Latest

Menanggapi Tanggapan Petisi Kepada Pdt DR Yesaya Pariadji yang di tulis oleh Pdt Lucky Fergian Laoh

PETISI KEPADA PDT YESAYA PARIADJI GEMBALA SIDANG GEREJA TIBERIAS INDONESIA

Saya mencoba membahas satu-persatu tulisan dari petisi di atas.

1. Pdt Yesaya Pariadji bukanlah Hamba Tuhan sejati karena sangat suka mengutuk orang-orang lain di mimbar GTI. Kutuknya juga sangat keji, seperti “lumpuh”, “ditabrak kereta”, “perutnya disobek-sobek pisau bedah”, dan lainnya. Padahal, Tuhan dalam ajaran-ajaran-Nya yang tertulis di Alkitab justru mengajar kita untuk mengasihi sesama manusia, termasuk musuh atau lawan kita. 

Tanggapan Pdt Lucky

Pdt Pariadji tidak pernah memakai kata “saya mengutuk”, tetapi lebih kepada apa yang pernah beliau alami di saat belum bertobat harus mengalami tegoran Tuhan yang keras sehingga bertobat. Hal ini bukan berarti kutuk. Tetapi seperti yang Yesus lakukan terhadap orang yang Dia kasihi harus melewati teguran dan hajaran agar bertobat. Mengingat sifat manusia akibat dosa, suka mengalami pemberontakan, maka Allah harus memakai cara menegur bahkan menghajar untuk membuat orang kembali kepada jalanNya. Apa yang Alkitab perlihatkan kepada kita, sekalipun Yesus lembut dan mengajarkan kepada kita untuk mengasihi musuh-musuh, tetapi ada saat dimana Yesus keras terhadap orang2 yang menyesatkan anak2 (Mat. 18:6,7 – celakalah penyesat), terhadap ahli Taurat. Artinya mereka2 yg sudah tahu firman, tapi tidak menjadi pelaku firman, malah melakukan penyesatan kepada orang yang lemah. Kerinduan beliau agar semua orang diselamatkan, sama dengan kerinduan Yesus. Oleh sebab itu terkadang hajaran dapat menjadi cara ampuh untuk mengingatkan manusia untuk kembali kepada jalanNya

Bantahan saya :

anda :

Pdt Pariadji tidak pernah memakai kata “saya mengutuk”, tetapi lebih kepada apa yang pernah beliau alami di saat belum bertobat harus mengalami tegoran Tuhan yang keras sehingga bertobat. Hal ini bukan berarti kutuk. Tetapi seperti yang Yesus lakukan terhadap orang yang Dia kasihi harus melewati teguran dan hajaran agar bertobat.

saya :

apakah kata “lumpuh”, “ditabrak kereta”, “perutnya disobek-sobek pisau bedah” adalah sebuah teguran dosa ?

misalnya saja jemaat anda berzinah , apakah anda akan mengatakan kepada jemaat yang berzinah itu “lumpuh”,  “ditabrak kereta”, “perutnya disobek-sobek pisau bedah”?  

misalnya saja jemaat anda ada yang ketahuan mencuri , apakah anda akan mengatakan kepada jemaat yang ketahuan mencuri itu “lumpuh”,  “ditabrak kereta”, “perutnya disobek-sobek pisau bedah”?

misalnya saja ada orang yang belum bertobat , apakah anda akan mengatakan kepada orang itu “lumpuh”,  “ditabrak kereta”, “perutnya disobek-sobek pisau bedah”?

tunjukkan ayatnya !!

anda :

Mengingat sifat manusia akibat dosa, suka mengalami pemberontakan, maka Allah harus memakai cara menegur bahkan menghajar untuk membuat orang kembali kepada jalanNya.

saya :

teguran Allah kepada orang berdosa bukan seperti  perkataan Pdt Yesaya Pariadji , kepada orang yang belum bertobat, Yesus mengajarkan supaya kita memberitakan Injil !!

saya sudah bertanya diatas , saya ulang kembali pertanyaan saya !!

misalnya saja jemaat anda berzinah , apakah anda akan mengatakan kepada jemaat yang berzinah itu “lumpuh”,  “ditabrak kereta”, “perutnya disobek-sobek pisau bedah”?  

misalnya saja jemaat anda ada yang ketahuan mencuri , apakah anda akan mengatakan kepada jemaat yang ketahuan mencuri itu “lumpuh”,  “ditabrak kereta”, “perutnya disobek-sobek pisau bedah”?

misalnya saja ada orang yang belum bertobat , apakah anda akan mengatakan kepada orang itu “lumpuh”,  “ditabrak kereta”, “perutnya disobek-sobek pisau bedah”?

tunjukkan ayatnya !!

anda :

Apa yang Alkitab perlihatkan kepada kita, sekalipun Yesus lembut dan mengajarkan kepada kita untuk mengasihi musuh-musuh, tetapi ada saat dimana Yesus keras terhadap orang2 yang menyesatkan anak2 (Mat. 18:6,7 – celakalah penyesat), terhadap ahli Taurat. Artinya mereka2 yg sudah tahu firman, tapi tidak menjadi pelaku firman, malah melakukan penyesatan kepada orang yang lemah. Kerinduan beliau agar semua orang diselamatkan, sama dengan kerinduan Yesus. Oleh sebab itu terkadang hajaran dapat menjadi cara ampuh untuk mengingatkan manusia untuk kembali kepada jalanNya

saya :

Mat 18:7

1)   Ayat ini jelas menunjukkan bahwa dosa telah ditentukan oleh Allah (bdk. Luk 17:1). Yesus tidak berkata bahwa penye­satan ‘akan ada’ (yang hanya menunjukkan bahwa Ia tahu bahwa penyesatan akan terjadi), tetapi Yesus berkata bahwa penyesatan ‘harus ada’ (yang jelas menunjukkan bahwa hal itu sudah ditentukan untuk terjadi).

2)   Ada 2 ayat Kitab Suci yang mempunyai kemiripan dengan ay 7 ini yaitu:

·        Luk 22:22 – “Sebab Anak manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan”.

Catatan: perhatikan kata-kata ‘seperti yang telah ditetapkan’itu.

·        1Kor 11:19 – “Sebab di antara kamu harus ada perpecahan, supaya nyata nanti siapakah di antara kamu yang tahan uji”.

3)   Sekalipun penyesatan harus ada:

a)   Itu tidak berarti bahwa orang yang sesat ataupun yang menyesatkan, dianggap tidak bersalah atau tidak perlu ber­tanggung jawab!

Ay 7 jelas menunjukkan 2 x kata ‘celaka­lah’ yang jelas menunjukkan bahwa mereka bertanggung jawab atas penyesatan / dosa mereka itu!

b)   Itu tidak berarti bahwa kita boleh membiarkan orang-orang yang sesat.

Mat 18:12-14 secara tidak langsung menunjukkan bahwa kita juga harus mencari orang yang sesat. Ay 15-17 menunjukkan bahwa kita harus menegur orang yang sesat / berdosa supaya ia bertobat dan kembali ke jalan yang benar !

caranya , apakah dengan kata kata ini  “lumpuh”, “ditabrak kereta”, “perutnya disobek-sobek pisau bedah” ? sekali lagi mohon anda camkan , bahwa untuk penyesat, untuk orang yang belum bertobat , bukan kata kata seperti ini ini  “lumpuh”, “ditabrak kereta”, “perutnya disobek-sobek pisau bedah” yang harus dikeluarkan kepada orang yang belum bertobat tetapi pemberitaan Injil !!

Mat 28:19 – “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”.

Luk 24:47 – “dan lagi: dalam namaNya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem”.

=======

2Tim 3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar,  untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran
Ada 2 hal yang bisa kita pelajari dari ayat ini:

1. Dalam diri orang yang tidak percaya selalu ada kebodohan-kebodohan tertentu yang menyebabkan ia tak mau / tak bisa datang kepada Yesus untuk mendapatkan keselamatan. Dan Kitab Suci / Firman Allah bisa memberi hikmat untuk membuang kebodohan-kebodohan itu, sehingga orang itu akhirnya bisa dan mau datang kepada Yesus.

Contoh kebodohan-kebodohan itu:

menganggap dirinya baik.

Ini jelas akan menyebabkan ia merasa tidak butuh Kristus sebagai Juruselamatnya. Tetapi Kitab Suci bisa ‘menyatakan kesalahan’ (3:16), sehingga menyadarkan orang itu bahwa sebetulnya ia adalah orang yang berdosa, bahkan sangat berdosa.

hanya mempedulikan hidup yang sekarang ini.

Ini juga akan menyebabkan orang itu tidak peduli pada kerohanian, iman dan bahkan kepada Allah sendiri. Tetapi Kitab Suci mengajar bahwa hidup yang sekarang ini fana dan singkat, dan Kitab Suci juga mengajarkan akan adanya suatu kehidupan yang lain setelah kematian, dan yang ini berlangsung selama-lamanya.

ia bisa selamat dengan berbuat baik / hidup baik.

Ini akan menyebabkan ia tidak mau datang kepada Yesus. Yang penting adalah hidup baik. Tetapi Kitab Suci mengajar bahwa manusia tidak bisa baik, dan juga bahwa dengan kebaikan kita, kita tak bisa dibenarkan (Gal 2:16 – “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus”).

2. Keselamatan bisa didapatkan melalui iman dalam Kristus Yesus.

Kitab Suci bukan hanya menunjukkan bahwa manusia itu berdosa dan karena itu akan dihukum di neraka. Kitab Suci juga menunjukkan bahwa Allah telah menyediakan jalan keluarnya, dan itu bisa kita lihat dari sederetan ajaran-ajaran ini:

Allah telah menjadi manusia di dalam diri Tuhan kita Yesus Kristus.
Yesus sudah mati di salib untuk menebus dosa-dosa manusia.
Yesus sudah bangkit dari antara orang mati, mengalahkan Iblis, maut, dan dosa.
Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga (Yoh 14:6 Kis 4:12 1Yoh 5:11-12).
Hanya dengan iman kepada Yesus, bukan dengan perbuatan, kita bisa diselamatkan (bdk. Ef 2:8-9 Gal 2:16,21).
Di sini kita bertemu dengan semboyan yang lain dari Reformasi yaitu: Sola Fide, yang berarti Only Faith (= hanya iman). 

Bagi orang yang sudah percaya:

Dalam 2Tim 3:16-17 dikatakan bahwa Kitab Suci / Firman Allah itu bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran. Ini membuat orang berdosa yang sudah diselamatkan itu makin baik hidupnya.

Ini adalah urut-urutan yang benar. Orangnya sudah selamat, baru diajar untuk berbuat baik! Bukan sebaliknya!

bandingkan ajaran Alkitab ini dengan pernyataan Pdt Yesaya Pariadji yang mengatakan  “lumpuh” , “ditabrak kereta”, “perutnya disobek-sobek pisau bedah” kepada orang yang belum bertobat, atau kepada orang percaya yang melakukan dosa Lukcy !!

kalau anda mengatakan kata kata ini bertujuan menegor atau mempertobatkan orang , bagaimana jika pada waktu orang yang di tegor  itu “ditabrak kereta” orang tersebut meninggal ? bukankah tidak ada kesempatan bagi orang yang di tegor itu untuk bertobat Lucky ??

============

2. GTI bukanlah gereja yang benar, karena orang-orang yang bersaksi mengalami mukjizat Tuhan harus selalu menyebut nama Pdt Yesaya Pariadji, meskipun orang itu sendiri tidak didoakan oleh Pdt Yesaya Pariadji. Dengan demikian nampak bahwa GTI sangat mengultuskan Pdt Yesaya Pariadji. Padahal, tidak ada satu pun yang boleh ditinggikan selain Tuhan Yesus Kristus sendiri.

anda :

Sebagai salah satu pendeta di Tiberias harus diakui bahwa saya bisa mengerti ajaran yang ada di gereja ini karena saya menerima dari Pdt Pariadji. Mengembalikan kuasa minyak dan anggur belum pernah saya temui di gereja manapun dan dalam sejarah gereja sekalipun. Sehingga dalam pelayanan minyak anggur yang diterapkan memang harus diakui karena sosok Pak Pariadjilah, saya bisa meneruskannya kepada jemaat yang lain. Beliau sendiri selalu berkata saya diajar langsung Tuhan, bukan saya. Sehingga memang karena adanya transfer roh (kuasa) yang diberikan Tuhan Yesus kepada beliau bisa saya terima.

saya :

kalau memang diajar Tuhan Yesus langsung kenapa ajarannya bertentangan dengan Firman Tuhan Pdt Lucky ? diamanakah ayat yang mengatakan perkataan yesus bertentangan dengan Roh Kudus dan Allah Bapa sendiri ?persoalan Minyak dan Anggur tidak perlu saya bahas, karena sudah pernah saya bahas disini

======

Di Tiberias hanya 1 nama yang ditinggikan yaitu Yesus. Lagipula jika saudara datang ke setiap acara Tiberias, semua sakramen yang dilakukan, baik Perjamuan Kudus dan Minyak Urapan serta Baptisan, dilakukan di dalam nama Yesus, bukan nama pak Pariadji. Sehingga tuduhan meninggikan nama Pak Pariadji hanya tafsiran dan pandangan subjektif yang kurang tepat.

saya :

ini kutipan dari Bulletin Tiberias

“Dengan apa Iwan Chandra dibebaskan dari operasi otak? Pertama, karena dia percaya dibalik Perjamuan Kudus. Walaupun dia bukan orang Kristen, datang untuk menerima Perjamuan Kudus” (Bulletin No. 617, 8/10-2000).Dalam bulletin ini juga disebutkan nama Christina. Menarik sekali nama-nama tersebut diulang lagi dalam brosur KKR Natal mereka yang diadakan di Stadion Utama Senayan pada tgl 9-12-2000 yang lalu.

Kita dapat menemukan dalam brosur tersebut kalimat berikut: “Iwan Chandra bebas dari operasi otak, karena percaya kuasa di balik Perjamuan Kudus dan Minyak Urapan¡K”,selanjutnya: “Christina bebas dari operasi otak dan pendarahan, sehari menjelang dioperasi PDT X memberikan 3 set Perjamuan Kudus.. Dan dengan Kuasa Minyak Urapan Christina disembuhkan”.

saya mau tanya , KALAU GTI HANYA MENINGGIKAN NAMA YESUS , MANA NAMA YESUS YANG DISEBUT DALAM BULETIN YANG SAYA KUTIP ITU ? KENAPA YANG DISEBUT DISANA PERJAMUAN DAN MINYAKNYA ?

jelas sekali disana  ada  penyimpangan iman dan pengharapan orang dari Kristus yang hidup dan berkuasa kepada “kuasa Minyak Urapan” , anda sadar tidak Pdt Lucky fergian Laoh ? 

diatas anda mengatakan bahwa  Pdt Yesaya Pariadji punya kerinduan supaya semua orang selamat, saya yakin ini termasuk para penyesat, KENAPA JUSTRU PDT YESAYA PARIADJI MENGAJARKAN KESESATAN , KENAPA AJARANNYA MALAH MENYIMPANG DARI IMAN KRISTEN ?

===

3. Pdt Yesaya Pariadji dan GTI telah menerbarkan fitnah keji selama lebih dari setahun belakangan, khususnya terhadap Pdt Josua Tumakaka (mantan pendeta GTI, yang kemudian mengundurkan dari GTI) yang dituduh menjalin hubungan perjanjian darah dengan Nyi Roro Kidul. Didasarkan hal itu pula GTI telah lebih dari setahun menyebut-nyebut ”pendeta setan” di dalam Buletin GTI, yang ditujukan kepada Pdt Josua Tumakaka, meskipun nama Josua Tumakaka sendiri tidak disebut-sebut secara eksplisit.

anda :

Pak Pariadji tidak pernah memfitnah, tetapi apa yang dilakukannya berdasarkan bukti dan fakta lapangan. Kalau dalam petisi ini menyebutkan nama seorang pdt, pak Pariadji tidak pernah menyebutkan nama orang tersebut. Lagipula keluarnya pdt tersebut dari Tiberias atas sebuah keputusan pribadi yang diambil olehnya yang sudah tidak sejalan dengan Tiberias, sehingga itu adalah sesuatu yang fair saat tidak sejalan dengan wadah yang menaunginya, yang berujung pada pengunduran diri. Apa yang disaksikan di Tiberias mengenai salah satu mantan pendeta di Tiberias bukan tanpa alasan, tetapi dengan banyaknya kesaksian orang-orang yang pernah berhubungan dengan pendeta tersebut yang akhirnya bersaksi tentang apa yang mereka alami selama ini, oleh sebab itu mereka bersaksi untuk mengingatkan dan memberitahu jemaat yang lain akan resiko yang akan terjadi. Jadi bukan suatu bentuk perekayasaan suatu kasus.

saya :Pak Pariadji tidak pernah memfitnah, tetapi apa yang dilakukannya berdasarkan bukti dan fakta lapangan ?  sudah sekian banyak tanggapan dan bantahan , adanya GTI itu mengada ada , mengait ngaitkan dengan Firman Tuhan supaya kelihatan benar

=====

4. GTI bukanlah gereja yang benar, karena di tengah ibadah Minggu, ada orang-orang yang diberi kesempatan untuk bersaksi dusta untuk mendiskreditkan Pdt Josua Tumakaka sebagai ”pendeta setan”. Padahal, seharusnya setiap kesaksian bertujuan memuliakan Tuhan Yesus Kristus dan tidak memojokkan pihak-pihak manapun.

anda :

Mereka yang bersaksi adalah orang-orang yang punya pengalaman pribadi dengan sosok pendeta yang dimaksud. Kesimpulan dari setiap kesaksian tersebut dimana banyak orang bersukacita, meninggikan nama Yesus karena melalui penyingkapan rahasia dalam pelayanan Gereja Tiberias, mata rohani mereka dibukakan dan kehidupan mereka dipulihkan.

saya :

diatas anda mengatakan GTI hanya meninggikan ssatu NAMA yaitu Kristus, tetapi dalam persoalan orang yang kesurupan Nyi Roro Kidul, anda percaya perkataan orang yang kesurupan ini , anda tidak konsisten Pdt Lucky !!  dari sini saja sudah jelas kok jika anda lebih percaya perkataan setan daripada Firman Tuhan itu sendiri ! masih mau mengatakan anda posisinya benar  ? kalau anda mengaku hanya meninggikan Kristus , KENAPA ANDA PERCAYA PERKATAAN SETAN ?

======

5. Pdt Yesaya Pariadji bukanlah Hamba Tuhan yang benar, karena ajaran-ajarannya di mimbar maupun di Buletin GTI lebih didasarkan pada pengalaman-pengalaman supranatural dan halusinasi-halusinasinya yang sangat subyektif dan sama sekali tidak ada rujukannya dalam Alkitab. Sebagai contoh, Pdt Yesaya Pariadji mengaku-ngaku sebagai Juru Bicara Surga, Gembala Sidang Yerusalem Baru, memiliki Roh Martir, mendapat SK dari Langit, diajar Yesus langsung, mengajar tentang pemulihan kuasa Perjamuan Kudus, mengajar tentang kuasa Minyak Urapan, dan lain sebagainya.

anda :

….. Apa yang diajarkan pak Pariadji semua terambil dari Alkitab, artinya tidak bertentangan dengan Alkitab. Kenapa bisa berbeda dengan yang lain. Mungkin jawabannya adalah, penafsiran terhadap ayat Alkitab memang membuat banyak perbedaan di dalam ajaran Kristen, karena memakai metode yang berbeda satu dengan yang lainnya.

saya :

Memang setiap umat Tuhan atau gereja boleh menafsirankan Alkitab sendiri-sendiri, tetapi penafsiran tersebut harus bertanggungjawab, harus memenuhi kaidah-kaidah yang benar sehingga tafsiran tersebut sama seperti apa yang Tuhan kehendaki. Di dalam menafsir bagian-bagian Alkitab, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain:1.Semua Alkitab harus ditafsirkan dalam terang teologi dari seluruh Alkitab.

  • Firman Allah tidak pernah berkontradiksi dengan dirinya. Tidak ada bagian dari Alkitab yang berkontradiksi atau konflik dengan bagian yang lain. Dengan demikian jika ada dua tafsiran yang berbeda untuk bagian Alkitab yang sama, maka salah satu diantaranya pasti salah. Kebenaran Alkitab bukan relatif dan subyektif, tetapi kebenaran yang mutlak.

2.Bagian-bagian Alkitab yang sulit ditafsirkan dengan bagian-bagian yang lebih jelas. Yang implisit (tersirat) harus ditafsiran oleh yang eksplisit (tersurat).anda rupanya tidak paham Ilmu Hermneutika ?

anda :

Tidak heran tokoh reformasi gereja Marthin Luther dan Zwingli berdebat tanpa ada titik temunya karena masalah penafsiran tentang Perjamuan Kudus. Oleh sebab itu penafsiran bisa berbeda, bisa kurang tepat, bisa salah; tetapi yang dialami pak Pariadji, beliau mendengar sendiri suara Tuhan, dan berjumpa langsung dengan Tuhan Yesus dalam pengalaman supranaturalnya. Oleh sebab itu apa yang beliau perkatakan dibuktikan dengan banyaknya mujizat yang terjadi dalam pelayanan Tiberias dan perkataannya yang selalu didengungkan kepada jemaat, “jika saya berdusta, jika saya belum berjumpa Tuhan, jika saya belum mendengar suara Tuhan, jika saya belum pernah melihat neraka dan surga, dsb.; saya siap dilempar ke neraka”. Perkataan ini sangat jarang dilakukan oleh seorang pendeta karena mengandung resiko yang besar. Jadi pelayanan beliau bukan tanpa dasar firman, tapi mungkin sudut pandang yang digunakan berbeda. Sama seperti halnya saat Yesus diutus ke dunia, bagaimana orang mempercayai Dia datang dari surga?? Semuanya diteguhkan dengan tanda-tanda mujizat yang dibuat oleh Yesus sendiri. Jadi pelayanan dan panggilan pak Pariadji, diteguhkan dengan banyaknya mujizat yang terjadi di Tiberias.

tanggapan :

Ada 4 pandangan tentang arti Perjamuan Kudus: 

a)   Pandangan Gereja Roma Katolik. Pada waktu pastor / imam berkata: ‘HOC EST CORPUS MEUM’ (= ‘This is My body’ / ‘Inilah tubuhKu’), maka roti betul-betul berubah menjadi tubuh Kristus, dan anggur betul-betul berubah menjadi darah Kristus. doktrin ini disebut TRANSUBSTANTIATION (= a change of substance / perubahan zat).

Thomas Aquinas (1225-1274)“The substance of bread and wine are changed into the body and blood of Christ during communion while the accidents (appear­ence, taste, smell) remain the same”  [ Zat dari roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus pada saat komuni, sementara accidentsnya (penampilannya / kelihatannya, rasanya, baunya) tetap sama].

Dengan demikian Perjamuan Kudus dalam Roma Katolik dianggap sebagai pengulangan pengorbanan Kristus.

Keberatan terhadap pandangan ini:

tubuh Kristus bukan Allah, sehingga tidak maha ada. Sekarang tubuh Kristus ada di surga, dan karenanya Yesus tidak bisa hadir secara jasmani dalam Perjamuan Kudus! Kitab Suci menyatakan bahwa Yesus dikorbankan hanya satu kali saja (Ibr 9:28 – “demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diriNya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diriNya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia”).

b)   Martin Luther / Gereja Lutheran. Roti dan anggur tetap tidak berubah tetapi Kristus hadir secara jasmani baik di dalam, dengan / bersama, di bawah (in, with and under) roti dan anggur.

Doktrin ini disebut CONSUBSTANTIATION.

Keberatan terhadap pandangan ini:

Sama seperti terhadap pandangan Roma Katolik, pandangan Luther / Lutheran tetap menunjukkan bahwa tubuh Kristus harus maha ada (karena tubuh Kristus itu harus hadir di setiap tempat yang mengadakan Perjamuan Kudus, dan sekaligus juga di surga). Ini tidak benar. Tubuh Kristus bukan Allah sehingga tidak maha ada.

c)   Zwingli / Gereja Baptis.

Perjamuan Kudus hanyalah peringatan pengorbanan Kristus.

d)   Pandangan Calvin / Reformed.

Kristus bukan hadir secara jasmani, tetapi secara rohani. Jadi Perjamuan Kudus adalah suatu persekutuan dengan Kristus (1Kor 10:16 – “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?”).  

Perjamuan Kudus bukan sekedar merupakan peringatan. Kalau memang sekedar peringatan, mengapa ada ayat-ayat seperti 1Kor 11:26-30?

Roti menguatkan kita dan anggur memberikan sukacita. Bahwa dalam Perjamuan Kudus digunakan roti dan anggur menunjukkan bahwa Perjamuan Kudus bisa menguatkan iman kita dan memberikan sukacita. Tetapi tentu saja syarat dalam 1Kor 11:27-32 harus ditaati. Perjamuan Kudus juga menggambarkan persekutuan orang percaya, karena makan dan minum dari roti dan anggur yang satu / sama (bdk. 1Kor 10:17 – “Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu”).

Catatan: sebetulnya kata ‘satu’ dalam 1Kor 10:17 ini tidak cocok dengan penggunaan hosti dalam Perjamuan Kudus, karena dalam penggunaan hosti ‘satu roti’ itu tidak terlihat.

Charles Hodge: “The custom, therefore, of using a wafer placed unbroken in the mouth of the communicant, leaves out an important significant element in this sacrament” ( Karena itu, kebiasaan / tradisi menggunakan hosti, yang diletakkan secara utuh di dalam mulut dari peserta Perjamuan Kudus, menghapuskan suatu elemen berarti yang penting dalam sakramen ini).

anda :

Sebagai penutup saya katakan bahwa petisi di atas dibuat oleh pihak yang “membenci” Tiberias. Secara tata ibadah, secara keimanan, secara status gereja; semua tidak ada yang menyimpang.

saya :

tidak menyimpang ? mudah sekali anda mengambil kesimpulan untuk mengelak ?

  • pembahasan ini  sudah jelas diartikan ada penyimpangan dalam ajaran GTi , anda berkelit tidak ada penyimpangan ?
  • diatas saja anda mengatakan hanya meninggikan satu nama, tetapi pada kenyataannya anda percaya kepada perkataan orang yang kesurupan roh jahat daripada Firman Tuhan
  • diatas juga sudah di buktikan bahwa GTI sudah menyimpang dari iman berdasarkan kutipan dari Buletin anda yang lebih menekankan “kuasa Minyak Urapan”

anda :

Berbicara doktrin, doktrin bisa berbeda satu dengan yang lainnya karena perbedaan sudut pandang. Mungkin kata-kata Martin Luther bisa saya kutip, “buktikanlah salah menggunakan Alkitab”.saya :

  • anda jangan memutar balik pernyataan martin Luther untuk mendukung ajaran anda !! martin Luther mengatakan itu karena dia menentang ajaran Roma Katolik !!
  • anda juga tidak mencantumkan dari mana anda mengutip kata kata itu Lucky !!
  • saya belum pernah membaca tulisan Luther yang berbunyi seperti yang anda kutip, yang ada dari pernyataan Marthin Luter adalah Alkitab tidak bisa salah untuk mendukung ajaran Sola Scriptura Lucky !!

anda :

Entah karena Tiberias semakin berkembang, besar, dsb. Semakin tinggi pohon, semakin besar angin yang meniupnya.

saya :

dalam waktu 10 tahun (1942-1952), jumlah orang Saksi Yehovah di Amerika Serikat berkembang 2 x lipat, di Asia 5 x lipat, di Eropa 7 x lipat, dan di Amerika Latin 15 x lipat. Apakah itu membuktikan bahwa ajaran mereka itu benar dan gereja mereka diberkati oleh Tuhan?

Ingatlah bahwa kebenaran bukanlah persoalan demokrasi, dalam arti, yang banyak belum tentu benar! Pada saat Yesus melayani secara jasmani dalam dunia ini, hanya sedikit orang yang sungguh-sungguh percaya dan mengikuti Dia. Apakah ini berarti ajaranNya salah dan pelayananNya tidak diberkati Tuhan?

Ingatlah juga bahwa Tuhan Yesus sendiri sudah menubuatkan bahwa makin mendekati akhir jaman, makin banyak ajaran sesat, dan makin banyak orang yang tersesat (Mat 18:7 Mat 24:5,11).

Juga ingatlah bahwa Paulus juga menubuatkan bahwa akan datang waktunya orang tidak dapat lagi menerima ajaran yang benar dan mereka akan mengumpulkan guru-guru palsu menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Juga bahwa mereka akan menutup telinganya bagi kebenaran dan membukanya bagi dongeng (2Tim 4:3-4). Jadi, kalau banyak orang senang mendengar ajaran GTI , itu hanyalah penggenapan dari nubuat ini!

anda :

Tetapi dasar yang kuat tidak akan pernah membuat pohon tersebut tumbang. Pak Pariadji dan Tiberias hanya melakukan perintah yang Tuhan berikan untuk dilakukan, “mempersiapkan jemaat yang kudus, misionaris dan siap ke surga”, membawa jemaat kepada target akhir kita, yaitu surga. Jadi mari sama-sama persiapkan diri kita menghadap Dia di dalam kekudusan. 

saya :

mempersiapkan jemaat yang kudus , misionaris dan siap masuk ke Sorga dengan bekal percaya kepada perkataan setan dan ajaran sesat ? LUAR BIASA SEKALI anda kalau mengibul !!

 

 

Pembahasan Ajaran Pdt.Lucky Fergian Laoh dari Gereja Tiberias Indonesia tentang “Perjamuan Kudus”

Pdt.Lucky Fergian Laoh :

Sebagai salah seorang Pendeta di Gereja Tiberias, saya ingin membagikan pengajaran tentang Perjamuan Kudus (untuk seterusnya disingkat PK). Karena PK merupakan sesuatu yang hampir selalu dilakukan dalam setiap ibadah di Tiberias. Tidak heran banyak orang yang menganggap bahwa ajaran PK yang dilakukan di Tiberias sesat atau menyimpang.

Banyak faktor orang mengatakan bahwa PK yang dilakukan di Tiberias sesat, seperti contoh: kok PK bisa dibawa pulang, kok PK dilakukan setiap kali ibadah (dengan alasan akan merendahkan kesakralan PK), kok bisa diberikan kepada anak-anak (bahkan bayi). Hal inilah yang dipandang oleh beberapa orang sebagai kesesatan yang dilakukan di Tiberias.

Oleh sebab itu melalui tulisan ini, kerinduan saya, bahwa banyak orang yang memahami dan akhirnya mengamini apa yang dilakukan di Tiberias.

Tanggapan saya :

Penentuan kapan ada perjamuan kudus dan kapan seseorang menerima perjamuan suci memang adalah produk aturan yang dibuat oleh gereja. Seseorang yang belum dibaptis/ Sidi menurut peraturan gereja, dia belum boleh menerima perjamuan suci, peraturan ini didasarkan dari ayat ini:

1 Kor 11:27  Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.

Baptis/ Sidi adalah “tanda” secara resmi bahwa orang tersebut telah mengaku percaya kepada Kristus. Maka “tanda” ini dianggap sebagai legitimasi seseorang diperbolehkan mengikuti Perjamuan Kudus.Peraturan ini baik-baik saja, supaya tidak sembarang orang ikut Perjamuan Kudus. Dan untuk menghindarkan seseorang menjadi berdosa karena orang tersebut belum percaya dan belum mengerti esensi Perjamuan Kudus.

Tetapi bagaimanapun ada hal dan situasi tertentu yang dapat menabrak suatu peraturan gereja, misalnya dalam situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan seseorang untuk proses baptis/ sidi namun ia sudah menjadi orang percaya. Dalam hal ini saya setuju orang tersebut walaupun belum mengikuti “upacara” baptisan, namun orang tersebut telah menjadi umat Kristus, dan dia layak mengikuti Perjamuan Kudus.

Mengenai perjamuan yang dibuat anak-anak itu….,  perlu anda camkan : Bahwa perjamuan suci itu dipimpin oleh imam gereja, dan yang menerimanya adalah orang-orang yang (sebaiknya sudah dibaptis).

Pdt.Lucky Fergian Laoh:

I Kor 11:23-30
23 Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti
24 dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”
25 Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”
26 Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.
27 Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.
28 Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.
29 Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya.
30 Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal.

Ayat2 di atas banyak dibacakan oleh gereja-gereja sebelum melakukan PK. Dan dari ayat2 di atas kita dapat menemukan pelajaran penting dari PK, khususnya yang biasa dilakukan di gereja Tiberias.

1. Perjamuan Kudus adalah perintah/ ajaran langsung Tuhan Yesus (ay. 23).
    Surat I Korintus ditulis oleh Paulus, yang bukan dari golongan rasul. Ia penganiaya orang Kristen, bahkan punya ambisi membunuh orang Kristen (Kis. 9:1-2).

Tanggapan saya :

kisah pertobatan Saulus dimuat didalam Kisah Para Rasul 9:1-30 dimana Lukas yang merupakan penulis dari kitab tersebut. Dan sebagai penulis, Lukas yang menjadi saksi (walaupun bukan saksi mata dalam hal ini, bdk. Luk 1:3) peristiwa tersebut dan jemaat mula2 juga menerima KPR (menerima kesaksian Lukas) hingga akhirnya didalam kanonisasi KPR merupakan kitab yang diterima secara resmi oleh konsili.

Selanjutnya, lebih dari 1/2 materi KPR memuat tentang pelayanan Paulus, dan sekalilagi tidak ada keberatan dari jemaat mula2 bahkan dalam sidang di Yerusalem (sidang yang dihadiri para rasul langsung) dihadiri pula oleh Paulus dan merekapun mengutus dia dalam pelayanannya.

Petrus juga mengakui bahwa Paulus memiliki HIKMAT yang dikaruniakan (Tuhan) kepadanya: …, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya.- 2Pe 3:15

kesaksian dari diri Paulus sendiri mengenai kerasulannya:Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.- Rom 1:1

Kita juga menemukan banyak sekali penjelasan2 Paulus yang lain mengenai kerasulannya (lihat Galatia 1:11-2:10), dan (sekali lagi) tidak ada yang keberatan mengenai kerasulan Paulus dari antara rasul2 langsung maupun jemaat2 yang dibuktikan dengan diterimanya surat2 Paulus oleh seluruh jemaat mula2. Sebagai catatan, surat2 Paulus kemungkinan telah ditulis sebelum ke-4 Injil, KPR maupun surat2 rasul yang lain.dengan memahami proses pengesahan kanonisasi Perjanjian Baru yang dilakukan “baru” setelah ke-27 kitab PB beredar dan diterima seluruh jemaat mula2 selama sekitar 400 tahun, maka tidak ada alasan bagi kita yang hidup 2000 tahun kemudian mempertanyakan kembali hal2 yang tidak ditolak oleh saksi2 mata maupun mereka yang hidup dekat dengan peristiwa tersebut.

Pdt.Lucky Fergian Laoh :

Tetapi Tuhan Yesus menjumpainya saat perjalanannya menuju Damsyik (Kis. 9:3-5), dan akhirnya mengalami pertobatan. Kalimat yang menyatakan apa yang telah kuteruskan kepadamu mempunyai arti bahwa Paulus mengajarkan kepada jemaat Korintus ttg PK. Tetapi renungkan baik bahwa Paulus menuliskan selanjutnya, telah aku terima dari Tuhan.

Tanggapan saya :

setelah anda membaca penjelasan mengenai kesaksian apakah Paulus Rasul atau tidak bagaimana Tanggapan anda ?

 Pdt.Lucky Fergian Laoh :

Perlu diperhatikan dengan seksama,  bahwa Paulus tidak kenal Tuhan Yesus, bahkan ia adalah penganiaya jemaat; dia tidak pernah mengikuti Yesus, dia tidak bersama2 Yesus dalam Perjamuan Malam. Bagaimana mungkin ia bisa berkata “telah aku terima dari Tuhan”. Kata aku terima mempunyai arti Paulus tidak menerima dari orang lain, dari rasul lain; tetapi dia menegaskan bahwa ajaran PK dia terima dari Tuhan (langsung tanpa perantara -tambahan penulis). Karena bahasa Yunani yang digunakan dalam ayat itu adalah parelabon (bentuk perintah-imperatif) yang berarti dia terima dari Tuhan seperti Tuhan sedang berbicara di sisinya atau dapat dikatakan bahwa Paulus diajar langsung Tuhan, dijumpai dan diperintahkan untuk meneruskan ajaran tentang PK.

Tanggapan saya :

anda mengatakan bahwa “bahwa Paulus tidak kenal Tuhan Yesus, bahkan ia adalah penganiaya jemaat; dia tidak pernah mengikuti Yesus, dia tidak bersama2 Yesus dalam Perjamuan Malam”

namun kemudian anda mengatakan bahwa ” tetapi dia menegaskan bahwa ajaran PK dia terima dari Tuhan (langsung tanpa perantara -tambahan penulis)”

kalau dia menerima langsung ajaran tersebut dari Tuhan , kenapa anda mengatakan bahwa Paulus bukan bagian dari Para Rasul, sedangkan Rasul yang lain mau mengakuinya sebagai Rasul ?

 Pdt.Lucky Fergian Laoh :

Kalau direnungkan perkatan Pdt. DR. Yesaya Pariadji bahwa Yesus menjumpainya dan mengajarkan tentang PK kepadanya, adalah pengalaman yang sama yang dialami oleh Paulus. Beliau bukanlah termasuk golongan yang mengenal Yesus sebelumnya, tidak ada niatan menjadi seorang Kristen, tetapi Tuhan menjumpainya langsung (seperti menjumpai Paulus) dan mengajarkan (bahkan memerintahkan) ajaran PK untuk diteruskan kepada jemaat2.

Tanggapan saya :

Dalam PL memang ada tiga jabatan penting, yaitu Raja, Imam dan Nabi (yang ketiganya bersatu dalam diri Yesus Kristus). Namun harus kita ketahui tiga jabatan ini telah berhenti.

Jabatan raja berhenti ketika bangsa Yehuda/ Israel berada di dalam masa intertestamental dan dijajah Romawi. Mereka sudah tidak memiliki kerajaan lagi. Jabatan imam berakhir ketika bait Allah diruntuhkan pada tahun 70 AD oleh Romawi dalam peperangan 4 tahun dengan Israel. Sejak itu mereka tidak memiliki lagi imam, yang ada hanya guru (rabbi). Jabatan nabi juga sudah selesai pada saat Allah telah selesai berfirman dan wahyu Allah berhenti.

Masih adakah nabi/ rasul pada jaman ini? Rupanya anda tidak memahami bahwa jabatan nabi/ rasul sudah berhenti dengan selesainya wahyu Allah kepada manusia. Bagaimana dengan Efesus 4:11 yang mengatakan “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar.”? John Calvin dalam bukunya Ecclesiastical Ordinances mengatakan dengan jelas bahwa jabatan rasul dan nabi hanya diberikan sebagai dasar pembentukan gereja, sedangkan gereja pada masa pasca Kristus hanya memiliki 4 jabatan didalamnya:

Fundamental to the Ecclesiastical Ordinances is that Calvin felt that the fourfold office of ministry laid out therein was God-given: “There are four orders of office instituted by our Lord for the government of his Church . . . pastors; then doctors; next elders, and fourth deacons.”(6)

(suatu hal yang mendasar dalam buku Ecclesiastical Ordinances adalah bahwa Calvin merasa hanya ada 4 jabatan yang Allah berikan kepada gereja-Nya :”ada empat jabatan yang didirikan Allah bagi pemerintahan gereja-Nya …pastors (gembala-gembala), kemudian doctors (pengajar-pengajar), kemudian elders (penatua-penatua) dan keempat deacons (diaken-diaken).”

Alkitab menunjukkan bahwa seorang nabi justru beritanya tidak didengar oleh bangsanya. Ia ditolak, dikucilkan bahkan dibenci oleh orang sejamannya. Hal itu terjadi karena ia memberitakan Firman yang tidak disukai oleh orang berdosa. Itulah yang dialami nabi Allah yang sejati, bukan disanjung-sanjung atau diikuti banyak orang. Intinya, tidak ada nabi yang hidupnya enak dan ia adalah orang yang kesepian dalam jamannya.

Lagipula, dalam Alkitab tidak pernah ada nabi khusus yang mengajarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan perkataan Allah sendiri. Para nabi memberitakan semua Firman Allah baik penghukuman, murka Allah, dosa kepada semua orang . Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa seorang nabi dipilih dan dipanggil sendiri oleh Allah. Bahkan seperti nabi Yeremia dan Yohanes Pembaptis dipilih sejak mereka dalam kandungan. Pertanyaannya : kapan Allah memilih memilih Pdt Yesaya PAriadji menjadi seorang nabi? The Bible does not say anything about PAriadji! (Alkitab tidak berkata apa-apa tentang Pdt Yesaya PAriadji). Adalah kesalahan sekaligus penyesatan mengklaim diri sebagai nabi Allah. Selain nabi-nabi yang disebutkan namanya dalam Alkitab, tidak ada nabi lagi pada jaman ini. Saya berani pastikan bahwa Pdt Yesaya PAriadji bukanlah nabi Allah pada jaman ini.

Apakah bahaya dari mengklaim diri sebagai nabi Allah? Sebagai konsekwensi dari klaim bahwa dirinya seorang nabi Allah, Pdt Yesaya PAriadji  otomatis jatuh kepada kesalahan fatal lainnya, yaitu beranggapan bahwa Allah masih berfirman dan memberikan wahyu-Nya melalui dirinya.

 Pdt.Lucky Fergian Laoh :

Sehingga beliau berani berkata “saya menerima ajaran ini dari Tuhan, jika saya dusta, saya siap dilempar ke neraka, setan berhak atas saya.” Banyak orang mengkritik, kalau Tuhan mau menyingkapkan sesuatu hal tentang FirmanNya, kenapa bukan kepada pendeta, tetapi malah kepada orang yang dahulu tidak kenal Tuhan Yesus. Sebenarnya hal itu pulalah yang dialami oleh Paulus. Tuhan punya hak prerogatif untuk memilih siapa saja untuk menjadi alat bagiNya. Yes 65:1 menuliskan, Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata: “Ini Aku, ini Aku!” kepada bangsa yang tidak memanggil nama-Ku. Artinya Tuhan berkenan memberikan rahasiaNya (petunjuk dan ajaran) kepada orang yang tidak dianggap layak oleh manusia.

Jadi pelajaran pertama yang kita dapatkan adalah bahwa PK adalah ajaran/ perintah langsung Yesus untuk diteruskan kepada kita. Pengalaman Paulus sama dengan pengalaman Pak Pariadji dalam menerima ajaran ini.

Tanggapan saya :

memuakkan dari Pdt. Yesaya Pariadji ini adalah bahwa ia sangat sering bersumpah tanpa ada perlunya. Tidak pernahkah ia membaca kata-kata Yesus dalam Mat 5:33-37 – “Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Sekalipun saya memang tidak beranggapan bahwa sumpah dilarang secara mutlak, tetapi jelas bahwa kata-kata di atas ini melarang kita untuk bersumpah secara sembarangan / tanpa ada perlunya!

Beberapa komentar tentang orang yang gampang untuk bersumpah:

  • William Hendriksen: “It is characteristic of certain individuals who are aware that their reputation for veracity is not exactly outstanding that the more they lie the more they will also assert that what they are saying is ‘gospel truth.’ They are in the habit of interlacing their conversations with oaths”(Merupakan ciri dari individu-individu tertentu yang sadar bahwa reputasi mereka untuk kejujuran tidak terlalu menonjol, dimana makin mereka berdusta makin mereka menegaskan bahwa apa yang mereka katakan adalah ‘kebenaran injil’. Mereka terbiasa untuk menjalin percakapan mereka dengan sumpah)
  • Adam Clarke: “A common swearer is constantly perjuring himself: such a person should never be trusted”( Seseorang yang biasa bersumpah secara terus menerus bersumpah palsu: orang seperti itu tidak pernah boleh dipercaya)

Karena itu makin sering seseorang bersumpah, makin saya tidak percaya !
kesimpulannya :
pelajaran anda yang pertama itu jelas mengada ada , kenapa ?  karena Paulus tidak pernah mengajar bahwa Perjamuan kudus bisa menyembuhkan sakit penyakit !!

 Pdt.Lucky Fergian Laoh :

2. Melalui PK – tubuh Kristus – kita menerima kesembuhan (ay. 24)

Paulus mengutip kata-kata Tuhan Yesus “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”. Dalam kalimat itu Yesus ingin menyampaikan bahwa tubuh Yesus diberikan kepada kita. Jika kita mau merenungkan, Yesus tercambuk, di mahkotai duri, di siksa, dipaku bahwa ditikam karena kita. Seharusnya kita yang harus ada dalam posisi Yesus, karena memang kita layak dihukum. Tetapi Yesus menggantikan tubuh kita (yang seharusnya tersiksa) dengan tubuhNya, supaya tergenapi janji Tuhan “dengan bilur-bilurNya kamu disembuhkan”. Karena sesungguhnya, Yesus sudah menanggung segala derita kita. Sehingga seharusnya manusia tidak terikat sakit lagi. Karena bilurNya sudah diberikan untuk kita supaya kita sembuh. Yang perlu dilakukan saat ini adalah dengan iman percaya sungguh, bahwa Yesus menyembuhkan karena tubuhNya sudah diberikan untuk kita. Perwujudan tubuh Kristus, kita terima di dalam PK, karena dalam PK kita mengakui roti sebagai tubuh Kristus. Oleh sebab itu dari iman kita kepada korban tubuh Kristus dan diwujudkan pada roti yang adalah tubuh Kristus, maka kita sembuh.
Jadi pelajaran kedua adalah melalui korban tubuh Yesus, tubuh kita yang sakit, Tuhan sembuhkan.

Tanggapan saya :

* Markus 14:22-25 Penetapan Perjamuan Malam
14:22 Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Ambillah, inilah tubuh-Ku.”
14:23 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu.
14:24 Dan Ia berkata kepada mereka: “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang.
14:25 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah.”

Tulisan dalam Markus ini bisa kita paralelkan dengan tulisan Rasul Paulus pada tahun 55 Masehi dalam :

* 1 Korintus 11:23-25
11:23 Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti
11:24 dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”
11:25 Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”

Paulus mengingatkan para petobat yang digem balakannya di Korintus bahwa ia pernah menyampaikan apa yang ditulisnya ini secara lisan (mungkin pada saat ia datang ke kota itu untuk mengabarkan Injil pada tahun 50 Masehi). Ia berkata bahwa ia sendiri ‘menerima’ kata-kata itu ‘dari Tuhan’ (kira-kira tidak lama setelah pertobatannya). Dan ia memperoleh kuasanya dari Tuhan. Ada perbedaan dalam pengalimatan antara tulisan Paulus dan Markus. Mungkin ini mencerminkan variasi (bukan kontradiksi) dalam penggunaanya di gereja-gereja orang Kristen generasi pertama. Tetapi kita disini tidak membicarakan perbedaan-perbedaan yang ada. Lebih penting memperhatikan apa arti yang terkandung dalam persamaan-persamaan yang ada.

Perjamuan Malam Terakhir adalah perjamuan Paskah yang diselenggarakan oleh Tuhan Yesus menjelang masa sengsaraNya. Perjamuan Paskah merupakan peringatan keluarnya bangsa Israel dari Mesir berabad-abad yang lalu. Tradisi Yahudi dalam perayaan ini adalah menyajikan roti tidak beragi, anggur merah, juga makanan-makanan lain. Sebelum hidangan-hidangan itu disantap, kepala keluarga dalam keluarga Yahudi menceritakan kisah pelepasan itu. Roti tidak beragi disini disebut ‘roti penderitaan’ yang dimakan para nenek-moyang mereka saat keluar dari Mesir (lihat Ulangan 16:3).

Pada awal perjamuan, kepala keluarga setelah memecah-mecahkan roti, mengucapkan syukur atasnya dengan kalimat penuh hormat : “Diberkatilah Engkau, ya TUHAN Allah kami, Raja semesta alam, yang menumbuhkan roti di bumi”. Tetapi pada Perjamuan Malam Terakhir itu Tuhan Yesus selaku “kepala-keluarga”-Nya, setelah mengucapkan syukur atas roti perjamuan, menambahkan kata-kata yang memberikan makna baru pada roti itu “Ambillah, inilah tubuh-Ku”. Dalam tulisan paulus dilanjutkan dengan kata-kata “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” .

Perjamuan Paskah ialah peringatan akan pelepasan agung pada waktu keluatran; sekarang, sebuah peringatan baru didirikan, mengingat akan pelepasan baru yang lebih agung yang bakal dilaksanakan. bahwa roti yang Ia ambil dari meja adalah tidak mungkin tubuhNya karane Para murid bisa melihat tubuhNya yang hidup didepan mata mereka. Sekali lagi jawaban atas kata-kata ini ialah bahwa, bagi iman orang-orang yang makan Perjamuan Kudus, roti itu adalah lambang dari tubuh Tuhan. Karena iman, dengan memakan roti peringatan itu, mereka mengambil bagian dalam hidup Kristus.

Pada akhir Perjamuan Paskah, ketika ucapan syukur penutup perjamuan telah dinaikkan, sebuah cawan anggur diminum bergantian oleh seluruh keluarga. Cawan ini, yang disebut “cawan berkat”, ialah cawan ketiga dari empat cawan yang diletakkan diatas meja. Ketika Tuhan Yesus mengucapkan berkatNya dan menberikan cawan itu kepada sobat-sobatNya tanpa Ia sendiri minum dari-padaNya, Ia berkata kepada mereka, “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang”. (Versi Paulus mengatakan “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”).

Ketika Musa, di kaki Gunung Sinai, membacakan Hukum Allah kepada Bangsa Israel yang telah keluar dari Mesir dan mereka berketetapan mentaati hukum itu, sebagian dari darah binatang korban dipercikkan pada mezbah (lambang kehadiran Allah) dan sebagian pada bangsa Israel. Tentang darah itu, Musa berkata-kata sebagai “darah perjanjian yang diadakan Tuhan dengan kamu, berdasarkan firman ini” (Keluaran 24:3-8 ).

Bagi murid-murid Tuhan Yesus yang sudah sangat hafal akan kisah-kisah tentang Perjamuan Paskah dan keluarnya bangsa Israel dari Mesir, maka kata-kata Tuhan Yesus mempunyai arti bahwa akan didirikan sebuah Perjanjian Baru sebagai pengganti dari perjanjian yang didirikan untuk nenek moyang mereka pada zaman Musa. Lagipula, Perjanjian Baru itu akan didirikan melalui kematian Tuhan Yesus bagi bangsaNya. Kalau kemudian mereka memakan roti peringatan itu, mereka karena iman mengambil bagian dalam kehidupan Dia yang mati dan bangkit kembali. Demikian juga waktu mereka minum cawan itu mereka menyatakan dan menerima karena iman “kepentingan mereka dalam darah Juru-Selamat”. Dengan berbuat demikian, mereka memahami arti kata-kata Tuhan Yesus dan mereka tahu bahwa melalui Dia mereka termasuk dalam umat perjanjian Allah.

Sekarang kita lihat dalam Matius :

* Matius 26:26-29 Penetapan Perjamuan Malam
26:26 Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.”
26:27 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini.
26:28 Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.
26:29 Akan tetapi Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku.”

Kita lihat penekanan dalam frasa ” untuk pengampunan dosa” setelah frasa “yang ditumpahkan bagi banyak orang”.

* Lukas 22:14-23 Penetapan Perjamuan Malam
22:14 Ketika tiba saatnya, Yesus duduk makan bersama-sama dengan rasul-rasul-Nya.
22:15 Kata-Nya kepada mereka: “Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita.
22:16 Sebab Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan memakannya lagi sampai ia beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Allah.”
22:17 Kemudian Ia mengambil sebuah cawan, mengucap syukur, lalu berkata: “Ambillah ini dan bagikanlah di antara kamu.
22:18 Sebab Aku berkata kepada kamu: mulai dari sekarang ini Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang.”
22:19 Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”
22:20 Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.
22:21 Tetapi, lihat, tangan orang yang menyerahkan Aku, ada bersama dengan Aku di meja ini.
22:22 Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!”
22:23 Lalu mulailah mereka mempersoalkan, siapa di antara mereka yang akan berbuat demikian.

Dalam Lukas 22:17-20, kita menemukan versi yang lebih panjang, menyerupai versi Paulus.

* Yohanes 6:53-55
6:53 Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.
6:54 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.
6:55 Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.

Mengenai yang ditulis Yohanes ini, saya jelaskan dibawahnya

Tulisan Lukas, khususnya menjadi penting, karena ia satu-satunya penulis Injil yang melaporkan bahwa Tuhan Yesus berkata “perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Lukas 22:19). Dalam Tulisannya, kata-kata ini ditambahkan setelah Tuhan Yesus berkata-kata tentang roti perjamuan (dalam catatan Paulus kata-kata ini dihubungkan dengan roti dan cawan). Dari catatan Markus (dan Matius), orang tidak bisa menyimpulkan bahwa pertemuan itu sekedar makan dan minum untuk saat itu saja, ataukah harus dilakukan berulang-ulang (untuk peringatan). Lukas membuatnya menjadi jelas, bahwa makan dan minum itu dimaksudkan supaya diulang-ulang.

Menurut ketiga penulis Injil Sinoptis ini, Tuhan Yesus berkata sambil memberikan cawan kepada murid-muridNya, “Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah ” – atau dengan kata-kata lain tapi dengan pengertian yang sama (lihat Markus 14:25), bandingkan dengan Matius 26:29; Lukas 22:18 ). Saat itulah perjamuan Surgawi akan dimulai.

Tetapi sesudah Tuhan Yesus bangkit dari antara orang-orang mati, Ia menyatakan diriNya kepada murid-muridNya ‘waktu ia memecahkan roti’ (Lukas 24:35). Petrus di rumah Kornelius menceritakan bagaimana ia dan rekan-rekannya ‘makan dan minum bersama-sama dengan Dia’ (Kisah 10:41). Ini menunjukkan bahwa Kerajaan Allah sudah datang dalam pengertian tertentu (Kerajaan Allah yang ‘datang dengan kuasa’, begitu tertulis dalam Markus 9:1) : Kerajaan Allah telah diresmikan, meskipun penyempurnaanNya masih di masa yang akan datang. Sampai kepada penyempurnaan itu, maka umatNya akan senantiasa ‘melakukan ini’ – makan roti dan minum anggur – sebagai peringatan akan Dia. Dan dengan berbuat demikian mereka menyadari dengan sesadar-sadarnya kehadiranNya ditengah-tengah mereka.

Yoh 6:53  Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.

Ini adalah suatu perkataan sesuai yang dilaporkan Yohanes :

Yoh 6:60  Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?

“Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?”, maksudnya adalah bahwa mereka tidak hanya sulit memahaminya, tetapi andaikata mereka dapat mengerti sekalipun, mereka akan sulit menerimanya. Silahkan lihat versi terjemahan dibawah ini :

Contemporary English Version (CNV), Many of Jesus’ disciples heard him and said, “This is too hard for anyone to understand.”

CNV mengekspresikannya dengan nuansa yang berbeda, dengan menyajikan kalimat “Ini sama sekali sulit untuk dimengerti oleh setiap orang”. Bisa dimaksudkan bahwa mereka menganggap Yesus bicara “omong-kosong”, dan kalau mendengarkannya berarti membuang waktu; tetapi bukan ini yang sebenarnya dimaksudkan oleh Yohanes.

Memberi makan lima ribu orang adalah salah satu dari beberapa peristiwa dalam pelayanan Yesus yang dicatat oleh keempat penginjil. Narasi dari Markus 6:31-52 (termasuk kelanjutan kisah Yesus berjalan di atas air menghampiri muird-muridNya ke seberang) direproduksi secara nyata dalam Matius 14:13-33 dan tanpa berjalan dalam Lukas 9:10-17. Yohanes mengisahkan peristiwa itu secara terpisah (bersama dengan berjalan di atas air) dalam Yohanes 6:1-21.

Dalam Injil Sinoptis, kita memperoleh gambaran bahwa ada sesuatu yang lebih dari hanya memberi makan lima-ribu orang seperti yang mata memandangnya pada waktu itu atau mata pembaca masa kini.

Secara khusus, Markus menjelaskan secara gamblang bahwa memberi makan itu bertujuan untuk mengajar para murid yang belum juga mengerti, dan bahwa Yesus merasa heran karenanya. Ketika Dia ikut mereka dalam perahu yang sedang balik menuju ke seberang lain danau Galilea itu, angin topan yang menghambat perjalanan mereka telah menjadi teduh, dicatat oleh Markus : “Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.” (Markus 6:51-52).

‘Hati mereka degil’, berarti ‘pikiran mereka tertutup’, maka kita dapat mengerti makna “perkataan keras” seperti makna yang disampaikan CNV, bahwa mereka itu kesal untuk dapat mengerti pengajaran itu, dan pengajaran itu sebenarnya berkaitan dengan pribadi Tuan mereka.

Tetapi, arti yang terselubung dalam sinoptis diungkapkan oleh Yohanes secara gamblang. Dia menjelaskan hal itu dengan bentuk khotbah. Yesus di Sinagoge Kapernaum, tidak lama setelah peristiwa diatas. Pokok pembahasanNya adalah mengenai Roti Hidup.

Telah diusulkan bahwa pada hari Sabat, salah satu pengajaran Alkitab di Sinagoge adalah Keluaran 16:13-26 atau Bilangan 11:4-9, yang menceritakan tentang manna, roti dari Surga yang olehnya orang Israel dikenyangkan selama perjalanan di padang gurun. Inilah pokok bahasan yang mengawali bagaimana khotbah itu. Manna yang nenek moyang mereka di padang gurun, kata Yesus, bukanlah makanan yang tak dapat binasa : yang emmakannya tetap bisa mati – sepat atau lambat. Demikian juga roti yang Dia berikan kepada orang banyak itu adalah roti secara materi.

Orang-orang Yahudi mau menjadikan Yesus pemimpin mereka, karena mereka melihat mujizat yang dilakukan Yesus yaitu memberi roti kepada lima-ribu orang, padahal sebenarnya Yesus datang untuk memberikan kepada mereka roti yang lebih baik. Sama seperti waktu Yesus menawarkan kepada perempuan Samaria di dekat sumur Yakub – air yang lebih baik daripada air dalam sumur itu, yaitu air hidup yang membuatnya tidak haus lagi selama-lamanya. Maka, kini Yesus menawarkan kepada orang-orang di Galilea – roti yang lebih baik – daripada roti yang hanya mengenyangkan perut yang dimakan oleh lima-ribu orang itu, bahkan roti yang lebih baik daripada Manna yang dimakan oleh nenek-moyang mereka. Yesus menawarkan ‘makanan yang bertahan sampai kehidupan yang kekal’.

Manna boleh saja disebut sebagai ‘roti dari Surga’ , bahkan disebut ‘roti yang dari Allah’ tetapi roti yang benar-benar berasal dari Allah adalah yang turun dari Surga, yang memberi hidup kepada dunia :

* Yohanes 6:27-34
6:27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.”
6:28 Lalu kata mereka kepada-Nya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?”
6:29 Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”
6:30 Maka kata mereka kepada-Nya: “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?
6:31 Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga.”
6:32 Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.
6:33 Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia.”
6:34 Maka kata mereka kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.”

Bukan saja demikian, Allah telah memberi kuasa dan hak kepada Yesus Kristus yang diutus untuk menganugerahkan Roti Hidup : Yaitu Anak Manusia, Yesus Kristus sendiri.
Nah, sejauh ini : ketika perempuan Samaria itu mendengar tentang Air hidup itu berkata : “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.” (Yohanes 4:15), bisa kita umpamakan dengan pendengar Yesus saat itu berkata : “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.”

Dari sini kita menginjak tingkat pengajaran berikutnya. Yesus tidak hanya memberikan roti hidup, tetapi Dialah Roti Hidup. Kehidupan yang sesungguhnya, Hidup yang kekal, yang hanya diperoleh didalam Dia :

Yoh6:35  Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

Memang, barangsiapa yang datang kepadaNya dalam iman akan mendapatkan pemeliharaan dan kesegaran yang abadi untuk jiwa mereka yang haus dan lapar; mereka tidak akan pernah mati.

Yoh 6:51  Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

Sekarang pengajaran itu benar-benar mulai keras. Setiap orang yang beruntung membaca kata-kata ini dalam konteks keseluruhan Injil Yohanes akan mengetahui arti kata-kata itu. Bahwa percaya kepada Yesus Kristus bukan Cuma mempercayai apa yang dikatakanNya : percaya adalah dipersatukan dengan Dia oleh iman untuk berpartisipasi dalam hidupNya. (Sampai pada suatu titik, perkataanNya tentang memberikan dagingNya untuk dunia adalah paralel dengan apa yang ditulis Markus dalam Markus 10:45) dimana Yesus Kristus mengatakan bahwa Anak Manusia datang untuk ‘memberikan nyawaNya bagi banyak orang’.

Mark 10:45  Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Bahasa yang dipakai Yesus untuk mengatakan “dagingKu” bisa merupakan cara lain mengatakan “diriNya”; Dia sendiri adalah Roti yang diberikan untuk hidup dunia. Namun ungkapan dalam Markus 10:45 bukan merupakan referensi mengenai Anak Manusia sebagai makanan bagi jiwa orang ‘banyak’ dan ini merupakan satu penekanan tambahan dan sesuatu yang meninggalkan jemaat sinagoge terlepas dari kedalamannya.

Dari bibir orang-orang yang merasa tidak mengerti kedalaman itu, adalah wajar kalau muncul pertanyaan “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.” (Yohanes 6:52).

Adalah menjadi kebiasaan Yohanes apabila ia mencatat percakapan Yesus dengan mengutip perkataan yang mempunyai arti rohani dan yang membuat pendengarnya memberi reaksi bahwa mereka gagal untuk mengerti artinya; Yesus Kristus kemudian diberikan kesempatan untuk mengulangi perkataanNya secara lebih lengkap. Karena itu disini Dia mengulangi kembali jawabanNya dengan lebih lengkap untuk para pendengarnya yang kebingungan :

* Yohanes 6:54-56
6:54 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.
6:55 Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.
6:56 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.

Apa yang Yesus maksudkan? Jelaslah bahwa bahasanya tidak dapat diambil secara harfiah : Dia tidak menganjurkan kanibalisme. Kalau begitu, bagaimana harus diartikan? Hal ini tidak hanya kabur, mereka berpikir : itu bersifat menantang. Bagi orang yahudi, minum darah apapun, bahkan makan daging yang darahnya masih belum dialirkan, adalah tabu. Apalagi meminum darah manusia yang tidak masuk akal kalau perlu disebutkan. Ini merupakan perkataan yang keras dipandang dari lebih banyak segi.

Yesus menjawab protes mereka dengan menunjukkan bahwa perkataanNya harus dimengerti secara rohani :

Yoh 6:63 Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.

Pengertian secara fisik atau harfiah dari perkataan itu secara jelas tidak akan dapat diterima. Jikalau demikian, apakah arti rohaninya?

Kembali kepada para pembaca Injil yang memandang perkataan ini dalam konteks keseluruhannya, beruntung melebihi pengengar-pendengar pertama, yang tidak mempunyai penjelasan konteks.  Apa yang kita peroleh dari bahasa ganjil yang digunakan Tuhan Yesus adalah merupakan metafora yang dengan kuat menyatakan bahwa bagian dari kehidupan Allah, kehidupan yang ekkal, diberikan kepada barang-siapa yang datang beriman kepada Yesus Kristus, memiliki Dia, masuk dalam eksatuan bersama dengan Dia. Untuk hal ini, kita lihat 2 penjelasan dri 2 tokoh Gereja yaitu Agustinus Hippo (akhir abad ke-4) dan Bernard Calirvaux (Abad ke 12) :

Perkataan yang keras itu tidak dapat diartikan secara harfiah, kata Agustinus, karena itu bisa berarti menganjurkan kejahatan atau kriminal : ‘Karenanya itu merupakan lukisan penderitaan Kristus, dan secara rahasia dan istimewa tersimpan di hati kita suatu fakta bahwa dagingNya telah disalibkan dan ditikamkan untuk kita‘ (Agustine, On Christian Doctrine, 3.16).

Bernard menerangkan perkataan “Barangsiapa yang makan dagingKu dan minum darahKu mempunyai hidup yang kekal” dengan arti “Barangsiapa merefleksikan kematianKu, dan mengikuti teladanKu sehingga tersiksa di bumi, memperoleh hidup yang kekal – dengan kata lain, “Bila engkau menderita bersamaKu, engkau juga akan memerintah bersamaKu” (Bernard, The Love of God, 4.11).

Timbul suatu pertanyaan : Apa hubungan perkataan yesus dengan Perjamuan Kudus, yaitu orang-orang percaya yang menerima roti dan anggur sebagai lambang tubuh dan darah Yesus Kristus?Berbeda dengan penulis-penulis lainnya, Yohanes tidak mencatat institusi Perjamuan Kudus, tetapi hal ini memang menunjuk kepada kebenaran yang sama dalam perkataan seperti dalam Perjamuan Kudus dalam tindakan. Kebenaran ini diringkas dalam undangan yang disampaikan kepada pengikut Perjamuan Kudus dalam Book of Common Prayer : ‘Ambillah dan makanlah, ini sebagai peringatan bahwa Kristus telah mati bagimu, dan hiduplah dari Dia dalam hatimu oleh iman dengan ucapan syukur’.Hidup dari Kristus dalam hati oleh Iman dengan ucapan syukur adalah ‘makan daging Anak Manusia dan minum darahNya’ dan dengan demikian, kita memperoleh kehidupan yang kekal.

Sumber :
FF Bruce, Ucapan Yesus yang Sulit, SAAT Malang, p 4-9 , 275-279

Pdt.Lucky Fergian Laoh :

3. Melalui PK – darah Kristus – kita menerima pengampunan dosa (ay. 25)

Paulus kembali mengutip kata2 Yesus “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” Yesus menyebut kata Perjanjian Baru, otomatis ada Perjanjian Lama. Kisah dalam Perjanjian Lama adalah dimana orang Israel harus mencurahkan darah binatang sebagai tanda penebusan dosa. Setiap tahun mereka harus melakukan untuk penyucian diri. Darah Yesus dicurahkan sekali dan untuk selamanya bagi kita, sehingga jika kita percaya akan korban darah Kristus, segala dosa kita diampuni. Ibr. 9:13:14 mengatakan “Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah,betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.” Darah Yesus lebih mulia dari darah binatang yang dicurahkan dalam PL.

TAnggapan saya :

Diatas sudah dijelaskan bahwa Perjamuan Kudus adalah sebuah Peringatan , jadi perjamuan Kudus tidak menyelamatkan atau mengampuni dosa, apakah yang bisa menyelamatkan kita dari Murka Allah?

percaya / iman

Kol 2: 12 karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan,dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkanjuga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati

dan menerima Yesus

Kol 2: 6 Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhankita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.

Pdt.Lucky Fergian Laoh :

 Banyak ajaran yang melarang orang ikut PK kalau seseorang berdosa. Tetapi jika kita mau renungkan bahwa Yesus datang bukan untuk orang benar, tetapi orang berdosa. Dokter ada untuk orang sakit bukan orang sehat. Yesus mencurahkan darahNya bagi orang berdosa, bukan orang yang merasa benar. Sehingga setiap orang yang menerima PK, terima darah Yesus, dia ditebus dan dosanya diampuni. Perwujudan darah Yesus ada dalam anggur yang kita akui sebagai darah Yesus
Jadi pelajaran ketiga adalah melalui korban darah Yesus, segala dosa kita Tuhan ampuni.

Tanggapan saya :

Diatas sudah dijelaskan bahwa yang boleh mengikuti Perjamuan Kudus adalah orang yang sudah bertobat/percaya

Pdt.Lucky Fergian Laoh :

4. PK bisa dilakukan kapanpun/ bahkan setiap hari

Kutipan Paulus dalam kalimat Yesus, “perbuatlah ini setiap kali kamu meminumnya menjadi peringatan akan Aku” mengajarkan bahwa dalam PK kita mengingat dan mengenang perbuatan Tuhan dalam menebus kita. Sehingga peringatan akan korban tubuh dan darah Yesus dapat dilakukan kapan saja. Setiap kali kita mengenang akan pengorbanan Yesus, justru akan membuat kita semakin hari semakin mempunyai kesadaran bahwa Yesus selalu baik dalam hidup kita.

Yesus juga mengatakan bahwa saat kita makan roti dan minum cawan Tuhan, kita memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. Artinya kita selalu diingatkan selalu bahwa segala kutuk sudah selesai (yang berarti kutuk penyakit, kutuk penderitaan, kutuk dosa).

Tanggapan saya :

kata setiap kali meminum tidak berarti setiap hari !! , diatas sudah dijelaskan bahwa perjamuan suci itu harus dipimpin oleh imam gereja/Pendeta !!

5. PK yang dilakukan secara benar mendatangkan mujizat.

  Banyak pengajaran yang berkembang tentang PK. Ada transubstansi, konsubstansi, dan substansi. Semua ajaran punya pandangan dan argumen yang berbeda-beda tentunya. Tetapi Alkitab mengatakan barangsiapa dengan cara yang tidak layak (termasuk dalam bentuk pengakuan), ia berdosa . . . sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit dan tidak sedikit yang meninggal. PK seharusnya menjadi berkat bagi kita, tetapi cara yang salah dan mendatangkan hukuman. Secara simple orang/ gereja yang melakukan PK secara benar akan menjadi kuat, sembuh, umur panjang. Gereja Tiberias membuktikan dengan banyak mujizat yang terjadi. Yang lemah dikuatkan, yang sakit disembuhkan, yang divonis mati diberikan umur panjang. Karena kebalilkan dari peringatan Alkitab cara yang tidak benar. Artinya Tiberias melakukan apa yang benar, seperti yang Tuhan ajarkan/ perintahkan (Pelajaran 1).
Tuhan memerintahkan kepada Pdt Pariadji untuk mengajarkan bahwa PK bukanlah lambang, tetapi adalah benar tubuh dan darah Yesus. Yesus sendiripun tidak pernah mengatakan bahwa inilah lambang tubuhKu, inilah lambang darahKu. Tetapi inilah tubuhKu, inilah darahKu. Jadi apa yang dilakukan di Tiberias sesuai dengan apa yang Yesus lakukan, sehingga pembuktiannya dengan banyak mujizat yang terjadi.

Tanggapan saya :

diatas sudah dijelaskan dan menurut saya ini sama sekali menyimpang dari tujuan Perjamuan Kudus, karena 1Kor 11:23-26 berkata sebagai berikut: “(23) Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti (24) dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: ‘Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!’ (25) Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: ‘Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darahKu; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!’ (26) Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang”.

Pdt.Lucky Fergian Laoh :

Mempelajari Alkitab dari PL sampai PB, kita akan melihat bahwa setiap utusan Tuhan pasti selalu disertai dengan tanda dan mujizat, supaya setiap orang yang mendengarnya percaya bahwa dia diutus oleh Tuhan. Apa yang diajarkan di Tiberias bukan karena maunya pribadi seorang Pdt Pariadji, tetapi karena perintah Tuhan. Bagaimana supaya orang percaya bahwa Pdt Pariadji diutus Tuhan? Tuhan menyertainya dengan tanda dan mujizat. Kenapa anak2 dan bayi2 boleh diberikan PK? Karena darah binatang yang dicurahkan dalam PL saat orang Israel keluar dari tanah Mesir, bukan saja berlaku bagi orang dewasa, tetapi juga seluruh keluarga (termasuk anak2). Dan di Tiberias bayi2 dan anak2 yang menerima PK, mereka juga menerima dan merasakan mujizat. Bahkan yang divonis mati di kandungan oleh dokter, bisa selamat karena menerima PK. Di saat kita mengimani bahwa perintah ini datangnya dari Tuhan kepada Pdt Pariadji dan gereja Tiberias, maka kuasaNya beserta dengan kita. Gereja Tiberias berdiri untuk mengembalikan ajaran yang benar, melalui kuasa PK ada kuasa Allah yang dinyatakan. Berbahagialah jika kita menerimanya karena berdasarkan perintah, bukan suatu penafsiran semata yang dapat bertentangan satu dengan yang lainnya dan menganggap penafsiran aku yang paling benar yang lain salah. Padahal ada 3 pandangan besar yang berkembang. Tetapi 1 yang kita yakini bahwa PK bukanlah kehendak manusia, tetapi kehendak/ perintah Tuhan untuk kita lakukan.

Tanggapan saya :

Abraham, Yesus dan Paulus tidak mau memberi tanda / mujijat.

a.   Abraham.

Luk 16:27-31 – “Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.’”.

Abraham tidak menganggap bahwa mujijat merupakan sesuatu yang penting untuk mempertobatkan kelima saudara dari orang kaya itu. Ia tidak beranggapan bahwa kuasa Allah harus dibuktikan! Ia menganggap bahwa hukum Taurat / Firman Tuhan sudah cukup untuk mempertobatkan. Kalau hukum Taurat / Firman Tuhan tidak cukup, maka penginjilan yang dilakukan oleh orang yang bangkit dari antara orang matipun, sekalipun merupakan suatu mujijat yang luar biasa, tidak akan bisa mempertobatkan mereka. Ingat juga bahwa pada waktu Yesus membangkitkan Lazarus (Yoh 11), peristiwa itu tidak mempertobatkan para tokoh Yahudi, tetapi sebaliknya mereka ingin membunuh Yesus dan Lazarus (Yoh 11:47-53  Yoh 12:10).

b.   Yesus.

Mat 12:38-40 – “(38) Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: ‘Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari padaMu.’ (39) Tetapi jawabNya kepada mereka: ‘Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. (40) Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam”.

Apa artinya ‘tanda nabi Yunus’? Ada yang menganggap ay 40 sebagai penekanan / inti bagian ini dan lalu berkata bahwa tanda itu adalah kebangkitan Yesus. Tetapi kelihatannya ay 40 ini hanya merupakan tambahan saja dan bukan merupakan inti / penekanan dari bagian ini. Alasannya

Luk 11:29-30 maupun Mat 16:1-4 menyebut tentang Yunus tetapi tidak menyebut tentang ‘3 hari dan 3 malam’.

Luk 11:29-30 – “Ketika orang banyak mengerumuniNya, berkatalah Yesus: ‘Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini”.

Mat 16:1-4 – “Kemudian datanglah orang-orang Farisi dan Saduki hendak mencobai Yesus. Mereka meminta supaya Ia memperlihatkan suatu tanda dari sorga kepada mereka. Tetapi jawab Yesus: ‘Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak. Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.’ Lalu Yesus meninggalkan mereka dan pergi”.

Mark 8:11-12 bahkan hanya berkata bahwa mereka tidak akan diberi tanda. Bagian ini sama sekali tidak menyinggung tentang Yunus!

Mark 8:11-12 – “Lalu muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari padaNya suatu tanda dari sorga. Maka mengeluhlah Ia dalam hatiNya dan berkata: ‘Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.’”.

Ini semua menunjukkan bahwa Mat 12:40 bukanlah bagian inti tetapi hanya merupakan tambahan saja, karena kalau Mat 12:40 merupakan penekanan / inti, maka tidak mungkin 3 bagian Kitab Suci yang lain menghapuskan bagian ini.

Kesimpulan: arti bagian ini adalah: mereka tidak akan diberi tanda, tetapi hanya diberi pemberitaan Firman Tuhan! Yunus sendiri juga tidak memberi mujijat apa-apa kepada orang Niniwe; ia hanya memberitakan Firman Tuhan. Mereka harus percaya pada Firman Tuhan tanpa tanda / mujijat.

c.   Paulus.

1Kor 1:22-23 – “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan”.

Paulus juga seperti Abraham dan Yesus. Ia tidak mau memberikan apa yang dituntut / diinginkan oleh para pendengarnya. Orang Yahudi menginginkan tanda / mujijat, sedangkan orang Yunani menginginkan hikmat, tetapi Paulus memberitakan Kristus yang tersalib, yang bertentangan dengan keinginan dari orang Yahudi maupun Yunani, sehingga bagi orang Yahudi itu merupakan batu sandungan dan bagi orang Yunani itu merupakan kebodohan.

Pertanyaan saya adalah: mengapa Abraham, Yesus, dan Paulus tidak menunjukkan kuasa Allah, dan melakukan mujijat, dalam text-text ini? Dan kalau Abraham, Yesus dan Paulus tidak menunjukkan kuasa Allah atau melakukan mujijat di sini, mengapa orang kristen  jaman sekarang salah, kalau mereka hanya memberitakan Injil , tanpa menunjukkan kuasa Allah dalam bentuk mujijat-mujijat?

3.   Bdk. Yoh 10:41 – “Dan banyak orang datang kepadaNya dan berkata: ‘Yohanes memang tidak membuat satu tandapun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar.’”.

Ayat ini kontras dengan Ul 13:1-5, karena ‘nabi’ dalam Ul 13:1-5 menubuatkan tanda dan tanda itu terjadi, tetapi ia mengajarkan ajaran sesat; sedangkan Yoh 10:41 mengatakan bahwa Yohanes Pembaptis tidak membuat satu tandapun, tetapi apa yang Ia ajarkan benar.

Apakah andaberani mengatakan bahwa Yohanes Pembaptis bukan nabi, karena tidak bisa membuktikan kuasa Tuhan dengan melakukan tanda / mujijat?

Karena itu, kalau anda adalah seorang kristen yang betul-betul memberitakan Injil, jangan kecil hati karena anda tidak diberi karunia untuk melakukan mujijat / kesembuhan ilahi, karena Yohanes Pembaptis juga seperti itu. Yang penting adalah anda  memberitakan Injil / Firman Tuhan yang benar. Bukankah lebih baik menjadi seperti Yohanes Pembaptis, dari pada menjadi seperti ‘nabi’ dalam Ul 13:1-5 (yang mirip dengan Pdt. Yesaya Pariadji dan pengikutnya seperti  Pdt.Lucky Fergian Laoh )?

4.   Setan juga memperlengkapi nabi-nabi palsunya dengan kuasa-kuasa untuk melakukan mujijat. Ini terlihat dari ahli-ahli sihir Mesir yang bisa meniru mujijat Musa (melempar tongkat yang lalu menjadi ular) dalam Kel 7:11-12. Juga dari ayat-ayat seperti Mat 7:21-23  Mat 24:23-24  2Tes 2:9  Wah 13:11-14  Wah 16:13-14. Jadi, bagaimana kita bisa tahu apakah seseorang adalah nabi asli yang melakukan mujijat dengan kuasa Tuhan, atau seorang nabi palsu yang melakukan mujijat dengan kuasa setan? Seperti yang sudah saya katakan di depan, kita hanya bisa tahu melalui ajaran dari orang tersebut!

5.   Kekristenan harus menekankan penebusan / salib Kristus.

Penekanan mujijat dan kesembuhan dalam kekristenan merupakan suatu kebodohan. Mengapa? Karena dalam agama-agama lain dan sekte-sekte sesat, dan bahkan dalam kalangan orang yang mempelajari magic, hal-hal ini juga ada. Kalau kekristenan menekankan hal-hal itu, kekristenan tidak kelihatan istimewa. Yang istimewa dalam  kekristenan dan yang tidak dipunyai agama lain adalah keselamatan / pengampunan karena penebusan Kristus, dan ini yang harus ditekankan!

 

Alkitab adalah Firman Allah atau bukan

Ketika kita memulai doktrin Alkitab, kita diperhadapkan kepada beberapa presaposisi. Presaposisi-presaposisi itu adalah:

1. Alkitab berisi firman Allah, ( the Bible contain the word of God). Pernyataan ini adalah pernyataan orang-orang Liberal yang menolak hal yang bersifat supranatural, mis. mujizat yang telah dinyatakan Alkitab. Mereka menolak Kristus lahir dari anak dara Maria, Yesus membangkitkan orang mati dan lain-lain. Bagi mereka sebagian dari isi Alkitab adalah Firman Allah tetapi sebagian tidak. Ada lagi golongan lain seperti Bultman, yang menolak Alkitab sebagai Firman Allah dalam pengertian obyektif. Dia mengatakan bahwa ada bagian-bagian Alkitab yang berupa mitos yang perlu ditafsirkan kembali agar kita mendapatkan makna yang sesungguhnya dari mitos tersebut. Jadi, apakah sebuah kisah dalam Alkitab secara fakta sejarah benar atau salah, tidak terlalu penting. Yang penting adalah bagaimana mendapatkan makna yang sesungguhnya dari cerita tersebut. Pandangan ini salah, karena Alkitab bukanlah mitos tetapi benar-benar menceritakan fakta sejarah yang pernah terjadi.

2. Alkitab menjadi firman Allah, (the Bible become the Word of God). Pandangan ini adalah pandangan Neo-Ortodoks yang dimulai oleh Karl Barth. Dia berkata bahwa Alkitab adalah buku biasa yang berisi cerita tentang pergumulan iman orang-orang percaya pada zaman dahulu, baik PL maupun PB. Pada saat kita membaca Alkitab dan terjadi perjumpaan secara pribadi dengan Allah (encountering with God) sehingga ayat atau bagian yang kita baca benar-benar berbicara secara pribadi, maka pada saat itu Alkitab menjadi firman Allah. Pandangan ini juga salah karena menjadikan kebenaran firman Allah subyektif. Artinya apakah Alkitab itu firman Allah atau tidak, bergantung pada yang membacanya, apakah dia bertemu secara pribadi dengan Allah dalam pembacaan tersebut atau tidak. Pandangan ini mirip dengan pengajaran Kharismatik mengenai logos yakni firman yang ditulis dan rhema yakni firman yang berbicara secara pribadi kepada kita, pada saat membaca dan mendengarkan perkataan Alkitab. Teologi Reformed menerima bahwa seluruh bagian Alkitab berbicara kepada kita pada saat membaca dan mendengarkan dan mempelajarinya, karena seluruhnya adalah Firman Allah.

3. Alkitab adalah firman Allah, tetapi masih terbuka untuk wahyu baru. Wahyu baru masih diberikan Allah pada zaman ini melalui hamba-hamba Tuhan. Pandangan ini adalah pandangan golongan Kharismatik. Kesalahan pandangan ini adalah: a. Jika wahyu baru masih ada, maka posisi Alkitab menjadi tidak mutlak dan belum sempurna. Jika demikian, bagaimana mungkin Alkitab bisa menjadi standar iman pengajaran Kristen. b. Menerima adanya wahyu baru menjadikan kebenaran bersifat subyektif, karena masing-masing hamba Tuhan mengklaim mendapatkan wahyu dari Tuhan. Siapakah yang akan mengujinya? Jika golongan Kharismatik berkata bahwa Alkitab menjadi pengujinya, maka seharusnya wahyu baru tidak perlu, karena secara logis, kita harus memegang yang standar dan tidak memerlukan wahyu yang baru atau standar yang lain yang perlu diuji lagi oleh Alkitab. Pandangan Kharismatik ini sebenarnya adalah bentuk penolakan terhadap Alkitab yang sudah diwahyukan oleh Allah.

4. Alkitab bukan firman Allah, (the Bible is not the word of God). Pandangan ini adalah pandangan dari orang-orang liberal ekstrim dan juga dari agama-agama lain.

5. Alkitab adalah firman Allah, (the Bible is the Word of God). Pandangan ini adalah pandangan orang-orang Reformed dan golongan Injili. Alkitab adalah firman Allah karena seluruh bagiannya telah diwahyukan dan diinspirasikan oleh Allah. A. A. Hodge mengatakan bahwa, ada dua pendapat mengenai Alkitab ( waktu itu Neo-Ortodoks dan Gerakan Kharismatik belum ada) yaitu: Kitab Suci berisi Firman Allah (The Scripture contain the Word of God) dan Kitab Suci adalah firman Allah (the Scripture are the Word of God). Dia mengatakan bahwa jika Alkitab hanya mengandung (contain) Firman Allah, maka Alkitab tidak dapat menjadi hukum yang tidak dapat salah atas iman dan praktek, karena kita mengakui dua instrumen manusia dan dapat bersalah, 1) dari kritik tinggi (higher critisism) dan 2) hati nurani orang Kristen (Christian consciousness), untuk menetapkan elemen-elemen apakah yang hanya merupakan kata-kata manusia. Tetapi Gereja selalu memegang bahwa Alkitab adalah Firman Allah. Hal ini berarti bahwa, walaupun kitab-kitab ini dihasilkan melalui agen manusia, Allah telah, 1) mengontrol sedemikian rupa kejadian atau terjadinya dan 2) mengesahkan sedemikian mutlak akibatnya, bahwa Alkitab dalam setiap kalimat dan setiap kata, baik dalam materi dan bentuknya (matter and form) adalah sungguh-sungguh Firman Allah yang disampaikan kepada kita.
Di bawah ini kita akan melihat apakah pengertian dari wahyu dan inspirasi.

PEWAHYUAN (REVELATION)

Menurut B.B. Warfield, English Bible (AV/KJV), memunculkan kata wahyu (reveal) sebanyak 51 kali, dalam PL 22 kali dan PB 29 kali. Kata ini dalam bahasa Ibraninya adalah galah yang arti dasarnya adalah ketelanjangan (nakedness). Jika dikenakan pada pewahyuan maka berarti menghilangkan rintangan untuk mengamati atau membuka penutup suatu obyek untuk mengamatinya. Kata yang mirip dengan istilah Ibrani di atas adalah apokalupto dalam bahasa Yunani yang berarti penyingkapan.

Berkenaan dengan Alkitab maka, pewahyuan (revelation) berarti penyingkapan kebenaran oleh Allah kepada para nabi PL dan rasul PB, untuk ditulis menjadi kitab-kitab seperti yang sudah terdapat dalam Alkitab.

Akibat dari pewahyuan adalah menjadikan para nabi dan para rasul lebih bijaksana sehingga mereka mengerti firman, kehendak, serta rencana Allah. Penulis Alkitab yang bukan nabi maupun rasul, seperti penulis kitab Ester (yang diperkirakan ditulis Mordekhai) atau Lukas penulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul, tidak mendapat wahyu dari Tuhan, tetapi mendapatkan ilham sehingga mereka menulis. Hanya nabi dan rasul yang mendapatkan wahyu.

Beda pewahyuan dan pengilhaman adalah seperti yang dijelaskan oleh Charles Hodge berikut ini. Wahyu dan ilham pertama-tama berbeda dalam obyeknya. Obyek wahyu adalah pengkomunikasian pengetahuan, sedangkan obyek dari ilham adalah untuk mengamankan pengajaran. Konsekuensi dari perbedaan ini adalah timbulnya perbedaan yang kedua, yaitu dalam hal akibatnya. Akibat dari wahyu adalah menyebabkan penerima wahyu menjadi lebih bijaksana, sedangkan akibat dari ilham adalah menyebabkan penerima wahyu tadi dijaga dari kesalahan di dalam pengajarannya.

PENGILHAMAN (INSPIRATION)

Istilah ilham di dalam Alkitab diambil dari II Tim. 3:16. Di situ dikatakan : “Segala tulisan yang diilhamkan Allah…. .” Kata “diilhamkan Allah” di ayat tersebut berasal dari kata Yunani “Theo pneustos” yang berarti dihembuskan Allah. Penekanannya adalah ‘dihembuskan keluar’ (breath out) yang menunjukkan bahwa penulisan Alkitab adalah karya Allah yang menghembuskan keluar firman-Nya, untuk ditulis oleh manusia. Sebenarnya istilah ilham atau inspiration adalah istilah yang kurang tepat untuk hal ini, karena istilah tersebut lebih menunjuk kepada “menghirup kedalam”. Tetapi istilah ini sudah menjadi istilah teologi yang umum. Seharusnya istilah expiration lebih tepat untuk dipakai.

Warfield berkata bahwa istilah Theo pneustos tidak berarti diilhamkan dari Allah (inspired of God), atau dihembuskan ke dalam oleh Allah (breathed into by God), tetapi dihembuskan keluar oleh Allah (breathed out by God). Istilah ini menunjukkan bahwa Alkitab adalah sebuah produksi ilahi tanpa ada indikasi bagaimana Allah melakukannya di dalam memproduksinya.

Catatan:

Ada sekitar 4 kali Alkitab bersaksi tentang hembusan nafas Allah. Yang pertama ketika penciptaan manusia dan malaikat (kej. 2:7; Maz. 33:6). Hembusan ini adalah hembusan untuk memberi roh hidup ke dalam diri manusia dan malaikat. Ini adalah hembusan penciptaan. Hembusan kedua, terdapat dalam Yoh. 20:22, di mana Kristus menghembusi murid-murid dengan Roh Kudus. Hal ini berkenaan dengan pemberian Roh Kudus kepada gereja dan tentu berkaitan dengan baptisan Roh Kudus dan kelahiran kembali orang-orang pilihan Allah serta pengutusan para rasul untuk mendirikan Gereja Perjanjian Baru. Hembusan ketiga, dalam II Tim. 3:16, berkenaan dengan pemberian firman kepada orang-orang pilihan/gereja Tuhan. Mereka yang sudah diciptakan (hembusan I), tetapi sudah jatuh dalam dosa dan mati, dan yang sekarang telah dihidupkan kembali (hembusan II), harus diberi makan firman-Nya (hembusan III). Hembusan yang terakhir dalam II Tes. 2:8, merupakan hembusan bagi Iblis dan pengikutnya serta mereka yang tidak dipilih dan telah menolak Dia. Ini adalah hembusan murka-Nya, dimana musuh segala kebenaran dijatuhkan dan ditegakkannya kerajaan Allah yang kekal di dalam segala kepenuhan-Nya.

Fungsi dari pengilhaman adalah untuk mengamankan penulisan Alkitab dari kesalahan dan kesesatan. Semua penulis Alkitab, baik nabi-nabi atau rasul-rasul mau pun orang-orang yang berada di bawah wibawa mereka, menulis tanpa salah dan tidak sesat karena mendapat ilham dari Allah. Para nabi dan rasul mendapat wahyu dan ilham dari Allah, sedangkan penulis lain yang tidak termasuk ke dalam golongan nabi maupun rasul tetapi yang berada di bawah wibawa para rasul atau nabi, hanya mendapat ilham saja. Misalnya penulis kitab Ester yaitu Mordekhai di dalam PL dan penulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul yaitu Lukas di dalam PB.

Natur Pengilhaman (inspirasi)

Sekarang kita akan melihat natur dari pengilhaman. Menurut Berkhof, ada dua pandangan yang salah dalam hal ini, yaitu:

a. Pengilhaman mekanik. Pengilhaman mekanik adalah pemahaman bahwa Allah bertindak mendikte secara langsung para penulis Alkitab untuk menulis, dan mereka pasif dalam hal ini.

b. Pengilhaman dinamik. Pemahaman ini mengatakan bahwa mental dan kerohanian para penulis diangkat ke tingkat yang lebih tinggi, sehingga mereka melihat hal-hal rohani dengan lebih jernih dan memiliki perasaan yang lebih dalam mengenai kerohanian mereka. Tetapi kedua pandangan ini salah, dan yang benar adalah pandangan dalam poin c berikut ini.

c. Pengilhaman organik. Pemahaman ini mengatakan bahwa Roh Kudus menggunakan cara organik ketika menggerakkan penulis Alkitab. Roh memakai mereka seperti apa adanya mereka, sesuai dengan karakter dan temperamen mereka, karunia dan bakat mereka, pendidikan dan budaya mereka, kata-kata dan gaya mereka. Roh Kudus mengiluminasikan kepada mereka, bahkan mengenai kata-kata apa yang mereka gunakan.

Karena itu kita bisa memberikan kesimpulan bahwa inspirasi organik berarti, Allah melalui Roh Kudus-Nya memberikan inspirasi (ilham) kepada penulis kitab-kitab dalam Alkitab sehingga mereka menulis tanpa salah dalam setiap katanya (lih. inspirasi verbal di bawah ini), tetapi tidak dengan cara mendikte satu persatu apa yang mereka harus tulis, melainkan memberikan kebebasan penuh atas keterlibatan penulis Alkitab, baik dalam hal pikiran dan karakter, situasi mereka ketika menulis, budaya mereka bahkan gaya penulisan mereka. Teologi Reformed memegang posisi ini.

W. Gary Crampton, menyebutkan sekitar 6 pandangan yang salah mengenai inspirasi, yaitu pandangan:

1. Dinamis (sama seperti kesalahan yang dinyatakan Berkhof di atas).
2. Parsial. Yaitu inspirasi pada bagian-bagian tertentu saja dalam Alkitab.
3. Konseptual. Bahwa yang diinspirasikan hanya konsep-konsep saja, bukan kata-katanya.
4. Alami. Bahwa para penulis hanya dianggap sebagai orang yang sangat jenius dan karya mereka tidak berasal dari Allah.
5. Dapat salah. Alkitab walaupun diinspirasikan, tetapi dapat salah.
6. Neo Ortodoks. Alkitab ditulis oleh manusia yang sudah jatuh, maka pasti mengandung kesalahan.

2. Keluasan Inspirasi

Mengenai keluasan dari pengilhaman Alkitab, ada satu pandangan yang salah berkenaan dengan hal ini yaitu pandangan inspirasi parsial seperti yang sudah saya kutip W. Gary Crampton di atas. Sedangkan dua istilah yang berikut adalah pandangan yang benar mengenai keluasan dari inspirasi, yaitu inspirasi secara keseluruhan (plenary inspiration)dan inspirasi verbal (verbal inspiration). Plenary inspiration adalah keyakinan bahwa seluruh bagian Alkitab diinspirasikan oleh Allah, seperti yang dikatakan oleh Paulus dalam II Timotius 3:16 dan Petrus di dalam II Petrus 3: 16. Sedangkan Verbal inspiration adalah bahwa setiap kata dalam Alkitab diinspirasikan, sehingga tidak ada kata-kata yang salah atau sia-sia (tidak berarti).

Oleh karena seluruh bagian Alkitab dan juga kata demi kata diinspirasikan dan diwahyukan oleh Allah, maka Alkitab adalah firman Allah. Orang percaya harus menerima fakta bahwa seluruh bagian Alkitab, 39 kitab Perjanjian Lama, dan 27 kitab Perjanjian Baru, adalah firman Allah, karena dihembuskan keluar dari mulut Allah sendiri (theopneustos).

KETIDAKBERSALAHAN &KETIDAKTERSESATAN

Karena Alkitab diwahyukan dan diinspirasikan sepenuhnya oleh Allah, maka kaum Reformed dan orang-orang Injili berpendapat bahwa Alkitab adalah firman Allah. Kaum Reformed dan Injili, menerima ketidakbersalahan (inerrant) Alkitab serta layak dipercayanya atau ketidaktersesatan (infallible) Alkitab. Hal ini tentu di dalam teks aslinya (autographa). W. Gary Crampton mengatakan bahwa istilah infallible menyangkut otoritas Alkitab yang tanpa cacat, tanpa cela, mutlak dan mencakup seluruhnya, sedangkan istilah inerrant adalah bahwa Alkitab mempunyai kualitas yang bebas dari kesalahan. Alkitab bebas dari kemungkinan kesalahan; Alkitab tidak mungkin salah; Alkitab tidak mengatakan yang bertentangan dengan kenyataan; Alkitab mencatat sejarah dengan sempurna.

AUTHOGRAPHA

Pandangan Reformed dan Injili menekankan bahwa Alkitab yang tidak salah dan tidak menyesatkan (inerrant and infallible), tetapi semuanya sepakat bahwa hal ini hanya berlaku di dalam teks aslinya saja. Sedangkan salinan-salinan dan terjemahan, sangat mungkin terjadi kesalahan penulisan dan penerjemahannya. Permasalahan yang timbul dari hal ini adalah bahwa Alkitab yang authographa sudah tidak ada lagi, sedangkan yang tinggal hanya salinan-salinan. Jikalau yang asli sudah tidak ada, maka bagaimana bisa membuktikan bahwa salinan-salinan yang ada sekarang ini otoratif?

Frame berkata bahwa teolog Reformed tradisional telah berargumentasi mengenai ketidakbersalahan Alkitab hanya mencakup authographa bukan salinan-salinannya, sehingga banyak kalangan yang keberatan. Jika hal ini benar maka yang ada sekarang tidaklah infallible, melainkan hanya bisa cukup bisa diandalkan.

Mengenai hal ini Frame mengutip ilustrasi Van Til di dalam An Introduction to Systematic Theology, yaitu ilustrasi jembatan yang tertutup oleh air. Van Til mengatakan bahwa kita dapat mengemudi dengan aman di dalam air sedalam beberapa inci jika kita memiliki permukaan yang solid di bawah permukaan air tersebut. Menyatakan bahwa Alkitab bisa diandalkan meskipun tidak memiliki pengilhaman yang infallible, sama artinya dengan mengemudi melalui air, tidak membedakan apakah ada dasar yang solid atau tidak.
Tidak adanya autographa, tidak berarti bahwa Alkitab yang dipegang oleh orang percaya salah dan tidak otoratif. Benar bahwa Alkitab salinan dan terjemahan mungkin memiliki kesalahan penyalinan dan penerjemahan, tetapi tidak mempengaruhi konsep kebenaran utuh yang disampaikannya.

Kita memiliki tiga alasan untuk keyakinan ini, yakni:

1. Sekarang kita menemukan begitu banyak versi terjemahan. Jika seluruhnya dikumpulkan dan dibandingkan, maka jika ada salah satu versi yang secara menyolok berbeda dari semua versi lainnya dalam menyampaikan konsep kebenaran, maka versi tersebut layak untuk diragukan otoritasnya. Mis. Alkitab versi Saksi Yehovah. Sangat disayangkan bahwa ada golongan Reformed yang memiliki jiwa Fundamentalisme serta orang-orang Injili Fundamental tertentu, yang mengklaim bahwa versi King James adalah satu-satunya versi yang otoritatif. Ini sama sekali keliru. Versi King James juga ada kelemahannya. Sarjana Alkitab seperti Gordon Fee lebih mengunggulkan NIV ketimbang King James. Sebagai orang percaya, apapun versi terjemahan Alkitab kita, apakah itu King James, NIV, ASB, LAI atau yang lainnya, selama tetap setia menyampaikan seluruh konsep kebenaran yang menyangkut keAllahan dan kamanusiaan Kristus dan karya penebusan-Nya, Penciptaan dan kejatuhan manusia yang membutuhkan anugerah dan pertolongan Tuhan, Tritunggal dan doktrin pokok Kristen yang lainnya, tanpa mengabaikan kelemahannya, kita harus menerimanya sebagai firman Allah.

2. Jika kita sungguh-sungguh percaya bahwa Alkitab yang asli sungguh-sungguh ada, walaupun sekarang sudah hilang, maka seperti argumen Van Til di atas, kita mempunyai dasar yang solid untuk Alkitab yang kita pegang sekarang ini. Meragukan Alkitab yang kita pegang sekarang ini, sama artinya dengan menolak bahwa Alkitab yang authographa sungguh-sungguh ada. Dari manakah Alkitab yang sudah disalin dalam banyak versi dan diterjemahkan juga dalam banyak versi, yang secara keseluruhan menyampaikan konsep kebenaran yang sama, kalau tidak berasal dari satu sumber yang sungguh-sungguh ada? Menolak authographa adalah hal yang sangat mustahil. Ini sama halnya jika kita menolak bahwa kita seluruh ras manusia berasal dari nenek moyang yang sama, yaitu Adam. Darwin percaya bahwa kita dari monyet, tetapi teori ini dapat dengan mudah kita patahkan.

3. Jika kita percaya bahwa Alkitab adalah kitab yang dihembuskan oleh Allah atau bahwa Allah adalah penulis Alkitab, tidakkah Dia juga sanggup menjaga dan memelihara kitab yang sudah ditulis-Nya? Jikalau kita menerima kedaulatan Allah dalam segala hal, maka kita juga harus menerima kedaulatan-Nya terhadap Alkitab, baik dalam penulisannya maupun di dalam pemeliharaan akan keberlangsungannya selama Tuhan melihat bahwa Alkitab masih dibutuhkan oleh umat manusia.

KANONISASI

Salah satu hal yang paling penting di dalam membicarakan Alkitab adalah masalah kanonisasi. Kata kanon, seperti dikutip oleh F.F. Bruce dari R.P.C. Hanson, memiliki arti yang sederhana yaitu daftar buku yang dimuat di dalam Alkitab, atau di dalam konteks Kristen boleh didefinisikan kata itu sebagai daftar dari tulisan-tulisan gereja sebagai sebuah dokuman dari inspirasi ilahi.

Kata kanon berasal dari kata Yunani kanon yang berarti batang, tangkai atau tongkat, secara khusus tongkat yang lurus sebagai sebuah pengukur. Dari penggunaan ini datang arti lain yang umumnya terkandung di dalam bahasa Inggris ‘rule’ atau ‘standard.’
Siapakah yang berhak mengumpulkan dan menentukan kitab-kitab dalam Alkitab seperti yang kita ketahui sekarang yakni 66 kitab, dan atas otoritas siapakah mereka melakukan hal itu? Ada satu prinsip yang sangat penting yang ditulis Paul Little di dalam bukunya Know What You Believe, yaitu bahwa di dalam proses kanonisasi harus disadari bahwa sebuah kitab adalah kitab yang diinspirasikan dengan menggolongkan kitab itu ke dalam kanon. Penggolongan ke dalam kanon hanyalah pengenalan otoritas sebuah kitab yang sudah dimilikinya.

Jika sebuah kertas berwarna putih, maka warna putih dari kertas tersebutlah yang membuat kita mengatakan bahwa kertas itu putih dan bukan karena kita mengatakan kertas itu berwarna putih sehingga menjadi putih. Demikianlah dengan proses kanonisasi. Bukan bapa-bapa gereja yang menentukan sebuah kitab masuk ke dalam kanon atau tidak. Mereka sama sekali tidak memiliki otoritas untuk itu. Tetapi kitab-kitab tersebutlah yang menyatakan diri mereka firman Allah. Bapa-bapa gereja hanyalah mengumpulkan mana kitab-kitab yang berotoritas ilahi dan menyisihkan mana yang tidak.

Alkitab Perjanjian Lama tidak terlalu bermasalah, karena seluruh kitab-kitab Perjanjian Lama sudah diterima dan diakui oleh orang-orang Yahudi, sejumlah yang kita kenal sekarang. Bahkan sekitar tahun 70 sebelum masehi, sudah diterjemahkan oleh sekitar 70 ahli Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani, di kota Aleksandria, Mesir. Terjemahan tersebut disebut sebagai septuaginta (LXX).
Menurut W. Gary Crampton, kanon Perjanjian Lama sudah lengkap pada tahun 400 sebelum masehi, tetapi menurut Paul Little, kanon perjanjian Lama tidak diketahui dengan pasti kapan sudah lengkap.

Mengenai kanon Perjanjian Baru, H. Berkhof mengatakan bahwa kanon tersebut sudah ditetapkan kira-kira tahun 200 dan secara definitif tahun 380. Sedangkan menurut W. Gary Crampton, Kanonisasi terakhir terjadi pada tahun 397 masehi di konsili Kartago.
Crampton juga menyatakan bahwa Perjanjian Lama diterima oleh bapak-bapak gereja pada saat kanonisasi karena, kepenulisannya bersifat kenabian, penerimaan oleh agama dan orang Yahudi secara Historis dan konsistensi doktrin dalam keseluruhan Perjanjian Lama. Kemudian Perjanjian Baru juga sama yaitu, bersifat kerasulan, penerimaan oleh gereja mula-mula, dan konsistensi doktrin serta keselarasan Alkitab.

Dalam bukunya Little, seperti yang dikutipnya dari J.N. Birdsell, Canon of The New Testament, kanon Perjanjian Baru dikonfirmasikan pada saat konsili di Kartago tahun 397 dengan mengunakan tiga kriteria yaitu:

1. Apakah kitab itu bersifat kerasulan dari awalnya?
2. Apakah kitab itu digunakan dan dikenali oleh gereja-gereja?
3. Apakah kitab tersebut mengajarkan doktrin yang benar?

Yang pertama, apakah bersifat kerasulan atau tidak? Hal ini berarti bahwa kitab-kitab tersebut harus ditulis oleh rasul-rasul Yesus Kristus sendiri yaitu keduabelas rasul dan rasul Paulus (Yudas tentu tidak termasuk ke dalam golongan ini, jabatannya sudah diganti oleh Matias, Kis. 1:26), yang juga mendapat panggilan langsung dari Tuhan di dalam perjalanannya ke Damsyik, Kis. 9:3-6. Bandingkan juga dengan I&II Kor. 1:1;Gal. 1:1; Ef.1:1; I&II Tim.1:1; Tit.1:1.

Tetapi ada juga kitab-kitab yang tidak ditulis oleh rasul-rasul sendiri, seperti kitab Injil Markus yang ditulis Markus, Injil Lukas dan Kisah Para rasul yang ditulis oleh Lukas serta surat Yakobus dan Yudas yang ditulis oleh Yakobus dan Yudas saudara-saudara Tuhan Yesus. Mereka semua bukanlah rasul tetapi mereka menulis di bawah pengaruh rasul-rasul.

Markus pernah berada di bawah pengaruh Paulus karena pernah menyertai Paulus di dalam perjalanannya, yang menjadi penyebab perselisihan antara Paulus dan Barnabas. Kis. 15:37-40. Secara khusus ketika Markus menulis Injil Markus, dia berada di bawah pengaruh dan bimbingan rasul Petrus. Sedangkan Lukas adalah rekan Paulus. Tidak diragukan lagi bahwa dia berada di bawah pengaruh dan bimbingan Paulus. Yakobus dan Yudas yang pada awalnya tidak percaya kepada Yesus, Yoh. 7:3-5, pada akhirnya mereka menjadi percaya, dan sejak mula mereka berada bersama-sama rasul-rasul di Yerusalem, Kis. 1:14.
Mengenai kitab Ibrani, yang penulisnya tidak mencantumkan nama, jika Paulus yang menulisnya, tidak ada masalah. Tetapi Jika Apolos, seperti pendapat sebagian ahli PB, maka kita dapat berargumen bahwa dia berada di bawah pengaruh Paulus. Hal ini bisa kita lihat dari dua hal yaitu:

1. Paulus menyebut Apolos di dalam suratnya, yang secara tidak langsung meneguhkan pelayanan Apolos dan kedekatan Paulus dengannya. Pertama, di dalam I Kor. 3:4-6. Walaupun tulisan Paulus ini untuk mengecam dan menyelesaikan perselisihan jemaat Korintus, tetapi Paulus mengatakan bahwa dirinya yang menanam dan Apolos yang menyiram. Pernyataan ini langsung meneguhkan kredibilitas pelayanan Apolos. Kedua, I Kor. 16:12. Di dalam ayat ini Paulus menulis bahwa ia mendesak Apolos untuk datang ke Korintus. Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki hubungan yang erat sekali di dalam pelayanan.

2. Konsep teologi Apolos pernah diluruskan oleh Priskila dan Akwila. Kita tahu bahwa Priskila dan Akwila adalah rekan pelayanan Paulus yang sangat dekat. Mereka dan Paulus, sama-sama pembuat tenda, Kis. 18:2-3. Doktrin atau teologi Priskila dan Akwila pasti dibentuk oleh pengajaran Paulus. Jadi, kedekatan antara Apolos dengan Priskila dan Akwila, menjadikan Apolos secara tidak langsung berada di bawah pengaruh bahkan bimbingan Paulus. Sehingga seandainya jika bukan Paulus yang menulis kitab Ibrani tetapi Apolos, maka tetap tidak menjadi masalah. Ke 27 kitab PB, lulus di dalam ujian yang pertama ini.

Yang Kedua, apakah kitab-kitab tersebut dikenali dan digunakan oleh gereja-gereja saat itu? Pengakuan adalah penting sekali. Jika sebuah kitab hanya diakui dan digunakan oleh sebuah jemaat saja, maka otoritas dari kitab tersebut patut dipertanyakan. Jika kitab itu sungguh-sungguh firman Allah, maka tentu dikenal dan digunakan secara luas oleh gereja-gereja saat itu. 27 kitab PB adalah kitab-kitab yang sudah lulus ujian ini.Yang Ketiga, apakah kitab-kitab itu, mengajarkan doktrin yang benar? Banyak kitab-kitab apokrifa yang ditulis pada abad kedua, yang masih mirip dengan kanon, tetapi di dalamnya ada muatan-muatan ajaran gnostik dan panteisme. Itu sebabnya injil-injil palsu seperti injil Thomas, injil Yudas, injil Maria Magdalena dan lain-lain, bahkan yang muncul paling belakangan yaitu injil Barnabas, kita tolak. Tetapi, ke 27 kitab PB yang menjadi kanon, sangat sepakat di dalam doktrin yang disuarakannya. Itu sebabnya, kitab-kitab itu lulus juga pada ujian ini.

BEBERAPA PENDAPAT

Martin Luther

Althaus mengatakan bahwa kita tidak dapat mendiskusikan pengertian Luther mengenai iman tanpa mengacu kepada firman Allah, sebaliknya juga kita tidak dapat menbicarakan firman Allah tanpa mengacu iman. Ini berarti bahwa menurut Althaus, Luther sangat menekankan keterkaitan antara Alkitab dan iman. Selanjutnya Luther juga melihat bahwa seluruh Alkitab merupakan sebuah kesatuan besar dan hanya memiliki satu isi yaitu Kristus. Dia mengatakan seperti dikutip oleh Althaus bahwa tidak diragukan lagi, seluruh Alkitab menunjuk hanya kepada Kristus. Keluarkan Kristus dari Alkitab, maka apa lagi yang engkau akan temukan di dalamnya? Seluruh Alkitab hanya menulis tentang Kristus. Selanjutnya menurut Luther, Alkitab berisi baik Hukum Taurat maupun Injil, dan Kristus sendirilah penafsir dari Hukum Taurat. Sejauh mana Alkitab mengetengahkan Hukum Taurat, maka hal itu menarik manusia kepada Kristus.

Mengenai keabsahan atau otoritas Alkitab, Luther menghubungkan hal itu dengan isinya yaitu Kristus. Dia berkata bahwa jika Kristus adalah isi Alkitab, ini berarti bahwa di dalam Roh Kudus Kristus mengabsahkan diri-Nya kepada manusia sebagai satu-satunya kebenaran dan oleh karena itu mengabsahkan Kitab Suci.

Mengenai penafsiran Alkitab, Luther mengemukakan satu hukum penafsiran yang juga berlaku untuk semua buku yaitu, menafsirkan sesuai dengan jiwa dan semangat dari penulisnya. Karena semangat dari penulis dapat dikenal dari tulisan-tulisannya, maka hal ini berarti bahwa sebuah tulisan harus menafsirkan dirinya sendiri. Jika ini benar bagi semua buku maka berlaku juga bagi Alkitab. Alkitab adalah otoritas final dan hakim yang tertinggi. Jikalau otoritas-otoritas lain menjelaskan mengenai Alkitab, maka otoritas-otoritas itu juga mengabsahkan Alkitab, sehingga Alkitab akan hilang otoritas finalnya. Pengabsahan Alkitab atas dirinya sendiri juga meliputi penafsiran atas dirinya sendiri. Dengan demikian maka Luther menegakkan semboyan Alkitab ditafsirkan dengan Alkitab atau Alkitab menafsirkan dirinya sendiri.

Mengenai kaitan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Luther mengatakan bahwa hal ini dikarasteristikkan oleh baik kesatuan maupun perbedaan. Bagi Luther, perbedaan yang paling menentukan di dalam firman Allah adalah perbedaan antara Hukun Taurat dan Injil, tetapi perbedaan ini tidak lantas menunjukkan perbedaan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, karena hukum maupun Injil terkandung di dalam dua kitab tersebut.

John Calvin

John H. Leith mengutip pendapat B.B. Warfield di dalam bukunya Calvin and Calvinism, yang menurut Warfield, Calvin mengajarkan mengenai Alkitab yang bebas dari seluruh kesalahan. Ini berarti bahwa Calvin percaya ketidakbersalahan Alkitab, sebuah topik yang menjadi perdebatan antara orang-orang Modernisme dengan para teolog Old Princeton yang memuncak pada B.B. Warfield.
Calvin dalam Institutes buku yang pertama bab VII mengatakan bahwa Alkitab adalah satu-satunya rekaman di mana Allah senang untuk menyampaikan kebenaran-Nya sebagai peringatan yang kekal. Otoritas penuh yang mereka (maksudnya kitab-kitab dalam Alkitab) miliki tidak dapat dikenal jika tidak dipercayai datang dari sorga, sama langsungnya jika Allah telah terdengar mengatakannya kepada mereka. Dari kutipan ini, dapat disimpulkan bahwa otoritas Alkitab menurut Calvin diteguhkan oleh Allah sendiri sebagai pemberi Alkitab.

Selanjutnya dia mengatakan bahwa karena hanya Allah saja yang selayaknya memberi kesaksian terhadap firman-Nya, maka firman ini tidak mendapat penghargaan yang penuh di dalam hati manusia, sampai mereka dimeteraikan oleh kesaksian di dalam oleh Roh Kudus. Karena itu Roh yang sama yang berbicara melalui mulut para nabi, harus meresapi hati kita, supaya meyakinkan kita bahwa kitab-kitab itu setia dalam menyampaikan pesan yang mana mereka dipercaya secara ilahi. Jadi bagi Calvin, Alkitab dan kesaksian Roh Kudus di dalam hati orang percaya yang meneguhkan bahwa Alkitab adalah sungguh-sungguh firman Allah, tidak dapat dipisahkan. Alasannya adalah bahwa jika Roh Kudus yang memakai para penulis Alkitab sehingga mereka menuliskan firman-Nya, maka Roh Kudus pula yang memberikan kesaksian di dalam hati manusia bahwa Alkitab sungguh-sungguh firman Allah.
Mengenai pendapat Calvin ini, De Jonge memberikan penjelasan demikian:

… bagaimana “para rasul dan nabi ” sebagai manusia yang fana dapat menulis sesuatu yang berwibawa sebagai firman Allah. Di sini Calvin menunjuk pada peran menentukan yang dimainkan oleh Roh Kudus. Roh Kuduslah yang menyakinkan orang bahwa Alkitab adalah firman Allah. Bahwa Alkitab adalah firman Allah, disaksikan dalam batin manusia oleh Roh Kudus sendiri. Tetapi, kalau demikian, bagaimana kita menerima kesaksian Roh Kudus yang batiniah, testimonium spiritus sancti internum (juga arcanum, rahasia) ini? Di sini Calvin diajak untuk bertindak secara bijaksana, sebab pada zamannya ada orang yang mengatakan bahwa Roh Kudus langsung bekerja dalam hati orang percaya, sehingga mereka sebenarnya tidak memerlukan firman Allah yang tertulis. Untuk menjawab kaum spiritualis (dari spiritus, Roh) ini, Calvin berkata bahwa Roh Kudus bersaksi melalui Alkitab, kata-kata yang ditulis oleh “para rasul dan nabi.” Roh Kudus menggerakkan penulis-penulis Alkitab untuk menulis hal-hal yang bukan berasal dari mereka sendiri, malainkan dari Allah. Demikianlah kesaksian manusia menjadi kesaksian Roh Kudus. Dapat dikatakan juga bahwa Alkitab menjadi alat Roh Kudus untuk menyampaikan firman Allah. Kata-kata manusia di dalamnya dipakai oleh Roh Kudus untuk menyampaikan firman Allah, dan Roh kudus sekaligus menggerakkan hati para pembaca untuk memperoleh dari tulisan-tulisan manusiawi kebenaran ilahi.

Mengenai kaitan Alkitab dan kehidupan Kristen, Calvin berkata bahwa kebutuhan manusia untuk pengetahuan mengenai kehidupan Kristen ditemukan melalui wahyu Allah di dalam Yesus Kristus, di dalam Hukum Taurat dan Alkitab. Calvin secara bervariasi menunjukan bahwa ketiga hal tersebut adalah norma dari kehidupan Kristen, tetapi dia tidak memisahkan ketiganya sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Yesus Kristus adalah penggenap Hukum Taurat dan pengakuan kita mengenai Yesus Kristus dan Hukum Taurat datang dari Alkitab.

Charles Hodge

Charles Hodge adalah seseorang profesor teologi di seminari Princeton pada abad 19. Dia mengatakan bahwa semua orang Protestan mengajarkan mengenai firman Allah yang ditulis di dalam Alkitab yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sebagai satu-satunya hukum yang tidak dapat salah bagi iman dan hidup. Berikut penjelasan Hodge atas pernyataan atas keyakinan Protestan di atas:

1) That the Scriptures of the Old and New Testaments are the Word of God, written under the inspiration of the Holy Spirit, and are therefore infallible, and of divine authority in all things pertaining to faith and practice, and consequently free from all error wether of doctrine, fact, or precept. 2) That they contain all the extant supernatural revelation of God designed to be a rule of faith and practice to His church. 3) That they are sufficiently perspicuous to be understood by the people, in the use of ordinary means and by the aid of the Holy Spirit, in all things necessary to faith or practice, without the need of any infallible interpreter. (Bahwa kitab-kitab Perjanjian Lama dan Baru adalah firman Allah, ditulis di bawah inspirasi dari Roh Kudus, dan oleh karenanya sempurna, dan oleh otoritas ilahi di dalam segala hal berkenaan dengan iman dan praktek, dan akibatnya bebas dari segala kesalahan apakah itu doktrin, fakta, maupun ajaran. 2) Bahwa kitab-kitab itu mengandung semua wahyu supranatural Allah yang masih ada yang didesain untuk menjadi hukum atas iman dan praktek bagi gereja-Nya. 3) Bahwa kitab-kitab itu cukup jelas untuk dimengerti oleh manusia, di dalam penggunaannya yang biasa dan oleh pertolongan Roh Kudus, di dalam segala hal yang penting untuk iman maupun praktek, tanpa memerlukan seseorang penafsir yang tidak bersalah.)

Hodge menyimpulkan bahwa ketidakbersalahan Alkitab dan otoritas ilahinya adalah berasal dari fakta bahwa Alkitab adalah firman Allah dan bahwa Alkitab adalah firman Allah karena diberikan melalui inspirasi Roh Kudus.

B.B. Warfield

Warfield memahami Alkitab sebagai perkataan Allah sendiri. Dia mengatakan bahwa ada dua golongan di dalam pasal-pasal Alkitab. Golongan yang pertama di mana pasal-pasal Alkitab tersebut berbicara seolah-olah mereka adalah Allah, dan golongan yang lain, Allah berbicara seolah-olah Dia adalah Alkitab. Di dalam keduanya, Allah dan Alkitab dibawa ke dalam hubungan ketika menunjukan bahwa dalam poin yang bersifat langsung dari otoritas tidak ada perbedaan dibuat di antara mereka.

Dia memberikan contoh mengenai kedua golongan di atas sebagai berikut, untuk golongan yang pertama dia mengambil Galatia 3: 8, “Dan Kitab Suci yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: “Olehmu segala bangsa akan diberkati.” Kemudian dari Roma 9:17, “Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimashyurkan di seluruh bumi.” Menurut Warfield kutipan-kutipan Alkitab di atas memperlihatkan kepada kita bahwa Alkitab berbicara seolah-olah mereka adalah Allah sendiri.

Kemudian golongan kedua, Warfield mengambil contoh sebagai berikut, Matius 19: 4, 5; Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firmanNya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.” Masih ada ayat-ayat lain lagi yang menjadi contoh golongan kedua ini yaitu Ibrani 3:7; Kisah Para Rasul 23 : 34, 35 dan lain-lain. Di dalam golongan yang kedua terlibat bahwa Allah sendiri bersikap seolah-olah Ia adalah Kitab Suci. Dari pendapat Warfield ini, kita bisa menyimpulkan bahwa menurutnya Alkitab adalah perkataan Allah sendiri.

“Calvinism, Arminianism, So What?” By Greg Gibson

Who Gets Credit for Your Decision for Christ:
The Evangelist, You, or God?
  • Why are you a Christian, but your unconverted friend is not?
  • Where did your repentance and faith come from: You or God?
  • Understand Calvinism, Arminianism & free will explained simply
    with one chart, 23 questions, and 136 verses…

By Greg Gibson – JesusSaidFollowMe.org
Have you ever wondered why you’re a Christian, but your unconverted friend is not? Why did you receive Christ, but your friend rejected Him? Did you hear a better evangelist? Or, were you smarter than your friend? Or, did God make you to differ? (And, how can Calvinism and Arminianism help you understand the answer?)

In each of the 2 columns below, there are several verses. Which verses are true, the ones on the left, or the ones on the right? Since the Bible is true (“inerrant,”) we must interpret both sets of “seemingly contradictory” verses. How can we harmonize both sets of verses so they’re both true at the same time? Look for any verses that clearly state sinners can/can’t or are able/unable to come to Christ…

Which Verses Are True: Those on the Left or Right?
Are Sinners Able or Unable to Come to Christ?
Human Responsibility to Come to Christ

1. “choose for yourselves this day whom you will serve” (Josh. 24:15)

2. “Come to Me, all you who labor and are heavy laden, and I will give you rest.” (Mt. 11:28)

3. “If anyone wills to do His will, he shall know concerning the doctrine, whether it is from God.” (Jn. 7:17)

4. “If anyone thirsts, let him come to Me and drink.” (Jn. 7:37)

5. “Repent, and let everyone of you be baptized” (Acts 2:38)

6. “Repent therefore and be converted” (Acts 3:19)

7. “Believe on the Lord Jesus Christ, and you will be saved” (Acts 16:31)

8. “but now commands all men everywhere to repent” (Acts 17:30)

9. “Whoever wills, let him take the water of life freely.” (Rev 22:17)

 

 

 

Human Inability to Come to Christ

1. “Can the Ethiopian change his skin or the leopard its spots? (No!) Then may you also do good who are accustomed to do evil. (Jer. 13:23)

2. “How can you, being evil, speak good things? For out of the abundance of the heart the mouth speaks.” (Mt. 12:34)

3. “A good tree cannot bear bad fruit, nor a bad tree bear good fruit.” (Mt. 7:18)

4. “‘Who then can be saved?’ But Jesus looked at them and said to them, ‘With men this is impossible, but with God all things are possible.’” (Mt. 19:25-26)

5. “unless one is born again, he cannot see the kingdom of God.” (Jn. 3:3)

6. “No one can come to Me unless the Father who sent Me draws him” (Jn. 6:44)

7. “no one can come to Me unless it has been granted to him by My Father.” (Jn. 6:65)

8. “Why do you not understand My speech? Because you are not able to listen to My word.” (Jn. 8:43)

9. “They could not believe, because Isaiah said again: “He has blinded their eyes and hardened their hearts, lest they should see with their eyes, lest they should understand with their hearts and turn, so that I should heal them.” (Jn. 12:39-40)

10. “For when we were still without strength, in due time Christ died for the ungodly.” (Rom. 5:6)

11. “the carnal mind is enmity against God; for it is not subject to the law of God, nor indeed can be.” (Rom. 8:7)

12. “So then, those who are in the flesh cannot please God.” (Rom. 8:8)

13. “the natural man does not receive the things of the Spirit of God, for they are foolishness to him; nor can he know them, because they are spiritually discerned.” (1 Cor. 2:14)

On the left, are 9 verses inviting or commanding sinners to repent, believe, and come to Christ. These verses make sinners responsible to come to Christ. Notice, the number of verses that clearly state sinners can or are able to come to Christ: 0

On the right, are 13 verses clearly stating sinners can’t come to Christ. (In addition, the Bible contains 3 verses clearly showing Christians inability to do anything for Christ, without His power: Jn. 15:5; 1 Cor. 12:3; Heb. 11:6. If Christians are unable to do anything without God’s ability, then how much more impotent are unregenerate sinners?)

Which verses are true? The verses on the left stating sinners must come to Christ, or the verses on the right stating sinners can’t come to Christ? Since God’s Word is inerrant, they’re both true. Then, how can we harmonize both sets of “seemingly contradictory” verses so they’re both true at the same time?

3 Different Views of Our Responsibility vs. Inability to Believe

There are 3 popular views attempting to interpret the above verses: Arminianism, Hyper-Calvinism, and Calvinism. Of the 3, Arminianism and Hyper-Calvinism are the 2 extremes. Calvinism is the middle view.

1. Human Ability vs. No Interpretation (Some Arminians)

Many Arminians interpret the verses on the left labeled “Human Responsibility” at the expense of the verses on the right labeled “Human Inability.” Most have no interpretation for the 13 verses on the right explicitly stating sinners can’t, or aren’t able to come to Christ. They interpret the verses on the left commanding responsibility as though they implied ability. Here’s their logical fallacy:

The Logical Fallacy of Some Arminians

First Premise: God commands sinners to repent, believe & come to Christ.
Assumed Premise: (God would not command what we’re unable to do.)
Conclusion: Therefore, sinners are able to repent, believe & come to Christ.

There is no proof for the 2nd premise. It’s assuming what you’re trying to prove. Plus, if we could find only one example in Scripture where God commands more than we are able, it would also refute the assumption.

6 Examples Where God Commanded the Impossible

Below, are 6 examples where God commands humans to do something which they do not have the ability to do. In the first 4 verses, God commanded physically dead corpses to live. But, they had no desire or ability to respond, until God first gave them new life, with new desire and ability. (Likewise, we’ll see later that He commands spiritually dead men to live, then gives them new life-regeneration, desire, and ability.)

1. “Prophecy to these (dead) bones, and say to them, ‘O dry bones, hear the word of the Lord!’” (Ezek. 37:4 Notice, those dead bones had no ability to hear the word of the Lord. God had to give those skeletons life first, before they had the ability to hear the word of the Lord.)

2. “a dead man was being carried out…Then He came and touched the open coffin…and He said, ‘Young man, I say to you, arise.’” (Lk. 7:14 The dead man couldn’t hear, until Christ first gave His miraculous power to him.)

3. “Your daughter is dead…He…took her by the hand and called saying, ‘Little girl, arise.’ Then her spirit returned, and she arose immediately.” (Lk. 8:49-55 The dead girl had no power to arise until Christ gave it to her.)

4. “Lazarus, come forth!” (Jn. 11:43, Lazarus was dead! He had no ability to come forth. First, God had to make him alive before He had the ability to come forth.)

5. “Therefore you shall be perfect (complete), just as your father in heaven is perfect.” (Mt. 5:48)

6. “you shall love the Lord your God with all your heart, with all your soul, with all your mind, and with all your strength.” (Mark 12:30)

Just as it took a supernatural miracle to raise the physically dead before they could respond, so it takes a supernatural miracle to raise (regenerate) the spiritually dead before they can respond.

“Just as it took a supernatural miracle to raise the physically dead before they could respond, so it takes a supernatural miracle to raise (regenerate) the spiritually dead before they can respond.”

2. No Interpretation vs. Human Inability (Some Hyper-Calvinists)

Many Hyper-Calvinists interpret the verses on the right labeled “Human Inability” at the expense of the verses on the left labeled “Human Responsibility.” They don’t command or invite all men to repent, believe, & come to Christ. They don’t proclaim the gospel to all sinners. They preach the gospel selectively only to those they think are elect.

The Logical Fallacy of Some Hyper-Calvinists

First Premise: Sinners are unable to repent, believe & come to Christ.
Assumed Premise: (God would not command what we’re unable to do.)
Conclusion:
Therefore, don’t ask sinners to repent, believe & come to Christ.

Notice, Hyper-Calvinism and Arminianism share the exact same assumed premise: “God would not command what is unable.” Both Arminianism and Hyper-Calvinism exalt human reason above Divine revelation. They resort to humanism-rationalism.

3. Human Responsibility vs. Human Inability (Calvinism)

Sinners are responsible to repent, believe, and come to Christ. Yet, at the same time, they’re unable to repent, believe, and come to Christ. This is the only solution that can harmonize both sets of “seemingly contradictory” verses as simultaneously true.

(If it seems unfair to you that God holds rebels responsible for what they’re unable to do, then please remember no one deserves salvation. True justice would be hell for the whole human race, wouldn’t it? So, if God decides to give to some the desire and ability to come to Christ, then that’s undeserved grace!)

But, why then does God command and invite sinners to believe, if they’re unable? Perhaps, He uses the commands/invitations to come to Christ, as the “means to the end.”

In other words, perhaps He uses the command to repent, as the means to granting repentance. And, He uses the command to believe, as the means to giving the gift of faith. And, He uses the invitation to come to Christ, as the means to give the desire and ability to come.

The idea that God uses commands as a means to an end is also demonstrated in how He preserves us in salvation. For, He actually warns true Christians of eternal damnation in Jn. 15:2, 6; Rom. 11:20-22; 1 Cor. 9:25, 27; Rev. 22:19, etc. And at the same time, He promises us eternal security. How then can we reconcile these 2 “seemingly contradictory” truths? It’s simple…

He uses the warnings of losing our salvation as the means to preserve us in His promised eternal salvation. His warnings of losing salvation are the means He uses to keep us persevering to the end

Here’s a clear example where God used warning as the means to the end of fulfilling His promise.

Promises of Divine Security:
“there will be no loss of life among you…” (Acts 27:22)
“God has granted you all those…with you.” (Acts 27:24)
“not a hair will fall from the head of any…” (Acts 27:34)

Warning of Human Responsibility:
“Unless these men stay in the ship, you cannot be saved.” (Acts 27:31)

Now, how in the world could God possibly warn of those sailors losing their lives, since He just promised that they wouldn’t lose their lives? It’s simple…God used the warning of death to keep them in the ship, to preserve them from death.

Likewise, He uses the command to repent, as the means to grant repentance. And, He uses the command to believe, as a means to give the gift of faith. And, He uses the invitations to come to Christ, as the means to draw sinners to Christ. To understand how God saved you, keep reading…

There are 2 popular views of how God saves sinners:

1. Some believe all sinners are born with the desire and ability to cooperate with the Holy Spirit, and exercise their own “free will” to choose Christ. (Arminianism)

2. Some believe that in the Fall, all sinners lost the desire and ability to come to Christ. So, God graciously gives to some both the desire and ability to freely will to choose Christ. (Calvinism)

So, before we examine what God has said in the Bible about who gets the credit for salvation, let’s consider a few introductory thoughts…

The question is settled if we can find only one verse clearly stating:

Sinners can come to Christ.
or
Sinners are able to come to Christ.
or
It’s possible for sinners to come to Christ.

Human logic or reason could never ever explain away such a clear statement of sinners’ ability to come to Christ.

Or, the question is settled if we can find only one verse clearly stating:

Sinners can’t come to Christ.
or
Sinners are not able to come to Christ.
or
It’s impossible for sinners to come to Christ.

Again, human logic or reason could never explain away such a clear statement of sinners inability to come to Christ.

Many Doctrinal Errors Interpret One Set of Verses
At the Expense of Another Set of Verses

This common interpretive error is made by both cultists and Christians. The Jehovah’s Witnesses are a good example. You quote a verse about Christ’s deity. Then, they reply by saying, “But, what about this other verse?” (It’s as if their verse makes your verse false.) When you hear the reply, “But, what about this verse,” it may be a sign of interpreting Scripture against itself.

Instead of harmonizing both verses as true, the JW’s interpret one verse at the expense of another verse. In effect, one verse is true, while the other verse is false, or has no interpretation. They interpret Scripture as “either/or,” when they should interpret it as “both/and.”

If you have no interpretation for a verse or set of verses, that’s always the wrong interpretation. It’s a sign that something is wrong with your system. When a verse won’t fit into your system, it’s time to reconsider your system.

“If you have no interpretation for a verse or set of verses, that’s always the wrong interpretation.”

But, What About Free Will?

The phrase “free will” is found in the Bible 16 times. All 16 times it means “voluntary.” Fifteen of those times it’s used of a freewill (voluntary) offering. Not one of those 16 times does “free will” refer to salvation. Also, the idea that man has a “free will” independent from God’s rule, probably had its origin in heathen, Greek philosophy.

“…the idea that man has a ‘free will’ independent from God’s rule, probably had its origin in heathen, Greek philosophy.”

Those Who Use the Phrase “Free Will” Rarely Define it

“Free will” is the topic everyone assumes, but few define. If “free will” is defined as the “ability and desire to will to receive Christ”, then that contradicts the 13 verses in the right column above. But, if “free will” is defined as “voluntary will to make choices,” then humans have “free will.”

We have free will in the sense we freely (voluntarily) will whatever we have both the desire and ability to do. God influences us by circumstances, thoughts, and power so we become voluntarily willing to fulfill His will. Perhaps a better phrase than “free will” is “voluntary will.”

You may be surprised to discover that many Protestants share the Jesuit-Romanist view of free will. They think sinners have some inner desire and ability to “prepare and cooperate” with the Holy Spirit for salvation. They don’t understand that since the Fall, humans are spiritually dead, blind, and deaf, with no desire or ability to choose Christ. They don’t see the need for God to first give new birth, faith, and repentance, before sinners can “freely will” to choose Christ.

Many Protestants Believe the Jesuit- Roman Catholic View of Free Will
(The Roman Catholic Council of Trent, The Sixth Session: Justification)

Canon IV. If any one saith, that man’s free will moved and excited by God, by assenting to God exciting and calling, no-wise co-operates towards disposing and preparing itself for obtaining the grace of Justification; that it cannot refuse its consent, if it would, but that, as something inanimate, it does nothing whatever and is merely passive; let him be anathema.

Canon V. If any one saith, that, since Adam’s sin, the free will of man is lost and extinguished; or, that it is a thing with only a name, yea a name without a reality, a figment, in fine, introduced into the Church by Satan; let him be anathema.

Actually, you probably already believe that God’s will rules man’s will, but you just didn’t know it…

4 Examples How God’s Will Rules Man’s Will

1. Inspiration of Scripture
2. Infallibility of Bible prophecy
3. Eternal security
4. Heaven/new earth

1. Inspiration of Scripture: Do you believe in the inspiration and inerrancy of Scripture? If so, then you believe God ruled the wills of the Bible authors. They did not have “free will” to write errors in Scripture. Thankfully, the Lord kept their wills from error.

“All Scripture is God-breathed” (2 Tim. 3:16)

2. Infallibility of Bible Prophecy: Do you believe the Bible prophecies are infallible? If so, then you believe God ruled the wills of the prophets. They did not have “free will” to prophesy errors. God inspired the Old Testament prophets to prophesy accurately about the coming Messiah. During the inspiration process, He influenced and ruled their wills to keep them from error:

“no prophecy of the Scripture came into being of its own private interpretation. For prophecy was not borne at any time by the will of man, but holy men of God spoke being borne along by the Holy Spirit.” (2 Pet. 1:2-21)

That’s why the test of a true prophet vs. a false prophet is the infallibility of their predictions (Deut. 18:21-22.) If the prophets could have exercised their own wills, free from God’s control, then they never could have infallibly predicted Christ’s virgin birth, city of birth, suffering death, resurrection, second coming, etc.

3. Eternal Security: Do you believe in “eternal security?” If so, then you believe God rules believers’ wills. Most Christians agree they can’t fall away finally from Christ. Christians don’t have “free will” to become atheists or Satan worshippers. Thankfully, the Lord influences our wills to keep us believing and persevering in Him until the end.

“I will give you a new heart (will) and put a new spirit within you; I will take the heart of stone out of your flesh and give you a heart (will) of flesh. I will put My Spirit within you and cause you to walk in My statutes, and you will keep My judgments and do them.” (Ezek. 36:quot;Arial?strong
26-27)

“for it is God who works in you both to will and to do for His good pleasure.” (Phil. 2:13)

4. Heaven/New Earth: Finally, even if you don’t believe in eternal security in this life, still you probably believe Christians can never leave heaven or the new earth. If so, then you believe God rules His peoples’ wills. No one in heaven is free to leave and choose Hell. God will keep them willingly in heaven forever.

So, if you believe in biblical inerrancy, prophetic infallibility, or eternal security, then you already believe man doesn’t have a 100% “free will.” God’s will sovereignly rules our wills. And, I’m glad He does, aren’t you?

“So, if you believe in biblical inerrancy, prophetic infallibility, or eternal security, then you already believe man doesn’t have a 100% ‘free will.’ God’s will sovereignly rules our wills.”

23 Questions on Calvinism vs. Arminianism

Below, you’ll see 23 simple questions designed to help you decide what God has said in the Bible about how we come to Christ. Some of the verses answer the questions explicitly, while others offer implicit principles for your consideration.

Granted, some of the either/or answers may not necessarily be mutually exclusive. (You can make them mutually exclusive by adding before each question the phrase, “In this/these verse[s]…) Yet, taken as a whole, these verses are (Acts 17:30) p align=”left” class=”MsoNormal” style=””/p/strongb Do you believe in the inspiration and inerrancy of Scripture? If so, then you believe God ruled the wills of the Bible authors. They did not have “free will” to write errors in Scripture. Thankfully, the Lord kept their wills from error.strong a powerful witness to God’s sovereign rule over our salvation.

All Christians believe humans make choices. The issue is how do we choose Christ – by internal, self ability and desire, or external, God-given ability and desire? And, if God gives His ability and desire to us, can we resist, or does He prevail?

1. Was your will free from Satan’s control, yes or no?

“So ought not this woman…whom Satan has bound…for 18 years, be loosed from this bond on the Sabbath?” (Lk. 13:16)

“the snare of the devil, having been taken captive by him to do his will.” (2 Tim. 2:26)

2. Was your will free from sin’s control, yes or no?

“His own iniquities entrap the wicked man, &? he is caught in the cords of his sin.” (Pr. 5:22)

“whoever commits sin is a slave of sin” (Jn. 8:34)

“For I see that you are poisoned by bitterness and bound by iniquity.” (Acts 8:23)

“you were slaves of sin” (Rom. 6:17)

“For we ourselves were also once foolish, disobedient, deceived, slaving various lusts and pleasures” (Tit. 3:3)

“they themselves are slaves of corruption; for by whom a person is overcome, by him also he is brought into bondage.” (2 Pet. 2:19)

3. Is God sovereign & in control over humans’ wills including yours, no or yes?

“you meant evil against me; but God meant it for good, in order to bring it about as it is this day, to save many people alive.” (Gen. 50:20)

“But I will harden his (Pharaoh’s) heart, so that he will not let the people go.” (Ex. 4:21)

“And the Lord had given the people favor in the sight of the Egyptians, so that they granted them what they requested. Thus they plundered the Egyptians.” (Ex. 12:36)

“And I indeed will harden the hearts of the Egyptians, and they shall follow them. So I will gain honor over Pharaoh and over all his army, his chariots, and his horsemen.” (Ex. 14:17)

“But Sihon king of Heshbon would not let us pass through, for the Lord your God hardened his spirit and made his heart obstinate, that He might deliver him into your hand” (Deut. 2:30)

“For it was of the Lord to harden their hearts, that they should come against Israel in battle, that He might utterly destroy them” (Josh. 11:20)

“God sent a spirit of ill will between Abimelech and the men of Shechem; and the men of Shechem dealt treacherously with Abimelech” (Jud. 9:23)

“the anger of the Lord was aroused against Israel, and He moved David against them to say, ‘Go, number Israel and Judah.’” (2 Sam. 24:1)

“The Lord has put a lying spirit in the mouth of all these prophets” (1 Kings 22:23)

“that the word of the Lord by the mouth of Jeremiah might be fulfilled, the Lord stirred up the spirit of Cyrus king of Persia, so that he made a proclamation throughout all his kingdom” (Ezra 1:1-3)

“the Lord made them joyful, and turned the heart of the king of Assyria toward them, to strengthen their hands in the work of the house of God” (Ezra 6:22)

“He turned their heart to hate His people, to deal craftily with His servants.” (Ps. 105:25)

“A man’s heart (will) plans his way, but the Lord directs his steps.” (Pr. 16:9)

“The king’s heart (will) is in the hand of the LORD…He turns it wherever He wishes. (Pr. 21:1)

“Woe to Assyria, the rod of My anger…I will send him against an ungodly nation, and against the people of My wrath I will give him charge…Yet he does not mean so, nor does his heart think so” (Is. 10:5-7)

“For the Lord of hosts has purposed, and who will annul it? His hand is stretched out, and who will turn it back?” (Is. 14:27)

“Who says of Cyrus, ‘He is My shepherd, and he shall perform all My pleasure’” (Is. 44:28)

“I will give them one heart and one way, that they may fear Me forever” (Jer. 32:39)

“I will put My fear in their hearts so that they will not depart from Me.” (Jer. 32:40)

“I will give you a new heart (will) and put a new spirit within you; I will take the heart of stone out of your flesh and give you a heart (will) of flesh. I will put My Spirit within you and cause you to walk in My statutes, and you will keep My judgments and do them.” (Ezek. 36:26-27)

“For His dominion is and everlasting dominion, and His kingdom is from generation to generation. All the inhabitants of the earth are reputed as nothing; He does according to His will in the army of heaven and among the inhabitants of the earth. No one can restrain His hand or say to Him, “What have you done?” (Dan. 4:34-35)

“For truly against Your holy Servant Jesus, whom You anointed, both Herod and Pontius Pilate, with the Gentiles and the people of Israel, were gathered together to do whatever Your hand and Your purpose determined before to be done.” (Acts 4:27-28)

“And we know that all things work together for good to those who love God, to those who are the called according to His purpose.” (Rom. 8:28)

“Why does He still find fault? For who has resisted His will?” (Rom. 9:19)

“But one and the same Spirit works all these things, distributing to each one individually as He wills.” (1 Cor. 12:11)

“for it is God who works in you both to will and to do for His good pleasure.” (Phil. 2:13)

“Instead you ought to say, ‘If the Lord wills, we shall live and do this or that.’” (Jas. 4:15)

“For God has put it into their hearts to fulfill His purpose, to be of one mind, and to give their kingdom to the beast, until the words of God are fulfilled.” (Rev. 17:17)

God Is in Control of ALL Things,
and Sovereign Over ALL Things

Wow! Could God possibly make it any clearer that He controls our wills? What we’re saying is: God is in control (of ALL things, even salvation.) He is sovereign (over ALL things, even salvation.) Most Christians acknowledge He’s in control only in a general, vague sense. But, He tells us He’s in control of every minute detail of His universe, even your decisions, and the number of hairs on your head.

In the Fall, Did Adam & His Offspring Lose
Their Desire and Ability to Come to Christ?

4. After Adam and Eve sinned, did they move toward God, or hide from Him?

“Adam and his wife hid themselves from the presence of the Lord God” (Gen. 3:8)

5. Did Adam initiate contact with God, or did God initiate contact with Adam?

“Then the Lord God called to Adam and said to him, ‘Where are you?’” (Gen. 3:9)

6. As a fallen sinner, were you just spiritually sick, or spiritually dead?

“for in the day that you eat of it you shall surely die.” (Gen. 2:17)

“you…who were dead in trespasses and sins…even when you were dead in trespasses, made us alive together with Christ” (Eph. 2:1, 5)

“And you, being dead in your trespasses and the uncircumcision of your flesh, He has made alive” (Col. 2:13)

The spiritually dead can’t raise themselves. They must be raised by God.

7. Could you spiritually see the gospel, or were you spiritually blind?

“yet the Lord has not given you a heart to perceive & eyes to see & ears to hear” (Deut. 29:4)

“I speak to them in parables, because seeing they do not see, and hearing they do not hear, nor do they understand…For the hearts of this people have grown dull. Their ears are hard of hearing, and their eyes they have closed, lest they should see with their eyes and hear with their ears, lest they should understand with their hearts and turn, so that I should heal them.” (Mt. 13:13-15)

“Therefore they could not believe, because Isaiah said again: ‘He has blinded their eyes and hardened their hearts, lest they should see with their eyes, lest they should understand with their hearts and turn, so that I should heal them.’” (Jn. 12:38-40)

“to open their eyes, in order to turn them from darkness to light and from the power of Satan to God, that they may receive forgiveness of sins” (Acts 26:18)

“there is none who understands” (Rom. 3:11)

“But their minds were blinded.” (2 Cor. 3:14)

“But even if our gospel is veiled, it is veiled to those who are perishing, whose minds the god of this age has blinded, who do not believe, lest the light of the gospel of the glory of Christ, who is the image of God, should shine on them.” (2 Cor. 4:3-4)

The blind can’t see, until God first gives them sight.

8. Could you spiritually hear the gospel, or were you spiritually deaf?

“yet the Lord has not given you a heart to perceive & eyes to see & ears to hear” (Deut. 29:4)

“I speak to them in parables, because seeing they do not see, and hearing they do not hear, nor do they understand…For the hearts of this people have grown dull. Their ears are hard of hearing, and their eyes they have closed, lest they should see with their eyes and hear with their ears, lest they should understand with their hearts and turn, so that I should heal them.” (Mt. 13:13-15)

9. When you were spiritually dead, blind, & deaf, did you desire & seek God, yes or no?

“Then the Lord saw that the wickedness of man was great in the earth, and that every intent of the thoughts of his heart was only evil continually.” (Gen. 6:5)

“men loved darkness rather than light because their deeds were evil.” (Jn. 3:19)

“For everyone practicing evil hates the light and does not come to the light” (Jn. 3:20)

“haters of God” (Rom. 1:30)

“There is none who seeks after God.” (Rom. 3:11)

“I was found by those who did not seek Me; I was made manifest to those who did not ask for Me.” (Rom. 10:20)

10. Are unbelievers not sheep because they don’t believe, or do they not believe because they’re not sheep?

“But you do not believe, because you are not of My sheep.” (Jn. 10:26)

11. When you were spiritually dead, deaf & blind, were you born again by your will, or God’s will?

“who were born, not of blood, nor of the will of the flesh, nor of the will of man, but of God.” (Jn. 1:13)

“it is not of him who wills, nor of him who runs, but of God who shows mercy.” (Rom. 9:16)

“of His own will He brought us forth (birthed us) by the word of truth” (Jas. 1:18)

How much of a part did you have in willing your own physical conception? None! Your parents conceived you by their own wills. As it is with physical birth, so it is with spiritual birth. You didn’t ask to be birthed. The Father birthed you.

Then, the question arises, “If fallen, dead, deaf, blind sinners can’t come to Christ, then how do they come to Christ?” Does God give the new birth because they believed, or so that they can believe? In other words, is faith the cause of the new birth, or is the new birth the cause of faith?

To believe that fallen, dead, deaf, blind sinners repented and believed to be born again is like getting the cart before the horse. Logically, they must have first been spiritually born again, before they could repent and believe in Christ.

Well, whether faith or the new birth comes first is irrelevant – because God gives not only the new birth, but also faith and repentance, so He gets all the credit, as you’ll see below…

12. Did God predestine your adoption & inheritance according to your will, or His will?

“He chose us in Him before the foundation of the world…having predestined us to adoption as sons by Jesus Christ to Himself, according to the good pleasure of His will” (Eph. 1:4-5)

“In Him also we have obtained an inheritance, being predestined according to the purpose of Him who works all things according to the counsel of His will” (Eph. 1:11)

13. Did God choose you because you would believe, or so that you would believe?

“God from the beginning chose you for salvation through sanctification by the Spirit and belief in the truth” (2 Thes. 2:13)

14. Whose choice made the ultimate difference, the apostles’ choice, or God’s choice?

“You did not choose Me, but I chose you and appointed you that you should go and bear fruit” (Jn. 15:16)

15. Whose will made Paul an apostle, his own will, or God’s will?

“Paul, called to be an apostle of Jesus Christ through the will of God” (1 Cor. 1:1)

16. Did God call you according to your purpose (will,) or His purpose?

“And we know that all things work together for good to those who love God, to those who are the called according to His purpose. For whom (not “what”) He foreknew, He also predestined to be conformed to the image of His Son” (Rom. 8:28-29)

“who has saved us and called us with a holy calling, not according to our works, but according to His own purpose and grace which was given to us in Christ Jesus before time began” (2 Tim. 1:9)

17. Who opened your heart, you or God?

“He opened their understanding, that they might comprehend the Scriptures.” (Lk. 24:45)

“The Lord opened her heart to heed the things spoken by Paul” (Acts 16:14)

18. How many of the lost does God call/draw, all or only some?

“Nor does anyone know the Father except the Son, and the one to whom the Son wills to reveal Him.” (Mt. 11:27)

“No one can come to me unless the Father who sent me draws him” (Jn. 6:44)

“Moreover whom He predestined, these he also called; whom He called, these He also justified; and whom He justified, these He also glorified.”(Rom. 8:30)

19. How many of those whom God calls/draws respond, some or all?

“And as many as had been appointed to eternal life believed.” (Acts 13:48)

“whom He called, these He also justified” (Rom. 8:30)

“concerning the election they are beloved for the sake of the fathers. For the gifts and the calling of God are irrevocable.” (Rom. 11:28-29)

20. Who did your repentance come from, you or God?

“Him God has exalted to His right hand to be Prince and Savior, to give repentance to Israel and forgiveness of sins.” (Acts 5: 31)

“God has also granted to the Gentiles repentance to life.” (Acts 11:18)

“those who are in opposition, if God perhaps willgrant them repentance so that they may know the truth” (2 Tim. 2:25-26)

21. Who did your faith come from, you or God?

“…those who had believed through grace” (Acts 18:27)

“For by grace you have been saved through faith, and that not of yourselves; it is the gift of God, not of works, lest anyone should boast” (Eph. 2:8)

“For to you it has been granted on behalf of Christ, not only to believe in Him, but also to suffer…” (Phil. 1:29)

“God from the beginning chose you for salvation through sanctification by the Spirit and belief in the truth” (2 Thes. 2:13)

“Every good gift and every perfect gift is from above, and comes down from the Father of lights” (Jas. 1:17)

“looking unto Jesus, the author and finisher of our faith…” (Heb. 12:2)

“to those who have obtained like precious faith with us through the righteousness of God” (2 Pet. 1:1)

22. Who made the difference in your decision for Christ, the evangelist or God?

“I planted, Apollos watered, but God gave the increase. So then neither he who plants is anything, nor he who waters, but God who gives the increase.” (1 Cor. 3:6-7)

23. Who made the difference in your decision for Christ, you or God?

“that no flesh should glory in his presence. But of Him you are in Christ Jesus…that as is written, ‘He who glories, let him glory in the Lord.’” (1 Cor. 1:29-31)

“For who makes you differ? And what do you have that you did not receive? Now if you did indeed receive it, why do you boast as if you had not received it? (1 Cor. 4:7)

“But by the grace of God I am what I am” (1 Cor. 15:10)

“For by grace you have been saved through faith, and that not of yourselves; it is the gift of God, not of works, lest anyone should boast.” (Eph. 2:8-9)

If you made the difference in your decision for Christ, then you’d have reason to boast, wouldn’t you? Many credit God for 99% of salvation, and themselves for the other 1% (their decision.) Will you give Him ALL the glory?

Man Gets the Credit for Sin,
But God Gets the Credit for Salvation

Ever since Adam and Eve’s Fall, their offspring are spiritually dead, deaf, and blind. And, they freely, willingly, voluntarily choose sin instead of God. So, the Bible always makes man responsible for his sin. God is never responsible for man’s sin.

But, ever since Adam and Eve’s Fall, God (by His undeserved grace) initiates contact with some sinners. He gives them new birth, new desire and ability to freely, willingly, and voluntarily choose Him. So, the Bible always gives God the credit for salvation. Humans are never credited with having achieved salvation.

Undeserved Grace

Praise Him that He’s chosen to save some because of His undeserved grace. He could have justly chosen to save none. That’s what He did for the fallen angels. They have no plan of salvation, no opportunity to hear the gospel and be saved. They don’t deserve it, and neither do we!

He could have justly left Adam and Eve and all the rest of us to perish in hell. He didn’t have to design a plan of salvation. He doesn’t owe salvation to anyone. He freely chose to redeem a people for Himself, to the praise of His glorious grace.

So, who made the difference in your conversion: The evangelist, you, or God? Who gets the credit and glory for your decision for Christ: The evangelist, you, or God? God made the difference, didn’t He. Yes, God gets all the credit and all the glory for saving us, doesn’t He?

Dear saint, if He has given you the gifts of new life, repentance, and faith, then won’t you humbly bow down low right now, to thank Him, and worship Him!

So now, who made the difference in your salvation?

1. If the evangelist makes the difference in conversion:

Then, if you’re an imperfect evangelist, there’s little hope God can use you. For, if sinners’ response depends on the evangelist’s clarity and persuasiveness, then we should despair of their conversion. Even the most persuasive, logical, clear gospel presentations are often rejected. It can be very frustrating to faithfully give out the gospel only to see it rejected time after time.

2. If the hearer makes the difference in conversion:

Then, if you’re witnessing to an extremely hard-hearted sinner, there’s little hope God can save them. For, if unbelievers’ response depends on their interest, intelligence, morality, desire or ability, then we should despair of their conversion.

Sinners’ hearts are so hardened by sin that most show no interest in the true Christ. Often, their hearts are hardened by false religion, pride, greed, sexual immorality, or some other secret sin. Some even go so far as to publicly criticize the gospel and resist Him.

Unbelievers reject Christ not just because they’re not persuaded the gospel is true. If they do try to claim skepticism, it’s often only an excuse to justify their sin. They reject Christ because they love sin and hate Him. (Plus, if unbelievers make the difference in their own conversion, then what if their faith is imperfect?)

3. If God makes the difference in conversion:

Then yes, there’s hope He can use even imperfect evangelists, like you. And yes, there’s hope for even the worst of sinners. God by His power can change even hardened occultists like King Manasseh. He can change even persecutors like Saul. If God makes the difference, then we can evangelize with confidence in His power to change sinners.

Witness with Confidence in God’s Power to Save Sinners

So, we can witness with confidence in God’s power to change sinners because He makes the difference – no matter how hard-hearted the hearers are, and no matter how skilled an evangelist you are. Now do you understand Calvinism, Arminianism, so what?

Now, go and take the good news of Christ crucified and raised, to all nations. Make disciples, baptize them, and teach them. Surely He will be with you always, to the end of the age.

How Does Your View of Who Makes the
Difference in Conversion Affect Your Life?

What you believe about who makes the difference in conversion affects how you’ll evangelize. And, it will also affect your…

  • Humility?
    Do you ever struggle with the temptation of pride, looking down on sinners, lacking compassion for them? Do you ever feel like you’re better than them, because you were more moral or smarter than them to choose Christ?
  • Thanksgiving?
    Have you lost that fresh sense of thanksgiving to God for His miracle of saving you?
  • Worship?
    How long has it been since your heart was filled with reverence, wonder, and love to God for including you in “so great a salvation?”

What is Calvinism?

It is very odd how difficult it seems for some persons to understand just what Calvinism is. And yet the matter itself presents no difficulty whatever. It is capable of being put into a single sentence; and that, on level to every religious man’s comprehension. For Calvinism is just religion in its purity. We have only, therefore, to conceive of religion in its purity, and that is Calvinism.

In what attitude of mind and heart does religion come most fully to its rights? Is it not in the attitude of prayer? When we kneel before God, not with the body merely, but with the mind and heart, we have assumed the attitude which above all others deserves the name of religious. And this religious attitude by way of eminence is obviously just the attitude of utter dependence and humble trust. He who comes to God in prayer, comes not in a spirit of self-assertion, but in a spirit of trustful dependence.

No one ever addressed God in prayer thus:

“O God, thou knowest that I am the architect of my own fortunes and the determiner of my own destiny. Thou mayest indeed do something to help me in the securing of my purposes after I have determined upon them. But my heart is my own, and thou canst not intrude into it; my will is my own, and thou canst not bend it. When I wish thy aid, I will call on thee for it. Meanwhile, thou must await my pleasure.”

Men may reason somewhat like this; but that is not the way they pray.

There did, indeed, once two men go up into the temple to pray. And one stood and prayed thus to himself (can it be that this “to himself” has a deeper significance than appears on the surface?), “God, I thank thee that I am not as the rest of men.” While the other smote his breast, and said, “God be merciful to me a sinner.” Even the former acknowledged a certain dependence on God; for he thanked God for his virtues. But we are not left in doubt in which one the religious mood was most purely exhibited. There is One who has told us that with clearness and emphasis.

The Calvinist is the man who is determined that his intellect, and heart, and will shall remain on their knees continually, and only from this attitude think, and feel, and act. Calvinism is, therefore, that type of thought in which there comes to its rights the truly religious attitude of utter dependence on God and humble trust in his mercy alone for salvation.

There are at bottom but two types of religious thought in the world — if we may improperly use the term “religious” for both of them. There is the religion of faith; there is the “religion” of works. Calvinism is the pure embodiment of the former of these; what is known in Church History as Pelagianism is the pure embodiment of the latter of them. All other forms of “religious” teaching which have been known in Christendom are but unstable attempts at compromise between the two.

At the opening of the fifth century, the two fundamental types came into direct conflict in remarkably pure form as embodied in the two persons of Augustine and Pelagius. Both were expending themselves in seeking to better the lives of men. But Pelagius in his exhortations threw men back on themselves; they were able, he declared, to do all that God demanded of them — otherwise God would not have demanded it.

Augustine on the contrary pointed them in their weakness to God; “He himself,” he said, in his pregnant speech, “He himself is our power.” The one is the “religion” of proud self-dependence; the other is the religion of dependence on God. The one is the “religion” of works; the other is the religion of faith. The one is not “religion” at all — it is mere moralism; the other is all that is in the world that deserves to be called religion. Just in proportion as this attitude of faith is present in our thought, feeling, life, are we religious. When it becomes regnanti  in our thought, feeling, life, then are we truly religious.

Calvinism is that type of thinking in which it has become regnant. This is why those who have caught a glimpse of these things, love with passion what men call “Calvinism,” sometimes with an air of contempt; and why they cling to it with enthusiasm. It is not merely the hope of true religion in the world: it is true religion in the world — as far as true religion is in the world at all.

For Calvinism, in this soteriological aspect of it, is just the perception and expression and defence of the utter dependence of the soul on the free grace of God for salvation. All its so-called hard features—its doctrine of original sin, yes, speak it right out, its doctrine of total depravity and the entire inability of the sinful will to good; its doctrine of election, or, to put it in the words everywhere spoken against, its doctrine of predestination and preterition, of reprobation itself—mean just this and nothing more.

Calvinism will not play fast and loose with the free grace of God. It is set upon giving to God, and to God alone, the glory and all the glory of salvation. There are others than Calvinists, no doubt, who would fain make the same great confession. But they make it with reserves, or they painfully justify the making of it by some tenuous theory which confuses nature and grace. They leave logical pitfalls on this side or that, and the difference between logical pitfalls and other pitfalls is that the wayfarer may fall into the others, but the plain man, just because his is a simple mind, must fall into those.

Calvinism will leave no logical pitfalls and will make no reserves. It will have nothing to do with theories whose function it is to explain away facts. It confesses, with a heart full of adoring gratitude, that to God, and to God alone, belongs salvation and the whole of salvation; that He it is, and He alone, who works salvation in its whole reach. Any falling away in the slightest measure from this great confession is to fall away from Calvinism. Any intrusion of any human merit, or act, or disposition, or power, as ground or cause or occasion, into the process of divine salvation,—whether in the way of power to resist or of ability to improve grace, of the opening of the soul to the reception of grace, or of the employment of grace already received—is a breach with Calvinism.

Is it strange that in this world, in this particular age of this world, it should prove difficult to preserve not only active, but vivid and dominant, the perception of the everywhere determining hand of God, the sense of absolute dependence on Him, the conviction of utter inability to do even the least thing to rescue ourselves from sin—at the height of their conceptions?

Is it not enough to account for whatever depression Calvinism may be suffering in the world today, to point to the natural difficulty—in this materialistic age, conscious of its newly realized powers over against the forces of nature and filled with the pride of achievement and of material well-being—of guarding our perception of the governing hand of God in all things, in its perfection; of maintaining our sense of dependence on a higher power in full force; of preserving our feeling of sin, unworthiness, and helplessness in its profundity?

Is not the depression of Calvinism, so far as it is real, significant merely of this, that to our age the vision of God has become somewhat obscured in the midst of abounding material triumphs, that the religious emotion has in some measure ceased to be the determining force in life, and that the evangelical attitude of complete dependence on God for salvation does not readily commend itself to men who are accustomed to lay forceful hands on everything else they wish, and who do not quite see why they may not take heaven also by storm?

Let us observe then, that Calvinism is only another name for consistent supernaturalism in religion. The central fact of Calvinism is the vision of God. Its determining principle is zeal for the divine honour. What it sets itself to do is to render to God His rights in every sphere of life-activity. In this it begins, and centres, and ends. It is this that is said, when it is said that it is Theism come to its rights, since in that case everything that comes to pass is viewed as the direct outworking of the divine purpose—when it is said that it is religion at the height of its conception, since in that case God is consciously felt as Him in whom we live and move and have our being—when it is said that it is evangelicalism in its purity, since in that case we cast ourselves as sinners, without reserve, wholly on the mercy of the divine grace.

It is this sense of God, of God’s presence, of God’s power, of God’s all-pervading activity—most of all in the process of salvation—which constitutes Calvinism.

When the Calvinist gazes into the mirror of the world, whether the world of nature or the, world of events, his attention is held not by the mirror itself (with the cunning construction of which scientific investigations may no doubt very properly busy themselves), but by the Face of God which he sees reflected therein.

When the Calvinist contemplates the religious life, he is less concerned with the psychological nature and relations of the emotions which surge through the soul (with which the votaries of the new science of the psychology of religion are perhaps not quite unfruitfully engaging themselves), than with the divine Source from which they spring, the divine Object on which they take hold.

When the Calvinist considers the state of his soul and the possibility of its rescue from death and sin, he may not indeed be blind to the responses which it may by the grace of God be enabled to make to the divine grace, but he absorbs himself not in them but in it, and sees in every step of his recovery to good and to God the almighty working of God’s grace.

The Calvinist, in a word, is the man who sees God.

He has caught sight of the ineffable Vision, and he will not let it fade for a moment from his eyes—God in nature, God in history, God in grace.

Everywhere he sees God in His mighty stepping, everywhere he feels the working of His mighty arm, the throbbing of His mighty heart.

The Calvinist is therefore, by way of eminence, the supernaturalist in the world of thought. The world itself is to him a supernatural product; not merely in the sense that somewhere, away back before all time, God made it, but that God is making it now, and in every event that falls out. In every modification of what is, that takes place, His hand is visible, as through all occurrences His “one increasing purpose runs”.

Man himself is His— created for His glory, and having as the one supreme end of his existence to glorify his Maker, and haply also to enjoy Him for ever.

And salvation, in every step and stage of it, is of God. Conceived in God’s love, wrought out by God’s own Son in a supernatural life and death in this world of sin, and applied by God’s Spirit in a series of acts as supernatural as the virgin birth and the resurrection of the Son of God themselves—it is a supernatural work through and through.

To the Calvinist, thus, the Church of God is as direct a creation of God as the first creation itself. In this supernaturalism, the whole thought and feeling and life of the Calvinist is steeped. Without it there can be no Calvinism, for it is just this that is Calvinism.

Benjamin Breckinridge Warfield

The Humanism of Arminianism By Oscar B. Mink

“But the natural man receiveth not the things of the Spirit of God: for they are foolishness unto him: neither can he know them, because they are spiritually discerned.” (1 Cor. 2:14)

I know that definition of terms are generally very boring, but for the sake of clarity and understanding, it is necessary that the terms Arminianism and Humanism be defined at the outset of this discourse. The distinction between the two terms is in the far greater part superficial, and even more so when considered in the light of true religion. The term Humanism defined by Webster: “A doctrine, attitude, or way of life centered on human interests or values; especially a philosophy that assures the dignity and worth of man and his capacity for self realization through reason and often that rejects supernaturalism.” This definition, as will be shown in the following consideration of the term is diametric or the very opposite of biblical anthropology.

Arminianism defined: It is a religious system centered in man. According to Arminianism, it is man that makes the decrees of God effectual. It consists of five (5) articles, i.e., 1. Conditional election. 2. Universal atonement; (That is, Christ in His sacrificial death made atonement for all of mankind). 3. Regeneration brings good works. 4. Divine grace is resistible. 5. Believers may finally fall from grace and be eternally lost.

These definitions are concise, and do not penetrate very deeply into the intense darkness of these man exalting and God debasing “isms”, but we will enlarge upon them as we progress in the message. The main or central feature of Arminianism and Humanism is the idea that man is superior to God, and that man can, in and of himself, solve all of his problems without any supernatural help. An early perpetrator of Arminianism and Humanism is third century Pelagianism, which exalted the human will above that of the God of the Bible.

Knowing the Holy Spirit inspired word of God (II Tim. 3:16) is sufficient for reproof and correction of every sophism of man, it will be the exclusive criteria I shall use in refuting the preposterous frauds referred to in the heading of this message.

Firstly, let us consider the HUMANISM OF ARMINIANISM in the light of Scripture revelation concerning the absolute sovereignty of God. To say that God is sovereign is to own and proclaim that He is Almighty, the King of kings, the Lord of lords, and that “He hath done whatsoever He hath pleased.” (Ps. 115:3). It is the inescapable obligation of the Adamic family to recognize the sovereignty of God, and to ascribe perfect praise unto Him. (Ps. 46:10; I Pet. 2:9). The God of the Bible has emphatically declared: “I am the first and the last; and beside me there is no God” (Isa. 44:6). Every other god (?) is conjured up by vain imagination, the figment of which is the very ground of both Humanism and Arminianism. The fatal aspect of these two nefarious “isms” is not that they do not have a god, but that their god is such an one as their inventors. (Ps. 50:21).

Humanism and Arminianism have a singular goal, and that is to dethrone God, and enthrone man. In both systems the sovereignty and authority of God over man is abrogated; man becomes the sovereign and God the suppliant; and man is the exclusive determiner of his eternal destiny. The doctrine of the sovereignty of God is so hateful to Humanism and Arminianism, they have mustered all the resources of carnal sagacity in an effort to find deficiency in the God of the Bible. The Apostles of the Lord have warned His churches, saying: “. . . There should be mockers in the last time, who should walk after their own ungodly lust . . . having not the Spirit” (Jude 18, 19). These vain mockers are shut up to degenerate wisdom, and being bound by their finite intellect, cannot conceive of God as being any more than themselves, and say in their hearts: “We will not have this man to reign over us” (Luke 19:14). The term, “this man,” is a reference to Christ.

“Humanism holds that human beings shape their own destiny” (Secular Humanism, by Homer Duncan). The person who is able to decree his or her own destiny is, and must be a god. So it is, Humanism is not a religion without a god, but every person according to its premise is a god in and of themselves. The inevitable result of this satanic concept is self worship, and the worst form of idolatry, is autolatry, or full of devotion to self. It was this very ideology that tripped up Lucifer (Isa. 14:13).

Arminianism, like Humanism is a religion without the God of the Bible, but it is not god-less, for this creature exalting system contends that man is the exclusive determiner of his own destiny. Therefore, like Humanism, every man is in and of himself a god. Oliver B. Green, recently deceased, but while as yet living was one of the most fervent advocates of Arminianism. Speaking of the sovereignty of God, predestination, election, and irresistible grace, said: “They are some of the rankest and some of the vilest doctrines I have ever heard.” (Predestination, Pg. 1). The doctrines referred to by Mr. Green in the immediate quote are obnoxious to the supremacist intellect of the natural man, for the carnal mind is enmity against God (Rom. 8:7). However, the substitutionary death of Christ has atoned for the hereditary hatred of His elect people (Eph. 2:16), and they will in due season cry out from their inmost and redeemed soul: “The Lord God omnipotent reigneth” (Rev. 19:6).

There is not merely a correlation between Arminianism and Humanism, but when both systems are carefully examined, it will be readily seen they have the same choreographer, and dance to the flesh pleasing music of creature invincibility, and that without missing a step. Arminianism and Humanism contend that man is an autonomous entity, and that God’s decrees may be negated by the vaunted will of man. They have a form of godliness, but deny the power thereof. (2 Tim. 3:5).

“This know also. that in the last days perilous times shall come” (2 Tim. 3:1). The climax of this present evil age is imminent, perilous times have come, the foundation of the ecumenical church is laid, and the superstructure is going up at an accelerated pace. The false prophet and the Anti-Christ are waiting in the wings, and will in the near future step onto the world stage. The so-called Christian Church is utterly permeated with Arminianism, and the political and educational world is overrun with secular Humanism. Pseudo Christianity and Humanism will soon merge, for it is not difficult for two systems to merge when they are so much alike and their goals and ends are the same—and that is the glorification of man.

But the struggling saint should not despair for no man, be he the personal anti-Christ is able to pluck God’s elect from His all sovereign hand (John 10:27-29). The rantings and ravings of Arminianism and Humanism is nothing more that the rattling of their chains of degradation and death with which they are sovereignly bound. Arminianism says: “Sinners go to hell because God Almighty Himself could not save them! He did all He could. He failed” (Noel Smith, Defender Magazine). But the Bible doesn’t agree with Noel Smith, for that infallible Book says, speaking of God: “What His soul desireth, even that He doeth” (Job. 23:13). Humanism says: “No Deity shall save us, we must save ourselves” (The Humanist Manifesto). The Scripture says that Jesus Christ was God manifest in the flesh (I Tim. 3:16), and that “He shall save His people from their sins” (Matthew 1:21). Paul says, speaking of Christ: “According to His mercy He saved us” (Titus 3:5). If man’s destiny is left to Arminianism or Humanism, God will be defeated and heaven deserted. But perish the thought, for the Sovereign and infallible Architect of the universe says: “He worketh all things after the counsel of His own will . . . And as I have purposed, so shall it stand” (Eph. 1:11; Isa. 14:24).

Humanism does not recognize the God of the Bible as an authority in any matter, and Arminianism disavows the authority of God in all things. If God is not sovereign in all things, then He is not sovereign in any thing, for that which He is not sovereign over, is the sovereign of all things, including God. However, God denounces His would-be detractors, asking: “Nay but, 0 man, who art thou that repliest against God? Shall the thing formed say unto Him that formed it, Why hast thou made me thus?” (Rom. 9:20). The creature has NO right to question his Creator, for God’s supreme and all pervading providence redounds to His own glory, and the eternal good of His people (Rom. 8:28; 1 Cor. 1:31).

Arminianism is nothing more than Humanism with a religious veneer, the combination of which is the ultimate subterfuge of the devil. Both systems are an eternal offense unto God, and it would be far better to have never been born, than to live and die trusting these God scandalizing errors for salvation from sin. So, let us not limit the Holy One of Israel. (Ps. 78:41), for His omnipotence is absolute, and no satanic ruse can in any wise hinder or disturb Him.

Secondly, let us consider the HUMANISM OF ARMINIANISM in the light of the Bible doctrine of the total depravity of man. The Psalmist says: “. . . Verily every man at his best state is altogether vanity” (Ps. 39:5). This text refers to man as he is in his Adamic nature, and it plainly says that Adam and all of his posterity are in their fallen nature, totally depraved. The text allows for no exceptions, and allows for no partial depravity. Every man was utterly and spiritually ruined in Adam, for when Adam rebelled against God (Gen. 3:6), his action was not representatively singular, for he was at the time the federal head of the family of man, and in his defiance of God, his posterity became utterly defiled, for they acted in Adam (1 Cor. 15:21,22).

Arminianism takes exception to the doctrine of total depravity of fallen nature, and says: “Man is not a sinner at birth, but at birth man becomes a potential sinner” (John R. Rice, as quoted by John Zens, from The Sword), Religious Humanism calls the Bible account of the fall of Adam a fable, and Arminianism has put a little sugar on their position, so as to satisfy the religious curiosity of the natural man. However, if a man takes arsenic coated with sugar, it will kill him as readily as the plain or uncoated. Damnable doctrine is just that, no matter what flavor it comes in. “Wherefore, as by one man sin entered into the world, and death by sin; and so death passed upon all men, for that all have sinned” (Rom. 5:12).

Humanism teaches that man as he is in nature is a moral giant and of infinite worth. Arminianism teaches the same thing, saying: “God valued man so highly that He sent His Son to redeem the whole family of man.” Conversely, the Scripture says: “They have all gone out of the way, they are together become unprofitable; there is none that doeth good, no, not one” (Rom. 3:12). The word, “unprofitable,” as used in this Scripture does not simply mean, no profit, but that man in the Edenic transgression suffered an irreparable deficit; and this loss has left man without God or hope.

Christ, in explicit and emphatic words said: “The flesh profiteth nothing” (John 6:63). But no matter how well defined the words of Christ may be, they have never made a favorable impression on Arminianism, and this pseudo system says: “God needs us, for we are the only feet, hands, and mouth God has.” Poor handicapped God. But their god is not the God of the Bible, for He “taketh not pleasure in the legs of a man . . . and as he has purposed, so shall it stand . . . for it is God which worketh in you both to will and to do of His good pleasure” (Ps. 147:10; Isa. 14:24; Phil. 2:13).

The advocates of Arminianism and Humanism rebuke all who proclaim the immutable sovereignty of God over His universe, and all that is therein. They voice their objection, saying: “Your position on depravity dehumanizes man, and makes him as bad as the beast of the field.” This objection is not even near the truth of what sovereign grace believers contend for. Our position is based squarely on Scripture, therefore we do not dehumanize man, but emphasize the fact he is man, and as man he has no God-likeness. Fallen and unredeemed man is the antithesis of God, for he is ungodly, and is an unrelenting enemy of God (Rom. 4:5; 5:10).

The fallacious charge that we make man as bad as the beast of the field misses the mark by an infinite distance. To say that fallen man is as the beast of the field is to insult the lower animal kingdom, and to pay man a highly undue compliment. For, we ask, What beast of the field is it that ever had an evil thought about God? Conversely, where and who is the man in his native state that ever had a good thought about God? “And God saw that the wickedness of man was great in the earth, and that every imagination of the thoughts of his heart are only evil continually” (Gen. 6:5). To the natural man, God saith. “Thou thoughtest that I was altogether such an one as thyself” (Ps. 50:21). This is the ultimate of evil thought, and manifests the utter and awful depravity of the human mind, and its fearful disregard for the unimpeachable holiness of God.

“But these speak evil of those things which they know not: but what they know naturally, as brute beasts, in those things they corrupt themselves.” (Jude 10; See also Eccl. 3:18). This Scripture declares, while man is supposed to be a rational creature by nature, he has corrupted the moral principles of humanity, and has stooped lower than the irrational beasts of the field. Simply, sin has corrupted every fiber and faculty of man’s nature, so much so, he can neither know or obey God.

I ask in all seriousness, are we not in civilized and educational America living according to or below the code of the jungle? To answer this question in the negative is to deny nearly every newspaper headline that is printed in the USA, Humanism and Arminianism contend that the only thing wrong with man is: he needs a little more education. The unfavorable query is: Where is it that man can get this cure-all education? If we send our children to public school, they are inundated with humanism. If the family attends an Arminian church, it is deluged with the pernicious doctrine of self salvation. Christ rebuked some of the first century works mongers, saying: “Ye compass sea and land to make one proselyte, and when he is made, ye make him twofold more the child of hell than yourselves” (Matt. 23:15). As it was then, so is it now. But as there was hope then, so it is now. There is a contemporaneous ray of light shining through the immense darkness of Arminianism and Humanism.

Hence, we go to the Holy Spirit inspired word of God, and when we do, we find that the “manifold wisdom of God” is to be known through His church, and “That unto Him be glory in the church by Christ Jesus throughout all ages, world without end. Amen” (Eph. 3:10, 21). If a person’s membership is in a church that teaches the carnal man at any time commend himself to the saving favor of God, he is in a false church no matter the name it may go by, or the “isms” it may teach and practice. The Scripture says, speaking of regeneration: “. . . It is not of the will of the flesh, nor of the will of man, but of God” (John 1:13). Christ said to His disciples: “Ye have not chosen me, but I have chosen you . . .” (John 15:16). The Apostle Paul makes it known beyond contradiction that God’s choice of His people antedated time and creation, and that according to the good pleasure of His will (Eph. 1:4-9). So it is, God in His great love for His people who are caught in the satanic snares of Arminianism and/or Humanism, admonishes them, saying: “Come out from among them, and be ye separate, saith the Lord, and touch not the unclean thing; and I will receive you” (2 Cor. 6:17).

Thirdly, we will further consider the Humanism of Arminianism and its theory that fallen man’s will is the determinative factor in his present and future well-being.

Humanism and Arminianism teaches that one of man’s most destructive flaws is to mistrust himself. In countering this fallacious elevation of the native intellect of man, Paul says: “We rejoice in Christ, and have no confidence in the flesh” (Phil. 3:3). Christ, speaking of regeneration, declares: “it is not of the flesh, nor of !he will of man, but of God” (John 1:13). Salvation of the soul is not the result of a cooperative effort of God and man, but God is the Sovereign and solitary author of the salvation of His people (Heb. 12:2). Esau, Isaac’s first born son, trusted in himself, and while running in the energy of the flesh, he lost the blessing (Gen. 27), and reflecting on Esau’s diligent effort to earn the promised blessing, Paul said: “So then it is not of him that willeth, nor of him that runneth, but of God that sheweth mercy” (Rom. 9:16).

Humanists claim that academic learning is the panacea for all of man’s ills and difficulties. It is this sort Paul has in mind when he says, they are:

“Ever learning, and never able to come to the knowledge of the truth” (2 Tim. 3:7). The more they learn the more acute becomes their ignorance of God, and despite for His word. The humanist contends that the Bible is a myth, a fabrication of unlearned and ignorant men. Thus it is, he allows no place for the Bible in his acumen. His learning has given sophistication to his atheism, but he will one day learn that his denial of the God of the Bible has infinitely aggravated his reprobation (Rom. 2:5). “The wisdom of this world is foolishness with God. For it is written, He taketh the wise in their own craftiness” (1 Cor. 3:19).

Humanists puffed up on their academic attainments have concluded that their postulates are axiomatic, and that their wisdom is so absolute it allows for no “ifs” or “perhaps”. Their dogmatism is that of a fool, for they have said in their hearts, “There is no God” (Ps. 14:1), and they know nothing yet as they ought to know it (1 Cor. 8:2). The born again person does not deny the contention of the Humanists that an education in the arts and sciences taught by the elite institutions of men enhances success. The Lord’s churches have a high regard and respect for success, but what they know and proclaim is: any success that does not own God as its Author is of the flesh and the flesh profiteth nothing. Simply, aside from God there is NO genuine success.

Arminianism says: “Man has the intellectual power to choose eternal life or death, and that every man is given ample space to make up his mind in this vital matter”. But Christ says, speaking of the natural man: “Ye will not come to Me that ye might have life” (John 5:40). Speaking of the utter impotence of man’s natural will, Christ says: “No man can come to me . . .” (John 6:44). Paul, in his accentuation of this truth, says: “The carnal mind is enmity against God: for it is not subject to the law of God, neither indeed can be. So then they that are in the flesh cannot please God” (Rom. 8:7,8). The natural man is “Ever learning, and never able to come to the knowledge of the truth” (2 Tim. 3:7).

Arminianism’s declaration of the absolute independence of man’s will is tantamount to saying, the fruit of a tree has a nature of its own, which is altogether free of the root of the tree. The fruit of a tree is invariably determined by the character of its root. Genealogically, Adam is the root of mankind, and when Adam committed spiritual suicide (Gen. 3:6), his progeny died in him. “Wherefore, as by one man sin entered into the world, and death by sin; so death passed upon all men, for that all have sinned” (Rom. 5:12).

“A corrupt tree cannot bring forth good fruit” (Matt. 7:18). All the moral fruit which the natural man brings forth, be they ever so laudatory or praiseworthy by the standards of men, are, when weighed in the scales of omniscience, seen to be worm infested. Thus it is, the rationalist is left without a valid recourse, for the law of reaping and sowing applies not only to agrarian science, but to all earthly organisms. Christ said: “The tree is known by his fruit” (Matthew 12:33). Note: in this text, Christ personified the “tree,” and in so doing, leaves NO room for the hypocrite. The flesh, be it ever so religious, profiteth nothing (John 6:63). Job, speaking of human reproduction, asks: “Who can bring a clean thing out of an unclean?” And Job, with awesome finality, answers his own question, saying: “Not one” (Job 14:4).

Humanism and Arminianism contend that the will of man is free and independent of God, and it is of such power that it can frustrate and nullify the will of God. Therefore, this premise teaches that the ultimate in all things is left to the reasoning power and will of man. So, it inevitably follows, their faith is in man, and that man in the final analysis is the measure of all things. Over and against this felonious contention of Arminianism and Humanism, the all wise and merciful God has issued the following admonition; “Trust in the Lord with all thine heart, and lean not unto thine own understanding … He that trusteth in his own heart is a fool” (Pro. 3:5, 28).

Nowhere in the Bible is it said the man who has lost his natural mentality is a fool. Notwithstanding, the worldly wise oft refer to the dedicated Christian as being mentally deranged (Acts 26:24), but oft times the Bible refers to the worldly wise as fools, and likens their dialogue as being inferior to the chatter (prattle) of children (Pro. 10:8). The rich farmer (Luke 12) ingeniously devised a scheme whereby he would have plenty with pleasure for many years to come, but not once in all of his planning and purpose was God ever thought of, and this lack of consideration for the Author of all life was his fatal and eternal mistake which proved him to be a “fool.” A rich “fool” is no better off than a poor fool, for both have said in their heart, “There is no God” (Ps. 14:1). Humanism’s so-called “good life” is temporal at the longest, and superficial at its best, and is all too often the “wide gate that leadeth to destruction” (Matthew 7:13). The Apostle Paul, leaving no room for ambiguity, asks: “Hath not God made foolish the wisdom of this world?” (1 Cor. 1:20).

Arminianism is the choice gem of religious ignorance, and Humanism is the idolized brainchild of intellectualism. The two “isms” in their combined strength, are nothing more than tinkling cymbals and sounding brass. The God of the Bible is the Author of all true science, and there has never been a conflict between the Scriptures and true science. But when “science, falsely so called” (1 Tim. 6:20) is weighed on the scales of God’s infallible word, it is rejected in tote, and labeled “wood, hay, and stubble” (1 Cor. 3:12). But worse than false science is the deification of true science by the Humanists, for it is by this artifice Satan has made allies of a great host of academics, who are fearfully worse off for all of their learning, and will be found of an unsound mind before the omniscient God in the day when all accounts are settled.

The Humanists say, without the least compunction: “Science alone can resolve for man the eternal problems for which his very being urgently demands a solution” (Wilhelm Dilthey, The Nineteenth Century, page 16). The Hippocratic oath does not make a physician; wedding vows do not make a marriage; a confession of faith does not make a Christian; nor can humanistic science, be it ever so perfect, redeem, or help to redeem one soul. The Holy One of Israel has, with Sovereign exclusivity, said: “I, even I, am the Lord; and beside Me there is no Saviour” (Isa. 43:11).

Fourthly, Arminianism and Humanism are the inventions of men. “Lo, this only have I found, that God hath made man upright; but they have sought out many inventions” (Eccl. 7:29). The word, “inventions” in this text is not a reference to man’s scientific discoveries or devices which he has invented to help alleviate the hardship of his journey back to dust from whence he came, but it is a reference to religious inventions, for the inventions referred to in the text are contrary to the original uprightness of man. Every religious heresy is of the Devil, for he is a liar and the father of it (John 8:44), and Arminianism and Humanism are his prize deceits. The word “and” used in the foregoing sentence is not used merely as a conjunctive, but to show the parity of the twin evils.

The ill supposition that the will of man is utterly free, and independent of God is the foundational doctrine upon which Arminianism and Humanism stands. These God debasing systems are as ancient as Lucifer’s first “I will” (Isa. 14:13, 14), and will not reach their terminus until the Devil, the originator of these fatal deceptions is cast into the everlasting lake of fire (Rev. 20:10). The foundation upon which Arminianism and Humanism stands is not merely defective, but is utterly faulty, and all who are deceived thereby are not wise, but foolish (Rom. 1:21,22). But the would-be detractors object, saying: “You put man in an intellectual straight jacket; rob him of his image of God; and nullify his will”. It is not our contention that man’s will is impotent, but that it is circumscribed by his nature. It is an obvious absurdity to claim that man can will or desire something that is contrary to his own nature. The natural man’s will is in bondage to sin, and never varies in its servitude (Rom. 6:20). Man by nature is free to choose whatever pleases him, but he cannot prefer that which is the very opposite of his essence and being.

The carnal desire is limited to that which pleases the flesh, and they that are in the flesh cannot please God (Rom. 8:8). Man’s natural liberty is exceeding great, but every exercise of that liberty is utterly sensuous, and is antagonistic to the nature of the thrice holy God (Isa. 6:3). So then, man’s natural will is not only destitute of all spiritual value, but in his every utterance and action he aggravates the condemnation under which all men are born (John 3:18). All men all the time are by their Adamic nature haters of God (Ps. 81:15; John 15:18,25; Rom. 1:30; etc.). God does not force His people to come to Him contrary to their will and nature, but God in sovereign love and mercy gives His people a new nature, and all the Father gave the Son in the unconditional covenant of election will joyfully come to Him, and that by the power of God (Ps. 110:3; Jer. 31:3; John 6:37, 44).

The natural man is free to love God, but he has neither the power, nor the desire to even be near God, much less love Him, for he is innately a hater of God. Paul, speaking of the natural man, says: “He is filled with all unrighteousness, maliciousness, full of envy . . . backbiters, haters of God, inventors of evil things . . .” (Rom. 1:29,30). The Ethiopian is free to change his spots for the stripes of a tiger, but owing to creature inability, these changes are an impossibility. So it is with the natural man. He is free to put off his custom of doing evil, but he never has the least desire to do so. (Jer. 13:23), for he has beyond a single doubt concluded that the Bible is nothing more than a collection of myths, and that Christianity is the opiate of the people. These soul damning conclusions are intertwined with fallen man’s nature, and can only be severed by the sword of the Spirit, which is the word of God (Eph. 6:17).

Fallen man, be he rich or poor, strong or weak, learned or unlearned, is an egotist. Mr. Webster has defined egoism saying: “it is an ethical doctrine that individual self interest is the valid end of all action.” So it is, the vocabulary of fallen man consists mainly of the words, “Me, mine, my, and I”. But the Bible says: “He that thinketh himself to be something when he is nothing, he deceiveth himself” (Gal. 6:3). The Apostle Paul for the most of his life was an egotist, self-willed, and self-congratulatory. He persecuted the disciples of Christ, both men and women, and he says he was “exceedingly mad against them” (Acts 22:4; 26:11). Paul, being blinded by pride, did not know that God had set aside his beloved religion, and with intense fervor he went forth to destroy every person that named the name of Christ, but while enroute on one of his persecuting missions, he was confronted with a great light from heaven, and an ego deflating voice, upon the sound of which, he fell to the ground from which he arose one of the most selfless and greatest of men that ever lived (Acts 22:6-10). However, he knew that in and of himself, he was a wretched man before God (Rom. 7:24), and knowing this, he said: “I am less that the least of all saints . . .” (Eph. 3:8).

CONCLUSION

“Be not overcome of evil, but overcome evil with good” (Rom. 12:21). Let us not confuse Arminianism and Humanism with humanitarianism. Every person should be a humanitarian in the sense of helping the downtrodden, and should seize every opportunity to be the good Samaritan, Christ was the greatest humanitarian, but He was not a Humanist, nor did He teach that salvation of the soul was left to the prerogative of fallen man’s will. Let us follow our Supreme Example, and go “about doing good,” but at the same time, highlight the sham and shame of Humanism, and the hypocrisy of Arminianism. True Christianity, and New Testament Baptists in particular, are faced with a sinister, subtile, and soul destructive hoax. We are confronted from every quarter with socio-religion, which is an amalgamation of Arminianism and Humanism, and in this God debasing union the Lord’s churches are faced with a double dose of damnable doctrine. As dismal as the state of things may seem, there is no room for complacency in the Lord’s churches. On the contrary, it is their duty to sound the trumpet of truth, and do all they can to hinder this accelerated and anti-Christ encroachment upon the word of God and His blood bought churches.

The ultimate ambition of the contemporary deluge of Humanism and Arminianism is to prevail against and destroy the Lord’s churches, but as it was with our pre-reformation forebears who stood undaunted against the fire, noose, sword and other excruciating deaths of the harlot system of Rome, will be found defying this plague of spiritual cancer until their merciful and omnipotent Lord speaks to them from heaven, saying: “Come up hither.”

When Christ sent His church unto all nations, He commissioned it to preach the gospel of grace. He knew that is was the satanically inspired and brutal hands of Romish Humanism and pharisaic Judaism that nailed Him to the cross. As it was then, so is it now, Humanism and Arminianism are mortal enemies of the gospel of Christ, and one must perish where the other prevails. So as to erase all doubt concerning the perpetuity and permanency of His blood bought church, Christ issued a hell defying fiat, wherein He said: ” . . . I will build My church; and the gates of hell shall not prevail against it” (Matthew 16:18). Any church that does not own the absolute authority of God over man is humanistic, no matter what name it may go by, and is under the anathema of God (Rev. 18:4-6). So it behooves every person who names the name of Christ to find a church that preaches the whole counsel of God, wherein is NO room for Arminianism or Humanism.

There is a lot of common ground between Arminianism and Humanism, for it is no problem for darkness to commune with darkness, but there is NO communion between light and darkness; there is NO fellowship between righteousness and unrighteousness; and there is NO concord between Christ and the Devil (2 Cor. 6:14-16). A

The Humanism of Arminianism By Oscar B. Mink

The Christ of Arminianism (Freewillism)

The Bible warns us that in the last days in which we live there will be many false Christs-those who claim to be Christ but who are imposters.  Jesus said, “Take heed that no man deceive you.  For many shall come in my name, saying I am Christ; and shall deceive many.”  (Matt. 24:4-5).  We who profess to be Christians must take heed.  We must be very careful that we are not deceived.  Our calling is to trust, love, and follow the true Christ and Him only.  We may have nothing to do with the false Christs who are so numerous in our day.

We know about the Christ of the cults and other religions.  He is a good man, a prophet, the first creation of God, a great spirit, a divine idea, or even a god himself.  But he is not true and eternal God.  He receives his existence from another who is greater than he.  He is not the Christ of the Bible.  We are not deceived by this Christ.  He is a false Christ.

We know about the Christ of Roman Catholicism.  They profess that He is true God.  He suffered and died for the forgiveness of sin.  He arose again, ascended into heaven, and is coming again.  But he is not a complete Savior.  The Christ of the Roman Catholics can not save sinners without their own good works and the intercession of priests.  He is not the Christ of the Bible.  We are not deceived by this Christ.  He is a false Christ.

There is, however, another false Christ who is much more dangerous than the Christ of the cults and the Christ of Roman Catholicism.  He has deceived people for many years and he continues to deceive millions.  This Christ is so dangerous that, if it were not impossible, he would deceive the very elect (Matt. 24:24).  He is the Christ of Arminianism.

This false Christ is extremely dangerous because in many ways he appears to be the True Christ.  They say that he is true God, equal with the Father and the Holy Spirit.  They say that he died on the cross to save sinners. They even say that he saves by his grace alone, without the work of man.  This Christ will have nothing to do with the Christ of the cults and the Christ of Roman Catholicism.

But watch out! Be warned! The Christ of Arminianism is notthe Christ of the Bible. Do not be fooled!

1) The Christ of Arminianism – loves every individual person in the world and sincerely desires their salvation.

The Christ of the Bible – earnestly loves and desires the salvation of only those whom God has unconditionally chosen to salvation.

2) The Christ of Arminianism – offers salvation to every sinner and does all in his power to bring them to salvation.  His offer and work are often frustrated, for many refuse to come.

The Christ of the Bible – effectually calls to Himself only the elect and sovereignly brings them to salvation.  Not one of them will be lost.  (Isa. 55:11, John 5:21, John 6:37-40, John 10:25-30, John 17:2, Phil. 2:13).

Isaiah 55:11 So shall my word be that goeth forth out of my mouth: it shall not return unto me void, but it shall accomplish that which I please, and it shall prosper [in the thing] whereto I sent it.

John 5:21 For as the Father raiseth up the dead, and quickeneth [them]; even so the Son quickeneth whom he will.

John6:37 – 40 All that the Father giveth me shall come to me; and him that cometh to me I will in no wise cast out. 


For I came down from heaven, not to do mine own will, but the will of him that sent me.  And this is the Father’s will which hath sent me, that of all which he hath given me I should lose nothing, but should raise it up again at the last day.  And this is the will of him that sent me, that every one which seeth the Son, and believeth on him, may have everlasting life: and I will raise him up at the last day.

John 17:2 As thou hast given him power over all flesh, that he should give eternal life to as many as thou hast given him.

Philippians 2:13 For it is God which worketh in you both to will and to do of [his] good pleasure.

3) The Christ of Arminianism - can not regenerate and save a sinner who does not first choose Christ with his own “free will.”  All men have a “free will” by which they can either accept or reject Christ.  That “free will” may not be violated by Christ.

The Christ of the Bible – sovereignly regenerates the elect sinner apart from his choice, for without regeneration the spiritually dead sinner can not choose Christ.  Faith is not man’s contribution to salvation but the gift of Christ which He sovereignly imparts in regeneration.  (John 3:3, John 6:44 & 65, John 15:16, Acts 11:18, Rom. 9:16, Eph. 2:1, Eph. 2:8-10, Phil. 1:29, Hebr. 12:2).

John 3:3 Jesus answered and said unto him, Verily, verily, I say unto thee, Except a man be born again, he cannot see the kingdom of God.

John 6:44, 65 No man can come to me, except the Father which hath sent me draw him: and I will raise him up at the last day…And he said, Therefore said I unto you, that no man can come unto me, except it were given unto him of my Father.

John 15:16 Ye have not chosen me, but I have chosen you, and ordained you, that ye should go and bring forth fruit, and [that] your fruit should remain: that whatsoever ye shall ask of the Father in my name, he may give it you.

Acts 11:18 When they heard these things, they held their peace, and glorified God, saying, Then hath God also to the Gentiles granted repentance unto life.

Romans 9:16 So then [it is] not of him that willeth, nor of him that runneth, but of God that sheweth mercy.

Ephesians 2:1 And you [hath he quickened], who were dead in trespasses and sins;

Ephesians 2:8-10 For by grace are ye saved through faith; and that not of yourselves: [it is] the gift of God: Not of works, lest any man should boast.  For we are his workmanship, created in Christ Jesus unto good works, which God hath before ordained that we should walk in them.

Philippians 1:29 For unto you it is given in the behalf of Christ, not only to believe on him, but also to suffer for his sake;

Hebrews 12:2 Looking unto Jesus the author and finisher of [our] faith; who for the joy that was set before him endured the cross, despising the shame, and is set down at the right hand of the throne of God.

4)
The Christ of Arminianism – died on the cross for every individual person and thereby made it possible for every person to be saved.  His death, apart from the choice of man, was not able to actually save anyone for many for whom he died are lost.

The Christ of the Bible – died for only God’s elect people and thereby actually obtained salvation for all those for whom He died.  His death was a substitutionary satisfaction which actually took away the guilt of His chosen people.  (Luke 19:10, John 10:14-15 & 26, Acts 20:28, Rom. 5:10, Eph. 5:25, Hebr. 9:12, I Peter 3:18).

Luke 19:10 For the Son of man is come to seek and to save that which was lost.

John 10:14, 15, 26  I am the good shepherd, and know my [sheep], and am known of mine.  As the Father knoweth me, even so know I the Father: and I lay down my life for the sheep…But ye believe not, because ye are not of my sheep, as I said unto you.

Acts 20:28
Take heed therefore unto yourselves, and to all the flock, over the which the Holy Ghost hath made you overseers, to feed the church of God, which he hath purchased with his own blood.

Romans 5:10 For if, when we were enemies, we were reconciled to God by the death of his Son, much more, being reconciled, we shall be saved by his life.

Ephesians 5:25 Husbands, love your wives, even as Christ also loved the church, and gave himself for it;

Hebrews 9:12 Neither by the blood of goats and calves, but by his own blood he entered in once into the holy place, having obtained eternal redemption [for us].

1 Peter 3:18 For Christ also hath once suffered for sins, the just for the unjust, that he might bring us to God, being put to death in the flesh, but quickened by the Spirit:

5) The Christ of Arminianism – loses many whom he has “saved” because they do not continue in faith.  Even if he does give them “eternal security,” as some say, that security is not based upon his will or work but the choice which the sinner made when he accepted Christ.

The Christ of the Bible
– preserves His chosen people so that they can not lose their salvation but persevere in the faith to the very end.  He preserves them by the sovereign electing will of God, the power of His death, and the mighty working of His Spirit.  (John 5:24, John 10:26-29, Rom. 8:29-30, Rom. 8:35-39, I Peter 1:2-5, Jude 24-25).

John 5:24 Verily, verily, I say unto you, He that heareth my word, and believeth on him that sent me, hath everlasting life, and shall not come into condemnation; but is passed from death unto life.

John 10:26-29 But ye believe not, because ye are not of my sheep, as I said unto you.  My sheep hear my voice, and I know them, and they follow me: And I give unto them eternal life; and they shall never perish, neither shall any [man] pluck them out of my hand.  My Father, which gave [them] me, is greater than all; and no [man] is able to pluck [them] out of my Father’s hand.

Romans 8:29 For whom he did foreknow, he also did predestinate [to be] conformed to the image of his Son, that he might be the firstborn among many brethren.  Moreover whom he did predestinate, them he also called: and whom he called, them he also justified: and whom he justified, them he also glorified.

Romans 8:35-39
Who shall separate us from the love of Christ? [shall] tribulation, or distress, or persecution, or famine, or nakedness, or peril, or sword?  As it is written, For thy sake we are killed all the day long; we are accounted as sheep for the slaughter.  Nay, in all these things we are more than conquerors through him that loved us.  For I am persuaded, that neither death, nor life, nor angels, nor principalities, nor powers, nor things present, nor things to come, Nor height, nor depth, nor any other creature, shall be able to separate us from the love of God, which is in Christ Jesus our Lord.

1 Peter 1:2-5 Elect according to the foreknowledge of God the Father, through sanctification of the Spirit, unto obedience and sprinkling of the blood of Jesus Christ: Grace unto you, and peace, be multiplied.  Blessed [be] the God and Father of our Lord Jesus Christ, which according to his abundant mercy hath begotten us again unto a lively hope by the resurrection of Jesus Christ from the dead, To an inheritance incorruptible, and undefiled, and that fadeth not away, reserved in heaven for you, Who are kept by the power of God through faith unto salvation ready to be revealed in the last time.

Jude 24,25 Now unto him that is able to keep you from falling, and to present [you] faultless before the presence of his glory with exceeding joy, To the only wise God our Saviour, [be] glory and majesty, dominion and power, both now and ever. Amen.   

As you can see, although the Christ of Arminianism and the Christ of the Bible may at first seem to be the same, they are very different.  One is a false ChristThe other is the true Christ. One is weak and helplessHe bows before the sovereign “free will” of manThe other is the reigning Lord Who wills what He pleases and sovereignly accomplishes all that He wills.  (Ps. 5:5, Ps. 7:11, Ps. 11:5, Matt. 11:27, John 17:9-10, Acts 2:47, Acts 13:48, Rom. 9:10-13, Rom. 9:21-24, Eph. 1:3-4).

Psalms 5:5 The foolish shall not stand in thy sight: thou hatest all workers of iniquity.

Psalms 7:11 God judgeth the righteous, and God is angry [with the wicked] every day.

Psalms 11:5 The LORD trieth the righteous: but the wicked and him that loveth violence his soul hateth.

Matthew 11:27 All things are delivered unto me of my Father: and no man knoweth the Son, but the Father; neither knoweth any man the Father, save the Son, and [he] to whomsoever the Son will reveal [him].

John 17:9, 10 I pray for them: I pray not for the world, but for them which thou hast given me; for they are thine.
And all mine are thine, and thine are mine; and I am glorified in them.

Acts 2:47 Praising God, and having favour with all the people. And the Lord added to the church daily such as should be saved.

Acts 13:48 And when the Gentiles heard this, they were glad, and glorified the word of the Lord: and as many as were ordained to eternal life believed

Romans 9:10-13 And not only [this]; but when Rebecca also had conceived by one, [even] by our father Isaac;
(For [the children] being not yet born, neither having done any good or evil, that the purpose of God according to election might stand, not of works, but of him that calleth;) It was said unto her, The elder shall serve the younger.  As it is written, Jacob have I loved, but Esau have I hated.

Romans 9:21-24
Hath not the potter power over the clay, of the same lump to make one vessel unto honour, and another unto dishonour?  [What] if God, willing to shew [his] wrath, and to make his power known, endured with much longsuffering the vessels of wrath fitted to destruction: And that he might make known the riches of his glory on the vessels of mercy, which he had afore prepared unto glory, Even us, whom he hath called, not of the Jews only, but also of the Gentiles?

Ephesians 1:3, 4 Blessed [be] the God and Father of our Lord Jesus Christ, who hath blessed us with all spiritual blessings in heavenly [places] in Christ: According as he hath chosen us in him before the foundation of the world, that we should be holy and without blame before him in love:

   If you believe and serve the Christ of Arminianism, you must recognize the fact that you do not serve the Christ of the Bible. You have been deceived! Study the Scriptures and learn of the True Christ. Pray for grace to repent and trust Christ as your sovereign Saviour.

 

Rev. Steven Houck

A Christmas Creed

I believe in Jesus Christ and in the beauty of the gospel begun in Bethlehem.

I believe in the one whose spirit glorified a little town; and whose spirit still brings music to persons all over the world, in towns both large and small.

I believe in the one for whom the crowded inn could find no room, and I confess that my heart still sometimes wants to exclude Christ from my life today.

I believe in the one who the rulers of the earth ignored and the proud could never understand; whose life was among common people, whose welcome came from persons of hungry hearts.

I believe in the one who proclaimed the love of God to be invincible:

I believe in the one whose cradle was a mother’s arms, whose modest home in Nazareth had love for its only wealth, who looked at persons and made them see what God’s love saw in them, who by love brought sinners back to purity, and lifted human weakness up to meet the strength of God.

I confess my ever-lasting need of God: The need of forgiveness for our selfishness and greed, the need of new life for empty souls, the need of love for hearts grown cold.

I believe in God who gives us the best of himself. I believe in Jesus, the son of the living God, born in Bethlehem this night, for me and for the world 

A Christmas Creed

SPURGEON’S TEXT

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi!”  (Yesaya 45:22).

Saya memberi tema khotbah ini “Ayat Spurgeon” karena ayat ini adalah ayat yang dikhotbahkan kepadanya ketika ia diselamatkan pada umur 15 tahun. Ia langsung mulai mengajar Sekolah Minggu dan berkhotbah sejak saat itu. Enam tahun kemudian, ketika ia berumur 21 tahun, ia berkhotbah kepada ribuan orang, dan banyak suratkabar memberikan julukan kepadanya “pengkhotbah muda.”

Bukan hanya ia diselamatkan ketika mendengar satu khotbah yang didasarkan pada ayat kita ini, ia juga mengutip ayat ini berulang kali bahkan sampai tak terhitung ia telah mengutipnya ketika ia berkhotbah dari ayat-ayat lain. Dalam 63 volume dari kumpulan khotbah-khotbahnya ada tiga khotbah di mana ayat ini menjadi teks utama – dengan tema secara berurutan, “Kedaulatan dan Keselamatan” (Sovereignty and Salvation) “Hidup Karena Memandang” (Life for a Look) dan “Hidup dari Memandang” (The Life-Look). Dalam khotbahnya yang berjudul “The Life-Look” Spurgeon berkata,

Sekitar dua puluh enam tahun yang lalu – dua puluh enam tahun yang lalu persis pada hari Kamis – saat saya memandang kepada Tuhan [Yesus], dan menemukan keselamatan, melalui ayat ini. Anda telah sering mendengar saya menceritakan bagaimana saya telah… berusaha mencari keselamatan, dan tidak menemukan apapun, sampai seorang pengkhotbah awam yang sederhana [yang tidak memiliki latar belakang pendidikan] berdiri di mimbar Primitive Methodists, dan menyampaikan ayat ini sebagai teksnya: “Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi.” Ia tidak banyak berkata-kata, terimakasih Tuhan, karena telah memaksa dia untuk terus mengulang-ulang ayat ini, dan tidak ada hal lain yang diperlukan – bagi saya – kecuali ayatnya ini. Saya ingat bagaimana ia berkata, “Ini adalah Kristus yang sedang berbicara.” ‘Aku ada di taman (Getsemani) dalam kesengsaraan, mencurahkan jiwa-Ku sampai mati; Aku [disalibkan], mati untuk orang-orang berdosa; pandanglah Aku! Pandanglah Aku!’ Hanya itulah yang saya lakukan. Seorang anak dapat memandang. Betapapun lemah, atau betapapun miskin, seseorang bisa, ia dapat memandang; dan jika ia memandang, janji itu adalah bahwa ia akan [diselamatkan].” Kemudian, berhenti, ia menunjuk ke arah di mana saya sedang duduk…. Dan ia berkata, “Anak muda yang duduk di sana kelihatan sangat menyedihkan.” Saya berpikir demikianlah keadaan saya, karena itulah apa yang saya sedang rasakan. Kemudian ia berkata, “Tidak ada pengharapan bagi kamu, anak muda, atau kesempatan untuk membuang dosa-dosamu, selain dengan memandang kepada Yesus;” dan ia berseru, sebagaimana saya berpikir hanya orang-orang Primitive Methodist yang dapat, “Pandanglah! Pandanglah anak muda! Pandanglah sekarang!” Dan saya memandang… saya menemukan [diri saya diselamatkan dari dosa] pada saat itu juga dengan memandang kepada Yesus (C. H. Spurgeon, “The Life-Look,” The Metropolitan Tabernacle Pulpit, vol. 50, Pilgrim Publications, 1978 reprint, hlm. 37).

Nyanyian lama yang Mr. Griffith baru nyanyikan membuat ini jelas siapakah “Anak Domba Allah” itu. Yesus adalah “Anak Domba Allah, yang telah menanggung dosa dunia” (Yohanes 1:29). “Pandanglah Anak Domba Allah.” Nyanyikan lagu ini!

Lihatlah Anak Domba Allah, Lihatlah Anak Domba Allah,
Karena hanya Dia yang dapat menyelamatkanmu, Lihatlah Anak Domba Allah.
(“Look to the Lamb of God” by H. G. Jackson, 1838-1914).

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi” (Yesaya 45:22).

I. Pertama, Anda harus memandang Yesus, Pribadi Kedua dari Trinitas.

Teks kita berkata, “Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan…” Kata “berpalinglah” [dalam KJV “look”] memiliki arti yang sama dengan “datanglah.” Anda seharusnya tidak memandang kepada Allah Bapa, atau datang kepada-Nya, dalam keadaan Anda yang penuh dosa. Mengapa tidak? Karena “TUHAN, Allahmu, adalah api yang menghanguskan, Allah yang cemburu” (Ulangan 4:24). Perjanjian Baru mengatakan hal yang sama, “Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan” (Ibrani 12:29). Jika Anda datang kepada Allah dalam keadaan Anda yang belum diselamatkan Anda akan dihanguskan dalam api murka-Nya. Apa yang terjadi pada Nadab dan Abihu akan terjadi pada Anda!

“Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN” (Imamat 10:2).

Anda seharusnya tidak memandang kepada Roh Kudus, atau datang kepada-Nya, karena Ia tidak memiliki darah untuk menyucikan dosa-dosa Anda! Pekerjaan Roh Kudus adalah menginsafkan Anda akan dosa dari ketidak-percayaan kepada Yesus. Yesus mengatakan ini tentang Roh Kudus,

“Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa… karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku” (Yohanes 16:8-9).

Tidak, tidak – jangan memandang kepada Roh Kudus! Anda harus memandang, dan datang kepada Juruselamat yang telah disalibkan, yang sekarang telah naik ke sorga dan duduk di sebelah kanan Allah di tempat Kemuliaan! Pandanglah Yesus, Anak Domba Allah. Hanya Dia yang dapat menyelamatkan Anda dari dosa! Datanglah kepada Dia! Pandanglah Dia! Anda tidak dapat benar-benar datang kepada seseorang tanpa terlebih dahulu memandang dia, bukankah benar demikian?

Pandanglah pada Yesus, O pandang wajah-Nya mulia;
Isi dunia menjadi suram, Oleh sinar kemuliaan-Nya.
(“Turn Your Eyes Upon Jesus” oleh Helen Howard Lemmel, 1863-1961/
(“Terjemahan Nyanyian Pujian No. 144).

Pandanglah dan hidup, saudaraku, hidup!
(“Pandanglah Yesus sekarang dan hidup;
Ini yang tercatat dalam Firman-Nya, Haleluya!
(“Satu-satunya hal yang engkau harus lakukan adalah memandang dan hidup.
(“Look and Live” oleh William A. Ogden, 1841-1897).

Nyanyikan ini kembali!

Lihatlah Anak Domba Allah, Lihatlah Anak Domba Allah,
Karena hanya Dia yang dapat menyelamatkanmu, Lihatlah Anak Domba Allah.
(“Look to the Lamb of God” oleh H. G. Jackson, 1838-1914).

Ada satu lagi tempat yang seharusnya tidak Anda pandang. Anda seharusnya tidak memandang diri Anda sendiri. Itu adalah apa yang dilakukan Spurgeon sebelum hari pertobatannya. Ia berusaha memiliki “perasaan” yang benar – dari pada memandang, dan datang kepada Kristus sendiri. Ia terus membaca buku Doddridge yang berjudul “Rise and Progress of Religion in the Soul” dan buku Baxter yang berjudul “Call to the Unconverted.” Spurgeon berkata, “Saya tidak menemukan kesalahan dengan buku [mereka]; saya memuji mereka, namun saya menemukan kesalahan dalam diri saya sendiri karena memperlakukan [buku] mereka itu dengan sangat buruk.” Spurgeon berkata, “Ketika saya membaca berulangkali, dan berusaha untuk merasakan apa yang orang-orang baik itu katakan, ada yang menusuk saya” (Spurgeon, ibid., hlm. 41). Spurgeon muda “berusaha untuk merasakan” apa yang Doddridge dan Baxter rasakan. Itu tidak ada gunanya. Yesus tidak ditemukan dalam perasaan dan emosi kita.

Minggu lalu dua gadis Katolik yang datang ke gereja ini berkata kepada deaken kita, Dr. Cagan, bahwa mereka berpikir kalau mereka diselamatkan karena mereka telah merasakan dukacita dan menangis. Mereka memandang kepada perasaan dukacita mereka sendiri. Mereka menekankan Yesus, namun Yesus bukan hal utama yang mereka bicarakan. Hal utama yang mereka pandang dan bicarakan adalah dukacita mereka sendiri. Saya sedang menjelaskan kepada Anda pagi ini bahwa sekedar perasaan dukacita tidak pernah dapat menyelamatkan Anda! Tidak akan pernah! Tidak akan pernah! Tidak akan pernah! Pre-inkarnasi Kristus berkata,

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan…” (Yesaya 45:22).

Datanglah kepada Yesus Kristus sendiri! Buanglah perasaan dan emosi Anda! Pandanglah Yesus! Percayalah kepada Yesus! Datanglah kepada Yesus! Berpalinglah dari perasaan Anda sendiri kepada sang Juruselamat yang telah bangkit! Yesus berkata,

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan…” (Yesaya 45:22).

“Lihatlah Anak Domba Allah.” Nyanyikan ini kembali!

Lihatlah Anak Domba Allah, Lihatlah Anak Domba Allah,
Karena hanya Dia yang dapat menyelamatkanmu, Lihatlah Anak Domba Allah.

II. Kedua, Anda harus menginginkan Yesus untuk menyelamatkan Anda dari dosa.

Yesus berkata, “Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya” (Yohanes 12:47). Lagi, Yesus berkata, “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Lukas 19:10). Dan pra-inkarnasi Yesus berkata,

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan…” (Yesaya 45:22).

Rasul Paulus berkata, “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa” (I Timotius 1:15). Yesus telah mati di atas kayu Salib untuk membayar dosa Anda! Yesus bangkit dari antara orang mati untuk membebaskan Anda dari dosa! Yesus telah mencurahkan Darah-Nya untuk menyucikan Anda dari dosa! Dosa. Dosa. Dosa. “Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan” – dari dosa! Jika Anda tidak berpikir tentang dosa Anda, maka Yesus tidak berarti apa-apa bagi Anda. Yesus datang, dan mati, dan bangkit untuk menyelamatkan Anda dari dosa. Jika Anda tidak melihat dosa Anda, Anda tidak akan memandang kepada Yesus dan diselamatkan.

Seorang wanita muda lainnya berbicara dengan Dr. Cagan pada hari Minggu yang lalu. Ia berkata bahwa ia berpikir kalau ia telah diselamatkan karena “ketertekanan berat” telah diambil dari dalam hatinya. Saudariku yang terkasih, Yesus tidak mati di kayu Salib untuk mengambil “ketertekanan berat” dari hati Anda! Itu ungkapan omong kosong! Saya berkata bahwa saya peduli dengan jiwa Anda!

Beberapa menit kemudian, wanita muda yang sama ini berkata kepada Dr. Cagan bahwa ia telah diselamatkan karena ia telah melihat “seberkas cahaya dan tahu bahwa itu adalah Yesus.” Bukankah itu suatu penipuan diri? Bagaimana ia tahu bahwa “seberkas cahaya” itu adalah Yesus? Alkitab berkata, “Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang” (II Korintus 11:14). Bagaimana ia tahu itu adalah Yesus? Bagaimana ia tahu bahwa itu bukan Setan? Saya berkata kepada Anda sesuatu lagi, “ketertekanan yang diambil dari hati Anda” dan melihat “cahaya” tidak akan menyelesaikan dosa! Kematian Kristus yang menggantikan tempat Anda, untuk membayar dosa Anda tidak ada artinya bagi dia. Darah Kristus yang dicurahkan untuk menyucikan Anda dari segala dosa tidak ada artinya bagi dia. Yesus bukanlah pusat bagi dia. Yesus tidak penting bagi dia.

Kapanpun kita mendengar seseorang berkata bahwa mereka telah diselamatkan, kami ingin tahu apakah ada pengampunan dosa. Kita ingin tahu apakah Darah Kristus ada menyucikan dosa. Apa yang disebut “kesaksian” seringkali hanyalah kebodohan belaka! Yesus berkata,

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan…” (Yesaya 45:22).

“Lihatlah Anak Domba Allah.” Nyanyikan ini kembali!

Lihatlah Anak Domba Allah, Lihatlah Anak Domba Allah,
Karena hanya Dia yang dapat menyelamatkanmu, Lihatlah Anak Domba Allah.

III. Ketiga, Anda harus merasa bahwa tiada ada yang lain selain Yesus yang dapat menyelamatkan Anda dari dosa.

Anda harus merasakan apa yang Joseph Hart pernah rasakan ketika ia berkata,

Tiada lain selain Yesus, tiada lain selain Yesus,
Dapat melakukan kebaikan bagi orang berdosa tak berpengharapan.
(“Come, Ye Sinners” oleh Joseph Hart, 1712-1768).

Tiada lain selain Yesus! Tiada lain selain Yesus – yang dapat melakukan kebaikan bagi orang-orang berdosa yang tak memiliki pengharapan!

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi” (Yesaya 45:22).

Ayat ini tidak mengajarkan faham universalisme, bahwa setiap orang akan diselamatkan pada akhirnya. Jauh dari pemikiran seperti itu! Ini berarti bahwa orang-orang pilihan Allah, dalam semua bangsa, akan memandang Yesus, Pribadi Kedua dari Trinitas, dan diselamatkan, karena teks ini diakhiri dengan perkataan ini, “Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain.”

Spurgeon sering mengutip Markus 16:16. Ia mengkhotbahkan ayat itu dalam satu khotbah yang disampaikan pada kebaktian Minggu malam, pada tanggal 13 Oktober, 2889 (MTP, Number 2,339). Markus 16:16 diakhiri dengan perkataan ini, “Siapa yang tidak percaya akan dihukum.” Jika Anda menolak untuk memandang Yesus, dan datang kepada Yesus, percaya kepada Yesus, Anda akan dihukum di Neraka untuk selama-lamanya. Saya meminta Anda, pada pagi ini juga, untuk memandang Yesus, datang kepada Yesus, percaya di dalam Yesus. “Tidak ada yang lain selain Yesus, yang dapat melakukan hal yang baik bagi orang-orang berdosa yang tidak berpengharapan.” Tidak ada yang lain selain Yesus yang dapat menyelamatkan Anda dari penghukuman kekal karena dosa Anda. “Lihatlah Anak Domba Allah.” Mari kita menyanyikan ini sekali lagi!

Lihatlah Anak Domba Allah, Lihatlah Anak Domba Allah,
Karena hanya Dia yang dapat menyelamatkanmu, Lihatlah Anak Domba Allah.

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan.”
(Yesaya 45:22).

“Tidak ada yang lain selain Yesus, tidak ada yang lain selain Yesus, yang dapat melakukan hal baik bagi orang-orang berdosa yang tak berpengharapan.” Mari kita membuka himne nomer 7 pada lembaran lagu Anda. Mari kita berdiri dan menyanyikannya.

Datanglah, kamu orang berdosa, miskin dan hina, Lemah dan terluka, sakit dan mendrita;
Yesus telah berdiri untuk menyelamatkanmu, Penuh kasih dan kuasa;
Ia sanggup, Ia sanggup, Ia mau; jangan ragu lagi!
Ia sanggup, Ia sanggup, Ia mau; jangan ragu lagi!

Lihatlah! Allah yang menjelma, naik, Membela pengorbanan darah-Nya;
Datanglah kepadanya, dengan segenap hatimu, Jangan biarkan kepercayaan lain menganggu;
Tiada lain selain Yesus, Tiada lain selain Yesus, Dapat menolong orang berdosa tanpa pengharapan
Tiada lain selain Yesus, Tiada lain selain Yesus, Dapat menolong orang berdosa tanpa pengharapan
(“Come, Ye Sinners” oleh Joseph Hart, 1712-1768).

MARTIN LUTHER AND THE DEVIL

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (I Petrus 5:8).

Silahkan dibaca di akhir khotbah ini sketsa biografi tentang Luther oleh pengkhotbah besar Baptis, C. H. Spurgeon.

Berhubungan dengan ayat ini, Martin Luther (1483-1546) berkata, “Roh jahat tidak tidur, ia licik dan jahat… Ia berjalan keliling sama seperti singa yang sedang lapar dan mengaum-aum seakan-akan ia akan menelan semua” (Martin Luther, Th.D., Commentary on Peter and Jude, Kregel Classics, 1990 reprint, hlm. 218; komentar untuk I Petrus 5:8).

Dr. Henry Lenski berkata, “Pada saat ini, di bawah Nero, auman dari penganiayaan yang mengerikan di dengar oleh para korban Kristen yang tidak berdaya. Di bulan Oktober tahun 64 (M) badai menerjang. Petrus sendiri menjadi seorang [martir]… Namun tidak selalu iblis mengaum [seperti ini]…” (R. C. H. Lenski, Th.D., The Epistles of St. Peter, St. John and St. Jude, Augsburg Publishing House, 1966, hlm. 225).

Iblis mengaum pada tiga abad pertama, ketika ribuan orang Kristen dicabik-cabik oleh singa-singga di arena-arena Romawi kuno. Tidak diragukan bahwa Petrus sedang memikirkan ini ketika ia berkata,

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (I Petrus 5:8).

Iblis mengaum seperti itu pada masa Inquisisi pada zaman Luther, dan pada masa Holocaust, dan pada masa Revolusi Budaya di China, dan di bawah ekstrimisme Muslim di berbagai belahan dunia malam ini.

Namun Iblis tidak “mengaum” di sini di dunia Barat. Di sini ia menggunakan metode lain untuk “menelan” orang-orang di sini. Di sini ia menggunakan materialism (pengingkaran terhadap keberadaan supranatural) untuk membuat kita tertidur, dan membuat kita tidak menyadari kehadirannya. Namun Iblis secara rahasia sangat aktif di Amerika dan Barat. Bahkan walaupun ia bekerja di sini dengan cara yang tidak terlihat, golnya adalah sama, “mencari orang yang dapat ditelannya.” Kristus berkata bahwa Iblis “adalah pembunuh dari sejak mulanya” (Yohanes 8:44). Salah satu dari nama Iblis adalah “Abaddon” (Wahyu 9:11). “Abaddon” berarti “Pembinasa.” Entah secara terbuka maupun secara rahasia, tujuan Iblis adalah “menelan,” untuk “membunuh,” untuk “membinasakan” jiwa-jiwa manusia.

Iblis telah begitu sukses dalam pekerjaan tersembunyinya sehingga kebanyakan pendeta Baptis kita hari ini di Amerika jarang jika bukan tidak pernah mengkhotbahkan khotbah-khotbah tentang Setan dan iblis. Betapa banyak pengkhotbah buta tentang kenyataan aktivitas Satanik, bahkan di banyak gereja kita sendiri!

Betapa orang-orang Amerika secara rohani telah menjadi bodoh! Kita telah mengijinkan perayaan Thanksgiving, Natal dan Paskah dilarang di sekolah-sekolah negeri kita. Namun hampir setiap kelas didekorasi dengan gambar-gambar iblis dan jerangkong dan perempuan sihir dan para vampir dengan darah yang sedang mengalir di setiap sudut mulut mereka untuk dilihat anak-anak pada Holloween. Alkitab berkata, “Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh” (Roma 1:22), dan Shakespeare berkata, “Betapa bodohnya semua kefanaan ini.”

Ini membawa kita kembali kepada Martin Luther. Ia sering dituduh oleh para “sarjana” liberal yang berpengaruh pada abad 20 terlalu berlebihan menekankan tentang Setan dan roh-roh jahat. Bahkan seorang Lutheran konservatif modern seperti Ewald M. Plass paling tidak mengkritik penekanan Luther tentang Iblis. Plass berkata, “Luther secara alami mengajarkan banyak hal tentang apa yang belakangan ini kita sebut tahyul. Tidak diragukan bahwa ia sering menganggap aktivitas kuasa kegelapan berkaitan dengan berbagai kejadian alam ini.” Namun, kemudian, Plass melindungi dirinya sendiri dengan berkata, “Mungkin iblis memang secara nyata lebih aktif dari pada biasanya [pada zaman Luther], karena ia merasakan betapa banyak yang dipertaruhkan” (Ewald M. Plass, What Luther Says, Concordia Publishing House, 1994 edition, hlm. 391-392).

David L. Larsen juga merendahkan penekanan Luther tentang Setan dan roh-roh jahat dengan berkata, “Luther benar-benar orang abad pertengahan… Luther melihat semua umat manusia ‘terkunci dalam konflik antara Tuhan dan Iblis seakan Penghakiman Terakhir dengan cepat semakin mendekat’” (David L. Larsen, M.Div., D.D., The Company of the Preachers, Kregel Publications, 1998, hlm. 153).

Tidak diragukan lagi bahwa Dr. Larsen belajar untuk mencari-cari kesalahan Luther tentang subyek ini di Fuller Theological Seminary yang sudah liberal itu, yaitu sebuah sekolah neo-evangelikal di mana Larsen memperoleh gelar Master-nya itu. Saya telah menemukan bahwa para mahasiswa Fuller dengan cepat belajar mengkritik para pahlawan iman kita di masa lalu. Itu adalah cara yang diajarkan kepada saya di dua seminari liberal di mana saya pernah kuliah di sana. Namun saya menolak pengaruh itu, namun Larsen tidak! Larsen berkata, “Luther benar-benar orang abad pertengahan… Luther melihat semua umat manusia ‘terkunci dalam konflik antara Tuhan dan Iblis seakan Penghakiman Terakhir dengan cepat semakin mendekat’” Apa yang salah dengan itu? Di usia tua Luther mengatakan beberapa hal dari pikiran orang abad pertengahan tentang orang Yahudi, dan hal-hal lainnya, yang dengan tegas saya tolak. Namun Luther tidak salah berpikir bahwa umat manusia “Terkunci dalam konflik antara Tuhan dan Setan”! Ia sungguh benar tentang hal itu – karena itu adalah apa yang Alkitab ajarkan!

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (I Petrus 5:8).

Kebanyakan dari apa yang Luther ajarkan tentang Iblis dan roh-roh jahat adalah benar keluar dari Alkitab.

I. Pertama, Luther benar ketika ia berbicara tentang asal usul Iblis dan roh-roh jahat.

Luther berkata,

[Dari manakah Iblis datang?] Ini adalah fakta-fakta yang patut diyakini: Para malaikat yang jatuh dan iblis telah diubah dari malaikat terang menjadi malaikat kegelapan….

Alkitab berkata bahwa Luther benar,

“Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi! Sebaliknya, ke dalam dunia orang mati engkau diturunkan, ke tempat yang paling dalam di liang kubur” (Yesaya 14:12-15).

Luther berkata,

[Ada malaikat baik dan malaikat jahat [namun] Allah menciptakan mereka semua baik. Namun kemudian para malaikat jahat jatuh dan tidak berdiri teguh dalam kebenaran… Itu sangat mungkin bahwa mereka jatuh karena kesombongan, karena mereka merendahkan… Anak Allah, dan ingin mengagungkan dirinya sendiri di atas Dia (Plass, ibid. hlm. 391).

Alkitab berkata bahwa Luther benar. Baik Alkitab maupun Luther mengatakan apa yang Yehezkiel 28:13-17 jelaskan kepada kita,

“Engkau [Setan] di taman Eden, yaitu taman Allah penuh segala batu permata yang berharga: yaspis merah, krisolit dan yaspis hijau, permata pirus, krisopras dan nefrit, lazurit, batu darah dan malakit. Tempat tatahannya diperbuat dari emas dan disediakan pada hari penciptaanmu. Kuberikan tempatmu dekat kerub yang berjaga, di gunung kudus Allah engkau berada dan berjalan-jalan di tengah batu-batu yang bercahaya-cahaya. Engkau tak bercela di dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu. Dengan dagangmu yang besar engkau penuh dengan kekerasan dan engkau berbuat dosa. Maka Kubuangkan engkau dari gunung Allah dan kerub yang berjaga membinasakan engkau dari tengah batu-batu yang bercahaya. Engkau sombong karena kecantikanmu, hikmatmu kaumusnahkan demi semarakmu. Ke bumi kau Kulempar, kepada raja-raja engkau Kuserahkan menjadi tontonan bagi matanya” (Yehezkiel 28:13-17).

Dan berhubungan dengan para malaikat yang jatuh yang telah menjadi roh-roh jahat itu, Surat Yudas mengatakan,

“Dan bahwa Ia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar” (Yudas 6).

Beberapa dari para malaikat yang telah jatuh dibelenggu dalam Neraka. Namun kebanyakan dari mereka adalah roh-roh jahat yang kita hadapi di dunia hari ini. Luther berkata, “Dan walaupun dunia ini dipenuhi dengan roh-roh jahat.” “Iblis” adalah kata kuno untuk “roh-roh jahat.” Nyanyikan ini!

Walaupun dunia sangat jahat,
Janganlah ketakutan:
Umat Tuhan pastilah s’lamat;
Roh Allah menguatkan
(“A Mighty Fortress Is Our God” by Martin Luther, stanza three.)

II. Kedua, Luther benar ketika ia berkata bahwa Iblis adalah penyebab kesedihan dan keputus-asaan.

Luther berkata,

[Semua kesedihan adalah dari iblis, karena ia adalah tuan dari kematian. Oleh sebab itu kesedihan dalam hubungan kita dengan Allah kebanyakan pastilah pekerjaan si iblis (Plass, ibid., hlm. 398).

[Reformator ini secara terus menerus menyebut iblis sebagai roh dari kesedihan; Setan membenci terang, kehidupan, dan tawa; karena ia adalah roh kegelapan dan keputusasaan, dan ia senang menarik manusia ke dalam kegelapan dan keputusasaan, merepresentasikan kasus orang berdosa sebagai tanpa pengharapan (mengomentari Luther, Plass, ibid., hlm. 397-398).

Luther berkata,

“[Iblis] menembakkan pikiran-pikiran mengerikan ke dalam hati: Kebencian terhadap Allah, penghujatan, dan keputus-asaan. Semua itu adalah “anak panah api,” Efesus 6:16” (Plass, ibid., hlm. 399).

Semua itu adalah hal-hal yang riil yang benar-benar sedang terjadi hari ini, bagi orang-orang yang kita kenal secara pribadi. Salah satu diaken kita pernah berbicara dengan seorang pemuda dalam ruang pemeriksaan. Anak muda itu berkata, “Allah tidak mengasihi saya. Yesus tidak mengasihi saya.” Seperti yang Luther katakan, ini jelas merupakan pikiran yang datang dari Setan, “penghujatan dan keputus-asaan.” Kemudian diaken tersebut mambacakan untuknya, dari Alkitab,

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

Ketika diaken tersebut bertanya kepadanya apakah ia mempercayai ayat itu, ia menolak untuk menjawab. Iblis sendirilah yang menghentikan dia untuk menjawab! Iblis mencoba menghalangi kita mendengar Alkitab, dan menghalangi kita menerimanya ketika kita mendengarkannya. Luther berkata, “Semua kelicikan iblis ditunjukkan dalam usaha untuk memaksa kita menjauh dari Firman [Allah]” (Plass, ibid., hlm. 396).

Seorang wanita muda berkata kepada diaken yang sama ini, “Saya tidak mungkin diampuni, dan saya tidak tahu mengapa.” Ia mungkin tidak tahu mengapa, namun saya tahu. Ia tidak mengalami pengampunan karena ia terus mempercayai pikiran-pikiran yang Setan taruh dalam pikirannya, dari pada percaya janji-janji Alkitab. Ia menolak perkataan Kristus, “Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang” (Yohanes 6:37). Luther berkata bahwa Iblis “menembakkan pikiran-pikiran mengerikan ke dalam hati: [pikiran-pikiran] keputus-asaan.” Ia berkata, “Semua kelicikan iblis ditunjukkan dalam usaha untuk memaksa kita menjauh dari Firman [Allah].”

III. Ketiga, Luther benar ketika ia menunjukkan bahwa kesedihan dan keputus-asaan tidak sama seperti keinsafan akan dosa.

Luther berkata bahwa kesedihan dan keputus-asaan datang dari Iblis. Namun ia mengajar bahwa keinsafan akan dosa datang dari Allah. Alkitab membuat pembedaan yang sama,

“Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan… tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian” (II Korintus 7:10).

Luther berbicara tentang keinsafan akan dosa yang datang sebelum pertobatan. Ia berkata,

[Ini perlu, jika Anda mau bertobat, bahwa Anda harus dibuat menjadi ngeri, yaitu bahwa Anda diperingatkan oleh hati nurani. Kemudian, setelah kondisi ini telah tercipta, Anda akan menerima penghiburan yang datang bukan dari pekerjaan Anda sendiri, namun dari pekerjaan Allah. Ia telah mengutus Anak-Nya Yesus Kristus ke dalam dunia agar supaya memproklamirkan anugerah Allah kepada orang-orang berdosa yang telah ngeri menyadari keadaannya. Ini adalah cara pertobatan yang telah ditetapkan; semua cara yang lain adalah cara yang salah (Plass, ibid., p. 343).

Luther berkata,

[Oleh pembenaran kita maksudkan bahwa kita ditebus dari dosa, kematian dan iblis dan dibuat menjadi bagian dari para penerima hidup kekal, bukan oleh diri kira sendiri, namun tiada lain selain oleh pertolongan dari Anak Allah yang tunggal (Plass, ibid., hlm. 343).

Luther berkata,

Tidak ada lagi yang disyaratkan untuk pembenaran selain dari pada mendengar Yesus Kristus dan percaya kepada Dia... (Plass, ibid., hlm. 707).

Pada poin-poin ini orang-orang Protestan Alkitabiah dan orang-orang Baptis klasik setuju dengan Reformator Agung, Luther ini. Rasul Paulus sendiri berkata, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat” (Kisah Rasul 16:31). Tidak ada yang lain yang diperlukan! Kita diselamatkan oleh iman di dalam Kristus saja! Mari kita membuka pujian nomer tiga pada lembar pujian Anda. Nyanyikan ini!

Allah kita Benteng teguh, Naungan dan perisai,
Penolong kita yang sungguh, Di dalam ombak badai,
Meski Iblis keji, Melanda tak henti
Dengan kuasanya, Yang tiada bandingnya
Di atas bumi ini

Yang tinggi hati ‘kan jatuh, Yang bersandar kan diri:
Usaha kita ‘kan runtuh, Tanpa kuasa ilahi.
Siapa berkuasa? Kristuslah Sang Raja,
Panglima s’kalian, Yang tak terkalahkan,
Memb’rikan kemenangan!

Walaupun dunia sangat jahat, Janganlah ketakutan:
Umat Tuhan pastilah s’lamat; Roh Allah menguatkan
Walau kita mati, walau anak istri
Dan harta pun musnah, Tuhan tak berubah:
Kekal kerajaan-Nya

Firman itu di atas semua kuasa di bumi
Roh dan karunia adalah milik kita Melalui Dia yang mendampingi kita.
Walau mati, walau anak istri
Dan harta pun musnah, Tuhan tak berubah:
Kekal kerajaan-Nya
(“A Mighty Fortress Is Our God” by Martin Luther, 1483-1546;  diterjemahkan oleh Frederick H. Hedge, 1805-1890/
Terjemahan Nyanyian Pujian No. 19.)

SKETSA KEHIDUPAN LUTHER OLEH SPURGEON

“Orang benar akan hidup oleh iman” (Roma 1:17).

Spurgeon berkata,

[Saya akan meringkaskan dan menggambarkan pengajaran ini dengan menekankan peristiwa-peristiwa tertentu dalam kehidupan Luther. Cahaya Injil pada diri Reformator besar ini menyeruak secara perlahan. Itu ada di biara itu, ketika membuka Alkitab tua yang dirantai di sebuah tiang di biara itu, ia membaca pesan ini – “Orang benar akan hidup oleh iman.” Kalimat sorgawi ini menusuk dia: namun dia begitu sulit memahami segala kebenaran di dalamnya. Bagaimanapun ia tidak dapat menemukan damai sejahtera dalam profesi religiousnya dan kebiasan-kebiasaannya sebagai biarawan. Tidak mengetahui yang lebih baik, ia bertekun dalam berbagai cara untuk menyucikan diri, dan sangat dibebani rasa bersalah, sehingga kadang-kadang ia ditemukan pingsan karena kelelahan. Ia menyebabkan dirinya sendiri hampir mati. Ia harus membuat perjalanan ke Roma, karena di Roma ada gereja yang menyegarkan setiap hari, dan Anda mungkin yakin memperoleh pengampunan dosa-dosa dan segala berkah di tempat suci yang kudus ini. Ia ingin sekali masuk kota suci [Roma]; namun ia menemukan di sana adalah tempatnya kemunafikan dan sarang kejahatan. Yang membuatnya ngeri ia mendengar orang-orang berkata bahwa jika neraka itu ada, Roma dibangun di atasnya, karena kota itu yang paling dekat dengannya yang dapat ditemukan di dunia ini; namun ia masih percaya kepada Paus dan ia terus mencari pengampunan dosa, mencari kelegaan, namun tidak pernah menemukannya. Suatu hari ia menaiki Sancta Scala [“Tangga Kudus”] yang berdiri di Roma dengan lututnya. Saya sungguh kagum karena pada tangga ini saya melihat makhluk-makhluk lemah naik dan turun dengan lututnya karena percaya bahwa itu benar-benar tangga di mana Tuhan kita turun ketika ia meninggalkan istana Pilatus, dan tentu pada setiap tangga tersebut ditandai dengan tetesan-tetesan darah [Kristus]; jiwa-jiwa miskin ini menciuminya dengan penuh khidmat. Yah. Luther merayap menaiki tanga-tanga tersebut selama satu hari ketika ayat yang sama yang pernah ia baca sebelumnya di biara, kedengaran seperti menggelegar di telinganya, “Orang benar akan hidup oleh iman.” Ia bangkit dari sujudnya dan menuruni tangga-tangga itu sebelum sampai ke atas. Pada saat itu Tuhan membawanya sepenuhnya keluar dari takhyul, dan ia melihat bahwa bukan oleh para imam, juga bukan oleh sekumpulan imam, juga bukan oleh pengakuan dosa, juga bukan oleh apapun yang ia dapat lakukan, yang membuat ia hidup, namun bahwa ia harus hidup oleh imannya [di dalam Kristus]. Ayat kita [malam] ini telah membuat biarawan [Katolik] ini bebas, dan jiwanya diselamatkan dari api.

[“Orang benar akan hidup oleh iman” (Roma 1:17).]

Ketika Luther akhirnya memahami bahwa ayat itu ia percaya hanya kepada Kristus saja. Ia menulis kepada ibunya, “Saya merasakan diri saya sendiri dilahirkan kembali dan menemukan pintu terbuka ke dalam firdaus.” Spurgeon berkata,

[Tidak lama setelah ia mempercayai ini ia hidup mengahadapi bahaya. Seorang [imam], yang bernama Tetzel, sedang berkeliling seluruh Jerman untuk menjual surat pengampunan dosa untuk memperoleh banyak uang. Tidak peduli seberapapun dosa Anda, segera ketika uang Anda menyentuh dasar kotak [pengumpulan uang] dosa-dosa Anda terhapuskan. Luther mendengar tentang ini, dan mulai marah, dan berseru, “Saya akan melubangi drumnya,” dan ia sungguh-sungguh melakukannya, dan terhadap beberapa drum lainnya. Memakukan dalil-dalilnya pada pintu gerbang adalah cara yang tepat untuk menghentikannya. Luther mengumumkan pengampunan dosa melalui iman di dalam Kristus tanpa uang dan tanpa bayaran, dan kegemaran Paus ini segera menjadi obyek olok-olok. Luther hidup dengan imannya, dan oleh sebab itu ia yang dibuatnya bungkam, dan dituduh bersalah menjadi geram seperti singa yang meraung-raung terhadap mangsanya. Iman yang hidup di dalamnya memenuhinya dengan kehidupan yang kuat, dan ia siap untuk berperang melawan musuh. Setelah ketika mereka memanggil dia untuk pergi ke Augsburg, dan ia pergi ke Augsburg, walaupun teman-temannya menasehati dia untuk tidak pergi. Mereka memanggil dia, sebagai seorang penyesat, untuk memberi jawaban bagi dirinya di Diet of Worms [Dewan Kerajaan], dan setiap orang menasehati dia untuk melarikan diri, karena ia pasti akan dibakar [pada sebuah tiang] di sana; namun ia merasa perlu untuk memberi kesaksian dan menerima resikonya, dan oleh sebab itu dengan sebuah kereta ia pergi melewati desa ke desa dan dari kota ke kota, sambil berkhotbah dalam perjalanannya, orang-orang miskin keluar untuk menyetujui orang yang berdiri tegak demi Kristus dan Injil yang mengambil resiko kehilangan nyawanya itu. Anda ingat bagaimana ia berdiri di hadapan dewan mulia [di Worms] itu, dan walaupun ia tahu bahwa ia akan membayar harga dengan hidupnya, mungkin karena ia bersedia [dibakar pada tiang] seperti John Huss, namun ia [berlaku seperti] seorang laki-laki demi Tuhan Allahnya. Hari itu di German Diet [Pengadilan Jerman] Luther melakukan pekerjaan yang membuat anak-anak dari sepuluh ribu kali sepuluh ribu ibu memuji namanya, dan lebih memuji nama Tuhan Allahnya (C. H. Spurgeon, “A Luther Sermon at the Tabernacle,” The Metropolitan Tabernacle Pulpit, Pilgrim Publications, 1973 reprint, Volume XXIX, hlm. 622-623).

“Orang benar akan hidup oleh iman” (Roma 1:17).

Perjumpaan pertama saya dengan Luther adalah di gereja Baptis, pada waktu yang sudah lama berlalu, sekitar permulaan tahun 1950-an. Suatu Minggu malam mereka menunjukkan film hitam putih tentang kehidupan dia. Pada waktu itu ia nampak seperti tokoh aneh dari masa lalu, yang tidak memiliki sesuatu yang membuat saya tertarik. Film itu nampak membosankan dan panjang, dan saya heran mengapa pendeta saya, Dr. Walter A. Pegg, bahkan ingin sekali menunjukkan film itu.

Perjumpaan kedua saya dengan Luther datang kemudian, setelah saya bertobat. Saya membaca tentang pengalaman pertobatan John Wesley, yang mana Wesley berkata demikian,

Pada malam itu saya pergi dengan setengah hati ke persekutuan di Aldersgate Street, di mana Luther’s preface to the Epistle to the Romans (pengantar Luther untuk Surat Roma) dibacakan. Sekitar pukul sembilan kurang seperempat, ketika ia sedang menjelaskan perubahan yang Allah kerjakan dalam hati melalui iman di dalam Kristus, saya merasa hati saya dengan aneh merasakan kehangatan. Saya merasa bahwa saya telah percaya kepada Kristus, Kristus saja untuk keselamatan; dan jaminan diberikan kepada saya, bahwa Ia telah menghapus semua dosa saya, bahkan menjadi milik saya, dan saya telah diselamatkan dari hukum dosa dan kematian (John Wesley, The Works of John Wesley, third edition, Baker Book House, 1979 reprint, volume I, hlm. 103) .

Ini membuat suatu kesan bagi saya, karena saya tahu bahwa Wesly kemudian menjadi salah satu dari dua pengkhotbah paling penuh kuasa pada Kebangunan Rohani Agung Pertama (First Great Awakening). Wesley bertobat ketika mendengarkan kata-kata Luther tentang pembenaran oleh iman di dalam Kristus.

Meski demikian kemudian saya belajar bahwa John Bunyan, nenek moyang Baptis kita, membaca tulisan Luther ketika ia menjadi sungguh bertobat, “meningkatkan studinya tentang Kitab Suci dengan tulisan-tulisan Martin Luther” (Pilgrim’s Progress, Thomas Nelson, 1999 reprint, pengantar dari penerbit, hal. xii). Bunyan kemudian menjadi seorang penulis Baptis yang tulisan-tulisannya paling banyak dibaca di seluruh dunia dari segala masa!

John Wesley, seorang Methodist, telah bertobat dengan mendengar perkataan-perkataan Luther. John Bunyan, seorang Baptis, ditolong dalam pergumulannya untuk pertobatan melalui membaca tulisan-tulisan Luther. Saya pikir bahwa seharusnya ada banyak hal baik yang diperoleh dengan membaca pemikiran Luther.

Dr. R. L. Hymers, Jr.

SIX MODERN ERRORS ABOUT REVIVAL

Pertama saya tertarik tentang tema kebangunan rohani sejak tahun 1961. Saya membeli sebuah buku kecil di Toko Buku Biola tentang Kebangunan Rohani Pertama (“First Great Awakening”). Ini berisi sari dari Jurnal John Wesley, dan diterbitkan oleh Moody Press. Saya telah memikirkan dan sekarang masih memikirkan tentang kebangunan rohani, dan doa untuk itu, selama lebih dari 48 tahun. Adalah suatu kebahagiaan bagi saya dengan mengalami dua kebangunan rohani yang luar biasa di gereja Baptis. Ini bukan kebaktian kebangunan rohani, atau kebaktian “karismatik.” Itu adalah dua kebangunan rohani seperti yang Anda baca dalam buku-buku sejarah Kekristenan.

Setelah 48 tahun membaca dan berpikir tentang tema ini, saya tidak menganggap diri saya sendiri sebagai ahli di bidang kebangunan rohani. Saya merasa seperti orang yang baru belajar, baru mulai untuk memahami beberapa kebenaran penting berhubungan dengan kebangunan rohani.

Dulu saya pernah membuat kesalahan berhubungan dengan kebangunan rohani. Selama beberapa tahun saya telah disesatkan oleh tulisan-tulisan Charles G. Finney. Bahkan sekarang saya masih tidak yakin bahwa saya sudah memahami tema ini secara lengkap,

“Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar” (I Korintus 13:12).

Namun malam ini saya akan memberikan enam kesalahan tentang kebangunan rohani kepada Anda, yaitu hal-hal yang saya percaya adalah suatu kesalahan. Saya berharap agar poin-poin ini akan membantu Anda ketika Anda berdoa memohon Tuhan mengirimkan kebangunan rohani.

I. Pertama, adalah salah ketika kita harus memfokuskan pada karunia-karunia Rasul untuk memiliki kebangunan rohani.

Walaupun saya tidak membenci orang Pentakosta, namun saya pikir mereka salah. Dan saya pikir penekanan mereka pada karunia-karunia Rasul telah menghalangi terjadinya kebangunan rohani yang riil. Iain H. Murray berkata,

Karunia-karunia seperti itu tidak dikenal pada zaman Chrysostom (+ 347-407) dan Augustine (+ 354-430). Hal itu juga tidak pernah dimiliki oleh para… pemimpin di beberapa kebangunan rohani dari zaman Reformasi sampai abad ini… Para Reformator hanya berfokus kepada Kitab Suci. Mereka mengklaim kebenaran Rasuli, bukan karunia-karunia Rasul. Begitu juga pada periode kaum Puritan, sampai Kebangunan Rohani (Great Awakening) zaman Edwards, Whitefield dan the Wesleys, hingga zaman Spurgeon. Semua sepaham dengan Whitefield bahwa “karunia-karunia melakukan mujizat seperti yang pernah terjadi pada jemaat mula-mula sudah berhenti sejak dulu.” Jika beberapa pemimpin dipenuhi oleh Roh Kudus, seperti mereka, agar dapat melakukan pekerjaan melakukan mujizat, sungguh aneh bila mereka tidak mengenal karunia-karunia melakukan mujizat… Semua klaim tentang fenomena luar biasa seperti itu baru muncul sekitar tiga puluh lima tahun belakang ini – berbahasa roh, kesembuhan ilahi, nubuatan dan ”rebah dalam Roh” – jauh dari mempersiapkan untuk kebangunan rohani, dan malah agaknya malah mengacaukan kebenaran-kebenaran agung yang Roh selalu muliakan di dalam mengobarkan kebangunan-kebangunan rohani (Iain H. Murray, Pentecost Today? – the Biblical Basis for Understanding Revival, Banner of Truth, 1998, hal. 197-199).

Penekanan karunia-karunia Rasul telah menyebabkan banyak orang justru menjauhkan diri mereka sendiri dari pikiran tentang Roh Kudus dan kebangunan rohani. Ini memalukan, karena pekerjaan utama dari Roh Kudus telah dijelaskan kepada kita oleh Yesus, di dalam Yohanes 16:8

“Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman.”

Kita sungguh membutuhkan Roh Kudus untuk melakukan pekerjaan ini di gereja-gereja kita hari ini.

Dan, kemudian, pekerjaan agung Roh Kudus lainnya dijelaskan kepada kita dalam Yohanes 15:26,

“Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.”

Kita membutuhkan pekerjaan Roh Kudus yang menginsafkan. Kita membutuhkan kesaksian-Nya tentang Kristus. Ini adalah hal-hal yang Allah harus lakukan di tengah-tengah kita jika kita ingin memiliki kebangunan rohani, kebangunan rohani seperti yang pernah terjadi di sepanjang sejarah!

II. Kedua, adalah salah ketika kita berpikir tidak mungkin ada kebangunan rohani pada zaman ini.

Saya tidak akan menghabiskan banyak waktu untuk membahas ini, namun saya harus menekankan ini karena begitu banyak mempercayaai pernyataan di atas. Mereka berkata hal-hal seperti, “Hari-hari yang agung dari kebangunan rohani telah berakhir. Kita ada di hari-hari yang terakhir. Tidak akan ada lagi kebangunan rohani.” Ini adalah pemikiran umum di kalangan orang-orang Kristen yang menjunjung tinggi Alkitab hari ini.

Namun saya percaya pandangan demikian salah karena tiga alasan berikut ini:

(1)  Alkitab berkata, “Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita” (Kisah Rasul 2:39).

(2)  Kebangunan rohani terbesar dari semua yang pernah terjadi akan terjadi di tengah-tengah Kesusahan Besar, di bawah penganiayaan Antikristus, di akhir zaman ini (band. Wahyu 7:1-14).

(3)  Kebangunan rohani terbesar dalam sepanjang sejarah Timur Jauh sedang terjadi tepat sekarang, malam ini, di Republik Rakyat China dan Negara-negara di Asia Tenggara. Kebangunan rohani terbesar dari zaman modern ini sedang terjadi di sana tepat sekarang!

 

Adalah kesalahan yang mengerikan jika ada yang berpikir bahwa tidak mungkin ada kebangunan rohani hari ini!

III. Ketiga, adalah salah ketika kita berpikir bahwa kebangunan rohani bergantung pada usaha-usaha penginjilan.

Ini adalah kesalahan umum di antara gereja Baptis Selatan dan lainnya. Ide ini diturunkan kepada mereka dari Charles G. Finney, yang berkata, “Kebangunan rohani secara alami adalah hasil dari penggunaan sarana yang sesuai dan keberhasilan itu adalah karena sarana yang digunakan sesuai (C. G. Finney, Lectures on Revival, Revell, n.d., hal. 5). Banyak gereja hari ini mengiklankan “kebangunan rohani” mulai pada hari tertentu – dan berakhir pada hari tertentu! Ini adalah murni Finneyisme! Kebangunan rohani tidak bergantung pada usaha-usaha penginjilan dan memenangkan jiwa yang kita lakukan!

Mari kita bersama-sama membuka Kisah Rasul 13:48-49,

“Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. Lalu firman Tuhan disiarkan di seluruh daerah itu.”

Namun sebelum saya mengomentari dua ayat tersebut, Anda harus memahami bahwa saya tidak mempertahankan semua poin dari kelima poin Calvinisme. Itulah sebabnya mengapa beberapa orang berkata bahwa saya adalah “Reformed moderat.” Saya baru saja menjelaskan kepada Anda sehinga Anda akan mengetahui perspektif saya. Ketika saya mengutip ayat ini, saya tidak harus dipaksa untuk mengakui bahwa hanya “semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.“ Walaupun Injil “diberitakan ke seluruh daerah itu” hanya orang-orang ini yang “ditentukan untuk hidup kekal yang menjadi percaya.”

Saya pikir dua ayat ini membersihkan ide bahwa kebangunan rohani bergantung pada usaha-usaha penginjilan. Ya, kita diperintahkan untuk “memberitakan Injil kepada segala mahkluk” (Markus 16:15) – namun tidak setiap mahkluk akan percaya! Pada masa-masa kebangunan rohani lebih banyak orang percaya dibandingkan dengan masa-masa yang lain – namun sungguh jelas bahwa kebangunan rohani tidak bergantung pada usaha-usaha penginjilan kita saja.

Ada suatu misteri berhubungan dengan semua ini – karena ada hal-hal yang berhubungan dengan pertobatan dan kebangunan rohani terjadi melampaui akal manusia. Kita diperintahkan untuk memberitakan Injil kepada orang-orang terhilang entah mereka mau percaya atau tidak. Namun kebangunan rohani bergantung pada Allah, bukan pada usaha-usaha penginjilan kita.

IV. Keempat, adalah salah ketika kita berpikir bahwa kebangunan rohani bergantung pada dedikasi orang-orang Kristen.

Saya tahu bahwa seseorang dapat mengutip II Tawarikh 7:14. Namun ini nampak aneh mengapa mereka tidak mengutip dari ayat Perjanjian baru untuk mendukung teori mereka bahwa kebangunan rohani bergantung pada orang-orang Kristen yang “hidup benar bersama Tuhan.” Mengapa harus ayat ini, yaitu ayat yang diberikan kepada Salomo, yang digunakan sebagai suatu rumusan untuk kebangunan rohani gereja Perjanjian Baru? Saya tidak melihat alasan untuk melakukan itu di mana seorang pengkhotbah mengirimkan kapal-kapal dari gerejanya, “membawa emas dan perak serta gading; juga kera dan burung meraks” seperti yang Salomo lakukan dalam II Tawarikh 9:21, hanya dua pasal kemudian!

Iain H. Murray berbicara berhubungan dengan II Tawarikh 7:14, “Hal pertama untuk mengatakan secara yakin bahwa apa yang dijanjikan bukan kebangunan rohani [Perjanjian Baru], untuk janji ini seharusnya dimengerti, pertama dalam hubungannya dengan waktu yang mana itu diberikan. Ini adalah janji untuk Israel Perjanjian Lama dan tanah mereka yang akan dipulihkan seperti dikatakan di sini” (Murray, ibid., hal. 13).

Ide bahwa kebangunan rohani bergantung pada dedikasi orang-orang Kristen adalah faham yang berasal dari Finney. Jonathan Goforth, orang yang lebih baik dari Finney, namun ia menggemakan pengajaran Finney ketika ia berkata, “Dosa yang tidak disadari, satu-satunya, yang dapat menghalangi kebangunan rohani terjadi di antara kita… Pentakosta belum ada di genggaman kita. Jika kebangunan rohani masih belum terjadi di tengah kita itu karena masih ada beberapa berhala yang masih bertahta [di antara kita]” (Jonathan Goforth, By My Spirit, 3rd edition, Marshall, Morgan and Scott, n.d., hal. 181, 189).

Winston Churchill suatu kali menulis kepada anak muda yang adalah cucunya, ia meminta kepada cucunya itu untuk mempelajari sejarah, karena sejarah menyediakan sarana-sarana terbaik untuk membuat prediksi yang paling cerdas tentang masa depan. Berikut ini adalah ucapan Churchill, “Mempelajari sejarah,” kita menemukan ide bahwa kebangunan rohani bergantung pada “kesetiaan penuh” orang-orang Kristen adalah tidak benar. Nabi Yunus tidak sepenuhnya setia kepada Allah. Bacalah pasal terakhir dari Kitab Yunus, dan Anda akan melihat kurangnya dan ketiadaan imannya. Tidak, kebangunan rohani terbesar di antara orang-orang non Yahudi dalam Perjanjian Lama tidak bergantung pada “penyerahan mutlak” atau “kesempurnaan” seorang Nabi. John Calvin bukanlah orang yang sempurna. Ia pernah membakar seseorang pada sebuah tiang karena dianggap bidat – yang sungguh tidak menunjukkan sikap Perjanjian Baru. Namun Tuhan mengirimkan kebangunan rohani di bawah pelayanannya, dan melalui tulisan-tulisannya. Luther kadang-kadang mempunyai perangai yang tidak baik, dan ia pernah berkata bahwa sinagog-sinagog Yahudi harus dibakar. Namun kendati Luther kadang-kadang sangat sinis, dan anti-Semitisme, namun Tuhan mengirimkan kebangunan rohani di bawah pelayanannya. Kita dapat memaafkan Calvin dan Luther karena kita sadar bahwa mereka adalah orang-orang dari abad pertengahan, yang masih dipengaruhi tindakan-tindakan seperti ini oleh Katolikisme. Namun, kendati ada kekurangan pada diri mereka, Allah mengirim kebangunan rohani Reformasi yang agung di bawah pelayanan mereka. Whitefield kadang-kadang membuat kesalahan berhubungan dengan “kesan-kesan batiniah” yang secara salah ia pikir berasal dari Allah. Wesley memilih untuk membuang undi (melempar dadu) untuk menentukan kehendak Allah. Spurgeon sering dipersalahkan karena ia kadang-kadang menghisap cerutu, walaupun dengan jujur kita harus menyadari bahwa ini bukan hal yang baik. Para pengikut Victoria adalah pecandu kopi. J. Frank Norris kadang-kadang kurang bersemangat. Kita dapat memaafkan dia karena kita menyadari tekanan yang luar biasa yang menekan dia, ketika ia memulai gerakan Baptis independent, seperti yang ia alami. Namun Whitefield, Wesley, Spurgeon, Luther, Calvin dan Norris melihat kebangunan rohani pada pelayanan mereka.

Kita melihat, dari contoh-contoh dalam sejarah ini, bahwa orang-orang yang tidak sempurna, kadang-kadang orang-orang yang tidak sesuci atau setia sebagaimana seharusnya mereka menjadi, dengan luar biasa dipakai Tuhan pada masa-masa kebangunan rohani. Kita harus dengan jujur menyimpulkan bahwa Finney dan para pengikutnya salah ketika mereka berkata bahwa kebangunan rohani bergantung pada orang-orang Kristen yang sepenuhnya menjadi setia/ terdedikasi. Rasul Paulus menjelaskan kepada kita bahwa,

“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (II Korintus 4:7).

Anda lihat, kebangunan rohani tidak bergantung pada orang-orang Kristen yang mendedikasikan hidup mereka secara sepenuhnya, atau mendedikasikan diri mereka kembali. Tidak – kebangunan rohani bergantung pada “kekuatan yang melimpah-limpah… berasal dari Allah, bukan dari diri kita” (II Korintus 4:7).

Dengan menggunakan II Tawarikh 7:14, Bill Bright pernah mengajar bahwa orang-orang Kristen yang sedang bertobat dan berpuasa dan mendedikasikan hidup mereka akan menghasilkan kebangunan rohani. Namun Mr. Bright salah, walaupun ia adalah orang baik dalam banyak hal. Ia dengan tidak sadar sedang mempromosikan ide Finney bahwa manusia dapat membuat kebangunan rohani terjadi dengan konsentrasi penuh. Namun, sungguh menyedihkan, tidak ada kebangunan rohani terjadi di dunia Barat sebagai hasil dari usaha-usaha Bright. Mengapa? Karena kebangunan rohani sejati tidak bergantung pada dedikasi orang-orang Kristen. Itu hanya bergantung pada ”kekuatan yang melimpah-limpah… berasal dari Allah, bukan dari diri kita” (II Korintus 4:7).

Saya akan menutup poin ini dengan mengacu kepada khotbah Stefanus kepada Sanhedrin. Secara spesifik kita diberitahu bahwa Stefanus “penuh dengan karunia dan kuasa, [dan] mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak” (Kisah rasul 6:8). Namun Stefanus tidak melihat kebangunan rohani datang dari khotbahnya. Sebaliknya, ia dirajam batu sampai mati. Ia adalah orang suci dan benar, namun ini tidak dengan sendirinya menghasilkan kebangunan rohani dalam pelayanannya. Kita dapat berpuasa dan berdoa, dan menjadi orang-orang Kristen yang benar-benar luar biasa, namun ini tidak akan memaksa Allah mengirimkan kebangunan rohani. Mengapa? Rasul Paulus memberikan jawabannya,

“Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan”
 (I Korintus 3:7).

Segalamuliaan dalam kebangunan rohani harus ditujukan kepada Allah – dan tak satupun kemuliaan itu harus ditujukan kepada manusia, bahkan orang-orang yang baik dan suci! Jadi, Anda seharusnya tidak berpikir bahwa jika kita melalui pertobatan mendalam dan pendedikasian diri secara mendalam maka ini akan secara otomatis mendatangkan kebangunan rohani. Itu adalah ide palsu dari Finney. Saya tidak mengatakan bahwa Anda tidak harus menyucikan diri Anda di hadapan Allah. Anda semua harus melakukan itu! Namun kita seharusnya ingat bahwa kita tidak sedang berhubungan dengan magis! Kita tidak dapat memaksa Allah untuk mengirimkan kebangunan rohani melalui dedikasi diri kita. Belakangan ini saya membaca di mana seseorang berkata, “Kebangunan rohani akan terjadi ketika kita berdoa secara jujur dengan dedikasi penuh kita.” Bagi saya itu lebih menyerupai “sihir!” Kita harus merendahkan diri kita dan berusaha tidak peduli seberapa “sungguh-sungguhnya” kita berdoa, dan tidak peduli seberapa “penuh” dedikasi kita, namun pada akhirnya Allah lah yang berkehendak entah Ia mau atau tidak mengirimkan kebangunan rohani. Itu terserah kita! Ya, kita harus secara terus menerus berdoa untuk kebangunan rohani, dan pada saat yang sama, selalu mengingat “melainkan Allah yang memberi pertumbuhan” (I Korintus 3:7). Itu adalah kedaulatan kuasa Allah sendiri yang menghasilkan kebangunan rohani sejati!

V. Kelima, adalah salah ketika kita berpikir bahwa kebangunan rohani adalah suatu keadaan yang seperti biasanya yang kita harapkan terjadi di gereja.

Roh Kudus dicurahkan atas para Rasul pada hari Pentakosta. Mereka berkhotbah di hadapan orang banyak dalam bahasa mereka masing-masing, dan tiga ribu orang bertobat pada kebangunan rohani yang luar biasa itu, sebagimana dicatat dalam Kisah Rasul, pasal dua. Namun kita menemukan bahwa mereka perlu di penuhi Roh Kudus lagi, seperti yang dicatat dalam Kisah Rasul 4:13,

“Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani”
(Kisah Rasul 4:31).

Ini menunjukkan kepada kita bahwa ada masa-masa dari kebangunan rohani pada jemaat mula-mula. Namun ada saat-saat lain ketika gereja berjalan seperti biasanya, hari berganti hari secara biasanya. Saya pikir ini adalah apa yang Rasul Paulus maksudkan ketika ia berkata, “siap sedialah baik atau tidak baik waktunya” (II Timotius 4:2). Saya pikir ini berarti bahwa kita harus terus berkhotbah dan berdoa serta bersaksi entah ada kebangunan rohani atau tidak. Kristus memanggil kita untuk mentaati Amanat Agung (Matius 28:19-20), dan “beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Markus 16:15) entah ada kebangunan rohani atau tidak! Orang-orang akan dipertobatkan bahkan ketika tidak ada gerakan Allah yang tidak seperti biasanya.

Jika kita berpikir bahwa kebangunan rohani adalah cara Allah berkerja seperti biasanya, kita akan menjadi berkecil hati. Iain H. Murray berkata,

Sampai pada titik ini George Whitefield harus lebih dulu memperhatikan temannya William McCulloch, seorang hamba Tuhan dari Cambuslang [Scotlandia]. Pada tahun 1749 McCulloch berkecil hati oleh karena ia tidak lagi melihat apa yang mereka pernah saksikan pada kebangunan rohani tahun 1742. Respon Whitefield adalah mengingatkan dia bahwa 1742 bukanlah norma untuk gereja: “Saya harus senang mendengar tentang kebangunan rohani [lain] di Cambuslang; namun, tuan terkasih, Anda telah melihat hal-hal yang jarang dilihat di atas suatu kali dalam abad ini.” Martyn Lloyd-Jones mengacu kepada kejadian yang serupa dalam kasus hamba Tuhan dari Welsh bahwa “seluruh pelayanan telah runtuh,” dengan terus-menerus ia melihat ke kebelakang yaitu kepada apa yang pernah ia lihat dan alami pada kebangunan rohani 1904; “Ketika kebangunan rohani itu berakhir… ia masih mengharapkan hal yang tidak biasa itu terjadi lagi; namun itu tidak terjadi. Sehingga ia menjadi depresi dan menghabiskan sekitar empat puluh tahun hidupnya dalam ketandusan, ketidak-bahagiaan dan tidak berguna” (Iain H. Murray, ibid., hal. 29).

Jika Allah tidak mengirim kebangunan rohani, kita tidak harus membiarkan itu membuat diri kita menjadi berkecil hati. Kita harus tetap siap sedia, baik atau tidak baik waktunya, untuk memberitakan Injil, dan memimpin orang-orang berdosa kepada Kristus satu per satu. Namun, pada saat yang sama, kita harus terus berdoa kiranya Tuhan mengirimkan suatu waktu yang special suatu kebangunan rohani. Jika itu datang, kita akan bersukacita. Namun jika itu tidak datang, kita harus terus memimpin jiwa-jiwa datang kepada Kristus saat ini! Kita tidak harus menjadi berkecil hati! Kita harus siap sedia baik atau tidak baik waktunya!

VI. Keenam, adalah salah ketika kita berpikir bahwa tidak ada kondisi apapun yang dihubungkan dengan kebangunan rohani.

Baik Kitab Suci maupun sejarah menunjukkan kepada kita bahwa kebangunan rohani tidak bergantung pada usaha-usaha penginjilan manusia atau dedikasi total orang Kristen. Namun ada kondisi tertentu yang harus dijumpai. Ini terutama adalah pengajaran yang benar, dan doa. Kita haurs berdoa untuk kebangunan rohani, namun kita juga harus memiliki pengajaran yang bernar tentang dosa dan keselamatan.

Dalam bukunya yang berjudul, Revival (Crossway Books, 1992), Dr. Martyn Lloyd-Jones memiliki dua bab, yang berjudul “Doctrinal Impurity” (“Ketidak-murnian Pengajaran”) dan “Dead Orthodoxy” (“Orthodoksi yang telah Mati”). Dalam dua bab ini ia, yang pernah melihat kebangunan rohani agung pada tahun-tahun permulaan pelayanannya menjelaskan kepada kita bahwa ada doktrin-doktrin tertentu yang harus dikhotbahkan dan dipercaya jika kita mengharapkan Allah mengirimkan kebangunan rohani. Saya hanya akan menekankan empat doktrin yang ia berikan.

 

1.  Kejatuhan dan kerusakan total umat manusia – kerusakan total (total depravity).

2.  Regenerasi – atau kelahiran kembali – sebagai karya Allah, dan bukan pekerjaan manusia.

3.  Pembenaran oleh iman di dalam Kristus saja – bukan iman di dalam segala bentuk “pengambilan keputusan.”

4.  Efektivitas Darah Kristus untuk menyucikan doa – baik dosa pribadi maupun doa asal.

 

Empat doktrin ini diserang oleh Charles G. Finney, dan telah diturunkan atau ditolak sejak saat itu. Tidak heran kita melihat begitu sedikit kebangunan rohani sejak tahun 1859! Saya tidak dapat membahasnya secara mendetail, namun inilah pengajaran-pengajaran vital, yang harus dikhotbahkan kembali jika kita berharap melihat kebangunan rohani datang ke gereja-gereja kita. Gereja kita penuh dengan orang-orang yang masih terhilang, yang tidak akan pernah benar-benar bertobat kecuali kita mengkhotbahkan tema-tema ini secara sungguh-sungguh dan penuh semangat – dan secara terus menerus!

Dr. Lloyd-Jones berkata,

Lihatlah sejarah berbagai kebangunan rohani, dan Anda akan menemukan orang-orang yang merasa putus asa. Mereka tahu bahwa semua kebaikan mereka tidak lain selain kain lap yang kotor, dan bahwa kebenaran mereka tidak ada nilainya sama sekali. Dan di sana mereka merasa bahwa mereka tidak dapat melakukan apapun, dan hanya dapat berseru kepada Allah agar Ia memberikan rahmat dan belas kasihan-Nya. Pembenaran oleh iman. Tindakan Allah. “Jika Allah tidak melakukan itu kepada kita,” kata mereka, “maka kita terhilang.” Oleh sebab itu mereka [merasakan diri mereka] tidak berdaya di hadapan Dia. Mereka tidak lagi memperhatikan, dan tidak menganggap penting, semua kesalehan mereka di masa lalu, dan kesetiaan mereka dalam menghadiri kebaktian di gereja, dan banyak hal yang lain. Mereka memandang semua yang mereka pernah lakukan itu tidak ada yang baik, bahkan kesalehan mereka tidak ada nilainya, tidak ada satupun yang bernilai pada dirinya. Allah harus membenarkan orang-orang yang tidak saleh. Oleh sebab itu, itu adalah berita agung yang datang pada setiap periode kebangunan rohani (Martyn Lloyd-Jones, ibid., hal. 55-56).

“Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran” (Roma 4:5).

“Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya” (Roma 3:24-25).

Ini adalah pengajaran-pengajaran tentang kebangunan rohani! Ini adalah pengajaran-pengajaran yang memimpin kepada pertobatan! Kita harus melihat keinsafan akan dosa, keinsafan yang mendalam, hati yang dihancurkan olehnya. Kita harus melihat keinsafan jiwa-jiwa yang menangisi dosa-dosa mereka yang datang kepada Yesus, menemukan keselamatan, “karena iman di dalam darah-Nya.”

Dr. R. L. Hymers, Jr.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: