Tujuh Langkah Menuju Hidup yang Bijaksana

DUA BAGIAN KEBIJAKSANAAN

John Calvin, yang memainkan peran utama dalam pengembangan pemikiran Barat selama era Reformasi, juga dikenal sebagai sosok yang ramah dan pandai dalam membina persahabatan.

Ia mengabdikan seluruh hidupnya untuk meneliti dan menyusun topik- topik Alkitab ke dalam pola yang rapi dan logis. Dia terus menambahkan pemikirannya sehingga hasil akhir bukunya yang besar dan berat yang berjudul, “The Institutes of the Christian Religion” (Institusi Agama Kristen), berisi lebih dari 1.500 halaman. Semua teolog yang hebat, mau tidak mau, harus mempertimbangkan pemikiran-pemikiran Calvin.

Dampak karyanya terhadap semua agama, apalagi melihat panjangnya karya itu, membuat kata pengantar dalam karya tulisannya menjadi istimewa dan semakin penting. Kata pengantarnya patut mendapat pertimbangan khusus. Calvin menulis: “Hampir semua kebijaksanaan yang kita miliki, yaitu kebijaksanaan yang benar dan mendalam, terdiri dari dua bagian saja: pengetahuan mengenai Tuhan dan pengetahuan mengenai diri kita sendiri.”

Dengan terus mencari tahu dan mengusahakan pengetahuan tentang Tuhan dan pengetahuan mengenai diri sendiri, kita dapat terbang tinggi menuju horizon kedamaian, makna, dan tujuan yang kekal. Rahasia objektivitas, pertumbuhan, dan kebijaksanaan rohani adalah mencari Allah seperti apa adanya Dia dan memeriksa kehidupan kita sendiri dengan saksama.

Itu semua adalah unsur-unsur penting yang membangun kehidupan bahagia dan memuaskan. Bagaimana kita mencapai hal itu? Apakah tujuan akhir usaha kita? Jawaban yang paling benar adalah kebijaksanaan. “Kebijaksanaan adalah segala-galanya, karenanya perolehlah kebijaksanaan” (Amsal 4:7). Yang dimaksud di sini bukan kebijaksanaan duniawi, melainkan kebijaksanaan yang berasal dari Tuhan.

Kebijaksanaan — mengenal diri sendiri dan Allah seperti apa adanya Dia — akan menghubungkan kita dengan rancangan kekal dari Pribadi yang menciptakan kita. Mari kita lihat tujuh hal penting yang bisa dilakukan umat Kristen agar tidak menciptakan sinkretisme. Tujuh cara ini sekaligus menjadi daftar langkah-langkah yang disarankan, yang akan membimbing kita menuju sebuah kehidupan yang bijaksana.

  1. MEMPELAJARI KARAKTER ALLAH
  2. Selama bertahun-tahun, saya mendengar beberapa orang yang sangat rohani mengatakan kira-kira seperti ini: “Jika Anda benar-benar ingin dekat dengan Tuhan, cara terbaik yang dapat Anda lakukan adalah mengenali dan mempelajari atribut-atribut-Nya.” Saya mendapati hal ini benar. Saat kita berhasil menembus kecemerlangan karakter dan atribut Allah, sebuah dunia pemahaman rohani yang utuh, baru, dan kaya akan terbuka bagi kita.

    Kita mempelajari atribut-atribut Allah untuk menemukan siapa sebenarnya Dia. Kalau kita tidak berusaha mengenal-Nya, maka kita hanya sekadar menjadi orang Kristen tradisi. Orang Kristen tradisi berusaha mengenal Allah sebagaimana yang mereka inginkan (yang mereka ciptakan), bukan Allah seperti apa adanya Dia. Allah bukanlah Allah yang kita ciptakan dalam pikiran kita. Allah adalah Allah, yang tidak berubah. Tidak ada tugas yang lebih mulia daripada menyerahkan harapan dan presuposisi kita di hadapan takhta anugerah dan rahmat-Nya … sehingga kita dapat semakin mengenal-Nya … sehingga kita sungguh- sungguh mengenal-Nya.

    Kesan-kesan pertama kita tentang Tuhan Allah dibentuk oleh budaya kita: tempat kita lahir, siapa orang tua kita, agama yang kita praktikkan, kemampuan kita, dan kekecewaan kita. Kata “Bapa” sangat kaya akan makna karena artinya sangat terkait dengan pengalaman kita dengan bapak duniawi yang kita miliki. Ini berarti kita harus mencurahkan waktu yang banyak untuk mengubah konsep lama kita, sambil mengisi hidup baru kita dengan ajaran yang benar mengenai Tuhan.

    Tidak banyak orang yang berusaha untuk mencapai kehidupan yang bersemangat untuk senantiasa taat pada Allah dan mengenal Allah. Menurut Anda, berapa banyak orang yang demikian? Zaman kita sekarang ini adalah zaman yang buta Alkitab. Menurut grup riset Barna (Barna Research Group), 93% rumah tangga di Amerika memiliki Alkitab, tetapi hanya 12% saja yang membacanya setiap hari.

    Jika kita memiliki pandangan yang sinkretis mengenai Allah sebagaimana adanya Dia, maka kita tidak mengenal Allah, melainkan allah.

    [Pertanyaan diskusi:]

    Seberapa baik Anda dapat menggambarkan karakter dan atribut Allah?

  3. MENJALANI KEHIDUPAN YANG MAWAS DIRI
    1. Hati adalah bagian yang memunyai keinginan untuk menipu diri sendiri. “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu.” (Yeremia 17:9)
  4. Seorang pemuda Kristen yang hampir mencapai usia 30 tahun mengeluh, “Saya telah menjadi orang yang sangat tidak peduli dan sinis. Di rumah, saya seperti Jekyll yang baik hati, tetapi di kantor, saya seperti Hyde yang jahat. Saya khawatir jika saya tidak melakukan perubahan yang radikal sekarang ini, mungkin nantinya saya tidak akan pernah dapat berubah.”

    Bagi banyak orang, apa yang tampaknya menyenangkan ternyata merupakan suatu lubang rutinitas yang membosankan. Jika kita berada terlalu lama dalam lubang itu, suatu saat kita melihat ke atas dan kita tidak dapat keluar lagi dari lubang itu menuju pada kebebasan. Seorang teman mengatakan: “Lubang itu sama seperti sebuah kuburan tanpa jalan keluar.”

    Saya tidak tahu daerah-daerah di mana Anda sering kali berada, tetapi ke mana pun saya pergi sekarang ini, saya selalu menjumpai orang-orang yang lelah, bukan hanya lelah jasmani, tetapi juga lelah secara mental, emosional, kejiwaan, dan rohani. Orang Kristen tidak kebal terhadap kelelahan itu. Jika kita selalu sibuk dan selalu tergesa- gesa, maka kita pun tidak akan dapat melihat segala sesuatunya dengan jelas dan kita akan kehilangan fokus. Orang yang lelah tidak memeriksa diri mereka, mereka tidak punya waktu untuk melakukan diagnosa.

    Cara tercepat untuk mencapai injil palsu adalah ditipu oleh kehidupan yang terlalu sibuk dan tidak pernah memeriksa diri. Salah satu penelaahan istilah alkitabiah yang paling membuka pikiran yang pernah saya lakukan ialah pada kata “menipu” dan kata-kata perluasannya.

  5. Kita, manusia lama, adalah penipu yang penuh tipu daya. “Manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan.” (Efesus 4:22)
  6. Orang dengan sengaja memanipulasi orang lain. “Aku dikepung oleh kejahatan pengejar-pengejarku” (Mazmur 49:5). “Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata hampa.” (Efesus 5:6)
  7. Para antek setan selalu merancang penipuan. “(Binatang) menyesatkan mereka yang diam di bumi.” (Wahyu 13:14)
  8. Dan sudah jelas, si setan ular itu sendiri adalah raja penipu. “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.” (Kejadian 3:13)

Sungguh merupakan skenario yang menyedihkan jika Tuhan tidak memberikan bantuan untuk mengatasi jaring-jaring penyesatan itu. Penangkalnya adalah menjalani kehidupan yang mawas diri, dan secara rutin meninjau cara dan gaya hidup kita.

Kelemahan manusia yang utama pada akhir abad ke 20 (seperti halnya pada akhir setiap abad) ialah hidup dengan tidak mawas diri. Kehidupan yang tidak mawas diri mau tidak mau merupakan kehidupan yang sinkretis, yang berkompromi dengan cara-cara duniawi.

[Pertanyaan diskusi:]

Apakah Anda dapat mengatakan bahwa Anda sudah mengintrospeksi diri Anda dengan baik?

  • MELAKUKAN SAAT TEDUH PRIBADI SECARA TERATUR
  • Richard Dobbins, pendiri Emerge Ministries, bekerja menolong para pendeta yang terjerumus ke jurang dosa seksual. Dobbins memerhatikan ada satu kesamaan di antara pendeta-pendeta yang terjerumus tadi. Ia mengatakan, “Tidak satu pun dari para pendeta itu menyisihkan waktu untuk melakukan renungan pribadi setiap hari.” Dengan kata lain, pada hari-hari, pekan-pekan, dan bulan-bulan sebelum kegagalan moral mereka, tugas-tugas kependetaan mereka berjalan terus, tetapi pengawasan diri mereka sendiri di hadapan Kristus berhenti. Dobbins mengatakan, masalah akan timbul jika kita tidak dapat membedakan antara “jalan kita dengan Tuhan” dengan “kerja kita untuk Tuhan”.

    Jika pendeta saja harus terus waspada untuk menjaga agar kehidupan rohaninya tetap segar, betapa rapuhnya kaum awam yang setiap hari harus menghadapi dunia keras yang penuh godaan? Saat kita tidak memenuhi momen-momen pribadi kita dengan Tuhan, maka hidup kita mulai digerakkan oleh tenaga cadangan, dan setelah itu oleh uap. Kita tidak memiliki kuasa Roh Kudus untuk menjalani hidup yang patut untuk melakukan panggilan yang kita terima kecuali kita berkelimpahan akan Kristus. Jika kita minum air hidup dari Tuhan sepenuhnya, kita akan memiliki cukup Kristus untuk menyegarkan diri kita sendiri dan membagikannya kepada orang lain.

    Alkitab sama sekali tidak mengatakan bahwa kita harus membaca Alkitab setiap hari. Namun, Alkitab mengatakan bahwa orang yang merenungkan ayat-ayat Alkitab setiap hari adalah “bagaikan pohon yang berada di tepi sungai yang menghasilkan buah pada musimnya dan yang daun-daunnya tidak layu. Apapun yang diperbuatnya berhasil” (Mazmur 1:3). Alkitab juga mengatakan, “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga- jagalah di dalam doamu itu dengan dengan permohonan yang tak putus- putusnya.” (Efesus 6:18)

    Alkitab tidak mengatakan bahwa kita harus membaca Alkitab dan berdoa setiap hari. Namun, Alkitab mengatakan bahwa kita sebaiknya merenungkan firman Tuhan dan berdoa mengenai segala sesuatu secara terus-menerus. Konsep alkitabiahnya adalah kita berkomunikasi dengan Tuhan secara terus-menerus. Sebetulnya, konsep saat teduh setiap hari adalah akomodasi budaya untuk kehidupan yang sibuk, penuh dengan acara. Karena kebanyakan dari kita memunyai jadwal yang padat setiap hari, gagasan beberapa menit sehari yang disisihkan khusus untuk membaca Alkitab dan berdoa adalah gagasan yang berharga. Saat teduh harian dengan Tuhan bukan suatu kewajiban, tetapi tindakan yang bijaksana. Coba saja tanyakan kepada setiap pendeta yang pernah terjerumus ke dalam dosa.

    Secara pribadi, saya tahu banyak orang yang menghadapi pergumulan berat meskipun mereka menjaga kehidupan yang dekat dan intim bersama Yesus. Tetapi saya melihat tidak seorang pun dari mereka mengalami kekecewaan pada akhirnya. “Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.” (Yakobus 1:25)

    Di pihak lain, saya tahu banyak orang Kristen yang sangat menderita hanya karena mereka tidak mencari hadirat Tuhan melalui saat teduh yang teratur saat mereka menghadapi kesulitan hidup. Tanpa waktu bersama Tuhan setiap hari, maka benih-benih sinkretisme akan berakar.

    Pertimbangkan untuk menetapkan batas waktu yang maksimum untuk bersaat teduh, bukan minimum. Hal ini akan meminimalisir kesalahan. Jika sebelumnya Anda tidak pernah menyisihkan waktu untuk bersaat teduh, mulailah dengan batas waktu maksimum 5 menit. Kalau merasa belum ingin berhenti setelah lewat lima menit, bisa diteruskan beberapa saat lagi. Bacalah satu bab dalam Perjanjian Baru dan berdoalah (seperti Doa Bapa Kami). Jangan berharap kita akan dapat melakukannya setiap hari, tetapi pilihlah waktu dan tempat yang tetap sehingga Anda dapat melakukannya dengan cukup teratur; lima sampai tujuh kali seminggu. Jika Anda membaca satu bab Perjanjian Baru setiap hari selama 5 hari dalam seminggu, maka Anda akan selesai membacanya dalam waktu 1 tahun (260 bab). Jika batas waktu saat teduh maksimum yang kita tetapkan terasa terlalu singkat, batas waktu itu dapat diperpanjang, tetapi lakukanlah secara perlahan-lahan dan bertahap. Jika harapan kita realistis, kita dapat merancang program saat teduh yang berhasil.

    [Pertanyaan diskusi:]

    Apakah Anda menyisihkan waktu secara teratur untuk bersaat teduh secara pribadi dengan Tuhan? Komitmen untuk bersaat teduh dengan Tuhan yang realistis itu seperti apa?

  • BERPIKIR SECARA BERBEDA
  • Kebanyakan dari kita menambahkan Tuhan Yesus sebagai minat tambahan dalam hidup kita yang sudah sibuk dengan jadwal yang padat. Sebut saja hal itu sebagai injil tambahan. Injil Yesus Kristus adalah menambahkan Dia, tetapi juga mengurangi sesuatu — yang Alkitab sebut sebagai pertobatan. Keselamatan mencakup perubahan dan pertobatan. Paulus mengatakan: “bahwa mereka harus bertobat (membuang dosa) dan berbalik kepada Allah (berubah dan menambahkan Kristus) serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu” (Kis. 26:20). Injil Yesus Kristus datang melalui iman dan pertobatan.

    Pertobatan berarti berpikir secara berbeda. Tuhan ingin kita berpikir berbeda, lain dari yang biasa kita lakukan. Untuk melakukannya, kita “menambahkan” sesuatu dalam hidup kita dan mengurangi sesuatu pula. Tuhan menggarap rincian karakter dan sifat-sifat kita. Dia ingin menambahkan sesuatu ke dalam karakter kita dan membuang sesuatu dari karakter kita. Saat kita menambahkan Yesus tetapi tidak menghilangkan dosa, kita tidak mengikuti Injil Tuhan, melainkan injil palsu yang sinkretis.

    [Pertanyaan diskusi:]

    Dalam hal apa Anda sudah berpikir berbeda? Apakah Anda sudah berpikir jauh berbeda seperti yang Anda inginkan? Bagaimana kita maju lebih jauh lagi?

  • MENERIMA OTORITAS ALKITAB
  • Seorang perempuan Kristen mengatakan kepada saya bahwa dia bermaksud meninggalkan suami dan ketiga anaknya guna mengejar karier profesional. Dia meminta saran saya.

    “Menurut Anda, apa kata Alkitab mengenai hal ini?” tanya saya.

    “Alkitab mengatakan bahwa saya seharusnya tidak boleh menceraikan suami saya. Saya tahu itu. Itu sebabnya pikiran saya sangat kacau. Saya merasa ini adalah sesuatu yang harus saya lakukan, tetapi pikiran saya bimbang terus selama berbulan-bulan. Sahabat-sahabat saya berpikir saya tidak waras,” katanya.

    Sekarang ini kita hidup pada zaman yang memusatkan perhatian pada perasaan. Penekanan yang berlebihan pada perasaan merupakan ciri relativisme. Namun, orang percaya tidak boleh memercayai perasaan. Perasaan harus berada di bawah otoritas moral Alkitab. Perasaan dapat menjerumuskan. Perasaan menuntun kita ke arah sinkretisme.

    Setiap perasaan yang membawa kita kepada keputusan yang berlawanan dengan firman Tuhan, berasal dari daging dan harus dicegah. Alkitab harus menjadi otoritas terakhir kita, bukan emosi yang goyah. “Sebab firman Allah itu hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua … ia sanggup membedakan pertimbangan dan hati kita.” (Ibrani 4:12)

    Salah satu krisis yang paling besar dalam kebudayaan kita adalah pemberontakan melawan otoritas. Baru-baru ini, pada waktu saya pergi naik mobil ke lapangan kasti liga anak-anak, saya menjumpai sekelompok anak laki-laki bersepeda. Salah satu di antara mereka menyerukan teriakan yang tidak pernah saya dengar sebelumnya kepada saya — orang yang sudah tua — sementara yang lain tertawa. Saya pura-pura tidak menghiraukan seruan itu dan terus berjalan, tetapi hati saya kesal.

    Semenit kemudian, seorang anak menyeberang di depan saya di sebuah persimpangan. Lampunya hijau untuk saya dan merah untuk dia. Pada waktu saya menginjak rem dengan keras, dia mencemooh saya seolah-olah saya orang yang paling bodoh di muka bumi ini. Mungkin dia benar karena saya benar-benar merasa bodoh. Jelas saya ingin sekali menabrak anak tadi, tetapi saya tahu orang tidak akan mengerti.

    Masalahnya adalah anak-anak kecil nakal yang lucu itu tumbuh menjadi dewasa. Dan pada waktu mereka dewasa, mereka senang melawan otoritas. Mereka bersikap memberontak seperti itu terhadap gereja dan firman Tuhan. Bila ada seseorang atau pihak tertentu seperti gereja meminta mereka patuh pada otoritas, mereka tidak mau melakukannya.

    [Pertanyaan diskusi:]

    Apakah ada anak kecil nakal di dalam diri Anda? Apakah Anda bergumul dengan masalah otoritas? Mengapa taat terhadap firman Tuhan sebagai otoritas moral itu amat penting?

  • MEMBEDAKAN ALKITAB DARI NORMA-NORMA BUDAYA
  • Dewasa ini, anak-anak perempuan menelepon anak-anak lelaki. Memangnya kenapa? Saya rasa kita sangat keliru jika kita berpikir bahwa pelanggaran norma-norma budaya sama dengan pelanggaran Alkitab. Dalam kebudayaan kita, kebanyakan orang tua tumbuh pada zaman di mana hanya anak-anak perempuan nakal saja yang menelepon anak-anak lelaki. Kini, cara pikir anak-anak tidak sama dengan cara pikir orang tua mereka dulu. Mengubah pendapat yang berbeda mengenai norma-norma budaya dan menjadikannya isu rohani adalah hal yang tidak masuk akal.

    Pada waktu kita menjadi Kristen, kita cenderung membawa budaya bersama kita. Hampir selalu demikian keadaannya. Pada abad pertama, ada dua kelompok orang yang menjadi Kristen: orang Yahudi dan non-Yahudi, kelompok yang religius dan tidak religius. Kedua kelompok itu cenderung membawa budaya bersama mereka. Mereka berusaha membuat Injil Yesus Kristus ditambah dengan sesuatu yang lain.

    Beberapa orang Yahudi yang menjadi Kristen membawa hukum (Taurat) dan mencoba mendistorsi Injil menjadi Injil Yesus Kristus plus hukum. Kita sekarang menyebut mereka dengan julukan orang-orang legalistik. Di pihak lain, sejumlah orang non-Yahudi membawa filsafat Yunani dan berusaha mengubah Injil menjadi Yesus Kristus plus ide-ide baik. Kita menyebut mereka sebagai orang-orang sinkretis.

    Pada waktu kita berusaha membawa tatanan dunia lama ke tatanan baru Kerajaan Allah, kita mendistorsi cara hidup yang Tuhan inginkan untuk kita jalani dalam hidup kita. Kerajaan Tuhan di dunia adalah tatanan yang benar-benar baru, cara hidup yang benar-benar baru. Saat kita mencampuradukkan cara hidup baru menurut Alkitab dengan budaya lama kita, kita tidak akan dapat lagi secara peka melihat gagasan-gagasan Kristen dengan jelas.

    Kita yang benar-benar ingin mengikut Kristus dapat memilih satu dari dua cara hidup. Kita dapat melakukan apa yang kita mau, atau kita dapat hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Sayangnya, banyak orang yang telah menerima Kristus sebagai Juru Selamat berusaha menentang-Nya. Mereka hidup menurut gagasan dan keinginan mereka sendiri. Secara roh, mereka Kristen, tetapi pada praktiknya, hidup mereka sekuler. Mereka tidak berusaha keras mencari kehendak Tuhan. Sebaliknya, mereka malah melakukan apa yang menyenangkan diri mereka sendiri dan kemudian hidup mereka ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan.

    Salah satu kunci hidup sebagai orang Kristen yang patuh ialah tidak mencampuradukkan ajaran Alkitab dengan norma-norma budaya. Kalau kita menilai secara moral tingkah laku seseorang (yang sebenarnya tidak boleh kita lakukan), cobalah tanyakan pada diri Anda sendiri pertanyaan ini: “Apakah saya merasa terganggu karena hal itu melanggar ajaran Alkitab, atau karena hal itu tidak sesuai dengan norma budaya yang diharapkan?” Atau yang lebih singkatnya: “Bagian Alkitab mana yang menyatakan bahwa kita tidak boleh melakukannya?”

    Seseorang tidak perlu bersikap sesuai dengan standar kita untuk hidup secara kristiani. Bagian mana dalam Alkitab yang mengatakan bahwa kita tidak boleh berambut panjang? Jika seseorang masih memakai busana gaya tahun 50-an atau 60-an, mengapa mereka dikucilkan?

    Saat kita berusaha memaksakan tren budaya kita sekarang ini sebagai standar tingkah laku yang dapat diterima (baik yang terlalu ketat maupun terlalu longgar), kita terjebak membangun kehidupan pada fondasi yang salah. Menilai seseorang menurut budaya mereka adalah gejala sinkretisme.

    [Pertanyaan diskusi:]

    Apakah Anda memandang dan menilai seseorang berdasarkan ajaran Alkitab atau berdasarkan norma-norma budaya yang terus berubah?

  • MENGEMBANGKAN PERTANGGUNGJAWABAN TERHADAP DIRI SENDIRI
  • Dengan susah payah, dia berusaha menjelaskan keadaan keuangannya yang amat kacau. Semakin banyak ia berbicara, semakin ia menjadi emosional. Akhirnya, meskipun tidak bermaksud untuk menyakiti hatinya, saya menyelanya dan bertanya, “Apakah menurut Anda, Anda akan berhasil?”

    Seketika itu ia merasa terpukul. “Entahlah, saya tidak tahu,” keluhnya.

    Orang bisa berhasil atau gagal dalam empat bidang: rohani, moral, keuangan, dan hubungan (relasi). Apakah Anda mengenal orang yang secara sengaja menetapkan tujuan hidupnya untuk gagal? Betul, tidak mungkin. Tidak ada seorang pun yang secara sengaja menghancurkan hidupnya. Namun, banyak orang di sekitar kita yang gagal. Mengapa?

    Ketika kota asal saya belum berkembang seperti sekarang, apa yang terjadi di sana, semua orang tahu. Visibilitas yang tinggi seperti itu mencegah orang berbuat dosa. Tetapi 10 tahun terakhir ini, kota berkembang dengan pesat dan orang tidak lagi selalu tahu apa yang terjadi di kota itu. Sekarang orang dapat bergerak tanpa diketahui orang lain, bahkan terkadang seseorang jatuh terpuruk, tidak ada orang yang tahu.

    Pada zaman sekarang ini, hampir semua orang Kristen menjalani kehidupan rohaninya tanpa diketahui oleh orang lain. Orang Kristen dewasa ini bisa keluar masuk gereja tanpa harus mempertanggungjawabkan hidup mereka. Kita tidak mengizinkan siapapun mengajukan pertanyaan- pertanyaan yang sulit dan keras kepada kita. Hidup kita diselimuti oleh keraguan akan jawaban-jawaban klise terhadap pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang yang sebenarnya peduli kalau saja kita mau jujur kepada mereka.

    Tekanan-tekanan modern membuat kita tidak punya cukup waktu untuk memikirkan hidup kita, dan juga tidak ada waktu untuk memerhatikan kehidupan orang lain. Dengan banyaknya masalah yang kita hadapi, sering kita kehabisan tenaga untuk memerhatikan kehidupan orang lain. Jadi mereka sering gagal, dan begitu juga kita.

    Tujuan jarak jauh pertanggungjawaban adalah menolong orang untuk berhasil dalam hidup mereka. Ini hanya akan dapat terjadi jika kita menjalani kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan. Bagaimana kita bisa mendapatkan kehidupan yang demikian? Dengan menjalani hidup yang berintegritas. Integritas adalah sebuah korelasi pribadi antara Alkitab, kepercayaan, dan tingkah laku. Hidup secara transparan di depan saudara-saudara seiman menciptakan kemungkinan yang besar untuk mengalami hidup integritas yang berhasil. Menjauhkan diri dari sorotan orang Kristen yang dewasa bukannya membuat hidup kita sukses, tapi justru gagal.

    Tren pertanggungjawaban menurun, bukan bertambah. Generasi kita menghadapi ledakan luar biasa mengenai pilihan-pilihan, tuntutan- tuntutan waktu yang tidak punya belas kasihan, dan tekanan pribadi yang tak ada bandingannya. Pada saat yang sama, ada gerakan nyata ke arah individualisme dan situasi di mana kita saling tidak mengenal satu dengan yang lain, serta menjauh dari norma-norma yang sudah melembaga. Aneh. Pada saat kita memerlukan teman untuk membantu kita mengambil pilihan yang benar, secara budaya, kita justru saling menjauh dan mengisolasi diri.

    Kita hidup dalam budaya yang makin lama makin mendukung privasi (ini urusan saya, bukan urusanmu) dan individualisme (urus saja urusanmu sendiri). Kecenderungan yang semakin bertumbuh untuk membuat agama sebagai persoalan pribadi berujung pada kekristenan yang terbagi dalam kotak-kotak/kompartemen. Orang memandang apa yang mereka lakukan dalam agama sebagai satu kotak atau sel, apa yang mereka lakukan di rumah adalah kotak yang berbeda, dan apa yang mereka lakukan di kantor kotak yang lain lagi dan sama sekali tidak berkaitan. Mereka menerapkan nilai-nilai dan standar yang berbeda-beda dalam kotak-kotak yang berbeda-beda tadi. Sering kali, tidak ada benang keserasian yang mengaitkan kotak-kotak tersebut menjadi suatu kesatuan.

    Jangan mengira jika seseorang tertutup di kantor, maka dia memunyai hubungan pribadi yang terbuka di lingkungan dan di rumahnya, atau sebaliknya. Banyak orang hidup tanpa hubungan pribadi atau pertanggungjawaban yang berarti. Hidup mereka tumpul. Kehidupan mereka tidak diasah dengan pertanyaan-pertanyaan akuntabilitas yang dapat membuat mereka tajam. Mereka tidak objektif seperti yang seharusnya. Mereka menjalani kehidupan sesuai dengan injil palsu. Tidaklah mengherankan jika mereka mencampuradukan kekristenan dan humanisme.

    [Pertanyaan diskusi:]

    Apakah Anda memiliki seseorang yang kepadanya kita harus bertanggung jawab? Apa keuntungan hubungan yang bertanggungjawab bagi mutu perjalanan hidup rohani kita?

    * * *Banyak di antara kita yang dapat hidup dengan lebih bijaksana. Kita cenderung menciptakan injil palsu dengan menggabungkan kepercayaan kita dengan gagasan-gagasan dunia. Kita mematahkan rantai integritas: dari Alkitab, ke kepercayaan, dan ke tingkah laku. Dari uraian di atas, kita telah menjajaki tujuh langkah ke arah hidup yang bijaksana yang dapat membantu kita menjaga ketajaman objektivitas rohani kita.

    1. Mempelajari Karakter Allah
  • Menjalani Kehidupan yang Mawas Diri
  • Melakukan Saat Teduh Pribadi Secara Teratur
  • Berpikir Secara Berbeda
  • Menerima Otoritas Alkitab
  • Membedakan Alkitab dari Norma-Norma Budaya
  • Mengembangkan Pertanggungjawaban Terhadap Diri Sendiri
  • Prinsip-prinsip yang kuat di atas akan menandai kehidupan yang penuh dengan hikmat. Prinsip-prinsip itu menunjukkan kepada kita cara untuk mengenali diri sendiri dan mengenal Tuhan seperti apa adanya Dia. Jika prinsip-prinsip ini diterapkan, maka kita tidak akan menjumpai injil palsu, melainkan iman kepercayaan murni yang akan mengubah hidup kita. (t/Tari Gregory)

    Sumber:

    Diterjemahkan dan disesuaikan dari:

    Judul buku : The Rest of Your Life
    Judul bab : Seven Steps to a Wise Life
    Penulis : Patrick M. Mosley
    Penerbit : Thomas Nelson, Inc., Nashville 1992
    Halaman : 77 — 89

    Comments are closed.