Archive for 22 February 2011

Etika Lingkungan Hidup dari Perspektif Teologi Kristen

Akhir-akhir ini, perhatian dan kesadaran umat manusia untuk menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan hidupnya semakin meningkat. Hal itu sejalan dengan pengetahuan yang semakin banyak dan pengalaman yang semakin nyata bahwa lingkungan hidup atau planet bumi sedang sakit atau rusak. Sakit atau rusaknya planet bumi itu disebabkan oleh ulah manusia sendiri, yaitu dalam kaitannya dengan pemanfaatan dan pengelolaan sumber-sumber alam. Cara memanfaatkan dan mengelola lingkungan cenderung bersifat eksploitatif dan destruktif. Maka proses pemanfaatan dan pengelolaan lingkungan mengandung aspek perusakan lingkungan, baik sengaja maupun tidak sengaja.

Sebenarnya proses perusakan lingkungan sudah berjalan lama, yaitu sejak dimulainya proses industrialisasi. Industrialisasi menyadarkan manusia bahwa alam merupakan deposit kekayaan yang dapat memakmurkan. Maka mulai saat itu sumber-sumber alam dieksploitasi untuk diolah menjadi barang guna memenuhi kebutuhan demi kemakmuran hidup manusia. Dengan adanya alat ampuh, yaitu mesin, maka alam pun dipandang dan dikelola secara mekanis. Terjadilah intensitas pengeksploitasian lingkungan menjadi semakin gencar tak terkendali. Alam tidak lebih dari benda mekanis yang hanya bernilai sebagai instrumen untuk kepentingan manusia. Alam tidak lagi dihargai sebagai organisme. Sayangnya, kesadaran akan semakin rusaknya lingkungan hidup mulai muncul sejak sesudah Perang Dunia II dan mulai mengglobal tiga dekade yang lalu ketika alam terlanjur rusak berat atau sakit parah. Ketika itu manusia makin menyadari bahwa sumber-sumber alam (khususnya “non- renewable resources”) semakin menipis.

Pengelolaan alam secara mekanistik yang diikuti pula oleh pertumbuhan demografi yang terus melaju sehingga pada akhir dekade 1960-an ditandai dengan “ledakan penduduk dunia”. Kenyataan itu mendorong digerakkannya pembangunan yang berorientasi pada “pertumbuhan ekonomi” yang justru semakin meningkatkan pengeksploitasian sumber-sumber alam. Hal ini tidak untuk kemakmuran saja, tetapi bahkan untuk memenuhi kebutuhan paling dasar dari umat manusia yang semakin banyak. Misalnya, hutan selain sebagai sumber bahan baku untuk diolah menjadi bahan produk, juga dikonversi menjadi lahan pertanian. Perusakan ini diperberat oleh polusi atau pencemaran. Untuk menjaga kesuburan lahan pertanian, digunakan pupuk kimia, dan untuk menjaga panen dari serangan hama, digunakan pestisida secara besar-besaran sehingga produksi pertanian meningkat. Semua itu, bersama dengan industri dan transportasi yang dibangun untuk meningkatkan produksi dan distribusi, membentur alam dalam bentuk polusi. Akibatnya sumber alam semakin menipis, kemampuan daya dukung alam berkurang dan mengancam kehidupan manusia sendiri.

Dari keterangan di atas, menjadi nyata bahwa benturan yang menyebabkan lingkungan hidup menderita sakit atau rusak datang dari manusia dalam proses mengambil, mengolah, dan mengonsumsi sumber- sumber alam. Benturan terjadi ketika proses-proses itu melampui batas-batas kewajaran atau proposionalitas. Batas-batas kewajaran atau proposionalitas itu terlampaui ketika manusia semakin mampu dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi memanfaatkan sumber- sumber secara masal, intensif, dan cepat dan sekaligus mengotori atau mencemarinya. Tetapi yang lebih parah lagi, yaitu bahwa manusia yang merasa semakin enak semakin tidak tahu diri, sehingga ia seolah-olah menjelma menjadi tuan dan pemilik alam. Maka kesadaran untuk menjaga dan memelihara lingkungan hidup harus dikembalikan pada manusia, dengan mempertanyakan tentang dirinya dan kelakuannya terhadap alam. Apa kata teologi atau etika Kristen?

II. Dasar Teologis Etika Lingkungan

Dalam cerita penciptaan dikatakan bahwa manusia diciptakan bersama dengan seluruh alam semesta. Itu berarti bahwa manusia memunyai keterkaitan dan kesatuan dengan lingkungan hidupnya. Akan tetapi, diceritakan pula bahwa hanya manusia yang diciptakan sebagai gambar Allah (“Imago Dei”) dan yang diberikan kewenangan untuk menguasai dan menaklukkan bumi dengan segala isinya. Jadi di satu segi, manusia adalah bagian integral dari ciptaan (lingkungan), akan tetapi di lain segi, ia diberikan kekuasaan untuk memerintah dan memelihara bumi. Maka hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya seperti dua sisi dari mata uang yang mesti dijalani secara seimbang.

1. Kesatuan Manusia dengan Alam

Alkitab menggambarkan kesatuan manusia dengan alam dalam cerita tentang penciptaan manusia: “Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah” (Kej. 2:7), seperti Ia juga “membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara” (Kej. 2:19). Dalam bahasa Ibrani, manusia disebut “adam”. Nama itu memunyai akar yang sama dengan kata untuk tanah, “adamah”, yang berarti warna merah kecokelatan yang mengungkapkan warna kulit manusia dan warna tanah. Dalam bahasa Latin, manusia disebut “homo”, yang juga memunyai makna yang berkaitan dengan “humus”, yaitu tanah. Dalam artian itu, tanah yang biasa diartikan dengan bumi, memunyai hubungan lipat tiga yang kait-mengait dengan manusia: manusia diciptakan dari tanah (Kej. 2:7; 3:19, 23), ia harus hidup dari menggarap tanah (Kej. 3:23), dan ia pasti akan kembali kepada tanah (Kej. 3:19; Maz. 90:3). Di sini nyata bahwa manusia dan alam (lingkungan hidup) hidup saling bergantung — sesuai dengan hukum ekosistem. Karena itu, kalau manusia merusak alam, maka secara otomatis berarti ia juga merusak dirinya sendiri.

2. Kepemimpinan Manusia Atas Alam

Walaupun manusia dengan alam saling bergantung, Alkitab juga mencatat dengan jelas adanya perbedaan manusia dengan unsur-unsur alam yang lain. Hanya manusia yang diciptakan segambar dengan Allah dan yang diberikan kuasa untuk menguasai dan menaklukkan bumi dengan seluruh ciptaan yang lain (Kej. 2:26-28), dan untuk mengelola dan memelihara lingkungan hidupnya (Kej. 2:15). Jadi, manusia memunyai kuasa yang lebih besar daripada makhluk yang lain. Ia dinobatkan menjadi “raja” di bumi yang dimahkotai kemuliaan dan hormat (Maz. 8:6). Ia menjadi wakil Allah yang memerintah atas nama Allah terhadap makhluk-makhluk yang lain. Ia hidup di dunia sebagai duta Allah. Ia adalah citra, maka ia ditunjuk menjadi mitra Allah. Karena ia menjadi wakil dan mitra Allah, maka kekuasaan manusia adalah kekuasaan perwakilan dan perwalian. Kekuasaan itu adalah kekuasaan yang terbatas dan yang harus dipertanggungjawabkan kepada pemberi kuasa, yaitu Allah. Itu sebabnya manusia tidak boleh sewenang-wenang terhadap alam. Ia tidak boleh menjadi “raja lalim”. Kekuasaan manusia adalah kekuasaan “care-taker”. Maka sebaiknya manusia memberlakukan secara seimbang, artinya pengelolaan dan pemanfaatan sumber-sumber alam diimbangi dengan usaha pemeliharaan atau pelestarian alam.

Kata “mengelola” dalam Kejadian 2:15, digunakan istilah Ibrani “abudah”, yang sama maknanya dengan kata ibadah dan mengabdi. Maka manusia sebagai citra Allah seharusnya memanfaatkan alam sebagai bagian dari ibadah dan pengabdiannya kepada Allah. Dengan kata lain, penguasaan atas alam seharusnya dijalankan secara bertanggung jawab: memanfaatkan sambil menjaga dan memelihara. Ibadah yang sejati adalah melakukan apa saja yang merupakan kehendak Allah dalam hidup manusia, termasuk hal mengelola (“abudah”) dan memelihara (“samar”) lingkungan hidup yang dipercayakan kekuasaan atau kepemimpinannya pada manusia.

3. Kegagalan Manusia Memelihara Alam

Alkitab mencatat secara khusus adanya “keinginan” dalam diri manusia untuk menjadi sama seperti Allah dan karena keinginan itu ia “melanggar” amanat Allah (Kej. 3:5-6). Tindakan melanggar amanat Allah membawa dampak bukan hanya rusaknya hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga dengan sesamanya dan dengan alam. Manusia menghadapi alam tidak lagi dalam konteks “sesama ciptaan”, tetapi mengarah pada hubungan “tuan dengan miliknya”. Manusia memperlakukan alam sebagai objek yang semata-mata berguna untuk dimiliki dan dikonsumsi. Alam diperhatikan hanya dalam konteks kegunaan (utilistik-materialistik). Manusia hanya memerhatikan tugas menguasai, tetapi tidak memerhatikan tugas memelihara. Dengan demikian, manusia gagal melaksanakan tugas kepemimpinannya atas alam.

Akar perlakuan buruk manusia terhadap alam terungkap dalam istilah seperti: “tanah yang terkutuk”, “susah payah kerja”, dan “semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkan bumi” (Kej. 3:17-19). Manusia selalu dibayangi oleh rasa kuatir akan hari esok yang mendorongnya cenderung rakus dan materialistik (baca Mat. 6:19-25 par.). Secara teologis, dapat dikatakan bahwa akar kerusakan lingkungan alam dewasa ini terletak dalam sikap rakus manusia yang dirumuskan oleh John Stott sebagai “economic gain by environmental loss”. Manusia berdosa menghadapi alam tidak lagi sekadar untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi sekaligus untuk memenuhi keserakahannya. Dengan kata lain, manusia berdosa adalah manusia yang hakikatnya berubah dari “a needy being” menjadi “a greedy being”. Kegagalan dalam melaksanakan tugas kepemimpinan atas alam merupakan pula kegagalan manusia dalam mengendalikan dirinya, khususnya keinginan- keinginannya.

4. Hubungan Baru Manusia-Alam

Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, mencatat bahwa Allah yang Mahakasih mengasihi dunia ciptaan-Nya (kosmos) sehingga Ia mengutus anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, yaitu Tuhan Yesus Kristus (Yoh. 3:16). Tuhan Yesus Kristus yang disebut Firman (logos) penciptaan (Kol. 1:15-17; Yoh. 1:3, 10a) telah berinkarnasi (mengambil bentuk materi dengan menjelma menjadi manusia: Yoh. 1:1, 14); dan melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib serta kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Ia telah mendamaikan Allah dengan segala sesuatu (ta panta) atau dunia (kosmos) ini (Kol. 1:19- 20; 2 Kor. 5:18-19). Tuhan Yesus telah memulihkan hubungan Allah dengan manusia dan dengan seluruh ciptaan-Nya dan memulihkan hubungan manusia dengan alam. Atas dasar itu, maka hubungan harmonis dalam Eden (Firdaus) telah dipulihkan.

Apa yang dibayangkan dalam Perjanjian Lama sebagai nubuat tentang kedamaian seluruh bumi dan di antara seluruh makhluk (Yes. 11:6-9; 65:17; 66:22; Hos. 2:18-23) telah dipenuhi dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Maka dalam iman Kristen, hubungan baru manusia dengan alam bukan saja hubungan “dominio” (menguasai) tetapi juga hubungan “comunio” (persekutuan). Itu sebabnya Tuhan Yesus yang telah berinkarnasi itu menggunakan pula unsur-unsur alam, yaitu “air, angggur, dan roti” dalam sakramen yang menjadi tanda dan meterai hubungan baru manusia dengan Allah. Dengan kata lain, hubungan manusia dengan Allah yang baik harus tercermin dalam hubungan yang baik antara manusia dengan alam. Persekutuan dengan Allah harus tercermin dalam persekutuan dengan alam. Hubungan yang baik dengan alam, sekaligus mengarahkan kita pada penyempurnaan ciptaan dalam “langit dan bumi yang baru” (Why. 21:1-5) yang menjadi tujuan akhir dari karya penebusan Allah melalui Tuhan Yesus Kristus. Dalam langit dan bumi yang baru itulah Firdaus yang hilang akan dipulihkan.

III. Norma Etika Lingkungan

Akhir-akhir ini, etika lingkungan biasanya dibagi atas dua atau tiga bagian yang antroposentris, ekosentris, dan biosentris. Bahkan Robert Elliot mengemukakan lima konsep, yaitu yang disebutnya “human centered ethics”, “animal centered ethics”, “life centered ethics”, “everything centered ethics”, dan “ecological holism ethics”. Saya hanya akan mengikuti tiga pandangan yang saya kemukakan di atas. Pandangan pertama, yaitu antroposentris, adalah pandangan yang telah lama dianut oleh umat manusia yang beranggapan bahwa alam atau lingkungan hanya memunyai nilai alat (instrumental value) bagi kepentingan manusia. Pandangan antroposentris ini sering dihubungkan dengan pandangan Barat yang melihat lingkungan hidup sebatas maknanya bagi kesejahteraan dan kemakmuran manusia. Manusia Barat menganut pandangan mengenai hubungan diskontinuitas antara manusia dengan alam. Hanya manusia yang subjek, sedangkan alam atau lingkungan adalah objek. Maka alam diteliti, dieksplorasi, lalu dieksploitasi. Maka etika antroposentris ini tidak sejalan dengan etika Kristen yang menekankan adanya kontinuitas antara manusia dengan alam (adam-adamah, homo-humus).

Pandangan yang kedua adalah biosentris. Penganut pandangan ini berpendirian bahwa semua unsur dalam alam memunyai nilai bawaan (inherent value), misalnya kayu memunyai nilai bawaan bagi kayu sendiri sebagai alasan berada. Jadi kayu tidak berada demi untuk kepentingan manusia saja. Demikianlah seluruh makhluk hidup memiliki nilai inheren lepas dari kepentingannya bagi manusia. Manusia dan makhluk-makhluk hidup lainnya memunyai hubungan kontiunitas, maka manusia dan lingkungan memunyai tujuannya masing-masing. Maka tiap makhluk memunyai hak mendapatkan perlakuan sesuai dengan hak yang melekat padanya. Pandangan ini misalnya dianut oleh Paul Taylor, Peter Singer, dan Albert Schweitzer.

Pandangan ketiga, yaitu ekosentris, berpendirian bahwa bumi sebagai keseluruhan atau sebagai sistem tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain. Maka lingkungan harus diperhatikan karena manusia hanyalah salah satu subsistem atau bagian kecil dari seluruh ekosistem. Pandangan ini dianut umumnya oleh manusia Timur, termasuk orang Indonesia, yang sangat menekankan hubungan erat antara manusia dengan lingkungan hidupnya. Manusia adalah mikro dari makro kosmos. Menurut pandangan ini, bumi memiliki nilai hakiki (intrinsic value) yang harus dihormati oleh manusia. Maka alam atau lingkungan tidak boleh diperlakukan semena-mena, karena bumi memunyai nilainya yang luhur yang harus dijaga, dihormati, dan dianggap suci.

Kita akan mencoba melihat pandangan-pandangan ini berdasarkan kesaksian Alkitab sebagaimana yang dikemukakan di bagian II di atas. Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa etika lingkungan tidak bersifat antroposentris, tetapi juga tidak sekadar bersifat biosentris atau ekosentris. Manusia dan semua makhluk hidup lainnya, bahkan seluruh planet bumi ini, bersumber dari Allah. Allah yang menciptakannya dan Allah menghendaki seluruhnya berada, topang- menopang, dan saling membutuhkan. Maka etika lingkungan, dari perspektif teologi Kristen, mestinya bersifat teosentris, artinya berpusat pada Allah sendiri. Kita perlu menjaga dan memelihara lingkungan hidup bukan saja karena kita membutuhkan sumber-sumber di dalamnya dan karena bumi ini adalah rumah kita (antroposentris), bukan pula karena makhluk hidup memiliki hak asasi seperti hak asasi manusia (biosentris), juga bukan karena bumi ini merupakan suatu ekosistem yang memiliki nilai intrinsik (ekosentris); kita perlu menjaga dan memelihara lingkungan hidup karena lingkungan hidup adalah ciptaan Allah, termasuk manusia, yang diciptakan untuk hormat dan kemuliaan- Nya.

Kalau kita memelihara lingkungan sekadar karena diperlukan untuk menopang hidup manusia, kita akan jatuh ke dalam materialisme, nilai etis yang telah terbukti merusak lingkungan. Kalau kita memelihara lingkungan karena sekadar kecintaan kita pada lingkungan yang memiliki hak seperti kita, maka kita akan jatuh ke dalam romantisisme, nilai etis yang cenderung utopis. Kita perlu memelihara lingkungan hidup kita sebagai ungkapan syukur pada Allah Sang Pencipta yang telah mengaruniakan lingkungan dengan segala kekayaan di dalamnya untuk menopang hidup kita dan yang membuat hidup kita aman dan nyaman. Juga sebagai tanda syukur kita atas pembaruan dan penebusan yang telah dilakukan Allah melalui pengorbanan Yesus Kristus. Maka memelihara lingkungan tidak lain dari ibadah kita kepada Allah. Bagaimana menjabarkan ibadah ini, norma-norma berikut kiranya perlu dikembangkan sebagai penjabaran etika lingkungan yang bersifat teosentris, dengan menunjukkan solidaritas dengan semua makhluk, dengan sesama (termasuk generasi penerus) dalam kasih dan keadilan.

1. Solidaritas dengan Alam

Karena manusia dengan lingkungan hidup adalah sesama ciptaan yang telah dipulihkan hubungannya oleh Tuhan Yesus Kristus, maka manusia, khususnya manusia baru dalam Kristus (2 Kor. 5:7), seharusnya membangun hubungan solider dengan alam. Hubungan solider (sesama ciptaan dan sesama tebusan) berarti alam mestinya diperlakukan dengan penuh belas kasihan. Manusia harus merasakan penderitaan alam sebagai penderitaannya dan kerusakan alam sebagai kerusakannya juga. Seluruh makhluk dan lingkungan sekitar tidak diperlakukan semena- mena, tidak dirusak, tidak dicemari dan semua isinya tidak dibiarkan musnah atau punah. Manusia tidak boleh bersikap kejam terhadap alam, khususnya terhadap sesama makhluk. Dengan cara itu, manusia dan alam secara bersama (kooperatif) menjaga dan memelihara ekosistem . Contoh konkret: manusia berdisiplin dalam membuang sampah atau limbah (individu, rumah tangga, industri, kantor, dan sebagainya) agar tidak mencemari lingkungan dan merusak ekosistem. Pencemaran/polusi mestinya dicegah, diminimalisir, dan dihapuskan supaya alam tidak sakit atau rusak. Kita bertanggung jawab atas kesehatan dan kesegaran alam kita.

Sikap solider dengan alam dapat pula ditunjukkan dengan sikap hormat dan menghargai (respek) terhadap alam. Tidak berarti alam disembah, tetapi alam dihargai sebagai ciptaan yang dikaruniakan Tuhan untuk memenuhi kebutuhan manusia, sekaligus yang menjadi cerminan kemuliaan Allah. Menghargai alam berarti menghargai Sang Pencipta dan Sang Penebus. Contoh konkret misalnya tidak membabat hutan sembarangan sebab membabat hutan dapat memusnahkan aneka ragam spesies dalam hutan. Contoh lain, tidak menangkap ikan dengan menggunakan bahan peledak atau bahan pemusnah lainnya. Sebaliknya, usaha menghargai dapat dilakukan melalui usaha-usaha kreatif mendukung dan melindungi kehidupan seluruh makhluk dan lingkungan hidup misalnya dengan tidak hanya penghijauan, pembudidayaan, tetapi juga usaha pemulihan dengan membersihkan lingkungan yang terlanjur rusak. Pokoknya, sikap solidaritas dengan alam dapat ditunjukkan dengan pola hidup berdisiplin dalam menjaga dan memelihara keseimbangan ekosistem secara konstan.

2. Pelayanan yang Bertanggung Jawab (Stewardship)

Alam adalah titipan dari Allah untuk dimanfaatkan/dipakai/digunakan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi sekaligus adalah rumahnya. Maka sumber-sumber alam diberikan kepada manusia tidak untuk diboroskan. Manusia harus menggunakan dan memanfaatkan sumber- sumber alam itu secara bertanggung jawab. Maka pemanfaatan/penggunaan sumber- sumber alam haruslah dilihat sebagai bagian dari pelayanan. Alam digunakan dengan memerhatikan keseimbangan antara kebutuhan manusia dengan kebutuhan lingkungan, yaitu menjaga ekosistem. Tetapi alam juga digunakan dengan memerhatikan kebutuhan sesama, termasuk generasi yang akan datang.

Memanfaatkan alam adalah bagian dari pertanggungjawaban talenta yang diberikan/dipercayakan oleh Tuhan kepada manusia (Mat. 25:14-30 par.). Allah telah memercayakan alam ini untuk dimanfaatkan dan dipakai. Untuk dilipatgandakan hasilnya, untuk disuburkan, dan dijaga agar tetap sehat sehingga produknya tetap optimal. Oleh karena itu, alam mesti dipelihara dan keuntungan yang didapat dari alam sebagian dikembalikan sebagai deposit terhadap alam. Tetapi juga dipergunakan secara adil dengan semua orang. Ketidakadilan dalam memanfaatkan sumber-sumber alam adalah juga salah satu penyebab rusaknya alam. Sebab mereka yang merasa kurang akan mengambil kebutuhannnya dari alam dengan cara yang sering kurang memerhatikan kelestarian alam, misalnya dengan membakar hutan, mengebom bunga karang untuk ikan, dan sebagainya. Sebaliknya, mereka yang tergoda akan kekayaan melakukan pengurasan sumber alam secara tanpa batas.

Panggilan untuk memanfaatkan sumber-sumber alam sebagai pelayanan dan pertanggungjawaban talenta akan mendorong kita melestarikan sumber- sumber alam, sekaligus melakukan keadilan terhadap sesama. Contoh konkret: manusia menghemat menggunakan sumber-sumber alam (bahan bakar fosil, hutan, mineral, dan sebagainya) agar tetap mencukupi kebutuhan manusia dan makhluk hidup lain secara berkesinambungan. Penghematan ini tidak hanya berarti penggunaan seminimal mungkin sumber-sumber alam sesuai kebutuhan (air, energi, kayu, dan sebagainya), tetapi mencakup pula pola 4R — “reduce”, “reuse”, “recycle”, “replace” (atau mengurangi, menggunakan ulang, mendaur ulang, dan mengganti) sumber- sumber alam yang kita pergunakan setiap hari. Dunia modern yang sangat praktis mengajar kita memakai lalu membuang. Sayangnya, yang sering dibuang itu adalah yang semestinya masih berguna kalau didaur. Tidak jarang pula yang dibuang itu sekaligus merusak lingkungan, misalnya bahan kimia atau kemasan kaleng dan plastik. Karena itu, bahan-bahan yang merusak alam sebaiknya tidak digunakan terlalu banyak dan tidak dibuang sembarangan.

3. Pertobatan dan Pengendalian Diri

Kerusakan lingkungan berakar dalam keserakahan dan kerakusan manusia. Itu sebabnya manusia yang dikuasai dosa keserakahan dan kerakusan itu cenderung sangat konsumtif. Secara teologis, dapat dikatakan bahwa dosa telah menyebabkan krisis moral/krisis etika dan krisis moral ini menyebabkan krisis ekologis, krisis lingkungan. Dengan demikian, setiap perilaku yang merusak lingkungan adalah pencerminan krisis moral yang berarti tindakan dosa. Dalam arti itu, maka upaya pelestarian lingkungan hidup harus dilihat sebagai tindakan pertobatan dan pengendalian diri. Dilihat dari sudut pandang Kristen, maka tugas pelestarian lingkungan hidup yang pertama dan utama adalah mempraktikkan pola hidup baru, hidup yang penuh pertobatan dan pengendalian diri, sehingga hidup kita tidak dikendalikan dosa dan keinginannya, tetapi dikendalikan oleh cinta kasih.

Materialisme adalah akar kerusakan lingkungan hidup. Maka materialisme menjadi praktik penyembahan alam (dinamisme modern). Alam dalam bentuk benda menjadi tujuan yang diprioritaskan bahkan disembah menggantikan Allah. Kristus mengingatkan bahaya mamonisme (cinta uang/harta) yang dapat disamakan dengan sikap rakus terhadap sumber-sumber alam (Mat. 6:19-24 par.; 1 Tim. 6:6-10). Karena mencintai materi, alam dieksploitasi guna mendapatkan keuntungan material. Maka supaya alam dapat dipelihara dan dijaga kelestariannya, manusia harus berubah (bertobat) dan mengendalikan dirinya. Manusia harus menyembah Allah dan bukan materi. Dalam arti itulah maka usaha pelestarian alam harus dilihat sebagai ibadah kepada Allah melawan penyembahan alam, khususnya penyembahan alam modern alias materialisme/mamonisme. Pelestarian alam juga harus dilihat sebagai wujud kecintaan kita kepada sesama sesuai ajaran Yesus Kristus, di mana salah satu penjabarannya adalah terhadap seluruh ciptaan Allah sebagai sesama ciptaan.

IV. Kesimpulan

Alam atau lingkungan hidup telah dikaruniakan oleh Tuhan kepada kita untuk digunakan dan dimanfaatkan demi kesejahteraan manusia. Manusia dapat menggunakan alam untuk menopang hidupnya. Dengan kata lain, alam diciptakan oleh Tuhan dengan fungsi ekonomis, yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Tetapi bukan hanya kebutuhan manusia menjadi alasan penciptaan. Alam ini dibutuhkan pula oleh makhluk hidup lainnya bahkan oleh seluruh sistem kehidupan atau ekosistem. Alam ini berfungsi ekumenis (untuk didiami) oleh seluruh ciptaan lainnya. Alam ini rumah kita. Kata-kata “ekonomi”, “ekumene”, dan “ekologi” berakar dalam kata Yunani “oikos” yang artinya rumah. “Ekonomi” berarti menata rumah; itulah tugas pengelolaan kebutuhan hidup. “Ekumene” berarti mendiami rumah; itulah tugas penataan kehidupan yang harmonis. “Ekologi” berarti mengetahui/menyelidiki rumah; itulah tugas memahami tanggung jawab terhadap alam.

Manusia adalah penata dalam rumah bersama ini. Pertama, ia adalah pengelola ekonomi, tetapi ia lebih dikuasai oleh kerakusan. Karena itu, diperlukan pembaruan/pertobatan dan pengendalian diri supaya timbul sikap respek dan tindakan penuh tanggung jawab terhadap lingkungan. Maka tanggung jawab Kristen dalam memelihara kelestarian lingkungan kiranya dapat pula dirumuskan dalam pola 4R — “repent”, “restraint”, “respect”, “responsible” (atau bertobat, menahan diri, menghormati, dan bertanggung jawab). Ibadah yang sejati adalah ibadah yang dapat diimplementasikan secara bertanggung jawab dalam hidup yang nyata.

Dalam menata kehidupan bersama, umat Kristen harus bermitra dengan semua orang, bahkan dengan semua makhluk. “Ekumene” berarti bekerja bersama membangun kehidupan di atas planet ini. Tugas itu adalah tugas bersama semua orang dan seluruh ciptaan. Maka tugas orang Kristen adalah memberi kontribusinya sesuai dengan iman dan pengharapan kepada Allah, memperkaya dan mengoptimalkan ibadahnya dengan terus-menerus menjaga dan memelihara kehidupan yang diberikan Tuhan kepadanya sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan. Optimalisasi ibadah itu dinyatakan dalam bentuk disiplin, penghematan, dan pengendalian diri.

Kepustakaan

Berkhof, Hendrikus. Christian Faith. Grand Rapids: Eermands, 1997.

Bhagat, Shantilal P. Creation in Crises: Responding to God Covenant. Illionis: Bredren, 1990.

Birch, Charles. et. al. eds. Liberating Life: Contemporary Approach to Ecological Theology. Maryknoll: Orbis, 1990.

Derr, Thomas Sieger. Ecology and Human Liberation. Geneva: WCC, 1973.

Drummond, Celia-Dianne. A Handbook in Theology and Ecology. London: SCM Press, 1996.

Pojman, Louis P. ed. Environmental Ethics. Oxford: Blackwell, 1993.

Stott, John. Issues Facing Christian Today. London: Marshall Morgan and Scott, 1984.

Wolf, H. W. Antropology of the Old Testament. Philadelphia: Fortress, 1981.

Sumber:

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama jurnal : Jurnal Pelita Zaman; Volume 13 No. 1, 1998
Penulis : Robert P. Borrong
Penerbit : Yayasan Pengembangan Pelayanan Kristen Pelita Zaman, Bandung 1998
Halaman : 8–18

Jonathan Edwards dan Afeksi yang Suci

Dalam tulisannya, Justification by Faith Alone, Jonathan Edwards, seorang theolog Amerika pada abad ke-18, mengemukakan bahwa seseorang dibenarkan jika dia dinyatakan oleh Allah sebagai orang yang bebas dari kesalahan dosa, bebas dari hukuman, dan memiliki kebenaran sehingga dia layak diberikan hidup yang kekal.[1] Jadi menurut Edwards, pembenaran itu terjadi karena Allah menyatakannya. Tetapi setelah dibenarkan, lalu apa? Apakah konsekuensi pembenaran ini hanyalah (mmm… memang bisa ya disebut “hanya”) status yang dibenarkan saja? Tentu tidak. Edwards juga mengatakan bahwa pembenaran mesti selalu dikaitkan dengan “pemberian kemuliaan sebagai konsekuensi yang pantas atas keadaan benar tersebut.”[2] Pemuliaan ini maksudnya apa? Pemuliaan ini hanya dapat terjadi karena kita, orang-orang yang dibenarkan, berada di dalam Kristus oleh iman kita dan mendapatkan segala keuntungan yang didapatkan melalui kesatuan ini.[3] Jadi, baik pembenaran maupun kemuliaan dari orang yang dibenarkan merupakan bagian-bagian dari konsep “justification by faith”.

Justification dan Afeksi

Selain semua konsekuensi yang diberikan di dalam pembenaran yang telah dibahas di atas, ada satu lagi konsekuensi dari pembenaran kita, yaitu afeksi. Apakah afeksi itu? Edwards memberikan pengertian mengenai afeksi sebagai sesuatu yang diberikan Tuhan untuk menjadi bagian dari jiwa kita. Edwards mengatakan:

“God has endued the soul with two faculties: one is that by which it is capable of perception and speculation, or by which it discerns, and views, and judges of things; which is called the understanding. The other faculty is that by which the soul does not merely perceive and view things, but is some way inclined with respect to the things it views or considers; either is inclined to them, or is disinclined and averse from them… This faculty is called by various names; it is sometimes called the inclination… will… often called the heart.”[4]


Lalu afeksi? Afeksi merupakan… these more vigorous and sensible exercise of this faculty (heart).[5] Afeksi merupakan bentuk kehendak yang dilakukan… in the liveliness and sensibleness of exercise.[6]
Dengan demikian, bagi Edwards pertobatan sejati harus berdampak pada afeksi yang suci. Afeksi yang suci adalah afeksi sejati yang ada dalam diri seseorang, yang berasal dari perubahan natur orang tersebut oleh karya Roh Kudus. Afeksi yang disucikan juga adalah tanda mutlak seseorang sudah dibenarkan. Tanpa perubahan natur yang dikerjakan oleh Roh Kudus ini seseorang tidak sanggup memiliki afeksi sejati, dan tanpa afeksi sejati ini, maka kehidupan beragama yang dijalankan hanyalah kehidupan “main drama” yang palsu. Edwards mengatakan:

“If we be not in good earnest in religion, and our wills and inclinations be not strongly exercised, we are nothing. The things of religion are so great, that there can be no suitableness in the exercises of our hearts to their nature and importance, unless they be lively and powerful.  In nothing is vigour in the actings of our inclinations so requisite as in religion; and in nothing is lukewarmness is so odious.”[7]

Edwards mengatakan bahwa baik gairah yang suci, kerinduan akan Allah, lapar dan haus akan Allah, dan kesucian hidup, merupakan bagian yang penting dalam agama sejati.[8] Ini merupakan sifat-sifat yang muncul ketika seseorang diberikan natur baru dan adalah sifat-sifat yang ada dalam afeksi yang suci. Edwards memberikan contoh seseorang dengan natur afeksi sejati ini di dalam diri Daud. Dia mengatakan bahwa:

“Those holy songs of his he has there left us are nothing else but the expressions and breathings of devout and holy affections; such as an humble and fervent love to God, admiration of His glorious perfections and wonderful works, earnest desires, thirstings, and pantings of soul after God, delight and joy in God, a sweet and melting gratitude to God for His great goodness, a holy exultation and triumph of soul in the favour, sufficiency, and faithfulness of God, his love to and delight in the saints, the excellent of the earth, his great delight in the Word and ordinances of God, his grief for his own and others’ sins, and his fervent zeal for God and against the enemies of God and his church.”[9]


Semua afeksi ini merupakan sesuatu yang tidak mungkin dimiliki oleh manusia yang belum diubahkan. Kok tidak mungkin? Karena setiap karakteristik tersebut merupakan karakteristik yang tidak berasal dari dunia ini. Anugerah Tuhan yang mempertobatkan telah memberikan natur baru yang tidak mungkin diusahakan oleh orang berdosa. Edwards mengatakan:

“Hence, therefore, the religion of heaven, consisting chiefly in holy love and joy, consists very much in affection; and therefore, undoubtedly, true religion consists very much in affection… if we would learn what true religion is, we must go where there is true religion, and nothing but true religion, and in its highest perfection, without any defect or mixture. All who are truly religious are not of this world; they are strangers here and belong to heaven; they are born from above… that principle of true religion which is in them is a communication of the religion of heaven; their grace is the dawn of glory; and God fits them for that world by conforming them to it.”[10]

Maka natur baru ini merupakan natur yang dipersiapkan Tuhan untuk suatu tempat di mana natur itu akan cocok. Tempat itu bukanlah dunia ini, melainkan dunia yang akan datang. Sebagaimana pemilik natur ini disebut orang-orang yang lahir dari atas, maka di atas itu pula tempat di mana natur itu mendapatkan tempatnya. Maka afeksi yang diubahkan Tuhan merupakan sesuatu yang tidak mungkin lepas dari karya pembenaran Tuhan. Edwards mengatakan pada kutipan di atas bahwa orang-orang ini dilahirkan dari atas.

Afeksi dan Union with Christ

Sekarang kita akan masuk lebih dalam untuk mengerti konsep afeksi ini. Afeksi sejati yang layak diberikan kepada Tuhan adalah afeksi sejati sebagaimana yang dimiliki Kristus. Tidak mungkin lebih dan tidak boleh kurang. Seorang yang mendalami Edwards yaitu Dr. Samuel Logan mengatakan bahwa dalam mempelajari Edwards dan kebangunan rohani Northampton, salah satu yang terpenting adalah mempelajari bagaimana Edwards mengkhotbahkan khotbah-khotbah yang memberikan penghormatan kepada Kristus. Suatu khotbah yang dihargai oleh Roh Kudus, bersifat doktrinal, tetapi sekaligus juga affectionate. Intinya adalah khotbah yang memalingkan wajah pendengar kepada kemuliaan Allah dalam Anak-Nya, Yesus Kristus.[11] Afeksi sejati muncul dari hal ini. Edwards mengatakan:

“How they can sit and hear of the infinite height, and depth, and length, and breadth of the love of God in Christ Jesus, of His giving His infinitely dear Son, to be offered up a sacrifice for the sins of men, and of the unparalleled love of the innocent, and holy, and tender Lamb of God, manifested in His dying agonies, His blood sweat, His loud and bitter cries, and bleeding heart, and all this for enemies, to redeem them from deserved, eternal burnings, and to bring unspeakable and everlasting joy and glory – and yet be cold and heavy, insensible and regardless! Where are the exercises of our affections proper, if not here?”[12]

Kemurnian afeksi sedemikian merupakan sesuatu yang dianugerahkan dari atas. Kemurnian afeksi ini juga menjadi sesuatu yang membedakan antara afeksi rohani sejati dengan afeksi yang palsu. Tanda pertama dan yang paling penting adalah afeksi terhadap berita Injil. Di sinilah permulaan pertobatan seseorang dan permulaan dimulainya proses penyucian yang menumbuhkan afeksi tersebut secara indah. Pembenaran ditandai dengan adanya afeksi yang diberikan secara limpah kepada Yesus Kristus dan kasih-Nya yang berkorban. Afeksi yang hanya mungkin muncul karena pekerjaan Roh Kudus. Amy Pauw, seorang sarjana Edwards, mengatakan bahwa bagi Edwards,

“…the saving knowledge conveyed to the saints is not a bare “notional” knowledge of the things of religion: it is truly “Christ’s being in the creature in the name, idea, or knowledge of God being in them.”[13]
Dengan demikian, afeksi kepada Kristus menjadi awal dan akan terus bertumbuh hingga pada akhirnya kita memiliki afeksi Kristus sendiri. Afeksi yang mencintai Tuhan, mencintai kesucian, dan merindukan kebenaran dan kemuliaan Allah. Maka penyucian hidup dan afeksi kita hanya dapat terjadi karena Kristus berada di dalam kita dan kita di dalam Dia.[14]

Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa afeksi yang palsu adalah afeksi yang tidak memiliki Kristus. Afeksi yang tanpa Kristus, tidak diarahkan kepada Kristus, dan tidak menyerupai afeksi-Nya dalam diri kita. Karakteristik afeksi palsu menurut Edwards berpusat pada afeksi yang berfokus kepada diri dan pengalaman diri sendiri, bukan kepada Kristus. Edwards mengatakan, “What they are principally taken and elevated with is not the glory of God, or beauty of Christ, but the beauty of their experiences,[15] dan, “They take more comfort in their discoveries than in Christ discovered.”[16] Afeksi rohani merupakan sesuatu yang menipu dan mungkin lebih menunjukkan diri ketimbang afeksi sejati. Edwards menunjuk kepada mental pamer dari orang Farisi.[17] Ini menunjukkan bagaimana Edwards yang sebelum tahun 1740 adalah pembela bagi afeksi rohani, sekarang dengan lebih bijaksana menunjukkan bahwa afeksi yang meluap-luap belum tentu keluar dari hati yang telah diperbarui dan telah memiliki Kristus. Pada masa di mana pengalaman rohani dan emosi berlebihan mulai mewarnai keadaan gereja, pengajaran Edwards ini menjadi semacam pengerem ekses-ekses yang sebenarnya justru berakibat negatif bagi kelanjutan kebangunan rohani.[18]

Afeksi dan Constant Need of Repentance

Hal yang berikut adalah afeksi sejati dan kesucian hidup. Helen Westra mengatakan bahwa dalam konsep Edwards, Allah bekerja dengan terlebih dahulu menyatakan apa penghukuman-Nya baru kemudian menyatakan apa itu anugerah-Nya.[19] Dengan demikian setiap orang yang mengalami ketakutan akan penghukuman Allah lalu berbalik kepada Kristus dan diselamatkan akan terus-menerus mengalami kesadaran akan efek dosa dan betapa Allah membenci dosa. Maka Edwards mengatakan bahwa Allah menginginkan manusia untuk mengalami kepastian keselamatan bukan dengan menilai diri tetapi dengan tindakan.[20] Tindakan yang terus berjuang untuk hidup sebagaimana Tuhan mau kita hidup. Menyucikan seluruh aspek hidup hanya untuk Kristus. Edwards juga menganggap setiap kali seorang Kristen jatuh dalam dosa, tidak seharusnya dia memiliki ketenangan. Seharusnya dia merasa takut dan seharusnya juga dia mengalami keragu-raguan akan keselamatannya.[21] Oops... Bukankah ini bertentangan dengan jaminan keselamatan kekal? Tidak. Kenapa tidak? Karena inilah cara Allah bekerja. Menurut Edwards, Allah justru memberikan kegoncangan kepada orang pilihan-Nya yang sedang berada di dalam dosa. Inilah pengertian constant need of repentance dari Edwards. Setiap kali seseorang yang sudah dibenarkan berbuat dosa, dia akan kembali lagi mengingat kegentaran akibat murka Tuhan, merasa gentar, bahkan ragu-ragu akan statusnya, tetapi kemudian berada dalam sukacita dan comfort dari pengampunan dan kasih setia Tuhan.

Pertumbuhan Spiritual Sejati

Edwards tidak melihat jaminan keselamatan ada pada keyakinan diri, melainkan pada bagaimana Roh terus bekerja memperbarui seseorang yang telah berada dalam Kristus. Itulah yang menjadi tanda. Dan Edwards juga mengingatkan bahwa adalah kesalahan untuk memiliki kepastian saat kita berdosa, karena Roh yang sejati justru akan menggerakkan kita untuk tidak tenang dan bertobat. Maka di sini secara paradoks keragu-raguan dapat menjadi petunjuk akan kehadiran Roh Kudus dalam diri kita.

Pemisahan antara pembenaran, kesucian, dan afeksi sejati merupakan sesuatu yang dapat mengakibatkan seseorang gagal melihat pekerjaan Tuhan, menyatakan kebenaran dan kesucian-Nya. Dalam kitab Imamat Tuhan mengatakan bahwa Dia menyatakan kekudusan-Nya kepada orang yang karib dengan Dia.[22] Karena itu Edwards mengajarkan kepada kita untuk memiliki kepastian keselamatan pada makin terkonfirmasinya panggilan kita untuk hidup suci bagi Tuhan. Memang Tuhan memberikan kepastian keselamatan itu, tetapi dengan melepaskan janji keselamatan ini dengan kekudusan, maka anugerah Tuhan yang mulia itu akan menjadi murah. Sebagaimana dikatakan oleh Dietrich Bonhoeffer, “Kalau anugerah itu “dirampok” dari divine character-nya, maka anugerah itu akan menjadi cheap.”[23] Dan sebagaimana dikatakan Edwards, “A true love to God must begin with a delight in His holiness, and not with a delight in any other attribute; for no other attribute is truly lovely without this.”[24]

Jimmy Pardede
Gembala Sidang GRII Malang


[1] Jonathan Edwards, “Justification By Faith Alone,” dari The Works of Jonathan Edwards, 2 Vol., Vol. 1. Massachusetts: Hendrickson, Cetakan Kelima: 2005. Hlm. 623.
[2] Ibid.
[3] Ibid.
[4] Jonathan Edwards, Religious Affections. Hlm. 24.
[5] Ibid. Hlm. 25.
[6] Ibid.
[7] Religious Affections . Hlm. 59.
[8] Ibid. Hlm. 32.
[9] Ibid. Hlm. 37.
[10] Ibid. Hlm. 43.
[11] Samuel Logan, “Jonathan Edwards and the 1734-35 Northampton Revival,” dari God’s Fiery Challenger For Our Time: Festschrift in Honor of Stephen Tong. Benyamin Intan, ed. Jakarta: Reformed Center for Religion and Society, 2007. Hlm. 265.
[12] Religious Affections . Hlm. 52.
[13] Amy Plantinga Pauw, The Supreme Harmony of All: The Trinitarian Theology of Jonathan Edwards. Grand Rapids: Eerdmans, 2002. Hlm. 124.
[14] Religious Affections. Hlm. 128.
[15] Ibid. Hlm. 177.
[16] Ibid.
[17] Ibid. Hlm. 64.
[18] George Marsden, Jonathan Edwards: A Life. New Haven: Yale University Press, 2003. Hlm. 284.
[19] Helen Westra, “Divinity’s Design: Edwards and the History of the Work of Revival,” dari Edwards in Our Time, Sang Hyun Lee dan Allen C. Guelzo, ed. Grand Rapids: Eerdmans, 1999. Hlm. 139.
[20] Religious Affections. Hlm. 123.
[21] Ibid. Hlm. 122.
[22] Band. Imamat 10:3.
[23]Dietrich Bonhoeffer, Ethics, Eberhard Bethge, ed. New York: Collier Books, 1986. Hlm. 125.
[24] Religious Affections. Hlm. 183.