Archive for December, 2010

APOLOGETIKA KRISTEN: TANGGUNG JAWAB SEMUA ANAK TUHAN

Apologetika berasal dari kata Yunani apologia yang berarti berbicara untuk mempertahankan atau memberikan jawaban. Di dalam kitab suci kata ini dipakai dalam konteks 1Petrus 3:15-16:

Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab (apologia) kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.

Jadi, apologetika artinya adalah sebuah studi untuk mempelajari bagaimana melaksanakan pertanggungan jawab, mempertahankan atau memberikan jawaban dari apa yang ia yakini dengan efektif. Lalu apa artinya apabila kata apologetika dikaitkan dengan kata Kristen?

Dari bagian kitab suci (1Pet. 3:15) yang sama, yang umumnya dipakai sebagai dasar, muncul berbagai definisi apologetika Kristen yang dapat kita temukan di dalam buku-buku apologetika. Pertama, definisi apologetika Kristen yang lebih menekankan pada mempertahankan filsafat Kristen, seperti yang diungkapkan oleh Cornelius Van Til, di mana apologetika Kristen merupakan usaha untuk mempertahankan filsafat Kristen dalam menghadapi berbagai bentuk filsafat non-Kristen, atau mempertahankan wawasan dunia Kristen secara keseluruhan, bukan poin-poin religius yang terbagi-bagi, abstrak, dan terisolasi satu dengan yang lain. Oleh karena itu, apologetika melibatkan argumentasi penalaran intelektual yang berkenaan dengan wawasan dunia Kristen. John M. Frame dan Edgar C. Powell membaginya ke dalam tiga bagian, yaitu pembuktian atau penunjukkan, dalam arti memaparkan dasar rasional bagi iman Kristen (1Kor. 15:1-11); pertahanan atau pembelaan, artinya menjawab sanggahan-sanggahan orang tidak percaya terhadap iman Kristen (Flp. 1:7, 16); dan penyingkapan, yaitu menyingkapan kesalahan atau kesalah-pahaman dari pemikiran atau pemahaman orang tidak percaya terhadap kekristenan (Mzm. 14:1, 1Kor. 1:18-2:16). Frame mengatakan bahwa dalam pelaksanaannya, ketiganya tidak berdiri sendiri. Kita tidak dapat melakukan yang satu tanpa melakukan yang lainnya.

Kedua, apologetika Kristen yang dipahami sebagai usaha menyajikan bukti-bukti untuk membuktikan bahwa apa yang dikatakan kitab suci adalah benar. Fakta-fakta dan sejarah banyak berperan dalam pemahaman apologetika Kristen ini, seperti dapat dilihat dalam apologetika Kristen yang dikemukakan oleh Josh McDowell atau Paul E. Little. R.C. Sproul melihat apologetika Kristen ini sebagai usaha untuk menjelaskan kepada orang lain apa yang saya percaya dan mengapa saya mempercayainya. Hal ini dilakukan dengan memberikan argumentasi secara nalar yang disertai penyajian fenomena yang ada di dunia ini, di mana fenomena itu diakui sebagai wilayah netral. Wilayah netral merupakan daerah di mana semua orang bisa mengakui keberadaannya, mengenalinya, dan mengambil kesimpulan yang sama tentang fenomena tersebut, misalnya bunga mawar. Semua orang yang mengakui keberadaannya, bisa mengenalinya dan mengambil kesimpulan yang sama bahwa tumbuh-tumbuhan itu adalah bunga mawar. Dengan kata lain, melalui dunia dan segala isinya yang dikenali oleh semua orang, Sproul melalui argumentasinya mau membimbing orang-orang kepada siapa dan apa yang diberitakan oleh kitab suci.

Sekarang penulis mengajak pembaca untuk melihat beberapa ayat di Alkitab dan menarik kesimpulan dari ayat-ayat itu. Dari percakapan Tuhan Yesus dengan murid-muridnya di Matius 16:13-28, yaitu tentang isu siapakah Anak Manusia itu. Dalam Matius 16:23 Yesus berkata kepada Petrus, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Tuhan Yesus dengan jelas memberikan indikasi bahwa Ia menghendaki sebutan atau status-Nya dipahami berdasarkan perspektif ilahi, bukan manusia (lih. juga 1Kor. 1:18-2:16).

Matius 22:23-33 menyatakan bahwa orang-orang Saduki itu sesat oleh karena mereka tidak mengerti kitab suci, maupun kuasa Allah. Di Yohanes 8:37-47, Tuhan Yesus mengajarkan dengan jelas bahwa relasi yang benar akan diikuti oleh kehidupan atau peiilaku yang sesuai dengan relasi tersebut: “Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham” (ay. 39). Lihat juga penjelasan Tuhan Yesus tentang pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik (Mat. 7:15-20), serta uraian Yakobus tentang iman yang menyelamatkan akan disertai dengan perbuatan yang selaras dengan iman tersebut, sebagai konsekuensi logis dari orang yang diberi anugerah iman yang menyelamatkan itu (Yak. 2:14-26). Petrus mengingatkan dalam suratnya bahwa setiap orang percaya harus selalu siap memberikan pertanggungan jawab kepada siapa saja, baik melalui kehidupannya maupun perkataannya (1Pet. 3:15-17). Dari ayat-ayat di atas, penulis menyimpulkan bahwa apologetika Kristen: Pertama, harus dilakukan oleh setiap orang Kristen yang seharusnya mengasihi Allah dan berusaha untuk hidup berkenan kepada Allah; kedua, apologetika Kristen adalah studi tentang usaha orang Kristen yang bermaksud untuk meyakinkan, menjelaskan, memberikan argumentasi dari perspektif ilahi tentang iman kristiani.

APOLOGETIKA KRISTEN MENUNTUT KEPROFESIONALAN

Jadi, jelas bahwa tugas berapologetika adalah tugas setiap orang Kristen. Firman Tuhan dengan tegas mengatakan bahwa setiap orang percaya harus selalu siap untuk berapologetika kepada siapa saja dan dalam situasi serta kondisi yang bagaimanapun juga. Ini merupakan perintah Tuhan yang harus dilaksanakan oleh orang Kristen di mana saja. Ini bukan suatu alternatif atau pilihan yang boleh dikerjakan atau tidak kerjakan,terserah dia.

Kalau begitu, apa artinya 1Petrus 3:15-17 bagi setiap orang Kristen? Artinya, kosa kata “orang Kristen Awam,” harus dihapuskan dari benak setiap orang Kristen. Apa arti dari kata “awam”? Kata awam dapat diartikan “biasa,” “bukan profesional,” atau “bukan ahli.” Jadi, kalau saya katakan bahwa saya awam dalam soal kedokteran, itu berarti saya bukan ahli dalam bidang itu. Konsekuensinya, jangan harapkan informasi medis yang patut dipercayai keabsahannya dari saya, atau bahkan harus maklumi kalau saya sama sekali tidak dapat memberikan informasi soal medis kepada siapa pun. Oleh karena saya bukan seorang dokter. Saya awam dalam bidang kedokteran. Sekarang pertanyaannya, apakah orang Kristen, siapapun dia, pendeta/penginjil atau bukan, majelis atau bukan, pengurus komisi atau bukan, boleh mengatakan bahwa ia awam dalam kekristenan?

Pada saat seseorang mengatakan bahwa ia mau menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamat pribadinya. Ada tiga unsur yang terlibat dalam penerimaan itu: pengetahuan tentang Tuhan Yesus, persetujuan intelektual berkaitan dengan pengetahuan itu, dan keyakinan atau kepercayaan terhadap pengetahuan tersebut yang tentu saja harus disertai dengan penerapan dari apa yang telah dipercayainya. Seseorang tidak dapat mempercayai sesuatu atau siapa pun, kalau hal itu belum pernah ada dalam pengetahuannya. Dengan kata lain, ia tidak akan membicarakan atau memikirkan sesuatu yang tidak pernah ada di dalam pikirannya. Setelah pengetahuan itu masuk dalam pikirannya, maka baru ia akan menganalisisnya dan mengolahnya. Apabila menurut pikirannya hal itu logis atau absah berdasarkan hukum berpikir yang berlaku, maka akal budinya akan menyetujuinya. Tahap berikutnya adalah ia akan menerima atau mempercayai apa yang telah ia ketahui dan analisis sebelumnya.

Firman Tuhan jelas tidak mengajarkan iman yang abstrak atau iman yang membabi buta. Roma 10:14 menyatakan:

Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?

Jika membaca surat-surat Paulus, maka dapat dilihat berulang-ulang kata-kata seperti: “aku tahu …” (Flp. 1:19), atau “kami tahu …” (2Kor. 5:1,11), atau “tidak tahukah kamu …” (1Kor. 9:24) muncul. Hal itu menunjukkan bahwa ada informasi yang masuk dalam seseorang, sebelum ia dituntut apa-apa dari pengetahuan itu.

Maka, pada saat seseorang menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat pribadinya, paling tidak ia memiliki informasi yang cukup untuk meyakinkan orang itu bahwa Ia adalah Juru Selamat dan mengapa ia memerlukan-Nya sebagai Juru Selamat dalam hidupnya. Tentu tuntutan bagi orang percaya tidak sampai disitu. la harus terus bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus dan hidup dalam pengenalan itu. Dengan kata lain, anugerah yang kita terima berdasarkan karya penebusan-Nya bukan hanya sekadar untuk merubah status seseorang yang tadinya orang berdosa menjadi orang kudus, atau yang tadinya musuh Allah, sekarang menjadi anak-Nya. Ia dituntut pula untuk hidup sesuai dengan statusnya yang baru itu. Ada aturan main ilahi yang harus diterapkan dalam kehidupan baru yang ia miliki di dalam Kristus. Hidup dan mati sekarang adalah hidup dan mati untuk Tuhan.

Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup (Rm. 14:7-9).

Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka (2Kor. 5:15).

Bagaimana orang percaya dapat hidup berdasarkan aturan main ilahi atau perspektif Tuhan, apabila ia tidak tahu mengenai hal itu. Itu berarti, setiap orang percaya dituntut untuk betul-betul mempelajari tentang siapa dan apa yang dipercayainya. Setiap orang percaya harus menjadi murid firman Tuhan yang serius. Membaca dan meneliti firman Tuhan dengan sungguh-sungguh, serta berusaha untuk menerapkannya dalam setiap aspek kehidupan yang Tuhan percayakan kepadanya. Hal ini tidak dapat terwujud dalam satu malam. Pengalaman pelayanan saya menunjukkan bahwa tidak sedikit pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh orang percaya pada seorang rohaniwan, dikarenakan ketidaktahuan apa yang tertulis di kitab suci, bukan ketidakmengertian tentang apa yang tertulis di dalamnya.

Ini cukup memprihatinkan. Tetapi yang lebih memprihatinkan lagi adalah apabila ia merasa tidak apa-apa berada dalam keadaan seperti itu. Seorang rohaniwan memang bertanggung-jawab untuk nemperlengkapi orang-orang kudus (Ef. 4:11-16). Namun ayat-ayat itu tidak berarti bahwa rohaniwan adalah “kamus berjalan” bagi orang Kristen, atau, “pembaca” firman Tuhan pada orang Kristen, sehingga yang Kristen tidak perlu membaca dan mempelajari firman Tuhan secara pribadi, karena sewaktu-waktu, kapan saja ia memerlukannya, ia bisa bertanya pada seorang rohaniwan.

Untuk menerapkan 1Petrus 3:15, setiap orang percaya harus nempelajari kitab suci mulai dari Kejadian sampai Wahyu (bukan hanya “ayat-ayat emas”) dengan seksama. Artinya, bukan hanya mengetahui apa si kitab suci, tetapi juga memahaminya dan tahu bagaimana nenerapkannya dalam setiap aspek kehidupannya, sehingga ia benar-benar nemiliki perspektif ilahi atau wawasan kristiani dalam menjalani kehidupan yang masih Tuhan percayakan kepadanya. Setiap orang Kristen harus menjadi orang Kristen profesional, yaitu ahli atau pakar dalam kekristenannya, supaya ia dapat diandalkan oleh Tuhan untuk memberikan pertanggungjawaban kepada siapapun yang memintanya. Ini senada dengan apa yang dikatkan Paulus, “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain…” (Kol. 3:16a).

MENGASIHI TUHAN SEBAGAI TITIK TOLAK DAN DASAR BERAPOLOGETIKA

Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku…. Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku… (Yoh. 14:15,21a).

Pertanyaan yang diajukan sebanyak tiga kali oleh Tuhan Yesus kepada Petrus setelah penyangkalannya adalah: “Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh. 21:15, 16, 17). Kenapa itu yang ditanyakan oleh Tuhan Yesus, kenapa bukan “Apakah sekarang kamu sudah mengerti siapa Aku sebenarnya?” atau “Apakah kamu sekarang sudah sadar?” Rupanya di sini Tuhan Yesus mengajarkan satu dasar sebagai titik tolak yang sangat penting bagi seorang murid seperti Petrus. Pertanyaan itu berkaitan erat dengan pernyataan-pernyataan-Nya ini: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat. 16:24) dan bukankah hukum yang terutama adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Mat. 22:37).

Pertobatan diawali dengan kesadaran bahwa “saya adalah orang berdosa dan saya memerlukan Kristus sebagai juru selamat saya.” Pemuridan bertitik tolak dari “saya mengasihi Tuhan.” Hal ini penting, karena Tuhan Yesus berkata, “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat. 6:21). Dari bagian firman Tuhan yang sudah dikutip di atas, jelas bahwa la harus selalu menjadi “harta” atau segala-galanya bagi setiap orang percaya. Maka, apabila hati orang percaya sudah melekat pada Tuhan, ia akan selalu siap untuk melakukan apa saja untuk Tuhan.

Setiap orang percaya diperintahkan untuk mengasihi Tuhan, dan ini tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Ia harus mengasihi Tuhan sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Termasuk dalam menjalankan perintah-Nya untuk selalu siap memberikan pertanggungan jawab kepada setiap orang. Oleh karena itu, ia harus mempelajari dan memahami kehendak-Nya. Hal ini tidak bisa terjadi apabila ia tidak pernah mempelajari firman Tuhan yang telah menyatakan kehendak-Nya kepada setiap orang percaya.

Seseorang yang mengasihi Tuhan akan selalu siap untuk melakukan apa saja bagi Dia. Mempelajari firman Tuhan untuk mengenal Dia semakin dalam dan benar, bukan merupakan suatu beban dan penuh dengan keterpaksaan. Melaksanakan firman Tuhan, apa pun resikonya tidak dilihat sebagai suatu pengorbanan, atau dilaksanakan dengan mentalitas orang upahan, karena ia melakukan semua itu hanya untuk satu tujuan, yaitu menyenangkan hati-Nya dan mempermuliakan nama-Nya. Kalau kasih kepada Tuhan secara totalitas sudah ada di dalam hatinya, maka apa yang akan dipaparkan berikut ini menjadi tidak sukar atau merupakan suatu beban. Semua akan dilihat sebagai sesuatu yang memang sewajarnya dijalankan oleh semua anak Tuhan. Seorang anak Tuhan yang hidup sesuai dengan statusnya, tidak berkelebihan, atau di luar batas kewajaran, sebab ini memang sudah sepatutnya dijalani oleh semua anak Tuhan, sebagaimana nasihat Paulus pada orang-orang percaya di Efesus, “Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu” (Ef. 4:1).

APOLOGETIKA KRISTEN DILAKUKAN OLEH ORANG KRISTEN YANG HIDUP UNTUK TUHAN

Petrus mengawali perintah untuk selalu siap sedia memberi pertanggungan jawab kepada setiap orang dengan pernyataan: “Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!” (1Pet. 3:15a), dan mengakhiri perintah itu dengan kalimat: “. . . tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus nenjadi malu karena fitnahan mereka itu” (1Pet. 3:15b-16). Ayat-ayat itu berbicara tentang pola hidup, karakter, perilaku yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang Kristen. Berita yang disampaikan secara verbal harus selaras dengan berita yang disampaikan secara nonverbal.

Perintah itu dilaksanakan untuk kemuliaan Tuhan, supaya orang yang diajak bicara, juga pada akhirnya dapat mempermuliakan Tuhan dalam hidupnya. Apabila itu dilaksanakan untuk kemuliaan-Nya, maka tidak boleh ada apa pun yang akan mencemarinya. Orang percaya berapologetika bukan untuk membuat orang lain malu, marah, bungkam seribu bahasa, atau kalah dalam berargumentasi. Bukan pula untuk mendemonstrasikan kelihaian, kecakapan dan kefasihan lidah dalam berargumentasi. Tidak ada kemuliaan Tuhan yang akan terpancar dari semua itu. Pada dasarnya, berita yang disampaikan adalah kasih Tuhan kepadanya dan kepada orang yang sedang diajak bicara. Oleh karena itu, jangan sampai kasih Tuhan tidak dirasakan sama sekali atau tidak terlihat dalam proses penyampaiannya.

Memberikan pertanggungan jawab kepada setiap orang tidak selalu harus dalam bentuk percakapan. Pola hidup, pikiran, perilaku, perkataan, serta karakter orang yang berapologetika harus selalu siap menjawab setiap pertanyaan dari orang-orang yang berada dalam kehidupannya, mulai dari rumah, tempat bekerja, sekolah, gereja, tempat bermain, tempat bersosialisasi, di mana saja ia berada. Dengan kata lain, ia harus menjadi garam dan terang di mana pun kita berada (Mat. 5:13-16; 2Kor. 3:2).

Seorang penginjil Irlandia Gypsy Smith pernah mengatakan, “Ada lima Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas, Yohanes dan orang Kristen, dan sebagian orang tidak akan pernah mendengar empat Injil yang pertama.” Dengan kata lain, apologetika seringkali dilihat terlebih dahulu, sebelum didengar. Oleh karena itu, kitab suci memberikan gambaran yang jelas tentang seorang gembala yang merupakan seorang apologis: seseorang yang terlebih dahulu telah mengkhususkan hatinya bagi Kristus dan yang kemudian memberikan jawaban kepada penanya dan melakukannya dengan lembut dan hormat.

PERTANYAAN REFLEKTIF BAGI SETIAP ORANG KRISTEN

  1. Setelah membaca tulisan ini, bagaimana saudara melihat diri sendiri sekarang ini? Apakah saudara termasuk orang Kristen profesional, atau awam?
  2. Apakah Tuhan bisa mengandalkan saudara untuk siap memberikan pertanggungan jawab (baik melalui perkataan maupun perbuatan) dalam segala waktu, kepada setiap orang pada saat ini?
  3. Selama ini apakah yang menjadi penghalang utama bagi saudara untuk hidup dan mati bagi Tuhan? Apa langkah selanjutnya yang akan saudara ambil untuk mengatasi hal itu, dalam rangka mewujudkan kehendak Tuhan untuk hidup dan mati bagi-Nya?

SARAN-SARAN BAGI ORANG KRISTEN YANG BERNIAT HIDUP BAGI TUHAN

  1. Apabila saudara belum pernah membaca kitab suci secara keseluruhan, mulailah sekarang. Tentukan waktu (pagi, siang, atau malam) yang akan saudara sediakan untuk membaca Alkitab setiap hari. Waktu yang saudara pilih jangan merupakan sisa waktu atau waktu yang tersisa dari kepadatan jadwal saudara. Pilihlah waktu yang berdasarkan pertimbangan saudara merupakan waktu yang terbaik, di mana saudara bisa konsentrasi penuh untuk bersama Tuhan dan firman-Nya.
  2. Tentukan kitab apa dan berapa pasal yang akan Saudara baca setiap harinya (misalnya 4 pasal, mulai dari Kitab Kejadian).
  3. Buatlah catatan tentang topik atau garis besar peristiwa yang saudara baca hari itu. Apa artinya ayat-ayat itu bagi setiap anak Than? Saudara harus selalu memiliki hati yang terbuka untuk siap dibentuk dan melakukan apa saja yang Tuhan mau.
  4. Catatlah hal-hal yang tidak saudara pahami. Tanyakanlah kepada saudara seiman atau rohaniwan. Atau saudara bisa mencari jawabannya di buku-buku rohani yang membahas pertanyaan saudara. Jawaban yang saudara terima dari siapa pun harus selalu ditinjau kembali berdasarkan firman Tuhan secara keseluruhan. Oleh karena itu, pemahaman dasar secara keseluruhan tentang apa yang diajarkan dan tidak diajarkan oleh kitab suci akan sangat menolong untuk memahami ayat-ayat yang sulit dipahami.
  5. Mulailah bersikap kritis, dalam arti saudara betul-betul ingin memahami siapa dan apa yang saudara percayai dan hidup berdasarkan pemahaman itu. Apabila ada yang saudara tidak mengerti pada waktu membaca Pengakuan Iman Rasuli, menaikkan Doa Bapa Kami atau mendengarkan khotbah/ceramah, berusahalah untuk mencari tahu. Juga, selalu meninjau apa yang saudara dengar dan baca berdasarkan kitab suci.

Diambil dan diedit seperlunya dari:

Judul Buku : Veritas Volume 6. Nomor 2 (Oktober 2005)
Judul Artikel : Apologetika Kristen: Tanggung Jawab Semua Anak Tuhan
Penulis : Rahmiati Tanudjaja
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara
Halaman : 229-238

PENTINGNYA PEKERJAAN ANDA DI MATA TUHAN

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” (Yoh. 1:14)

Sebelum kita melihat lebih jauh mengenai bagaimana memahami dunia kerja melalui sudut pandang alkitabiah, kita perlu mempertimbangkan bagaimana Tuhan memandang pekerjaan kita. Jika kita tidak tahu apa arti pekerjaan kita dan dampaknya bagi Tuhan dan kerajaan-Nya, kita berisiko memandang iman dalam bekerja sebagai sesuatu yang tak penting. Topik ini menghadirkan dua pertanyaan pokok dan kemudian kita akan melihat sekilas apa yang dikatakan Alkitab mengenai sikap yang Tuhan inginkan dalam kita bekerja.

Apa istimewanya pekerjaan saya?

Kita akan membahas beberapa prinsip berkenaan dengan pekerjaan secara mendalam dan praktis sembari kita berusaha mencari jawaban atas pertanyaan utama: “Pekerjaan siapakah ini sebenarnya?” Sangat mudah bagi kita untuk terjebak dalam rutinitas sehari-hari — keasyikan dalam mengerjakan tugas dan memenuhi tenggat waktu, pentingnya menanggapi tekanan, dan tuntutan kerja yang berubah-ubah — sehingga kita tidak lagi bepikir bahwa sebenarnya pekerjaan kita berarti untuk Tuhan. Orang Kristen dianjurkan untuk memulai harinya bersama Tuhan dan menegaskan kembali tujuan dan misinya dalam bekerja. Namun, kedisiplinan untuk melakukan anjuran itu sangat mudah sekali dilindas oleh semangat dan kesibukan dalam bekerja. Kedisiplinan itu memang penting, tapi itu saja tidak cukup untuk membuat kita sadar bahwa pekerjaan yang kita lakukan, demikian halnya dengan sikap kita saat bekerja, benar-benar berarti bagi Tuhan. Jika saya dapat memahami tujuan Tuhan dalam pekerjaan saya, sejauh manakah saya dapat memahaminya? Dengan segala aspeknya, pekerjaan dapat membuat kita sangat sibuk saat jam kerja (dan jam di luar jam kerja) sehingga kita melupakan rencana indah di balik posisi yang Tuhan berikan kepada kita sekarang ini. Malahan, banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa ada rencana di balik semua hal yang kita lakukan.

Ada banyak orang (termasuk orang Kristen) yang akan membuat Anda bosan selama berjam-jam saat mereka menceritakan segala rincian tentang apa yang istimewa dari pekerjaan mereka. Mereka bisa dengan kesungguhan menjawab pertanyaan, “Apa istimewanya pekerjaan saya?”. Sisi negatifnya, jenis pembicaraan seperti ini menyingkapkan keistimewaan diri, kekuasaan, status profesional, permainan kekuasaan, dan sebagainya. Sedangkan sisi positifnya, semua orang perlu memiliki pemikiran bahwa pekerjaan mereka berarti dan berperan dalam kebutuhan mereka dan dalam masyarakat. Walaupun kenyataannya ada orang-orang yang tidak suka membicarakan pekerjaan mereka. Kita mencari jawaban untuk pertanyaan yang sedikit berbeda, yaitu “Apa istimewanya pekerjaan saya bagi Tuhan?” Untuk menjawabnya, kita perlu memahami kehendak Tuhan atas para murid-Nya. Sangat tidak mungkin jika Tuhan yang memanggil kita untuk mengikut-Nya, tidak memiliki tujuan saat menempatkan kita pada tempat di mana kita menghabiskan dua pertiga waktu kita dan setengah dari hidup kita. Menyangkali tujuan Tuhan berarti menganggap panggilan itu hanya setengah-setengah dan pemuridan itu adalah palsu. Untuk memahami arti pemuridan, kita perlu mempertimbangkan semangat dan sikap kita dalam bekerja. Doa John Oxenham sangat menantang: “Tuhan, ubahlah rutinitas pekerjaan menjadi perayaan kasih”. Saya menyadari bahwa saya takkan pernah dapat melakukan hal itu sampai saya bisa menjawab pertanyaan utama kita. Jadi, saya harus menanyakan apa sebenarnya keistimewaan pekerjaan saya bagi Tuhan? Sikap seperti apa yang Tuhan ingin saya lakukan dalam bekerja? Empat sikap ilahi berikut akan menuntun kita kepada jawabannya.

Menjadi saksi

Kita bisa menerapkan Amanat Agung Yesus hanya jika kita bersedia menerima dan menaati perintah-Nya. “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:18-20). Karena ayat ini tidak menjelaskan secara gamblang mengenai pekerjaan sekular, sulit untuk melihat bagaimana murid yang potensial bisa dijangkau atau diajar tanpa perlu melibatkan diri dengan mereka dalam situasi kerja. Yesus tidak hanya bekerja sebagai tukang kayu, Ia juga mengunjungi orang- orang di tempat kerja mereka (di perahu, kantor pemungut pajak, dsb.) dan menantang serta mengajar mereka menerapkan iman mereka dalam situasi kerja.

Amanat Agung meliputi perintah untuk mengajar semua bangsa “segala sesuatu” yang diperintahkan Yesus — dan Ia mengajarkan banyak hal tentang sikap dalam bekerja! Sikap Yesus terhadap pekerjaan kita adalah kunci mengapa pekerjaan kita penting dan yang akan menghancurkan pemikiran kita bahwa iman dan pekerjaan itu harus dipisahkan. Mungkin tempat kerja kita adalah satu-satunya tempat di mana rekan kerja kita bisa mengenal kekristenan. Tapi apakah itu berarti kita harus memprioritaskan penginjilan di tempat kerja kita? Jika memang demikian, pekerjaan yang kita lakukan sekarang akan menjadi pekerjaan sambilan yang tidak terlalu penting. Mungkin kemudian kita menganggap pekerjaan kita “hanyalah sebuah pekerjaan” dan sebuah sarana untuk mencapai tujuan akhir. Dengan sikap seperti itu, kita tidak akan memuliakan Tuhan melalui performa dan sikap kita dalam bekerja. Pekerjaan kita kemudian akan tidak sesuai dengan beberapa aturan standar yang ada di Alkitab. Efesus, misalnya, mendorong murid untuk “… dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia. Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan” (Ef. 6:7-8). Ayat tersebut jelas-jelas menyatakan bahwa Tuhan mengharapkan sebuah pekerjaan yang dikerjakan dengan sangat baik karena dari situlah kesaksian yang efektif akan muncul. Kombinasi pekerjaan yang seperti itulah yang Ia inginkan. Kekristenan akan bekerja saat kita menjadi teladan yang hidup.

Dibentuk oleh Tuhan

Saya memerlukan beberapa waktu untuk bisa melihat bagaimana Tuhan telah memakai pengalaman kerja saya yang beragam — yang baik dan yang buruk — guna membentuk saya untuk kepentingan pelayanannya. Terkadang sulit untuk kita pahami bagaimana Tuhan membentuk hidup kita ketika atasan kita selalu dipuji atau selalu dapat menghadapi konflik dalam semua hubungan kerjanya, atau ketika rekan kerja kita bersikap sinis terhadap agama kita. Pengalaman seperti itu nampaknya bukanlah suatu pembentukan yang positif. Namun, bagi kebanyakan orang, tempat di mana kita bekerja dan menghabiskan sebagian besar hidup, berperan penting bagi perkembangan iman kita kepada Tuhan. Dan setiap kita telah dibentuk dengan cara yang berbeda. Terkadang, semakin buruk situasi kerja kita, semakin teguh kita memegang iman kita. Tuhan tidak selalu mengubahkan pekerjaan, tapi Ia mengubah pekerja-Nya. Paulus mengaitkan proses ilahi itu dalam frasa “kita adalah ciptaan Tuhan” (Ef.2:10) — secara harafiah, ini berarti kita adalah hasil karya-Nya yang hidup, dengan segala keterampilan dan keunikan yang terpancar darinya. Melalui proses “berjalan dalam Roh” (Gal. 5:25), kita telah menjadi seperti itu.

Sayangnya, tidak semua orang Kristen teguh ketika melalui ujian itu. Saya mengenal begitu banyak profesional Kristen muda yang dibentuk oleh ambisi, uang, dan kekuasaan daripada oleh iman. Hubungan mereka dengan Tuhan adalah hubungan yang salah. Sebaliknya, lihatlah bagimana kemampuan Yusuf dalam memimpin Mesir diasah oleh pengalamannya dibuang dan diperbudak. Proses hidup yang menyakitkan itu membawanya ke dalam istana dan posisi istimewa dalam kepemimpinan. Daniel juga berubah dari seorang tawanan menjadi seorang pemimpin yang memimpin sepertiga kerajaan Babilonia. Dari awal, perannya sebagai saksi dalam pekerjaan sangat luar biasa. Dalam hal performa kerja, dia dan teman-temannya lebih baik sepuluh kali lipat daripada mereka yang tidak mengenal Tuhan (Dan. 1:20). Kebanyakan dari kita sudah merasa senang bila kita lebih baik dua kali lipat daripada orang lain. Jika kita mengizinkan Tuhan membentuk kita sesuai keinginan-Nya, Ia akan memiliki pelayan- pelayan handal di tempat kita bekerja. Terkadang ada kehampaan dalam kita bekerja — kehampaan yang muncul akibat penolakan kita terhadap tujuan-Nya.

Prinsip bagaimana kita memandang pekerjaan dalam konteks hubungan yang benar dengan Tuhan mencakup banyak bidang pekerjaan. Kita semua perlu mengetahui jawaban pertanyaan “pekerjaan siapakah ini sebenarnya?” Dalam kitab Kolose, misalnya, dikatakan untuk budak (kelas masyarakat yang paling rendah): “taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. (Kol. 3:22-24)” Kita jarang membayangkan pekerjaan kasar, rendah, dan buruk yang dilakukan oleh budak-budak pada masa itu. Namun, Tuhan sendiri menghargai pekerjaan itu karena pekerjaan itu dilakukan untuk-Nya. Sebaliknya, anggota masyarakat yang paling berkuasa yang telah menjadi Kristen diminta untuk bersikap lain dari pada yang biasa mereka lakukan di masa lalu. Di dunia di mana budak tidak memiliki suatu hak apapun juga, Tuhan memerintah para penguasa: “berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di sorga” (Kol. 4:1). Sungguh suatu cerminan dampak Roh Kudus dalam hidup mereka! Kristus memperkenalkan dua kelas masyarakat itu kepada dimensi pekerjaan mereka yang lebih tinggi, kepada apa yang menjadi kewajiban mereka dalam bekerja. Yesus Kristus mengingatkan mereka bahwa Ialah penguasa lingkungan kerja mereka. Mungkin mengejutkan bahwa asumsi dari ayat itu adalah Tuhan mendominasi pekerjaan kita. Mungkin kita bisa membatasi-Nya, tapi itu jelas bukan rencana-Nya. Kita harus masuk dalam rencana-Nya!

Menyaksikan kasih Tuhan dalam tindakan

Menyaksikan kasih Tuhan memang berkaitan dengan peran khusus kita sebagai saksi, lebih spesifik dengan sikap kita dalam pekerjaan. Kini kita berada dalam bagian yang sulit. Perilaku kerja orang Kristen banyak yang tidak menunjukkan keilahian Tuhan. Beberapa orang Kristen cenderung dikarakterisasi oleh kekakuan, kearoganan, kepicikan, dan mulut besar mereka daripada keilahian Tuhan. Kelemahan gereja yang paling besar adalah kehidupan jemaatnya yang tidak mencerminkan Kristus. C.H. Spurgeon pernah menyatakan, “Jika pengetahuan teologi Anda tidak bisa mengubah Anda, maka nasib Anda juga tidak bisa berubah.” Ketika ditanya tentang perintah Allah yang terbesar, Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” … Dan yang kedua adalah: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:37,39). Hal tersebut adalah sebuah mandat yang menantang — mengasihi Tuhan, sesama, dan diri kita sendiri. Makna praktis mandat tersebut sangat luas. Mengasihi Tuhan memerlukan ketaatan. Seberapa sering kita merenungkan pekerjaan dan sikap kita dalam bekerja? Seberapa sering kita bertanya apakah dan di mana kasih Tuhan nyata dalam sikap kita? Haruskah kasih kita kepada Tuhan tampak dalam cara kita memperlakukan orang, cara kerja, kinerja, motivasi kita, dsb.? Misalnya, bagaimana kasih itu bisa tampak ketika melayani pelanggan yang merepotkan di toko? Bagaimana kasih itu bisa nampak dalam hubungan seorang manajer dengan pegawai yang kaku? Dalam kehidupan seorang perawat yang kelelahan merawat pasien yang tidak tahu terima kasih? Kita mungkin tergoda untuk menanyakan, “Apa hubungan kasih dengan pekerjaanku?” Jawaban Alkitabiah untuk pertanyaan itu adalah — segalanya.

Namun ada sebuah misteri dan kenyataan dalam hal ini. Tuhan bisa saja dengan mudah mengkloning kita saat Ia memanggil kita. Namun ternyata Ia memanggil kita dengan segala kesalahan kita. Dan melalui kuasa Roh Kudus, Tuhan mampu mengubah kita sehingga kita bisa mengekspresikan kasih-Nya dalam tindakan dan pekerjaan kita. Seperti itulah seharusnya seorang tukang kayu, bankir, sopir truk, dokter, tukang ledeng, atau guru dalam mengerjakan pekerjaan Tuhan. Sebagian dari kasih ini dinyatakan melalui hubungan di tempat kerja. Selain itu, kasih juga harus terlihat nyata melalui bentuk pelayanan kita yang lain seperti membantu sesama dan peduli kepada keluarga dan mereka yang membutuhkan. Meskipun William Tyndale mengatakan beberapa abad yang lalu, namun perkataannya itu sepenuhnya alkitabiah dan tidak ketinggalan zaman dalam penerapannya. “Tidak ada pekerjaan yang lebih baik dalam menyukakan Tuhan; menuangkan air, mencuci piring, menjadi tukang sepatu, atau rasul, semuanya sama; mencuci piring dan berkhotbah adalah sama, semuanya untuk menyenangkan Tuhan.”

Untuk memuliakan Tuhan

Dalam hal yang penting ini, kita menghadapi tantangan besar. Dalam pekerjaan, kita dituntut untuk memimpin orang-orang yang berinteraksi dengan kita untuk bersyukur dan memuliakan-Nya. Mungkin Anda bertanya, untuk apa? Untuk mereka melihat Kristus dalam diri kita; untuk mereka melihat perbedaan yang disebabkan oleh Roh dalam hidup kita, untuk mereka melihat perbuatan kita yang menyatakan kasih Kristus; untuk mereka melihat penyataan iman kita; untuk mereka melihat integritas kita, untuk mereka melihat kepedulian kita terhadap orang lain, dsb.. Kalimat “supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya” (Ef. 1:12) menyiratkan hal itu, bahkan lebih. Sangat mudah untuk menyerah dan mengatakan bahwa panggilan ini adalah mustahil karena beberapa alasan. “Saya bekerja dengan orang-orang yang tidak mengenal atau memuji Tuhan”; “tidak ada seorang pun di sini yang berpikiran seperti itu — jika saya seorang yang baik, mereka tidak akan tahu kepada siapa mereka harus berterima kasih (itupun jika mereka terpikir untuk berterima kasih)”; “orang-orang memerhatikan perbedaan, namun hanya dalam hal yang umum — baik atau buruk, ramah atau kasar, dll. — mengapa mereka perlu sebuah alasan?”; “situasi kerja di sini sangat tidak menyenangkan, Tuhan tidak mungkin akan dimuliakan di sini”. Semua tanggapan ini mengarah kepada satu jawaban yang masuk akal. Saya harus hidup sebagai pengikut Kristus dan berbicara tentang-Nya. Bagaimana lagi orang Kristen harus bersikap? Orang Kristen terpanggil untuk menjadi lebih dari sekadar “orang yang baik”. Hal itu menghadirkan masalah untuk beberapa orang Kristen. Mereka berpendapat, lebih baik bertindak daripada berbicara. Sebenarnya, keduanya penting. Kebanyakan dari kita tinggal dalam dunia yang maju, di tengah masyarakat yang mungkin post-Kristen. Banyak orang yang lupa akan arti mengikut Kristus. Menurut mereka, menjadi orang Kristen bukanlah menjadi sesuatu yang berbeda, sama saja. Orang lain membutuhkan penjelasan mengapa kita melakukan hal tertentu, dan kita harus menjelaskannya kepada mereka.

Penulis Perjanjian Baru dengan konsisten mengatakan kepada kita bahwa kemuliaan sifat, karakter, kekuasaan, dan tujuan Allah terlihat dalam diri Yesus. Seperti yang dikatakan penulis kitab Ibrani, misalnya, “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan” (Ibr. 1:3). Yohanes menulis sabda Allah melalui Alkitab dengan kuasa Roh Kudus. Yesus ada dalam diri kita melalui Roh Kudus — dan saat ini kita memang menjadi bagian dari sabda-Nya. Dalam segala hal, pekerjaan “memuliakan” tetap diteruskan melalui kita. Tapi bagaimana kita tahu bahwa kita memuliakan Tuhan? Mungkin kita tidak akan pernah menyadarinya. Memang ada alat untuk mengetahui tingkat kolesterol, tekanan darah, atau keadaan jantung kita, namun tidak ada yang namanya “alat pengukur kemuliaan”. Namun, kita diyakinkan bahwa Tuhan senang karena kita menaati panggilan-Nya, dan ketaatan itu akan dengan sendirinya membawa kemuliaan bagi nama-Nya. Tugas kita adalah mengatur pekerjaan kita, dan Tuhan yang akan menilai hasilnya.

Namun begitu, ada aspek lain yang juga penting dalam memuliakan Tuhan. Dalam Alkitab, pekerjaan dan penyembahan sangat berkaitan. Bahkan, kata “bekerja” dalam bahasa Ibrani terkadang diartikan sebagai `penyembahan`. Mark Greene mengaitkannya setelah mengamati bahwa “bekerja adalah kata yang dibentuk oleh tujuh huruf”[1]. Ketika seorang Kristen bekerja, dia juga sedang menyembah. Apakah Anda merasa sudah melakukannya setiap hari? Cara kerja dan cara menyikapi pekerjaan yang buruk akan mengarah kepada penyembahan yang berkualitas buruk pula — atau tidak menyembah sama sekali. Jika itu terjadi, kemuliaan Allah sedang dirampok sebanyak dua laki lipat — karena kita tidak mendorong orang lain untuk memuliakan-Nya karena kita sendiri pun tidak memuliakan-Nya.

Doa Daud, ketika dia mempersiapkan Bait Allah yang kelak akan dibangun oleh anaknya, Salomo, menyiratkan pola penyembahan dalam Alkitab: “Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala” (1Taw. 29:11).

Yesus mengambil inti dari doa itu yang kemudian Dia ajarkan kepada murid-murid-Nya (Mat.6:9-13). Seperti yang dikatakan William Barclay, “Saya tidak bisa mengatakan amin (untuk doa itu) kecuali saya bisa mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Karena bagaimanapun juga itu adalah doa saya.” Sungguh-sungguh suatu tantangan yang besar untuk memuliakan Tuhan dalam hidup dan pekerjaan kita [2].

Aksi:

Kita telah membahas empat cara agar pekerjaan kita bisa memuliakan Tuhan. Periksa dan nilailah pekerjaan Anda sekarang berdasar empat prinsip ini. Berdoalah agar Anda mampu bersikap jujur dan objektif. Kita semua perlu belajar banyak dan mencoba menerapkannya dengan lebih baik. Bagaimana Anda menjawab pertanyaan, “Apa pentingnya pekerjaanku bagi Tuhan?”

Apakah Tuhan tercermin dalam sikap kerjaku?

Sikap kerja kita berperan penting dalam menentukan peran unik kita nantinya. Ketika Anda mengerjakan beberapa aksi di atas, Anda mungkin merasakan kepedihan akan sikap Anda yang sekarang. Saya sendiri merasakan seperti itu. Mari kita bahas hal ini lebih dalam dengan melihat “semangat zaman” ini. Bagaimana dan di mana semangat zaman ini bisa memengaruhi kerja kita yang begitu dipedulikan Tuhan? Saya mencari profil seseorang atau perusahaan untuk mengetahui sikap yang umum dilakukan dalam bekerja. Saya tidak butuh waktu lama untuk menemukan apa yang saya cari — profil-profil seperti itu banyak terdapat dalam media massa dan pelatihan yang ada di seluruh dunia. Mereka inilah yang membentuk opini yang memengaruhi kita dalam menetapkan konteks mengenai bagaimana orang Kristen harus bekerja. Inilah sepuluh pandangan mereka tentang diri mereka sendiri atau orang lain yang mereka kagumi.

  1. Ia selalu memiliki sikap bersaing tanpa pikir panjang.
  2. Orang ini selalu ingin menjadi penguasa setiap saat.
  3. Ia penuh dengan ambisi.
  4. Agar berhasil, semua orang harus dipandang sebagai musuh.
  5. Pekerjaan adalah mesin promosi untuk diri sendiri.
  6. Dalam segala hal, moralitas tidak penting — yang penting adalah hasil akhir.
  7. Rahasia sukses adalah pertama-tama menemukan cara bagaimana menghasilkan uang dengan cepat.
  8. Budaya kerja 24-7 sangat cocok; berkeluarga tidak penting.
  9. Selalu penuh dengan adrenalin, selalu melakukan sesuatu dengan semaksimal mungkin.
  10. Seorang pembentuk tim dikenal karena pendelegasian atau kepercayaannya — tapi tidak keduanya.

Anda akan melihat betapa tegas dan kerasnya pernyataan-pernyataan di atas. Ada beberapa pernyataan yang sangat ekstrem, dan kebanyakan terkesan negatif. Ambisi dan persaingan memang dibutuhkan agar kinerja seseorang baik — pada tingkat tertentu, hal itu akan membawa kemuliaan bagi Tuhan. Tapi bagian-bagian lain, seperti meniadakan moral atau tidak ingin berkeluarga, tidak bisa disebut sebagai prinsip orang Kristen. Anda mungkin mengenal banyak orang seperti itu atau jangan-jangan Anda sendiri memiliki pemikiran seperti itu, tergantung dari jenis pekerjaan yang Anda lakukan. Mungkin Anda baru saja memulai karir dan mengabaikan hal ini, atau mungkin Anda berada di pertengahan karier dan semua ini terdengar seperti “memang seperti itulah bisnis”. Bukan hanya “pemimpin dunia industri” yang menggunakan pernyataan- pernyataan seperti itu. Saya sudah bertemu dengan orang-orang seperti ini dalam jalan kehidupan yang sangat berbeda. Banyak dari mereka yang mengganggap bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah suatu kehormatan. Meskipun ada yang melecehkan sikap-sikap seperti itu, tapi pada kenyataannya banyak yang memercayai dan melakukannya. Dan sebagian dari mereka adalah orang-orang Kristen.

Kini kita tahu bahwa pekerjaan kita berarti untuk Tuhan — setidaknya itulah yang diharapkan Tuhan. Namun, berarti atau tidaknya pekerjaaan kita tergantung dari sikap dan perilaku kita. Cermati lagi kesepuluh perilaku di atas. Pikirkanlah kesepuluh hal itu sebagai tempat kita bercermin, yang mana yang ada pada diri Anda dan lingkungan kerja Anda.

Tanggapan:

Apakah Anda mengekpresikan salah satu dari karakteristik ekstrem di atas ketika Anda bekerja? Jika ya, pikirkanlah bagaimana sikap itu mempengaruhi peran pekerjaan yang Tuhan inginkan. Jika Anda cukup berani, mintalah pendapat dari rekan kerja untuk melihat bagaimana mereka menanggapi Anda. Apa yang akan Anda lakukan untuk mengubah sikap yang tidak ilahi ini? Jika Anda memiliki karakteristik- karakteristik seperti itu, berdoalah agar Anda dilepaskan dari pencemarannya.

Sikap dalam pekerjaan yang Tuhan inginkan

Sang Pencipta tahu semua kelemahan dan kelebihan kita — dan diberikan-Nyalah Alkitab sebagai penuntun hidup kita. Karena etika Kristen tidak dikembangkan dalam gereja atau untuk gereja, John Stotts kemudian meneliti, “… konteks Perjanjian Baru bagi kehidupan Kristen adalah ramai, sibuk, dan menantang di tempat kerja dan lingkungan bisnis.” [3] Apa yang kita lakukan di sini adalah mengaitkan apa yang telah lama terpisahkan. Kita bisa dengan yakin mengatakan Tuhan tidak bermaksud untuk memisahkan pekerjaan dan kehidupan dari iman. Dan untuk itu, Alkitab memiliki banyak pandangan yang sangat membantu untuk mengetahui sikap yang diperlukan untuk dapat bersaksi tentang Tuhan melalui pekerjaan kita. Segera, kita akan membahas ketiga sikap itu.

Bait Allah

Dalam 1Korintus 3:16, Paulus mengemukakan pertanyaan, “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor 3:16). Maksudnya adalah bahwa bait Allah itu sangat suci dan “Anda adalah bait itu. Ini adalah metafora yang sangat luar biasa dan memandang manusia dengan sangat tinggi. Bagi sebagian dari kita, pandangan ini mungkin terlalu tinggi. Apa yang dikatakan dalam ayat itu, mungkin sulit untuk kita penuhi — terutama dalam lingkungan kerja. Meski begitu, nilai yang dimiliki orang Kristen di dunia ini terletak pada hubungan istimewa mereka dengan Tuhan. Itulah pekerjaan yang dimaksudkan Alkitab. Untuk itulah Kristus mati. Lebih jauh lagi, kita perlu bertanya pada diri sendiri mengenai kegiatan yang dilakukan dalam bait ini, di tempat yang sebenarnya adalah milik Tuhan. Siapa lagi yang tinggal di dalamnya? Apakah bait kita hanyalah sekadar bangunan sejarah atau tempat untuk menyembah dan bersaksi? Lebih dalam lagi, ini berarti bahwa Anda membawa serta Roh Kudus saat Anda bersikap tanpa kasih, mencaci maki orang lain atau bawahan Anda. Roh Kudus ada ketika Anda berbohong kepada seorang pelanggan tentang permasalahan produk yang Anda miliki. Roh Kudus melihat Anda sedang berbohong saat mengajukan klaim. Roh Kudus di sana, menunggu, ketika sebenarnya Anda memiliki kesempatan untuk bersaksi, namun tidak pernah menyatukan iman dan pekerjaan sebagai sebuah prinsip. Jika hal itu membuat Anda menangis, menangislah. Kadangkala, inilah fakta menyedihkan kehidupan seorang Kristen di tempat kerjanya. Masalahnya bukanlah bagaimana saya dapat hidup seperti Kristus, melainkan bagaimana saya mengizinkan Kristus hidup di dalam saya. Tubuh saya adalah rumah — apakah Roh Kudus sudah tinggal di dalamnya?

Partner Allah

Bersekutu dan berbagi adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan Kristen. Prinsip bersekutu mengakar dalam bidang bisnis dan komersial. Namun, hal ini sangat relevan dengan pembahasan kita. Tidak akan ada persekutuan jika kedua belah pihak tidak memiliki tujuan yang sama; harus ada alasan kuat untuk terlibat dalam hubungan tersebut, dan alasan itu harus mampu bertahan dalam keadaan baik ataupun buruk. Persekutuan jarang dapat bertahan lama jika salah satu pihak “tidur”, atau bersikap pasif. Apakah Anda pernah “bersekutu dengan Kristus”? Apakah Anda pernah berpikir untuk melakukan (atau tak melakukan) pekerjaan Tuhan? Tanpa terkecuali, semua orang Kristen disebut sebagai rekan dalam anugerah Tuhan. Paulus mendapat gagasan ini saat ia bersyukur pada Tuhan karena “persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini. Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus (Fil. 1:5-6).” Sungguh melegakan karena Alkitab ternyata mengerti kebutuhan kita yang selalu membutuhkan bantuan untuk menjalankan peran kita. Selain kekuatan, persekutuan juga memerlukan semangat yang benar. Hal itu tidak bisa dijalankan bila saya merasa terpaksa membawa masuk Tuhan dalam kerja saya. Anda bisa beranggapan bahwa Tuhan memunyai suatu pekerjaan untuk Anda lakukan bersama-sama di tempat kerja Anda; namun terkadang Anda tidak selalu menjadi rekan yang mau bekerja dengan-Nya.

Murid-murid Allah

Karakter orang Kristen sesungguhnya adalah sebagai murid. Ini merupakan tujuan hidup — berdasar sikap rendah hati yang rindu untuk mengenal dengan lebih dalam tentang orang yang diikutinya. Bagi sebagian besar dari kita, kerja bisa menjadi lingkungan yang keras — serta merupakan tempat di mana kita semua melakukan kesalahan. Aturan pertama untuk semua murid adalah mengakui bahwa orang lain mungkin benar dan dia bisa saja salah. Perkataan spontan, situasi yang tak terduga, rekan kerja yang tidak mau menolong adalah beberapa hal yang bisa menyebabkan perilaku kita tidak mencerminkan Kristus. Kita perlu ingat bahwa apa yang sedang kita pelajari adalah tentang kebesaran dan kemampuan Tuhan dalam mengatasi setiap tantangan-tantangan hidup kita. Orang lain perlu (beberapa orang ingin) untuk belajar dari kita. Banyak orang tidak membaca Alkitab. Dalam kehidupan kerja kita, kita tidak selalu mendengarnya dalam perkataan yang ditujukan untuk Filipus, “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus” (Yoh. 12:21). Para pencari kebenaran dari Yunani ini menggambarkan kehausan akan Tuhan yang tidak selalu dimiliki sesama kita. “Permintaan” itu terkadang tidak diekspresikan; situasi kantor biasa-biasa saja, terkadang muncul pertanyaan yang sinis dan mencemooh, ada juga kata-kata celaan. Namun pada kenyataannya, orang-orang memang mencari fakta dari pembelajaran dan kepengikutan kita akan Tuhan. Apa yang mereka lihat? Jika mereka mencatat di buku harian, apakah yang akan mereka tulis tentang “kehidupan seorang Kristen”?

Tantangan

Bahasan dalam artikel ini meliputi beberapa materi yang agak pribadi mengenai keinginan Tuhan, sikap kita, dan pekerjaan kita. Luangkanlah beberapa menit untuk merenungkan hal-hal berikut.

  1. Tentukan apa yang menurut Anda istimewa bagi Tuhan mengenai peran Anda dalam pekerjaan Anda saat ini. Sangat penting untuk menentukan sikap itu sekarang karena sikap inilah yang akan mempengaruhi hidup Anda selanjutnya.
  2. Selama beberapa tahun terakhir ini, apakah pekerjaan Anda lebih memberi pengaruh kepada diri Anda daripada Tuhan? Atau apakah Anda merasa bahwa Tuhan ikut bekerja sehingga Anda mampu mengatasi beragam sikap yang ada dalam lingkungan kerja Anda?
  3. Bagaimana Anda mengaitkan pekerjaan Anda yang sekarang ini sebagai “penyembahan”? Bandingkan dengan bagaimana Anda mempersiapkan dan keterlibatan Anda dalam penyembahan, dampaknya terhadap Anda, sikap Anda saat menyembah, seberapa fokus Anda, dsb..
  4. Bagaimana Anda bisa lebih memuliakan Tuhan melalui pekerjaan Anda? Atau apakah yang harus Anda mulai ubah agar Anda dapat lebih memuliakan-Nya?
  5. Saat Anda merenungkan tentang bait Allah, persekutuan, dan pemuridan, pikirkanlah mana yang paling relevan untuk Anda kaitkan dengan pekerjaan Anda?
  6. Satu kesimpulan yang bisa diambil oleh seorang Kristen dari bahasan di atas adalah: “Saya bekerja untuk Tuhan”. Bisakah Anda mengatakan kalimat itu? (t/Lanny dan Dian)

Tambahan Catatan Kaki

[1] Mark Greene, `Thank God It`s Monday; Ministry in the Workplace (London: Scripture Union, 1994), hal. 36.

[2] William Barclay, The Plain Man Looks at the Lord`s Prayer (London: Collins, 1964.

[3] John Stott, The Incomparable Christ (Leicester: IVP, 2001), hal 96-97.

Diterjemahkan dari:

Judul buku : God`s Payroll: Whose Work is It anyway?
Judul bab : The Importance of Your Work in God`s Eyes.
Penulis : Neil Hood
Penerbit : Bell and Bain Ltd, Glasgow 2003
Halaman : 17 — 26

Tak Ada Kebangunan Rohani Tanpa Reformasi

Pada saat orang-orang Kristen membicarakan hal-hal rohani, bisa dipastikan akan muncul sebuah frasa yang akan diucapkan berulang kali, yaitu “kebangunan rohani”.

Melalui khotbah, pujian, dan doa, kita seakan-akan mengingatkan Tuhan dan orang lain bahwa yang harus kita lakukan untuk memecahkan semua masalah kerohanian kita adalah dengan mengadakan “kebangunan rohani yang dahsyat”. Media-media rohani pun secara luas mengatakan bahwa kebangunan rohani besar adalah sebuah kebutuhan terbesar saat ini. Sementara itu, para penulis Kristen yang menuliskan apa pun tentang kebangunan rohani bisa dipastikan akan dengan mudah mendapatkan editor yang dengan senang hati mau menerbitkan tulisan mereka.

Akibat gencarnya isu kebangunan rohani ini, hampir tidak ada orang yang berani mengungkapkan pendapat yang berseberangan dengan masalah ini, meski bisa saja kebenaran justru terletak di arah yang berseberangan itu. Kini, popularitas agama telah menyamai filsafat, politik, dan mode pakaian wanita. Sepanjang sejarah, agama-agama besar di dunia telah mengalami masa-masa kemunduran dan juga kebangkitan kembali, yang secara sembrono disebut oleh para pengamat sebagai kebangunan rohani.

Kita tidak bisa mengesampingkan fakta bahwa beberapa wilayah non- Kristen sekarang ini juga sedang menikmati kebangunan rohani. Laporan terakhir dari Jepang memberitakan kejayaan kembali agama Shinto setelah sempat mengalami kemunduran akibat Perang Dunia II. Di Amerika sendiri, agama Katholik Roma, sebagaimana aliran Protestan Liberal, telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Akhirnya, keseluruhan fenomena ini mungkin bisa disebut sebagai kebangunan rohani mendunia, meskipun hal ini dikatakan tanpa melihat apakah ada peningkatan standar moral dari para pengikutnya.

Agama apa pun, termasuk Kristen, dapat mengalami ledakan rohani yang besar tanpa campur tangan Roh Kudus. Namun, jumlah generasi yang menjauhi gereja ternyata juga lebih meningkat dibanding sebelum ledakan tersebut. Saya percaya bahwa kebutuhan yang paling mendesak saat ini bukan sekadar kebangunan rohani. Harus ada perubahan radikal pada akar moralitas dan penyakit-penyakit rohani lainnya; harus lebih diarahkan untuk mencari penyebabnya daripada konsekuensinya; pada penyakit itu sendiri daripada hanya sekadar gejala-gejalanya.

Saat ini, saya malah berpendapat bahwa kita sebenarnya tidak menginginkan kebangunan rohani sama sekali. Barangkali, kebangunan rohani Kristen yang terjadi secara meluas sekarang ini malah akan membuktikan telah terjadinya tragedi moral yang tidak akan dapat diperbaiki dalam seratus tahun ke depan.

Saya akan memaparkan sejumlah alasan mengenai hal ini. Satu generasi yang lalu, sebagai reaksi atas “kritik tinggi” (higher criticism) dan penerusnya, yakni modernisme, muncul gerakan yang kuat untuk memertahankan iman Kristen yang sesuai dengan sejarah dari kelompok Protestan. Untuk alasan yang jelas, gerakan ini lalu dikenal sebagai “fundamentalisme”. Gerakan ini kurang lebih muncul secara spontan tanpa organisasi yang rapi, namun di mana pun gerakan ini muncul, tujuannya sama, yaitu menahan “bertambahnya gelombang penyangkalan” terhadap teologi Kristen sekaligus menyatakan kembali dan memertahankan doktrin-doktrin dasar kekristenan Perjanjian Baru. Sejauh ini, semua itu hanya tinggal sejarah.

KORBAN YANG JATUH DARI KEBIJAKAN ITU

Fundamentalisme, sebagaimana tersebar di berbagai denominasi dan non- denominasi, telah menjatuhkan banyak korban sebagai akibat kebijakannya sendiri. Firman itu akhirnya mati di tangan sahabatnya sendiri. Inspirasi Alkitab secara lisan (doktrin yang selalu dan selamanya saya pegang) misalnya, akan menjadi kaku. Suara para nabi dibungkam dan para penafsir Alkitab akan menguasai pikiran iman kita. Dalam lingkup yang lebih besar, imajinasi rohani akan memudar. Kekuasaan tak resmi yang akan memutuskan apa yang harus dipercayai umat Kristen; bukan Alkitab, melainkan tafsiran Alkitablah yang akan menjadi sumber pengajaran. Kampus-kampus Kristen, seminari-seminari, sekolah-sekolah Alkitab, pertemuan-pertemuan Alkitab, dan para pengamat Alkitab populer, semuanya bergabung untuk mempromosikan budaya tekstual, penemuan sebuah sistem yang secara ekstrim memberikan dispensasi dengan membebaskan orang Kristen dari keharusan bertobat, taat, dan kewajiban memikul salib, lebih dari hal-hal formal lainnya. Keseluruhan bagian Perjanjian Baru diambil dari gereja dan diatur sedemikian rupa melalui sebuah sistem yang kaku dalam “pemisahan firman kebenaran”.

Semuanya ini telah mengakibatkan mentalitas rohani yang membahayakan kebenaran Kristus yang sejati. Ada sejenis awan dingin yang menaungi fundamentalisme. Wilayah di bawahnya sudah cukup dikenal, yaitu Perjanjian Baru. Doktrin dasar kekristenan memang ada di situ, hanya saja iklimnya tidak mendukung munculnya buah Roh yang manis.

Situasi yang berbeda dialami oleh gereja mula-mula yang mengalami penderitaan. Saat itu, mereka tetap bernyanyi dan menyembah Tuhan. Meskipun doktrin-doktrinnya terdengar hebat, pengajaran yang benar tidak pernah diizinkan untuk bertumbuh. Suara sang merpati jarang terdengar di wilayah itu; hanya seekor kakaktua yang terlihat menghinggapi pijakan imitasi dan mengulangi apa yang diajarkan padanya, sedangkan suaranya sangat parau dan tanpa perasaan. Iman — doktrin yang paling penting dan berkuasa di mulut para rasul — telah kehilangan kuasanya ketika para penafsir Alkitab menyampaikannya. Ketika kata-kata dan teks diagung-agungkan, Roh akan pergi dan tekstualisme menjadi raja. Inilah masa di mana orang-orang percaya terperangkap dalam zaman Kerajaan Babel.

Saya hanya menyampaikan kondisi yang umumnya terjadi. Tentunya ada beberapa orang yang merindukan teolog yang lebih baik dari para pengajar mereka saat ini. Kerinduan ini akhirnya akan mengarah pada sebuah kekuatan besar yang tak dapat dimengerti oleh yang lain. Namun, akibat jumlah yang tak banyak, perbedaan-perbedaan itu akan terlalu besar; mereka tidak dapat menghalau awan yang menaungi wilayah itu.

Kesalahan tekstualisme bukan terletak pada doktrinnya. Kesalahannya jauh lebih halus dan lebih sulit ditemukan. Namun, dampaknya sama-sama fatal. Bukan kepercayaan teologis mereka yang salah, melainkan penafsirannya.

Wujud penafsiran mereka misalnya seperti ini, jika kita memiliki firman tentang sesuatu, sesuatu itu adalah milik kita. Jika suatu hal itu ada di dalam Alkitab, hal itu ada di dalam kita. Jika memiliki doktrinnya, kita juga memunyai pengalamannya. Jadi, sesuatu yang benar tentang Paulus adalah kebenaran kita juga karena kita telah menerima surat-surat Paulus sebagai inspirasi ilahi kita. Alkitab berbicara mengenai bagaimana kita bisa diselamatkan, namun tekstualisme lebih lanjut mengatakan bahwa kita telah diselamatkan, suatu hal yang tidak dapat terjadi secara alamiah. Dengan demikian, kepastian akan keselamatan pribadi tidak lebih dari sekadar kesimpulan logika pikiran yang didapat dari premis-premis doktrin tersebut, dan kesimpulan pengalamannya hanya bersifat rasio.

MEMBERONTAK DARI KEDIKTATORAN PIKIRAN

Kemudian pemberontakan pun muncul. Pikiran manusia hanya dapat bertahan dengan tekstualisme sejauh belum ditemukannya sebuah jalan keluar. Secara perlahan dan tanpa disadari, para pendukung fundamentalisme pun bereaksi; bukan berdasarkan pengajaran alkitabiah, melainkan atas kediktatoran pikiran para penafsir Alkitab. Atas kecerobohan dalam membenamkan orang-orang ini, mereka memerjuangkan hak untuk bernapas dan menyerang secara membabi buta demi kebebasan yang lebih besar dan tuntutan alamiah atas kepuasan emosional mereka yang selama ini diabaikan oleh para guru mereka.

Akibat dari apa yang telah terjadi selama dua puluh tahun belakangan ini adalah kerusakan moral rohani yang susah dicari bandingannya sejak bangsa Israel menyembah anak lembu emas. Tentang kita, Alkitab mungkin secara jujur telah mengatakan bahwa kita “duduk, makan, minum, dan tumbuh untuk bermain”. Garis pemisah antara gereja dan dunia telah dihapuskan.

Terpisah dari beberapa dosa besar, dosa-dosa dunia yang belum diubahkan ini sekarang malah disetujui oleh mereka yang mengaku diri sebagai orang Kristen “lahir baru” dengan jumlah yang mengejutkan dan diikuti yang lainnya secara terang-terangan. Para anak muda Kristen menyanjung dan menjadikan nilai-nilai duniawi sebagai patokan mereka, serta sebisa mungkin meniru mereka. Para pemimpin rohani telah menerapkan cara-cara ahli periklanan. Tindakan seperti menyombongkan diri, mengejek, dan suka membesar-besarkan sesuatu tanpa malu-malu, sekarang telah dipandang sebagai suatu cara yang biasa dalam pelayanan gereja. Ukuran moral bukan lagi didapat dari Perjanjian Baru, melainkan dari Hollywood atau Broadway.

Kebanyakan penginjil tidak lagi suka berinisiatif. Mereka hanya suka meniru dunia ini. Iman suci atas Bapa kita di berbagai tempat telah dipakai sebagai sarana hiburan. Namun, kenyataan yang lebih mengerikan adalah bahwa semua ini telah dikonsumsi oleh masyarakat atas prakarsa mereka yang ada di atas.

Surat protes, yang dimulai dengan Perjanjian Baru yang selalu terdengar paling keras pada masa gereja menjadi paling berkuasa, berhasil dibungkam. Unsur keradikalan dalam bersaksi dan dalam kehidupan yang dulu pernah membuat orang Kristen dibenci oleh dunia, telah menghilang dari penginjilan masa kini. Orang Kristen yang pernah menjadi begitu revolusioner — dalam hal moral, bukan politik — kini telah kehilangan sifat tersebut. Kini, menjadi orang Kristen bukan lagi suatu hal yang berbahaya dan perlu pengorbanan. Kini, anugerah telah menjadi hal yang murahan. Saat ini, kita sudah terlampau sibuk untuk membuktikan kepada dunia bahwa kita dapat memeroleh keuntungan Injil tanpa harus mengalami ketidaknyamanan hidup. Ini semuanya adalah Kerajaan Allah juga.

Meski tidak terjadi di seluruh dunia, penggambaran orang Kristen modern ini memang terjadi pada mayoritas kekristenan pada masa kini. Karena alasan ini, sejumlah orang percaya beranggapan bahwa tidak ada gunanya memohon kepada Tuhan selama berjam-jam untuk mengirimkan kebangunan rohani; kecuali kita juga hendak mengubah kebiasaan kita sehingga tidak perlu berdoa. Kebangunan rohani sejati tidak akan ada kecuali para pendoa telah memiliki kemampuan dan iman untuk mengubah cara hidup mereka sesuai dengan patokan Perjanjian Baru.

KETIKA BERDOA ITU SALAH

Terkadang berdoa bukan hanya tidak berguna, melainkan salah. Kita dapat melihat Israel sebagai contohnya. Saat Israel dikalahkan di Ai, Yosua mengoyakkan pakaiannya lalu menelungkupkan wajahnya ke tanah di depan tabut Tuhan sampai matahari terbenam; dia dan para tua-tua Israel menaburkan abu di atas kepala mereka.

Mengenai kebangunan rohani, filsafat modern kita beranggapan bahwa itulah yang harus dilakukan. Jika dilakukan cukup lama, mungkin hal itu akan menggerakkan hati Tuhan sehingga Ia menurunkan berkat-Nya. Namun, Tuhan berkata kepada Yosua:

“Bangkitlah engkau; mengapa engkau menelungkupkan wajahmu ke tanah? Israel telah berdosa dan mereka telah melanggar perintah-Ku. Bangunlah, kuduskanlah bangsa itu dan katakan: Kuduskanlah dirimu untuk esok hari, sebab, demikianlah firman TUHAN, Allah Israel: Hai, orang Israel ada barang-barang yang dikhususkan di tengah-tengahmu; kamu tidak akan dapat bertahan menghadapi musuhmu sebelum barang-barang yang dikhususkan itu kamu jauhkan dari tengah-tengah kamu.”

Gereja harus melakukan perubahan. Tindakan memohon berkat oleh mereka yang masih menjalankan kehidupan lama serta gereja yang tidak setia, hanya menjadi usaha yang membuang-buang waktu. Gelombang ketertarikan orang akan agama pun hanya akan menambah jumlah gereja yang tidak berpusat pada Yesus sebagai Tuhan dan melaksanakan perintah-Nya dengan taat. Tuhan tidak tertarik akan bertambahnya jumlah pengunjung gereja, kecuali mereka memperbaharui cara hidup mereka dan memulai cara hidup yang kudus.

Berkaitan dengan hal tersebut, Tuhan pernah menyampaikan firman berikut ini melalui Nabi Yesaya.

“Untuk apa korban-korbanmu itu? firman TUHAN; Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu yang gemuk; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai. Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku? Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sepenuh hati, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan …. Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda! … Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil yang baik dari negeri itu.”

Doa bagi kebangunan rohani akan berhasil jika didahului oleh perubahan hidup yang radikal, bukan sebaliknya. Acara doa semalam suntuk yang tidak dilakukan oleh mereka yang benar-benar telah bertobat, bisa jadi malah akan membuat Tuhan tak berkenan. “Ketaatan lebih baik daripada persembahan”.

Kita harus kembali pada kekristenan Perjanjian Baru, bukan hanya dalam hal doktrin, melainkan seluruh tata cara hidup. Ketidakserupaan dengan dunia, ketaatan, kerendahan hati, kesederhanaan, perhatian, penguasaan diri, kesopanan, memikul salib, semuanya harus diperlakukan sebagai bagian kehidupan dari konsep kekristenan yang sejati dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus membersihkan Bait Allah dari para pedagang dan penukar uang dan kembali kepada kepemimpinan Tuhan kita yang telah bangkit. Dan ini juga berlaku bagi saya sendiri sebagai penulis sebagaimana untuk semua orang yang ada dalam nama Yesus. Setelah itu, kita pun akan dapat berdoa dengan yakin dan mengharapkan datangnya kebangunan rohani yang sejati. (t/Ary)

Sumber:

Diterjemahkan dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Keys to the Deeper Life
Judul asli artikel : Leaning into the Wind
Penulis : A.W. Tozer
Penerbit : Zondervan Publishing House, Michigan 1988
Halaman : 17 — 25

melayani Tuhan apakah seperti berkarier?

Cara kita memandang tugas dapat mengubah apa yang ada dalam dunia — dan juga gereja.

Saya sering dipusingkan dengan hal yang kita sebut sebagai “panggilan”. Apa itu panggilan? Bagaimana cara Saudara mengetahui datangnya panggilan itu?

Banyak yang tidak saya ketahui. Namun, satu hal yang benar-benar bisa saya jelaskan ialah bahwa panggilan bukanlah karier. Ada perbedaan mendasar di antara kedua hal ini. Penting bagi kita untuk mengerti apa itu panggilan Allah, khususnya pada saat ini.

Kata “karier” itu sendiri sudah mengacu kepada pembedaan tersebut. Kata bahasa Inggris, “career”, berasal dari bahasa Perancis, “carriere”, yang berarti suatu jalan atau suatu “highway”. Gambaran ini menyiratkan adanya satu tujuan dan peta jalan yang ada dalam genggaman, tujuan di depan mata, tempat-tempat berhenti untuk makan, penginapan, dan tempat pengisian bahan bakar.

Dari gambaran sebelumnya, kita bisa menyebutkan bahwa karier seseorang ibarat sebuah jalan yang telah dia ambil. Semakin sering membicarakannya, semakin kita melihat jalur ke depan yang diambil dan direncanakan untuk kita lalui secara profesional. Ibarat suatu jalan yang peta dan rencananya telah dibuat, mencapai tujuan menjadi hal yang terutama. Jalannya telah ditandai dengan baik. Selanjutnya terserah kepada orang yang akan melakukan perjalanan tersebut.

Tidak seperti karier, panggilan sama sekali tidak dipetakan. Tidak satu jalur pun yang akan diikuti. Tidak ada tujuan yang dapat dilihat. Panggilan lebih bersandar kepada mendengarkan “suara”. Organ iman untuk panggilan adalah telinga, bukan mata. Yang pertama dan terakhir, itulah sesuatu yang perlu didengarkan oleh seseorang. Segala sesuatu hanya bersandar pada hubungan yang ada antara pendengar dan Dia yang memanggilnya.

Bila karier berarti membuat sebuah formula dan cetak biru (blue print), suatu panggilan hanya bertujuan untuk membina hubungan. Suatu karier bisa didapat hanya dengan memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, sedangkan panggilan tidak.

Ketika Musa mendengar Allah memanggilnya untuk membebaskan para budak di Mesir, tanggapan pertamanya adalah seolah-olah ia muncul dengan keputusan yang bersifat karier. Apakah dia memenuhi syarat? Apakah dia memunyai pengalaman cukup dan kemampuan khusus yang diperlukan untuk tugas semacam itu? Dia berbicara dengan Allah yang sepertinya sedang mengadakan wawancara untuk suatu pekerjaan. Siapakah saya yang melakukan pekerjaan semacam ini? Bagaimana jadinya kalau rakyat tidak mau menurut? Dan apakah Allah tidak tahu kalau Musa bukanlah orang yang pintar berbicara di muka umum?

Semua hal tersebut tidak relevan bagi Allah. Selanjutnya, yang terjadi adalah Musa yakin bahwa Allah dapat dipercayai sehingga ia pun berkata, “Aku akan mengikuti-Mu.”

Pendeknya, yang menjadi perhatian adalah panggilan tersebut — dan Musa pun mengikatkan dirinya pada Dia yang menyerukan panggilan itu.

BAHAYA SEORANG PROFESIONAL

Jika kita memandang panggilan kita sebagai suatu karier, kita merendahkan pelayan-pelayan Yesus sebagai seorang makhluk hambar yang disebut “kaum profesional”. Berpakaian baik, berbicara dengan baik, dilengkapi dengan kepandaian, mengerti kepemimpinan, pintar dalam manajemen, dan belajar mengenai seluk-beluk pemasaran — tentu saja semua itu baik kalau dipergunakan bagi sebuah pekerjaan. Kita ingin membuat tanda pada dunia, sedikit memberi respek pada para profesional, dan untuk selamanya memancarkan citra seperti Pendeta Rodley Dangerfield.

Dengan perasaan yang realistis, kaum profesional berharap agar gereja memperlakukan mereka sebagai seorang profesional sehingga untuk berhubungan, diadakan perundingan tentang gaji dan keuntungan- keuntungan yang akan didapat.

Sungguh suatu hal yang mengerikan ketika kita mendapati seorang rohaniwan yang akan memakai kepandaian dan kecanggihannya, berdagang misalnya, guna meningkatkan pendapatan secara luar biasa. Gereja- gereja mungkin akan bertumbuh — dan rohaniwan melakukannya tanpa bersandar pada sesuatu pun.

“Allah memerdekakan kita dari mereka yang memakai sikap profesional,” kata Pendeta John Piper dari Minneapolis. Dengan mengikuti gema suara Paulus, dia bertanya, “Apakah Allah membuat hamba-hamba Tuhan menjadi yang terakhir dalam keseluruhan ciptaan dunia-Nya ini? Demi Kristus kita adalah orang-orang bodoh yang lemah. Menjadi seorang profesional memang bijaksana. Mereka yang profesional memang diangkat dengan kehormatan …. Namun, profesionalisme tidak ada hubungannya dengan inti dan hati pelayanan Kristen karena tidak ada seorang profesional yang seperti anak kecil. Tidak ada seorang profesional yang lemah lembut. Tidak ada seorang profesional yang mencari pertolongan kepada Allah.” Bagaimana cara Saudara membawa salib secara profesional? Apakah arti beriman secara profesional itu?

Karierisme telah mendorong adanya pemisahan antara Allah yang memanggil dan individu yang menjawab-Nya. Hal itu mengarahkan kita untuk percaya bahwa penampilan lebih penting daripada diri kita sehingga apa yang kita lakukan dalam lingkungan gereja tak ubahnya dengan pertemuan antara pembeli dan penjual (tempat seperti itu disebut pasar), di mana suasana lebih penting dibandingkan posisi kita di hadapan Allah.

Karierisme akan memberikan rasa percaya diri pada kita. Padahal dalam melakukan panggilan, kita perlu gemetar dan berseru untuk pengampunan. Hal seperti itu tidak ada dalam silabus para profesional, padahal Paulus sendiri datang ke Kota Korintus dalam kelemahan dan kebodohan. Demikian pula Yeremia yang menelan firman Allah dan dari situ dia hanya mengecap rasa yang tidak enak. Atau pada Yesus yang mengakhiri hidupnya di depan umum di atas kayu salib.

PANGGILAN ADALAH SESUATU YANG KITA DENGAR

Sebenarnya dalam cerita rakyat tentang seorang ayah dan anak laki- lakinya, digambarkan hal yang penting mengenai panggilan. Mereka melakukan perjalanan ke suatu kota yang jauh, sedangkan mereka tidak memunyai peta. Perjalanan itu sangatlah panjang, tidak mulus, dan penuh dengan bahaya. Mereka menempuh banyak jalan yang tidak bisa mereka kenali dan sudah tidak berupa jalan lagi.

Di tengah perjalanan, anak laki-lakinya bertanya-tanya. Dia ingin mengetahui apa gerangan yang ada di balik hutan, jauh di seberang tepian? Bisakah dia melintasi dan melihatnya? Ayahnya pun mengizinkannya.

“Tetapi, Ayah, bagaimanakah caranya supaya saya tahu kalau-kalau saya telah berjalan terlalu jauh dari engkau? Bagaimanakah caranya supaya saya jangan sampai tersesat?”

“Setiap menit,” kata sang ayah, “saya akan memanggil namamu dan menunggu jawabanmu. Dengarkanlah suaraku, anakku. Di saat engkau tidak bisa lagi mendengar suara ayah, engkau akan tahu bahwa engkau telah pergi terlalu jauh.”

Pelayanan bukanlah suatu kedudukan, melainkan suatu panggilan. Bukan ijazah profesional yang diperlukan, melainkan kemampuan mendengar dan memerhatikan panggilan Allah. Cara yang sederhana ialah dengan cukup menyempatkan diri untuk mendekat dan mendengar suara-Nya. Keteguhan dalam melaksanakan tugas-tugas kita yang tidak terpikul hanya bisa diperoleh karena uluran tangan-Nya yang tidak pernah berakhir.

PANGGILAN AKAN TETAP KUAT

Bersatu dalam panggilan Allah merupakan sesuatu yang kejam yang tidak bisa dibantah. Dia memanggil, tetapi Dia tidak bisa dipanggil. Hanya Dialah yang melakukan panggilan itu, sedangkan kitalah yang menjawabnya.

“Engkau tidak memilih-Ku; Akulah yang memilih kamu,” kata Yesus kepada murid-murid-Nya. Panggilan Allah ini selalu mengandung paksaan. Bahkan sering terkesan kejam.

Setelah pukulan yang membutakan di jalanan menuju Damaskus, akhirnya Paulus berkata dengan jelas, “Celakalah aku ini jika tidak mengkhotbahkan Injil!” Yeremia meratap bahwa Allah telah memaksakan panggilan yang dia terima dan tidak pernah membiarkannya untuk ingkar, tidak peduli seberapa parah luka yang terjadi, “Jika aku bisa berkata, `Aku tidak akan menyebutkan-Nya atau berbicara lagi dalam nama-Nya,` kata-kata-Nya seperti api dalam hatiku, api yang berada dalam tulang- tulangku. Aku lelah membawa-Nya; sesungguhnya aku tidak mampu.”

Spurgeon melihat penawaran secara ilahi ini sebagai tanda yang jelas dari suatu panggilan sehingga dia menasihati orang muda untuk memertimbangkan hal ini dan tidak mengambil jalur pelayanan jika mereka merasa bisa melakukan hal yang lain.

Berkali-kali kami berusaha untuk menyederhanakan panggilan itu dengan menyamakannya dengan sebuah posisi staf gereja atau dalam organisasi keagamaan. Tetapi panggilan itu selalu mengalahkan segala sesuatu yang kami lakukan dengan terpaksa untuk mendapatkan uang. Bahkan jika perlu, kami juga melakukan itu di dalam gereja. Kami meminta pembedaan yang sama untuk dicatat dalam permohonan yang dimintakan pada kami. Panggilan kami di dalam Kristus adalah satu hal, sedangkan apa yang kami lakukan dalam kedudukan adalah hal yang lain.

Panggilan kami adalah panggilan untuk melayani Kristus. Sementara itu, kami juga memiliki kedudukan untuk melakukan pekerjaan dalam dunia ini. Kami juga memiliki panggilan untuk memaksakan kedudukan pelayanan agar bisa masuk ke dalam panggilan kami. Berbahagialah laki-laki atau perempuan yang panggilan dan kedudukannya saling berdekatan. Tetapi tidak akan ada bencana jika mereka tidak melakukannya.

Jika esok pagi saya dipecat dari pekerjaan saya sebagai hamba Tuhan di New Providence Presbyterian Church, dan saya terpaksa mencari pekerjaan di Stasiun Sunoco, panggilan saya akan tetap melekat. Saya akan tetap terpanggil untuk berkhotbah. Tidak ada yang dapat mengubah panggilan tersebut dengan nyata, kecuali ada situasi yang bisa melarutkan saya. Sebagaimana ditunjukkan oleh Ralph Turnbull, saya bisa berkhotbah seperti hamba Tuhan yang dibayar oleh gereja, tetapi saya tidak dibayar untuk berkhotbah. Saya diberi izin, oleh karena itu saya bisa lebih bebas berkhotbah.

Berkali-kali kami mencoba menyederhanakan panggilan itu dengan menjadikannya sebagai seorang rohaniwan. Pendidikan seminari (teologi) tidaklah membuat seseorang memenuhi syarat untuk ditahbiskan menjadi pendeta, tidak juga dengan bertambahnya penguatan oleh tes-tes psikologis dan pengalaman kerja. Tentu saja hal-hal itu bisa berharga, bahkan perlu bagi pelayanan. Tetapi tidak satu pun dari persyaratan itu, baik secara terpisah atau pun seluruhnya, bisa memenuhi syarat.

Tidak ada kantor atau posisi yang bisa disamakan dengan panggilan. Tidak pula ijazah, pendidikan, atau juga tes yang bisa memermudahnya. Pelatihan, pengalaman, atau pun sukses dalam hal kegerejaan tidak akan bisa mengambil alih sebuah panggilan.

“Patterson, coba pikirkanlah apa yang sedang Anda lakukan saat ini?” Jawaban saya adalah mencoba untuk mengikuti panggilan tersebut.

Hanya panggilan yang bisa memberi kepuasan. Yang lain hanya sekadar catatan kaki dan komentar.

Catatan:

Ben Patterson adalah pendeta New Providence (New Jersey) Presbyterian Church.

MENEMUKAN PANGGILAN HIDUP PADA MOBILITAS YANG MENURUN

Dulu saya menyenangkan hati ayah dan ibu sebaik mungkin dengan belajar, lalu mengajar dan menjadi terkenal. Dengan pergi ke Notre Dame, Yale, dan Harvard, saya menyenangkan hati banyak orang dan hal itu juga menggembirakan saya sendiri.

Tetapi saya bertanya-tanya, apakah masih ada panggilan lain dalam hidup saya. Saya mulai memerhatikan hal ini pada saat menemukan diri saya sedang berbicara kepada ribuan orang mengenai kemanusiaan dan pada saat yang bersamaan saya bertanya apakah yang mereka pikirkan tentang hidup saya.

Sesungguhnya saya tidak merasakan damai sejahtera, saya kesepian. Saya tidak tahu menjadi bagian dari siapa. Di mimbar, saya bisa berbicara dengan baik sekali, tetapi hati saya tidaklah selalu demikian. Timbul keragu-raguan, apakah karier saya ini tidak sesuai dengan panggilan saya yang sesungguhnya.

Maka saya mulai berdoa, “Tuhan Yesus, biarlah saya mengetahui ke mana Engkau mengutus saya untuk pergi dan saya akan mengikuti-Mu. Tetapi buatlah agar terlihat jelas. Jangan berupa pesan-pesan yang membingungkan saja!” Saya mendoakan hal ini terus-menerus.

Pada saat itu saya tinggal di Yale. Pada pagi hari pukul 09.00, seseorang menekan bel apartemen saya. Ketika membuka pintu, saya berhadapan dengan seorang perempuan muda.

“Apakah Anda Henri Nouwen?”

“Ya.”

“Saya datang membawa salam dari Jean Vanier,” katanya. Pada saat itu nama Jean Vanier tidaklah berkesan di hati saya. Saya hanya mendengar bahwa dia adalah pendiri L`Arche Communities (L`Arche artinya Bahtera Nuh) dan ia bekerja untuk orang-orang yang menderita cacat mental. Hanya itu saja yang saya ketahui.

Saya berkata, “Oh, menyenangkan. Terima kasih. Apa yang bisa saya lakukan buat Anda?”

“Tidak, tidak,” jawabnya. “Saya datang untuk menyampaikan salam Jean Vanier.”

Saya berkata lagi, “Terima kasih. Tapi apakah ia menginginkan agar saya berbicara di suatu tempat atau menulis sesuatu atau memberikan kuliah?”

“Tidak, tidak,” dia tetap bertahan, “saya hanya datang untuk memberitahukan bahwa Jean Vanier mengirimkan salam buat Anda.”

Ketika wanita itu sudah pergi, saya duduk di kursi dan berpikir, ini sesuatu yang khusus. Bisa jadi Allah sedang menjawab doa saya, membawa suatu pesan dan memanggil saya untuk sesuatu yang baru. Saya tidak diminta untuk mendapatkan pekerjaan baru atau mengerjakan proyek yang lain. Saya tidak diminta agar berguna bagi orang lain. Tetapi cuma diundang untuk mengetahui bahwa ada manusia lain yang pernah mendengar tentang saya.

Hal itu terjadi kira-kira tiga tahun sebelum saya benar-benar bertemu dengan Jean. Kami bertemu dalam suasana yang tenang pada suatu retret di mana tidak satu patah kata pun yang terucap. Dan pada akhirnya Jean berkata, “Henri, mungkin kami — masyarakat orang cacat — dapat menawarkan rumah, tempat di mana Anda dapat merasa aman, di mana Anda dapat bertemu dengan Allah dengan cara yang benar-benar baru.”

Dia tidak meminta saya agar lebih berguna; dia tidak menyuruh saya agar bekerja untuk orang-orang cacat; dia tidak mengatakan bahwa dia membutuhkan hamba Tuhan yang lain. Dia hanya mengatakan, “Mungkin kami dapat menawari Anda sebuah rumah.”

Sedikit demi sedikit, saya mulai menyadari kalau saya menjawab panggilan itu secara serius. Saya tinggalkan universitas dan pergi ke L`Arche Community di Trosly Brevil, Perancis. Setelah setahun tinggal dengan para penderita cacat mental dan para perawat yang hidup dengan semangat “beatitudes”, saya pun menjawab panggilan untuk menjadi hamba Tuhan di Daybreak, di L`Arche Community dekat Toronto, sebuah komunitas yang beranggotakan sekitar seratus orang dengan lima puluh orang cacat dan lima puluh orang asisten perawatnya.

Tugas pertama yang dipercayakan kepada saya adalah bekerja melayani Adam. (Dari semua nama yang ada, Adam yang diberikan kepada saya! Kedengarannya seperti bekerja untuk kemanusiaan itu sendiri.) Adam, pria berusia 24 tahun yang tidak bisa berbicara. Dia tidak bisa berjalan. Dia tidak dapat mengenakan atau pun menanggalkan pakaiannya sendiri. Anda tidak yakin apakah dia mengenali Anda atau tidak. Tubuhnya cacat, punggungnya rusak, dan dia menderita karena sering terserang epilepsi.

Pada mulanya saya takut terhadap Adam. “Jangan kuatir,” demikian mereka meyakinkan saya.

Saya seorang profesor dari suatu universitas. Saya belum pernah menyentuh seseorang begitu dekat. Dan kini Adam, saya memeluk dia.

Pada jam tujuh pagi, saya pergi ke kamarnya. Saya menanggalkan pakaiannya, menolong dia berdiri, dan memapahnya dengan hati-hati ke kamar mandi. Saya takut karena berpikir bahwa dia bisa terserang epilepsi secara mendadak. Saya berjuang memeras tenaga untuk mengangkatnya ke dalam bak rendam (bathtub) karena berat badannya sama dengan berat badan saya. Saya mulai menyiram air pada tubuhnya dan mengangkatnya keluar dari bak rendam untuk menyikat giginya, menyisir rambutnya, dan mengembalikan dia ke tempat tidurnya. Setelah itu, saya mengenakan bajunya dengan pakaian yang dapat saya temukan dan membawanya ke dapur.

Saya dudukkan dia di depan meja dan mulai memberinya sarapan. Satu- satunya pekerjaan yang dapat dilakukannya adalah mengangkat sendok ke mulutnya. Saya duduk dan melihat dia makan. Memakan waktu satu jam. Saya belum pernah bersama dengan seseorang selama satu jam penuh hanya untuk melihat apakah dia bisa makan.

Kemudian ada suatu kemajuan. Setelah dua minggu, saya tidak terlalu takut lagi. Setelah tiga atau empat minggu, barulah saya menyadari bahwa saya banyak berpikir tentang Adam dan berharap untuk hidup dengan dia. Saya menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi di antara kami — sesuatu yang akrab dan indah dari Allah. Bahkan saya tidak tahu bagaimanakah caranya agar bisa menjelaskannya dengan baik.

Orang yang kurang berarti ini menjadi sarana Allah untuk berbicara kepada saya dengan cara-Nya yang baru. Sedikit demi sedikit, saya menemukan kasih dalam diri saya dan percaya bahwa Adam dan saya saling memiliki. Secara sederhana, Adam mengajar saya tentang kasih Allah secara nyata.

Pertama, dia mengajari saya bahwa hidup adalah lebih penting daripada melakukan sesuatu karena Allah ingin agar saya bersama-Nya dan tidak melakukan segala macam pekerjaan yang tujuannya untuk membuktikan bahwa saya berarti. Hidup saya dulu adalah kerja, kerja, dan kerja.

Saya adalah seorang yang penuh semangat, ingin melakukan ribuan perkara sehingga saya dapat memamerkannya — seperti itulah hingga akhirnya saya rasa saya berarti.

Orang biasa berkata begini, “Henri, Anda baik-baik saja.” Tetapi saat sekarang, di sini dengan Adam, saya mendengar, “Saya tidak peduli dengan apa yang Anda lakukan, asal Anda tetap bersamaku.” Tidaklah mudah tinggal dengan Adam. Tidaklah mudah untuk hidup dengan seseorang yang tidak bisa melakukan banyak hal.

Adam mengajari saya sesuatu yang lain. Hati itu lebih penting daripada pikiran. Kalau Anda lulusan suatu universitas, akan terasa sukar untuk memahaminya. Berpikir logis, berargumentasi, berdiskusi, menulis, bekerja — itulah manusia. Tidakkah Thomas Aquinas mengatakan bahwa manusia adalah hewan yang berpikir?

Memang, Adam tidak berpikir. Tetapi Adam memiliki hati, sungguh- sungguh hati manusia.

Berkenaan dengan itu, saya melihat bahwa apa yang membuat seorang manusia menjadi manusia adalah hati. Hati membuat manusia bisa memberi atau menerima rasa kasih. Adam sedang memberikan kasih Allah yang begitu besar dan saya sedang memberikan kasih saya buat Adam. Ada suatu keakraban yang jauh melampaui perkataan maupun tindakan.

Saya juga menyadari kalau Adam bukan sekadar orang yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri, manusia yang tidak utuh, seperti saya atau pun orang lain. Adam itu sepenuhnya manusia, begitu penuh sehingga dia dipilih Allah untuk menjadi alat bagi kasih-Nya. Adam begitu rapuh, lemah, dan begitu polos sehingga dia menjadi hati saya sendiri — hati di mana Allah ingin bertakhta, di mana Ia ingin berbicara kepada mereka yang datang dengan hati yang rapuh. Adam adalah manusia yang utuh, bukan setengah manusia atau manusia yang tidak lengkap. Saya menemukan Adam sebagai manusia seutuhnya.

Saya pun menjadi mengerti apa yang sudah saya dengar di Amerika Latin, mengapa pilihan khusus Allah diberikan kepada orang miskin. Sungguh, Allah mengasihi mereka yang miskin dan khususnya Ia sangat mengasihi Adam. Dia ingin berdiam dalam diri Adam yang cacat itu sehingga Dia dapat berbicara dari ketidakmampuan ke dalam dunia yang kuat dan memanggil orang-orang untuk menjadi tidak mampu.

Akhirnya, Adam mengajarkan sesuatu yang nyata kepada saya. Melakukan pekerjaan-pekerjaan secara gotong royong itu lebih penting daripada melakukannya sendiri-sendiri. Saya datang dari dunia yang biasa bertindak secara mandiri, tetapi di sini ada Adam yang begitu lemah dan tidak mampu. Saya tidak bisa sendirian menolong Adam. Kami membutuhkan segala macam orang dari Brasil, Amerika Serikat, Kanada dan Belanda — tua muda, hidup bersama di sekitar Adam dan para penderita cacat lainnya di satu rumah.

Saya mengerti bahwa Adam, paling lemah di antara kami, telah membuat lingkungan yang begitu bersifat persaudaraan. Dialah yang mempersatukan kami; kebutuhan-kebutuhannya dan ketidakmampuannya membuat kami ada dalam masyarakat persaudaraan yang murni. Dengan seluruh perbedaan kami, kami tidak dapat bertahan sebagai suatu lingkungan masyarakat yang kompak apabila tidak ada Adam di situ. Kelemahannya menjadi kekuatan kami. Kelemahannya membuat kami ada dalam suatu lingkungan masyarakat yang penuh kasih. Kelemahannya mengundang kami memaafkan satu terhadap yang lain, menyabarkan perbantahan kami, agar bersama dengannya.

Itulah yang saya pelajari. Saya baru ada di Daybreak tiga tahun dan itu tidaklah mudah. Dalam banyak hal, Notre Dame, Yale, dan Harvard lebih mudah. Tetapi inilah panggilan hidup saya. Saya ingin tetap setia.

— Henri Nouwen, Daybreak, Richmond Hill, Ontario

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul jurnal : Kepemimpinan, Volume 18/Tahun V
Penulis : Ben Patterson dan Henri Nouwen
Penerbit : Yayasan ANDI, Yogyakarta 1990
Halaman : 46 — 50 dan 57 — 60

Semangat Reformasi

“Bila kita menimbang dan mencermati dengan hati-hati seluruh perjalanan reformasi ini, kita akan mendapati bahwa Ia telah mengendalikan penuh, melalui metode-metode yang menakjubkan bahkan bertentangan dengan semua yang kita harapkan. Kepada kekuatan inilah, karena itu, yang telah seringkali Ia kedepankan demi kita. Marilah di tengah segala kerumitan pergumulan kita, kita gantungkan diri penuh dan utuh.” (John Calvin)

“Sejauh gereja menyesuaikan diri dengan dunia, dan kedua komunitas itu tampak kepada para pengamat mereka sebagai sekadar dua versi dari satu hal yang sama, gereja tengah menentang jati diri sejatinya. Tidak ada komentar lebih menyakitkan bagi orang Kristen daripada kata-kata. ‘Tetapi Anda tidak beda dari orang lain.'” (John Stott)

Gereja, dan kehidupan Kristen yang tidak terus-menerus mengalami reformasi dapat diumpamakan seperti kehidupan dan alam yang mengalami kemerosotan tanpa peremajaan.

Untuk mempertahankan kehidupan, Allah mengatur agar sel-sel tubuh kita terus-menerus mengalami proses penggantian dan peremajaan. Sel-sel tubuh kita sampai usia tertentu diganti dengan sel-sel baru. Demikian juga dalam alam terjadi hal yang sama. Tanah gersang musim kemarau berganti menjadi tanah subur musim penghujan. Daun-daun tua layu dan rontok, tetapi daun-daun muda bersemi segar menggantikan yang tua dan mati tadi. Apa yang kita saksikan dan alami dalam kehidupan dan alam, tadi adalah lukisan nyata bekerjanya kuasa pembaruan Allah yang beroperasi terus-menerus menopang dan mempertahankan kehidupan. Dia yang menciptakan segala sesuatu terus menopang mempertahankan ciptaan-ciptaan-Nya agar dapat berlangsung terus.

Reformasi pada dasarnya seirama dan seprinsip dengan rehabilitasi, rekonsiliasi, regenerasi yang terjadi dalam alam dan kehidupan. Bila demikian, bolehlah kita katakan bahwa gereja dan orang Kristen yang tidak terus-menerus mengalami reformasi bertentangan dengan kerinduan Allah agar ciptaan-Nya (baik alam maupun Gereja sebagai ciptaan baru) terus diperbarui-Nya. Tidak mengalami reformasi seumpama menggunakan gergaji tua, usang, dan tumpul untuk menggergaji batang kayu yang liat dengan akibat gergajinya yang rompal dan bukan kayunya yang putus.

MENGAPA DIPERLUKAN REFORMASI TERUS-MENERUS?

Di dalam realitas dunia ini, beroperasi dua kekuatan: kekuatan kehidupan dan kekuatan kematian. Kekuatan kematianlah yang menyebabkan sel-sel tubuh kita menua, organisme-organisme mengalami pelapukan dan peluruhan. Secara langsung atau tidak langsung, penyebab penuaan yang menuju kematian pada manusia itu adalah dosa. Andaikata manusia tidak berdosa di dalam Adam, untuk manusia mungkin sekali proses tersebut tidak berakhir di jurang kematian, tetapi ke gelombang-gelombang samudera kematangan dan keindahan hidup.

Kekuatan kehidupan adalah cara Allah untuk mempertahankan kelanggengan ciptaan-Nya. Oleh karena itu, reformasi pada intinya selaras dengan maksud Allah untuk menjaga kelestarian hidup ini.

Mengapa gereja dan kehidupan Kristen harus dan perlu mengalami reformasi terus-menerus? Karena gereja masih dalam dunia yang berdosa dan dosa masih dapat menyusup dalam bentuk struktur dan kehidupan gereja yang tidak selaras dengan dinamika kebenaran firman Allah. Bahaya-bahaya penyimpangan dalam gereja-gereja yang disurati para rasul, baik dalam Perjanjian Baru maupun dalam era selanjutnya terutama dalam era pra reformasi membuktikan perlunya pembaruan terus- menerus.

Selain harus setia memelihara Injil dan bertumpu pada kebenaran firman Allah, gereja dari zaman ke zaman bertugas mengkontekstualkan isi dan penghayatan imannya ke dalam situasi dunianya. Dunia kita kini tidak lagi sama dengan dunia para apologet atau para bapa gereja abad pertengahan, bahkan sudah jauh berbeda dari zaman era reformasi sendiri. Berbagai perumusan teologis yang pernah dibuat para pendahulu kita perlu dikaji ulang sebab perumusan tersebut dibuat agar relevan dengan zaman mereka. Mereka mencoba menyajikan kebenaran firman Allah dalam paradigma yang diambil dari konteks pemahaman zaman itu. Jika kita ingin lebih segar memahami isi iman kita dan lebih mampu mengkomunikasikan apa yang kita imani kepada orang sezaman kita, kita pun perlu menggumuli dan mengungkapkan ulang kebenaran firman yang kekal itu dalam paradigma-paradigma baru yang lebih sesuai dengan zaman ini. Sebagai contoh, menjelaskan kelahiran kembali kepada para cendekiawan zaman ini mungkin lebih tepat menggunakan gambaran “format ulang” dari dunia komputer. Alasan lain mengapa kita perlu menggumuli ulang cara mengungkapkan isi iman kita ialah karena tradisi yang kita pegang kini merupakan warisan teologi Barat. Adalah lebih efektif bila sari kebenaran Ilahi itu coba kita tuangkan dalam pola pikir yang lebih sesuai dengan konteks kita di Indonesia.

APA SAJA YANG PERLU DIREFORMASI?

Semua segi pemahaman iman dan penghayatan kehidupan Kristen kita sehari-hari! PERTAMA, isi iman yang kita pahami haruslah benar-benar bersumberkan Alkitab, bergumul di tengah-tengah konteks kebudayaan dan kebutuhan masyarakat Indonesia masa kini, sehingga isinya sekaligus sinambung dengan tradisi gereja dari abad ke abad, namun kontekstual dan kontemporer.

KEDUA, kita memerlukan kuasa firman yang dihidupkan Roh Kudus agar mampu menghayati iman kita kepada Kristus secara riil, segar, dinamis. Penghayatan iman Kristen kita tidak boleh berpuas diri sebatas penghayatan iman pribadi seperti perihal keselamatan pribadi, tetapi harus mampu mewujudkan dirinya dalam keterlibatan yang nyata di tengah-tengah pergumulan masyarakat Indonesia yang pluralistis masa kini. Dalam garis ini, perlu sekali diperhatikan ketulusan orang-orang Kristen dalam berbangsa dan bernegara sebagai manifestasi pengabdian kita kepada Allah, Tuhan atas sejarah. Juga kebutuhan sangat mendesak masa kini ialah keberanian orang-orang Kristen untuk mempraktikkan kebenaran dan menyuarakan kebenaran seiring dengan menyatakan kesalahan dan konsisten menghindari hal-hal yang tidak etis.

KETIGA, dalam dunia yang sedemikian pesat dibanjiri oleh kemudahan- kemudahan karena teknologi tinggi, ibadah-ibadah kita harus diisi dengan seluruh aspek liturgis yang sejati, segar dan riil. Bila khotbah-khotbah loyo membosankan, bila puji-pujian lesu menjemukan, bila persekutuan semu dan dangkal, akan habislah ibadah kita ditelan imbas banjir alat hiburan yang membanjiri pasar. Untuk itu kita memerlukan keberanian agar tidak kolot mempertahankan pola, bentuk, dan isi liturgi yang tidak lagi menampung kesegaran Injil, kehangatan kasih, kekayaan kreativitas untuk menampung penyampaian uraian firman, puja sembah, dan persekutuan kita satu dengan lain.

INTI SEMANGAT REFORMASI

Jiwa reformasi seperti yang ditemukan Luther, Zwingli, Calvin, John Knox, dan lain-lain. itu tidak lain adalah seperti yang disiratkan dalam moto reformasi: Sola Gracia, Sola Fide, Solo Christo, Sola Scriptura. PERTAMA, Reformasi menemukan ulang realitas anugerah penyelamatan Allah dalam Kristus melalui iman semata. Dengan kata lain, hubungan yang riil dan intim dengan Allah, itulah yang ditemukan Luther dan Calvin dan yang menopang mereka terus sampai ajal mereka.

KEDUA, media yang melaluinya Allah memimpin mereka menemukan pemahaman dan penghayatan segar indah itu ialah Alkitab. Alkitab sejak itu menjadi suatu kitab terbuka. Seluruh umat bebas membaca dan menimba dari dalamnya aliran-aliran air kehidupan dan arus tenaga pembaruan. Problem masa kini ialah tanpa sadar umat telah kembali bergantung pada “kepausan” baru, yaitu para teolog dan pengkhotbah. Reformasi ulang akan terjadi bila awam tidak lagi awam dalam pemahaman Alkitab!

KETIGA, Reformasi pada intinya mensyukuri fakta bahwa semua warga gereja adalah imam-imam Perjanjian Baru. Kita semua adalah gereja, imamat yang rajani. Masing-masing kita memiliki karunia untuk dibagikan dan tanggung jawab untuk dipikul, yaitu mewartakan pekerjaan-pekerjaan besar Allah kepada sesama kita dan saling melayani membangun tubuh Kristus.

KEEMPAT, Reformasi sebenarnya adalah penolakan terhadap teologi skolastisisme. Teologi pra reformasi telah membuat iman menjadi sesuatu yang rumit dan ruwet. Bukan saja teologi telah dilacurkan dengan filsafat zamannya, melainkan juga kesalehan pun telah dibuat rumit dengan berbagai aturan selibat, ziarah, penyembahan patung, dan lain sebagainya. Reformasi menemukan bahwa iman Kristen adalah kemerdekaan, adalah perayaan, adalah kesukaan yang dapat dipahami dan dihayati siapa saja yang terbuka pada kasih karunia-Nya.

Iman yang riil, kuasa firman, kenyataan tubuh Kristus, dan kesalehan yang ceria, itulah yang kita sangat perlukan terjadi kembali secara baru masa kini!

Sumber:

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Menerbangi Terowongan Cahaya
Judul Artikel :
Penulis : Paul Hidayat
Penerjemah :
Penerbit : PPA, Jakarta, 2002
Halaman : 54 – 58