Kebangkitan Yesus secara fisik

Kebangkitan Yesus adalah suatu doktrin yang fundamental dan esensial dalam Kekristenan.  Kebangkitan Yesus adalah begitu pentingnya sehingga tanpa kebangkitan Yesus maka Kekristenan adalah kepalsuan/ omong kosong belaka.  Paulus menuliskan dalam 1 Korintus 15:14 “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” (1 Korintus 15:14) Tiga ayat kemudian, dalam ayat ke-17, kembali ia menegaskan, “Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. (1 Korintus 15:17). Meskipun ada banyak pokok-pokok di mana sesama orang Kristen bisa saling berbeda pendapat, tetapi masalah kebangkitan ini bukanlah hal yang mereka ragukan. Menolak kebangkitan Yesus adalah sama dengan menolak Kekristenan itu sendiri.

Problem yang sering diperdebatkan mengenai kebangkitan Yesus bukanlah pada kenyataan bahwa Yesus memang bangkit, tetapi pada bagaimana Ia bangkit.  Sayangnya, kaum kultus menyerang kebangkitan Yesus dan menafsirkannya dengan cara yang berlainan dari  yang diyakini oleh orang Kristen, yaitu menolak kebangkitan-Nya secara fisik.  Kita harus bertanya apakah Yesus bangkit dari kematian dalam tubuh yang sama dengan tubuh ketika Ia mati atau dalam tubuh spiritual yang tidak terbuat dari darah dan daging? Jawaban atas pertanyaan ini sangatlah vital. Jawaban atas pertanyaan inilah yang membedakan Kekristenan sejati dari sistem-sistem kepercayaa palsu lainnya.  Karenanya, inilah doktrin yang benar mengenai kebangkitan Kristus. Saya menganggap hal ini sangat penting, sehingga saya harus mengkhususkan dan menegaskan pernyataan mengenai kebangkitan Kristus ini sebagai suatu pernyataan kebenaran.

Yesus bangkit dari kematian dalam tubuh yang sama dengan tubuh yang dibawa-Nya mati. Tubuh yang telah dibangkitkan ini adalah suatu tubuh yang telah dipermuliakan.

Pernyataan di atas adalah pernyataan yang benar sesuai doktrin yang Alkitabiah.  Dengan demikian, pernyataan ini berlawanan dengan pendapat kaum Saksi Yehovah dan kaum Shepherd’s Chapel yang menyatakan bahwa Yesus tidak bangkit dalam bentuk tubuh, tetapi secara spiritual.  Kedua grup ini tidak berupaya menolak pernyataan Alkitab mengenai kebangkitan Yesus, tetapi mereka merubah makna dari kebangkitan itu sehingga menjadi sama sekali tidak pernah terjadi.  Apakah Yesus bangkit dari kematian dalam tubuh yang sama dengan yang dibawa-Nya mati? Ya!

Setelah kebangkitan-Nya Yesus mampu untuk makan (Lukas 24:42-43). Ia menunjukkan kepada orang-orang tangan dan kaki-Nya yang memiliki bekas luka paku (Lukas 24:51; Yohanes 20:27), dan orang-orang bahkan bisa merangkul kaki-Nya untuk menyembah Dia (Matius 28:9)  Setelah laporan mengenai kebangkitan Yesus menyebar luas, Tomas, yang meragukan kebangkitan Kristus, berkata,”Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” (Yohanes 20:25).  Kemudian, Yesus muncul di hadapan Tomas dan berkata kepadanya,”Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” (Yohanes 20:27).

Jika tubuh Yesus tidak pernah bangkit, maka Ia tidak mungkin memiliki kaki dan tangan yang memiliki lubang-lubang bekas paku dari penyaliban-Nya. Pertimbangkanlah ayat-ayat berikut ini sebagai bukti lebih jauh mengenai Kebangkitannya dalam tubuh kematian-Nya:

  • “Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” 20Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. (Yohanes 20:19-20).
  • “Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? 39Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” (Lukas 24:38-39).

Jelas sekali bahwa Yesus bangkit dalam tubuh yang sama dengan tubuh yang dibawa-Nya mati, dengan lubang-lubang yang sama pada tangan dan kaki-Nya.  Kita juga melihat bahwa Yesus mengumumkan bahwa diri-Nya masih memiliki daging dan tulang.  Apakah “tubuh roh” terdiri dari daging dan tulang?  Sama sekali tidak.

Saya pernah mendengar ada orang yang mengatakan bahwa tubuh jasmani Yesus telah mati dan tubuh rohani-Nya yang dibangkitkan. Jika memang demikian, apakah tubuh spiritual itu memiliki daging dan tulang sebagaiman tubuh jasmani?  Rasanya pernyataan itu tidak masuk akal.  Lagi pula, jika Yesus tidak bangkit secara fisik, lalu apakah yang terjadi dengan tubuh fisik-Nya? teruraikah? dipindahkan ke tempat lainkah? Tidak ada catatan apapun mengenai apa yang terjadi kemudian terhadap tubuh Yesus yang telah mati selain daripada bahwa tubuh itu telah dibangkitkan.  Karena itulah, tubuh-Nya telah bangkit dari kematian.

Yohanes 2:19-21

“Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” 20Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: “Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?” 21Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. (Yohanes 2:19-21).

Frase “Aku akan mendirikan” diterjemahkan dari satu kata tunggal dalam bahasa Yunani yaitu “egeiro.”  “Egeiro” berkala (tense) masa depan, aktif, indikatif, orang pertama tunggal (future, active, indicative, 1st person singular).  Bentuk aktif dalam bahasa Yunani menentukan siapakah yang akan melakukan suatu perbuatan. Dalam hal ini, karena merupakan bentuk orang pertama tunggal (“Aku”), maka Yesus sedang mengatakan bahwa Ia sendiri yang akan melakukan perbuatan kebangkitan itu. Seperti itulah makna kalimat tersebut dalam bahasa Yunaninya.

Tetapi, beberapa pihak masih juga menolak bahwa Yesus secara fisik telah bangkit dari kematian — bahkan ketika mereka mempelajari Yohanes 2:19-21.  Kita dapat melihat dengan jelas bahwa Yesus telah menubuatkan bahwa Ia akan mendirikan kembali Bait Allah yang adalah tubuh-Nya sendiri sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat 21 oleh Rasul Yohanes yang menyatakan bahwa yang dimaksud Yesus dengan Bait Allah adalah tubuh-Nya sendiri. Karenanya, ini seharusnya menjadi bukti yang tidak dapat disangkal lagi bahwa Yesus memang bangkit dari kematian-Nya dalam tubuh yang sama dengan tubuh yang dibawa-Nya mati.  Jelas-jelas, Yohanes 2:19-21 menunjukkan kepada kita bahwa Yesus telah meramalkan kebangkitan-Nya sendiri secara fisik dalam tubuh yang sama dengan yang dibawa-Nya mati (dirombak oleh orang Israel) — dan Ia melakukan-Nya.  Apakah bukti ini cukup untuk menghentikan debat yang tidak perlu?  Anda mungkin bisa memahaminya, tetapi ternyata pertentangan terus muncul.

1 Korintus 15:35, 39, 42-44

35Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: “Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?”

39Bukan semua daging sama: daging manusia lain dari pada daging binatang, lain dari pada daging burung, lain dari pada daging ikan.

42Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. 43Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. 44Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah.

Ayat 44 di atas telah dipakai oleh berbagai pihak untuk meneguhkan ide mereka bahwa Yesus tidak bangkit secara fisik, tetapi secara spiritual.  Tentu saja, saya telah menunjukkan di atas bahwa Yesus telah dibangkitkan dalam tubuh yang sama dengan tubuh yang dibawa-Nya mati, dengan lubang yang sama pada tangan dan kaki-Nya.  Kita juga melihat bahwa Yesus telah memproklamasikan bahwa Ia memiliki daging dan tulang (Lukas 24:39).  Lagi pula, apakah “tubuh rohaniah” terdiri dari daging dan tulang? Alkitab tidak pernah memuat tentang hal seperti itu.

Paulus tidak menyatakan bahwa ada dua jenis tubuh yang berbeda pada diri seseorang, yaitu tubuh alamiah dan tubuh rohaniah, di mana setelah kematian tubuh alamiah, tubuh kedua yang berbeda yaitu tubuh rohaniah akan mengambil alih tugas tubuh alamiah.  Melainkan, ketika mengacu kepada satu tubuh yang sama ia menyatakan bahwa , “Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah,” (ayat 44).  Kata “yang” mengacu pada tubuh yang sama dalam kedua klausa kalimat tersebut, bukan dua tubuh yang berbeda.  Tubuh yang sama ini menjadi tubuh yang dibangkitkan — yaitu tubuh rohaniah seperti yang diacu olehnya.  Dengan kata lain, tubuh rohaniah adalah tubuh yang sama dengan tubuh alamiah sebelum kematian, tetapi telah diubah menjadi yang bersifat spiritual.

“Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati. Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: “Maut telah ditelan dalam kemenangan.” (1 Korintus 15:53-54).

Tubuh kita yang fana dan dapat hancur ini mengenakan aspek yang tidak dapat binasa dan kekekalan dari tubuh rohaniah yang merupakan tubuh fisik orang percaya yang telah diubahkan dan secara fisik dibangkitkan.   Yesus merupakan yang sulung dari kebangkitan ini (1 Korintus 15:20). Karenanya, kita dapat melihat bahwa tubuh kebangkitan kita di masa yang akan datang adalah tubuh rohaniah. Tetapi, tubuh rohaniah itu secara faktual adalah tubuh alamiah/ fisik, yang sama dengan tubuh kita sekarang, hanya telah dimuliakan. Sebab, jika sebaliknya yang terjadi, maka tidak ada kebangkitan itu.

Meskipun Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa Yesus bangkit dari kematian dalam tubuh yang sama dengan tubuh yang dibawa-Nya mati dan bahwa tubuh kebangkitan-Nya adalah tubuh yang telah dimuliakan, orang-orang tetap bersikeras untuk menolak kebenaran ini — yang merugikan diri mereka sendiri. Berbagai keberatan telah diajukan oleh mereka untuk menolak bukti Alkitabiah tentang kebangkitan Yesus seperti…

  • “Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” 20Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: “Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?” 21Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.” (Yohanes 2:19-21).
  • “Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” 20Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.” (Yohanes 20:19-20).
  • “Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? 39Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” (Lukas 24:38-39).

Jelas kiranya bahwa kebangkitan fisik Yesus adalah realita. Tetapi, keberatan-keberatan telah diajukan atas kenyataan ini.

Keberatan 1: Yesus dihukum mati secara fisik tetapi dibangkitkan secara spiritual menurut 1 Petrus 3:18.

1 Petrus 3:18 seringkali dipakai sebagai penangkal Yohanes 2:19-21.  Bukannya berniat mengharmoniskan Alkitab, beberapa orang justru memakai ayat yang satu untuk “menyerang dan membuktikan kesalahan” ayat lain atau membenarkan tafsiran pribadi mereka.  Demikianlah halnya dengan kasus pemakaian 1 Petrus 3:18-19:

“Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh,” (1 Petrus 3:18).

Point yang ingin mereka buktikan dari ayat ini adalah bahwa Yesus tidak bangkit secara fisik, tetapi “secara roh/ menurut Roh” (“in the spirit”).  Bahkan ada yang menyatakan bahwa Yesus berhenti bereksistensi dan kemudian dihidupkan lagi dalam wujud roh.  Tetapi, karena Yesus adalah Firman yang menjadi daging (Yohanes 1:1,14), Roh-Nya adalah kekal dan tidak perlu dihidupkan lagi.  Lalu, mereka beranggapan bahwa Yesus tidak berbicara secara literal dalam Yohanes 2:19-21, sebab jika tidak maka ayat ini akan berkontradiksi dengan doktrin mereka bahwa Yesus tidak bangkit secara fisik.  Jelas, mereka keliru.  Inilah alasannya mengapa mereka keliru:

Mari kita perhatikan konteks dari 1 Petrus 3:18.  Inilah 1 Petrus 3:17-20,

“Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat. 18Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, 19dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, 20yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu. (1 Petrus 3:17-20).

Kita harus mengakui bahwa ayat-ayat di atas memang memiliki interpretasi yang berlainan di antara para ahli/ sarjana.  Dikatakan bahwa Yesus berbentuk roh ketika Ia pergi dan membuat proklamasi.  Tetapi apakah maksud ayat ini?  Apakah Yesus, di masa antara kematian dan kebangkitan-Nya, pergi dan memberitakan Injil kepada roh-roh dalam penjara, atau apakah sesudah kebangkitan-Nya?  Lagipula, kata dalam bahasa Yunani yang dipakai untuk kata “memberitakan Injil” sesungguhnya adalah “karuso” yang artinya memproklamasikan bukan “evangelizo” yang artinya memberitakan Injil, jadi bukanlah Injil yang diberitakan kepada roh-roh dalam penjara itu.  Tambahan lagi, siapakah yang dimaksud dengn roh-roh itu, roh malaikat atau manusia?  Dalam dunia roh, malaikat-malaikatlah yang dikatakan berada dalam penjara (Wahyu 20:7; 2 Petrus 2:4), bukan manusia.  Apakah yang diproklamasikan itu?  Paling mungkin, adalah proklamasi mengenai kemenangan Kristus di atas kayu salib, menurut Alkitab, yang diberitakan kepada roh-roh mereka yang tidak taat kepada Allah pada zaman Nuh dan yang berada dalam penjara.  (Lihat juga, 2 Petrus 2:4-5).

Dalam pendapat saya, masa antara kematian-Nya dan kebangkitan-Nya, Yesus pergi dan mempuat proklamasi kemenangan-Nya atas kayu salib kepada malaikat-malaikat yang telah terjatuh dan yang telah dipenjarakan. Tetapi berhubung tidak ada jawaban yang pasti mengenai masalah ini, saya terbuka jika diajak berdiskusi lebih jauh atas masalah ini.

Ayat 18 tidaklah mensyaratkan bahwa Yesus tidak boleh bangkit secara fisik. Faktanya, secara logis, jika kita memegang pendapat bahwa Yesus itu bangkit secara roh saja, maka kita akan menghadapi kontradiksi dengan ayat-ayat lain dalam Alkitab, seperti Yohanes 2:19-21 dan Lukas 24:39 seperti yang dikutip di atas.  Karena Yohanes 2:19 jelas-jelas mengajarkan bahwa Bait Allah adalah kiasan tubuh Kristus yang dibangkitkan, maka ayat 1 Petrus 3:18, yang mengundang interpretasi yang berbeda di antara para sarjana (belum terlalu jelas), tidak dapat ditinjau dari cara yang menyebabkan ia berkontradiksi dengan ayat lain yang lebih jelas seperti ayat Yohanes 2:19-21 dan Lukas 24:39.

Lebih jauh lagi, Alkitab dari versi yang berbeda menterjemahkan ayat 18 tersebut dengan cara yang berbeda.  Beberapa versi mengatakan Yesus “dihidupkan oleh Roh” (Ing: Jesus was “made alive by the Spirit”) yakni dalam versi KJV, NKJV, NIV, MLB; sementara yang lain menterjemahkannya sebagai “… dihidupkan dalam roh” (“…made alive in the spirit”) yakni dalam versi NASB, NEB, RSV, JB, dan the 1901 ASV.  Jelas adalah mungkin bahwa Yesus dihidupkan oleh Roh Kudus yang mana hal ini konsisten dengan aspek Trinitas dari kebangkitan Yesus, di mana Allah membangkitkan Yesus (1 Tesalonika 1:10), Bapa membangkitkan Yesus (Galatia 1:1), dan Yesus membangkitkan diri-Nya sendiri (Yohanes 2:19-21), demikian juga Roh Kudus turut terlibat dalam kebangkitan Yesus (Roma 8:11).  Juga adalah akurat untuk mengatakan bahwa Yesus telah dibangkitkan dalam roh dalam tubuh rohaniah-Nya, yang merupakan tubuh alamiah-Nya yang telah dimuliakan, dihidupkan, dan menjadi nyata sebagai yang sulung dari semua ciptaan (1 Korintus 15:20).

Akhirnya, tubuh kita pada kenyataanya juga telah ditebus, bukan hanya roh kita.  “Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.” (Roma 9:23).  Tubuh yang dibicarakan di sini adalah tubuh fisik, bukan suatu tubuh tanpa-daging “rohaniah”.

Sebagai ringkasan atas pembahasan mengenai ayat ini: 1 Petrus 3:18 tidaklah mengatakan bahwa Yesus telah dibangkitkan sebagai mahluk rohaniah belaka. Ayat ini mengatakan bahwa Ia “dibangkitkan dalam roh”. Maksunya apa? sederhana saja, ini berarti bahwa Yesus dibangkitkan dalam tubuh yang tidak akan binasa. Ini adalah yang dikatakan dalam 1 Korintus 15:35-45 yang mengatakan bahwa tubuh kita “ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. 43Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. 44Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah…”. Yesus adalah “Adam yang akhir” yang adalah roh yang menghidupkan. Paulus sedang menggambarkan tentang tubuh kebangkitan. Dalam bagian Alkitab ini Paulus membicarakan mengenai kebangkitan semua orang. Semua orang Kristen akan dibangkitkan dalam tubuh fisiknya. Sama seperti Yesus.

Keberatan 2: Alkitab mengatakan bahwa “daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (1 Korintus 15:50 TB), karenanya, Yesus tidak mungkin telah dibangkitkan dari kematian dalam tubuh yang sama dengan tubuh kematian-Nya.

Masalah dengan keberatan ini adalah bahwa ia gagal memahamai fakta bahwa setelah kebangkitan, Yesus berkata, “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada “daging dan tulangnya”, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” (Lukas 24:39), bukan “daging dan darah”.  Ini bukanlah sekedar permainan kata-kata. Setiap kata dalam Alkitab diinspirasikan dan frase ini dipakai oleh Yesus tentu dengan maksud tertentu.

Istilah “daging dan darah” adalah frase yand dipakai dalam Alkitab dalam beragam konteks yang berbeda, tetapi selalu menunjukkan urutan alamiah.

  • “Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. (Matius 16:17). Catatan: Kata “manusia” di ayat ini diterjemahkan dari bahasa Yunani “Sarx kai Haima” yang berarti “daging dan darah”.
  • “karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” (Efesus 6:12).
  • “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; ” (Ibrani 2:14).

Yesus telah menumpahkan darah-Nya di atas kayu salib.   Secara harafiah  darah itu berhenti mengalir ketika habis tertumpah dari tubuh-Nya.  Kita lihat bahwa ketika Yesus bangkit dari kematian, Ia masih memiliki lubang-lubang pada tangan dan kaki-Nya (Lukas 24:39).  Karena Ia masih memiliki ciri (karakteristik) dari siksaan berat atas tubuh-Nya, maka logislah untuk mengatakan bahwa, darah-Nya, yang secara literal telah tercurahkan, adalah tercurah sebagai sesuatu yang “mengadakan pendamaian”:  “Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa.” (Imamat 17:11).

Itulah mengapa setelah kebangkitannya, untuk membuktikan bahwa Ia telah bangkit dalam tubuh yang sama dengan yang dibawa-Nya mati, Yesus meminta orang-orang untuk menyentuh tangan dan kaki-Nya karena tangan dan kaki-Nyalah yang mempunyai bekas lubang paku.  Bukti apa lagi yang anda butuhkan selain dari melihat dan memegang tangan dan kaki yang sama yang memiliki lubang dari paku-paku di atas kayu salib!  Lebih jauh lagi, dalam pernyataan yang sama, Yesus mengatakan bahwa Ia memiliki daging dan tulang, bukan daging dan darah. Ia telah bangkit!

Keberatan 3:  Persembahan korban adalah tubuh Kristus, karenanya, tubuh itu tidak mungkin bangkit lagi tanpa membuat pengorbanan itu menjadi tidak sah karena “diambil kembali”.

Jawaban atas keberatan ini adalah sama dengan jawaban atas keberatan 2.

Kebangkitan Yesus adalah bukti bahwa pengorbanan-Nya telah diterima oleh Bapa yang telah menjanjikan bahwa, “sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. (Mazmur 16:10).  Karena Yesus mempersembahkan sebuah korban yang sempurna untuk dosa, Ia diberikan garansi berupa kebangkitan fisik.  Perhatikanlah, kematian fisik adalah hasil dari dosa. Tetapi, Yesus telah sukses membereskan masalah dosa, dan dalam proses itu, mengalahkan kematian yang diakibatkan oleh dosa (Roma 5:12; 1 Korintus 15:56). Buktinya adalah fakta bahwa Ia telah bangkit dari kematian dalam tubuh yang sama dengan yang dibawa-Nya mati.

Lebih jauh, Yesus telah sungguh-sungguh menanggung dosa-dosa kita dalam tubuh-Nya di atas kayu salib (1 Petrus 2:24) dan menggantikan posisi kita (2 Korintus 5:21).  Tubuh-Nya telah dipakai sebagai sarana untuk mencurahkan darah pembersih dosa.

  • “Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa.” (Imamat 17:11)
  • “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.” (Ibrani 9:22 ).

Jadi, darah Kristus adalah yang menghapus dosa kita dan kebangkitan fisik dari Kristus adalah bukti bahwa pengorbanan itu telah diterima oleh Bapa.

Keberatan 4: Yesus memanifestasikan bentuk-bentuk fisik yang berbeda-beda guna meyakinkan murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit.

Keberatan ini keliru dalam beberapa hal. Pertama, ini akan berarti bahwa Yesus telah menipu murid-murid-Nya supaya mereka percaya bahwa tubuh-Nya telah dibangkitkan padahal tidak. Kedua, pendapat ini jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Yesus sendiri bahwa tubuh-Nya akan dibangkitkan:  “Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” 20Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: “Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?” 21Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.” (Yohanes 2:19-21).  Yesus mengatakan bahwa tubuh-Nya akan dibangkitkan. Ketiga, 1 Timotius 2:5 mengatakan:  “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, (1 Timotius 2:5) Yesus dikatakan sebagai seorang manusia. Jika Ia tidak bangkit secara fisik, bagaimanakah ia dapat menjadi manusia tanpa tubuh yang terdiri dari daging dan tulang?

Keberatan 5: Bapalah yang membangkitkan Yesus; Yesus tidak melakukannya Sendiri, karenanya Yohanes 2:19-21 tidak bisa diartikan secara harafiah karena Yesus tidak membangkitkan diri-Nya sendiri.

Keberatan ini jelas gagal dalam memperhitungkan natur Trinitas dari Allah dan kebangkitan. Kita lihat bahwa tiap pribadi dari Trinitas terlibat dalam kebangkitan Kristus.

  • Bapa – “Dari Paulus, seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, (Galatia 1:1).
  • Anak – “Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” 20Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: “Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?” 21Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.” (Yohanes 2:19-21)
  • Roh Kudus – “Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu. (Roma 8:11).

Demikianlah untuk klarifikasi lebih lanjut, kita harus memahami bahwa aspek-aspek lain dari Trinitas dapat ditemukan dalam keseluruhan Alkitab dalam berbagai pokok bahasan yang berbeda-beda:  Masing-masing disebut Allah:  Bapa (Filipi 1:2), Anak (Yohanes 1:1,14; Kolose 2:9) dan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 5:3-4).  Masing-masing adalah Pencipta:  Bapa (Yesaya 64:8; 44:24), Anak (Yohanes 1:3; Kolose 1:15-17), dan Roh Kudus (Ayub 33:4; 26:13).  Masing-masing diam dalam orang percaya (Bapa (2 Korintus 6:16), Anak (Kolose 1:27), dan Roh Kudus (Yohanes 14:17). . . dll.

Ketika melihat keseluruhan Alkitab kita dapat melihat bahwa tidak ada kontradiksi mengenai kebangkitan Yesus. Sebaliknya, kita melihat adanya penegasan dan peneguhan atas kebenaran bahwa Yesus memang, dalam faktanya, telah membangkitkan tubuh-Nya sebagaimana yang dinyatakan-Nya sendiri dalam Yohanes 2:19-21.

Comments are closed.