reformed providence

Tujuan session / pelajaran ini adalah untuk membuktikan bahwa doktrin ini memang merupakan ajaran Calvin dan tokoh-tokoh Reformed. Jadi, sekalipun saya yakin ajaran ini benar / Alkitabiah, dan saya bisa membuktikannya, tetapi tujuan saya saat ini bukan membuktikan ajaran ini benar atau tidak, Alkitabiah atau tidak. Tujuan saya saat ini adalah membuktikan bahwa ini ajaran adalah Calvin / para tokoh Reformed.Mengapa perlu ada pelajaran ini? Karena banyak orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang mengatakan bahwa doktrin ini adalah ajaran Hyper-Calvinisme. Dalam pelajaran ini saya akan membuktikan bahwa tuduhan itu tidak benar, yang berarti bahwa para penuduh itu, atau tidak mengerti apa itu Calvinisme dan Hyper-Calvinisme, atau lebih buruk lagi, adalah pemfitnah. Untuk membuktikan bahwa ajaran ini adalah ajaran dari Calvin / para tokoh Reformed, tidak bisa tidak saya harus mengajar dengan memberikan kutipan dari tulisan Calvin / para tokoh Reformed. Karena itu, jangan heran kalau pelajaran ini dipenuhi dengan kutipan-kutipan.Beberapa point yang ingin saya tekankan adalah:1)  Calvin / Reformed mengajarkan bahwa Allah menentukan segala sesuatu.

Yes 25:1 – “Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi namaMu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancanganMu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu”.

Calvin (tentang Yes 25:1): “… all things were undoubtedly ordained by him before the creation of the world” (= … tak diragukan bahwa segala sesuatu ditentukan oleh Dia sebelum penciptaan dunia / alam semesta) – hal 191.

Maz 135:6-7 – “(6) TUHAN melakukan apa yang dikehendakiNya, di langit dan di bumi, di laut dan di segenap samudera raya; (7) Ia menaikkan kabut dari ujung bumi, Ia membuat kilat mengikuti hujan, Ia mengeluarkan angin dari dalam perbendaharaanNya”.

Calvin (tentang Maz 135:6,7): “we must hold by this as a firm principle, that nothing happens without the divine will and decree. … nothing takes place of itself, but by the hand and counsel of God.” (= kita harus memegang / mempercayai dengan ini sebagai suatu prinsip yang teguh, bahwa tidak ada apapun yang terjadi tanpa kehendak dan ketetapan ilahi. … tidak ada apapun yang terjadi dengan sendirinya, kecuali oleh tangan / kuasa dan rencana Allah) – hal 175.

John Calvin: “… we make God the ruler and governor of all things, who in accord­ance with his wisdom has from the farthest limit of eternity decreed what he was going to do, and now by his might carries out what he has decreed. From this we declare that not only heaven and earth and the inanimate creatures, but also the plans and intentions of men, are so governed by his providence that they are borne by it straight to their appointed end” (= … kami membuat Allah pengatur dan pemerintah segala sesuatu, yang sesuai dengan kebijaksanaanNya telah menetapkan sejak batas terjauh dari kekekalan apa yang akan Ia lakukan, dan sekarang dengan kuasaNya melaksanakan apa yang telah Ia tetapkan. Dari sini kami menyatakan bahwa bukan hanya surga dan bumi dan makhluk tak bernyawa, tetapi juga rencana dan maksud manusia begitu diperintah / diatur oleh providensiaNya sehingga mereka dilahirkan olehnya langsung menuju tujuan yang ditetapkan bagi mereka) – ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVI, no 8.

John Calvin: “But anyone who has been taught by Christ’s lips that all the hairs of his head are numbered (Matt 10:30) will look farther afield for a cause, and will consider that all events are governed by God’s secret plan” [= Tetapi setiap orang yang telah diajar oleh bibir Kristus bahwa semua rambut kepalanya terhitung (Mat 10:30) akan melihat lebih jauh untuk suatu penyebab, dan akan menganggap bahwa semua kejadian / peristiwa diatur oleh rencana rahasia Allah] – ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVI, no 2.

Louis Berkhof: “Reformed Theology stresses the sovereignty of God in virtue of which He has sovereignly determined from all eternity whatsoever will come to pass, and works His sovereign will in His entire creation, both natural and spiritual, according to His predetermined plan. It is in full agreement with Paul when he says that God ‘worketh all things after the counsel of His will’ (Eph 1:11)” [= Theologia Reformed menekankan kedaulatan Allah atas dasar mana Ia secara berdaulat telah menentukan dari sejak kekekalan apapun yang akan terjadi, dan mengerjakan kehendakNya yang berdaulat dalam seluruh ciptaanNya, baik yang bersifat jasmani maupun rohani, menurut rencanaNya yang sudah ditentukan sebelumnya. Ini sesuai dengan Paulus pada waktu ia berkata bahwa Allah ‘mengerjakan segala sesuatu menurut keputusan kehendakNya’ (Ef 1:11)] – ‘Systematic Theology’, hal 100.

R. L. Dabney: “The decrees of God are His eternal purpose according to the counsel of His will, whereby, for His own glory, He hath foreordained whatso­ever comes to pass” (= Ketetapan-ketetapan Allah adalah rencana kekalNya menurut kehendakNya, dengan mana, untuk kemuliaanNya sendiri, Ia telah menentukan lebih dulu apapun yang akan terjadi) – ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 121.

Charles Hodge: “The doctrine of the Bible is, that all events, whether necessary or contingent, good or sinful, are included in the purpose of God, and that their futurition or actual occurrence is rendered absolutely certain” (= Doktrin dari Alkitab adalah, bahwa semua peristiwa, apakah mutlak perlu atau bersifat tergantung / kebetulan, baik atau berdosa, tercakup dalam rencana Allah, dan bahwa akan terjadinya atau sungguh-sungguh terjadinya mereka digambarkan pasti secara mutlak) – ‘Systematic Theology’, vol I, hal 542.

William G. T. Shedd: “The Divine decree is universal. It includes ‘whatsoever comes to pass,’ be it physical or moral, good or evil” (= Ketetapan ilahi adalah universal. Itu mencakup ‘apapun yang akan terjadi’, apakah itu bersifat fisik atau moral, baik atau jahat) – ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 400.B. B. Warfield: “His works of providence are merely the execution of His all-embracing plan” (= PekerjaanNya dalam providensia semata-mata merupakan pelaksanaan dari rencanaNya yang mencakup segala sesuatu) – ‘Biblical and Theological Studies’, hal 281.

B. B. Warfield: “this God is a Person who acts purposefully; there is nothing that is, and nothing that comes to pass, that He has not first decreed and then brought to pass by His creation or providence” (= Allah ini adalah seorang Pribadi yang bertindak dengan mempunyai rencana / tujuan; tidak ada sesuatu yang ada atau yang akan terjadi, yang tidak lebih dulu ditetapkanNya dan lalu dilaksanakanNya oleh penciptaan atau providensiaNya) – ‘Biblical and Theological Studies’, hal 284.

B. B. Warfield: “But, in the infinite wisdom of the Lord of all the earth, each event falls with exact precision into its proper place in the unfolding of His eternal plan; nothing, however small, however strange, occurs without His ordering, or without its peculiar fitness for its place in the working out of His purpose; and the end of all shall be the manifestation of His glory, and the accumulation of His praise” (= Tetapi, dalam hikmat yang tidak terbatas dari Tuhan dari seluruh bumi, setiap peristiwa / kejadian jatuh dengan ketepatan yang tepat pada tempatnya dalam pembukaan / penyingkapan dari rencana kekalNya; tidak ada sesuatupun, betapapun kecilnya, betapapun anehnya, yang terjadi tanpa pengaturan / perintahNya, atau tanpa kecocokannya yang khusus untuk tempatnya dalam pelaksanaan RencanaNya; dan akhir dari semua adalah akan diwujudkannya kemuliaanNya, dan pengumpulan pujian bagiNya) – ‘Biblical and Theological Studies’, hal 285.

Loraine Boettner: “The Pelagian denies that God has a plan; the Arminian says that God has a general plan but not a specific plan; but the Calvinist says that God has a specific plan which embraces all events in all ages” (= Penganut Pelagianisme menyangkal bahwa Allah mempunyai rencana; penganut Arminianisme berkata bahwa Allah mempunyai rencana yang umum tetapi bukan rencana yang specific; tetapi penganut Calvinisme mengatakan bahwa Allah mempunyai rencana yang specific yang mencakup semua peristiwa / kejadian dalam semua jaman) – ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 22-23.

John Owen: “Out of this large and boundless territory of things possible, God by his decree freely determineth what shall come to pass, and makes them future which before were but possible. After this decree, as they commonly speak, followeth, or together with it, as others more exactly, taketh place, that prescience of God which they call ‘visionis,’ ‘of vision,’ whereby he infallibly seeth all things in their proper causes, and how and when they shall some to pass” (= Dari daerah yang besar dan tak terbatas dari hal-hal yang mungkin terjadi ini, Allah dengan ketetapanNya secara bebas menentukan apa yang akan terjadi, dan membuat mereka yang tadinya ‘mungkin terjadi’ menjadi ‘akan datang’. Pada umumnya orang mengatakan bahwa setelah ketetapan ini, atau lebih tepat lagi, bersama-sama dengan ketetapan itu, terjadilah ‘pengetahuan yang lebih dulu’ dari Allah yang mereka sebut VISIONIS, ‘dari penglihatan’, dengan mana Ia, secara tidak mungkin salah, melihat segala sesuatu dalam penyebabnya yang tepat, dan bagaimana dan kapan mereka akan terjadi) – ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 23.

Herman Hoeksema: “For this same reason the Bible always emphasizes the fact that God ordained all things and knew them from before the foundation of the world” (= Untuk alasan yang sama Alkitab selalu menekankan fakta bahwa Allah menentukan segala sesuatu dan mengetahui mereka sejak sebelum dunia dijadikan) – ‘Reformed Dogmatics’, hal 157.

Herman Bavinck: “God’s decree is his eternal purpose whereby he has foreordained whatsoever comes to pass. Scripture everywhere affirms that whatsoever is and comes to pass is the realization of God’s thought and will, and has its origin and idea in God’s eternal counsel or decree, …” (= Ketetapan Allah adalah rencana kekalNya dengan mana Ia telah menentukan lebih dulu apapun yang akan terjadi. Kitab Suci dimana-mana menegaskan bahwa apapun yang ada dan yang akan terjadi merupakan realisasi dari pemikiran dan kehendak Allah, dan mempunyai asal mula dan gagasannya dalam rencana atau ketetapan kekal) – ‘The Doctrine of God’, hal 369.

John Murray: “It is true that all our choices and acts are foreordained, and only foreordained acts come to pass” (= Adalah benar bahwa semua pilihan dan tindakan kita ditentukan lebih dulu, dan hanya tindakan-tindakan yang ditentukan lebih dulu yang akan terjadi) – ‘Collected Writings of John Murray’, vol II, hal 64.

Gresham Machen: “How much is embraced in that eternal counsel of God? The true answer to that question is very simple. The true answer is ‘Everything’. Everything that happens is embraced in the eternal purpose of God; nothing at all happens outside of His eternal plan” (= Berapa banyak yang dicakup dalam rencana kekal Allah itu? Jawaban yang benar terhadap pertanyaan itu sangat sederhana. Jawaban yang benar adalah ‘segala sesuatu’. Segala sesuatu yang terjadi tercakup dalam rencana kekal Allah; sama sekali tidak ada apapun yang terjadi di luar rencana kekalNya) – ‘The Christian View of Man’, hal 35.

R. C. Sproul: “That God in some sense foreordains whatever comes to pass is a necessary result of his sovereignty. … everything that happens must at least happen by his permission. If he permits something, then he must decide to allow it. If He decides to allow something, then is a sense he is foreordaining it. … To say that God foreordains all that comes to pass is simply to say that God is sovereign over his entire creation. If something could come to pass apart from his sovereign permission, then that which came to pass would frustrate his sovereignty. If God refused to permit something to happen and it happened anyway, then whatever caused it to happen would have more authority and power than God himself. If there is any part of creation outside of God’s sovereignty, then God is simply not sovereign. If God is not sovereign, then God is not God. … Without sovereignty God cannot be God. If we reject divine sovereignty then we must embrace atheism” (= Bahwa Allah dalam arti tertentu menentukan apapun yang akan terjadi merupakan akibat yang harus ada dari kedaulatanNya. … segala sesuatu yang terjadi setidaknya harus terjadi karena ijinNya. Jika Ia mengijinkan sesuatu, maka Ia pasti memutuskan untuk mengijinkannya. Jika Ia memutuskan untuk mengijinkan sesuatu, maka dalam arti tertentu Ia menentukannya. … Mengatakan bahwa Allah menentukan segala sesuatu yang akan terjadi adalah sama dengan mengatakan bahwa Allah itu berdaulat atas segala ciptaanNya. Jika ada sesuatu yang bisa terjadi di luar ijinNya yang berdaulat, maka apa yang terjadi itu menghalangi kedaulatanNya. Jika Allah menolak untuk mengijinkan sesuatu dan hal itu tetap terjadi, maka apapun yang menyebabkan hal itu terjadi mempunyai otoritas dan kuasa yang lebih besar dari Allah sendiri. Jika ada bagian dari ciptaan berada di luar kedaulatan Allah, maka Allah itu tidak berdaulat. Jika Allah tidak berdaulat, maka Allah itu bukanlah Allah. … Tanpa kedaulatan Allah tidak bisa menjadi / adalah Allah. Jika kita menolak kedaulatan ilahi, maka kita harus mempercayai atheisme) – ‘Chosen By God’, hal 26-27.2)

Calvin / Reformed mengajarkan bahwa Allah menentukan dosa.

John Calvin: “… so that in a wonderful and ineffable manner nothing is done without God’s will, not even that which is against his will. For it would not be done if he did not permit it, yet he does not unwillingly permit it, but willingly; nor would he, being good, allow evil to be done, unless being also almighty he could make good even out of evil” (= … sehingga dalam cara yang indah dan tidak terkatakan tidak ada sesuatupun yang terjadi tanpa kehendak Allah, bahkan apa yang bertentangan dengan kehendakNya. Karena, itu tidak akan terjadi jika Ia tidak mengijinkannya, tetapi Ia tidak mengijinkannya dengan terpaksa, tetapi dengan sukarela; dan Ia, karena Ia adalah baik, tidak akan mengijinkan kejahatan terjadi, kecuali Ia, yang juga adalah mahakuasa, bisa membuat yang baik bahkan dari hal yang jahat) – ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVIII, no 3.

Catatan:

  • bagian ini dikutip oleh Calvin dari Agustinus.
  • dalam bagian yang saya garis-bawahi itu, kata ‘kehendak’ yang pertama menunjuk pada Rencana / penetapan Allah, sedangkan kata ‘kehendak’ yang kedua menunjuk pada perintah / larangan / hukum-hukum Allah (Firman Tuhan).

Yeh 5:8-10 – “(8) sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Lihat, Aku, ya Aku sendiri akan menjadi lawanmu dan Aku akan menjatuhkan hukuman kepadamu di hadapan bangsa-bangsa. (9) Oleh karena segala perbuatanmu yang keji akan Kuperbuat terhadapmu yang belum pernah Kuperbuat dan yang tidak pernah lagi akan Kuperbuat. (10) Sebab itu di tengah-tengahmu ayah-ayah akan memakan anak-anaknya dan anak-anak memakan ayahnya dan Aku akan menjatuhkan hukuman kepadamu, sedang semua yang masih tinggal lagi dari padamu akan Kuhamburkan ke semua penjuru angin”.

Calvin (tentang Yeh 5:9-10): “I know not why Jerome invented this difference, which is altogether futile. For he says, that when a thing is honourable and becoming it should be ascribed to God, but when the thing itself is base, God averts the infamy from himself. For when this wonder is treated of here, God does not say I will cause the people to eat their sons, but he says, fathers shall eat their sons, and sons their fathers. But there is nothing solid in this comment, because the cruelty which the Chaldeans exercised towards the Jews certainly was not either honourable or becoming, and yet God ascribes to himself whatever the Chaldeans did. Again, what was baser than the incest of Absalom, in debauching his father’s wives? and even that was not sufficient, but he wished the whole people, at the sound of a trumpet, to be witnesses of his crime; and yet what does God say? ‘I will do this before the sun,’ says he. (2Sam. 12:12, and 16:21,22.) We see, then, that this man was not familiar with the Scriptures, and yet that he offered his comments too hastily” [= Saya tidak tahu mengapa Jerome menemukan / menciptakan perbedaan ini, yang seluruhnya sia-sia. Karena ia mengatakan, bahwa pada waktu sesuatu itu terhormat dan selaras, itu harus dianggap berasal dari Allah, tetapi pada waktu sesuatu itu sendiri adalah jelek / hina, Allah memalingkan / menghindarkan keburukan itu dari diriNya sendiri. Karena pada waktu hal yang luar biasa ini dibahas di sini, Allah tidak mengatakan ‘Aku akan menyebabkan orang-orang memakan anak-anak mereka’, tetapi Ia mengatakan ‘Bapa-bapa akan memakan anak-anak mereka, dan anak-anak memakan bapa-bapa mereka’. Tetapi tidak ada yang kokoh dalam komentar ini, karena kekejaman yang dilakukan oleh orang-orang Kasdim terhadap orang-orang Yahudi pasti bukan merupakan sesuatu yang terhormat ataupun selaras, tetapi Allah menganggap apa yang dilakukan orang-orang Kasdim itu berasal dari diriNya sendiri. Juga, apa yang lebih buruk / hina dari incest yang dilakukan oleh Absalom, dalam merusakkan istri-istri ayahnya? dan bahkan hal itu belum cukup, tetapi ia ingin seluruh umat / bangsa, pada saat terompet dibunyikan, menjadi saksi-saksi dari kejahatannya, tetapi apa yang Allah katakan? ‘Aku akan melakukan ini di depan matahari / secara terang-terangan’, kataNya. (2Sam 12:12, dan 16:21,22). Jadi, kita melihat bahwa orang ini (Jerome) tidak akrab dengan Kitab Suci, tetapi ia memberikan komentarnya dengan terlalu tergesa-gesa] – hal 204.

Bdk. 2Sam 12:11-12 – “(11) Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan isteri-isterimu di siang hari. (12) Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan.’”.

Bdk. 2Sam 16:21-22 – “(21) Lalu jawab Ahitofel kepada Absalom: ‘Hampirilah gundik-gundik ayahmu yang ditinggalkannya untuk menunggui istana. Apabila seluruh Israel mendengar, bahwa engkau telah membuat dirimu dibenci oleh ayahmu, maka segala orang yang menyertai engkau, akan dikuatkan hatinya.’ (22) Maka dibentangkanlah kemah bagi Absalom di atas sotoh, lalu Absalom menghampiri gundik-gundik ayahnya di depan mata seluruh Israel”.

Yes 10:5-6 – “(5) Celakalah Asyur, yang menjadi cambuk murkaKu dan yang menjadi tongkat amarahKu! (6) Aku akan menyuruhnya terhadap bangsa yang murtad, dan Aku akan memerintahkannya melawan umat sasaran murkaKu, untuk melakukan perampasan dan penjarahan, dan untuk menginjak-injak mereka seperti lumpur di jalan”.

Calvin (tentang Yes 10:6): “‘I will command him to take the spoil and to take the prey.’ He says that he has given a loose rein to the fierceness of enemies, that they may indulge without control in every kind of violence and injustice. Now, this must not be understood as if the Assyrians had a command from God by which they could excuse themselves. There are two ways in which God commands; by his secret decree, of which men are not conscious; and by his law, in which he demands from us voluntary obedience. … It is of importance, I say, to make a judicious distinction between these two ways of commanding” (= ‘Aku akan memerintahkan dia untuk merampas dan memangsa’. Ia berkata bahwa Ia telah melonggarkan kekang pada kebuasan dari musuh-musuh, supaya mereka bisa memuaskan nafsu tanpa kontrol dalam setiap jenis kekerasan dan ketidak-adilan. Nah, ini tidak boleh dimengerti seakan-akan orang-orang Asyur mendapat perintah dari Allah dengan mana mereka bisa memberikan alasan yang memaafkan diri mereka sendiri. Ada dua cara dalam mana Allah memerintah; oleh ketetapan rahasiaNya, tentang mana manusia tidak menyadarinya; dan oleh hukumNya, dalam mana Ia menuntut dari kita ketaatan sukarela) – hal 341.

Louis Berkhof: “There are other things, however, which God included in His decree and thereby rendered certain, but which He did not decide to effectuate Himself, as the sinful acts of His rational creatures” (= Tetapi ada hal-hal lain, yang Allah masukkan dalam ketetapanNya dan dengan demikian dibuat jadi pasti, tetapi yang Ia putuskan bahwa bukan Ia sendiri yang melaksanakannya, seperti tindakan-tindakan berdosa dari makhluk-makhluk rasionilNya) – ‘Systematic Theology’, hal 103.

Charles Hodge: “The crucifixion of Christ was beyond doubt foreordained of God. It was, however, the greatest crime ever committed. It is therefore beyond all doubt the doctrine of the Bible that sin is foreordained” (= Penyaliban Kristus tidak diragukan lagi ditentukan lebih dulu oleh Allah. Tetapi itu adalah tindakan kriminal terbesar yang pernah dilakukan. Karena itu tidak perlu diragukan lagi bahwa dosa ditentukan lebih dulu merupakan doktrin / ajaran dari Alkitab) – ‘Systematic Theology’, vol I, hal 544.

William G. T. Shedd: “Whatever undecreed must be by hap-hazard and accident. If sin does not occur by the Divine purpose and permission, it occurs by chance. And if sin occurs by chance, the deity, as in the ancient pagan theologies, is limited and hampered by it. He is not ‘God over all’. Dualism is introduced into the theory of the universe. Evil is an independent and uncontrollable principle. God governs only in part. Sin with all its effects is beyond his sway. This dualism God condemns as error, in his words to Cyrus by Isaiah, ‘I make peace and create evil’; and in the words of Proverbs 16:4, ‘The Lord hath made all things for himself; yea, even the wicked for the day of evil’” (= Apapun yang tidak ditetapkan pasti ada karena kebetulan. Jika dosa tidak terjadi karena rencana dan ijin ilahi, maka itu terjadi karena kebetulan. Dan jika dosa terjadi karena kebetulan, keilahian, seperti dalam teologi kafir kuno, dibatasi dan dirintangi olehnya. Ia bukanlah ‘Allah atas segala sesuatu’. Dualisme dimasukkan ke dalam teori alam semesta. Kejahatan merupakan suatu elemen hakiki yang tak tergantung dan tak terkontrol. Allah memerintah hanya sebagian. Dosa dengan semua akibatnya ada di luar kekuasaanNya. Dualisme seperti ini dikecam Allah sebagai salah, dalam kata-kata Yesaya kepada Koresy, ‘Aku membuat damai dan menciptakan malapetaka / kejahatan’; dan dalam kata-kata dari Amsal 16:4, ‘Tuhan telah membuat segala sesuatu untuk diriNya sendiri; ya, bahkan orang jahat untuk hari malapetaka’) – ‘Calvinism: Pure & Mixed’, hal 36.

Catatan: kata-kata Yesaya kepada Koresy itu diambil dari Yes 45:7 versi KJV. Demikian juga Amsal 16:4 diambil dan diterjemahkan dari KJV.

William G. T. Shedd: “Nothing comes to pass contrary to his decree. Nothing happens by chance. Even moral evil, which he abhors and forbids, occurs by ‘the determinate counsel and foreknowledge of God’” (= Tidak ada yang terjadi bertentangan dengan ketetapanNya. Tidak ada yang terjadi karena kebetulan. Bahkan kejahatan moral, yang Ia benci dan larang, terjadi oleh ‘rencana yang ditentukan dan pengetahuan lebih dulu dari Allah’) – ‘Calvinism: Pure & Mixed’, hal 37.

B. B. Warfield: “neither is God’s relation to the sinful acts of His creatures ever represented as purely passive … it remains true that even the evil acts of the creature are so far carried back to God that they too are affirmed to be included in His all-embracing decree, and to be brought about, bounded and utilized in His providential government” [= hubungan Allah dengan tindakan-tindakan berdosa dari makhluk-makhlukNya tidak pernah digambarkan sebagai pasif secara murni … adalah benar bahwa bahkan tindakan-tindakan jahat dari makhluk ciptaan dibawa kembali kepada Allah sedemikian rupa sehingga mereka juga disahkan untuk termasuk dalam ketetapanNya yang mencakup segala sesuatu, dan ditimbulkan / diadakan, dibatasi dan digunakan dalam pemerintahan providensiaNya] – ‘Biblical and Theological Studies’, hal 284.

Loraine Boettner: “His choice of the plan, or His making certain that the creation should be on this order, we call His foreordination or His predestina­tion. Even the sinful acts of men are included in this plan. They are foreseen, permitted, and have their exact place. They are controlled and overruled for the divine glory” (= Pemilihan rencanaNya, atau penetapanNya supaya penciptaan terjadi sesuai urut-urutan ini, kami sebut penentuan lebih dulu atau predestinasi dari Allah. Bahkan tindakan-tindakan berdosa dari manusia tercakup dalam rencana ini. Mereka itu dilihat lebih dulu, diijinkan, dan mempunyai tempat mereka yang persis / tepat. Mereka dikontrol dan dikuasai untuk kemuliaan ilahi) – ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 24.

Loraine Boettner: “The crucifixion, which is beyond doubt the most sinful event in history of the world, is even declared to have been fore-ordained” (= Penyaliban, yang tidak diragukan lagi merupakan peristiwa yang paling berdosa dalam sejarah dunia, bahkan dinyatakan telah ditentukan lebih dulu) – ‘Studies in Theology’, hal 174.

Loraine Boettner lalu mengutip ayat-ayat ini:

·         Kis 4:27-28 – “(27) Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, HambaMu yang kudus, yang Engkau urapi, (28) untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu”.

·         Kis 2:23 – “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka”.

·         Kis 3:18 – “Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankanNya dahulu dengan perantaraan nabi-nabiNya, yaitu bahwa Mesias yang diutusNya harus menderita”.

·         Kis 13:27-29 – “(27) Sebab penduduk Yerusalem dan pemimpin-pemimpinnya tidak mengakui Yesus. Dengan menjatuhkan hukuman mati atas Dia, mereka menggenapi perkataan nabi-nabi yang dibacakan setiap hari Sabat. (28) Dan meskipun mereka tidak menemukan sesuatu yang dapat menjadi alasan untuk hukuman mati itu, namun mereka telah meminta kepada Pilatus supaya Ia dibunuh. (29) Dan setelah mereka menggenapi segala sesuatu yang ada tertulis tentang Dia, mereka menurunkan Dia dari kayu salib, lalu membaringkanNya di dalam kubur”.

Herman Bavinck: “All events are included in that counsel, even the sinful deeds of man” (= Semua kejadian / peristiwa termasuk / tercakup dalam rencana itu, bahkan juga tindakan-tindakan berdosa dari manusia) – ‘The Doctrine of God’, hal 342.

John Murray: “The fall was foreordained by God and its certainty was therefore guaranteed. … The first sin, like all other sins, was committed within the realm of God’s all-sustaining, directing and governing power. Outside the sphere of his foreordination and providence the fall could not have occurred. The arch-crime of history – the crucifixion of our Lord – was perpetrated in accordance with the determinate counsel and foreknowledge of God (Acts 2:23). So, too, was the fall” [= Kejatuhan (Adam) ditentukan lebih dulu oleh Allah dan karena itu kepastiannya dijamin. … Dosa pertama, seperti semua dosa yang lain, dilakukan dalam batas-batas kuasa Allah yang menopang segala sesuatu, mengarahkan dan memerintah. Di luar ruang lingkup penentuan lebih dulu dan providensiaNya kejatuhan itu tidak akan bisa terjadi. Kejahatan terbesar dalam sejarah – penyaliban Tuhan kita – dilakukan sesuai dengan rencana yang sudah ditentukan dan pengetahuan lebih dulu dari Allah (Kis 2:23). Demikian juga dengan kejatuhan (Adam) ke dalam dosa] – ‘Collected Writings of John Murray’, vol II, hal 72-73.

Edwin H. Palmer: “It is even Biblical to say that God has foreordained sin. If sin was outside the plan of God, then not a single important affair of life would be ruled by God. For what action of man is perfectly good? All of history would then be outside of God’s foreordination: the fall of Adam, the crucifixion of Christ, the conquest of the Roman Empire, the battle of Hastings, the Reformation, the French Revolution, Waterloo, the American Revolution, the Civil War, two World Wars, presidential assassinations, racial violence, and the rise and fall of nations” (= Bahkan adalah sesuatu yang Alkitabiah untuk mengatakan bahwa Allah telah menentukan dosa lebih dulu. Jika dosa ada di luar rencana Allah, maka tidak ada satupun peristiwa kehidupan yang penting yang diperintah / dikuasai / diatur oleh Allah. Karena tindakan apa dari manusia yang baik secara sempurna? Seluruh sejarah juga akan ada di luar penentuan lebih dulu dari Allah: kejatuhan Adam, penyaliban Kristus, penaklukan kekaisaran Romawi, pertempuran Hastings, Reformasi, Revolusi Perancis, Waterloo, Revolusi Amerika, Perang saudara Amerika, kedua perang dunia, pembunuhan presiden, kejahatan / kekejaman rasial, dan bangkitnya dan jatuhnya bangsa-bangsa) – ‘The Five Points of Calvinism’, hal 82.

Edwin H. Palmer: “If sin were outside of God’s decree, then very little would be included in this decree. All the great empires would have been outside of God’s eternal, determinative decrees, for they were built on greed, hate, and selfishness, not for the glory of the Triune God. Certainly the following rulers, who influenced world history and countless numbers of lives, did not carry out the expansion of their empires for the glory of God: Pharaoh, Nebuchadnezzar, Cyrus, Alexander the Great, Ghenghis Khan, Caesar, Nero, Charles V, Henry VIII, Napoleon, Bismarck, Hitler, Stalin, Hirohito. If sin were beyond the foreordination of God, then not only were these vast empires and their events outside God’s plan, but also all the little daily events of every non Christians are outside of God’s power. For whatever is not done to the glory of the Christian God and out of faith in Jesus Christ is sin. … The acts of the Christian are not perfect – even after he is born again and Christ is living in him. Sin still clings to him; he is not perfect until he is in heaven. For example, he does not love God with all of his heart, mind, and soul, nor does he truly love his neighbor as himself. Even his most admirable deeds are colored by sin. … if sin is outside the decree of God, then the vast percentage of human actions – both the trivial and the significant – are removed from God’s plan. God’s power is reduced to the forces of nature, such as spinning of the galaxies and the laws of gravity and entropy. Most of history is outside His control” [= Seandainya dosa ada di luar ketetapan Allah, maka sangat sedikit yang termasuk dalam ketetapan ini. Semua kekaisaran yang besar akan ada di luar ketetapan Allah yang kekal dan bersifat menentukan, karena mereka dibangun pada keserakahan, kebencian, dan keegoisan, bukan untuk kemuliaan Allah Tritunggal. Pasti pemerintah-pemerintah di bawah ini, yang mempengaruhi sejarah dunia dan tak terhitung banyaknya jiwa, tidak melakukan perluasan kekaisaran mereka untuk kemuliaan Allah: Firaun, Nebukadnezar, Koresy, Alexander yang Agung, Jengggis Khan, (Yulius) Caesar, Nero, Charles V, Henry VIII, Napoleon, Bismarck, Hitler, Stalin, Hirohito. Seandainya dosa ada di luar penentuan lebih dulu dari Allah, maka bukan saja kekaisaran-kekaisaran yang luas ini dan semua peristiwa yang berhubungan dengan mereka ada di luar rencana Allah, tetapi juga semua peristiwa sehari-hari yang remeh dari setiap orang non Kristen ada di luar kuasa Allah. Karena apapun yang tidak dilakukan bagi kemuliaan Allah orang Kristen dan di luar iman dalam Yesus Kristus adalah dosa. … Tindakan-tindakan dari orang Kristenpun tidak sempurna – bahkan setelah ia dilahirkan kembali dan Kristus hidup dalam dia. Dosa tetap melekat padanya; ia tidak sempurna sampai ia ada di surga. Misalnya, ia tidak mengasihi Allah dengan segenap hati, pikiran, dan jiwanya, juga ia tidak sungguh-sungguh mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri. Bahkan tindakan-tindakannya yang paling mengagumkan / terpuji diwarnai oleh dosa. … jika dosa ada di luar ketetapan Allah, maka sebagian besar dari tindakan-tindakan manusia – baik yang remeh maupun yang penting – dikeluarkan dari rencana Allah. Kuasa Allah direndahkan sampai pada kekuatan-kekuatan alam, seperti menggerakkan galaxy dan hukum-hukum gravitasi dan entropi. Bagian terbesar dari sejarah ada di luar kontrolNya] – ‘The Five Points of Calvinism’, hal 97,98.

Dalam pelaksanaan dari penetapan dosa itu, Calvin / Reformed percaya bahwa Allah menggunakan second causes (= penyebab-penyebab kedua), antara lain setan.

Contoh komentar Calvin:

a)   Tentang Firaun yang dikeraskan hatinya oleh Allah, Calvin berkata: “Did he harden it by not softening it? This is indeed true, but he did something more. He turned Pharaoh over to Satan to be confirmed in the obstinacy of his breast” (= Apakah Ia mengeraskannya dengan tidak melunakkannya? Ini memang benar, tetapi Ia melakukan sesuatu yang lebih dari itu. Ia menyerahkan Firaun kepada Setan untuk diteguhkan dalam kekerasan hatinya) – ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter IV, No 4.

b)   Kej 50:20 – “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar”.

Calvin (tentang Kej 50:20): “This truly must be generally agreed, that nothing is done without his will; because he both governs the counsels of men, and sways their wills and turns their efforts at his pleasure, and regulates all events: but if men undertake anything right and just, he so actuates and moves them inwardly by his Spirit, that whatever is good in them, may justly be said to be received from him: but if Satan and ungodly men rage, he acts by their hands in such an inexpressible manner, that the wickedness of the deed belong to them, and the blame of it is imputed to them. For they are not induced to sin, as the faithful are to act aright, by the impulse of the Spirit, but they are the authors of their own evil, and follow Satan as their leader” (= Ini harus disetujui secara umum, bahwa tidak ada apapun dilakukan tanpa kehendakNya; karena Ia memerintah rencana manusia, dan mengubah kehendak mereka dan membelokkan usaha mereka sesuai dengan kesenanganNya, dan mengatur semua peristiwa / kejadian: tetapi jika manusia melakukan apapun yang baik dan benar, Ia menjalankan dan menggerakkan mereka dari dalam oleh RohNya, sehingga apapun yang baik dalam mereka, bisa dengan benar dikatakan diterima dari Dia: tetapi jika Setan dan orang-orang jahat marah, Ia bertindak oleh tangan mereka dalam suatu cara yang tak terkatakan, sehingga kejahatan dari tindakan itu hanya menjadi milik mereka, dan kesalahan dari tindakan itu diperhitungkan kepada mereka. Karena mereka tidak dibujuk kepada dosa, seperti orang yang setia pada waktu melakukan hal yang benar, oleh dorongan Roh, tetapi mereka adalah pencipta dari kejahatan mereka sendiri, dan mengikuti Setan sebagai pemimpin mereka) – hal 488.

Jadi, ada perbedaan cara Allah bekerja dalam pelaksanaan penetapan sesuatu yang baik (aktif) dengan pelaksanaan penetapan sesuatu yang bersifat dosa (pasif, menggunakan second causes / penyebab-penyebab kedua). Allah bukan pencipta dosa, dan dosa tetap menjadi tanggung jawab pelakunya.

Louis Berkhof: “In the case of some things God decided, not merely that they would come to pass, but that He himself would bring them to pass, either immediately, as in the work of creation, or through the mediation of secondary causes, which are continually energized by His power. He himself assumes the responsibility for their coming to pass. There are other things, however, which God included in His decree and thereby rendered certain, but which He did not decide to effectuate Himself, as the sinful acts of His rational creatures” (= Dalam kasus dari sebagian hal, Allah memutuskan, bukan hanya bahwa mereka akan terjadi, tetapi bahwa Ia sendiri akan menyebabkan mereka terjadi, baik secara langsung, seperti dalam pekerjaan penciptaan, atau melalui perantaraan dari ‘penyebab kedua’, yang secara terus menerus diberi kekuatan / diaktifkan oleh kuasaNya. Ia sendiri bertanggung jawab untuk bisa terjadinya hal-hal itu. Tetapi ada hal-hal lain, yang Allah masukkan dalam ketetapanNya dan dengan demikian dibuat jadi pasti, tetapi yang Ia putuskan bahwa bukan Ia sendiri yang melaksanakannya, seperti tindakan-tindakan berdosa dari makhluk-makhluk rasionilNya) – ‘Systematic Theology’, hal 103.3)

Calvin / Reformed menentang ajaran yang mengatakan bahwa Allah semata-mata mengijinkan dosa, tetapi tidak menentukannya.Memang baik Calvin maupun para tokoh Reformed sering menggunakan istilah ‘Allah mengijinkan dosa’, tetapi mereka tidak pernah memaksudkan bahwa istilah itu berarti bahwa Allah hanya sekedar mengijinkan, tidak menentukan maupun mengatur terjadinya dosa tersebut, tetapi hanya menjadi penonton pada waktu dosa tersebut terjadi.

1Raja 22:19-23 – “(19) Kata Mikha: ‘Sebab itu dengarkanlah firman TUHAN. Aku telah melihat TUHAN sedang duduk di atas takhtaNya dan segenap tentara sorga berdiri di dekatNya, di sebelah kananNya dan di sebelah kiriNya. (20) Dan TUHAN berfirman: Siapakah yang akan membujuk Ahab untuk maju berperang, supaya ia tewas di Ramot-Gilead? Maka yang seorang berkata begini, yang lain berkata begitu. (21) Kemudian tampillah suatu roh, lalu berdiri di hadapan TUHAN. Ia berkata: Aku ini akan membujuknya. TUHAN bertanya kepadanya: Dengan apa? (22) Jawabnya: Aku akan keluar dan menjadi roh dusta dalam mulut semua nabinya. Ia berfirman: Biarlah engkau membujuknya, dan engkau akan berhasil pula. Keluarlah dan perbuatlah demikian! (23) Karena itu, sesungguhnya TUHAN telah menaruh roh dusta ke dalam mulut semua nabimu ini, sebab TUHAN telah menetapkan untuk menimpakan malapetaka kepadamu.’”.

John Calvin: “God wills that the false king Ahab be deceived; the devil offers his services to this end; he is sent, with a definite command, to be a lying spirit in the mouth of all the prophets (1Kings 22:20,22). If the blinding and insanity of Ahab be God’s judgment, the figment of bare permission vanishes: because it would be ridiculous for the Judge only to permit what he wills to be done, and not also to decree it and to command its execution by his ministers” [= Allah menghendaki bahwa raja Ahab yang tidak benar ditipu; setan menawarkan pelayanannya untuk tujuan ini; ia dikirim, dengan perintah yang pasti, untuk menjadi roh dusta dalam mulut semua nabi (1Raja 22:20,22). Jika pembutaan dan kegilaan Ahab adalah penghakiman Allah, isapan jempol tentang ‘sekedar ijin’ hilang: karena adalah menggelikan bagi sang Hakim untuk hanya mengijinkan apa yang Ia kehendaki untuk dilakukan, dan tidak juga menetapkannya dan memerintahkan pelaksanaannya oleh pelayan-pelayanNya] – ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVIII, no 1.

John Calvin: “Those who are moderately versed in the Scriptures see that for the sake of brevity I have put forward only a few of many testimonies. Yet from these it is more than evident that they babble and talk absurdly who, in place of God’s providence, substitute bare permission – as if God sat in a watchtower awaiting chance events, and his judgments thus depended upon human will” (= Mereka yang betul-betul mengetahui Kitab Suci melihat bahwa untuk singkatnya saya hanya memberikan sedikit dari banyak kesaksian. Tetapi dari kesaksian-kesaksian ini adalah lebih dari jelas bahwa mereka mengoceh dan berbicara secara menggelikan yang, menggantikan providensia Allah dengan ‘sekedar ijin’ – seakan-akan Allah duduk di menara pengawal menunggu kejadian-kejadian yang terjadi secara kebetulan, dan dengan demikian penghakimanNya tergantung pada kehendak manusia) – ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVIII, no 1.

Kej 45:8 – “Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir”.
Calvin (tentang Kej 45:8): “Good men, who fear to expose the justice of God to the calumnies of the impious, resort to this distinction, that God wills some things, but permits others to be done. As if, truly, any degree of liberty of action, were he to cease from governing, would be left to men. If he had only permitted Joseph to be carried into Egypt, he had not ordained him to be the minister of deliverance to his father Jacob and his sons; which he is now expressly declared to have done. Away, then, with that vain figment, that, by the permission of God only, and not by his counsel or will, those evils are committed which he afterwards turns to a good account” (= Orang-orang saleh, yang takut membuka keadilan Allah terhadap fitnahan dari orang-orang jahat, memutuskan untuk mengadakan pembedaan ini, yaitu bahwa Allah menghendaki beberapa hal, tetapi mengijinkan hal-hal yang lain untuk dilakukan. Seakan-akan Ia berhenti dari tindakan memerintah, dan memberikan kebebasan bertindak tertentu kepada manusia. Jika Ia hanya mengijinkan Yusuf untuk dibawa ke Mesir, Ia tidak menetapkannya untuk menjadi pembebas bagi ayahnya Yakub dan anak-anaknya; yang dinyatakan secara jelas telah dilakukanNya. Maka singkirkanlah isapan jempol yang sia-sia yang mengatakan bahwa hanya karena ijin Allah, dan bukan karena rencana atau kehendakNya, hal-hal yang jahat itu dilakukan, yang setelah itu Ia balikkan menjadi sesuatu yang baik) – hal 378.

Kel 4:21 – “Firman TUHAN kepada Musa: ‘Pada waktu engkau hendak kembali ini ke Mesir, ingatlah, supaya segala mujizat yang telah Kuserahkan ke dalam tanganmu, kauperbuat di depan Firaun. Tetapi Aku akan mengeraskan hatinya, sehingga ia tidak membiarkan bangsa itu pergi”.

Calvin (tentang Kel 4:21): “He declares that the king of Egypt would not be thus obstinate contrary to His will; … but rather that He would harden his heart … Since the expression seems harsh to delicate ears, many soften it away by turning the act into mere permission; as is there were no difference between doing and permitting to be done; or as if God would commend his passivity, and not rather his power. As to myself, I am certainly not ashamed of speaking as the Holy Spirit speaks, nor do I hesitate to believe what so often occurs in Scripture, that God gives the wicked over to a reprobate minds and hardens their hearts. … But those who substitute his permission in the place of his act, not only deprive him of his authority as a judge, but in their repining, subject him to a weighty reproach, since they grant him no more of justice than their senses can understand” (= Ia menyatakan bahwa raja Mesir menjadi tegar tengkuk seperti itu bukan bertentangan dengan kehendakNya; … Karena ungkapan itu kelihatannya keras bagi telinga-telinga yang lembut, banyak orang yang melunakkan ungkapan itu dengan mengubah ‘tindakan itu’ menjadi sekedar / semata-mata ‘suatu ijin’; seakan-akan tidak ada perbedaan antara ‘melakukan’ dan ‘mengijinkan terjadi’; atau seakan-akan Allah menghargai kepasifannya, dan bukannya kuasaNya. Untuk saya sendiri, saya jelas tidak malu untuk berbicara sebagaimana Roh Kudus berbicara, juga saya tidak ragu-ragu untuk mempercayai apa yang begitu sering muncul dalam Kitab Suci, bahwa Allah menyerahkan orang jahat pada pikiran yang jahat dan mengeraskan hati mereka. … Tetapi mereka yang menggantikan ijinNya di tempat dari tindakanNya, bukan hanya mencabut / menghilangkan otoritasNya sebagai Hakim, tetapi dalam ketidak-puasan mereka, menjadikan Dia sasaran celaan yang berat, karena mereka memberiNya keadilan tidak lebih dari yang bisa dimengerti oleh pikiran mereka) – hal 101.

Louis Berkhof: “It is customary to speak of the decree of God respecting moral evil as permissive. … It should be carefully noted, however, that this permissive decree does not imply a passive permission of something which is not under the control of the divine will. It is a decree which renders the future sinful acts absolutely certain, but in which God determines (a)not to hinder the sinful self-determination of the finite will; and (b)to regulate and control the result of this sinful self-determination” [= Merupakan kebiasaan untuk berbicara tentang ketetapan Allah berkenaan dengan kejahatan moral sebagai bersifat mengijinkan. … Tetapi harus diperhatikan baik-baik bahwa ketetapan yang bersifat mengijinkan tidak berarti suatu ijin pasif dari sesuatu yang tidak ada di bawah kontrol dari kehendak ilahi. Itu merupakan suatu ketetapan yang membuat tindakan berdosa yang akan datang itu pasti secara mutlak, tetapi dalam mana Allah menentukan (a) tidak menghalangi keputusan yang berdosa yang dilakukan sendiri oleh kehendak terbatas / kehendak manusia; dan (b) mengatur dan mengontrol akibat / hasil dari keputusan berdosa ini] – ‘Systematic Theology’, hal 105.

R. L. Dabney: “By calling it permissive, we do not mean that their futurition is not certain to God; or that He has not made it certain; we mean that they are such acts as He efficiently brings about by simply leaving the spontaneity of other free agents, as upheld by His providence, to work of itself, under incitements, occasions, bounds and limitations, which His wisdom and power throw around. To this class may be attributed all the acts of rational free agents, except such are evoked by God’s own grace, and especially, all their sinful acts” (= Dengan menyebutnya ‘mengijinkan’, kita tidak memaksudkan bahwa terjadinya hal-hal itu tidak pasti bagi Allah; atau bahwa Ia belum membuatnya pasti; kita memaksudkan bahwa mereka merupakan tindakan-tindakan yang Ia adakan / timbulkan secara efisien dengan hanya membiarkan spontanitas dari agen-agen bebas lainnya, seperti disokong oleh providensiaNya, bekerja dari dirinya sendiri, di bawah dorongan, kesempatan, ikatan dan pembatasan, yang disebarkan oleh hikmat dan kuasaNya. Yang termasuk dalam golongan ini adalah semua tindakan dari agen bebas berakal, kecuali tindakan yang ditimbulkan oleh kasih karunia Allah sendiri, dan khususnya semua tindakan berdosa mereka) – ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 214.

Charles Hodge: “Whatever occurs, He for wise reasons permits to occur. He can prevent whatever He sees fit to prevent. If, therefore, sin occurs, it was God’s design that it should occur. If misery follows in the train of sin, such was God’s purpose” (= Apapun yang terjadi, Ia mengijinkan hal itu terjadi karena alasan yang bijaksana. Ia bisa mencegah apapun yang Ia anggap layak untuk dicegah. Karena itu, jika dosa terjadi, adalah rencana Allah bahwa itu terjadi. Jika kesengsaraan menyusul dalam rentetan dosa, maka demikianlah rencana Allah) – ‘Systematic Theology’, vol II, hal 332.

William G. T. Shedd: “When God executes his decree that Saul of Tarsus shall be ‘a vessel of mercy’, he works efficiently within him by his Holy Spirit ‘to will and to do’. When God executes his decree that Judas Iscariot shall be ‘a vessel of wrath fitted for destruction’, he does not work efficiently within him ‘to will and to do’, but permissively in the way of allowing him to have his own wicked will. He decides not to restrain him or to regenerate him, but to leave him to his own obstinate and rebellious inclination and purpose; and accordingly ‘the Son of man goeth, as it was determined, but woe unto that man by whom he is betrayed’ (Luke 22:22; Acts 2:23). The two Divine methods in the two cases are plainly different, but the perdition of Judas was as much foreordained and free from chance, as the conversion of Saul” [= Pada waktu Allah melaksanakan ketetapanNya bahwa Saulus dari Tarsus akan menjadi ‘bejana / benda belas kasihan’, Ia bekerja secara efisien di dalamnya dengan Roh KudusNya ‘untuk mau / menghendaki dan untuk melakukan’. Pada waktu Allah melaksanakan ketetapanNya bahwa Yudas Iskariot akan menjadi ‘bejana kemurkaan yang cocok untuk kehancuran / benda kemurkaan yang telah dipersiapkan untuk kebinasaan’, Ia tidak bekerja secara efisien dalam dirinya ‘untuk mau / menghendaki dan untuk melakukan’, tetapi dengan cara mengijinkan dia mempunyai kehendak jahatnya sendiri. Ia memutuskan untuk tidak mengekang dia atau melahirbarukan dia, tetapi membiarkan dia pada kecondongan dan rencananya sendiri yang keras kepala dan bersifat memberontak; dan sesuai dengan itu dikatakan ‘Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan’ (Luk 22:22; Kis 2:23). Kedua metode ilahi dalam kedua kasus ini jelas berbeda, tetapi kebinasaan Yudas sudah ditentukan lebih dahulu dan bebas dari kebetulan, sama seperti pertobatan Saulus] – ‘Calvinism: Pure & Mixed’, hal 31.

R. C. Sproul: “That God in some sense foreordains whatever comes to pass is a necessary result of his sovereignty. … everything that happens must at least happen by his permission. If he permits something, then he must decide to allow it. If He decides to allow something, then is a sense he is foreordaining it. … To say that God foreordains all that comes to pass is simply to say that God is sovereign over his entire creation. If something could come to pass apart from his sovereign permission, then that which came to pass would frustrate his sovereignty. If God refused to permit something to happen and it happened anyway, then whatever caused it to happen would have more authority and power than God himself. If there is any part of creation outside of God’s sovereignty, then God is simply not sovereign. If God is not sovereign, then God is not God. … Without sovereignty God cannot be God. If we reject divine sovereignty then we must embrace atheism” (= Bahwa Allah dalam arti tertentu menentukan apapun yang akan terjadi merupakan akibat yang harus ada dari kedaulatanNya. … segala sesuatu yang terjadi setidaknya harus terjadi karena ijinNya. Jika Ia mengijinkan sesuatu, maka Ia pasti memutuskan untuk mengijinkannya. Jika Ia memutuskan untuk mengijinkan sesuatu, maka dalam arti tertentu Ia menentukannya. … Mengatakan bahwa Allah menentukan segala sesuatu yang akan terjadi adalah sama dengan mengatakan bahwa Allah itu berdaulat atas segala ciptaanNya. Jika ada sesuatu yang bisa terjadi di luar ijinNya yang berdaulat, maka apa yang terjadi itu menghalangi kedaulatanNya. Jika Allah menolak untuk mengijinkan sesuatu dan hal itu tetap terjadi, maka apapun yang menyebabkan hal itu terjadi mempunyai otoritas dan kuasa yang lebih besar dari Allah sendiri. Jika ada bagian dari ciptaan berada di luar kedaulatan Allah, maka Allah itu tidak berdaulat. Jika Allah tidak berdaulat, maka Allah itu bukanlah Allah. … Tanpa kedaulatan Allah tidak bisa menjadi / adalah Allah. Jika kita menolak kedaulatan ilahi, maka kita harus mempercayai atheisme) – ‘Chosen By God’, hal 26-27.

Banyak orang senang menggunakan istilah ‘Allah mengijinkan’ ini untuk melindungi kesucian Allah. Mereka berpikir bahwa kalau Allah menentukan dosa maka Allah sendiri berdosa / tidak suci. Tetapi kalau Allah hanya mengijinkan terjadinya dosa, maka Allah tidak bersalah dan tetap suci. Tetapi ini salah, karena kalau ‘penentuan Allah tentang terjadinya dosa’ dianggap sebagai dosa, maka ‘pemberian ijin dari Allah sehingga dosa terjadi’ juga harus dianggap sebagai dosa, yaitu dosa pasif. Sama halnya kalau saya membunuh orang, maka itu adalah dosa (dosa aktif). Tetapi kalau saya membiarkan / mengijinkan seseorang bunuh diri, padahal saya bisa mencegahnya, maka saya juga berdosa (dosa pasif) – bdk. Yak 4:17 – “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa”.

Herman Hoeksema: “Nor must we, in regard to the sinful deeds of men and devils, speak only of God’s permission in distinction from His determination. Holy Scripture speaks a far more positive language. We realize, of course, that the motive for speaking God’s permission rather than of His predetermined will in regard to sin and the evil deeds of men is that God may never be presented as the author of sin. But this purpose is not reached by speaking of God’s permission or His permissive will: for if the Almighty permits what He could just as well have prevented, it is from an ethical viewpoint the same as if He had committed it Himself. But in this way we lose God and His sovereignty: for permis­sion presupposes the idea that there is a power without God that can produce and do something apart from Him, but which is simply permitted by God to act and operate. This is dualism, and it annihilates the complete and absolute sovereignty of God. And therefore we must main­tain that also sin and all the wicked deeds of men and angels have a place in the counsel of God, in the counsel of His will. Thus it is taught by the Word of God. For it is certainly according to the deter­minate counsel of God that Christ is nailed to the cross, and that Pilate and Herod, with the Gentiles and Israel, are gathered together against the holy child Jesus. It is therefore much better to say that the Lord also in His counsel hates sin and determined that that which He hates should come to pass in order to reveal His hatred and to serve the cause of God’s covenant” (= Juga kita tidak boleh, berkenaan dengan tindakan-tindakan berdosa dari manusia dan setan, berbicara hanya tentang ijin Allah dan membedakannya dengan penentuan / penetapanNya. Kitab Suci berbicara dengan suatu bahasa yang jauh lebih positif. Tentu saja kita menyadari bahwa motivasi untuk menggunakan istilah ‘ijin Allah’ dari pada ‘kehendakNya yang sudah ditetapkan lebih dulu’ berkenaan dengan dosa dan tindakan-tindakan jahat dari manusia adalah supaya Allah tidak pernah dinyatakan sebagai pencipta dosa. Tetapi tujuan ini tidak tercapai dengan menggunakan ‘ijin Allah’ atau ‘kehendak yang mengijinkan dari Allah’: karena jika Yang Maha Kuasa mengijinkan apa yang bisa Ia cegah, dari sudut pandang etika itu adalah sama seperti jika Ia melakukan hal itu sendiri. Tetapi dengan cara ini kita kehilangan Allah dan kedaulatanNya: karena ijin mensyaratkan suatu gagasan bahwa ada suatu kekuatan di luar Allah yang bisa menghasilkan dan melakukan sesuatu terpisah dari Dia, tetapi yang diijinkan oleh Allah untuk bertindak dan beroperasi. Ini merupakan dualisme, dan ini menghapuskan kedaulatan Allah yang lengkap dan mutlak. Dan karena itu kita harus mempertahankan bahwa juga dosa dan semua tindakan-tindakan jahat dari manusia dan malaikat mempunyai tempat dalam rencana Allah, dalam keputusan kehendakNya. Demikianlah diajarkan oleh Firman Allah. Karena adalah pasti bahwa sesuai dengan rencana yang sudah ditentukan dari Allah bahwa Kristus dipakukan di kayu salib, dan bahwa Pilatus dan Herodes, dengan orang-orang non Yahudi dan Israel, berkumpul bersama-sama menentang Yesus, Anak yang kudus. Karena itu lebih baik berkata bahwa Tuhan juga dalam rencanaNya membenci dosa dan menentukan hal itu supaya apa yang Ia benci itu terjadi sehingga Ia bisa menyatakan kebencianNya atas hal itu dan untuk melayani penyebab dari perjanjian Allah) – ‘Reformed Dogmatics’, hal 158.

4)  Calvin / Reformed mengajarkan bahwa:a)  Adanya penentuan Allah tidak menyebabkan manusia menjadi seperti robot (kehilangan kebebasan).

Calvin (tentang Yes 10:15): “If God controls the purposes of men, and turns their thoughts and exertions to whatever purpose he pleases, men do not therefore cease to form plans and to engage in this or the other undertaking. We must not suppose that there is a violent compulsion, as if God dragged them against their will; but in a wonderful and inconceivable manner he regulates all the movements of men, so that they still have the exercise of their will” (= Jika Allah mengontrol tujuan / rencana manusia, dan membelokkan pikiran dan tindakan mereka pada tujuan / rencana apapun yang berkenan padaNya, itu bukan alasan bagi manusia untuk berhenti membentuk rencana dan ikut serta dalam usaha ini atau yang lain. Kita tidak boleh menganggap bahwa disana ada suatu pemaksaan yang hebat, seakan-akan Allah menyeret mereka bertentangan dengan kehendak mereka; tetapi dengan suatu cara yang indah dan tak bisa dimengerti Ia mengatur semua gerakan manusia, sehingga mereka tetap menggunakan kehendak mereka) – hal 352.

Loraine Boettner: “But while the Bible repeatedly teaches that this providential control is universal, powerful, wise, and holy, it nowhere attempts to inform us how it is to be reconciled with man’s free agency. All that we need to know is that God does govern His creatures and that His control over them is such that no violence is done to their natures. Perhaps the relationship between divine sovereignty and human freedom can best be summed up in these words: God so presents the outside inducements that man acts in accordance with his own nature, yet does exactly what God has planned for him to do” (= Tetapi sementara Alkitab berulangkali mengajar bahwa penguasaan providensia ini bersifat universal, berkuasa, bijaksana, dan suci, Alkitab tidak pernah berusaha untuk memberi informasi kepada kita tentang bagaimana hal itu bisa diperdamaikan / diharmoniskan dengan kebebasan manusia. Semua yang perlu kita ketahui adalah bahwa Allah memang memerintah atas ciptaanNya dan bahwa penguasaan / kontrolNya atas mereka adalah sedemikian rupa sehingga tidak ada pemaksaan terhadap mereka. Mungkin hubungan antara kedaulatan ilahi dan kebebasan manusia bisa disimpulkan dengan cara terbaik dengan kata-kata ini: Allah memberikan dorongan / bujukan dari luar sedemikian rupa sehingga manusia bertindak sesuai dengan dirinya, tetapi melakukan secara tepat apa yang Allah telah rencanakan baginya untuk dilakukan) – ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 38.b) Adanya penentuan Allah tak menyebabkan manusia kehilangan tanggung jawab.Sekalipun Allah menentukan segala sesuatu, termasuk dosa, tetapi manusia tetap mempunyai tanggung jawab.

John Calvin: “… thieves and murderers and other evildoers are the instruments of divine providence, and the Lord himself uses these to carry out the judgments that he has determined with himself. Yet I deny that they can derive from this any excuse for their evil deeds” (= … pencuri dan perampok dan pembuat kejahatan yang lain adalah alat dari providensia ilahi, dan Tuhan sendiri menggunakan mereka untuk melaksanakan keputusan-keputusan yang telah Ia tentukan dengan diriNya sendiri. Tetapi saya menyangkal bahwa mereka bisa mendapatkan dari sini alasan untuk memaafkan tindakan-tindakan mereka yang jahat) – ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, no 5.

Luk 22:22 – “Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan”.Bdk. Mat 26:24 – “Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.’”.

Calvin (tentang Mat 26:24): “… the providence of God, which Judas himself, and all wicked men – though it is contrary to their wish, and though they have another end in view – are compelled to obey. … And yet Christ does not affirm that Judas was freed from blame, on the ground that he did nothing but what God had appointed. For though God, by his righteous judgment, appointed for the price of our redemption the death of his Son, yet nevertheless, Judas, in betraying Christ, brought upon himself righteous condemnation, because he was full of treachery and avarice. In short, God’s determination that the world should be redeemed, does not at all interfere with Judas being a wicked traitor. Hence we perceive, that though men can do nothing but what God has appointed, still this does not free them from condemnation, when they are led by a wicked desire to sin. For though God directs them, by an unseen bridle, to an end which is unknown to them, nothing is farther from their intention than to obey his decrees. Those two principles, no doubt, appear to human reason to be inconsistent with each other, that God regulates the affairs of men by his Providence in such a manner, that nothing is done but by his will and command, and yet he damns the reprobate, by whom he has carried into execution what he intended. But we see how Christ, in this passage, reconciles both, by pronouncing a curse on Judas, though what he contrived against God had been appointed by God; not that Judas’s act of betraying ought strictly to be called the work of God, but because God turned the treachery of Judas so as to accomplish His own purpose.” [= … providensia Allah, yang terpaksa ditaati oleh Yudas sendiri dan semua orang-orang jahat, sekalipun itu bertentangan dengan keinginan mereka dan sekalipun mereka mempunyai tujuan yang lain. … Tetapi Kristus tidak menegaskan bahwa Yudas bebas dari kesalahan, karena ia hanya melakukan apa yang telah Allah tetapkan. Karena sekalipun Allah, oleh penghakimanNya yang benar, menetapkan sebagai harga penebusan kita kematian dari AnakNya, tetapi sekalipun demikian, Yudas, dalam mengkhianati Kristus, membawa kepada dirinya sendiri penghukuman yang benar, karena ia penuh dengan pengkhianatan dan ketamakan. Singkatnya, penentuan Allah bahwa dunia harus ditebus, sama sekali tidak mencampuri keberadaan Yudas sebagai seorang pengkhianat yang jahat. Karena itu kita memahami bahwa sekalipun manusia tidak bisa melakukan apapun kecuali apa yang telah Allah tetapkan, hal ini tetap tidak membebaskan manusia dari penghukuman, pada waktu mereka dibimbing pada dosa oleh suatu keinginan yang jahat. Karena sekalipun Allah mengarahkan mereka, oleh suatu kekang yang tak terlihat, pada suatu tujuan yang tidak mereka ketahui, mereka sama sekali tidak bermaksud untuk mentaati ketetapan-ketetapanNya. Tidak diragukan bahwa dua prinsip itu terlihat bagi akal manusia sebagai tidak konsisten satu dengan yang lain, bahwa Allah mengatur urusan-urusan / perkara-perkara manusia oleh ProvidensiaNya dengan cara sedemikian rupa, sehingga tidak ada yang terjadi kecuali oleh kehendak dan perintahNya, tetapi Ia menyalahkan / menghukum orang-orang jahat, oleh siapa Ia melaksanakan apa yang Ia maksudkan. Tetapi kita melihat bagaimana Kristus, dalam text ini, memperdamaikan keduanya, dengan mengumumkan suatu kutukan pada Yudas, sekalipun apa yang ia buat / rencanakan terhadap Allah telah ditetapkan oleh Allah; bukan bahwa tindakan pengkhianatan Yudas secara ketat harus disebut sebagai pekerjaan Allah, tetapi karena Allah membelokkan pengkhianatan Yudas supaya mencapai tujuan / rencanaNya sendiri] – hal 199-200.

J. I. Packer: “God’s sovereignty and man’s responsibility are taught us side by side in the same Bible; sometimes, indeed, in the same text. … Man is a responsible moral agent, though he is also divinely controlled; man is divinely controlled, though he is also a responsible moral agent” (= Kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia diajarkan bersama-sama dalam Alkitab yang sama; kadang-kadang bahkan dalam text yang sama. … Manusia adalah agen moral yang bertanggung jawab, sekalipun ia juga dikontrol oleh Allah; manusia dikontrol oleh Allah, sekalipun ia juga adalah agen moral yang bertanggung jawab) – ‘Evangelism & The Sovereignty of God’, hal 22-23.

Charles Hodge: “God can control the free acts of rational creatures without destroying either their liberty or their responsibility” (= Allah bisa mengontrol tindakan-tindakan bebas dari makhluk-makhluk rasionil tanpa menghancurkan kebebasan ataupun tanggung jawab mereka) – ‘Systematic Theology’, vol II, hal 332.

Tetap adanya kebebasan dan tanggung jawab manusia ini, menyebabkan dalam theologia Calvin / Reformed manusia berbeda dengan robot / wayang. Ini juga menyebabkan Calvinisme / Reformed berbeda dengan Fatalisme maupun dengan Hyper-Calvinisme, yang karena percaya bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu, lalu hidup secara apatis / acuh tak acuh dan secara tak bertanggung jawab! Hendaknya ini diperhatikan oleh orang-orang yang menuduh / memfitnah ajaran tentang Providence of God / penentuan dosa dsb ini sebagai Hyper-Calvinisme! Untuk bisa mengerti apa Hyper-Calvinisme itu, di sini saya memberikan sebuah kutipan, yang menjelaskan Hyper-Calvinisme tersebut.

Edwin H. Palmer: “Hyper-Calvinism. Diametrically opposite to the Arminian is the hyper-Calvinist. He looks at both sets of facts – the sovereignty of God and the freedom of man – and, like the Arminian, says he cannot reconcile the two apparently contradictory forces. Like the Arminian, he solves the problem in a rationalistic way by denying one side of the problem. Whereas the Arminian denies the sovereignty of God, the hyper-Calvinist denies the responsibility of man. He sees the clear Biblical statements concerning God’s foreordination and holds firmly to that. But being logically unable to reconcile it with man’s responsibility, he denies the latter. Thus the Arminian and the hyper-Calvinist, although poles apart, are really very close together in their rationalism” (= Hyper-Calvinisme. Bertentangan frontal dengan orang Arminian adalah orang yang hyper-Calvinist. Ia melihat pada kedua fakta – kedaulatan Allah dan kebebasan manusia – dan, seperti orang Arminian, ia mengatakan bahwa ia tidak dapat mendamaikan kedua kekuatan yang tampaknya bertentangan itu. Seperti orang Arminian, ia memecahkan problem itu dengan cara yang logis dengan menyangkal satu sisi dari problem itu. Sementara orang Arminian menyangkal kedaulatan Allah, maka penganut Hyper-Calvinisme meninggalkan fakta tanggung jawab manusia. Ia melihat pernyataan yang jelas dari Alkitab mengenai penentuan lebih dulu dari Allah dan memegang hal itu dengan teguh. Tetapi karena tidak mampu mendamaikannya secara logis dengan tanggung jawab manusia, ia menyangkal tanggung jawab manusia itu. Jadi orang Arminian dan orang hyper-Calvinist, sekalipun merupakan kutub-kutub yang bertentangan, sebetulnya sangat dekat dalam cara berpikirnya) – ‘The Five Points of Calvinism’, hal 84.

Saya sendiri sekalipun menekankan penetapan Allah, tetapi saya juga sangat menekankan tanggung jawab manusia. Karena itu adalah omong kosong kalau ajaran saya adalah Hyper Calvinisme. Kalau saya adalah seorang Hyper Calvinist, maka pastilah Calvin sendiri juga adalah seorang Hyper Calvinist, dan demikian juga dengan para ahli theologia Reformed yang lain, karena ajaran ini saya dapatkan dari mereka.

Jadi, ajaran providence of God / penentuan dosa ini, merupakan ajaran Calvin / Reformed. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tidak mempercayainya?

Loraine Boettner: “The Pelagian denies that God has a plan; the Arminian says that God has a general plan but not a specific plan; but the Calvinist says that God has a specific plan which embraces all events in all ages” (= Penganut Pelagianisme menyangkal bahwa Allah mempunyai rencana; penganut Arminianisme berkata bahwa Allah mempunyai rencana yang umum tetapi bukan rencana yang specific; tetapi penganut Calvinisme mengatakan bahwa Allah mempunyai rencana yang specific yang mencakup semua peristiwa / kejadian dalam semua jaman) – ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 22-23.

Mereka disebut sebagai Arminianisme!
-AMIN-

(Pdt. Budi Asali, M. Div.)

Comments are closed.