tuhan, mencintai kesucian, dan merindukan kebenaran dan kemuliaan Allah. Maka penyucian hidup dan afeksi kita hanya dapat terjadi karena Kristus berada di dalam kita dan kita di dalam Dia.[14]

Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa afeksi yang palsu adalah afeksi yang tidak memiliki Kristus. Afeksi yang tanpa Kristus, tidak diarahkan kepada Kristus, dan tidak menyerupai afeksi-Nya dalam diri kita. Karakteristik afeksi palsu menurut Edwards berpusat pada afeksi yang berfokus kepada diri dan pengalaman diri sendiri, bukan kepada Kristus. Edwards mengatakan, “What they are principally taken and elevated with is not the glory of God, or beauty of Christ, but the beauty of their experiences,[15] dan, “They take more comfort in their discoveries than in Christ discovered.”[16] Afeksi rohani merupakan sesuatu yang menipu dan mungkin lebih menunjukkan diri ketimbang afeksi sejati. Edwards menunjuk kepada mental pamer dari orang Farisi.[17] Ini menunjukkan bagaimana Edwards yang sebelum tahun 1740 adalah pembela bagi afeksi rohani, sekarang dengan lebih bijaksana menunjukkan bahwa afeksi yang meluap-luap belum tentu keluar dari hati yang telah diperbarui dan telah memiliki Kristus. Pada masa di mana pengalaman rohani dan emosi berlebihan mulai mewarnai keadaan gereja, pengajaran Edwards ini menjadi semacam pengerem ekses-ekses yang sebenarnya justru berakibat negatif bagi kelanjutan kebangunan rohani.[18]

Afeksi dan Constant Need of Repentance

Hal yang berikut adalah afeksi sejati dan kesucian hidup. Helen Westra mengatakan bahwa dalam konsep Edwards, Allah bekerja dengan terlebih dahulu menyatakan apa penghukuman-Nya baru kemudian menyatakan apa itu anugerah-Nya.[19] Dengan demikian setiap orang yang mengalami ketakutan akan penghukuman Allah lalu berbalik kepada Kristus dan diselamatkan akan terus-menerus mengalami kesadaran akan efek dosa dan betapa Allah membenci dosa. Maka Edwards mengatakan bahwa Allah menginginkan manusia untuk mengalami kepastian keselamatan bukan dengan menilai diri tetapi dengan tindakan.[20] Tindakan yang terus berjuang untuk hidup sebagaimana Tuhan mau kita hidup. Menyucikan seluruh aspek hidup hanya untuk Kristus. Edwards juga menganggap setiap kali seorang Kristen jatuh dalam dosa, tidak seharusnya dia memiliki ketenangan. Seharusnya dia merasa takut dan seharusnya juga dia mengalami keragu-raguan akan keselamatannya.[21] Oops... Bukankah ini bertentangan dengan jaminan keselamatan kekal? Tidak. Kenapa tidak? Karena inilah cara Allah bekerja. Menurut Edwards, Allah justru memberikan kegoncangan kepada orang pilihan-Nya yang sedang berada di dalam dosa. Inilah pengertian constant need of repentance dari Edwards. Setiap kali seseorang yang sudah dibenarkan berbuat dosa, dia akan kembali lagi mengingat kegentaran akibat murka Tuhan, merasa gentar, bahkan ragu-ragu akan statusnya, tetapi kemudian berada dalam sukacita dan comfort dari pengampunan dan kasih setia Tuhan.

Pertumbuhan Spiritual Sejati

Edwards tidak melihat jaminan keselamatan ada pada keyakinan diri, melainkan pada bagaimana Roh terus bekerja memperbarui seseorang yang telah berada dalam Kristus. Itulah yang menjadi tanda. Dan Edwards juga mengingatkan bahwa adalah kesalahan untuk memiliki kepastian saat kita berdosa, karena Roh yang sejati justru akan menggerakkan kita untuk tidak tenang dan bertobat. Maka di sini secara paradoks keragu-raguan dapat menjadi petunjuk akan kehadiran Roh Kudus dalam diri kita.

Pemisahan antara pembenaran, kesucian, dan afeksi sejati merupakan sesuatu yang dapat mengakibatkan seseorang gagal melihat pekerjaan Tuhan, menyatakan kebenaran dan kesucian-Nya. Dalam kitab Imamat Tuhan mengatakan bahwa Dia menyatakan kekudusan-Nya kepada orang yang karib dengan Dia.[22] Karena itu Edwards mengajarkan kepada kita untuk memiliki kepastian keselamatan pada makin terkonfirmasinya panggilan kita untuk hidup suci bagi Tuhan. Memang Tuhan memberikan kepastian keselamatan itu, tetapi dengan melepaskan janji keselamatan ini dengan kekudusan, maka anugerah Tuhan yang mulia itu akan menjadi murah. Sebagaimana dikatakan oleh Dietrich Bonhoeffer, “Kalau anugerah itu “dirampok” dari divine character-nya, maka anugerah itu akan menjadi cheap.”[23] Dan sebagaimana dikatakan Edwards, “A true love to God must begin with a delight in His holiness, and not with a delight in any other attribute; for no other attribute is truly lovely without this.”[24]

Jimmy Pardede
Gembala Sidang GRII Malang


[1] Jonathan Edwards, “Justification By Faith Alone,” dari The Works of Jonathan Edwards, 2 Vol., Vol. 1. Massachusetts: Hendrickson, Cetakan Kelima: 2005. Hlm. 623.
[2] Ibid.
[3] Ibid.
[4] Jonathan Edwards, Religious Affections. Hlm. 24.
[5] Ibid. Hlm. 25.
[6] Ibid.
[7] Religious Affections . Hlm. 59.
[8] Ibid. Hlm. 32.
[9] Ibid. Hlm. 37.
[10] Ibid. Hlm. 43.
[11] Samuel Logan, “Jonathan Edwards and the 1734-35 Northampton Revival,” dari God’s Fiery Challenger For Our Time: Festschrift in Honor of Stephen Tong. Benyamin Intan, ed. Jakarta: Reformed Center for Religion and Society, 2007. Hlm. 265.
[12] Religious Affections . Hlm. 52.
[13] Amy Plantinga Pauw, The Supreme Harmony of All: The Trinitarian Theology of Jonathan Edwards. Grand Rapids: Eerdmans, 2002. Hlm. 124.
[14] Religious Affections. Hlm. 128.
[15] Ibid. Hlm. 177.
[16] Ibid.
[17] Ibid. Hlm. 64.
[18] George Marsden, Jonathan Edwards: A Life. New Haven: Yale University Press, 2003. Hlm. 284.
[19] Helen Westra, “Divinity’s Design: Edwards and the History of the Work of Revival,” dari Edwards in Our Time, Sang Hyun Lee dan Allen C. Guelzo, ed. Grand Rapids: Eerdmans, 1999. Hlm. 139.
[20] Religious Affections. Hlm. 123.
[21] Ibid. Hlm. 122.
[22] Band. Imamat 10:3.
[23]Dietrich Bonhoeffer, Ethics, Eberhard Bethge, ed. New York: Collier Books, 1986. Hlm. 125.
[24] Religious Affections. Hlm. 183.

Comments are closed.