Mediator bagi True Virtue dalam Pemikiran Jonathan Edwards

Menikmati Tuhan

Jonathan Edwards (1703-1758), seorang pengkhotbah kebangunan (revivalist) yang juga adalah theolog, gembala, dan pemikir, merupakan seorang hamba Tuhan dengan pemikiran yang sangat penting bagi kita. Salah satu konsep penting yang dia kemukakan adalah pembahasan mengenai “repetisi kemuliaan Allah.” Pembahasan filosofisnya mengenai keberadaan dunia ini dirangkum dalam satu kalimat, yaitu untuk menerima dan memancarkan kemuliaan Allah. Tetapi apakah keunikan dari hal ini? Bukankah ini sama dengan kalimat dalam katekismus singkat Westminster yang menyatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia selamanya? Memang benar, tetapi Edwards memiliki pengertian yang lebih mendalam mengenai apa yang dimaksud dengan “menikmati Tuhan selamanya.”

Sebenarnya seperti apakah menikmati Tuhan itu? Apakah dengan beriman kepada-Nya dan akhirnya mendapat kekayaan, atau kesehatan, atau kedudukan yang baik di kantor, atau keuntungan dalam usaha yang dijalankan, atau kehidupan yang tenang dan lancar? Tentu tidak. Orang Reformed akan langsung berkhotbah menentang dengan keras konsep ini. Apa sebenarnya menikmati Tuhan? Menurut Edwards, menikmati Tuhan itu tidak mungkin dapat dilepaskan dengan berbagian di dalam Dia. Seorang ahli pemikiran Edwards bernama Sang Hyun Lee mengatakan bahwa Edwards memiliki konsep filosofis yang menjadi alternatif bagi konsep filosofis zamannya dan yang ternyata masih relevan bagi perdebatan filosofis zaman ini. Edwards mengatakan bahwa dunia ini merupakan repetisi (pengulangan kembali) dari Allah. Hah??! Tunggu, jangan kaget dulu… Edwards masih tetap theolog Reformed. Dia pasti tidak menganggap alam sebagai bagian dari Allah (panentheisme) atau menganggap alam itu identik dengan Allah (pantheisme). Edwards memiliki konsep ciptaan sebagai “emanasi kemuliaan Allah.” Berarti yang direpetisi dalam dunia ciptaan ini adalah kemuliaan Allah (God’s glory), dan bukan diri Allah (God’s being). Sudah tenang? Oke, kita lanjutkan…

Tetapi, bagaimanakah ciptaan ini merepetisi kemuliaan Allah? Edwards mengatakan bahwa setiap apa yang Allah lakukan adalah untuk kemuliaan nama-Nya. Bahkan tujuan seluruh penciptaan ini adalah untuk kemuliaan-Nya. Mari kita renungkan hal ini sebentar. Ev. Yadi S. Lima, dalam sebuah sesi di NRETC, mengatakan bahwa kita ini hanya salah satu manusia di antara 6 milyar manusia di bumi ini, dan masalah kita pun hanyalah salah satu masalah di antara 6 milyar masalah manusia lain yang ada di bumi ini. Jika demikian, mengapa masalah kita harus menjadi masalah paling penting yang semua orang harus perhatikan? Juga mengapa cita-cita kita harus menjadi sesuatu yang sangat penting dan seolah-olah seluruh dunia harus memperhatikannya? Apalagi kalau kita berpikir bahwa Tuhan harus memberikan fokus karya-Nya sesuai dengan kehendak kita… Kita ini hanya salah satu dari milyaran manusia, hak apakah yang kita miliki untuk menuntut Allah untuk mengikuti rencana kita? Karena itu tidak ada seorang pun yang berhak mengubah rencana Allah atas seluruh ciptaan, atas seluruh manusia, dan atas kehidupan setiap pribadi manusia di bumi ini. Allah menetapkan bahwa kemuliaan-Nya menjadi tujuan penciptaan. Ada yang mau protes? Kalau ya, tolong diingat, signifikansi suara Anda hanya seperenam milyar saja. Edwards mengatakan bahwa tidak ada hal yang lain dapat menjadi seindah dan semulia kemuliaan Allah, maka secara logis tidak ada hal yang lain yang pantas untuk menggantikan kemuliaan Allah sebagai tujuan seluruh ciptaan ini. Tetapi, Edwards memiliki konsep yang lebih kompleks dari sekadar merumuskan tujuan. Edwards juga memaparkan bagaimana ciptaan ini dapat memuliakan Allah. Bagi Edwards, sumber kemuliaan itu tidak mungkin berasal dari sumber lain selain Allah. Dengan demikian, maka Allah sendiri adalah Sumber dari segala hal yang baik yang ada. Kemuliaan Allah menjadi sumber bagi segala kemuliaan yang terpancar dalam ciptaan ini. Maka kemuliaan Allah ini jugalah yang direpetisi dalam ciptaan, baik alam (wahyu umum yang menyatakan keagungan Allah) maupun manusia (reflektor kemuliaan Allah sebagai person yang diciptakan oleh Allah). Maka Allah memberikan pancaran kemuliaan-Nya untuk dimiliki oleh ciptaan dan dipancarkan oleh ciptaan. Pancaran kemuliaan inilah yang menyatakan kemuliaan bagi nama Allah dan yang bersumber dari kemuliaan kekal yang dimiliki Allah.

Welcome to the Real World

Dari pengertian di atas kita belajar bahwa seluruh ciptaan ini merupakan sesuatu yang diciptakan Allah untuk merepetisi kemuliaan-Nya. Demikan juga manusia seharusnya merepetisi kemuliaan Allah dengan seluruh keberadaan Diri-Nya. Edwards melihat keindahan sejati dalam diri manusia sebagai keindahan moral, rasio, maupun afeksi. Kemuliaan Allah direpetisi dalam diri manusia dalam bentuk keanggunan moralnya, rasionya, maupun dalam cinta kasih yang dia miliki kepada Allah dan sesama. Tetapi, entah itu moralitas, ataupun rasio, ataupun afeksi, semuanya hanya dapat berkenan kepada Allah di dalam kekudusan Allah. Edwards mengatakan bahwa seluruh keanggunan dan keindahan ini menjadi tidak berguna tanpa kekudusan Allah. Dengan demikian, maka setelah manusia berdosa dia tidak lagi menjadi reflektor kemuliaan Allah. Segala sesuatu yang dimiliki manusia menjadi tidak berguna bila berada di luar kesucian Allah.

Apakah keadaan manusia dalam dunia saat ini terlihat sebagai repetisi kemuliaan Allah? Ternyata tidak. Jangankan menyatakan kemuliaan Allah, manusia bahkan memancarkan permusuhan dan penghinaannya kepada Allah. Jangankan menjalankan semua kemampuan untuk bertindak moral ataupun menggunakan rasio sebagai bentuk repetisi kemuliaan Allah, manusia bahkan menjadi terbiasa dengan kerusakan moral yang ada. Jangankan mencintai Allah dan menyembah Dia sebagaimana seharusnya, manusia malah menyatakan hidup yang membenci Allah dan mengabaikan Dia dari setiap aspek kehidupannya. Keindahan kekudusan Tuhan yang menjadi alasan bagi setiap sisi kehidupan manusia untuk dapat menjadi indah malah diabaikan dan dianggap sampah. Jonathan Edwards mengatakan bahwa Tuhan memberikan afeksi kepada manusia untuk melayani Tuhan dengan bersemangat, tetapi manusia mengarahkan semangatnya untuk hal-hal yang lain. Betapa manusia bergiat, tetapi manusia bergiat untuk hal yang lain dan membangkitkan murka Tuhan. Untuk siapakah seharusnya kita bergiat? Siapakah yang paling layak mendapatkan seluruh semangat dan afeksi kita lebih daripada Tuhan? Tetapi mengapa kita berikan perhatian dan afeksi kita kepada hal-hal lain lebih daripada kepada Tuhan? Kita bersemangat untuk hiburan, pekerjaan, pergaulan, pacar, keluarga, anak, dan ribuan hal lainnya, tetapi kita lesu dan tidak berminat untuk mengenal Allah kita. Alangkah memalukan dan memuakkannya hidup demikian di hadapan Allah.

Melihat keadaan dunia ini sepertinya kita melihat Edwards sebagai seorang kolot yang bermimpi terlalu tinggi. Di manakah repetisi kemuliaan Allah? Apakah di industri film? Apakah di pusat-pusat mode? Apakah di olimpiade atau piala dunia sepakbola? Jika tidak, mengapakah hal-hal yang disebut barusan mendapatkan perhatian hampir seluruh penduduk bumi ini? Ah, malangnya Edwards. Cita-cita terlalu besar tetapi realita hidup begitu membuat frustrasi. Tetapi Edwards sadar akan hal ini. Dia termasuk satu di antara sedikit orang yang menangisi zamannya dan yang berdoa memohon kebangunan. Doanya yang Tuhan kabulkan berupa dua periode kebangunan rohani, yaitu tahun 1734-1735 dan tahun 1740-1742. Untuk apa dia berdoa bagi zamannya kalau zamannya itu merupakan zaman yang menyatakan kemuliaan Allah sebagaimana seharusnya? Mulai dari kerusakan moral, simpang siurnya doktrin, kemunafikan orang-orang beragama yang merasa diri baik, hingga kelesuan dan hilangnya semangat serta kerinduan untuk melayani Tuhan merupakan ciri-ciri dari zamannya dan kota tempat dia melayani.

Afeksi Sejati

Pengertian Edwards akan kerusakan manusia yang dicerminkan oleh zamannya, yang digabungkan dengan pengertiannya akan tujuan dari ciptaan ini mendorong Edwards untuk memahami pentingnya posisi Kristus sebagai Penebus manusia berdosa. Edwards, sebagaimana juga Calvin, melihat keselamatan sebagai suatu keadaan berada di dalam Kristus dan memperoleh segala benefit dari keadaan tersebut. Jikalau Calvin menyatakan ini dalam Institutes, maka Edwards banyak membahas hal ini dalam Religious Affections. Religious Affections ini adalah tulisan yang dikumpulkan dari khotbah-khotbah Edwards untuk menyeimbangkan pengertian mengenai afeksi sejati. Afeksi, bagi Edwards, adalah suatu perasaan yang sangat dalam sehingga menggerakkan orang untuk menyukai dan mendekati sesuatu, atau membenci dan menjauhi sesuatu. Jadi, bagi dia afeksi merupakan perasaan dalam yang menggebu-gebu, bukan sekadar perasaan suam-suam kuku yang tidak jelas. Apakah Saudara mengasihi Tuhan? “Ya.” Sebesar apa? “Dengan segenap hatiku, jiwaku, kekuatanku, dan akal budiku… seluruh keberadaanku… seluruh waktuku… seluruh hidupku adalah milik-Nya.” Ini namanya afeksi. Tetapi kalau Saudara menjawab: “Yah, lumayan lah. Saya kadang-kadang berdoa, kadang-kadang kalau tidak terlalu sibuk saya juga bahkan melayani di gereja…” Ini bukan afeksi. Ini namanya emosi suam-suam kuku. Dibilang mengasihi rasanya tidak, tetapi benci juga tidak, lho… Ini bukan perasaan dari seorang Kristen, tetapi perasaan orang atheis yang pakai baju Kristen.

Afeksi rohani sejati merupakan afeksi yang adalah hasil dari repetisi kemuliaan Allah dalam diri manusia. Pemikiran Edwards mengenai repetisi kemuliaan adalah pemikiran yang menyeluruh. Edwards hidup dalam zaman rasionalisme di mana orang-orang sangat mengagungkan bahkan mengabsolutkan rasio. Orang-orang yang dianggap hebat adalah Descartes, John Locke, Aristotle, Newton, dan lain-lain, karena orang-orang ini membuka wawasan manusia untuk memaksimalkan kemampuan rasio. Abad ke-18 juga dikenal sebagai abad lahirnya dua filsuf raksasa Eropa, yaitu Immanuel Kant dan Georg Friedrich Wilhelm Hegel. Yang terakhir ini adalah filsuf yang bahkan memberikan “tahta ilahi” bagi rasio. Siapakah Allah? Hegel akan menjawab, “Rasio mutlak” atau “Ide absolut.” Edwards hidup dalam kondisi zaman yang demikian. Banyak orang Kristen ketika hidup dalam suatu kondisi zaman memilih untuk melawan zamannya dengan beralih ke ekstrim yang lain. Kalau zaman mengagungkan rasio, maka orang Kristen membuang rasio. Tetapi Edwards tidak demikian. Dia adalah theolog yang mampu melihat repetisi kemuliaan Allah dalam setiap segi ciptaan. Maka, karena afeksi sejati adalah bentuk repetisi kemuliaan Allah, afeksi ini memiliki sisi rasio dan kehendak yang merupakan bagian dari kemuliaan tersebut. Rasio membuat kita mampu memikirkan konsep-konsep, merumuskan doktrin-doktrin secara harmonis dan konsisten dengan Alkitab supaya kita dapat mengenal Allah. Kehendak menggerakkan kita untuk melayani Allah berdasarkan afeksi yang kita miliki kepada Dia karena kita telah mengenal Allah (atau lebih baik, telah dikenal oleh Allah). Edwards bukan orang “rohani” yang membuang rasio demi pengalaman emosional dengan Allah. Saya kuatir dengan orang-orang yang mengatakan, “Percuma belajar. Yang penting jalankan. Untuk apa belajar dan baca buku banyak-banyak kalau toh tidak melayani?” Baik, memang benar. Kalau tidak melayani apa gunanya? Tetapi pertanyaan ini perlu diimbangi dengan pertanyaan, “Bagaimana melayani kalau tidak mau belajar?” Orang yang merasa tidak perlu belajar bahkan dari orang-orang sebesar Calvin, Agustinus, atau Edwards, merasa dia sudah tahu semua yang diperlukan untuk melayani. Tetapi jika orang ini mau rendah hati kemudian sediakan waktu untuk belajar dari siapapun, apalagi dari orang-orang yang dipakai Tuhan secara luar biasa ini, dia akan menemukan bahwa apa yang dia pikir sudah dia ketahui ternyata masih belum dia ketahui. Kita tidak mungkin mengetahui semuanya tentang sesuatu. Masih ada sisi-sisi atau perspektif-perspektif lain yang dapat kita pelajari dari orang lain, terutama dari orang-orang sebesar Calvin atau Edwards.

Natur yang Direpetisi

Edwards tidak jatuh dalam posisi yang hanya melihat satu sisi. Baik kehendak maupun rasio dilihat sebagai cara Allah merepetisi kemuliaan-Nya dalam diri orang percaya. Baik kehendak maupun rasio keduanya merupakan bagian dari afeksi rohani atau emosi rohani sejati. Tetapi, bagaimanakah caranya kita memiliki afeksi rohani sejati ini? Edwards melihat zamannya, terutama sepanjang tahun 1734-1735 dan 1740-1742 ternyata dipenuhi orang-orang yang menunjukkan afeksi yang palsu. Banyak orang yang menangis-nangis, menyatakan pertobatan, bahkan rajin pelayanan ternyata kemudian meninggalkan Tuhan dan terus hidup dalam dosa. Tetapi ada juga orang-orang yang walaupun tenang, tetapi menunjukkan perumbuhan rohani yang konsisten dan murni. Maka Edwards mengatakan dalam Religious Affections-nya bahwa seseorang seharusnya merasa yakin dengan keselamatannya melalui terus mengasihi kesucian Tuhan dan melayani Dia. Mengapa demikian? Karena menurut Edwards, orang yang diselamatkan adalah orang yang sudah memiliki natur baru (lengkap dengan afeksi rohaninya…) yang pasti akan mengasihi kekudusan dan rindu melayani Allah. Bagaimanakah natur seperti ini diperoleh? Natur ini hanya dapat direpetisi dari natur yang dimiliki Allah sendiri.

Pemikiran yang muncul dari mimpi kaum humanis bahwa manusia mampu berbuat baik menjadi dasar bagi pemikiran bahwa natur yang mulia ini sudah ada dalam diri manusia. Kan banyak orang baik, atau orang saleh, bahkan orang-orang yang menolong sesamanya manusia dan hidup dengan moral yang tidak bercacat? Namun Alkitab mengatakan bahwa manusia tidak mungkin mampu memiliki hal ini menurut penilaian Allah. Allah menciptakan segala sesuatu bagi kemuliaan-Nya, dan dengan demikian bagaimanakah ada manusia yang diperkenan Tuhan kalau dia mengabaikan tujuan penciptaan ini? Jika seseorang mengabaikan Allah dan rencana penciptaan-Nya, dan mau mencari jalan sendiri, dia sedang melawan apa yang Allah maksudkan bagi hidupnya. Dengan demikian, sebaik apapun seseorang terhadap orang lain tidak akan bisa mengubah keberadaannya sebagai ciptaan yang melawan Penciptanya. Karena itu, pertama-tama, natur yang mulia ini haruslah natur yang memiliki afeksi terhadap Allah dan kesucian-Nya. Tetapi dapatkah seseorang memiliki natur seperti ini di dalam dirinya? Tidak. Maka, sebagaimana dinyatakan Edwards, natur ini merupakan natur yang direpetisi dari Allah.

Lahir Baru Menurut Konsep Edwards

Edwards mengatakan dalam “Miscellanies”-nya bahwa Allah memiliki delight akan kemuliaan-Nya. Karena itulah repetisi kemuliaan-Nya dalam ciptaan merupakan satu-satunya yang membuat ciptaan itu memiliki keindahan sejati. Manusia yang adalah image of God merepetisi kemuliaan Allah, tetapi tentu saja berbeda dengan ciptaan lainnya karena manusia merepetisi kemuliaan Allah dalam keberadaannya sebagai person yang diciptakan sebagai image of God. Karena itu kemuliaan Allah yang direpetisi dalam diri manusia merupakan kemuliaan yang lebih kompleks dan mencakup afeksi sebagaimana telah dibahas di atas. Ada tiga hal yang menjadi prinsip untuk mengetahui sifat dari kemuliaan yang direpetisi oleh manusia. Yang pertama adalah kemuliaan yang menjadi milik kita merupakan kemuliaan, yang walaupun dari Allah, tetap adalah kemuliaan yang terbatas. Kemuliaan ini berbeda secara kualitas dengan kemuliaan Allah yang tidak terbatas. Yang kedua adalah kemuliaan ini akan terus merepetisi diri, yaitu akan terus bertambah dan bertambah hingga selama-lamanya tanpa pernah menyamai kemuliaan milik Allah yang tidak terbatas. Edwards mengatakan bahwa waktu yang diperlukan agar kemuliaan yang direpetisi dapat terus bertambah untuk menjadi sempurna adalah selama-lamanya (atau dengan kata lain terus bertambah tanpa mungkin menjadi sama sempurnanya dengan kesempurnaan Allah yang berbeda secara kualitas). Lalu yang ketiga, kemuliaan ini merupakan natur baru manusia yang direpetisi di dalam Kristus melalui Roh Kudus. Bagian ketiga ini akan kita bahas secara lebih mendalam.

Natur baru seseorang merupakan natur baru yang diberikan oleh Roh Kudus. Di dalam kerangka theologis milik Edwards, natur Roh Kudus direpetisi oleh seseorang yang lahir baru. Seperti apakah natur dari Roh Kudus? Roh Kudus memiliki natur yang memuliakan Kristus. Karena itu, setiap orang yang memiliki natur baru ini akan juga meninggikan Kristus. Yesus Kristus menjadi Pribadi yang paling dikagumi, disembah, dikasihi, dan dirindukan oleh seseorang yang telah diperbarui ini. Edwards menjelaskan bahwa natur baru ini harus terwujud dengan afeksi kepada Kristus dan karya penebusan-Nya. Edwards mengatakan: “How they can sit and hear of the infinite height, and depth, and length, and breadth of the love of God in Christ Jesus, of His giving His infinitely dear Son, to be offered up a sacrifice for the sins of men, and of the unparalleled love of the innocent, and holy, and tender Lamb of God, manifested in His dying agonies, His blood sweat, His loud and bitter cries, and bleeding heart, and all this for enemies, to redeem them from deserved, eternal burnings, and to bring unspeakable and everlasting joy and glory – and yet be cold and heavy, insensible and regardless! Where are the exercises of our affections proper, if not here?” (Religious Affections, hal. 52). Natur baru ini akan membuat seorang berdosa berpaling kepada Kristus dan menerima Dia dengan sepenuh hati sebagai Tuhan atas seluruh hidupnya.

Yesus Kristus Sebagai Mediator

Edwards mengatakan bahwa afeksi terhadap Kristus menjadi awal di mana akhirnya kita memiliki afeksi Kristus. Kemuliaan Allah di dalam Kristus Yesus menjadi kemuliaan yang direpetisi dalam diri setiap orang percaya. Tetapi mengapa Kristus? Disertasinya mengenai “The Excellency of Jesus Christ” menjelaskan mengenai hal ini. Dalam tulisan yang juga merupakan naskah khotbahnya tersebut, Edwards melihat kemuliaan Kristus sebagai kemuliaan yang secara paradoks dinyatakan. Kristus memiliki kemuliaan sebagai Allah, tetapi Dia juga memiliki kemuliaan sebagai manusia yang taat kepada Allah. Dalam tulisan ini Edwards membahas Kristus yang adalah Singa dari Yehuda tetapi memiliki tubuh seekor Anak Domba yang baru disembelih. Edwards memberikan contoh kemuliaan yang paradoks ini dalam tujuh contoh, yaitu:

1.      Kristus memiliki kemuliaan yang tidak terbatas tetapi juga kerendahan hati yang sangat.
2.      Kristus memiliki infinite majesty tetapi juga kelemahlembutan yang tak terkira.
3.      Kristus memiliki rasa hormat yang sangat dalam kepada Allah, tetapi juga Dia sendiri adalah setara dengan Allah.
4.      Kristus memiliki kelayakan untuk menerima segala yang baik, tetapi dalam Dia juga ada ketekunan untuk menjalani penderitaan.
5.      Kristus memiliki ketaatan yang mutlak, tetapi Dia juga adalah Penguasa atas sorga dan bumi.
6.      Kristus memiliki kedaulatan tetapi juga Dia memiliki keberserahan total kepada kehendak Bapa-Nya.
7.      Kristus memiliki kecukupan pada diri-Nya sendiri, tetapi Dia juga memiliki kebergantungan kepada Bapa di sorga.

Ketujuh contoh ini menunjukkan bagaimana Kristus memiliki kemuliaan yang begitu paradoks dan tidak dimiliki oleh siapapun baik yang di sorga maupun di bumi. Hanya Dia yang memiliki kemuliaan sedemikian, dan dengan demikian hanya Dia yang sanggup menjadi Pengantara kita. Dalam kemuliaan-Nya sebagai Allah, Dia menjadi Sumber bagi kemuliaan yang direpetisi dalam setiap orang percaya. Dalam kemuliaan-Nya sebagai manusia yang taat kepada Allah, Dia menjadi Dasar, Teladan, dan Penyempurna ketaatan kita kepada Allah. Dengan demikian, hanya Kristus yang dapat menjadi Mediator bagi kita untuk hidup bagi kemuliaan Allah.

Kemuliaan Allah yang memancar melalui afeksi dalam pengertian Edwards merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kita untuk terus berjuang dengan penuh kerinduan agar mampu menyenangkan hati Tuhan. Afeksi ini menjadi tanda yang sangat penting karena dalam afeksi rohani sejati ada kerinduan untuk memandang kepada Kristus dan mau menjadi seperti Dia. Kerinduan yang tidak mungkin dijalankan hanya setengah-setengah, tetapi dengan total dan sepenuh hati diperjuangkan. Membenci dosa, berjuang melawan dosa, hidup melayani Tuhan, dan menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya tujuan hidup dan kesenangan dalam hidup adalah perwujudan afeksi rohani sejati. Inilah kemuliaan Allah yang direpetisi dan dipancarkan oleh manusia melalui Pribadi yang menjadi Mediator kita, yaitu Yesus Kristus.

Referensi:

– Jonathan Edwards, The Works of Jonathan Edwards in 2 Volumes. Edinburgh: Banner

of Truth Trust, cetakan ke-8, 1995. Vol. 1:

1. “Dissertation on the End for Which God Created the World”

2. “A Dissertation on the Nature of True Virtue”

3. “A Treatise Concerning Religious Affections”

4. “The Excellency of Jesus Christ”

– Sang Hyun Lee, The Philosophical Theology of Jonathan Edwards. New Jersey: Princeton University Press, 1988.

Jimmy Pardede

Comments are closed.