Baptisan

Baptisan dan Kisah Para Rasul 2:38

Kisah Para Rasul 2:38 adalah salah satu ayat yang cukup kontroversial mengenai baptisan dan hubungannya dengan keselamatan dalam Alkitab. Pada permukaannya, seolah-olah ayat ini mendukung pendapat bahwa baptisan diperlukan untuk memperoleh keselamatan.  Tetapi setelah melalui telaah yang lebih teliti, kita akan melihat bahwa ayat ini tidaklah mengajarkan ajaran baptismal regeneration:  yakni bahwa baptisan menyelamatkan.

Pertama-tama, kita harus menyadari bahwa jarang sekali suatu doktrin dibuat hanya berdasarkan satu ayat saja. Kita harus memperhatikan semua ayat Firman Tuhan yang berhubungan dengan suatu pokok persoalan guna memperoleh pemahaman yang akurat mengenai apa yang diajarkan oleh Firman Tuhan. Saya akan menghadang kesalahpahaman atas ayat di atas melalui cara berikut:

  • Telaah atas kalimat, tata bahasa dan struktur ayat tersebut.
  • Telaah atas ayat-ayat lain yang berhubungan dengan pengampunan dosa.
  • Telaah atas ayat ini dalam konteks perjanjiannya.

Tata Bahasa dan Struktur dari Kisah Para Rasul 2:38

Dalam Kisah Para Rasul 2:38 kata kerja utamanya adalah metanoesate (berubah pikiran), yang merupakan bentuk kata kerja (tense) aorist direct imperative (sebuah perintah) dari kata metanoeo yang berarti menyesal/ bertobat (berubah pikiran) yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai bertobat. Pertobatan ini mengacu kepada pertobatan mula-mula dari orang berdosa yang membawanya ke arah keselamatan. Kata kerja berikutnya yang diterjemahkan sebagai “dibaptis” adalah bentuk kata kerja (tense) indirect passive imperative (suatu perintah untuk menerima; yang adalah bentuk pasif dalam Bahasa Yunani1) dari kata baptizo, yang tidak memiliki makna perintah langsung seperti yang terdapat pada kata “bertobat.”  Kata depan “untuk” dalam frasa “untuk pengampunan dosamu” dalam bahasa Yunaninya adalah kata “eis,” yang bermakna “ke dalam”, dan merupakan bentuk kata depan akusatif (kata depan untuk objek penderita).  Sehingga ia dapat bermakna “untuk tujuan mengidentifikasikan kamu dengan pengampunan dosa-dosa.” Ini merupakan kata depan yang sama dengan yang dapat kita temukan pada 1 Korintus 10:2 dalam frasa “and were baptized unto Moses” (terjemahan bahasa Indonesia kurang jelas, terjemahan seharusnya dari ayat 1 Korintus 10:2 adalah: Dan mereka semua dibaptis ke dalam Musa di dalam awan dan lautan,).  Perhatikanlah bahwa kedua konteks dari kedua ayat di atas adalah berhubungan dengan baptisan dan identifikasi.  Orang-orang ini dibaptis atau secara spiritual mengidentifikasikan diri mereka dengan tujuan dan visi Musa. Pertobatanlah, karenanya, yang sesungguhnya dipresentasikan sebagai identifikasi seseorang dengan pengampunan dosa-dosanya, dan baptisan yang mengikuti pertobatan menyediakan identifikasi eksternal yang kelihatan oleh orang lain. Pertobatan adalah sesuatu yang berhubungan dengan individual yang bertobat dan Allah sementara baptisan melibatkan orang lain. Itulah mengapa baptistheto (biarkan dicelupkan) adalah berbentuk pasif yang mengindikasikan bahwa seseorang tidaklah membaptis dirinya sendiri, tetapi dibaptis oleh orang lain yang biasanya dihadiri/ disaksikan oleh orang lain. Pertobatan, bagaimanapun, adalah suatu kejadian yang terjadi dalam hati seseorang ketika Roh Kudus bekerja dalam diri orang berdosa. Dalam Bahasa Yunani, ayat ini berbunyi, sbb:

Tetapi, hal-hal yang berhubungan dengan bahasa Yunani ini mungkin sangat membingungkan.  Ijinkan saya menguraikannya.  Semua orang diperintahkan untuk bertobat dari dosa-dosanya.  Ini adalah apa yang telah dilakukan oleh orang percaya ketika mereka menjadi orang Kristen.  Baptisan, kemudian, adalah identifikasi luar bagi mereka yang telah bertobat bahwa kini mereka adalah orang Kristen .  Sebagaimana, orang Israel  “dibaptis ke dalam Musa” (1 Korintus 10:2), demikian jugalah, orang Kristen dibaptis ke dalam Yesus.  Sehingga, mereka mengidentifikasikan diri mereka, secara publik, dengan Kristus.  Demikian juga halnya, dalam Roma 6:1-5 di mana baptisan dihubungkan dengan kematian, penguburan, dan kebangkitan, ini juga adalah pengidentifikasian dengan kematian Kristus, penguburan, dan kebangkitan-Nya.  Karenanya, dikatakan bahwa orang Kristen harus mati terhadap dosa-dosanya (Roma 6:2, 11; Galatia 2:20; Kolose 2:20; Kolose 3:3; 1 Petrus 2:24).

Ayat ini tidaklah mengatakan bahwa baptisan adalah hal esensial dalam keselamatan, tetapi baptisan adalah sesuatu yang kita terima, dalam rangka mengidentifikasikan diri kita sepenuhnya dengan Kristus secara publik sebagai manifestasi dari karya Allah di dalam diri kita.

Ayat-ayat lain yang berhubungan dengan keselamatan

Pembenaran adalah karya Allah di mana kebenaran Kristus dikenakan kepada orang berdosa sehingga orang berdosa dideklarasikan, oleh Allah, sebagai orang benar di bawah Hukum Taurat (Roma 4:3; 5:1, 9; Galatia 2:16; 3:11). Pembenaran ini tidak diperoleh atau dipertahankan melalui upaya apa pun dari orang yang telah diselamatkan itu. Pembenaran adalah hal yang terjadi seketika dengan hasil berupa hidup yang kekal. Ia didasarkan sepenuhnya dan satu-satunya pada pengorbanan Krisus dia atas kayu salib (1 Petrus 2:24) dan diterima hanya dengan iman saja (Roma 4:5; 5:1; Efesus 2:8-9).  Tidak ada upaya apa pun yang dibutuhkan untuk memperoleh pembenaran ini. Jika membutuhkan usaha, itu bukan anugrah namanya (Roma 6:23). Karenanya, kita dibenarkan oleh iman (Roma 5:1).

Tidak ada satu ayat pun dalam Alkitab yang menyatakan bahwa kita dibenarkan karena anugrah dan baptisan atau iman dan baptisan atau iman dan hal-hal lainnya. Sebaliknya, baptisan dikeluarkan dari pesan injil.   Paulus berkata bahwa ia datang untuk memberitakan injil, bukan untuk membaptis: “Aku mengucap syukur bahwa tidak ada seorangpun juga di antara kamu yang aku baptis selain Krispus dan Gayus, sehingga tidak ada orang yang dapat mengatakan, bahwa kamu dibaptis dalam namaku. Juga keluarga Stefanus aku yang membaptisnya. Kecuali mereka aku tidak tahu, entah ada lagi orang yang aku baptis. sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan injil…” (1 Korintus 1:14-17).

Demikian juga, Paulus mengatakan kepada kita secara tepat Injil apa yang menyelamatkan kita. Ia berkata dalam 1 Korintus 15:1-4, “Dan sekarang, saudara-saudaraku, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu – kecuali kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;”  Perhatikan apa yang telah disampaikan oleh Paulus bahwa injil adalah apa yang ia beritakan dan baptisan tidak termasuk di definisi injil.

Jadi, kita mesti bertanya apakah jika baptisan memang diperlukan untuk keselamatan, mengapa Paulus tidak menganggapnya sebagai hal yang penting dan bahkan mengeluarkannya dari penjelasannya mengenai apa yang diperlukan untuk memperoleh keselamatan? Jawabannya adalah karena baptisan memang tidak diperlukan untuk keselamatan.

Bukti lain bahwa baptisan tidak diperlukan untuk keselamatan dapat ditemukan dalam Kisah Para Rasul 10:44-46.  Petrus memberitakan injil pada waktu itu, orang-orang diselamatkan, lalu mereka dibaptis. Kisah Para Rasul 10:44-46 mengatakan,

“Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah. Lalu kata Petrus:’Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?'”

Orang-orang ini diselamatkan. Karunia Roh Kudus diberikan kepada orang-orang non Yahudi dan mereka berbicara dalam bahasa lidah. Hal ini sangat penting karena, karunia bahasa Roh hanya diberikan kepada orang percaya, lihat 1 Korintus 14:1-5. Lagian, orang-orang yang tidak percaya tidak akan memuji Allah. Mereka tidak sanggup memuji karena pujian adalah masalah spiritual yang sangat dalam yang adalah hal yang asing bagi orang yang belum percaya (1 Korintus 2:14). Karena itulah, mereka yang di dalam Kisah Para Rasul 10:44-46 yang berbicara dalam bahasa lidah dan memuji Allah adalah orang-orang yang sungguh-sungguh telah diselamatkan sebelum mereka dibaptis. Hal ini bukanlah suatu pengecualian. Ini realita.  Ini membuktikan bahwa baptisan tidak diperlukan untuk memperoleh keselamatan dan bahwa Kisah Para Rasul 2:38 juga tidak mengajarkan tentang perlunya baptisan untuk keselamatan.  Tetapi, jika tidak diperlukan, lalu mengapakah baptisan disebut-sebut dalam ayat itu?

Konteks Perjanjian dalam Alkitab

Sebuah perjanjian adalah kesepakatan dua pihak atau lebih.  Sering kali, perjanjian- perjanjian memiliki tanda yang dapat dilihat untuk merepresentasikan mereka.  Elemen-elemen anggur dan roti dalam komuni adalah contoh yang baik mengenai hal ini.  Sunat adalah tanda dan sekaligus ritual masuk ke dalam perjanjian Abrahamik (Kejadian 17:10). Tetapi tanda perjanjian ini tidaklah menyelamatkan.

Allah bersabda kepada Abraham, “Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunannmu” (Kejadian 17:7). Allah lalu memerintahkan Abraham untuk menyunat tidak hanya lelaki dewasa tetapi juga bayi laki-laki berusia 8 hari sebagai tanda perjanjian (Kejadian 17:9-13). Jika anak-anak tidak disunat, mereka tidak akan dianggap masuk ke dalam perjanjian Abrahamik. Inilah mengapa istri Musa menyunat anaknya dan membuang kulit khatannya itu ke kaki Musa setelah Musa gagal menyunat anaknya itu (Keluaran 4:24-25). Ia tahu betapa pentingnya perjanjian antara Allah dan anak-anaknya. Tetapi kita juga harus menyadari bahwa sunat tidak menjamin keselamatan mereka yang bersunat.  Itu adalah upacara yang khusus diperuntukkan bagi jemaat Allah, yang lahir dalam keluarga Allah (yang pada waktu itu adalah kaum Yahudi). Itu adalah tanda luar dari perjanjian.  Menolaknya berarti menolak perjanjian.  Tetapi, menerimanya tidaklah menjamin keselamatan.

Debat Theologi lain yang beresiko di sini

Ada perdebatan di antara orang Kristen mengenai natur dari baptisan dan kepada siapa baptisan harus dilakukan.  Saya tidaklah sedang berusaha meyakinkan setiap orang mengenai objek yang pantas dari baptisan apakah itu baptisan anak ataupun dewasa.  Saya hanya mempresentasikan di sini informasi berikut sebagai bukti bahwa baptisan hanyalah tanda perjanjian, dan tidak esensial dalam keselamatan.

Dalam Perjanjian Baru, sunat banyak disebut-sebut. Tetapi sehubungan dengan baptisan, sunat disinggung dalam Kolose 2:11-12: “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati” . Dalam kedua ayat di atas, baptisan dan sunat berhubungan.  Sejauh mana hubungan keduanya masih diperdebatkan.  Bagaimanapun, Paulus juga berkata dalam Roma 2:29, “Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.”  Seperti yang dapat anda lihat, bagi orang Kristen, sunat adalah sunat di dalam hati.  Dan karenanya, kita sebagai orang Kristen telah dimasukkan dalam perjanjian Abrahamik yang mana sebelumnya, kita, sebagai orang non Yahudi, tidak termasuk.  “bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia,” (Efesus 2:12).
Dalam Galatia 3:8, Paulus menyebut janji dari Perjanjian Abrahamik adalah injil.  Ia berkata, “Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: ‘Olehmu segala bangsa akan diberkati.'” . Jadi, Paulus menyebut Perjanjian abrahamik sebagai Injil.  Tanda dari Perjanjian Abrahamik ini adalah sunat.

Inilah kesimpulannya.  Karena Perjanjian Abrahamik masih valid (kita dibenarkan oleh iman — Galatia 3:8), lalu adakah tanda perjanjian bagi kita sekarang?  Saya pikir jawabannya adalah, ya.  Saya yakin bahwa baptisan menggantikan tanda sunat dari Perjanjian Lama karena 1) terdapat Perjanjian Baru dalam jamuan makan malam Kristus (Lukas 22:20) , dan 2) dalam sunat terjadi pengucuran darah, tetapi dalam baptisan tidak.  Tanda perjanjian ini telah dirubah karena Hukum Taurat telah dipenuhi oleh Kristus.

Jika anda memahami baptisan sebagai tanda perjanjian, maka anda akan dapat melihat bahwa ia merupakan representasi dari realita bahwa Kristus telah menyunat hati kita (Roma 2:29; Kolose 2:11-12). Itu adalah proklamasi keluar dari anugrah kedalam dari kelahiran baru, tetang “penyunatan hati.”  Ia datang setelah iman yang merupakan anugrah Allah (Roma 13:3) dan karya Allah (Yohanes 6:28).  Sekali lagi, baptisan adalah tanda perjanjian dari perjanjian kita dengan Allah.

Kisah Para Rasul 2:39 dan “Janji itu”

Hal di atas akan menjelaskan mengapa dalam ayat 39 dari Kisah Para Rasul pasal 2 Petrus mengatakan, “Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.”  Janji apakah yang dibicarakan oleh Petrus dengan kata “janji itu”? Perhatikanlah bahwa ia tidak mengatakan  “janji ini” tetapi “janji itu.”  Jika Petrus mengacu kepada baptisan sebagai janji itu, ia akan mengatakan “janji ini.”  Tetapi ia malah mengatakan “janji itu.”  Ini sungguh signifikan.

Frasa “janji itu” muncul dalam 26 ayat di dalam Perjanjian Baru.  Frasa ini dipakai untuk mengacu pada berbagai topik.

  1. Roh Kudus, (Lukas 24:49; Kisah Para Rasul 2:33; Galatia 3:14).
  2. Janji Allah kepada Abraham untuk melipatgandakan keturunannya di tanah Mesir, baik secara fisik maupun spiritual, (Kisah Para Rasul 7:17; Ibrani 6:13,15,17).
  3. Janji akan Mesias, (Kisah Para Rasul 13:32; Kisah Para Rasul 26:6-7; Roma 4:13,14,16; Galatia 3:17,19,22; Efesus 3:6; 2 Timotius 1:1).
  4. Janji mengenai penebusan kekal (Ibrani 9:15; 1 Yohanes 2:25).
  5. Janji bahwa Sarah akan memperoleh seorang anak (Roma 4:20; Galatia 4:23).
  6. Janji bahwa melalui Ishak, seluruh dunia akan diberkati, (Roma 9:8).
  7. Janji kedatangan Yesus yang kedua kalinya (2 Petrus 3:4).
  8. Janji untuk membunuh Paulus oleh musuh-musuh Paulus (Kisah Para Rasul 22:21).

Tetapi, kita paling tertarik pada janji dalam konteks Kisah Para Rasul 2 yang mana dimulai dengan pencurahan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 2:1-13).  Petrus waktu itu sedang berkotbah dan banyak mengutip ayat-ayat dari Perjanjian Lama (Kisah Para Rasul 2:14-35).  Dalam ayat 2:22, Petrus secara spesifik berkata, “Hai orang Israel, dengarlah perkataan ini…”  Petrus sedang berbicara kepada orang Yahudi.  Kepada orang Yahudilah “janji itu”, bahwa Roh Kudus akan dicurahkan, diberikan.  Petrus sedang berbicara dalam bahasa perjanjian Allah ketika ia mengutip banyak ayat Perjanjian Lama.  Karena Petrus mengutip Yoel 2:28-32 dalam Kisah Para Rasul 2:17-18, kita dapat dengan mudah mengetahui apa yang sedang dibicarakan Petrus pada saat ia mengucapkan kata “janji itu” dalam Kisah Para Rasul 2:39.

  • “Akan terjadi pada hari-hari terakhir- demikianlah firman Allah- bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-kali dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat.” (Kisah Para Rasul 2:17-18).
  • Lihat juga, “Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu, dan berkat-Ku ke atas anak cucumu.” (Yesaya 44:3).

Petrus menyatakan dalam Kisah Para Rasul 2:38, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.”  Petrus secara jelas membicarakan janji Allah untuk mengaruniakan Roh Kudus dalam cara yang baru dan lebih baik.  Tetapi apakah ia mengatakan bahwa orang-orang menjadi selamat oleh baptisan dalam air atau bahwa baptisan itu bagian dari keselamatan? Tidak sama sekali.  Petrus hanyalah berbicara dalam kerangka perjanjian mengenai tanda perjanjian.  Yakni baptisan!

Pertimbangkan bukti ini, dari Petrus, bahwa orang-orang diselamatkan sebelum baptisan.

“44Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. 45Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, 46sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah. Lalu kata Petrus:47’Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?’ 48Lalu ia menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Kemudian mereka meminta Petrus, supaya ia tinggal beberapa hari lagi bersama-sama dengan mereka.” (Kisah Para Rasul 10:44-48).

Perhatikanlah bahwa Petrus sedang mengkotbahkan injil dan Roh Kudus turun ke atas pendengarnya.  Dalam ayat 45 kita melihat bahwa “karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga.”  Orang-orang ini telah diselamatkan. Karunia Roh Kudus ada pada orang-orang non Yahudi dan mereka berbicara dalam bahasa lidah. Hal ini sangat penting karena, karunia bahasa Roh hanya diberikan kepada orang percaya, lihat 1 Korintus 14:1-5. Lagian, orang-orang yang tidak percaya tidak akan memuji Allah. Mereka tidak sanggup memuji karena pujian adalah masalah spiritual yang sangat dalam yang adalah hal yang asing bagi orang yang belum percaya (1 Korintus 2:14). Karena itulah, mereka yang di dalam Kisah Para Rasul 10:44-46 yang berbicara dalam bahasa lidah dan memuji Allah adalah orang-orang yang sungguh-sungguh telah diselamatkan sebelum mereka dibaptis. Hal ini bukanlah suatu pengecualian. Ini realita.

Kesimpulan

Kisah Para Rasul 2:38 menghubungkan dengan sangat erat pertobatan dan baptisan karena keduanya berada dalam konteks bahasa perjanjian dan konsep perjanjian.  Sama sekali tidak dikatakan bahwa anda harus dibaptis supaya dapat diselamatkan.  Dikatakan bahwa baptisan adalah identifikasi perjanjian yang menyeluruh dan total dengan Kristus dalam kematian-Nya, penguburan, dan kebangkitan-Nya  Bukan representasi dari perjanjian (baptisan) yang menyelamatkan kita, tetapi kenyataan mengenai pengorbanan-Nya yang kita terima melalui iman (Roma 5:1; Galatia 3:8).  Itulah mengapa dalam Kisah Para Rasul 10:44-48 sekelompok orang diselamatkan sebelum baptisan.

Baptisan bukanlah hal yang menyelamatkan.  Ia bukanlah bagian dari keselamatan.  Itu adalah sesuatu yang dilakukan oleh orang yang telah diselamatkan.

  1. 1. Kalimat aktif contohnya “Saya menghantam bola.”  Kalimat pasif contohnya “Bola itu menghantam saya.”  Dalam kalimat aktif, “Saya” yang melakukan tindakan.  Dalam kalimat pasif, “Saya” menerima tindakan.

Baptisan dan Roma 6:3-5

Roma 6:3-5 seringkali dipakai sebagai teks bukti untuk mereka yang menklaim bahwa baptisan merupakan hal yang esensial guna memperoleh keselamatan.  Ia adalah perbandingan yang kuat antara baptisan kita dan kematian Kristus, pemakaman, dan kebangkitan-Nya. Pada permukaannya, seseorang dapat saja berkesimpulan bahwa dari ayat-ayat ini, baptisan adalah bagian dari keselamatan.

“3Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? 4Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. 5Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.”

Apakah bagian Alkitab ini mengajarkan kepada kita bahwa baptisan merupakan hal yang perlu untuk keselamatan?  Tidak, sama sekali tidak.  Pertama-tama, kita tahu dari bagian lain dari Alkitab bahwa keselamatan diperoleh karena iman, bukan apa yang kita lakukan, Roma 3:28-30.  Kedua, kita dapat melihat dari bagian Alkitab lain bahwa baptisan itu mengikuti keselamatan, artinya dilakukan setelah orang tersebut diselamatkan.  Perhatikanlah Kisah Para Rasul 16:30-33 ketika kepala penjara bertanya kepada mengenai apa yang harus ia perbuat supaya bisa diselamatkan dan di bagian mana baptisan masuk.

“Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: “Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?””  31Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” 32Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. 33APada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis.” (Kisah Para Rasul 16:30-33).

Jika baptisan merupakan bagian dari keselamatan, maka Paulus tentu akan berkata, “Percaya dan dibaptislah, maka kamu akan diselamatkan.”  Tetapi, ia tidak mengatakan demikian.  Juga pertimbangkanlah Kisah Para Rasul 10:44-46.

“Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah. Lalu kata Petrus:’Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?'”

Orang-orang ini diselamatkan. Karunia Roh Kudus diberikan kepada orang-orang non Yahudi dan mereka berbicara dalam bahasa lidah. Hal ini sangat penting karena, karunia bahasa Roh hanya diberikan kepada orang percaya, lihat 1 Korintus 14:1-5. Lagian, orang-orang yang tidak percaya tidak akan memuji Allah. Mereka tidak sanggup memuji karena pujian adalah masalah spiritual yang sangat dalam yang adalah hal yang asing bagi orang yang belum percaya (1 Korintus 2:14). Karena itulah, mereka yang di dalam Kisah Para Rasul 10:44-46 yang berbicara dalam bahasa lidah dan memuji Allah adalah orang-orang yang sungguh-sungguh telah diselamatkan sebelum mereka dibaptis. Hal ini bukanlah suatu pengecualian. Ini realita.  Ini membuktikan bahwa baptisan tidak diperlukan untuk memperoleh keselamatan.

Apa yang dikatakan oleh Roma 6:3-5?

“3Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? 4Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. 5Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.”

Frase “dibaptis dalam” diterjemahkan dari frasa dalam Bahasa Yunani “baptizo eis” yang seharusnya diterjemahkan sebagai “dibaptis ke dalam” muncul lima kali dalam 4 ayat di dalam Perjanjian Baru..

  1. Roma 6:3, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?”
  2. 1 Korintus 10:2, “Dan mereka semua dibaptis ke dalam Musa di dalam awan dan lautan” (ini adalah terjemahan seharusnya yang berbeda dengan terjemahan Alkitab Terjemahan Baru – LAI, lihat bagian “Baptisan dan Kisah Para Rasul 2:38” paragraf ketiga untuk keterangan lebih lanjut tentang pemakaian kata depan “eis”).”
  3. 1 Korintus 12:13, “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.”
  4. Galatia 3:27, “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.”

Semua frase bercetak tebal di atas seharusnya diterjemahkan sebagai “dibaptis ke dalam…”, karena dalam Bahasa Yunaninya, kata depan yang dipakai adalah “Eis”, yang berarti “ke dalam”, lihat bagian “Baptisan dan Kisah Para Rasul 2:38” paragraf ketiga untuk keterangan lebih lanjut tentang pemakaian kata depan “eis”. Dibaptis “ke dalam Kristus,” “ke dalam kematian-Nya,” “ke dalam Musa,” dan  “ke dalam satu tubuh” adalah diindentifikasikan secara publik  dengan apa yang ke dalamnya anda dibaptis.  Fokusnya bukanlah pada pembaptisan itu sendiri, tetapi pada apa yang direpresentasikan dari pembaptisan tersebut.  Dalam kasus Roma 6:3-5, dibaptis ke dalam Kristus adalah sebuah identifikasi di depan publik dengan kematian, penguburan, dan kebangkitan Kristus, yang mana ketiga kejadian yang dialami Kristus itulah yang dikatakan sebagai Injil yang menyelamatkan dalam 1 Korintus 15:1-4.  Baptisan, kemudian adalah suatu pengumuman di depan publik bahwa seseorang mempercayai pengorbanan Kristus.

Baptisan dengan pencelupan ke dalam air adalah simbol yang sempurna untuk karya Kristus yang dengannya orang-orang Kristen mengidentifikasikan dirinya.  Sebagaimana Kristus mati dan dibangkitkan ke kehidupan baru, demikian juga orang Kristen, dalam Kristus, dikatakan telah mati (Roma 6:11; Kolose 3:3) dan memiliki hidup yang baru.  Hidup baru dari kelahiran baru adalah timbul dari iman, secara internal.  Baptisan, adalah upaya eksternal untuk mengidentifikasikan diri dengan Kristus. Itulah mengapa acuan terhadap baptisan dalam Alkitab lebih sering berhubungan dengan “penyatuan dan pengidentifikasian kita dengan Kristus daripada baptisan air.”1

  • Baptisan adalah diidentifikasikan sebagai murid (Matius 28:18-19).
  • Baptisan bisa dibandingkan dengan kelahiran baru (Yohanes 3:5).
  • Baptisan dibandingkan dengan kematian dan kebangkitan Yesus (Roma 6:3-5).
  • Baptisan dibandingkan dengan keluarnya bangsa Israel dan melewati Laut Merah (1 Korintus 10:2)
  • Baptisan dibandingkan dengan bagaimana Nuh melepaskan diri dari hukuman air bah dan masuk ke dalam bahtera (1 Petrus 3:21).

Dalam tiap acuan di atas, baptisan adalah suatu identifikasi dengan sesuatu yang lain.  Ketika seseorang dibaptis ke dalam baptisan Yohanes, bukan baptisan itulah yang membuat mereka bertobat atau menjadikan pertobatan itu nyata.  Pertobatan adalah sesuatu yang terjadi di dalam hati dan adalah karya Allah (2 Timotius 2:25).  Untuk berpartisipasi dalam baptisan Yohanes adalah berarti mengumumkan kepada khalayak ramai bahwa orang yang sedang dibaptis itu telah menerima pesan dari Yohanes alias telah bertobat. Maka, baptisan Yohanes disebut baptisan pertobatan.  Bukan baptisan itu yang membawa pertobatan; melainkan, baptisan adalah hasil dari pertobatan.  Orang tersebut harus terlebih dahulu memutuskan untuk bertobat, dan kemudian dibaptis sebagai proklamasi dari keputsannya itu.   Demikian juga, orang Kristen harus terlebih dahulu harus memutuskan untuk bertobat, untuk menerima Kristus (Yohanes 1:12), bersandar pada pengorbanan Kristus, dengan iman, dan baru kemudian ia berpartisipasi dalam pengumuman kepada publik atas identifikasinya dengan karya Kristus.

Hal itu adalah identifikasi atas kematian, penguburan, dan kebangkitan Kristus.  Darah Yesus yang tercurah adalah apa yang membersihkan kita dari dosa-dosa (Ibrani 9:22), bukan pencucian dengan air.  Kematian Kristuslah yang menjadi pembayaran atas dosa-dosa kita.  Penguburan Kristus adalah bukti, bahwa sesungguhnya, Ia telah mati.  Kebangkitan Kristus adalah bukti dari diterimanya pengorbanan Kristus di atas kayu salib oleh Allah Bapa dan bukti bahwa maut telah dikalahkan.  Sekali lagi, bagi orang Kristen, baptisan adalah membuat pengumuman kepada khalayak ramai bahwa ia telah mempercayai karya Kristus, bahwa ia menamakan dirinya dengan menyandang nama Kristen yang berasal dari Kristus dan mempercayai apa yang telah dilakukan oleh Kristus.  Inilah mengapa dalam Roma 6:11, dikatakan “Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus” .  Mengapa?  Karena “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup; melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku,” (Galatia 2:20).  Di atas kayu saliblah Kristus membayar dosa-dosa kita, bukan dalam baptisan-Nya ataupun dalam baptisan kita.  Baptisan adalah identifikasi kita dengan Dia, menjadi diperhitungkan sebagai “dalam Kristus” yang mengijinkan kita untuk mengatakan bahwa kita telah disalibkan dengan Kristus sehingga kita dapat berkata kita telah mati bagi dosa. Kita tidak mati bagi dosa melalui baptisan kita. Melainkan, kita mati bagi dosa, melalui iman, dalam apa yang telah Kristus lakukan dalam pengorbanan-Nya.

Kesimpulan

Roma 6:3-5 berbicara kepada kita mengenai karya Kristus dan identifikasi kita kepada publik dengan karyanya itu.  Dalam kondisi pluralitas agama di Roma, dalam Hukum-Hukum yang ketat dalam sistem Yudaisme, dan illah-illah dari berbagai budaya lain, dibaptiskan adalah membuat suatu pernyataan komitmen yang berani terhadap Kristus sebagai Allah yang bangkit.  Bukan air baptisan yang menyelamatkan, tetapi iman di dalam Kristus dan karya-Nya.

  1. 1. Enhanced Strongs Lexicon, (Oak Harbor, WA: Logos Research Systems, Inc.) 1995.

Baptisan dan Galatia 3:27

Galatia 3:27 sering dipakai oleh kaum baptismal regeneration untuk mendukung pendapat mereka bahwa anda harus dibaptis dulu baru bisa diselamatkan.  Mereka bersikukuh bahwa melalui baptisanlah orang “mengenakan Kristus,” di mana dia “berbajukan Kristus” dan bahwa hal ini berarti baptisanlah yang menyelamatkan.  Mereka mengajarkan ketika seseorang diselamkan ke dalam air pembaptisan saat itulah dan di tempat itulah dosa-dosa orang tersebut diampuni.  Hal ini tidak benar.

Galatia 3:27 tidak dapat dipahami begitu saja.  Ia harus dipelajari dalam konteksnya.

“24Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. 25Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun. 26Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. 27Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. 28Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. 29Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.” (Galatia 3:24-29).

Dalam masyarakat Romawi, anak-anak seringkali dititipkan untuk dijaga dan dirawat oleh seorang budak yang dipercayai.  Hal ini biasanya terjadi ketika anak itu berusia enam hingga tujuh tahun hingga masa pubertas anak tersebut.  “Budak-budak ini adalah orang-orang yang ketat dalam disiplin dan ditugaskan untuk melindungi anak-anak dari kejahatan-kejahatan sosial dan memberikan mereka latihan moral. Ini seperti fungsi Hukum Taurat hingga kedatangan Kristus di mana setelah kedatangan-Nya orang dapat dibenarkan oleh iman atas-Nya.”1 Hukum Taurat adalah tuan yang keras terhadap orang Yahudi.  Sangat sulit untuk ditaati.  Inilah mengapa Hukum Taurat mengarahkan Kristus kepada kita dengan menunjukkan ketidakmampuan kita untuk mentaati Hukum Taurat dan menunjukkan kepada kita bahwa kita hanya bisa bersandar kepada iman semata.  Inilah mengapa penghakiman akan dilakukan berdasarkan iman (ayat 24-26), karena kita tidak akan dapat memperoleh pembenaran dari ketaatan kepada Hukum Taurat (Roma 3:28-30; Filipi 3:9).

“Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.” (Galatia 3:27).

Dalam masyarakat Romawi jika seorang anak telah dididik oleh tutornya dan telah mencapai kedewasaan tertentu (dalam usia), ia akan diberi jubah khusus, atau toga.  Ini adalah lambang bahwa ia telah memiliki hak penuhnya dalam keluarga.2 Karena itu, arti “mengenakan Kristus” adalah sebuah frasa yang berarti orang Kristen telah berpindah dari Hukum Taurat dan masuk ke dalam injil anugrah dan dapat menikmati penerimaan penuh dari Allah Bapa. Tidaklah dimaksudkan dalam ayat ini bahwa baptisan itu dapat menyelamatkan kita dari dosa.

  1. 1. Walvoord, John F., and Zuck, Roy B., The Bible Knowledge Commentary, (Wheaton, Illinois: Scripture Press Publications, Inc.) 1983, 1985, on Gal. 3:24.
  2. 2. Ibid., on Gal. 3:27.

Baptisan dan 1 Petrus 3:21

1 Petrus 3:21 mengatakan, “Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan–maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah–oleh kebangkitan Yesus Kristus.”  Inilah satu-satunya ayat dalam Alkitab yang mengatakan bahwa baptisan menyelamatkan.  Apakah ayat ini mengajarkan bahwa kita harus dibaptis agar bisa diselamatkan?  Tidak.  Tetapi, supaya kita dapat memahami ayat ini dengan benar, kita perlu untuk melihat konteksnya.

“Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh; 19 dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, 20 yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Alah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu. 21 Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan -maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah oleh kebangkitan Yesus Kristus, 22 yang duduk di sebelah kanan Allah, setelah Ia naik ke sorga sesudah segala malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya,” (1 Petrus 3:18-22).

Terjemahan ayat 21 dari Alkitab Bahasa Inggris versi NASB adalah terjemahan yang paling baik, yaitu:  “and corresponding to that, baptism now saves you.” (Indonesianya: dan sehubungan dengan itu, baptisan sekarang menyelamatkan kamu)  Kata kunci dalam bagian ini adalah kata dalam Bahasa Yunani: antitupon. Yang berarti “kopi/ tiruan,” “tipe,” “sehubungan dengan,” “sesuatu yang menyerupai lainnya,” “padanannya,” dll.   Inilah yang diterjemahkan sebagai kata “kiasan” dalam Alkitab Indonesia.  Baptisan adalah representasi, suatu kopi, suatu contoh dari sesuatu yang lain. Pertanyaannya adalah “merupakah tipe dari apakah?”, atau  “Baptisan dapat disamakan dengan apakah?”.

Jika kita perhatikan konteks ayat ini, suatu kemungkinan yang menarik akan muncul, meskipun saya akui, bukanlah suatu tafsiran yang sangat disukai oleh para sarjana.  Baptisan dapat disamakan dengan apakah? Banjirkah? Atau, Bahterakah? Apakah yang telah menyelamatkan keluarga Nuh? Bah itu ataukah bahteranya? Jelas, bahteranya. Nuh membangun dan masuk ke dalam bahtera berdasarkan iman dan diselamatkan (Ibrani 11:7). Air bah itu menghancurkan mereka yang fasik.  Lagi pula, Petrus secara konsisten mengacu kepada air bah sebagai alat untuk menghancurkan orang fasik (2 Petrus 2:5; 3:6), bukan sebagai keselamatan bagi Nuh dan keluarganya.  Melainkan, bahtera itulah yang menyelamatkan, bahtera yang dimasuki oleh Nuh dengan iman.  Sangat cocok rasanya bahwa baptisan di sini mengacu kepada bahtera, bukan air bah.  Itulah mengapa sisa ayat tadi mengatakan, “maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah oleh kebangkitan Yesus Kristus” yang konsisten dengan apa yang dikatakan Paulus dalam Kolose 2:11-12 di mana ia menyamakan baptisan dengan penyunatan atas hati.

Masalah dengan tafsiran ini adalah bahwa tafsiran ini tidak sesuai dengan “air dalam tipologi air.”  Tampaknya akan lebih alamiah jika menyamakan air baptisan dengan air bah, karena sama-sama air.  Lebih jauh lagi, jika kita melihat bahwa air bah itu merupakan alat untuk menyingkirkan kejahatan dari muka bumi, kita dapat berkata “sesuai dengan” air dari baptisan yang menyingkirkan dosa dari hati kita.  Meskipun cara menafsir seperti ini tampak lebih alamiah, tafsiran seperti ini juga bermasalah.

Air baptisan bukanlah yang menyelamatkan kita, tetapi pengorbanan Kristus yang kita terima berdasarkan imanlah yang menyelamatkan kita.  Kita membaca banyak sekali ayat mengenai pembenaran karena iman (Roma 5:1), keselamatan karena iman (Efesus 2:8), dll., bukan pembenaran “oleh iman dan baptisan,” atau keselamatan “oleh iman dan baptisan.”1 Faktanya adalah bahwa keselamatan diterima berdasarkan iman.  Petrus, karena tidak ingin mengatakan bahwa baptisan itu sendiri adalah yang menyelamatkan kita, denga segera menambahkan kata-kata, “maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah oleh kebangkitan Yesus Kristus.”  Baptisan air, karenanya, mestinya mengiringi karya Roh Kudus dalam diri seseorang.  Komentar tambahan Petrus menerangkan kepada kita bahwa kegiatan baptisan fisik bukanlah hal yang menyelamatkan, tetapi “baptisan sebagai permohonan kepada Allah.”  Permohonan kepada Allah melalui iman ini sama dengan iman Nuh dalam Tuhan yang memimpinnya untuk membangun bahtera, memasukinya, dan tetap tinggal di sana hingga banjir berlalu. Bahtera itulah yang menyelamatkan Nuh, bukan air bah itu.

Peristiwa banjir bagi Nuh adalah suatu tipe baptisan seperti halnya menyeberangi Laut Merah merupakan tipe baptisan bagi orang Israel.

“Aku mau, supaya kamu mengetahui, saudara-saudara, bahwa nenek moyang kita semua berada di bawah perlindungan awan dan bahwa mereka semua telah melintasi laut. 2 Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut. 3 Mereka semua makan makanan rohani yang sama 4 dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.” (1 Korintus 10:1-4)

“Baptisan” Nuh dan “baptisan” Israel berfungsi sebagai perlambang dari tradisi; yaitu, keduanya memindahkan orang-orang dari dunia yang lama ke dunia yang baru, dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru.  Bukan airnya yang menyelamatkan, tetapi hal-hal rohani yang dilambangkan oleh air itu yang menyelamatkan.  Untuk kasus Nuh hal spritual itu adalah iman kepada Allah.  Bagi Musa juga adalah iman kepada Allah.

Tetapi sebagian dari kita mungkin berkata bahwa karya Roh Kudus dan tindakan baptisan adalah hal yang simultan/ terjadi berbarengan, yakni Roh Kudus bekerja di dalam dan melalui baptisan untuk membawa kelahiran baru.  Tetapi hal ini tidak mungkin karena Alkitab mengatakan kepada kita bahwa keselamatan adalah melalui iman (Roma 5:1; Efesus 2:8).  Di samping itu, kita memiliki contoh yang jelas dari Alkitab bahwa orang-orang diselamatkan sebelum mereka dibaptis.

Kisah Para Rasul 10:44-48

“44Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. 45Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, 46sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah. Lalu kata Petrus:47’Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?’ 48Lalu ia menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Kemudian mereka meminta Petrus, supaya ia tinggal beberapa hari lagi bersama-sama dengan mereka.” (Kisah Para Rasul 10:44-48).

Dalam ayat-ayat ini kita lihat bahwa Petrus sedang mengkotbahkan injil dan Roh Kudus turun atas pendengar-pendengarnya.  Dalam ayat 45 kita baca bahwa “karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga.”   Karunia ini dimanisfestasikan dalam bentuk bahasa lidah. Hal ini sangat penting karena, karunia bahasa Roh hanya diberikan kepada orang percaya, lihat 1 Korintus 14:1-5. Lagipula, ayat 46 mengatakan bahwa mereka “memuliakan Allah.”  Orang yang belum percaya tidak akan memuliakan Allah. Mereka tidak sanggup memuji karena pujian adalah masalah spiritual yang sangat dalam yang adalah hal yang asing bagi orang yang belum percaya (1 Korintus 2:14).  Karena itulah, mereka yang di dalam Kisah Para Rasul 10:44-46 yang berbicara dalam bahasa lidah dan memuji Allah adalah orang-orang yang sungguh-sungguh telah diselamatkan karena mereka bergerak dalam Kuasa Roh Kudus, berbicara bahasa lidah, dan memuliakan Allah.  Roh Kuduslah yang memberikan karunia spiritual kharismatis kepada geraja (1 Korintus 12:27-28), bukan kepada orang-orang yang belum percaya.  Sekarang, tolong catat bahwa setelah gerakan dari Roh Kudus inilah orang-orang itu dibaptis.  Jika baptisan diperlukan untuk keselamatan, bagaimanakah orang-orang ini bisa berbahasa lidah dan memuliakan Allah sebelum mereka dibaptis?

Jika anda mengatakan bahwa hal itu adalah karena Roh Kudus bekerja di atas dan melalui orang-orang yang belum diselamatkan, maka ingatlah bahwa karunia bahasa lidah dan memuliakan Allah adalah untuk gereja, bukan untuk orang yang belum percaya.  Gereja terdiri dari orang-orang yang telah diselamatkan, bukan orang-orang yang belum percaya. Jika mereka belum diselamatkan sebelum mereka dibaptis, maka mereka belum di dalam tubuh Kristus dan tidak akan bergerak dalam karunia kharismatik.  Karenanya, mereka telah lahir baru sebelum mereka dibaptis.  Ini bukanlah pengecualian. Ini realita.

Kesimpulan

1 Petrus 3:21 tidaklah mengajarkan kita bahwa baptisan adalah yang menyelamatkan kita.  Melainkan, ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa air itu melambangkan suatu pembersihan spiritual melalui kuasa Roh Kudus yang diperoleh melalui kemenangan Kristus atas maut.  Permohonan orang tersebut kepada Allahlah yang menyelamatkannya, bukan pembasuhan air atas badan.

  1. 1. Matius 16:16 mengatakan, “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum..”

Comments are closed.