Percaya Kepada Allah dalam Segala Sesuatu

Kitab Amsal dapat diringkas menjadi satu bagian singkat yang mungkin dihafal oleh lebih banyak pengikut Kristus daripada kitab lain dalam Alkitab. Jika Anda sudah lama hidup bergereja, Anda mungkin bisa mengutip dua ayat pendek ini lebih cepat daripada saya menulisnya. Ayat-ayat itu adalah Amsal 3:5-6: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Saya menganggap ayat ini sebagai puncak dari semua ayat Amsal bukan hanya karena akrab bagi begitu banyak orang, tetapi juga karena berpengaruh besar dalam kehidupan saya pribadi.

Segera setelah saya menjadi seorang Kristen, saya melakukan apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang yang baru percaya: saya diam-diam mempertimbangkan sejauh mana keseriusan saya untuk mengikuti iman saya yang baru. Saya menyadari bahwa Yesus telah mati untuk saya, dan saya ingin menunjukkan rasa terima kasih kepada Tuhan dengan mencoba berjalan bersama-Nya. Tetapi, sejauh manakah kesediaan saya untuk berjalan bersama-Nya? Setidaknya saya menyadari bahwa saya harus membaca Alkitab. Saya harus senantiasa berdoa. Saya juga perlu melibatkan diri di dalam gereja saya. Sekali lagi, sejauh mana saya bersedia melakukan semua itu?

Saya mengenal beberapa orang yang menjadi sangat bersemangat, benar- benar setia, dan menjadi orang Kristen yang luar biasa. Tampaknya, dalam waktu semalam, iman mereka mampu mengubah segalanya: moralitas, hubungan mereka dengan orang lain, pengelolaan keuangan mereka, dan pada beberapa kasus karier mereka juga diubahkan. Perubahan ini tampak agak ekstrem bagi saya. Saya sangat yakin bahwa saya tidak ingin berubah hingga sejauh itu. Namun, sejauh manakah saya ingin melakukannya? Sejauh manakah saya memperkenankan iman baru saya memengaruhi kehidupan saya sehari-hari?

Ketika itu seorang Kristen yang bijak, yang mengenal saya dengan baik, merasakan perjuangan saya. “Bill,” katanya, “aku punya tantangan untukmu. Mengapa kamu tidak menyerahkan seluruh hidupmu ke dalam tangan Tuhan? Mengapa kamu tidak memercayai-Nya sepenuhnya? Mengapa kamu tidak menyandarkan hidupmu kepada-Nya? Mengapa tidak kaubiarkan Ia memimpin dan membimbingmu di dalam setiap bidang kehidupanmu, selama Ia membuktikan diri-Nya dapat dipercaya? Jika suatu saat Ia menunjukkan diri-Nya tidak dapat dipercaya, kamu tentu dapat membebaskan diri, keluar, meninggalkan-Nya, atau apa saja. Tetapi, sebelum itu terjadi, berilah Allah kesempatan untuk memimpin dan membimbing hidupmu. Beri Ia kesempatan untuk membuktikan bahwa diri- Nya dapat dipercaya.”

Orang ini sangat mengenal saya, dia mengetahui saya tidak pernah mundur selangkah pun dari tantangan yang sulit. Saya merasa dia juga mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati saya: bahwa saya tidak akan pernah puas jika saya tidak mengambil risiko untuk memercayai Allah sepenuhnya. Jika Allah sebagaimana yang Ia katakan, Ia pasti mengenal lebih banyak tentang diri saya dan masa depan saya daripada saya sendiri. Betapa bodohnya saya jika melewatkan kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan, wawasan, dan bimbingan-Nya.

Apakah yang Allah kehendaki untuk hidup saya? Ke mana Ia ingin saya pergi? Apa yang Ia inginkan untuk saya lakukan, atau Ia menghendaki saya menjadi apa? Bagaimana jika Ia mempunyai rencana yang luar biasa untuk seorang anak berumur tujuh belas tahun dari Kalamazoo, Michigan? Bagaimana jika Ia menyuruh saya untuk bertemu dengan orang-orang yang mengagumkan? Bagaimana jika Ia memberikan karir yang berisiko tinggi untuk saya? Bagaimana jika Ia telah menyiapkan tantangan dan petualangan yang tak terbayangkan sebelumnya, yang telah menunggu saya? Bagaimana jika saya melewatkan semua ini karena saya tidak memberi-Nya kesempatan membimbing dengan hikmat-Nya?

Benar-benar tidak tampak seperti doa yang bersungguh-sungguh, bukan? Itu lebih mirip kenekadan daripada pertaruhan yang bijaksana. Saya bertindak sepenuhnya pragmatis dan membayangkan bahwa hanya ada risiko yang kecil di dalamnya. Orang itu mengatakan bahwa saya bisa keluar kapan saja jika sistemnya tidak bekerja, yaitu saat Allah membuktikan diri-Nya tidak dapat dipercaya. Saya setengah berharap itu yang akan terjadi, tetapi saya melihat kemungkinan terbaik, dan saya memutuskan memilih yang kerugiannya hanya sedikit. Jadi saya berkata, “Oke, Tuhan, saya membuat keputusan hari ini. Saya akan memberi Engkau kesempatan untuk memimpin. Aku adalah milik-Mu.”

Saya menyadari betapa sombong kedengarannya, seorang anak tujuh belas tahun memutuskan “memberi Allah kesempatan untuk memimpin,” seolah- olah saya sedang membantu-Nya. Tetapi, begitulah cara saya melihat masa muda saya. Betapa saya bersyukur bahwa Allah memandang lebih dalam dari sekadar permukaan luar hidup saya, Ia memandang ke dalam hati dan jiwa yang sangat membutuhkan-Nya. Betapa saya bersyukur bahwa Ia bersedia membalas iman saya yang penuh perhitungan dengan kasih karunia dan bimbingan-Nya.

Mengapa saya begitu bersyukur? Karena pada hari saya membuat transaksi tersebut dengan Allah, dan Ia bersama saya, itulah yang mengawali petualangan terbesar di dalam hidup saya. Saya ngeri membayangkan apa yang akan saya lewatkan bila saya membuat pilihan yang berbeda.

Kesempatan yang sama terbuka bagi kita semua. Siapa pun dapat membuat keputusan yang sama untuk memercayai Allah, untuk “memberi Allah kesempatan untuk memimpin.” Ia menerima kita semua di mana pun kita berada, beserta semua keraguan dan keengganan kita — sama seperti Ia menerima saya. Kita harus memercayai-Nya hari demi hari. Seperti kata teman saya, bahwa kita harus memercayai-Nya hanya selama Ia membuktikan diri-Nya layak untuk dipercaya.

Percayalah kepada Tuhan

Mungkin Anda hampir siap membuat keputusan ini, tetapi Anda memiliki beberapa pertanyaan. Mungkin Anda menilik bagian pertama Amsal 3:5-6 (“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu”), dan Anda berpikir untuk mencobanya, tetapi Anda tidak cukup meyakini artinya. Bagaimana cara untuk mulai memercayai Allah setiap hari?

Kenangan tentang bagaimana Anda berpacaran pada masa lalu mungkin akan membantu. Bayangkan kembali laki-laki atau perempuan muda yang membuat jantung Anda berdetak kencang. Ingatkah Anda akan hari pertama ketika Anda mengumpulkan keberanian untuk mengajak seseorang berkencan? atau menerima kencan? Pada momen pertama berinteraksi itu, Anda pasti mengamati dengan cermat tanpa ragu untuk menilai apakah fokus baru Anda pada keromantisan itu dapat dipercaya. Entah Anda menguji orang tersebut secara sadar maupun tidak sadar, Anda sedang mencocokkan berbagai unsur yang Anda lihat dalam diri orang tersebut untuk menentukan apakah ia benar-benar bisa atau tidak bisa Anda percayai.

Jika orang yang Anda kasihi berkata bahwa dia akan berada di rumah Anda pukul 19.00, Anda boleh lega ketika ia datang tepat waktu. Ketika ia datang terlambat satu jam tanpa banyak menjelaskan keterlambatannya, Anda mungkin akan mengernyitkan dahi, meskipun hanya di dalam hati. Ketepatan waktu mungkin tampak sepele, tetapi jauh di dalam hati, Anda menyadari bahwa itu menandai kelayakan seseorang untuk dipercaya. Bagaimana Anda bisa memercayakan permasalahan yang lebih besar menyangkut hidup Anda kepada seseorang yang bahkan tidak cukup dapat dipercaya untuk datang tepat waktu?

Tetapi, mari kita asumsikan teman kencan Anda datang tepat waktu dan terbukti dapat dipercaya dalam masalah-masalah kecil lainnya yang muncul dalam hidup. Langkah selanjutnya untuk membangun kepercayaan barangkali dengan melakukan beberapa percakapan berisiko dan mendiskusikan beberapa hal dari hati ke hati. Ketika teman Anda itu berbicara, dengarkanlah dengan cermat, cobalah untuk mengenali kebenaran yang terkandung di dalam kata-katanya. Apakah pikiran, gagasan, dan deskripsi pengalaman orang ini tampak masuk akal dan dapat dipercaya, atau terlihat dibuat-buat dan sedikit menyimpang dari kenyataan?

Dan ketika Anda berbicara jujur dan terbuka, apakah orang itu mendengarkan dengan cermat dan merespons dengan tepat? Apakah dia memberikan saran yang baik, kasih sayang yang tulus, penegasan yang bijak, atau tantangan yang perlu? Natur percakapan itu dan setiap percakapan berikutnya dapat meningkatkan atau mengikis kepercayaan Anda kepada orang ini.

Jika kepercayaan Anda semakin meningkat sampai ke tahap Anda memutuskan untuk berkencan dengan orang ini secara khusus, lanjutkan tes kepercayaan ke tingkat yang lebih tinggi. Itu harus dilakukan. Semakin besar komitmen yang terjalin dalam suatu hubungan, semakin besar tingkat kepercayaan yang diperlukan. Yang mulanya merupakan perhatian pada ketepatan waktu pasangan Anda dan kemudian perhatian atas kejujuran ucapannya, sekarang telah berkembang menjadi perhatian terhadap masalah-masalah yang menyangkut keterandalan, komitmen, dan kesetiaan jangka panjang. Semakin komitmen Anda meluas, kepercayaan Anda juga perlu semakin dalam. Ini merupakan bagian dari usaha-usaha agar berhasil dalam menjalin hubungan. Kita tidak bisa duduk diam menunggu kepercayaan itu berkembang. Membangun kepercayaan membutuhkan tindakan. Kita perlu mengambil langkah-langkah kecil dan kemudian menilai kemajuannya. Kita perlu mengambil risiko-risiko kecil dan kemudian mengevaluasi konsekuensi-konsekuensinya.

Setelah terlibat dalam proses tersebut selama berbulan-bulan, bahkan mungkin bertahun-tahun, kita sampai pada saat kita dapat berkata, “Saya bisa memercayai orang ini sepenuhnya. Saya tidak meragukannya. Berkali-kali melalui berbagai pengalaman, saya mendapatkan kesempatan untuk diyakinkan bahwa orang tersebut dapat dipercaya. Sejauh yang saya perhatikan, bukti itu ada. Orang ini adalah teman yang dapat dipercaya!” Atau waktu dan pengalaman bisa memaksa kita untuk menyimpulkan bahwa orang itu tidak dapat dipercaya. Kita melihat terlalu banyak ketidakkonsistenan karakter pada orang itu dan menyaksikan terlalu banyak perilaku yang tidak bertanggung jawab. Dalam berhubungan dengannya, kita mengalami terlalu banyak kekecewaan. Semua indikator tersebut menunjukkan kepada kita bahwa orang ini membawa risiko yang buruk.

Memercayai atau tidak memercayai seseorang. Ini bukanlah keputusan kecil atau keputusan yang kita buat dalam satu saat. Saya menganggapnya lebih daripada satu keputusan tetapi langkah bertahap menuju kesimpulan yang telah diberikan, suatu kesimpulan berdasarkan ratusan interaksi pribadi dan perenungan yang mendalam.

Langkah Besar

Hal ini sama seperti hubungan kita dengan Allah. “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu,” kata penulis ayat ini. Namun ini bukanlah pernyataan yang sederhana. Tidak ada jalan pintas untuk percaya. Meskipun kita dapat dan harus menemukan alasan untuk percaya kepada Tuhan seperti yang kita baca dalam Alkitab mengenai tindakan Tuhan yang dapat dipercaya sepanjang sejarah, ada dimensi pribadi dalam memercayai Tuhan, yang harus kita kembangkan dengan cara yang sama seperti kita mengembangkan kepercayaan terhadap teman, teman kencan, atau pasangan hidup: dengan melibatkan diri secara nyata dalam situasi hidup sehari-hari selama jangka waktu yang panjang. Itulah satu-satunya cara bagi diri kita sendiri untuk memutuskan apakah aman dan bijaksana untuk memercayakan hidup kita kepada Tuhan.

Bahkan ketika Anda sedang membaca tulisan ini, Anda mungkin sedang memantau alat pengukur kepercayaan Anda. Ketika Anda telah membaca dan merenungkan ayat-ayat Alkitab yang saya kutip, cerita-cerita yang saya berikan mengenai kehidupan orang lain, dan pengalaman saya, Anda pasti menjadi semakin mau atau tidak mau untuk percaya pada Allah. Saya harap Anda berada di sisi yang “semakin mau” daripada di sisi yang “semakin tidak mau”. Jika Anda belum menjadi Kristen, saya berharap bahwa Anda akan menjadi semakin lebih percaya bahwa Alkitab itu benar, bahwa Allah adalah sama seperti Ia katakan-Nya, dan bahwa Yesus adalah Juru Selamat dunia ini.

Anda mungkin sedang mendengar bisikan halus ketika Anda selesai membaca. Anda mungkin tidak siap untuk memercayai hal ini, tetapi Roh Allah terkenal dalam hal menyampaikan kebenaran dalam keheningan roh kita. “Aku ini nyata,” Roh Allah mungkin berkata kepada Anda. “Semua ini adalah benar. Aku mengasihimu. Jika kamu bersedia sedikit percaya saja, Aku akan membuktikan bahwa Aku dapat dipercaya. Bagaimana?”

Di manakah Anda berada dalam perjalanan rohani Anda? Apakah sejauh ini Allah telah membuktikan diri-Nya kepada Anda sehingga Anda siap untuk menapakkan kaki Anda kepada langkah iman berikutnya? Jika Anda masih baru dalam hal ini, langkah berikutnya mungkin adalah langkah yang besar, tetapi hubungan Anda dengan Allah tidak akan dapat berkembang sampai Anda melakukannya. Yohanes 1:12 mengatakan bahwa “untuk semua orang yang menerima-Nya, diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” Cepat atau lambat, setiap orang yang sedang menyelidiki kekristenan dan menemukan bahwa Tuhan itu dapat dipercaya; mereka harus mengambil langkah besar untuk secara pribadi menerima perkataan Kristus dan percaya bahwa Ia adalah seperti yang dikatakan-Nya, Anak Allah, yang kehidupan dan kematian- Nya membuka jalan bagi kita untuk diangkat menjadi keluarga Allah.

Roma 10:13 mengatakan kepada kita bahwa “barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” Kata “barangsiapa” menyatakan maksud terdalam dari hati Allah. Tetapi dua kata kunci, “yang berseru,” mengingatkan bahwa kita harus bertindak — sebagai suatu tanggapan atas kemurahan Allah. Ia menawari kita pengampunan, tetapi kita harus mengakui bahwa kita membutuhkannya dan kemudian bersedia menerimanya. Ia menawarkan kepemimpinan yang penuh kasih dan hikmat atas hidup kita, tetapi kita harus menyatakan kepada-Nya bahwa kita menginginkannya. Ia menawarkan anugerah, tetapi kita harus mengulurkan tangan kita dan memegangnya.

Banyak orang yang sampai pada tahap mengambil keputusan dan bertanya, “Bagaimana bila saya berseru kepada Allah untuk mengampuni dosa-dosa saya dan meminta-Nya untuk memimpin hidup saya, tetapi saya menemukan tidak ada siapa pun di surga? Bagaimana jika tidak ada yang terjadi? Bagaimana jika tidak ada jawaban?” Satu-satunya jawaban yang dapat saya berikan adalah bahwa hanya ada satu cara untuk mengetahuinya: Lakukanlah hal itu dan lihatlah apakah Allah membuktikan diri-Nya dapat dipercaya. Jika yang ada hanya keheningan dari surga, Anda mendapatkan jawabannya. Anda sudah mencobanya dan hal tersebut tidak berhasil. Rupanya hal itu tidak nyata. Sekarang Anda bebas untuk pergi, dan Anda tidak perlu melihat ke belakang.

Hal ini bisa saja terjadi. Anda bisa dengan tulus mencari Allah dan menemukan bahwa Ia tidak ada. Walaupun janji-janji Kitab Suci dan pengalaman jutaan orang sepanjang sejarah sangat menyarankan hal yang sebaliknya dan memberi kita banyak alasan untuk percaya bahwa Allah itu ada, mereka tidak memberikan bukti nyata kepada kita. Mengambil langkah besar untuk datang kepada Allah selalu melibatkan tindakan iman. Namun lihatlah dengan cara ini: hidup yang bernilai adalah hidup yang membutuhkan banyak langkah iman.

Pada pengalaman terjun payung pertama saya, saya menoleh ke instruktur saya, menepuk parasut saya dan berkata, “Apakah saya dapat mempercayai benda ini akan terbuka?” Dia berkata, “Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.” Lalu ia terkekeh dan menambahkan, “Yang saya dapat katakan adalah bahwa parasut saya tidak pernah gagal terbuka.” Beberapa saat kemudian kami berdua meluncur ke bawah pada tingkat kecepatan yang sangat tinggi. Jelas parasut saya terbuka, demikian pula parasut miliknya.

Meskipun terjun payung berisiko tinggi — hidup dan mati bergantung pada tali pembuka parasut — dan sensasinya luar biasa, ini adalah pengalaman yang tidak harus kita jalani. Jika tampak terlalu menakutkan bagi kita, kita tidak perlu melakukannya. Kecuali jika kita terpikat oleh tantangan dan kesenangan dalam terjun payung, tidak ada alasan bagi kita untuk melatih iman kita dengan melompat keluar dari pesawat yang sedang terbang pada ketinggian 5.000 kaki.

Namun demikian memilih keselamatan yang ditawarkan Kristus merupakan suatu hal yang harus kita lakukan. Kekekalan menjadi taruhannya, dan kita harus memilih. Kedua-duanya memerlukan iman: memilih untuk menempatkan kepercayaan kita di dalam Kristus menuntut iman kepada Pencipta dan Pemelihara dan Pengasih dan Juru Selamat yang tidak dapat kita lihat atau dengar atau rasakan oleh indera kita. Berpaling dari tawaran Kristus juga menuntut iman dari diri kita untuk menghadap Allah yang kekal seorang diri, ataupun iman terhadap alam semesta yang tidak bertuhan. Ke mana Anda ingin berjalan bersama iman Anda?

Saya bisa menceritakan kepada Anda berbagai kisah orang yang telah memilih untuk menempatkan iman mereka kepada Allah dan telah mengalami perubahan jiwa yang mendalam. Bagi sebagian orang, hal ini merupakan pengalaman emosional, tetapi tidak bagi yang lainnya. Seorang pengusaha yang baru saja menerima pengampunan dari Kristus bercerita kepada saya, “Rasanya seperti gugatan yang baru saja dibatalkan, perasaan dihakimi yang sangat berat di kepala saya selama bertahun- tahun itu sudah hilang.” Orang-orang lain bersaksi tentang rasa damai atau ketenangan jiwa yang mendalam, tidak sama seperti perasaan lain yang pernah mereka ketahui.

Saya mengalami perubahan tersebut di perkemahan Kristen ketika saya berusia tujuh belas tahun. Saya bukan seorang yang mengutamakan perasaan, apalagi ketika saya masih seorang remaja. Tetapi, ketika saya berseru agar Sang Juru Selamat dunia menyelamatkan saya secara pribadi, sesuatu yang benar-benar tidak terduga terjadi dalam tiga puluh detik berikutnya. Saya tidak menjadi emosional. Saya tidak menangis, menjerit, atau tertawa, seperti yang terjadi pada beberapa orang sebagai suatu ekspresi tulus yang keluar karena perubahan di dalam diri mereka. Tetapi, saya benar-benar mengalami kasih ilahi yang murni, melimpah, dan mendalam, yang membuat saya mengira diri saya akan meledak. Saya merasa bahwa saya harus memberitahukan hal ini kepada seseorang, sehingga meskipun sudah larut malam, saya membangunkan beberapa teman saya, menarik mereka dari tempat tidur dan mengatakan kepada mereka apa yang terjadi. “Aku baru saja mengundang Kristus ke dalam hidupku, dan aku merasa sangat berbeda di dalam diriku. Aku tidak dapat menemukan kata-kata untuk menjelaskan apa yang terjadi, tetapi aku tahu itu nyata.”

Dalam Lukas 15:10 Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” Saya tidak tahu apakah malaikat-malaikat pada malam itu merayakan pertobatan saya, tetapi yang jelas teman-teman saya bergembira. Saya tidak menyadari bahwa banyak dari mereka telah lama berdoa agar saya mengambil langkah penting ini. Tidak perlu saya katakan lagi, mereka tak henti-hentinya memberikan dukungan, dan perayaan kami berlanjut sampai larut malam.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda siap untuk mengambil langkah iman yang besar? Anda dapat melakukannya dengan menaikkan doa yang sederhana: “Yesus Kristus, saya membutuhkan Juru Selamat. Saya memerlukan seseorang untuk mengampuni dosa-dosa saya dan untuk memimpin hidup saya. Tolong lakukan itu untuk saya.”

Beberapa dari Anda mungkin telah melakukannya sejak lama, tetapi kemudian Anda berpaling dari kepemimpinan Allah; karena berbagai alasan, Anda kembali mencoba menjalani hidup dengan cara Anda sendiri. Tetapi, Anda sekarang sudah siap untuk meminta pengampunan Allah dan sekali lagi percaya pada kepemimpinan-Nya. Jika Anda siap melakukan itu, tolong jangan menahan diri. Katakan kepada Allah bahwa Anda memerlukan bantuan dan bimbingan-Nya dan bahwa Anda mengabdikan diri kembali kepada-Nya. Dia menunggu untuk mendengar kata-kata ini.

Catatan-catatan Mental

Saya yakin bahwa siapa pun yang bertindak dalam iman akan menemukan bahwa Allah dapat dipercaya untuk keselamatannya. Tetapi, itu hanyalah permulaan. Langkah berikutnya adalah percaya kepada Allah dalam segala keputusan hidup sehari-hari. Melalui tulisan ini, saya telah membandingkan dua jalan, pertama berdasarkan hikmat manusia, yang lain berdasarkan hikmat Tuhan. Saya telah melakukan yang terbaik untuk mengembangkan sebuah kasus menarik mengenai keunggulan hikmat Allah.

Saya telah mencoba meyakinkan Anda bahwa mengambil inisiatif adalah lebih baik daripada bersikap pasif, malas, atau fatalistis; bahwa berbuat baik mengalahkan tindakan memusatkan diri sendiri yang mematirasakan jiwa kita; bahwa kedisiplinan diri, meskipun sulit untuk dibangun, memberikan banyak keuntungan; bahwa mengatakan kebenaran dengan kasih adalah lebih baik daripada berkelit dalam kebohongan; bahwa memilih teman dengan bijaksana adalah kunci penting untuk bertumbuh dalam hikmat; bahwa menikah dengan baik adalah dasar dari sebuah pernikahan yang langgeng; bahwa tempaan keluarga yang kuat adalah cara terbaik untuk memberikan warisan positif dari satu generasi ke generasi berikut; bahwa menumbuhkan kasih sayang adalah cara yang ampuh untuk mengubah dunia; dan bahwa pengelolaan kemarahan secara konstruktif penting untuk kebahagiaan pribadi dan keharmonisan hubungan.

Kitab Amsal telah banyak mengajarkan kepada saya tentang bagaimana menjalani hidup saya, dan saya berharap saya telah efektif dalam menyampaikan apa yang telah saya pelajari. Tetapi masih tersisa pertanyaan, akankah kita memilih jalan Tuhan di berbagai persimpangan kehidupan sehari-hari? Akankah kita memercayai Allah secara cukup untuk menyesuaikan kehendak kita dengan jalan-Nya?

Sudah hampir tiga puluh tahun sejak saya memutuskan untuk mencoba memercayakan seluruh hidup saya kepada Allah, dan sekarang saya semakin yakin bahwa Allah dapat dipercaya lebih dari yang saya pernah lakukan dalam hidup saya. Ketika saya melihat kembali ke tahun-tahun lampau, saya tidak menyesali saat-saat ketika saya mengikuti jalan Tuhan. Tidak satu pun. Kadang-kadang sulit, kadang-kadang membingungkan, tetapi selalu, pada akhirnya, saya berbahagia telah memilih hikmat Allah.

Pada sisi lain, saya bisa memenuhi berjilid-jilid catatan dengan penyesalan yang saya bawa ketika saya sengaja memilih jalan lain. Saya teringat satu catatan yang disebut “Catatan Saya yang Sangat Bodoh”, berisi kenangan segala sesuatu pada saat saya berada di persimpangan kritis dalam hidup, dan saya memilih jalan yang bodoh. Setiap kali, saya mengakhirinya dengan berkata, “Itu sangat bodoh. Lihatlah akibatnya. Lihatlah orang yang telah saya sakiti. Lihatlah rasa bersalah yang saya bawa. Lihatlah waktu saya yang telah terhilang. Menolak mengikuti cara Allah itu bodoh sekali.”

Seperti yang saya katakan pada bab pertama buku ini, kita tidak dilahirkan bijak; kita dilahirkan dengan kebodohan dalam hati dan pikiran kita. Salah satu tugas hidup yang utama adalah keluar dari kebodohan dan bertumbuh ke arah kebijaksanaan. Belajar dari kesalahan merupakan bagian dari proses pertumbuhan. Oleh karena itu, setiap kali saya mendapat pelajaran dari pilihan bodoh saya, yang memungkinkan saya untuk membuat pilihan yang bijaksana kali berikutnya, saya secara mental menyimpan pilihan-pilihan tersebut ke dalam “Catatan Saya yang Sangat Cerdas”. Membaca dan membandingkan dua catatan tersebut merupakan salah satu cara paling efektif untuk membangun kepercayaan di dalam Tuhan. Jelas sekali bahwa setiap saya berjalan di jalan Allah, hidup saya menjadi lebih baik. Setiap saya percaya kepada-Nya dengan menaati perintah-Nya, bertindak sesuai kebijaksanaan-Nya, atau berserah pada bimbingan-Nya, Ia membuktikan kelayakan-Nya untuk saya percayai: kebijaksanaan-Nya terbukti, perintah-Nya adil, dan bimbingan-Nya membantu saya. Akhirnya, saya bisa mengatakan tanpa ragu-ragu, “Saya percaya Allah dengan segenap hatiku! Saya tidak sedang membual atau membuat pernyataan palsu. Saya percaya kepada Tuhan karena Ia telah membuktikan diri-Nya dapat dipercaya.”

Janganlah Bersandar pada Pengertianmu Sendiri

Apa arti bagian kedua dari Amsal 3:5-6? Ketika Alkitab memerintahkan kita “janganlah bersandar pada pengertian kita sendiri,” apakah itu berarti kita harus membuang jauh otak kita untuk tumbuh sebagai orang Kristen? Apakah ini berarti kita harus mengabaikan kecerdasan kita dan menganggap bahwa kita tidak memiliki pemahaman apa pun, bahwa kita tidak belajar apa pun sepanjang hidup kita? Tentu saja tidak. Tapi itu peringatan bagi kita untuk waspada terhadap reaksi refleksif manusiawi kita terhadap situasi kehidupan yang kompleks. Kita akui atau tidak, perspektif manusia selalu terbatas, dan intuisi alamiah selalu sedikit meragukan. Sejujurnya, kita semua akan mengacaukan hidup kita ke tingkat tertentu jika kita hanya mengikuti pemahaman kita sendiri. Kita membutuhkan masukan dari Allah dalam proses pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

Baru-baru ini saya membaca sebuah artikel berjudul “178 Detik untuk Hidup.” Artikel ini bercerita tentang dua puluh orang pilot yang cakap tetapi yang tidak pernah menerima pelatihan simulasi. Masing-masing dari kedua puluh pilot ini diikutsertakan dalam simulasi penerbangan dan diperintahkan untuk melakukan apa saja yang bisa mereka lakukan agar pesawat terbang tetap terkendali di dalam cuaca berawan tebal, gelap, dan berbadai. Artikel tersebut menyatakan bahwa kedua puluh pilot itu “jatuh dan membunuh diri mereka sendiri” dalam waktu rata-rata 178 detik. Dibutuhkan waktu kurang dari 3 menit bagi para pilot yang memiliki intuisi yang terlatih ini untuk menghancurkan diri mereka sendiri segera sesudah mereka kehilangan titik acuan visual mereka.

Beberapa waktu lalu, saya sedang menjadi kopilot sebuah pesawat dalam perjalanan malam kembali ke Chicago dari Pesisir Timur AS. Sementara pilot yang bertugas sedang sibuk memasukkan data ke dalam komputer, saya melakukan lepas landas dan menambah ketinggian, menjaga agar pesawat tetap lurus dan datar dan berada di jalurnya. Semua berjalan lancar sampai kami memasuki lapisan awan yang sangat tebal. Tanpa adanya titik acuan di luar pesawat, dengan tenang saya fokus pada peralatan di panel kokpit dan membuat koreksi apa saja yang diperintahkan. Tetapi, beberapa menit setelah memasuki awan itu, peralatan-peralatan tersebut memerintahkan saya untuk membuat koreksi atas semua kesalahan saya; peralatan-peralatan tersebut menunjukkan bahwa kami perlahan-lahan berbelok ke kiri. Namun, saya tahu bahwa saya tidak mengubah kendali sedikit pun, dan saya yakin bahwa tidak ada pergeseran atau turbulensi angin apa pun. Jadi, saya duduk dan berkata kepada diri sendiri, “Tidak ada keharusan kita untuk berbelok ke kiri.” Dan saya tidak melakukan koreksi yang diperintahkan.

Alasan saya sangat sederhana: Saya telah mengemudikan pesawat terbang sejak saya berumur lima belas tahun — pesawat biasa, pesawat amfibi, pesawat bermesin satu, pesawat bermesin ganda, pesawat berbaling-baling turbo, pesawat jet, bahkan helikopter — tanpa satu pun kecelakaan atau nyaris kecelakaan. Saya menganggap bahwa karena saya telah melakukan begitu banyak penerbangan dan mempertahankan catatan yang baik, saya jelas telah mengembangkan intuisi yang andal menyangkut gerakan pesawat. Jadi, pada malam itu, saya sengaja memilih percaya pada intuisi saya sendiri dan bukan tanda-tanda yang tampak pada peralatan di panel kokpit. Saya berkata, “Saya tahu lebih baik. Jika harus memilih salah satu di antara percaya pada peralatan atau intuisi pribadi, saya akan percaya pada intuisi saya.”

Pilihan yang buruk. Untung saja, pada waktu itu pilot melihat dari petanya, memeriksa peralatan, meraih kendali, dan segera membuat koreksi. Dia melirik seolah-olah bertanya, “Apa kamu gila?” Kemudian dia tersenyum kecut kepada saya, menunjuk ke peralatan tersebut, dan berkata, “Percayalah pada alat ini. Kita berdua akan hidup lebih lama.” Selama sisa penerbangan itu saya katakan kepada Anda bahwa saya menatap lekat-lekat ke peralatan-peralatan tersebut, dan saya membuat setiap koreksi kecil yang ditunjukkan oleh panel.

Ketika penulis Kitab Amsal mengatakan kepada kita untuk tidak bersandar pada pengertian kita sendiri, dia menunjukkan bahwa secerdas atau sebanyak apa pun pengalaman hidup kita, kita masih perlu menyadari bahwa penilaian manusia selalu terbatas dan kadang-kadang salah. Kadang-kadang gagasan terbaik kita tentang apa yang seharusnya dikatakan atau dilakukan ternyata keliru, berbahaya, bahkan merusak. Ketika sampai pada keputusan penting dalam hidup kita, kita hampir selalu membutuhkan pemahaman yang lebih dalam dan perspektif yang lebih luas dari sekadar yang ditawarkan oleh hikmat manusia kepada kita.

Apa yang kita sangat butuhkan adalah pikiran Tuhan mengenai hal-hal serius dalam hidup ini. Ia menawarkannya kepada kita melalui ajaran firman-Nya dan bimbingan Roh-Nya. Tugas kita bukanlah untuk mempertanyakan atau menganggap bahwa kita sudah tahu lebih baik, seperti pilot yang terlalu percaya diri yang menomorduakan petunjuk dari peralatan-peralatannya, tetapi untuk percaya bahwa Allah mengetahui lebih baik bagaimana mengisi hidup kita. Sebuah aturan rohani yang barangkali berguna: “Jika ragu, selalu, selalu, dan selalu percayalah pada hikmat Allah.”

Akuilah Dia dalam Segala Lakumu

Mari kita langsung pada pokok frasa berikut ini. Dalam konteks kutipan pendek ini, “mengakui Allah” berarti mengakui kebijaksanaan, wawasan, dan pemahaman-Nya. Itulah yang dibahas dalam buku ini. “Di dalam semua laku kita” berarti … yah, di “semua” laku kita. Kita dapat diyakinkan bahwa setiap bidang kehidupan yang kita putuskan untuk kita kelola tanpa menggunakan hikmat, wawasan, dan pemahaman dari Allah akan berakhir dalam masalah. Setiap bidang yang kita beri tanda “Dilarang Masuk Tanpa Izin” dan mencoba mengabaikan Tuhan, tampaknya akan menjadi bidang yang membahayakan kualitas hidup kita dan mengancam orang-orang di sekitar kita. Untuk menenggelamkan sebuah kapal tidak diperlukan banyak lubang, cukup satu saja. Dan satu lubang itu pun tidak harus berukuran besar.

Beberapa orang melihat ambisi karir mereka, yang lain memandang seksualitas, sebagian lagi pada uang, pilihan teman-teman, atau kegiatan pada waktu luang, dan mereka berkata, “Aku mengetahui semua tentang kebijaksanaan-Mu, Tuhan. Aku mengetahui apa yang Alkitab katakan tentang hal ini. Aku mengetahui bagaimana Roh-Mu mendorongku. Tetapi, jawabanku adalah tidak. Aku tidak menginginkan nasihat-Mu. Aku tidak menginginkan kebijaksanaan-Mu. Aku sendiri yang akan mengatur hal ini.”

Ingatlah bab tentang inisiatif? Ingatlah orang-orang yang menepuk punggung sendiri tatkala mereka mengambil inisiatif di hampir setiap bidang kehidupan, bahkan mungkin sembilan dari sepuluh orang, tetapi mereka gagal menyadari kerusakan yang bisa dilakukan oleh satu bidang kemalasan? Prinsip ini berulang. Sembilan dari sepuluh orang tidaklah cukup, baik itu berarti mengambil inisiatif atau berbagai bentuk lain untuk pembangunan karakter atau ketaatan. Satu saja bidang kehidupan yang tidak diserahkan sudah berkonsekuensi negatif dan meluas. Pada suatu waktu kelak, hal itu hampir pasti akan berdampak buruk pada dimensi lain dalam kehidupan kita. Akhirnya, ketika hidup tidak lagi berjalan dengan baik, kita mungkin akan melihat ke belakang dan berkata, “Semuanya dimulai dengan satu kendali pribadi yang kecil, bahwa saya merasa bisa mengelola diri lebih baik daripada Allah … dan sekarang beginilah jadinya.”

Banyak orang tampak bertekad untuk mempelajari segala sesuatu yang sulit. Tetapi kita semua bisa menyelamatkan diri kita sendiri dan beban masalah orang lain jika kita bisa mempelajari apa yang telah dipelajari oleh jutaan orang sebelum kita: Berbagai bidang kehidupan, yang tidak ditempatkan di bawah kepemimpinan dan kebijaksanaan Tuhan, pada akhirnya akan menjadi sumber frustrasi, sakit hati, dan nyeri yang hebat.

Penulis Amsal sunguh-sungguh meminta agar kita tidak menjerumuskan diri sendiri ke dalam risiko ini. Jika kita mengakui Allah dalam semua hal, dalam setiap bidang kehidupan kita, kita dapat mengurangi risiko permasalahan itu secara signifikan. Itu seperti menambal satu lubang yang mengancam akan menenggelamkan kapal kita.

Adakah kendali pribadi yang Anda belum serahkan kepada Allah? Jika ya, mengapa Anda tidak menyerahkannya kepada Allah? Turunkanlah tanda “Dilarang Masuk Tanpa Izin” dan persilakanlah Tuhan masuk. Saya belum pernah bertemu orang yang menyesali keputusan ini. Sekarang giliran Anda. Saya mendorong Anda.

Maka Ia Akan Meluruskan Jalanmu

Sebelum baris terakhir pada bagian ini menjauhkan siapa pun dari topik utamanya, saya ingin menjelaskan apa yang bukan merupakan arti dari kalimat tersebut. Kalimat tersebut tidak berarti bahwa Allah akan membuat kita sehat, kaya, dan bahagia. Kalimat tersebut tidak berarti bahwa Ia akan membuat kita nyaman, populer, dan langsing. Kalimat tersebut tidak berarti bahwa Ia akan memenuhi semua pengharapan sepele dan keinginan sesaat kita. “Ia akan meluruskan jalanmu” berarti bahwa Ia akan memberikan arah, tujuan, fokus, dan pemenuhan hidup kita. Ia akan membimbing kita melewati rawa-rawa dan parit-parit sehingga kita bisa tetap di jalan yang benar. Ia akan bekerja di dalam kita untuk mengubah hati dan jiwa kita. Ia akan bekerja di kedalaman pribadi untuk mengubah hati dan jiwa kita. Ia akan bekerja melalui diri kita supaya kita berdampak pada orang lain. Dan ketika kita sudah tiada, Ia akan memimpin kita melewati pintu gerbang surga. Ketika Anda merenungkan hal ini, apa lagi yang kita bisa minta?

Saya baru-baru ini menghadiri pemakaman ayah salah seorang teman terdekat saya. Pemakaman itu diadakan di pekuburan gereja yang saya kunjungi sepanjang masa kanak-kanak dan remaja saya. Semua tampak persis seperti tiga puluh tahun sebelumnya. Pada saat saya duduk di sana, teringatlah saya pada banyak kenangan.

Saya sangat ingat pada seorang pria tua yang telah menantang saya untuk memercayai Allah dengan segenap hati dan mengizinkan Dia membimbing serta mengarahkan hidup saya. Ketika saya memikirkan kembali arti peristiwa tersebut dalam hidup saya selama tiga puluh tahun sebelumnya, saya nyaris tidak bisa menahan emosi. Saya tersenyum ketika menyadari bahwa saya tidak dapat menghabiskan satu malam dengan melempar dan berbalik ke tiga puluhan-tahun yang lalu itu tanpa saya kehilangan arti, tujuan, atau petualangannya.

Lalu saya kembali menahan air mata saat memikirkan semua yang mungkin saya lewatkan seandainya saya memilih untuk mengatur sendiri kehidupan saya: pekerjaan yang membuat saya bersemangat untuk bangun pada pagi hari, teman-teman yang sudah seperti keluarga bagi saya, pernikahan yang terus bertumbuh, dan anak-anak yang memberikan kebahagiaan terbesar di dalam hidup saya.

Dalam upacara pemakaman tersebut, saya meletakkan tangan saya di atas lutut dengan telapak tangan tengadah, dan saya berkata, “Tuhan, setengah hidupku mungkin telah berlalu, tetapi aku ingin membuat kesepakatan yang sama mengenai apa pun dengan waktu yang tersisa, yang saya akan buat sehubungan dengan masa lalu. Aku ingin percaya kepada-Mu dengan sepenuh hati, dan tidak bersandar pada pengertianku sendiri. Di seluruh jalanku, aku ingin mengakui-Mu, dan aku ingin memercayai-Mu untuk meluruskan jalanku.” Saya tidak bisa menggambarkan rasa damai dan harapan yang membanjiri jiwa saya. Jika masa depan adalah segala sesuatu seperti tiga puluh tahun yang lalu, itu akan menjadi sebuah bola!

Jangan lewatkan Petualangannya

Saya menyukai Yeremia 29:11 ketika Tuhan berkata, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu … yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Saya senang merenungkan ayat ini. Saya senang merenung tentang Allah yang merancang suatu rencana khusus untuk hidup saya. Saya ingin kebenaran ini meresap ke dalam jiwa saya.

Allah memiliki rencana, hari depan dan harapan untuk kita masing-masing, dengan nama kita sendiri di atasnya. Meskipun Allah tidak menjanjikan suatu kehidupan yang bebas dari masalah atau sakit, Dia menjanjikan suatu kehidupan yang terlalu baik untuk dilewatkan. Tetapi, kita masih tidak akan pernah menemukan petualangan hidup itu — sampai kita memercayakan diri kita pada bimbingan dan pimpinan-Nya! Allah mengenal kita dengan lebih baik daripada diri kita sendiri. Dia memahami kemampuan dan keterbatasan kita. Dia mengetahui persis apa kesulitan yang kita harus hindari dan melihat potensi kita sepenuhnya. Dia memiliki pandangan tinggi yang ditetapkan untuk kita, dan Dia bersedia memberikan segala bentuk bantuan yang kita butuhkan untuk menggenapi rancangan-Nya dengan sempurna. Namun, kita harus sepenuhnya berpaling dan memercayai-Nya.

Apa pun langkah iman yang Anda perlu ambil, saya berharap dan berdoa agar Anda akan mengambilnya. Saya tidak mengetahui apa yang Allah sediakan untuk hidup Anda, tetapi saya mengetahui pasti bahwa Anda tidak ingin melewatkan petualangan ini!

Sumber:

Judul buku : Making Life Work
Judul artikel : Trust God in Everything (Bab 12)
Penulis : Bill Hybels
Penerbit : InterVarsity Press
Halaman : 192 – 206

Comments are closed.